1 Para Perempuan yang Mengubah Wajah Desa:
UU 6/2014 dan Pembangunan yang Inklusif di Indonesia1
Oleh: R. Yando Zakaria2
Pengantar
Meski tidak menjadi bagian pendorong awal dalam gerakan advokasi UU Desa yang baru (Vel, Zakaria, dan Bedner, 2016), gerakan perempuan menjadi salah satu pihak yang aktif dalam proses legislasi UU Desa. Lebih dari itu, diawali pada saat-saat menjelang penetapan, dan terlebih lagi pada masa pasca-penetapan kebijakan baru itu, berbagai organisasi organisasi masyarakat sipil yang peduli dengan persoalan perempuan (dan anak) dapat dikatakan menjadi pihak yang paling aktif dalam upaya mengoptimalkan keberadaan kebijakan baru itu sebagai intrumen pencapaian tujuan gerakannya, yakni proses pembangunan yang pro pada pendekatan inklusi sosial; bahkan sebelum Pemerintah sendiri belum siap dengan berbagai instrumen kebijakan turunan lainnya (Simarmata & Zakaria, 2016).3
Meski capaiannya minimalis (Koalisi Perempuan Indonesia, 2014; PP Aisyiah, 2015; Simarmata & Zakaria, 2016), perspektif baru yang ditawarkan gerakan perempuan itu akhirnya diadopsi juga dalam UU Desa. Bagi sebagian organisasi dan/ataupun jaringan kerja masyarakat sipil yang peduli dengan masalah perempuan dan anak di perdesaan, Kebijakan baru itu dirasa cukup memberikan harapan baru bagi perubahan wajah desa ke depan (Institute Mosintuwu dan Sekolah Perempuan Poso, 2013; dan Program MAMPU, 2014).
Tulisan ini ingin menjawab pertanyaan pokok tentang apa kekuatan dan kelemahan norma-norma hukum tentang iklusi sosial yang terkandung dalam UU Desa jika dibandingan dengan paraturan perundang-undangan yang juga mempromosikan pendekatan inklusi sosial? Apakah norma-norma hukum yang pro-inklusi sosial itu dapat membantu para pihak yang concern lebih leluasa dalam mendorong
1
Makalah yang dipresentasikan pada lokakarya “New Law, New Villages? Changing rural Indonesia”. Leiden, 19 – 20 May 2016. Diselenggarakan oleh KITLV bekerjasama dengan Van Volenhoven Institute, Leiden University, Program Asian Modernities and Traditions (AMT), dan the Norwegian Centre for Human Rights, University of Oslo (NCHR).
2 Praktisi antropologi. Fellow pada Lingkar pembaran Desa dan Agraria (KARSA), Yogyakarta;
dan pengajar tamu pada Jurusan Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, FISIPOL UGM.
3 Sejauh ini cara untuk mendefinisikan inklusi sosial (social inclusion) adalah dengan mengacu
2
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan desa yang lebih inklusif? Apa saja kendala yang dihadapi?
Pada akhirnya, tulisan ini juga mempertanyakan apakah peluang pendekatan inklusi sosial yang terkandung dalam UU Desa yang baru ini mampu memperbaharui konstelasi sosial-politik dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pemerintahan dan pembangunan di tingkat desa? Kebijakan-kebijakan baru apa yang dibutuhkan agar cita-cita inklusi sosial dalam UU Desa menjadi kenyataan di tingkat lapangan?
UU Desa dan pembangunan yang inklusif di Indonesia
Program pembangunan yang inklusif bukanlah barang baru dalam pendekatan pembangunan (perdesaan) di Indonesia. Namun sejauh ini capaiannya masih belum menggembirakan. Program-program yang ada selama ini nyatanya (a) belum mampu menggapai kelompok-kelompok yang ‘paling marjinal; (b) mutu partisipasi rendah yang masih rendah (75% peserta forum deliberative hanya datang untuk mendengarkan; keputusan yang diambil menguntungkan kelas atas di desa; (c) program-program dengan single target group pun belum mampu menggapai kelompok yang paling rentan (misalnya kepala keluarga perempuan yang miskin); (d) ada program dengan special single target group yang sanggup menggapai kelompok termarjinal itu namun pengaruhnya pada keputusan di arena politik formal relatif masih terbatas; dan (e) maka secara umum, struktur sosial yang tidak adil tidak/belum banyak berubah (Gibson and Woolcock, 2005; McLaughlin, Satu, & Hoppe, 2007; Voss, 2008; AKATIGA, 2010; SMERU, 2010, Soehendera, 2010; dan John F. McCarthy, et.al. in press.).
