• Tidak ada hasil yang ditemukan

Derita anak korban prahara rumah tangga

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Derita anak korban prahara rumah tangga"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

“Sepenggal Kisah Tentang Derita Anak Korban Prahara Rumah Tangga, Juwita” Oleh : Hana Farah Dhiba

Kelas : XI MIA 9 No Urut : 10

“Sudah kukatakan padamu, ini semua kesalahanmu. Maka kau yang seharusnya bertanggung jawab atas semuanya. Urus saja sendiri selingkuhanmu, urus juga anakmu. Aku tak mau tau lagi,” ketusku pada suamiku.

Lelaki yang dulu kupuja seakan dia yang terbaik, dibelakangku bermain api dengan wanita lain. Tak kusangka, wanita itu teman karibku sendiri. Tega benar ia mengkhianatiku seperti ini, apa salahku padanya? Bahkan tiap bertemu aku selalu baik padanya, tiap aku punya barang baru selalu kubagi dengannya. Haruskah ku berbagi pula suamiku dengannya? Oh Tuhan.. begitu berat cobaan ini, aku hampir tak kuat lagi menanggungnya sendirian. “Harus bagaimana aku menyikapi ini semua?” batinku. Hari itu malam terasa panjang. Purnama seakan hanya titik hitam, kelam tak bertuan.

***

Sejak hari itu hidupku mulai tak karuan, makan tak enak, tidurpun tak nyenyak. Pekerjaanku dikantor semua terbengkalai. Juwita anakku tak lagi kuperhatikan. Entahlah seakan aku sudah bosan hidup. Rasanya hari demi hari terlalu berat kulewati. Hingga suatu hari baru kusadari ada yang aneh dirumahku. Ada yang tak lengkap ketika aku makan, ada yang kurang ketika aku dirumah, tapi aku mencoba menepis semuanya, mencoba berfikir bahwa dirumah tak ada apa-apa.

(2)

Malam harinya aku ribut lagi dengan suamiku perihal wanita selingkuhannya. Ia mengatakan bahwa wanita itu sedang hamil muda dan meminta dinikahi. Tentu, aku semakin naik darah dibuatnya.

“Kau tinggal pilih pa, kau tinggalkan perempuan jalang itu dan membangun keluarga ini kembali atau kau keluar dari rumah ini malam ini juga,” kataku penuh emosi.

“Tolonglah ma, kau jangan egois dulu kasihanilah wanita itu. Bukannya apa-apa tapi bagaimanapun juga ia tetap teman karibmu bukan?”elak suamiku.

“Sejak dia menggodamu hingga anak haram itu sekarang dikandungnya, ia bukan temanku lagi pa. Camkan itu!”

“Kau boleh benci aku ma, tapi jangan pula kau sebut anak itu anak haram. Bagaimanapun juga kan aku ayah biologisnya, jadi aku wajib bertanggung jawab.”

“Sudah cukup pa cukup!! Hentikan semua omonganmuu! Berani benar kau membela pelacur itu pa? Muak aku mendengarmu, namanya selingkuh tetaplah selingkuh. Tak kan pernah kumaafkan walau itu saudara sekandungku sekalipun. Pikirkan pula pa, aku ini masih istrimu tak berhak kau berkata seperti itu padaku. Sekarang keputusanku sudah bulat, pergi dengan wanita itu atau ceraikan aku sekarang juga,” tegasku.

Suamiku hanya diam seribu bahasa menanggapi ancamanku. Tak kusangka laki-laki itu beraninya membela selingkuhannya di depanku. Entahlah aku sadar atau tidak atas perkataanku tadi, tapi yang jelas aku sudah muak dengan mereka berdua. Lebih baik aku cerai darinya daripada harus berbagi suami, cuihh membayangkannya pun aku tak sudi.

Di tengah perseteruan kami tiba-tiba terdengar suara pintu depan diketuk.

”Siapa pula malam-malam begini datang bertamu? Tak tahukah disini sedang ada perang dunia ke 3? Awas saja jika hanya minta sumbangan, akan kutendang pantatnya,” umpatku.

Kulangkahkan kaki menuju ruang depan, kubuka daun pintu perlahan, lalu terlihatlah dengan jelas di depanku seorang laki-laki paruh baya berkacamata yang asing. Kupersilahkan dia masuk dan duduk diruang tamu..

(3)

“Oh maaf bu sebelumnya perkenalkan, saya Agus Pramono walikelas anak ibu, Juwita.”kenalnya padaku.

