154 IMPLEMENTASI PENDIDIKAN BERASRAMA (BOARDING SCHOOL)
DI MTs AL FALAH TANJUNGJAYA
Tantan Heryadi1, Tantri Fitriani2, dan Zaenal Mutaqin3
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jl. Soekarno-Hatta
Email : [email protected] Email : [email protected] Email : [email protected]
Abstrak
Pendidikan merupakan sektor yang sangat penting dan sering diperhatikan oleh semua umat manusia. Pendidikan merupakan sebuah proses atau usaha untuk meningkatkan sumber daya manusia, dengan tujuan agar memperoleh kemampuan sosial dan perkembangan individu yang lebih optimal. Harapan dan langkah yang diambil oleh orang tua yang mempercayakan pengasuhan dan pendidikan ke sekolah berasrama atau dikenal dengan istilah boarding school tidaklah salah, karena banyak pendidikan berasrama (boarding school) yang dikembangkan dari pesantren tradisional mampu mencetak lulusan yang berkualitas, baik kulaitas ilmu umum maupun agamanya. Begitupun seperti MTs Al Falah Tanjungjaya yang berada di Kabupaten Tasikmalaya, berdirinya sekolah berasrama berangkat dari pesantren tradisional yang berdiri pada tahun 1932. sekolah dengan konsep boarding school ini paling tidak memiliki dua keuntungan; pertama, peserta didik memperoleh pengetahuan akademik sebagaimana sekolah pada umumnya, dan kedua, memperoleh pendidikan agama sesuai dengan kurikulum pesantren yang dikembangkan di boarding school seperti tahfidz qur’an, halaqah tarbawiyah,
muhadharah dan sebagainya.
Kata Kunci : Pendidikan, Berasrama, MTs Al Falah
A. Pendahuluan
Manusia bukan sekedar hidup sebagaimana hidupnya hewan maupun tumbuhan, melainkan hidup sebagai manusia. Setelah kelahirannya, manusia tidak dengan sendirinya mampu menjadi manusia yang sempurna, tetapi untuk menjadi manusia ia perlu di didik dan mendidik diri, bahkan semasa manusia sejak dalam kandungan mengenal yang namanya pendidikan sejak dalam kandungan.
Namun seiring berjalannya waktu, dalam kehidupan dewasa ini selain ayah sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab untuk bekerja atau menafkahi
155 keluarga, banyak pula istri yang bekerja dan meniti karir di luar rumah, baik berprofesi sebagai guru, dosen, bekerja di instansi pemerintahan, atau swasta, sebagai buruh pabrik, ataupun bekerja di bidang lainnya, dan pernan merekapun terkadang menduduki jabatan yang tinggi di tempatnya bekerja.
Fenomena seperti ini sudah lazim dalam kehidupan masyarakat di era modern ini, suami istri sibuk dengan pekerjaan masing-masing di luar rumah, mereka berangkat pagi pulang sore, bahkan pulang malam bila ada pekerjaan yang mengharuskan bekerja lembur. Dengan padatnya kegiatan dan kesibukan masing-masing, sehingga menyebabkan pertemuan dengan sesama anggota keluarga pun menjadi terbatas pada malam hari atau waktu libur saja, itu pun bila tidak ada tugas ke luar kota, disadari atau tidak ada peran yang tercederai yakni peran orang tua dalam pengasuhan dan pendidikan anak di rumah.
Sebagian orang tua yang merasa belum optimal mengasuh dan mendidik anak-anaknya, mempercayakan buah hatinya tersebut untuk di asuh dan di didik di sekolah berasrama yang saat ini dikenal dengan istilah boarding school. Sebuah sekolah dengan konsep asrama yang mengharuskan semua peserta didik mondok di sana, sehingga orang tua bisa lebih fokus bekerja dan meniti karir di luar rumah. Sebagian yang lain beralasan menitipkan anak-anaknya sekolah di
boarding school karena khawatir dengan lingkungan di luar yang kurang baik,
selain itu ada pula orang tua yang ingin anaknya mandiri, disiplin, memiliki kepribadian yang baik, paham agama atau bisa menghafal al-Qur’an.
Boarding school menjadi salah satu alternatif bagi para orang tua yang
memiliki kesibukan di luar rumah yang menyebabkan mereka tidak bisa maksimal mendidik buah hatinya. Dengan menitipkan ke boarding school mereka bisa fokus bekerja dan berkarir, sementara itu anak-anaknya di titipkan dan di didik di boarding school bisa fokus dalam belajar, baik pelajaran umum maupun agama. Dengan konsep pendidikan boarding school ini di harapkan anak-anak mendapat pendidikan yang baik sehingga memiliki karakter, menjadi peribadi yang baik dan mulia.
