olume 31 j 0.2 Oktober2009 ISS 1978·340x
Yustitia
KO SISTE I VERTlKAL PAOA SUB EK HU UM PERU OJ G PERJA JIA KERJA BERSAMA
KRISJS PE EGAKA HUKUM OJ I DO ESIA
JUR AL ILMIAH FAKULT
niver ita
Muhammadiyah
PE. BAHARUA AUKUM ISLAM DI LI GKU G 1 BA K SYARIAH
PEMBERDAYAA LEMBAGA MEDIASl OJ P
PE ATAA KELEMBAGAA PERTA AHA OJ I DO ESIA DALAM PRESPEKTIF TATA KELEMB GAA • EG RA H K KO STITUSJO Al WARGA EGARA ATAS PEL
KESEHAT OJ ERA OTO OMI OAERAH
PEMBAGIA KEWE A GA PEMERJ TAHAN DAlAM PE GElOLAA P JAK
Oiterbitkan Oleh
Fakultas Aukum
j,(,lI\.l.VtysttAS ML.c.kA~~atl1Ah SL.c.YAbAl1A
Jurnal Ilmiah Yustitia terbit pertama kali
Yustitia
pada bulan April2007. Diterbitkan dua kali JURNAL ILMIAH FAKULTAS HUKUM
Universitas Muhammadiyah Surabaya setahun pada bulan April
dan Oktober oleh Fakurtas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya untuk mengkaji isu hukum secara mendalam dari berbagai segi guna menunjang pembangunan nasional. Untuk itu jurnal Ilmiah ini dapat dijadikan forum untuk saling tukar menukar informasi, khususnya di bidang
hasil-ha~il penelitian antara sarjana, cendikiawan dan pemerhati
masalah hukum. Diharapkan adanya kerjasama antara Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta khususnya di bidang penelitian dengan lembaga pemerintahan dalam rangka menciptakan hukum yang baik.
Susunan Redaksi
Pelaksana
di
jumal
ini terdiri
dari :
Pelindung : Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, Penasehat : Para Pembantu Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, Pimpinan Umum dan Penanggung Jawab : Dekan Fakultas HukuITI Universitas Muhammadiyah Surabayd, Ketua Penyunting dan Penyelia : Asri Wijayanti, S.H., MH., Wakil Penyunting : Sudarso, S.H., Penyunting Pelaksana : Umar Sholahuddin, S.sos dan Muridah Isnawati, S.H. Mitra Bestari : Prof. Dr. Sri Hayati, S.H., MH., Prof. Dr. Zaidun, S.H., MS, Dr. Vluhammlld Ridwan, S.H., MH. Pemasaran dan Distribusi : Umar Sholahuddin, S.sos.
Alamat Penerbit
Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya Gedung A U. 3 Ji. Sutorejo 59 Surabaya
Telp. 031-3811966, Faks. 031-3813096 [-mail: [email protected]
V(llume}, NO.2 Oklober 2009 ISS N 'I 978-340x
Yustitia
JDRNAL ILMIAH FAKULTAS HUKU1\tf
0niversitas
Muhan1nladiyah
Surabaya
Pcmb.lharuan lIukul1l [slam eli Lingkung.lll B,lnk Syarial'.
