DASAR DASAR METODE TAMBANG BAWAH TANAH

25 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Bab 7. Pemilihan Metode Tambang Bawah Tanah, hal. 95

BAB 7

PEMILIHAN METODE TAMBANG BAWAH TANAH

7.1 FAKTOR FAKTOR YANG BERPENGARUH

Pemilihan metoda penambangan terhadap suatu cebakan tertentu dapat dibantu dengan pemahaman terhadap kendala dan aplikasi setiap metoda tambang bawah tanah tersebut. Tidak ada rumusan yang pasti yang dapat menentukan metoda tambang bawah tanah terhadap bentuk, ukuran dan kedalaman bijih yang bervariasi yang terdapat secara alamiah dalam suatu cebakan. Biasanya beberapa metoda dapat sesuai atau kurang sesuai apabila diterapkan pada kadar, ukuran, bentuk dan posisi badan bijih, serta kekuatan bijih maupun dinding bijih (Gambar 7.1).

Berdasarkan kondisi tersebut di atas, maka pemilihan metoda tambang bawah tanah dapat ditetapkan dengan melihat kesesuaian dengan kondisi ekonomi-geologi dan kondisi lokal. Metoda ideal adalah development yang dapat memberikan hasil produksi yang besar dengan kondisi jam kerja yang minimal, serta pemakaian energi dan material yang kecil. Disamping itu, yang sangat penting adalah memberikan kondisi aman pada pekerja. Hal ini dapat memberikan pengaruh positip terhadap lingkungan maupun development tambang pada masa yang akan datang.

Dalam metoda tambang bawah tanah, memerlukan pertimbangan-pertimbangan yang saling terintegrasi dari banyak faktor. Beberapa faktor yang penting adalah :

1. Panjang, tebal dan lebar cebakan

Ketiga hal ini akan menentukan dimensi stop maksimum, yaitu yang dikenal sebagai minimum lebar stoping.

2. Kemiringan cebakan

Kemiringan cebakan akan menentukan kemungkinan memanfaatkan gravitasi dalam operasinya. Menurut W.A. Hustrulit, 1982, kemiringan cebakan mempunyai kaitan langsung dengan metode penambangan yang dipilih (Tabel 7.1)

3. Kedalaman operasi

(2)
(3)

Bab 7. Pemilihan Metode Tambang Bawah Tanah, hal. 97 Tabel 7.1 Hubungan kemiringan dengan metode penambangan (Menurut W.A. Hustrulit, 1982)

Dip Metode penambangan Keterangan

Flat Room and Pillar Badan bijih mendatar kuat

Flat Longwall Badan bijih lapisan tipis

Medium Room and Pillar Badan bijih kuat

Medium Inclined Room and Pillar Kemiringan tak memungkinkan mekanisasi

Medium Step Room and Pillar Badan bijih steeping yang memungkinkan mekanisasi Medium Longwall Badan bijih lapisan tipis

Medium Cut and Fill Badan bijih kuat, selektif dan mekanisasi

Medium Square Set Bijih berkadar tinggi dengan batas yang teratur

Steep Sub Level Badan bijih kuat dengan batas yang teratur

Steep Shrinkage Bijih kuat, batas teratur, pengambilan bijih tertunda Steep Cut and Fill Badan bijih kuat, selektif dan mekanisasi Steep Sublevel Caving Badan bijih besar, perlu development extensive Steep Blok Caving Badan bijih massive, perlu development extensive Steep Longwall Badan bijih lapisan tipis

Steep Square Set Bijih kadar tinggi, tenaga buruh intensive Keterangan : a. Flat dip : 0o– 20 o

b. Medium dip : 20 o– 50 o c. Steep dip : 50 o– 90 o 4. Waktu

Waktu akan mempengaruhi strength stress ratio suatu exposed rock (misal pillar). Makin lama waktu suatu pillar berdiri (exposed), maka strength-stress ratio semakin menurun.

