• Tidak ada hasil yang ditemukan

Book Report Pancasila Sebagai Ideologi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Book Report Pancasila Sebagai Ideologi"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I IDENTITAS BUKU

Gambar 1.1

(2)

1.1 JUDUL BUKU

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI DALAM BERBAGAI BIDANG KEHIDUPAN BERMASYARAKAT, BERBANGSA, DAN BERNEGARA.

1.2 PENGARANG

Oetojo Oesman dan Alfian 1.3 PENERBIT

BP-7 Pusat

1.4 KOTA/TAHUN TERBIT Jakarta/1990

1.5 JUMLAH HALAMAN

421 Halaman 1.6 ISI BAB

1) PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT BERBANGSA DAN BERNEGARA

2) PAHAM INTEGRALISTIK BUKAN LIBERALISME DAN BUKAN KOMUNISME

3) PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI DITINJAU DARI SEGI PANDANGAN HIDUP BERSAMA'

4) PANCASILA CITA HUKUM DALAM KEHIDUPAN HUKUM BANGSA INDONESIA

5) PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI DALAM KEHIDUPAN KETATANEGARAAN

6) PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI DALAM KEHIDUPAN BUDAYA

7) PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI DALAM KAITANNYA DENGAN KEHIDUPAN BERAGAMA DAN BERKEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA

8) PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI DALAM KEHIDUPAN SOSIAL

9) PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI DALAM KEHIDUPAN POLITIK

10) PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI DALAM PERGAULAN INDONESIA DENGAN DUNIA INTERNASIONAL

11) IDEOLOGI PANCASILA DALAM KEHIDUPAN EKONOMI

12) DEMOKRASI EKONOMI : KETERKAITAN USAHA PARTISIPATIF vs KONSENTRASI EKONOMI

13) PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI BIROKRASI ATAU APARATUR PEMERINTAH

(3)

1.7 SINOPSIS

Buku yang ditulis oleh para ahli ini (Moerdiono, Soerjanto Poespowardojo, A. Hamid S. Attamimi, Padmo Wahjono, M. Sastrapratedja, Abdrahman Wahid, Selo Sumardjan, Alfian, Mochtar Kusumaatmadja, Mubyarto, Sri Edi Swasono, Bintoro Tjokroamidjojo, Saafroedin Bahar) yang disuntinmg oleh Oetojo Oesman dan Alfian dengan judul Pancasila sebagai Ideologi dalam bermasyaraka, berbangsa dan bernegara mempunyai 14 bab dan 2 lampiran. Dalam buku “Pancasila sebagai Ideologi dalam Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara” membahas tentang Pengertian Pancasila sebagai Ideologi dalam lingkup luas, penjabaran Tiga tahapan kesadaran ideologis pancasila itu adalah pancasila sebagai ideologi persatuan, pancasila sebagai ideologi pembangunan, dan pancasila sebagai ideologi terbuka, dalam rangka menempatkan pancasila sebagai cita hukum dalam kehidupan hukum bangsa indonesia, menguraikan berturut-turut mengenai : hukum dan kedudukannya dalam negara republik indonesia, undang-undang dasar 1945 dan pancasila, ketetapan M.P.R.S no. XX/ MPRS/1966dan pancasila, Para ahli dan pancasila, peranan cita hukum pancasila dalam kehidupan hukum tertulis dan hukum tidak tertulis dan mengoperasikan pancasila dan norma fundamental negara pancasila dalam pembentukan perundang-undangan. Buku ini juga membahas tentang pancasila dalam hubungan ketatanegaraan, jabatan serta organisasi di indonesia, Relevansi pancasila sebagai ideologi dalam kehidupan politik bangsa kita antara lain terletak pada kualitas yang terkandung dalam dirinya. Disamping itu relevansinya juga terletak pada posisi komparatifnya. Buku ini tidak mempersoalkan karakteristik pancasila sebagai ideologi dan tidak mengemukakan persoalan-persoalan pokok apa yang harus diperhatikan apabila kita mau membawa pancasila kedalam pergaulan indonesia dengan dunia internasional. Menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan ideologi pancasila dalam kehidupan ekonomi, birokrasi/aparatur pemerintahan, dan kehidupan pertahanan keamanan.

(4)
(5)

BAB II ISI BUKU

2.1 PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT BERBANGSA DAN BERNEGARA

Oleh : Oetojo Oesman dan Alfian

Pada tanggal 24-26 oktober 1989 BP-7 pusat penyelenggaraan “seminar pancasila sebagai ideologi dalam berbagai bidang kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara”. Sebanyak 13 makalah, termasuk makalah Menteri/Sekretaris Negara Moerdiono dalam upacara pembukaan,disampaikan dan didiskusika dalam seminar tersebut.

Seminar ini merupakan kegiatan pertama dari “ Kelompok Studi Pengembangan Pemikiran tentang Pancasila dan UUD 1945” BP-7 Pusat. Motif dan tujuan pembentukan kelompok dan penyelenggaraan seminar ini terkandung dalam kerangka pemikiran di bawah ini.

Setelah dicapai consensus nasional untuk menjadikan pancasila sebagai satu-satunya azas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sampailah saatnya bangsa kita untuk betul betul membudayakan dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi bersama kita itu. Selama sepuluh tahun ini BP-7 mulai dari pusat sampaikedaerah daerah, telah berhasil menggerakkan pemsyarakatan nilai-nilai Pancasila, terutama melalui penataran-penataran P-4 dengan berbagai type dan polanya. Sekarang, sesuai dengan krida ketiga dari panca krida cabinet pembangunan V, BP-7 Pusat bermaksud berperan aktif dalam merangsang gerakan pembudayaan ideology pancasila, demokrasi pancasila dan P-4 (Eka Prasetya Pancakarsa) dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Salah satu dimensi gerakan pembudayaan itu, yang juga berarti pengalamannya dalam kehidupan nyata, adalah pengembangan pemikiran tentang nilai-nilai pancasila dan UUD 1945 yang relevan dengan kebutuhan pengembangan masyarakat dan tuntutan perubahan jaman, tetapi tetap dala kerangka paradigmaatau kandungan hakekat yang sesungguhnya.

Bersamaan dengan itu Pancasila dan UUD 1945 menjadi hidup dan berkembang, bukan mati dan beku, di hati dan dalam pikiran masyarakat kita yang sekaligus memperkuat keyakina mereka tentang yang prima sebagai ideologi dan konstitusi bersama. Demikianlah, pengembangan pemikiran berperan penting sekali dalam pengembangan kebanggan terhadap Pancasila dan UUD 1945, dan oleh karena itu menjadi perangsang proses pembudayaan dan pengalaman.

(6)

tentang pancasila dan UUD 1945 akan berkembang menjadi suatu gerakan yang luas yang pada gilirannya akan berperan aktif dalam merangsang proses pembudayaan dan pengalaman Pancasila dan UUD 1945 di berbagai lapisan masyarakat dan bangsa kita dalam berbagai bidang kehidupan sehari-hari.

Pancasila adalah sebagai ideoligi terbuka. Ungkapan yang sederhana tetapi sarat makna ini sekerang berkembang membudayakan dalam masyarakat kita. Presiden Soeharto berulang kali mengemukakan, menegaskan dan menjelaskannya. Memng suatu konsep yang abstrak seperti “pancasila adalah ideologi terbuka” memerlukan waktu untuk memantapkan proses pemahaman, penghayatan, pembudayaan, dan pengalamannya dalam masyarakat. Kehadiran prose situ menunjukan bahwa ro atau jiwa dari konsep itu hidup dan berkembang, dalam sifat keterbukaan itu suatu ideologi yang berkualitas tinggi menemukan kekuatannya yang menjadikannya kenyal dan tahan uji.

Demikianlah menurut pandangan kita suatu ideologi terbuka mengandung semacam dinamika internal yang memungkinkannya untuk memperbarui diri atau maknanya dari waktu kewaktu sehingga isinya tetap relevan dan komunikaif sepanjang jaman, tanpa menyimpang dari apalagi relevan dan komnukatif sepanjang jaman. Dinamika internal yang terkandung dalam suatu ideologi terbuka biasanya mempermantap, mepermapan, dan memperkuatrelevansi ideologi itu dalam masyarakat.

Bagi suatu bangsa dan Negara ideologi adalah wawasan. Pandangan hidup filsafah kebangsan dan kengaraannya, sejalan dengan itu ideologi adalah wawasan, pandangan hidup atau falsafah kebangsaan dn kenegaraannya. Oleh karena itu ideologi mereka menjawab secara meyakinkan pertanyaan mengapa dan untuk apa mereka mereka menjadi satu bangsa dan mandirikan Negara. Dari definisi yang dikemukakan dalam beberapa bab berikut kita mengetahui bahwa ideologi itu berintikan serangkaian nili (norma) atau sistem nilai dasar yang bersifat menyeluruh dan mendalam yang dimiliki dan dipegang oleh suatu masyarkat atau bangsa sebagai wawasan atau pandangan hidup mereka. Nilai-nilai dasar yang terangkai atau menyatu menjadi satu sistem itu, sebagaiman halnya dengan nilai-nilai dasar pancasila, biasanya bersumber dari budaya dan pengalaman sejarah suatu masyarakat atau bangsa yang menciptakan ideology itu.