Dalam situasi yang demikian para pendukung UU Desa setidaknya berhasil menyorongkan tiga bentuk inklusi sosial dalam UU Desa. Masing-masing dalam bentuk (a) pengakuan atas susunan asli masyarakat hukum adat untuk menyelenggarakan pemerintahan yang didasarkan pada hak asal-usul; (b) pemberian kesempatan secara khusus kepada perempuan untuk turut berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa (ketewakilan pada BPD); dan (c) inklusi sosial yang dialamatkan kepada semua warga desa, termasuk kelompok marginal, untuk berpartisipasi dalam penataan desa, perencanaan desa, penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan desa.
Berdasarkan uraian mengenai perbandingan kandungan kualitas inklusi sosial dalam UU Desa dengan beberapa UU lainnya (Simarmata & Zakaria, 2016),4 dapat dikatakan bahwa, pertama, sama seperti beberapa UU lainnya, UU Desa meneruskan tradisi inklusif dalam sistem legislasi nasional. Bila yang menjadi ukuran adalah partisipasi warga maka hampir semua UU memiliki ketentuan mengenai hal tersebut. Berbagai UU di bidang pengelolaan sumberdaya alam mewajibkan pemerintah untuk
3
menyertakan masyarakat dalam pengurusan hutan, 5 penyusunan perencanaan perkebunan (nasional dan daerah),6 pengelolaan perikanan,7 pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil,8 dan dalam penyelenggaraan penataan ruang.9
Kedua, jika berbicara mengenai partisipasi, yang merupakan tingkatan kedua inklusi sosial, UU Desa relatif lebih maju. Bila empat dari lima UU terkait lainnya menentukan partisipasi hanya dalam bentuk memberikan masukan maka UU Desa sudah sampai pada bentuk mengambil keputusan. Partisipasi dalam bentuk tersebut ada pada ketentuan yang mewajibkan adanya wakil unsur perempuan dan masyarakat miskin di dalam musyawarah desa, serta wakil perempuan dalam keanggotaan BPD. Dalam soal ini hanya UU Pemerintahan Daerah yang sama dengan UU Desa yang menentukan bahwa masyarakat ikut serta dalam pengambilan keputusan mengenai pengelolaan aset dan/atau sumber daya alam daerah. Jika dikaitkan dengan tingkatan tertinggi inklusi sosial, yaitu pemberdayaan, UU Desa bahkan terlihat sangat maju dibandingkan dengan UU terkait lainnya. UU Desa memiliki ketentuan mengenai pemberdayaan baik sebagai tugas pemerintahan desa maupun hak masyarakat desa. Sekali lagi, dalam hal ini UU Desa hanya bisa disamai oleh UU Pemerintahan Daerah, UU Kehutanan,10 UU Pengelolaan Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil,11 dan UU Perikanan.12
Ketiga, cara UU Desa untuk inklusif tidak hanya dengan memberikan hak dan kesempatan yang sama kepada semua warga negara, termasuk kelompok marginal, melainkan juga dengan ‘perlakuan khusus’. Perlakuan khusus tersebut tampak dalam ketentuan yang mensyaratkan keberadaan unsur atau perwakilan kelompok marginal dalam forum atau lembaga tertentu. Namun dalam hal ini UU Desa masih belum semaju UU Pelayanan Publik yang mengharuskan penyelenggara pelayanan publik untuk memberikan perlakuan khusus kepada kelompok masyarakat rentan tanpa adanya biaya tambahan.
