• Tidak ada hasil yang ditemukan

Refleksi Gerakan Terorisme dan Penanggul

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Refleksi Gerakan Terorisme dan Penanggul"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

A. PENDAHULUAN 1. Latar belakang Masalah

Karya sastra merupakan lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium. Karya sastra adalah refleksi kehidupan sosial, baik yang terjadi di lingkungan sekitar maupun di luar pengarang. (Sapardi Djoko Damono, 1978:1). Realitas kehidupan yang menarik, ramai dibicarakan orang, dan menyentuh sifat kemanusiaan, menjadi tema utama pengarang di dalam karya sastranya. Di dunia sekarang ini, terutama saat terjadinya penghancuran gedung WTC dan Pentagon di Amerika Serikat, isu terorisme mencuat begitu kuat ke permukaan. Pemboman atas menara kembar World Trade Center di New York dan Pentagon pada tanggal 11 September 2001, dilakukan oleh sebuah jaringan terorisme transnasional Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden. (Brigitte L. Nacos, 2003: 24).

Secara eksplisit, penyerangan tersebut merupakan bentuk penolakan atas modernitas, sekulerisasi, dan kapitalisme. Di dalam tradisi filsafat, modernitas dan sekulerisasi adalah bentuk “Konsep Pencerahan”. Pencerahan tidak hanya berarti periode tertentu yang secara historis bertepatan dengan abad ke-18, melainkan juga afirmasi atas demokrasi dan pemisahan kekuasaan politik dari kepercayaan keagamaan yang dijadikan fokus oleh Revolusi Perancis dan juga Revolusi Amerika Serikat (Hendropriyono, 2009: 7)

Misi itulah yang dijalankan oleh kelompok Islam radikal, yaitu untuk meruntuhkan sistem demokrasi yang sudah terbangun itu. Menurut mereka, sistem yang laik digunakan untuk mengatur negara dan segala aspek kehidupan hanya sistem Islam. Langkah formalisasi Islam dalam tata negara harus terbangun mengingat perintah Allah di dalam al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 2081 yang menurut penafsiran mereka merupakan perintah untuk menjadikan Islam sebagai sistem yang formal dalam segala lini kehidupan.

Indonesia telah diguncang oleh rentetan peristiwa bom bunuh diri diantaranya bom Bali I (2002), JW Marriot (2003), Kedubes Australia (2004), Bom Bali II (2005), dan bom Ritz Carlton (2006). Pemerintah Indonesia telah membentuk satuan khusus

(2)

penanggulangan terorisme yang disebut Densus 88. Hard power ini berhasil menangkap dan mengeksekusi para teroris, dari mulai kelas teri hingga kelas kakap. Namun, banyaknya pelaku aksi terorisme yang ditangkap tidak menyurutkan aksi-aksi terornya. Pemboman kerap terjadi bahkan muncul aksi baru yaitu perampokan salah satu bank besar di Indonesia pada tahun 2010. Tindakan yang diambil pemerintah dengan menembak mati para tersangka kasus terorisme dalam kenyataannya tidak membuat ciut kelompok Islam radikal. Bahkan memicu mereka untuk melakukan aksi balas dendam sebagaimana yang kita saksikan akhir-akhir ini.

Oleh karena itu, diperlukan soft power yang bisa menyentuh secara langsung jiwa dan hati kelompok radikal tersebut. Langkah tersebut juga marak dilakukan atas dukungan pemerintah oleh para ulama, psikolog, dan termasuk para sastrawan sendiri yang peduli terhadap isu kemanusiaan. Para sastrawan menuangkan segala isi perasaan, pemikiran, dan pandangan mereka tentang isu terorisme melalui karya sastra. Mereka ingin agar masyarakat bisa mengerti dan waspada terhadap aksi-aksi terorisme yang mengatasnamakan agama. Genre puisi, novel, cerpen, dan genre-genre sastra lainnya serempak mengangkat isu terorisme sebagai bentuk perlawanan dan pemberi pemahaman kepada masyarakat tentang bahaya terorisme.

Di Indonesia, gerakan tersebut terbilang cukup aktif. Penulis menemukan enam buah novel yang mengangkat isu terorisme dan sebuah antologi puisi. Semuanya sepakat bahwa aksi terorisme adalah sebuah kejahatan yang mesti dihentikan. Novel-novel tersebut adalah Demi Allah Aku Jadi Teroris karya Damien Dematra (2009), Pengantin Bom karya Sidik Jatmika (2009), Naksir Anak Teroris karya Ditta Arieska (2009),

Pengantin Teroris karya Abu Ezza (2010), Pedang Rasul karya Jusuf A.N. (2013), dan

Aku Istri Teroris karya Ebidah El Khaliqy (2014).

