GAMBARAN TIPE KEPRIBADIAN DAN SIDIK TELINGA PADA NARAPIDANA LAKI-LAKI YANG MELAKUKAN KEJAHATAN SEKSUAL TERHADAP ANAK: Studi Kriminologi Kejahatan Seksual terhadap Anak di Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto Periode Januari 2009-Desember 2012
Muarif*., Syamsu, Zaenuri., Abdullah, Nasid
Kedokteran Forensik dan Medikolegal
Jurusan Kedokteran, Fakultas kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman
*e-mail: [email protected]
Abstrak
Latar belakang: Pelaku kejahatan seksual terhadap anak (pemerkosaan dan pencabulan anak) masih banyak dilaporkan di Banyumas. Untuk mempelajarinya dapat dilakukan studi kriminologi dengan pendekatan tipe kepribadian dan tipe fisik dari para pelaku. Tujuan: menggambarkan tipe kepribadian dan tipe fisik (sidik telinga) pelaku. Metode: Penelitian ini merupakan studi kriminologi induktif dengan penalaran statistik, yang melibatkan 30 narapidana untuk kasus pemerkosaan dan pencabulan (pasal 81 dan 82 UU. No.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak) di Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto yang memenuhi kriteria inklusi. Pendekatan tipe kepribadian menggunakan tipe kepribadian ekstrovert dan introvert menurut Eysenck, yang diukur dengan skala EPI (Eysenck Personality Inventory), sedangkan tipe fisik dipelajari melalui sidik telinga (sebagai biometrik), dengan menilai bentuk, tipe lobula, darwin’s tuberkel, dan pengukuran landmark aurikula menggunakan jangka sorong ketelitian 0,01 mm. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa narapidana yang melakukan kejahatan seksual cenderung ekstrovert (70%), dan sisanya introvert (30%). Para pelaku pemerkosaan (73,68%) dan pencabulan anak (63,63%) cenderung ektrovert. Sidik telinga narapidana menunjukkan bahwa bentuk telinga cenderung oval (kanan 86,67%, kiri 90%) dengan lobula tipe “free” (kanan 53,33%, kiri 73,33%), dan tidak memiliki darwin’s tuberkel. Tinggi total telinga ±5,72 cm (kanan), ±5,8 cm (kiri); lebar total telinga ±2,55 cm (kanan), ±2,61 cm (kiri); tinggi lobula ±1,36 cm (kanan), ±1,28 cm (kiri); lebar lobula ±1,36 cm (kanan), ±1,25 cm (kiri); tragus-heliks ±3,59 cm (kanan), ±3,64 cm (kiri); tragus-antiheliks ±1,68 cm (kanan), ±1,61 cm (kiri); indeks aurikula ±44,03 cm (kanan), ±44,99 cm (kiri); indeks lobular ±96,30 cm (kanan), ±99,75 cm (kiri).
Kata kunci: kriminologi, tipe kepribadian, sidik telinga, narapidana laki-laki, kejahatan seksual terhadap anak.
Pendahuluan
Kejahatan seksual merupakan tindak
kriminal yang masih banyak dilaporkan1. Menurut laporan tahunan Komisi Nasional
Anti Kekerasan terhadap Perempuan, terdapat
93.960 kasus kejahatan seksual di Indonesia
pada tahun 1998 hingga tahun 2010, dengan
kasus terbanyak berupa pemerkosaan2. Tindak pemerkosaan dan pencabulan
terhadap perempuan juga banyak dilaporkan
sekitar 188 kasus5 dan kebanyakan korban adalah anak-anak6 yang pelakunya berusia dewasa7. Meskipun pada kasus yang jarang, pelaku kejahatan seksual anak juga pernah
dilaporkan8, yaitu berupa persetubuhan oleh anak-anak terhadap anak-anak9.
Menanggapi fenomena kejahatan seksual
terhadap anak yang banyak dilaporkan,
kriminologi merupakan aspek penting yang
mengungkap semua seluk-beluk suatu
kejahatan secara mendalam10 dari sisi pelaku kejahatan11. Salah satu kajian dari kriminologi adalah membuat suatu tipologi
tertentu mengenai pelaku kejahatan12, baik berupa tipologi fisik maupun psikologis13. Tipologi fisik menyangkut sifat atau
karakteristik fisik manusia yang dianggap
berhubungan dengan perilaku kriminal12, seperti menghubungkan antara tipe tubuh
dengan kecenderungan tertentu14. Sedangkan tipologi psikologis menganggap sifat atau
karakteristik kepribadian tertentu
berhubungan dengan kecenderungan
seseorang untuk melakukan tindakan
kriminal10.
Pendekatan tipologi fisik kriminal belum
banyak didukung oleh fakta ilmiah, sehingga
anggapan bahwa tipe tubuh seseorang
berhubungan dengan perilaku kriminal belum
dapat diterima14. Pendekatan tipologi fisik lebih tepat digunakan sebagai biometrik15,
yaitu pengidentifikasi karakteristik seseorang
yang membedakan dirinya dengan orang
lain10. Biometrik merupakan komponen penting dalam profil kriminal dari pelaku
kejahatan16. Biometrik yang sedang gencar dikembangkan adalah sidik telinga17.
Studi mengenai sidik telinga banyak
dilakukan dengan memvisualisasi atau
dengan teknik fotografik17,18, yaitu untuk mengetahui karakteristik telinga individu19 berdasarkan morfologi daun telinga20,21. Teknik lain yang digunakan untuk membuat
sidik telinga adalah dengan teknik
pengukuran morfologi daun telinga22. Studi di Indonesia tentang morfologi daun telinga
sebagai biometrik dengan metode
pengukuran masih sangat terbatas23, meskipun cara pengukuran morfologi daun
telinga cukup mudah22.
Pendekatan tipologi kepribadian dalam
hubungannya dengan kecenderungan perilaku
kriminal sudah banyak dilakukan12,24. Tipe kepribadian yang banyak dianut adalah tipe
kepribadian ekstrovert dan introvert menurut
Eysenck13. Orang dengan kepribadian ekstrovert cenderung terbuka, sangat mudah
bergaul, dan kurang teliti dalam bertindak25 sehingga sering terlibat masalah sosial seperti
dapat terlibat dalam tindak kriminal24. Menurut Lanning (2010), pelaku kejahatan
seksual terhadap anak (berupa pencabulan)
justru ditemukan pada orang-orang dengan
kepribadian introvert.
