Volume 6 No. 3 Juli 2005
Penanggung Jawab : Ir. Tanib S. Tjolia, M.Eng
Ketua Jurusan Teknik Industrik Fakultas Teknik USU Pimpinan Umum : Ir. A. Jabbar M. Rambe, M. Eng
Pimpinan Redaksi : Ir. Sugih Arto Pujangkoro, MM
Anggota Redaksi : Prof. Dr. Ir. Sukaria Sinulingga, M.Eng Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE Dr. Ir. Humala L. Napitupulu, DEA Ir. Harmein Nasution, MSIE Ir. M. Ichwan Nasution, M.Sc Ir. Mangara M. Tambunan, M.Sc Ir. Nazaruddin, MT
Ir. Poerwanto, M.Sc Pemasaran/Sirkulasi/Promosi : Ir. Rosnani Ginting, MT
Aulia Ishak, ST. MT Buchari, ST
Editing : Ir. Ukurta Tarigan, MT Nisma Panjaitan, ST Dina M. Nasution
Alamat Penerbit/Redaksi : Jurusan Teknik Indusri Fakultas Teknik USU, Gedung Unit II Lantai 2, Jl. Almamater Kampus USU Medan, 20155. Telp. (061) 8213649 Fax.(061) 8213250
Homepage : http://www.geocities.com/jurnalsti_usu E-mail : [email protected]
Diterbitkan : Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik USU Medan
Harga Berlangganan : Rp. 125.000 per tahun (termasuk ongkos kirim). Biaya dikirim melalui Pos Wesel ke alamat redaksi atau via Bank BNI 1946 Cabang Jl. Pemuda Medan No. Rekening : 005084001 a.n. Ir. T. Sembiring dan mengisi form berlangganan yang disediakan. Jurnal Sistem Teknik Industri diterbitkan 4 (empat) kali setahun pada bulan Januari, April, Juli, dan Oktober. Redaksi menerima karangan ilmiah tentang hasil penelitian, survei, dan telaah pustaka yang erat hubunganya dengan bidang teknik industri. Penulis yang naskahnya dimuat akan dihubungi sebelum dicetak dan dikenakan biaya administrasi sebesar Rp 350.000,- per artikel yang dapat dikirim melalui Pos Wesel ke alamat redaksi atau via bank BNI 1946 Cabang Jl. Pemuda Medan No. Rekening 005084001 a.n.Ir. T. Sembiring.
JURNAL SISTEM TEKNIK INDUSTRI
Jurnal Keilmuan dan Penggunaan Terhadap Sistem Teknik IndustriISSN 1411-5247 Terakreditasi No. 52/DIKTI/KEP/2002 Jl. Almamater Kampus USU P. Bulan Medan 20155
Volume 6 No. 3 Juli 2005
EDITORIAL
Edisi ini diawali dengan Stasiun perakitan Unit Stang ditemukannya tingkat kesalahan perakitan yang tertinggi pada perakitan sepeda motor. Motivasi rendah disebabkan lingkungan kerja yang kurang mendukung dan belum adanya jaminan sosial. Manufaktur sellular adalah sebuah strategi yang popular untuk memperbaiki kemampuan produksi, metode yang digunakan untuk menganalisa adalah soft system. Pembuatan arang dari tempurrung kemiri dimana struktur tempurung kemiri mempunyai struktur kimia yang hampir sama edngan selulosa dan lignin. Apliksi simulasi dalam penyelesaian masalah sistem manufaktur sellular lebih fokus pada sub masalah tata letak sel. Perkembangan model-model dan teknik-teknik dalam sistem manufaktur sellular lebih mengarah pada masalah pengelompokan dan tata letak sel yang dipandang sebagai hal yang terpisah. Hak dan kekayaan Intelektual (HaKI) merupakan suatu bentuk kekayaan immaterial bagi pemiliknya dimana hak milik tersebut mempunyai sifat ekonomi berupa keuntungan yaitu Royalty dan Technical Fee. Untuk mendorong perkembangan di bidang industri, perdagangan dan investasi lebih pesat, dan dalam rangka mewujudkan iklim yang lebih baik dan merangsang tumbuh dan berkembangnya penciptaan dan investasi dalam bidang ilmu pengetahuan, seni dan teknologi maka dibutuhkan perlindungan hukum bagi hak dan kekayaan intelektual. Analisa waktu tempuh angkutan perkotaan pada rule terminal amplas – terminal Sambu Medan dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran kecepatan perjalanan, kecepatan gerakan dan tundaan sepanjang rule yang dilalui. Beberapa penyampaian rendahnya kecepatan perjalanan angkatan perkotaan mikrobis pada rule ini adalah naik dan turunnya penumpang disembarang tempat, banyaknya jumlah kendaraan yang melintasi ruas jalan sehingga volume lalu lintas melebihi kapasitas jalan.
Pengusahaan perikanaan laut sudah semestinya memperhatikan aspek ekonomi dan lingkungan, sehingga diperoleh hasil maksimum lestari baik secara biologi aupun secara ekonomi. Pemasaran adalah inti seluruh aktivitas bisnis. Ini berkaitan dengan fungsi pemasaran sebagai penghubungan perusahaan dan konsumen. Era pasar bebas dunia akan terjadi liberalisasi ekonomi yang berpengaruh terhadap struktur pasar yang tidak mengenal batas-batas antara negara. Penelitian di bidang ekonomi dan keuangan seringkali model ARIMA yang standar tidak dapat memberikan solusi dari permasalahan yang ada, hal ini berkaitan dengan tidak terpenuhinya asumsi dasar berdistribusi. Masalah transport dan solusi penyelesainya dapat ditinjau dengan mengurangi kompleks dari masalah tersebut dikemudian hari Halte adalah tempat untuk menaikkan/menurunkan penumpang yang dilengkapi dengan bangunan yang keberadaannya di sepanjang rute angkutan umum sangat diperlukan. Namun pada kenyataannya di Kota Medn keberadaan halte belum dimanfaatkan.
Kebanyakan peraturan-peraturan yang digunakan didalam menentukan panjang efektif kolom pada bangunan baja atau beton menggunakan prosedur nomogram. Prosedur nomogram ini telah diadopsi oleh tulisan ini yang dikembangkan untuk memprediksikan panjang efektif kolom pada portal.
Anarkisme sering terjadi di dunia, terutama di negara-negara yang sedang berkembang. Orang awam tatkala mendengar anarkisme akan membawa pengaruh yang tidak baik terhadap kegiatan kehidupan mereka.
Industri pulp dan kertas merupkan industri yang sangat brpotensi menimbulkan pencemaran karena menghasilkan limbah cair. Limbah cair industri pulp dan kertas umumnya diolah pada instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Modernisasi merupakan topik yang menarik dan telah menjadi gejala umum di dunia dewasa ini, untuk maju melangkah dengan pasca modemnya.
ASIC merupakan rangkaian terintegrasi aplikasi yang dirancang unuk memenuhi tujuan dn fungsi tertentu dalam bidang perencanaan sistem mikroelektronika.
Muu beton yang dicantumkan pada syarat-syarat teknis pelaksanaan konstruksi beton tersebut adalah salah satu dasar yang dipakai. Kendala pada suatu pondasi dengan modulasi elastis efektif pada ruang yang acak dapat menjadi mudolus elastis lapangan pada penurunan konsilidasi.
Kekerasan baja sangat dipengaruhi oleh kerusakan atau kegagalan yang disebabkan oleh reaksi material tersebut. Baja adalah bahan kontruksi yang paling rawan dalam lingkungaa atmosfer.
Dalam sistem tenaga ada beberapa studi analisis yang harus dilakukan yaitu analisis aliran beban, analisis stabilitas dan analisis hubungan singkat. Keripik wortel mutu terbaik dihasilkan dari perlakuan Pra penggorengan (Direbus) kemudian dibekukan / P3 dan konsentrasi CCl
sebesar 0,5%/K1. hidrolisa dengan larutan asam dengan variasi warna kulit buah pepaya, temperatur serta waktu perebusan kulit buah
pepaya. Koperasi sangat penting dalam menumbuhkan dan mengembangkan potensi ekonomi dengan memiliki asas demokratis, kekeluargaan, kebersamaan dan keterbukaan. Desai dalam arsitektur melalui pendekatan humanis yaitu pendekatan prilaku dan pendekatan sosial. Dilakukan pendekatan ini untk memotivasi solusi desain lingkunan. Merancang bangunan dengan mempertimbangkan orientasi terhadap matahari dan arah angin, pemanfaatan elemen arsitektur dan material bangunan, serta pemanfaatan elemn-elemen lengkap. Metode standar error penduga paling tepat dipakai untuk memprediksikan kapasitas dan biaya produksi dibandingkan dengan metode lain. Akibat gempa di didaerah pantai Banda Aceh ada penurunan sebesar 2 meter, sedangkan di Nias Barat ada kenaikan permukaan tanah sebesar 3 meter. Penjualan, keuntungan, pangsa pasar dan perutmbuhan untuk mendapatkan hasil yang optimal dengan memertimbangkan empat kriteria tersebut. Dalam penentuan pemilihan terhadap usaha yang akan diinvestasikan dan memiliki prspek digunakan metode mutaly exclusive alternative project unutk mendapatkan perbandingan dari ketiga usaha.