(7)

Presepsi, sikap, dan tingkah laku yang tidak wajar, kurang sehat keliru dapat pula terjadi dalam suasana keterbukaan atau kebebasan yang tak terbatas, apalagi kalau dirasuki pula oleh iklim saling curiga yang tajam. Dalam suasana ini jadi kecenderungan yang merangsang bebagai pihak untuk memonopoli kebenaran tentang ideologi. Sebagaimana dikemukakan oleh sastrapratedja, ideologi memiliki kecenderungan untuk doktriner, terutama ia berorientasi pada tindakan atau perbuatan untuk merealisasikan nilai-nilainya. Meskipun kecendeungan doktriner itu tidak selalu bermakna negatif, kemunginan ke arah selalu terbuka. Demikianlah, presepsi, dikap, dan tingkah laku yang keliru terhadap ideologi antara lain dapat meredusir ideologi itu menjadi alat kekuasaan otoriter yang manakutkan, mengembankan suasana persaingan yang tajam dan penuh kecurigaan yang anarkis, atau menjadikannya suatu dogma yang sempit, kaku, dan baku. Pancasila sebagai ideologi terbuka yang hidup dinamis jelas tidak menghendaki hal-hal seperti itu terjadi atas dirinya, tidak lain tidak bukan karena hal-hal seperti itu merupakan pengingkaran terhadap hakekat atau jati dirinya.

Semacam interaksi terjadi antara ideologi dengan realita kehidupan masyarakat atau bangsanya. Dalam proses interaksi itu ideologi berperan atau berfungsi member arah terhadapat perkembangan atau perubahan realita itu dalam rengka merealisasikan nilainya dalam proses pembagunan masyarakat atau bangsanya. Interaksi semacam itu bersifat positif, baik terhadap ideologi maupun terhadap pembangunan masyarakatnya. Suasananya akan menjadi lain sama sekali bilamana perkembangan ideologi berjalan jauh lebih lamban dari proses perubahan masyarakat. Atau, bilamana realita baru yang dilahiirkan oleh perkembangan masyarakat itu bersifat sangan mendasar, baik secara cultural maupun structural. Nilai-nilai ideologi tetap terkandung dalam dan menjiwai proses perkembangan itu. Melalui pemikiran-pemikiran baru yang relevan itu ideologi berhasil memelihara dan memperkuat peranan dan fungsinya sebagai pemandu pembangunan masyarakat, bangsa, dan negaranya.

Demikianlah menurut pandangan kita pancasila bukan saja tidak menolak pengembangan pemikiran baru yang relevan tentang dirinya, tetapi justru merangsangnya karena melalui itula ia akan dapat memelihara dan mempertahankan relevansi kualitasnya sebagai ideologi yang kuat dan berkualitas tinggi.

Sebagaimana telah dikemukakan, pancasia sebagai ideologi terbuka akan selalu berinteraksi dengan oerkembangan realita kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara dari masa ke masa. Melalui jalur pertama, para ilmuwan dan cendikiawan kita dapat mengembangkan teori dan konsepnya tentang demokrasi ekonomi, demokrasi politik, dan demokrasi social yang bersumber dari pancasila dan UUD 1945. Melalui jalur kedua, komsep dan teori yang lahir dan berkembang dari hasil penelitian empiris akan membantu kita untuk mengetahui secara kritis kondisi atau realita yang sesungguhnya yang berkembang dalam diri masyarakat, bangsa dan Negara kita dari waktu ke waktu.

(8)

dinamika perkembangan masyarakat, bangsa dan Negara dalam berbagai bidang lehidupannya. Relevansi dan kredibilitasnya makin kuat.

Sungguhpun begitu, perlu kiranya diketahui bahwa konsep dan teori yang dihasilkan dan dikembangkan oleh ilmuwan dan cendikiawan sebagimana bersifat tidak mengikat. Meskipun berbagai orang memilih konsep dan teori yang berbeda-beda yang dianggapnya paling berbobot dan paling relevan, pengetahuannya tentang berbagai konsep dan teori yang ada dan berbeda-beda itu jelas akan memperkaya pengetahuannya tentang apa yang dikonsepkan dan diteorikan itu. Pengetahuan dan pengalaman seseorang tentang demokrasi ekonomi yang diinginkan pancasila dan UUD 1945, umpamanya, akan diperkaya oleh kehadiran berbagai konsep dan teori tentang itu yang berhasil dikemukakan oleh berbagai ahli, meskipun referensinya jatuh kepada salah satu yang dianggapnya paling berbobot dan relevan.

Ilmu pengetahuan dapat memainkan peranan yang amat penting dalam mengembangkan interaksi positif antara ideologi dengan perkembangan realita, sehingga dengan begitu kredibilitas dan relevansi ideologi akan makin mantap dalam menjiwai dinamika perkembangan masyarakat, bangsa dan Negara dari masa ke masa.

Dari empat faktoryang berkaitan dinamika internal yang terkandung dalam suatu ideologi yang terbuka yang kita bahas, satu telah berhasil dipenuhi pancasila dengan baik, yaitu kualitas nilai-nilai dasranya yang prima. Sedangkan tiga faktor lainnya sedikit banyaknya masih merupakan masalah yang perlu kita pecahkan bersama, terutamakarena tiga faktor itu memang langung berkaitan dengan diri kita yang diharapkan menggerakkan dinamika internal pancasila itu. Ketiga faktor itu ialah : (1) pengembangan presepsi, sikap dan tingkah laku yang wajar dan sehat terhadap pancasila sebagai ideologi terbuka, (2) kemampuan kita mengembanggkan pemikiran – pemikiran baru yang relevan dengan ideoogi kita itu, dan (3) keberhasilan kit membudayakan dan mengamalkannya, baik secara pribadi maupun melalui penjabarannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan berbagai dimensi.

Ideologi dalam pengertian yang positif itu dapat dikatakan merupakan cita-cita atau rangkaian nilai yang jelas dengan orientasi yang eksplisit, terarah, dan komitmen untuk mewujudkannya dalam kehidupan yang konkrit. Berbeda dengan itu, pandangan hidup memberikan orientasi secara global dan tidak bersifat eksplisit.

(9)

nilai-nilai dasarnya melalui interprestasi dan reinterprestasi yang kritis sehingga menjadikannya makin operasional. Ia menjadi ideologi yang dinamis.

Menurut A. Hamid pancasla sebagai cita hukum adalah bintang pemandu yang berfungsi menguji dan membei arah huku posistif. Dalam nilai-nilai pancasila mempunyai konstitutif yang menentukan apakah tata hukum Indonesia merupakan tata hukum yang benar, dan disamping itu mempunyai fungsi regulative yang menentukan apakah hukum positif yang berlaku di Indonesia merupakan hukum yang adil atau tidak. Disamping itu, pancasila juga adalah norma dasar atau norma fundamental Negara atau bagi para ahlu ilmu social barang kali disebut nilai dasar yang menciptakan semua norma-norma yang lebih rendah dalam sistim norma hukum tersebut, sera menentukan berlaku atau tidaknya norma-norma dimaksud.

Padmo mengartikan ideologi sebagai suatu kelanjutan atau konsekwensi logis dari pandangan hidup bangsa yang kemudian membentuk falsafah hidup mereka yang dijelmakan dalam seperangkat tata nilai yang dicita citakan dana diyakini kebenarannya yang selanjutnya melahirkan ideoogi dengan ide-ide dasar yang meliputi segala segi kehidupan bersama mereka dan mereka berupaya untuk merealisasikan sacara konkrit ide-ide dasar iu dalam berbagai segi kehidupan bersama mereka.

Sungguhpun berbeda, antara ideologi dan ilmu pengetahuan tidak perlu ada pertentangan. Ilmu pengetahuan dapat membantu ideologi dalam meluriskan distorsi tentang kenyataan, sedangkan ideologi dapat merangsang ilmu pengetahuam serta member orientasi pemanfaatannya. Dari situ tampak tersimpul kehadiran rung gerak pancasila sebagai ideologi dengan ilmu pengetahuan.

Peran dan fungsi pancasila sebagai ideologi dalam kehidupan politik tergantung pada sejumlah faktor yang menentukan kadar relevansinya sebagai ideologi terbaik untuk dipakai landasan dan sekaligus tujuan kehidupan politik itu. Kehadiran tiga dimensi penting (realita, idealism dan fleksibilitas/pengembangan) di dalam dirinya menjadikan pancasila suatu ideologi yang berkualitas tinggi. Salah satu faktor lagi yang ikut menentukn peran dan fungsi pancasila dalam kehidupan politik yang dibahas alfian ialah presepsi dan sikap masyarakat terhadapnya. Presepsi dan sikap masyarakat yang fanatik sempit atau dokmatisme dapat menjadikan pancasila sebagai ideologi tertutup, meskipun pada hakekatnya adalah ideologi terbuka.

Dari uraian di atas antara lain tersimpul kepada kita perana dan fungsi pancasila sebagai ideologi dalam berbagai kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Ia berperan dan berfungsi sebagai dasar dan sekaligus tujuan dari berbagai bidang kehidupan yang terus berkembang itu seirama dengan perkembangan aspirasi masyarakat dan perubahan jaman dari masa ke masa. Interaksi itu akan bersifat positif atau saling mengutungkan bilamana ia bersifat saling merangsang.

(10)

secara dinamis sebagai ideologi terbuka. Hal itu mempermantap relevansi dan kredibilitas pancasila sebagai ideologi bagi masyarakat dan bangsa kita, dan oeh karena itu menjadikannya ideologi yang a lot, kenyal dan tahan banting.

2.2 PAHAM INTEGRALISTIK BUKAN LIBERALISME DAN BUKAN KOMUNISME

Oleh : Moerdiono 2.2.1 Pendahuluan

Saya merasa berbahagia pagi ini dapat menyampaikan sambutan pada “seminar pancasila sebagai ideologi dalam berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara” yang diselenggarakan BP-7. Betapa tidak, pancasila dan UUD 1945 yang menjabarkannya dalam pasal-pasalnya dengan sengaja dirumuskan oleh para pendiri Negara dalam kalimat-kalimat pendek, yang disebutnya sebagai “aturan-aturan pokok”. Para pendiri Negara ini mempercayakan kepada generasi demi generasi berikutnya untuk mengembangkannya sendiri untuk menjawab tantangan zamannya, sesuai dengan dinamika masyarakat. Mereka membatasi diri dalam merusumskan semangat, tujuan dan lembaga-lembaga Negara yang utama. Mereka menyerahkan kepada kita yang datang belakangan untuk menjabarkannya sendiri. Pagi ini kita menjawab tantangan itu secara bersungguh-sungguh.

