RENJA PERUBAHAN
2018
DINAS KESEHATAN
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan merupakan hak asasi manusia adalah salah satu unsur yang harus diwujudkan
sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan
Undang-undang Dasar 1945. Oleh karena itu pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasonal (RPJMN) tahun 2014 - 2019 telah
ditetapkan dengan peraturan Presiden Nomor 2 tahun 2015. Pembangunan kesehatan sebagai
bagian integral dari Pembangunan Nasional tercantum dalam Bab II Rencana Pembangunan Jangka
Menengah
Nasional.
Pembangunan
kesehatan
diselenggarakan
dengan
berasaskan
perikemanusiaan, pemberdayaan dan kemandirian, adil dan merata serta pengutamaan dan
manfaat, perlindungan, penghormatan terhadap hak dan kewajiban, keadilan, gender dan
nondiskriminatif dan norma-norma agama.
Pembangunan Kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif
secara sosial dan ekonomis. Pembangunan kesehatan dilaksanakan melalui peningkatan upaya
kesehatan, pembiayaan kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, sediaan farmasi, alat
kesehatan dan makanan, manajemen dan informasi kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.
Upaya tersebut dilakukan dengan memperhatikan dinamika kependudukan, epidemiologi penyakit,
perubahan ekologi dan lingkungan, kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), serta
globalisasi dan demokratisasi dengan semangat kemitraan dan kerjasama lintas sektoral.
Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional Pasal 15 ayat 3 menyatakan bahwa kepala satuan kerja perangka daerah menyiapkan
rancangan Rencana Strategis sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya yang berpedoman pada
rancangan awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Dalam rangka
mencapai tujuan pembangunan kesehatan dan sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 25
tahun 2004 tersebut perlu disusun Rencana Strategis (Renstra) Dinas Kesehatan tahun 2016 - 2021.
Rencana kerja SKPD yang selanjutnya disingkat Renja SKPD adalah dokumen perencanaan
SKPD untuk periode 1 (satu) tahun dan direvisi dalam dokumen perencanaan SKPD berdasarkan
dokumen Perubahan Anggaran 2018, yang memuat kebijakan, program, dan kegiatan
pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun yang ditempuh
dengan mendorong partisipasi masyarakat.
Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat meletakkan tujuan itu dengan membuatkan 4
pilar dasar yaitu :
1. Sarana dan prasarana yang berkualitas;
2. Sumber daya kesehatan yang berkualitas;
3. Pemberdayaan masyarakat;
2
Proses penyusunan Renja Perubahan Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat Tahun
2018 dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut :
1.
Persiapan penyusunan Rancangan Renja Perubahan SKPD; Persiapan penyusunan perubahan
dilakukan dengan membentuk tim, orientasi mengenai RKPD dan Renja perubahan SKPD,
menyusun jadwal/agenda kerja serta penyiapan data dan informasi.
2.
Penyusunan Renja Perubahan SKPD dilakukan melalui 2 tahap, mencakup : perumusan
rancangan Renja Perubahan SKPD dan tahap penyajian rancangan Renja perubahan SKPD.
Perumusan rancangan Renja perubahan SKPD dilakukan melalui serangkaian kegiatan
diantaranya pengolahan data dan informasi, analisis gambaran pelayanan SKPD, meeview hasil
evaluasi pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu berdasarkan Renstra SKPD, isu-isu penting
penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD, telaahan terhadap rancangan awal RKPD, perumusan
tujuan dan sasaran, penelaahan usulan program dan kegiatan dari masyarakat, perumusan
kegiatan prioritas, penyajian awal dokumen rancangan Renja perubahan SKPD, penyempurnaan
rancangan Renja perubahan SKPD, pembahasan forum SKPD dan penyesuaian dokumen
rancangan Renja perubahan SKPD sesuai dengan prioritas dan sasaran pembangunan tahun
rencana dengan mempertimbangkan arah dan kebijakan umum pembangunan daerah, arahan
menteri terkait dan SPM.
3.
Forum SKPD merupakan wadah penampungan dan penjaringan aspirasi masyarakat, dan dunia
usaha (pemangku kepentingan), untuk penyempurnaan rancangan kebijakan penyusunan Renja
SKPD. Hal ini menunjukan dalam pendekatan perencanaan menggunakan sistem perencanaan
bawah atas (bottom-up planning) berdasarkan asas demokratisasi dan desentralisasi. Dalam
proses penyusunan Renja SKPD pelaksanaan forum konsultasi publik dipisahkan antara
kabupaten/kota dengan provinsi.
4.
Penetapan rancangan akhir Rencana Kerja perubahan SKPD dilakukan dengan pengesahan oleh
Kepala Daerah, selanjutnya Kepala SKPD menetapkan Renja SKPD untuk menjadi pedoman di
lingkungan SKPD dalam menyusun program dan kegiatan prioritas SKPD pada tahun anggaran
berkenaan.
Renja perubahan ini disusun dengan berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD), sinkronisasi dengan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2015 -
2019 dan Rencana Strategis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 2014 - 2018 agar terdapat
kesinambungan dan konsistensi pembangunan kesehatan di Pusat dan Daerah. Keterkaitan Renja
SKPD dengan Renja K/L dan Renja Povinsi terfokus pada capaian akhir yang memberikan penekanan
pada pencapaian sasaran prioritas Nasional, Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan
dan Sustainability Development Goals ( SDGs).
1.2 Landasan Hukum
a. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
b. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka
Belitung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 217, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4033);
c. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Bangka Selatan,
Kabupaten Bangka Tengah, Kabupaten Bangka Barat, dan Kabupaten Belitung Timur di Provinsi
Kepulauan Bangka Belitung (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2003,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4268);
d. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun
2005 tentang Penerapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005
tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548);
3
e. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
f. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
g. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, Tata Cara Penyusunan,
Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
h. Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4456);
i. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5063);
j. Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5072);
k. Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan
Nasional Tahun 2010;
l. Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan;
m. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan,
Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2010 Nomor 517);
n. Peraturan Daerah Kabupaten Bangka Barat Nomor 3 Tahun 2005 tentang Kewenangan
Kabupaten Bangka Barat (Lembaran Daerah Kabupaten Bangka Barat Tahun 2005 Nomor 3 seri
D);
o. Peraturan Daerah Kabupaten Bangka Barat Nomor 4 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Dinas Daerah;
p. Peraturan Bupati Bangka Barat Nomor 22 Tahun 2008 tentang Rincian Tugas, Fungsi dan Tata
Kerja Dinas Daerah Kabupaten Bangka Barat;
1.3 Maksud dan Tujuan
1. Maksud
Penyusunan rencana kerja perubahan SKPD bermaksud memberikan arah sekaligus menjadi
atau pedoman bagi perencanaan SKPD untuk periode 1 (satu) tahun berikut apenganggaran
perubahannya, yang memuat kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan baik yang
dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong
partisipasi masyarakat.
2. Tujuan
Tujuan penyusunan Rencana Kerja perubahan Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat adalah
sebagai berikut :
1. Menyediakan dokumen perencanaan daerah dalam jangka 1 (satu) tahun, yaitu tahun 2018
dan perkiraan maju tahun 2019.
2. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efektif, efisien, berkeadilan dan
berkelanjutan dalam rangka pelaksanaan pembangunan tahunan daerah.
3. Menjamin terciptanya keterkaitan, konsitensi dan sinergitas antara perencanaan,
penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan.
4
1.4 Sistematika Penulisan
1. Pokok bahasan dalam penulisan renja perubahan
Rencana kerja perubahan SKPD yang selanjutnya disingkat Renja perubahan SKPD adalah
dokumen perencanaan SKPD untuk periode 1 (satu) tahun, yang memuat kebijakan, program,
dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun
yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat.
Adapun pokok-pokok bahasan dalam penulisan renja diantaranya :
a. Latar belakang perlunya penyusunan renja.
b. Evaluasi pelaksanaan SKPD tahun lalu.
c. Tujuan, sasaran, program dan kegiatan.
