REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM POLITIK INDONESIA: PELUANG DAN
Abstrak: Artikel konseptual ini membahas represntasi perempuan dalam politik, yang dikerucutkan pada peluang dan tantangan menyongsong pemilu 2019. Untuk mengetahui bagaimana represntasi atau pemosisian perempuan, peluang, dan tantangan perempuan dalam menyongsong pemilu 2019 digunakan studi pustaka dan kasus dalam pembahasan artikel konseptual ini. Berdasarkan uraian-uraian dalam pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Representasi perempuan masih bersifat negatif, walaupun perempuan memiliki peluang yang sangat baik untuk berkarir dalam dunia politik. Peluang tersebut haruslah digunakan dengan baik, yaitu dengan cara menekan potensi tantangan menjadi peluang. Dalam kaitannya dengan pemilu tahun 2019, potensi perempuan dalam pesta demokrasi tersebut sangatlah terbuka lebar. Perepresentasian perempuan dalam dunia politik Indonesia, mesti ditopang oleh beberapa hal, seperti membangun paradigm positif, berpendidikan tinggi, ber-aktualisasi, memenejemen diri, bergabung dengan partai politik, dan berperstasi.
Kata-kata Kunci: Representasi, Perempuan, Politik, Peluang dan Tantangan, Pemilu
Pendahuluan
Representasi adalah pemosisian pihak tertentu dengan maksud tertentu juga. Menurut Eriyanto (2012:113), istilah representasi menunjuk pada bagaimana seseorang, satu kelompok, gagasan, atau pendapat tertentu ditampilkan dalam pemberitaan; politik. Representasi terhadap perempuan dalam dunia politik merujuk pada keberadaan dan atau pemosisian perempuan dalam hingar-bingar politik baik dalam ranah legislatif, eksekutif, maupun yudikatif.
setiap warga negara bersama kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan serta wajib menjungjung hukum dan pemerintah itu dengan tidak ada kecualinya, termasuk perempuan. Lebih lanjut, hal ini diwijudkan dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. 12 tahun 2003 yaitu Undang-undang tentang Pemilihan Umum anggota DPR, DPD, DAN DPRD, yang dalam salah satu pasalnya (Pasal 65) mencantumkan tentang kuota minimal 30% bagi keterwakilan perempuan. “Kelihatannya, dengan dicantumkan kuota 30% tersebut, peluang bagi perempuan untuk memasuki rana public khususnya rana politik praktis semakin terbuka (Sridanti, -:2).”
Representasi perempuan di parlemen secara kuantitatif kembali pasang-surut. Di era Konstituante (1956-1959) peroleh kursi legislatif perempuan turun menjadi 25 kursi (5,1%) dari 488 kursi anggota Konstituante. Bagitu pun di era Orde Baru, keterwakilan politik perempuan di parlemen juga mengalami pasang-surut. Pemilu pertama Orde Baru (1971– 1977) berhasil menempatkan perempuan pada 36 kursi parlemen (7,8%), Pemilu 1977 29 kursi (6,3%), dan Pemilu 1982 39 krusi (8,5%) dari 460 anggota DPR terpilih pada tiga periode Pemilu tersebut. Selanjutnya, Pemilu 1987 berhasil menempatkan perempuan pada 65 kursi (13%) dari 500 kursi DPR, dan terus mengalami penurunan pada Pemilu 1992-1997, 1997–1999, dan 1999–2004 menjadi 62 kursi (12,5%), 54 kursi (10,8%), dan 46 kursi (9%) dari masing 500 kursi yang berhasil di raih anggota DPR dari masing-masing periode pemilu tersebut. Berikutnya, Pemilu 2004 kembali menaikkan jumlah anggota legislatif perempuan menjadi 63 orang (11,45%) dari 550 anggota DPR terpilih, dan Pemilu 2009 berhasil menempatkan 99 anggota legislatif perempuan (17,68%) dari 560 calon anggota DPR terpilih hasil Pemilu 2009.
Bagi Nur Iman Subono (dalam Jurnal Sosial dan Demokrasi, 2009:6):
berlebihan, jika banyak pengamat dan aktivis mengatakan, wacana representasi politik perempuan kian nyaring dan menggema sejalan dengan bergulirnya era liberalisasi politik hasil reformasi politik 1998.
