Gambar 2 : Roadmap Kegiatan Penelitian III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Tempat dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Sumatera Kebun Jamur, Budidaya Jamur, di Kecamatan Percut Sei TuanKabupaten Deli Serdang, Pemilihan lokasi di daerah tersebut dikarenakan daerah ini penghasil jamur tiram yang diusahakan oleh masyarakat sebagian besar petani jamur tiram.
3.2. Bahan Dan Alat Penelitian
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah limbah pertanian dan perkebunan (pemanfaatan limbah pelepah kelapa sawit, batang jagung, tongkol jagung, limbah kulit durian, limbah industri teh (sosro), dan limbah industri tebu (ampas dan blotong), dan Jerami Padi yang kesemuanya terlebih dahhulu dilakukan pengilingan sampai menjadi dedak mengunakan mesin penghalus pelepah kelapa sawit (Sumber Mesin dari PPKS), bibit jamur tiram, serbuk gergaji,
Menghasilkan Jamur tiram dengan nilai gizi yang baik serta
meningkatkan
kesehatan masyarakat dan mengurangi limbah pertanian dan perkebunan yang menjadi masalah lingkungan
sekam padi, kapur, tepung jagung, plastik jenis PP (polypropylene) dengan ukuran 2 kilogram dan air secukupnya. Sedangkan alat-alat yang digunakan terdiri atas Mesin Penghancur pelepah kelapa sawit, cangkul, ring untuk leher baglog dibuat dengan memotong pipa air sepanjang 2 cm, autoclave, bunsen, masker, pisau, sendok besar/kecil, timbangan, hand sprayer, karet gelang, kapas/koran, alat tulis dan kamera
3.3. Metode Penelitian
Penelitian dilakukan dalam dua tahun. Pada tahun pertama adalah proses pembuatan dan pengolahan media tumbuh dari berbagai limbah pertanian dan perkebunan serta uji kombinasi dari formulasi limbah sebagai bahan tumbuh jamur tiram. Selanjutnya dilakukan uji analisa pertumbuhan jamur dengan menghitung persentase hidup, jumlah batang/baglog, diameter tubuh buah jamur dan bobot basah panen pada setiap kombinasi dan formulasi media tumbuh.Tahun ke dua, dari formulasi dan kombinasi terbaik yang diperoleh dari penelitian tahun pertama, kemudian diberi nutrisi berbagai nutrisi dari limbah pertanian (ampas tahu, molase, tepung jagung dan air kelapa). Kemudian masing-masing perlakuan dilakukan analisa parameter pertumbuhan yang sama dengan tahun pertama.
Semua perlakuan menggunakan komposisi pembuatan media tumbuh jamur yang secara umum digunakan, seperti kapur dan bekatul. Komposisi media terdiri dari 100 kg serbuk limbah pertanian dan perkebunan, bekatul 10 kg dan kapur sebagai sumber mineral 0,5 kg..
Rancangan perlakuan dalam penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial. Faktor pertama yaitu P1 : ampas tebu, P2 : Blotong tebu, P3 : sekam padi, P4 : Serbuk pelepah Sawit , P5 : Batang jagung, P6 : Limbah serbuk teh,. Faktor Kedua yaitu A1 : Tanpa serbuk gergaji (0%), A2 : Serbuk Gergaji 25 %, A3 : Serbuk Gergaji 50 % dan A4 : Serbuk Gergaji 75%. Adapun kombinasi perlakuan yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 2. Rancangan percobaan kombinasi limbah pertanian dan perkebunan dengan serbuk gergaji
Perlakuan Kombinasi dengan Serbuk Gergaji
A1 A2 A3 A4
P0 P0A1 P0A2 P0A3 P0A4
P1 P1A1(100:0) P1A2 (75:25) P1A3(50:50) P1A4(25:75)
P2 P2A1(100:0) P2A2(75:25) P2A3(50:50) P2A4(25:75)
P3 P3A1(100:0) P3A2(75:25) P3A3(50:50) P3A4(25:75)
P4 P4A1(100:0) P4A2(75:25) P4A3(50:50) P4A4(25:75)
P6 P6A1(100:0) P6A2(75:25) P6A3(50:50) P6A4(25:75)
Jumlah Ulangan = 3 Ulangan
Jumlah kombinasi = 28 kombinasi
