• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGELOLAAN LAHAN MARGINAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGELOLAAN LAHAN MARGINAL"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

PENGELOLAAN

LAHAN MARGINAL

(2)

POKOK BAHASAN

1 Pendahuluan

2 Tahapan Pembukaan lahan di areal Marginal

3 Pemanfaatan Lahan Marginal (Areal Pasir & Areal Pasang Surut) 4 Upaya peningkatan produktifitas dan hasil penelitian tentang

pemanfaatan lahan marginal

5 Key Succes Faktor dalam pemanfaatan areal marginal 6 Sistem Pengelolaan Air

7 Pemeliharaan Saluran drainase 8 Jalan di Lahan Marginal

9 Administrasi Pengelolaan Lahan Marginal

(3)

DEFINISI

 Drainase adalah aliran air dibawah permukaan atau di atas permukaan tanah.

 Lahan merupakan suatu wilayah daratan dengan ciri mencakup semua watak yang melekat pada atmosfer, tanah, geologi, timbulan, hidrologi dan populasi

tumbuhan dan hewan, baik yang bersifat mantap

maupun yang bersifat mendaur, serta kegiatan manusia diatasnya.

 Lahan marginal adalah lahan yang memiliki mutu rendah karena memiliki beberapa faktor pembatas jika

digunakan untuk suatu keperluan tertentu. Sebenarnya faktor pembatas tersebut dapat diatasi dengan masukan, atau biaya yang harus dibelanjakan.

(4)

DEFINISI

 Lahan gambut adalah lahan dimana tanahnya hasil dari akumulasi timbunan bahan organik lebih besar dari 65% secara alami dari lapukan vegetasi yang tumbuh di

atasnya yang terhambat proses dekomposisinya karena suasana anaerob dan basah.

 Lahan pasang surut adalah lahan yang permukaan airnya dipengaruhi musim penghujan permukaan air

akan naik dan pada musim kemarau permukaan air akan surut (pada lokasi yang berair).

 Pasir, merupakan tanah yang bersifat kurang baik bagi pertanian yang terbentuk dari batuan beku serta batuan sedimen yang memiliki butir kasar dan berkerikil.

(5)
(6)

STRUKTURISASI SOP Pengelolaan Lahan Marginal Pedoman Teknis Strukturisasi

Filosofi, Kebijakan & Pedoman Teknis

PTA & IOM

Prosedur (tidak ada)

(7)

FILOSOFI, KEBIJAKAN DAN PEDOMAN

PENGELOLAAN LAHAN MARGINAL

(8)

FILOSOFI

Lahan marginal bisa dijumpai dalam areal

pengembangan terutama di wilayah Kalimantan, terkait semakin terbatasnya areal peruntukkan perkebunan kelapa sawit. Lahan ini memiliki mutu rendah karena

memiliki beberapa faktor pembatas jika digunakan untuk suatu keperluan tertentu. Tanpa masukan yang berarti budidaya pertanian di lahan marginal tidak akan

memberikan keuntungan.

Ketertinggalan pembangunan pertanian di daerah

marginal hampir dijumpai di semua sektor, baik biofisik, infrastruktur, kelembagaan usaha tani maupun akses informasi yang kurang mendapat perhatian.

(9)

FILOSOFI

Di Indonesia lahan marginal dijumpai

baik pada lahan basah maupun lahan

kering. Lahan basah berupa lahan

gambut, lahan sulfat masam dan

rawa pasang surut, sementara lahan

kering berupa tanah Ultisol dan

(10)

LAHAN MARGINAL YANG SERING DIMANFAATKAN DALAM BUDIDAYA KELAPA SAWIT

(11)

LAHAN PASANG SURUT

 Lahan pasang surut dibagi menjadi beberapa golongan menurut tipe luapan air pasang, yaitu :

Lahan terluapi oleh pasang besar (pada waktu bulan purnama maupun bulan mati), maupun oleh pasang kecil (pada waktu bulan separuh)

Lahan terluapi oleh pasang besar saja.

Lahan tidak terluapi oleh air pasang besar maupun pasang kecil, namun permukaan air tanahnya cukup dangkal, yaitu kurang dari 50 cm.

Lahan tidak terluapi oleh air pasang besar maupun pasang kecil, namun permukaan air tanahnya dalam, lebih dari 50cm.