Pendekatan tipologi fisik dan tipologi
kepribadian pelaku kejahatan merupakan
aspek yang cukup penting untuk profil
kriminal12,16. Pendekatan tipologi fisik merupakan identitas seseorang sebagai
pengenal spesifik untuk dirinya14,22,23. Sedangkan tipologi kepribadian melihat
kecenderungan tipe kepribadian dari pelaku
kriminal10,16,26.
Melalui studi kriminologi para narapidana
di Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto,
akan dilihat gambaran tipe kepribadian dan
sidik telinganya (earprint) sebagai para pelaku kasus kejahatan seksual terhadap
anak.
Metode
Penelitian ini merupakan studi
kriminologi dengan pendekatan induktif,
yaitu suatu generalisasi kriminal berdasarkan
sejumlah kecil individu dengan penalaran
statistik, dan berdasarkan analisis terhadap
pelaku kejahatan yang sebelumnya telah
melakukan tindak kriminal16. Penelitian ini dirancang menggunakan desain deskriptif,
yaitu penelitian kuantitatif27 yang membuat deskripsi mengenai fenomena yang
ditemukan, yang disajikan apa adanya28, tanpa melakukan analisis yang mendalam27 atau mencari hubungan antar variabel29.
Teknik pengambilan sampel yang
digunakan dalam penelitian ini adalah total
sampling, sehingga responden adalah seluruh
narapidana yang melakukan kejahatan
seksual terhadap anak dan menghuni
Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto.
Berdasarkan catatan registrasi Lembaga
Pemasyarakatan Purwokerto, terdapat 63
orang pelaku kejahatan seksual terhadap anak
yang bersatus narapidana atas pasal 81 dan 82
UU. No.23 tahun 2002 tentang perlindungan
anak. Narapidana yang memenuhi kriteria
inklusi berjumlah 36 orang, selanjutnya para
responden diseleksi dengan menjawab
kuesioner L-MMPI untuk menentukan skala
kebohongan. Sebanyak 2 orang narapidana
dieksklusi karena menjawab skor lie ≥5, yang diasumsikan bahwa responden cenderung
tidak jujur dalam menjawab kuesioner yang
diajukan. Selanjutnya, responden yang
menjawab dengan skor lie <5, dilanjutkan menjawab kuesioner EPI untuk ditentukan
tipe kepribadiannya. Selama pelaksanaan, 4
orang narapidana dieksklusi karena tidak
koperatif dalam penelitian, yaitu mencontek
jawaban responden lain dan keluar masuk
ruangan yang menyebabkan pengambilan
dalam penelitian ini adalah 30 narapidana,
yang terdiri atas 11 pelaku pencabulan anak
(pasal 82), dan 19 pelaku pemerkosaan anak
(pasal 81). Setelah menjawab kuesioner
L-MMPI dan EPI, 30 orang narapidana diambil
sidik telinganya, yang meliputi pengamatan
dan pengukuran morfologi telinga dengan
menggunakan caliper vernier Tricle Brand dengan ketelitian 0,01 mm.
Hasil dan pembahasan
Sesuai dengan ketentuan pasal 1 butir 3
Undang-Undang No.12 tahun 1995 tentang
Pemasyarakatan, Lembaga Pemasyarakatan
Purwokerto adalah suatu tempat untuk
melaksanakan pembinaan pada narapidana
dan anak didik Pemasyarakatan, yang
dipimpin oleh seorang kepala yang
bertanggungjawab langsung kepada Kantor
Wilayah Departemen Hukum dan Hak Asasi
Manusia Jawa Tengah.
Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto
dihuni oleh 134 orang yang berstatus sebagai
tahanan, dan 240 orang narapidana yang
terdiri atas tuntutan dari berbagai kasus
pidana. Penghuni terbanyak adalah
narapidana (83 orang) dan tahanan (1 orang)
untuk kasus pidana atas UU No. 23 tahun
2002 tentang perlindungan anak, dengan
bentuk kejahatan yang terbanyak adalah
kejahatan seksual terhadap anak. Secara rinci,
terdapat 63 orang pelaku yang berstatus
sebagai narapidana atas pasal 81
(pemerkosaan) dan 82 (pencabulan) UU.
No.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak
(berdasarkan catatan registrasi Lembaga
Pemasyarakatan Purwokerto hingga 23
Januari 2013). Untuk mempelajari para
pelaku kejahatan seksual terhadap anak
(pemerkosaan dan pencabulan anak)
dilakukan pendekatan psikologi kriminal
dengan mempelajari tipe kepribadiannya,
serta pendekatan tipologi fisik melalui sidik telinga.
Menurut Eysenck13 kepribadian adalah fungsi nyata dan potensial individu yang
merupakan gabungan dari faktor keturunan
dan penguatan oleh lingkungan, yang dapat
ditipekan menjadi ektrovert dan introvert.
Pengelompokkan yang didasarkan atas
impulsiveness atau penilaian terhadap spontanitas dan fleksibilitas seseorang dalam
berprilaku sosial, perbedaan hambatan sosial,
serta pengendalian diri, mengelompokkan
segolongan orang sebagai tipe ektrovert jika
dinilai kurang berhati-hati dalam membuat
keputusan, tindakan, dan pertimbangan,
sehingga kelompok ini akan tampak mudah
berubah dan dengan tindakan yang kadang
sulit diduga. Sedangkan para tipe introvert
dinilai control atau cenderung sangat berhati-hati dalam membuat keputusan, dan tampak
Hasil pengukuran tipe kepribadian pada 30
narapidana yang melakukan kejahatan
seksual terhadap anak cenderung
menunjukkan tipe kepribadian yang
ekstrovert (70%), dan hanya 30% yang
berkepribadian introvert.
Tabel 1 Jumlah dan prosentase tipe kepribadian narapidana yang melakukan kejahatan seksual terhadap anak (UU. No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak)
Tipe kepribadian Jumlah Persen
Introvert 9 30%
Ektrovert 21 70% 30 100%
Kejahatan seksual terhadap anak sesuai
ketentuan UU.No.23 tahun 2002 tentang
perlindungan anak, mencakup pasal 81
(pemerkosaan anak) dan pasal 82
(pencabulan anak). Secara rinci tipe
kepribadian para pelaku dapat digolongkan
berdasarkan pasal 81 dan 82 dengan jumlah
dan prosentase yang ditampilkan pada tabel 2
berikut ini.
