PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI TERBUKA
Arie Supriyatno
Dosen FKIP Unv. Muh Magelang
Abstract
Pancasila ideology of openness at the level of instrumental value does not mean that we also open ourselves to wawasanan ideology of communism. But instead requires you to be aware of our vulnerability, so that both consciously and unconsciously
not to use the insights of doctrine, policy and strategy that is Marxism Leninism / Communism. Salain a feature of this ideology is the permanent contradiction minded about, about not being able to didamaikannya conflict that existed until one of the parties to the contrary completely destroyed. One of the characteristics that others should watch out for is penghalalan
all means to achieve goals.
Keywords: Pancasila, Ideology Open.
A. PENDAHULUAN
Ada beberapa faktor lan yang mendorong pemkran kta mengena Pancasla sebaga deolog terbuka. Beberapa dantaranya dapat kta sebutkan d sn. Pertama, kenyataan bahwa dnamka masyarakat kta berkembang dengan amat cepat. Tdak selalu jawabannya bsa kta temukan secara deologs dalam pemkran deolog kta sebelumnya. Ambllah sebaga msalnya tendens globalsas ekonom yang merupakan cr khas dar duna pada awal abad ke 21 dan dperkrakan akan berlanjut d masa mendatang.
Dalam kecenderungan n, peranan besar tdak lag dpegang oleh negara dan pemerntah yang karena besar dan komplekstasnya relatf lamban untuk menangan kecepatan tersebut. Peranan yang lebh besar justru dpegang oleh badan swasta. Gejala n jelas memerlukan kejelasan skap secara jelas.
Kedua, kenyataan bangkrutnya deolog tertutup sepert marxsme-lennsme/komunsme.
Jka dengan deolog terbuka pada dasarnya kta maksudkan deolog yang bernteraks secara dnams dengan perkembangan lngkungan sektarnya, maka dengan stlah deolog tertutup kta maksudkan deolog yang merasa sudah mempunya seluruh jawaban terhadap kehdupan n, sehngga yang perlu dlakukan adalah melaksanakannya bahkan secara dogmatk. Dewasa n deolog komunsme dhadapkan kepada plhan yang amat berat, untuk menjad plhan suatu deolog terbuka atau tetap menjad deolog tertutup sepert selama n. Un Sovet d bawah kepemmpnan Mkhal Gorbachev memlh langkah radkal menuju deolog terbuka yang sebagamana kta ketahu, negara super power
kedua setelah Amerka Serkat, akhrnya runtuh bercera bera.
Ketiga, pengalaman sejarah poltk kta sendr d masa lampau sewaktu pengaruh komunsme sangat besar. Karena pengaruh deolog komunsme yang pada dasarnya bersfat tertutup, Pancasla pernah merosot menjad semacam dogma yang kaku.
Tdak lag dbedakan antara aturan-aturan pokok yang memang harus dharga sebaga aksoma yang kta sepakat bersama, dengan aturan-aturan pelaksanaannya yang seyogyanya bsa dsesuakan dengan perkembangan. Dalam suasana kekakuan tersebut, Pancasla tdak lag tampl sebaga deolog yang menjad acuan bersama, tetap sebaga senjata konseptual untuk menyerang lawan-lawan poltk.
Kebjaksanaan pemerntah pada saat tu menjad bersfat absolut, dengan konsekuens perbedaan pendapat menjad alasan untuk secara langsung dcap sebaga ant-Pancasla. Hal tu jelas tdak benar dan perlu dkoreks secara mendasar.
Keempat, tekad kta untuk menjad Pancasla sebaga asas dalam hdup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kualifikasi dalam hdup “bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”
menunjukkan bahwa ada kawasan kehdupan yang bersfat otonom dan karena tu tdak secara langsung mengacu kepada nla Pancasla. Salah satu dantaranya adalah nla-nla relg. Peranan Pancasla dalam relg adalah mengayom, melndung dan mendukungnya dar luar. Agama bahkan dharapkan menjad sumber nspras dan motvas bag pembangunan nasonal.
B. FUNGSI FILSAFAT DAN IDEOLOGI PANCASILA
Secara umum filsafat berfungsi memberikan jawaban kepada kta tentang hakkat terdasar dar segala sesuatu. Pemahaman tentang hakkat terdasar dar segala sesuatu n amat pentng agar kta tdak kelru dalam menla keadaan serta dalam menentukan kebjaksanaan yang akan kta tempuh.
Tentang hdup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara msalnya, kta bertanya: manakah yang sesungguhnya benar, apakah manusa n pada dasarnya adalah srgala bag yang lan (homo homini lupus), ataukah justru merupakan sahabat bag lannya (homo homini socius). Jka kta menympulkan berdasar jawaban pertama, kta akan menganut jawaban yang pertama, kta akan menganut faham ndvdualsme serta lberalsme yang amat mementngkan perseorangan dan relatf mengabakan masyarakat, setdak-tdaknya dalam teor kalaupun bukan dalam praktek. Jka kta memlh jawaban yang kedua, kta akan menganut paham cenderung kepada humanisme dalam berbaga varasnya yang ada.