Jadi, bila dibandingkan dengan kelima UU terkait dan beberapa UU di bidang pengelolaan sumberdaya alam, kandungan inklusi sosial dalam UU Desa relatif lebih punya kualitas karena: (i) menaikan tingkat partisipasi ke ikut serta mengambil keputusan; (ii) mendorong inklusi sosial ke tingkatan pemberdayaan, dan (iii) memastikan kelompok marginal mendapatkan hak dan kesempatan yang sama dengan memberikan perlakuan khusus. Namun, dalam hal-hal tertentu, kandungan inklusi sosial dalam UU Desa masih di bawah kandungan UU lain karena UU lain sudah lebih eksplisit dalam melindungi kelompok marginal.13
5
Pasal 68 s/d Pasal 70 UU No. 41/1999 tentang Kehutanan.
6
Pasal 8 dan Penjelasannya UU No. 18/2004 tentang Perkebunan.
7 Pasal 6 Ayat (2) dan Penjelasan Umum.
8 Pasal 60 & Pasal 61 UU No. 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
sebagaimana telah diubah oleh UU No. 1/2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
9 Pasal 65 UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang. 10 Pasal 67 Ayat (1) huruf c.
11 Pasal 63. 12
Pasal 60 s/d Pasal 64.
13 Kajian Simarmata dan Zakaria (2016) terhadap perangkat peraturan perundang-undangan
4
Respons organisasi masyarakat sipil
Sejak UU Desa ditetapkan pada akhir 2013 lalu, berbagai organisasi dan proyek yang bekerja untuk isu sosial inklusi berusaha merespon pemberlakuan UU Desa. Respon tersebut ada yang berbentuk reaktif (jangka pendek) namun ada juga yang sudah dirancang sedemikian rupa (jangka panjang). Respon yang bersifat reaktif seluruhnya berupa kegiatan sosialisasi/diseminasi UU Desa. Dari segi pengelolaan, kegiatan sosialisasi/diseminasi dilakukan dengan dua cara. Pertama, melakukan sosialisasi/diseminasi sebagai kegiatan selingan atau materi tambahan dalam sebuah pertemuan, dengan durasi waktu selama satu sampai dua jam. Kedua, menyelenggarakan sosialisasi/diseminasi sebagai kegiatan tersendiri dengan memakan waktu satu atau 2 hari.
Adapun respon yang bersifat terencana terjadi apabila organisasi dan proyek memiliki program baru yang dilahirkan setelah pemberlakuan UU Desa. Sekedar menyebut contoh adalah Hibah Inovasi MAMPU yang mendukung 2 LSM untuk menguatkan partisipasi perempuan dalam perencanaan dan pembuatan aturan desa. Contoh lainnya adalah kursus sehari mengenai UU Desa yang dilakukan oleh KARSA (Yogyakarta). Kursus sehari tersebut tidak dipungut biaya. Selain dari bentuk atau cara merespon, inisiatif organisasi dan proyek dalam rangka menjadikan UU Desa sebagai arena mempromosikan perspektif inklusi sosial juga bisa dicermati dengan melihat program dan kegiatan yang dikembangkan dan diselenggarakan. Secara garis besar program dan kegiatan tersebut berkenaan dengan sosialisasi/diseminasi dan implementasi.
Program dan kegiatan implementasi terbilang kompleks karena mencakup berbagai isu dan kegiatan. Implementasi dapat diurai lagi ke dalam isu dan kegiatan-kegiatan (a) Mengawal penyusunan rancangan peraturan; (b) Mengawal pelaksanaan; (c) Meningkatkan Partisipasi warga desa; dan (d) Pengembangan ekonomi desa.