Tabel 2 Jumlah dan prosentase tipe kepribadian narapidana berdasarkan jenis kasus (pasal 81 dan 82)
Pelaku Tipe
kepribadian
n Persen
Pemerkosaan Introvert 5 26,32% Ekstrovert 1
4
73,68%
Pencabulan Introvert 4 36,36% Ekstrovert 7 63,63%
Terdapat 73,68% narapidana yang
melakukan pemerkosaan anak yang tergolong
pada tipe kepribadian ektrovert, dan 26,32%
narapidana tergolong introvert. Sedangkan
narapidana yang melakukan pencabulan anak,
63,63% tergolong ektrovert, dan 36,36%
tergolong introvert.
Hasil ini sesuai dengan teori Eysenck
tentang hubungan tipe kepribadian dengan
perilaku seksual seseorang30. Menurut Eysenck30, orang dengan kepribadian ekstrovert adalah cenderung memiliki
pasangan seks yang lebih banyak, memiliki frekuensi yang lebih tinggi atau lebih
berpeluang untuk terlibat pada perilaku
seksual, serta cenderung melakukan
hubungan seksual pertama kali pada usia
yang lebih muda. Sedangkan orang dengan
kepribadian introvert cenderung dapat
mengendalikan hal-hal seperti itu30. Meski demikian, orang ekstrovert bukanlah orang
yang patologis atau memiliki kelainan
perilaku seksual, namun lebih memiliki
kecenderungan untuk melakukan aktifitas
seksual yang lebih besar dengan orang lain31. Hasil pengukuran tipe kepribadian
narapidana laki-laki pada penelitian ini juga
sesuai dengan ungkapan Briley et al (2001) dan Yuliantin et al (2010), yang menyatakan bahwa laki-laki cenderung berkepribadian
ekstrovert. Hal tersebut dibentuk oleh
perkembangan otak maupun hormonal
serta lingkungan (nilai atau budaya) yang
menjadikan laki-laki lebih agresif termasuk
dalam seksualitas32. Meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa perempuan juga dapat
memiliki tipe kepribadian yang ekstrovert33. Sebagai studi kriminologi yang
mempelajari tipe kepribadian para pelaku
kejahatan seksual terhadap anak (baik
pemerkosaan maupun pencabulan anak), hasil
penelitian ini juga sesuai dengan pendapat
yang diungkapkan oleh Hendriks et al (2004). Menurut Hendriks et al (2004), struktur kepribadian merupakan elemen penting yang
membentuk tipologi dari pelaku kejahatan
seksual. Orang dengan tipe kepribadian ektrovert berhubungan secara signifikan untuk melakukan kejahatan seksual35,36. Hal ini dikarenakan kelompok ekstrovert dipandang mudah bergaul dengan orang lain sehingga rentan untuk terlibat dalam masalah sosial37. Para pelaku kejahatan seksual memiliki
emosional, motivasional, dan attitudinal yang
berbeda dari yang bukan pelaku35. Menurut Voller (2004), para pelaku menunjukkan
perilaku yang agresif, impulsifitas, tingkat
kepribadian yang imatur, dan tidak
bertanggungjawab35. Orang impulsif adalah orang yang memiliki kekurangan penghambat
internal36, yang umumnya terkait dengan kesadaran mengenai benar-salahnya suatu
perilaku37.
Menurut Egan (2008) impulsifitas yang
tinggi ditemukan pada orang dengan
kepribadian ekstrovert. Tipe kepribadian ini
banyak ditemukan pada pelaku kejahatan
seksual31,38. Selain impulsifitas yang tinggi dan perilaku yang kurang adaptif39, kelompok ektrovert yang melakukan kejahatan seksual
juga dianggap sebagai sekelompok orang
yang memiliki kecemasan dan sensasi yang
tinggi, serta tampak fobia sosial38. Agar dapat berprilaku lebih adaptif, menurut Leue et al (2008), orang dengan kepribadian semacam
ini membutuhkan reward atau perhatian dari orang disekitarnya untuk memberikan
punishment atas perbuatannya yang dianggap menyimpang.
Meskipun hasil pengukuran tipe
kepribadian narapidana yang melakukan
kejahatan seksual terhadap anak banyak
dijumpai tipe kepribadian ekstrovert,
orang-orang dengan kepribadian introvert juga tetap
ditemukan sebagai pelaku, sehingga hasil
penelitian mungkin akan berbeda jika
dilakukan pada skala yang lebih besar. Hal
ini sesuai dengan pendapat Voller (2004)
yang beranggapan bahwa orang ekstrovert
lebih rentan melakukan kejahatan seksual,
namun secara umum, banyak hasil penelitian
yang tidak konsisten. Studi dengan kuesioner
Eysenck juga menunjukkan bahwa pelaku
kepribadian introvert, dan merupakan orang
yang adaptif terhadap situasi35. Menurut Cullen (2011) hal ini disebabkan oleh
depresi, dan keterbatasan dalam komunikasi
para introvert, sehingga mereka melakukan
kejahatan seksual. Para pelaku dengan
kepribadian introvert ini umumnya memiliki
citra diri yang negatif34, pemarah, namun lebih memiliki rasa empati terhadap
korbannya (atau biasanya tidak menggunakan
kekerasan)40.
Berbeda dengan Voller (2004) dan Cullen
(2011) yang mengungkapkan bahwa para
pelaku kejahatan seksual adalah orang-orang
dengan kepribadian introvert yang
dihubungkan dengan depresi, Briley (2001)
beranggapan bahwa kejahatan seksual
(pemerkosaan dan pencabulan anak) adalah
suatu perbuatan yang muncul karena adanya
perbedaan kecemasan pada diri seseorang.
Menurut McCabe et al (2005), secara psikologis pemerkosaan merupakan bentuk
kekerasan karena pelaku menginginkan
dominasi atau mengontrol korban dengan
melakukan perlukaan, dibanding dengan
aktifitas erotis. Pelaku pemerkosaan merasa
terisolasi dan memiliki kekurangan dalam
penyesuaian diri secara sosial, sehingga
untuk mengkompensasi kekurangannya,
timbul dorongan agresif yang muncul sebagai
kejahatan seksual30. Menurut Grotpeter
(2002), hal ini dapat terjadi karena adanya
rasa ketidakpuasan, kesulitan, kecemasan dan
frustasi dalam kehidupan seksualitas para
pelaku.
