Pengantar Transportasi 3 Jenis Pergeraka

38  23  Download (2)

Teks penuh

(1)

9/25/2015

PENGANTAR

TRANSPORTASI

[5433-011-2]

MODUL#3: Jenis Pergerakan dan Moda Transportasi

Tri Mulyono

(2)

DAFTAR ISI

3. Pendahuluan ... 1

3.1 Kegiatan Penduduk ... 2

3.1.1 Kegiatan penduduk yang dikaitkan dengan sumber daya ... 3

a. Kegiatan produksi ... 3

b. Kegiatan Distribusi ... 4

c. Kegiatan Konsumsi ... 5

3.1.2 Kegiatan penduduk yang dikaitkan dengan kegiatan social ... 6

3.1.3 Kegiatan penduduk yang dikaitkan dengan ruang (spasial) ... 7

a. Unsur Jarak dalam spasial ... 9

b. Unsur Lokasi dalam spasial ... 9

c. Unsur Bentuk Dataran ... 9

d. Unsur Ukuran Wilayah ... 11

3.2 Profil Perjalanan ... 12

3.2.1 Sebab Terjadinya pergerakan ... 14

3.2.2 Waktu Terjadinya pergerakan ... 15

3.2.3 Jenis Sarana Angkutan Yang Digunakan ... 15

a. Pola perjalanan orang ... 15

b. Pola perjalanan barang ... 15

3.3 Moda Transportasi ... 15

3.3.1 Moda Transportasi Berdasarkan Geografis ... 16

a. Moda Transportasi Darat ... 16

b. Moda Transportasi Laut ... 19

c. Moda Transportasi Udara ... 22

3.3.2 Moda Transportasi Berdasarkan Prasarana ... 23

(3)

3.3.4 Moda Transportasi Berdasarkan Sifat Pelayanan ... 24

3.3.5 Moda Transportasi Berdasarkan Objek yang Dipindahkan ... 25

3.3.6 Moda Transportasi Berdasarkan Tenaga Pendorong ... 27

3.3.7 Moda Transportasi Berdasarkan Kekhususan ... 27

3.3.8 Moda Transportasi Berdasarkan Multimoda ... 28

3.4 Pemilihan Moda ... 29

3.4.1 Faktor yang mempengaruhi Pemilihan Moda ... 29

3.4.2 Proses Pemilihan Moda ... 30

3.4.3 Variabel Penentu Pemilihan Moda ... 30

a. Variabel Demand (Karakteristik Pelaku Perjalanan) ... 31

b. Variabel Supply (Karakteristik Sistem Transportasi) ... 31

c. Biaya perjalanan ... 32

d. Tingkat pelayanan ... 32

3.4.4 Model dalam Pemilihan Moda ... 32

SOAL ... 34

(4)

3.1 Kegiatan Penduduk | 1

MODUL#3

Tatap

Muka Topik Substansi Metode

3.

- Proses pemilihan moda yang akan digunakan

Ceramah, diskusi, quiz

3. Pendahuluan

Transportasi adalah usaha untuk memindahkan, menggerakkan, atau mengangkut orang ataupun barang dari suatu tempat ke tempat lain, dimana di tempat lain objek tersebut lebih berguna atau dapat berguna untuk tujuan-tujuan tertentu. Transportasi dikatakan baik jika dari segi keselamatan, aksesibilitas yang tinggi, kapasitas mencukupi, teratur, lancar, tepat waktu, nyaman, ekonomis, aman, tertib, rendah polusi, dan beban masyarakat rendah.

Sebagai pemenuhan kebutuhan hidupnya, manusia melakukan kegiatan. Kegiatan manusia mempunyai lokasi yang terpisah-pisah, sehingga manusia perlu melakukan pergerakan yang kemudian menciptakan lalu lintas. Dalam berlalu lintas diperlukan prasarana jalan. Mengingat dalam berlalu lintas manusia maupun hewan melakukan pergerakan dari satu tempat asal ke satu tempat tujuan dengan menggunakan sarana (kendaraan), maka terjadilan perangkutan (transportasi).

(5)

3.1 Kegiatan Penduduk | 2 Kegiatan transportasi bukan merupakan suatu tujuan melainkan mekanisme untuk mencapai tujuan. Pergerakan orang dan barang dari suatu tempat ke tempat lainnya mengikuti 3 (tiga) kondisi (Setijowarno & Frazila, 2001) yaitu :

a. Pelengkap, relatif menarik antara dua atau lebih tujuan.

b. Keinginan untuk mengatasi jarak, dimana sebagai perpindahan yang diukur dalam kerangka waktu dan uang yang dibutuhkan untuk mengatasi jarak dan teknologi terbaik untuk mencapainya.

c. Kesempatan intervensi berkompetisi diantara beberapa lokasi untuk memenuhi kebutuhan dan penyediaan. Untuk mencapai pergerakan yang cepat, aman, nyaman dan sesuai dengan kebutuhan akan kapasitas angkut maka diperlukan suatu fasilitas atau prasarana yang mendukung pergerakan tersebut. Penyediaan fasilitas untuk mendukung dari pergerakan tersebut menyesuaikan dengan jenis moda yang digunakan.

3.1 Kegiatan Penduduk

Kegiatan penduduk yang beragam dan multi dimensi akan menentukan bentuk (jenis) perjalanan. Pengelompokan kegiatan penduduk menurut Nasution (1990) dalam (Miro, 2012).

Pola aktivitas sosial dan ekonomi penduduk kota akan membentuk pola profil macam-macam perjalanan sehingga akan membentuk konsentrasi pembagian lahan aktivitas yang berbeda dan akan membentuk pula asal dan tujuan perjalan tertentu di wilayah kota. Bahwa aktivitas penduduk terbagi berdasar 3 hubungan (Miro, 2012) pola kegiatan penduduk seperti gambar 3.1 adalah:

1. Kegiatan penduduk yang dikaitkan dengan sumber daya (kebutuhan hidup) yang ditujukan untuk kesejahteraan manusia, meliputi:

a. Usaha Produksi b. Usaha Distribusi c. Usaha Konsumsi

2. Kegiatan penduduk yang dikaitkan dengan social, seperti a. Hubungan berkeluarga (masyarakat)

(6)

3.1 Kegiatan Penduduk | 3 f. Rekreasi, dan lainnya

3. Kegiatan penduduk yang dikaitkan dengan ruang atau spasial dapat berupa: a. Pertambahan penduduk

b. Urbanisasi, migrasi dan sejenisnya

c. Tata guna lahan, zonasiasi atau pembentukan kawasan baru d. Perkembangan wilayah

Tata guna lahan, zonasiasi atau pembentukan

kawasan baru

Gambar 3.1: Pola kegiatan penduduk. ( (Miro, 2012, p. 27)

3.1.1 Kegiatan penduduk yang dikaitkan dengan sumber daya

Kegiatan ekonomi adalah kegiatan-kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa yang bernilai ekonomi. Dalam kehidupan masyarakat kamu tentu sering menemui orang-orang yang melakukan kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi terdiri atas (1) kegiatan produksi, (2) kegiatan distribusi, dan (3) kegiatan konsumsi.

a. Kegiatan produksi

(7)

3.1 Kegiatan Penduduk | 4

Pengertian Kegiatan Produksi (Sukirno, 2009) adalah kegiatan yang dilakukan manusia dalam menghasilkan suatu produk, baik barang maupun jasa yang kemudian dimanfaatkan oleh konsumen. Kegiatan produksi merupakan salah satu aktivitas ekonomi yang sangat menunjang selain kegiatan konsumsi. Tanpa adanya kegiatan produksi, konsumen tidak dapat mengonsumsi barang dan jasa yang dibutuhkannya. Kegiatan produksi dan kegiatan konsumsi adalah satu mata rantai yang saling berkaitan dan tidak bisa saling dilepaskan (Arif & Amalia, 2010). Secara umum kegiatan produksi adalah:

1. Mendapatkan barang yang disediakan oleh alam, seperti hasil tambang, hasil laut dan hasil hutan. Kegiatan tersebut termasuk kegiatan produksi bidang ekstraktif.