2.2.2 Paham Integralistik : Bukan Liberalisme dan Bukan Komunisme Dari segi ideologi , saya ingin mrminta perhatian kita semua akan pidato Prof. Mr. Dr. Soepomo dalam siding BPUPKI tertanggal 31 mei 1945. Soepomolah satu-satunya anggota badan tersebut secara makro memberikan pilihan ideologi, sebelum masuk kepada subtansi ideologi, yang sekarang kita namakan Pancasila. Soepomo menunjukan tiga pilihan ideologi, yaitu : (1) paham individualisme, (2) paham kolektivisme dan (3) paham integralistik. Beliau dengan dengan sangat meyakinkan menolak paham individualism dan kolektivisme, dan menyarankan paham integralistik, yang dinilai lebih sesuai dengan semangat kekeluargaan yang berkembang didaerah pedesaan kita. Paham integralistik merupakan kerangka konsepsional makro dari apa yang sudah menjiwai rakyat kita di kesatuan masyarakat yang kecil-kecil itu.

(11)

2.2.3 Pengalaman Pancasila Secara Kreatif dan Dinamis

GBHN 1988 sudah memberi arahan umum tentang wujud pengalaman masing-masing sila dalam pancasila itu, yang dapat kita jadikan acuan dalam pengembangannya dalam berbagai bidang hidup bermasyarakat, ebrbangsa, dan berenegara secara kreatif dan dinamis. Pengembangan pancasila secara kaku dogmatic akan mengisolasi Pancasila dari dinamika kehidupan rakyat, dan secara bertahap akan menjadikannya tidak relavan untuk menjawab perkembangan masalah yang bertumbuh dengan cepat . secara pribadi saya berpendapat bahwa nilai dasar yan diletakkan oleh para pendiri Negara ditahun 1945 itu adalah abadi dan tidak akan kita ubah lagi, namun nilai instrumentalnya itu dikembangkan dan kita nilai kembali setiap lima tahun. Disitulah letak kreativitas dan dinamika kita.

Biarlah seluruhnya itu kita sajikan kepada bangsa dan Negara kita, sebagai masukan bagi proses consensus nasional yang berlangsung terus menerus.

2.2.4 Rangkaian Konsensus

Istilah-istilah ini berkembang dinamis sesuai dengan kemajuan kehidupan kita bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam pembukan, batang tubuh dan penjelasan UUD 1945 misalnya tidak kita temukan istilah “trilogy pmbangunan” atau “delapan jalur pemerataan” yang demikian besar peranannya dalam pembngunan nasional sebagai pengamalan pancasila selama ini. Istilah-istilah seerti ini perlu kita angkat dan kita rumuskan secara tepat, untuk kemudian kita masyarakatkan kembali untuk dipergunakan sebagai acuan dalam masyarakat. Dengan cara seperti itulah kita membngun sejens homogenitas terbatas, yang amat diperlukan untuk memfungsionalkan kebersamaan, kesatuan dan persatuan. Kita telah melakukan hal itu dan dampaknya sangat positif terhadap kesatuan dan persatuan kita. Saya ingin agar hal itu kita lanjutkan dalam bidang ideologi, dengan merangkum dan merumuskan secara persis makna yang kita maksud dengan istilah-istilah yang kita pergunakan.

2.2.5 Penutup

(12)

2.3 PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI DITINJAU DARI SEGI PANDANGAN HIDUP BERSAMA

Oleh : Soerjanto Poespowardojo 2.3.1 Pendahuluan

Pancasila merupakan Dasar Falsafah Negara atau Ideologi Negara, karena memuat norma-norma yang paling mendasar untuk mengukur dan menentukan keabsahan bentuk-bentuk penyelenggaraan Negara serta kebijaksanaan-kebijaksanaan penting yang diambil dalam proses pemerintahan. Ideology ditangkap dalam artian yang negative, karena dikonotasikan dengan sifat yang totaliter yaitu memuat pandangan dan nilai yang menentukan seluruh segi kehidupan manusia secara total, serta secara mutlak menuntut manusia hidup dan bertindak sesuai dengan apa yang digariskan oleh ideology itu, sehingga akhirnya mengingkari kebebasan pribadi manusia serta membatasi ruang geraknya. Akan tetapi, kalau kita menengok sejarah kemerdekaan Negara-negara didunia ketiga di Asia, Afrika, Amerika Latin yang pada umumnya telah mengalami masa-masa penjajahan oleh bangsa lain, ideology merupakan pengertian yang positif terutama sekitar Perang Dunia II, karena menunjuk kepada keseluruhan pandangan cita-cita, nilai dan keyakinan yang ingin mereka wujudkan dalam kenyataan hidup yang konkrit.sesuai dengan semangat yang terbaca dalam Pembukaan UUD 1945, Ideologi pencasila yang merupakan Dasar Negara itu berfungsi baik dalam menggambarkan tujuan Negara RI maupun dalam proses pencapaian tujuan Negara tersebut. Kalaupun makna ideology pancasila sudah jelas, yaitu sebagai keseluruhan pandangan, cita-cita, keyakinan dan nilai bangsa Indonesia secara normatif perlu diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara maupun kesadaran akan ideology bangsa itu bertingkat.

2.3.2 Ideologi : Hakekat dan Fungsinya

Pada hakekatnya, ideology tidak lain adalah hasil refleksi manusia berkat kemampuannya mengadakan distansi terhadap dunia kehidupannya. Antara keduanya, yaitu ideology dan kenyataan hidup bermasyarakat, terjadi hubungan dilektis sehingga berlangsung pengaruh timbale balik yang terwujud dalam interaksi yang disatu pihak memacu ideology makin realistis dan dilain pihak mendorong masyarakat makin mendekati bentuk yang ideal. Fungsi ideology yaitu memberikan :

1. Struktur Kognitif 2. Orientasi dasar

3. Norma-norma yang menjadi pedoman dan pegangan

4. Bekal dan jalan bagi seseorang untuk memenukan identitasnya 5. Kekuatan

6. Pendidikan

(13)

Sebetulnya pandangan hidup juga memberikan orientasi dalam kehidupan manusia. Namun dibandingkan dengan ideology, pandangan hidup memberikan orientasi secara global dan tidak bersifat eksplisit. Dengan demikian, ideology dibandingkan pandangan hidup memberikan orientasi yang lebih eksplisit, lebih terarah kepada keseluruhan system masyarakat dalam berbagai aspeknya, dan dilakukan dengan cara dan penjelasan yang lebih logis dan sistematis. Kalaupun ideologi membicarakan nilai-nilai dan makna yang mendasar bagi kehidupan manusia, bahkan memberikan pegangan hidup sekalipun, namun harus dibedakan dari agama. Dengan demikian, wajarlah bahwa seseorang bersikap rasional, bahkan kritis terhadap ideology yang diterimanya. Sikap yang demikian itu adalah sehat dan membuat ideologymenjadi terbuka dan dinamis. Selanjutnya, dapatkah ideology sekarang disamakan dengan filsafat?

Ideology berbeda dengan filsafat, ideology memang mengandung nilai dan pengetahuan filosofis, tetapi berlaku sebagai keyakinan yang normative. Sebaliknya filsafat adalah rangkaian pengetahuan ilmiah yang disusun secara sistematis tentang kenyataan-kenyataan hidup, termasuk kenyataan hidup bermasyarakat dan bernegara.

2.3.3 Pancasila sebagai Ideologi persatuan

(14)

2.3.4 Pancasila Sebagai Ideologi Pembangunan

Peristiwa G30S/PKI dan proses yang mengawali merupakan titik hitam dalam lembaran sejarah Negara Republik Indonesia. Bukan saja karena hal itu telah menuntut korban yang tidak sedikit dan menimbulkan penderitaan dikalangan masyarakat, melainkan juga karena kejadian tersebutmerupakan penghianatan terhadap konsensus nasional yang tercermin dalam kesadaran pancasila sebagai ideology persatuan, sehingga terganggulah penyelenggaraan kekuasaan yang sah. Rasa persatuan dan kesatuan bangsa tetap merupakan modal yang harus dipupuk dan dikembangkan dalam hati sanubari masyarakat dan diwujudkan dalam tingkah laku social. Disamping itu timbul kesadaran baaru dalam masyarakat bahwa hidup perekonomian perlu ditangani dengan segera. Mengisi kemerdekaan berarti membangun bangsa dan pembangunan bangsa berarti memerangi kemiskinan yang menjadi baban penderitaan rakyat sejak lama. Hal itu semua jelas menuntut adanya legitimasi kekuasaan yang memberikan kewenangan yang pasti bagi pemerintah untuk mengambil langkah langkah serta kebijaksanaan dalam mewujudkan cita-cita serta mencapai tujuan yang terkandung dalam proklamasi kemerdekaan 1945. Dalam penyelenggaraan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, pancasila semakin jelas disadari sebagai etika social yang mampu memberikan kaidah-kaidah penting bagi pembangunan yang dilaksanakan. Pancasila bukan saja berfungsi sebagai pagar atau wasit dalam pencaturan politik, melainkan mampu memberikan orientasi dalam pembangunan. Dengan kesadaran baru yang menumbuhkan berbagai refleksi akan nilai-nilai intrinsic yang selanjutnya mampu memperkaya wawasan pancasila sebagai ideology pembangunan, terbentuklah legitimasi politik pembangunan yang lebih kuat dengan prioritas utama dibidang ekonomi. Namun dalam proses pembangunan yang demikian itu, terutama dalam perencanaan pembangunan ekonomi, terbuka kemungkinan masuknya pragmatism. Pragmatisme pada dasarnya merupakan ideology tersendiri yang memegang pendirian bahwa pemegang kekuasaan (perencana pembanguna) sekaligus dapat memutuskan nasib rakyat. Untuk mencegah masuknya pragmatism baik secara terang-terangan maupun secara terselubung, maka GBHN khususnya GBHN 1988 menekankan bahwa pembangunan merupakan pengamalan pancasila.