2. Susunan garis besar isi dokumen
Susunan garis besar isi Renja perubahan adalah sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan
Bab ini berisi penjelasan tentang latar belakang yang mengemukakan pengertian ringkas
tentang Renja perubahan SKPD, proses penyusunan Renja perubahan SKPD, keterkaitan antara
Renja perubahan SKPD dengan dokumen RKPD, Renstra SKPD, dengan Renja K/L dan Renja
provinsi/Kabupaten/kota, serta tindak lanjutnya dengan proses penyusunan RAPBD; landasan
hukum yang memuat penjelasan tentang undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan
daerah, dan ketentuan peraturan lainnya yang mengatur tentang SOTK, kewenangan SKPD,
serta pedoman yang dijadikan acuan dalam penyusunan perencanaan dan penganggaran SKPD;
maksud dan tujuan yang memuat penjelasan tentang maksud dan tujuan dari penyusunan Renja
SKPD; sistematika penulisan menguraikan pokok bahasan dalam penulisan Renja SKPD, serta
susunan garis besar isi dokumen.
Bab II : Evaluasi pelaksanaan renja SKPD tahun lalu
Bab ini memuat informasi tentang evaluasi pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu dan capaian
Renstra SKPD; analisis kinerja pelayanan SKPD; isu-isu penting penyelenggaraan tugas dan fungsi
SKPD; review terhadap rancangan awal RKPD dan penelaahan usulan program dan kegiatan
masyarakat.
Bab III : Tujuan, sasaran, program dan kegiatan
Bab ini berisi tentang tujuan dan sasaran yang didasarkan atas rumusan isu-isu penting
penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD, serta program dan kegiatan yang didasarkan atas
pencapaian visi dan misi kepala daerah, SDG’s, Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan indikator
kesehatan.
Bab IV : Penutup
Bab ini berisikan uraian penutup yang berupa catatan penting yang perlu mendapat perhatian,
kaidah-kaidah pelaksanaan dan rencana tindak lanjut.
5
BAB II
EVALUASI PELAKSANAAN RENJA SKPD TAHUN LALU
2.1 Evaluasi Pelaksanaan Renja SKPD Tahun Lalu dan Capaian Renstra SKPD
Evaluasi pelaksanaan rencana kerja SKPD tahun lalu dengan capaian renstra SKPD dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 2.1
Rekapitulasi Evaluasi Hasil Pelaksanaan Renja SKPD dan Pencapaian Renstra Dinas Kesehatan s/d Tahun 2017
Kabupaten Bangka Barat
Kode
Urusan/Bidang Urusan Pemerintahan Daerah dan Program/Kegiatan Indikator Kinerja Program (Outcome)/Kegiatan (Output) Target Capaian Kinerja Renstra SKPD Tahun 2018 Realisasi Target Kinerja Hasil Program dan Keluaran Kegiatan s.d Tahun 2016Target dan Realisasi Kinerja Program dan Keluaran Kegiatan SKPD Tahun 2016
Target Program/Kegiatan Renja SKPD Tahun 2016
Perkiraan Realisasi Capaian Target Program/Kegiatan Renstra SKPD s.d Tahun 2017 Catatan
Target
Realisasi
Tingkat
Realisasi
(%)
Realisasi Capaian Tingkat Capaian (%)1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
6
2.2 Analisis Kinerja Pelayanan SKPD Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat
Analisis Pelayanan SKPD dilakukan berdasarkan Indikator SPM, IKK dan Renstra Dinas Kesehatan Kab. Bangka Barat. Pencapaian kinerja Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat
dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 2.2
Pencapaian Kinerja Pelayanan Dinas Kesehatan
Kabupaten Bangka Barat
No Indikator
SPM/Stan dar
Nasional IKK
Target Renstra SKPD Realisasi Capaian Proyeksi
Catatan Analisis
Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2015 Tahun 2016
1 Indikator SPM
PELAYANAN KESEHATAN DASAR
1. Persentase cakupan kunjungan ibu hamil K4
90
97 97 98 98 98 95,67 95,05 97 97
2. Persentase cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani
100
50 60 75 75 75 70,73 110,17
80 80
3. Persentase cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki potensi kebidanan
90
93 94 95 95 95 93,55 91,49
95 95
4. Persentase cakupan pelayanan nifas 90
87 88 90 90 90 90,48 90,06 90 90
5. Persentase cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani
100
50 70 80 80 80 25,47 86,6
80 80
6. Persentase cakupan kunjungan bayi 90
70 80 90 90 90 103,07 98,97 90 90
7. Persentase cakupan desa/kelurahan Universal Child Immunization
(UCI) 90
100 100 100 100 100 100 100 100 100
8. Persentase cakupan pelayanan anak balita
7
9. Persentase cakupan pemberian makanan pendamping ASI anak usia 6-24 bulan keluarga miskin
100
100 100 100 100 100 100 93,28 100 100
10. Persentase cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan
100
100 100 100 100 100 100 100 100 100
11. Persentase cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat
100
98 99 100 100 100 100 100 100 100
12. Persentase cakupan peserta KB aktif 70
75 80 80 80 80 70 88,72 75 75
13. Persentase cakupan penemuan dan penanganan penderita
penyakit
a. Presentase Acute Flacid Paralysis (AFP) rate per 100.000 penduduk
< 15 tahun 2
2,29 2,1 2 2 3 3,65 1,77 2,1 2
b. Persentase penemuan penderita pneumonia balita
100
60 70 85 100 100 21,55 39,46 80 100
c. Persentase penemuan pasien baru TB BTA positif
100
70 80 90 90 90 48,32 41,37 100 100
d. Persentase penderita DBD yang ditangani 100
100 100 100 100 100 100 100 100 100
e. Persentase penemuan penderita diare 100
70 80 90 100 100 44,38 67,96 80 100
14. Persentase cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin
100
100 100 100 100 100 100 31,19 100 100
PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN
15. Persentase cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien
masyarakat miskin 100
100 100 100 100 100 100 35,96 100 100
16. Persentase cakupan pelayanan gawat darurat level 1 yang harus diberikan sarana kesehatan (RS) di Kabupaten/Kota
100
100 100 100 100 100 100 100 100 100
PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI DAN PENANGGULANGAN KLB
17. Persentase desa/kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi < 24 jam
100
100 100 100 100 100 100 100 100 100
8
PROMOSI KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYAKAT
18. Persentase cakupan desa siaga aktif 85
42,19 85,94 92,19 96,88 96,88 45,31 85,94 70 85
2 Indikator Kinerja Kunci
Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani
100 50 60 75 75 75 70,73 110,17 80 80
Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan
90 90 90 90 90 90 93,55 91,49 95 95
Cakupan Desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI)
90 100 100 100 100 100 96,88 100 100 100
Cakupan Balita gizi buruk mendapat perawatan
100 100 100 100 100 100 100 100 100 100
Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA
87 88 88 88 88 48,32 41,37 100 100
Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD
100 100 100 100 100 100 100 100 100 100
Cakupan pelayanan kesehatan dasar pasien masyarakat miskin
100 100 100 100 100 100 100 31,19 100 100
9
Tabel 2.3
Analisis Kinerja Pelayanan SKPD Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat berdasarkan Renstra
No Sasaran Srategi Indikator Kinerja Target Realisasi %
1 Setiap Sarana Pelayanan kesehatan memenuhi stándar mutu
1 Puskesmas berstandar ISO 9001 : 2000 0 0 0%
2 Indeks kepuasan layanan masyarakat terhadap pelayanan Puskesmas
C B 100%
3 Persentase poskesdes yang beroperasi 80% 97,30% 95%
4 Persentase puskesmas yang
melaksanakan kesehatan komunitas dan kesehatan kerja (PKPR, santun usila, indera, olah raga, pengobatan tradisional dan kesehatan kerja)
50% 100% 100%
6 Persentase puskesmas yang
melaksanakan kesehatan khusus/matra (kesehatan haji, kesehatan penyelaman (hyperbarik), bencana, bumi perkemahan dan PHB)
75% 100% 100%
7 Persentase puskesmas yang
melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat yang beresiko/rawan