Tim Redaksi Jurnal Keilmuan dan Penggunaan Terhadap Sistem Teknik Industri
ISSN 1411-5247 Terakreditasi No. 52/DIKTI/KEP/2002 Jl. Almamater Kampus USU P. Bulan Medan 20155
Volume 6 No. 3 Juli 2005
DAFTAR ISI
Halaman
USULAN PERBAIKAN FASILITAS KERJA BERDASARKAN TINJAUAN ERGONOMI DI PT. SELTECH MOTOR
INDUSTRI --- 1-12 Nazlina, Danci Sukatendel
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PERFORMANSI KARYAWAN (STUDI
KASUS : PKS PTPN-II SAWIT SEBERANG) --- 13-14
Hj. Muthia Bintang
MODEL KONSEPTUAL TRANSFORMASI MANUFAKTUR KONVENSIONAL MENJADI SELLULAR
TEROTOMASI --- 15-20 Bakhtiar S
PENGEMBANGAN PORI ARANG HASIL PIROLISA TEMPURUNG KEMIRI --- 21-25 Muhammad Turmuzi
OPTIMALISASI-OBJEKTIF BERBANTUAN SIMULASI DALAM SISTEM MANUFAKTUR SELLULAR --- 26-33
Rika Ampuh Hadiguna
PERANAN HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL (HaKI) DALAM MENDORONG PERKEMBANGAN INFUSTRI
DAN PERDAGANGAN --- 34-42 Syahril Effendy Pasaribu
ANALISIS WAKTU TEMPUH ANGKUTAN PERKOTAAN TERMINAL AMPLAS-TERMINAL SAMBU DI KOTA
MEDAN --- 43-47 Faizal Ezeddin
MODEL ANALISIS DAN OPTIMALISASI PENGUSAHAAN SUMBERDAYA PERIKANAN --- 48-53
Dede Ruslan
PENGARUH PELAKSANAAN BAURAN PEMASARAN TERHADAP PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN
KONSUMEN PADA JAMU DI BANDA ACEH --- 54-62 Rusydi Abubakar
PENDETEKSIAN OUTLIER PADA DATA INFLASI ACEH --- 63-68 Ratna
PROBLEM EVALUATION OF TRANSPORT SYSTEMS IN MEDAN --- 69-72 Filiyanti T. A. Bangun
STUDI EFEKTIFITAS PENGGUNAAN HALTE DI KOTA MEDAN (Studi Kasus : Koridor-koridor Utama Kota
Medan) --- 73-80 Jeluddin Daud
KAJIAN PERSAMAAN STABILITAS KOLOM PADA PORTAL BERGOYANG --- 81-87 Faizal Ezeddin
ANARKISME --- 88-93 Rasyidin
PROSES REDUKSI EKSES LUMPUR AKTIF DARI IPAL INDUSTRI PEMBUATAN KERTAS --- 94-96
Maya Sarah
RUMAH SUSUN SEBAGAI BENTUK BUDAYA BERMUKIM MASYARAKAT MODERN --- 97-102
Samsul Bahri
METODE PERANCANGAN ASIC YANG SUKSES --- 103-107
JURNAL SISTEM TEKNIK INDUSTRI
Jurnal Keilmuan dan Penggunaan Terhadap Sistem Teknik IndustriISSN 1411-5247 Terakreditasi No. 52/DIKTI/KEP/2002 Jl. Almamater Kampus USU P. Bulan Medan 20155
ANALISA KEANDALAN TERHADAP PENURUNAN PADA PONDASI JALUR --- 113-117 Anwar Harahap
PENGARUH HARDNES PADA BAJA YANG TERENDAM DALAM AIR LAUT YANG MENGANDUNG BAKTERI
PEREDUKSI SULFAT (SRB) --- 118-122 Jalaluddin
ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA PHASA PADA SISTEM TENAGA LISTRIK DENGAN
METODE THEVENIN --- 123-127 Masykur SJ
KONDISI OPTIMUM PADA HIDROLISA PEKTIN DARI KULIT BUAH PEPAYA --- 128-129 Farida Hanum
STUDI PEMBUATAN KERIPIK WORTEL --- 130-136 Terip Karo-karo
PEMBERDAYAAN EKONOMI KELUARGA BESAR UISU MELALUI WADAH LEMBAGA KOPERASI --- 137-140 Sjahril Effendy Pasaribu
ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN, PASCA ARSITEKTUR MODERN --- 141-147 N. Vinky Rahman
MENCIPTAKAN KENYAMANAN THERMAL DALAM BANGUNAN --- 148-158 Basaria Talarosha
PREDIKSI KAPASITAS DAN BIAYA PRODUKSI BATAKO SERTA OPTIMALISASI KEUNTUNGAN BERDASARKAN PROBALITAS DI P.T. WIJAYA KESUMA --- 159-179 Zuriah Sitorus
KERUSAKAN AKIBAT TSUNAMI DAN GEMPA NORTHEN SUMATRA 26 DESEMBER 2004 TERHADAP
BANDA ACEH DAN SIROMBU NIAS BARAT --- 180-189 Johannes Tarigan
MODEL ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS UNTUK MENENTUKAN TINGKAT PRIORITAS ALOKASI
PRODUK --- 190-195 Fatimah
MUTUALLY EXCLUSIVE ALTERNATIVE PROJECT UNTUK ANALISIS KELAYAKAN USAHA INDUSTRI KECIL- 196-202 A Hadi Arifin
ANALISIS SUBSTITUSI PENGGUNAAN INPUT PADA INDUSTRI PENGOLAHNA MAKANAN DNA MINUMAN
INDONESIA 203-207
Mawardati
KOMPRESI DATA MENGGUNAKAN ALGORITMA HUFFMAN 208-211
F. Rizal Batubara
Usulan Perbaikan Fasilitas Kerja Berdasarkan Tinjauan Ergonomi di PT. Seltech Motor Industri
Nazlina dan Danci Sukatendel
USULAN PERBAIKAN FASILITAS KERJA
BERDASARKAN TINJAUAN ERGONOMI DI PT. SELTECH
MOTOR INDUSTRI
Nazlina
1)dan Danci Sukatendel
2)1)Staf Pengajar Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik USU 2)Staf Pengajar Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik USU
Abstrak: Manusia merupakan komponen utama sehingga haruslah menjadi sentral dalam system kerja yang
bersangkutan. Pada stasiun kerja perakitan Unit Stang ditemukannya tingkat kesalahan perakitan yang tertinggi pada perakitan sepeda motor yaitu sebanyak 10 unit kesalahan dari total kesalahan 40 unit. Untuk menurunkan ataupun menghilangkan tingkat kesalahan pada stasiun kerja ini maka diusulkan perbaikan fasilitasn kerja dengan mempertimbangkan posisi koponen, peralatan kerja dan postur kerja dari operator apda statisun kerja perakitan Unit Stang ini. Penyederhanaan elemen-elemen gerakan kerja dengan cara menghilangkan elemen gerakan yag tidak produktif dan tidak ergononomis, mengkombinasikan beberapa elemn kegiatan ekrja dan merancang tempat kerja sesuai edngan postur kerja yang ergonmis. Perancangan tempat kerja sesuai dengan postur kerja yang erhgonomis yaitu dengan mengusulkan penggunaan tempat duduk yang dapat digerakkan, perancangan penyangga kaki dan penggunaan rak bertingkat dimana rak bertingkat yang diusulkan tersebut emmpunyai kemiringan yang bertujuan untuk memeudahkan pengambilan koponen dengan bantuan gravitasi.
Kata kunci: Ergonomi, Perakitan Sepeda Motor, Poka Yoke
Abstract: Human beings are main component, so it becomes a central in the work system. At the work station of
handel of Bar Unit assembling, finding of highest level of error ot motorbike assembling of Suria X that is counted 10 error units from the total of error 40 unit.s to degrade and or eliminate level of error at the work station hence proposed repair of work facility by considering component position, work equipments and work posture of operator at this work station of Handle Bar Uni assembling. Simplification of work movement elements by eliminating unproductive and unergonomic elements, combining some working activity element and design workplace according to ergonomic posture of work. Scheme of workplace according to ergonomic posture of work that is by proposing usage of seat able to be moved, cheme of prop of feet and usage of a leveling rack which proposed have inclination with aim to facilitate intake of component constructively gravitation.
Keyword: Ergonomic, Assembling of Motorbike, Poka Yoke.
I. PENDAHULUAN
Fasilitas dan peralatan yang digunakan dalam bekerja seharusnya dapat membuat operator merasa aman dan nyaman sehingga tidak mudah membuat kesalahan dalam melakukan pekerjaannya. Hal ini akan memberi kepuasan kerja kepada operator dan pekerjaan yang dilakukannya akan menjadi lebih efektif. Dengan alas an ini maka perlu dirancang fasilitas yang ergonomic untuk dapat mengurangi resiko terjadinya kesalahan operator saat bekerja.
Berkurangnya resiko terjadinya kesalahan yang dilakukan oleh operator pada saat bekerja dapat memberikan dampak dengan bertambah optimalnya hasil kerja operator. Hasil kerja yang optimal ini berupa peningkatan hasil produksi dengan pengurangan waktupengerjaan setiap unitnya dan kualitas yang diinginkan dapat tercapai tanpa ada pengerjaan ulang (rework) dikarenakan ditemukannya produk yang ccat pada bagian pemeriksaan. Kedua hal ini dapat meningkatkan
II. PERMASALAHAN
Rumusan masalah studi ini adalah bagaimana menciptakan suatu konsep perbaikan metode kerja dengan pemberian beberapa fasilitas kerja yang diperlukan serta menyusun tata letak koponen yang optimal berdasarkan tinjauan ergonomic sehngga dapat memperbaiki system kerja dan mengurangi tejradinya kesalahan yang dilakukan oleh operator pada saat melakukan pekerjaannya.
Untuk menyusun konsep tersebut maka diperlukan informasi yang lengkap mengenai kemampuan manusia dengan segala keterbatasannya. Salah satu usaha untuk mendapaktan informasi-informasi yang berhubungan dengan kemampuan manusia dengan segala keterbatasannya ialah dengan melakukan penyelidikan-penyelidikan yang terbagi atas 4 kelompok besar, yaitu :
1. Penyelidikan tentang display.
Yang dimaksud dengan display adalah bagain dari lingkungan yang mengkomunikasikan
bentuk lambing-lambang atau tanda-tanda. Display terbagi atas 2 bagian, yaitu display statis dan display dinamis.
