• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aplikasi SIG sebagai Sistem Pendukung Pe

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Aplikasi SIG sebagai Sistem Pendukung Pe"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

0

TUGAS MATA KULIAH

METODE DAN TEKNIK PERENCANAAN II

APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

SEBAGAI SISTEM PENDUKUNG PENGAMBILAN KEPUTUSAN (DECISION SUPPORT SYSTEM - DSS)

Dosen Pengampu: Prof. Ir. Achmad Djunaedi, MUP, Ph.D

DisusunOleh : TAUFIK HIDAYAT 13/356973/PTK/9243

MAGISTER PERENCANAAN KOTA DAN DAERAH JURUSAN ARSITEKTUR DAN PERENCANAAN

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA

(2)

APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

SEBAGAI SISTEM PENDUKUNG PENGAMBILAN KEPUTUSAN (DECISION SUPPORT SYSTEM - DSS)

I. DESKRIPSI

1.1 Pendahuluan

Metodologi perencanaan semakin berkembang dari tahun ke tahun dan terjadi pergeseran paradigmadari perencana baik dalam cara berpikir, merencanakan dan mendesain untuk masyarakat, dimana keduanya menjadi aktor penting dalam proses perencanaan. Argumen yang menyatakan bahwa perencana tidak perlu memiliki semua pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas perencanaan sendiri, sebagai akibatnya perencana harus berinteraksi lebih intensif dengan masyarakatyang menjadi obyek perencanaan. Memang, masyarakat terdiri dari dua kelompok: (1) para pengambil keputusan yang akhirnya mempertimbangkan dan menyetujui rencana dalam hal ini pihak pemerintah, dan (2) masyarakat biasa.

Ada pendapat yang berkembang di masayarakat yang memandang perencana sebagai teknokrat yang seringkali memaksakan aturan, hukum dan peraturan tanpa memikirkan banyak pertimbangan. Kebutuhan untuk tidak hanya melibatkan perencana tetapi juga para pembuat kebijakan dalam proses perencanaan mendorongmunculnya pendekatan perencanaan baru yang mengintegrasikan kelompok tersebut. Salah satu cara untuk mengintegrasikan para pelaku dalam proses perencanaan adalah melalui penggunaan sistem pendukung keputusan spasial (spatial decision support system), yang pada gilirannya tergantung pada pengembangan model matematika yang user-friendly melalui penggunaan sistem pakar.

Sistem informasi geografis (GIS) telah dikenal dalam bidang perencanaan baik wilayah maupun perkotaan dengan ekspektasi yang tinggi dengan harapan bahwa sistem ini akan meningkatkan kualitas proses perencanaan, karena sistem ini akan memungkinkan penggunaan analisis dan alat pemodelan yang canggih dengan bantuan komputer. Saat ini sistem informasi geografis semakin banyak digunakan baik di sektor publik maupun swasta untuk membantu proses pemetaan secara spasial dan pengelolaan basis datanya. Namun ada beberapa keraguan, bahwa SIG hanya digunakan untuk penyimpanan data dan output grafis, dan tampaknya tidak ada yang lebih jauh pemetaan.

(3)

memadai, sehingga sulit untuk digunakan kecuali pengguna memiliki akses ke perangkat lunak tambahan yang memungkinkan mereka untuk menggunakan alat (software) ini, meskipun dalam kasus tertentu terdapat integrasi modul sistem informasi geografis untuk menjadi sistem pendukung pengambilan keputusan (Decision Support System - DSS) masih bermasalah. Hal ini juga didukung oleh kenyataan bahwa sistem saat ini tidak benar-benar mendukung kebutuhan pengguna atau mendukung hanya bagian dari proses pengembangan rencana.

1.2 Telaah Pustaka

a. Sistem Informasi Geografis (SIG)

Sistem Informasi Geografi (SIG) merupakan alat dan sarana analisis spasial yang bermanfaat untuk menurunkan informasi baru berdasarkan sekumpulan informasi tematik,[CITATION Aro89 \l 1033 ] sedangkan secara operasional SIG adalah suatu sistem berbasis komputer yang digunakan untuk menyimpan, mengelola, menganalisa, dan mengaktifkan kembali data yang mempunyai referensi keruangan, untuk berbagai tujuan yang berkaitan dengan pemetaan dan perencanaan.[ CITATION Bur86 \l 1033 ]

Sistem Informasi Geografis (GIS) adalah sistem

berbasis komputer

menyediakan kemampuan canggih untuk menangani data spasial dan deskriptif . GIS saat ini dianggap sebagai satu-satunya alat yang mendukung analisis digital yang terintegrasi dari proses multi-komponen dengan mempertimbangkan setiap atribut yang diperlukan dari kombinasi berbagai komponen[CITATION BSK14 \l 1033 ].

