1 Mahasiswa S-1 Teknik Sipil FTSP-ITS 2 Guru Besar Teknik Sipil FTSP-ITS
Abstrak-Alternatif perencanaan yang dilakukan pada dinding penahan tanah di Stasiun Bawah Tanah Dukuh Atas dilakukan dengan metode diaphragm wall, secant pile, dan soldier pile. Metode diaphragm wall adalah pengecoran langsung dinding beton pada tulangan yang dimasukan ke dalam tanah. Metode secant pile adalah penyusunan tiang bor secara beririsan sehingga menjadi dinding yang kokoh. Sedangkan metode soldier pile adalah kombinasi dinding beton dan profil baja yang disusun dengan jarak tertentu antar profil baja yang diisi oleh dinding beton. Tujuan dibuatnya alternatif ini agar dapat membandingkan perencanaan antara satu dengan yang lain dalam hal kestabilan, kekuatan, deformasi, dan keefektifan masing-masing metode. Secara rinci, perbandingan dilakukan pada metode pelaksanaan dan material yang digunakan sehingga dapat dilihat pengaruhnya pada kekuatan dan dinding penahan tanah.
Hasil yang didapatkan pada perhitungan adalah dimensi material, kedalaman dinding, dan deformasi maksimum. Pada diaphragm wall, didapatkan tebal diaphragm wall sebesar 1.2 meter dengan kedalaman 31.3 meter dan deformasi maksimal 2.61 cm. Pada secant pile, didapatkan diameter pile sebesar 1.2 meter dengan kedalaman 31.3 meter dan deformasi maksimal 2.89 cm. Pada soldier pile, didapatkan profil baja H-beam 1000 x 450 x 16 x 38 BJ55 ditanam secara disambung sedalam 31.3 meter dengan deformasi maksimal 2.93 cm. Berdasarkan metode, hasil deformasi maksimum, dan estimasi biaya yang didapatkan pada setiap alternatif, dipilih perencanaan dengan menggunakan secant pile sebagai dinding penahan tanah.
Kata kunci : stasiun bawah tanah, diaphragm wall, secant pile, soldier pile
I. PENDAHULUAN
Pembangunan sistem transportasi makro yang dinamakan Mass Rapit Transit (MRT) Jakarta pada tahap I di koridor selatan-utara dilaksanakan dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI. Pembangunan ini terdiri dari lintasan sepanjang 15,2 kilometer dengan 9,8 kilometer untuk lintasan melayang dan 5,9 kilometer untuk lintasan bawah tanah (tunnel tertutup), dengan 13 stasiun yang terdiri dari 7 stasiun layang dan 6 stasiun bawah tanah. Salah satu stasiun bawah tanah yang akan dibangun di kawasan Jakarta Pusat adalah stasiun bawah tanah Dukuh Atas dengan spesifikasi bangunan 3 lantai sedalam 24 meter dengan menggunakan struktur dinding penahan tanah sebagai bangunan utama.
Gambar 1 Lokasi Stasiun Bawah Tanah Dukuh Atas
Gambar 2 Potongan Rencana Stasiun Bawah Tanah
Untuk perencanaan struktur dinding penahan tanah sedalam 24 meter perlu diperhatikan aspek geoteknik mengenai konstruksi dinding penahan tanah. Konstruksi dinding penahan tanah ini digunakan untuk menjaga kestabilan tanah dan mencegah keruntuhan tanah di samping stasiun bawah tanah tersebut. Beberapa alternatif perencanaan seperti diaphragm
wall, secant pile, dan soldier pile dapat menjadi jawaban atas
kebutuhan konstruksi dinding penahan tanah ini. Metode pelaksanaan konstruksi bawah tanah menentukan cara yang tepat agar pembangunannya berjalan lancar tidak ada hambatan seperti terjadinya longsor atau keruntuhan pembangunan.