Berbeda halnya dengan pemerkosaan,
pencabulan anak justru dilakukan untuk
aktifitas erotis24. Menurut Lanning (2010), ada dua kemungkinan seseorang melakukan
tindak pencabulan anak, yaitu adanya
kesempatan (situasional) atau karena
kesengajaan (preferensial). Kasus kejahatan
seksual terhadap anak kebanyakan karena
adanya kesempatan atau situasional yang
mendukung untuk dilakukannya perbuatan
tersebut24, namun pada kasus yang didasarkan atas unsur kesengajaan biasanya
ditemukan pada orang-orang yang mengalami
deviasi seksual seperti pedofil12, dan cenderung introvert24,30, yang secara psikologis kurang tertarik untuk berprestasi,
dan melakukan perubahan dalam
kehidupannya30.
Pendapat yang sama dengan Lanning
(2010), diungkapkan oleh Grotpeter et al (2002) dan Altman (2001). Menurut
Grotpeter et al (2002) pelaku pemerkosaan dan pencabulan anak kebanyakan lebih
introvert dan jarang disertai dengan tindak
kekerasan. Pada bentuk kejahatan seksual
terhadap anak yang muncul dengan tindakan
tergolong berkepribadian sangat ekstrovert42. Namun pada umumnya pelaku pencabulan
anak memiliki tingkat percaya diri yang
rendah, lebih senang dengan suasana sepi
atau menyendiri, memiliki kecemasan yang
tinggi, kurang asertif42, pasif, dan cenderung berkepribadian introvert43.
Sebagai sebuah pendekatan psikologis
dengan tipe kepribadian para narapidana,
hasil penelitian ini sesuai dengan ungkapan
Hussein (2003) yang menekankan bahwa
para pelanggar hukum akan memberi respon
terhadap berbagai macam tekanan psikologis
serta masalah-masalah kepribadian yang
mendorong mereka untuk melakukan
kejahatan, sehingga dapat diidentifikasi
melalui pendekatan psikologisnya. Dengan
diidentifikasinya tipe psikologis para pelaku
kejahatan, maka dapat dipertimbangkan
intervensi psikologisnya34.
Pendekatan tipologi fisik pada narapidana
yang melakukan kejahatan seksual terhadap
anak dapat dipelajari dengan sidik telinga.
Sidik telinga (earprint) adalah salah satu biometrik yang sedang diteliti dan terus
dikembangkan saat ini45. Biometrik merupakan suatu sistem pengenalan
seseorang melalui keaslian fisiologis khusus
atau karakteristik yang dimiliki oleh
individu46. Sistem biometrik ini berperan sebagai sistem verifikasi individu23, berdasarkan perbedaan bentuk, ukuran dan
lokasi telinga18,46,47,48,49, serta variasi Lobula daun telinga (Aurikula) dan darwin’s
tubercle44,49. Menurut Shailaja (2006), Prakash et al (2008), dan Jawale et al (2012) terdapat empat macam bentuk telinga
manusia, yaitu triangular, bulat (round), oval, dan rectangular. Sedangkan Lobula Aurikula individu bervariasi dengan kategori “Attached” atau “free”, dan ada tidaknya darwin’s tubercle.
Ukuran daun telinga ditentukan dengan
jangka sorong Tricle Brand (ketelitian 0,01 mm, yang meliputi tinggi total telinga, lebar
total telinga, tinggi dan lebar lobular, jarak
tragus ke antiheliks, jarak tragus ke heliks,
serta menghitung indeks aurikula dan indeks
lobular. Pengukuran dilakukan pada telinga
kanan dan kiri narapidana.
Hasil penelitian di Lembaga
Pemasyarakatan Purwokerto dengan
Tabel 3 Jumlah dan presentase variasi bentuk, tipe lobula dan darwin’s tuberkel pada daun telinga kanan dan kiri narapidana
Pengamatan Telinga Deskripsi Sampel Persen
Bentuk telinga Kanan Triangular 2 6,67%
Bulat 1 3,33%
Oval 26 86,67%
Rectangular 1 3,33% Kiri Triangular 2 6,67%
Bulat 0 0,00%
Oval 27 90,00%
Rectangular 1 3,33% Tipe lobula Kanan Attached 14 46,67%
Free 16 53,33%
Kiri Attached 8 26,67%
Free 22 73,33%
Darwin’s tuberkel kanan Ada 0 0,00%
Tidak ada 0 0,00%
Kiri Ada 0 0,00%
Tidak ada 0 0,00%
Hasil penelitian di Lembaga
Pemasyarakatan Purwokerto dengan
mengamati bentuk telinga kanan
menunjukkan bahwa 86,67% narapidana
memiliki bentuk telinga oval, 6,67%
narapidana memiliki bentuk telinga
triangular, dan 3,33% dengan bentuk telinga
rectangular dan bulat. Sedangkan bentuk
telinga kiri, dapat disimpulkan bahwa 90%
narapidana memiliki bentuk telinga oval,
6,67% narapidana memiliki bentuk telinga
triangular, 3,33% bentuk rectangular, dan
tidak ada telinga kiri yang berbentuk bulat.
Variasi lobula pada telinga kanan narapidana,
dapat disimpulkan bahwa terdapat 53,33% narapidana dengan tipe lobula “free” pada telinga kanan, dan 73,33% pada telinga kiri.
Sedangkan lobula tipe “attached” ditemukan
sebanyak 46,67% pada telinga kanan
narapidana, dan 26,67% pada telinga kiri. Tidak ditemukan darwin’s tuberkel pada telinga kanan maupun telinga kiri dari para
narapidana. Namun jika dikelompokkan
berdasarkan pasal 81 (pemerkosaan anak) dan
pasal 82 (pencabulan anak) UU.No.23 tahun
2002 tentang perlindungan anak (tabel 4)
menunjukkan bahwa pelaku pemerkosaan
anak memiliki telinga kanan yang berbentuk
oval (78,95%), hanya 10,53% yang memiliki
bentuk telinga triangular, dan 5,26% yang
memiliki bentuk telinga bulat dan
rectangular. Sedangkan pada telinga kiri
pelaku pemerkosaan anak, bentuk telinga
yang paling banyak dijumpai adalah bentuk
oval (90%), selanjutnya dijumpai sebanyak
Tabel 4 Jumlah dan presentase variasi bentuk, tipe lobula dan darwin’s tuberkel pada daun telinga kanan dan kiri narapidana berdasarkan pasal 81 dan 82 UU. No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.