“Astaga maafkan saya pak, saya tidak begitu hafal dengan guru-guru Evita. Perkenalkan saya Ashanty, ibu kandung Juwita,”kataku memperkenalkan diri.

“Tak mengapa bu, saya maklum dengan hal itu. Begini bu Ashanty, maksud kedatangan saya kemari adalah untuk menanyakan perihal keberadaan anak ibu,Juwita. Sudah seminggu ini Juwita tak bersekolah tanpa keterangan yang jelas. Apakah ibu tau dimana Juwita sekarang bu?”tanyanya.

“Maaf pak, saya tidak tahu dimana Juwita. Sudah lama dia tak pulang ke rumah, menurut pembantu saya kira-kira juga sudah seminggu ini.” Begitu jawabku.

Saat terlibat percakapan itu tiba-tiba suamiku datang dan ikut berbicara

“Bapak ini siapa?”tanyanya.

“Selamat malam bapak, perkenalkan saya Agus Pramono wali kelas anak bapak,Juwita,”kenalnya sembari menjabat tangan suamiku.

“Oalah, saya Assyraf ayah Juwita. Kalau boleh tau ada apa bapak malam-malam begini datang kerumah kami?”

“Begini pak, anak bapak sudah seminggu ini tak masuk dan tanpa kabar.Saya kemari hendak menanyakan keberadaan anak bapak pada bapak dan ibu. Apakah bapak tahu dimana anak bapak berada?”

”Oh maaf pak, saya sudah dua minggu ini jarang pulang. Jadi saya kurang tahu bagaimana keadaan dan dimana keberadaaan Juwita. Malah, saya baru dengar berita ini dari bapak,”jelas suamiku pada guru itu.

(4)

“Kau ini anak sendiri tak diurus, selingkuhan diapeli tiap hari. Ayah macam apa hah?”.

“Hei ngaca dong, harusnya kau sebagai ibu yang mengurusnya. Tapi apa yang kau lakukan selama ini? Pekerjaan kantor selalu didahulukan, anak sendiri disepelekan. Lihat apa yang terjadi sekarang, ibu macam apa kau? Dengan enteng menyalahkan suami, dan tidak menyadari kesalahan sendiri,” cecarnya padaku.

Aku terisak dibuatnya, kalimat itu begitu menohok dihatiku. Tanpa babibu kutampar wajah nya itu sambil berkata

“Setelah ini kita harus cerai titik,” kataku mengakhiri pertengakaran malam itu.

Selepas pertengkaran itu aku pun masuk ke kamar dan menangisi semuanya. Tak kusangka buntut persoalan rumah tanggaku berimbas pula pada anakku. Sekarang aku tak bisa berfikir lagi apa yang harus kulakukan. Di satu sisi, aku masih frustasi dengan hamilnya selingkuhan suamiku. Tapi disisi yang lain aku mengkhawatirkan kondisi anakku, Juwita. Ditengah isak tangisku tiba-tiba kepalaku terasa amat pusing, dengan cepat selepas itu sekelilingku berubah gelap. Aku tak sadarkan diri.

***

“Arghhh, kepalaku sakit sekali. Hmm dimana aku ini?” kataku saat menyadari bahwa aku kini berada diruangan serba putih.

“Alhamdulillah akhirnya nyonya sudah sadar, berbaring dulu saja nyonya. Kata dokter belum boleh banyak gerak dulu, oh iya sekarang nyonya berada di rumah sakit. Sejak 3 hari yang lalu nyonya koma,” kata Surti menjelaskan padaku bahwa sekarang ini aku berada dirumah sakit dan aku sudah 3 hari koma.

“Apa mbok? Saya koma 3 hari? Sebenarnya apa yang terjadi dengan saya mbok?”kataku menyelidik.

“Nyonya jatuh pingsan dikamar 3 hari yang lalu seusai bertengkar dengan tuan. Lantas tuan membawa nyonya kerumah sakit karena khawatir dengan keadaan nyonya,”jelasnya.

(5)

“Bukan nyonya, bukan saya yang merawat nyonya selama nyonya koma. Tuan lah yang setiap hari berada disini menunggui nyonya,” jelas Surti padaku.

Aku terpaku dibuatnya, seakan tak percaya dengan apa yang Surti katakan tadi. Kemarin-kemarin aku selalu saja bertengkar dengan suamiku, aku mengatainya bahkan menamparnya. Tapi apa yang ia lakukan padaku sekarang? Bukannya marah ia malah dengan tulus mau merawat dan menemaniku selama koma. Oh tuhan, sungguh mulia hati suamiku sebenarnya. Maafkan aku pa, kataku dalam hati.