2. Penyelidikan mengenai hasil kerja manusia dan proses pengendaliannya.
3. Penyelidikan mengenai tempat kerja. 4. Penyelidikan mengenai lingkungan fisik.
III. PEMBAHASAN
Sasaran dari studi ini adalah menghasilkan konsep metode kerja yang baru yangs esuai dengan prinsip ergonomic yaitu : efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien bagi operator. Sasaran lainnya adalah menambahkan fasilitas kerja yang dianggapo perlu untuk mengurangi resiko terjadinya keslaahan perakitan dimana secara tidak langsung dapat meningkatkan produktifitas dengan berkurangnya waktu untuk melakukan perbaikan produk yang salah rakit dari stasiun kerja yang diamati.
Perakitan Unit Stang dibagi menjadi beberapa elemen kegiatan. Elemen-elemen kegiatan perakitan Uni Stang dapat dilihat sebagai berikut :
a. Elemen Kegiatan A :
Pemasangan Rangka Stang ke Penyangga Kaki Segitiga.
b. Elemen Kegiatan B
Pemasangan rem Cakram ke Stang c. Elemen Kegiatan C
Pemasangan Switch Lampu dan Klakson d. Elemen Kegiatan D
Pemasangan Tombolr Starter dan Tali Gas. e. Elemen Kegiatan E
Pemasangan Karet Stang Kiri f. Elemen Kegiatan F
Pemasangan Kabel speedometer ke Batok Speedometer g. Elemen Kegiatan G Pemsangan Kabel. h. Elemen Kegiatan H Pemasangan Kabel. i. Elemen Kegiatan I
Pemasangan Unit Lampu Depan j. Elemen Kegiatan J
Peamsangan Bandulan Stang.
Pemasangan Unit Stang dilakukan di atas lantai dengan menggunakan beberapa fasilitas, yaitu : a. Kardus sebagai tempat duduk operator yang
berdimensi 460 x 345 x 328 mm.
b. Penyangga kaki segitiga yang terbuat dari besi. Alat ini mempunyai fungsise abgait empat meletakkan rangka stang dan kemudian komponen lainnya dirakit ke rangka stang. c. Kotak-kotak kecil yang terbuat dari kardus
tempat meletakkan mur dan baut. Kotak-kotak ini berukuran 8 x 8 x 5 cm.
d. Air Gun yang berfungsi untuk membuka dan memasang baut dan mur dengan bantuan udara dari kompresor.
e. Martil yang digunakan untuk memasukkan bandulan stang.
f. Kunci T yang berfungsi untuk memasang mengikat Switch Lampu dan Rem Cakram.
Data kesalahan yang diperoleh pada perakitan unit stang selanjutnya dianalisa peneybab terjadinya kesalahan tersebut dengan menggunakan
Cause and Effect Diagram, seperti terlihat pada
gambar 1.
Usulan Perbaikan Fasilitas Kerja Berdasarkan Tinjauan Ergonomi di PT. Seltech Motor Industri
Nazlina dan Danci Sukatendel
IV. USULAN PERBAIKAN
IV.1. Kotak Tempat Baut
Setelah dilakukan analisa dapat dilihat bahwa operator bekerja dalam keadaan tidak optimal dikarenakan peralatan yang tidak mendukung dimana komponen-komponen penyambung unit stang dipasangkan pada tempat yang sulit dijangkau. Komponen penyambung itu sendiri memiliki ukuran kecil sehingga operator harus mencengkam dengan jari. Posisi seperti ini dapat memudahkan terjadinya kelelahan. Kelelahan ini dapt menganggu konsentrasi kerja operator. Jenis baut yang digunakan ini tidak dapat diganti dikarenakan sudah sesuai dengan standar yang ada. Jenis baut yang digunakan memiliki kesamaan dalam ukuran kepalanya namun berbeda pada ukuran panjangnya (M6x20, M6x25, M6x30). Perbedaan ukuran panjang ini tidak terlalu kelihatan apabila dilihat secara sepintas dan kotak baut yang berukuran 8 x 8 x 5 cm ini sering bergeser letaknya secara tidak sengaja. Untuk mengantisipasi kesalahan baut yang digunakan sebaiknya tempat baut diberikan label. Label ini dapat berupa angka yang menunjukkan ukuran panjangnya masing-masing. Selain pemberian label perbaikan juga dapat dilakukan dengan meletakkan kotak-kotak baut scara berdampingan disesuaikan dengan ukurannya. Peletakan ini dapat dilakukan dengan meletakkan ketiga kotak baut ini ke dalam satu kotak yang lebih besar sehingga kotak-kotak baut dapat dipindah-pindahkan.
IV.2. Tempat Duduk Operator
Tempat duduk yang digunakan operator tidak ergonomic. Ha ini terlihat dari bahan yang diguankan sebagai tempat duduk yaitu terbuat dari kardus bekas yang berukuran panjang 60 mm, lebar : 328 mm dan tingi : 345 mm. kardus ini kemduiandiisi dengan plastic bekas pembungkus komponen. Hal ini menyebabkan tidak stabilnya tempat duduk sehingga sering melengkung dan dimesninya ubah. Dimensi yang berubah-ubah ini sering mengakibatkan operator menyesuaikan psosii duduknya. Seringnya penyesuaian posisi duduknya. Seringnya penyesuaian posisi duduk akan menyebabkan terganggungnya konsentrasi operator dan terjadinya ketegangan untuk mempertahankan posisi. Untuk mengantisipasi terjadinya ketegangan dan kehilangan konsentrasi karena penyesuaian psosii duduk sebaiknya operator duduk di tempat duduk yang mempunyai alas duduk yang stabil. Alas duduk ini dpat terbuat dari kayu ataupun besi yang mempunyai ukuran tinggi sesuai dengan tinggi duduk operator. Untukmenentukan ukuran-ukuran tempat duduk yang nyaman bagi operator maka diperlukan ukuran-ukuran dimensi tubuh operator. Bagian tubuh operator yangdiukur dapt dilihat apda gambar 2. sedangkan hasil pengukuran dapat dilihat pada table 1. Tempat duduk yang diusulkan beserta ukuran-ukurannya.
Table 1. Ukuran Dimensi Tubuh Saat Duduk
Bagian Keterangan Operator 2 Operator 3 Rata-rata
A Tinggi Popliteal 42,8 42,3 42,55
B Panjang Pantaike Popliteal 48,9 48,6 48,75
C Tinggi Mata saat duduk 76,2 75,5 75,85
D Tinggi Bahu 60,2 59,5 59,85
E Panjang Pantat ke Lutut 58,4 58,1 58,25
F Panjang Lengan (meraih) 63,2 63,0 63,10
G Tinggi Siku 23,6 23,5 23,55
IV.3. Penyangga Kaki Segitiga
Tempat lubang pemasangan pengikat (baut) pada benda kerja (perakitan unit lampu depan) terletak pada bagian-bagian yang berada di luar jangkauan penglihatan, hal ini sering menyebabkan operator harus meraba letak lubang baut yang berada di bagian bawah. Posisi kerja yang hanya meraba ini sering menyebabkan tidak sesuai masuknya baut/sekrup pada lubang sehingga sering terjadi pemaksaan, baut/sekrup keluar dari alur lubangnya atau operator harus meraba letak lubang baut yang berada dibagian bawah. Posisi kerja yang hanya meraba ini sering menyebabkan tidak sesuai masuknya baut/sekrup pada lubang sehingga sering
terjadi pemaksaan, batu/sekrup keluar dari alur pemaksaan, batu/sekrup keluar dari alur lubangnya atau operator harus membungkukkan badan untuk melihat lubang dan menyesuaikan masuknya batu/sekrup tersebut. Usulan untuk mencegah terjadiya kesalahan ini adalah dengan merubah penyangga kaki segitiga usulan ini dapat bergerak sebesar 450. sedangkan kaki penyangga tidak
dirubah, begitu juga dengan penampang alasa yang terbuat dari besi profil L yang mempunyai. Penyangga ini juga diberikan pengganjal sehinga ketinggian pengganjal ini ssuai sesuai dengan ketinggian operator.
Usulan Perbaikan Fasilitas Kerja Berdasarkan Tinjauan Ergonomi di PT. Seltech Motor Industri
Nazlina dan Danci Sukatendel
IV. 4. Rak Bertingkat
Komponen-komponen dalam perakitan Unit Stang berjumlah sebanyak 11 unit dan diletakkan di atas permukaan lantai. Hal ini menyebabkan komponen-komponen tersebut diletakkan berauhan sehingga operator sering menggerakkan tubuh melampaui jangkauannya untuk mengambil komponen-komponen. Penyusunan komponen yang rapi dapat dilakukan di ats meja ataujuga dalma rak yang bertingkat sehingga dapat mengrangi gerakan operator untukmengambil komponen. Rak bertingkat ini juga dirancang berdasarkan dimensi tubuh operator. Ukuran dimensi tubuh yang diperlukan dalam merancang rak ini sama dengan yang diperlukan dengan merancang tempat duduk. Jumlah rak bertingkat yang diusulkan berjumlah 2 unit. Masing-masing unit menyimpan komponen-komponen yang berbeda. Salah satu unit rak yang diusulkan menyimpan beberapa komponen yang mempunyai dimensi kecil ke dalam satu tempat dimana dalam satu tempat tersebut teridri dari komponen-komponen yang diperlukan untuk merakit satu unit stang. Sedangkan untuk komponen yang mempunyai dimensi besar dan lebih mudah untuk rusak (tergores dan pecah) seperti Unit Speedmeter dan Unit Lampu Depan diletakkan pada tempat yang sama begitu juga dengan baut pengikat ditempatkan pada kotak baut.