Bagaimana realisasi representasi penyetaraan perempuan saat ini? Dalam dunia politik, masyarakat juga tahu, baru Presiden Megawati Soekarno Puteri lah satu-satunya yang dapat mewakili perempuan sebagai pemimpin negara di Indonesia ini. Selebihnya, di ranah legislatif pun belum mencapai 30% dari kuota yang disediakan untuk perempuan. Di kursi DPRD RI misalnya, kursi dewan rakyat ini banyak diisi oleh kaum lelaki, hanya sedikit dewan perempuan, jika pun ada kebanyakan adalah perempuan dari kalangan artis yang kesehariannya telah dikenal masyarakat dan terbiasa berkarir di luar rumah. Mengapa hal ini terjadi? Apakah seorang perempuan masih dianggap sebagai gender yang lemah dan tidak layak disejajarkan dengan laki-laki? Bukankah banyak pahlawan perjuangan negara ini adalah perempuan.
Berdasarkan uraian di atas, maka artikel ini merumuskan masalah, yaitu “(1) bagaimana seharusnya posisi seorang perempuan dalam dunia politik Indonesia? (2) bagaimana peluang dan tantangan politik perempuan dalam pemilu yang akan datang? (3) bagaimana solusi yang ditawarkan?”
Pembahasan
Representasi Perempuan dalam Pemilu
terdapat sekitar 9 persen dan di DPRD tingkat Kabupaten/Kota rata-rata hanya sekitar 5 persen, bahkan masih banyak DPRD Kabupaten/Kota yang tidak ada anggota perempuan (Sumbung dikutip Damaiyanti, 2015)”.
Persentase Kertewakilan Perempuan
Dalam Keanggotaan Lembaga Legislatif ( DPR-RI) Dari Tahun 1971 – 2009
Periode Tahun Keterlibatan Perempuan (%) Keterlibatan laki-laki (%)
1971 – 1977 7,8 92,2
1977 – 1982 6,3 93,7
1982 – 1987 8,3 91,7
1987 – 1992 13 87
1992 – 1997 12,5 87,5
1997 – 1999 10,8 89,2
1999 – 2004 9 91
2004 – 2009 11,8 88,2
Sumber : Riniti (dikutip Sridanti, 2015:3)
Selain ketertiban perempuan di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, pada Pemilu 2004, sebanyak 27 orang (21,1%) dari jumlah 128 Dewan Perwakilan Daerah adalah perempuan. Pada tingkat provinsi, keterwakilan perempuan mencapai 10% (188 dari jumlah 1850), dan ditingkat kabupaten/kota hanya mencapai 8% (1090 dari jumlah 13125).
Dari data-data di atas, dapat dilihat bahwa masih rendahnya partisipasi dan keterlibatan perempuan dalam pemilu Indonesia. Lantas mengapa demikian? Hal ini diidentifikasi oleh faktor representasi penyetaraan perempuan ada di level negatif. Perempuan masih dianggap sebagai kaum yang berbeda kasta dan belum pantas memimpin, sebaliknya lelakilah yang diaggap lebih baik memimpin. Hal ini juga yang menyebabkan pemosisian perempuan di media massa tampak negatif. Perempuan selalu menjadi objek pembangunan, bukan subjek pembangunan. Perempuan selalu menjadi pasif dan mengaktifkan lelaki dalam kalimat-kalimat media massa. Padahal perempuan memiliki andil, peluang dan tantangan tersendiri untuk ikut berpartisipasi dalam panggung politik di Indonesia.
Peluang dan Tantangan Perempuan dalam Pemilu 2019
Undang-Undang No. 10 Tahun 2008 (Undang-Undang-Undang-Undang tentang Pemilihan Anggota DPR, DPD, dan DPRD yang baru. Dalam Pasal 53 ditentukan bahwa daftar bakal calon membuat paling sedikit 30% keterwakilan perempuan, dan dalam Pasal 55 ayat 2 menentukan bahwa dalam daftar bakal calon yang dimaksud itu, setiap tiga bakal calon di dalamnya terapat sekurang-kurangnya satu bakal calon perempuan (Syafi’ ie, dkk, 90—91). Pasal ini menunjukkan adanya peluang yang cukup besar bagi perempuan, asalkan Partai Politik dengan konsekuen dan betul-betul mempunyai komitmen melaksanakan amanat yang terkandung didalamnya.