Dari sekian banyak konsep dan model lembaga pendidikan di Indonesia,
156 tujuan pendidikan kepada peserta didik. Alasannya sederhana, seperti yang di sampaikan oleh Ahmad Majid bahwa proses kehidupan manusia tercakup dalam tiga ranah pendidikan yakni dalam satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat (Fitri, 2012). Dalam boarding school tiga ranah pendidikan tersebut terintegrasi dalam satu kesatuan, dimana peserta didik tinggal, sekolah, dan bergaul dalam lingkungan pendidikan boarding school atau sekolah berasrama, dengan demikian proses pendidikan lebih terarah dan terencana dalam membangun karakter peserta didik.
Pola pendidikan boarding school tempat dimana mereka tinggal, menimba ilmu, dan melakukan berbagai macam kegiatan, semestinya konsep pendidikan
boarding school melahirkan alumnus yang baik, paham agama, mandiri,
beradab, dan santun, tapi yang terjadi terkadang tidak selalu sesuai harapan. Namun demikian tidak menutup mata bahwa alumnus boarding school banyak yang sukses di perguruan tinggi dengan berbagai prestasi, baik prestasi akademik seperti olimpiade sains dan semacamnya, maupun prestasi non akademik seperti keagamaan, sastra, Bahasa, dan olahraga. Memang MTs Al Falah Tanjungjaya belum meluluskan alumnus, tetapi dalam bidang akademik atau non akademik, terbilang sukses.
MTs Al Falah Tanjungjaya yang berada di Kabupaten Tasikmalaya, merupakan sekolah berasrama (boarding school) yang mempunyai keunggulan, diantaranya tahfiz al-Qur’an, dan santri belajar di lingkungan pesantren salafiah yang berdiri sejak tahun 1932, satu angkatan dengan pahlawan Nasional Kh. Zaenal Musthofa, santri belajar 24 jam di sekolah dan pesantren dalam satu komplek sehingga terhindar dari pergaulan negatif.
Dalam al-Talim, Imam Hasan Al-Banna menegaskan bahwa umat ini harus membentuk diri menjadi insan kamil yang kriterianya terangkum dalam 10
Muwasafat Tarbiyah Islamiyah, diantaranya (Hasan Al-Banna, 2012) ; (1).
Aqidah yang selamat, (2). Ibadah yang benar, (3). Akhlak yang mulia, (4). Mampu berdikir, (5). Berpengetahuan luas, (6). Tubuh yang kuat, (7). Menguasai diri, (8). Teratur urusannya, (9). Bagus mengatur waktunya, dan (10). Bermanfaat pada orang lain.
157 Generasi Rabbani sebagaimana tergambar dalam Muwasafat di atas, merupakan generasi unggul yang diharapkan lahir dari pendidikan boarding
school, dalam kalimat sederhana bisa pula diartikan sebagai generasi yang baik
dan beradab, generasi yang memiliki kepribadian dan budi pekerti luhur, atau dalam kata lain generasi berakhlak mulia.
B. Pembahasan
1. Pengertian Pendidikan Berasrama atau Boarding School
Boarding school terdiri dari dua kata, yaitu boarding dan school, boarding berarti asrama dan school berarti sekolah (John M. Echols dan
Hasan Sadili, 1996). Menurut Oxford Dictionary, boarding school is school
where some or all pupil live during the term. Sekolah berasrama adalah
lembaga pendidikan yang mana sebagian atau seluruh peserta didiknya belajar dan tinggal berasrama selama kegiatan pembelajaran (Oxford Dictionaries, 2019). Word net bag mendefinisikan boarding school is a
private school where student are lodged and fed as weel as taught, sebuah
sekolah swasta dimana peserta didiknya di asramakan, diberi makan serta diberi pelajaran.
Menurut Wikipedia boarding school is a school where same or all
pupils study and live during the school year with their fellow students and possibly teachers and or administrators. The word ‘boarding’ is used in the sanse of “bed and board”, i.e, loding and meals. Some boarding school also have day students who attend the institution by day and return off-campus to their families in the evenings. Boarding school adalah sekolah dimana
beberapa atau semua peserta didiknya belajar dan hidup selama tahun ajaran dengan sesama peserta didik, guru, dan karyawan. Kata asrama ini diartikan sebagai ‘tempat tidur dan papan’, yaitu penginapan dan makanan, beberapa sekolah asrama juga memiliki peserta didik harian, maksudnya menghadiri lembaga siang hari dan kembali kepada keluarga mereka di malam hari (Wikipedia, 2019).