Pcmbcrdayaan LCl lb~ga
Mediasi di PN
Inkonsistensi vertikal pada subyek hukulllperundingan perjanjian kerja bersama
Penataan Kelembagaan Pert;mahan di Indonesia dalam prespektif tata kelembagaall negara
Hak Konstitusional "Varga Ncgara Atas Pcl.lyanan Kcsehatan di Era Otono1l.1i Daerah
Krisis Penegakan Hukulll di Llli(wesia Pembagian Kcwenangan Pemerintahan daLlm
Pengelolaan Pajak Dilerbitkan Ol<?h :
FakuiLls Hukum
lA..V\-~\/ersLtGls MuVlU v~VV\.Cl
dLrJ aVI Sura ba
tJ
Cl,~c.,-,Q-;"" .,111
._0 J _ . . . . " • ..,. "'v_'"
\/o!t:::nc 3, ~~o. 2 Oktcber 2009
Daftar lsi
Pembaharuan Hukum Islam di Lingkungan Bank Syariah
A bdShoiiic,d ( 13)
Pl'"!mberdayaan Lembaga Mediasi di PN
Bambang Sugeng AS (133)
perjanjian kerja bersama
Asri WijaycUlti
Inkonsistensi vertikal pada subyek hukum
(148)
penmdingan
Ppnllffliln Kelemhilg<litn P(>rllm~hiln di lndon(>si<l cf\ll<l1ll prp<;pE'kfif
tata kclembaga.m negara
Sri Winarsi «155)
Hak KOllstitusional War~a NeAara Atas Pelayanan Kesehatan di
Era Otonomi Daerah
lndria \Vahyuni «(176)
K isis Penegakan Hukum di Indonesia
r
.inda Kurnia I Iadi Putra ( I(5)Pembagian Kewen.angan Pemerintahan dalam Pengelolaan }>ajak
idi'l i\)'l1 Cllsti Fill ri Ki'lrl iki'l (2011)
-,';' edaksi menerima suillhdngan lIIlisanl artikp
II
pubJikasipeJwliticll1 adal'i b"rbagai pihClk y,U1g bertemakcU1 hukull\. Naskah
tuliSc.1l1 bersifat lln1iah ym1g beltll11 I~cn11111 ditrrbitl<Ul1 tialanl media cetak lain, diketik dengan menggunakan pengol<"~l dal" MS Word, book antiqua, spasi 1,5 selebal 8-Ei halaman, A4 dalam bentuk naskah di'l11 CD. Atau lnelalui e- mail. Margin atas dan \';;,14 em, bawa.h, dari kanan 3 em. serla menggtrnakan huruf book antiqua 12. Kutipan menggunakan catatan pemt. Abstrak menggunakan bahasa Inggris mak,ima15 barir. dengan 3 sampai 5 kata kunci. Redaksi nerhak mengarahkan penulisan tanpa
·.Hengubah is.idan maknanyct.
j
- - _ . _ - -
• •
PCliibagtdn K(-:Vi1eHc1Jlgall
I efnednlahan
(~alalnPengelolaan Pajak
TdJAyu
Gush Putri KaTtika7Pcndah ul t:an
Pajak adalah f,ejala masyarakat, <lrtinya pajak hanya ada di ddam masyarakat. Biaya hidup negara adaJah untuk kelangsungan alal-alilt n\~~ar(l: ilominist-rasi nt>f-ara, lemhaea nep;ara, dan setP'lllsnya
dim hams dibiayai dari penghasilan negaril. Penghasilan negara bE'l"asal dari rakyatnya melalui pungutan pajak, dan/1tau dari hasil kekayaan alam yang ada di dalam negaril itll (natural resources). DUel
s\,'mbef i!1.1 Il\I?I"UpakE"m ~umber yang terpenting y,mg memberikan p@nghasilan kepada negara unluk membiayai kepentingan llmum
}"mg tlkhimya juga men)'angkut kepcntingtl individu. Jadi dimana ada kepenLingan masyarakat, disitu timbul punguhm pajuk sehi.r1gl~a
n "J' L·",1;, Ld, Sf" n";l ,.,,,, ,1(On ,,, '" L "pi>!' t-i I" (T'·'11 U n\llm
t.~~ A'~ • •~_~ ~"" ~··)~·'·"'·""·'-·"'t?·~"".r... •· ,. \. ... 'll...,(...l ... •
PPllyr,!pnggilrdcul P~'1l1 orinilihilll S CLlfil r'lill bdI1)'uk llwnggtUliIkdTl
.