Dalam Undang-Undang Partai Politik yang baru, yaitu Undang-Undang No. 2 Tahun 2008 merumuskan dengan lebih tegas dari undang-undang sebelumnya, dan lebih menjamin keterwakilan perempuan dalam kepengurusan partai. Hal tersebut ditegaskan dalam Pasal 2 ayat 5 yang menentukan sebagai berikut: “Kepengurusan Partai Politik tingkat pusat sebagaimana dimaksud dalam ayat 3, disusun dengan menyertakan paling rendah 30% keterwakilan perempuan.” Dalam pasal 20 juga ditentukan bahwa : “Kepengurusan Partai Politik tingkat propinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 ayat (2) dan ayat (3) disusun dengan memperhatikan keterwakilan perempuan rendah 30% yang diatur dalam AD dan ART Partai Politik masing-masing.
Berdasarkan UU dan uraian di atas tampak bahwa khans perempuan untuk mengisi kursi di parlemen sangatlah besar. Hal tersebut dapat di uraikan sebagai berikut:
a. Perempuan memiliki jiwa ketelitian yang lebih baik
Percaya atau tidak, kebanyakan perempuan memiliki tingkat ketelitian yang luar biasa, bahkan lebih baik dibandingkan laki-laki. Hal ini berarti perempuan dapat menjadikan modal ketelitian ini sebagai modal menjadi pemimpin.
b. Perempuan pandai mengatur waktu
Seorang perempuan juga selayaknya mengurus rumah tangga, artinya selain dapat menjaga karirnya perempuan juga mengurus rumah tangga. Jika dikaitkan dengan kepemimpinan, perempuan memiliki manajemen waktu dan disiplin yang tinggi, ini dibutuhkan seorang pemimpin.
c. Perempuan lebih terbuka dan menjadi pendengar yang baik
d. Perempuan dapat menyejajarkan dirinya dalam akademik
Di perguruan tinggi umum, perempuan mendominasi. Artinya perempuan lebih rajin dan punya semangat untuk menjadikan dirinya cerdas. Hal inilah yang dijadikan modal untuk perempuan memimpin.
Kelebihan perempuan dengan sifatnya di atas, senada dengan Tilaar (dikutip Pasya, 2015:10) bahwa jika perempuan ingin sejajar dengan laki-laki, ia harus memiliki nilai kepemimpinan dasar sebagai berikut:
a. Intelegensi yang relatif tinggi b. Berfikir positif
c. Kedewasaan social dan jangkauan social yang luas d. Menjadi panutan
e. Memiliki keterbukaan
f. Menjadi pendengar yang baik.
Dari nilai yang distandarkan di atas pun perempuan cukup layak menjadi seorang pemimpin.
Lantas bagaimana realisasi dalam kehidupan politik di Indonesia? Ya, peluang perempuan akan tetap terbuka lebar. Pada pemilu 2014 yang lalu, perempuan memliki keterwakilan yang cukup luar biasa di dalam bursa pemilihan, akan tetapi angkanya tidak lebih dari 12 % yang masuk ke kursi parlemen RI pusat maupun daerah. Untuk menyongsong pemillu 2019 nanti, perempuan harus menyediakan strategi jitu.
Beragam perspektif dan strategi perjuangan perempuan yang ada sesungguhnya tak hanya efektif digunakan sebagai alat pencerdasan dan penyadaran, tapi lebih dari itu sebagai instrumen dalam membangun koalisi besar gerakan perempuan Indonesia untuk mewujudkan kesetaraan, keadilan, toleransi, dan demokrasi. Pun beragamnya organisasi perempuan yang tumbuh di Tanah Air harus dilihat secara positif dan diletakkan pada konteksnya, yakni saling mengisi dan melengkapi. Penyatuan banyak kekuatan dalam sebuah koalisi besar gerakan perempuan akan kian mempertinggi posisi tawar kaum perempuan vis a vis negara.