�emikiran filsafat yang sudah mencapai kematangan, cenderung untuk dkrstalsaskan menjadi suatu sistem filsafat. Dengan demikian, kebenaran-kebenaran yang dkandungnya dapat dpelajar serta dmasyarakatkan kepada seluruh bangsa. Ulasan-ulasannya bsa dsusun secara panjang lebar dan mendetal, dan juga bsa membatas dr pada esensalnya saja.
Flsafat bsa bertumpu pada pemkran seorang filosof besar, yang akan melahirkan aliran-aliran filsafat seperti Marxisme-Leninisme; dan juga bisa merupakan krstalsas pemkran terdalam suatu bangsa, seperti misalnya filsafat India, Yunani ataupun Cna. Secara prbad penuls berpendapat bahwa �ancasila sebagai filsafat lebih cenderung merupakan krstalsas pemkran terdasar kta sebaga bangsa. Upaya kta untuk mengatkan Pancasla secara khusus kepada pemkran pemmpn nasonal tertentu ternyata terlalu sempt untuk menampung demkan luas nuansa yang dkandung Pancasla tu.
Flsafat sudah merasa puas jka setelah melalu renungan yang dalam merasa sudah mendapatkan jawaban mengena hakkat terdasar tu. Memang demikianlah latar belakang filsafat, yang secara harfiah berarti “cinta akan kebenaran”.
Jka kta ngn bukan hanya sekedar tahu, tetap juga untuk melaksanakan kebenaran yang dikandung filsafat secara taat asas, maka kita harus memasuk kategor pemkran lan, yatu deolog.
Ideolog merupakan komtmen untuk melaksanakan
suatu ajaran filsafat. Ideologi, yang secara harfiah berart a system of ideas, akan mensstematsaskan seluruh pemkran mengena kehdupan n, dan melengkapnya dengan sarana serta kebjakan dan strateg, dengan tujuan menyesuakan keadaan nyata dengan nilai-nilai yang terkandung dalam filsafat yang menjad nduknya. Dengan lan kata bahwa ideologi adalah petunjuk pelaksanaan bagi filsafat.
Barangkal ada pandangan bahwa peranan deolog berakhr. Namun saya kra pandangan tu berlebhan. Sebabnya adalah sederhana, yatu karena tdak mungkn kta mengert duna yang demkan kompleks dan bersfat nterdependen, tanpa dukungan suatu konsep yang bersfat makro sepert filsafat dan ideologi.
Berada d latar belakang setap deolog adalah pemikiran filsafati, baik yang merupakan hasil renungan seorang atau beberapa orang filosof, ataupun yang merupakan krstalsas pemkran suatu bangsa.
Jka kta renungkan sungguh-sungguh, Pancasla lebh merupakan krstalsas pemkran kta sebaga bangsa dar pada merupakan hasl pemkran perseorangan. Nla-nla yang terkandung dalam
�ancasila itu, baik sebagai filsafat maupun sebagai deolog, tumbuh dar sejarah bangsa kta sendr, khususnya dalam sejarah perjuangan kemerdekaan kta dalam abad ke 20. Rumusnya bukanlah sekedar merupakan buah renungan teoritikal seorang filosof, tetap merupakan mufakat 62 orang tokoh pemmpn nasonal, yang merupakan para pendr negara antara bulan Me dan Agustus 1945. Masng-masng tokoh n memberkan andlnya dalam rumusan akhr Pancasla tu, bak yang terdapat dalam alnea 4 Pembukaan UUD 1945, maupun dalam wujud jabarannya dalam pasal-pasal UUD 1945 tu sendr.
Untuk mendalam hal n, kta bsa membaca rsalah dan dalog yang berkembang dalam BPUPKI dan PPKI d tahun 1945. Rsalah sdang-sdang kedua Badan n kta temukan dalam buku hmpunan Prof. Mr. Muhammad Yamn, Naskah Perapan Undang-Undang Dasar 1945. Skap serta pernyataan pendr negara kta tu tdaklah stats. Hal n terlhat nyata pada perkembangan pendapat Prof. Mr. Dr.
Soepomo yang merancang UUD 1945.
Dalam tahun 1945 belau amat ggh menentang usul Drs. Muhammad Hatta untuk mencantumkan adanya hak-hak kewarganegaraan dalam rancangan UUD 1945, dengan alasan bahwa hal tu bersfat ndvdualsts. Namun dalam Konsttus Republk Indonesa Serkat dan dalam Undang-Undang Sementara 1950 yang juga belau rancang, kta sudah
menemukan banyak sekal pernyataan hak warga negara n. Walaupun hal tu bsa kta terangkan dengan alasan bahwa dalam kurun 1949-1959 kta menganut faham lberal, namun sangatlah jelas bahwa kedua konsttus tu tdak akan tersusun demkan, jka Soepomo tdak mengembangkan wawasannya mengena hdup bernegara. Setdak-tdaknya belau akan berpendapat bahwa pencantuman hak-hak warga negara bukan saja merupakan suatu kebutuhan, tetap setdak-tdaknya tdak bertentangan dengan faham kekeluargaan yang belau anut.