Mengawal penyusunan rancangan peraturan mencakup kegiatan menyusun dan menyiapkan masukan-masukan terhadap rancangan peraturan yang disiapkan oleh pihak lain (pemerintah), dan terlibat dalam penyusunan rancangan peraturan. Pandangan kritis dan masukan atas Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Penyelenggaraan Desa, yang disusun oleh 50 perwakilan organisasi perempuan pada Mei 2014 lalu, merupakan contoh dari menyusun masukan terhadap rancangan peraturan yang disiapkan oleh lembaga lain.14 Di tingkat Kabupaten, Institute Mosintuwu berupaya menghasilkan rekomendasi bagi UU Desa dan aturan-aturan pelaksanaannya melalui Kongres Perempuan Poso yang diseleggarakan pada 25 – 27 Maret 2014, yang melibatkan sekitar 1.000 perempuan dari 70 desa yang ada di Kabupaten Poso. Dalam Rekomendasi Hasil Kongres yang berisikan 10 rekomendasi, antara lain disebutkan “dalam Peraturan Pemerintah harus ditegaskan bahwa Pemerintah Desa berkewajiban melibatkan perempuan dalam setiap lembaga-lembaga pemerintahan desa minimal 50%”; “Pemerintah Desa berkewajiban menganggarkan kegiatan pemberdayaannperempuan minimal 50% dalam APBDes dan 30% dalam program pembanguna kabupaten”; “Pemerintah Kabupaten berkewajiban membuat
14 Judul lengkap dokumen rumusan masukan tersebut adalah Pandangan Kritis dan Masukan dari
5
Peraturan Daerah tentang keterlibatan perempuan minimal 50% dalam perencanaan di musyawarah desa dan dalam pelaksanaan dan pengawasan pembangunan desa’.15
Pengalaman dari Poso
Lingkar Pembaruan Desa dan Agraria (KARSA) adalah salah satu jaringan kerja masyarakat sipil yang memang didirikan untuk mengadvokasi kebijakan yang berkaitan dengan pembaruan desa dan agraria, dengan berbagai perpektif, termasuk perspektif kesetaraan jender. Salah seorang pendri KARSA, Kamala Chandrakirana, yang kemudian juga menjadi Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Hak Asasi Perempuan, dengan cara kerjanya sendiri mempromosikan peluang yang dibuka oleh, ketika itu masih Rancangan Undang-Undang Desa, bagi kemajuan upaya pembelaan hak-hak perempuan (dan anak) di tingkat komunitas. Gayung pun bersambut. Saya, selaku salah satu Tenaga Ahli Panitia Khusus RUU Desa Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia diundang sebagai pembicara dalam rapat tahunan Program Mampu (Nasional) dan Kongres Perempuan (Kabupaten) Poso yang diinisiasi oleh Institut Mosintuwo, sebuah organisasi masyarakat sipil lokal. Sebagaimana telah disinggung, kedua kegiatan ini melahirkan masukan yang lebih komprehensif bagi penyempurnaan UU Desa.16
Beberapa tahun sebelum proses legislasi RUU Desa bergulir Intitute Mosintuwu telah memiliki program pengembangan partisipasi perempuan di tingkat desa dalam menciptakan dan melestarikan perdamaian pasca-konflik antar-kelompok yang cukup masif dan sepertinya belum akan usai tuntas (Komnas HAM, 2005; Alganih, 2014; Rendi, 2014; dan Manna, 2014)17 Asumsi dasarnya adalah perdamaian hanya akan abadi jika para warga di tingkat akar rumput memahami konteks konflik yang terjadi itu sendiri. Asumsi ini berangkat dari temuan Lian Gogali, pendiri Institute Mosintuwu dan pencetus ide Sekolah Perempuan, sewaktu terlibat dalam berbagai upaya untuk menciptakan perdamaian yang diselenggarakan oleh pemerintah, lembaga donor, maupun berbagai jaringan kerja organisasi masyarakat sipil. Pengalaman Lian itu menunjukkan bahwa seringkali pihak korban yang sesungguhnya dari konflik yang terjadi itu tidak memahami benar tetang apa sesungguhnya yang terjadi.
Melalui Sekolah Perempuan, Institute Mosintuwu ingin membangun kesadaran kritis warga masyarakat di daerah konflik itu, khususnya kaum perempuan. “Karena kaum perempuanlah yang paling menderita dalam konflik ini. Dalam kondisi normal saja kaum perempuan tersingkirkan, apalagi dalam keadaan yang tidak normal ini,” jelas Lian suatu ketika. Melalui Sekolah Perempuan kaum perempuan yang berasal dari berbagai desa yang ada di Kabupaten Desa diajak berdiskusi dan memahami
15
Rekomendasi Kongres Perempuan Poso untuk Tim Perumus Peraturan Pemerintah untuk UU Desa.