5. Kadar cebakan

Sebagai pedoman ; cebakan berkadar rendah memerlukan metode produksi besar-besaran yang sering mengabaikan prosentase recovery. Di lain pihak, badan bijih kadar tinggi memerlukan metode yang menjamin recovery tinggi. 6. Fasilitas lokal yang meliputi buruh dan material

(4)

Bab 7. Pemilihan Metode Tambang Bawah Tanah, hal. 98 7. Modal yang tersedia

Biasanya semakin besar modal kerja awal, maka biaya operasi rendah. Perusahaan dengan modal kecil memerlukan development yang murah, juga metode yang cepat mendapatkan hasil.

8. Batas dengan badan bijih lain

Tingkat tegangan yang tinggi mungkin timbul pada pillar di permukaan kerja yang berdekatan. Dalam kondisi seperti ini, mungkin diperlukan filling pada stope bekas penambangan untuk mengurangi tegangan yang tinggi.

9. Kekuatan dan karakterisktik bijih dan batuan dinding atau material yang berada di atas bijih

Hal ini akan mempengaruhi kompetensi amblesan, kemudahan pemboran, karakteristik breaking, cara handing yang sesuai, cara ventilasi dan cara pemompaan. Karakteristik tersebut termasuk ;

- Tipe batuan dan penyebaran alaterasi

- Weakness seperti perlapisan, schistocity, belahan, patahan, rekahan. - Kecenderungan mineral berharga menghasilkan rich atau mud (misalnya

pada emas)

- Kecenderungan broken ore yang memadat, menggumpal, teroksidasi

dan terbakar (sulphide fires)

- Terjadinya swelling pada lantai - Abrasiveness

- Terdapatnya air, porositas dan permeabilitas cebakan dan batuan

sekitarnya.

Kekuatan dan karakteristik batuan ini dapat dilihat pada (Tabel 7.2 dan 7.3) 10. Produktifitas

Produktifitas bisa dinyatakan dalam ton-per-manshift ratio, yaitu menyatakan kemampuan setiap tenaga kerja menghasilkan broken ore (dalam ton) setiap gilir kerja (Tabel 7.4 dan Gambar 7.2 sampai Gambar 7.4)

11. Biaya metode ($/ton)

(5)

Bab 7. Pemilihan Metode Tambang Bawah Tanah, hal. 99 Tabel 7.2 Karakter Bijih, Batuan Samping dan Metode Penambangan

No. Karakter Bijih

dan Batuan Samping Aplikasi

Metode Penambangan

Sifat Produksi

1. - Bijih kuat

- Batuan Samping kuat - Kadar bijih rendah sampai sedang

- tidak memerlukan penyangga buatan

- Overhand Stoping

- penyanggaan kayu - Square Set Stopping - Stull Stopping

- batuan samping tidak kuat

- bijih diruntuhkan dengan memberi undercut

- Top Slicing

- Sub Level Stopping - Block Caving

Tabel 7.3 Klasifikasi Kekuatan Batuan

Tipe Batuan KPa Kekuatan Batuan psi Keterangan

Kwarsite, basalt dan

diabase >220.000 >32.000

Sangat amat kuat

Batuan beku, metamorf kuat, hard limestone dan dolomit

Tabel 7.4 Produktifitas Setiap Metode Penambangan

METODE Ton-per-manshift ratio

(6)
(7)
(8)
(9)

Bab 7. Pemilihan Metode Tambang Bawah Tanah, hal. 103 Tabel 7.5 Biaya Metode Penambangan (menurut B. Action, 1973)

METODE BIAYA, $/ton

 Diambil dari rata-rata pada penambangan di Amerika Utara  Biaya open pit termasuk pengangkutan ke crusher

 Biaya tambang bawah tanah meliputi biaya pada stope, seprti filling, peledakan, dan slushing, tidak termasuk transportasi ke permukaan

Tabel 7.6 Biaya Metode Penambangan (menurut William C.,1978)

METODE BIAYA, $/ton

 Sumber United States and Canadian mining journals

 Data diambil dari penambangan di Amerika Utara selama periode 1970 – 1976  Hanya menunjukkan direct cost (overhaad cost) sebesar 15 – 30% biaya direct cost

Biaya penambangan akan sangat bervariasi tergantung kondisi spesiifik Tabel 7.5 memberikan gambaran biaya operasi (termasuk pengangkutan) berbagai metode untuk tahun 1971.