ALTERNATIF PERENCANAAN DINDING PENAHAN TANAH
STASIUN BAWAH TANAH DUKUH ATAS DENGAN
DIAPHRAGM WALL, SECANT PILE, DAN SOLDIER PILE PADA
PEMBANGUNAN PROYEK MASS RAPID TRANSIT JAKARTA
Muhammad Hadi Fadhillah
1, Indrasurya B. Mochtar
2Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
Diperlukan perhitungan agar pembangunan stasiun bawah tanah ini tidak berpengaruh terhadap bangunan disekitarnya.
Tulisan ini melaporkan hasil perencanaan diaphragm wall,
secant pile, dan soldier pile sebagai dinding penahan tanah
secara dimensi, kedalaman, deformasi, dan metode sehingga dapat ditentukan alternatif perencanaan yang efektif dan efisien.
II. METODOLOGI
Perencanaan dinding penahan tanah dengan diaphragm wall,
secant pile, dan soldier pile ini memiliki tahapan perencanaan
awal yaitu pengumpulan data gambar denah stasiun bawah tanah Dukuh Atas, data tanah, dan data peta geologi tiap stasiun. Setelah data diolah seperti yang terdapat dalam hasil Tugas Akhir penulis [7], dilakukan tahap perhitungan, analisa, kontrol, dan penyusun metode pada tiap konstruksi.
Perhitungan dilakukan pada pencarian kedalaman dinding penahan tanah yang akan dibuat melalui analisa push-in, yaitu analisa kesetimbangan gaya-gaya tanah terhadap strut terbawah untuk mencari kedalaman jepit tiang efektif terhadap faktor keamanan. Perhitungan dilakukan juga untuk mencari asumsi dimensi tiap konstruksi sebagai keperluan pre-eliminary design dalam analisa program bantu Plaxis V8.2.
Analisa terhadap pre-eliminary design untuk konstruksi
diaphragm wall, secant pile, dan soldier pile dilakukan dengan
program bantu Plaxis V8.2 dengan output program yang digunakan untuk kontrol manual adalah deformasi, momen, gaya geser, dan gaya aksial. Analisa yang dilakukan pada Plaxis V8.2 dibagi dengan beberapa tahapan konstruksi yaitu 4 tahap penggalian, 5 tahap pengecoran pelat lantai, 3 tahap pemasangan strut, dan 1 tahap penimbunan tanah.
Setelah output program Plaxis V8.2 didapatkan, dilakukan kontrol terhadap tiap konstruksi yaitu kontrol material, kontrol
uplift, kontrol penurunan tanah, dan kontrol strut. Kemudian
disusun metode pelaksanaan tiap konstruksi yang memungkinkan dilaksanakan di lapangan serta estimasi biayanya dari kontruksi dinding penahan tanah tersebut. Langkah akhir dalam tugas akhir ini adalah membuat kesimpulan dan saran sebagai pengambilan keputusan terhadap konstruksi dinding penahan tanah yang paling efektif dan efisien melalui pertimbangan kekuatan, kestabilan, metode, dan estimasi biaya konstruksi.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Data dan Analisa Parameter Tanah
Data tanah yang didapatkan dari pihak PT. MRT Jakarta sangat terbatas karena memang belum dilaksanakannya penyelidikan tanah di site konstruksi. Data yang didapatkan adalah data penyelidikan awal di kawasan Dukuh Atas pada satu titik saja. Setelah diolah, hasil analisa data tanah dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah.
Rangkuman Analisa Data Tanah
B. Analisa Stabilitas Dinding
Sebelum melakukan analisa stabilitas, terlebih dahulu dibuat pemodelan interaksi tanah dan dinding pada satu sisi dinding. Melalui model tersebut dapat dihitung tekanan tanah aktif dan pasif serta tekanan air tanah yang bekerja pada dinding penahan tanah menggunakan data parameter tanah di Tabel [1]. Untuk menentukan kedalaman jepit dinding (Hp), dihitung dengan analisa push-in terhadap strut paling bawah melalui tekanan tanah aktif dan pasif yang terjadi seperti Gambar 3.