-
st!mber U"ll1d, dpdl g diserl 'dengan pemb, 19LU1cU\.SLUUber-sumberVClng palla daSdn1Yd dikclnla l~engan k tClt. Penerim,'an p~:m ~ri.ntah
!llt'll1jJiki arti yang hlas, melipuli jak, ildsiJ pnjualdl1 bMr111E d.ln jasa yang' dimiliki dan dihasilk<lll olch pcmerintah, pinjamrUl
F~ci11crb1tab B"LC11C\_'tilk ~~i.1n.g {h~11 J("b(lgc.~ir1}Pi.1~ PCI1ClJ..l.'1l1t 1i.11.nl
ll1f'ngalakcll1 bahwa pen >rilllilnn Ncgara berasal dari: (a), pung.Jlan, (b). pinjamaJ1 , (c). Pl'nciplClan uang barn; pungutan Sl'lIdiri mE'rnpakan nama himpunan yilng meliputi pajak, rl'tribusi, Siiillb(.11?~dii, nl\)il\)po~il pU;igl.itdli-r)tlil~~tita:n lau,. Selain itu cfikatakcl11
pula bahwd dpa yang dilerima deh pell1l'rintah suatu negm Cl dapat hermaC<1m-lllaCilm: pajak, retribusi, hasil perusahaan negara, dinas
dinas, pinji'lman, granL (jika acta). Jika disederhanakan, penerilJl<1i:lll negu. ra d(~PCI t (1 ibe;\.it1 kall (l t,,1 S l;c n(~-rinlfi(111 pujak dill1 !-flll€rilrlaa1t
bukan pajak.
, DOSI.:I1 FE Linivt:l :;i(as LiJayana
'"
Dana J aJl~~ dipEigunakan si'bagai baltai' j1f>nyuStinari anggaran l1f:.'gara di Indtmesia berasal dClfi berbagai sumber ppndapatall, mcliputi: Pendapi:lI(Ul Di1Jmn Ncgc·ri (1<111 P('lwril1Will1
Pembanguna11. Pel'ldapatan Dalam Negcri InpUpul-i PE'rlPl'illlaan
\·1ii1},'ak Buntl dail Gas ~A.lanl (~v1jga5) .jan. I)f:lh~rijl',8(jil dih.iclr ~v"liilY(lk
13umi dan Gas Alam (Non-Migas) terdiri dari Pajak PCllghasil,m.;
Pajak Pertamb:than Nilai Barang dan Jasa, dilll Pajak Penjual<nl Alas
Barang Mewah; Bea Masak dan Cukai; Pajak Ekspor; Pajak Bllll1i dan Bangunan; Piljak lalImya; Pent;i'inlilitil )\,J --ji-]'(,j" k. f\··ncrli"nc",i' Pembangunan meliputi Bantuan Prognnn.dan B<1JlhliU1 I'royE'k.
Negara Republik Indonesia sebagai :'\egar, Kesahwn
ulengan1.1t asas deS€11tralisasi dalarrl 1,el1yelarlggarat-ul perri.erirltah.311,
dengan memberikcm kesempatan clan keleluasaan kepada Daerah untuk menyelcn,ggarakan Otonomi Daerah. B€'rdasarkzlJ1. kt"tenillan Pasal 18 Und,mp,- "ndang Dasar 1945, balm a pembagian daerah
Jnd· )liesifi ntas doeral1 bEsar dan k~Lil, (tt~il~~dl1 ben: Ll k ~a n sUS'..i"nC1i'i
pemerintahannya di'etapkan dengan Cndang-Undan, .
Dalam penjelasan pasal tersebut dijelaskankan ball\vd "Oleh
karel11 r'.Jegara Indonesia itu Stlatu eCiiheidssfac7f, nlakrt JT1dol1f:sio
tidak akan mempunyai Daerah dalam lingk."l.U1gannva yang bersifat staat juga". Daerah Indonesia akan dibagi daJam DaE'rah Propinsi, dan Daerah Propinsi ~kan d6agi dalam daerclh ) ang lebill keeB. Di
da(""ja.h-daerrUl..l y~ang bersifat otOfiOill (sf reck eii locale
rcehtgcmeellsc},lIppell) atau hersifat adlllinistrasi ht'lak<l, sellluanYil
I>lcnurul aturan yang akan ditetapkan d<.'I1!~(ln Undill1f'-Undilllg. Di di'erah-daerah yang bersifat olonom akal1 diadakan Baclan Pervvakil(ili Di,prah. Oleh karen" it,l di d.(wrc,hp"iiil, pt.'merintcd, "ki;j, bersendi atas dascu' penlltlsynwamlan.