2. Mengerjakan atau mengolah tanah, seperti pertanian dan perkebunan, termasuk kegiatan produksi bidang agraris.

3. Mengolah bahan mentah menjadi bahan baku atau barang jadi, merupakan kegiatan produksi bidang Industri.

4. Mengumpulkan, menyalurkan, serta memasarkan hasil produksi ke tempat tempat yang membutuhkan, termasuk kegiatan produksi bidang perdagangan.

5. Menghasilkan atau menyediakan jasa, seperti jasa asuransi, jasa transportasi, jasa perbakkan, dan jasa perhotelan, termasuk kegiatan produksi dibidang jasa.

b. Kegiatan Distribusi

Kegiatan distribusi adalah kegiatan menyalurkan barang dari produsen ke konsumen. Jika produsen langsung berhubungan langsung dengan konsumen disebut distribusi langsung. Tapi jika produsen menjual barangnya kepada pedagang disebut distribusi tidak langsung.

Pengertian Distribusi menurut (Kotler & Armstrong, 2012, p. 77), adalah aktifitas perusahaan agar produk / jasa mudah didapatkan oleh konsumen sasaranya. Distribusi adalah penyaluran barang dari suatu tempat ketempat lainnya atau dari produsen ke konsumen untuk dimanfaatkan (Sinaga, Sembiring, & Sitorus, 1991).

(8)

3.1 Kegiatan Penduduk | 5 Tujuan Kegiatan distribusi yang dilakukan oleh individu atau lembaga sebagai berikut :

 Kelangsungan hidup kegiatan produksi terjamin. Produsen atau perusahaan membuat barang dengan tujuan dijual untuk memperoleh keuntungan. Dari hasil penjualan tersebut dapat digunakan untuk melakukan proses produksi kembali sehingga kelangsungan hdup perusahaan tetap terjamin.

 Barang atau jasa Hasil produksi dapat bermanfaat bagi konsumen. Barang atau jasa produksi tidak akan ada artinya bila tetap berada di tempat produsen. Barang atau jasa tersebut akan bermanfaat bagi konsumen yang membutuhkan setelah ada kegiatan distribusi.

 Konsumen dapat memperoleh Barang dengan mudah. Tidak semua barang atau jasa yang dibutuhkan konsumen dapat dibeli secara langsung dari produsen. Ada barang barang atau jasa jasa tertentu yang memerlukan kegiatan penyaluran atau distribusi dari produsen ke konsumen agar konsumen mudah untuk mendapatkanya.

Pada umumnya tempat kegiatan produksi berbeda dengan tempat konsumen. Perbedaan tempat ini harus diatasi dengan kegiatan pengangkutan. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan makin majunya teknologi, kebutuhan manusia makin banyak. Hal ini mengakibatkan barang yang disalurkan semakin besar sehingga membutuhkan alat transportasi (pengangkutan).

c. Kegiatan Konsumsi

Kegiatan konsumsi hanya mencakup kegiatan memakai, menggunakan, menghabiskan barang jasa secara langsung. Misalnya makan, minum dan memakai baju. Untuk kegiatan menggunakan atau memakai barang yang tidak ditujukan secara langsung untuk memenuhi kebutuhan tidak dapat dimassukkan sebagai kegiatan konsumsi. Misalnya, petani memakai cangkul, pekerja menggunakan mesin. Atau pemilik rumah menyewakan rumahnya. Kegiatan konsumsi itu sendiri dibedakan menjadi dua bagian, yaitu sebagai berikut: Kegiatan konsumsi barang dan Jasa.

(9)

3.1 Kegiatan Penduduk | 6 jasa. Barang meliputi barang tahan lama dan barang tidak tahan lama. Barang konsumsi menurut kebutuhannya, yaitu: kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tersier (Son & Hans, 1993, p. 101)

3.1.2 Kegiatan penduduk yang dikaitkan dengan kegiatan social

Kehidupan sosial, politik, ekonomi dalam melangsungkan kehidupannya, pengembangan iptek, budaya dan lain-lain. Tanpa adanya dukungan transportasi manusia tidak dapat bergerak untuk jarak dekat sekalipun. Berjalan kaki merupakan salah satu bentuk moda transportasi paling sederhana yang digunakan manusia untuk bergerak. Keperluan bergerak tersebutlah yang dinamakan dengan transportasi.

Kebanyakan orang memerlukan perjalanan untuk mencapai tempat-tempat tujuan bekerja, bersekolah atau ke tempat-tempat pendidikan yang lain, berbelanja, ke tempat-tempat pelayanan, mengambil bagian dalam berbagai kegiatan sosial dan bersantai diluar rumah, serta banyak tujuan yang lain. Hal yang utama dalam masalah perjalanan adalah adanya hubungan antara tempat asal dan tujuan, yang memperlihatkan adanya lintasan, alat angkut (kendaraan) dan kecepatan. Pola perjalanan di daerah perkotaan dipengaruhi oleh tata letak pusat-pusat kegiatan di perkotaan (permukiman, perbelanjaan, perkantoran, sekolah, rumah sakit, dan lainlain).

Kegiatan penduduk yang dikaitkan dengan social, seperti perjalanan untuk bisnis; hubungan berkeluarga (masyarakat); Pendidikan; Kesehatan; Agama; Pemerintahan; Rekreasi, dan lainnya. Perjalanan Bisnis adalah perjalanan ke suatu tempat kerja yang berbeda yang di tentukan oleh perusahaan. Perjalanan bisnis adalah perjalanan yang dilaksanakan oleh seorang pimpinan suatu perusahaan yang berkaitan dengan tugas dan pekerjaan untuk jangka waktu yang tertentu. Pelaksanaan perjalanan bisnis berbeda dengan perjalanan biasa. Seseorang yang melaksanakan perjalanan biasa, mempersiapkan sendiri segala sesuatunya, baik dalam menentukan tempat yang dituju maupun dalam menggunakan dana, dan biasanya keluarga pun ikut serta. Sedangkan pejalanan bisnis biasanya perusahaan yang memutuskan semuanya.

(10)

3.1 Kegiatan Penduduk | 7 perjalanan di daerah perkotaan dipengaruhi oleh tata letak pusat-pusat kegiatan di perkotaan (permukiman, perbelanjaan, perkantoran, sekolah, rumah sakit, dan lainlain).

 Perjalanan hubungan

berkeluarga (masyarakat) adalah hubunganan silaturami seperti misalnya perjalanan mudik lebaran, mengunjungi kerabat sakit, mudik lebaran dan seterusnya.

 Kegiatan keagamaan untuk pembinaan keimanan dan ketaqwaan terhadap tuhan yang maha esa dapat dibagi ke dalam empat bagian yaitu kegiatan harian, mingguan, dan tahunan.

 Pemerintah diartikan dalam beberapa definisi, antara lain ada yang mendefinisikan sebagai lembaga atau badan public yang mempunyai fungsi dan tujuan Negara, ada pula yang mendefinisikan sebagai sekumpulan orang-orang yang mengelola kewenangan-kewenangan, melaksanakan kepemimpinan dan koordinasi pemerintahan serta pembangunan masyarakat dari lembaga-lembaga dimana mereka ditempatkan.