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Sistem Informasi Geografi (SIG) merupakan suatu sistem berbasis komputer yang memberikan empat kemampuan untuk menangani data berefernsi geografi yaitu pemasukan, pengelolaan atau manajemen data (penyimpanan dan pengaktifan kembali), manipulasi dan analisis serta keluaran berupa peta.

SIG memiliki komponen-komponen yang diambil dari pengertian yang digunakan oleh Aronof (1989) sebagai acuan, ditambah pandangan yang agak berbeda dari Burrough (1992) yaitu:

(4)

Pemasukan data ke dalam SIG dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu pelarikan,digitasi dan tabulasi.

Pelarikan atau penyiaman (Scanning); dapat dilakukan dari suatu wahana dengan jarak tertentu dari obyek, misalnya staelit atau pesawat udara; tapi dapat pula melalui pelarik meja (portable scanner)

Digitasi; dapat dilakukan dengan memanfaatkan suatu alat yang populer disebut digitizer. Alat ini mampu merubah data analog berupa peta ataupun rangkaian titik, garis dan poligon menjadi data berformat digital ke dalam komputer, dalam struktur vektor. Tabulasi; Sistem Informasi Geografi tidak hanya berkaitan dengan ‘gambar’ berupa peta saja, akan teapi juga informasi lain yang berkaitan dengan pemetaan itu, yaitu berupa data atribut (tabular). Hampir semua program SIG mempunyai fasilitas manjemen basis data internal.

ii. Manajamen Data

Manejemen data meliputi semua operasi penyimpanan, pengaktifan kembali dan pencetakan semua data yang diperoleh dari masukan data. Efisiensi suatu manajemen data ditentukan oleh efisisensi untuk melaksanakan operasi-operasi itu. Dengan berkembangnya sistem komputerisasi, berkembang pula sistem manajemen basis data yang efisien. SIG merupakan sistem manajemen basis data spasial, yang tugasnya tidak dapat digantikan oleh paket-paket sitem manajemen basis data yang lain.

iii. Manipulasi dan Analisis Data

Salah satu kemampuan utama SIG adalah dalam manipulasi dan analisis data (spasial) untuk meghasilkan informasi baru meliputi: Penyuntingan untuk pemutakhiran data, Interpolasi Spasial, Tumpangsusun Peta dan Pembuatan model dan analisis data.

iv. Keluaran

Keluaran utama dari suatu SIG ialah informasi spasial baru. Informasi ini perlu disajikan dalam bentuk tercetak (hard copy) supaya dapat dimanfaatkan dalam kegiatan operasional [ CITATION Dan96 \l 1033 ].

b. Decision Support Systems (DSS)

(5)

dimana proses pengambilan keputusan ditingkatkan dengan dialog interaktif antara DSS dengan pengguna[CITATION SCa14 \l 1033 ].

Kelebihan utama dari DSS adalah kemampuannya untuk memanfaatkan sistem komputer untuk membantu pengambil keputusan dalam mempelajari masalah dan mengambil kebijakan, dan meningkatkan pemahaman mengenai kondisi lingkungan dimana kebijakan tersebut akan diterapkan dengan mengakses data dan model yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan tersebut. DSS berfungsi untuk mengembangkan dan mengevaluasi beragam alternatif solusi untuk memperoleh pemahaman mengenai permasalahan, trade off antara obyektif-obyektif yang ada, dan mendukung proses pengambilan keputusan.

Sebuah DSS berasumsi bahwa tidak ada solusi tunggal untuk menyelesaikan masalah tetapi memungkinkan pengguna menggunakan keahliannya dalam menemukan solusi yang tepat terhadap suatu permasalahan (Geoffrion, 1983 dalam Bola Ayeni, 2005). Menurut Densham (1994), secara umum DSS akan memiliki beberapa karakteristik antara lain sebagai berikut:

 Mendukung data spasial dan non-spasial

 Kemampuan untuk merepresentasikan hubungan spasial yang kompleks dari data spasial yang diperlukan untuk pemanggilan data (query) spasial, pemodelan spasial dan menampilkannya secara kartografis.