Dalam penjabaran �ancasila, baik sebagai filsafat maupun sebaga deolog, para pemmpn kta terbag dalam dua alran besar. Untuk sementara penuls ngn menyebutnya sebaga alran konstitusionalis yang ngn berpegang teguh kepada konsttus sebaga hukum dasar tertuls; dan alran revolusioner, yang cend\erung mengabakan konsttus tu, dem filsafat dan ideologi yang menjadi latar beakangnya.
Pengalaman menunjukkan bahwa alran konsttusonals dapat membawa kta kepada kehdupan yang stabl, sedangkan alran revolusoner membawa kta dar suatu krss ke krss yang lan.
Sejak tahun 1966, kta sudah mennggalkan alran revolusoner, dan memlh alran konsttusonals.
Itulah yang kta maksud dengan “melaksanakan Pancasla secara murn dan konsekuen”.
Hal n berart bahwa pemahaman kta selanjutnya tentang Pancasla n harus selalu dkatkan dengan Undang-Undang dasar 1945 yang menjabarkan nla-nla yang dkandung sla-slanya dalam pasal-pasalnya.
C. URGENSI KETERBUKAAN IDEOLOGI DAN PENERAPANNYA
Keterbukaan deolog bukan saja merupakan suatu penegasan kembal dar pola pkr yang dnams dar para pendr negara kta dalam tahun 1945, tetap juga merupakan suatu kebutuhan konseptual dalam duna modern yang berubah dengan cepat.
Dengan menegaskan Pancasla sebaga deolog yang terbuka, d satu phak kta dharuskan mempertajam kesadaran akan nla-nla dasarnya yang bersfat abad, d lan phak ddorong untuk mengembangkannya secara kreatf dan dnams untuk menjawab kebutuhan zaman.
Hal n perlu kta dalam lebh lanjut:
1. Nilai Dasar Pancasila yang Abadi
Masalah yang kta hadap sehubungan dengan nla dasarnya adalah nla-nla mana
yang merupakan nla dasar yang tdak berubah dan tdak boleh dubah lag?
Nla dasar Pancasla yang abad tu kta temukan dalam empat alnea Pembukaan UUD 1945.
Alinea pertama memuat keyaknan kta kepada kemerdekaan sebaga hak segala bangsa, kepada perkemanusaan dan kepada perkeadlan.
Penghapusan penjajahan adalah merupakan suatu kosnekuens logs dar keyaknan kta n.
Kemerdekaan, perkemanusaan dan perkeadlan adalah rangkaan aksoma tempat bertumpunya seluruh wawasan kenegaraan pada tataran formal, serta seluruh wawasan kta tentang kehdupan kebangsaan secara substantal.
Ada perbedaan art antara “negara” danAda perbedaan art antara “negara” dan
“bangsa”. Negara adalah suatu organsas yang melput unsur-unsur rakyat, wlayah, pemerntah serta kedaultan. Sedangkan
“bangsa” adlah kesatuan tekad dar rakyat untuk hdup bersama mencapa cta-cta dan tujuan bersama, terlepas dar perbedaan etnk, ras, agama ataupun golongan asalnya. KesadaranKesadaran kebangsaan adalah perekat yang akan mengkat batn seluruh rakyat.
Alinea kedua memuat cta-cta nasonal sekalgus cta-cta kemerdekaan kta; yatu suatu negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adl dan makmur. Pengertan-pengertan sngkat yangPengertan-pengertan sngkat yang terdapat dalam alnea n harus dber makna filsafati yang mendasar. Rakyat Indonesia dalam negara Indonesa yang kta bentuk tu ngn hdup dalam suasana yang merdeka, bersatu, berdaulat, adl dan makmur. Inlah nla yang merupakan tolok ukur terakhr apakah negara yang kta bentuk tu sudah sesua dengan apa yang kta harapkan apa belum.
Alinea ketiga, memuat watak aktf dar rakyat Indonesa menyatakan kemerdekaan, untuk mencapa kehdupan kebangsaan yang bebas, bukan dengan keangkuhan yang bersfat chauvnsts, tetap dengan skap relgus, dengan kesadaran akan rakhmat Allah SWT serta ddorongkan oleh kengnan luhur. Bangsa yang ngn kta bangun bukanlah bangsa yang pasf, yang pasrah kepada nasbnya, tetap bangsa yang aktf, yang percaya kepada drnya serta berbuat secara nyata untuk mengubah nasbnya.
Namun nasonalsme kta bukanlah nasonalsme yang sekular yang haya tahu dengan apa yang nyata kelhatan. Nasonalsme kta adalah nasonalsme yang sarat dengan nla relg serta kemanusaan. Nasonalsme
kta bukanlah nasonalsme yang berkehendak mengagres bangsa lan, tetap nasonalsme yang terbatas pada tuntutan pengakuan akan eksstens drnya sebaga bangsa.
Alinea keempat member arahan mengena tujuan negara, susunan negara, sstem pemerntahan dan dasar negara.