 Kesehatan adalah pemenuhan kebutuhan manusia akan kesehatan jasmani, perjalanan yang terjadi seperti perjalanan ke rumah sakit dan lainnya.

 Pariwisata atau turisme adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk rekreasi atau liburan, dan juga persiapan yang dilakukan untuk aktivitas ini. Seorang wisatawan atau turis adalah seseorang yang melakukan perjalanan paling tidak sejauh 80 km (50 mil) dari rumahnya dengan tujuan rekreasi, merupakan definisi oleh Organisasi Pariwisata Dunia.

3.1.3 Kegiatan penduduk yang dikaitkan dengan ruang (spasial)

(11)

3.1 Kegiatan Penduduk | 8 ekonomi. Secara umum perbahan perkembagan kota dipengaruhi melalui adanya keterlibatan aktivitas sumber daya manusia berupa peningkatan jumlah penduduk dan sumber daya alam dalam kota bersangkutan (Hendarto, 2001).

Pertumbuhan penduduk merupakan bagian dinamika dari perkembangan kehidupan di muka bumi yang mendorong pertumbuhan segala aspek kehidupan manusia, sehingga mengharuskan permintaan jasa fasilitas infrastruktur perkotaan terutama ketersediaan fasilitas transportasi umum diminta untuk ikut membantu berperan sebagai upaya mendorong kinerja segala bentuk kegiatan manusia.

Meningkatnya aktivitas penduduk perkotaan memiliki pengaruh terhadap meningkatnya mobilitas kota terutama pada permasalahan pergerakan antar kawasan meliputi pergerakan manusia dan pergerakan kendaraan. Peningkatan permintaan fasilitas umum merupakan suatu bentuk akibat adanya perkembangan wilayah dan kota seperti ketersediaan sarana dan prasarana umum yang penting untuk ditingkatkan sebagai pelayanan kepada masyarakat.

Berkembang kawasan pusat perkotaan, kawasan pusat pendidikan, kawasan pusat perbelanjaan, kawasan pusat pemerintahan dan kawasan tempat fasilitas umum lainnya sangat memiliki peran dalam terjadinya pergerakan penduduk kota untuk bergerak ke pusat kegiatan kota satu dengan lainnya.

(12)

3.1 Kegiatan Penduduk | 9 bagian dari kebutuhan sarana dan prasarana umum untuk pelayanan kepada masyarakat yang membantu dalam melakukan mobilitas penduduk untuk beraktivitas. Munculnya transportasi didasari adanya keterbatasan fisik manusia dalam menjalankan aktivitas kehidupan sehari-hari baik .

Konsep ruang atau spasial mempunyai beberapa unsur, yaitu: (1) jarak, (2) lokasi, (3) bentuk dan (4) ukuran. Konsep ruang sangat berkaitan erat dengan waktu, karena pemanfaatan bumi dengan segala kekayaannya membutuhkan organisasi/pengaturan ruang dan waktu. Unsur-unsur tersebut secara bersama-sama menyusun unit tata ruang yang disebut wilayah (Nawanir, 2003).

a. Unsur Jarak dalam spasial

Unsur jarak dalam spasial dikaitkan dengan system transportasi mencakup jarak antar negara, nasional, propinsi, kabupaten/kota atau pedesaaan. Jarak yang jauh antar wilayah akan menentukan jenis pergerakan dan aktifitas kegiatan.

b. Unsur Lokasi dalam spasial

Lokasi dalam spasial menunjukan jenis kegiatan dalam wilayah dapat berupa lokasi pusat pendidikan, perbelanjaan, rekreasi dan sebagainya. Unsur ini akan menentukan zona dalam wilayah.

c. Unsur Bentuk Dataran

Kegiatan transportasi memiliki hubungan erat dengan kondisi fisik suatu daerah dan kegiatan ekonomi suatu daerah. Pada daerah dataran tinggi ongkos transportasi relative mahal karena medan yang berbukit, tanjakkan, dan banyak berbelok-belok, berpengaruh terhadap pemakaian bahan bakar. Tidak jarang pada daerah berbukit dan bergunug seperti di Irian Jaya transportasi untuk menghubungkan satu daerah dengan daerah lain tidak lewat daratan, tetapi lebih banyak menggunakan pesawat terbang. Berbeda dengan di dataran rendah, sarana jalan yang datar dan tidak ada tanjakan, ongkos transportasi relative murah, dan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi penduduk.

Berdasarkan bentuk, wilayah terbagi menjadi dataran tinggi, pegunungan, rendah dan pantai.

(13)

3.1 Kegiatan Penduduk | 10 Gya dan Alas.Aktifitas penduduk karena daerah ini beriklim sejuk. Di dataran tinggi kegiatan penduduk cenderung dibidang pertanian lahan kering. Ladang pertanian yang dibudidayakan adalah hortikultura antara lain, sayur-sayuran, buah-buahan dan taman hias.

(2) Wilayah pegunungan: Pegunungan merupakan deretan atau rangkaian gunung yang tinggi dibandingkan daerah sekitarnya. Pegunungan memiliki ketinggian 500 m di atas permukaan laut. Aktivitas penduduk di wilayah ini yaitu memafaatkan areal hutan, dibudidaya perkebunan, seperti kina, karet dan teh. Penduduk yang bermukim di daerah pegunungan sebagian ada yang bekerja sebagai buruh perkebunan.

(3) Wilayah dataran rendah: Dataran rendah adalah bentuk permukaan bumi yang relative datar dan letaknya di daerah yang rendah memiliki ketinggian dari 600 m di atas permukaan laut. Dataran rendah merupakan dataran tempat untuk kosentrasi Penduduk, karena itu daerah dataran redah sangat cocok untuk pemukiman penduduk dengan pola kosentris. Aktivitaspenduduk terdiri atas berbagai jenis, mulai dari pertanian, perikanan, tambak. Dibidang pertanian, perkebunan dan perikanan bisa dikembangkan karena tersedianya air yang cukup, di samping iklimnya yang menunjang untuk pertumbuhan tanaman dataran rendah. Disamping itu bidang industri dan jasa di dataran rendah dapat berkembang secara optimal, hal ini bisa terjadi karena ditunjang oleh sarana dan prasarana berupa transportasi jalan raya dan jalan kereta api, pusat pertokoan dan perdagangan serta pendidikan.

(14)

3.1 Kegiatan Penduduk | 11

d. Unsur Ukuran Wilayah

Ukuran atau besaran wilayah merupakan luasan wilayah dalam kaitannya dengan transportasi dapat berupa wilayah kota, kabupaten, desa atau wilayah peruntukan. Besaran ukuran akan berhubungan dengan aktifitas.

Whittlessey dalam (Budiharsono, 2001, p. 13) memformulasikan pengertian tata ruang berdasarkan: (1) unit areal konkrit, (2) fungsionalitas di antara fenomena, dan (3) subyektifitas dalam penentuan kriteria. Kemudian Hartchorne mengintrodusikan unsur hubungan fungsional diantara fenomena, yang melahirkan konsep struktur fungsional tata ruang Struktur fungsional bersifat subyektif, karena dapat menentukan fungsionalitas berdasarkan kriteria subyektif.

Kehidupan sosial, politik, ekonomi dalam melangsungkan kehidupannya, pengembangan iptek, budaya dan lain-lain. Tanpa adanya dukungan transportasi manusia tidak dapat bergerak untuk jarak dekat sekalipun. Berjalan kaki merupakan salah satu bentuk moda transportasi paling sederhana yang digunakan manusia untuk bergerak. Keperluan bergerak tersebutlah yang dinamakan dengan transportasi.