16 Seiring dengan perjalanan waktu KARSA juga dilibatkan dalam mengembangkan kurikulum dam
materi Sekolah Perempuan yang diinisiasi oleh YSKK, SOLO, di mana, sebagaimana yang sudah terjadi di Kabupaten Poso, UU Desa sebagai materi ajar yang dikaji secara intesif. Pada masa berikut, HIVOS, sebuah lembaga donor dari Negeri Belanda juga tertarik untuk mengoptimalisasi UU Desa bagi kemajuan program yang berkaitan dengan hak-hak perempuan dan anak di 3 (tiga) kabupaten lainnya. Masing-masing Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, dan kabupaten Kutai Barat dan Mahakam Hulu di Kalimantan Timur. Proses evaluasi di empat wilayah belajar yang ditemani oleh KARSA ini silahkan taut ke https://www.youtube.com/watch?v=54gJX7AN_p0
17 Lihat juga
6 masalah ketidak-adilan yang diderita oleh kaum perempuan, dan pada tingkat selanjutnya, nilai-nilai universal seperti HAM dan gerakan anti-kekerasan, yang perlu dihayati dalam menciptakan kehidupan ke depan yang aman, damai dan sejahtera.
Lalu mengapa pula UU Desa menjadi bahan belajar yang cukup intens dipelajari dalam 2 tahun terakhir ini? Kutipan-kutipan berikut mungkin bisa menjelaskannya
“Di setiap desa, perempuan itu ada. Setiap saat perempuan yang ada di desa,” suara ibu Yarlin nampak bergetar. “Tapi kami tidak pernah dilibatkan. Dianggap tidak ada. Sekarang tidak bisa begitu lagi. Makanya kami disini. Kaum perempuan hadir untuk sama-sama membangun di desa,” seru ibu Yarlin. Pernyataan ibu Yarlin disambut tepuk tangan meriah dan teriakan “hidup perempuan Poso” dari beberapa sudut ruangan berstruktur bambu pagi hari itu. Selain ibu Yarlin yang berasal dari Desa Didiri, hadir pula 60 perempuan lainnya dari 39 desa di Kabupaten Poso dan dari dua kecamatan di Kabupaten Morowali termasuk kurang lebih 50 perwakilan pemerintah desa termasuk BPD dan LPM. Kehadiran mereka mewakili semangat bersama masyarakat di desa untuk menyambut dan mengimplementasikan UU Desa dengan mengikuti workshop Langkah Bersama UU desa.18
Seperti yang disampaikan ibu Yarlin, Institut Mosintuwu yang menyelenggarakan kegiatan ini mempercayai bahwa membangun desa tanpa melibatkan perempuan bukan saja tidak adil tetapi akan membuat pembangunan tersebut berjalan timpang. Kehadiran UU Desa telah memberikan harapan yang penting bagi masyarakat desa untuk kembali berdaulat dalam mengelola desa. Namun sayangnya, kelompok perempuan adalah pihak yang paling terakhir mendapatkan informasi mengenai UU Desa. Pengetahuan selama ini dimonopoli oleh para pejabat yang sebagian besar adalah laki-laki. Oleh karena itu memberikan informasi mengenai UU Desa kepada kelompok perempuan adalah bagian penting untuk membangun sistem pengetahuan bersama yang adil sehingga selanjutnya bisa bersama-sama dapat dilibatkan dalam pembangunan di desa.19
Pada kesempatan lain tercatat pula pernyataan berikut: “Pengalaman perempuan terhadap sering diabaikannya hak layanan masyarakat dalam desa menjadi salah satu motivasi anggota Sekolah Perempuan yang bergabung di tim layanan masyarakat melakukan kampanye dan advokasi pemenuhan hak layanan masyarakat yaitu pendidikan dan kesehatan. Tujuannya agar masyarakat miskin dan marginal di dalam desanya mengenal dan memahami hak-nya terutama mendapatkan pelayanan publik yang seharusnya dan yang disediakan.”20
Penyelenggaraan Sekolah Perempuan dalam mengoptimalisasi UU Desa, jika dapat dikatakan begitu, dilakukan secara bertingkat. Tahap pertama, kegiatan memperajari UU Desa dan proses Sekolah Perempuan itu dimaksudkan untuk menghasilkan ‘calon pelatih’ yang nantinya akan menggulirkan diskusi-diskusi seputar peluang dan tantangan penerapan UU Desa ke depan. ‘Pelatihan untuk pelatih’ ini, jika dapat dikatakan begitu dilakukan secara bertahap, yang mencakup tidak kurang dari 70 (tujuhpuluh) orang peserta Sekolah Perempuan. Tahap pertama lebih banyak
18
http://perempuanposo.com/2014/11/10/perempuan-membangun-indonesia-dari-desa-di-poso/
19
http://perempuanposo.com/2014/11/10/perempuan-membangun-indonesia-dari-desa-di-poso/
7 membicarakan hal-hal yang bersifat menyeluruh dan umum tentang UU Desa; tahap kedua lebih menekankan masalah perencanaan dan pengganggaran pembanguna di desa; dan tahap tiga pengulangan beberapa materi yang belum terlalu jelas dalam pengalaman belajar pada dua tahap sebelumnya.