Jumlah Baglog Perlakuan/Ulangan = 84 Baglog Jumlah baglog sampel perpelakuan = 16 baglog Jumlah Baglog Keseluruhan = 1344 baglog
Sedangkan penelitian tahun kedua melakukan kombinasi penambahan nutrisi dengan media kombinasi yang baik dari penelitian tahun 1, adapun perlakukan yang dilakukan mengukan RAL Faktorial. Faktor Pertama media kombinasi yang baik pada dari hasil tahun1, Faktor pertama penambahan berbagai nutrisi organik (N1: Molase + Tepung Jagung, N2: Molase + Ampas tahu, N3: Air Kelapa + Tepung Jagung, N4: Air Kelapa + Ampas Tahu). Kombinasi tahun 2 dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 3. Rancangan percobaan kombinasi limbah pertanian dan perkebunan dengan serbuk gergaji
Perlakuan tahun 1 Kombinasi dengan penambahan Nutrisi
N1 N2 N3 N4
Kombinasi terbaik (A) AN1 AN2 AN3 AN4
Kombinasi terbaik (B) BN1 BN2 BN3 BN4
Kombinasi terbaik (C) CN1 CN2 CN3 CN4
Kombinasi terbaik (D) DN1 DN2 DN3 DN4
Kombinasi terbaik (E) EN1 EN2 EN3 EN4
Kombinasi terbaik (F) FN1 FN2 FN3 FN4
Kombinasi terbaik (G) GN1 GN2 GN3 GN4
Kombinasi terbaik (H) HN1 HN2 HN3 HN4
Jumlah Ulangan = 3 Ulangan
Jumlah kombinasi = 32 kombinasi
Jumlah Baglog Perlakuan/Ulangan = 96 Baglog Jumlah baglog Sampel perpelakuan = 16 baglog Jumlah Baglog Keseluruhan = 1536 baglog
3.4. Metode Analisis Data Penelitian
Metode analisa yang digunakan adalah sebagai berikut : Yij = µ + αi + βj+ (αiβj) + Ɛij
i = 1, 2, 3,…………,p dan j = 1, 2, 3,…………,u Keterangan:
Yij : Pengamatan perlakuan ke-i dan ulangan ke-j µ : Rataan Umum
α i: Pengaruh perlakukan Limbah pertanian dan perkebunan ke-i βj : Pengaruh perlakukan serbuk gergaji ke-j
αiβ j: Pengaruh interaksi perlakuan ke-i dank e-j Єij : Galat perlakuan ke-i dan ulangan ke-j
Apabila hasil sidik ragam berbeda nyata hingga sangat nyata dilanjutkan dengan uji jarak duncan (Matjik & Sumertajaya, 2006).
3.5 Pelaksanaan Penelitian
3.5.1. Persiapan Kultur Jamur Tiram
Kultur Jamur Tiram putih yang biasa digunakan, mula-mula ditanam pada media Malt Extract Agar (MEA), yang ditempatkan pada botol – botol berukuran 350 ml dan disimpan selama 2 minggu, Sebelum kultur jamur tiram dipindahkan kemedia baglog.
3.5.2. Persiapan Substrat (media tanam)
Masing – masing perlakuan media tumbuh jamur tiram dari berbagai limbah pertanian dan perkebunan terlebih dahu dilakukan pengilingan, pengayakan dan pengeringan. Kemudian semua jenis limbah berdasarkan perlaku dilakukan kombinasi bahan tambahan bekatul padi 10%, dicampur dengan kapur/dolomit 0,5% dan air sebanyak 60% kadar air untuk kebasahanya. Kemudian campuran media tanam dimasukkan ke dalam kantong – kantong plastik berukuran 1,5 kg (sebanyak 1300 gram/plastik). Sesuai dengan perlakuan penelitian, kemudian baglog disterilkan selama 8 jam pada suhu 1200C dengan menggunakan dandang stem (Gambar 1). Media (baglog) yang telah disterilkan kemudian didinginkan selama satu hari, sebelum dilakukan inokulasi (pemberian bibit) didalam kumbung inokulasi (Gambar 2). Untuk mempercepat pendinginan dapat menggunakan kipas angin. Apabila inokulasi dilakukan saat suhu media masih tinggi maka bibit yang ditanam akan mati karena kepanasan.
Gambar. 3. Dandang Sterilisai Gambar. 4. Media tanam jamur tiram
3.5.3. Inokulasi
Inokulasi merupakan proses penanaman bibit ke dalam media baglog. dilakukan dengan cara memindahkan bibit kedalam baglog sebanyak 3 sendok kecil, bibit yang digunakan biasanya bibit F1 yang telah dikulturkan bersama media MEA. Alat yang digunakan untuk memindahkan bibit sebaiknya disterilkan terlebih dahulu.