(12)

LAHAN PASANG SURUT

 Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan dalam pengelolaan lahan pasng surut menjadi peruntukkan perkebunan kelapa sawit yaitu :

Lay Out pembuatan sistem drainase. Ketinggian permukaan air.

Tidak boleh ditanami sebelum pembangunan sistem

sistem drainase (3-6 bulan dibiarkan tidak ditanam untuk memberikan kesempatan terjadinya pencucian pirit)

Aplikasi kapur karena asam.

Membuat parit tengah (parit sekunder)

Trio tata air (Saluran drainase, tanggul dan pintu air). Permukaan mikro dan control Release Fertilizer (CRF)

(13)

LAHAN PASIR

 Merupakan lahan marginal dengan ciri-ciri antara lain : Tekstur pasiran.

Struktur Lepas-lepas.

Kandungan hara rendah.

Kemampuan menukar kation rendah. Daya menyimpan air rendah.

Suhu tanah disiang hari sangat tinggi.

(14)

LAHAN PASIR

 Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan dalam pengelolaan lahan pasang surut menjadi peruntukkan perkebunan kelapa sawit, yaitu :

Pada waktu pembukaan lahan, sedapat mungkin dilakukan secara manual.

Untuk areal pasir yang memiliki lapisan hardpan, perlu dibuatkan parit diskontinu.

Pembuatan lubang tanam dengan “big hole”. Penggunaan janjang kosong.

Manajemen Vegetasi “ground management” (konservasi tanahdan air)

Pemupukan mikro dan CRF. Penanaman Mucuna Bracteata.

(15)

LAHAN PASIR

(16)

LAHAN GAMBUT

 Berdasarkan Peraturan Mentri Pertanian Nomor : 14/Permentan/PL.110/2/2009 tentang pedoman

Pemanfaatan Lahan Gambut Untuk Budidaya Kelapa Sawit, maka tujuan pemanfaatan lahan tersebut

adalah :

Mengembangkan budidaya tanaman kelapa sawit.

Memelihara kelestarian fungsi lahan gambut. Meningkatkan produksi dan pendapatan

(17)

LAHAN GAMBUT

 Lahan gambut dapat diusahakan untuk budidaya kelapa sawit harus memenuhi kriteria yang dapat menjamin kelestarian fungsi lahan gambut, kriteria yang dimaksud yaitu :

Diusahakan hanya pada lahan masyarakat dan kawasan budidaya.

Ketebalan lapisan gambut kurang dari tiga meter.

Substratrum tanah mineral dibawah gambut bukan pasir kuarsa dan bukan tanah sulfat masam.

Tingkat kematangan gambut saprik (matang) atau hemik (setengah matang)

(18)

LAHAN GAMBUT

Lapisan gambut

Lapisan liat

(19)

LAHAN GAMBUT

 Pembukaan lahan dan pengelolaan kelapa sawit di lahan gambut

memerlukan paket teknologi khusus yang berbeda dengan tanah meneral.

 Hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolahan lahan gambut :

Ketebalan, kematangan, sifat fisik dan kimia gambut. Sungai alam di sekitar lahan yang akan dikelola.

Jarak lahan terhadap pantai/laut

Kemungkinan banjir serta “back flow” (aliran balik) dari outlet dan atau sungai.

Tinggi permukaan air tanah.

Penurunan permukaan lahan gambut setelah dibuat saluran drainase. Sumber tanah mineral untuk kebutuhan timbun jalan, pembibitan dan lokasi pabrik.

(20)

LAHAN GAMBUT

 Lahan gambut oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat digolongkan kedalam lahan kelas III sebagai lahan marginal dengan produksi rata-rata 18 ton/ha/tahun.

 Namun demikian apabila dikelola dengan baik yang meliputi persiapan lahan, pengaturan drainase,

prasarana yang lengkap dan pemupukan optimal maka produksinya akan sebanding dengan produksi di tanah mineral.

 Tetapi biaya pembukaan lahan dan pemeliharaan tanaman di lahan gambut lebih tinggi daripada tanah mineral.