Gambar 3 Analisa Push-In
Nspt rata2 Cu γsat from To Blows ( kN/m2 ) ( kN/m3 ) Lempung berlanau 0.00 7.00 12.00 56.388 0.000 17.222 0.30 11780.185 Lempung berlanau 7.00 9.00 5.00 24.517 0.000 17.000 0.30 4481.592 Lempung berlanau 9.00 10.00 3.00 14.710 0.000 15.130 0.30 2688.955 Lempung berlanau 10.00 13.00 8.50 41.678 0.000 16.556 0.30 8707.093 Lanau berlempung 13.00 16.00 12.00 58.840 0.000 17.333 0.35 12292.367 Pasir berlanau 16.00 19.00 14.00 0 31.050 17.762 0.30 13828.913 Lanau berlempung 19.00 26.00 48.00 196.133 0.000 20.000 0.34 95976.170 Lempung berlanau 26.00 28.00 22.00 107.873 0.000 18.667 0.30 21033.606 Lempung berlanau 28.00 35.45 44.00 196.133 0.000 20.000 0.30 88243.044 Jenis Tanah Dominan Deep Surface (m) Ф (˚) v E (kN/m2)
Aktif Pasif
Lowest level strut
298.168 Kn/m2 119.547 kN/m2 137.280 kN/m2 524.585 + 15.994 Hp 3.00 Lanau berlempung Lempung berlanau Lempung berlanau 318.568 kN/m2 64.720 + 4.40602 Hp 336.301 kN/m2 1 3 4 5 6 7 8 9 10 8 9 10 11 15 12 13 14 2 3.104 kN/m2 202.126 kN/m2 184.392 kN/m2 2 m 2 m Hp Aktif Pasif 191.1
Lowest level strut
191.1 + 9.8 Hp 9.8 Hp Lempung berlanau Lanau berlempung Lempung berlanau 3.00 Pwa2 Pwa1 Pwp 8 9 10 11 12 13 14 15 2 m 2 m Hp
Kedalaman jepit dinding (Hp) didapat dengan membandingkan momen dorongan dan momen tahanan yang terjadi pada dinding seperti rumusan berikut.
Fp=MMdr ≥ 1.2 (1)
dengan Fp= faktor keamanan, Mr= momen dorongan, dan Md=
momen tahanan.
Hasil perhitungan Hp didapatkan dengan tiga angka keamanan berbeda yaitu Fp= 1, Fp= 1.2, dan Fp= 1.5 dan Hp
diasumsikan berada di lapisan tanah lempung berlanau kedalaman 28 meter kebawah. Variasi kedalaman jepit dinding untuk beberapa angka keamanan tersebut dapat dilihat dalam Tabel 2.
Tabel 2
Kedalaman Jepit Dinding untuk Tiap Angka Keamanan
Dengan angka keamanan yang diambil adalah 1.2, maka didapatkan Hp = 3.3 meter, sehingga kedalaman total jepit dinding adalah 2 + 2 + 3.3 = 7.3 meter dari permukaan galian.
C. Analisa Perencanaan Dinding Penahan Tanah Umum
Sebelum dilakukan analisa dengan program bantu Plaxis V8.2, setiap alternatif konstruksi direncanakan dimensinya terlebih dahulu. Kemudian dianalisa menurut tahapan-tahapan metode galian dari atas ke bawah dengan membaginya menjadi 5 kondisi sebagai berikut.
a. Kondisi A, adalah disaat galian mencapai kedalaman 4 meter dan pada elevasi 0.0 m dan -4.0 m sudah diberi penyangga berupa pelat lantai.
b. Kondisi B, adalah disaat galian mencapai kedalaman 10.5 meter dan pada elevasi 0.0 m, -4.0 m, dan -10.5 m sudah diberi penyangga berupa pelat lantai.
c. Kondisi C, adalah disaat galian mencapai kedalaman 16.5 meter dan pada elevasi 0.0 m, -4.0 m, -10.5 m, dan -16.5 m sudah diberi penyangga berupa pelat lantai.
d. Kondisi D, adalah disaat galian mencapai kedalaman 24 meter dan pada elevasi 0.0 m, -4.0 m, -16.5 m dan -24 m sudah diberi penyangga berupa pelat lantai.
e. Kondisi E, adalah disaat pelat lantai pada elevasi 0.0 m dilepas dan dari elevasi 0.0 m hingga -4.0 m ditimbun kembali oleh tanah.