 Arsitektur yang fleksibel, memungkinkan pengguna menggabungkan data dan model dalam berbagai metode.  Metode khusus dalam melakukan analisis spasial dan

 Sebuah arsitektur yang mendukung penigkatan kemampuan baru dari pengguna.

(6)

Pemodelan dalam proses pengambilan keputusan diperlukan karena proses pembuatan suatu keputusan bukanlah proses yang mudah dan harus melalui beberapa tahap untuk mendapatkan keputusan yang tepat. Turban (2005) mengusulkan empat tahap yang harus dilalui dalam membentuk suatu keputusan yaitu:

i. Identifikasi masalah

Pada tahap ini akan dilakukanidentifikasi terhadap permasalahan yangada terkait dengankebutuhan-kebutuhan untukmenyelesaikan masalah dan beberapa peluang yang ditemukan dalampenyelesaian masalah. Secara lebih detil, pada tahap inidilakukan serangkaian aktivitas sebagaiberikut:

 Mengidentifikasi tujuan organisasi atautujuan pencapaian masalah

 Mengidentifikasi prosedur-prosedur yang perlu disiapkan dalam mencari ataumelacak adanya permasalahan

 Melakukan pengumpulan data. Ada beberapa kendala yang dimungkinkan akan ditemui selama proses koleksi data ini, antara lain (Turban, 2005: 54): (a) Ketaktersediaan data; Hal ini mengakibatkan model yang akan dibentuk akan memberikan hasil yang tidak akurat, (b) Biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan data cukup mahal, (c) Data yang diperoleh tidak cukup akurat dan tepat, (d) Estimasi sering kali bersifat subyektif, (e) Data dimungkinkan tidak aman, (f) Data-data penting yang mempengaruhi hasil adakalanya bersifat kualitatif, (g) Data yang ada sangat banyak, (h) Terkadang diasumsikan bahwa data yang akan datang memiliki karakteristik yang sama dengan data saat ini. Oleh karena itu, apabila hal ini tidak terjadi, maka perlu adanya suatu metode untuk memprediksi adanyaperubahan tersebut.

 Melakukan klasifikasi permasalahan; Klasifikasi dilakukan untuk menentukankategori permasalahan.  Melakukan dekomposisi permasalahan; Aktivitas ini

diperlukan apabila permasalahan yang timbul terlalu kompleks sehingga perlu dipecah lagimenjadi beberapa sub permasalahan.

(7)

Aktivitas yang dilakukan adalah:

 Formulasi model (normatif atau deskriptif).

 Pemilihan kriteria-kriteria. Kriteria adalahhal-hal apa saja yang menjadi bahanpertimbangan bagi pengambil keputusanuntuk memutuskan alternatif terbaik.

 Pencarian beberapa alternatif.

 Mengukur dan memprediksi terhadaphasil yang terjadi. Hasil akhir dari tahap ini adalahalternatif-alternatif. iii. Pemilihan

Pada tahap ini akan dilakukan pencariancara yang paling tepat untuk melakukanaksi, melakukan evaluasi dan pemilihanterhadap solusi yang paling cocok. Untuk melakukan pencarian cara yangpaling tepat untuk melakukan aksi dapatdilakukan melalui teknik-teknik analitik dan menggunakan algoritma.

Proses evaluasi pada pemilihan alternatif dapatdilakukan dengan berbagai cara:

 Apabila suatu alternatif dimungkinkan memiliki beberapatujuan, maka perlu ada pembandingan antar tujuan yangdicapai tersebut.

 Proses pembandingan ini dapat dilakukan melalui analisissensitivitas atau analisis what-if.