Berdasarkan ukuran komponen maka komponen-komponen dipisah menjadi empat kelompok. Masing-masing kelompok diletakkan pada sebuah kotak yang dapat terbuat dari karton ataupun bahan keras lainnya seperti kayu ataupun plastic, kecuali Rangka Stang. Kotak pertama berukuran 44 x 30 x 10 cm dimana kardus tersebut berisikan 7 komponen dan diberi penyekat pemisah antara komponen. Komponen pada kotak pertama ini adalah:
a. Switch Rem Tangan, ukuran dalam kotak 8 x 6,5 cm.
b. Rem Cakram dan Tali Rem, ukuran dalam kotak 28 x 30 cm.
c. Switch Lampu, ukuran dalam kotak 7 x 8 cm. d. Tombol Starter, ukuran dalam kotak 8 x 8,5 cm. e. Karet Stang Kanan (Gas), ukuran dalam kotak
11 x 7 cm.
f. Karet Stang Kiri, ukuran dalam kotak 11 x 7 cm.
g. Bandulan stang (kiri dan kanan), ukuran dalam kotak 14 x 6 cm.
Sedangkan kotak kedua berukuran 45 x 40 x 21 cm dimana kotak tersebut berisikan berisikan 2 komponen yang diberikan penyekat untuk memisahkannya. Untuk komponen yang diberikan penyekat untuk memisahkannya. Untuk komponen Kabel Speedometer dan Tali gas diletakkan pada kotak berukuran 100 x 12 x 10 cm.
Kotak-kotak tersebut disusun secara rapi didalam rak bertingkat. Rak bertingkat sehingga komponen tidak terletak menyebar di stasiun kerja.
Rak bertingkat yang diusulkan ini dirancang sesuai dengan dimensi kotak penyimpanan komponen sehinga memudahkan operator untuk mengambil kotak-kotak komponen tersebut.
Adapun ukuran rak bertingkat ini diusulkan mempunyai ukuran panjang sebesar 220 cm, lebar sebesar 100 cm dan ketinggian 160 cm pada rangka rak serta. Ukuran ini disesuaikan dengan batas kemampuan operator meraih komponen dari tempat duduknya sehingga operator tidak banyak bergerak.
Rak yang diusulkan terdiri dari dua jenis dimana rak pertama mempunyai kapasitas menampung 28 kotak kedua dan 20 kotak pertama. Sedangkan jenis rak yang lainnya mempunyai kapasitas menampung 14 kotak kedua dan 20 kotak pertama. Perbedaan rak pertama dan kedua ini terletak pada bagian atasnya, dimana rak kedua pada tingkat paling atas digunakan untuk menyimpan rangka stang. Usulan jenis rak bertingkat pertama dapat dilihat pada gambar 5 dan usulan jenis rak kedua dapat dilihat dilihat pada gambar 6.
Rak ini terdiri dari bahan berbentuk silinder yang dapat berputar seperti roller conveyor pada tiap tingkatnya sehingga kotak dapat bergerak turun dengan sudut kemiringan sebesar 5%.
Kotak tempat Kabel Speedometer dan Tali Gas diusulkan untuk diletakkan di atas sebuah meja yang ketinggiannya sebesar 45 cm dan panjang 100 cm sedangkan lebarnya sebesar 50 cm. Meja ini juga digunakan untuk tempat meletakkan kotak komponen yang berada pada Rak Bertingkat yang akan dirakit.
Usulan Perbaikan Fasilitas Kerja Berdasarkan Tinjauan Ergonomi di PT. Seltech Motor Industri
Nazlina dan Danci Sukatendel
IV.5. Tata Letak Stasiun Kerja Perakitan Unit Stang
Setelah fasilitas diusulkan maka tata letak fasilitas yang baru perlu dirancang untuk menyesuaikan dengan posisi operator sehingga operator dapat bekerja lebih ergonomic. Tata letak yang diusulkan ini berbeda dari tata letak yang dipakai pada saat pengambilan data dimana tumpukan rangka stang di atas lantai dipindahkan ke bagian teratas rak bertingkat usulan dan tumpukan komponen lainnya ditempatkan ke dalam kotak untuk satu unit sepeda motor. Tata letak yang diusulkan ini dapat dilihat pada gambar 7.
IV.6. Motede Kerja
Kesalahan-kesalahan yang terjadi selama ini diharapkan dapat berkurang dengan penggunaan fasilitas dan tata letak yang baru. Pengguaan penyangga kaki segitiga usulan akan memudahkan operator untuk memasang baut yang berada di bawah dengan memutar ke depan berada di bawah dengan memutar ke depan penyangga kaki segitiga sehingga operator lebih ergonomic dalam memasang baut dengan air guna.
Kursi yang digunakan mempunyai roda pada kakinya sehingga operator lebih mudah untuk mengambil komponen pada rak bertingkat dan meletakkan tubuhnya (berdiri,membungkuk) untuk mengambil komponen yang akan dirakit. Kotak penyimpanan rangka terdiri dari komponen rangka untuk 1 unit sepeda motor. Sedangkan kotak penyimpanan bodi terdiri dari komponen bodi 1 untuk 1 unit sepeda motor. Dengan penggunaan 1 kotak komponen dalam perakitan unit stang akan memudahkan operator untuk mengambil komponen dari masing-masing kotak penyimpanan rangka dan kotak penyimpanan bodi.
IV. 7. Analisis Penggunaan Fasilitas Kerja Usulan
Fasilitas kerja usulan pada Perakitan Unit Stang memberikan rasa aman, efektif, nyaman, efisien dan sehat buat operator selama bekerja sehingga operator dapat bekerja secara optimal.
Uraian kegiatan yang dilakukan dan postur operator pada kondisi saat ini dapat dilihat pada table 2. Sedangkan uraian kegiatan dan postur operator dengan Fasilitas Kerja usulan dapat dilihat pada tabel 3. Gambar Tata Letak Usulan Perakitan Unit Stang dapat dilihat pada gambar 8.
Usulan Perbaikan Fasilitas Kerja Berdasarkan Tinjauan Ergonomi di PT. Seltech Motor Industri
Nazlina dan Danci Sukatendel
Tabel 3. Uraian Kegiatan dan Postur Kerja Operator pada Kondisi dengan Fasilitas Kerja Usulan
Postur Kerja
Membungkuk ke
No. Uraian Kegiatan Kerja
Jarak
(cm) Berdiri Duduk
Depan Samping
1 Mengambil Rangka Stang 170 x - x -
2 Memasang Rangka Stang ke Peyangga - - x - -
3 Mengambil Rem Cakram 75 -
x x -
4 Memasang Rem Cakram ke Rangka Stang - -
x - -
5 Mengambil Switch Lampu & Klakson 40 -
x - x
6 Memasang Switch Lampu ke Rangka - -
x -
-
7 Mengambil Tombol Starter 40 -
x - x
8 Memasang Tombol Starter ke Rangka Stang - -
x - -
9 Mengambil Tali Gas 100 x - x -
10 Memasang tali gas - -
x - -
11 Mengambil Karet Stang 90 -
x - x
12 Memasang Karet Stang - -
x - -
13 Mengambil Kabel Speedometer 100 x - x -
14 Mengambil Batok Kilometer 75 -
x - x
15 Memasang Kabel ke Speedometer - -
x -
- 16 Memasang Batok Speedometer ke Rangka - -
x x
-
17 Memasang Kabel-Kabel - -
x - -
18 Mengambil unit Lampu Depan 50 -
x - x
19 Memasang Kabel Lampu Depan - -
x - -
20 Memasang Unit Lampu Depan ke Rangka - -
x x
-
21 Mengambil Bandulan Stang 90 -
x - x
22 Memasang Bandulan Stang ke Rangka - -
x - -
23 Menyimpan Unit Stang 220 x - x -
Postur Kerja
Membungkuk ke
No. Uraian Kegiatan Kerja Jarak
(cm) Berdiri Duduk
Depan Samping
1 Mengambil Rangka Stang 100 - x - -
2 Memasang Rangka Stang ke Peyangga - -
x - -
3 Mengambil Rem Cakram 60 -
x - -
4 Memasang Rem Cakram ke Rangka Stang - -
x -
- 5 Mengambil Switch Lampu & Klakson 50 -
x - -
6 Memasang Switch Lampu ke Rangka - -
x - -
7 Mengambil Tombol Starter 50 -
x - -
8 Memasang Tombol Starter ke Rangka Stang - -
x -
-
9 Mengambil Tali Gas 50 -
x - -
10 Memasang tali gas - -
x - -
11 Mengambil Karet Stang 60 -
x - -
12 Memasang Karet Stang - -
x -
- 13 Mengambil Kabel Speedometer 50 -
x -
-
14 Mengambil Batok Kilometer - -
x - -
15 Memasang Kabel ke Speedometer 60 -
x - -
16 Memasang Batok Speedometer ke Rangka 63 -
x -
-
17 Memasang Kabel-Kabel - -
x - -
18 Mengambil unit Lampu Depan -
19 Memasang Kabel Lampu Depan - -
x - -
20 Memasang kabel-kabel - -
x - -
21 Mengambil Unit Lampu Depan 63 -
x - -
22 Memasang kabel Lampu Depan - -
x - -
23 Memasang Unit Lampu Depan ke Rangka - -
x - -
24 Mengambil Bandulan Stang 50 -
x - -
25 Memasang Bandulan Stang ke Rangka - -
x - -
26 Menyimpan Unit Stang 125 x
-
- -Usulan Perbaikan Fasilitas Kerja Berdasarkan Tinjauan Ergonomi di PT. Seltech Motor Industri
Nazlina dan Danci Sukatendel
V. KESIMPULAN
Berdasarkan pengolahan data dan analisa pemecahan masalah yang dilakukan pada penelitian ini makan diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Sepada motor Suria X merupakan jenis sepeda motor hasil rakitan PT. Seltech Motor Industri yang paling banyak dirakit. Perakitan ini terdiri dari dua kelompok proses perakitan yaitu perakitan di luar lintas perakitan dan perakitan di atas lintas perakitan.
2. Stasiun kerja yang mempunyai tingkat kesalahan tertingi terdapat pada stasiun kerja Uit Stang dengan jumlah kesalahan 10 unit dari 100 unit sepeda motor yang dirakit. Statisun kerja perakitan Unit Stang merupakan proses perakitan di luar lintas perakitan.