12. Masalah Lingkungan

Beberapa masalah lingkungan yang mungkin terjadi adalah amblesan (subsidence), berkurangnya hutan lokal untuk penyanggaan, kualitas dump site dan lain-lain.

(10)

Bab 7. Pemilihan Metode Tambang Bawah Tanah, hal. 104 Metode caving (ambrukan) mempunyai masalah lingkungan yang spesifik, yaitu terjadinya amblesan (subsidence) pada permukaan bumi, oleh karena itu, metode ini hanya dapat dilakukan pada radius tertentu di permukaan bumi yang diizinkan terjadinya amblesan. Amblesan dipermukaan bumi yang diizinkan oleh pemerintah sebesar 100 meter MSL, maka terdapat kemungkinan sebagian bijih tidak bisa diambil dengan metode ambrukan.

7.2 BIAYA PENAMBANGAN DAN NILAI BIJIH

Pemilihan metode penambangan sangat dipengaruhi dipengaruhi biaya penambangan. Walaupun demikan, pemilihan penambangan tidak semata-mata didasarkan biaya penambangan terkecil saja. Karakteristik dan keuntungan setiap metode penambangan perlu dipertimbangkan, misalnya metode penambangan yang memerlukan lebih banyak tenaga kerja cocok diterapkan selective mining, sehingga menghasilkan bijih berkadar tinggi dan menghasilkan produk yang lebih berharga.

Contoh lainnya, bila memperbandingkan sublevel stoping dengan cut and fill. Pada sublevel stoping, stope harus dirancang dengan batas yang teratur, dan semua variasi kadar maupun material waste yang berada dalam batas rancangan stope akan tercampur menjadi satu. Pada sistim cut and fill memungkinkan batas penggalian mengikuti bentuk bijihnya yang tidak merata, sehingga menghindari pengambilan bagian yang berkadar rendah (Gambar 7.5).

Gambar 7.5 Variasi outline stope pada perbedaan metode penambangan

(11)

Bab 7. Pemilihan Metode Tambang Bawah Tanah, hal. 105 Sedangkan rancangan sublevel stoping diperkirakan bercampur 15% material kadar rendah, misalnya berkadar 0,5% Cu, sehingga kadar rata-rata metode sublevel menjadi 1,77% Cu.

Proses pengolahan menghasilkan konsentrat berkadar 25% Cu dan tailling 0,10% Cu, maka cut and fill hanya memerlukan 13,2 metrik ton untuk menghasilkan 10,0 metrik ton konsentrat, sedangkan sublevel memerlukan 15,0 metrik ton.

Bila nilai konsentrat $280/ton, maka perbandingan nilai yang dihasilkan kedua metode adalah :

Cut and fill = $280/13,2 = $21,21/ton Sublevel = $280/15,0 = $18,67/ton

Perbedaan nilai adalah $2,54/ton, lebih menguntungkan menggunakan metode cut and fill. Perbedaan nilai ini dapat dikompensasikan untuk biaya penambangan yang lebih mahal pada metode cut and fill, tetapi memiliki kondisi stope yang lebih aman. Memang pada kenyataannya suatu metode penambangan yang menghasilkan produk berkualitas tinggi dapat diperbandingkan dengan metode lain yang lebih efektif yang menghasilkan produk yang berkualitas rendah.

7.3 CADANGAN BIJIH DAN KADAR

Mineralisasi dapat dikatakan sebagai bijih, bila mineralisasi tersebut dapat ditambang secara menguntungkan. Bagian lain dari mineralisasi tersebut dikatakan sebagai batu (rock), walaupun mengandung minor yang memberikan nilai tertentu pada evaluasi ekonomi.