 Analisis sensitivitas umumnya digunakan

untukmenentukan tingkat robustness apabila diberikanbeberapa alternatif

 Sedangkan analisis what-if digunakan untuk melihatadanya perubahan mayor pada parameter-parameter

Secara rinci, pada tahap pemilihan iniakan dilakukan beberapa aktivitasantara lain:

 Menghasilkan solusi dari model yangdiformulasikan pada tahap perancangan

 Melakukan analisis sensitivitas

 Menyeleksi alternatif-alternatif yang terbaik

 Melakukan perencanaan untuk tahapimplementasi

Hasil akhir dari tahap ini adalah solusi. iv. Implementasi

Pada tahap ini akan diimplementasikanhasil (solusi) yang telah diperoleh dalamtahap pemilihan

(8)

Permasalahan di Dunia Nyata

IDENTIFIKASI MASALAH

PERANCANGAN

PEMILIHAN

IMPLEMENTASI

SUSKSES? Verifikasi Pengujian Solusi

Alternatif-alternatif

Solusi

YA Validasi Model

Penyederhanaan, asumsi-asumsi

Pernyataan Masalah

TIDAK

Gambar 1. Tahapan dalam proses pengambilan keputusan

(9)

1. Spatial Decision Support System (SDSS) untuk Pengelolaan Sumber Daya Air Di Negara Bagian Victoria, Australia

Saat ini, peran yang semakin meningkat dimainkan oleh model yang kompleks, komputer dan perangkat untuk membantu pengelolaan sumber daya air, untuk memenuhi kebutuhan air saat ini dari sektor yang bersaing. Banyak sistem pendukung keputusan telah dikembangkan untuk menghadapi masalah pengelolaan sumber daya air. Namun, sementara kebutuhan untuk pendukung keputusan terkomputerisasi muncul sebagai akibat dari meningkatnya kompleksitas situasi keputusan baik diakui, masih ada pertanyaan terbuka tentang pengembangan dan struktur DSS meningkatkan kinerja pengambil keputusan. Oleh sebab itu, di Negara Bagian Victoria, Australia, beberapa lembaga yang bergerak di bidang lingkungan bekerjasama dengan badan pemerintah menuju sebuah inisiatif bersama untuk mengembangkan Spatial Decision Support System (SDSS) untuk terintegrasinya (seluruh DAS) dan pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan. Tujuan dari proyek tersebut adalah untuk mengembangkan dan menunjukkan bagaimana sebuah SDSS dapat membantu pelaksanaan kebijakan dan strategi pengelolaan yangberkelanjutan, serta pembangunan kembali kebijakan yang berkelanjutan, menggunakan Westernport dan DAS-nya sebagai studi kasus, dan penelitian tersebut selanjutnya diberi nama "The Westernport (WP) Project".

Aplikasi dari keputusan spasial membuat metode pada domain pengelolaan air menawarkan potensial berarti untuk mengelola masalah keputusan yang kompleks yang muncul karena meningkatnya kompleksitas pembangunan spasial berkelanjutan. Untuk konteks ini, Uni Eropa RTD menyebut sebuah proyek MULINO (Sistem Pendukung Keputusan multi-sektoral, terpadu dan Operasional Pemanfaatan Berkelanjutan Sumber Daya Air pada Skala DAS) bertujuan untuk memberikan kontribusi, dengan mengembangkan DSS untuk membantu pengelola air dalam pengelolaan sumber daya air.

(10)

2. Aplikasi Sistem Iinformasi Geografis sebagai Decision Support System (DSS) dalam penyusunan Rencana Induk Pengembangan Manajemen Data SpasialKementerian Negara Lingkungan Hidup Penggunaan data spasial untuk berbagai keperluan seperti penelitian, pengelolaan lingkungan,pengembangan dan perencanaan wilayah, serta manajemen sumber daya alam, terutama untuk isulingkungan dirasakan semakin diperlukan. Data dan informasi spasial tersebut umumnya dikelola olehbeberapa unit teknis sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Untuk meningkatkan efektivitas danefisiensi dalam pengelolaan data spasial tersebut perlu dikembangkan rencana pengelolaan yang terpadudengan melibatkan unit teknis terkait di Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH).

Secara umum sudah cukup banyak unit kerja di KNLH yang telah memanfaatkan data spasial untukkeperluan analisis dan pengambilan kebijakan. Format data yang beragam dan cukup banyaknyakebutuhan data spasial yang dapat disediakan oleh unit lain merupakan kondisi umum di KNLH.

Adopsi sebuah teknologi komputasi oleh sebuah organisasi baik SIG maupun aplikasilainnya, akan membawa perubahan yang mendasar dari organisasi terhadappandangannya terhadap data.