37,50% 100% 100%
8 Jumlah RS pratama yang beroperasi 0 0 0
9 Persentase sarana pelayanan kesehatan yang memiliki izin operasional
70% 100% 143%
10 Cakupan pelayanan gawat darurat level 1 yang harus diberikan sarana kesehatan (RS) di Kabupaten/Kota
100% 100% 100%
11 Persentase ketersediaan kegiatan manajemen program bidang kesehatan
50% 50% 100%
2 Berfungsinya Sistem Informasi Manajemen Kesehatan daerah
12 Persentase ketersediaan sistem informasi kesehatan daerah
100% 100% 100%
13 Penduduk yang sakit terjamin pelayanan kesehatan
100% 100% 100%
3 Terciptanya sistem pembiayaan kesehatan terutama bagi rakyat miskin
14 Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin
100% 31,19% 31,19%
15 Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin
100% 35,96% 35,96%
16 Rasio dokter/tenaga medis per satuan penduduk 1 : 3643 1 : 3620 100,64% 4 Setiap pelayanan kesehatan tersedia SDM kesehatan yang kompeten
17 Rasio tenaga perawat per satuan penduduk
1 : 696 1 : 592 117,57%
18 Rasio tenaga bidan per satuan penduduk 1 : 1283 1 : 1163 110,32%
10 kompetensi BTCLS
20 Persentase peningkatan kompetensi SDM kesehatan di bidang perencanaan dan keuangan
25% 87,50% 350%
21 Angka kematian bayi 10 8,21 122%
5 Peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak
22 Angka kematian ibu melahirkan 150 124 120,97%
23 Angka kematian balita 11 8,96 122,77%
24 Cakupan kunjungan ibu hamil K4 95% 95,05% 100,05%
25 Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani
80% 110,17% 137,71%
26 Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki potensi kebidanan
90% 91,49% 101,66%
27 Cakupan pelayanan nifas 90% 90,06% 100,07%
28 Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani
80% 86,60% 108%
29 Cakupan kunjungan bayi 90% 98,97% 110%
30 Cakupan pelayanan anak balita 80% 72,99% 91%
31 Cakupan peserta KB aktif 70% 88,72% 127%
32 Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat
100% 100% 100%
33 Persentase cakupan pelayanan kesehatan anak sekolah (UKS dan UKGS)
80% 100% 125%
34 Persentase balita gizi buruk 0,10% 0,10% 100%
6 Peningkatan gizi masyarakat
35 Cakupan pemberian makanan pendamping ASI anak usia 6-24 bulan keluarga miskin
100% 93,28% 93,28%
36 Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan
100% 100% 100,00%
37 Persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat
50% 40,52% 81,04%
7 Peningkatan upaya preventif dan promotif kesehatan
38 Persentase desa siaga aktif 60% 85,94% 143,23%
8 Peningkatan peran masyarakat dan swasta
39 Persentase posyandu mandiri 45% 10,63% 23,62%
40 Persentase tempat pengolahan makanan, tempat pengolahan air minum dan tempat-tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan
60% 78,95% 131,58%
9 Semua sediaan makanan dan minuman memenuhi syarat
41 Persentase ketersediaan obat di sarana pelayanan kesehatan dasar
75% 95,58% 127,44%
10 Setiap sarana kesehatan tersedia perbekalan kesehatan sesuai standar
11 11 Setiap kejadian penyakit
menular dan tidak menular terlaporkan dan ditanggulangi secara cepat dan tepat
43 Cakupan desa/kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi < 24 jam
100% 100% 100%
44 Persentase puskesmas yang melaporkan dan melakukan tatalaksana penyakit menular dan tidak menular
100% 100% 100%
Cakupan penemuan dan penanganan :
45 - Acute Flacid Paralysis (AFP) rate per 100.000 penduduk < 15 tahun
2 1,77 89%
46 - Penemuan penderita pneumonia balita 100% 39,46% 39,46%
47 - Penemuan pasien baru TB BTA positif 100% 41,37% 41,4%
48 - Penderita DBD yang ditangani 100% 100% 100%
49 - Penemuan penderita diare 100% 67,96% 67,96%
50 Cakupan desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI)
100% 100% 100%
51 Persentase bayi, bumil, balita dan anak sekolah diimunisasi lengkap
82% 80% 98%
52 Angka penemuan kasus malaria per 1000 penduduk
< 3 4 75%
53 Persentase penemuan penderita penyakit menular (TB paru BTA +, pneumonia balita, diare dan kusta)
80% 50% 75%
54 Angka kesakitan penderita DBD per 100.000 penduduk
70 66 106,06%
55 Prevalensi kasus HIV pada populasi dewasa
1 0 0
56 Persentase puskesmas yang melaksanakan pencegahan dan penanggulangan penyakit tidak menular
100% 100% 100%
57 Persentase rumah yang memenuhi syarat kesehatan
75% 70,35% 94%
12 Terkendalinya
pencemaran lingkungan sesuai dengan standar kesehatan
58 Persentase kecamatan sehat 50% 33,33% 67%
59 Persentase pengawasan dan pengolahan limbah medis di fasilitas pelayanan kesehatan
25% 40% 160%
60 Persentase rumah tinggal bersanitasi 80% 73,21% 92%
Berdasarkan Tabel 2.2 dan Tabel 2.3 terdapat beberapa target yang belum tercapai. indikator
Renstra telah mencakup indikator SPM dan IKK, maka dari itu yang akan dilakukan analisis adalah
indikator renstra. Untuk penjelasan sasaran dan indiktor kinerja tersebut adalah sebagai berikut :
12
Dari 60 indikator terdapat 43 indikator yang telah tercapai. Indikator-indikator yang telah dicapai
adalah :
1.
Sasaran 1 “setiap sarana pelayanan kesehatan memenuhi standar mutu” ada 10 indikator kinerja
dengan 10 indikator yang sudah mencapai target, adapun indikator tersebut adalah:
a. IK 1 : puskesmas berstandar ISO 9001 : 2000 merupakan puskesmas yang memiliki standar dalam
manajemen. Puskesmas Muntok dan Puskesmas Sekar Biru telah mendapatkan sertifikat ISO.
b. IK 2 : indeks kepuasan layanan masyarakat terhadap pelayanan puskesmas merupakan upaya
pemerintah dalam menilai pelayanan publik. Target tahun 2015 yaitu skala C dengan realisasi
skala B.
c. IK 3 : persentase puskesmas yang memenuhi sistem manajemen mutu. Target tahun 2016 yaitu
25% dengan realisasi 25%. Hal ini disebabkan oleh baru 2 puskesmas yang memenuhi sistem
manajemen mutu dari 8 puskesmas yang ada.
d. IK 4 : persentase poskesdes yang beroperasi merupakan jumlah poskesdes yang memberikan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat (40 poskesdes) dibagi dengan jumlah poskesdes yang
ada (40 poskesdes). Realisasi pada tahun 2016 adalah 100% dengan target 80%.
e. IK 5 : persentase puskesmas yang melaksanakan kesehatan komunitas dan kesehatan kerja
merupakan jumlah puskesmas yang melaksanakan kesehatan komunitas dan kesehatan kerja
(PKPR, santun usila, indera, olah raga, batra dan kesehatan kerja) dibagi jumlah puskesmas yang
ada. Target pada tahun 2016 sebesar 50% dengan realisasi 62,5%.
f. IK 6 : persentase puskesmas yang melaksanakan kesehatan khusus atau matra yaitu jumlah
puskesmas yang melaksanakan kesehatan khusus (kesehatan haji, penyelaman, bencana, bumi
perkemahan dan PHB) dibagi jumlah puskesmas yang ada. Target pada tahun 2016 adalah 75%
dengan realisasi seluruh puskesmas melaksanakan kesehatan tersebut (100%).
g. IK 7 : persentase puskesmas yang melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat yang
beresiko/rawan yaitu jumlah puskesmas yang melaksanakan pelayanan kesehatan pada
masyarakat yang beresiko atau rawan (program perkesmas, jiwa). Target tahun 2016 adalah
37,5% dengan realisasi 100%.
h. IK 8 : jumlah RS pratama yang beroperasi. Target tahun 2016 yaitu 0 dengan realisasi masih 0.
i. IK 9 : persentase sarana pelayanan kesehatan yang memiliki izin operasional. Target tahun 2016
adalah 70% dengan realisasi 100% dari 89 sarana pelayanan kesehatan yang ada semuanya
memiliki izin.
j. IK 10 : persentase cakupan pelayanan gawat darurat level 1 yang harus diberikan sarana
kesehatan (RS) kabupaten/kota merupakan jumlah RS kabupaten/kota yang mampu
memberikan pelayanan gadar level 1. Target tahun 2016 yaitu sebesar 100% dengan realisasi 100%.