(21)

LAHAN GAMBUT

 Pembukaan dan pengelolaan lahan gambut harus memperhatikan prinsip dan kriteria Roundtable on

Sustainable Palm Oil (RSPO) atau Minyak Sawit Lestari/ High Conservation Value Forest (HCVF) atau Nilai

konservasi Tinggi (NKT). Prinsip dan kriteria tersebut terdapat dalam RSPO Principles and Criteria for

Sustainable Palm Oil Production.

 Pada suatu kawasan kebun yang termasuk dalam areal konsesi (HGU) perlu dibuat zona penyangga (buffer

(22)

LAHAN GAMBUT

 Apabila lahan gambut dangkal, maka digunakan transportasi darat. Sedangkan untuk lahan gambut dalam skala luas dan gambut dalam, maka sistem transportasinya menggunakan transportasi air

(pemanfaatan transportasi drainase).

 Topologi gambut dibedakan menurut kedalaman, tingkat dekomposisi dan cara pembentukannya.

(23)
(24)

LAHAN GAMBUT

A. Kedalaman

Berdasarkan kedalaman, maka lahan gambut dibedakan menjadi :

• Gambut dangkal : 0.5 – 1.0 m

• Gambut sedang : 1.0 – 3.0 m

• Gambut dalam : >3.0 m

Lahan gambut yang dapat digunakan untuk budidaya kelapa sawit, yaitu :

• Dalam bentuk hamparan yang mempunyai ketebalan gambut kurang dari tiga meter. Jadi yang memenuhi kriteria ini adalah gambut dangkal hingga sedang.

• Prpoprsi lahan dengan ketebalan 70 % dari luas yang diusahakan.

(25)

LAHAN GAMBUT

B. Dekomposisi

Berdasarkan tingkat pelapukan (dekomposisi), maka gambut dibedakan menjadi :

• Gambut mentah (fibris)

• Gambut sedang (hemis)

• Gambut matang (safris)

C. Sifat dan cara pembentukan

• Lahan gambut ombrogin, terbentuk di daerah daratan rawa luas, tidak tergenang permanen, permukaan air tanah sangat dangkal, umurnya ±40 cm dari permukaan tanah, kesuburan tanah rendah ( miskin hara).

• Lahan gambut topogin, terbentuk di daerah rawa sempit, umumnya selalu tergenang air, lokasinya lebih rendah dari daerah sekitarnya, sehingga membentuk rawa cekungan.

(26)

KENDALA PENGELOLAAN LAHAN GAMBUT

Gambut merupakan lahan marginal

dan rapuh yang pemanfaatanya

memerlukan perencanaan dan

penanganan yang cermat. Kekeliruan

dalam membuka lahan ini akan

membutuhkan biaya besar dan usaha

yang sulit untuk memperbaikinya.

(27)

KENDALA AGRONOMIS

 Beberapa sifat fisik, kimia dan biologis lahan gambut

merupakan faktor pembatas terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit. Sifat-sifat tersebut antara lain adalah :

PH yang sangat rendah mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Apabila lahan gambut mengalami kondisi over drained (terlalu kering) akan mengakibatkan “irreversible drying” (tidak dapat menyerap dan menahan air).

Pokok doyong adalah kondisi pertumbuhan yang dapat terjadi dilahan gambut pada saat tanaman berumur 3 tahun atau lebih. Hal ini disebabkan karena lahan gambut yang telah dibuat saluran drainase mengalami penurunan permukaan tanah yang

(28)

KENDALA AGRONOMIS

Sering ditemukan defisiensi unsur hara kalium (K) dan mikro, terutama Tembaga (Cu), Seng (Zn) dan Boron (B), karena kandungan unsur-unsur tersebut dilahan gambut sangat rendah.

Bahaya serangan rayap amat besar jika pembukaan lahan tidak bersih dan banyak batang-batang kayu tertinggal dan tertimbun di lapangan.

 Potensi produksi lahan gambut akan rendah disebabkan faktor-faktor pembatas seperti tersebut diatas, namum apabila dikelola dengan baik, akan memberikan hasil yang lebih tinggi

(29)

KENDALA NON AGRONOMIS

 Kebakaran

Pada bulan kering, lahan gambut memiliki risiko kebakaran sangat tinggi, karena didalam areal sangat mungkin terjadi

defisiensi air (kering) yang menyebabkan bahan-bahan organik mudah terbakar.