Pt~nyelengg,lraan d.esentralisasi nHlsyarakal p\:'mbagian llrUSCltl ··~-"r·"'~l'~·· r:'1~ar" D~l"~-l1'""'!' .-l~. . . . ~_, Tl .••.,~'";... " I . r... -..1•
.P~J.1L~ uno 1a.L1 cu l a J e JlCJ. llC,lJ.l ' - l t J '!SCJ.1 I 1 c.::tJILoljJll(U, l../U'(-;~(Ul.
Pmnhtlgi<\l1. \l r\lsnn p('n,I.'ri n ti,hiU' tl'rs('bu I dida!:iA rk,lI" padII
pemikiran bahwa selalu terdapat berbagili llI"usan p('Ilwrinlahan yang sepenuhnya
I
tetap menjndi kewr.nnngal1 p('llH'rilllah. Dpl1gilnadanya penjelusan pasal18 UUD [945 terse-h..it tCi',l,lpat 5 l'dl p.'nhi1·~
ten tang pt'merintahan Dat::rah :
':1(V1 ~v,
1. Dalam negara Indonesia t.idak terdapat negara h.tgMn . .
dalam istilah Penjelasan tidak memiliki daerah yang
beasifal
staat juga. Artinya negara Indonesia sebagai negua kesatnan
tidak memilikinegara bagian di dalamnyai
2. Daerah Indonesia akan dibagi dalam daerah propinsi dan
d"lerah propinsi akan dibagi dalam daerah yang lebih
kecili
3. Daerah-daerall propinsi maupun daerah yang Iebih keeil adayang bersifat otonom dan ada pula yang bersifat daerah ac1ministrasi belakai
4. Pemerintah daerah baik propinsi maupwl daerah yang lebih kedl hams berdasarkan aturan yang ditetapkan dengan undang-uridang.
•
5. Pemerintah daerah hams memperhatikan bekas-bekas daerah s"vapnlja dan kesaluan hukum masyarakat pribumi. Daerah daerah swapraja dan kesatuan masyarakat hukum pribumi yang memHiki SUSW1aI\ asli hams diperhatikan untuk
dijadikan pemerintah daerah yang- bersifat istimewa setelah
dilakukiUl pembaman
yaitu dengan mengadopsi sistem demokrasi dalam siste m pemerintahannya.
..
Rondinelli memmuskan: Dcsmt,.alizlltioll is tile tralitifi:r of planning, decision making, or admillistratiTJe authority from the central Kovernment to its orgallimtions, Wall administrative units, semi auton011l0Uf and parastatf.il organi: Ation, lornl government, or '1OlJgcmemmfllt orgalliz,7ti-m. (Desentralisasi adalah penyerahan perencanaan, pembuatan kep,.1tusan, atau kewenangan administratif dari pemer:ntah pusat kepada organisasi wilayah, satuan administratif daerah, organisasi semi otonom, pemerintah daerah, atau orgmisasi non pemerintah/lembaga swadaya masyarakat)Desentralisasi dalam pandangan Rondinelli mencakup dekonsentrasi, devolusi, pelimpahan pada lembaga semi otonom (delegasi), dan pelimpahan pada lembaga non pemerintah
(privatisasz).
1) Dekonsentrasi adalah penyera.'\...an beba.-. kerja da...-i kementrian pusat kepada pejabat-pejabatnya yang berada di wilayah. Penycrahan ini tidak diikuti oleh kewemmgan keputusan dan diskresi untuk melaksanakannya.