2.3.5 Pancasila sebagai Ideologi terbuka

(15)

persatuan nasional dan dilain pihak mampu mengembangkan dinamikanya, agar mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Untuk menjawab tantangan tersebut, jalaslah pancasila perlu tampil sebagai ideology terbuka, karena ketutupan hanya membawa pada menadegan.dalam ideology terbuka terdapat cita-cita dan nilai-nilai yang bersifat mendasar dan tidak langsung bersifat operasional.oleh karena itu harus dieksplisit. Dengan demikian jelaslah bahwa penjabaran ideology dilaksanakan melalui interpretasi dan reinterpretasi yang kritis. Disitulah dapat ditunjukkan kekuatan ideology terbuka karena memiliki sifat yang dinamiss dan tidak akan membeku. Ada 3 dimensi sekurang kurangnya, yaitu:

1. Dimensi teologis, yang menunjukkan bahwa pembangunan mempunyai tujuan yang mewujudkan cita cita proklamasi 1945.

2. Dimensi etis, ciri ini menunjukkan bahwa dalam pancasila manusia dan martabat manusia mempunyai kedudukan yang sentral.

3. Dimensi integral-integratif, dimensi ini menetapkan manusia tidak secara individualis, melainkan dalam konteks strukturnya.

Maka dapat ditarik kesimpulan untuk menjadi arahan dalam usaha kita menjabarkan pancasila sebagai opersional.

Pertama, perlunya dinamisasi dalam kehidupan, kedua perlunya demokratisasi masyarakat, ketiga perlu terjadinya fungsionalisasi atau refungsionalisasi lembaga-lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga masyarakat, keempat, perlunya dilaksanakan institusionalisasi nilai-nilai yan membuat seluruh mekanisme masyarakat berjalan dengan wajar dan sehat.

2.3.6 Penutup

Pembangunan sebagai pengamalan pancasila harus mampu menciptakan pertumbuhan dan kemajuan bagi seluruh bangsa secara terpadu. Ini berarti bahwa pembangunan ekonomi merupakan bagian dari keseluruhan perencanaan social, sedangkan perencanaan social diletakkan dalam konteks strategi kebudayaan. Dengan demikianlah terhidar kekhawatiran bahwa pembangunan tumbuh menjadi ideology tersendiri.

2.4 PANCASILA CITA HUKUM DALAM KEHIDUPAN HUKUM BANGSA INDONESIA

Oleh : A. Hamid S. Attamimi

(16)

2.4.1 Pendahuluan

1. Judul yang diminta oleh BP-7 ialah “Pancasila sebagai Ideologi dalam Kaitan Hukum” Namun, penulis memohon diperkenankan untuk tidak menggunakan kata “ideology” melainkan menggunakan kata “cita hukum”.

2. Perlu kiranya dijelaskan, apabila ada kata-kata “Kehidupan Hukum” maka yang dimaksud ialah kehidupan hukum dalam lingkup yang lebih terbatas, yaitukehidupan hukum tertulis, kehidupan perundang-undangan, baik perundang-undangan dalam arti proses pembentukannya maupun perundang-undangan dalam arti produknya yang berupa peraturan-peraturan perundang-undangan (wetgevingsregels) ataupun peraturan-peraturan kebijakan.

3. Yang akan diuraikan :

A. Hukum dan Kedudukannya Dalam Negara Republik Indonesia Dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945, jelas dalam alinea keempat tercantum anak kalimat yang khas, yang tidak terdapat dalam mukaddimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat dan juga tidak dalam mukaddimah Undang-undang Dasar Sementara Republik Indonesia (1950. Untuk itu kita perlu menelurui makna alinea-alinea dalam Pembukaan UUD 1945 tersebut setahap demi setahap. Alinea-alinea dalam Pembukaan UUD 1945 melukiskan berturut-turut,. Dengan perkataan lain, akhir alinea itu menegaskan, bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia yang terwujud dalam kedaulatan itu disusun kedalam hukum dasar, dituangkan dedalam hukum dasar, kedalam hukum. Apakah yang dimaksud dengan menyusun atau menuangkan kemerdekaan atau kedaulatan suatu bangsa kedalam hukum?

Terhadap kedaulatan, tidak sesuatu kekuasaan dapat membatasinya, bahkan dirinya sendiripun tidak. Oleh karena itu, agar kekuasaan yang dimiliki oleh kedaulatan tidak berlangsung semau-maunya, kedaulatn itu harus disusun dalam suatu keteraturan, dalam hukum, dalam hukum dasar, dalam undang-undang dasar. Berdasarkan alas an-alasan itu, adalah penting bahwa suatu negaramemiliki suatu tata hukum yang mengaturnya. Dengan demikian, maka Negara yang berdasar atas hukum tidak berdiri diatasnya hukum.

(17)

apabila hukum hanyalah yang dikenal dengan bentuk Undang-undangdan peraturan perundanng-undangan lainnya saja. Singkatnya, hukum tidak hanya peraturan-peraturan yang terletak pada suatu aspek atau faset bidang pembangunan nasional, yang penyebutannya disatu nafaskan dengan sector politik, aparatur pemerintah, penerangan dan media massa, serta hubungan luar negeri.

B. Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila

Dalam kaitannya dengan hukum yang berlaku bagi bangsa dan Negara Indonesia, pancasila telah dinyatakan kedudukannya oleh para pendiri Negara ini sebagaimana terlihat dalam UUD 1945, dalam penjelasana umum disana ditegaskan, bahwa pancasila adalah cita hukum (Rechsidee) yang menguasai hukum dasar Negara, baik hukum tertulis maupun hukum dasar tidak tertulis. Untuk itu kita perlu apakah Cita Hukum itu? Rudolf Stammler (1856-1939) seorang ahli filsafat hukum yang realiran noe-Kantian, berpendapat bahwa cita hukum ialah kontruksi pikir yang merupakan keharusan bagi mengarahkan hukum kepada cita-cita yang diinginkan masyarakat. Cita hukum berfungsi sebagai bintang pemandu (Lietstern) bagi tercapainya cita-cita masyarakat.

Gustav radbruch (1878-1949) seorang ahli filsafat hukumyang beraliran neo-Knatnian juga namun dari mazhab Badden atau mazhab Jerman Barat-Daya. Menegaskan bahwa cita hukum tidak hanya berfungsi sebagai tolak ukur yang bersifat regulative, yaitu yang menguji apakah suatu hukum positif adil atau tidak, melainkan juga sekaligus berfungsi sebagai dasar yang bersifat konstitutif, yaitu yang menetukan bahwa tanpa cita hukum hukum akan kehilangan maknanya sebagai hukum. Apabila penjelasan UUD 1945 menggariskan, bahwa pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam Pembukaaan mewujudkan cita hukum (Rechsidee), maka pokok-pokok pikiran itu tidak lain melainkan pancasila. Dengan demikian maka pokok-pokok pikiran yang mewujudkan Cita Hukum itu ialah Pancasila.

Apakah hubungan antara pancasila yang berwujud dalam Cita Hukum dan Pancasila yang dalam norma hukum tertinggi? Dengan demikian, dalam hal pancasila merupakan cita hukum, maka nilai-nilai yang terdapat dalam pancasila mempunyai fungsi konstitutif yang menentukan apakah tata hukum Indonesia merupakan tata hukum yang benar, dan didamping itu mempunyai fungsi regulative yang menentukan apakah hukum positif yang berlaku diindonesia merupakan hukum yang adil atau tidak.

(18)

menetukan isi dan bentuk lapisan-lapisan hukum yang lebih rendah.

Dengan demikian maka menurut UUD 1945, dalam tata hukum yang berlaku bagi bangsa Indonesia, pancasila berada dalam dua kedudukan. Sebagai cita hukum (Rechsidee), pancasila berada dalam tata hukum Indonesia namun terletak diluat system norma hukum.

C. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara No. XX/MPRS/1966 dan Pancasila

Dalam memorandum DPR-GR yang merupakan Lampitan TAP MRPS No. XX/MPRS/1966 tersebut dijelaskan, bahwa sumber tertib hukum suatu Negara biasa juga disebut ‘sumber dari segala sumber hukum’. Apabila demikian, maka apa yang dimaksud dengan ‘sumber’ dari segala sumber hukum suatu negara’. Dan apabila disana dinyatakan, bahwa pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum, maka yang dimaksud ialah bahwa pancasila ialah sumber tertib hukum Negara republic Indonesia.

Apabila dikatakan bahwa pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum ataupun sumber tertib hukum bagi kehidupan hukum bangsa Indonesia, maka hal itu haruslah diartikan,bahwa pancasila adalah sumber bagi hukum tertulis dan tidak tertulis dalam kehidupan hukum bangsa Indonesia. Berbagai ahli mengayatakn tentang sumber hukum, maka dalam mengartikan rumusan yang menyebutkan,bahwa pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum, kita hanya dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud ialah sumber dari segala sumber hukum yang terbatas dalam kehidupan rakyat Indonesia bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kita perlu menafsirkan lebih luas daripada itu.