158
Boarding school adalah sistem sekolah berasrama, dimana peserta
didik, dan juga guru, dan pengelola sekolah tinggal di asrama yang berada dalam lingkungan sekolah dalam kurun waktu tertentu (Bahtiar, 2019).
Boarding school merupakan sekolah berasrama dimana peserta didik, guru,
wali asrama, dan karyawan tinggal disana untuk melaksanakan proses pendidikan. Menurut Encyclopedia Wikipedia yang dikutip oleh Maksudin,
boarding school adalah lembaga pendidikan dimana para peserta didiknya
tidak hanya belajar, tetapi mereka bertempat tinggal dan hidup menyatu di lembaga tersebut. Boarding school mengkombinasikan tempat tinggal para peserta didik di institusi sekolah yang jauh dari rumah dan keluarga mereka dengan diajarkan agama serta pembelajaran beberapa mata pelajaran (Maksudin, 2008).
Boarding school merupakan sekolah yang sangat memungkinkan
antara peserta didik dan guru untuk berinteraksi dan berkomunikasi, dari sisi inilah pendidikan kognitif, afektif, dan psikomotor peserta didik terlatih dengan baik dan optimal dalam proses pembelajaran. Dwi Fahrial mendefinisikan boarding school sebagai sekolah yang menerapkan kurikulum penumbuhan karakter Qur’ani yang dirancang untuk misi hidup agar menjadi pemenang dimasa depan(Dwi Fahrial, 2016).
Dari pengertian ini penulis mendefinisikan MTs Al Falah Tanjungjaya termasuk sekolah dengan konsep pendidikan berasrama atau boarding
school yang memadukan kurikulum pesantren dengan kurikulum
pendidikan. Dari beberapa pengertian di atas dapat diartikan bahwa
boarding school merupakan lembaga pendidikan yang memadukan antara
sistem pesantren dengan sistem pendidikan umum. Dimana peserta didik, guru, wali asrama, dan karyawan tinggal di asrama dengan berbagai aktivitas kehidupannya selama 24 jam dan sekolah disana dengan berbagai agenda pembelajarannya, boarding school merupakan sekolah berasrama yang dilengkapi dengan fasilitas hidup dan pembelajaran untuk melaksanakan proses pendidikan.
159 2. Sejarah Pendidikan Berasrama atau Boarding School
Sesungguhnya konsep boarding school bukan sesuatu yang baru dalam sistem pendidikan Indonesia, karena sejak lama konsep boarding
school dikenal dengan konsep pondok pesantren. Pondok pesantren ini
adalah cikal bakal boarding school di Indonesia, boarding school memiliki peran sebagai lembaga pendidikan, lembaga keilmuan, lembaga pelatihan, lembaga pemberdayaan masyarakat, dan lembaga bimbingan keagamaan (M Dian Nafi’, 2007). Yang lebih penting lagi boarding school bisa menjadi lembaga yang membimbing, mengondisikan, mendidik, dan membentuk karakter atau akhlak yang baik.
Sistem boarding school menurut MS. Anis Masykur adalah himpunan komponen yang saling berkait dalam satu lembaga yang di dalamnya tidak hanya memberikan pengajaran, akan tetapi menyatukan tempat tinggal dengan sekolah. Sedangkan komponen yang termasuk di dalam boarding
school atau pesantren diantaranya (MS. Anis Masykur, 2010); a). Pondok
atau tempat tinggal, b). Pengurus, c). Santri atau peserta didik, dan d). Kitab kuning. Perpaduan pendidikan pesantren dan madrasah melahirkan bentuk pendidikan terpadu (integrated) antara pesantren dan madrasah (Maksudin, 2008).
Syarif mengatakan bahwa pada dasarnya pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang dikelola secara konvensional dan dilaksanakan dengan sistem asrama (boarding) dengan Kyai sebagai sentra utama serta masjid sebagai pusat lembaganya (Syarif, 1983). Pada perkembangan berikutnya dikelola dan dilaksanakan dengan sistem
boarding school yang memadukan konsep pendidikan pesantren dan
sekolah. Peserta didik tinggal dan sekolah dalam satu lingkungan boarding
school, mereka tidak hanya memperoleh pendidikan agama seperti tahfidz qur’an, halaqah tarbawiyah, belajar Bahasa asing, muhadharah, dan
berbagai agenda lain sesuai kurikulum pesantren, tapi juga mendapat pendidikan formal di sekolah.