2) Devolusi yaitu pe]epasan fungsi-fungsi tertentu dari pemerintah pusat untuk membuat satuan pemerintah baru yang tidak dikontrol
secara
langsung. Tujuan devolusi untuk memperkuat satulUt pl'!merintahan di bawah pemerintah pusat dengancaa
mendelegasikan fungsi dan kewenangan.Devolusi dalam bentuknya' Y2'ng paling mum memiJiki lima em fundamental :Unit pemerintahan setempat bersifat otonom, mandiri, dan secara tegas terpisah dari tingkaHingkat pemerinta.;an. Pemerintah pusat tidak melakukan pengawasan langsung terhadapnya; Unit pemerintahan tersebut diakui memiliki batas geografi yang jelas dan legal yang mempunyni wewenang untuk melakukan tugas-tugas umum pemerintahan; Pemeiintah d lerah berstatus badan hukum dan memiliki kekuasaan untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya yang dimlliki. untuk mendukunG pelaksanaan tugasnya; Pemelintah daerah diakui oJeh warganya sebagai su"tiJ lembaga yang aklUt memberikan pe1ayanan kepada masyarakRt dan memenuhi kebutuhan mereka. Oleh karena itu, pemerintah daerah ini mernpunyai pengaruh dan kewibawaan terhddap warganya; Terdapat hubungan saling menguntungkan m€lalui koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerlnta..'; daerah Scrta unit-unit organisasi Jainnya dalam suatu sistem pemerintahan.
Oleh karena itu, pemerintah daerah adalah bagian dari
~emerintah nasional dan bukan sebagai elemen yang independen
dari pemerintah pusat. Dalam devolusi tidak ada h.irarki anlara pemerintah daerah satu dengan pemerintah daerah lainn)'d, karen" yang menjadi dasar adalah koonlinasi dan sisten:t saling hubungan antara satu unit dengan unit lain s~eara independen dlUt timbal balik.
Pelimpahan wewenang pada lembaga semi otonom (d(!le~ar.i).
Pendelegasian menyebabkan pemindahan atau penciptaan kewenangan yang luas pada suatu organisasi yang sef:ara teknis dan administratil mampu menanganinya, baik dalam mereneanakan maupun melak'.>8Dakan. Semua kegiatan yang dilakukan tersel ut
209
.
.
.
....
~,
.
p ; ot--.-' . .Po;ol.
J poj;Ik
.. pado", Paw'..
bMZ.,...
.~PmA'"
:am.. "
hqe. . . Indo- •
Pajak !'IILn.1ani1
lUl/lLk , . ~Pusat.. ....
pei"od;;. menyu,u""'
Daera.~ da Kabupo"'q tenliri _I<endaraau
tidak mendapatkan supervisi langsung dati pemerintah pusat. Penyerahan fungsi pemerintah. pusat kepada lembaga nonpemt!rintah (privatisasi), Privatisasi adalah suatu tindakan pemberian wewenang dati pemerintah kepada bddan-badan sukarela, swasta, untuk mengeluarkan izin-izin, bimbingan, dan pengawasan yang semula dilakukan oleh pemerlntah.
Dari adanya desentralisasi, terjadilah 'pembagian kewenangan pemer..ntahan teiltang pengelolaan pajak dan retribu"i antara
pem~rintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintall
kabupaten/kota. 5emngga, berdasarkan wewenang pemungutannya,
pemba~npajak dapat dibagi menjadi dua yaitu: Pajak pusat / pajak
Negara dan Pajak daerfh.
..
Pajak pusat/paja:, negara adalah pajak YWlR wewenang pemungutarUlya ada pada pemerlntah pusat yang pelaksanaannya dila.l-ukan olel-. D;;partemen Keuangan melalui Direktorat Jenderal Pajak. Pajak pusat diatur dalam Undang-:.Indang dan hasilnya akan masuk ke AnggardIl Pendapatan dan Belanja Negara. Sedangkan pajak daerah adalah pajak yang wewenang pemungutannya ada pada Prmerintah Daerclh yang pelaksanatlnny..l di1.tlllkan oleh dinas Penclapatan Daerah. Pajak Daerah diatur dalam Undang-Undang dan hasilnya akan masuk ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah . Penggolongan Pajak Pusat dan Daerah secara leoritik sudah ada sejak lama. Penggolongan pajak tersebut dapat diterapkan di negara
..