(3)

Anwar Putra Bayu (Palembang), Isbedy Stiawan ZS (Lampung), Alex R. Nainggolan (Jakarta), Abdullah Wong (Jawa Tengah), Beni Setia (Jawa Timur), Rezqi Muhammad AlFajar Atmanegara (Kalsel), Arther Panther Olii( Manado), Usman D. Ganggang (NTB), A. Nabil Wibisana (NTT), dan Sang Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri.2

Jika kita perhatikan tahun terbit novel-novel di atas, Damien Dematra, Sidik Jatmika, dan Ditta Arieska berada di garis depan munculnya novel terorisme. Disusul kemudian oleh Abu Ezza, Jusuf A.N. dan Ebidah El Khaliqy. Dari tahun 2009 hingga sekarang ini, sudah terlihat semangat dan bukti nyata novelis Indonesia dalam misi pemberantasan aksi terorisme melalui karya sastra. Jika dilihat dengan pendekatan

Geistesgeschichte yang mendasarkan teorinya pada pada asumsi bahwa setiap periode

memiliki semangat zaman (time spirit) yang khas (Wellek dan Warren, 1989: 147), maka pada rentang waktu yang cukup panjang tersebut, para pengarang memiliki semangat zaman yang sama dan khas. Penulis banyak menemukan banyak persamaan dengan berbagai modifikasinya terutama di dalam tiga novel: Demi Allah Aku Jadi Teroris,

Pengantin Teroris, dan Pengantin Bom. Ketiga novel tersebut menceritakan salah satu bentuk aksi terorisme yaitu aksi bom bunuh diri.

Penelitian ini hanya mengambil salah satu dari ketiga novel di atas, yaitu novel

Demi Allah Aku Jadi Teroris (Gramedia, 2009) karya Damien Dematra. Novel ini memiliki kualitas yang tinggi dalam penceritaan bentuk terorisme di Indonesia. Dalam penelitian ini, penulis meneliti mekanisme, motif, dan tipologi gerakan terorisme serta cara penanggulangannya yang terefleksikan di dalam novel tersebut.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan dipecahkan di dalam penelitian ini adalah

a. Bagaimana mekanisme, motif, dan tipologi dari gerakan terorisme di kalangan mahasiswa yang terkandung di dalam novel Demi Allah Aku Jadi Teroris?

(4)

b. Bagaimana mekanisme penanggulangan aksi terorisme di dalam novel Demi Allah Aku Jadi Teroris?

3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini memiliki dua aspek capaian, yaitu aspek teoritis dan praktis. Dalam aspek teoritis, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap salah satu bentuk aksi terorisme, yaitu bom bunuh diri, khususnya di kalangan mahasiswa dan penanganannya. Dengan terungkapnya hal ini maka akan memberi gambaran bagaimana virus terorisme dapat menjangkiti kalangan mahasiswa dan cara menanggulanginya.

Dalam aspek praktis, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan apresiasi penulis terhadap karya sastra. Apresiasi ini dapat menjadi sarana untuk mengangkat prospek penulis novel, terutama penulis yang mengangkat isu terorisme di dalam novelnya. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi gambaran masalah dan solusi yang diberikan dalam usaha penanggulangan aksi-aksi terorisme di Indonesia.

4. Kerangka Teori

Untuk menjawab permasalahan yang telah dirumuskan di atas, maka perlu teori yang relevan. Untuk menemukan motif dan tipologi serta implikasi aksi terorisme yang terdapat di dalam novel Demi Allah Aku Jadi Teroris, maka cara yang paling tepat adalah dengan menggunakan telaah struktur intrinsik novel melalui teori strukturalisme. Telaah struktur sebuah karya sastra merupakan tahap awal untuk mendapatkan pemahaman yang optimal tentang sebuah karya sastra yang diteliti. Inilah yang ditekankan di dalam pendekatan strukturalisme sebagai sebuah orientasi objektif (Pradopo, 1995: 141 dan Hawkes, 1977: 26-29).

(5)

Menurut Levi-Strauss, struktur adalah model yang dihasilkan oleh para antropolog untuk memahami dan menjelaskan gejala kebudayaan yang dianalisisnya. Ada dua macam struktur, struktur luar dan struktur dalam. Struktur luar merupakan relasi antar unsur yang tampak dan dibangun atas dasar ciri empiris dari relasi-relasi tersebut. Sedangkan struktur dalam merupakan relasi antar unsur yang tidak tampak pada sisi empiris dan fenomena yang dipelajari. Struktur dalam adalah model untuk memahami fenomena yang diteliti (Ahimsa-Putra, 2001:61). Konsep inilah yang menjadi payung teori penelitian ini. Penulis mengkaji fenomena aksi terorisme dan penanggulangannya yang terdapat di dalam novel Demi Allah Aku Jadi Teroris.

5. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan tekstual-objektif. Langkah-langkah yang dilalui dalam proses penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Tahap pengumpulan data. Pada tahapan ini dilakukan studi kepustakaan, baik terkait objek penelitian melalui proses close reading maupun buku-buku penunjang lainnya.

b. Tahap pengolahan data. Pada tahapan ini dilakukan proses analisis atas data yang terkumpul.

c. Tahap penyajian data yang terdiri atas hasil analisis data yang disajikan dengan format tertentu.

B. REFLEKSI GERAKAN TERORISME DI DALAM NOVEL DEMI ALLAH AKU JADI TERORIS DAN PENANGGULANGANNYA

1. Sinopsis Novel

(6)

Setelah terdoktrin oleh ajaran-ajaran radikal, ia kemudian mendapatkan sebuah mandat untuk menjalankan tugas suci demi mendapatkan surga. Ia berencana meledakkan sebuah kafe yang bernama Kafe Bistro Americana. Sebelum tiba masa eksekusi misi bom bunuh diri tersebut, ia berkenalan dan sering bertemu dengan Prakasa. Ia adalah seorang anggota Intel yang sedang menyelidiki Kemala terkait keterlibatannya dalam aksi terorisme. Dari pertemuan itu, tanpa diduga benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka berdua,

Damien mengakhiri ceritanya dengan pertemuan antara dua insan tersebut yang saling jatuh cinta dalam diam itu di sebuah kafe tepat saat pelaksanaan misi bom bunuh diri. Prakasa berhasil menghentikan Kemala yang saat itu memegang remote control

dengan cara menembak lengannya. Kemala kemudian masuk penjara dan taubat setelah menjalani terapi deradikalisasi selama tinggal di dalam sel tahanan. Selepas bebas dari penjara, Kemala dan Prakasa akhirnya menikah dan dikarunia seorang anak.

2. Ruang Lingkup Terorisme di Indonesia

Kata terorisme secara etimologis berasal dari bahasa Latin, terror. Kata tersebut merupakan bentuk kata benda terrere yang artinya membuat takut dan mencekam. Kata tersebut kemudian diipakai dalam bahasa Inggris dan terbentuklah istilah terrorism dan

terrorist. Terorisme difahami sebagai ancaman atau tindakan kekerasan dalam mencapai tujuan-tujuan politik, agama, dan lainnya dengan cara intimidasi, menimbulkan ketakutan, dan sebagainya yang diarahkan kepada penduduk atau warga negara tertentu. (Chomsky dalam Aprinus dkk, .t.t: 1). Aksi terorisme dilakukan secara sistematis dan rapi sebagaimana dikatakan oleh Paul Wilkinson saat membedakan antara kata teror dan

terorisme. (Marius H. Livingston, 1978:402)

(7)

meningkat secara kualitatif dan kuantitatif. Aksi peledakan bom di Indonesia berangsur-angsur dapat dikendalikan polisi dan akhirnya antara 2005-2009 Indonesia bisa dikatakan relatif bebas bom. (Sarwono, 2012: 76)

Aksi tersebut dilakukan oleh mereka yang sudah siap mengorbankan nyawanya demi cita-cita jihad sehingga membuatnya masuk surga. Keyakinan tersebut tidak muncul begitu saja namun telah melalui beberapa proses doktrinasi yang sistematis. Sarlito Wirawan Sarwono, seorang psikolog yang khusus menangani terorisme di Indonesia menegaskan bahwa ada beberapa poin penting yang ditanamkan ke dalam pikiran korban sebagai calon teroris saat proses doktrinasi, antara lain:

a. Rasa kebencian terhadap negara dan pemerintah. Pemerintah dianggap sebagai

thaghut (setan), karena tidak menjadikan al-Qur’an sebagai dasarnya.

b. Kecintaan kepada sesama anggota kelompoknya lebih besar dan diutamakan daripada kecintaannya terhadap keluarga.

c. Umat Islam di luar kelompoknya dianggap kafir. (Sarlito Wirawan Sarwono, 2012: 120)

Untuk mengatasi isu terorisme ini, pemerintah RI telah melakukan langkah-langkah strategis di antaranya adalah pembentukan Densus 88 di tubuh POLRI, revitalisasi fungsi intelejen, pengaktifan Koter (Komando Teritorial) di tubuh TNI, dan program deradikalisasi untuk menetralisir pemikiran radikal para teroris. (A.M. Fatwa, 2006: 127-134 dan Sarwono, 2012: 132).