Selanjutnya dapat dikemukakan, ketika TAP MPR No. XX/MPRS/1966 menyatakan dalam lampirannya, bahwa sumber dari segala tertib hukum Indonesia adalah pandangan hidup, kesadaran, cita-cita hukum, serta cita-cita mengenai …. Dan seterusnya. Maka dimaksudkannya ialah sumbeer hukum yang bersifat materiil. TAP tersebut menunjuk kepada pancasila.

D. Para Ahli dan Pancasila

Prof. Mr. Drs. Notonagoro (alm) yan dikemukakannya dalam pidato dies natalis universitas airlangga pada 10 november 1955, yang nampaknya dalam kalangan luas sudah diterima sebagai suatu communis opinion doctorum. Ia mengemukakan bahwa pancasila adalah norma fundamental Negara (staatsfundamentalnorm). Atau meurut istilah yang diperhunakannya Pokok Kaidah Fundamentil Negara.

(19)

konstitusi atau undang-undang dasar (die verfassung). Berdasar norma yang tertinggi inilah konstitusi atau Undang-Undang Dasar suatu Negara dibentuk. Menurutnya, isi dari staatfundamentalnorm ialah norma yang merupakan dasar bagi pembentukan konstitusi atau undang-undang dasar dari suatu Negara (staatsverfassung), termasuk norma untuk pengubahannya.

E. Peranan Cita Hukum Pancasila dala Kehidupan Hukum Tertulis dan Tidak tertulis

Dalam pembentukannya hukum tertulis dan tidak tertulis, cita hukum berperan dengan cara berlain-lainan. Pertama cita hukum secara langsung mempengaruhi kesusilaan perorangan dan pada giliran kesusilaan masyarakat dalam menghasilkan cara dan kesulilaan umum dalam membentuk kebiasaan, tata kelakuan, adat istiadat, dan hukum. Sedangkan kedua cita hukum mempengaruhi perorangan dan masyarakat secara tidak langsung.

Dalam hal pembentukan hukum tertulis, hukum dan system norma hukum dibentuk oleh perorangan atau kelompok perorangan, baik sebagai pejabat-pejabat, maupun sebagai wakil wakilnya. Lain hal dengan pembentukan hukum tidak tertulis, hubungan antara cita hukum dan system norma hukum tidak terjadi desintegrasi karena system norma hukum terbentuk dari endapan-endapan nilai yang telah tersaring oleh perilaku masyarakat sendiri, melalui penerimaan individu-individu dalam keluarga, keluarga-keluarga dalam suku, dan suku-suku dalam marga, serat marga-marga dalam Negara. F. Mengoperasikan Cita Hukum Pancasila dan Norma

Fundamental Negara Pancasila dalam Pembentukan Undang-Undang

Dalam mengutip pendapat Benjamin akzin, bahwa makin dekat suatu pemerintah kepada system totaliter makin seditik pula partisipasi infrastruktur dalam pembentukan hukum, kita dapat juga menerapkan pendapat tersebut dalam pembentukan hukum tertulis yang dibentuk oleh pejabat Negara dan pejabat pemerintah serta wakil rakyat, meskipun system pemerintah Negara yang bersangkutan tidak mempunyai hunbungan liberalism atau dengan totaliterisme.

Dinegara kita Republik Indonesia ini, hukum tertulis sehari demi sehari memang mendesak hukum tidak tertulis. Dalam kedudukan seperti tersebut diatas, maka kesadaran dan penghayatan para pejabat dan para wakil rakyat akan cita hukum dalam pembentukan hukum tertulis atau peraturan perundang-undangan menjadi sangat penting. Para pejabat dan wakil rakyat menentukan pembentukan hukum tertulis.

(20)

norma fundamental Negara yang berupa pancasila juga, keberhasilan apakah hukum yang hukum yang dibentuk akan merupakan hukum dan apakah hukum yang dibentuk akan bersifat adil atau tidak, kesemuanya itu tergantung dan perpulang pada kesadaran dan penghayatan terhadap pancasila yang diyakini oleh para pejabat Negara, para pejabat pemerintahan, dan para wakil rakyat yang melakukan pembentukan peraturan perundang-undangan tersebut.

2.4.2 Penutup

Beberapa kesimpulan :

A. Apabila kita masih ingin berpegang kepada apa yang telah digariskan oleh para pendiri Negara Republik Indonesia dan para penyusun UUD 1945, maka kita tidak dapat melepaskan diri dari wawasan, bahwa pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 adalah dasar dari pada semua kehidupan rakyat Indonesia dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

B. Dalam system hukum Indonesia terdapat cita hukum yang tidak lain melainkan pancasila, yang berfungsi konstitutif dan regulative terhadap system norma hukum Indonesia dengan norma fundamental Negara yang tidak lain melainkan pancasila juga.

C. Norma fundamental Negara atau staatsfundamentalnorm pancasila membentuk norma-norma hukum bawahannya secara berjenjang-jenjang. Norma hukum yang dibawah terbentuk berdasar dan bersumber pada norma hukum yang lebih tinggi. Karena itu tidak terdapat pertentangan antara norma hukum yang lebih tinggi dan lebih rendah, begitu sebaliknya.

D. Kita tidak dapat menerima system norma hukum yang berdiri sendiri tanpa disertai cita hukum, karena hal itu tida sesuai dengan filsafat kehidupan rakyat kita dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

(21)

2.5 PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI DALAM KEHIDUPAN KETATANEGARAAN

Oleh : Padmo Wahjono

2.5.1 Pendahuluan

Manusia adalah insan yang hidup berkelompok ( zoon politicon ) yang menampilkan insan sosial ( homo politicus ) sekaligus aspek insan usaha ( homo economicus ), dalam arti bahwa nalar dan naluri hidup berkelompoknya adalah untuk mencapai kesejahteraan bersamanya.

Di dalam suatu kehidupan berkelompok tersebut meningkat menjadi bernegara, maka falsafah hidup tersebut disebut di dalam rapat-rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia disebut sebagai filosofische grondslag dari pada negara yang didirikan.

Suatu Ideologi merupakan suatu kelanjutan atau konsekuensi logis dari pada pandangan hidup bangsa, falsafah hidup bangsa dan akan berupa seperangkat tata nilai yang dicita-citakan akan direalisir di dalam kehidupan berkelompok.

Ideologi itu akan memberikan stabilitas arah dalam hidup berkelompok dan sekaligus memberikan dinamika gerak menuju yang dicita-citakan.

Permasalahan yang kedua ialah masalah kehidupan ketatanegaraan. Apabila kita ingin menganalisa Pancasila sebagai ideologi didalam kehidupan ketatanegaraan, maka hal ini berarti kita berhadapan dengan kehidupan ketatanegaraan yang kongkrit.

Dengan demikian kita pasti tidak akan berhenti pada hal-hal yang bersifat teoritis universal belaka ( Allgemenestaatslchre ), melainkan justru kita harus menelusuri teori yang kongkrit yang sudah diwarnai oleh ideologi bersangkutan, sekalipun baru dicita-citakan ( Besonderesstaatslchre )

Suatu negara dapat kita lihat sebagai suatu kesatuan yang utuh ( Ganzheit ) ataupun dapat kita lihat dalam strukturnya.

Analisa dalam struktur-struktur negara ialah unsur-unsur negara, kekuasaan tertinggi di dalam negara, bentuk negara, bentuk pemerintahan, hubungan pemerintahan pusat, dan daerah (otonomi) atau sendi-sendi pemerintahan, perwakilan, alat perlengkapan negara, konstitusi, fungsi kenegaraan dan kerja sama antar negara.

Untuk ringkasnya kesepuluh bidang tersebut da[at kita ringkaskan dalam : Tata Organisasi, Tata Jabatan, Tata Hukum, dan Tata Nilai.

Teori bernegara bangsa Indonesia, yang meliputi :

(22)

2. Pembenaran adanya negara Republik Indonesia 3. Terjadinya Negara Republik Indonesia;

4. Tujuan Negara Republik Indonesia

Bidang ketatanegaraan yang meliputi : 1. Tata Organisasi yang terinci dalam :

a. Bentuk Negara b. Bentuk Pemerintahan

c. Kekuasaan tertinggi di dalam negara (kedaulatan) d. Unsur – unsur Negara

e. Otonomi

2. Tata Jabatan yang dirinci dalam : a. Perwakilan

b. Penggolongan penduduk (Organisme) c. Alat perlengkapan Negara

3. Tata Hukum yang dirinci dalam :  Konstitusi

 Fungsiona kenegaraan

 Hak dan Kewajiban Konstitusional  Negara Hukum

Tata nilai yang pada umumnya dirinci di dalam bidang-bidang Ideologi, Politik., Ekonomi, Sosial Budaya, dan Hankam.

2.5.2 A rti Negara

Semenjak bangsa - bangsa di Eropa sudah menetap dan tidak mengembara (nomaden) lagi, maka bernegara pada umunya diartikan memiliki atau menguasai sebidang tanah atau wilayah tertentu.

Dengan perkataan lain penguasaan atas tanah yang menumbuhkan kewenangan kenegaraan (teori patrioninial) dimana struktur sosial yang dihasilkan disebut feodalisme atau landlordlisme.

Negara dalam keadaan demikian disebut sebagai tnnah (Land) dan hal ini nampak pada sebutan England, Holland, Deutstland dan sebagainya.

Keadaan pra-liberal ini berakhir dengan tumbuhnya teori liberalisme yang dipelopori oleh John Locke, Thomas Hobbes dan Jean Jaque Rousseau.

(23)

Dengan demikian cara pandang Indonesia, tidak sekedar melihat negara secara organis, melainkan sebagaimana disepakati kemudian seperti dirumuskan di dalam Alinea ketiga pembukaan UUD 1945, yaitu bahwa negara adalah suatu keadaan kehidupan berkelompoknya bangsa Indonesia yang atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorongkan oleh keinginan luhur bangsa Indonesia untuk berkehidupan kebangsaan yang bebas.