kesaluun yang menggwlakan sislem ofonomi daerah, lernlasuk di Indonesia. Berkaitan dengan bentuk negara kesatuan, maka dri khas Pajak Nasional (Pusat), adalah pemungutannya bt~rdasarkanUndang-Undang, hasH pemungutan dipakai sebagai salah satu baha:1 wl1uk pl'nyusun,,\11 Anggaran PendapnlaJl dan Belanja Negara, pp.ngp,unaan hasH pajiJk Untuk KepentinRan Nasional. Selain Pajak Pusat, terdapat Pajak Daerah yang mempakan salah satu slImbf'r pendapatan asli dderah, hasH pajak daerah dipergw1dkan unlllk menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Menurut Undang-Undang Nomor 34 TahWl 2000 tenla.tlJ Pajak Daerah dan Retrebusl Daerah, setiap Daeral1 Otonom (Propinfi dan Kabupaten/Kola) memiliki beberapa macam Pajak Daerall yang terdiri alas; Pajak-pajak Daerah Propinsi (teTdiri atas : Pajak Kendaraan Bermotor don Kendaraan di atas air; Bea Balik Nama
Kendaraan Bermotor da... Kendaraan di atas air; Pajak Ba..t.,an Bakar KenJ~ra<'l.n Derrn.olor ; Pajak Pengambilan da.n Pemanfaalan Air Bawah Tanah darl Air Permukaan) dan Pajak Daerah Kabupaten/Kota (terdiri alas: Pajak Hotel; Pajak Restauran; Pajak Hiburan; Pajak Reklame; Pajak Peneranga.. Jalan; Pajak Pengillnbilan Bahan Galian C;Pajak Parkir.).
Penyelenggaraan desentralisasi mensyaratkan pembagian urosan pemerintahan antara Pemer'illtah dengan Pemerintah Daerah. Pembagian urusan pemerintahan tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa selalu terdapat berbagai lll11<Ian pemerintahan yang sepenuhnya/tetap menjadi kewenangan pemerintah.
Meskipun sistem pemetintahan di Indonesia. menganut 5istem ...iesentralisasi di dalam pcnyelenggaraan pemerilllahi:lIUlya, namun pengaturan bidang perpajakan daerah sejak 1957 samrai saat ini
tetap ctilakukan oleh Pemerintah Pusat, Pengarnran bidang perpajakan daerah oleh pemer..nta..' pusat dilakukan berdasar pada dua macam undang-undang, yaitu Undang-Undang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Pajak dan Retrebusi Daerah. Berdasarkan subtansi dati peraturan penmdang-undangan tersebut maka arab kebijakan (policy) pengaturart bidang perpajakan daera..'
yang dilakukan Pemerintah Pusat merupab.n cenninan politik
•
Imkum yang dikehendaki. LanRkah yang dilakukan oleh Pemerintahini paTalel d.engan pendapat salah seorang sarjana yang mengatakan
•
bahwa:Menurut "sas NegRfa Kesatuan yang didesentralisasikan bahwa yang pemegang kekursaan tertinggi alas segenap urusan negara ialah Pemerintah Pusal (Central Govemmenl) tanpa adanya gangguan oleh suahl delegasi atau pelimpahan kekuasaan kepada Pemerinlahan Daerah (LoCill Gcmernmmf).
Menurut F. Sugeng Istanto seperti yang dikutip oleh Josep Riwu Kahot bahwa dalarr suarn negara kesatuan terdapat asas
bahwa segenap urosan-urusan negara ini tidak dibagi antara Pemerintah Posat (Central Government) sedemikian rupa, sehinp,ga
urusan-urusan Ncgara dalam Ncgara Kesatuan itu (etap mentpakan
•
Sl1<l!U kebulatan «(·clllIcit!) dan bal1\', a pemegang kekuasaan lertinAAi
di Negara itu adFllah Pemerintah Pusal. Negilra merupakan lal'a118n
•
211...
...
.Ii sol iill Wi...
i'oo eli do""
UI' diI-
m; ll!I ~""
011...
iO!I Plo P'" Plo be Ioz 1C.I liIl do be,
hulaun (lEgal order), oleh karena itu pemgertian desent::ralisasi menyangkut berlakwlya sistem tatanan hukum dalam suatu negara; di dalam negara ada kaedah-kaedah hukum yang berlaku salt untuk seluruh wilayah negara yang sering disebut kaedah sentral (cf"ntral norm) dan ada pula kaedah hukum yang berlal-u sah dalam oo.gian wilayah yang berbeda clisebut desentral atau kaedah local (Local
"orm).