2.
Sasaran 2 “berfungsinya sistem informasi manajemen kesehatan” ada 2 indikator dengan keduanya
telah mencapai target. Indikator tersebut adalah :
a. IK 11 : persentase ketersediaan kegiatan manajemen program kesehatan. Target 2016 yaitu
sebesar 50% dengan realisasi 50%.
b. IK 12 : persentase ketersediaan sistem informasi kesehatan daerah. Target tahun 2016 yaitu
sebesar 100% dengan realisasi 100%.
3.
Sasaran 3 “terciptanya sistem pembiayaan kesehatan” dari 3 indikator ada 1 indikator sudah
mencapai target yaitu : IK 13 : penduduk yang sakit terjamin pelayanan kesehatan. Target tahun
2016 sebesar 100% penduduk yang sakit terjamin pelayanan kesehatan. Penduduk yang sakit
merupakan jumlah kunjungan pasien/masyarakat di sarana kesehatan di satu wilayah kerja tertentu
13
pada kurun waktu tertentu. Realisasi tahun 2016 sebesar 100% artinya semua penduduk yang sakit
terjamin pembiayaan kesehatannya.
4.
Sasaran 4 “setiap pelayanan kesehatan tersedia SDM kesehatan yang kompeten” ada 5 indikator
dengan 4 indikator yang sudah mencapai target yaitu :
a. IK 16 : rasio dokter/tenaga medis per satuan penduduk. Target tahun 2016 rasio tenaga dokter
sebesar 1 : 3643 dengan realisasi 1 : 3620 per 100.000 penduduk.
b. IK 17 : rasio tenaga perawat per satuan penduduk. Target tahun 2016 rasio tenaga dokter
sebesar 1 : 696 dengan realisasi 1 : 592 per 100.000 penduduk.
c. IK 18 : rasio tenaga bidan per satuan penduduk. Target tahun 2016 rasio tenaga dokter sebesar 1 :
1283 dengan realisasi 1 : 1163 per 100.000 penduduk.
d. IK 20 : persentase peningkatan kompetensi SDM kesehatan di bidang perencanaan dan
keuangan. Target tahun 2016 sebesar 25% dengan realisasi 87,5%.
5.
Sasaran 5 “peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak” ada 13 indikator dengan 12 indikator
yang sudah mencapai target, adapun indikator kinerja sasaran ini adalah sebagai berikut:
a. IK 21 : angka kematian bayi per 1000 kelahiran hidup (KH) merupakan angka kematian bayi pada
usia 0 – 11 bulan. Target tahun 2016 adalah 10 dengan realisasi 8,21. Hal ini disebabkan oleh
peningkatan kualitas sarana pelayanan kesehatan, kompetensi tenaga kesehatan maupun
pemahaman masyarakat.
b. IK 22 : angka kematian ibu melahirkan per 100.000 kelahiran hidup (KH) merupakan angka
kematian yang terjadi pada ibu hamil, bersalin atau nifas. Target tahun 2016 yaitu 150 dengan
realisasi 124. Hal ini disebabkan banyak faktor mulai dari kualitas sarana pelayanan kesehatan,
kompetensi tenaga kesehatan maupun perilaku dan kesadaran masyarakat.
c. IK 23 : angka kematian balita per 1000 kelahiran hidup (KH) merupakan angka kematian balita
pada usia 12 – 59 bulan. Target tahun 2016 adalah 11 dengan realisasi 8,96. Hal ini disebabkan
oleh kualitas sarana pelayanan kesehatan, kompetensi tenaga kesehatan maupun pemahaman
masyarakat.
d. IK 24 : persentase ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal (K4) merupakan cakupan
Ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal 4 kali sesuai dengan stándar di satu
wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit
empat kali, dengan distribusi pemberian pelayanan minimal satu kali pada triwulan pertama,
satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga umur kehamilan. Target tahun
2016 yaitu 95% dengan realisasi 95,05% ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal (K4).
Hal ini dikarenakan adanya peningkatan kesadaran ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya
dan upaya promosi oleh tenaga kesehatan.
e. IK 25 : persentase cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani merupakan jumlah ibu dengan
komplikasi kebidanan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu yang mendapat
penanganan definitif sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan terlatih pada tingkat
pelayanan dasar rujukan (Polindes, Puskesmas PONED, Rumah Bersalin, RSIA/RSB, RSU, RSU
PONEK). Target tahun 2016 sebesar 80% dengan realisasi 110,17%. Hal ini dikarenakan
pemahamam akan pentingnya pemeriksaan dini selama masa kehamilan ke sarana kesehatan
sudah semakin baik.
f. IK 26 : persentase ibu bersalin yang ditolong oleh nakes terlatih (PN) adalah ibu bersalin yang
mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan
di satu wilayah tertentu. Target tahun 2016 sebesar 90% dengan realisasi 91,49%.
14
g. IK 27 : persentase ibu nifas yang mendapatkan pelayanan (KF) merupakan pelayanan kepada ibu
dan neonatal pada masa 6 jam sampai dengan 42 hari pasca persalinan sesuai standar. Target
pada tahun 2016 sebesar 90% dengan realisasi 90,06%. Hal ini disebabkan oleh semakin baiknya
pemahaman masyarakat akan pentingnya melakukan persalinan di sarana kesehatan.
h. IK 28 : cakupan penanganan neonatal dengan komplikasi adalah jumlah neonatal dengan
komplikasi yang tertangani. Target tahun 2016 yaitu 80% dengan realisasi sebesar 86,60%. Hal ini
disebabkan oleh peningkatan pemahaman akan status dan penatalaksanaan neonatal dengan
komplikasi.
i. IK 29 : cakupan pelayanan kesehatan bayi merupakan cakupan pelayanan kesehatan bayi umur 1
- 12 bulan di sarana pelayanan kesehatan maupun di rumah, posyandu, tempat penitipan anak,
panti asuhan dan sebagainya melalui kunjungan petugas. Pelayanan kesehatan tersebut meliputi
deteksi dini kelainan tumbuh kembang bayi (DDTK), stimulasi perkembangan bayi, MTBM,
manajemen terpadu balita sakit (MTBS) dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi di rumah
menggunakan buku KIA yang diberikan oleh dokter, bidan dan perawat yang memiliki
kompetensi klinis kesehatan bayi. Setiap bayi memperoleh pelayanan kesehatan minimal 4 kali
yaitu 1 kali pada umur 1-3 bulan, 1 kali pada umur 3-6 bulan, 1 kali pada umur 6-9 bulan dan 1 kali
pada umur 9-12 bulan. Target tahun 2016 sebesar 90% dari seluruh bayi umur 1-12 bulan menerima
pelayanan kesehatan dengan realisasi 98,97%. Hal ini dikarenakan tingkat kesadaran masyarakat
untuk memeriksakan kesehatan bayinya semakin baik dan semakin baiknya fasilitas kesehatan.
j. IK 31 : persentase pasangan usia subur yang menjadi peserta KB aktif merupakan cakupan
Pasangan Usia Subur (PUS) yang menjadi peserta aktif KB di satu wilayah kerja pada kurun
waktu tertentu. Pasangan usia subur adalah wanita berusia 15-49 tahun dengan status kawin.