Rumusan semacam ini disebut sebagai suatu kesepakatan satu tujuan atau Gesamt-akte dan bukan suatu perjanjian atau Vetrag.

Dengan demikian sekalipun semenjak Rousseau. Analisa bernegara berkisar pada masalah hukum yaitu. Pembentukan hukum (legislatif) penerapan hukum (eksekutif) maupun yudikatif. Namun analisa tersebut di Indonesia harus tetap didasarkan pada cara pandang integralistik.

2.5.3 Tujuan Negara

Secara teoritis, maka suatu negara dianggap ada apabila telah dipenuhi ketiga unsur negara yaitu, pemerintahan yang berdaulat, bangsa dan wilayah. Namun di dalam praktek pada zaman modern, teori yang universal ini didalam kenyataanya tidak diikuti orang.

Apabila kita kaji rumusan pada Alinea ke dua Pembukaan UUD 1945, bangsa Indonesia beranggapa bahwa terjadinya negara merupakan suatu proses atau rangkaian tahap-tahap yang berkesinambungan. Secara ringkas tersebut adalah sebagai berikut :

1. Perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia; 2. Proklamasi atau pintu gerbang kemerdekaan dan

3. Keadaan bernegara yang nilai-nilai dasarnya ialah, merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Jelaslah dengan demikian betapa rincinya bangsa Indonesia di dalam menterjemahkan perkembangan teori kenegaraan tentang terjadinya negara.

Beberapa hal atau unsur yang harus kita perhatikan disini ialah : 1. Pertama ialah bahwa terjadinya negara merupakan suatu proses yang

tidak sekedar dimulai dari proklamasi, melainkan bahwa perjuangan kemerdekaan pun mempunyai peran khususnya dalam pembentukan ide-ide dasar yang dicita-citakan ( dieologi ).

2. Keduanya, bahwa proklamasi barulah “ mengantarkan bangsa Indonesia “ sampai kepintu gerbang kemerdekaan, jadi tidak bearti bahwa dengan proklamasi telah” selesai “ kita bernegara;

(24)

4. Keempat ialah bahwa terjadinya negara adalah kehendak seluruh bangsa, dan bukan sekedar keinginan golongan yang kaya dan yang pandai (borjuis) atau golongan ekonomi lemah untuk menentang ekonomi kuat seperti dalam teori kelas.

5. Kelima unsur religieusitas dalam terjadinya negara menunjukkan kepercayaan bangsa Indonesia terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Indonesia bernegara mendasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa yang didasarkan (pelaksaannya) pada kemanusiaan yang adil dan beradab. 2.5.4 Pembenaran Adanya Negara R.I.

Secara teoritis seringkali didalilkan bahwa karena negara memiliki pelbagai kewenangan khusus yang tidak memiliki oleh warganya seperti misalnya menghukum seseorang, mencetak uang dan sebagainya, maka perlu ada dasar (hukum) pembenaran (kewenangan) negara tersebut.

Sebagaimana dirumuskan di dalam Alinea pertama pembukaan UUD 1945, maka perlunya ada Negara Republik Indonesia ialah karena kemerdekaan adalah hak segala bangsa sehingga penjajahan yang bertentangan dengan peti kemanusiaan dan peri keadilan harus kita hapuskan.

Apabila “ dalil “ kita analisa secara teoritis, maka hidup berkelompok baik bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara seharusnya tidak mencerminkan eksploitasi sesama manusia (penjajahan) harus berperikemanusiaan dan harus berperikeadilan.

Pada tahap selanjutnya tumbuh anggapan bahwa yang memiliki kebebasan ialah mereka yang “ monopoli “ komunikasi dengan Tuhan, tumbuhlah dominasi kaum agama, merekalah yang memiliki kebebasan.

Dominasi kaum feodal dan kaum agama ini mendesakkan mereka yang pandai dan yang kaya ( menschen von Besitz und Bildung ) yang kita kenal dengan sebutan golongan borjuis.

Golongan Borjuis ini kemudian mendalilkan falsafah kebebasan bahwa setiap manusia dilahirkan bebas dan sama ( man are born free and equal ).

Dengan dalil ini kaum liberal menuntut kebebasan bersaing sehingga yang kuatlah yang menang ( survival of the fittest ).

Jelaslah dengan demikian bahwa pemahaman falsafah ketatanegaraan tentang kebebasan adalah penting dalam rangka memahami pembenaran adanya negara.

2.5.5 Tujuan Bernegara

(25)

merupakan tujuan bernegara, atau seringkali disebut pada tujuan dari kehidupan nasional kita atau tujuan nasional.

Bahwa tujuan bernegara di dalam sistem feodal ( landlordism-patrimonial ) adalah penguasaan atas tanah, tidak perlu penjelasan lagi. Sampai sekarangpun masih kita jumpai warisan gelar-gelar feodalistik yang dikaitkan dengan nama ataupun sebutan wilayah.

Bagaimanakah tujuan bernegara bangsa Indonesia ? sebenarnya merupakan konsep yang lebih tua dari pada negara hukum ( modern ) ialah konsep bahwa negara bertujuan untuk memenuhi kepentingan umum atau res publica.

Di dalam Alinea keempat Pembukaan UUD 1945 dirumuskan unsur-unsur daripada masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila tersebut secara dinamis dan tidak terminal utopistis.

Unsur-unsur tersebut ialah :

 Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah ( wilayah );

 Memajukan kesejahteraan umum;  Mencerdaskan kehidupan bangsa dan

 Ikut melaksanakan tertib dunia berdasarkan perdamaian abadi, kemerdekaan dan keadilan sosial.

Dengan demikian masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila ialah secara ketatanegaraan tidak lain ialah terselenggaranya keempat unsur tersebut secara dinamis berkesinambungan.

Penciptaan kedalam pasal-pasal ialah dalam bentuk tatanan-tatanan kehidupan yang dijabarkan nilai-nilai dasarnya. Demikian penjabaran pencapaian tujuan bernegara.

2.5.6 Tata Organisasi

Bernegara adalah berorganisasi, artinya hidup berkelompok berdasarkan suatu pola ketertiban untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Oleh karena itu, berorganisasi dapat kita rumuskan sebagai bekerja sama berdasarkan suatu pembagian kerja tetap ( permanen ).

Di dalam UUD 1945 kita disebut dengan istilah “ berserikat “ ( vereeniging ) sedangkan apabila tidak permanen disebut “berkumpul” ( vergadering ). Oleh karena itu tata organisasi merupakan pengelompokkan pertama yang kita lakukan terhadap analisa negara dalam strukturnya.

(26)

1. Bentuk Negara

Ialah penjelmaan daripada organisasi negara secara nyata di masyarakat. Ia mencerminkan suatu pola tertentu atau dengan orientasi sistemik, merupakan suatu sistem berorganisasi ( puncak ) – nya manusia dalam kehidupan berkelompok.

UUD 1945 menyebutkan bahwa kongretisasi ini dilakukan lima tahun sekali dan ini disebut Garis-Garis Besar Hukum Negara (GBHN). Mekanisme GBHN ini kemudian menumbuhkan sistem GBHN, yang secara garis besar tahap-tahapnya adalah sebagai berikut :

a. Setelah disusun Garis Besar Haluan Negara (untuk lima tahun)

b. Kemudian disusun suatu Rencana Pembangunan Lima Tahun:

c. Kemudian ditetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( khususnya anggaran pembangunan ) setiap tahunnya:

d. Setelah pelaksanaannya maka “ ditutup “ dengan (undang-undang) pertanggungjawaban keuangan. Pada saat sekarang kita jumpai praktek ketatanegaraan untuk menyusun GBHN lebih dari 5 tahun (jangka panjang), hal mana sebenarnya secara ketatanegaraan tidak dimintakan oleh UUD 1945. 2. Bentuk Pemerintahan

Ialah pola yang menentukan hubungan antara lembaga-lembaga negara dalam menentukan gerak kenegaraan.

Sistem pemerintahan negara yang dipilih bangsa Indonesia dirumuskan dalam tuju kunci pokok yaitu :

a. Indonesia adalah negara berdasar atas hukum:

b. Pemerintahan berdasar atas sistem konstitusi tidak bersifat absolut.

c. Kekuasaan negara tertinggi berada pada majelis permusyawaratan Rakyat.

d. Presiden ialah penyelenggara pemerintahan Negara tertinggi di bawah majelis.

e. Preseiden tidak bertanggung jawab kepada Dewan perwakilan Rakyat:

f. Menteri negara ialah pembantu Presiden, menteri Negara tidak bertanggung jawab kepada DPR.

g. Kekuasaan Kepala negara tidak tak terbatas. Dalam hal ini dijelaskan adanya dua prinsip tambahan yaitu :

a. Kedudukan DPR adalah kuat

b. Menteri-menteri bukan pegawai tinggi biasa

3. Kekuasaan Tertinggi di dalam (Organisasi) negara ( masalah kedaulatan )

Beberapa teori yang terkenal ialah teori kedaulatan Tuhan, kedaulatan raja, teori kedaulatan Rakyat, dan teori kedaulatan negara.

(27)

perdana menteri Bismarck. Kekuasaan pemerintah pada waktu itu adalah sangat kuat karena didukung oleh armee. Burokrasi dan Jurkertum ( Industrialis ).

Jelas dengan demikian kita tetap menganut teori kedaulatan rakyat, sehingga rumusan didalam penjelasan UUD 1945, tentang kedaulatan negara harus kita artikan kedaulatan di dalam negara atau kekuasaan tertinggi di dalam negara.