Pelatihan tahap pertama, agar proses belajar lebih fokus, pesertanya secara khusus adalah perempuan yang selama ini memang sudah mengikuti Sekolah Perempuan. Namun, berdasar pengalaman pasca-pelatihan tahap pertama, dirasa perlu juga melibatkan komponen-komponen pemerintahan ataupun masyarakat lainnya pada proses-proses belajar pada tahap berikut. Kebutuhan ini juga muncul dari aparat pemerintah desa sendiri yang merasa ‘tertinggal’, karena pada saat itu pemerintah daerah setempat belum melakukan sosialisasi UU Desa. Agar rencana-rencana perubahan di tingkat desa bisalebih efektif maka kegiatan-kegiatan memperlajari UU Desa padat tahap berikutnya perlu juga melibatkan para pihak lain yang ada di tingkat desa. Dan itu dilaksanakan pada Pelatihan untuk pelatih Tahap Kedua dan Tahap Ketiga. Setiap selesai melakukan pelatihan pada setiap tahapnya para peserta memiliki pekerjaan rumah untuk menyapaikan pengetahuannya kepada peserta Sekolah Perempuan di tingat desa. Sekurang-kurangnya, pada tingkat desa, ada sekitar 30 orang yang mengikuti proses Sekolah Desa itu.
Kristalisasi kurikulum dan materi ‘sekolah desa’ berdasarkan kegiatan di Poso, dan kemudian diikuti oleh inisiatif di empat kabupaten lainnya, adalah sebagaimana dapat dilihat pada Tabel berikut.
Kurikulum dan materi ‘Sekolah Perempuan untuk Op5malisasi UU Desa’ (berdasarkan pengalaman KARSA, YSKK/Solo, Ins5tute Mosintuwu/Poso, Nurani Perempuan/Samarinda, Lembaga Dayak Penarung/Palangkaraya)
Tujuan Program Kelempok Sasaran Materi yang diperlukan/Pertanyaan yang perlu dijawab Strategi kerja
Membangun kesadaran publik Ig kesetaraan jender
Warga desa pada umumnya
- Masalah perempuan sebagai masalah kemasyarakatan - Mengapa perlu memahami masalah kesetaraan jender? - Nilai-nilai universal dan agama tentang kesetaraan jender
Seminar? Outrreach?
Membangun kesadaran kri5s kaum perempuan secara masif
Waarga perempuan - Sistem-sistem sosial, ekonomi, poli5k ,dan budaya yang menyingkirikan perempaun
- Mengapa perempuan perlu berpar5sipasi di ranah publik? - Apa kendala untuk par5spasi perempuan?
- Ruang-ruang par5sipasi perempuan dalam poli5k dan pembangunan - Pelayan publik sensi5f jender - Anggrana berbasis jender
- Kepemimpinan (karakter, strategi komunikasi, dll) - Pengorganisasian à Perlu memikirkan strategi penguatan
organisasi cq. kegiatan ekonomi, dll.