•
I
Berdasarkan Undang-1.1.J..dang Nomo! 32 Tahun 2004 tentRng I I,
Pemerintahan Daerdl, pendelegasiaJ.l kewenangan pemerintahan : j dibagi berdasarkan l~rinsip ekstemalitas, akuntabilitas dan efisiensii ,
dengan memperhalikan keserasian hubungan anta! susunan pemerintaha...-t dh.. ujudkan dalam urosan wajib dan pilihan. Umsan urusan pengtlolaan pajak dan relribusi tersebut cti alas, tept..t diberikan kepada pemerintah pusat karena pajak tersebut mempunyai ddD1.pak Nasional.
Jika
ditinjau dari segi tanggungjawa.b, maka pemer.u.,tah pusat tepat diberikcn tlrusan pengelolaan pajak tersebut karena pemernlti:J1. pusat paling dekat dengan pengelolaan pajak t~rsebut. Dari segi efisiensi, maka uru5an-urusan pemerintah tersebut terkait pengeloldaIl pajak akan menjadi efisien jib dikelola oleh plmlerintah pusat karena pajak-pajak tersebut mempWlyai...mpltk Nilaii:lJlAt
Pembagian kewenangan pemerintahan pengelolaan pajak dan
retribusi mempunyai dampak regional 6udah tepat m~njadi urusan ProyiJlsi karena dampaknya bersital regional. Dari segi akuntabilitas, perlanggungjawabaLUlya lebih tetap filenjadi 'urusan dad pemerinlah Provinsi. SedaIlgkan dari segi efisiensi, f&an berd.ya guna daIl berhasil guna ditcmgani oleh provinsi. Sedangkful. pembagian kewenangan yang bersifaf lokal ditangani oleh Pemerintahctrt KabupatC'nj Kota sUl1ah tepat kflrenil dengan memperhatikan bahwa tingkat pemerintahan yang lebih l.mgsung dengan dampakj akjbat dari unlsan yang ditangani t€fsebut sehingga b~rlwsil f:Wla dan berdaya guna sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh masyarakat.
----
---~
Daftar Pustaka
Atmaja Arifin P. Soeria, 1986. Mekanj~me PertQngguJlgjawaban
Keuangan Negarll Suatu TinjllUall Yuridis, Grameclia, Jakarta. Hadjon PhilipU5 M. 1997. "TmtaHg Wewewmx", DalaHl. !viaja1al,
Yuridika, No. 5 & 6 Tahun XII Sep'ember 1997, hal .2 (SeJanjumya disingka' Philipus M. RadjoH Il).
--Pel1gertial1~Pengertia1t Dasar Twtal1g Tin(:'1k Pemerili-lal1ali,
Djumali f Surabaya.
Kaho Josep Riwu, 1991. Prospek Otonomi Daeraf1 di Negara Republi,',
Illdoue"ia, Rajawali Press, Jiiknrta.
Nusantara Abdul Hakim G., 1988. P{)litik Hukum Indcmesia, YI.8HL Sidharta Bernard A,.-i1, ReJl~ksi Tentang Stmktu.T Ilmu Huhm, Cet.
Pmama, Mandar Maju,. Bandun~
•
Soemirro Rochmat, Pajak dan Pembangunan, Eresco, Randung 5uparmoko. 1999. KeUaHgcliI Nfgara, BPFE, Yogyakarla.
Suparmoko.1998.Pe7lgantar Ekononti Makra, BPFE, Yogyakarta. Supriatna Tjahya, 1993. Sisteln Administrasi Pemeri11.talJaii di Datrall,
~
Bumi Aksara, Jakarta.I
S
Syamsi Ibnu'-Dasar-1asar ~bijnksnllaon Keuangan Negara, Billa Aksara, Jakarta::
Wibowo Basuki Rekso, Arbitrase Sebagoi Al,erllotif Penye1esaian Sengketa Perdagangan di IlldO/resia, Disertasi.6 I
ISSN 1978-340X