Tujuan negara kta jelas; melndung segenap bangsa Indonesa dan seluruh tumpah darah Indonesa; memajukan keejahteraan umum; mencerdaskan kehdupan bangsa; kut melaksanakan ketertban duna yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaan abad dan keadlan sosal. Susunan Negara Republk Indonesa jelas-jelas dsebutkan berkedaulatan rakyat, yang berart sumber dar seluruh otortas kenegaraan dalam republk n adalah rakyat.
Sstem pemerntahan kta juga jelas, yatu sstem pemerntahan konsttusonal, yang secara padat drumuskan sebaga: “dsusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesa tu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesa”. Kemerdekaan bukanlah sekedar suatu konsep filosofis, tetapi juga suatu konsep yurds dengan pengertan yang past dan drumuskan dalam konsttus. Semua kegatan pemerntah harus mempunya alasan pembenar dalam konsttus sebaga hukum dasar tertuls, yang dapat dkembangkan dalam hukum tdak tertuls yang tumbuh praktek penyelenggaraan negara.
Akhrnya, Dasar Negara kta tercantum dalam lma sla, yang rumusnya sudah kta kenal benar, dan tdak akan penuls ulang d sn.
Makna nla-nla yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945 tu dapat kta car dalam berbaga sumber, sumber pertama jelas adalah Penjelasan UUD 1945. Jka kta ngn lebh dalam memahamnya, kta harus membaca rsalah sdang-sdang BPUPKI dan PPKI, sepert yang sudah penuls kemukakan d muka.
Selanjutnya jka ngn mempunya prespektf kesejarahan yang lebh lengkap, kta harus mendalam keseluruhan gerakan kemerdekaan nasonal khususnya sejak awal abad ke 20.
Rumusan-rumusan dalam UUD 1945 tdaklah tmbul mendadak dalam ruang sdang BPUPKI d Jalan Pejambon Jakarta dalam tahun 1945 tu.
Seperti halnya dengan sejarah pemikiran filsafah lannya, ada akar sejarah, akar sosologs serta akar kulturalnya.
Itulah nla-nla dasar dalam hdup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang
kta anut, yang tdak ngn dan tdak boleh kta ubah lag. Mengutp termnolog para akhl hukum, mengubah nla-nla dasar tu berart membubarkan negara.
2. Nilai Instrumental yang berkembang dina- mis
Betapapun pentngnya nla-nla dasar tersebut, namun sfatnya belum operasonal, artnya kta belum dapat menjabarkannya secara langsung dalam kehdupan sehar-har.
Penjelasan UUD 1945 sendr menunjuk pada adanya undang-undang sebaga pelaksanaan hukum dasar tertuls tu. Nla-nla dasar yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 tu memerlukan penjabaran lebh lanjut, sebaga arahan untuk kehdupan nyata. Penjabaran lanjut n kta namakan nla nstrumental.
Nla nstrumental harus tetap mengacu kepada nla-nla dasar yang djabarkannya.
Penjabaran tu bsa dlakukan secara kreatf dan dnams dalam bentuk-bentuk baru untuk mewujdukan semangat yang sama, dalam batas-batas yang dmungknkan oleh nla dasar tu. Penjabaran tu jelas tdak bolehPenjabaran tu jelas tdak boleh bertentangan dengan nla-nla dasar yang djabarkannya.
Dokumen konsttusonal yang dsedakan untuk penjabaran secara kreatf dar nla-nla dasar tu adalah TAP MPR yang merupakan kewenang MPR, peraturan-peraturan perundang-undangan dan kebjakan-kebjakan pemerntah lannya.
Apapun bentuknya, ada satu syarat yang merupakan conditio sine quo non yang harus dpenuh penjabaran n, yatu dmufakat seluruh bangsa. Tolok ukur kebenaran dalam nla dasar Pancasla adalah kebersamaan, kekeluargaan, persatuan dan kesatuan. Gagasan-gagasan perseorangan dan golongan sampa a menjad kesepakatan bersama, bak secara formal maupun secara nformal.
Kehdupan berpancasla tu memang merupakan kehdupan yang penuh dengan dalog, dengan musyawarah, dengan mufakat.
Dperlukan kesabaran, keterbukaan, kearfan dan ketekunan, yang juga dtuntut pada setap bentuk negara yang hendak menegakkan demokras’
Nla yang sudah memperoleh kesepakatan masyarkat, perlu kta bakukan, untuk kta masyarakatkan serta kta budayakan selanjutnya.
Nla-nla yang mash belum memperoleh
kesepakatan masyarkat, kta kaj kembal untuk kemudan kta ajukan kembal dalam bentuknya yang sudah dsempurnakan.
Cepatnya perkembangan nla-nla nstrumental n bsa mempunya suatu dampak negatf, yatu tmbulnya rasa tdak past mengena konsep-konsep yang kta anut. Namun memangNamun memang demkanlah suatu resko masyarakat yang sedang berubah.
3. Penyelenggara Negara sebagai Pengem- bang dari Nilai-nilai
Bak nla dasar maupun nla nstrumentalBak nla dasar maupun nla nstrumental berada dalam kawasan yang bersfat abstrak.
Nla-nla tu tdak dapat melaksanakan drnya sendr, betapapun luhur dan agungnya.