Untuk menggambarkan bentuk badan bijih, maka perlu menetapkan cut off grade (COG) yang menyatakan kadar terendah (atau kadar rata-rata) dimana batuan mineralisasi dapat dikatakan sebagai bijih. Dengan menggunakan macam cut off grade pada seluruh bagian bijih, maka bermacam-macam tonase dan kadar rata-rata dapat ditentukan. Pada kondisi yang tipikal, penurunan cut off grade akan menyebabkan badan bijih teristimasi akan meningkatkan dari urat sempit berkadar tinggi menjadi badan bijih masif berkadar rendah (Tabel 7.7).

Tabel 7.7 Hubungan kadar dengan bentuk bijih

(12)

Bab 7. Pemilihan Metode Tambang Bawah Tanah, hal. 106 Pada kasus A akan diperoleh suatu batas badan bijih kadar tinggi berukuran kecil, dimana investasi pada rancangan penambangan dan peralatannya kecil, oleh sebab itu metode square set yang memerlukan tenaga buruh intensive cocok diterapkan guna menambang urat tersebut. Bila untuk urat ini digunakan metode cut and fill, maka akan terjadi dilusi.

Pada kasus B, cadangan bijih memungkin diterapkan cara penambangan yang lebih umum (kurang mengikat). Metode cut and fill atau sublevel stoping lebih sesuai untuk situasi ini, tetapi perlu dilakukan studi yang lebih detail untuk menetapkan metode penambangan yang paling layak.

Pada kasus C menunjukkan layak dilakukan penambangan dengan skala besar dan biaya operasi yang rendah. Metode penambangan block caving mungkin cocok untuk cadangan seperti ini.

Dari kasus-kasus di atas, maka jelaslah bahwa kapasitas produksi, kadar bijih dan jumlah cadangan yang ada merupakan faktor penting dalam pemilihan metode penambangan bawah tanah.

7.4 PEMILIHAN METODE SECARA NUMERIK

Saat ini telah dikenal beberapa metode numerik untuk mengkaji aplikasi suatu tambang bawah tanah. Pada dasarnya pemilihan metode penambangan secara numerik ini sebagai upaya untuk menghasilkan nilai kuantitatif dalam memilih metode penambangan. Dalam pemilihan metode secara numerik, metode penambangan bawah tanah diklasifikasikan menjadi 10 metode yaitu :

1. Open pit

2. Room and pillar 3. Sublevel stoping 4. Cut and fill stoping 5. Shrinkage stoping

6. Square set stoping 7. Longwall mining 8. Top slicing 9. Sublevel caving 10. Block caving 7.4.1 PARAMETER YANG DIPERLUKAN

Parameter-parameter yang diperlukan dalam pemilihan metode penambangan secara numerik meliputi ;

1. Geometri dan distribusi kadar cebakan

2. Kekuatan massa batuan untuk daerah bijih, hangingwall dan footwall 3. Biaya penambangan dan modal yang dibutuhkan

4. Laju penambangan

5. Tipe kemampuan tenaga kerja 6. Masalah lingkungan

7. Peritimbang-perimbangan khusus lainnya

(13)

Bab 7. Pemilihan Metode Tambang Bawah Tanah, hal. 107 Pemilihan metode penambangan disini diterapkan untuk suatu proyek dimana telah dilakukan pemboran inti dan data geologi serta data geofisika. Bila telah diperoleh karakteristik geometri / distribusi kadar dan sifat mekanik batuan, maka pemilihan metode penambangan sedikitnya ada dua tahapan yaitu : Tahap Pertama

Pada tahap pertama ini cebakan harus secara jelas dapat digambarkan data geometri, distribusi kadar dan sifat mkanik batuannya. Berdasarkan data-data tersebut, maka dapat disusun metode penambangan berdasarkan rankingnya, yaitu menentukan metode penambangan mana yang paling mungkin diterapkan. Langkah selanjutnya adalah mempertimbangkan biaya modal yang ditanamkan, laju penambangan, tipe dan kemampuan tenaga kerja, masalah lingkungan dan pertimbangan khusus lainnya.