Pengelolaan data sebelumnya, memaksa suatu

organisasimengumpulkan data secara terpisah baik berdasarkan aktivitas atau proyek tertentu. Halini akan menyebabkan duplikasi koleksi data dan duplikasi penyimpanan (yang berbedadisetiap unit) dan bahkan memungkinkan menjadi penyebab kesalahan data yangterdapat pada satu atau lebih lokasi.

(11)

pada tahapan sebelumnya untuk mendapatkanhasil yang maksimal. Adapun Tahapan kegiatan yang dilakukan adalah:

a. Analisa Kebutuhan Pengguna; menitikberatkan pada studi ruang lingkup dan definisi dari permasalahan yang dihadapi. Kebutuhan pengguna, ditekankan pada identifikasi, kategorisasi masalah yang dihadapi dan serta identifikasi faktor-faktor pendukung dan pembatas seperti ketersediaan anggaran, tenggat waktu kegiatan, jumlah dan kualitas sumber daya manusia, kebijakandan peraturan pemerintah, dan standar teknologi informasi

b. Analisa dan Desain Sistem; Tahapan analisis sistem dilakukan dengan mempelajari sistem yang ada dan menganalisa temuan-temuan daristudi kebutuhan pengguna dengan pemahaman yang lebih mendalam akan masalah-masalah yang dihadapi.

c. Penyiapan & Pengumpulan Data; melakukan identifikasi ketersediaan data pada setiap unit kerja di lingkungan KNLH. Proses identifikasi dilakukan dengan melalui wawancara langsung serta dengan mengisi kuisioner. Identifikasi dan pengumpulan data meliputi dokumentasi tema data yang tersedia (entitas, atribut dan feature), jenis data spasial yang dimiliki, serta komponen metadata lainnya seperti: kelompok informasi identifikasi, informasi kualitas data,informasi publikasi dan referensi data spasial. d. Pengembangan Protoype Sistem; Pembangunan sistem

aplikasi mengacu pada konsep tree tier. Sebuah antar muka berbasis web dibangun untuk memberikan fasilitas kepada pengguna untuk melakukan penelusuran, pemasukan/pemutakhiran data spasial, metadata dan data tabular. Hasil penelusuran akan membimbing pengguna kepada detil informasi dan data yangdiperlukan.

e. Verifikasi Sistem; Pengujian sistem dilakukan sebelum sistem siap digunakan oleh pengguna akhir (end user). Pengujian sistem dilakukan berdasarkan tujuan awal sistem yang dibangun. Pengguna (user) menguji sistem dari sisi teknis berjalannya sistem dengan baik (tanpaerror) dan sesuai dengan keperluan pengguna terhadap sistem.

(12)

III. KOMENTAR

Pengelolaan SDA berkelanjutan membutuhkan pemikiran ulang tentang bagaimana pengambil keputusan bernegosiasi dan mengatur pemanfaatan SDA. Pengelolaan SDA tergantung pada tindakan informasi dari pengguna individu dan pengelola dari beberapa sumber daya. Semakin dikenalnya keterkaitan komprehensif antara subsistem alam, ekonomi dan manusia membuat sistem lingkungan pengelolaan berkelanjutan yang lebih kompleks.

Tujuan, perangkat kebijakan dan nilai-nilai dari kelompok (pemerintah, perencana dan masyarakat) yang berbeda beragam dan sering ada distribusi yang tidak merata dalam kekuasaan, yang menyebabkan konflik yangmenghambat pembangunan berkelanjutan. Berbagai isu dan masalah yang memerlukan keputusan oleh lembaga pemerintahk atau swasta memunculkan aneka ragam solusi dalam hal metodologi dan kombinasi alat yang spesifik untuk memecahkan masalah secara tepat. DSS untuk Pengelolaan SDA dirancang untuk mendukung masalah keputusan terdepan dan memaksimalkan efektivitas tujuan pengelolaan lingkungan. Perangkat ini biasanya terdiri dari berbagai berpasangan lingkungan dan model sosial-ekonomi, database dan perangkat penilaian yang terintegrasi di bawah Graphic User

SDSS membantu tercapainya pengelolaan berkelanjutan SDA ketika dirancang dengan baik dan menjadi alat yang berguna bagi para pembuat keputusan, "memungkinkan penggunaan yang lebih efektif dan kolektif dari informasi dalam menangani pertanyaan yang kompleks dan sering kurang terstruktur". Bahkan, ini ada usulan bahwa praktek yang efektif pengelolaan ekosistem tidak memungkinkan tanpa bantuan SDSS yang canggih memadai.