Dperlukan dukungan manusa yang menganut nla-nla tu untuk mewujudkannya dalam kenyataan.
Pendr negara menyadar penuh bahwa para penyelenggara negara bsa mempunya semangat yang sama dengan nla yang terkandung dalam UUD, bsa juga tdak. Jka tdak, maka secara lugas dnyatakan bahwa UUD tu tdak akan ada artnya sama sekal.
Para penyelenggara negara, bak yang berada pada tataran suprastruktur potk yang tersebut dalam UUD 1945, maupun yang berada dalam tataran nfrastruktur poltk yang berkembang dalam masyarakat, memegang peranan sentral dalam terwujud atau tdaknya nla-nla Pancasla tu. Dalam tahun-tahun mendatang, berdasar kehendak kta untuk tumbuh dan berkembang berdasar kekuatan sendr, kta memberkan peluang dan dorongan lebh besar kepada kreatvtas dan praktek masyarakat. Hal tu juga berart bahwa kreatvtas dan prakarsa tdak hanya berasal dar lembaga-lembaga yang berada d tngkat suprastruktur poltk, tetap telah ddesentralsaskan secara meluas kepada masyarakat sebaga nfrastruktur poltk. Dalam hubungan n kta mula menyadar bahwa nfrastruktur poltk tu merupakan mtrakerja dar suprastruktur poltk.
Gagasan-gagasan n jelas merupakan pengembangan secara kreatf dan dnams dar aturan-aturan pokok yang tercantum dalam UUD 1945. Hal tu mungkn kta laksanakan karena para pendr negara kta n secara sadar member peluang bag generas-generas yang menyusul mereka.
Implikasi Penerimaan Pancasila sebagai Indeologi Terbuka
Masyarakat kta dewasa n telah menerma pandangan bahwa Pancasla merupakan deolog terbuka. Proses penermaan n tdaklah mudah.
Sepert juga halnya dengan setap gagasan baru, masyarakat kta mula-mula menanggapnya dengan hat-hat. Ada kekhawatran dalam keterbukaan tu berart dtermanya seluruh nla apapun, termasuk yang bertentangan dengan nla-nla dasar Pancasla tu. Setelah ternyata bukanlah demkan halnya, maka secara de facto kta mula mempergunakan konsep Pancasla n sebaga acuan, antara lan sebaga landasan konseptual untuk kebjaksanaan deregulas dan debrokratsas. Adalah jelas bahwa deregulas dan debrokratsas bukanlah merupakan lberalsas, yang mengandung konotas danutnya faham lberalsme.
Deregulas dan debrokratsas adaah penyesua nla nstrumental Pancasla dalam bdang ekonom, sambl tetap berpegang teguh pada nla-nla dasarnya yang bersfat kekeluargaan.
Sudah barang tentu akan ada kemrpan dalam beberapa aspek tertentu, sepert juga akan ada perbedaan dalam hal-hal yang pentng.
Hal n membawa kta kepada masalah berkutnya, yatu apakah mplkas dar penermaan Pancasla sebaga deolog terbuka tu? Menurut penuls, ada dampaknya bak pada nla dasar, nla nstrumental maupun pada prakss penyelenggara negara, sebaga berkut:
a. Pendalaman Nilai-nilai Dasar Panca- silaKeharusan pertama adalah pendalaman terhadap nla-nla dasar Pancasla tu sendr.
Sebagan dar nla-nla tu kta angkat dar khazanah kebudayaan bangsa kita sendiri di daerah-daerah berdasar pasal 18 UUD 1945:
dan sebagan lag berdasar peluang yang dmungknkan oleh pasal 32 UUD 1945 kta ambil alih dari khazanah kebudayaan dunia.
Tampaknya tdak banyak dantara kta yang memaham makna kultural sesungguhnya dar nla-nla tu. Sebaga seorang doktor hukum adat kta bsa yakn bahwa Soepomo tahu perss apa yang dlakukannya dalam menyusun UUD 1945. Seyogyanya kta memlk kedalaman pengetahuan serta kearfan yang dmlk Soepomo untuk bsa benar-benar memaham yang belau maksud
b. Pengembangan wawasan, doktrin, ke- bijakan, strategi dan hukum nasional
Keharusan berkutnya setelah kta memperdalam dan menjernhkan pemahaman kta mengena nla-nla nstrumentalnya, antara lan dalam bentuk wawasan, doktrn, kebjakan, strateg dan hukum nasonal. Sebabnya adalah karena nla-nla dasar Pancasla tu secara sengaja dbatas oleh para pendr negara kta pada
“aturan-aturan pokok” belaka. Tanpa djabarkan dalam ketentuan-ketentuan pelaksanaannya, maka aturan-aturan pokok tu akan tetap terbatas pada aturan pokok belaka. Penjabaran n menyangkut duaPenjabaran n menyangkut dua kegatan lanjutan.
1) Pengembangan wawasan. Doktrn, kebjakan dan strateg
Kegatan lanjutan pertama adalah pengembangan wawasan, doktrn, kebjakan dan strateg, yatu kegatan konseptual yang dperlukan agar
“aturan-aturan pokok” yang tercantum dalam UUD 1945 tu bsa dlaksanakan dalam praktek secara mantap.
Secara teortkal, suatu “aturan pokok” yang sama bsa djabarkan dalam berbaga wawasan, doktrn, kebjaksanaan dan strateg, yang bsa salng bertentangan dalam kenyataannya.
Contohnya bahwa pemikiran filosofi hstors materalsme Karl Marx bsa djabarkan bak dalam wawasan sosals yang moderat maupun wawasan komuns yang ekstrm. Perbedaan antar kedua varan Marxsme n adalah dalam nla-nla dasarnya, tetap dalam wawasan lanjutan, doktrn, kebjakan dan strateg pelaksanaannya. Karenanya, bag kehdupan nyata, jabaran lanjut n tdak kalah pentngnya dbandngkan dengan pemikiran-pemikiran filsafati yang melatarbelakangnya.
Wawasan adalah cara pandang yang lahr dar keseluruhan keprbadan kta, terhadap lngkungan sektar kta.
Sfatnya adalah subjektf, dan bsa kta pandang sebaga suatu rangkuman dan penerapan prakts dar pemkran filsafati yang melatarbelakangi wawasan tersebut. Kta memerlukan adanya wawasan yang relatf lebh konkrt,
karena rumusan filsafati bisa terasa amat abstrak.
Doktrn adalah suatu pedoman bertndak secara baku yang dpandang terbak dalam menangan suatu bdang pada suatu saat, yang drumuskan dengan menerapkan suatu teor kepada kenyataan nyata. Jka teor dan atau kenyataan berubah, maka doktrn harus dubah pula. Adanya doktrn memudahkan kta menangan masalah- masalah yang sejens, sehngga dengan demkan menghemat pkran, tenaga dan waktu.
Kebjakan adalah serangkaan keputusan mendasar mengena cara mencapa tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan berdasar filsafat, ideologi, wawasan serta doktrn.
Strateg pada dasarnya adalah rencana nduk untuk melaksanakan suatu kebjaksanaan, dengan mempergunakan sumberdaya yang ada.
Strateg selanjutnya djabarkan ke dalam program dan proyek, yang bak cakupan maupun kedalamannya lebh khusus.
Sudah barang tentu kta bsa mengembangkan berbaga alternatf pemkran lannya selan sepert d atas.
Namun yang palng pentng adalah agar ada seperangkat nla nstrumental yang dengan jelas, eksplst, cukup rnc, baku, sstematk, menjabarkan nla-nla dasar yang terdapat dalam nla-nla dasar, atau “aturan-aturan pokok” Pancasla tu. Tanpa nla-nla nstrumental, maka nla-nla dasar tu akan “mengambang”
Bagamana cara yang palng deal untuk membangun perangkat nla nstrumental Pancasla n? Menurut penuls, nla nstrumental Pancasla harus dbangun menurut cara-cara Pancasla pula.
Sla-sla Pancasla mengamanat- kan kepada kta untuk selalu mengngat semangat relg, memulakan martabat manusa, kesatuan dan persatuan bangsa, demokras serta keadlan sosal dalam kehdupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dalam wujud yang selalu tumbuh dan berkembang semakn lama
semakn bak. Sudah barang tentu, dalam hal-hal khusus sla-sla tertentu lebh mengemuka peranannya dar sla- sla yang lan.
Terkandung dalam kebutuhan untuk mengembangkan seperangkat nla nstrumental Pancasla n adalah dbukanya peluang sebesar-besarnya untuk merenung, mengutarakan pkran dengan lsan dan tulsan, untuk berserkat dan berkumpul, sepert yang telah djamn dalam pasal 28 UUD 1945. Hal tu dengan sendrnya bermakna bahwa kta harus benar-benar mewujudkan suatu masyarakat yang demokrats dalam negara yang ddasarkan kepada kedaulatan rakyat n.
Demokras dan kedaulatan rakyat sebagamana dkemukakan tentang konsep negara serta nasonalsme, baru kta kenal dalam bentuknya yang modern dalam awal abad ke 20. Kta seluruhnya mash harus belajar banyak mengena asas-asasnya, mekansmenya dan tatakramanya. Memang ada persamaan kedua konsep demokras dan kedaulatan rakyat n, dengan konsep negara dan
“bangsa” dalam artan tradsonal, tetap juga besar perbedaannya, palng kurang dalam cakupan dan manajemennya.
Demokras dan kedaulatan rakyat dewasa n mempunya cakupan yang luas serta manajemen poltk yang jauh lebh rumt dbandngkan dengan embronya dalam hdup tradsonal kta.
Sfatnya lebh formal, dengan lugas, hak, wewenang dan tanggung jawab yang drumuskan secara lugas dalam peraturan perundangan. Mufakat tdak lag cukup sekedar salng pengertan, tetap drumuskan dalam dokumen- dokumen tertuls yang dtandatangan secara formal pula.
Suatu bentuk kesepakatan poltk, yang tumbuh dalam upaya penjabaran nla-nla Pancasla tu untuk memecahkan masalah pentng kenegaraan pada masa era reformas sepert sekarang, adalah perlunya dtata ulang political will pemmpn nasonal.
Banyak produk-produk legslatf pentng dalam bdang hukum dan poltk pada mulanya berawal dar adanya
komtmen para penyelenggara negara n. Sebelum d bawa ke forum yang bersfat formal, dmana martabat dan harga dr dpertaruhkan, maka hal-hal yang peka dalam suasana yang umumnya terasa tegang, dapat dbahas secara terbuka dan jujur dalam forum yang bersfat tertutup dkalangan apa yang basa dnamakan dalam lteratur poltk sebaga the strategi elites. Manfaatnya jelas sangat besar sekal.
Oleh karena tu dewasa n, bangsa dan negara Pancasla adalah suatu konstruks modern yang mash harus kta bangun bersama dar puncak- puncak terbak trads kta, sepert dpesankan oleh semangat penjelasan pasal 32 UUD 1945.
2) Pengembangan sstem hukum nasonal yang taat asas
Wawasan, doktrn, kebjakan dan strateg mash merupakan produk ntelektual. Kekuatannya terletak pada kukuhnya penalaran yang melatar belakangnya, tetap ada kelemahannya yatu bahwa seluruh tess-tessnya bsa dbantah dengan penalaran yang lebh kuat. Jka hal tu dbarkan berkembang terus-menerus, kerugannya adalah bahwa kta tdak akan mempunya pegangan. Betapapun pentngnya seluruh kebebasan tu, dalam pelaksanaan dperlukan pegangan yang jelas. Kalaupun akan dubah, perlu dlaksanakan secara teratur dan berencana agar tdak menmbulkan kegoncangan dan kebngunan dalam masyarakat.
Dalam hal nlah tmbulnya kebutuhan akan hukum. Hukum yang bak akan memberkan landasan yang kukuh dan pegangan yang past kepada seluruh phak. Normanya drumuskan dengan jelas dan sanksnya perlu dtegaskan dan bla perlu dkenakan hukuman yang berat atau maksmal agar mempunya efek jera dan berlaku dengan tdak pandang bulu terhadap setap orang, sepert dtegaskan dalam pasal 27 ayat 1 UUD 1945.
Dengan hukum yang tdak bak kta akan menghadap masalah.
Hukum kolonal yang dsusun dalam
zaman penjajahan, yang bertujuan mengeksplotr tanah ar kta untuk kepentngan negara asng; atau hukum nasonal sendr yang dsusun tanpa pola atau mengandung norma yang sudah ketinggalan zaman, akan menimbulkan ketdakpastan hukum dan sekalgus akan membuka celah serta kesempatan untuk dsalahgunakan yang merugkan masyarakat, bangsa dan negara.
c. Mempersiapkan dan membawa kebia- saan masyarakat untuk setia kepada nilai-nilai moral serta norma hukum.
Setelah nla dasar dan nla nstrumental kta benah secara mantap, suatu kegatan lanjutan berkutnya yang harus kta lakukan adalah mempersapkan kebasaan masyarakat untuk setap kepada nla-nla moral serta norma hukum yang telah dsusun tu.
Hal tu tdak mungkn tumbuh dengan sendrnya. Salah satu sebabnya adalah karena negara nasonal yang sedang kta bangun n adalah negara yang struktur dan prosedurnya modern, walaupun semangatnya tetap kta sandarkan kepada faham kekeluargaan yang kta wars dar para leluhur. Perlu juga kta ngat, bahwa tdak seluruhnya yang berasal dar lelulhur tu kta lanjutkan begtu saja.
Ada proses aktf memlh mana yang sesua dan mana yang tdak lag sesua dengan kebutuhan zaman kita sekarang. Feodalisme atau fanatsme kedaerahan yang sempt sudah seharusnya kta buang. Kta sedang membangun suatu negara modern !
Banyak konsep yang telah kta kembangkan mengena hal n, sepert konsep dspln nasonal, tertb hukum, tertb sosal, ant KKN, stabltas nasonal, ketahanan nasonal, ataupun penegakan hukum. Penuls percaya bahwa konsep-Penuls percaya bahwa konsep- konsep n akan berkembang terus dmasa mendatang sepert penddkan berkarakter.
Catatan kecl lannya yang perlu penuls kemukakan d sn yatu bahwa bak pembangunan hukum maupun membangun kebasaan masyarakat untuk patuh kepada nla serta norma hukum tu akan memakan waktu yang sangat lama. Menurut para pakar, Inggrs memerlukan waktu selama 400 tahun untuk membangun kesadaran hukum rakyatnya. Kta tentu tdak perlu menunggu selama tu. Seyogyanya kta
dapat membangun hal tu dalam waktu yang lebh cepat secara berencana, melalau proses penddkan berkarakter yang bersfat partspatf ataupun melalu program keluarga sadar hukum (Kadarkum) yang sudah lama dcanangkan d Indonesa.
Menanamkan kesadaran hukum kepada warga masyarakat bukan berart menanamkan dspln mat, tetap menanamkan kekhlasan, bahkan kegarahan, untuk secara rokhanah menerma nla dan norma tu dalam sstem nla prbadnya, dengan kesadaran bahwa jka semua orang tu berbuat sama, hal tu pada taraf terakhr juga akan member manfaat kepada drnya sendr.
Penanaman kesadaran hukum harus dlakukan secara persuasf dan edukatf sejak usa dn, sehngga kepatuhan kepada hukum akan merupakan bagan dar watak serta keprbadan setap orang. Dalam hal n sudah barang tentu keluarga dapat memberkan peranannya yang besar.
Peranan berkutnya bsa demban oleh kepemmpnan masyarakat, sepert kepemmpnan adat, kepemmpnan agama ataupun kaum terpelajar. Kadah adat dan agama bsa mendukung perwujudan Pancasla dalam masyarakat, apalag jka kta ngat bahwa substans nla-nla Pancasla tu sebagan berasal dar nla adat dan agama tu, khususnya sla pertama, kedua dan keempat. Sedangkan sla ketga dan kelima merupakan ilham dari khazanah kebudayaan duna yang unversal sejak abad ke 18 dahulu. Nasonalsme tumbuh dalam abad ke 18 d Amerka Serkat dan Eropa Barat, kemudan berkembang dalam gerakan kemerdakaan duna Tmur. Keadlan sosal adalah merupakan tema perjuangan kaum terpelajar kta sejak awal abad ke 20.
Jka seluruhnya berhasl kta wujudkan, bak d pusat maupun d daerah, pada suprastruktur poltk maupun pada nfrastruktur poltk, maka kta dapat berkata bahwa kta sudah matang sebaga bangsa.
Pembatasan Keterbukaan Ideologi
Ideolog terbuka n banyak pertanyaan dalam masyarakat apakah deolog terbuka n berart segala deolog dan tafsr bsa dterma begtu saja dalam memaham dan menjabarkan nla-nla Pancasla. Hal tu memang perlu djelaskan.
Secara teorettkal, sesungguhnya tdak mungkn bahwa segala deolog dan tafsran bsa dterma begtu saja dalam memaham dan menjabarkan nla-nla Pancasla. Hal tu bukan berart suatu deolog terbuka, tetap malahan menunjukkan tdak ada deolog sama sekal.
Ideolog terbuka yang dfaham sedemkan sama saja artnya dengan mengatakan Pancasla tu suatu non deolog!
Ideolog yang berart a system ideas, mensyaratkan adanya sstematk serta konsstens dalam gagasan-gagasannya. Hal tu dengan sendrnya berart bahwa unsur- unsurnya haruslah seras, selaras dan sembang satu dengan lannya. Ideolog serta gagasan yang tdak sesua, apalag yang bertentangan, sudah dengan sendrnya akan dtolak, jka deolog yang bersangkutan tetap akan memelhara konsstens drnya.
Namun secara praktkal hal tu perlu dtegaskan secara lugas, karena stlah “terbuka”
memang bsa dartkan macam-macam.
Dmaksudkan terbuka d sn untuk bernteraks dengan lngkungan sektar adalah pada tataran nla nstrumentalnya, dan bukan pada tataran nla dasarnya.
Nla-nla dasar yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945, yang melput pandangan kta tentang kemerdekaan, tentang cta-cta nasonal, tentang Ke Tuhanan YME, tentang dasar negara, tentang sumber kedaulatan negara, dan tujuan nasonal, sudah kta tempatkan sebaga aksoma yang tdak akan kta pertanyakan lag.
Sudah barang tentu perlu dgarskan batas-batas keterbukaan tu antara lan sebaga berkut:
1) Kepentngan Stabltas Nasonal
Walaupun pada dasarnya semua gagasan untuk menjabarkan nla dasar tu bsa dajukan, namun jka sejak awal sudah bsa dperkrakan gagasan tu akan menmbulkan keresahan yang meluas, selayaknya dcarkan momen, bentuk, serta metoda yang tepat untuk menyampakannya.
2) Larangan terhadap Ideolog Marxsme- Lennsme/Komunsme
Meskpun secara faktual kta bsa melhat proses kebangkrutan deolog Marxsme- Lennsme/Komunsme d mana-mana, namun kta belum dapat mengabakan ancaman deolog n sama sekal. Korea Utara dan Kuba mash merupakan penganut Komunsme yang ggh. Keterbukaan deolog Pancasla pada tataran nla nstrumental tdak berart bahwa kta juga membuka dr kepada wawasanan faham komunsme.
Sebalknya malah mengharuskan untuk waspada terhadap kerawanan kta, agar bak secara sadar maupun secara tdak sadar jangan sampa mempergunakan wawasan doktrn, kebjakan dan strateg yang bersfat Marxsme Lennsme/Komunsme. Salan satu cr faham n adalah wawasannya tentang kontradks permanen, tentang tdak dapat didamaikannya konflik yang ada sampai salah satu phak yang bertentangan hancur sama sekal. Salah satu crnya yang lan yang harus dwaspada adalah penghalalan segala cara untuk mencapa tujuan.
DAFTAR PUSTAKA
Undang-Undang Dasar 1945 dan Penjelasannya.