negeri ini sepertinya masih butuh waktu panjang untuk dibuktikan, karena ia menyangkut kapabilitas untuk bersaing dan berkontribusi dalam politik praktis secara signifikan, dukungan basis massa yang jelas, pengalaman yang relevan, serta visi misi yang tak hanya sejalan dengan partai politik yang diwakilinya, namun juga harus sebangun dengan harapan dan keprihatinan rakyat. Jika kita meyakini “politik tak bermula dari kebencian, tetapi dari rasa sayang dan nalar untuk membangun bangsa”, maka aspirasi politik perempuan untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik bangsa bisa dimaknai sebagai bentuk penguatan demokrasi kita yang selama ini kental beraroma maskulin dengan cirinya yang cenderung arogan, culas, dan agresif. Dalam masyarakat yang terlanjur meyakini kodrat perempuan sebagai makhluk lemah dan kurang cerdas, jelas dibutuhkan upaya ekstra keras guna mengonstruksi isu representasi politik perempuan dalam bingkai demokrasi yang setara dan partisipatif dan wacana jender dalam frame pluralismedemokratis (non-patriarkis) sebagai prioritas kebijakan negara ke depan agar tatanan masyarakat demokratis yang berkeadilan jender bisa sungguh-sungguh terwujud (dalam Jurnal Sosial dan Demokrasi, 2009:6—7). Perlu pemikiran dan pembuktian agar representasi perempuan dalam panggung politik bukan hanya sekadar pemanis, tetapi memang muri untuk berpolitik dan membangun negeri ini.
Akan tetapi, di balik peluang yang mumpuni panggung politik perempuan di atas, terdapat tantangan yang mesti dihadapi. Tantangan tersebut tidaklah mudah, perempuan harus banyak bersosialisasi, mempelajari, dan ikut serta dalam melaksanakannya. Ada beberapa tantangan yang menjadi penghambat perempuan untuk berkecimpung dalam dunia politik, antara lain (Pasya 2015:9):
a. Hambatan fisik
Perempuan memilki fisik yang sedikit menyulitkannya bergerak lebih bebas. Perempuan akan mensturasi, hamil, dan melahirkan, ia juga akan mengasuh anaknya dengan waktu yang tidak sebentar. Hal ini menjadi salah satu tantangan bagi perempuan.
Perempuan diciptakan untuk mendampingi laki-laki, perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, sehingga perempuan merupakan bagian dari laki-laki bukan pesaing ataupunn sejajar.
c. Hambatan sosial budaya
Perempuan merupakan insane yang pasif, lemah, perasa, dan bergantung pada laki-laki. Pandangan inilah yang disoroti bahwa perempuan belum juga bisa setera dengan laki-laki.
d. Hambatan sikap pandang
Perempuan selalu dipandang sebagai pengurus rumah, suami, dan anak, bukan pekerja yang berkarir di luar.
e. Hambatan historis
Secara historis, perempuan kurang tercatat sebagai pemimpin, lebih banyak laki-laki. Hal ini juga yang melemahkan perempuan dalam politik.
Di sisi lain, dari penelitian yang dilakukan oleh Hidayatulloh dan Marlina (2011:223) bahwa penghambat politik bagi perempuan salah satunya adalah perkawinan di bawah umur. Perkawian di bawah umur selain melanggar HAM, juga menjadikan wanita “mati” berkarir, menjadikan wanita hanya di rumah, mengurus rumah tangga—anak dan suami.
Langkah Menyongsong Representasi Perempuan dalam Panggung Politik
Kepemimpinan wanita dimanapun juga perlu diberi kesempatan yang sama seperti yang dikemukakan Tan dikutip Damayanti (2015:7—8) yaitu:
a. Kepemimpinan perempuan dalam era pembangunan sekarang dan masa yang akan datang mempunyai potensi dan peran yang besar dalam pembangunan politik, ekonomi, social - budaya, dan agama bangsa.
b. Kepemimpinan perempuan dapat berkembang jika pendidikan perempuan dapat ditingkatkan sama dengan laki - laki.
c. Kepemimpinan perempuan harus dinyatakan perlu dan penting untuk dikembangkan disegala bidang dan bagi semua tingkat.
kepemimpinan laki - laki. Namun justru akan melengkapi dan memperkaya kepemimpinan laki - laki. Untuk itu kepemimpinan laki - laki perlu memberikan kesempatan yang sebanyak - banyaknya kepada pemimpin perempuan.
e. Pemerintah bersama - sama dengan organisasi - organisasi perempuan perlu menyusun “masterplan”, tentang bagaimana meningkatkan kepemimpinan perempuan di segala bidang kehidupan bagsa dan negara.
Artinya, perempuan harus diberikan ruang untuk meniti karir politiknya dengan baik, hal ini juga telah digandeng oleh pemerintah yang disahkan dalam UU, yang menjadi alasan partai politik selalu merekrut perempuan dalam politiknya. Lantas apa yang harus dilakukan perempuan untuk memuluskan rekam politiknya, berikut solusi yang ditawarkan dalam artikel konseptual ini:
a. Bangun paradigma positif
Hal mendasar yang menjatuhkan perempuan adalah paradigma bahwa perempuan tidak begitu pantas memimpin. Artinya, perempuan harus mengubahnya dengan paradigman positif bagi perepresentasian perempuan dalam politik, misalnya dengan menciptakan pemikiran, ide, gagasan yang mampu dijual untuk kemajuan Indonesia. b. Berpendidikan tinggi
Setelah memiliki pandangan positif, bahwa perempuan juga bisa berkarir politik, mulailah dengan bersekolah setinggi-tingginya. Mengapa? Karena dengan bersekolah perempuan dapat menemukan pemikiran-pemikiran baru dan menyadari pentingnya berpolitik. Hal ini juga agar tidak dipandang sebelah mata oleh kaum laki-laki.
c. Ber-aktualisasi, memanajemen waktu, dan memantaskan diri
Sebagai perempuan yang dikodratkan sebagai ibu rumah tangga, seharusnya perempuan bisa mengubahnya. Perempuan harus bisa memiliki pemikiran yang cerdas—ditopang oleh pendidikan tinggi—lalu pandai mengatur waktu—antara di rumah dan berkarir—dengan demikian terfikirlah bahwa pantas atau tidakkah perempuan berpolitik.
d. Bergabung dengan partai politik
pro-perempuan, atau dirikanlah partai khusus pro-perempuan, karena rakyat Indonesia punya banyak perempuan yang luar bisa, bukan tidak mungkin banyak pula kandidat hebat untuk memimpin negeri ini. Pemilih pun banyak perempuan.
e. Berprestasi
Terakhir, perempuan harus berprestasi. Untuk menyeterakan atau bahkan menyaingi laki-laki, dalam dunia politik ini perlu tunjangan prestasi yang mumpuni. Misalnya perempuan harus berprestasi dalam akademik, atau pun memiliki terobosan-terobosan yang tidak difikirkan laki-laki.
Dalam kaitannya dengan pemilihan umum tahun 2019, perempuan masih sangat berpeluang untuk paling tidak mengisi kuota 30% anggota legislatif dalam parlemen. Bukan sekadar mengisi kekosongan, lebih dari itu, yakni dengan benar-benar memiliki jiwa kepemimpinan dan memikirkan kemajuan negeri ini.
Penutup
Pemosisian perempuan atau representasi perempuan dalam politik di Indonesia masih didikte oleh politik kaum laki-laki. Hal ini dibuktikan oleh statistik keterlibatan dan pemetaan perempuan dalam politik praktis.
Representasi perempuan masih bersifat negatif, walaupun perempuan memiliki peluang yang sangat baik untuk berkarir dalam dunia politik. Peluang tersebut haruslah digunakan dengan baik, yaitu dengan cara menekan potensi tantangan menjadi peluang. Dalam kaitannya dengan pemilu tahun 2019, potensi perempuan dalam pesta demokrasi tersebut sangatlah terbuka lebar. Perepresentasian perempuan dalam dunia politik Indonesia, mesti ditopang oleh beberapa hal, seperti membangun paradigm positif, berpendidikan tinggi, ber-aktualisasi, memenejemen diri, bergabung dengan partai politik, dan berperstasi.
Daftar Pustaka
Politik di Indonesia. Unwir: Indramayu.
Eriyanto. 2012. Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKIS.
Jurnal Sosial dan Demokrasi. 2009. Representasi Politik Perempuan: Sekadar Ada Pemberi Warna. Edisi ke-6, tahun ke-2, Juni—Agustus 2009.
Hidayatulloh dan Leni Marlina. 2011. Perkawinan di Bawah Umur: Studi Kasus di Desa Bulunghinit, Labuhan Batu, Sumatera Utara. UII: Yogyakarta.
Sridanti, L. Putu. Tanpa tahun. Peranan Politik Perempuan di Indonesia Peluang Dan Hambatan. Journal Selebaran Online.