Tahap Kedua

Pada tahap ini dilakukan pertimbangan biaya yang dikeluarkan dalam setiap metode penambangan yang didasarkan pada rencana umum penambangan. Biaya penambangan dan biaya modal untuk menentukan cot off grade cadangan yang dapat ditambang. Dari alternatif berbagai metode, selanjutnya dibuat perbandingan ekonomis untuk menentukan metode penambangan yang optimal dan kelayakan ekonomisnya.

Selama perencanaan penambangan tahap kedua ini,keterangan mengenai mekanika batuan akan digunakan untuk memberikan perkiraan ukuran lubang bukaan, jumlah penyangga, orientasi bukaan, dan karakteristik ambrukan, dan sudut kemiringan open pit.

Apabila dalam pelaksanaan penambangan dijumpai masalah operasional, maka bisa melakukan modifikasi rencana penambangan awal. Walaupun perencanaan terhadap metode penambangan yang dipilih telah dimulai pelaksanaannya, modifikasi yang akan dilakukan pada saat penambangan berlangsung. Dengan kata lain, lebih baik membuat kesalahan pada tahap perencanaan dari pada memperbaikinya, dibanding dengan kesalahan yang dijumpai setelah penambangan berlangsung.

7.4.2 DATA YANG DIBUTUHKAN

(14)

Bab 7. Pemilihan Metode Tambang Bawah Tanah, hal. 108 Geologi dan Geofisika

Interpretasi geologi dan geofisika merupakan bagian penting dalam evaluasi mineral, dari interpretasi ini dapat dibuat peta-peta penampang dan potongan geologi yang akan menunjukkan tipe batuan utama, zona alterasi, urat, sumbu lipatan dan lain-lain.

Geometri cebakan dan distribusi kadar

Dari interpretasi geologi dan geofisika di atas, maka bisa ditetapkan geometri dan distribusi kadar, geometri kadar dinyatakan dalam bentuk, ketebalan bijih dan penunjaman (Tabel 7.8).

Dari model penyebaran kadar, maka dibuat peta kontur kadar atau dengan memberi warna yang berbeda, sehingga dapat menunjukkan tipe batuan yang dominan, dan juga hubungannya dengan badan bijih.

Karakteristik mekanika batuan

Sifat-sifat batuan perlu diklasifikasikan untuk memberikan gambaran terhadap cebakan secara keseluruhan. Tabel 7.9 menunjukkan karakteristik mekanika batuan yang perlu ditetapkan meliputi kekuatan batuan intack, spasi pecahan (fracture spacing), dan kuat geser pecahan (fracture shear strength).

Kekuatan batuan intack merupakan nisbah kuat tekan uniaxial terhadap tekanan tanah penutup. Kuat tekan diperoleh dengan menggunakan point load testing machine, sedangkan tekanan tanah penutup ditentukan dari kedalaman dan bobot isi tanah penutup.

Spasi pecahan ditentukan berdasarkan banyaknya pecahan per meter atau RQD (Rock Quality Designation) adalah jumlah panjang semua potongan inti yang lebih besar atau sama dengan dua kali diameter inti, dibagi dengan total panjang pemboran.

7.4.3 LANGKAH – LANGKAH PEMILIHAN

Dalam pemilihan metode penambangan secara numerik bisa dibagi lima langkah, yaitu :

1. Menentukan karakteristik geometri dan distribusi kadar berdasarkan Tabel 7.8 dan karakteristik mekanika batuan berdasarkan Tabel 7.9.

2. Menetapkan nilai numerik untuk setiap karakteristik geometri dan distribusi kadar dengan menggunakan Tabel 7.10.

3. Menetapkan nilai numerik untuk setiap karakteristik mekanika batuan untuk daerah bijih (Tabel 7.11a), derah hangingwall (Tabel 7.11b) dan daerah footwall (Tabel 7.11c).

(15)

Bab 7. Pemilihan Metode Tambang Bawah Tanah, hal. 109 Tabel 7.8 Geometri dan distribusi kadar dari bijih

1. Bentuk

- Dimensi teratur (equal dimension : semua dimensi kurang lebih berdimensi sama - Lembaran tabung (platy tabular) : dua dimensinya berukuran beberapa kali

ketebalannya, bila tidak lebih dari 100 meter (325 ft)

- Tak beraturan (irregular) : mempunyai dimensi dengan ukuran yang bervariasi

2. Ketebalan

- Tipis (narrow)

- Sedang (intermediate) - Tebal (thick)

- Sangat tebal (very

thick)

- Seragam (uniform) : bila kadar pada setiap titik dalam cebakan tidak bervariasi dari kadar rata-rata

- Bertahap (gradation) : apabila kadar mempunyai karakteristik tertentu akan berubah secara bertahap (sedikit demi sedikit) dari satu titik ke titik lainnya

- Tak menentu (eratic) : bila kadar berubah secara radikal dan tidak menunjukkan pola perubahan tertentu

Tabel 7.9 Karakteristik mekanika batuan

1. Kekuatan batuan intack

- Tipis (narrow)

- Sedang (intermediate) - Tebal (thick)

Kekuatan uniaxial/tekanan tanah penutup

< 6

- Lemah ; bila rakahan membentuk permukaan yang rata atau rekahan terisi oleh material yang mempunyai kekuatan lebih kecil dari kekuatan batuan intack

- Sedang ; bila rekahan membentuk permukaan yang kasar

(16)
(17)
(18)
(19)
(20)

Bab 7. Pemilihan Metode Tambang Bawah Tanah, hal. 114 Setiap metode penambangan mempunyai nilai dalam ranking yang didasarkan pada kesesuaian geometri dan distribusi kadar, karakteristik mekanika batuan, daerah bijih, daerah hangingwal dan footwall. Arti numerik dalam setiap ranking adalah sebagai berikut :

1. Preferred ; bila karakteristik yang ada sangat cocok untuk aplikasi metode penambangan tertentu.

2. Probable ; bila karakteristik yang ada memungkinkan aplikasi metode penambangan tertentu.

3. Unlikely ; bila karakteristik yang ada sebenarnya tidak memungkinkan aplikasi metode penambangan tertentu, tetapi juga tidak menyimpang apabila metode penambangan tersebut akan diaplikasikan.

4. Eliminated ; bila karakteristik yang ada tidak memungkinkan aplikasi metode penambangan tertentu.

Besarnya nilai-nilai yang digunakan untuk setiap ranking disusun berdasarkan angka-angka numerik sebagai berikut ;

Preferred 3 – 4 Probable 1 – 2

Unlikely 0

Eliminated -49

Ranking eliminated akan dipilih jika nilai-nilai karakteristik sama dengan negatif, oleh sebab itu metode penambangan tersebut akan ditinggalkan. Nilai nol dipilih untuk ranking unlikely, sebab tidak menambah peluang penggunaan metode tersebut, tetapi juga tidak ada alasan untuk meniadakan metode tersebut. Bila nilai-nilai yang digunakan memasukkan dalam probable dan preferred, maka karakteristik untuk satu parameter dapat disusun dalam urutan ranking metode penambangan.