 Back flow

Pada lahan gambut sangat mungkin terjadi aliran balik pada saat bulan basah, terutama kebun yang tingginya sama atau lebih rendah dari sungai alam di sekitar kebun. Selain itu dapat pula disebabkan karena adanya air pasang dari laut.

(30)

PAKET TEKNOLOGI

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :

 Pengaturan trio tata air, yaitu saluran drainase, tanggul dan pintu air dengan baik yang bertujuan untuk mengontrol permukaan air pada posisi optimal 60-80 cm.

 Jika posisi kebun lebih rendah dari sungai sekitar, maka

pengeluaran air dapat dilakukan dengan menggunakan pompa air (“Flood Lift Pump”).

 Pembukaan lahan dengan prinsip “Zero Burning”, maka kayu balok dan tunggul seharusnya dikeluarkan dari lahan terutama di jalur tanaman dan pasar pikul.

 Pemadatan (“compacting”) disepanjang jalur tanaman dan pasar pikul dengan menggunakan alat berat.

(31)

TAHAPAN PEMBUKAAN LAHAN

Penyusunan program pembukaan lahan

gambut

a) Persiapan pembukaan lahan gambut sebaiknya dimulai minimal enam bulan sebelum tahun

program, sehingga tersedia waktu 16 bulan untuk menyelesaikan program. Semua tahapan pekerjaan agar disusun secara sistematis dan satu sama lain tidak saling menghambat. Faktor yang perlu

diperhitungkan ialah : iklim, Ketinggian air, Tenaga kerhja, Alat dan Bahan.

b) Contoh jadwal kegiatan Operasional pembukaan lahan gambut ukuran 2.000 ha dapat di lihat tabel dibawah

(32)

DIAGRAM KEGIATAN OPERASIONAL LAND CLEARING UNTUK LAHAN GAMBUT

(33)

SURVEI TATA BATAS

 Tujuan :

a) Menentukan tata batas konsesi

b) Inventarisasi bentang alam (parit dan sungai) dan tata guna tanah disekitar tata batas.

c) Mengidentifikasi dan inventarisasi areal HCVF dan mengeluarkanya dari areal yang akan dikerjakan. d) Membuat peta areal yang akan dikelola.

e) Menentukan topografi areal untuk perencanaan sistem drainase dan jalan.

f) Mengetahui luas areal konsensesi sesuai surat izin pencadangan areal.

 Waktu pelaksanaan survei tata batas adalah setelah dilaksanakan survei mikro oleh instansi pemerintah dan disesuaikan dengan rencana kerja perusahaan

(34)

PEMBUATAN SALURAN BATAS (PERIMETER DRAIN)

 Sebelum pembuatan saluran batas, dilakukan

pekerjaan rintis. Pekerjaan rintis menggunakan alat survei diikuti dengan pancang, kemudian tumbang jalur dan pembuatan saluran/parit yang bertujuan untuk keluar masuk alat berat.

 Ketentuan pembuatan saluran batas, yaitu sebagai berikut :

• Saluran dibuat di sekeliling batas areal.

• Ukuran saluran : lebar 6 meter dan dalam 4 meter.

• Hasil galian parit ditimbun ke arah dalam atau luar

tergantung arah aliran air, yaitu letak parit dibuat sebelum benteng/jalan jika aliran air mengarah ke benteng/jalan. Tanah galian dapat dipergunakan untuk membentuk

(35)

PEMBUATAN SALURAN BATAS (PERIMETER DRAIN)

 Fungsi Tanggul

a) Mempertegas batas-batas areal yang akan dikelola.

b) Mengatur tinggi permukaan air tanah dan

mencegah masuknya air dari areal sekitar ke dalam kebun.

c) Sebagai jalan transportasi buah dan kontrol.

 Setelah pembuatan saluran batas dilakukan survai ketinggian permulaan air “flying level survey”. Survai ketinggian permukaan air dan debit air bertujuan untuk menentukan arah jaringan saluran drainase, ukuran dan kedalaman jembatan, gorong-gorong dan box culvert.

(36)

PEMBUATAN SALURAN DRAINASE

A) Saluran drainase terdiri dari :

 Saluran pembuangan (Outlet drain)

 Saluran utama (Main Drain)

 Saluran pengumpul (Collection drain)

 Saluran lapangan (Subsididiary drain) B) Waktu pembuatan

 Saluran pembuangan : setelah diketahui batas konsesi dan sebelum dimulai pembukaan lahan.

 Saluran utama : bersamaan dengan pembuatan sakluran batas atau 1 (satu) tahun sebelum tanam.

 Saluran pengumpul : bersamaan dengan pelaksanaan LC

 Saluran lapangan : setelah LC dan menjelang penanaman bibit kelapa sawit dilapangan.

(37)

KETENTUAN UKURAN SALURAN DRAINASE/PARIT

(38)

LAY OUT DARI JARINGAN SALURAN DRAINASE DI LAHAN GAMBUT

(39)

PEMBUATAN SALURAN DRAINASE

D) Fungsi / Kegunaan

 Saluran pembuangan

Mengalirkan air dari parit utama langsung ke sungai alam.

 Saluran utama

- Mengalirkan air ke saluran pembuangan/perimeter. - Menampung kelebihan air dari saluran lapangan. - Mengatur ketinggian permukaan air di dalam blok. - Sebagai batas bolok kecil.

 Saluran Lapangan

- Bermuara di saluran pengumpul.

(40)

PENGELOLAAN AIR

 Pengelolaan air (Water Management) terutama dalam menjaga permulaan air tanh sangat penting karena berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi. Dalam hal ini harus mendapat perhatian yang serius dari manajemen kebun.

 Sarana Pengelolaan Air

A. Pintu Air (Water Gate)

– Fungsi utama pintu air adalah menahan air luar masuk ke areal kebun, Menahan air dalam kebun.

– Lokasi pembuatan pintu air adalah di batas kebun, pertemuan antara saluran utama/perimeter dengan sungai atau saluran pembuangan.

(41)

PINTU AIR (WATER GATE)

(42)
(43)

BENDUNGAN (WEIR)

 Bendungan berfungsi untuk mempertahankan

permukaan air pada posisi 60-80 cm dari permukaan tanah.

 Lokasi pembuatan bendungan adalah di batas saluran pengumpul dengan saluran utama dan atau di

sepanjang saluran pengumpul. Pada setiap saluran pengumpul minimal terdapat satu bendungan

(44)

POMPA AIR (FLOOD LIFT PUMP)

 Pompa air berfungsi untuk mengeluarkan air dari lahan pada saat banjir apabila permukaan air di luar lebih

tinggi dari lahan.

 Kapasitas pompa air disesuaikan dengan jumlah volume air yang dikeluarkan berdasarkan luas arel yang

dikeluarkan berdasarkan luas areal yang dikelola dan curah hujan.

(45)

TANGGUL

Tanggul berfungsi untuk mencegah air dari luar

areal masuk kedalam lahan

Tanggul hanya dapat dibuat pada lahan gambut

dangkal dan tanah mineral dapat ditemukan

(46)

SISTEM PENGELOLAAN AIR

A. Musim hujan

Pada awal musim hujan, bendungan

disaluran pengumpul dan jika ada di saluran

utama harus dibuka untuk menjamin

kelancaran pembuangan air sekaligus untuk

menggantikan air yang memiliki pH rendah

(asam) dengan air hujan.

Pada musim hujan, secara berkala pintu air

harus selalu dikontrol, apabila air diluar lebih

rendah dari air dalam kebun maka pintu air

harus dibuka dan sebaliknya. Pada

bendungan di saluran pengumpul dan jika

ada saluran utama harus dijaga untuk

menjamin ketersediaan air di lapangan

sesuai ketinggian permukaan air.

Untuk kebun yang memiliki pompa air,

bilamana permukaan air diluar lebih tinggi

dari lahan dan permukaan air dalam kebun

Disampaikan Pada Materi Kelas PAMA XV XI Disampaikan Pada Materi Kelas PAMA XV

(47)

SISTEM PENGELOLAAN AIR

B. Musim Kemarau

Menjelang musim kemarau, semua bendungan di saluran pengumpul sudah harus ditutup.

Pada musim kemarau, untuk mempertahankan permukaan air di dalam kebun sesuai dengan ketentuan, pintu air harus tetap di tutup.

Selain membuat pintu air dan bendungan,

manajemen kebun juga harus berusaha melakukan pencarian sumber air dan mengalirkanya kedalam kebun yang bertujuan untuk menjamin ketersediaan air pada saat musim kemarau.

(48)

MONITORING PERMUKAAN AIR

 Setiap pertengahan saluran pengumpul dipadsang alat pengukur permukaan air. Alat pengukur permukaan air tersebut terbuat dari pipa “PVC 3” berwarna putih.

 Setiap kebun harus menempatkan seorang petugas khusus “Mandor Water Management” untuk memonitor dan mencatat ketinggian permukaan air minimum setiap minggu sekali.

 Asisten divisi bertanggungjawab melengkapi data

tersebut dan melaporkan seminggu sekali kepada Estate Manager.

(49)
(50)

PEMELIHARAAN SALURAN DRAINASE

 Pemeliharaan saluran drainase meliputi pencucian

rumpu/sampah/gulma dan pendalaman saluran sesuai yang diperlukan untuk menjamin kelancaran

pengeluaran air.

(51)

 Semprot pinggir parit di saluran lapangan, pengumpul dan utama dilakukan sesuai dengan jadwal semprot piringan/pasar pikul. Penyemprotan dilakukan apabila saluran pengumpul tidak dicuci atau didalamkan

 Seluruh saluran drainase harus dipastikan bebas dari hambatan.

PEMELIHARAAN SALURAN DRAINASE

(52)

PEMBUKAAN LAHAN

 Batas Blok (‘Blocking”)

a) Pembats blok dilakukan setelah survey batas areal.

b) Sebelum menentukan batas blok, terlebih dahulu dilakukan pekerjaan rintis untuk menentukan

jalur batas blok. Pekerjaan rintis ini akan diikuti oleh petugas pancang yang akan menentukan jalur saluran utama (Main Drain) yang sekaligus sebagai batas blok.

(53)

PEMBUKAAN LAHAN

 Imas (“Underbrushing”)

a) Pekerjaan imas dilakukan minimal dua bulan setelah pembuatan saluran batas blok (Main Drain) dan saluran batas (Primeter drain) serta kondisi areal kering.

b) Imas yaitu memotong semak-belukar dan pohon yang berdiameter <7.5 cm hingga tidak lebih 15 cm dari permukaan tanah.

c) Saat mulai dilakukan pekerjaan imas, harus

(54)

PEMBUKAAN LAHAN

 Tumbang dan Cincang

a) Pekerjaan menumbang yaitu membersihkan arealdari tegakan kayu.

b) Tumbang dilaksanakan setelah pekerjaan mengimas, untuk pokok/kayu dengan diameter > 7.5 cm. Arah tumbangan harus sejajar dengan saluran utama untuk memudahkan pekerjaan rumpuk (mekanikal stacking) selanjutnya.

c) Hal-hal yang harus diperhatikan untuk keselamatan kerja dalam penumbangan, yaitu kanopi dan arah angin.

d) Penumbangan dapat dilakukan dengan gergaji rantai (chain saw ). Output pekerjaan tumbang sangat

dipengaruhi oleh kerapatan tegakan pohon per ha dan diameter pohon.

(55)

e. Seluruh ranting (kanopi) pohon yang telah ditumbang harus dicincang untuk memudahkan pekerjaan stacking. f. Kayu yang telah ditumbang dan tidak dikeluarkan dari

areal harus dipoting dengan panjang 1.5 -2.0 meter.

(56)

KETENTUAN TINGGI TUNGGUL MAKSIMUM

Diameter Batang Ditebang dari Permukaan Tanah Maksimum >10 - 15 cm 15 cm (serapat mungkin dengan tanah)

16 - 30 cm 25 cm

31 - 75 cm 50 cm

76 - 150 cm 100 cm

(57)

PEMBUKAAN LAHAN

Rumpuk Mekanis (Stacking)

a) Pancang untuk saluran pengumpul harus sudah dibuat sebelum rumpuk mekanis . Hal ini untuk menghindari adanya rumpukan di jalur saluran pengumpul.

b) Pancang rumpukan dilakukan apabila seluruh kayu sudah dicincang. Lokasi pancang rumpukan nantinya dijadikan daasar gawangan mati saat pancang tanam. c) Pada areal rendahan/gambut, dimana areal tersebut

agak basah maka pelaksanaan Land Clearing dapat dikerjakan secara manual dan atau menggunakan alat excavator dengan jarak antara rumpukan yang satu dengan rumpukan lain adalah 2 baris tanamatau ± 16 meter.

(58)

PEMBUKAAN LAHAN

d) Jalur rumpukan kayu yang panjangnya ± 250 meter diputus pada setiap jarak 50 meter dengan lebar ±6 meter ( 2 pisau bulldozer)

e) Titik tanam yang akn dipancang harus bebas dari

tunggul kayu dengan jarak minimum 1.5 meter dari kiri dan kanan jalur tanaman.

f) Pada saat pemancangan, di jalur rumpukan sudah

ditentukan pancang untuk saluran lapangan (Subsidiary drain)

(59)

PEMBUKAAN LAHAN

a) Pembersihan dan pemadatan jalur tanam dan pasar pikul dengan Excavator dilaksanakan bersamaan dengan pekerjaan rumuk/stacking.

b) Sepanjang jalurtanam harus bersih dari kayu besar dan tunggul dengan diameter dibawah 60 cm harus dibongkar dan disusun di jalur rumpukan.

c) Tujuan pemadatan

- Menurunkan permukaan lahan gambut secara cepat sampai 30-50cm, sehingga dalam proses penurunan permukaan tanah selanjutnya, akar tanaman sudah menjangkar kuat di dalam tanah.

- Memudahkan mobilitas pekerja dalam pengelolaan tanah menjadi lunak pada waktu basah dan mendebu pada waktu kering.

(60)

 Jenis jalan

a) Jalan akses (acces road), yaitu jalan

penghubung keluar masuk kebun dan antar

kebun (emplasemen, kantor besar kebun, pabrik dan dermaga)

b) Jalan utama (main road), yaitu jalan yang menghubungkan semua divisi serta

menghubungkan jalan produksi dan jalan akses.

(61)

c) Jalan produksi (collection road), yaitu jalan yang mengelilingi, membatasi dan membagi blok serta dipergunakan untuk mengangkut hasil dan

kontrol.

d) Jalan bantu (tertiary road) yaitu jalan tambahan yang dibuat pada areal-areal sulit yang berfungsi untuk mendukung pengumpulan produksi.

e) Jalan pringgan (boundary road) yaitu jalan yang dibuat di sepanjang pinggir kebun dan berfungsi sebagai tanda batas areal kebun.

(62)
(63)

JALAN

Pembuatan Jalan

a) Jalan dibuat dengan memanfaatkan tanah

galian parit drainase, ditebar dan diratakan di

atas badan jalan.

b) Masing-masing jalan dibuat kaki lima di kiri

atau kanan jalan selebar 0.5-1.0 meter

(64)

JALAN

 Pemadatan Jalan

a) Penimbunan dan pemadatan untuk main road dan collection road dilakukan 2 tahap, pertama pembentukan badan jalan dari tanah hasil galian parit. Tahap kedua adalah penimbunan dengan tanah mineral dan pemadatan.

b) Sebelum dilakukan penimbunan, badan jalan harus bersih dari bahan organik dan diratakan dengan road grader jika diperlukan.

c) Alat yang dipakai untuk pemadatan jalan adalah compactor.

(65)

JALAN

 Pengerasan Jalan

a) Pengerasan jalan dilakukan setelah penimbunan dengan tanah mineral dan dilakukan terhadap jalan utama dan jalan produksi.

b) Badan jalan ditimbun dengan bahan campuran lalu dipadatkan dengan Vibratory compactor.

c) Sedangkan pengerasan jalan produksi hanya pada tempat yang dianggap perlu dengan menggunakan sirtu tebal ± 10-15 cm dan dipadatkan dengan

(66)

JALAN

 Perawatan Jalan

a. Lapisan permukaan dijaga tetap rata dan tidak boleh ada air mengenang di atas badan jalan. b. Bentuk/kemiringan jalan dipelihara dengan baik,

untuk menjamin pengeringan air di permukaan jalan.

c. Parit jalan harus terpelihara dengan baik, untuk dapat menampung dan mengalirkan kelebihan air dari permukaan jalan.

d. Pada jarak 30-50 meter dibuat saluran air tepi jalan.

