• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Politik dan Strategi Nasional

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Politik dan Strategi Nasional"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

POLITIK DAN STRATEGI NASIONAL

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas

Mata Kuliah : Pendidikan Kewarganegaraan Dosen Pengampu: Nor Hadi, M. Pd

Disusun Oleh:

Stiyan Majid Nur Rosyid (14030460100) Umi Nur Fadhilah (1403046088) Aisatul Maghfiroh (1403046096)

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Pendahuluan

Dalam upaya mencapai tujuan nasionalnya, Bangsa Indonesia telah memilih dan menentukan konsepsi wawasan nasionalnya. Wawasan nasional yang merupakan pedoman dalam melakukan kegiatan berbangsa dan bernegara itu adalah wawasan nusantara.

Wawasan nusantara pada satu sisi adalah sebuah konsepsi yang dijadikan sebagai pedoman, arah atau kompas untuk mencapai tujuan nasional. Namun pada sisi lain, untuk mewujudkan wawasan nusantara sebagai sebuah wawasan bagi bangsa Indonesia juga memerlukan waktu panjang. Pada posisi ini, wawasan nusantara dipandang sebagai tujuan yang untuk mencapainya juga dibutuhkan proses.

Untuk mencapai tujuan wawasan nusantara tersebut disusunlah konsepsi ketahanan nasional yang meliputi segala aspek kehidupan nasional. Ketahanan nasional akan terwujud melalui aktifitas yang disebut dengan pembangunan nasional. Pembangunan yang harus dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen itu meliputi seluruh aspek kehidupan nasional. Dengan pembangunan ini, akan tercapai tujuan nasional bangsa Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea 4.

Sebagai sebuah proses, pembanguna nasional juga merupakan kinerja sepanjang masa tiada henti. Hal ini disebabkan sifat dari tujuan nasional itu semu. Maksudnya titik tolak ukur secara kuantitif dan kualitatif, kapankah tujuan nasional itu tercapai. Didalam kerangka meningkatkan Ketahanan Nasional sebagai upaya bangsa Indonesia mengisi Kemerdekaan, diperlukan kinerja yang lebih praktis. Hal inilah yang dikenal sebagai Politik Nasional dan Strategi Nasional (Polstranas).

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana politik masa orde lama?

(3)

4. Bagaimana politik orde baru dan arah strategi nasionalnya? 5. Bagaimana politik masa reformasi?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Politik dan Strategi Nasional

Kata “politik” secara etimologis berasal dari bahasa Yunani Politeia, yang akar katanya adalah Polis, berarti kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri, yaitu Negara dan Teia, berarti urusan. Dalam bahasa Inggris, politic adalah suatu rangkaian asas (prinsip), keadaan, cara, dan alat yang digunakan untuk mencapai cita-cita atau tujuan tertentu. Sedangkan policy dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan sebgai kebijaksanaan, adalah penggunaan pertimbangan-pertimbangan yang dianggap dapat lebih menjamin terlaksananya suatu usaha, cita-cita atau tujuan yang dikehendaki. Pengambilan kebijaksanaan biasanya dilakukan oleh seorang pemimpin.1

Strategi berasal dari Bahasa Yunani strategia yang diartikan sebagai “the art of the general” atau seni seorang panglima yang biasanya digunakan dalam peperangan. Dalam pengertian umum, strategi adalah cara untuk mendapatkan kemenangan atau pencapaian tujuan.

Strategi nasional adalah seni dan ilmu mengembangkan dan menggunakan kekuatan nasional untuk mencapai tujuan yang ditentukan oleh politik nasional. Strategi nasional berisi perencanaan dan pelaksanaan kegiatan untuk mencapai tujuan sehingga harus elastis dan berkembang dinamis sesuai dengan situasi dan kemampuan.2

Proses politik dan strategi nasional pada infrastruktur politik merupakan sasaran yang akan dicapai oleh rakyat Indonesia. Sesuai 1 Syahrial Syarbaini, Aliaras Wahid, H.A Djasli, Sugeng Wibowo. Membangun Karakter

dan Keprbadian melalui Pendidikan Kewarganegaraan. Graha Ilmu: Yogyakarta. 2006. Hlm. 97-98.