Pengamatan Telinga Deskripsi Pasal 81 Pasal 82
n Persen N Persen
Bentuk telinga Kanan Triangular 2 10,53% 0 0,00%
Bulat 1 5,26% 0 0,00%
Oval 15 78,95% 11 100% Rectangular 1 5,26% 0 0,00% Kiri Triangular 2 10,53% 0 0,00%
Bulat 0 0,00% 0 0,00%
Oval 17 90,00% 11 100% Rectangular 0 0,00% 0 0,00% Tipe lobula Kanan Attached 11 57,89% 3 27,27%
Free 8 42,11% 8 72,72%
Kiri Attached 5 26,32% 3 27,27% Free 14 73,68% 8 72,72% Darwin’s
tuberkel
Kanan Ada 0 0,00% 0 0,00%
Tidak ada 0 0,00% 0 0,00%
Kiri Ada 0 0,00% 0 0,00%
Tidak ada 0 0,00% 0 0,00%
Bentuk telinga narapidana menunjukkan
hasil yang sesuai dengan ungkapan Preedy
(2012). Menurut Preedy, bentuk telinga
normal terbagi menjadi empat, yaitu oval,
bulat, rectangular, dan triangular, dengan
frekuensi yang paling banyak dijumpai
adalah berbentuk oval, yaitu sekitar 57,3% pada telinga kanan maupun kiri, baru
kemudian dijumpai bentuk telinga triangular
sekitar 30,8% (kanan) dan 30,6% (kiri),
bentuk bulat dengan frekuensi 6,5% (pada
telinga kanan dan kiri), serta bentuk
rectangular 5,4% (kanan) dan 5,6% (kiri).
Hasil pengamatan variasi tipe lobula dan darwin’s tuberkel pada narapidana, dapat disimpulkan bahwa tipe lobula yang banyak
dijumpai pada telinga kanan pelaku
pemerkosaan anak adalah tipe “attached” (57,89%), sedangkan pada telinga kiri banyak dijumpai tipe “free” (73, 68%). Lobula tipe “free” terdapat sebanyak 42,11% pada telinga kanan. Sedangkan pada telinga kiri, tipe “attached” ditemukan sebanyak 26,32%. Baik telinga kanan maupun kiri dari pelaku pemerkosaan anak, tidak dijumpai adanya darwin’s tuberkel.
Semua pelaku pencabulan anak dijumpai
bentuk telinga kanan dan kiri yang oval,
dengan tipe lobula yang banyak dijumpai pada telinga kanan dan kiri adalah tipe “free” (72,72%), sedangkan tipe “attached” hanya dijumpai pada 27,27% narapidana, dan pada
Hasil penelitian ini sesuai dengan
penelitian Hakim et al (2012) yang menyimpulkan bahwa sekitar 70% sampel
laki-laki pada penelitian cenderung memiliki lobula dengan tipe “free”, sedangkan sisanya adalah tipe “attached” (30%). Menurut Preedy (2012), tipe “free” merupakan bentuk
lobula yang paling banyak dijumpai pada
individu, yaitu sekitar 65,5% yang biasanya
bilateral.
Hasil penelitian ini tidak menemukan adanya darwin’s tuberkel pada telinga kanan maupun telinga kiri dari para narapidana
yang menjadi sampel. Sesuai dengan
pendapat Hakim et al (2012) bahwa darwin’s tuberkel tidak ditemukan pada semua orang,
pada sampel laki-laki dalam penelitiannya
sekitar 56% telinga tidak ditemukan adanya darwin’s tuberkel.
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa
tinggi total telinga kanan narapidana rata-rata
adalah 5,75 cm, lebar total telinga kanan 2,55
cm, tinggi telinga kanan 1,36 cm, lebar
lobular telinga kanan 1,28 cm, jarak tragus ke
antiheliks telinga kanan 1,68 cm, jarak tragus
ke heliks telinga kanan 3,59 cm, indeks
aurikula pada telinga kanan 44,03 cm dan
indeks lobular telinga kanan 96,30 cm.
sedangkan pada telinga kiri dapat
disimpulkan bahwa tinggi total telinga kiri narapidana rata-rata 5,8 cm, lebar total
telinga kiri 2,61 cm, tinggi lobula telinga kiri
1,28 cm, lebar lobular telinga kiri 1,25 cm,
jarak tragus ke antiheliks telinga kiri 1,61 cm,
jarak tragus ke heliks telinga kiri 3,64 cm,
indeks aurikula pada telinga kiri 44,99 cm,
dan indeks lobular telinga kiri 99,75 cm.
Tabel 5 Rata-rata dan standar deviasi ukuran daun telinga kanan dan kiri narapidana
Pengukuran Telinga Rata-rata (cm)
Standar deviasi (cm) Tinggi total telinga Kanan 5,75 0,283
Kiri 5,80 0,238 Lebar total telinga Kanan 2,55 0,271 Kiri 2,61 0,42 Tinggi lobular Kanan 1,36 0,24 Kiri 1,28 0,223 Lebar lobular Kanan 1,28 0,285 Kiri 1,25 0,306 Jarak tragus ke antiheliks Kanan 1,68 0,52
Kiri 1,61 0,513 Jarak tragus ke heliks Kanan 3,59 0,488 Kiri 3,64 0,576 Indeks aurikula Kanan 44,03 5,684 Kiri 44,99 7,151 Indeks lobular Kanan 96,30 27,481
Pengelompokkan hasil pengukuran sidik
telinga berdasarkan jenis kasus kejahatan
seksual yang dilakukan, yaitu pemerkosaan
anak (pasal 81 UU. No. 23 tahun 2002
tentang perlindungan anak) dan pencabulan
anak (pasal 82 UU. No. 23 tahun 2002
tentang perlindungan anak) disajikan pada
tabel 6.
Tabel 6 Rerata dan standar deviasi pada pengukuran daun telinga kanan dan kiri narapidana
Pengukuran Telinga
Pasal 81 Pasal 82
Rata-rata (cm)
Standar deviasi
(cm)
Rata-rata (cm)
Standar deviasi (cm) Tinggi total
telinga
Kanan 5,75 0,249 5,75 0,384 Kiri 5,82 0,252 5,76 0,216 Lebar total
telinga
Kanan 2,52 0,309 2,59 0,19 Kiri 2,57 0,498 2,66 0,244 Tinggi lobular Kanan 1,33 0,255 1,43 0,208 Kiri 1,29 0,242 1,26 0,194 Lebar lobular Kanan 1,29 0,283 1,26 0,302 Kiri 1,26 0,355 1,24 0,211 Jarak tragus ke
antiheliks
Kanan 1,74 0,569 1,58 0,428 Kiri 1,68 0,631 1,48 0,141 Jarak tragus ke
heliks
Kanan 3,55 0,567 3,65 0,324 Kiri 3,60 0,689 3,65 0,337 Indeks aurikula Kanan 43,33 6,607 45,24 3,544 Kiri 44,20 8,273 45,24 4,673 Indeks lobular Kanan 100,11 28,325 89,73 25,903
Kiri 99,45 26,801 89,73 25,721
Hasil pengukuran daun telinga pelaku
pemerkosaan anak menunjukkan bahwa
tinggi telinga kanan rata-rata adalah 5,75 cm,
sedangkan telinga kiri 5,82 cm. lebar total
telinga kanan rata-rata pada pelaku adalah
2,52 cm, dan pada telinga kiri rata-rata 2,57
cm.
Hasil identifikasi pada lobula narapidana
didapatkan tinggi lobula rata-rata pada telinga
kanan pelaku pemerkosaan anak adalah 1,33
cm, dengan lebar rata-rata 1,29 cm,
sedangkan pada telinga kiri tinggi rata-rata
lobula adalah 1,29 cm, dengan lebar lobula
rata-rata 1,26 cm. Rata-rata jarak tragus ke
heliks pada telinga kanan pelaku adalah 3,55
cm, sedangkan pada telinga kiri 3,60 cm. Jika
tragus diukur ke anteheliks maka didapatkan
hasil jarak ukur rata-rata 1,74 cm pada telinga
kanan, dan 1,68 cm pada telinga kiri. Dari
morfometri daun telinga tersebut dapat
diketahui indeks aurikula pada telinga kanan
yaitu 43,33 cm, dan telinga kiri 44,20 cm.
Sedangkan indeks lobula rata-rata yaitu
100,11 cm pada telinga kanan, dan 99,45 cm
Pelaku pencabulan memiliki tinggi total
telinga yang jika dirata-rata pada seluruh
narapidana untuk kasus yang sama, maka
didapatkan hasil yaitu 5,75 cm pada telinga
kanan, dan 5,76 cm pada telinga kiri. Lebar
total telinga kanan rata-rata menunjukkan
nilai 2,59 cm untuk telinga kanan dan 2,66
cm pada telinga kiri narapidana.
Pengukuran lobula pada narapidana yang
melakukan pencabulan anak yang meliputi
panjang dan lebar didapatkan hasil yaitu 1,43 cm untuk tinggi lobula rata-rata pada telinga
kanan, dan pada telinga kiri 1,26 cm. Lebar
lobula rata-rata pada telinga kanan yaitu 1,26
cm dan 1,24 cm pada telinga kiri. Indeks
aurikula kanan dan kiri rata-rata 45,24 cm
dan indeks lobula telinga kanan dan kiri
rata-rata adalah 89,73 cm.
Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil
yang diungkapkan oleh Ekanem et al (2010) melalui penelitiannya pada orang-orang
Nigeria. Tinggi total telinga, tinggi lobular,
lebar lobular rata-rata pada telinga kanan dan
kiri narapidana di Lembaga Pemasyarakatan
Purwokerto memiliki ukuran yang lebih
besar dibandingkan dengan telinga orang
Nigeria. Menurut Ekanem et al (2010), tinggi telinga rata-rata pada laki-laki Nigeria adalah
5,60 cm, tinggi lobular rata-rata 1,11 cm, dan
lebar lobular rata-rata 1,35 cm. sedangkan
pada penelitian ini adalah 5,75 cm (kanan)
dan 5,80 cm (kiri), dengan tinggi lobula 1,36
cm (kanan) dan 1,28 cm (kiri), serta lebar
lobula 1,28 cm (kanan) dan 1,25 cm (kiri).
Sedangkan menurut Bozkir et al (2006), tinggi telinga pada laki-laki adalah ±6,31 cm
(kiri) dan ±6,29 cm (kanan), tinggi lobula 18,
3 cm (kiri) dan 18,4 cm (kanan), serta lebar
lobula ±19,4 cm (kiri) dan ±19,8 cm (kanan).
Perbedaan hasil penelitian ini sesuai dengan
pernyataan Ekanem et al (2010) dan Natekar et al (2012) bahwa terdapat perbedaan ukuran telinga pada etnis atau ras yang berbeda.
Sebagai sidik telinga, hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa bentuk, tipe lobula, variasi darwin’s tuberkel, dan nilai ukur landmark aurikula (tinggi total telinga, lebar total telinga, tinggi dan lebar lobula, jarak
tragus ke heliks dan antiheliks, serta indeks
aurikula dan indeks lobula) dari
masing-masing narapidana berbeda satu dengan
lainnya. Sesuai dengan penelitian Bozkir et al (2006), Prakash et al (2008), Sporfza et al (2008), Afandi et al (2010), Pepper (2010), Hakim et al (2012), Natekar et al (2012) bahwa telinga masing-masing individu
berbeda pada morfologi daun telinganya,
sehingga daun telinga dianggap unik dan
berpotensi untuk dijadikan sebagai
pengidentifikasi individu.
dideteksi dari sidik telinganya. Beberapa
pelaku mungkin saja meninggalkan sidik
telinga di pintu atau jendela, karena telinga
memproduksi sekret yang mengandung
lemak dan wax yang akan membuat cetakan daun telinga saat kontak dengan benda17. Namun menurut Larrabee (2004) hasil
cetakan telinga pada suatu benda sangat
bergantung pada besarnya tekanan. Ini akan
menyebabkan hasil pengukuran sidik telinga
yang berbeda56 sehingga cukup sulit untuk membuat tekanan yang benar-benar sama
dengan tekanan pada tempat kejadian dan
peristiwa tindak kriminal21.
Kegunaan sidik telinga di kepolisian
adalah untuk membuat identifikasi dengan
membandingkan ukuran topografi aurikula
dari para tersangka49, variasi bentuk lobula daun telinga21, kemudian melakukan analisa anatomi, tipe dan distribusi dari
masing-masing penanda atau landamark dari aurikula19,56,57.Kegunaan lain dalam forensik adalah untuk identifikasi postmortem dari
jenazah dengan membandingkan fotografik
aurikula antemortemnya17.
Kesimpulan
Tipe kepribadian pada narapidana yang
melakukan kejahatan seksual terhadap anak
(sesuai dengan ketentuan pasal 81 dan 82
UU. No.23 tahun 2002 tentang perlindungan
anak) menunjukkan tipe kepribadian yang
cenderung ekstrovert (70%), dan hanya
sekitar 30% yang introvert. Secara khusus,
sebanyak 73,68% para pelaku pemerkosaan
(pasal 81) dan 63,63% pelaku pencabulan
anak (pasal 82) lebih cenderung ektrovert.
Sidik telinga narapidana yang melakukan
kejahatan seksual terhadap anak
menunjukkan bahwa bentuk telinga
cenderung oval (kanan 86,67%, kiri 90%) dengan lobula tipe “free” (kanan 53,33%, kiri 73,33%), dan tidak memiliki darwin’s tuberkel. Tinggi total telinga ±5,72 cm
(kanan), ±5,8 cm (kiri); lebar total telinga
±2,55 cm (kanan), ±2,61 cm (kiri); tinggi
lobula ±1,36 cm (kanan), ±1,28 cm (kiri);
lebar lobula ±1,36 cm (kanan), ±1,25 cm
(kiri); tragus-heliks ±3,59 cm (kanan), ±3,64
cm (kiri); tragus-antiheliks ±1,68 cm (kanan),
±1,61 cm (kiri); indeks aurikula ±44,03 cm
(kanan), ±44,99 cm (kiri); indeks lobular
±96,30 cm (kanan), ±99,75 cm (kiri).
Ucapan terimakasih
Kepala Kantor Wilayah Hukum dan HAM RI Jawa Tengah (bapak Suwarso, Bc.IP, Sh, Mpd), Kepala Lapas Purwokerto (bapak Drs. Liberti Sitinjak, M.M., M.Si). seluruh warga binaan Lapas Purwokerto.
Daftar pustaka
2. Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. 2008, Catatan Tahunan 2007. 10 Tahun Reformasi: Kemajuan dan Kemunduran Perjuangan Melawan Kekerasan dan Diskriminasi Berbasis Jender, Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Jakarta, Diakses 24 September 2012,http://www.komnasperempuan.or.id/wp -content/uploads/2009/02/catatan-tahun-kekerasan-terhadap-perempuan-2007.pdf. 3. Prambudi, Eka. 2009. Karakteristik
Sosio-Demografi Dan Situasi Kejadian Pada Kejahatan Seksual Di Kabupaten Banyumas. Skripsi. Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. 52 hal (tidak dipublikasikan). 4. Jhony, Rubi Hadiarti. 2011. Tindak Pidana
Kekerasan Terhadap Perempuan: Studi Etiologi Kriminal di Wilayah Hukum Polres Banyumas. Jurnal Dinamika Hukum. 11(2): 211-225.
5. Retnaningrum, Dwi Hapsari. 2009. Incest Sebagai Bentuk Manifestasi Kekerasan terhadap Perempuan. Jurnal Dinamika Hukum. 9(1): 23-33.
6. Febrianto, Tri Bowo Hersandy. 2010. Tindak Pidana Pemerkosaan terhadap Anak Di Bawah Umur. Skripsi. Fakultas Hukum, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”, Jakarta. 94 hal. (Tidak Dipublikasikan).
7. Meliala, Melita Berlina Br. 2011. Penanggulangan Tindak Pidana Perbuatan Cabul terhadap Anak dalam Sudut Kebijakan Hukum Pidana (Studi Di Kota Medan). Skripsi. Fakultas Hukum. Universitas Sumatera Utara, Medan. 101 hal (Tidak dipublikasikan).
8. Rarasati, Endang. 2007. Kajian Kriminologi tentang Kejahatan Seksual terhadap Anak yang Dilakukan oleh Anak dibawah Umur. Skripsi. Fakultas Hukum. Universitas Andalas, Padang. 72 hal. (Tidak dipublikasikan).
9. Setiawan, Stefanus Urip Gembong Suryo. 2010. Tinjauan Mengenai Pelaksanaan Penyidikan terhadap Tindak Pidana Persetubuhan terhadap Anak Di Bawah Umur dengan Pelaku Anak Di Bawah Umur Dikaitkan dengan Hak-Hak Tersangka dalam KUHAP (Studi Kasus di Polres Sukoharjo
Dengan Nomor Perkara
Bp/83/Vii/2009/Reskrim). Skripsi. Fakultas Hukum. Universitas Sebelas Maret, Surakarta. 64 hal. (Tidak dipublikasikan). 10. Darmabratta, Wahjadi., Nurhidayat, Adhi
Wibowo. 2003. Psikiatri forensik. Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta. 166 hal. 11. Santoso, Topo., Zulfa, Eva Achjani. 2011.
Kriminologi. Edisi I. Rajawali Pers, Jakarta. 114 hal.
12. Helfgott, Jackqueline B. 2008. Kriminal Behavior: Theories, Typologies and Kriminal Justice. Sage Publication, Inc. 624pp
13. Boeree, Goerge. 2006. Personality Theories melacak Kepribadian Anda Bersama Psikologi Dunia. Prisma Shopie, Jogjakarta. 14. Anwar, Yesmil., Adang. 2008. Pengantar
Sosiologi Hukum. Grasindo, Bandung. 249 hal.
15. Bozkir, M. Gulhal., Karakas, Pinar., Yavuz, Metin., Dere, Fahri. 2006. Morphometry of The External Ear in Our adult Population. Aesth Plast Surg. 30: 81-85.
16. Juneman. 2009. Mempertanyakan Pemrofilan Kriminal Sebagai Sebuah Ilmu Psikologis. Jurnal ilmiah psikologi Psikobuana. Vol 1 Investigation: Methods and procedures. Open University press, England. pp206.
19. Prakash, Surya., Jayaraman, Umarani., Gupta, Phalguni. 2008. Ear Localization from Side Face Images using Distance Transform and Template Matching. Department of Computer Science and Engineering, Indian Institute of Technology Kanpur, India. pp1-8 20. Lugt, Cor van der. 2001. (Ears and) Earprints,
Individualising Crime Scene Marks?!.Problems of Forensic Sciences, vol. XLVI: 38–45
21. Natekar, Prashat E., Souza, Fatima M.De. 2012. Demarking and Identifying points-reliable Criteria For Determination of Sex from Auris External. Indian J Otol. 18(1): 24-27.
Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Riau Angkatan 2006-2009 Sebagai Alternative Identifikasi Individu. Jurnal Teknobiologi.1(2): 11-18.
23. Hakim, Luthfi., Putra, A.A Putu Santiasa., Wicaksono, Suryo. 2012. Perbedaan Beberapa Karakter Morfologi Telinga Berdasarkan Jenis Kelamin: Preliminary Study. Departemen Antropologi, Universitas Airlangga, Surabaya.
24. Lanning, Kenneth V. 2010. Child Molesters: A Behavioral Analysis For Professionals Investigating the Sexual Exploitation of Children Fifth Edition. Office of justice programs, U.S Department of justice. pp193 25. Sunaryo. 2004. Psikologi untuk
Keperawatan. EGC, Jakarta. 297 hal.
26. Probowati, Yusti. 2008. Psikologi Forensik: Tantangan Psikolog Sebagai Ilmuwan dan Professional. Anima, Indonesian Psychological Journal. 23(4): 338-353. 27. Budiarto, Eko. 2003. Metodologi Penelitian
Kedokteran: Sebuah Pengantar. EGC, Jakarta. 230 halaman.
28. Sastroasmoro, Sudigdo., Ismael, Sofyan. 2010. Dasar-dasar metodologi penelitian Klinis. Sagung seto, Jakarta. 453 hal.
29. Dahlan, Sopiyudin. 2010. Langkah-langkah membuat proposal penelitian bidang kedokteran dan kesehatan. Sagung Seto, Jakarta. 208 hal.
30. Briley, Josh. 2001. The uninvestigated factors: Dimensions of personality and psychopathology in sex offenders. Thesis. Master of Science psychology, University of north texas. 104pp
31. Egan, Vincent., Kavanagh, Beth., Blair, Marie. 2005. Sexual Offenders Against Children: The Influence of Personality and Obsessionality on Cognitive Distortions. Sexual Abuse: A Journal of Research and Treatment. 17 (3): 223-241
32. Yuliantin, monika., puspitawati, herien., simanjuntak, megawati. 2010. Sifat, kepribadian, tujuan hidup mahasiswa, dan kaitannya dengan persepsi tentang pergaulan lawan jenis. Jur. Ilm. Kel. & kons. 3(1): 56-63
33. Vandiver, Donna M., Kercher, Glen. 2004. Offender and Victim Characteristics of Registered Female Sexual Offenders in
Texas: A Proposed Typology of Female Sexual Offenders. Sexual Abuse: A Journal of Research and Treatment. 16 (2): 121-137 34. Hendriks, J. Bijleveld, C.C.J.H. 2004.
Juvenile sexual delinquents:contrasting child abusers with peer abusers. Criminal behaviour and mental health, 14: 238–250. 35. Voller, Emily Kay. 2004. The Role Of The
Big Five Personality Traits In The Sexual Assault Perpetration By College Males. Thesis. Saint Cloud State University, Minnesota. pp96
36. Greene, edie., heilburn, kirk. 2011. Wrightsman’s psychology and legal system seventh edition. Wadsworth, cencage learning, USA.
37. Sisco, Melissa M. 2011. Enhancement of sexual boundaries: an online awareness project. Dissertation. Department of Psychology, University of Arizona, United States, pp94.
38. Leue, Anja., Brocke, Burkhard., Hoyer, Jurgen. 2008. Reinforcement sensitivity of sex offenders and non-offenders: An experimental and psychometric study of reinforcement sensitivity theory. British Journal of Psychology. 99, 361–378.
39. Bijleveld, CCJH, Hendriks J. 2003. Juvenile sex offenders: differences between group and solo offenders. Psychology, Crime and Law . 9(3), 237–245.
40. Cullen, Poppy. 2011. An Investigation into Personality Typologies of Adolescent Sexual Offenders. Thesis. UK, Forensic Psychology , University of Birmingham. 189pp (unpublished).
41. McCabe, Marita P., Wauchope, Michelle. 2005. Behavioral Characteristics of Men Accused of Rape: Evidence for Different Types of Rapists. Archives of Sexual Behavior, 34(2): 241–253
42. Grotpeter, Jennifer K., Elliott, Delbert S. 2002. Violent Sexual Offending. Institute of Behavioral Science, University of Colorado. 43. Altman, adrianne. 2001. Relations between
child molesters’ self-perceptions and treatment engagement. Thesis. Master of science psychology, university of north texas. 125pp
Medan, Fakultas Hukum Jurusan Hukum Pidana Universitas Sumatera Utara
45. Varian W, Edria Albert. 2002. Aplikasi Graf Dalam Biometrik Telinga. Teknik Informatika, ITB, Bandung.
46. Tariq, Anam., Akram, M. Usman. 2012. Personal identification using ear recognition. Telkomnika. 10(2): 321-326.
47. Bloom., Fawcett. 2002. Buku ajar Histologi Edisi 12. Penerbit EGC, Jakarta.
48. Shailaja, Naga Dasari. 2006. A Simple Geomatric Approach For Ear Recognition. Thesis. Department Of Science and Engineering, Indian Institue of Technology, Kanpur. 37 pp (Unpublished).
49. Kaushal, Nitin., Kaushal Purnima. 2011. Human Earprints: A Review . J Biomet Biostat. 2(5): 2-5.
50. Prakash, Surya., Jayaraman, Umarani., Gupta, Phalguni. 2008. Ear Localization from Side Face Images using Distance Transform and Template Matching. Department of Computer Science and Engineering, Indian Institute of Technology Kanpur, India. pp1-8 51. Jawale, Jitendra B., Bhalchandra, Anjali S.
2012. The Human Identification System Using Multiple Geometrical Feature Extraction of Ear: An Innovative Approach. International Journal of Emerging Technology and Advanced Engineering. 2(3): 662-666
52. Preedy, Victor R. 2012. Handbook of anthropometry: physical measures of human
form in health and disease. Springer New York Dordrecht Heidelberg, London.
53. Ekanem, A.U., Garba, S.H., Musa, T.S., Dare, N.D. 2010. Anthropometric Study of The Pinna (Auricle) among Adult Nigerians Resident in Maiduguri Metropolis. J.Med.Sci. 10(6): 176-180.
54. Sforza, Chiarella., Grandi, Gaia., Binelli, Miriam., G, Davide., Tommasi., Riccardo., Rosati., Ferrario, Virgilio F.. 2009. Age- and sex-related changes in the normal human ear. Forensic Science International 187:110.e1– 110.e7
55. Larrabee, WF., Makielski, KH., Henderson, JL. 2004. Surgical Anatomy of the Face, 2nd ed. Philadelphia, Lippincott Williams & Wilkins. p 171-172.
56. Brucker, MJ., Patel, J., Sullivan, PK. 2003. A Morphometric Study of The External Ear: Age-and-Sex related Differences. Plast Reconstr Surg. 112(2): 647-652.