(13)

(diproyeksikan) yang diberikan oleh tujuan pengelolaan. Beberapa tindakan dapat diturunkan untuk menganalisis bagaimana untuk mencapai sasaran (indikator). Proyeksi iklim, ekonomi agro dan perubahan demografis harus dipandang sebagai pengaruh penting. Atau, SDSS dapat digunakan untuk menilai dampak dari keputusan pengelolaan tertentu (misalnya perluasan kegiatan kehutanan di daerah tertentu) atau dampak perubahan iklim terhadap lingkungan. Dalam kasus keputusan pengelolaan yang baru, skenario mewakili perkembangan masa depan/ perubahan dapat dinilai dan dibandingkan dengan situasi saat ini dan/ atau terhadap tindakan yang berkelanjutan.

Penggunaan aplikasi SIG dalam rangka membantu pengambilan keputusan di Indonesia telah banyak digunakan di berbagai lembaga baik pemerintah maupun swasta (konsultan) seperti penyusunan rencana tata ruang wilayah dan kota maupun pada pembuatan program aplikasi berbasis komputer yang dilakukan oleh lembaga pemerintah. Hal ini akan mempermudah para pengambil kebijakan untuk memahami persoalan secara lebih mendalam tanpa harus mengeluarkan biaya yang terlalu besar untuk melakukan survei dan observasi lapangan secara langsung. Sistem yang terkoneksi secara online akan memungkinkan pengguna berinteraksi dengan pengambil kebijakan baik antara staf dengan pimpinannya maupun interaksi dengan pengguna (masyarakat) yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi stakeholder sebelum mengambil keputusan yang tepat sasaran.

IV. DAFTAR PUSTAKA

Aronoff, S, 1989, Geographyc Information System, WDL Publication, Ottawa, Canada.

Arentze, T.A., 1999. A Spatial Decision Support System for the Planning of Retail and Service Facilities, Thesis, Faculteit Bouwkunde, Capaciteitsgroep Stedebouw, Eindhoven University of Technology, Eindhoven.

Burrough, P.A, 1986, Principles of Geographical Information System For Land Resources Asessment, Clarendon Press, Oxford.

Cahyono, S., 2014, Decision Support System dalam www.pwktech.info :diakses tgl 11 Juni 2014, Jam 04:46

(14)

Sejati, K., 2014, Aplikasi GIS sebagai Decision Support System dalam www.kukuhbayuseejati.blogspot.com :diakses tgl 11 Juni 2014, Jam 04:58

Gambar

Gambar 1. Tahapan dalam proses pengambilan keputusan

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan Peraturan dimaksud Disperindagtamben Kabupaten Karawang mempunyai Tugas Pokok : Membantu Bupati Karawang dalam melaksanakan sebagian kewenangan daerah

14 Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945; Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-hak Anak.. Susunan Organisasi KPAI terdiri atas 1 orang ketua, 2 orang wakil ket- ua,

Adapun unsur-unsur tindak pidana mendistribusikan VCD bajakan tersebut sebagai berikut : unsur setiap orang dan yang dengan tanpa hak dan / atau tanpa izin

a) Definisi Konseptual : Minat Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Metro berinvestasi adalah mendorong atau keinginan mahasiswa untuk

Perangkat keras pada Tabel 4.1 digunakan untuk melakukan pengujian terhadap sistem ekstraksi informasi berdasarkan spesifikasi minimum yang telah

Gambar 7 memperlihatkan aktivitas enzim ALT pada anjing penelitian, yang sebagian besar (10 ekor) berada dalam kisaran nilai interval normal menurut Morgan

Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa dengan menggunakan salah satu dari empat gaya di atas dan dengan memperhitungkan faktor-faktor seperti yang

Jika kondisi yang dipersyaratkan terpenuhi, Bulan sabit tua ini akan mulai tidak nampak 14 menit sebelum terbitnya Matahari bila diamati dengan mata telanjang namun masih bisa