Target tahun 2016 sebesar 70% menjadi peserta KB dengan capaian 88,72%.
k. IK 32 : cakupan SD/MI melaksanakan penjaringan siswa kelas 1 adalah jumlah murid kelas 1 SD
dan setingkat yang diperiksa kesehatannya oleh tenaga kesehatan di satu wilayah kerja pada
kurun waktu tertentu. Target tahun 2016 yaitu 100% dengan realisasi sebesar 100%. Hal ini
disebabkan oleh akurasi data sasaran dan pemeriksaan ulang bagi murid yang belum melakukan
pemeriksaan kesehatan.
l. IK 33 : persentase cakupan pelayanan kesehatan anak sekolah (UKS dan UKGS). Target tahun
2016 yaitu 100% dengan realisasi sebesar 100%.
6.
Sasaran 6 “peningkatan gizi masyarakat” ada 3 indikator dengan 2 indikator yang sudah mencapai
target yaitu:
a. IK 34 : persentase balita gizi buruk merupakan keadaan kurang gizi tingkat berat (tubuh yang
tampak sangat kurus) yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dari
makanan sehari-hari dalam waktu yang cukup lama yang ditandai dengan berat badan yang
tidak sesuai standar usianya. Target tahun 2016 adalah 0,10% dengan realisasi 0,10%. Angka ini
masih di bawah target nasional 3,1%. Banyak faktor penyebab seperti kemiskinan, tingkat
pendidikan dan pengetahuan, sanitasi lingkungan yang buruk dan pelayanan kesehatan yang
belum optimal.
b. IK 36 : persentase balita gizi buruk yang mendapat perawatan yaitu jumlah balita gizi buruk yang
ditangani di sarana pelayanan kesehatan sesuai tatalaksana gizi buruk di satu wilayah kerja pada
kurun waktu tertentu. Target tahun 2016 yaitu 100% balita gizi buruk yang ditemukan mendapat
perawatan dengan realisasi sebesar 100%. Hal ini dikarenakan standar pelayanan kesehatan pada
kasus gizi buruk sudah baik.
15
7.
Sasaran 8 “peningkatan peran masyarakat dan swasta” ada 2 indikator dengan 1 indikator yang
sudah mencapai target yaitu : IK 38 : persentase desa siaga aktif. Target tahun 2016 adalah 60%
dengan realisasi 85,94%. Hal ini disebabkan pemberdayaan masyarakat sudah mulai berjalan secara
optimal.
8.
Sasaran 9 “semua sediaan makanan dan minuman memenuhi syarat” dengan 1 indikator dan telah
mencapai target yaitu IK 40 : persentase cakupan tempat pengolahan makanan yang memenuhi
syarat kesehatan merupakan jumlah tempat penyimpanan dan pengolahan bahan makanan serta
penyajian makanan yang keseluruhan proses tersebut memenuhi persyaratan kesehatan. Target
tahun 2016 yaitu 60% tempat memenuhi syarat dengan realisasi 96,36%. Hal ini dikarenakan petugas
kesehatan lebih pro aktif dalam melakukan pembinaan dan pemeriksaan terhadap tempat-tempat
pengolahan makanan tersebut.
9.
Sasaran 10 “setiap sarana kesehatan tersedia perbekalan kesehatan sesuai standar” ada 1 indikator
dan sudah mencapai target, adapun indikator tersebut adalah : IK 41 : persentase ketersediaan obat
di sarana pelayanan kesehatan yaitu jumlah obat dan vaksin yang tersedia untuk pelayanan
kesehatan. Target tahun 2016 yaitu 75% obat tersedia dengan realisasi sebesar 95,58%. Hal ini
dikarenakan proses penganggaran maupun pengadaan obat sudah berjalan dengan baik.
10. Sasaran 11 “setiap kejadian penyakit terlaporkan secara cepat dan dapat tertanggulangi secara
cepat dan tepat” ada 15 indikator dengan 7 indikator yang sudah mencapai target yaitu :
a. IK 43 : persentase penyelidikan epidemiologi (PE) < 24 jam pada desa/kelurahan yang mengalami
KLB yaitu Kejadian Luar Biasa (KLB) yang ditangani < 24 jam pada suatu desa/kelurahan di satu
wilayah kerja dalam periode/kurun waktu tertentu. Target tahun 2016 yaitu 100% dilakukan PE
dengan realisasi 100%. Hal ini membuktikan bahwa sistem surveilans epidemiologi sudah berjalan
dengan baik.
b. IK 44 : persentase puskesmas yang melaporkan dan melakukan tatalaksana penyakit menular
dan tidak menular. Target tahun 2016 yaitu 100% dengan realisasi seluruh puskesmas
melaksanakan 100%.
c. IK 48 : persentase penderita DBD yang ditangani adalah jumlah penderita DBD yang datang dan
dilayani di sarana kesehatan dan kader di satu wilayah tertentu dalam waktu satu tahun sesuai
tata laksana kasus. Target tahun 2016 yaitu 100% dengan realisasi 100%.
d. IK 50 : persentase desa UCI adalah desa/kelurahan dengan cakupan imunisasi dasar lengkap
pada bayi. Target tahun 2016 yaitu 100% sedangkan realisasi sebesar 100%. Hal ini dikarenakan
masyarakat sudah mulai mengerti manfaat pentingnya Imunisasi bagi bayi, balita dan ibu hamil.
e. IK 54 : angka kesakitan penderita DBD per 100.000 penduduk merupakan jumlah penderita DBD
yang ditemukan dan ditangani setiap 100.000 penduduk. Target tahun 2016 yaitu 70 sedangkan
realisasinya sebesar 66.
f. IK 55 : prevalensi kasus HIV pada populasi dewasa yaitu angka kejadian yang menurut hasil
pemeriksaan laboratorium dinyatakan positif HIV pada populasi dewasa. Target tahun 2016 yaitu
1 dengan realisasi 0.
g. IK 56 : persentase puskesmas yang melaksanakan pencegahan dan penanggulangan penyakit
tidak menular. Target tahun 2016 yaitu 100% dengan realisasi 100%.
11. Sasaran 12 “terkendalinya pencemaran lingkungan sesuai dengan standar kesehatan” ada 4
indikator dengan 2 indikator yang sudah mencapai target yaitu :
16
b. IK 59 : persentase pengawasan dan pengolahan limbah medis di fasilitas pelayanan kesehatan.
Target tahun 2016 yaitu 25% dengan realisasi 40%.
Indikator yang belum dicapai terdiri dari 17 indikator yaitu:
Sasaran 3
Ada 2 indikator yang belum mencapai target yaitu : IK 14 : cakupan pelayanan
kesehatan dasar masyarakat miskin merupakan jumlah kunjungan masyarakat
miskin di sarana kesehatan strata 1. Target tahun 2016 adalah 100% dengan realisasi
31,19%. IK 15 : cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin
jumlah kunjungan masyarakat miskin di sarana kesehatan strata 2 dan 3. Target
tahun 2016 adalah 100% dengan realisasi 35,96%. Kedua indikator kinerja ini melihat
dari sisi kuratif kunjungan yang dilakukan oleh masyarakat miskin ke sarana
kesehatan strata 1, 2 dan 3 tidak tercapai dengan asumsi bahwa seluruh masyarakat
miskin yang sakit harus dilayani, sedangkan dari sisi promotif dan preventif dinilai
berhasil karena jumlah masyarakat miskin yang sakit menurun.
Sasaran 4
Ada 1 indikator yang belum mencapai target yaitu : IK 19 : persentase perawat yang
memiliki kompetensi BTCLS. Target tahun 2016 yaitu 25% dengan realisasi 15%. Hal
ini disebabkan penyelenggaraan pelatihan BTCLS baik di tingkat propinsi maupun
kabupaten masih minim.
Sasaran 5
Ada 1 indikator yang belum mencapai target yaitu : IK 30 : cakupan pelayanan
kesehatan anak balita merupakan pelayanan pemantuan pertumbuhan dan
perkembangan anak balita (12 - 59 bulan) dalam waktu tertentu disuatu wilayah.
Target tahun 2016 yaitu 80% dengan realisasi sebesar 72,99%. Hal ini disebabkan
masih ada masyarakat yang kurang sadar memeriksakan anak balitanya ke
posyandu atau fasilitas kesehatan terdekat. Selain itu upaya promosi tenaga
kesehatan kepada masyarakat juga belum maksimal.