3. Pengambilan data untuk penelitian ini dilakukan sebanyak 32 unit sepeda motor dengan waktu rata-rata sebesar 446,5 detik dan standar deviasi sebesar 76,44 detik. Dari pengujian keseragaman dan kecukupan data maka dengan 23 data ini sudah seragam dan sudah cukup sehingga tidak diperlukan pengambilan data tambahan.
4. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa waktu pengerjaan yang terlama terdapat pada elemen kegiatan pemasangan unit lampu depan yang dikarenakan pengambilan operator yang pemasangan baut pengikat yang berada di bagian baah serta pengikat yang berada di bagian bawah serta kesalahan pengambilan baut pengikat. 5. Setelah dilakukan analisa dan evaluasi, maka
peneliti mengusulkan beberapa fasilitas yang disesuaikan dengan keadaan operator. Oleh karena itu dilakukan pengambilan data antropometri untuk merancang fasilitas tersebut. Data antropometri diambil dari 2 orang operator perakitan Unit Stang. Fasilitas usulan dimaksud adalah :
a. Kotak penyimpanan baut yang disusun berurutan sesuai dengan jenis baut yaitu : M6 x 20, M6 x 25 dan M6 x 30. penyusunan ini dilakukan unutk mencegah kesalahan ambil oleh operator dan mencegah kotak – kotak tersebut berserakan.
b. Penyangga Kaki Segitiga yang dapat digerakkan ke depan sehingga operator dapat melihat dan memasang baut pada bagian bawah Unit Stang. Penyangga Kaki Segitiga ini dberi ganjalan pada bagian bawahnya sesua dengan tinggi rata-rata mata operator saat duduk dari permukaan laintai yaitu sebesar 118,4 cm dan panjang rata-rata lengan operator (meraih) yaitu sebesar 63,10 cm dan sudut maksimum penglihatn ke bawah sebesar 300. Dari hasil
perhitungan maka didapat tinggi Penyangga Kaki Segitiga yang diusulkan dengan pengganjal dari permukaan lantai sebesar 82 cm dengan tinggi pengganjal sebesar 22 cm. Kursi ini juga mempunyai roda untuk
memudahkan operator mengambil komponen dari rak.
c. Kursi usulan mempunyai tinggi sesuai dengan tinggi rata-rata popliteal operator yaitu 42,55 cm dan ukuran alas tempat duduk yang diusulkan 49,0 x 49,0 cm sesuai panjang pantat ke popliteal sebesar 48,75 cm.
d. Rak bertingkat yang mempunyai dimensi sebear 164 x 254 x 150 cm yang berjumlah 2 unit. Salah satu rak ini digunakan untuk meletakkan komponen unit lampu depan, unit speedometer, rangka stang. Komponen lampu depan dan unit speedometer diletakkan dalam sebuah kotak kardus berukuran 45 x 40 x 21 cm. Pada rak yang lainnya digunakan kardus yang berukuran 44 x 30 x 10 cm, terdiri dari karet stang kiri, karet stang kanan (gas), bandulan kiri dan kanan, rem tangan, switch lampu, tombol starter. Dimana masing-masing kardus terdiri dari komponen-komponen untuk merakit satu unit sepeda motor. Rak bertingkat ini terdiri dari empat tingkat yang mempunyai sudut sebesar 50 sehingga
dengan menggunakan gravitasi kardus dan rangka stang dapat turun bergantian. Pada dua tingkat bagian bawah dari besi silinder yang dapat berputar yang berfungsi seperti
Roller Conveyor. Pada bagian atas rak
bertingkat usulan digunakan unutk meletakkan rangka stang. Komponen kabel speedometer dan tali Gas diletakkan pada tempat yang sama dimana empat tersebut berukuran 100 x 12 x 10 cm.
e. Tata letak fasilitas diusulkan berdasarkan dengan penggunaan fasilitas usulan dimana rak bertingkat diletakkan di samping kiri dan kanan operator dan kotak penyimpanan unit stang yang telah dirakit diletakkan di depan operator. Dua unit meja kecil juga digunakan untuk meletakkan kardus komponen dan satu lagi untuk meletakkan kotak tempat baut pengikat yang berukuran 24 x 8 x 5 cm, dan peralatan kerja seperti tang, air gun, martil dan kunci T.
6. Penggunaan fasilitas-fasilitas yang diusulkan maka operator bekerja dengan pengamblan kotak kardus komponen masing-masing satu kotak kardus yang berisi untuk satu unit sepeda motor. Pengambilan ini menggunakan tempat duduk usulan yang bisa bergeser. Operator tidak perlu melakukan pelatihan dalam penggunaan fasilitas usulan.
Penggunaan Fasilitas Kerja Usulan dapat mengurangi terjadinya penyakit akibat kerja pada saat operator bekerja seperti sakit pada kaki, pinggang, leher dan punggung.
VI. DAFTAR PUSTAKA
Apple, James M.; Tat Letak Pabrik dan Pemindahan
Bahan; ITB ; 1990 ; Bandung.
Kmenta, Steven & Ishii, Assembl Emeo ; A
Simplified Method For Identifying Assembly Errors; Departemen of Mechanical Engineering
Stanford University, California ; 2003.
Niebel, and Frevalds ‘ Methods, Standards and Work
Design ; Edisi 11; McGraw-Hill; 2003 ; New
York.
Pulat, B. Mustafa; Fundamentals of Industrial
Ergonomics, Prentice Hall, 1992; New Jersey.
Reliability Analysis Center, Mistake Proofing
(AKA; Poka-Yoke) an Effective Quality Tool ;
http:///rac.alionscience.com/iPC/servlet/iPCser
vlet?QKIT;2003.
Roebuck, Jr. J.A.; Engineering Anthropometry
Methods, John Wiley & Sons ; 1975 ; New
York.
Sastrowinoto, Suyatno, Meningkatkan Produktivitas
dengan Ergonomi, PT. Pustaka Binaman
Pressindo, 1985 ; Jakarta.
Sutalaksana, Z Iftikar, Teknik Tata Cara Kerja, Departemen Teknik Industri ITB ; 1979, Bandung.
Workers’ Compensation Board (WCB) of British Colombia, Understanding the risks of
Musculoskeletal Injury (MSI), An educational guide for worker on sprains, strain, and other MSIs, http://www.worksafebc.com:2001.
Analisis Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Performansi Karyawan (Studi Kasus: PKS. PTPN-II Sawit Seberang)
Muthia Bintang
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP
PERFORMANSI KARYAWAN
(STUDI KASUS: PKS. PTPN-II SAWIT SEBERANG)
Muthia Bintang
Staf Pengajar Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik UISU
Abstrak: Ability karyawan bagianproduksi pada PKS.PTPN-II Sawit Seberang sudah baik karena didukung
oleh pengalaman kerja yang cukup lama. Tetapi, motivation masih rendah karena lingkungan kerja kurang mendukung dan belum adanya jaminan sosial. Demikian juga opportunity masih rendah, karena belum adanya jaminan karir untuk masa yang akan datang.
Kata Kunci: Manajemen Sumber Daya Manusia.
Abstract: The ability of employ in a part of production in palm oil factory PTPN-II Sawit Seberang have been
good because supported by work experience which is long enough but, the motivation still low because work environment not so support and there isn’t social security guarantee. And also the opportunity still low because there isn’t career security for the future.
Key Word: Human Resource Management.
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Prestasi kerja karyawan mempunyai hubungan yang erat dengan performansi. Performansi kerja ini berkaitan dengan tingkat keterampilan/ kemampuan (ability), motivasi (motivation) dan kesempatan berkarir (opportunity). Dalam konteks pengembangan sumber daya manusia, ketiga unsur tersebut perlu mendapat perhatian yang khusus. 1.2. Perumusan Masalah
Rendahnya motivasi dan kesempatan berkarir para karyawan pada PKS. PTPN-II Sawit Seberang.
1.3. Tujuan dan Manfaat
a. Mendapatkan faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya motivasi dan kesempatan berkarir para karyawan serta upaya-upaya perbaikannya. b. Dapat sebagai rekomendasi bagi PKS, PTPN-II
Sawit Seberang.
II. LANDASAN TEORI
2.1. Performansi dan Prestasi Kerja
Performansi yang dimiliki para karyawan dapat dilihat dari tingkat prestasinya. Semakin tinggi prestasi kerja maka perfomansinya akan semakin tinggi, demikian pula sebaliknya. Jadi, performansi karyawan pada dasarnya adalah hasil kerja karyawan tersebut pada periode tertentu yang dibandingkan dengan berbagai faktor, seperti : standar, target, atau kriteria. Tingkat perfomansi karyawan juga dipengaruhi oleh keterampilan, motivasi dan kesempatan berkarir.
2.2. Populasi dan Sampel
Metode pemilihan sample terdiri dari
probability sampling dan non-probablity sampling.
Ada tiga cara pengambilan sample dengan metode
probability sampling yaitu simple random sampling, stratified random sampling dan cluster sampling.
Untuk metode non-probability samping, terdapat empat cara pengambilan sample yaitu quota
sampling, convenience sampling, area sampling dan purposive sampling.
Jumlah sample yang diambil ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin, yaitu :
2 1 Ne N n + = Keterangan : n = jumlah sampel N = jumlah populasi
e = tingkat toleransi jumlah sample (10%) 2.3. Diagram Sebab-Akibat
Diagram Sebab – Akibat adalah suatu diagram yang menunjukkan hubungan antara sebab dan akibat. Berkaitan dengan performansi karyawan, diagram ini dipergunakan untuk menunjukkan faktof-faktor penyebab (sebab) penurunan (akibat) yang disebabkan oleh factor-faktor penyebab tersebut. Diagram ini sering juga disebut diagram tulang ikan (fish bone diagram) dan diagram Ishikawa (Ishikawa’s diagram).
