MEMBACA IKLAN TELEVISI : NARASI SOSIAL DALAM
IKLAN TAYANG AQUA SEBAGAI DAYA TARIK IKLAN
Oleh Wisnu KismoroPendahuluan
Iklan sebagai hal yang sering muncul di televisi, tanpa disadari menjadi salah satu bacaan yang disajikan sebuah lembaga pertelevisian. Bagi sebuah perusahaan, iklan merupakan upaya mempromosikan produk jual yang diproduksi oleh perusahaan pemasang iklan. Bagi publik, iklan menjadi sebuah tontonan yang dijangkau melalui alat elektronik, yakni televisi.
Untuk sebuah promosi, dirancang sebuah iklan yang komunikatif. Artinya menyesuaikan dengan segmentasi pasar yang dituju oleh sebuah perusahaan. Dalam proses kreatifnya, perancangan iklan tidak lepas dari upaya mengadopsi perilaku yang menjadi kebudayaan di suatu daerah untuk dijadikan suatu narasi dalam iklan, dengan maksud agar iklan dapat diterima dan sebagai awal dari upaya mempengaruhi publik, yang menjadi kriteria khusus atas segmentasi pasar oleh perusahaan.
Iklan tayang kemudian menjadi salah satu bentuk bacaan yang disajika melalui televisi, dibuat sebagai upaya memperngaruhi publik agar memiliki kepercayaan atas suatu produk yang dijual oleh sebuah perusahaan. Pada sebuah iklan tayang, sering kali menyajikan sebuah bentuk kehidupan sebagai salah satu elemen dalam iklan. Dalam iklan Aqua misalnya, pada ruang narasi yang dibentuk menggunakan latar dari suatu tanda yang menandakan etnis tertentu. Atau tentang tindakan-tindakan yang mampu menarik simpati publik, menjadi bentuk sajian dalam iklan itu sendiri. Hal ini kemudian oleh penulis menjadi dasar atas dibentuknya sebuah permasalahan, yakni apakah fungsi dan peran narasi dalam sebuah iklan tayang sebagai upaya promosi?
Isi dan Pembahasan
A. Membaca Iklan
Dalam era padat informasi seperti saat ini, iklan memiliki peran dominan dalam kehidupan kita. Iklan hadir dalam kehidupan kita, kapanpun dan dimanapun kita beraktualisasi. Melalui berbagai media komunikasi massa seperti poster, surat kabar, radio, televisi, dan internet. Iklan tanpa disadari mengepung kehidupan kita yang kemudian membawa diri kita pada sebuah budaya konsumsi. Dalam ruang masyarakat konsumen, konsumsi merupakan istilah baru yang mendominasi dan kemudian menyingkirkan istilah produksi (Hidayat, 2012:146). Hal ini menjelaskan bahwa dalam budaya konsumsi, lebih menitik beratkan aktiv menikmati ketimbang produktif. Sejalan dengan pendapat Ewen (dalam Hidayat 2012:146) bahwa kitapun terpukau dengan godaan ideologi iklan yang selalu menyerbu beli lebih banyak, memiliki lebih banyak, dan menikmati lebih banyak. Sehingga dalam masyarakat konsumen, individu dinilai dari apa yang ia miliki.
B. Iklan Tayang dan Ruang Simulasi
Iklan tayang merupakan sebuah iklan yang dalam publikasinya melalui media-media yang secara spesifikasi mampu menyampaikan jenis pesan yang berbasis tayang, televisi dan internet saat ini menjadi media yang memiliki kemampuan akan hal tersebut. Televisi sebagai media massa yang dianggap menempati kedudukan terpuncak sebagai media yang mampu menyediakan ruang simulasi (simulakra).
C. Narasi Sosial Dalam Iklan Tayang Aqua Sebagai Daya Tarik Iklan
Aqua merupakan sebuah produk air mineral yang diproduksi oleh suatu perusahaan. Sebagai upaya invasi pasar, perusahaannya tentu membuat iklan yang kemudian di publikasikan melalui media. Iklan dalam proses kratifnya seringkali tidak lepas dari pengadopsian nilai-nilai kehidupan dari realita nyata yang ada disuatu masyarakat, sebagai salah satu strategi agar iklan sebagai pesan dapat diterima oleh publik yang serumpun terkait memeluk budaya yang diselipkan dalam iklan.
Gambar 1. potongan sceene iklan film pendek produk Aqua
Kehadiran iklan semacam ini kemudian menciptakan bentuk ruang sosial baru (walaupun semu), yang mana simulakra (ruang simulasi) menjadi hal yang disediakan oleh televisi. Mempersonafikasikan karakter produk baik itu tentang cita rasa, atau karakter fisik kedalam narasi, yang dibuat dalam bentuk realita sosial (realita semu) yang disajikan melalui televisi ataupun new media, tanpa disadari menjadi daya tarik tersendiri, dan hal semacam inilah yang menurut Milan Kundera (dalam Hidayat, 2012 : 150) sebut era kemenangan imagologi. Imagologi sendiri merupakan hal yang menjelaskan bahwa produsen budaya citra, termasuk iklan, adalah produsen realitas dan sekaligus mimpi. Dan hal ini dalma iklan secara otomatis mendiktekan tema-tema, citra-citra semu (terkait idealnya cantik dan tidak), kesuksesan, dan lain sebagainya.
Penutup
A. Kesimpulan
Iklan pada akhirnya adalah tentang mempromosikan suatu hal, agar publik komunikan memiliki kepercayaan atas produk tersebut dan mengkonsumsi produk yang dipasarkan, dan tentu oleh perusahaan, titik puncak hal ini adalah tentang ekonomi bisnis dan pemasaran.
Iklan dalam proses kreatif nya tidak jarang mengadopsi nilai-nilai kehidupan yang sekiranya mampu mewakili citra atas citarasa produk jual suatu perusahaan, dan hal ini menjadi daya tarik tersendiri oleh publik komunikan. Narasi sosial memang merupakan salah satu usaha dalam memproduksi iklan, tentu berdasarkan berbagai pertimbangan yang tujuan akhirnya adalah untuk mempersuasi publik komunikan agar mengkonsumsi. Dan melalui konsep imagologi lah hal ini dilakukan.
B. Saran