3.5.4. Inkubasi
Media yang telah diinokulasi kemudian disimpan dikumbung (tempat yang cocok untuk pertumbuhan miselium), agar miselium jamur dapat tumbuh. Inkubasi dilakukan dengan cara menyusun baglog pada rak dikumbung secara bertumpuk tidur searah. Inkubasi dilakukan diruang yang sedikit gelap agar miselium lebih cepat merambat, media akan tampak putih merata antara 30-40 hari setelah dilakukan inokulasi.Miselium yang tidak tumbuh dapat dilihat apabila setelah 2 minggu media diinkubasikan, tidak terdapat tanda-tanda adanya miselium jamur yang berwarna putih merambat, maka inokulasi tidak berhasil. Baglog yang terkontaminasi penyakit segera dibuang.
3.5.5. Penyisipan
Untuk menanggulangi terjadinya serangan Penyakit yang menyerang baglog, Maka dibutuhkan baglog cadangan yang sesuai dengan perlakuan media tanam jamur tiram. Maka dibutuhkan sebanyak 21 baglog sisipan. Penyisipan dilakukan sampai baglog berumur 8 Minggu atau sampai jamur siap dipanen pada periode panen pertama.
Untuk menjaga kondisi lingkungan agar sesuai untuk pertumbuhan jamur tiram maka perlu dilakukan penyiraman pagi hari jam 07.00 WIB dan jam 17.00 WIB, penyiraman dilakukan pada lantai kubung dan mengkabutkan air bersih ke dalam lingkungan disekitar tempat baglog jamur tiram. Dengan penyiraman tersebut diharapkan diperoleh suhu dan kelembaban yang sesuai untuk pertumbuhan jamur tiram, Tergantung keadaan cuaca. Penyiraman dilakukan agar suhu dalam ruangan normal yaitu 25 -28 °C dan membutuhkan kelembaban udara 80-90%. 3.5.7. Pengendalian Hama dan Penyakit
Untuk pencegahan hama dilakukan dengan cara membersihkan bahan, alat, pekerja serta sanitasi lingkungan secara berkala. Kebersihan dan sanitasi lingkungan harus dilakukan secara menyeluruh baik dari ruang penyimpanan, bahan baku dan bahan tambahan, ruang tanam, ruang inkubasi, ruang tumbuh, tempat pembuangan limbah jamur dan lingkungan disekitar tempat budidaya, apa bila Hama masih menyerang maka kita bisa mengendalikannya dengan cara Manual.
Pengendalian hama secara manual dilakukan dengan cara mengutip dan membersihkan jaring Laba-Laba yang terdapat pada rak-rak jamur tiram.Sedangkan penyakit yang menyerang media jamur tiram adalah jenis Bakteri/virus dan Cendawan atau jamur liar. Serangan bakteri gejalanya yaitu permukaan media menjadi berlendir berwarna putih dan misellia tidak dapat berkembang. Sedangkan kehadiran cendawan pada media jamur tiram akan menyebabkan misellia jamur tiram tidak tumbuh. Pengendalianya dilakukan dengan cara membuang baglog yang terkontaminasi oleh cendawan maupun oleh bakteri/virus. Sedangkan untuk pencegahan dilakukan dengan mengurangi jumlah susunan baglog, pada saat penelitian tidak ada hama dan penyakit yang menyerang baglog atau misellia.
3.5.8. Panen
Pemanenan pertama dilakukan pada umur 7 minggu setelah tanam, setelah pertumbuhan jamur mencapai tingkat yang optimal, yaitu cukup besar, tetapi belum mekar penuh. Pemanenan dilakukan 4-5 hari setelah tumbuh jamur, dengan cici-ciri: tudung belum mekar penuh, warna belum pudar, tekstur masih kokoh dan lentur. Pada saat itu, ukuran jamur sudah cukup besar. Pemanenan dilakukan pada pagi hari karena suhu lingkungan tidak terlalu tinggi dan kondisi pertumbuhan jamur sangat baik sehingga bobot panen relatif lebih banyak.
Pemanenan dilakukan dengan mengunakan sendok makan agar seluruh rumpun jamur yang ada dari substrat tanam dapat dipanen dengan sempurna. Bagian batang/akar jamur tiram
yang menembus substrat harus diangkat bersamaan dengan jamur yang dipanen. Bekas batang atau akar jamur tiram yang mungkin tertinggal dalam media harus dibersihkan karena cepat atau lambat ujung batang tersebut akan membusuk.
3.6. Parameter Pengamatan 3.6.1. Persentase Hidup (%)
Persentase hidup adalah menghitung jumlah persentase pembentukan miselium pada setiap baglog. Persentase hidup ini dihitung pada saat baglog telah tertutup miselium berumur 3 minggu setelah inokulasi. Persentase hidup dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Persentase tumbu
3.6.2. Laju Pertumbuhan Miselium
Pertumbuhan miselium dihitung setelah satu minggu inokulasi jamur tiram pada media tumbuh dan dilakukan setiap satu minggu sekali sampai seluruh miselium sampai pada bagian bawah atau menutupi seluruh bagian baglog
3.6.3. Umur munculnya Tubuh Buah/ Baglog
Umur munculnya tubuh buah dihitung mulai dari minggu pertama setelah inokulasi jamur pada media tumbuh, dengan melihat perubahan fisik media baglog yang sudah tertutup oleh miselium seluruhnya.
3.6.4. Jumlah Batang Jamur / Baglog
Jumlah batang buah dihitung mulai dari batang muda yang telah membuka sempurna sampai batang yang paling tua. Pengamatan dilakukan pada 6 minggu setelah inokulasi.
3.6.5. Diameter Daun Jamur (cm)
Dilakukan dengan mengukur daun buah jamur pada ukuran yang berbeda yaitu ukuran besar, sedang dan kecil. Dianggap besar apabila mempunyai diameter 8-15 cm, dikatakan sedang apabila berukuran 4-8 cm, dan kecil apabila kurang dari 4 cm.
3.6.6. Bobot Basah Panen (gram/ulangan)
Panen dilakukan saat tanaman berumur 7 minggu setelah tanam. Bobot basah panen adalah berat dari batang, akar, dan daun yang termasuk daun segar, layu dan rusak. Menghitung bobot basah panen dilakukan dalam periode 2 (dua) kali masa panen. Penghitungan bobot basah dilakukan dengan menggunakan timbangan digital.
Pengumpulan Bahan baku media Jamur Analisis pertumbuhan miselium jamur dan tubuh buah
jamur Penghalusan
dengan mesin cacah
Ukuran mesh
Menghasilkan produk jamur dengan kualitas yang baik dan metode serta teknologi pengolahan limbah pertanian dan perkebunan Bahan campuran media tumbuh Inkubasi campuran media selama 1 malam Kapur Serbuk media Tumbuh Jamur Inokulasi Bibit Jamur Pengisian baglog Sterilisasi media Tumbuh Jamur tiram
Produktivitas Jamur tiram
dan media Alternatif
Gambar 5. Bagan alir penelitian
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Kondisi Umum Lokasi Budidaya Jamur Tiram
Percobaan lapangan dilakukan di Desa Bandar Kalipah Kecamatan Medan Tembung kabupaten Deli Serdang dengan ketinggian 300 m dari permukaan laut (m dpl). Jenis tanah alluviat dengan tofograpi landai dengan sudut kemiringan 15 %.
Suhu udara rata-rata di lokasi selama penelitian (bulan Mei sampai dengan Juli) dibawah naungan Kumbung siang hari maksimum berkisar 29,78 °C hingga 31,98 °C dan minimum sekitar 25.30 °C hingga 27 °C, suhu udara rata-rata maksimum pada malam hari berkisar antara 25.30 °C hingga 26.10 °C dan suhu minimum berkisar antara 19.80 °C hingga 20.35 °C dan dengan kelembaban rata-rata mencapai 86.56 %. Sementara suhu tampa naungan siang hari maksimum 32,18 °C hingga 33,75 °C dan minimum sekitar 27.40 °C hingga 28.33 °C, suhu udara rata-rata maksimum pada malam hari berkisar antara 27.00 °C hingga 28.35 °C dan suhu minimum berkisar antara 19.80 °C hingga 20.35 °C dan kelembaban rata-rata mencapai 60.56 %. Berdasarkan data iklim tersebut, suhu udara di lokasi penelitian melebihi rata-rata suhu optimal untuk pertumbuhan dan hasil Budidaya jamur tiram. hal ini sesuai dengan penelitian Parjimo dan Agus Andoko ( 2007). Pada fase pembentukan miselium, jamur tiram membutuhkan suhu 22 - 28º C dan kelembaban 60% - 80%. Pada fase pembentukan tubuh buah memerlukan
Pembuatan media Tumbuh Jamur Persiapan media Tumbuh Pencampuran media Dedak