3. Mekanisme, Motif, dan Tipologi Gerakan Terorisme dalam Novel Demi Allah Aku Jadi Teroris

(8)

bagian ini, tokoh yang akan menjadi pokok pembicaraan dalam hubungannya dengan latar belakang tokoh tersebut menjadi seorang teroris adalah Kemala. Sedangkan Prakasa akan menjadi topik pembicaraan pada bagian penanggulangan aksi terorisme.

Awal mula Kemala masuk ke dalam kelompok Islam radikal adalah saat ia mendapatkan bimbingan keagamaan di kampusnya. Isu utama yang membuatnya tercuci otak adalah isu ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di negara Republik Indonesia. Ketimpangan tersebut berupa ketimpangan dalam bidang ekonomi, sosial, pendidikan, agama, dan bidang-bidang lainnya. Penyebab utama dari ketimpangan-ketimpangan tersebut adalah sistem kenegaraan yang tidak sesuai dengan hukum Allah. Sistem demokrasi menurut mereka adalah sistem buatan manusia, bukan sistem yang berasal dari Allah. Sistem yang berasal dari Allah hanya berupa Syariat Islam. Allah telah memerintahkan hamba-Nya untuk tunduk dan taat hanya kepada Syariat Islam. Oleh karena itu, ketaatan kepada hukum selain hukum Allah disebut kafir atau musyrik. Solusi yang ditawarkan oleh para pembimbing keagamaan mereka bertiga adalah hiijrah dari sistem demokrasi menuju sistem Syariat Islam.

Itulah dorongan utama Kemala masuk ke dalam kelompok Islam radikal dan membuatnya menjadi seorang teroris. Sebagai seorang mahasiswi kedokteran tentu Kemala termasuk orang yang memiliki kecerdasan yang tinggi. Namun, saat doktrin agama merasukinya, kecerdasan tersebut seringkali tidak berguna untuk menyaringnya. Kemala telah melewati proses doktrinasi panjang sejak ia bergabung ke dalam kelompok pengajian yang dipimpin oleh Ustaz Amir hingga ia menjadi seorang pelaku bom bunuh diri. Proses doktrinasi tersebut telihat pada obrolan antara dia bersama jamaah wanita lainnya dari berbagai latar belakang dengan Ustaz Amir:

“...dalam negara ini telah terjadi banyak kemasiatan. Kalian dapat melihatnya di koran-koran dan majalah. Bayi-bayi dibuang, terjadi banyak pembunuhan, penculikan, penganiayaan, mutilasi. Nah, mengapa semua ini terjadi?! Karena kita semua tidak hidup dalam sebuah negara yang melandaskan diri pada hukum Allah. Apa itu Hukum Allah?”

Purbani berbisik pelan, “Al-Qur’an” “Tepat Sekali...” (halaman 77)

(9)

...

“Tidak, hal ini bukan sebuah kemustahilan. Tapi bagaimana caranya?...” (halaman 78)

“...yang perlu kalian lakukan adalah melakukan hijrah ke dalam sebuah negara yang menerapkan hukum Islam secara penuh” (halaman 88)

Doktrinasi di atas sangat mudah diterima oleh Kemala yang sedang mengalami goncangan batin. Ia menginginkan ketenangan dan kenyamanan dalam hidup yang tak pernah ia rasakan. Menurutnya, ketenangan dan kenyamanan tersebut hanya dapat direalisasikan jika hukum Allah diformalisasikan ke dalam hukum negara. Hidup di bawah naungan hukum Allah dapat berujung kenikmatan surga di akhirat kelak. Berikut kutipannya:

“...Saat membuka mata dan menatap kamarnya yang nyaman dan mungil, ia terngiang-ngiang pertemuannya semalan tentang sebuah kehidupan yang ideal di surga...alangkah nikmatnya hidup di surga sana. Tidak ada peperangan, tidak ada tangisan. Seperti kata Ustaz Amir. Indahnya kalau tidak terjadi lagi kemaksiatan di bumi ini, dan semuanya hidup rukun di bawah satu hukum. Hukum Allah. Al-Qur’an” (halaman 78)

Kemala menerima tawaran dari Ustaz Amir berupa jalan menuju surga yang penuh dengan kenyamanan dan keindahan. Kemala yang sejak kecil mengalami rasa sepi karena ditinggal mati oleh ibunya dan tidak pernah mendapatkan kehangatan kasih sayang sang ayah, mengalami tekanan psikologis yang terbawa hingga ia berusia dewasa. Keindahan surga begitu menggodanya sehingga ia ingin segera memasukinya (halaman 79).

Ditambah lagi tayangan-tayangan yang sering ia saksikan yaitu video-video penganiayaan dan penindasan umat Islam di Irak dan Afganistan (halaman 145). Emosinya semakin melonjak tinggi hingga ia ingin segera membunuh orang-orang kafir. Penyakit terorisme yang menjangkiti Kemala kian akut sebagaimana tergambar di dalam kutipan berikut:

(10)

“Saatnya kaum muslim didengarkan!” seorang wanita berteriak, menatap ke arah yang lainnya. Para wanita itu menyadari tatapan mata sang ketua dan mulai bersorak dengan yel-yel yang sama, “saudah waktunya kita melwan orang kafir!” mereka bersorak kembali, sekali ini lebih keras.

“Kemala?’ sang ustaz menatap wajah murid barunya, “Bagaimana menurut anti?” “hal ini patut ditangisi.”

...

“Menurut Ustaz, bagaimana saya sebaiknya bersikap?”

Sang ustaz melantunkan penjelasannya, yang berarti, “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) pada hari kemudian”

Kemala tidak berkata apa-apa lagi. Ia tahu segala perkara yang dilihatnya menimbulkan rasa amarah dalam dadanya. Namun, lebih dari itu, ia merasakan kesedihan yang amat dalam terhadap berbagai peperangan, terutama terhadap para korban”

...

Saat film-film itu diputar kembali dan kesakitan itu dieksploitasi dalam satu sisi, Kemala pun akhirnya bangkit berdiri, “Kita harus memerangi ketidakadilan ini. Keberadaan pasukan sekutu telah memperparah keadaan saudara-saudara kita!” Sang ustaz berkata, “bunuhlah orag-orang musyrikin di mana saja mereka kamu jumapi mereka..!!!”. Mereka yang lain berteriak serentak, “Kita harus memerangi para kafir! Kita adalah pejuang! Kita hrus memerangi mereka!” (halaman 145-148)

Kutipan di atas jelas menggambarkan penanaman aksi-aksi radikalisme dan terorisme yang sangat cerdas dan strategis. Isu-isu kemanusiaan begitu mudah dijadikan alat propaganda karena menyentuh sisi paling sensitif di dalam jiwa manusia. Oleh karena itu, saat sisi sensitif tersebut disentuh lalu dibawa ke ranah agama atau ideologi, maka perasaan dan keinginan untuk membalas perlakuan keji tersebut dapat muncul tak terkendali hingga pelakunya tidak lagi peduli pada nyawanya sendiri demi melakukan jihad. Kemala selepas menonton film-film propaganda tersebut menjadi sadar untuk melakukan aksi pembalasan, melakukan jihad dan pengorbanan harta dan jiwa. (halaman 147)

(11)

Ustaz Zaki melihat sisi lain dari diri Kemala sebagai seorang wanita yang lembut, namun di balik itu, Kemala memiliki sisi hitam, gelap dan keras. Ustaz Ziki berhasil menempa sisi lain Kemala tersebut dan meyakinkannya bahwa sisi gelap itu adalah kepribadian sebenarnya dari dirinya (Halaman 150-151). Akhirnya, Kemala bersedia menyamar menjadi wanita penghibur di kafe tersebut dan berganti nama menjadi Kassandra. Berikut ini pernyataan Kemala saat ditawari aksi bom bunuh diri di Kafe Bistro Americana:

Anti akan diberi tugas, Kemala. Apa Anti sudah siap?” Ustaz Ziki menatap Kemala. “Kiai, ada satu ajaran yang tidak pernah saya lupakan. Saya telah merenungkannya berulang-ulang dan saya meyakininya.”

“Apa itu?” Sang Ustaz bertanya-tanya dalam hatinya. “Mati Syahid. Saya siap dengan segala konsekuensinya.”

Ustaz Ziki menatap Kemala dengan pandangan terkejut. Dulu ia adalah wanita yang sangat berbeda. “Dulu Anti saya harus ajari, bagaimana menjadi pejuang, dan sekarang anti yang sudah cepat-cepat ingin berperang.” (halaman 152-153)

Selanjutnya, menjelang aksi bom bunuh diri dilancarkan, Kemala sudah bersiap dengan bom di dalam perutnya. Para dokter yang terlibat dalam aksi tersebut menanamkan bom berdaya ledak tinggi di dalam perut Kemala. Meski benih cinta telah tumbuh di dalam hatinya yang membuat dirinya ragu atas keyakinannya, ia lebih memilih bersegera menemui kenikmatan menjadi seorang syahid. (halaman 194)