160 Tujuan termasuk kunci keberhasilan pendidikan, di samping faktor-faktor lain yang terkait; pendidik, peserta didik, alat pendidikan, dan lingkungan pendidikan (Mujamil Qomar, 2007). Dengan adanya tujuan yang jelas maka proses pendidikan yang dijalankan lebih terarah sesuai dengan target yang ingin dicapai. Tujuan utama boarding school rata-rata adalah untuk membina peserta didik agar lebih mandiri, selain itu tujuan pendirian boarding school untuk membina karakter atau akhlak peserta didik agar menjadi lebih baik, shalih shalihah, faham agama, dan hafal al-Qur’an.
Sekolah dengan konsep boarding school memiliki peran penting dalam membentuk karakter atau akhlak yang baik, hal ini bisa dicermati dari latar belakang berdirinya boarding school yang memadukan kurikulum pesantren dengan sekolah umum. Adapun peran boarding school dapat dilihat sebagai berikut;
a) Mengembangkan lingkungan belajar yang Islami
b) Menyelenggarakan program pembelajaran dengan sistem mutu terpadu dan terintegrasi yang memberikan bekal kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional, serta kecakapan hidup.
c) Mengelola lembaga pendidikan dengan sistem manajemen yang efektif, kondusif, kuat, bersih, modern, dan memiliki daya saing.
d) Mengoptimalkan peran serta orang tua, masyarakat dan pemerintah. Disamping bertujuan mencetak generasi unggul, boarding school juga berperan dalam mencetak calon pemimpin sebagaimana Bedjo Sujanto mengemukakan bahwa boarding school merupakan salah satu cara didalam mengelola sekolah yang ada di Indonesia. Mereka mengasramakan peserta didik dan kemudian memberikan tambahan kegiatan di lingkungan sekolah, itu memang akan sangat bermanfaat bagi peserta didik. Tetapi untuk membentuk seorang pemimpin masa depan, ada berbagai faktor yang harus mendukung;
Faktor pendidikan seperti yang dilakukan di boarding school itu. Faktor talenta atau tekad.
161 Lingkungan.
Diera modern ini boarding school menjadi salah satu alternatif bagi para orang tua untuk menitipkan anka-anaknya agar mendapatkan pendidikan yang baik, peserta didik yang menempuh pendidikan di
boarding school bukan hanya memperoleh pendidikan formal sebagaimana
di sekolah umum, tapi juga mendapatkan pendidikan Islam. Pemahaman agama yang baik, aqidah yang kokoh, dan keyakinan yang mantap pada Allah menjadi pondasi dalam membentuk karakter atau akhalak peserta didik.
Selain itu peserta didik juga melihat secara langsung kehidupan dan kebiasaan para guru, ustadz, dan wali asrama yang tinggal di lingkungan
boarding school, sehingga mereka dapat menjadikan guru, ustadz, dan wali
asrama menjadi role model. Dengan demikian, konsep pendidikan boarding
school menjadikan proses pendidikan karakter atau akhlak lebih kondusif,
lebih jauhnya akan memudahkan tujuan dan peran boarding school dalam mendidik, membina, dan membentuk akhlak yang baik.
4. Keunggulan dan Kelemahan Pendidikan Berasrama atau Boarding School
Setiap lembaga memiliki keunggulan dan kelemahan, demikian pula
boarding school, keunggulan dan kelemahan boarding school adalah
sebagai berikut; a. Keunggulan
Menjamurnya boarding school tidak bisa dipisahkan dari besarnya animo masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya ke boarding
school, para orang tua meyakini bahwa boarding school memiliki
keunggulan yang tidak dimiliki oleh sekolah-sekolah umum. Diantara keunggulan boarding school adalah sebagai berikut;
1) Perpaduan kurikulum pesantren dan pendidikan formal
Sekolah dengan konsep boarding school pada umumnya memadukan dua kurikulum dalam menjalankan agenda kegiatan dan
162 pembelajaran, seperti tahfidz, halaqah tarbawiyah, muhadharah dan sebagainya, pendidikan Bahasa seperti Bahasa Arab, Inggris, dan Bahasa asing lainnya.
2) Lingkungan yang kondusif
Dalam sekolah berasrama semua elemen yang ada dalam komplek sekolah terlibat dalam proses pendidikan, aktornya tidak hanya guru atau bisa dibalik gurunya bukan hanya guru mata pelajaran, tapi semua oaring dewasa yang ada di boarding school adalah guru. Guru tidak hanya dilihatnya di dalam kelas, tapi juga di kehidupan kesehariannya, sehingga ketika mengajarkan tertib Bahasa Asing misalnya, maka semuanya dari mulai tukang sapu sampai principal berbahasa Asing, begitu juga dalam membangun religius socity, maka semua elemen yang terlibat mengimplementasikan agama secara baik.
3) Fasilitas mudah diakses
Kompleks boarding school biasanya terdiri dari ruang kelas, perpustakaan, lab Bahasa, masjid, lapangan olah raga, aula, asrama, dapur, dan sebagainya, semua fasilitas ini mudah diakses dan digunakan untuk keperluan pendidikan dan pembelajaran. Bila suatu waktu peserta didik membutuhkan fasilitas belajar semisal ruang kelas, atau aula serbaguna, mereka mudah menggunakannya karena jarak yang relatif dekat.
4) Guru berkualitas
Sekolah berkualitas tentu memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga untuk menjaga mutu sekolah agar berkualitas,
boarding school biasanya menentukan guru dengan syarat tertentu
yang kompetensinya tidak dimiliki oleh guru di sekolah regular pada umumnya. Syarat paling umum adalah harus memiliki hafalan sekian juz, mahir dalam kitab kuning, kemampuan berbahasa asing, bagi wali asrama atau pengasuh harus memiliki kemampuan jiwa
163 pengasuh, membimbing, dan membina sebagai bekal mendampingi anak asuhnya.
5) Peserta didik yang heterogen
Peserta didik di boarding school datang dari berbagai etnis dan suku, itu kelebihan lain dari sistem pendidikan ini. Dengan peserta didik yang hetorogen menjadikan pergaulan di boarding school sangat beragam, sebab ada banyak perilaku, kebiasaan, afat, budaya, dan Bahasa, semua perbedaan itu menjadikan peserta didik kaya pengalaman, bertambah wawasan, bertambah pengetahuan, dan makin luasnya pergaulan.
6) Jaminan keamanan
Jaminan keamanan diberikan boarding school, melalui dari jaminan kesehatan, tidak narkoba, terhindar pergaulan bebas, dan jaminan keamanan fisik (tawuran dan perpeloncoan), serta pengaruh kejahatan dunia maya. Selain aman secara fisik, pendidikan di
boarding school juga aman secara moral, aturan hidup di boarding school dibuat sedemikian rupa mulai dari bangun tidur hingga tidur
kembali, pelanggaran yang dilakukan disediakan sanksi untuk meredamnya, ada buku saku tata tertib yang dipegang oleh setiap peserta didik yang menjadi panduan hidup di boarding school. b. Kelemahan
1) Terkesan ekslusif
Banyak sekolah berasrama yang betul-betul menurung peserta didiknya di asrama sehingga mereka cenderung ekslusif, tidak mengenal lingkungan. Jika pulang ke rumah cenderung menganggap kondisi di luar negatif semua sehingga menutup diri terhadap dunia luar. Kesan ekslusif ini menjadi satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dari boarding school, sehingga menjadi tugas para pengelola boarding school untuk membuat kesan ekslusif ini menjadi cair di tengah-tengah masyarakat.
164 2) Dikotomi guru sekolah dan guru asrama atau pengasuh
Sampai saat ini sekolah berasrama mencari guru yang cocok untuk sekolah berasrama, sekolah-sekolah tinggi keguruan tidak memproduksi guru-guru sekolah berasrama. Akibatnya, masing-masing sekolah mendidik guru asramanya sendiri sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki oleh lembaga tersebut. Guru sekolah (mata pelajaran) bertugas hanya untuk mengampu mata pelajarannya, sementara guru asrama (pengasuh) adalah tersendiri hanya bicara soal pengasuhan.
3) Kurikulum pengasuh yang tidak baku
Salah satu yang membedakan sekolah-sekolah berasrama adalah kurikulum pengasuhannya, kalau bicara kurikulum akademiknya dapat dipastikan hampir sedikit perbedaanya. Semuanya mengacu kepada kurikulum KTS-nya produk Depdiknas dengan ditambah pengayaan atau suplemen kurikulum international dan mulok. Namun jika berbicara pola pengasuhan sangat beragam, dan disiplin. 4) Jarak tempat tinggal dan sekolah terlalu dekat
Umumnya sekolah-sekolah berasrama berada dalam satu lokasi dan dalam jarak yang sangat dekat, kondisi seperti ini yang telah banyak berkontribusi dalam menciptakan kejenuhan peserta didik berada di sekolah asrama. Dengan lingkungan yang terbatas ini menjadikan peserta didik merasa jenuh, butuh refreshing, dan merindukan kehidupan dunia luar, sehingga tidak salah kalau sebagian peserta didik ada yang nekat kabur, jalan-jalan, dan keluar lingkungan
boarding school tanpa izin pengasuhnya.
5) Biaya mahal
Pembiayaan besar dari boarding school memang wajar, pihak penyelenggara berusaha membuat fasilitas kenyamanan bagi peserta didik agar betah dalam belajar. Mulai dari penataan ruangan yang full Ac, fasilitas audio visual, dan lain sebagainya yang serba kenyamanan ini. Dari sudut pandang lain, ternyata hal ini
165 menimbulkan ekses negatif juga, peserta didik menjadi terbiasa hidup mewah, di tempat mewah, dan jauh dari kesederhanaan. Lebih jauh lagi ditakutkan, dalam kehidupan berikutnya mereka tidak siap menjalani hidup yang berbeda dengan ketika ia menuntut ilmu di sekolah serba mewah.
5. Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriftif kualitatif, jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Prosedur penelitian menghasilkan data berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, dokumentasi dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data kualitataif dengan metode analisis interaksi atau interactive analysis models dengan langkah-langkah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Peneliti juga menggunakan kriteria untuk memudahkan dalam menyampaikan kesimpulan penelitian.
C. Kesimpulan
Selain beberapa kelemahan yang disebutkan di atas, kelemahan boarding
school diantaranya anak berpisah dari orang tua, pola makan sederhana sesuai
menu dapur asrama, resiko kehilangan barang. Kelemahan-kelemahan ini menjadi bagian kehidupan asrama yang harus menjadi perhatian para pngelola untuk terus berbenah demi kebaikan pendidikan boarding school.
Selain mengetahui keunggulan dan kelemahan boarding school dan membandingkan keduanya, peserta didik yang sekolah di asrama lebih terjamin dan sangat besar kemungkinan keberhasilan pendidikan akhlak atau karakternya. Di boarding school mereka harus hidup mandiri, bergaul dengan teman-temannya yang beragama dan berasal dari berbagai daerah berada, sehingga menjadikan peserta didik memiliki banyak pengalaman, selain itu pula pendidikan boarding school yang berkesinambungan dan kondusif sangat mendukung pelaksanaab pendidikan yang berkarakter dan berakhlak mulia.
166 D. Daftar Rujukan
Bahtiar. (2019). Boarding School dan Peranannya dalam Pengembangan
Pendidikan Islam. Retrieved from
http://bhakti_ardi.blogspot.com/2012/07/boarding-school-dan-perananya-dalam_08.html.
Dwi Fahrial. (2016). Boarding School is School of Leaders. Bandung: Al-Fatih Foundation.
Fitri, A. Z. (2012). Pendidikan Karakter Berbasis Nilai dan Etika di Sekolah. Yogyakarta: Ar Ruz Media.
Hasan Al-Banna. (2012). Muwasafat Tarbiyah Islamiyah. Yogyakarta: Pro-U Media.
John M. Echols dan Hasan Sadili. (1996). An English-Indonesia. Jakarta: Gramedia.
M Dian Nafi’. (2007). Praksis Pembelajaran Pesantren (Al, ed.). Yogyakarta: Instite for Training and Developmment (ITD).
Maksudin. (2008). Pendidikan Nilai Boarding School di SMPIT Yogyakarta,
Disertasi UIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.
MS. Anis Masykur. (2010). Menakar Modernisasi Pendidikan Pesantren:
Mengusung Sistem Pendidikan Pesantren Sebagai Sistem Pendidikan Mandiri. Jakarta: Barnea Pustaka.
Mujamil Qomar. (2007). Pesantren dari Transformasi Metodologi Menuju
Demokratisasi Institusi. Jakarta: Erlangga.
Oxford Dictionaries. (2019). Definisi Boarding School. Retrieved from http:oxforddictionaries.com/.
Syarif. (1983). Administrasi Pesantren. Jakarta: Paryu Barkah. Wikipedia. (2019). Definisi Boarding School. Retrieved from