7.4.4 KASUS PEMILIHAN

Untuk lebih memahami proses pemilihan metode panambangan secara numerik ini, maka akan diberikan satu studi kasus. Dari data ekplorasi diketahui hal-hal sebagai berikut ;

1. Geometri dan distribusi kadar

a. Bentuk : lembaran atau tabung b. Ketebalan bijih : sangat tebal

c. Penunjaman bijih : datar d. Distribusi kadar : seragam e. Kedalaman : 130 meter 2. Karakteristik mekanika batuan

a. Daerah bijih

(21)

Bab 7. Pemilihan Metode Tambang Bawah Tanah, hal. 115 b. Daerah hangingwall

- Kekuatan batuan : kuat - Spasi pecahan : lebar - Kekuatan batuan : sedang

c. Daerah footwall

- Kekuatan batuan : sedang - Spasi pecahan : rapat - Kekuatan batuan : lemah

Tahap pertama adalah menyusun data mengenai geometri dan distribusi kadar serta karakteristik mekanika batuan bijih (Tabel 7.12., kolom 1). Berdasarkan pada karakteristik cebakan tersebut maka ditentukan nilai-nilai numeriknya berdasarkan Tabel 7.10 dan Tabel 7.11. Kemudian nilai-nilai yang diperoleh dijumlahkan untuk geometri dan distribusi kadar, mekanika batuan bijih, mekanika batuan hangingwall dan footwall (Tabel 7.12 kolom 2 dan 3).

Langkah selanjutnya adalah meninjau nilai numerik tiga kelompok mekanika batuan, kemudian nilai-nilai numeriknya dijumlahkan. Jumlah nilai numerik ini kemudian ditambahkan dengan jumlah nilai numerik geometri dan distribusi kadar (Tabel 7.14).

Dengan cara pengelompokan karakteristik di atas dan menentukan nilai numeriknya, maka dapat mengurangi atau mengeliminir kesempatan penggunaan metode penambangan tertentu. Untuk keadaan dimana jumlah nilai numeriknya mendekati sama, maka pemilihan metode yang paling sesuai didasarkan pada karakteristik-karakteristik cebakan yang menunjang aplikasi metode penambangan yang dipilih.

(22)

Bab 7. Pemilihan Metode Tambang Bawah Tanah, hal. 116 Tabel 7.12 Contoh proses pemilihan metode penambangan secara numerik

Geometri/distribusi kadar Kolom 1 Open

pit

Block Caving dst.

(23)

Bab 7. Pemilihan Metode Tambang Bawah Tanah, hal. 117 Tabel 7.13 Total nilai-nilai numerik yang dimiliki setiap metode penambangan

Meode Penambangan

Geometri/ Distribusi kadar

Karakteristik MB Jmlh Bjh Hw Fw Total

Tabel 7.14 Hasil Ranking

Meode Shrinkage stoping 30 Sublevel caving 29 Sublevel stoping 24 Room and pillar -24 Longwall mining -18

(24)

Bab 7. Pemilihan Metode Tambang Bawah Tanah, hal. 118 Tabel 7.15 Nilai numerik dan ranking setiap metode penambangan

7.4.5 KOMENTAR

Tabel 7.15 menyatakan bahwa pemilihan metode penambangan sangat memerlukan sudut pandang sebagai berikut ;

1. Dari sudut pandang mekanika batuan, cut and fill akan dipandang sebagai metode penambangan yang paling baik (nilai 25), tetapi bila ditinjau dari karakteristik geometri / distribusi kadar ternyata merupakan pilihan yang jelek (nilai 7).

2. Dari sudut pandang geometri / distribusi kadar, top slicing dipandang sebagai metode penambangan yang paling baik (nilai 15), tetapi bila ditinjau dari karakteristik mekanika batuannya ternyata merupakan pilihan yang jelek (nilai 19).

3. Dari sudut pandang geometri / distribusi kadar dan karakteristik mekanika batuan, metode open pit merupakan pilihan yang paling tepat, tetapi aplikasi open pit masih tergantung pada nilai BESR.