Sasaran 6
Ada 1 indikator yang belum mencapai target yaitu : IK 35 : cakupan pemberian
makanan pendamping ASI anak usia 6-24 bulan keluarga miskin. Target tahun 2016
adalah 100% dengan realisasi 93,28%. Hal ini dikarenakan oleh ketidaktersediaan
data riil sehingga pengelola hanya menghitung sasaran berdasarkan angka
proyeksi.
Sasaran 7
Ada 1 indikator yang belum mencapai target semua yaitu : IK 37 : persentase rumah
tangga yang melaksanakan PHBS yaitu jumlah RT yang telah melakukan 10
indikator PHBS. PHBS merupakan semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas
kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya
sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan kesehatan di
masyarakat. Target tahun 2016 yaitu 50% dengan realisasi sebesar 40,52%. Hal ini
dikarenakan kesadaran masyarakat untuk hidup bersih dan sehat masih rendah dan
belum optimalnya upaya promosi oleh tenaga kesehatan.
Sasaran 8
Ada 1 indikator yang belum mencapai target yaitu : IK 39 : persentase posyandu
mandiri. Target tahun 2016 yaitu 45% dengan realisasi sebesar 10,63%. Hal ini
disebabkan masih rendahnya upaya promosi dari tenaga kesehatan untuk
meningkatkan peran masyarakat dan swasta dalam proses pembangunan di bidang
kesehatan.
17
Sasaran 11 Ada 8 indikator yang belum mencapai target yaitu :
a. IK 42 : angka usia harapan hidup. Target tahun 2016 sebesar 71 tahun, tetapi
data kematian yang ada belum bisa digunakan untuk menghitung angka usia
harapan hidup. Hal ini dikarenakan data kematian masih bersifat umum, data
menurut umur dan jenis kelamin belum ada.
b. IK 43 : persentase kasus non polio AFP rate per 100.000 anak < 15 tahun yaitu
jumlah kasus AFP non Polio yang ditemukan diantara 100.000 penduduk < 15
per tahun di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Kasus AFP adalah
penderita lumpuh layuh akut seperti gejala kelumpuhan pada polio yang terjadi
pada anak dibawah umur 15 tahun. Target tahun 2016 yaitu < 2 per 100.000
anak < 15 tahun dengan realisasi 1,77.
c. IK 46 : persentase penemuan penderita pneumonia balita adalah jumlah
penderita pneumonia balita yang ditangani di satu wilayah kerja pada kurun
waktu satu tahun. Target tahun 2016 yaitu 100% dengan realisasi 39,46%. Hal ini
dipengaruhi oleh keakuratan anamnesa oleh tenaga kesehatan dan persamaan
pemahaman tentang indikasi pneumonia.
d. IK 47 : persentase kasus baru TB paru (BTA positif) yang ditemukan yaitu angka
penemuan pasien baru TB-BTA Positif atau Case Detection Rate (CDR) dimana
persentasi jumlah penderita baru TB BTA positif yang ditemukan dibandingkan
dengan jumlah perkiraan kasus baru TB BTA positif dalam wilayah tertentu
dalam waktu satu tahun. Target tahun 2016 yaitu 100% dengan realisasi sebesar
41,37%. Hal ini disebabkan kurang maksimalnya tenaga kesehatan dalam
pencarian kasus baru TB paru pada tingkat UPK. Selain itu tingkat pemahaman
dan perhatian masyarakat terhadap penyakit TB paru ini masih rendah.
e. IK 48 : persentase penemuan penderita diare adalah jumlah penderita diare
yang datang dan dilayani di sarana kesehatan dan kader di suatu wilayah
tertentu dalam waktu satu tahun. Target tahun 2016 yaitu 100% dengan realisasi
67,96%. Hal ini dipengaruhi oleh perilaku sanitasi yang buruk di masyarakat.
f. IK 51 : persentase bayi, bumil, balita dan anak sekolah diimunisasi lengkap.
Target tahun 2016 adalah 82% dengan realisasi 80%. Hal ini disebabkan karena
ada sebagian masyarkat belum memahami pentingnya imunisasi bagi bayi,
bumil, balita dan anak sekolah.
g. IK 52 : angka penemuan kasus malaria per 1.000 penduduk yaitu jumlah kasus
gejala klinis malaria dengan hasil pemeriksaan sediaan darah dilaboratorium
yang positif malaria. Target tahun 2016 yaitu < 3 setiap 1.000 penduduk dengan
realisasi 4 permil. Hal ini dikarenakan penguatan koordinasi lintas sektor masih
lemah.
h. IK 53 : persentase penemuan penderita penyakit menular (TB paru BTA +,
pneumonia balita, diare dan kusta). Target tahun 2016 adalah 80% dengan
realisasi 50%.
Sasaran 12
Ada 3 indikator yang belum mencapai target yaitu:
a. IK 57 : persentase cakupan rumah yang memenuhi syarat kesehatan yaitu
jumlah rumah yang telah memenuhi syarat kesehatan dalam suatu wilayah.
Target tahun 2016 yaitu 75% rumah memenuhi syarat dengan realisasi 70,35%.
18
b. IK 60 : persentase rumah tinggal bersanitasi dimana salah satu indikatornya
adalah penduduk yang menggunakan jamban sehat yaitu jumlah penduduk
yang telah memiliki jamban sehat dalam suatu wilayah. Indikator ini
mencerminkan bahwa masyarakat telah menjalankan salah satu perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS) stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Target
tahun 2016 yaitu 80% dengan realisasi 73,21% penduduk telah memiliki jamban
sehat.
2.3 Isu-isu Penting Penyelenggaraan Tugas dan Fungsi SKPD
Indikator Kinerja pelayanan kesehatan terdiri dari indikator SPM dan indikator Kinerja Kunci
(IKK). Indikator SPM terdiri dari 18 indikator yang berisi tentang indikator pencapaian terhadap
pelayanan KIA, imunisasi, desa siaga, kesehatan anak sekolah, penyakit menular dan lingkungan.
Indikator Kinerja Kunci (IKK) diaplikasikan untuk menekan Angka kematian ibu, angka kematian
anak, Gizi buruk dan menekan penyakit menular. Indikator SDG’s mengarah pada pencapaian kinerja
terhadap pelayanan KIA, imunisasi, penyakit menular (AIDS/HIV, TB Paru, Malaria dan penyakit
lainnya) dan lingkungan sehat.
Angka Kesakitan
Pada program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular juga mengalami peningkatan
capaian walaupun penyakit infeksi menular masih tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat
yang menonjol terutama HIV/AIDS, malaria, TB, DBD dan diare. Penanggulangan penyakit HIV/AIDS,
TB, dan malaria sudah mengalami peningkatan namun masih perlu mendapat perhatian dalam
peningkatan pengendaliannya untuk masa yang akan datang. Penemuan kasus HIV/AIDS nol pada
tahun 2016, namun itu belum bisa menjadi patokan karena masih kurangnya keterbukaan
masyarakat terhadap penyakit ini menyebabkan kesulitan dalam pendeteksian dini kasus HIV/AIDS.
Case Detection Rate (CDR) TB Paru masih rendah. Pada tahun 2013 CDR Kabupaten Bangka Barat
hanya berkisar di angka 41,37 jauh dari target sebesar 100. Untuk persentase kasus baru TB Paru
yang disembuhkan juga mengalami penurunan. Pada tahun 2015 sebesar 83,69% dan tahun 2014
meningkat lagi menjadi 78,47% masih berada di bawah target yang telah ditentukan yaitu (90%).
Untuk itu perlu perhatian lebih pada upaya deteksi tuberkulosis paru. Permasalahan yang dihadapi
oleh program TB adalah masih lemahnya keterlibatan dan peran serta masyarakat dalam upaya
penanggulangan.