- Masalah pembangunan dan kepen5ngan perempuan di Wilayah Kerja
- Pembangunan berbasis nilai-nilai dani budaya lokal - Lembaga kemasyarakatan dan pembangunan desa - Kedudukan dan Kewenangan Desa
- Perencanaan par5sipa5f dan Musyawarah Desa - Silklus perencanaan dan penggaran pembangun desa - Pengawasan pembengunan berbasis masyarakat - IT & SID
- Pengelolaan Aset, Keuangan Desa, dan BUMDes - Regulasi desa
8 satu agenda bersama mereka, untuk pertama kalinya adalah menyusun sebuah dokumen yang mereka sebut sebagai ‘Buku Pintar tentang UU Desa”. Pada tahap selanjutnya, baik melalui “Forum Belajar UU Desa” ataupun melalui Sekolah Perempuan Poso, para alumni ‘sekolah desa’ ini aktif melakukan advokasi tentang perlunya segera Pemerintah Daerah Poso mempersiapkan peraturan-perundangan yang diperlukan bagi penerapan UU Desa di Kabupaten Poso. Selain itu, mereka kemudian juga telah menyusun agenda advokasi yang bertujuan untuk memperbesar manfaat UU Desa bagi gerakan perempuan di Kabupaten Poso melalui penyusuan Rencana Peraturan Daerah tentang Pemilihan Kepala Desa dan Badan Permusyawaratan; Rencana Peraturan Daerah tentang Perencanaan dan Pelaksanaan Pembanguna Desa; dan Rencana Peraturan Daerah tentang Penguatan dan Perluasan Partisipasi Perempuan. Ketiga rencana kebijakan daerah itu tentu saja diusulkan menjadi kebijakan yang pro-kepenting perempuan. Untuk tujuan-tujuan advokasinya, bekerjasama dengan KARSA, gerakan masyarakat sipil di Kabupaten Poso ini sudah pula menyusun semacam nasakah akademik yang diperlukan, lengkap dengan rumusan pasal-pasal pengaturan yang dibutuhkan.
Melihat perkembangan yang sedemikian rupa menarik minat salah satu calon kepala daerah yang akan bertarung pada arena pemilihan kepala daerah pada tahun 2015 lalu. Jaringan kerja “Forum Belajar UU Desa” ini, lebih khusus lagi Sekolah Perempuan Poso dan Institute Mosintuwu untuk melakukan kerjasama, dengan ‘kontrak politik’, jika sang calon memenangi proses pemilihan, para ‘alumni sekolah desa’ ini akan menjadi partner utama dalam penyusunan kebijakan dan pelaksanaan pembangunan yang berkaitan dengan implementasi UU Desa di kabupaten itu. Terlebih lagi program-program pembangunan pembangunan yang menyangkut kepentingan kaum perempuan dan anak.21
Lingkup kegiatan ke depan (Perencanaan Strategis Ins7tut Mosintuwu, Februari 2016)
Adapun kegiatan-kegiatan bersama yang akan dilakukan dan dinegosiasikan dengan pemerintah daerah terpilih ataupun dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah setempat adalah sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.
21 Koalisi ini pada akhirnya memenangi pemilihan kepala daerah di daerah yang bersangkutan.
9
Tabel 1
Pendekatan program ke depan
• Pembaruan perdesaan
– Anggaran pembangunan yang pro-desa
– Pembangunan yang 7dak hanya fisik tapi juga non-fisik cq. kualitas pelayan dasar dan pengembangan sumberdaya manusia
• Bekerja dalam siklus perencanaan dan pemerintahan yang reguler
– RPJMD & RPJMDesa – APBD & APBDesa
• Kebijakan yang mendorong perubahan secara massal yang didukung
dengan desa-desa percontohan
• Perubahan aktor
– Tingkat Daerah – Tingkat Desa
• Peningkatan kapasitas
– Aparatur pemerintahan – Warga
Penutup: Beberapa pelajaran
Meski terhitung minimalis, UU Desa masih dilihat oleh beberpa pihak sebagai instrumen kebijakan yang menjanjikan perbaikan situasi kehidupan kelompok-kelompok marjinal. Di tengah kritik tentang berbagai kekurangannnya, terutama soal potensi korupsi dan kelemahan sumberdaya manusia pemerintah desa, gerakan perempuan di beberpa kabupaten secara serius memanfaatkan kesempatan yang terbuka.