4. Unsur-unsur negara

Secara teoritis klasik maka unsur-unsur negara atau dengan perkataan lain faktor-faktor penentu organisasi adalah pemerintah, bangsa, dan wilayah negara.

Unsur bangsa pada suatu negara yang merdeka ( staatsvolk ) lazimnya disebut warga negara, dimana sistem kewarganegaraan kita membedakan antar warga negara asli dan warga negara melampaui undang-undang.

5. Sendi pemerintahan

Adalah suatu prinsip untuk dapat menjalankan pemerintahan dengan baik ( ratio gubernadi ), dimana ada anggapan bahwa pemerintah dengan baik adalah membagi negara di dalam beberapa wilayah. Dengan demikian sendi pemerintahan yang tertua semenjak zaman romawi ( sesudah Polis Negara zaman Yunani ) ialah sendi kewilayahan.

2.5.7 Tata Jabatan

Tata jabatan muncul karena adanya anggapan bahwa di dalam organisasi negara yang tetap adalah jabatannya sedangkan pelakunya dapat berubah ( ambternorganisasi ).

Permasalahan tata jabatan dapat dirinci dalam beberapa sub masalah yaitu :

 Perwakilan ( sistem dan lembaganya )  Penggolongan-pengolongan penduduk  Alat perlengkapan Negara

1. Perwakilan

Merupakan suatu mitos abad ke-19 bahwa demokrasi dilaksanakan dengan lembaga perwakilan rakyat, sekalipun Pollard menunjukkan bahwa secara historis lembaga perwakilan kita waris dari sistem feodal dimana para penyewa tanah berkumpul atas “ permintaan “ pemilik tanah untuk menentukan sewa tanah yang pada zaman modern ini kita sebut Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

2. Penggolongan atau pengelompokkan penduduk ( berorganisasi ) Operasionalisasi ini pada hakekatnya berlangsung dengan mengelompokkan bangsa kedalam kelompok-kelompok organisasi sesuai aspirasinya.

(28)

Penggolongan dapat dilakukan pula berdasarkan keiuktsertaannya dalam pembentukan lembaga perwakilan. Organiasasi peserta pemilu kita sebut organisasi kekuatan sosial politik, yang “ tidak ikut “ di dalam pemilu disebut organisasi kemasyarakatan.

Pengelompokkan ini karena adanya indikator utama, yaitu :  Puas atau tidaknya seseorang pada keadaan: dan

 Percaya atau tidaknya seseorang akan adanya perubahan. Berdasarkan dua indikator ini akan ada empat golongan informasi yaitu :

 Mereka yang puas akan keadaan dan percaya masih ada perubahan : yang dapat kita sebut golongan yang dinamis.  Mereka yang puas akan keadaan namun tidak percaya akan

adanya perubahan yang dapat kita sebut golongan konservatif.  Mereka yang tidak puas akan keadaan namun masih percaya

akan ada perubahan, yang dapat kita sebut golongan radikal  Mereka yang tidak puas dalam keadaan dan tidak percaya akan

adanya perubahan, yang dapat kita sebut golongan anarkhis. 3. Aparatur Negara

Aparatur Negara dibidang perwakilan lazim disebut sebagai pejabat negara (di bidang perwakilan ) yang menikmati kebebasan menyatakan pendapat di lembaga perwakilan dan hak-hak protokoler, serta hak-hak ketatanegaraan lainnya.

Aparatur Negara dibidang pemerintahan dapat kita rinci dalam:

 Presiden, yang dapat Kepala Negara, Mandataris MPR maupun kepala Eksekutif dengan segala hak dan kewajibannya; suksesilah masalah utamanya.

 Pembantu Presiden yang dapat : a. Satu orang wakil Presiden

b. Beberapa orang Menteri Negara, menteri negara bukan pegawai tinggi biasa.

c. Pegawai Negeri Sipil (KORPRI)

d. Penasehat Presiden (dalam lembaga-lembaga tertentu. Aparatur Negara yang menurut hemat kami masih memerlukan pemikirannnya lebih mendalam ialah aparatur dibidang pengadilan. Aparatur dibidang pengadilan menyandang sebutan hakim, yang menurut UUD 1945 disebutkan tersendiri disamping pegawai negeri.

2.5.8 T ata Hukum

Negara (state) adalah status hukum suatu legal society hasil perjanjian bermasyarakat. Kegiatan kenegaraan meliputi :

(29)

Konstitusi atau hukum dasar; fungsi-fungsi kenegaraan, hak dan kewajiban konstitusional warga negara dan penduduk dankonsep negara hukum.

1. Konstitusi

Adalah suatu pola hidup berkelompok dalam organisasi negara, yang seringkali diperluas dalam organisasi apapun.

Sebagai pola hidup berkelompok dalam organisasi negara maka ia memuat pada umumnya ;

a. Hal-hal yang dianggap fundamental dalam berorganisasi.

b. Hal-hal yang dianggap penting dalam hidup berkelompok oleh suatu bangsa.

c. Hal-hal yang dicita-citakan, sekalipun hal itu seolah-olah sulit untuk dicapai karena idealistik – nya.

2. Fungsi Kenegaraan

Pada zaman praliberal baik zaman feodal maupun sebelumnya, yang untuk mudahnya kita sebut pra Montesquie dengan trias politicanya, maka fungsi kenegaraan diorientasikan pada kepentingan penguasa ( etatisme ).

Fungsi-fungsi kenegaraan pada masa itu rinciannya ialah : a. Fungsi diplomacie atau antar kekuasaan;

b. Fungsi dinancie, apabila diplomatic gagal; c. Fungsi financie atau masalah kas negara; d. Fungsi justicie atau pengadilan dan

e. Fungsi policie, yang merupakan fungsi yang tidak termasuk kedalam empat fungsi yang lain dan dalam perkembangannya menjadi masalah dalam negeri dengan wahlfhrtpolizei dan Sicher heitspolizei-nya ( Binnenlands Bestuur dan politie ).

Kewenangan legislatif menjadi lebih luas dari sekedar kegiatan legislatif atau pembentukan peraturan perundang-undangan.

Kewenangan utamanya berkembang menjadi tiga yaitu : a. Menentukan perundang-undangan;

b. Menetapkan ke APBN – an dan

c. Mengawasi jalannya pemerintahan atau penerapan/pelaksanaan hukum.

Fungsi eksekutif dipimpin oleh Kepala Negara atau Presiden sedangkan mengenai hal ini dalam UUD 1945, ada sejumlah petunjuk yang menegaskan fungsi pemerintah .

Fungsi kehakiman dijalankan oleh sebuah Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman.

(30)

dalam sejarah bernegara, namun seringkali secara formal kurang mendapatkan tempat.

Fungsi kenegaraan selanjutnya ialah fungsi bela negara.

Dengan demikian hal ini bearti bahwa masalah bela negara di dalam pengaturan selanjutnya harus tetap menjadi hak dan kewajiban warga negara baik dalam bentuk legiun asing maupun berdasarkan suatu perjanjian internasional.

Dengan demikian masalah fungsi kenegaraan secara tata hukum ialah masalah hak dan kewajiban aparatur negara sebagai suatu tata jabatan.

3. Hak dan kewajiban konstitusional warga negara dan penduduk

UUD 1945, di dalam penjelasannya menegaskan bahwa, UUD menurut instruksi bagi penyelenggara negara untuk menyelenggarakan kesejahteraa sosial dan kehidupan negara.

Oleh karena itu di dalam UUD 1945, ditegaskan tanpa hukum sebagai berikut ( penjelasan pasal 28 dst).

“Pasal-pasal baik yang hanya mengenai warga negara maupun yang mengenai seluruh penduduk memuat hasrat bangsa Indonesia untuk membangun negara yang bersifat demokratis dan yang hendak menyelenggarakan keadilan sosial dan perikemanusiaan.”

Apabila kata pasal-pasal itu kita ganti dengan hukum sebagai pengertian pokok (fenus – begrip) maka menurut bangsa Indonesia fungsi hukum ialah :

a. Menegakkan negara yang bersifat demokratis

b. Menegakkan kehidupan yang berkeadilan sosial, dan c. Menegakkan kehidupan yang berperikemanusiaan. 4. Konsep negara hukum Indonesia

Konsep ini dikenal kembali pada permulaan liberal, dipelopori oleh Emanuel Kant, dimana tugas utama negara hukum liberal tersebut ialah keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas = Must en orde ) Julius Stahl menunjukkan sifat liberal dari pada konsep Rechtstaat, apapun tahapnya dalam mengeksposekan unsur-unsurnya secara formal yaitu :

a. Berdasarkan, perlindungan hak asasi ( liberalistik )

b. Agar diperoleh perlindungan hak asasi dengan baik harus didasarkan pada trias politica.

c. Pemerintahannya berdasarkan undang-undang ( wetmatig betsuur ) kemudian berdasarkan hukum (rechtmatig bestuur ). Kemudian ditambah asas manfaat ( doelmatig bestuur ).

d. Apabila di dalam melaksanakan pemerintahan masih dilanggar hak asasi, maka diadili dengan pengadilan administrasi.

(31)

Secara materil arti Negara Hukum Indonesia, dapat kita jelaskan berdasarkan arti Negara dan arti Hukum menurut bangsa Indonesia.

Negara : adalah keadaan berkelompoknya bangsa Indonesia, yang atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, didorongkan oleh keinginan luhur bangsa Indonesia untuk berkehidupan kebangsaan yang bebas. Hukum : adalah alat ketertiban dan kesejahteraan sosial.

Sehingga Negara Hukum Indonesia dalam arti materil ialah : Suatu organisasi bangsa Indonesia yang atas rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorong oleh keinginan luhur bangsa untuk berkehidupan kebangsaan yang bebas berdasarkan suatu ketertiban menuju suatu kesejahteraan sosial.