Aktivitas Penduduk Berhubungan dengan Tata Guna Lahan atau Tata Ruang Kota Aktivitas ini merupakan aktivitas umum dan dianggap penduduk kota masih terkumpul dalam satu ruang wilayah kota atau terbagi-bagi tempatnya sesuai dengan kegiata masing-masing (Miro, 2012). Aktivitas penduduk yang masih bersifat umum dapat berupa:

a. Pertambahan penduduk sebagai unsur proses penduduk meliputi kelahiran, kematian, dan migrasi,

b. Urbanisasi merupakan arus penduduk menuju ke kota,

c. Tata guna lahan (zoning-zoning) merupakan penduduk yang terkumpul dalam satu ruang dan membentuk satu kegiatan sehingga dalam lingkupnya perlu diatur penggunaan yang sesuai dengan bentuk kegiatan penduduk yang berbeda tersebut,

d. Perkembangan wilayah merupakan dampak aktivitas urbanisasi dan pertambahan penduduk yang berdampak pada perubahan luas kota dan perubahan fisik kota.

(15)

3.2 Profil Perjalanan | 12 dan sangat penting peranannya dalam menunjang proses perkembangan suatu wilayah. Wilayah dengan kondisi geografis yang beragam memerlukan keterpaduan antar jenis transportasi dalam melayani kebutuhan masyarakat. Pada dasarnya, sistem transportasi dikembangkan untuk menghubungkan dua lokasi guna lahan yang mungkin berbeda. Transportasi digunakan untuk memindahkan orang atau barang dari satu tempat ke tempat lain sehingga mempunyai nilai ekonomi yang lebih meningkat (Eliot Hurst, 1974).

Hubungan secara sederhana antara tata guna lahan dan transportasi dapat digambarkan sebagai suatu siklus seperti yang terdapat pada Gambar 3.2.

NILAI LAHAN

TATA GUNA LAHAN

PERJALANAN

KEBUTUHAN PERJALANAN FASILITAS

TRANSPORTA SI AKSESBILITAS

Gambar 3.2. Siklus Tata Guna Lahan dan Sistem Transportasi

3.2 Profil Perjalanan

(16)

3.2 Profil Perjalanan | 13 keseluruhan yang telah di identifikasi, seperti table 3.1:

Tabel 3.1: Jenis Aktifitas dan Profil Perjalanan

No. Jenis Kegiatan Profil Perjalanan Keperluan Perjalanan Teknologi KEGIATAN EKONOMI

1 Usaha Produksi Perjalanan Ekonomi Perjalanan Dinas

3 Usaha Konsumsi Perjalanan Bisnis Ke dan dari pusat-pusat perbelanjaan

KEGIATAN EKONOMI 1 Hubungan

berkeluarga dan bermasyarakat

Perjalanan sosial Ke dan dari kegiatan social

2 Pendidikan Perjalanan sekolah Ke dan dari tempat-tempat yang berkaitan dengan pendidikan (sekolah/kampus)

3 Budaya Perjalanan Ke dan dari tempat-tempat yang berkaitan dengan kebudayaan 4 Kesehatan Perjalanan berobat Ke dan dari tempat-tempat

pengobatan (rumah sakit atau balai pengobatan lainnya) 5 Agama Perjalanan Ibadah Ke dan dari tempat ibadah

(Mesjid, gereja, pura dan lainnya)

6 Pemerintahan Politik Perjalanan Politik Ke dan dari gedung-gedung pemerintahan atau tempat berpolitik lainnya

7 Rekreasi Perjalanan Wisata Ke dan dari tempat-tempat wisata

Perjalanan antar zona, antar kawasan dan sejenisnya

Ke dan dari terminal bus angkutan.

Ke dan dari stasiun KA Ke dan dari pelabuhan laut atau sungai.

Ked dan dari bandara

Ked dan dari kawasan bisnis, komplek perhotelan dan sebagainya

Ked dan dari lokasi pertanian; perkebunan, perikanan dsb. Ked dan dari kawasan industry, dll.

Sumber: (Miro, 2012)

Berdasarkan pola perjalanan yang didapatkan dari survey asal-tujuan (Origin-Destination Survey) atau OD Survey, yang selanjutnya digunakan untuk menentukan prediksi jumlah perjalanan dan pola pergerakan atau pola perjalanan.

(17)

3.2 Profil Perjalanan | 14 Artinya keterkaitan antar wilayah ruang sangatlah berperan dalam menciptakan perjalanan dan pola sebaran tata guna lahan sangat mempengaruhi pola atau profil perjalanan orang (Tamin, 2000).

Profil perjalanan ditentukan oleh prilaku perjalanan (manusia). Kamus umum bahasa Indonesia mendefenisikan perilaku sebagai kelakuan, tabiat, tingkah laku, sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia perilaku diartikan sebagai tanggapan atau reaksi individu yang terwujud dalam gerakan (sikap), tidak saja badan atau ucapan. Dalam konteks kolektif perilaku diartikan sebagai kegiatan orang secara bersama-sama dengan cara tertentu dan mengikuti pola tertentu pula. Jadi perilaku perjalanan dapat diartikan tingkah laku manusia dalam melakukan perjalanan ke tempat tujuannya. Pola perjalanan atau pola pergerakan dalam wilayah zona akan menentukan profil pergerakan. Pola perjalanan dalam wilayah seperti Gambar 3.3:

Zona

Pendidikan

Zona

Industri

Zona

Rekreasi

Zona

Pemukiman

Zona Perkantoran &

Pertokoan

Zona

Pemerintahan

Gambar 3.3: Pola Perjalanan/Pergerakan antar Zona

Pola pergerakan di bagi dua yaitu pergerakan tidak spasial dan pergerakan spasial. Konsep mengenai pergerakan tidak spasial (tanpa batas ruang) di dalam kota, misalnya mengenai mengapa orang melakukan pergerakan, kapan orang melakukan pergerakan, dan jenis angkutan apa yang digunakan (Tamin, 2000).

3.2.1 Sebab Terjadinya pergerakan

(18)

3.3 Moda Transportasi | 15 biasanya maksud perjalanan dikelompokkan sesuai dengan ciri dasarnya yaitu berkaitan dengan ekonomi, sosial budaya, pendidikan, agama. Kenyataan bahwa lebih dari 90 % perjalanan berbasis tempat tinggal, artinya mereka memulai perjalanan dari tempat tinggal (rumah) dan mengakhiri perjalanan kembali ke rumah.

3.2.2 Waktu Terjadinya pergerakan

Waktu terjadi pergerakan sangat tergantung pada kapan seseorang melakukan aktifitasnya sehari-hari. Dengan demikian waktu pergerakan sangat tergantung pada maksud perjalanannya.

3.2.3 Jenis Sarana Angkutan Yang Digunakan

Selain berjalan kaki, dalam melakukan perjalanan orang biasanya dihadapkan pada pilihan jenis angkutan seperti sepeda motor, mobil dan angkutan umum. Dalam menentukan pilihan jenis angkutan, orang memepertimbangkan berbagai faktor, yaitu maksud perjalanan, jarak tempuh, biaya, dan tingkat kenyamanan.

Sedangkan konsep mengenai ciri pergerakan spasial (dengan batas ruang) di dalam kota berkaitan dengan distribusi spasial tata guna lahan yang terdapat di dalam suatu wilayah. Dalam hal ini, konsep dasarnya adalah bahwa suatu perjalanan dilakukan untuk melakukan kegiatan tertentu di lokasi yang dituju, dan lokasi tersebut ditentukan oleh tata guna lahan kota tersebut. pergerakan spasial dibedakan menjadi pola perjalanan orang dan perjalanan barang.

a. Pola perjalanan orang

Dalam hal ini pola penyebaran spasial yang sangat berperan adalah sebaran spasial dari daerah industri, perkantoran dan pemukiman. Pola sebaran spasial dari ketiga jenis tata guna lahan ini sangat berperan dalam menentukan pola perjalanan orang, terutama perjalanan dengan maksud bekerja. Tentu saja sebaran spasial untuk pertokoan dan areal pendidikan juga berperan.

b. Pola perjalanan barang

Pola perjalanan barang sangat dipengaruhi oleh aktifitas produksi dan konsumsi, yang sangat tergantung pada sebaran pola tata guna lahan pemukiman (konsumsi), serta industri dan pertanian (produksi). Selain itu pola perjalanan barang sangat dipengaruhi oleh rantai distribusi yang menghubungkan pusat produksi ke daerah konsumsi.

3.3 Moda Transportasi

(19)

3.3 Moda Transportasi | 16 dan pedalaman, serta moda yang terbang di udara. Moda yang di darat juga masih bisa dikelompokkan atas moda jalan, moda kereta api laut, udara dan moda pipa dan multi moda.

3.3.1 Moda Transportasi Berdasarkan Geografis

Secara global permukaan bumi terdiri dari daratan, perairan (lautan, sungai dan danau), serta udara. Bentuk geografis ini akan menentukan bentuk moda transportasi, yaitu: Transportasi darat; Transportasi laut, transportasi sungai, danau, penyeberangan (ASDP); dan Transportasi Udara

Pengolahan transportasi ketiga bentuk tersebut di Indonesia dibawah kementerian perhubungan, yang dikelompokan menjadi: sub-sektor transportasi darat; sub-sektor transportasi laut; dan sub-sektor transportasi udara.

a. Moda Transportasi Darat

Pengolahan transportasi darat di Indonesia mencakup juga transportasi sungai, danau, penyeberangan (ASDP), sesuai dengan KM 60 tahun 2010 tentang Organisasi perhubungan darat.

Gambar 3.4: Struktur Hubdat

(20)

3.3 Moda Transportasi | 17 bisa dibagi dalam dua kelompok yaitu moda angkutan umum dalam trayek dan moda angkutan umum tidak dalam trayek.

Didalam Undang-undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kendaraan bermotor didefinisikan sebagai setiap Kendaraan yang digerakkan oleh peralatan mekanik berupa mesin selain Kendaraan yang berjalan di atas rel.

Kendaraan Bermotor dikelompokkan berdasarkan jenis:  sepeda motor;

 mobil penumpang;  mobil bus;

 mobil barang; dan  kendaraan khusus. Moda kendaraan tak bermotor

sepeda Becak Kereta Kuda Pedati

Gambar 3.4.a Jenis-Jenis Moda Transportasi

Kereta api didefinisikan sebagai sarana transportasi berupa kendaraan dengan tenaga gerak, baik berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan kendaraan lainnya, yang akan ataupun sedang bergerak di rel. Dengan demikian kereta api hanya dapat bergerak/berjalan pada lintasan/jaringan rel yang sesuai dengan peruntukannya, hal ini menjadi keunggulannya karena tidak terganggu dengan lalu lintas lainnya, tetapi dilain pihak menjadikan kereta api menjadi angkutan yang tidak fleksibel karena jaringannya terbatas.

(21)

3.3 Moda Transportasi | 18 relatif luas sehingga mampu memuat penumpang maupun barang dalam skala besar. Untuk angkutan barang dalam jumlah yang besar dapat digunakan rangkaian lebih dari 50 kereta yang ditarik dan/atau didorong dengan beberapa buah lokomotif, seperti kereta api babaranjang (kereta api batutu bara rangkaian panjang) di Sumatera Selatan.

Kereta api merupakan angkutan yang efisien untuk jumlah penumpang yang tinggi sehingga sangat cocok untuk angkutan massal kereta api perkotaan pada koridor yang padat, tetapi juga digunakan untuk angkutan penumpang jarak menengah sampai dengan 3 atau 4 jam perjalanan ataupun untuk angkutan barang dalam jumlah yang besar dalam bentuk curah, seperti untuk angkutan batu bara. Karena sifatnya sebagai angkutan massal efektif, beberapa negara berusaha memanfaatkannya secara maksimal sebagai alat transportasi utama angkutan darat baik di dalam kota, antarkota, maupun antarnegara.

ASDP

(22)

3.3 Moda Transportasi | 19

b. Moda Transportasi Laut

(23)

3.3 Moda Transportasi | 20 Kondisi penyelenggaraan transportasi laut saat ini dapat dijabarkan berdasarkan kondisi 5 (lima) elemen yaitu angkutan di perairan, kepelabuhanan, keselamatan dan keamanan pelayaran, perlindungan lingkungan maritim, dan sumber daya manusia yang saling berinteraksi dalam mewujudkan penyelenggaraan transportasi laut yang efektif dan efisien (Hubla, 2015). Kondisi penyelenggaraan transportasi laut nasional terlihat pada Gambar 3.5 berikut

(24)

3.3 Moda Transportasi | 21 Gambar 3.6: Grafik Perkembangan Perusahaan dan Armada Pelayaran

Gambar 3.7: Grafik Perkembangan Armada Nasional dan Armada Asing

1

2007 2008 2009 2010 2011 Total

(25)

3.3 Moda Transportasi | 22 Gambar 3.8: Grafik Perkembangan Muatan Angkutan di Perairan

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinikan kapal sebagai kendaraan pengangkut penumpang dan barang di laut (sungai dsb). Sedang didalam Undang-undang No 17 tahun 2008 tentang Pelayaran, Kapal didefinisikan kendaraan air dengan bentuk dan jenis tertentu, yang digerakkan dengan tenaga angin, tenaga mekanik, energi lainnya, ditarik atau ditunda, termasuk kendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan di bawah permukaan air, serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah

c. Moda Transportasi Udara

Jaringan pelayanan transportasi udara merupakan kumpulan rute penerbangan yang melayani kegiatan transportasi udara dengan jadwal dan frekuensi yang sudah tertentu. Berdasarkan wilayah pelayanannya, rute penerbangan dibagi menjadi penerbangan dalam negeri dan rute penerbangan luar negeri. Jaringan penerbangan dalam negeri dan luar negeri merupakan suatu kesatuan dan terintegrasi dengan jaringan transportasi darat dan laut.

Berdasarkan hirarki pelayanannya, rute penerbangan terdiri atas rute penerbangan utama, pengumpan dan perintis.

(1) rute utama yaitu rute yang menghubungkan antar bandar udara pusat penyebaran.

(26)

3.3 Moda Transportasi | 23 (2) rute pengumpan yaitu rute yang menghubungkan antara bandar udara pusat penyebaran dengan bandar udara yang bukan pusat penyebaran, dan atau antar bandar udara bukan pusat penyebaran.

(3) rute perintis yaitu rute yang menghubungkan bandar udara bukan pusat penyebaran dengan bandar udara bukan pusat penyebaran yang terletak pada daerah terisolasi/tertinggal.

Berdasarkan fungsi pelayanan transportasi udara sebagai ship follow the trade dan ship promote the trade, jaringan pelayanan transportasi udara dibagi menjadi pelayanan komersial dan non komersial (perintis).