Untuk kasus seperti ini, maka diperlukan pertimbangan lainnya, yaitu : 1. BESR

2. Biaya produksi 3. Produkstivitas

(25)

Bab 7. Pemilihan Metode Tambang Bawah Tanah, hal. 119 5. Masalah lingkungan

6. Ketersediaan air

7. Pertimbangan khusus lainnya

Figur

Gambar 7.1 Penampang bijih dalam pemilihan penambangan
Gambar 7 1 Penampang bijih dalam pemilihan penambangan . View in document p.2
Tabel 7.1 Hubungan kemiringan dengan metode penambangan (Menurut W.A. Hustrulit, 1982)
Tabel 7 1 Hubungan kemiringan dengan metode penambangan Menurut W A Hustrulit 1982 . View in document p.3
Tabel 7.4 Produktifitas Setiap Metode Penambangan
Tabel 7 4 Produktifitas Setiap Metode Penambangan . View in document p.5
Tabel 7.2 Karakter Bijih, Batuan Samping dan Metode Penambangan
Tabel 7 2 Karakter Bijih Batuan Samping dan Metode Penambangan . View in document p.5
Tabel 7.3 Klasifikasi Kekuatan Batuan
Tabel 7 3 Klasifikasi Kekuatan Batuan . View in document p.5
Gambar 7.2 Keterangan peralatan dan unjuk kerja metode drilling
Gambar 7 2 Keterangan peralatan dan unjuk kerja metode drilling . View in document p.6
Gambar 7.3 Keterangan peralatan dan unjuk kerja metode longhole drilling
Gambar 7 3 Keterangan peralatan dan unjuk kerja metode longhole drilling . View in document p.7
Gambar 7.4 Keterangan unjuk kerja alat muat
Gambar 7 4 Keterangan unjuk kerja alat muat . View in document p.8
Tabel 7.6 Biaya Metode Penambangan (menurut William C.,1978)
Tabel 7 6 Biaya Metode Penambangan menurut William C 1978 . View in document p.9
Tabel 7.5 Biaya Metode Penambangan (menurut B. Action, 1973)
Tabel 7 5 Biaya Metode Penambangan menurut B Action 1973 . View in document p.9
Gambar 7.5 Variasi outline stope pada perbedaan metode penambangan
Gambar 7 5 Variasi outline stope pada perbedaan metode penambangan . View in document p.10
Tabel 7.7 Hubungan kadar dengan bentuk bijih
Tabel 7 7 Hubungan kadar dengan bentuk bijih . View in document p.11
Tabel 7.8 Geometri dan distribusi kadar dari bijih
Tabel 7 8 Geometri dan distribusi kadar dari bijih . View in document p.15
Tabel 7.9 Karakteristik mekanika batuan
Tabel 7 9 Karakteristik mekanika batuan . View in document p.15
Tabel 7.10 Nilai numerik untuk geometri / distribusi kadar pada berbagai metoda penambangan
Tabel 7 10 Nilai numerik untuk geometri distribusi kadar pada berbagai metoda penambangan . View in document p.16
Tabel 7.11a. Nilai numerik untuk karakteristik mekanika batuan daerah bijih
Tabel 7 11a Nilai numerik untuk karakteristik mekanika batuan daerah bijih . View in document p.17
Tabel 7.11b. Nilai numerik untuk karakteristik mekanika batuan daerah hanging
Tabel 7 11b Nilai numerik untuk karakteristik mekanika batuan daerah hanging . View in document p.18
Tabel 7.11c. Nilai numerik untuk karakteristik mekanika batuan daerah footwall
Tabel 7 11c Nilai numerik untuk karakteristik mekanika batuan daerah footwall . View in document p.19
Tabel 7.13  Total nilai-nilai numerik yang dimiliki setiap metode penambangan
Tabel 7 13 Total nilai nilai numerik yang dimiliki setiap metode penambangan . View in document p.23
Tabel 7.14  Hasil Ranking
Tabel 7 14 Hasil Ranking . View in document p.23
Tabel 7.15  Nilai  numerik dan ranking setiap metode penambangan
Tabel 7 15 Nilai numerik dan ranking setiap metode penambangan . View in document p.24

Referensi

Memperbarui...