Ditengah perbincanganku dengan Surti, tiba-tiba saja pintu depan kamarku terbuka. Dari balik pintu suamiku datang membawa kantong plastik putih yang entah apa isinya. Matanya nampak berbinar mengetahui aku telah sadar dari koma, diletakkannya kantong plastik itu di meja dan datang menghampiriku.

“Alhamdulillah, akhirnya mama sadar juga. Aku sangat khawatir dengan keadaanmu ma, 3 hari ini aku tak bisa tidur memikirkanmu. Aku takut jikalau terjadi apa-apa denganmu, namun sekarang aku sudah lega mengetahui kau sudah sadar,”katanya penuh haru.

“Terimakasih sudah mau merawatku pa, maafkan aku yang tak bisa jadi ibu yang baik untuk anak kita dan juga selalu merepotkanmu,”sesalku kemudian. “aku sekarang sadar pa, semua ini bukan seutuhnya kesalahanmu. Aku pun bersalah dalam masalah ini, harusnya dulu aku menuruti keinginanmu untuk menjadikan aku ibu rumah tangga dan berhenti dari kantor. Jika saja aku tak egois dan mau mengalah, maka semuanya tak akan berkahir macam ini pa.”

“Sudahlah ma, nasi sudah menjadi bubur. Tak perlu lagi menyesali dan menghakimi diri sendiri, tak ada gunanya lagi. Sekarang yang terpenting mama sembuh dulu lalu kita cari Juwita bersama-sama,” ucap suamiku sembari mengelus kepalaku.

“Maafkan aku atas semua kesalahanku pa, maafkan pula kemarin aku sempat berkata kasar padamu. Sungguh aku sadar, aku khilaf kala itu. Mata hatiku tertutup semenjak mengetahui kau berselingkuh dengan temanku sendiri,” isakku.

“Sudah ma sudah, sekarang kau tak usah pikirkan apa-apa. Yang terpenting kau harus sembuh dulu. Setelah kau sembuh, kita cari Evita bersama-sama ya?”

(6)

Menurut diagnosa dokter aku mengalami syok hebat yang mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah di otakku, itulah mengapa aku koma selama 3 hari. Namun, syukur alhamdulilah sekarang aku sudah sadar. Seminggu setelah itu aku diperbolehkan pulang oleh dokter namun dengan syarat tak boleh melakukan pekerjaan yang berat dahulu. Aku pun menyanggupinya.

Sampai dirumah suamiku mulai menjelaskan padaku mengenai berita terkini Juwita, ternyata ia sekarang ada di Moskow. Dia menjadi korban perdagangan anak dan penjualan obat-obatan terlarang. Sungguh tak kusangka begitu berat masalah yang menimpa anakku, di usianya yang masih belia ia tak seharusnya mendapat masalah seberat itu. Aku makin terpuruk mendengar kabar itu. Ya Tuhan, jagalah selalu Juwitaku dimanapun ia berada, aku menyayanginya lebih dari aku menyayangi diriku sendiri.

***

3 bulan setelah Juwita ditemukan, ia pulang ke Indonesia. Namun sayangnya, ia harus direhabilitasi terlebih dahulu di Pusat Rehabilitasi Narkotika dan Obat terlarang milik negara yang ada di Jakarta. Aku harus menahan rinduku lagi padanya, ah tak sabar aku menunggu kepulangan anakku Juwita, sudah rindu setengah mati aku padanya.

***

Akhirnya masa rehabilitasi usai, Juwita boleh pulang ke Ponorogo. Ketika itu, aku menjemputnya bersama Surti di Bandara Internasional Juanda Surabaya. Oh iya sampai terlupa, kisahku dan suamiku sudah berakhir semenjak berita kepulangan Juwita. Aku memutuskan bercerai dengannya, aku meminta cerai bukan karena aku membenci suamiku, tapi karna tak sanggup untuk dimadu dan lebih-lebih aku merasa amat kasihan dengan anak “selingkuhannya”. Tentu anak itu lebih membutuhkan kasih sayang dari ayah biologisnya, ia terlalu kecil untuk dipisahkan dengan ayahnya. Biarlah aku dan Juwita yang mengalami hal semacam ini, jangan sampai anak itu ikut merasakan betapa pahitnya akibat prahara rumah tangga. Maka kuputuskan bercerai dengan suamiku, dan hidup bahagia bersama Juwita anak semata wayangku.

(7)

“Iya ma, tak mengapa. Harusnya aku yang meminta maaf pada mama karena sudah mengecewakan mama. Maaf ma, aku tak bisa memilih pertemanan hingga jatuh dalam lubang kesesatan ini,” jelas Juwita terbata-bata.

“Juwita tidak salah, mama yang salah. Sudah sini jangan menangis terus, nanti tidak cantik lagi lo kalo menangis. Anak mama kan periang dan kuat,”jelasku sembari memeluknya.

“Juwita sayang mama, kita hidup berdua selamanya ya ma? Juwita janji akan selalu ada disamping mama”

“Mama juga sangat sayang dengan Juwita. Iya nak, kita hidup berdua dengan bahagia selamanya.”

Setelah itu, kami hidup berdua dengan bahagia. Hari-hari kulewati dengan penuh kebahagiaan dengan anakku, Juwita. Sementara itu, mantan suamiku sudah menikah dengan istri barunya yang dulu menjadi selingkuhannya. Mereka dikaruniai seorang putra, bernama Aldiansyah. Keluarga kecilku yang lengkap dulu sudah musnah, tapi kebahagiaan kami tidak demikian. Dengan saling mengikhlaskan apa yang telah terjadi, dan mau mengalah akhirnya kami bahagia lagi. Bahkan lebih bahagia dari sebelumnya.

Sayangnya tuhan berkata lain. Kala itu tepat 2 tahun masa indah kebersamaanku dan Juwita setelah ia bebas, masalah maha Dahsyat menimpa keluargaku kembali. Aku divonis mengidap kanker otak stadium akhir. Dokter mengatakan bahwa harapan hidupku sudah tidak banyak. Aku sangat terpukul mendengar kabar ini, pun dengan Juwita, ia lebih terpukul lagi. Namun, aku menyadari bahwa menyesali nasib tak akan mampu mengubah apapun. Aku mencoba bangkit di sisa hidupku dengan menikmatinya bersama Juwita. Menjaganya, menyekolahkannya dan terus menyayangi Juwita adalah salah satu caraku. Hingga hari itupun tiba, saat aku sudah tak lagi bisa merasakan denyut nadiku sendiri. Aku menghembuskan nafas terakhir dipangkuan Juwita dengan cara yang manis. Semanis senyuman Juwita, permata berhargaku.

(8)

Pesan untuk Evita : Terimakasih Juwita sayang, berkatmu hidup mama menjadi lebih indah. Maaf mama bukanlah mama yang baik untukmu. Tapi ingatlah nak, bahwa kau harus tetap melanjutkan hidupmu dan berbuat baik pada semua orang. Sambung silaturahmi mu pada papa dan mama barumu, sayangilah mereka seperti kita saling menyanyangi. Doakan mama selalu nak. Mama menyayangimu. Selamat tinggal matahari mama yang tercantik, Juwita.

Referensi

Dokumen terkait

Autoimunitas adalah respons imun terhadap antigen jaringan sendiri yang disebabkan kegagalan mekanisme normal yang berperan untuk mempertahankan self tolerance sel B, sel T

Menurut pandangan teologia manusia pada hakekatnya diciptakan oleh Sang Kuasa dengan kemampuan yang baik. Manusia mampu membentuk berbagai struktur dunia yang diperlukan

“Sekarang Sistem Manajemen Kinerja kita, beralih menjadi berdasarkan kinerja (hasil kerja) individu sesuai sasaran kerja individu yang selaras dengan sasaran kerja

Menurut pasal 2 ayat (1) Undang-undang Kepailitan dan PKPU di atas, supaya pasal 1131 dan 1132 KUHP berlaku sebagai jaminan pelunasan utang Kreditur, maka pernyataan pailit

Jika kuitansi sudah langsung diserahkan sekalian dengan invoice dan faktur pajak, maka dari bagian keuangan mengeluarkan tanda terima atas penye rahan kwitansi dan

Eksperimen mengenai kekuatan pelet maupun briket bijih besi berbinder organik dan inorganik telah banyak dilakukan, namun pengaruh binder terhadap sifat metalurgis

Radon adalah unsur Gas Mulia yang paling stabil karena jari-jari atomnya paling besar.. Argon adalah unsur Gas Mulia yang paling mudah bereaksi dengan

Pelaku usaha perikanan di Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara teriri dari penangkapan ikan dan pembudidaya rumput