III. METODOLOGI
Seluruh data diperoleh melalui observasi, wawancara, penyebaran kuesioner dan studi dokumentasi. Untuk sampai kepada tujuan penelitian
digunakan pendekatan matematis dengan teori-teori statistic seperti Multiple Regression Linear Model dan uji-uji statistic yang berkaitan dengan objek penelitian.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengukuran terhadap korelasi factor-faktor yang berpengaruh terhadap performansi karyawan untuk variable keterampilan, motivasi dan kesempatan berkarir masing-masing sebesar 56%, 74% dan 13%. Keadaan ini memperlihatkan bahwa variaebl motivasi mempunyai pengaruh terbesar tehradap performansi karyawan, namun masih perlu ditingkatkan.
Secara rinci, factor-faktor yang berpengaruh terhadap performansi karyawan dari variable keterampilan, motivasi dan kesempatan berkarir dapat dilihat pada gambar-gambar dibawah ini.
V. KESIMPULAN
Diantara factor-faktor yang menyebabkan rendahnya motivasi karyawan adalah lingkungan kerja yang kurang mendukung dan jaminan social yang kurang diperhatikan oleh pihak perusahaan. Sedangkan factor-faktor yang menyebabkan rendahnya kesempatan berkarir bagi karyawan adalah kurangnya kesemaptan pengembangan karir dan tidak adanya jaminan hari tua dari perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA
Algifari, Analisis Statistik Untuk Bisnis, BPFE-Yogyakarta, BPFE-Yogyakarta, 1996.
Flippo, Edwin, B, Personnel Management, Edisi ke-6, Mc Graw Hill, New York, 1984.
Gasperz, Vincent, Manajemen Produktivitas Total, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1998.
Hasibuan, Malayu, Sp.H. Drs. Organisasi dan
Motivasi Dasar Peningkatan Produktivitas,
Bumi Aksara, Jakarta, 1996.
Nitisemito, Alex, Manajemen Sumber Daya
Manusia,. Ghalia, Jakarta, 1988.
Sagir, H. Soeharsono, Membangun Manusia Karya, Pustaka Sinar Harahap, Jakarta, 1996. Siagian, P. Sondang, Manajemen Sumber Daya
Manusia, Bumi Aksara Edisi I, Jakarta,
1992.
Sikula, Andrew, E, Personnel Administration and
Human Resources Management, John
Wixley And Sons, Santa Barbara New York, 1981.
Simanjuntak, J. Payaman, Pengantar Ekonomi
Sumber Daya Manusia, FE-UI, Jakarta,
1985.
Sudjana, Prof. Dr. MA, M.Sc. Tehnik Analisa
Regresi dan Korelasi, Tarsito, Bandung,
1996.
Sugiono, Dr. Metode Penelitian Bisnis, CV. Alfa Beta, Bandung, 1999.
Ucapan terima kasih kepada Sdr. M. Nuh yang telah memberikan penjelasan dalam tulisan ini. Semoga jasa-jasa Almarhum diteirma Allah SWT.
Model Konseptual Transformasi Manufaktur Konvensional Menjadi Sellular Terotomasi
Bakhtiar S.
MODEL KONSEPTUAL TRANSFORMASI MANUFAKTUR
KONVENSIONAL MENJADI SELLULAR TEROTOMASI
Bakhtiar S.
Jurusan Teknik Industri
Fakultas Teknik – Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, NAD
Email : [email protected]
Abstrak: Manufaktur sellular adalah sebuah strategi yang popular untuk memperbaiki kemampuan produksi
dan meningkatkan kemampuan perusahaan untuk bersaing. Implementasi manufaktur sellular akan memberikan dampak yang luas apabila diikuti dengan transformasi perusahaan. Transformasi peusahaan dilakukan karena lantai produksi telah berubah secara mendasar menjadi kelompok-kelompok kecil yang dikenal dengan sel-sel manufaktur. Tujuans tudi adalah pengembangan model konseptual trnasformasi perusahaan apabila job shop dikonversi menjadi manufaktur sellular terotomasi. Metode yang digunakan untuk menganalisa adalah soft system. Hasil pemodelan menghasilkan keterlibatan yang diperlukan, sumberdaya yang terbatas dan pengembangan para pekerja. Pendekatna soft system dapat memprediksi perubahan sebagai akibat transformasi.
Kata kunci : Model, soft system, konvensional, manufaktur sellular.
1. PENDAHULUAN
Konsep otomasi system produksi dapat diaplikasikan pada bermacam tingkat operasi-operasi pabrik. Teknologi otomasi merupakan proses atau prosedur penyelesaian suatu pekerjaan tanpa asitstensi kendali yangmelaksanakan instruksi-instruksi tersebut. Meskipun otomasi dapat diterapkan pada bermacam tingkat operasi-operasi pabrik. Umumnya otomasi diterapkan secara individual pada mesin-mesin produksi. Oleh karena itu, mesin-mesin produksi tersebut dioperasikan seabgai sub system yang diotomasi. Bentukan sub system yang diotomasi akan membentuk system yang terotomasi. Pembentukan otomasi ini menggambarkan adanya tingkatan-tingkatan otomasi pada sebuah pabrik. Menurut Groover (2001) tingkatan-tingkatan otomasi, yaitu : tingkat alat perlengkapan (device), tingkat mesin, tingkat sel atau system, tingkat pabrik dan tingkat perusahaan (enterprise).
Tingkat sel atau system yang dimaksudkan adalah sel manufaktur yang beroperasi dengan instruksi-isntruksi dari tingkat pabrik. Sebuah sel manufaktur adalah sekumpulan mesin-mesin atau stasiun-stasiun kerja yang dihubungkan dan didukung oleh system pemindahan bahan, komputer dan peralatan lainnya untuk melaksanakn operasi-operasi manufaktur. Fungsi - - fungsi yang terlibat antara part dispatching dan loading mesin, koordinasi sejumlah mesin dan sistem pemindahan bahan serta pengumpulan dan evaluasi data inspeksi. Sel-sel manufaktur merupakan persyaratan dalam penerapan system manufaktur sellular. Wujud konkretnya adalah tipe tata letak yang dibentuk dalam formasi sel-sel manufaktur.
Persaingan bisnis dan peningkatan
permintaan oleh apra pelaggan menyebabkan pelaku manufaktur merespon dengan cept dan menjaga agar biaya tetap rendah. Manufaktur sellular adalah suatu strategi yang popular untuk memenuhi kondisi-kndisi persaingan dan memperbaiki kemampuan produksi. Manfaat nyata dari implementasi manufaktur sellular telah dibahas oleh banyak literature (Ham dkk sellular mempromosikan semangat kepemilikan, kerja tim, perbaikan moral yang bersifat intangible yang merupakan hal vital dalam proses memperbaiki efektifitas perusahaan.
Banyak studi tentang manufatku sellular yang menitikberatkan poembahasan pada masalah-masalah pengelompokan mesin dan komponen atau desain sel (Mansouri dkk 2000). Padahal yang tidak kalah penting adalah dampak yang diteirma apabila manufaktur sellular diterapkan. Perubahan jobshop yang konvensional menjadi manufaktur sellular hakekatnya adalah suatu proses transformasi perusahaan secara menyeluruh. Perubahan menjadi manufaktur sellular merupakan perubahan dari kondisi sekarang (current state) menjadi kondisi masa depan yang diinginkan. Menurut Underdown (2001) transformasi perusahaan meliputi perubahan budaya, proses dan eknologi. Proses transformasi perlu direncanakan dengan baik sehingga sejak awal telah diyakini manfaat yang akan diperoleh secara strategis.
Persoalan yang muncul pada industri manufaktur yang telah mengkonversi tipe tata proses menjadi tata letak sellular apabila ingin menerangkan teknologi otomasi adalah metode atau prosedur yang harus digunakan sehingga memberikan informasi yang komprehensif sebagai dasar pengambil keputusan membuat keputusan. Berkaitan denganhal ini, perlu dikembangkan sebuah prosedur yang
terintegrasi untuk pendukung pengambilan keputusanyang rasional dalam proses mentransformasi job shop konvensional menjadi system manufaktur sellular terotomasi. Studi ini dilakukan pada perusahaan yang memproduksi peralatan pertanian sebagaikelanjutan penelitian sebelumnya dari Singgih dan Hadiguna (2003) dan Siswanto dan Hadiguna (2003) yang focus pada pernacangan sel-sel manufaktur dan tata letak sel.
2. TINJAUAN PUSTAKA
Perkembangan model-model dan teknik-teknik dalam system manufaktur sellular lebih mengarah pada masalah pengelompokkan dan tata letak sel yang dipandang sebagai hal yang terpisah (Hadigna, 2003d). hal ini dapat dilihat dari beberapa studi yang dilakukan oleh diantaranya Baker dan Maropoulus (1999), Baykasoglu dan Gindy (2000), daita dkk (1999), Efstathiou dan Golby (2001), Mansouri dkk (2000) dan Nair dkk (1999). Bagaimanapun masalah edsain system manufaktur sellular adalah pengelompokan komponen dan mesin serta pengaturan mesin-mesin pada intra dan inter
cell yang tersedia dengan tujuan mengoptimalkan objektif yang telah dinyatakan. Proses desain yang
menyeluruh dalam hal pengelompokkan hingga tata letak sel telah banyak dikembangkan seperti oleh Da-Silviera (1999), Efstathiou dan Golby (2001), Hadiguna dan Setiawan (2003a), Hadiguna dan Thahir (2004) dan Salum (2000).