Berbeda dengan umumnya organisasi masyarakat sipil, beberapa organisasi yang concern dengan masalah perempuan dan anak ini lebih realistis, dengan memberikan perhatian yang serius pada pelaksanaan UU Desa di tingkat lapangan. Mereka percaya bahwa peluang dan hambatan sesungguhnya ada di tingkat desa. Fakta, partisipasi perempuan efektif dalam mendorong perubahan di tingkat akar rumput karena masalah yang senyatanya ada di perdesaan adalah permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh kaum perempuan dan anak.
Dalam pada itu, sebuah proses pendidikan yang intensif tentang peluang dan tantangan pelaksanaan UU Desa adalah suatu keniscayaan untuk mendorong perubahan di tingkat akar rumput itu. Tanpa proses yang intensif itu (bisa memakan waktu 2 – 3 tahun) niscaya upaya-upaya perubahan di tingkat akar rumput itu akan mudah hilang tanpa bekas.
Pengalaman dari Poso ini juga menunjukkan bahwa pembuatan kebjakan yang pro-pendekatan pembangunan yang inklusif dimungkinkan terjadi di tingkat daerah. Penguatan program pembangunan yang inklusif di tingkat akar rumput tidak melulu harus menunggu kebijakan yang lebih baik di tingkat Nasional.
10 hubungan yang lebih pasti antara gerakan sosial dengan institusi-institusi demokrasi secara formal yang mampu mengontrol pelaksanaan implementasi kebijakan baru yang telah dihasilkan masih harus dicari bentuknya.
Bahan bacaan
Akatiga, 2010. Kelompok Marjinal dalam PNPM-Perdesaan. Bandung: Akatiga.
Alganih, Igneus, 2014. Konflik Poso (Kajian Historis Tahun 1998-2001), Universitas Pendidikan Indonesia.
Decentralisation Support Facility, 2007. Gender Review and PNPM Strategy Formulation. Mission Report. Working Paper on the Findings of Joint Donor and Government Mission.
Gidley, J, et al. 2010. “Social inclusion: Context, theory and practice”, dalam The Australasian Journal of University-Community Engagement, Vol. 5, No. 1, pp. 6-36.
GTZ- SfDM, Support for Decentralization Measures. Guidelines on Capacity Building in the Regions. Module C: Supplementary Information and References. SfDM Report 2005-4 (2005).
Institute Mosintuwu dan Sekolah Perempuan Poso, 2013. “Rekomendasi Kongres Perempuan Poso untuk Tim Perumus Peraturan Pemerintah untuk UU Desa”.
Komisi Nasional Hak Azasi Manusia, 2005. Poso, Kekerasan yang Tak Kunjung Usai. Refleksi 7 Tahun Konflik Poso, Jakarta: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.
Juliantara, Dadang. 2003. Pembaruan Desa, Bertumpu pada yang Terbawah’. Yogyakarta: LAPERA Pustaka Utama.
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2013. “Masyarakat Adat di Indonesia: Menuju Perlindungan Sosial yang Inklusif”
(http://www.bappenas.go.id/files/6914/2865/6850/Masyarakat_Adat_di_Indon esia-Menuju_Perlindungan_Sosial_yang_Inklusif.pdf).
Laksono, et.al. 2014. Etos Kerja Masyarakat Maluku Tenggara. Laporan Penelitian. Kerjasama Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara & Pusat Studi Asia Pasifik, Universitas Gadjah Mada.
Manna, Zulkifli Hi., 2014. Strategi Pemerintah Kabupaten Poso Periode 2010 – 2015 dalam Mengahadapi Konflik Sosial, Tesis Magister pada Program Studi Magister Ilmu Pemeritahan, Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta
Program MAMPU, 2014. “Pandangan Kritis dan Masukan dari Gerakan Perempuan Indonesia untuk Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Penyelenggaraan Desa”.
11
Journal of Sociology and Anthropology, Volume 2, hal. 161-180.
Rendi, Muhammad, 2014. Konflik SARA di Kabupaten Poso Tahun 1998 – 2001. Skripsi pada Jurusan Politik Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Hassanudin, Makassar.
Simarmata, Rikardo, dan R. Yando Zakaria, 2016. “Perpektif Inklusi Sosial dalam UU 6/2014: Kebijakan dan Tantangan Implementasinya,” forth coming.