2 Samsul Wahidin. Pokok-Pokok Pendidikan Kewarganegaraan.Pustaka

(4)

dengan kebijakan politik nasional, penyelenggaraan negara harus mengambil langkah-langkah pembinaan terhadap semua lapisan masyarakat dengan mencantumkan sasaran sektoralnya.

Melalui pranata-pranata politik, masyarakat ikut berpartisipasi dalam kehidupan politik nasional. Dalam reformasi saat ini, masyarakat memiliki peran yang sangat besar dalam mengontrol jalannya politik dan strategi nasional yang ditetapkan oleh MPR maupun yang dilaksanakan presiden.

Berikut adalah hal-hal yang dibicarakan dalam politik: 1. Negara

Merupakan suatu organisasi dalam satu wilayah yang memiliki kekuasaan tertinggi yang ditaati oleh rakyatnya. Atau Negara merupakan bentuk masyarakat dan organisasi politik yang paling utama dalam suatu wilayah yang berdaulat.

2. Kekuasaan

Adalah kemampuan seseorang atau kelompok untuk memengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginannya.

3. Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan adalah aspek pertama politik. Dalam pengambilan keputusan perlu diperhatikan siapa pengambil keputusan itu dan untuk siapa keputusan itu dibuat.

4. Kebijakan umum

Kebijakan (policy) merupakan suatu kumpulan keputusan yang diambil oleh seseorang atau kelompok politik dalam memilih tujuan dan cara mencapai tujuan itu.

5. Distibusi

(5)

secara adil. Politik membicarakan bagaimana pembagian dan pengalokasian nilai secara mengikat.3

B. Politik Masa Orde Lama (1959-1965)

Orde lama mulai pada tanggal 5 Juli 1959 hingga 11 Maret 1966, saat diserahkannya Supersemar oleh Presiden kepada Letjen Soeharto. Ciri-ciri orde lama adalah sebagai berikut:

1. Mempunyai landasan idiil Pancasila dan landasan stuktual UUD 1945.

2. Mempunyai tujuan:

a. Membentuk NKRI yang berbentuk kesatuan dan kebangsaan yang demokratis.

b. Membentuk suatu masyarakat yang adil dan makmur baik materal maupun spiritual dalam wadah NKRI.

c. Membentuk kerja sama yang baik dengan semua Negara di dunia, terutama dengan Negara-Negara di kawasan Asia-Afrika.

d. Melaksanakan dengan meluruskan segala cara.4

Pada bulan September 1955 dan Desember 1955 diadakan pemilihan umum, masing-masing untuk memilih anggota-anggota Dewan Perwalilan Rakyat (DPR) dan anggota Konstituante. Tugas Konstituante adalah untuk membuat Rancangan Undan-Undang Dasar (RUUD) sebagai pengganti UUDS 1950, yang menurut pasal 134 akan ditetapkan selekas-lekasnya bersama-sama dengan Pemerintah.

Untuk mengambil putusan mengenai UUD maka pasal 137 UUDS 1950 menyatakan bahwa:

1. Untuk mengambil keputusan tentang RUUD baru maka sekurang-kurangnya 2/3 jumlah anggota konstituante yang hadir;

3 Op. Cit., Hlm. 99-100.

4 Hamid Darmadi. Pengantar Pendidikan Kewarganegaraan. Alfabeta: Bandung. 2010.

(6)

2. Rancangan tersebut diterima jika disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota yang hadir;

3. Rancangan yang telah diterima oleh konstituante dikirimkan kepada presiden untuk disahkan oleh pemerintah.

4. Pemerintah harus mengesahkan rancangan itu dengan segera serta mengumumkan undang-undang itu dengan keluhuran.

Dekrit oleh presiden pada tanggal 5 Juli 1959 tentang kembali pada UUD 1945. Dalam keadaan seperti itu, yang menurut Kepala Negara menimbulkan keadaan ketatanegaraan yang membahayakan persatuan dan keselamatan negara, nusa, dan bangsa. Maka, tindakan Presiden menegeluarkan Dekrit Presiden tersebut dibenarkan berdasarkan hukum darurat negara (staatnoodrecht).