(67)

PERAWATAN JALAN

Kondisi Ringan

Jalan yang tergenang air Mengeringkan air dari badan jalan

(68)

PERAWATAN JALAN

Kayu ditutup dengan tanah Mengaplikasikan kayu

(69)

PENANAMAN KACANGAN (LCC)

 Kondisi lahan

a) Lahan yang siap tanam segera akan ditanam kelapa sawit mutlak perlu dilakukan penanaman kacangan dengan tujuan untuk menekankan

pertumbuhan gulma terutama lalang dan pakis-pakisan.

b) Untuk lahan yang telah diberakan lebih dari 1 tahun dan gulma yang tumbuh secara dominan adalah pakis yang tidak merugikan (pakis lunak) maka tidak perlu dilakukan penanaman kacangan.

(70)

PENANAMAN KELAPA SAWIT

 Ketentuan penanaman

a) Ukuran lubang tanam pada daerah gambut bervariasi berdasarkan kepadatan tanah pada jalur tanam.

b) Penanaman kelapa sawit pada lahan gambut

dengan sistem lubang dalam lubang (hole in hole planting) yang ukuran lubang tanam sebagai

berikut

- Lubang luar 60 x 60 x60 cm - Lubang dalam 40 x 40 x 40 cm

(71)

PENANAMAN KELAPA SAWIT

c) Pada saat penanaman, posisi kedalaman tanaman setelah dipadatkan 15 cm di atas

permukaan tanah. Hal ini dilakukan agar pada waktu tertentu tanah tersebut rata atau sejajar dengan permukaan tanah.

d) Setiap lubang tanam diberi pupuk, 500 gr RP, 350 gr CRF, 20 gr

(72)

PENANAMAN KELAPA SAWIT

Teknis memupuk lubang

a) Setengah dosis dari pupuk RP ditabur secara merata di dalam lubang tanam, sedangkan

setengahnya lagi ditabur pada timbunan top soil dari lubang tanam.

b) Pupuk CRF ditabur secara merata setelah lubang tanam terisi setengah timbunan top soil.

c) Pupuk Chelated Zinc Copper ditabur secara merata setelah lubang tanam terisi setengah timbunan top soil.

d) Pemberian pupuk dilakukan dengan takaran yang dibuat yang telah distandardisasi.

(73)

PENANAMAN KELAPA SAWIT

Tanam KS Ecer Bibit

(74)

Aplikasi Pupuk Lubang I Pembukaan Polibag

(75)

Memasukkan Bibit ke Lubang Tanam Aplikasi Pupuk Lubang II

(76)

Pemadatan Lubang Tanam

Tanaman telah selesai di tanam

Gambar

DIAGRAM KEGIATAN OPERASIONAL LAND  CLEARING UNTUK LAHAN GAMBUT

Referensi

Dokumen terkait

Palam sistem pendukung keputusan ada banyak seklai metode-metode yang digunakan salah satunya yaitu metode Analytical Hierarchy Process (AHP) yang merupakan metode

DSFI sebagai perusahaan yang bergerak di industri perikanan juga turut terpengaruh sentimen tersebut dengan kenaikan hingga sekitar +15% dengan penutupan naik

saya katakan tadi kalau ada orang Batak mencipta lagu mencampu-campur bahasa berarti pencipta itu adalah si.

Sistem informasi karyawan (SIKAWAN) merupakan sebuah sistem berbasis web yang digunakan untuk mengelola data catatan karyawan, dalam sistem ini terdapat beberapa

Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, maka Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 17 Tahun 2001 tentang

Half Coefficient 0.876 Hasil pengujian validitas dan reliabilitas untuk masing-masing variabel tersebut menunjukkan bahwa semua variabel mempunyai koefisien alpha yang cukup besar

Skripsi yang berjudul Aplikasi Sistem Informasi Geografis dalam menentukan lokasi Sub Terminal Agribisnis pada kawasan agropolitan Cendawasari ini merupakan hasil

(2) Direksi dapat menyerahkan kekuasaan mewakili tersebut dalam ayat (1) kepada anggota Direksi yang khusus ditunjuk untuk itu kepada seorang/beberapa orang pegawai Perusahaan