Operasionalisasi akan sejalan dengan siklus kehidupan hukum yaitu perencanaan, pembentukan, penerapan, pelayanan, penegakan, dan pengembangan hukum.

2.5.9 Tata Nilai

Sebagai telah diuraikan maka suatu konstitusi memuat pula hal-hal yang ideal atau dicita-citakan. Dengan demikian kehidupan ketatanegaraan menuju atau mengejar cita-cita atau sesuatu yang dinilai tinggi dan bermanfaat bagi kemanusiaan.

UUD 1945, menggunakan dua cara di dalam menentukan petunjuk-petunjuk tentang nilai-nilai dasar tersebut :

a. Yang pertama ialah dengan jelas diberikan petunjuk tentang suatu tatanan dasar;

b. Nilai suatu tatanan dasar diserahkan pada undang-undang untuk merumuskannya, artinya dengan persetujuan ( wakil ) rakyat pula.

Beberapa tatanan dasar dengan petunjuk – petunjuknya adalah sebagai berikut :

a. Tatanan bermasyarakat, b. Tatanan bernegara,

c. Tatanan kerja sama antar negara atau tatanan luar negeri dengan nilai tertib dunia,

d. Tatanan pemerintahan daerah dengan nilai permusyawaratan dan mengakui asal-usul keistimewaan daerah,

e. Tatanan keuangan negara, f. Tatanan hidup beragama, g. Tatanan bela negara, h. Tatanan pendidikan i. Tatanan berserikat, j. Tatanan hukum,

k. Tatanan pekerjaan dan penghidupan, l. Tatanan budaya nilai dasar,

(32)

n. Tatanan gelar dan tanda kehormatan

Demikianlah beberapa tatanan kehidupan disertai petunjuk-petunjuknya yang ideal yang perlu dijabarkan lebih lanjut baik nilai dasarnya maupun nilai operasionalnya sesuai sifat nilai masing-masing, ethis, estheis, religieus, rational, nilai manfaat ( nutswaarden ) dan sebagainya.

Petunjuk-petunjuk ketatanegaraan sebagaimana dirumuskan di dalam undang-undang dasar dapat kita katakan merupakan terjemahan sesuai ideologi bangsa yang tiada lain ialah Pancasila dan sifatnya sedikit banyak maish filosofis ketatanegaraan.

2.6 PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI DALAM KEHIDUPAN BUDAYA

Oleh : M. Sastrapratedja

2.6.1 Pengantar

Dengan judul di atas di kandung pengertian bahwa Pancasila harus mampu mempengaruhi kehidupan budaya bangsa Indonesia.

2.6.2 Ideologi

Secara umum dapat dikatakan bahwa ideologi adalah seperangkat gagasan atau pemikiran yang berorientasi pada tindakan yang diorganisir menjadi sistem yang teratur.

Pertama, adanya suatu penafsiran atau pemahaman terhadap kenyataan. Kedua, setiap ideologi memuat seperangkat nilai-nilai atau suatu preskripsi moral. Ketiga, ideologi memuat suatu orientasi pada tindakan.

Ideologi merupakan suatu pedoman kegiatan untuk mewujudkan nilai-nilai yang termuat di dalamnya. Salah satu kecenderungan ideologi adalah melebih-lebihkan sudut pandangnya dan kerap kali menjadi doktriner.

Salah satu fungsi penting lainnya dari ideologi ialah membentuk identitas kelompok atau bangsa. Ideologi juga mempunyai sifat futuristik, karena memberikan gambaran masa depan yang utopis.

(33)

2.6.3 Kebudayaan

Kebudayaan telah didefinisikan dengan berbagai cara Tylor pada tahun 1871 mendefinisikan kebudayaan sebagai “keseluruhan kompleks yang memuat pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adata kebiasaan, dan segala kemampuan serta kebiasaan diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Beberapa pengertian mengenai kebudayaan, tidak dimaksudkan sebagai inventarisasi definisi kebudayaan. Beberapa pengertian yang diambil dimaksudkan untuk menunjukkan adanya berbagai dimensi dari kebudayaan.

Pertama, kebudayaan terkait dengan ciri manusia sendiri sebagai makhluk yang “belum selesai” dan harus berkembang. Kedua, kebudayaan dapat dipahami juga sebagai suatu strategi manusia dalam menghadapi lingkungannya. Ketiga, kebudayaan merupakan suatu sistem, dan terkait dengan sistem sosial.

Kebudayaan bukan hanya merupakan suatu tata nilai atau suatu suprastruktur yang merupakan cerminan dari infra struktur, tetapi suatu totalitas dari objek (kebudayaan “materiiil”), dan totalitas dari makna (kebudayaan “intelektual”) yang didukung oleh subjek (indvidu, kelompok, sektor-sektor masyarakat atau bangsa).

Kebudayaan dapat digambarkan sebagai terdiri dari berbagai lapis. Paling sedikit dapat dibedakan tiga lapis budaya :

 Lapis pertama adalah “alat-alat”.  Lapis kedua adalah “etos” masyarakat.

 Lapis ketiga adalah “inti” atau “hati” dari kebudayaan. 2.6.4 Kecenderungan Masa Kini

Perkembangan kebudayaan Indonesia tidak terlepas dari trend atau kecenderungan masa kini, baik itu kecenderungan nasional maupun internasional dalam berbagai bidang kehidupan. Selayang pandang dapat kita sebut berbagai kecenderungan masa kini :

 Perubahan yang teramat cepat menandai dunia zaman sekarang.  Kecenderungan kedua ialah terjadinya globalisasi berbagai

kekuatan, politik termasuk proliferasi senjata nuklir, ekonomi dan bahkan kultural.

 Kecenderungan lain yang dapat diamati ialah munculnya berbagai “counter” = “culture” sebagai reaksi terhadap homogenisasi budaya yang merupakan akibat dari globalisasi pengaruh tersebut.  Trend lain yang bisa kita amati adalah berbagai bentuk kekerasan,

(34)

 Sebagai hasil dari pembangunan sendiri, meningkatkan harapan dan tuntutan masyarakat.

 Kecenderungan lain baik dalam tingkat global maupun tingkat nasional adalah disparitas pendapatan dan taraf hidup yang belum berhasil diciutkan: kenaikan jumlah penduduk.

2.6.5 Dimensi Budaya dari Politik

Terbentuknya NKRI dan pembangunan politik yang mengikutinya tidak hanya merupakan peristiwa politik, tetapi juga merupakan peristiwa budaya.

Aspek budaya pertama, ialah bahwa perubahan dari kesatuan-kesatuan etnis kepada kesatuan-kesatuan baru, yaitu negara kebangsaan mengimplikasikan perubahan identitas masyarakat. Pancasila sebagai Ideologi disini berperan sebagai referensi bagi pembentukan identitas baru sebagai warganegara. Kewarganegaraan (citizenship) mengandung kesamaan manusia yang berasal dari keanggotaannya dalam komunitas politik nasional dan diwujudkan dalam hak-hak yang sama yang dimiliki oleh semua warga negara.

Dimensi budaya kedua dari politik adalah legitimasi politik. Sumber dari otoriasasi dan legitimitas politik dengan pembentukan NKRI telah berubah.

Dimensi budaya ketiga dari politik adalah partisipasi. Ini terkait erat dengan dimensi pertama ialah identitas baru sebagai warganegara dan dengan dimensi kedua, yaitu bahwa kekuasaan berasal dari rakyat sendiri.

Partisipasi adalah keterlibatan warganegara dalam proses politik, yang intinya adalah proses pengambilan keputusan. Pancasila akan kehilangan arti politisnya apabila direduksi menjadi ajaran atau keutamaan individual belaka. Partisipasi merupakan perwujudan dari prinsip demokrasi dan keadilan sosial.

2.6.6 Industrialisasi Sebagai Proses Budaya

GBHN 1988 mengetengahkan bahwa “Industrialisasi yang pada hakekatnya merupakan proses pembangunan masyarakat industri menyangkut peningkatan kualitas serta pendayagunaan potensi manusia Indonesia, sehingga peranan pendidikan serta pembaharuan tata nilai masyarakat dan pranata sosial sangat penting artinya”. Industrialisasi yang terjadi di Barat dengan diawali oleh revolusi industri, pertama tidak terpisah dari berbagai faktor budaya.

Referensi

Dokumen terkait

Portofolio untuk menilai hasil telaah tentang semangat para pendiri negara dalam merumuskan dan mengesahkan UUD Negera Republik Indonesia Tahun 1945.. Sedangkan projek

Termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke empat maka filsafat Pancasila itu berfungsi sebagai Dasar Negara Republik Indonesia yang diterima dan

Sebagai sumber dari segala hukum atau sumber tertib hukum Indonesia maka pancasila tercantum dalam ketentuan tertinggi yaitu pembukaan UUD 1945, kemudian dijelmakan atau

Berdasarkan uraian di atas kiranya kita dapat menyadari bahwa Pancasila merupakan falsafah negara kita republik Indonesia, maka kita harus menjungjung tinggi

Berdasarkan uraian di atas kiranya kita dapat menyadari bahwa Pancasila merupakan falsafah negara kita republik Indonesia, maka kita harus menjungjung tinggi dan mengamalkan

Pancasila adalah dasar filsafat Negara Republik Indonesia yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945, dan di tetapkan oleh PPKI tanggal 18 Agustus 1945 bersama-sama

Pengertian pancasila sebagai dasar negara diperoleh dari alinea keempat pembukaan UUD 1945 dan sebagaimana tertuang dalam Momerandum DPR-GR 9 juni 1966 yang

Hal ini sejalan dengan tujuan negara Indonesia seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 Alenia IV yang berbunyi ”Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara