• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kemacetan Studi Kasus Kota Band

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Kemacetan Studi Kasus Kota Band"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

No. Tugas : 01

Tanggal Penyerahan : 12 November 2015 Dosen : Ibnu Kusuma Ardhi, ST., MT.

KEMACETAN KOTA BANDUNG DAN PENGUMPULAN DATA

Tugas ini disusun dalam rangka memenuhi tugas Teknik Presentasi

Disusun Oleh: Kelompok 5

1. Ajeng Oktavia Perdanawati (153060084) 2. Asfar Dwi Karlina (153060051)

3. Ayu Kade Taraya (153060083)

4. Kenang Wahyudi (153060067)

5. Moch. Rizki Puja Utama (153060080) 6. Muhammad Yusuf Suryono (143060012) 7. Nursery Suciantriyani (153060049) 8. Rifa’ul Fadli Umam Maulana (153060065)

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS PASUNDAN BANDUNG

(2)

Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberi kami kemudahan dalam menyelesaikan makalah mengenai kemacetan di Kota Bandung beserta pengumpulan data.

Dalam pembuatan makalah ini, mulai dari perancangan, pencarian bahan, sampai penulisan, penulis mendapat bantuan, saran, petunjuk, dan bimbingan dari banyak pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak dan sumber serta Dosen Teknik Presentasi, Ibnu Kusuma Ardhi, ST., MT, yang ikut berpartisipasi dengan penulis dalam menyelesaikan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini memiliki banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk perbaikan di masa yang akan datang, dan penulis juga berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Bandung, 12 November 2015

(3)

DAFTAR ISI

2.4 Pengguna Kendaraan di Kota Bandung...14

2.5 Faktor Terjadinya Kemacetan...15

2.6 Dampak Terjadinya Kemacetan...15

2.7 Solusi Kemacetan...15

2.8 Beberapa Lokasi Rawan Kemacetan di Kota Bandung...19

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN...21

3.1 Kesimpulan...21

(4)
(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Peta Administrasi Kota Bandung...8

Gambar 1.2 Kondisi Jalan Merdeka...16

Gambar 1.3 Kondisi Jalan Cihampelas...16

Gambar 1.4 Kondisi Jalan Jendral Sudirman...17

DAFTAR TABEL Tabel 1.1 Kecamatan Kota Bandung...9

Tabel 1.2 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kota Bandung...11

Tabel 1.3 Ruas Jalan di Kota Bandung...13

(6)

Bintaro (1977). Pengantar Geografi Kota. UP Spring: Yogyakarta

Warpani, S. 2002. Pengelolaan Lalu Lintas dan Agkutan Jalan. Institut Teknologi Bandung: Bandung .

Yanti. 2011. Analisis Kemacetan Lalu Lintas di Kota Bandung Dengan Menggunakan Citra Quickbird dan Sistem Informasi Geografis. Skripsi Jurusan Pendidian Geografi FPIPS UPI: Bandung.

Yunus, H.S. 2005. Manajemen Kota. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.

Adisasmita, R & Adisasmita, S.A. 2011. Manajemen Transportasi Darat : Mengatasi Kemacetan Lalu Lintas di Kota Besar (Jakarta). Jakarta:Graha Ilmu.

Khisty, Jotin C dan B. Kent Lall. 2003. Transportation Engineering : An Introduction, 3rd Edition. Pearson Education. Prentice Hall.

Morlok, Edward K. 1978. Introduction to Transportation Engineering and Planning. Mc Graw-Hill.Inc. Pennsylvania.

http://cin7shared-artikel1.blogspot.co.id/p/kemacetan-di-kota-bandung.html

http://abhanafiah.blogspot.co.id/2014/09/identifikasi-masalah-kemacetan-di-kota.html https://id.wikibooks.org/wiki/Manajemen_Lalu_Lintas/Permasalahan_lalu_lintas https://febrilisaumi.wordpress.com/kemacetan-di-ibukota/

http://iraganean.blogspot.co.id/2012/12/kemacetan-di-kota-bandung.html

http://news.okezone.com/read/2013/11/13/526/896076/ini-50-titik-macet-di-kota-bandung-dan-penyebabnya-bagian-i

http://sharp-cherryblossom.blogspot.co.id/2014/05/makalah-masalah-kemacetan-dan-solusi.html

(7)
(8)

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Di masa saat ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah semakin maju. Diantaranya adalah perkembangan dunia transportasi di perkotaaan. Namun seiring dengan kemajuannya ternyata muncul berbagai masalah yang mungkin tak terduga sebelumnya. Masalah yang marak terjadi saat ini adalah masalah kemacetan lalu lintas yang telah meresahkan bagi para penggunan jalan raya.

Kemacetan pada jalan perkotaan menjadi masalah yang biasa setiap harinya. Akan tetapi peningkatan kemacetan pada jalan perkotaan tersebut akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya kepemilikan kendaraan, terbatasnya sumber daya untuk pembangunan jalan raya dan belum optimalnya pengoperasian fasilitas lalu lintas. Banyaknya kendaraan angkutan umum yang sering berhenti sembarangan padahal terdapat rambu dilarang berhenti, keluarnya kendaraan dari bangunan dan pejalan kaki menjadi penyebab berkurangnya kapasitas jalan yang dapat menyebabkan kemacetan. Oleh karena itu penelitian terhadap kapasitas jalan dilakukan untuk mengetahui berapa kapasitas jalan dan berapa arus lalu lintas yang melalui jalan tersebut untuk dicari.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana kondisi letak dan luas di Kota Bandung? 2. Bagaimana kepadatan penduduk di Kota Bandung?

3. Bagaimana keadaan ruas jalan yang ada di Kota Bandung? 4. Apa dampak dari masalah kemacetan?

5. Apa yang menjadi faktor terjadinya kecelakaan lalu lintas? 6. Bagaimana solusi dari permasalahan kemacetan?

1.3 Makna, Tujuan dan Sasaran 1.3.1 Makna

(9)

administratif Kota Bandung yang meliputi letak, luas dan kepadatan penduduk sebagai bahan masukan bagi penyelesaian masalah kemacetan di Kota Bandung.

1.3.2 Tujuan

Tujuan kajian adalah terumuskannya berbagai faktor kesesuaian kondisi fisik kota Bandung, sehingga solusi dari masalah kemacetan dapat terpecahkan dapat diimplementasikan pada proses perencanaan mengatasi masalah tersebut yang dapat mempunyai kepastian hukum serta tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

1.3.3 Sasaran

Berdasarkan tujuan tersebut, maka sasaran yang akan dihasilkan dari penelitian ini adalah usulan pengelolaan transportasi akibat kepadatan lalu lintas dalam rangka mengurangi kemacetan.

1.4 Metoda Penulisan

Pengumpulan data yang ada dalam makalah ini berupa pengumpulan data primer yaitu data yang diperoleh sendiri oleh penulis dengan metode observasi atau teknik pengamatan langsung dan pengumpulan data sekunder yaitu data yang diperoleh dari sumber-sumber lain seperti media masa elektronik yang berjangkauan internasional yaitu internet.

1.5 Sistematika Pembahasan

(10)
(11)

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Letak dan Luas

Gambar 1.1 Peta Administrasi Kota Bandung

(12)
(13)
(14)

(Km2) (%)

Kepadatan penduduk dapat dibedakan menjadi jenis, yaitu kepadatan penduduk kasar, kepadatan penduduk fisiologis, dan kepadatan penduduk agraris.

(15)

a) Kepadatan Penduduk Aritmatika (Kasar)

Kepadatan penduduk aritmatika adalah jumlah rata-rata penduduk setiap kilometer persegi. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut.

Kepadatan penduduk = Jumlah penduduk suatu wilayah/Luas wilayah b) Kepadatan Penduduk Fisiologis

Kepadatan penduduk fisiologis adalah jumlah penduduk setiap kilometer persegi tanah pertanian. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut.

Kepadatan penduduk fisiologis = Jumlah penduduk suatu wilayah/Luas tanah pertanian c) Kepadatan Penduduk Agraris

Kepadatan penduduk agraris adalah jumlah penduduk petani setiap kilometer persegi tanah pertanian. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut.

Kepadatan penduduk agraris = Jumlah petani suatu wilayah : Luas tanah pertanian

(16)
(17)
(18)

kepadatan sangat padat karena seluruh wilayahnya memiliki kepadatan lebih dari 400 jiwa/km2. Kota Bandung dengan penduduk yang padat membutuhkan sarana transportasi untuk mobilitasnya. Suatu ruas jalan juga dalam kapasitasnya memperhitungkan ukuran kota dan jumlah penduduk menjadi acuannya. Semakin padat penduduk pada suatu wilayah semakin tinggi pergerakannya, yang menyebabkan semakin tinggi pula kebutuhan akan transportasi.

2.3 Ruas Jalan

(19)

Tabel 1.3 Ruas Jalan di Kota Bandung

No. Ruas Ruas Jalan Panjang

(Km) Lebar (m) Status Fungsi

1. Jl. Jend. Sudirman 6,79 13,00-15,00 Nasional Arteri Primer 2. Jl. Asia Afrika 1,51 13,00-15,00 Nasional Arteri Primer 3. Jl. Jend. Ahmad Yani 5,40 11,00-14,00 Nasional Arteri Primer

4. Jl. Raya Ujungberung 8,04 10 Nasional Arteri Primer

5. Jl. Soekarno Hatta 18,46 10,00 Nasional Arteri Primer 6. Jl. Dr. Junjunan 2,00 9,00-13,00 Kota Bandung Arteri Primer

7. Jl. Pasteur 0,21 10,60 Kota Bandung Arteri Primer

8. Jl. Cikapayang 0,37 9,70 Kota Bandung Arteri Primer

9. Jl. Surapan 1,16 12,62 Kota Bandung Arteri Primer

10. Jl. PHH Mustofa 3,34 9,00 Kota Bandung Arteri Primer

11. Jl. Kiaracondong 4,12 12 Propinsi Arteri sekunder

12. Jl. Ters. Kiaracondong 0,99 8 Propinsi Arteri sekunder

13. Jl. Jamika 0,91 4,00 Kota Bandung Arteri sekunder

14. Jl. Peta 2,60 10,20 Kota Bandung Arteri sekunder

15. Jl. BKR 2,30 10,20 Kota Bandung Arteri sekunder

16. Jl. Pelajar Pejuang 45 1,48 20,00 Kota Bandung Arteri sekunder

17. Jl. Laswi 1,10 20,00 Kota Bandung Arteri sekunder

18. Jl. Sukabumi 0,64 9,00 Kota Bandung Arteri sekunder

19. Jl. Sentot Alibasa 0,20 16,00 Kota Bandung Arteri sekunder 20. Jl. Diponegoro 0,66 12,62 Kota Bandung Arteri sekunder Sumber : Dinas Perhubungan dan Bina Marga, 2009

2.4 Pengguna Kendaraan di Kota Bandung

(20)

jumlah kendaraan dengan penambahan jaringan jalan di Kota Bandung di pengaruhi beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhinya adalah kemudahan konsumen dalam memiliki kendaraan (fasilitas kredit), sedangkan Pemerintah Daerah kesulitan dalam pembebasan lahan untuk menambah ruas jalan yang baru.

Terkait jumlah sepeda motor, kini terdapat sekitar 895 ribuan unit atau sekitar 72% dari total komposisi kendaraan bermotor di Bandung. Sedangkan mobil pribadi sekitar 282 ribuan unit atau sekitar 23%.

Soal angkutan umum kini terdapat 39 trayek angkutan kota di kota Bandung dengan jumlah angkutan kota sebanyak 5.521 kendaraan. Lalu, ada bus umum yang mencapai 2.946 unit. Artinya, angkutan umum yang ada di kota Bandung sekitar 1% dari total kendaraan bermotor yang ada di kota yang pada siang hari berpenduduk sekitar lima juta jiwa.

Grafik 1.1 Transportasi Kota Bandung

2.5 Faktor Terjadinya Kemacetan

 Volume kendaraan yang melampaui batas.

(21)

 Terjadinya banjir yang merendam badan jalan sehingga para pengendara kendaraan memperlambat laju kendaraannya.

 Adanya perbaikan jalan.

 Kepanikan untuk mengevakuasi diri ke tempat yang lebih aman akibat peringatan akan terjadinya bencana alam seperti tsunami, tanah longsor, banjir dan lainnya.  Adanya bagian jalan yang rusak atau longsor.

 Ketidak tahuan masyarakat akan aturan lalu lintas.

 Parkir kendaraan yang tidak tertata baik atau tidak pada tempatnya.

 Pasar tumpah yang secara tidak langsung memakan badan jalan sehingga pada akhirnya membuat sebuah antrian terhadap sejumlah kendaraan yang akan melewati area tersebut.

 Pengaturan lampu lalu lintas yang bersifat kaku yang tidak mengikuti tinggi rendahnya arus lalu lintas.

2.6 Dampak Terjadinya Kemacetan

 Kerugian waktu, karena kecepatan yang rendah.  Pemborosan energi.

 Keausan kendaraan lebih tinggi, karena waktu yang lebih lama untuk jarak yang pendek, radiator tidak berfungsi dengan baik dan penggunaan rem yang lebih sering.  Meningkatkan polusi udara, karena pada kecepatan rendah konsumsi energi lebih

tinggi, dan mesin tidak beroperasi pada kondisi yang optimal.  Meningkatkan stress pengguna jalan.

 Mengganggu kelancaran kendaraan darurat seperti: ambulans, pemadam kebakaran dalam menjalankan tugasnya.

2.7 Solusi Kemacetan

Guna mengatasi kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas kendaraan, perlu ditempuh berbagai upaya (program aksi), utamanya yaitu:

(22)

Kegiatan perencanaan lalu lintas meliputi inventarisasi dan evaluasi tingkat pelayanan. Maksud inventarisasi antara lain untuk mengetahui tingkat pelayanan pada setiap ruas jalan dan persimpangan. Maksud tingkat pelayanan dalam ketentuan ini adalah merupakan kemampuan ruas jalan dan persimpangan untuk menampung lalu lintas dengan tetap memperhatikan faktor kecepatan dan keselamatan.

 Kegiatan pengaturan lalu lintas

Kegiatan pengaturan lalu lintas meliputi: penataan sirkulasi lalu lintas, penentuan kecepatan minimum dan maximum, larangan atau perintah penggunaan jalan bagi pemakai jalan.

2) Keberpihakan kepada transportasi umum

 Menyediakan dan mengoperasikan angkutan massal/umum perkotaan yang berkapasitas mencukupi dan dikelola secara profesional.

 Membangun ketersediaan prasarana perkotaan yang berkapasitas yang mampu melayani lalu lintas secara lancar.

 Menerapkan strategi kebijakan transportasi perkotaan yang komprehensif, akomodatif dan berwawasan masa depan.

3) Peningkatan kapasitas jalan

Salah satu langkah yang penting dalam memecahkan kemacetan adalah dengan meningkatkan kapasitas jalan/parasarana seperti :

 Memperlebar jalan, menambah lajur lalu lintas sepanjang hal itu memungkinkan.  Merubah sirkulasi lalu lintas menjadi jalan satu arah.

 Mengurangi konflik dipersimpangan melalui pembatasan arus tertentu, biasanya yang paling dominan membatasi arus belok kanan.

(23)

4) Perbaikan daya dukung jaringan jalan

Untuk meningkatkan daya dukung jaringan jalan dengan adalah mengoptimalkan kepada angkutan yang efisien dalam penggunaan ruang jalan antara lain :

 Pengembangan jaringan pelayanan angkutan umum.

 Pengembangan lajur atau jalur khusus bus ataupun jalan khusus bus yang di Jakarta dikenal sebagai Busway.

 Pengembangan kereta api kota, yang dikenal sebagai Metro di Perancis, Subway di Amerika, MRT di Singapura.

 Subsidi langsung seperti yang diterapkan pada angkutan kota di Transjakarta, Batam ataupun Jogjakarta maupun tidak langsung melalui keringanan pajak kendaraan bermotor, bea masuk kepada angkutan umum.

5) Pembatasan kendaraan pribadi

 Pembatasan penggunaan kendaraan pribadi menuju suatu kawasan tertentu seperti yang berhasil dengan sangat sukses di Singapura, London, Stokholm. Bentuk lain dengan penerapan kebijakan parkir yang dapat dilakukan dengan penerapan tarip parkir yang tinggi di kawasan yang akan dibatasi lalu lintasnya, ataupun pembatasan penyediaan ruang parkir dikawasan yang akan dibatasi lalu lintasnya,

 Pembatasan pemilikan kendaraan pribadi melalui peningkatan biaya pemilikan kendaraan, pajak bahan bakar, pajak kendaraan bermotor, bea masuk yang tinggi.  Pembatasan lalu lintas tertentu memasuki kawasan atau jalan tertentu, seperti

diterapkan di Jakarta yang dikenal sebagai kawasan 3 in 1 atau contoh lain pembatasan sepeda motormasuk jalan tol, pembatasan mobil pribadi masuk jalur busway.

(24)

menjadi tidak terkendali. Berarti pemerintah harus membatasi laju urbanisasi dan menekan angka kelahiran dengan cara menjalankan program keluarga berencana.

Bila pemerintah berhasil menangani laju urbanisasi dan angka kelahiran, maka jumlah pengguna jalan juga akan terkendali. Untuk mencegah semakin parahnya keadaan lalu lintas, pemerintah perlu megupayakan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan memaksimalkan kendaraan umum, selain membangun ruas jalan baru, pemerintah juga harus menetapkan batas kecepatan suatu kendaraan untuk meminimalisasi terjadinya kecelakaan lalu lintas yang dapat menyebabkan kemacetan.

Disamping itu, pemerintah juga sebaiknya memperbaiki jalan yang rusak, memperlebar jalan, menambah jembatan peyeberangan dan memperbaiki jembatan penyeberangan yang rusak. Setelah semua itu terlaksana, pemerintah tetap tidak boleh langsung bersenang-senang, karena mereka juga masih harus memperbaiki rambu-rambu lalu lintas, memperbaiki lampu lalu lintas serta sebisa mungkin menjadikan halte agar dapat menjadi lebih aman dan nyaman.

Busway dibuat lebih efektif dengan menambahkan jumlah armada, sehingga penumpang tidak menunggu lama dan waktu tempuh menjadi lebih cepat atau lebih singkat. Selain itu pemerintah harus pula mengoptimalkan kereta api yang telah ada, meningkatkan pelayanan dan kenyamanannya baik di stasiun maupun di dalam kereta api itu sendiri, sehingga banyak penggua jalan yang mau berpindah dari kendaraan pribadi ke kereta api.

Peraturan ditegakkan sehingga penduduk menjadi lebih disiplin. Apabila ada kendaraan yang bersalah segera ditilang sesuai dengan aturan yang berlaku. Misalnya angkutan umum yang berhenti bukan di halte, kendaraan yang menerobos lampu merah, motor yang berada di jalur kanan serta pejalan kaki yang tidak disiplin juga harus didenda agar mereka merasa jera dengan apa yang telah mereka lakukan. Selain semua itu, pemerintah juga harus mengajak para pengguna jalan agar beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.

(25)

Masyarakat sebagai pengguna jalan juga dapat membantu pemerintah dalam menangani kemacetan lalu lintas seperti dengan beralih ke angkutan umum yang tersedia dan lebih tertib berlalu lintas agar para pengguna kendaraan pribadi seharusnya mengikuti aturan agar tidak mengganggu pengguna jalan yang lain. Pejalan kaki harus mau membiasakan diri berjalan di trotoar dan menyeberang di jembatan penyeberangan. Apabila ingin menggunakan angkutan umum, maka kita harus menghentikan angkutan tersebut di halte yang telah di sediakan, begitu pula bila ketika hendak turun.

Untuk para supir hendaknya mempunyai kesadaran yang tinggi untuk mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Supir angkutan umum tidak berhenti di sembarang tempat. Pada saat berhenti kendaraan dipinggirkan agar tidak mengganggu kendaraan lain dan jangan menjadikan perempatan atau pertigaan sebagai terminal. Pedagang kaki lima sebaiknya tidak berdagang di trotoar karena trotoar merupakan haknya pejalan kaki, begitu juga pejalan kaki untuk tidak membeli barang-barang di troatoar.

Apabila menggunakan kendaraan pribadi sebaiknya gunakan kendaraan yang kecil dan jangan mencoba untuk menerobos lampu merah jika terjadi kemacetan lalu lintas dan jangan menggunakan kendaraan pribadi untuk keperluan yang tidak penting. Bagi para pengguna sepeda motor gunakanlah selalu jalur kiri dan dengan kecepatan yang tidak tinggi.

2.8 Beberapa Lokasi Rawan Kemacetan di Kota Bandung

1. Jalan Merdeka (depan Bandung Indah Plaza) Gambar 1.2 Kondisi Jalan Merdeka

Penyebab : Angkutan kota sering berhenti di sembarang tempat tanpa memperhatikan kondisi untuk menurunkan maupun mununggu penumpang. Di daerah ini juga banyak dijumpai pedagang kaki lima yang berjualan hingga memenuhi bahu jalan dan berkontribusi menyebabkan kemacetan. Namun setelah adanya peraturan dari pemerintah Kota Bandung yang menertibkan pedagang kaki lima di daerah ini, masalah kemacetan dapat dikurangi.

(26)

Penyebab : Kemacetan yang terjadi dikawasan cihampelas dikarenakan adanya kawasan perbelanjaan yang ramai di sepanjang Jalan Cihampelas, diantaranya yaitu pusat perbelanjaan cihampelas walk dan pedagang – pedagang cindera mata. Lebar jalan yang tidak terlalu besarpun membuat kendaraan menjadi lebih. Kondisi tersebut jelas saja membuat lalu lintas menjadi tidak lancar, ditambah lagi dengan hilir mudiknya para pejalan kaki atau para pembeli dan pengunjung.

3. Jalan Jendral Sudirman

Penyebab :

Sebagai jalan utama, Jalan Jendral Sudirman banyak dilalui oleh pengendara motor dan mobil. Volume kendaraan yang tidak sesuai dengan kapasitas jalan yang kecil menyebabkan seringnya terjadi kemacetan pada jam pergi dan pulang kerja. Hal ini diperparah dengan adanya pedagang kaki lima dan angkutan umum yang berhenti di bahu jalan, juga para penyebrang jalan yang tidak difasilitasi jembatan penyebrangan dan zebra cross.

(27)

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN 3.1 Kesimpulan

Bandung merupakan suatu kota dengan desain awal hanya untuk sekitar 500 ribu jiwa, dengan perkembangannya, saat ini penduduk Bandung mencapai 2,417.2 juta jiwa, dengan luas wilayah 167,3 km². Dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi, diperlukan transportasi yang memadai. Angkot merupakan sarana transportasi yang dominan di Bandung. Angkutan umum di kota Bandung pada dasarnya belum bisa memberikan kenyamanan berkendara secara maksimal dan membutuhkan waktu perjalanan yang relative lebih lama. Oleh karena itu, banyak warga Bandung akhirnya memakai kendaraan pribadi, seperti motor atau mobil sebagai sarana transportasinya. Kecenderungan seperti ini menimbulkan konsekuensi yang kurang baik, populasi kendaraan meningkat tajam, hal ini tidak disertai oleh pembangunan jalan, sehingga kemacetan tak terhindarkan. Kemacetan ini diperparah oleh pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di badan jalan, angkutan kota yang berhenti dan menunggu penumpang di sembarang tempat, alih guna jalan menjadi tempat parkir dan lain sebagainya. Oleh karena itu diperlukan suatu upaya solutif yang menguntungkan semua pihak, agar persoalan kemacetan ini dapat terselesaikan.

(28)

 Pertumbuhan ekonomi  Kualitas hidup

 Polusi lingkungan

 Boros bahan bakar, dan lainnya. Secara garis besar kemacetan yang terjadi di Kota Bandung diakibatkan oleh hal-hal berikut ini :

 Peningkatan jumlah penduduk dan volume kendaraan  Pedagang Kaki Lima (PKL)

 Kurangnya ruas lahan parker  Kurangnya kesadaran pengendra

3.2 Saran

Upaya-upaya untuk menanggulangi masalah kemacetan transportasi lalu lintas ini perlu untuk terus dilakukan agar permasalahan kemcetan lalu lintas dapat teratasi. Kesadaraan untuk bersama-sama menggunakan sarana transportasi umum menjadi hal utama yang perlu dilakukan. Sehingga menciptakan sarana transportasi yang aman dan lancar dapat tercapai.

Adapun cara yang harus di lakukan Pemerintah kota untuk mengatasi kemacetan lalu lintas diantaranya :

1. Memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pentingnya mematuhi peraturan dan kebijaksanaan berlalu lintas demi kenyamanan dan keselamatan juga menghindari kemacetan.

2. Memberikan prioritas kepada transportasi umum guna mengurangi kepadatan kendaraan di jalan namun dengan memperhatikan kenyamanan transportasi pribadi. 3. Pemerintah sebaiknya meningkatkan pelayanan angkutan umum, agar masyarakat

tertarik untuk berpindah dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.

4. Melakukan pembatasan usia kendaraan karena jika kendaraan tersebut sudah terlalu tua, maka kendaraan tersebut menjadi tidak fungsional lagi.

Gambar

Gambar 1.1 Peta Administrasi Kota Bandung
Tabel 1.2 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kota Bandung
Tabel 1.3  Ruas Jalan di Kota Bandung
Grafik 1.1 Transportasi Kota Bandung
+2

Referensi

Dokumen terkait

Beberapa pekan sebelum perayaan tahun baru imlek di masjid itu dilakukan, tokoh Muslim Tionghoa Yogyakarta, Budi Setyagraha mengemukakan kepada publik bahwa

Luthan (dalam Tella dkk, 2007) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai respon terhadap emosi situasi pekerjaan, Dari beberapa pengertian yang diuraikan di atas maka dapat disimpulkan

Pada praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa banyaknya jenis dan jumlah individu yang dapat ditemukan di daerah tertentu dari suatu populasi yang membentuk suatu komunitas dan

individu yang mengalami tunanetra karena penerimaan diri juga dapat dibangun.. dari anggapan

yang mempengaruhi kelayakan sebuah tempat rukyat. Semakin tinggi polusi udara, maka semakin kotor keadaan langitnya. Keadaan langit yang tidak bersih dapat mempersulit

Proses tersebut dilakukan untuk frame pertama, dan untuk frame berikutnya yaitu frame ke dua dan seterusnya sampai frame terakhir yaitu pada tahap segmentasi, video

Pemolaan komunikasi dalam keterkaitan antar komponen yang meliputi peristiwa komunikasi dan komponen komunikasi sehingga menimbulkan beberapa perilaku yang khas dan menjadi

Tertulis Pilihan ganda Jelaskan gejala (peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga 4 x 35 menit pert 1-4 (4 minggu) ­ Gambar Peta ­ Indonesia, ­ Gambar peta ­