Perkembangan dunia bisnis yang kompetitif mengharuskan proses desain system manufaktur sellular mempertimbangkan strategi bisnis (Hadiguna dan Mulki, 2003c). Pertimbangan ini biasanya dilibatkan pada tahap desain tata letak sel. Model simulasi yang mengadopsi hal ini diantaranya Altinklinic (2004) dan Rios dkk (2000). Pendekatan desain fasilitas manufaktur yang menggunakan secara eksplisit objektif tunggal (single objective) akan menghasilkan penyelesaian yang bisa terhadap kebutuhan perusahaan. Pelibatan beberapa objektif menjadi isu penting karena proses desain akan melibatkan faktor-faktor yang bekaitan dengan tujuan-tujuan strategis, ukuran-ukuran kinerja system dan keunggulan kompetitif dalam marketplace. Berdasarkan prosedur perencanana tata letak pabri, diharapkan dapat dibangkitkan beberpaa laternatif tata letak (Askin dan Stanridge, 1994). Tata letak yan merupakan permasalahan tata letak diselesaikan denganmembangkitkan beebrapa alternative tata letak dalam hal ini tata letak. Hal ini ditujukan untuk menghasilkan system yang memenuhi kebutuhan perusahaan yang telah dirumuskan pada fase persiapan. Pembangkitan alternative tata letak dilakukan pada fase definisi. Keputusan untuk menginstal tata letak terpilih dilakukan pada fase instalasi dimana hasil desain tata letak yang terdiri dari ebberapa lternatif dipilih dengan mengakomodir kebutuhan perusaahan. Paper ini bertujuan untuk membahas bagaimana cara mengambil keputusan
pemilihan tata letak yang dpat mengakomodasi kebutuhan perusahaan. Asumsi yang digunakan adalah alternative tata letak mempunyai kelayakan untuk diimplementasikan.
Model lainnya yang umum digunakan dalam proses desain adalah siulasi. Simulai manufaktur telah emnjadi sebuah area aplikasi primer dari teknologi simulasi. Simulasi telah menjadipendekatan yang cukup luas yang digunakan untuk memperbaiki dan menvalidasi desain sisem manufaktur secara luas. Aplikasi simulasi pada system manufaktur termasuk desain fasilitas maupun pemodelan rantai pasok perusahaan secara luas. Tipe simulasi manufaktur biasanya diguankan untuk memperdiksi performansi system atau membandingan dua atau lebih desain system atau skenario. Hal ini berarti bahwa kemampuan untuk mengembangkan dan mengurai model-model simulasi dengan cepat dan efektif sangat penting. Menurut Perera dan Liyanage (2000) sejumlah faktor yang menghalangi proses pemodelan simulasi antara lain pengumpulan data yang kurang efisien, dokumentasi model yang panjang dan buruknya perencanaan eksperimen. Dalam pemodelan simulasi manufaktur hal yang tidak kalah pentingnya adlaah proses analisis sitem. Dalam mengembangkan model simulasi system manufaktur khususnya untuk tujuan studi mengevaluasi performansi system, maka prosedur pengembangan model menjadi hal yang krusial. IDEF0 merupakan model fungsional yang diwujudkan dalam bentuk terstruktur dan semantic. Model IDEF0 mengandalkan pada konsistensi pendeskription system. Pemodelan IDEF0 banyak digunakan dalam menganalisis dan mengevaluasi system manufaktur khususnya untuk evaluasi performansi (Pawlikowski dan Kreutzer, 2000 : Hadiguan, 2003f). Secara umum, proses desain sebagai bagain proses transformasi belum memperhatikan aspek proses manajemen. Proses menajamen merupakan interaksi antar amanusia dengan sumber daya yang selalu dipengaruhi oleh dinamika situasi. Dinamika situasi ini biasnaya problematic.
3. METODOLOGI
Studi ini dilakukan menggunakan sof system
methodology yang dimulai dengan pendefisian
bukan suatu masalah tetapi situasi masalah. Metodologi dalam studi ini adalah problematika transformasi perusahaan atau organisasi dengan mengimplementasikan manufaktur sellular. Langkah kedua adalah mengekpresikan situasi. Pada tahap ini yang dilakukan adlaah mempelajari situasi yang ada pada perusahaan secra komprehensif. Hasil studi terhadap situsi direpresntasikan dalam bentuk gambar yaitu rich picture. Hasil studi terhadap situasi direpresntasikan dalam bentuk gambar konsisten sehingga dapat diinterpretasikan lebih mudah. Hal yang ingin dicapai pada rencana implementasi manufaktur selluler. Ketiga adalah
Model Konseptual Transformasi Manufaktur Konvensional Menjadi Sellular Terotomasi
Bakhtiar S.
mendefinisikan masalah dan menggambarkan keterkaitan aktivitas yang akan mengarah pada penyelesaian masalah. Keempat menyusun rumusan rekomendasi berdasarkan kajian kritis yang dihasilkan dari model fungsional yang diperoleh.
4. PEMODELAN SISTEM RELEVAN
Pemilihan system yang relevan didasarkan pada situasi dimana rancangan sel-sel manufaktur telah dilakukan dan siap untuk diimplementasikan. System relevan yang dipilih adalah system yang dapat memprediksi manfaat yang akan diperoleh perusahaan dengan mengimplementasikan manufaktur sellular. Hal ini termasuk upaya transformasi yang akan terjadi dengan mengimplementasikan manufaktur sellular. Model konseptual yang akan dikembangkan mengacu pada
Root Definition (RD). Tipe RD yang dipilih dalam
kasus ini adalah primary tasks based. Adapun formulasi RD-nya adalah Sistem yang dimiliki dan
diopersikan oleh pemilik perusahaan untuk memanufaktur produk alat pertanian untuk pelanggan pasar Asia melalui implementasi konsep manufaktur sellular terotomasi guna peningkatan keuntungan dan manfaat yang dibatasi oleh daya manfaat yang dibatasi oleh daya saing competitor.
Formulasi RD diats perlu diuji atau verifikasi menggunakan pendekatan CATWOE. Terlihat bahwa system yang dipilih memandang pelanggan pasar Asia sebagai Customer. Actor yang melaksanakan transformasi adalah Pemilik Perusahaan. Transformation dari system adalah me-manufacture produk alat pertanian dengan Worldview yang dianut implementasi konsep manufaktur sellular terotomasi guna peningkatan keuntungan dan manfaat. Owner dari system adalah Pemilik Perusahaan dengan Environment daya saing competitor. Model konseptual transformasi manufaktur konvensional menjadi sellular terotomasi dapat dilihat pada Gambar 2.
5. REKOMENDASI DAN PEMBAHASAN
5.1. Rekomendasi
Manufaktur sellular menghasilkan budaya baru melalui perubahan lingkungan kerja fisik. Manufaktur sellular membutuhkan pengelompokan peralatan dan pekerja dalam bentuk konfigurasi lingkaran atau bentuk U. Setiap sel akan terbentuk budaya mikro dimana terjadinya interaksi antara pekerja dalam sel. Terbentuknya sub-sub budaya baru akan menjadibudaya baru secara keseluruah dilantaiproduksi yang pada akhirnya akan memberikan pengaruh pada budaya perusahaan secara total. Pembentukan budaya baru dalam sel didorong oleh sense of accomplishment. Hal ini terjadi karena setiap sel mempunyai tanggung jawab pada part families yang dibebakan (Askin dan Standridge 1993). Berdasarkan sel dengan mudah dapat diukur peformansi pekerja karena dapat diketahui kontribusi setiap sel dalam menghasilkan
keluaran. Dalam tata letak fungsional, pekerja bekerja pada area tertentu dengan jenis mesin yang sama sehingga keluaran yang dihasilkan bukanlah komponen yang completed. Kesalahan yang menyebabkan komponen atau produk cacat sulit dideteksi pekerja yang harus bertanggung jawab.
Bentuk budaya yang akan lebih menonjol adalah budaya kerjasama (teamwork). Konfigurasi sellular membutuhkan pekerja untuk bekerja bersama untuk mencapai tujuan bersama. Anggota sel harus bekerja berdekatan dengan pelanggan dan
supplier internal untuk memproduksi produk secara
efisien dan efektif. Bentuk kerjasama dapat diwujudkan dalam tanggung jawab seperti penjadualan, keselamatan dan kualitas (Aurrecoechea dkk, 1994) serta pembelian (Singh, 1996). Budaya belajar juga akan menjadi hal yang tidak kalah pentingnya. Budaya ini muncul karena pekerja yang menjadi anggota sel tertentu akan berusaha menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam selnya. Proses kemandirian tim dalam menyelesaikan masalah dalam sel akan mendorong terciptanya budaya belajar.
Manufaktur sellular menghasilkan proses-proses baru melalui pengelompokan mesin-mesin dengan konfigurasi berbentuk lingkatan dan “U” untuk memproduksi part families. Konversi tata letak fungsional menjadi manufaktur sellular akan memberikan manfaat yang sangat besar (Groover 2001). Perubahan yang dramatic sebagai manfaat yang diperoleh dari perubahan berdasarkan proses ini akan memperbaiki kinerja dari perusahaan secara keseluruhan. Dalam penelitian Underdown (2001) menyimpulkan bahwa pengurangan work in process mencapai 65%-85%, pengurangan cycle time 86,5%, pengurangan harga pokok penjualan 42%, penghematan material 24% dan peningkatan profit mencapai 80%. Hal ini tentu saja sangat mendongkrak kinerja perusahaan dan pada akhirnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan para pekerja.
berdasarkan keperluan manajemen. Salah satu yang memberikan biaya yang nyata dalam perpindahan menjadi konfigurasi sellular adalah pembentukansel-sel. Di banyak kasus, peralatan tambahan diperlukan untuk mendapatkan sel-sel yang berkinerja tinggi. Adakalanya perusahaan harus berinvestasi dengan membeli mesin/peralatan baru agar mesin-mesin dan peralatan yang ada pada setiap sel mempunyai kapabilitas yang tinggi. Kapabilitas ini akan mempengaruhi keseimbangan lintasan didalam sel ataupun antar sel.