4. Penanggulangan Aksi Terorisme dalam Novel Demi Allah Aku Jadi Teroris

Penanggulangan aksi terorisme telah diupayakan oleh pemerintah RI dengan dua jenis pendekatan. Pertama, upaya penegakkan hukum dan, kedua, program deradikalisasi. Penegakkan hukum mesti dilakukan atas tersangka aksi terorisme sesuai dengan aturan yang berlaku. Penangkapan para teroris gencar dilakukan oleh tim khusus penanggulangan terorisme yang disebut Densus 88. Tim tersebut menyerbu tempat-tempat persembunyian para teroris dan menangkap mereka bahkan ada yang langsung ditembak di tempat karena melakukan perlawanan.

(12)

ia mengurungkan niatnya untuk melancarkan aksinya maupun saat mereka sudah ditahan didala penjara dengan menjalani terapi dari para psikolog dan ulama.

Di dalam novel ini, aksi penanggulangan terorisme dengan pendekatan penegakkan hukum dan deradikalisasi tergambarkan dalam aksi tokoh Prakasa yang menjadi anggota divisi khusus anti teror. Ia seorang lulusan akademi militer dan sempat mengenyam pendidikan militer di Amerika Serikat selama beberapa tahun. (halaman 127)

Dalam aksinya, ia mengawasi pergerakan para tertuduh terorisme yang dianggap akan melancarkan aksinya. Lalu satu per satu para teroris dapat ditangkap dan sebagian lagi dilumpuhkan dengan timah panas. Aksi tersulit ia hadapi saat mendekati Kemala yang secara tidak sadar telah membuat Prakasa kehilangan fokusnya. Kehilangan fokus tersebut disebabkan oleh benih-benih cinta yang tumbuh di dalam hatinya. Prakasa berusaha menyadarkan Kemala dengan cara menyentuh nurani kemanusiaannya yang suka menolong dan peduli terhadap orang lemah dan terzalimi. Ia berpura-pura menjadi korban pemukulan yang dilakukan oleh para preman di depan Kemala. Hati Kemala pun terketuk untuk menolong Prakasa, namun tidak bertahan lama setelah ia teringat kembali bahwa hatinya hanya milik Allah. (halaman 187-188)

Langkah di atas, yaitu penanaman rasa cinta yang alami ke dalam hati seorang teroris memiliki pengaruh yang sangat besar sehingga membuatnya berfikir kembali untuk merusak rasa kemanusiaannya. Keyakinannya untuk menjadi seorang yang mulia di sisi Allah dengan cara membunuh orang-orang yang dianggapnya musuh Allah padahal bukan, sedikit demi sedikit menjadi luluh. Semakin kuat intensitas dan frekuensi rasa cinta merasuki hatinya, maka semakin melemah keinginannya untuk melakukan aksi-aksi terorisme. Kemala, setelah gagal melakukan aksi bom bunuh dirinya karena tertembak lengannya oleh Prakasa, mengalami penurunan yang signifikan dalam hal keyakinannya yang salah tentang jihad. Berikut kutipan pernyataan persuasif Prakasa kepada Kemala sesaat setelah dirinya menembak jatuh kekasihnya:

(13)

“Aku akan merebutnya kembali untukmu. Percayalah padaku. Tidak ada kata terlambat untuk itu. Setiap manusia dapat berubah. Aku berubah, dan aku yakin, kamu juga dapat berubah. Kemala, aku mohon padamu’ (halaman 205)

Sisi kemanusiaan Kemala semakin memperlihatkan kemenangannya dan mengalahkan sisi gelapnya sebagai seorang teroris pada saat ia siuman pasca operasi pengangkatan bom dari dalam perutnya. Prakasa memperlihatkan kepadanya liputan eksklusif penyerbuan tim anti teror di camp tempatnya berlatih dan direkrut menjadi seorang “pengantin bom.” Jiwanya semakin terguncang ketika Prakasa menusuknya dengan kata-kata yang tajam sebelum keluar meninggalkannya:

“Apapun yang terjadi di sekitar kita, bukan hak kita untuk mencabut nyawa manusia. Kita tidak memiliki hak untuk menggantikan posisi Tuhan, menjadi hakim sekaligus eksekutor hidup dan mati sesama. Siapapun dia. Tidak pernah ada yang melantik manusia untuk mendapatkan jabatan itu.” (halaman 209)

Kutipan di atas menggambarkan rasa cinta Prakasa sebagai representasi dari tim anti teror yang berusaha memulihkan kembali sisi kemanusiaan Kemala sebagai representasi dari para teroris, yang tertutupi oleh sisi gelap dan kerasnya. Cinta sesama manusia terutama dari anggota keluarga teroris dapat menjadi salah satu solusi permasalahan terorisme di Indonesia khususnya.

Selain deradikalisasi dengan cara memulihkan kembali sisi kemanusiaan para tersangka kasus terorisme, juga harus meluruskan pemahamannya yang salah tentang beberapa ajaran Islam. Ada tiga hal yang seringkali disalahfahami oleh para teroris sehingga mesti diluruskan: pertama, interpretasi ayat-ayat yang berhubungan dengan perang. Kedua, pemaknaan kata jihad. Ketiga, hakikat agama Islam.

(14)

Anti hampir menambah penderitaan umat manusia, Kemala. Allah tidak perlu dibela. Ia terlalu besar dan terlalu kuat untuk kita bela. Dia adalah Allah kita. Pencipta seluruh alam semesta ini”

“Tapi, bukankah dalam Surah Muhammad dikatakan bahwa jika kamu menolong Allah, maka Allah akan menolong kamu?”

Ayat itu belum sempurna. Kelanjutan ayat itu berbunyi...dan Ia mengukuhkan kaki-kaki kamu.”

“Maksud Ustaz?”

“Itu adalah ayat perang. Artinya kalau Anti di medan perang pertempuran dan anti

amu membela kaum muslimin, maka Allah akan menguatkan kaki-kaki anti agar tidak mundur dari medan pertempuran. Anti tahu tidak, bahwa Surah Muhammad memiliki nama lain. Surah Qital yang artinya surat perang?”

“Bukankah kita sedang dalam masa peperangan dengan kaum kafir di mana-mana?” “Apa itu kaum kafir menurut anti?

“Orang kafir, ya, orang-orang yang membunuh kaum muslimin, terutama Amerika.” “Praktek Nabi Muhammad tidak membunuh orang kafir di mana-mana seperti penjelasan dalam Surah Muhammad menghadapi musuh dalam medan perang. Mari kita pikir kembali, sudah cocokkah praktek anti dengan praktek Nabi Muhammad?” (halaman 211-212)

Pada percakapan di atas, jelas terdapat kesalahan Kemala dalam menempatkan ayat yang seharusnya dipraktekkan pada saat perang dan di medan perang. Inilah kesalahan utama yang diyakini sebagai sebuah kebenaran oleh para pelaku aksi terorisme. Kesalahan selanjutnya adalah pemahaman mereka tentang makna jihad. Jihad difahami oleh mereka sebagai upaya membunuh orang-orang yang tidak seagama dan sealiran dengan mereka. Padahal jihad yang sesungguhnya adalah melawan hawa nafsu sebagaimana Nabi Muhammad sabdakan. Berikut kutipan pernyataan Ustaz Akil tentang hakikat jihad:

“Jihad yang sesungguhnya adalah melawan hawa nafsu sebagaimana Nabi Muhammad katakan “kita kembali dari jihad kecil menuju jihad yang besar.” Kala itu perang baru selesai. Artinya, menghadapi diri sendiri dengan tidak mencederai dan membunuh orang lain lebih utama daripada perang itu sendiri. Membangun umat Islam dan mempersatukan umat Islam juga bagian dari jihad. Sepantasnya kita memperhatikan kesejahteraan umat Islam di sekitar kita daripada melukai sesama umat Islam dan bangsa kita sendiri.” (halaman 212)

(15)

“Islam adalah agama yang damai, seperti firman Allah swt dalam surah al-Anbiya ayat 107 berbunyi...wa ma arsalnaka illa ramatan lil’alamin...dan Kami tidak mengutusmu ya Muhammad kecuali sebagai rahmat dan perdamaian untuk sekalian alam.” (halaman 212)

Setelah Kemala mendengarkan nasehat demi nasehat dari Ustaz Akil, keyakinannya yang sebelumnya radikal menjadi moderat. Ada ketenangan yang lebih menentramkan daripada apa yang dirasakan sebelumnya. Kemala pada akhirnya menyatakan bahwa Islam adalah agama yang damai dan ia akan bekerja sama dengan tim anti teror untuk mengungkap jaringan terorisme yang telah menjerumuskannya ke dalam jurang kehancuran. (halaman 213)

C. KESIMPULAN

Rentetan peristiwa bom bunuh diri mengguncang Indonesia. Tak kurang dari lima tragedi bom bunuh diri yang terjadi di beberapa tempat sepanjang tahun 2002 hingga 2006, seperti bom Bali I (2002), JW Marriot (2003), Kedubes Australia (2004), Bom Bali II (2005), dan bom Ritz Carlton (2006). Penyerangan tersebut dilakukan oleh sekelompok orang garis keras yang mengaku sebagai muslim.

Tragedi di atas direfleksikan oleh Damien Dematra dalam novelnya Demi Allah Aku Jadi Teroris. Pemahaman yang dangkal terhadap ajaran Islam menjadi sebab utama seseorang menjadi teroris yang tidak memiliki jiwa kemanusiaannya demi sebuah cita-cita ideal. Damien Dematra mengungkapkan dorongan seseorang melakukan aksi terorisme, salah satunya aksi bom bunuh diri. Ada beberapa faktor yang mendorong seseorang melakukan aksi bom bunuh diri, di antaranya adalah sebagai aksi balas dendam atas apa yang telah dilakukan negara-negara Barat terhadap umat Islam di Timur Tengah, usaha melenyapkan simbol kapitalisme, dan upaya menegakkan Syari’at Islam secara utuh dan formal di dalam institusi negara.

(16)

tempat-tempat persembunyiannya. Usaha deradikalisasi dijalankan dengan melibatkan semua elemen masyarakat dan pemerintah, mulai dari keluarga pelaku, tetangga, masyarakat, dan ulama, untuk mengembalikan rasa kemanusiaan para teroris dan meluruskan pemahamannya yang keliru tentang beberapa ajaran Islam, seperti konsep jihad dan Syariat Islam.

DAFTAR PUSTAKA

A.N, Jusuf. 2013. Pedang Rasul. Jogjakarta: Diva Press.

Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2001. Strukturalisme Levi-Strauss: Mitos dan Karya Sastra.

Yogyakarta: Galang Press.

Ariesta, Ditta. 2009. Naksir Anak Teroris. Jogjakarta: Sheila.

Brigitte L. Nacos. 2003. “Terrorism as Breaking News: Attack to America” Political Science Quarterly [online] Vol.118 No. 1 (Spring , 2003), 23-52. The Academy of Political Science.

Chamamah, Soeratno. 1991. Hikayat Iskandar Zulkarnaen. Jakarta: Balai Pustaka.

Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Dematra, Damien. 2009. Demi Allah Aku Jadi Teroris. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

El Khaliqy, Abidah. 2014. Jakarta: Solusi Publishing.

Ezza. Abu. Pengantin Teroris. Jawa Timur: Azhar Risalah.

Fatwa, A.M. 2006. Menghadirkan Moderatisme Melawan Terorisme. Jakarta: Blantika

Hawkes, Terence. 1977. Structuralism and Semiotics. California: University of California Press.

Hendropriyono, A.M. 2009. Terorisme: Fundamentalis Kristen, Yahudi, dan Islam. Jakarta: Kompas.

Jatmika, Sidik. 2009. Pengantin Bom. Jogjakarta: Liber Plus.

Livingston, Marius H. 1978. International Terrorism in The Contemporary World. Westport (Connecticut): Greenword Press.

Piaget, Jean. 1973. Structuralism. London: Routledge and Kegan Paul.

Pradopo, Rachmat Djoko. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya.

(17)

Salam, Aprinus dan Ramyda Akmal. T.t. Terorisme Negara, dan Novel Indonesia. diakses dari https://www.academia.edu/1483466/ terorisme_dan_sastra_indonesia pada 22 Desember 2014.

Sarwono, Sarlito Wirawan. 2012. Terorisme di Indonesia. Ciputat: Pustaka Alvabet.

Referensi

Dokumen terkait

Pengawasan mutu terhadap obat jadi, bahan baku, dan embalage di Lafiau dilakukan dalam suatu laboratorium yang sama. Untuk menjamin kualitas produk yang dihasilkan, maka

[r]

merupakan salah satu jenis dari marga Calonectria yang menyebabkan penyakit pada pembibitan dan pada tanaman termasuk akar dan leher akar, hawar tunas, hawar daun dan bercak

This research develops the idea of a modular outdoor furniture design using cellular lightweight concrete (CLC) as the main material as a result from observing

Mengenal anggota tubuh, fungsi, dan gerakannya untuk pengembangan motorik kasar dan motorik halus Observasi melalui Video menyebutkan warna, bentuk tekstur yang

Kekurangannya, jelas karena antivirus memantau cara kerja perangkat lunak secara keseluruhan yaitu bukan memantau berkas, maka seringnya antivirus membuat alarm

menyimpulkan bahwa remaja adalah individu yang menjadi lebih dewasa. dengan perubahan fisik, sosial, psikologis

Etika normatif juga dapat dibedakan dari segi benar dan tidaknya suatu tindakan dan baik-buruknya akibat yang ditimbulkan oleh tindakan tersebut, yakni: 1) Etika Deontologis,