Kondisi akhir galian atau pada kondisi E merupakan hasil konstruksi stasiun bawah tanah yang nantinya akan digunakan, dapat diilustrasikan sebagai berikut.
Gambar 4 Kondisi Akhir Stasiun Bawah Tanah
Diaphragm Wall
Ketebalan dinding diaphragm wall dapat diasumsikan sebesar 5% dari kedalaman galian, sehingga dapat direncanakan setebal 5% x 24 = 1.2 meter. Kedalaman dinding direncanakan sedalam He + Hp = 24 + 7.3 = 31.3 meter. Hasil analisa deformasi diaphragm wall pada program bantu Plaxis V8.2 dapat dilihat pada Gambar 5 untuk setiap kondisi galian dari kiri ke kanan secara berurutan.
Gambar 5 Deformasi Diaphragm Wall Tiap Kondisi Secant Pile
Asumsi diameter bore pile diambil 1.2 meter untuk keperluan
pre-eliminary design dan analisa kekuatan structural. Apabila
tidak memenuhi kriteria maka diameter akan diperbesar nilainya. Kedalamanan bore pile direncanakan sama dengan
diaphragm wall sedalam He + Hp = 24 + 7.3 = 31.3 meter. Hasil
analisa deformasi secant pile pada program bantu Plaxis V8.2 dapat dilihat pada Gambar 6 untuk setiap kondisi galian dari kiri ke kanan secara berurutan.
Gambar 6 Deformasi Secant Pile Tiap Kondisi Soldier Pile
Dalam pre-eliminary design, direncanakan profil baja untuk soldier pile menggunakan profil H-beam dari PT Cigading 9343.23 + 2279.24 Hp + 237.38 Hp2+ 6.002 Hp3 4786.94 + 2406.38 Hp + 250.26 Hp2+ 8.598 Hp3 -4556.29 + 127.13 Hp + 12.88 Hp2+ 2.60 Hp3 7474.58 + 1823.40 Hp + 189.91 Hp2+ 4.801 Hp3 4786.94 + 2406.38 Hp + 250.26 Hp2+ 8.598 Hp3 -2687.64 + 582.98 Hp + 60.36 Hp2+ 3.80 Hp3 6228.82 + 1519.50 Hp + 158.26 Hp2+ 4.001 Hp3 4786.94 + 2406.38 Hp + 250.26 Hp2+ 8.598 Hp3 -1441.88 + 886.88 Hp + 92.01 Hp2+ 4.60 Hp3 Hp 3.272877621 TOTAL 1.5 Mr Md Fb Hp 9.462776376 Hp 1.406226122 TOTAL Mr Md Fb Fb 1 1.2 Md Mr TOTAL
Habeam Center dengan ukuran 1000 x 450 x 16 x 38. Mutu baja yang dipakai adalah BJ55 dengan tegangan putus minimum (fu) 550 MPa dan tegangan leleh minimum (fy) 410 MPa. Apabila tidak memenuhi kriteria maka profil bisa diganti. Kedalamanan soldier pile direncanakan sama dengan diaphragm wall dan
secant pile sedalam He + Hp = 24 + 7.3 = 31.3 meter. Hasil
analisa deformasi soldier pile pada program bantu Plaxis V8.2 dapat dilihat pada Gambar 7 untuk setiap kondisi galian dari kiri ke kanan secara berurutan.
Gambar 7 Deformasi Soldier Pile Tiap Kondisi D. Kontrol Material
Kontrol material terhadap masing-masing konstruksi merupakan kontrol terpisah dimana diaphragm wall dianggap sebagai pelat beton, secant pile sebagai kolom beton, dan
soldier pile sebagai struktur lentur baja. Kontrol diaphragm wall dan secant pile akan menghasilkan perencanaan diameter
tulangan dan desain pemasangannya seperti pada Tabel 3 dan
Gambar 7, sedangkan pada soldier pile menghasilkan kontrol
profil baja terhadap penampang, lateral buckling, lendutan, dan kuat geser seperti pada Tabel 4.
Tabel 3
Penulangan Diaphragm Wall dan Secant Pile
Gambar 8 Deformasi Soldier Pile Tiap Kondisi
Kontrol Profil Baja
E. Kontrol Uplift
Adanya beban uplift dan air tanah mengakibatkan gedung terkena bahaya beban angkat keatas. Keadaan ini sangat berbahaya karena dapat mempengaruhi kestabilan struktur stasiun bawah tanah terutama pada saat pembangunan pelat paling dasar pada kedalaman 24 meter sudah selesai. Kontrol
uplift dilakukan dengan membandingkan berat struktur dengan
gaya angkat keatas yang tidak boleh kurang dari 1.2 seperti pada persamaan berikut.
Fb=WstrukturH+ ∑ γi tihi+𝑄𝑠/3
wγw𝐴 ≥ 1.2 (2)
dengan ∑ γi tihi = berat timbunan dan 𝑄𝑠/3 = skin friction
dinding yang dibagi angka keamanan 3.
Hasil perhitungan untuk setiap alternatif dapat dilihat dalam Tabel 5.
Tabel 5
Kontrol Uplift tiap Alternatif
F. Kontrol Penurunan Tanah
Kontrol terhadap bahaya penurunan adalah kontrol terhadap penurunan yang terjadi akibat berat struktur yang membebani tanah sehingga tanah memampat. Kontrol dapat dihitung dengan menghitung selisih antara berat struktur stasiun bawah tanah dengan berat tanah yang dipindahkan. Struktur dikatakan aman apabila berat tanah yang dipindahkan/digali masih lebih berat daripada berat struktur yang dibangun.
Hasil perhitungan untuk setiap alternatif dapat dilihat dalam Tabel 6.
Tabel 6
Kontrol Penurunan Tanah tiap Alternatif
G. Kontrol Strut
Dinding penahan tanah memang didesain untuk dapat menahan tekanan lateral tanah, namun dalam proses penggalian diperlukan sistem pendukung strut untuk dapat membantu menahan tekanan tersebut dan meminimalkan deformasi yang terjadi. Dalam alternatif perencanaan ini yang direncanakan hanyalah strut horisontal, pengaku ujung, dan pengaku sudut. Rencana strut dapat dilihat dalam Gambar 9.
horisontal vertikal geser
Diaphragm Wall D32 D22 Ø19 Secant Pile - 12D32 Ø16 Alternatif Tulangan 1200 90 150 Ø 19 D 32 D 22 Ø 19 16 D 32 Ø16 16 D 32 Ø16 - 300
fijin fmax Status Mu φMn Status Vu φVn Status
0.04 1.806 OK 180784.8 661875.3 OK 80830.255 186624 OK
Lendutan Lateral Buckling Kuat Geser
Berat Struktur Berat Timbunan Skin Friction Gaya Uplift
kN kN kN kN
Diaphragm Wall 33749.298 13433.333 3975.094 36813.026 1.318 Secant Pile 32732.119 13433.333 4051.756 36813.026 1.291 Soldier Pile 31574.631 13433.333 3704.380 36813.026 1.256
Alternatif Fs
Berat Struktur Berat Timbunan Berat Total Berat Tanah
kN kN kN kN Diaphragm Wall 33749.298 13433.333 47182.631 82804.592 OK Secant Pile 32732.119 13433.333 46165.452 82804.592 OK Soldier Pile 31574.631 13433.333 45007.964 82804.592 OK Alternatif Status 60 150 1200 Ø 19 Ø 19 D 32 D 22
Gambar 9 Rencana Peamasangan Strut
Sistem strut ini direncanakan menggunakan profil baja H 350 x 350 x 12 x 19 BJ41 dan dikontrol dengan hasil seperti berikut.