5.2. Pembahasan
Manufaktur sellular dalam perusahaan sekala kecil dan menengah bukan hanya suatu perubahan tata letak, tetapi suatu perubahan besar dalam proses bisnis. Implementasi ini adalah suatu mekanisme untuk transformasi dalam perusahaan skala kecil dan menengah. Ketika perubahan dilantai produksi dilakukan menjadi sel-sel, maka aktivits perkantoran dan manufaktur juga mengalami perubahan sehingga yang terjadi lebih jauh lagi akan mempersatukan perubahan dari segi proses dan budaya terutama sekali apabila dikombinasikan dengan kerjasama ini. Dampak sel-sel terhadap budaya adalah lebih besar ditemui pada perusahaan sekala kecil dibandingkan dengan yang berskala besar. Jika perusahaan kecil sepenuhnya berubah menjadi sel-sel, dampak terhadap budaya adalah lebih besar. Jika perusahaan kecil sepenuhnya berubah menjadi sel-sel, dampak terhadap budaya akan lebih besar karena setiap orang didalam perusahaan akan ikut terlibat. Dalam perusahaan besar, kemungkinan tidak sepenuhnya beranjak menjadis el-sel sehingga tidak semua orang didalam perusahaan terlibat dan dampak budaya tidak akan terllau besar. Sel-sel akan membawa banyak interaksi antara pekerja administrasi dan manufaktur dan antara sesame pekerja manufaktur karena pekerja akan berpindah dari satu sel ke sel lainnya sebagai fungsi permintaan produk. Keterkaitan yang saling bergantung ditemukan pada sel-sel dan antar sel-sel yang mana tenaga kerja sel-sel mengkomunikasikan aktivitasnya lebih dari yang ditemukan pada lingkungan konvensional. Sel-sel seringkali menjadi pabrik mini yang mengkomunikasikan aktivitasnya pada pelanggan dan supplier internal yang berdasarkan tanggung jawab secara mandiri untuk mencapaiprofitabilitas untuk setiap selnya.
Implementasi manufaktur sellular untuk peusahaan kecil dan menengah secara normal membutuhkan keterlibatan persentase tenaga kerja yang besar, sedangkan perusahaan besar sebaliknya. Tata letak dan pergerakan peralatan di area produksi untuk manufaktur sellular pada perusahaan kecil dan menengah membutuhkan usaha yang besar dari pada pekerja produksi. Implementasi manufaktur sellular termasuk membutuhkan jumlah besar pekerja yang mempunyai fungsi berbeda-beda. Keterlibatan peekrja dalam persentase yang besar dengan sasaran
yang sama (common goal) adalah suatu mekanisme bernilai untuk transformasi. Sebagai efek, implementasi sel-sel menghasilkan sejumlah kritis pendukung unutk mengubah perusahaan kecil dan menengah. Pada perusahaan besar, suatu transisi menjadi manufaktur sellular mungkin tidak membutuhkan tingkat usaha yang mendukung transformasi. Perusahaan sebaiknya melibatkanseluruh pekerja dalam proses perancangan
dan implementasi manufaktur sellular sehingga merasa berkontribusi dalam perusahaan system yang akan mereka hadapi nantinya. Apabila yang terlibat hanya pada tingkat supervisor dan manajemen maka resiko kegagalan dalam implementasi sangat besar.
Manufaktur sellular merupakan fondasi bagi system produksi Just In Time (JIT). Pada perusahaan besar yang mengimplementasikan manufaktur sellular dapat menyebabkan proses sebelum dan sesudah sel-sel terbentuk untuk menerapkan sistem JIT belum tentu berhasil. Pada perusahaan kecil dan menengah upaya menerapkan system JIT setelah sel-sel terbentuk berpotensi besar untuk berhasil.
6. KESIMPULAN
Model menghasilkan keterlibatan yang diperlukan, sumberdaya yang tebratas dan pengembangan para pekerja serta mampu memprediksi perubahan sebagai akibat transformasi. Manufaktur sellular menghasilkan budaya baru melaluiperubahan lingkungan kerja fisik. Manufaktur sellular membutuhkan pengelompokkan perlaatan dan pekerja dalam bentuk konfiugrasi lingkaran atau bentuk U. setiap sel akan terbentuk budaya mikro dimana terjadinya interaksi antara pekerja dalam sel. Hal ini terjadi karena setiap sel mempunyai tanggung jawba pada part families yang dibebankan.
Manufaktur sellular metransfer teknlogi berdasarkan keperluan manajemen. Salah satu yang memebrikan biaya yang nyata dlaam perpindahan menjadi konfigurasi sellular adalah pembentukan sel-sel. Di banyak kasus, peralatan tambahan diperlukan untuk mendapatkan sel-sel yang berkinerja tinggi. Adakalanya perusahaan harus berinvestasi dengan menerapkan strategi otomaso sel agar mempunyai kapabilitas yang tinggi. Kapabilitas ini akan mempengaruhi keseimbangan lintasan didalam sel ataupun antar sel. Pada perusahaan besar yang mengimplementasikan manufaktur sellular upaya menerapkan otomasi setelah sel-sel terbentuk berpotensi besar untuk berhasil.
REFERENSI
Altinklininc, M. (2004), Simulation based Layout Planning of A Production Plant, Proceeding
of the 2004 Winter Simulation Conference,
1079-1084.
Askin, R.G. dan Standridge, C.R (1993), Modelling
and Analysis of Manufacturing Systems,
Model Konseptual Transformasi Manufaktur Konvensional Menjadi Sellular Terotomasi
Bakhtiar S.
Aurrecoechea, A., Busby, J.S., Nimmons, T., dan Williams, G.M. (1994), The Evaluation of Manufacturing Cell Design, International
Journal of Operations and Production Management, 14 (1), 60-74.
Baker, R.P dan Maropoulos, P.G. (2000), Cell Design and Continuous Improvement,
International Journal Computer Integratef Manufacturing, 13 (6), 522-532.
Benjafaar, S., Heragu, S.S. dan Irani, S.A. (2001), Next Generation Fctory Layouts : Research Challenges and Recent Progress, Interfaces. Banks, J. (2000), Introduction to Simulation,
Proceedings of the 2000 Winter Simulation Conference, Pp. 9-16.
Baykasoglu, A. dan Gindy, N.N.Z. (2000), MOCACEF 1.0: Multiple Objective Capability Based Approach to From Part-Machine Groups for Cellular Manufacturing Applications, International Journal of
Production Research, 38(5), 1133-1166.
Carrie, A. S. dan Banerjee, S.K. (1994), Desgn of
CIM Based Manufacturing Systems.
Department of Design, Manufacture and Engineering Management, University of Strathclyde.
Chan, F.R.S. dan Abhary, K. (1996), Design and Evaluation of Automated Cellular Manufacturing Systems with Simulation Modelling and AHP Approach : A Case Study, Journal of Integrated Manufacturing
Systems, 7(6), 39-52.
Da Silviera, G. (1999), A Methodology of Implementation of Cellular Manufacturing,
International Journal of Production Research, 37 (2), 467-479.
Eilson, B. (2001), Soft Systems Methodology:
Conceptual Model Building and Its Contribution, John Wiley & Sons, Ltd.,
Chicester, UK.
Efstathiou, J. dan Golby, P. (2001), Application of A Simple Method of Cell Design Accounting for Product Demand and Operation Sequence, Integrated Manufacturing Systems, 12 (4), 246-257.
Groover, M.P (2001), Automation, Production
Systems and Computer Integrated Manufacturing, Prenctice –Hall Inc, New
Jersey.
Ham I., Hitomi, K dan Yoshida, T. (1985), Group
Technology, Applications to Production Management, Kluwer-Nijhoff Publishing,
Boston.
Hadiguna, R.A. dan Setiawan, H. (200a), Desain dan Evaluasi Sel Manufaktur Multi Kriteria,
Jurnal Teknik Industri STT Musi, 3 (1), 21-32.
Hadiguna, R.A. (2003b), Prosedur Multi Objektif untuk Keputusan Pemilihan Formasi Sel Manufaktur, Proceeding 2nd National Industial engineering Conference,
Universitas Surabaya, 8-16.
Hadiguna, R.A. dan Mulki B.S. (2003c), Desain Manufaktur Sellular dengan Mempertimbangkan Strategi Bisnis,
Proceeding Simposium Nasional RAPI II Universitas Muhammadiyah Surakarta,
100-107.
Hadiguna, R.A. (2003d), Sistem Manufaktur Sellular : Sebuah Tinjauan dan Survei Pustaka,
Jurnal Teknik Industri UNAND, 2(4), 129-135.
Hadiguna, R.A. dan Wirdianto, E. (2003c), Model Penyelesaian Masalah Pemilihan Alternatif Tata Letak, Jurnal Sains dan Teknologi
STTIND, 2(2), 88-97.
Hadiguna, R.A. (2003f), Pemodelan Simulasi Sistem Manufaktur Berbantuan IDEF0, Jurnal
Spekturm Industri, 1 (1), 31-37.
Hadiguna, R.A. dan Thahir, M. (2004), Desain Formasi Sel Manufaktur dengan Mempertimbangkan Preferensi Manajemen,
Prosiding seminar Nasional Teknologi Industri XII ITS, `061-1068.
Huang, H. dan Irani, S.A. (2002), Ideas for Design of
Future Factories: Hybrid Cellular Layouts for Machining and Fabrication Jobshops,
Paper, Departement of Industrial, Welding and System Engineering, The Ohio State University, Columbus, OH.
Mansouri, S. A., Husseini, S.M.M. dan Newman, S.T (2000), A Review of The Modern Approaches to Multi-Criteria Cell Design,
International Journal of Production Research, 38 (5), 1201-1218.
Meyers, F.E dan Stephens, M.P (2000),
Manufacturing Facilities Design and Material Handling, 2nd Edition,
Prentice-Hall, Inc., New Jersey.
Nair, G.J dan Narendran, T.T. (199), ACCORD : A Bicriterion Algorithm for Cell Formation Using Ordinal and Ratio-Level Data,
International Jorunal of Production Research, 37(3), 539-556.
Onwubolu, G.C. (1998), Redesigning Jobshops to Cellular Manufacturing Systems, Integrated