Kegiatan transportasi udara terdiri atas : angkutan udara niaga yaitu angkutan udara untuk umum dengan menarik bayaran, dan angkutan udara bukan niaga yaitu kegiatan angkutan udara untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan kegiatan pokoknya bukan di bidang angkutan udara. Sebagai tulang punggung transportasi adalah angkutan udara niaga berjadwal, sebagai penunjang adalah angkutan niaga tidak berjadwal, sedang pelengkap adalah angkutan udara bukan niaga.

Kegiatan angkutan udara niaga berjadwal melayani rute penerbangan dalam negeri dan atau penerbangan luar negeri secara tetap dan teratur, sedangkan kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal tidak terikat pada rute penerbangan yang tetap dan teratur.

3.3.2 Moda Transportasi Berdasarkan Prasarana

Moda transportasi berdasarkan prasarana adalah moda yang didasarkan infrastruktur baik itu di darat, laut atau udara. Berdasarkan infrastruktur terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu:

 Berdasarkan jalur gerak: jalan raya, jalan rel, laut dan udara serta khusus  Berdasarkan titik awal dan akhir pergerakan

o Terminal jalan (stasiun bus, halte dan lainnya) o Terminal jalan rel (stasiun kereta)

o Terminal jalan air (pelabuhan dan dermaga) o Terminal jalan udara (Bandara

o Terminal jalan khusus (gudang dan lainnya)

3.3.3 Moda Transportasi Berdasarkan Jangkauan Wilayah Pelayanan

(27)

3.3 Moda Transportasi | 24  Laut

 Udara

3.3.4 Moda Transportasi Berdasarkan Sifat Pelayanan

Berdasarkan sifat pelayanan dikelompokan menjadi dua pribadi (privat) dan umum (public). Cirinya seperti Tabel.

 Angkutan Pribadi, yaitu angkutan yang dimiliki dan dioperasikan oleh dan untuk keperluan pribadi dengan menggunakan prasarana pribadi atau umum.

 Sedangkan angkutan umum merupakan angkutan yang dimiliki oleh pengusaha angkutan (operator) yang bisa digunakan untuk umum dengan persyaratan tertentu.

Angkutan Pribadi Angkutan Umum

Waktu Penggunaan Bebas Tidak Bebas

Asal – Tujuan (rute) Tidak ditentukan Ditentukan

Pemberhentian (terminal) Bebas Tidak Bebas

Moda Darat mengatakan bahwa menyediakan pelayanan angkutan yang baik, handal, nyaman, aman, cepat dan murah untuk umum. Hal ini dapat diukur secara relatif dari kepuasan pelayanan beberapa kriteria angkutan umum ideal antara lain adalah:

(28)

3.3 Moda Transportasi | 25  Kenyamanan, meliputi a. Pelayanan yang sopan. b. Terlindung dari cuaca buruk. c.

Mudah turun naik kendaraan. d. Tersedia tempat duduk setiap saat. e. Tidak bersesak-sesak. f. Interior yang menarik. g. Tempat duduk yang enak.

 Keamanan (Terhindar dari kecelakaan dan Bebas dari kejahatan)  Waktu perjalanan (Waktu di dalam kendaraan singkat).

3.3.5 Moda Transportasi Berdasarkan Objek yang Dipindahkan

Berdasarkan objek yang dipindahkan dikelompokan menjadi dua yaitu orang (penumpang) dan barang.

Penumpang Barang Barang Umum

Barang Khusus Barang Berbahaya

Jenis

Exsplosive goods ( REX ) Gasses ( RPG )

Flammable liquids ( RFL) Flammable solids ( RFS )

Oxidizing substances (ROX) & Organic peroxide

Toxic ( RPB ) & Infectious substances (RIS) Radioactive material ( RFW )

Corrosives ( RCM ) membahayakan, tidak mudah rusak, busuk atau mati, barang yang tidak memerlukan penanganan khusus asalkan persyaratan pengangkutan telah memenuhi ketentuan yang berlaku, serta ukuran dan beratnya dapat ditampung kedalam ruangan ( Compartment ) pesawat udara, kapal atau truk sehingga barang-barang tersebut dapat diberangkatkan seperti garmen, spare part, elektronik dll. Special Cargo adalah kargo atau barang-barang yang memerlukan penanganan khusus baik dalam penerimaan, penyampaian, atau pengangkutan seperti:

 Live Animal (AVI) adalah hewan-hewan hidup yang dikirim melalui pesawat udara seperti anak ayam, kuda, kambing, ikan dll.

(29)

3.3 Moda Transportasi | 26 menggunakan peti jenazah. (2) Cremated yaitu jenazah yang sudah berupa abu (ashes) dan biasanya dikirim dengan menggunakan kotak guci atau kotak kayu.

 Perishable goods (PER) adalah barang-barang yang mudah sekali rusak, hancur, atau busuk, seperti buah-buahan, sayuran, daging, bunga, ikan dan bibt tanaman.

 Valuable goods (VAL) adalah barang yang memiliki nilai yang tinggi atau barang-barang berharga seperti emas, intan, berlian, cek, platina, dll.

 Strongly smelling goods yaitu barang yang memiliki bau yang sangat menyengat seperti durian, minyak wangi, minyak kayu putih.

 Live Human Organ (LHO) adalah barang-barang yang berupa organ tubuh manusia yang masih berfungsi seperti bola mata, ginjal, hati.

Dangerous goods (DG) adalah kargo atau barang-barang yang berbahaya yang dapat mengakibatkan terganggunya kesehatan, dan keselamatan penerbangan. Dangerous goods terbagi menjadi sembilan kelas yaitu :

 Exsplosive goods (REX) adalah barang-barang berbahaya yang mudah meledak seperti mesiu, peluru, petasan, kembang api.

 Gasses (RPG) adalah barang-barang yang mudah menguap saperti Butane, Hydrogen, Propane.

 Flammable liquids (RFL) adalah barang-barang yang barsifat zat cair dan mudah terbakar seperti certain paints, Alcohols, Varnishes.

 Flammable solids (RFS) adalah barang-barang zat padat dan mudah terbakar seperti Matches.

 Oxidizing substances (ROX) & Organic peroxide adalah barang-barang yang mudah menguap, jika dihirup manusia mengakibatkan pusing atau mengantuk seperti Calcium chlorate, ammonium nitrate.

 Toxic (RPB) & Infectious substances (RIS) adalah barang-barang yang mengandung racun seperti sianida, pestisida, virus hidup, bakteri hidup, virus HIV.

 Radioactive material (RFW) adalah zat yang bila terkena sinar akan bereaksi dan dapat membahayakan bagi manusia, hewan dan beberapa jenis kargo.

(30)

3.3 Moda Transportasi | 27  Miscellaneous dangerous goods (RMD) adalah barang-barang lain yang dianggap berbahaya dan mengancam keselamatan penerbangan apabila diangkut dengan menggunakan moda transportasi udara seperti magnet, biang es, kendaraan, kursi roda elektrik dll.

3.3.6 Moda Transportasi Berdasarkan Tenaga Pendorong

Berdasarkan tenaga pendorong terbagi menjadi dua bermesin (motor) dan tak bermotor, seperti table berikut:

Tak Bermesin (Bermotor) Bermesin (Motor) Darat sepeda

3.3.7 Moda Transportasi Berdasarkan Kekhususan

Tranportasi pipa merupakan perangkat transportasi angkutan barang melalui pipa. Biasanya digunakan untuk angkutan gas dan cairan dalam jumlah yang besar, tetapi dapat juga untuk mengangkut barang[1] yang dikemas dalam kapsul yang didorong dengan tekanan udara, ataupun dalam bentuk tepung didorong dengan tekanan udara tertentu yang kemudian dipisahkan kembali. Penggunaan angkutan pipa yang paling besar adalah untuk transportasi minyak mentah, minyak hasil pengolahan/refinery, gas alam ataupun untuk angkutan air kebutuhan industri ataupun ke perumahan.

(31)

3.3 Moda Transportasi | 28 terkadang harus dilakukan pemanasan, untuk material yang dapat membeku selama mengalir seperti minyak kelapa sawit, minyak mentah dari jenis tertentu ataupun didinginkan bila material tersebut dapat berubah sifat ataupun bentuk.

3.3.8 Moda Transportasi Berdasarkan Multimoda

Angkutan multimoda didalam Peraturan Pemerintah No 8 Tahun 2011 tentang Angkutan Multimoda didefinikan sebagai:

 Angkutan Multimoda adalah angkutan barang dengan menggunakan paling sedikit 2 (dua) moda angkutan yang berbeda atas dasar 1 (satu) kontrak sebagai dokumen angkutan multimoda dari satu tempat diterimanya barang oleh badan usaha angkutan multimoda ke suatu tempat yang ditentukan untuk penyerahan barang kepada penerima barang angkutan multimoda.

 Angkutan multi moda (OECD, 2003) sebagai "Movement of goods (in one and the same loading unit or a vehicle) by successive modes of transport without handling of the goods themselves when changing modes" atau kalau diterjemahkan sebagai pergerakan barang (dalam satu unit muatan atau kendaraan) dengan moda dengan berbagai moda tanpa penanganan barang itu sendiri pada saat perpindahan moda. Peran angkutan multimoda ini merupakan komponen penting dari sistem logistik. Dan dalam dekade belakangan ini berkembang sangat pesat karena pergerakan barang semakin membutuhkan angkutan yang efisien dan dapat dilaksanakan dengan cepat, sehingga dibutuhkan suatu sistem yang kemudian dinamakan multimoda.

Moda yang digunakan untuk angkutan multi moda yang paling banyak digunakan adalah kapal laut disusul dengan jalan raya dan kereta api. Trend angkutan barang dengan peti kemas meningkat dengan cepat karena intermodalitynya yang tinggi sehingga mempermudah bongkar-muat/handling dari barang yang mengakibatkan biaya angkutan secara keseluruhan menurun dengan drastis. Disamping itu keamanan dari barang juga lebih tinggi.

(32)

3.4 Pemilihan Moda | 29 transportasi biaya angkut menggunakan laut merupakan pilihan yang paling murah bila mengangkut barang dalam jumlah dan jarak tertentu dibanding melalui kereta api ataupun jalan raya, dan ini menjadi lebih baik lagi bila menggunakan peti kemas.

Pendekatan yang digunakan dalam transportasi dalam pengembangan angkutan multi moda adalah:

(1) Mengoptimalkan jaringan infrastruktur yang ada untuk meningkatkan efisiensi sistem transportasi;

(2) Mengurangi perjalanan yang tidak perlu dengan membangun suatu sistem informasi angkutan barang;

(3) Menggeser muatan ke moda yang lebih efisien seperti kereta api dan moda angkutan laut; (4) Pengembangan jalur utama dan hub atas dasar pendekatan keekonomian;

(5) Pengembangan sistem yang berwawasan lingkungan, dan berkeselamatan; (6) Didukung dengan lingkungan kerja yang baik, tenaga professional

3.4 Pemilihan Moda

Model pemilihan moda bertujuan untuk mengetahui proporsi orang yang akan menggunakan setiap moda. Tujuan pemilihan moda adalah mengetahui proporsi pengalokasian perjalanan ke berbagai moda transportasi. Ada dua kemungkinan situasi yang dihadapi dalam meramal pemilihan moda yaitu: Moda yang ditinjau telah beroperasi (revealed preference method, RP) dan Moda yang ditinjau tidak harus ada (Stated preference method, SP).

3.4.1 Faktor yang mempengaruhi Pemilihan Moda

Faktor yang dapat mempengaruhi pemilihan moda (transportasi darat) dapat dikelompokkan menjadi tiga:

a. Ciri pengguna jalan:

 Pemilikan kendaraan, semakin tinggi pemilikan kendaraan pribadi semakin kecil pula ketergantungan pada angkutan umum.

 Pemilikan SIM

 Struktur rumah tangga (pasangan muda, keluarga dengan anak, pensiun, bujangan, dan lain-lain.

(33)

3.4 Pemilihan Moda | 30  Faktor lain: keharusan menggunakan kendaraan pribadi ke tempat bekerja,

keperluan mengantar anak sekolah b. Ciri pergerakan:

 Tujuan pergerakan: di negara maju, pergerakan ke tempat bekerja biasaya lebih mudah menggunakan angkutan umum (karena murah dan tepat waktu, nyaman, aman). Tetapi di negara berkembang, orang lebih cenderung menggunakan kendaraan pribadi karena angkutan umum tidak tepat waktu dan tidak nyaman.

 Waktu terjadinya pergerakan.

 Jarak perjalanan: semakin jauh perjalanan semakin cenderung menggunakan angkutan umum.

c. Ciri fasilitas moda transportasi:

 Kuantitatif: Waktu tempuh, ongkos, ketersediaan ruang dan tarif parkir.  Kualitatif: Kenyamanan, keamanan, keandalan.

d. Ciri kota atau zona: jarak dari pusat kota dan kepadatan penduduk.

3.4.2 Proses Pemilihan Moda

Proses ini dilakukan untuk mengetahui atribut dan variabel-variabel yang mempengaruhi pelaku perjalanan untuk pemilihan moda. Pemilihan moda juga sangat dipengaruhi oleh variabel demand adalah yang berkaitan dengan kondisi sosio-ekonomi pelaku perjalanan dan variabel supply berkaitan dengan tingkat pelayanan yang diberikan oleh moda transportasi tersebut. Aspek yang menjadi pertimbangan umum pelaku perjalanan dalam menentukan pilihan moda angkutan adalah sebagai berikut:

 Aspek sosial ekonomi pelaku perjalanan.

 Aspek tingkat pelayanan yang diberikan oleh moda angkutan yang ada

3.4.3 Variabel Penentu Pemilihan Moda

(34)

3.4 Pemilihan Moda | 31

a. Variabel Demand (Karakteristik Pelaku Perjalanan)

Variabel demand yang mempengaruhi pelaku perjalanan antara lain:  Penghasilan

o Penghasilan (income), penghasilan seseorang akan sangat berpengaruh

terhadap pemilihan moda

o Penghasilan terbatas biasanya memilih moda yang termurah, dibandingkan

dengan orang yang berpenghasilan tinggi akan mempertimbangkan kenyamanan walaupun akan membayar lebih mahal.

 Faktor Umur

o Umur, faktor umur akan mempengaruhi pemilihan moda angkutan

o Usia yang lanjut akan cendrung memilih angkutan yang lebih nyaman dan

kurang memperhatikan waktu tempuh.

o Usia muda yang lebih agresif yang sangat memperhitungkan masalah waktu

tempuh dan keleluasaan.  Jenis kelamin,

o secara umum jenis kelamin akan mempengaruhi pemilihan moda antar kereta

api dengan mobil penumpang umumnya laki-laki lebih menyukai mobil penumpang dibanding dengan wanita.

 Maksud perjalanan, hal ini sangat erat kaitannya dengan pemilihan moda, karena maksud perjalanan akan berhubungan dengan waktu misalnya pedagang, dan lainnya.

b. Variabel Supply (Karakteristik Sistem Transportasi)

Karakteristik sistem transportasi dapat diartikan sebagai keadaan dan bentuk pelayanan yang dapat diberikan oleh moda transport supply kepada pelaku perjalanan, antara lain adalah sebagai berikut.

 Waktu Tunggu di Terminal (waiting time)

(35)

3.4 Pemilihan Moda | 32  Waktu tempuh relatif,

Waktu tempuh relatif antara moda yang bersaing sangat mempengaruhi pelaku perjalanan dalam pemilihan moda. Untuk menentukan waktu tempuh relatif masing-masing moda dapat dilakukan dengan menghitung waktu yang dipakai mulai dari rumah:

 waktu menunggu kendaraan (waiting time), waktu penggantian moda, waktu didalam kendaraan, sampai dengan ketempat tujuan.

c. Biaya perjalanan

Biaya perjalanan adalah yang dinyatakan sebagai biaya yang dikeluarkan oleh pelaku perjalanan mulai dari rumah sampai ketempat tujuan. Besarnya biaya perjalanan akan mempengaruhi pelaku perjalanan dalam menentukan pemilihan moda angkutan yang digunakan

d. Tingkat pelayanan

Tingkat pelayanan yang ditawarkan ketiga moda bersaing dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama bersifat subjektif dan sulit diukur seperti: keamanan dan kenyamanan, kemudahan pindah moda dari satu moda ke moda angkutan lain.

3.4.4 Model dalam Pemilihan Moda

Model dalam pemilihan moda sangat bervariasi, tergantung kepada tujuan perencanaan transportasi.Setiap moda angkutan dianalisis secara terpisah selama tahapan proses pemodelan, dan perubahan sosio-ekonomi sangat mempengaruhi proses pemilihan moda. Setiap moda dianggap bersaing dalam merebut pangsa penumpang, sehingga atribut penentu dari jenis pergerakan menjadi faktor utama yang mempengaruhi pemilihan moda.

Secara umum model pemilihan moda dapat dikelompokkan kedalam dua kelompok yaitu model dengan menggunakan kurva diversi dan model teori probabilitas.

 Model Kurva Diversi

(36)

3.4 Pemilihan Moda | 33  Model Probabilitas

Model Probabilitas adalah suatu model yang telah dikembangkan antara lain, model analisis probit dan model analisis logit. Dibanding dengan model kurva diversi model probabilitas lebih efisien dalam proses perhitungannya. Model-model ini telah diterapkan pada berbagai situasi untuk menjelaskan bagaimana orang memilih diantara alternatif moda yang bersaing.

(37)

3.4 Pemilihan Moda | 34 Proses pilihan lebih dari 2 moda yang dipilih [Sumber : Perencanaan transportasi (Fidel Miro, 2005)]

SOAL

3.1 Jelaskan Jenis-jenis aktifitas penduduk atau kegiatan penduduk yang beragam dan multi dimensi yang akan menentukan bentuk (jenis) perjalanan, dikaitkan dengan

a. Sumber daya (ekonomi) b. Sosial

c. Ruang atau spatial

3.2 Jelaskan secara singkat. Bagaimana pola perjalanan yang terjadi dikaitkan dengan social, ekonomi dan tata ruang?

3.3 Berdasarkan geografis wilayah, jelaskan moda tranportasi yang digunakan?

3.4 Berdasarkan objek yang dipindahkan yang dikelompokan menjadi dua yaitu orang (penumpang) dan barang, jelaskan moda transportasi yang digunakan untuk barang?

3.5 Jelaskan secara singkat faktor yang dapat mempengaruhi pemilihan moda (transportasi darat)?

DAFTAR PUSTAKA

Arif, M. N., & Amalia, E. (2010). Teori Mikroekonomi : Suatu Perbandingan Ekonomi Islam dan

Ekonomi Konvensional. Jakarta: Penerbit Kencana Prenada Media Group.

Arsyad, L. (2008). Ekonomi Manajerial. Yogyakarta: PBEF-Yogyakarta.

Budiharsono, S. (2001). Teknik Analisis Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan. Jakarta: Pradnya Paramita.

Eliot Hurst, M. E. (Ed.). (1974). Transportation Geography. New York: McGraw-Hill, http://trove.nla.gov.au/version/26230708.

Hendarto, S. (2001). Dasar-Dasar Transportasi. Bandung: Penerbit ITB.

Hubla. (2015). BAB II: Evaluasi Pencapaian Direktorat Jendral Perhubungan Laut. In Tinjau Ulang

RENSTRA Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Tahun 2010 - 2014 (pp. II.1-II.46).

Jakarta: Direktorat Jendral Perhubungan Laut.

(38)

3.4 Pemilihan Moda | 35 Miro, F. (2012). Pengantar Sistem Transportasi. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Morlok, E. K. (1984). Pengantar Teknik dan Perencanaan Transportasi. Jakarta: Penerbit Erlangga. Munawar, A. (2004). Manajemen Lalu Lintas Perkotaan. Jogjakarta: Penerbit Beta Offset.

Nawanir, H. (2003). Studi Pengembangan Ekonomi dan Keruangan Kota Sawahlunto

Pascatambang. Semarang: Tesis Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

OECD. (2003, April 29). Glossary for Transport Statistics, prepared by the Intersecretariat Working

Group on Transport Statistics – Eurostat, European Conference of Ministers of Transport

(ECMT), United Nations Economic Commission for Europe (UNECE). . Retrieved from

Statistic Portal: https://stats.oecd.org/glossary/detail.asp?ID=4303

Setijowarno, D., & Frazila, R. (2001). Pengantar Sistem. Transportasi. Edisi ke-I . Semarang: Penerbit Universitas Katolik. Soegijapranata.

Sinaga, M., Sembiring, N., & Sitorus, O. (1991). Akuntansi SMA. Jakarta: Penerbit Erlangga. Son, P. S., & Hans, W. D. (1993). Ekonomi, Jilid. 1. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Sukirno, S. (2009). Mikro Ekonomi: Teori Pengantar. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Figur

Gambar 3.1: Pola kegiatan penduduk. ( (Miro, 2012, p. 27)

Gambar 3.1:

Pola kegiatan penduduk. ( (Miro, 2012, p. 27) p.6
Gambar 3.2.  Siklus Tata Guna Lahan dan Sistem Transportasi

Gambar 3.2.

Siklus Tata Guna Lahan dan Sistem Transportasi p.15
Tabel 3.1:  Jenis Aktifitas dan Profil Perjalanan

Tabel 3.1:

Jenis Aktifitas dan Profil Perjalanan p.16
Gambar 3.3: Pola Perjalanan/Pergerakan antar Zona

Gambar 3.3:

Pola Perjalanan/Pergerakan antar Zona p.17
Gambar 3.4: Struktur Hubdat

Gambar 3.4:

Struktur Hubdat p.19
Gambar 3.4.a Jenis-Jenis Moda Transportasi

Gambar 3.4.a

Jenis-Jenis Moda Transportasi p.20
Gambar 3.5: Kondisi Penyelenggaraan Transportasi Laut Nasional (Hubla, 2015)

Gambar 3.5:

Kondisi Penyelenggaraan Transportasi Laut Nasional (Hubla, 2015) p.23
Gambar 3.6: Grafik Perkembangan Perusahaan dan Armada Pelayaran

Gambar 3.6:

Grafik Perkembangan Perusahaan dan Armada Pelayaran p.24
Gambar 3.7: Grafik Perkembangan Armada Nasional dan Armada Asing

Gambar 3.7:

Grafik Perkembangan Armada Nasional dan Armada Asing p.24
Gambar 3.8: Grafik Perkembangan Muatan Angkutan di Perairan

Gambar 3.8:

Grafik Perkembangan Muatan Angkutan di Perairan p.25

Referensi

Memperbarui...