Tabel 7
Kontrol Strut
H. Metode Konstruksi dan Estimasi Biaya
Dalam perencanaan tugas akhir ini, metode yang dipilih untuk membangun stasiun adalah metode top-down
construction yaitu pembangunan konstruksi struktur yang
dimulai dari atas dan dilanjutkan ke arah bawah tanah. Metode ini merupakan salah satu pilihan sarana mengamankan galian dengan memanfaatkan struktur lantai stasiun bawah tanah dalam fungsi kedua sebagai wall to wall struting dengan pelaksanaan pelat dimulai dari lantai dasar kemudian ke pelat lantai-lantai di bawahnya.
Estimasi biaya pada struktur dinding penahan tanah terdiri dari material beton, tulangan, dan profil baja menyesuaikan tiap alternatifnya. Estimasi biaya didasarkan pada volume material yang dibutuhkan untuk membuat dinding penahan tanah sepanjang 1 meter dan sedalam 31.3 meter. Hasil estimasi biaya dapat dilihat pada Tabel 8.
Pemilihan alternatif konstruksi dinding penahan tanah harus memperhatikan beberapa pertimbangan seperti kedalaman galian, kondisi geologi, muka air tanah, bangunan sekitar, kondisi lapangan, waktu pembangunan, dan biaya. Karakteristik tiap alternatif perencanaan dinding penahan tanah untuk stasiun bawah tanah Dukuh Atas dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 8
Perbandingan Estimasi Biaya
Tabel 9
Perbandingan Karakterisktik tiap Alternatif
IV. KESIMPULAN/RINGKASAN
1. Dinding penahan tanah dengan diaphragm wall direncanakan setebal 1.2 meter dan kedalaman 31.3 meter dari permukaan tanah dengan hasil analisa pada tabel berikut.
Tabel 10
Kesimpulan Hasil Analisa Diaphragm Wall
Sedangkan untuk secant pile direncanakan dengan diameter
bore pile 1.2 meter dan kedalaman 31.3 meter dari
permukaan tanah dengan hasil analisa pada tabel berikut.
Tabel 11
Kesimpulan Hasil Analisa Secant Pile
Serta untuk soldier pile direncanakan dengan profil baja H-beam 1000 x 450 x 16 x 38 BJ55 dan dinding lagging cor setempat 100 x 100 x 3130 cm3 dan kedalaman 31.3 meter dari permukaan tanah dengan hasil analisa pada tabel berikut. 700 800 500 2800 2000
Kontrol Tegangan Batas Kontrol Tegangan Batas Kontrol Tegangan Batas
Diaphragm Wall 0.55493229 1 0.329821437 1 0.331244296 1
Secant Pile 0.597451146 1 0.366655119 1 0.368077978 1
Soldier Pile 0.644975758 1 0.413950795 1 0.415373655 1
Alternatif Strut Horisontal Pengaku Ujung Pengaku Sudut
m m kg kg kg kg m3 Diaphragm Wall 1.2 31.3 653.804 1580.861 83.597 - 37.265 1.000 Secant Pile 1.2 31.3 - 1778.469 49.402 - 31.742 0.789 Soldier Pile 1 31.3 - - - 12097.137 29.759 5.148 Tipe Konstruksi Diame ter/ Ke tebalan/ Pe nampang Ke dalaman Dinding
Pe rkiraan Material Dinding pe r 1 m' Pe nulangan Horisontal Pe nulangan Ve rtikal Pe nulangan Ge se r Profil Baja H-be am Volume Be rsih Se me n Biaya Konstruksi Re latif Diaphragm Wall Secant Pile Soldier Pile
Keterangan : Cukup Buruk
Kedalaman Waktu
PelaksanaanBiaya
Baik
Gangguan Bawah Tanah
Soft Clay Sand
Tipe Tanah Kondisi Konstruksi
Kekakuan
Tipe Konstruksi Gravel Kerapatan
Soil Suara dan Getaran Penanganan Lumpur Penurunan Permukaan A 0.006565 860.024 B 0.015680 1458.846 C 0.019290 1620.489 D 0.026140 1613.908 E 0.026113 2016.657 Kondisi Defleksi Maksimum (m) Momen Maksimum (kNm) A 0.007948 867.646 B 0.019490 1202.774 C 0.023488 1325.227 D 0.028982 1456.393 E 0.028934 1936.215 Kondisi Defleksi Maksimum (m) Momen Maksimum (kNm)
Kesimpulan Hasil Analisa Soldier Pile
2. Kontrol uplift pada setiap alternatif perencanaan telah memenuhi syarat seperti pada tabel berikut dimana seluruh berat beban yang ada dapat menahan gaya uplift yang terjadi.
Tabel 13
Kontrol Uplift tiap Alternatif
3. Kontrol penurunan tanah pada setiap alternatif perencanaan telah memenuhi syarat seperti pada tabel berikut karena berat tanah galian yang dipindahkan masih lebih berat daripada berat struktur stasiun bawah tanah.
Tabel 14
Kontrol Penurunan Tanah tiap Alternatif
4. Metode konstruksi untuk seluruh perencanan yang digunakan adalah top down construction dengan 4 tahap bukaan yaitu pada kedalaman 4 m, 10.5 m, 16.5 m, dan 24.5 m dengan penggunaan dewatering untuk menurunkan muka air tanah pada konstruksi stasiun bawah tanah tersebut. 5. Perencanaan dinding penahan tanah yang dipilih adalah
menggunakan secant pile dengan pertimbangan defleksi, metode, dan biaya yang lebih efektif dan efisien daripada alternatif lainnya.
6. Disarankan alternatif perencanaan yang digunakan direncanakan ulang lebih rinci dan teliti dikarenakan dalam tugas akhir ini terdapat beberapa keterbatasan yang mengakibatkan kurang sempurnanya perencanaan.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Artha, I.D.M.D.P & A.E.Wibowo. 2009. Perencanaan
Stasiun Subway Di Jalan Raya Darmo Surabaya.
Surabaya.
[2] Das, B.M. 2006. Principle of Geotechnical Engineering,
Sixth Edition. Canada : Thomson Canada Limited.
[3] H-beam Specifications. Katalog PT Cigading Habeam
Centre. Krakatau Industrial Estate, Cilegon. 1999.
[4] Nurfrida Nashira Ramadhanti. 2012. Perencanaan
Dinding Diafragma untuk Basement Apartemen The East Tower Essence on Darmawangsa. Surabaya.
[5] Ou, Chang-Yu. 2006. Deep Excavation. Leiden : Taylor & Francis/Balkema.
[6] Sub Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum & Jurusan Teknik Sipil ITS. 2002. Paket II: Konstruksi Jalan dan
Geoteknik Jembatan, Modul H: Perencanaan Tiang Pancang. Papua.
[7] Xanthakos, Petros P. 1994. Slurry Walls as Structural
System. United Stated of America : McGraw-Hill, Inc.
[8] Fadhillah, M. Hadi. 2013. Alternatif Perencanaan
Dinding Penahan Tanah Stasiun Bawah Tanah Dukuh Atas dengan Diaphragm Wall, Secant Pile, dan Soldier
Pile pada Pembangunan Proyek Mass Rapid Transit
Jakarta. Tugas Akhir S1 Jurusan Teknik Sipil
A 0.008841 845.290 B 0.022788 1069.915 C 0.026919 1080.035 D 0.029329 1193.174 E 0.029275 1772.894 Kondisi Defleksi Maksimum (m) Momen Maksimum (kNm)
Berat Struktur Berat Timbunan Skin Friction Gaya Uplift
kN kN kN kN
Diaphragm Wall 33749.298 13433.333 3975.094 36813.026 1.318 Secant Pile 32732.119 13433.333 4051.756 36813.026 1.291 Soldier Pile 31574.631 13433.333 3704.380 36813.026 1.256
Alternatif Fs
Berat Struktur Berat Timbunan Berat Total Berat Tanah
kN kN kN kN
Diaphragm Wall 33749.298 13433.333 47182.631 82804.592 OK Secant Pile 32732.119 13433.333 46165.452 82804.592 OK Soldier Pile 31574.631 13433.333 45007.964 82804.592 OK