• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KATA PENGANTAR Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian"

Copied!
110
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

i

KATA PENGANTAR

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Kegiatan penelitian dan pengembangan lingkup

Balitbangtan telah menghasilkan banyak teknologi,

namun demikian tidak semua teknologi dapat

diadopsi oleh pengguna secara luas. Hal ini antara

lain terjadi karena sebagian teknologi yang

dihasilkan tersebut belum siap atau matang untuk

diadopsi oleh pengguna. Untuk mengetahui tingkat kesiapterapan

atau kematangan teknologi dapat dilakukan dengan pengukuran

Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) dalam rangka mendapatkan

gambaran Kesiapan hasil litbang serta membantu menentukan

strategi pengembangan dan pemanfaatannya.

Dalam

upaya

memperluas

adopsi teknologi

melalui

peningkatan kesiapannya, maka disusun buku Panduan Pengukuran

TKT yang disertai dengan alat Pengukur TKT atau Teknometer.

Dengan menggunakan Teknometer tersebut memungkinkan berbagai

pihak melakukan penilaian mandiri (self assessment) atas teknologi

yang telah dihasilkan.

Buku Panduan disertai dengan Teknometer dalam bentuk

software yang dilengkapi dengan manual operasi. panduan dan

alat ini dapat digunakan sebagai acuan dalam upaya meningkatkan

kesiapterapan teknologi yang telah dihasilkan.

(3)

ii

Buku Panduan ini merupakan dokumen hidup (living

documents) yang akan disesuaikan dan disempurnakan secara

berkesinambungan. Saya berharap buku panduan ini dapat menjadi

acuan dan pedoman bagi seluruh UK/UPT lingkup Balitbangtan

dalam rangka alih teknologi baik secara komersial maupun non

komersial.

Jakarta, Juni 2016

Kepala Badan,

(4)

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...

i

DAFTAR ISI... iii

DAFTAR TABEL... v

DAFTAR GAMBAR... xi

I

PENDAHULUAN... 1

1.1

Latar Belakang... 1

1.2

Tujuan... 3

1.3

Sasaran... 3

II

KONSEP KESIAPTERAPAN TEKNOLOGI PERTANIAN... 4

2.1

Pengertian Kesiapterapan Teknologi... 4

2.2

Perkembangan Konsep Kesiapterapan Teknologi... 5

2.3

Perspektif Kesiapterapan Teknologi... 7

2.4

Tingkat Kesiapterapan Teknologi... 7

III

PERINGKAT KESIAPTERAPAN TEKNOLOGI

PERTANIAN... 10

3.1

Klaster/Kelompok Teknologi Pertanian... 10

3.2

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Pertanian... 12

3.3

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Lingkup

Balitbangtan... 21

(5)

iv

IV

CARA MENGUKUR TINGKAT KESIAPTERAPAN

TEKNOLOGI... 77

4.1

Metode Pengukuran... 77

4.2

Pengukuran TKT... 80

4.3

Pengukuran Cepat Tingkat Kesiapterapan

Teknologi... 87

4.4

Contoh Dokumentasi Hasil Pengukuran Tingkat

Kesiapterapan Teknologi... 89

4.5

Penafsiran Hasil Pengukuran Tingkat

Kesiapterapan Teknologi... 89

VI

PENUTUP... 94

DAFTAR PUSTAKA... 95

(6)

v

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Varietas

Tanaman : TKT 1... 21

Tabel 2

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Varietas

Tanaman : TKT 2... 21

Tabel 3

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Varietas

Tanaman : TKT 3... 22

Tabel 4

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Varietas

Tanaman : TKT 4... 23

Tabel 5

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Varietas

Tanaman : TKT 5... 24

Tabel 6

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Varietas

Tanaman : TKT 6... 25

Tabel 7

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Varietas

Tanaman : TKT 7... 26

Tabel 8

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Varietas

Tanaman : TKT 8... 27

Tabel 9

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Varietas

Tanaman : TKT 9... 28

Tabel 10

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Galur/Rumpun Ternak

: TKT 1... 29

Tabel 11

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Galur/Rumpun Ternak

: TKT 2... 29

Tabel 12

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Galur/Rumpun Ternak

: TKT 3... 31

Tabel 13

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Galur/Rumpun Ternak

: TKT 4... 31

Tabel 14

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

(7)

vi

Tabel 15

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Galur/Rumpun Ternak

: TKT 6... 33

Tabel 16

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Galur/Rumpun Ternak

: TKT 7... 34

Tabel 17

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Galur/Rumpun Ternak

: TKT 8... 35

Tabel 18

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Galur/Rumpun Ternak

: TKT 9... 36

Tabel 19

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Pupuk (Anorganik, Organik, Hayati, dan Pembenah

Tanah)

: TKT 1... 37

Tabel 20

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Pupuk (Anorganik, Organik, Hayati, dan Pembenah

Tanah)

: TKT 2... 37

Tabel 21

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Pupuk (Anorganik, Organik, Hayati, dan Pembenah

Tanah)

: TKT 3... 38

Tabel 22

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Pupuk (Anorganik, Organik, Hayati, dan Pembenah

Tanah)

: TKT 4... 39

Tabel 23

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Pupuk (Anorganik, Organik, Hayati, dan Pembenah

Tanah)

: TKT 5... 40

Tabel 24

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Pupuk (Anorganik, Organik, Hayati, dan Pembenah

Tanah)

: TKT 6... 40

Tabel 25

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Pupuk (Anorganik, Organik, Hayati, dan Pembenah

(8)

vii

Tabel 26

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Pupuk (Anorganik, Organik, Hayati, dan Pembenah

Tanah)

: TKT 8... 42

Tabel 27

Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Pupuk (Anorganik, Organik, Hayati, dan Pembenah

Tanah)

: TKT 9... 43

Tabel 28

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Pestisida (Biopestisida,

Pestisida Kimia, Atraktan, Zat Pengatur Tumbuh) :

TKT 1... 44

Tabel 29

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Pestisida (Biopestisida,

Pestisida Kimia, Atraktan, Zat Pengatur Tumbuh) :

TKT 2... 44

Tabel 30

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Pestisida (Biopestisida,

Pestisida Kimia, Atraktan, Zat Pengatur Tumbuh) :

TKT 3... 46

Tabel 31

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Pestisida (Biopestisida,

Pestisida Kimia, Atraktan, Zat Pengatur Tumbuh) :

TKT 4... 47

Tabel 32

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Pestisida (Biopestisida,

Pestisida Kimia, Atraktan, Zat Pengatur Tumbuh) :

TKT 5... 48

Tabel 33

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Pestisida (Biopestisida,

Pestisida Kimia, Atraktan, Zat Pengatur Tumbuh) :

TKT 6... 48

Tabel 34

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Pestisida (Biopestisida,

Pestisida Kimia, Atraktan, Zat Pengatur Tumbuh) :

TKT 7... 49

Tabel 35

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Pestisida (Biopestisida,

Pestisida Kimia, Atraktan, Zat Pengatur Tumbuh) :

(9)

viii

Tabel 36

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Pestisida (Biopestisida,

Pestisida Kimia, Atraktan, Zat Pengatur Tumbuh) :

TKT 9... 50

Tabel 37

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Obat-obatan (Produk

Veteriner, Obat Hewan, dan Obat lain :TKT 1... 51

Tabel 38

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Obat-obatan (Produk

Veteriner, Obat Hewan, dan Obat lain :TKT 2... 52

Tabel 39

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Obat-obatan (Produk

Veteriner, Obat Hewan, dan Obat lain :TKT 3... 53

Tabel 40

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Obat-obatan (Produk

Veteriner, Obat Hewan, dan Obat lain :TKT 4... 54

Tabel 41

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Obat-obatan (Produk

Veteriner, Obat Hewan, dan Obat lain :TKT 5... 55

Tabel 42

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Obat-obatan (Produk

Veteriner, Obat Hewan, dan Obat lain :TKT 6... 56

Tabel 43

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Obat-obatan (Produk

Veteriner, Obat Hewan, dan Obat lain :TKT 7... 56

Tabel 44

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Obat-obatan (Produk

Veteriner, Obat Hewan, dan Obat lain :TKT 8... 57

Tabel 45

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Obat-obatan (Produk

Veteriner, Obat Hewan, dan Obat lain :TKT 9... 58

Tabel 46

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Pengolahan dan

Pascapanen :TKT 1... 59

Tabel 47

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Pengolahan dan

Pascapanen :TKT 2... 59

Tabel 48

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Pengolahan dan

Pascapanen :TKT 3... 61

Tabel 49

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Pengolahan dan

Pascapanen :TKT 4... 62

Tabel 50

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Pengolahan dan

(10)