Diktum Dekrit Presiden itu berbunyi:

1. Menetapkan pembubaran konstituante;

2. Menetapkan UUD 1945 berlaku lagi bagi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, terhitung mulai tanggal penetapan Dekrit ini, dan tidak berlaku lagi UUDS 1950;

3. Pembentukan Majelis Permusyawaratan Rakyat sementara

yang terdiri atas anggota-anggota DPR ditambah dengan utusan-utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan, serta Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS), akan diselenggarakan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

(7)

lagi jika kita mengupas tentang berfungsinya lembaga-lembaga negara tersebut telah sesuai atau tidak dengan ketentuan UUD 1945. 5

C. Politik Masa Orde Lama dan Arah Strategi Nasional

Dalam masa Orde Lama itu, Presiden, selaku pemegang kekuasaan eksekutif, dan pemegang kekuasaan legislatif bersama-sama dengan DPR telah menggunakan kekuasaannya dengan tidak semestinya. Presiden telah mengeluarkan produk legislatif yang pada hakikatnya adalah Undang-Undang (sesuai UUD 1945 harus dengan persetujuan DPR) dalam bentuk penetapan Presiden, tanpa persetujuan DPR. Selain itu terdapat pula penyimpangan-penyimpangan lain, antara lain:

1. MPR, dengan ketetapan No. I/MPRS/1960 telah mengambil putusan menetapkan pidato Presiden tanggal 17 Agustus 1959 yang berjudul “Penemuan Kembali Revolusi Kita” yang lebih dikenal dengan Manifesto Politik Republik Indonesia (Manipol) sebagai GBHN bersifat tetap, yang jelas bertentangan dengan ketentuan UUD 1945.

2. MPRS telah mengambil keputusan mengangkat Ir. Soekarno sebagai Presiden seumur hidup. Hal ini bertentangan dengan ketentuan UUD 1945 yang menetapkan masa jabatan Presiden lima tahun.

3. Hak budget DPR tidak berjalan, karena setelah tahun 1960 pemerintah tidak mengajukan RUU APBN untuk mendapat persetujuan DPR sebelum berlakunya tahun anggaran yang bersangkutan. Dalam tahun 1960, karena DPR tidak dapat menyetujui Rancangan Pendapatan dan Belanja Negara (RPBN) yang diajukan oleh Pemerintah, maka Presiden waktu itu membubarkan DPR hasil Pemilu tahun 1955 dan membentuk DPR-Gotong Royong (DPR-GR).

5 Syahrial Syarbaini, Aliaras Wahid, H.A Djasli, Sugeng Wibowo. Membangun Karakter

(8)

4. Pimpinan Lembaga-lembaga negara dijadikan menteri-menteri negara, sedangkan Presiden sendiri menjadi anggota DPA, yang semuanya tidak sesuai dengan ketentuan UUD 1945.

Penyimpangan ini jelas bukan saja mengakibatkan tidak berjalannya sistem yang ditetapkan dalam UUD 1945, melainkan juga telah mengakibatkan memburuknya keadaan politik dan keamanan serta terjadinya kemerosotan ekonomi yang mencapai puncaknya dengan pemberontakan PKI pada tanggal 30 September 1965 (G30S PKI). Pemberontakan tersebut dapat digagalkan melalui kekuatan-kekuatan yang melahirkan pemerintahan Orde Baru.6

D. Politik Masa Orde Baru

Orde Baru lahir setelah gagalnya pemberontakan G30S/ PKI pada tanggal 30 September 1965.

Pemberontakan PKI yang puncaknya pada tanggal 30 September 1965 itu adalah yang kedua kali dilakukan mereka, tetapi kali ini merupakan pemberontakan yang terbesar yang dialami Bangsa Indonesia sejak kemerdekaan. Dikatakan demikian karena resonansinya dirasakan oleh seluruh Bangsa Indonesia sampai ke daerah-daerah pedalaman sekalipun.

Setelah membangkitkan isu-isu tentang perbedaan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, kemudian menyebarluaskan program sama rata sama rasa. Lalu pada puncaknya melakukan pembantaian di lubang buaya, Jakarta. Sasaran utama mereka adalah para Jenderal yang semula paling keras menentang dipersenjatainya Angkatan Kelima Buruh Tani PKI oleh pemerintah.

(9)

dengan mengambil alih pimpinan Angkatan Darat yang lowong dengan tewasnya Jenderal Ahmad Yani. Lalu mulailah operasi yang gencar dan sistematis, menumpas G30S/PKI dan Orde Lama.7

E. Politik Orde Baru dan Arah Strategi Nasioanal

Sejak awal kelahirannya, Orde Baru (Orba) selalu menyebut dirinya sebagai suatu kekuatan yang bersifat korektif atas orde sebelumnya. Dalam jargon-jargon yang muncul pada awal kebangkitan Orba juga masih bertahan sampai sekarang, selalu ditanyakan bahwa orba bertekad melaksanakan kehidupan politik yang konstitusional serta melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Secar implisit maupun eksplisit, jargon-jargon tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan politik pada masa sebelum Orba adalah kehidupan politik yang inkonstitusional serta menyimpang dari ideologi negara. Orba lahir untuk mengoreksi penyimpangan konstitusi dan ideologi serta menegakkan Orde Pembangunan.

Di balik jargon-jargon tersebut, Orba mengacu kepada kondisi-kondisi empiris yang menyebabkan situasi kondusif untuk kemunculan Orba. Kondisi empiris tersebut meliputi krisis ekonomi dan krisis politik.

Krisis politik pada umumnya mengacu pada apa yang disebut sebagai periode Demokrasi Parlementer (1950-1959) dan Demokrasi Terpimpin (1959-1965). Periode demokrasi Parlementer ditandai dengan ketidakstabilan politik sebagai akibat persaingan antar partai serta pemberontakan-pemberontakan. Jumlah partai politik sangat banyak dengan perbedaan ideologi yang tajam antara yang satu partai dengan partai lain. Peranan partai politik yang demikian besar dianggap Presiden Soekarno sebagai penyebab kemacetan sistem politik. Pada Juli 1959 Presiden Sukarno, atas dukungan militer, memberlakukan kembali UUD 1945. Sejak itu, selesailah era Demokrasi Parlementer.

7 Inu Kencana Syafiie. Sistem Pemerintahan Indonesia. Rineka Cipta. Jakarta: 2011.

(10)

Periode Demokrasi Terpimpin ditandai dengan peningkatan peran politik Partai Komunis Indonesia (PKI), serta merosotnya peranan partai-partai politik di luar PKI. Pada 1960, Presiden membubarkan DPR karena DPR menolak anggaran belanja negara yang diusulkan Presiden. Presiden Sukarno juga mengangkat ketua DPR sebagai menteri, ikut campur dalam bidang legislatif dan yudikatif serta membiarkan diri diangkat sebagai Presiden seumur hidup.

Selain krisis politik, Presiden Sukarno juga ditandai oleh krisis ekonomi. Dalam banyak hal, Sukarno cenderung mengabaikan pembangunan ekonomi dan menekankan program-program politik yang bersifat revolusioner. Sukarno bahkan membatalkan program-program ekonomi pada 1963. Krisis moneter jadi tak terhindarkan lagi. Harga-harga naik, inflasi naik, serta defisit terus membengkak. Ditambah lagi dengan hutang luar negeri yang semakin besar. Kedua krisis tersebut mengundang ketidakpuasan militer atas kekuasaan sipil.

Sejak awal, militer di Indonesia memang berakar pada situasi revolusi fisik. Sebagai akibatnya, militer mempersepsikan diri sebagai kekuatan yang harus ikut serta dalam kehidupan politik. Sejak 1954, Nasution telah membentuk Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) sebagai upaya untuk ikut serta dalam politik, minimal dalam pemilu 1955. Pada pertengahan 1950-an militer juga mulai mencoba mengelola sumber-sumber ekonomi di luar anggaran pemerintah. Sampai menjelang Demokrasi Terpimpin, kedudukan militer dalam politik sudah demikian kuat sehingga mampu bersaing dengan Sukarno maupun dengan PKI. Melihat konteks kompetisi politik antara Sukarno, militer, dan PKI pada 1960-an, kemunculan militer pada panggung politik tinggal masalah waktu saja.

(11)

memiliki alasan kuat untuk mematahkan PKI secara total sekaligus mengkooptasi kepemimpinan Sukarno. Sejak peristiwa G-30-S/PKI tersebut, militer semakin mantab menapaki tangga kekuasaan politik sampai di anak tangga terakhir.8

Gagalnya memperebutkan kekuasaan oleh G30S PKI itu telah diungkapkan dan dibuktikan, baik melalui sidang pengadilan maupun bahan dan keterangan lainnya, bahwa PKI lah yang mendalangi secara sadar dan berencana coup d’eat itu. Keadaan semakin meruncing, keadaan ekonomi dan keaamanan makin tidak terkendalikan. Dengan dipelopori oleh pemuda/mahasiswa, rakyat menyampaikan “Tri Tuntutan Rakyat” (Tritura), yaitu:

1. Bubarkan PKI;

2. Bersihkan Kabinet dari unsur-unsur PKI; 3. Turunkan harga-harga atau perbaiki ekonomi.

Pengemban Supersemar telah membubarkan PKI dan ormas-ormasnya dan mengadakan koreksi terhadap penyimpangan dalam berbagai bidang selama pemerintahan Orde Lama dengan konstitusional, yaitu melalui sidang MPRS yang telah menghasilkan:

1. Pengukuhan Supersemar (Tap. No.IX/MPRS/1960)

2. Pembubaran PKI dan Ormas-ormasnya (Tap. No.XXV/MPR/1966) 3. Penegasan kembali Landasan Kebijaksanaan Politik Luar Negeri

RI (Tap. No.XII/MPRS/1966)

4. Pembaharuan Kebijaksanaan Landasan Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan (Tap. No.XXIII/MPRS/1966)

5. Pencabutan kekuasaan Pemerintahan Negara dari Presiden Soekarno (Tap. No.XLV/MPRS/1968).

(12)

yang berkuasa apabila dibandingkan menegakkan kedaulatan rakyat sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam UUD 1945 itu sendiri. Pemerintahan Orba telah banyak melakukan penyimpangan dalam pelaksanaan pemilu, antara lain:

1. Campur tangan birokrasi terlalu besar dalam memengaruhi pilihan rakyat,

2. Panitia pemilu tidak independen, memihak salah satu kontestan, 3. Kompetisi antar kontestan tidak leluasa,

4. Rakyat tidak bebas mendiskusikan dan menentukan pilihan, 5. Penghitungan suara tidak jujur,

6. Kontestan tidak bebas kampanye karena dihambat aparat keamanan/perizinan.

Mengingat pemilu adalah titik awal dari pembentukan sebuah pemerintahan demokrasi, maka kelemahan dan praktek pemilu membawa kinerja sisitem politik, yaitu tercipta perwakilan politik yang kurang kondusif bagi demokrasi. Wakil rakyat lebih cenderung loyal kepada parpol yang menunjuknya menjadi rakyat ketimbang pada rakyat pemilih (tipe partisan). Akibat pemilu orde baru kepada DPR menyokong pembatasan kapabilitas politik legislatif itu. Sehingga penggunaan hak-hak DPR, seperti hak inisiatif dan fungsi pengawasan menjadi lemah. Kenyataan ini makin memperkuat eksekutif sebagai pemihak pusat kekuasaan yang mengatasi legislatif.

(13)

sehingga menjadi konstitusional. Demokrasi pun cenderung berhenti di tingkat slogan dan simbolik, lalu tercegah untuk bekerja di tingkat praksis.

Alokasi nilai di bidang politik dalam melaksanakan UU No. 1 tahun 1983 tentang susunan dan kedudukan MPR/DPR Presiden Suharto melakukan:

1. Menerapkan penelitian khusus (Litsus) kepada segenap calon anggota MPR/DPR dengan kriteria hanya mono loyalitas terhadap dirinya, yang diijinkan menjadi calon resmi dari Partai dan Golkar. 2. Menetapkan keluarga Presiden, para pejabat eksekutif beserta

beberapa keluarganya dan orang-orang yang berkaitan dengan bisnis keluarga Presiden sebagai calon resmi dari Partai Politik dan Golkar.

Dalam pelaksanaan UU No. 2 tahun 1983 tentang Pemilu:

1. Presiden Suharto secara subyektif mencoret dan mengganti calon yang tidak memenuhi persyaratan subyektif dari Partai Politik dan Golkar.

2. Tempat Pemungutan Suara (TPS) dibuat di kantor-kantor dan waktu pelaksanaan pemungutan suara ditetapkan bukan pada hari libur tetapi hari kerja.

3. Pelaksanaan pemungutan suara, sejumlah pemilih pendukung Golkar diberi formulir A-B sampai 5-10 lembar seorang.

(14)

tahun 1985 tentang Referendum mengatur tidak memungkinkannya diselenggarakannya referendum karena mempersyaratkan suara 90% dari seluruh peserta referendum.9

F. Politik Masa Reformasi

Reformasi merupakan suatu perubahan yang bertujuan untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan yang diwariskan oleh Orde Baru atau merombak segala tatanan politi, ekonomi, social dan budaya yang berbau Orde baru. Atau membangun kembali, menyusun kembali.10

Era Reformasi atau Era Pasca Soeharto di Indonesia disebabkan karena tumbangnya orde baru sehingga membuka peluang terjadinya reformasi politik di Indonesia pada pertengahan 1998, tepatnya saat Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 karena adanya wacana suksesi yang sengaja dibuat oleh Amien Rais untuk menjatuhkan rezim Soeharto dimana didalamnya terdapat tuntutan untuk melakukan reformasi dan juga desakan dari parlemen beserta mundurnya beberapa menteri dari kabinet saat itu. Sehingga bangsa Indonesia bersepakat untuk sekali lagi melakukan demokratisasi, yakni proses pendemokrasian sistem politik Indonesia dimana kebebasan rakyat terbentuk, kedaulatan rakyat dapat ditegakkan, dan pengawasan terhadap lembaga eksekutif dapat dilakukan oleh lembaga wakil rakyat (DPR).11

Tujuan Reformasi adalah terciptanya kehidupan dalam bidang politik, ekonomi, hukum, dan sosial yang lebih baik dari masa sebelumnya. Adapun faktor-faktor pendorong terjadinya reformasi adalah sebagai berikut:

1. Faktor politik;

1. Adanya KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme).

9 Syahrial Syarbaini, Aliaras Wahid, H.A Djasli, Sugeng Wibowo. Membangun Karakter

(15)

2. Adanya rasa tidak percaya kepada pemerintahan masa Orba. 3. Kekuasaan Orba dibawah Soeharto otoriter tertutup.

4. Adanya keinginan demokratisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

5. Mahasiswa menginginkan perubahan. 2. Faktor ekonomi;

a. Adanya krisis mata uang rupiah. b. Naiknya harga kebutuhan masyarakat.

c. Sulitnya mendapatkan barang-barang kebutuhan pokok.

3. Faktor sosial: adanya kerusuhan tanggal 13-14 Mei 1998 yang melumpuhkan perekonomian masyarakat.

4. Faktor hukum: belum adanya keadilan dalam perlakuan hukum yang sama diantara warga negara.

Diantara strategi Nasional antara lain:

1. Reformasi dibidang ideologi negara dan konstitusi.

2. Pemberdayaan DPR, MPR, DPRD maksudnya agar lembaga perwakilan rakyat bener-benar melaksanakan fungsi perwakilannya sebagai aspek kedaulatan rakyat dengan langkah sebagai berikut;

a. Anggota DPR harus benar-benar dipilih dalam pemilu yang jurdil. b. Perlu diadakan perubahan tata tertib DPR yang menghambat

kinerja DPR>

c. Memperdayakan MPR.

d. Perlu pemisahan jabatan ketua MPR dengan DPR.

3. Reformasi lembaga kepresidenan dan kabinet melalui hal-hal berikut; a. Menghapus kewenangan khusus presiden yang berbentuk

keputusan presiden dan instruksi presiden. b. Membatasi penggunaan hak prerogatif. c. Menyusun kode etik kepresidenan.

4. Pembaharuan kehidupan politik yaitu memperdayakan partai poltik untuk menegakan kedaultan rakyat, maka harus dikembangkan sistem multipartai yang demokratis tanpa intervensi pemerintah.

(16)

6. Birokrasi sipil mengarah pada terciptanya institusi birokrasi yang netral dan profesional yang tidak memihak.

7. Militer dan dwifungsi ABRI mengarah kepada mengurangi peran sosial politik secara bertahap sampai akhirnya hilang sama sekali, sehingga ABRI beroknsentrasi pada fungsi Hankam.

8. Sistem pemerintah daerah dengan sasaran memperdayakan otonomi daerah dengan asas desentralisasi.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Strategi nasional adalah seni dan ilmu mengembangkan dan menggunakan kekuatan nasional untuk mencapai tujuan yang ditentukan oleh politik nasional.

2. Orde lama mulai pada tanggal 5 Juli 1959 hingga 11 Maret 1966, saat diserahkannya Supersemar oleh Presiden kepada Letjen Soeharto. 3.

4. 5.

B. Saran

Demikian makalah yang kami buat, kami menyadari bahwa makalah kami belum bisa dianggap sebagai makalah yang sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat kami harapkan sebagai pelajaran kami dalam pembuatan makalah selanjutnya. Semoga makalah kami bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan pemakalh khususnya. Amin.

(17)

Anggota IKAPI. 1997. Evaluasi Pemilu Orde Baru. Bandung: Mizan.

Darmadi, Hamid. 2010. Pengantar Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung: Alfabeta.

Syafiie, Inu Kencana. 2011. Sistem Pemerintahan Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Syarbaini, Syahrial, dkk. 2006. Membangun Karakter dan Keprbadian melalui Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Wahidin, Samsul. 2010. Pokok-Pokok Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

http://kibilqueen.blogspot.com/2013/03/perjalanan-orde-lamaorde-baru-dan.html

http://sistempolitikerareformasi.blogspot.com/2012/11/sistem-politik-era-reformasi.html

(18)

1. Apa yang dimaksud politik praktis? (Zulfikar Boyke)

2. Contoh program politik yang bersifat revolusioner? (Duwi Ayu Arimbi)

Referensi

Dokumen terkait

Hukum adat merupakan nilai-nilai (kebenaran dan keadilan) yang hidup di tengah-tengah masyarakat.Bahwa dalam kaitan dengan pembangunan substansi hukum, UUD 1945 secara

fisik.Kepemimpinan nasional mampu mengakomodasi aspirasi yang hidup dalam masyarakat dengan tetap berpedoman pada Pancasila, UUD 1945, dan wawasan.. Komunikasi

Indonesia dan beberapa negara lainnya berkoordinasi dan membentuk sebuah kelompok yang tidak memihak salah satu dari kedua blok tersebut, kelompok tersebut dikenal dengan

Hukum adat merupakan nilai-nilai (kebenaran dan keadilan) yang hidup di tengah-tengah masyarakat.Bahwa dalam kaitan dengan pembangunan substansi hukum, UUD 1945 secara

Kata” politik”secara etimologis berasal dari bahasa Yunani politeia, yang akar katanya dadalah polis, berarti satuan kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri,

Selain itu, adzan bukan hanya ditetapkan hanya dengan mimpi sebagian shahabat saja, melainkan Rasululah SAW juga diperlihatkan praktek adzan ketika beliau diisra'kan ke

Kata” politik”secara etimologis berasal dari bahasa Yunani politeia, yang akar katanya dadalah polis, berarti satuan kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri,

Dasar Penyusunan Politik dan Strategi Nasional - Politik dan strategi nasional harus berlandaskan pada dasar pemikiran yang absah, legal, dan jelas - Memahami pokok-pokok pikiran yang