Angka kesakitan DBD masih tinggi yaitu 65,67 per 100.000 penduduk terjadi peningkatan dari tahun
2010 sebesar 40,12 per 100.000 penduduk. Angka ini masih jauh dari target Indonesia Sehat 2010 (2
per 100.000 penduduk) dan renstra kemenkes 2016 – 2021 (55 per 100.000 penduduk). Kejadian
penyakit demam berdarah dipengaruhi beberapa hal yaitu perubahan iklim yang mempengaruhi
lingkungan, mobilisasi penduduk, tingkat kepadatan penduduk serta perilaku masyarakat yang
menyebabkan tingginya tempat perindukan nyamuk, daerah endemis semakin meluas seperti di
daerah-daerah tambang, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, perlu peningkatan upaya promotif
dan preventif serta kerja sama lintas sektor.
19
Status Gizi Masyarakat
Masalah gizi merupakan masalah yang multidimensi, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti
ekonomi, pendidikan, sosial budaya, pertanian, kesehatan dan lain-lain. Menurut Kemenkes Nomor
1202/Menkes/SK/VIII/2003 tentang indikator Indonesia Sehat dan Kepmenkes RI Nomor
828/Menkes/SK/IX/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan, dimana
program perbaikan gizi masyarakat yang diprioritaskan adalah sebagai berikut:
1. Persentase balita dengan gizi buruk. Cakupan balita dengan gizi buruk di Kabupaten Bangka
Barat 0,10% berada di bawah target nasional sebesar 3,1%.
2. Pemberian makanan pendamping ASI pada bayi BGM dari keluarga miskin. Cakupan pemberian
makanan pendamping ASI pada bayi BGM dari keluarga miskin yaitu 93,28% belum mencapai
target nasional (100%). Hal ini disebabkan oleh ketersediaan makanan pendamping dan
partisipasi masyarakat masih rendah.
3. Cakupan pelayanan anak balita. Dalam pencapaian cakupan pelayanan anak balita banyak faktor
yang mempengaruhinya, diantaranya masih rendahnya partisipasi masyarakat, kurangnya
kerjasama lintas sektor, pendataan yang belum akurat dan keterbatasan sumber daya
kesehatan. Cakupan pelayanan anak balita di Kabupaten Bangka Barat yaitu 72,99 masih
dibawah target Renstra Kabupaten sebesar 90.
4. Persentase cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan. Berdasarkan hasil pemantauan
cakupan pelayanan anak balita tahun 2013, ditemukan 19 balita gizi buruk dan seluruhnya telah
mendapat perawatan dan sesuai dengan target.
Umur Harapan Hidup
Umur harapan hidup (UHH) waktu lahir merupakan salah satu unsur Indeks Pembangunan Manusia
(IPM). Sebagai salah satu dampak keberhasilan pembangunan adalah meningkatnya umur harapan
hidup yang pada akhirnya akan mengakibatkan peningkatan jumlah dan proporsi penduduk usia
lanjut. Umur harapan hidup di Kabupaten Bangka Barat terus mengalami peningkatan sejak tahun
2006 (67,53) menjadi 68 pada tahun 2011.
Penyelenggaraan Upaya Kesehatan
Kejadian luar biasa dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan angka kesakitan dan kematian
yang besar, oleh karena itu perlu dilakukan kegiatan penanggulangan cepat (<24 jam) guna
mencegah perluasan KLB, penanganan penderita dan mencegah kematian baru pada KLB yang
sedang terjadi. Di Kabupaten Bangka Barat pada kurun waktu 5 tahun terakhir (2012 – 2017)
penanggulangan terhadap desa terkena KLB dilakukan kurang dari 24 jam (100%).
Dalam upaya membebaskan Indonesia dari penyakit polio, salah satu strateginya yaitu surveilans
AFP. Kinerja surveilans AFP salah satunya dinilai dari tercapainya Non Polio AFP rate (> 2/100.000
anak usia dari 15 tahun). Capaian Kabupaten Bangka Barat mengalami peningkatan dari tahun 2010
(2,29%) menjadi 3,65% pada tahun 2012 dan terjadi penurunan pada tahun 2013 menjadi 1,77%. Oleh
karena itu perlu didukung oleh koordinasi dan kerjasama yang baik antar lintas program maupun
lintas sektor tingkat Kabupaten/Kota guna penemuan kasus AFP.
20
Cakupan desa UCI terus mengalami peningkatan pada tahun 2008 (85,96%) sampai tahun
2012 (96,88%). Namun kembali terjadi peningkatan pada tahun 2016 menjadi 100%. Hal ini
dipengaruhi masyarakat yang mulai mengerti manfaat pentingnya imunisasi bagi bayi, balita, dan
ibu hamil.
Posyandu aktif adalah posyandu yang melaksanakan kegiatan hari buka dengan
frekuensi lebih dar 8 kali pertahun, rata-rata jumlah kader yang bertugas 5 orang atau
lebih. Cakupan utama (KIA,KB,Gizi,Imunisasi lebih dari 50% dan sudah ada atau lebih
program tambahan, serta cakupan dana sehat < 50%. Yang termasuk Posyandu aktif
adalah posyandu Purnama dan Posyandu Mandiri. Posyandu aktif di Kabupaten Bangka
Barat tahun 2011 berjumlah 74 atau sebesar 49,66% dari Total seluruh posyandu
sedangkan pada tahun 2012 berjumlah 53 atau 34,42%, dan data terakhir pada tahun 2013
dan 2014 sudah 100%. Capaian UCI pada Tahun 2015 adalah 100% dan pada Tahun 2016
capaian seluruh desa merupakan desa UCI.
Program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat mengalami peningkatan capaian,
seperti rumah tangga dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) meningkat dari 32,86% pada
tahun 2006 menjadi 52,60% pada tahun 2012 dan kembali turun pada tahun 2015 di angka 40,52%.
Indikator lainnya seperti Desa siaga sampai dengan tahun 2013 tercapai yaitu 85,94% (55 desa dari
64 desa), namun kita perlu memberikan perhatian pada perilaku merokok yang semakin memburuk,
rendahnya cakupan ASI eksklusif yang disebabkan baik oleh perilaku maupun besarnya pengaruh
dari luar.
Untuk program penyehatan lingkungan, capaian untuk rumah yang memenuhi syarat kesehatan
tahun 2013 yaitu 70,35%. Indikator rumah sehat mencakup lokasi, kepadatan hunian, lantai,
pencahayaan, ventilasi, air bersih, jamban, SPAL, pembuangan sampah dan polusi dalam rumah.
Persentase rumah tinggal bersanitasi mengalami penurunan dari tahun 2012 (79,16%) menjadi 73,21%
pada tahun 2015. Untuk target indikator cakupan kecamatan sehat pada tahun 2013 adalah 50%.
Peningkatan kualitas lingkungan harus mendapat perhatian yang lebih karena sumber penyakit
merupakan akibat dari lingkungan yang baik seperti kurangnya akses air bersih, sanitasi yang buruk,
dan lain sebagainya.
Sistem Pembiayaan Kesehatan
Sistem pembiayaan kesehatan merupakan suatu upaya kesehatan yang berhubungan langsung
dengan masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan
Kabuapten Bangka Barat telah memberlakukan jaminan kesehatan bagi seluruh masyarakat
Kabupaten Bangka Barat di setiiap pusat pelayanan di Kabupaten bangka Barat. Sistem
pembaiayaan ini untuk mendukung indikator penduduk yang sakit terjamin pelayanan kesehatan
yang pada tahun 2016 mencapai angka 100%.
Sumber Daya Manusia Kesehatan
Dalam pembangunan kesehatan, SDM kesehatan merupakan salah satu isu utama yang mendapat
perhatian terutama yang terkait dengan jumlah, jenis dan distribusi, selain itu juga terkait dengan
21
pembagian kewenangan dalam pengaturan SDM Kesehatan (PP No. 38 tahun 2000 dan PP No. 41
tahun 2000). Oleh karena itu, diperlukan penanganan lebih seksama yang didukung dengan regulasi
yang memadai dan pengatur insentif, reward-punishment, dan sistem pengembangan karir.