ix

Tabel 51

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Pengolahan dan

Pascapanen :TKT 6... 64

Tabel 52

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Pengolahan dan

Pascapanen :TKT 7... 65

Tabel 53

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Pengolahan dan

Pascapanen :TKT 8... 66

Tabel 54

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Pengolahan dan

Pascapanen :TKT 9... 67

Tabel 55

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Perangkat Uji, Alat dan

Mesin Pertanian (Perangkat Uji, Perangkap Hama, dan

lain-lain), Alat Pertanian dan Mesin-mesin beserta

komponennya): TKT 1... 68

Tabel 56

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Perangkat Uji, Alat dan

Mesin Pertanian (Perangkat Uji, Perangkap Hama, dan

lain-lain), Alat Pertanian dan Mesin-mesin beserta

komponennya): TKT 2... 69

Tabel 57

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Perangkat Uji, Alat dan

Mesin Pertanian (Perangkat Uji, Perangkap Hama, dan

lain-lain), Alat Pertanian dan Mesin-mesin beserta

komponennya): TKT 3... 70

Tabel 58

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Perangkat Uji, Alat dan

Mesin Pertanian (Perangkat Uji, Perangkap Hama, dan

lain-lain), Alat Pertanian dan Mesin-mesin beserta

komponennya): TKT 4... 71

Tabel 59

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Perangkat Uji, Alat dan

Mesin Pertanian (Perangkat Uji, Perangkap Hama, dan

lain-lain), Alat Pertanian dan Mesin-mesin beserta

komponennya): TKT 5... 72

Tabel 60

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Perangkat Uji, Alat dan

Mesin Pertanian (Perangkat Uji, Perangkap Hama, dan

lain-lain), Alat Pertanian dan Mesin-mesin beserta

(11)

x

Tabel 61

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Perangkat Uji, Alat dan

Mesin Pertanian (Perangkat Uji, Perangkap Hama, dan

lain-lain), Alat Pertanian dan Mesin-mesin beserta

komponennya): TKT 7... 74

Tabel 62

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Perangkat Uji, Alat dan

Mesin Pertanian (Perangkat Uji, Perangkap Hama, dan

lain-lain), Alat Pertanian dan Mesin-mesin beserta

komponennya): TKT 8... 75

Tabel 63

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Perangkat Uji, Alat dan

Mesin Pertanian (Perangkat Uji, Perangkap Hama, dan

lain-lain), Alat Pertanian dan Mesin-mesin beserta

komponennya): TKT 9... 76

Tabel 64 Contoh Dokumentasi Hasil Pengukuran TKT... 89

(12)

xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.

Tingkat dari TKT (Permen Ristekdikti, 2016)... 8

Gambar 2.

Tingkat Kesiapterapan Teknologi Menurut Siklus

Riset (BPPT,2012)... 9

Gambar 3.

Tampilan Worksheet Pengukuran Termometer... 79

Gambar 4.

Tampilan Data Input Hasil Litbang dan TKT-nya... 81

Gambar 5.

Pengaturan batasan untuk pencapaian suatu

Tingkatan TKT... 82

Gambar 6.

Alur Proses Pengukuran TKT... 83

Gambar 7.

Untuk mencapai TKT 4, semua pernyataan harus

terpenuhi untuk batasan 100%... 85

Gambar 8.

Indikator TKT 4 terpenuhi, delapan dari sepuluh

pernyataan harus terpenuhi atau akumulasi

(Σ indikator) lebih besar atau sama dengan

batasan 80%... 85

Gambar 9.

Indikator TKT 4 tidak terpenuhi (Σ indikator=65%)... 85

Gambar 10. Tampilan Tingkat Indikator TKT yang tercapai... 86

Gambar 11. Pengukuran TKT secara Cepat... 87

Gambar 12. Pengukuran Cepat TKT (1-3) dengan Asumsi

(13)
(14)

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Arah kebijakan dan strategi penelitian dan pengembangan pertanian ke depan disusun dengan mempertimbangkan sasaran pembangunan pertanian 2015 – 2019 melalui penguasaan IPTEK yang inovatif, efisien dan efektif dengan mengedepankan kaidah ilmiah dan berkontribusi terhadap perkembangan dalam mewujudkan pertanian bioindustri berkelanjutan (Balitbangtan, 2014).

Keberadaan IPTEK yang dilindungi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) tidak lepas dari kegiatan ekonomi, industri dan perdagangan, dimana era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi telah mendorong efisiensi dan efektivitas bagi para produsen untuk memasarkan produk-produknya ke pasar bebas terutama produk-produk teknologi mutakhir. Salah satu kunci agar dapat bertahan dalam perdagangan bebas terletak pada penguasaan teknologi dan melakukan inovasi di bidang industri (Subroto dan Suprapedi, 2005).

Saat ini sudah banyak teknologi hasil penelitian Balitbangtan yang didaftarkan HKI. Sampai akhir tahun 2014 pendaftaran HKI yang meliputi paten, merek, ciptaan, dan PVT menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan terutama pendaftaran paten (Balai PATP, 2015).

Berdasarkan aspek adopsi oleh dunia usaha/industri, jumlah perjanjian lisensi hingga akhir tahun 2014 tercatat sebanyak 108 perjanjian terutama PVT, paten dan rahasia dagang. Jumlah paten yang didaftarkan hingga akhir 2014 sebanyak 210 invensi, namun baru diadopsi oleh industri 19,5%, sedangkan varietas tanaman yang

(15)

2

didaftarkan PVT sebanyak 59 varietas telah diadopsi oleh dunia usaha sebanyak 74,5%, namun demikian masih terdapat berbagai kendala dalam melakukan alih teknologi yang perlu dipecahkan.

Teknologi atau invensi hasil penelitian banyak yang belum dimanfaatkan sepenuhnya atau hanya berakhir sebagai dokumen dan tidak dapat diadopsi oleh masyarakat. Permasalahan yang terjadi adalah hasil penelitian tersebut baru berbentuk prototipe skala laboratorium, dan belum diuji pada skala pilot plant sehingga belum siap untuk dipromosikan ke calon pengguna atau industri, akibatnya tidak siap untuk diadopsi. Berbagai permasalahan ini seharusnya tidak terjadi jika kronologi hasil penelitian dan pengembangan teknologi telah siapterap atau matang untuk diuji dan dikembangkan pada skala industri.

Masalah utama dalam adopsi teknologi adalah tingkat kesiapannya untuk digunakan dan dikembangkan menjadi inovasi, dan salah satu karakteristik inovasi adalah tingkat kesiapterapannya untuk digunakan (BPPT, 2012). Namun untuk bisa menentukan apakah sebuah teknologi dapat dikatakan siap untuk diadopsi oleh pengguna, dikomersialisasikan atau dijual, diperlukan suatu indikator dalam mengukur teknologi. Untuk mendapatkan gambaran kesiapterapan teknologi hasil penelitian serta membantu menentukan strategi pengembangan dan pemanfaatannya diperlukan pengukuran tingkat kesiapterapan teknologi (TKT)/Technology Readiness Level (TRL).

Pengukuran TKT merupakan pendekatan sistematis yang digunakan untuk menilai kematangan atau kesiapterapan dari suatu teknologi tertentu dan perbandingan kematangan atau kesiapterapan antara jenis teknologi yang berbeda. Salah satu keuntungan

(16)

3

melakukan penilaian kesiapterapan teknologi adalah dapat mengestimasi risiko dan biaya untuk pengembangan produk selanjutnya serta memutuskan kapan teknologi tersebut siap untuk dialihteknologikan ke industri.

1.2 Tujuan

Maksud penyusunan Panduan Umum Pengukuran dan Penetapan TKT adalah untuk menyediakan pedoman operasional dalam penyusunan TKT hasil-hasil penelitian UK/UPT lingkup Balitbangtan. Dalam rangka menentukan peringkat kesiapterapan teknologi dan cara mengukur TKT adalah menggunakan teknometer. Tujuan penyusunan Panduan Umum Pengukuran dan Penetapan TKT adalah:

a. Menyediakan pedoman tentang cara menentukan peringkat kesiapterapan teknologi.

b. Menyediakan cara pengukuran tingkat kesiapterapan teknologi. c. Menentukan peringkat TKT dari teknologi yang dihasilkan UK/UPT.

d.

Mengevaluasi pelaksanaan program dan kegiatan penelitin dan

pengembangan serta pemanfaatannya.

1.3 Sasaran

Buku Panduan ini disusun untuk menjadi pedoman bagi seluruh UK/UPT lingkup Balitbangtan dalam melakukan evaluasi kegiatan penelitian/perekayasaan dan pengembangan, agar invensi yang dihasilkan mudah dialihteknologikan.

(17)

4

II. KONSEP KESIAPTERAPAN TEKNOLOGI PERTANIAN

2.1 Pengertian Kesiapterapan Teknologi

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005, teknologi adalah cara atau metode serta proses atau produk yang dihasilkan dari penerapan dan pemanfaatan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang menghasilkan nilai bagi pemenuhan kebutuhan, kelangsungan, dan peningkatan mutu kehidupan manusia.

Mankin (1995) menyatakan bahwa TKT adalah suatu ukuran (metric) sistematik yang memberikan ukuran objektif kematangan (maturity) dari suatu teknologi. Selanjutnya BPPT (2012) menyatakan bahwa ukuran tingkatan kesiapterapan teknologi yang diartikan sebagai indikator yang menunjukkan seberapa siap atau matang suatu teknologi dapat diterapkan dan diadopsi oleh pengguna/calon pengguna. TKT adalah suatu sistem pengukuran sistematis yang mendukung penilaian kematangan atau kesiapterapan dari suatu teknologi tertentu untuk dapat diadopsi baik bagi industri, pemerintah, maupun pengguna lainnya.

Kesiapterapan teknologi menunjukkan seberapa siap atau matang suatu teknologi untuk dapat diterapkan sesuai dengan fungsi yang ditunjukkannya (Suhendri, 2014). Pengertian ”ketersi-apan” menunjukkan adanya kemungkinan perbedaan antara “siap”, “tidak siap” dan “belum siap”-nya suatu teknologi atau perbedaan tingkatan kesiapterapan teknologi untuk dimanfaatkan atau diterapkan sesuai kegunaannya.

Pada hakekatnya TKT merupakan sebuah indikator yang menunjukkan seberapa siap/matang suatu teknologi untuk diterapkan (dalam perspektif obyektif). TKT merupakan ukuran yang

(18)

menun-5

jukkan tingkat kematangan atau kesiapterapan teknologi pada skala 1-9. Ukuran ini sebagai indikator yang menunjukan seberapa siap atau matang suatu teknologi dapat diterapkan dan diadopsi oleh peng-guna/calon pengguna dimana antara satu tingkat dengan tingkat yang lain saling terkait dan menjadi landasan bagi tingkatan berikutnya. Pengukuran dan penetapan TKT dimaksudkan untuk menjadi acuan bagi:

1. Pengambil kebijakan dalam merumuskan, melaksanakan, memetakan, dan mengevaluasi program penelitian, pengem-bangan dan inovasi teknologi pertanian.

2. Pelaku kegiatan penelitian, pengembangan dan inovasi dalam menentukan tingkat kesiapterapan atau kematangan suatu tek-nologi yang dapat diterapkan dan diadopsi oleh pengguna/calon pengguna.

3. Industri dalam mengadopsi teknologi hasil penelitian dan pengembangan.

2.2. Perkembangan Konsep Kesiapterapan Teknologi

Tingkat Kesiapterapan Teknologi diterapkan oleh National Aeronautics and Space Administration (NASA) sebagai alat untuk mengukur kesiapan teknologi yang dikembangkan oleh Stan Sadin pada tahun 1974, dan pertama kali digunakan oleh Ray Chase untuk melakukan assessment terhadap Jupiter Orbiter Spacecraft Design. TKT tersebut dikembangkan oleh NASA pada tahun 1980 yang konsep semula hanya terdiri atas 7 tingkat (level), kemudian dikembangkan menjadi 9 tingkat (Sadin et al., 1988). Pada tahun 2003, pengukuran TKT pertama kali dilakukan oleh NASA, digunakan sebagai alat untuk menyeleksi vendor teknologi yang sesuai dengan

(19)

6

kebutuhannya, dalam rangka mengurangi risiko kegagalan. Selanjutnya Kementerian Pertahanan Amerika Serikat juga mengadopsi metoda pengukuran ini untuk mengevaluasi tingkat kesiapterapan teknologi baru dan panduan pengembangannya di masa datang sampai siap secara operasional (BPPT, 2012).

Di Indonesia penggunaan TKT telah diterapkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejak tahun 2006. Pada tahun yang sama, BPPT mengadopsi pola pengukuran TKT dan melakukan modifikasi dengan mengembangkan metodologinya. BPPT dan Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek) selanjutnya meluncurkan TRL Meter BPPT-Ristek versi 10 xls, kemudian pada tahun 2012 menerbitkan Panduan Pengukuran TKT (BPPT, 2012). Puslitbang Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Badan Litbang Pekerjaan Umum (PU) juga telah mengadopsi penerapan TKT dalam rangka Penyusunan Rekomendasi Kesiapterapan Teknologi Hasil Litbang untuk Keberlanjutan Pemanfaatan oleh masyarakat (Puslitbang Sosek dan Lingkungan, Badan Litbang PU, 2011) dan beberapa Lembaga Litbang Kementerian lainnya juga menerapkan TKT.

Alasan perlunya dilakukan pengukuran dan penetapan TKT adalah:

a. Dengan mempertimbangkan risiko-risiko teknologi, pasar, dan pengelolaan maka akan dapat melalui transisi dari tahapan litbang menuju komersialisasi teknologi.

b. Memahami dengan baik beberapa persyaratan dalam validasi kematangan teknologi dan mendukung model komersialisasinya.

(20)

7

2.3. Perspektif Kesiapterapan Teknologi

Kesiapterapan teknologi dapat dikembangkan setidaknya dari dua perspektif yang berbeda namun saling berkaitan (Taufik, 2003), y aitu:

1. Perspektif Obyektif

Perspektif ini menunjukkan seberapa siap atau matang suatu teknologi dapat diterapkan sesuai dengan fungsi yang ditujukannya (rancangan kegunaannya). Indikator ini juga menunjukkan seberapa siap atau matang suatu teknologi untuk diterapkan dalam dunia nyata dan diadopsi oleh calon pengguna.

2. Perspektif Subyektif

Perspektif ini menunjukkan seberapa siap pengguna (masyarakat) menerima dan mengadopsi suatu teknologi baru untuk diterapkan sesuai dengan fungsi yang ditujukannya. Indikator ini juga menyangkut pengetahuan, kemampuan dan/atau persepsi risiko calon pengguna tentang teknologi baru.

2. 4. Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Tingkat Kesiapterapan Teknologi dinilai dari sembilan tingkat yang terbagi lagi menjadi tiga kategori atau bagian tahapan penelitian yaitu: Penelitian Dasar (tingkat 1-3), Penelitian Terapan (tingkat 4-6) dan Penelitian Pengembangan (tingkat 7-9), sesuai Gambar 1 dan Gambar 2.

(21)

8

Gambar 1. Tingkat dari TKT (Permen Ristekdikti, 2016)

Pada tingkat 1-3 pengukuran masih dilakukan pada tiap-tiap komponen teknologi (belum terintegrasi) dengan tiga pendekatan: studi analitik, modeling dan simulasi, serta eksperimen laboratorium. Untuk tingkat 4-6 pengukuran sudah dilakukan dalam satuan sistem terintegrasi, namun hasil ujinya masih dalam akurasi yang rendah (Low Fidelity). Validasi komponen pada lingkungan laboratorium dilakukan untuk menguji apakah prototipe lolos melalui “valley of death 1” (lembah kematian), jika mampu melalui lembah ini maka dapat dinyatakan bahwa prototype “idea feasible” dan siap menuju pilot plant.

(22)

9

Pada tingkat 5 dan 6 terjadi perkembangan dari akurasi rendah ke akurasi tinggi. Demonstrasi prototipe pada lingkungan relevan tersebut melewati “valley of death 2”. Jika mampu melewati lembah kematian dua, maka prototipe dapat dinyatakan telah layak secara teknis (engineering feasibility) dan layak secara ekonomi (economy feasibility), serta siap scale up, artinya pada tingkat ini risiko teknis mulai berkurang.

Pada tingkat 7-9, uji sistem terintegrasi sudah dalam akurasi yang tinggi (High Fidelity). Pengukuran sudah memunculkan kesiapterapan fabrikasi yang ditandai dengan perkiraan investasi dan prospek bisnis, serta disain gambar/diagram sudah tidak ada perubahan yang signifikan. Pada tingkat 7 sudah ada kesiapterapan untuk produksi awal (Low Rate Initial Product), pada tingkat 8 sudah siap untuk produksi penuh dan pada tingkat 9 produktivitas sudah stabil. Pada tingkat 9 ini, sistem benar-benar telah teruji dan terbukti melalui keberhasilan pengoperasian. Pada tingkat ini terdapat fase “valley of death 3”, yang akan menentukan apakah teknologi yang dikembangkan berhasil atau gagal di pasar.

Gambar 2. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Menurut Siklus Riset (BPPT, 2012)

(23)

10

III. PERINGKAT KESIAPTERAPAN TEKNOLOGI PERTANIAN

3.1. Klaster/Kelompok Teknologi Pertanian

Klaster teknologi pertanian dikelompokkan berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 99/Permen-tan/OT.140/10/2013 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Pertanian Nomor 6/Permentan/OT.140/2/2012 tentang Pedoman Kerjasama Penelitian dan Pengembangan Pertanian, yang terdiri atas 6 klaster sebagai berikut: (a) Bibit/Benih (hasil pemuliaan), (b) Pupuk, (c) Pestisida, (d) Obat-obatan, (e) Teknologi Pengolahan dan Pascapanen, dan (f) Perangkat Uji, Alat dan Mesin Pertanian. Jenis-jenis teknologi yang dihasilkan Balitbangtan sesuai peraturan di atas diuraikan sebagai berikut:

3.1.1. Benih/Bibit Tanaman Atau Bibit Unggul Ternak a. Varietas Tanaman

Penilaian TKT dilakukan terhadap teknologi dan varietas hasil pemuliaan tanaman. Untuk kegiatan alih teknologi komersial diperlukan varietas yang dilindungi dengan Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT). Selanjutnya untuk memperoleh hak PVT maka calon varietas yang akan dilindungi harus didaftarkan di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian dan lolos uji BUSS (Baru, Unik, Stabil dan Seragam).

(24)

11 b. Galur/rumpun Ternak

Penilaian TKT galur/rumpun ternak (bibit unggul ternak) diarahkan pada galur/rumpun yang akan dilepas sesuai ketentuan yang berlaku. Bibit ternak yang diserahkan kepada mitra kerja sama alih teknologi adalah benih/bibit sumber dari galur yang telah dilepas berdasar SK Menteri Pertanian, untuk bahan perbanyakan bibit unggul.

3.1.2. Pupuk

Penilaian TKT dilakukan terhadap formula atau produk pupuk anorganik, organik, hayati, dan pembenah tanah hasil penelitian laboratorium. Selanjutnya akan dihasilkan bentuk prototipe laboratorium hingga pengujian lapang sampai terbentuk produk hasil pengujian di lingkungan yang sebenarnya (komersial).

3.1.3. Pestisida

Penilaian TKT pestisida dilakukan terhadap formula atau produk pestisida (biopestisida, pestisida kimia, atraktan, dan zat pengatur tumbuh) yang dihasilkan sejak berupa prototipe laboratorium hingga teruji di lapang. Selanjutnya akan terbentuk produk yang teruji di lingkungan yang sebenarnya dan siap dikomersialkan.

3.1.4. Obat-obatan

Klaster obat-obatan meliputi produk veteriner, obat hewan dan obat lainnya (seperti jamu untuk manusia dan ternak). Penilaian dilakukan terhadap prototipe hasil penelitian laboratorium dan lapang dalam lingkungan yang relevan sehingga dihasilkan obat-obatan yang teruji pada lingkungan yang sebenarnya.

(25)

12

3.1.5. Teknologi Pengolahan dan Pascapanen

Teknologi Pengolahan dan Pascapanen meliputi teknologi penanganan segar dan pengolahan yang mencakup proses atau produk di bidang makanan, minuman, dan lainnya (pakan, penyedap, penyegar dan lain-lain). Teknologi ini menghasilkan produk dalam bentuk prototipe laboratorium dan skala industri yang siap diproduksi secara masal melalui aktivitas industri.

3.1.6. Perangkat Uji, Alat, dan Mesin Pertanian

Klaster ini meliputi perangkat uji (tingkat laboratorium maupun lapangan), perangkap (hama dan lainnya), alat pertanian (manual maupun masinal) dan mesin-mesin pertanian (termasuk komponennya). Teknologi ini menghasilkan produk dalam bentuk prototipe laboratorium dan skala industri yang siap diproduksi secara masal melalui aktivitas industri.

3.2. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Pertanian

Tingkat Kesiapterapan Teknologi merupakan ukuran yang menunjukkan kematangan atau kesiapterapan teknologi pada skala 1-9, dimana antara satu tingkat dengan tingkat yang lain saling terkait dan menjadi landasan bagi tingkat berikutnya. Tingkat dan Indikator TKT mengacu Pedoman Pengukuran TKT yang diterbitkan oleh Kementerian Ristekdikti (2016) dan digunakan sebagai TKT generik, kemudian indikator tersebut dimodifikasi sesuai karakteristik penelitian di Balitbangtan.

(26)

13

3.2.1. Tingkat Kesiapterapan Teknologi 1

Status pengembangan teknologi: Prinsip dasar dari teknologi telah diteliti dan dilaporkan. Penelitian ilmu pengetahuan mulai diterjemahkan ke dalam penelitian terapan dan pengembangan teknologi. Studi literatur yang terkait sifat-sifat dasar suatu teknologi dilakukan. Pada tingkatan ini, penelitian ilmiah mulai diterjemahkan ke dalam rencana penelitian terapan dan pengembangan. Isi TKT 1 dijabarkan dalam Proposal Penelitian terdiri atas 3 indikator sebagai berikut:

1. Asumsi dan hukum dasar (fisika/kimia) yang akan digunakan pada teknologi (baru) telah ditentukan.

2. Studi literatur (teori/empiris-penelitian terdahulu) tentang prinsip dasar teknologi yang akan dikembangkan.

3. Formulasi hipotesis penelitian.

Penelitian yang bertujuan untuk menghasilkan produk atau proses dan varietas harus menyajikan literatur baik ilmiah maupun HKI tentang invensi terdahulu (prior art) guna menunjukkan adanya unsur kebaruan calon teknologi atau varietas yang akan dihasilkan. Kebaruan ini ditunjukkan dengan adanya hasil-hasil penelusuran paten (khususnya Paten produk atau proses) dan penelusuran PVT untuk bahan pembanding dalam pengujian BUSS.

3.2.2. Tingkat Kesiapterapan Teknologi 2

Status pengembangan teknologi: Formulasi konsep dan/atau aplikasi formulasi. Prinsip-prinsip dasar teknologi diamati, formulasi teknologi digali dan dikembangkan. Rencana aplikasi masih bersifat spekulatif dan belum ada bukti atau pun analisis rinci yang

(27)

14

mendukung asumsi yang digunakan. Pada tingkatan ini teknologi telah diformulasikan dalam bentuk konsep sesuai aplikasinya berdasar hasil studi literatur yang dituangkan dalam rencana operasional kegiatan penelitian. Indikator TKT 2 terdiri dari:

1. Peralatan dan sistem yang akan digunakan, telah teridentifikasi. 2. Studi literatur (teoritis/empiris) teknologi yang akan

dikem-bangkan memungkinkan untuk diterapkan.

3. Desain secara teoritis dan empiris telah teridentifikasi.

4. Elemen-elemen dasar dari teknologi yang akan dikembangkan telah diketahui.

5. Karakterisasi komponen teknologi yang akan dikembangkan telah dikuasai dan dipahami.

6. Kinerja dari masing-masing elemen penyusun teknologi yang akan dikembangkan telah diprediksi.

7. Analisis awal menunjukkan bahwa fungsi utama yang dibutuhkan dapat bekerja dengan baik.

8. Model dan simulasi untuk menguji kebenaran prinsip dasar. 9. Penelitian analitik untuk menguji kebenaran prinsip dasarnya. 10. Komponen-komponen teknologi yang akan dikembangkan,

secara terpisah dapat bekerja dengan baik. 11. Peralatan yang digunakan harus valid dan reliable. 12. Diketahui tahapan eksperimen yang akan dilakukan.

3.2.3. Tingkat Kesiapterapan Teknologi 3

Status pengembangan teknologi: Pembuktian konsep fungsi dan/atau karakteristik penting secara analitis dan eksperimental. Penelitian dan pengembangan teknologi secara aktif dimulai.

(28)

15

Kegiatan ini menyangkut studi analitis dan studi laboratorium untuk memvalidasi secara fisik bahwa hipotesa secara analitik adalah benar. Komponen-komponen tersebut belum terintegrasi atau masih ter-pisah. Indikator TKT 3 terdiri dari:

1. Studi analitik mendukung prediksi kinerja elemen-elemen teknologi.

2. Karakteristik/sifat dan kapasitas unjuk kerja sistem dasar telah diidentifikasi dan diprediksi.

3. Telah dilakukan percobaan laboratorium untuk menguji kelayakan penerapan teknologi tersebut.

4. Model dan simulasi mendukung prediksi kemampuan elemen-elemen teknologi.

5. Pengembangan teknologi tersebut dengan langkah awal menggunakan model matematik sangat dimungkinkan dan dapat disimulasikan.

6. Penelitian laboratorium untuk memprediksi kinerja tiap elemen teknologi.

7. Secara teoritis, empiris dan eksperimen telah diketahui komponen-komponen sistem teknologi tersebut dapat bekerja dengan baik.

8. Telah dilakukan penelitian di laboratorium dengan menggunakan data dummy.

9. Teknologi layak secara ilmiah (studi analitik, model/simulasi, eksperimen).

(29)

16

3.2.4. Tingkat Kesiapterapan Teknologi 4

Status pengembangan teknologi: Validasi komponen/subsis-tem dalam lingkungan laboratorium. Komponen-komponen tekno-logi yang mendasari diintegrasikan untuk memastikan agar bagian-bagian tersebut secara bersama-sama dapat bekerja/berfungsi. Pada tahap ini sistem masih memiliki kehandalan yang relatif rendah jika dibanding dengan sistem akhir teknologi. Indikator TKT 4 terdiri dari: 1. Tes laboratorium komponen-komponen secara terpisah telah

dilakukan.

2. Persyaratan sistem untuk aplikasi menurut pengguna telah diketahui (keinginan adopter).

3. Hasil percobaan laboratorium terhadap komponen-komponen menunjukkan bahwa komponen tersebut dapat beroperasi. 4. Percobaan fungsi utama teknologi dalam lingkungan yang relevan 5. Prototipe teknologi skala laboratorium telah dibuat.

6. Penelitian integrasi komponen telah dimulai.

7. Proses kunci untuk manufakturnya telah diidentifikasi dan dikaji di laboratorium.

8. Integrasi sistem teknologi dan rancang bangun skala laboratorium telah selesai (low fidelity).

3.2.5. Tingkat Kesiapterapan Teknologi 5

Status pengembangan teknologi: Validasi komponen/subsis-tem dalam suatu lingkungan yang relevan. Pada tahap ini, kehandalan teknologi yang telah diintegrasikan meningkat secara signifikan. Komponen-komponen teknologi yang mendasari telah diintegrasikan dengan elemen-elemen pendukung yang terkait,

(30)

17

sehingga teknologi tersebut dapat diuji dalam suatu lingkungan tiruan/simulasi. Indikator TKT 5 terdiri dari:

1. Persiapan produksi perangkat keras telah dilakukan.

2. Penelitian pasar (marketing research) dan penelitian laboratorium untuk memilih proses fabrikasi.

3. Prototipe telah dibuat.

4. Peralatan dan mesin pendukung telah diujicoba dalam labo-ratorium.

5. Integrasi sistem selesai dengan akurasi tinggi (high fidelity), siap diuji pada lingkungan nyata/simulasi.

6. Akurasi/ fidelity sistem prototipe meningkat.

7. Kondisi laboratorium dimodifikasi sehingga mirip dengan ling-kungan yang sesungguhnya.

8. Proses produksi telah direview oleh bagian manufaktur.

3.2.6. Tingkat Kesiapterapan Teknologi 6

Status pengembangan teknologi: Demonstrasi model atau prototipe sistem/subsistem dalam suatu lingkungan yang re-levan. Implementasi teknologi mulai dilakukan secara aktif. Hal ini dapat menyangkut studi analitis dan uji coba lingkungan sebenarnya di laboratorium untuk memvalidasi kinerja atas elemen-elemen terpisah dari teknologi. Contohnya adalah tentang integrasi komponen-komponen dalam bentuk prototipe di laboratorium dan diujicoba pada simulasi kondisi lingkungan sebenarnya. Indikator TKT 6 terdiri dari:

(31)

18

1. Kondisi lingkungan operasi sesungguhnya telah diketahui.

2. Kebutuhan investasi untuk peralatan dan proses pabrikasi teridentifikasi.

3. Perawatan dan pelayanan untuk kinerja sistem teknologi pada lingkungan operasi.

4. Bagian manufaktur/pabrikasi menyetujui dan menerima hasil pengujian laboratorium.

5. Prototipe telah teruji dengan akurasi/fidelitas laboratorium yang tinggi pada simulasi lingkungan operasional (yang sebenarnya di luar laboratorium).

6. Hasil Uji membuktikan layak secara teknis (engineering feasibility).

3.2.7. Tingkat Kesiapterapan Teknologi 7

Status pengembangan teknologi: Demonstrasi prototipe sistem dalam lingkungan sebenarnya. Prototipe mendekati bentuk nyata atau sejalan dengan rencana pengoperasionalannya. Keadaan ini mencerminkan langkah perkembangan setelah tingkat ke-siapterapan teknologi mencapai TKT 6 yang membutuhkan demonstrasi dari prototipe ukuran nyata dalam lingkungan operasional/sebenarnya. Indikator TKT 7 terdiri dari:

1. Peralatan, proses, metode dan desain teknik telah diidentifikasi. 2. Proses dan prosedur fabrikasi peralatan mulai diujicobakan. 3. Perlengkapan proses dan peralatan tes/inspeksi diujicobakan

didalam lingkungan produksi. 4. Draft gambar desain telah lengkap.

(32)

19

5. Peralatan, proses, metode dan desain teknik telah dikembangkan dan mulai diujicobakan.

6. Perhitungan perkiraan biaya telah divalidasi (design to cost). 7. Proses fabrikasi secara umum telah dipahami dengan baik. 8. Hampir semua fungsi dapat berjalan dalam lingkungan/kondisi

operasi.

9. Prototipe lengkap telah didemonstrasikan pada simulasi lingkungan operasional.

10. Prototipe sistem telah teruji pada ujicoba lapangan.

11. Siap untuk produksi awal (Low Rate Initial Production-LRIP).

3.2.8. Tingkat Kesiapterapan Teknologi 8

Status pengembangan teknologi: Sistem telah lengkap dan handal melalui pengujian dan demonstrasi dalam lingkungan sebenarnya. Teknologi telah terbukti dapat bekerja/berfungsi dalam kondisi sebagaimana yang direncanakan. Pengembangan teknologi telah memasuki tahap akhir. Contohnya adalah tes perkembangan dan evaluasi sistem dalam sistem senjata untuk menentukan apakah sistem telah memenuhi spesifikasi desainnya. Termasuk pula inte-grasi teknologi baru ke dalam sistem yang ada. Indikator TKT 8 terdiri dari:

1. Bentuk, kesesuaian dan fungsi komponen kompatibel dengan sistem operasi.

2. Mesin dan peralatan telah diuji dalam lingkungan produksi. 3. Diagram akhir selesai dibuat.

4. Proses fabrikasi diujicobakan pada skala percontohan (pilot-line atau LRIP).

(33)

20

5. Uji proses fabrikasi menunjukkan hasil dan tingkat produktifitas yang dapat diterima.

6. Uji seluruh fungsi dilakukan dalam simulasi lingkungan operasi. 7. Semua bahan/material dan peralatan tersedia untuk digunakan

dalam produksi.

8. Sistem memenuhi kualifikasi melalui test dan evaluasi. 9. Siap untuk produksi skala penuh (kapasitas penuh).

3.2.9. Tingkat Kesiapterapan Teknologi 9

Status pengembangan teknologi: Sistem benar-benar teruji/terbukti melalui keberhasilan pengoperasian. Aplikasi teknologi secara nyata telah mencapai bentuk akhir dan sukses beroperasi pada kondisi sebenarnya sebagaimana hasil pengujian dan evaluasi operasional. Tahap ini merupakan akhir dari keseluruhan pengembangan teknologi. Indikator TKT 9 terdiri dari:

1. Konsep operasional telah benar-benar dapat diterapkan. 2. Perkiraan investasi teknologi sudah dibuat.

3. Tidak ada perubahan desain yang signifikan. 4. Teknologi telah teruji pada kondisi sebenarnya. 5. Produktivitas pada tingkat stabil.

6. Semua dokumentasi telah lengkap.

7. Estimasi harga produksi dibandingkan kompetitor telah diketahui. 8. Teknologi kompetitor diketahui.

(34)

21

3.3. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Lingkup Balitbangan 3.3.1. Benih/Bibit Unggul Varietas Tanaman dan Galur Ternak

3.3.1.a. Varietas Tanaman

Tabel 1. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Varietas Tanaman: TKT 1 Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

Indikator TKT 1

Prinsip Dasar dari Teknologi telah Diteliti dan Dilaporkan (Proposal RPTP)

20%

40% 60% 80% 100% 1 Teori dasar (genetika/pemuliaan

tanaman) dan metode seleksi yang akan digunakan pada per-akitan varietas tanaman (baru) telah ditentukan

2 Studi literatur (teori dan HKI/PVT pada penelitian-penelitian terda-hulu) terkait dengan tujuan pe-rakitan varietas baru telah dila-kukan

3 Hipotesis sudah ditetapkan sebe-lum dilakukan penelitian

RATA-RATA NILAI PERSENTASE

KETERPENUHAN INDIKATOR TKT 1

Tabel 2. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Varietas Tanaman: TKT 2 Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

Indikator TKT 2

Formulasi Konsep dan/atau Aplikasi Formulasi

(Rancangan dan Metode Penelitian, ROPP)

20% 40% 60% 80% 100%

1 Peralatan dan metode yang akan digunakan telah teridentifikasi

2 Literatur (teoritis/empiris) terkait perakitan varietas baru yang akan dikembangkan telah terpilih dan siap untuk digunakan

3 Metode pemuliaan yang akan digunakan telah teridentifikasi se-cara teoritis dan empiris

(35)

22

Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

gen untuk karakter target telah diketahui

5 Rancangan persilangan, metode seleksi, dan metode skrining yang akan digunakan dalam proses perakitan varietas telah dikuasai dan dipahami

6 Sifat genetik (pola pewarisan dan aksi gen) dari karakter yang akan diperbaiki sudah diketahui

7 Evaluasi dilakukan terhadap ka-rakter target yang akan diperbaiki

8 Gen yang mengendalikan suatu karakter target dapat diekspre-sikan dengan baik

9 Peralatan yang digunakan harus valid dan reliable

10 Tahapan eksperimen yang akan dilakukan telah diketahui

RATA-RATA NILAI PERSENTASE KETERPENUHAN INDIKATOR TKT 2

Tabel 3. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Varietas Tanaman: TKT 3 Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

Indikator TKT 3.

Pembuktian Konsep, Fungsi dan/atau Karakteristik Penting Secara Analitis

dan Eksperimental (Kegiatan Penelitian Mulai

Dilaksanakan)

20% 40% 60% 80% 100%

1 Studi genetik mendukung prediksi kemajuan karakter target telah di-lakukan pada penelitian-penelitian sebelumnya

2 Peluang keberhasilan perbaikan karakter target dapat diprediksi

3 Telah dilakukan kegiatan

pe-muliaan (persilangan, mutasi, dan kegiatan pemuliaan lainnya) serta dihasilkan nomor-nomor hasil per-silangan atau hasil metode lainnya

4 Telah dilakukan evaluasi, skrining (phenotypic/genotypic) dan uji

(36)

23

Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

ya hasil terhadap galur-galur hasil pemuliaan di laboratorium 5 Perakitan varietas yang

diren-canakan dan dilakukan layak se-cara ilmiah (eksperimen dan analisis)

RATA-RATA NILAI PERSENTASE KETERPENUHAN INDIKATOR TKT 3

Tabel 4. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Varietas Tanaman: TKT 4 Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

Indikator TKT 4

Validasi Komponen/Subsistem dalam Lingkungan Laboratorium (Validasi Hasil Pemuliaan pada

Lingkungan Pengujian)

20% 40% 60% 80% 100%

1 Target pemuliaan telah ditentukan 2 Uji laboratorium/rumah kaca galur

hasil pemuliaan telah dilakukan

3 Hasil percobaan laboratorium/ru-mah kaca menunjukkan bahwa galur hasil pemuliaan memiliki ke-unggulan tertentu

4 Benih galur hasil pemuliaan telah tersedia dalam jumlah cukup untuk proses penelitian selanjutnya

5 Percoban/seleksi galur pemuliaan dilakukan di lingkungan target se-suai dengan tujuan yang di-tetapkan

6 Seluruh karakter target pada galur hasil pemuliaan telah terintegrasi dan stabil

RATA-RATA NILAI PERSENTASE KETERPENUHAN INDIKATOR TRL 4

(37)

24

Tabel 5. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Varietas Tanaman: TKT 5 Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

Indikator TKT 5

Validasi Komponen/Sub Sistem dalam Suatu Lingkungan yang Relevan

(Validasi Calon Varietas dalam Lingkungan Target)

20% 40% 60% 80% 100%

1 Dilakukan uji preferensi pada petani

2 Galur-galur hasil pemuliaan telah

terpilih

3 Galur hasil pemuliaan siap diuji

pada lingkungan target

4 Keunggulan galur-galur hasil pe-muliaan telah diidentifikasi ber-dasarkan seleksi di lingkungan target

5 Penelitian untuk menyusun teknik budidaya calon varietas baru telah dilakukan

RATA-RATA NILAI PERSENTASE KETERPENUHAN INDIKATOR TKT 5

(38)

25

Tabel 6. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Varietas Tanaman TKT 6

Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

Indikator TKT 6

Demonstrasi Model atau Prototipe Sistem/Sub Sistem dalam Lingkungan

yang Relevan

(Pengujian dan Demonstrasi Galur Harapan pada Lingkungan Target yang

Terkendali)

20% 40% 60% 80% 100%

1 Kondisi lingkungan pengujian telah diketahui

2 Galur-galur yang diuji

menun-jukkan keunggulan dibandingkan varietas pembanding yang digu-nakan dan data yang dihasilkan menunjukkan akurasi yang tinggi serta layak digunakan untuk pengusulan pelepasan/launching dan/atau pendaftaran perlindu-ngan verietas tanaman

3 Galur-galur yang diusulkan telah direkomendasikan untuk dile-pas/launching

4 Perencanaan perbenihan atas galur-galur yang siap dilepas telah dilakukan

5 Unit Produksi Benih Sumber (UPBS) mulai memproduksi benih sumber varietas baru yang di-hasilkan

6 Produksi benih inti dan benih penjenis telah dilakukan

RATA-RATA NILAI PERSENTASE

KETERPENUHAN INDIKATOR TKT 6

(39)

26

Tabel 7. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Varietas Tanaman: TKT 7 Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

Indikator TRL 7

Demonstrasi Prototipe Sistem dalam Lingkungan Sebenarnya (Demonstrasi Plot di Lahan Petani)

20% 40% 60% 80% 100%

1 Benih dasar dan benih pokok mulai diproduksi sesuai standar operasional prosedur yang berlaku

2 Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih menyetujui untuk mem-berikan sertifikat terhadap benih yang dihasilkan

3 Benih dasar dan benih pokok bersertifikat tersedia dalam jumlah memadai untuk keperluan de-monstrasi plot

4 Demonstrasi plot dilakukan di be-berapa sentra produksi

5 Anjuran wilayah pengembangan

telah ditetapkan

6 Perhitungan perkiraan biaya

pro-duksi benih telah divalidasi

7 Produsen benih telah mengenal

dan memahami karakteristik va-rietas baru dan dapat melakukan produksi benih sesuai SOP yang telah ditetapkan

8 SOP produksi benih dan/atau teknik budidaya varietas baru dapat diterapkan dengan baik

9 Varietas unggul baru menunjukkan keunggulan di beberapa daerah sentra produksi

10 Siap produksi massal untuk dise-minasi varietas baru pada skala lebih luas

RATA-RATA NILAI PERSENTASE KETERPENUHAN INDIKATOR TKT 7

(40)

27

Tabel 8. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Varietas Tanaman: TKT 8 Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

Indikator TKT 8

Sistem Telah Lengkap dan Handal Melalui Pengujian dan Demonstrasi dalam Lingkungan yang Sebenarnya

(Demfarm Varietas dan Teknik Budidaya dalam Lingkungan yang

Sebenarnya)

20% 40% 60% 80% 100%

1 Varietas sesuai dengan preferensi konsumen (petani, pedagang, dan konsumen lainnya)

2 Teknologi budidaya spesifik varie-tas telah teridentifikasi

3 Berdasarkan produktivitas pada

demfarm, varietas baru dapat dinyatakan layak untuk dikomer-sialisasikan

4 Seluruh proses diseminasi atas varietas baru yang dihasilkan, dilakukan pada lingkungan target pada skala yang lebih luas

5 Semua faktor produksi dan per-alatan tersedia untuk digunakan dalam produksi benih varietas baru

6 Benih varietas baru yang diha-silkan siap dikomersialisasikan

RATA-RATA NILAI PERSENTASE

KETERPENUHAN INDIKATOR TKT 8

(41)

28

Tabel 9. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Varietas Tanaman: TKT 9 Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

Indikator TKT 9

Sistem Benar-Benar Teruji/Terbukti Melalui Keberhasilan Pengoperasian

(Sistem Produksi Spesifik Varietas Sudah Teruji Melalui Keberhasilan

Demfarm)

20% 40% 60% 80% 100%

1 Standar Operasional Prosedur da-pat diterapkan

2 Program pengembangan benih

varietas baru sudah dibuat

3 Tidak ada perubahan karakteristik

varietas baru yang signifikan (varietas baru telah menunjukan kinerja yang stabil dan seragam)

4 Varietas baru telah teruji pada lingkungan target

5 Tingkat produktivitas varietas baru

sudah stabil

6 Semua dokumentasi varietas baru

telah lengkap

7 Prospek bisnis varietas baru telah

dibuat

8 Teknologi kompetitor varietas baru

telah diketahui

RATA-RATA NILAI PERSENTASE

KETERPENUHAN INDIKATOR TKT 9

(42)

29

3.3.1.b. Galur Ternak

Tabel 10. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Galur/Rumpun Ternak: TKT 1

Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

Indikator TKT 1

Prinsip Dasar dari Teknologi telah Diteliti dan Dilaporkan (Proposal RPTP)

20%

40% 60% 80% 100%

1 Teori dasar (genetika/pemuliaan ternak) dan metode pemuliaan yang akan digunakan pada pe-rakitan galur/rumpun ternak (baru) telah ditentukan

2 Studi literatur (teori dan perakitan galur ternak pada penelitian ter-dahulu) terkait dengan tujuan per-akitan galur/rumpun ternak baru telah dilakukan

3 Hipotesis sudah ditetapkan sebe-lum penelitian

RATA-RATA NILAI PERSENTASE

KETERPENUHAN INDIKATOR TKT 1

Tabel 11. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Galur/Rumpun Ternak: TKT 2

Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

Indikator TKT 2

Formulasi Konsep dan/atau Aplikasi Formulasi

(Rancangan dan Metode Penelitian, ROPP)

20% 40% 60% 80% 100%

1 Peralatan dan metode yang akan digunakan telah teridentifikasi

2 Literatur (teoritis/empiris) terkait

perakitan Galur/Rumpun ternak baru yang akan dikembangkan telah terpilih dan siap untuk di-gunakan

3 Metode pemuliaan yang akan di-gunakan telah teridentifikasi se-cara teoritis dan empiris

4 Materi pemuliaan untuk karakter target telah diketahui

(43)

30

Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

5 Rancangan perkawinan, metode seleksi, dan metode skrining yang akan digunakan dalam proses pe-rakitan galur/rumpun ternak telah dikuasai dan dipahami

6 Parameter genetik (pola pewa-risan dan aksi gen) dari karakter yang akan diperbaiki sudah dike-tahui

7 Evaluasi dilakukan terhadap pa-rameter genetik khususnya ter-hadap karakter target

8 Evaluasi dilakukan terhadap ke-sesuaian metode pemuliaan yang digunakan

9 Peralatan yang digunakan harus valid dan reliable

10 Tahapan eksperimen yang akan

dilakukan telah diketahui

RATA-RATA NILAI PERSENTASE

KETERPENUHAN INDIKATOR TKT 2

(44)

31

Tabel 12. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Galur/Rumpun Ternak: TKT 3

Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

Indikator TKT 3

Pembuktian Konsep, fungsi dan/atau Karakteristik Penting Secara Analitis

dan Eksperimental (Kegiatan Penelitian Mulai

Dilaksanakan)

20% 40% 60% 80% 100%

1 Studi genetik mendukung prediksi kemajuan karakter target telah dilakukan pada penelitian-pene-litian sebelumnya

2 Peluang keberhasilan perbaikan karakter target dapat diprediksi

3 Telah dilakukan kegiatan

pemu-liaan (persilangan, seleksi, dan kegiatan pemuliaan lainnya) serta dihasilkan keturunannya

4 Telah dilakukan evaluasi (phe-notypic/genotypic) dan uji per-forman terhadap galur/rumpun ter-nak hasil pemuliaan di labo-ratorium atau lapangan

5 Galur/rumpun ternak yang diha-silkan layak secara ilmiah (eks-perimen dan analisis)

RATA-RATA NILAI PERSENTASE KETERPENUHAN INDIKATOR TKT 3

Tabel 13. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Galur/Rumpun Ternak: TKT 4

Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

Indikator TKT 4

Validasi Komponen/Subsistem dalam Lingkungan Laoratorium (Validasi Hasil Pemuliaan pada

Lingkungan Pengujian)

20% 40% 60% 80% 100%

1 Target pemuliaan telah ditentukan 2 Uji laboratorium/lapangan galur

hasil pemuliaan telah dilakukan 3 Persyaratan sistem untuk aplikasi

menurut pengguna telah diketahui (keinginan adopter)

(45)

32 4 Hasil percobaan

laboratorium/la-pangan menunjukkan bahwa ga-lur/rumpun ternak hasil pemuliaan memiliki keunggulan tertentu

5 Dilakukan uji performan galur/rum-pun ternak pemuliaan di lingku-ngan target

6 Bibit/benih hasil pemuliaan telah tersedia dalam jumlah cukup untuk proses pengembangan selanjut-nya

7 Penelitian komponen sistem pro-duksi (nutrisi, biosecurity, dan komponen lainnya) telah dilakukan

8 Seluruh karakter target pada galur/rumpun ternak hasil pe-muliaan telah terintegrasi dan stabil

RATA-RATA NILAI PERSENTASE KETERPENUHAN INDIKATOR TKT 4

Tabel 14. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Galur/Rumpun Ternak: TKT 5

Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

Indikator TKT 5

Validasi Komponen/Sub Sistem dalam Suatu Lingkungan yang Relevan (Validasi Calon Galur/Rumpun Ternak

dalam Lingkungan Target )

20% 40% 60% 80% 100%

1 Persiapan perangkat keras pro-duksi (kandang, mesin tetas, bio-security, dan perangkat lainnya) telah dilakukan

2 Dilakukan uji preferensi pada pe-ternak dan pelaku pasar

3 Galur/rumpun ternak hasil

pemu-liaan telah terpilih

4 Peralatan dan mesin pendukung

telah diuji coba di laboratorium 5 Galur/rumpun ternak hasil

pemu-liaan siap diuji pada lingkungan target

6 Keunggulan galur/rumpun ternak hasil pemuliaan telah diidentifikasi berdasarkan performen di lingku-ngan target

7 Penelitian untuk menyusun teknik budidaya calon galur/rumpun ter-nak baru telah dilakukan

(46)

33 8 Proses produksi bibit/benih

ga-lur/rumpun ternak baru telah di-review oleh bagian produksi

bibit/benih

RATA-RATA NILAI PERSENTASE KETERPENUHAN INDIKATOR TKT 5

Tabel 15. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Galur/Rumpun Ternak: TKT 6

Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

Indikator TKT 6

Demonstrasi Model atau Prototipe Sistem/Sub Sistem dalam Lingkungan

yang Relevan (Pengujian dan Demonstrasi Galur/Rumpun Ternak Harapan pada

Lingkungan Terkendali)

20% 40% 60% 80% 100%

1 Kondisi lingkungan pengujian telah diketahui

2 Galur/rumpun ternak yang diuji

menunjukkan keunggulan diban-dingkan galur/rumpun ternak pem-banding yang digunakan dan data yang dihasilkan menunjukkan aku-rasi yang tinggi serta layak digunakan untuk pengusulan pe-lepasan

3 Galur/rumpun ternak yang diu-sulkan telah direkomendasikan un-tuk dilepas/launching secara na-sional

4 Perencanaan Perbanyakan ternak hasil pemuliaan telah dilakukan 5 Unit produksi benih/bibit sumber

(UPBS) menyetujui untuk mem-produksi benih/bibit, galur/rumpun ternak baru yang dihasilkan 6 Produksi benih/bibit tingkat GPS

telah dilakukan

RATA-RATA NILAI PERSENTASE

KETERPENUHAN INDIKATOR TKT 6

(47)

34

Tabel 16. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Galur/Rumpun Ternak: TKT 7

Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

Indikator TRL 7

Demonstrasi Prototipe Sistem dalam Lingkungan Sebenarnya (Demonstrasi Plot di Tingkat Peternak)

20% 40% 60% 80% 100%

1 Demonstrasi plot dilakukan di beberapa lokasi calon pengguna

2 Anjuran wilayah pengembangan

telah ditetapkan

3 Peralatan, proses, metode dan

sistem produksi mulai diujicobakan 4 Perhitungan perkiraan biaya

pro-duksi bibit/benih telah divalidasi 5 Produsen benih telah mengenal

dan memahami karakteristik galur baru dan dapat melakukan pro-duksi bibit/benih galur/rumpun ter-nak baru sesuai SOP yang telah ditetapkan

6 SOP produksi bibit/benih ga-lur/rumpun ternak baru dan teknik budidaya dapat diterapkan dengan baik

7 Galur/rumpun ternak baru menun-jukkan keunggulan di lokasi dem-plot

8 Bibit/benih ternak yang baru siap diproduksi untuk diseminasi pada skala lebih luas

RATA-RATA NILAI PERSENTASE KETERPENUHAN INDIKATOR TKT 7

(48)

35

Tabel 17. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Galur/Rumpun Ternak: TKT 8

Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

Indikator TKT 8

Sistem Telah Lengkap dan Handal Melalui Pengujian dan Demonstrasi dalam Lingkungan yang Sebenarnya (Demfarm Galur/Rumpun Ternak dan Teknik Budidaya dalam Lingkungan

yang Sebenarnya)

20% 40% 60% 80% 100%

1 Galur/rumpun ternak baru sesuai dengan preferensi konsumen (pe-ternak, pedagang dan konsumen lainnya)

2 Teknologi budidaya galur/rumpun ternak baru spesifik lokasi telah teridentifikasi

3 Seluruh proses diseminasi ga-lur/rumpun ternak baru telah dilakukan pada lingkungan target

4 Semua faktor produksi dan per-alatan tersedia untuk digunakan dalam produksi bibit/benih ga-lur/rumpun ternak baru

5 Bibit/benih galur/rumpun ternak baru yang dihasilkan siap diko-mersialisasikan

RATA-RATA NILAI PERSENTASE KETERPENUHAN INDIKATOR TKT 8

(49)

36

Tabel 18. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Galur/Rumpun Ternak: TKT 9

Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

Indikator TKT 9

Sistem Benar-Benar Teruji/Terbukti Melalui Keberhasilan Pengoperasian

(Sistem Produksi Spesifik Galur/Rumpun Ternak Sudah Teruji

Melalui Proses Diseminasi)

20% 40% 60% 80% 100%

1 Standar Operasional Prosedur da-pat diterapkan

2 Program pengembangan ga-lur/rumpun ternak baru sudah dibuat

3 Tidak ada perubahan karkteristik galur/rumpun ternak baru yang signifikan

4 Galur/rumpun ternak baru telah teruji pada lingkungan target

5 Tingkat produktivitas galur/rumpun

ternak baru sudah stabil

6 Semua dokumentasi galur/rumpun

ternak baru telah lengkap

7 Prospek bisnis galur/rumpun

ter-nak baru telah dibuat

8 Teknologi kompetitor galur/rumpun

ternak baru telah diketahui

RATA-RATA NILAI PERSENTASE

KETERPENUHAN INDIKATOR TKT9

(50)

37

3.3.2. Pupuk

Tabel 19. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Pupuk (Anorganik, Organik, Hayati, dan Pembenah Tanah): TKT 1

Tabel 20. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Pupuk (Anorganik, Organik, Hayati, dan Pembenah Tanah): TKT 2

Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

Indikator TKT 2

Formulasi konsep dan/atau aplikasi formulasi

(Rancangan dan Metode Penelitian, ROPP)

20% 40% 60% 80% 100%

1 Peralatan, bahan dan metode yang akan digunakan telah ter-identifikasi

2 Studi literatur (teoritis/empiris) tek-nologi yang akan dikembangkan memungkinkan untuk digunakan

3 Desain secara teoritis dan empiris telah teridentifikasi

4 Elemen-elemen dasar dari

tekno-logi yang akan dikembangkan te-lah diketahui

5 Karakterisasi komponen teknologi yang akan dikembangkan telah di-pahami dan dikuasai

Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

Indikator TKT 1

Prinsip Dasar dari Teknologi yang Telah Diteliti dan Dilaporkan

(Proposal RPTP)

20%

40% 60% 80% 100%

1 Asumsi dan hukum dasar (fi-sika/kimia/biologi) yang akan digunakan pada teknologi (baru) telah ditentukan

2 Studi literatur (Teori ilmiah dan HKI/Paten pada penelitian-pene-litian terdahulu) tentang prinsip dasar teknologi baru yang akan dikembangkan telah dilakukan

3 Hipotesis sudah ditetapkan se-belum dilakukan penelitian

RATA-RATA NILAI PERSENTASE

(51)

38

Indikator Persentase Keterpenuhan Indikator

(1) (2)

6 Kinerja dari masing-masing ele-men penyusun teknologi yang akan dikembangkan telah dipre-diksi

7 Penelitian analitik untuk menguji kebenaran prinsip dasarnya

8 Peralatan yang digunakan harus

valid dan reliable

9 Tahapan eksperimen yang akan

dilakukan telah diketahui

RATA-RATA NILAI PERSENTASE

KETERPENUHAN INDIKATOR TKT 2

Tabel 21. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Pupuk (Anorganik, Organik, Hayati, dan Pembenah Tanah): TKT 3

Indikator Persentase Keterpenuhan indikator

(1) (2)

Indikator TKT 3

Pembuktian Konsep, Fungsi dan/atau Karakteristik Penting Secara Analitis

dan Eksperimental (Kegiatan Penelitian Mulai

Dilaksanakan)

20% 40% 60% 80% 100%

1 Percobaan laboratorium telah dila-kukan untuk menguji kelayakan teknologi pupuk tersebut

2 Model dan simulasi mendukung prediksi kemampuan elemen-ele-men teknologi

3 Pengembangan teknologi pupuk yang baru sangat dimungkinkan dan dapat disimulasikan

4 Prediksi kinerja tiap elemen tek-nologi telah dilakukan dengan penelitian laboratorium

5 Kinerja komponen-komponen sis-tem teknologi terbukti dapat be-kerja dengan baik melalui eks-perimen

6 Teknologi pupuk yang dihasilkan layak secara ilmiah (simulasi, ana-litik, dan eksperimen)

RATA-RATA NILAI PERSENTASE KETERPENUHAN INDIKATOR TKT 3

Gambar

Tabel 1. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Varietas Tanaman: TKT 1  Indikator  Persentase Keterpenuhan Indikator
Tabel 3. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Varietas Tanaman: TKT 3  Indikator  Persentase Keterpenuhan Indikator
Tabel 5. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Varietas Tanaman: TKT 5  Indikator  Persentase Keterpenuhan Indikator
Tabel 7. Tingkat Kesiapterapan Teknologi Varietas Tanaman: TKT 7  Indikator  Persentase Keterpenuhan Indikator
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil Analisa uji hipotesa diata dapat disimpulkan bahwa (1) Tai chi efektif menurukan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi; (2) Tai chi efektif menurunkan

Kecamatan Ranomeeto merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Konawe Selatan Propinsi Sulawesi Tenggara yang mendapatkan alokasi dana kegiatan PNPM Mandiri

Kali ini, limbah kulit buah pisang yang ternyata memiliki kandungan antioksidan lebih tinggi dari daging buahnya, sehingga diinovasi oleh mahasiswa UNAIR

Penelitian tersebut menunjukan bahwa analisis efektivitas pada ADD terlihat beragam di Kabupaten Deli Serdang, jika dilihat dari analisis lebih lanjut, hal

Sedangkan skripsi ini merencanakan sekolah balap motor di Bengkulu Selatan yang mendukung dan berintegrasi pada pendidikan balap sebagai pusat pendidikan dan

Atribut ACCOUNTABLE (A) merupakan posisi dimana stakeholder terkait merupakan pihak yang berwenang atau memiliki kekuasaan tertinggi terhadap berbagai aset terkait

Parfum Laundry Gunungsitoli Selatan Beli di Toko, Agen, Distributor Surga Pewangi Laundry Terdekat/ Dikirim dari Pabrik.. BERIKUT INI JENIS PRODUK

1 AA 73 P Furunkel Streptococcus pyogenes Regio abdominalis 2 AB 77 L Furunkel Streptococcus pyogenes Generalisata 3 AC 38 P Abses Karbunkel Staphylococcus aureus