Kompetensi tenaga kesehatan belum terstandarisasi dengan baik. Kabupaten Bangka Barat masih
kekurangan SDM yang berkompeten berupa tenaga kedokteran baik dokter umum maupun
spesialis dan tenaga bidan. Untuk tenaga perawat, secara rasio Kabupaten Bangka Barat sudah
melebihi namun kondisi di lapangan banyak tenaga perawat yang difungsikan diluar bidang
keperawatan sehingga kondisi di lapangan mengakibatkan masih terjadinya kekurangan tenaga
keperawatan. Disamping segi kwantitas, masalah tenaga kesehatan adalah penyebaran yang belum
merata, mutu pendidikan yang belum memadai, komposisi tenaga kesehatan yang belum seimbang.
Untuk itu diharapkan komitmen yang tinggi dari pemerintah daerah baik legislatif maupun eksekutif
dalam mendukung pelaksanaan pembangunan kesehatan.
Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan
Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar sudah meningkat yang ditandai dengan
meningkatnya jumlah Puskesmas dan jaringannya dan dijaminnya pelayanan kesehatan dasar bagi
masyarakat miskin di Puskesmas. Namun akses terhadap pelayanan kesehatan di daerah terpencil
masih kesulitan disebabkan kondisi geografis yang sulit dan masih terbatasnya transportasi dan
infrastruktur. Dilihat dari persentase penduduk yang memanfaatkan Puskesmas tidak stabil begitu
juga persentase penduduk yang memanfaatkan rumah sakit.
Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan rujukan di rumah sakit meningkat, salah satu
faktor pendorongnya adalah adanya jaminan pembiayaan kesehatan di rumah sakit bayi masyarakat
miskin. Secara kuantitas sarana pelayanan kesehatan cukup memadai, namun secara kualitas atau
mutu pelayanan kesehatan masih kurang memadai karena diharapkan untuk kedepan rumah sakit
dapat menyelenggarakan 4 pelayanan kesehatan spesialisasi dasar dan sarana kesehatan yang ada
mempunyai kemampuan laboratorium kesehatan.
Untuk program obat dan perbekalan kesehatan, ketersediaan obat esensial generik berlogo dalam
persediaan obat sudah mencapai target (95,58%). Hal yang masih menjadi masalah di bidang
pelayanan kefarmasian, obat, sediaan farmasi, alat kesehatan, perbekalan kesehatan yang
menyangkut ketersediaan keamanan, manfaat, serta mutu dengan jumlah dan jenis yang cukup
serta terjangkau, merata dan mudah di akses masyarakat. Ketersediaan obat sangat berpengaruh
terhadap pelayanan yang diberikan disarana pelayanan kesehatan.
Permasalahan dan hambatan yang dihadapi dalam menyelenggarakan tugas dan fungsi SKPD
adalah sebagai berikut :
No Permasalahan Hambatan Dampak
1 Angka kesakitan malaria belum mencapai target IS 2010
Kabupaten Bangka Barat masih merupakan wilayah endemis malaria
Tidak tercapainya visi dan misi Kepala Daerah, serta capaian program nasional seperti SPM, SDG's dan RPJMD Kesadaran masyarakat masih kurang untuk
hidup bersih dan sehat
Mobilisasi penduduk yang tinggi terutama didaerah potensi malaria seperti tambang
22
Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang malaria
Kurangnya pengetahuan dan kesadaran di masyarakat
2 Prevalensi HIV sulit terlacak Kurangnya sarana dan prasarana kesehatan (klinik VCT)
3 Tingginya angka kesakitan DBD Kurangnya kerjasama lintas program dan lintas sektoral
Belum semua penduduk dewasa yang sukarela melakukan pendeteksi dini kasus HIV
Kurangnya kesadaran masyarakat dan dukungan dari sektor terkait
4 Masih rendahnya cakupan tempat-tempat umum sehat
Penyuluhan ke masyarakat yang kurang
Sarana dan prasarana yang kurang memadai
5 Belum adanya rumah sakit yang
menyelenggarakan 4 pelayanan kesehatan spesialisasi dasar
Kurangnya dukungan dari sektor terkait
Kurangnya kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana rumah sakit yang
menyelenggarakan 4 pelayanan kesehatan spesialisasi dasar
6 Belum tercapainya cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan
Kurangnya tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi
Sebagian masyarakat lebih percaya melahirkan di dukun
7 Rendahnya cakupan bayi yang mendapat ASI Eksklusif
Kurangnya dukungan dari sektor terkait
Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya ASI eksklusif
8 Rendahnya cakupan bayi yang mendapat ASI Eksklusif
Kurangnya kerjasama lintas program dan lintas sektoral
9 Adanya pekerja yang belum mendapatkan pelayanan kesehatan kerja
Sosialisasi belum optimal
Partisipasi masyarakat ke posyandu masih kurang
Banyaknya susu formula yang beredar
Adanya data yang tidak terlaporkan
Kurangnya dukungan dari sektor terkait
10 Belum semua keluarga miskin mendapat pelayanan kesehatan
Kurangnya sarana dan prasarana kesehatan yang mendukung
Akses terhadap sarana kesehatan yang sulit dijangkau untuk daerah terpencil
Adanya data yang tidak terlaporkan
11 Kebutuhan dokter belum terpenuhi Tidak semua masyarakat miskin yang berobat ke pelayanan kesehatan
Kurangnya dukungan dari sektor terkait
Kurangnya tenaga kesehatan
12 Kebutuhan dokter spesialis belum terpenuhi Kurangnya sarana dan prasarana kesehatan
23
13 Kebutuhan dokter gigi belum terpenuhi kurangnya tenaga kesehatan dan dukungan dari sektor terkait
14 Kebutuhan bidan belum terpenuhi kurangnya tenaga kesehatan dan dukungan dari sektor terkait
15 Belum terpenuhinya tenaga ahli gizi kurangnya tenaga kesehatan dan dukungan dari sektor terkait
16 Belum terpenuhinya tenaga ahli sanitasi kurangnya tenaga kesehatan dan dukungan dari sektor terkait
17 Belum terpenuhinya tenaga ahli kesehatan masyarakat
kurangnya tenaga kesehatan dan dukungan dari sektor terkait
18 Belum semua penduduk yang mendapat jaminan pemeliharaan kesehatan
Jaminan kesehatan masyarakat belum menyeluruh
Kurangnya dukungan dari sektor terkait
19 Tingginya angka kecelakaan lalu lintas kurangya kesadaran masyarakat
Kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga keselamatan
Kurangnya dukungan dari sektor terkait
20 Rendahnya cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani
Sarana dan prasarana kesehatan di jaringan Puskesmas yang kurang memadai
Kurangnya dukungan dari masyarakat
21 Belum tercapainya cakupan pelayanan nifas Pusat rujukan yang jauh
Kurangnya tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi
Kurangnya pengetahuan dan kesadaran di masyarakat
Kurangnya dukungan dari sektor terkait
22 Rendahnya cakupan neonatus komplikasi yang ditangani
Kurangnya pengetahuan dan kesadaran di masyarakat
Sarana dan prasarana yang kurang memadai
23 Rendahnya cakupan kunjungan bayi Sasaran menggunakan angka proyeksi
Pendataan yang belum akurat dan keterbatasan SDM
Masih rendahnya partisipasi masyarakat
24 Rendahnya cakupan pelayanan anak balita Kurangnya kerjasama lintas sektor
Pendataan yang belum akurat dan keterbatasan SDM
Masih rendahnya partisipasi masyarakat
25 Belum tercapainya cakupan penemuan penderita pneumonia balita
Kurangnya kerjasama lintas sektor
Kurangnya pengetahuan masyarakat
26 Belum tercapainya cakupan penemuan pasien baru TB BTA Positif
Kurangnya pengetahuan masyarakat
27 Belum tercapainya cakupan penemuan penderita diare
Kurangnya pengetahuan masyarakat
28 Rendahnya cakupan pelayann kesehatan dasar pasien masyarakat miskin
Akses terhadap sarana kesehatan yang sulit dijangkau untuk daerah terpencil
Rendahnya cakupan pelayann kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin