• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara dengan posisi geografis yang sangat strategis, yang diapit oleh dua samudra, dua benua, dan dilewati garis khatulistiwa. Berdasarkan posisi geologi, Indonesia berada pada tiga lempeng yaitu Lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik (Hamilton., 1979). Hubungan posisi geografis dan geologi ini memberikan karakteristik relief yang terdiri dari daratan, perbukitan, dan gunungapi. Karakteristik dari paparan daratan ini memiliki potensi sumber daya alam geologi yang sangat baik (Hall., 2009). Gunungapi sendiri hadir dengan potensi geologi seperti endapan mineral. Pada endapan ini terbagi dalam beberapa tipe yaitu, endapan placer, endapan porfiri, endapan epitermal (Silitoe dan Bonham, 1984; Nadeau dkk., 2016).

Pegunugan Bukit Barisan disusun oleh rangkaian gunungapi yang berasosiasi dengan mineralisasi. Sejak jaman belanda beberapa lokasi di daerah ini telah terbukti membawa mineralisasi pada daerah tersebut (Van Leeuwen., 2014). Pada daerah Kedondong terdapat 3 aktivitas tambang yang beroperasi bergerak dalam penambangan emas (Au) dan perak (Ag). Indikasi mineralisasi di Pegunungan Bukit Barisan, khususnya di bagian sayap barat berasosiasi dengan batuan-batuan vulkanik, seperti daerah Kedondong, Pesawaran dan Kota Agung, Tanggamus mineralisasi di kedua lokasi tersebut berasosiasi dengan batuan vulkanik Formasi Hulusimpang (Tahli dan Wahyudi., 2013; Arief dan madya., 2009). Yang keduanya terletak pada sebelah barat Kota Bandar Lampung. Aktivitas sejarah tambang di Kedondong terbukti membawa mineralisasi sebesar 1,62 ton emas (Au) yang berasosiasi dengan batuan gunungapi (Sunarya, 1991; Iwan, dkk., 2005).

Adanya penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam perkembangan dan pemanfaatan sumber daya alam Indonesia khususnya di Daerah Kedondong, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Secara umum daerah penelitian berada di Daerah Pesawaran, tepatnya di Kecamatan Kedondong, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Peta geologi regional menunjukkan bahwa daerah ini

(2)

21

meliputi beberapa formasi batuan seperti, Formasi Menanga (Km), Formasi Tarahan (Tpot), Formasi Hulusimpang (Tomh), Formasi Batu Granit Tak Terpisahkan (Tmgr), Formasi Dasit Piabung (Tmda), Formasi Kantur (Tmpk), Formasi Endapan Gunungapi muda (Qhv), dan Aluvium. Pada penelitian ini berkaitan dengan produk letusan gunungapi, yang dimana berumur Oligosen Akhir sampai Miosen Akhir. Formasi Hulusimpang yang memiliki jejak mineralisasi menjadikan ketertarikan untuk menganalisis unsur kelimpahan dari produk Formasi Hulusimpang tersebut, dan Formasi yang berkaitan juga dengan Formasi Hulusimpang yaitu Formasi Kantur yang berumur Miosen Akhir sampai Pliosen yang menandakan penelitian ini berada pada produk batuan Prakuarter (Mangga, dkk., 1993).

Berdasarkan latar belakang ini, penulis akan mengidentifikasi tatanan geologi Daerah Kedondong dan sekitarnya secara detail dengan menggunakan prinsip Pemetaan Geologi dan mengetahui distribusi unsur pada setiap satuan batuan Prakuarter yang berpotensial menjadi endapan placer. Selain itu, penulis akan melakukan identifikasi lebih lanjut tentang lingkungan pengendapan purba, dan tatanan tektonik Daerah Kedondong dengan menggunakan analisis petrografi dalam mengetahui sebaran limpahan unsur pada satuan batuan. Maka dari itu, penulis menulis judul Geologi dan Distribusi Unsur pada Satuan Batuan Prakuarter di Daerah Kedondong, Kabupaten Pesawaran, Lampung, Indonesia.

I.2 Maksud dan Tujuan

Penelitian ini bermaksud untuk melakukan pemetaan geologi secara umum dan studi khusus. Tujuan dari penelitian ini mempelajari dan menganalisis karakterisitik peristiwa geologi daerah penelitian daerah Kedondong antara lain:

1. Memetakan tatanan geologi yang ditinjau dari sedimentologi, stratigrafi, geomorfologi, dan struktur geologi untuk memahami sejarah geologi di daerah Kedondong, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung.

2. Menganalisis distribusi unsur-unsur pada satuan batuan Prakuarter di daerah Kedondong dan sekitarnya.

(3)

22

I.3 Metode Penelitian

Tahapan pelaksanaan penelitian terdiri dari empat tahap yaitu: 1. Tahap pra-pemetaan/persiapan

2. Tahap pemetaan

3. Tahap analisis dan pengolahan data

4. Tahap penyusunan laporan dan penyajian data

Gambar I.1. Diagram Alir Penelitian

I.3.1 Tahap Pra-Pemetaan/ Persiapan

Pada tahap pra-pemetaan yaitu awal dari seluruh rangkaian penyusunan dari pemetaan geologi. Tahapan ini bertujuan untuk melakukan gambaran konsep dan rencana pemetaan. Terdapat tahapan yaitu penentuan lokasi pemetaan, studi literatur, pembuatan proposal, dan izin survei dalam pemetaan. Berikut kegiatan pada tahap pra-pemetaan dan persiapan.

(4)

23

Pada tahap ini merupakan tahapan pertama dari penelitian untuk melakukan pemetaan geologi. Langkah ini dilakukan secara bertahap untuk mengetahui dan menentukan batas-batas dari daerah lokasi yang ditentukan. Penentuan lokasi ini menggunakan citra satelit yang sudah di overlay dengan peta geologi regional lembar Tanjung karang (Mangga dkk., 1993) yang berguna sebagai acuan dan gambaran hipotesis dalam pemetaan geologi untuk dapat menentukan dan mengidentifikasi obyek batuan serta penentuan persebaran litologi batuan.

2. Studi Literatur

Studi literatur ditujukkan untuk mengetahui keadaan geologi daerah penelitian yang berupa jurnal, makalah, maupun hasil laporan dari penelitian terdahulu yang sudah terlebih dahulu melakukan pemetaan. Selain itu, tahapan ini ditujukkan untuk mengetahui konsep dalam memahami geologi yaitu, fisiografi regional, tatanan tektonik, stratigrafi regional dan struktur geologi regional. Kemudian dilakukan dengan cara memahami dari Peta Geologi Regional Lembar Tanjung Karang (Mangga dkk., 1993) dari penelitian terdahulu pada lokasi penelitian di daerah Kedondong dan sekitarnya.

3. Pembuatan Proposal

Pembuatan proposal tugas akhir ini salah satu syarat administrasi yang ditujukkan kepada Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Sumatera, sebagai instansi yang mengawasi dan bertangung jawab atas kegiatan pemetaan kepada pemangku di Kecamatan Kedondong dan sekitarnya. Pembuatan proposal dilakukan untuk memenuhi persyaratan dalam melakukan penelitian di daerah Kedondong dan sekitarnya.

4. Perizinan dan Survei Pendahuluan

Pada tahapan ini merupakan langkah awal dalam survei pendahuluan dan perizinan yang ditujukkan ke Pemerintah Kecamatan Kedondong dan sekitarnya, dengan tujuan untuk mendapatkan izin secara administrasi dalam melakukan pemetaan geologi, sehingga kegiatan dalam pemetaan yang dilakukan legal dan sesuai peraturan.

(5)

24

I.3.2 Tahap Studi Pemetaan Lapangan

Kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini adalah pemetaan geologi permukaan dengan skala 1:25.000 memperoleh data primer akan dilakukan analisis dan diolah pada tahap selanjutnya. Berikut adalah detail kegiatan yang dilakukan pada tahap ini:

1. Observasi geomorfologi yang terdiri dari pengamatan geomorfologi didapatkan dari bentang alam secara keseluruhan dalam lokasi daerah penelitian dan menganalisis setiap bentuk lahan yang ada. Interpretasi hasil geomorfologi akan dilakukan melalui analisa peta topografi, peta kemiringan lereng, dan peta pola pengaliran sungai di daerah lokasi penelitian.

2. Observasi singkapan, meliputi tahapan observasi deskripsi singkapan seperti litologi, struktur batuan, tekstur batuan, kedudukan perlapisan, porositas, permeabilitas yang keduanya mencakup hipotesis batuan dan stratigrafi awal, pengukuran elemen struktur geologi dan juga pengambilan sampel batuan kondisi segar untuk analisis laboratorium dan analisis sayatan batuan.

3. Observasi data struktur geologi primer di sepanjang daerah yang terindikasi adanya aktivitas tektonik, seperti kekar, indikasi sesar, dan kelurusan pada daerah lokasi penelitian.

4. Pengambilan data profil penampang stratigrafi (PPS), berupa pengukuran stratigrafi secara kuantitatif menggunakan meteran dan kompas geologi. Kemudian kedua alat tersebut digunakan untuk mengukur strike, dip, dan slope. Pada batuan pengukuran tebal lapisan setiap litologi dan tebal keseluruhan singkapan dan menentukan urutan batuan tertua dan termuda.

5. Dokumentasi foto singkapan digunakan sebagai bukti dari hasil pengamatan lapangan di daerah penelitian.

I.3.3 Tahap Pengolahan Data, Analisis Studio, dan Analisis Laboratorium Pada tahapan ini dilakukan pengolahan data dan analisis di laboratorium disertai pembahasan antara penulis dengan pembimbing. Analisis dan pengolahan data ini berdasarkan atas konsep-konsep geologi dan juga didukung dari studi literatur tentang topik pembahasan. Adapun pembahasan analisis yang dilakukan pada tahap ini diantaranya, analisis geomorfologi, analisis struktur geologi, analisis XRF (X-Ray Fluorescence), analisis distribusi limpahan unsur batuan dengan

(6)

25

sayatan batuan, analisis petrografi. Hasil penelitian ini berupa peta lintasan geologi, peta geologi, peta geomorfologi, profil stratigrafi, dan rekonstruksi sejarah geologi.

1. Analisis Geomorfologi

Analisis ini digunakan dengan cara analisis geomorfologi yang dikembangkan oleh van Zuidam (1985). Penelitian pemetaan lapangan ini dilakukan secara langsung melakukan pengamatan di lokasi daerah penelitian. Kemudian dilanjutkan dengan peta topografi, dengan meliputi unsur-unsur geomorfologi seperti penilaian yang dilakukan secara kuantitatif terhadap bentuk kemiringan lereng (morfometri), gambaran dari bentuk lahan (morfografi), dan asal-usul proses terjadinya bentuk (morfogenetik). Hasil dari analisis geomorfologi ini menghasilkan peta geomorfologi dari kaitan dengan peta morfometri, peta morfografi dan morfogenetik.

2. Analisis Struktur Geologi

Analisis struktur geologi dapat merekonstruksi adanya sejarah tektonik yang terbentuk dan deformasi serta mekanisme struktur yang bekerja pada batuan di daerah lokasi penelitian. Kemudian pada analisis kelurusan punggungan dan lembahan di analisis untuk mengetahui adanya potensi struktur pada daerah lokasi penelitian yang akan digabungkan dengan pengamatan dan pengukuran di lapangan. Untuk struktur tersebut berupa, kekar dan sesar. Secara bertahap berupa analisis deskriptif Pengolahan data dari analisis yang dilakukan menggunakan metode stereografi dengan bantuan program Stereonet dan Dips. Hasil analisis struktur geologi ini berupa peta struktur geologi terkait daerah penelitian.

3. Analisis XRF (X-Ray Flourescence)

Analisis XRF merupakan tahapan analisis pada sampel batuan di daerah penelitian yang akan diketahui unsur-unsur geokimia pada batuan tersebut. Kemudian analisis ini menggunakan 2 tipe alat berupa, analisis XRF Portable dan XRF Benchtop. Perbedaan dari 2 analisis tersebut pada XRF Portable ini digunakan hanya ditembakkan pada batuan sampel dan akan hasil keluar unsur dari alat tersebut, tetapi alat ini mengeluarkan hasil unsur logam berat, sedangkan unsur logam ringan akan dijadikan satu unsur yaitu LE (Light Element). Alat kedua yaitu XRF Benchtop ini sampel harus dihancurkan sampai

(7)

26

menjadi serbuk, kemudian dimasukkan ke tabung yang sudah disediakan. Kemudian dimasukkan kedalam alat, untuk hasil unsur akan terekam pada komputer dimana unsur-unsur pada mesin ini dapat mengeluarkan semua unsur dari logam berat maupun logam ringan hasil unsur sampel batuan.

4. Analisis Distribusi Kelimpahan Unsur Batuan Menggunakan Diagram Tri-plot Pada analisis distribusi kelimpahan unsur ini merupakan hasil kelimpahan dari unsur-unsur yang ada dikerak bumi dengan unsur-unsur terdapat pada sampel batuan daerah penelitian. Kemudian perhitungan akan dirata-ratakan agar nilai kelimpahan batu sampel didapat dan perbandingan melebihi dari unsur yang terdapat di kerak bumi. Kemudian tahapan diagram tri-plot dibagi menjadi 2 penentuan dari unsur di analisis yaitu penentuan tingkat pelapukan dari batuan sampel dan penentuan batuan dari mafic dan felsic batuan sampel tersebut. Untuk bukti dari diagram tri-plot ini juga memerlukannya analisis sayatan tipis batuan pada sampel untuk di tentukan bagian mineral dan hasil oksidasi dari batuan sampel tersebut.

5. Analisis Petrografi

Analisis ini dilakukan dengan menggunakan mikroskop polarisasi. Analisis ini diperlukan untuk mengetahui struktur, tekstur, mineralogi, nama batuan dalam skala mikroskopis dan diagenesis batuan berdasarkan atas komposisi penyusun batuan. Sampel yang digunakan merupakan batuan diambil dari daerah lokasi penelitian untuk dibuat sayatan tipis (thin section). Pengamatan thin section ini dilakukan menggunakan mikroskop polarisasi dengan bantuan software Dino Eye Capture 2.0. kemudian pengamatan petrografi ini dilakukan dengan 2 posisi berbeda pada mikroskop yaitu dengan pengamatan parallel nikol dan pengamatan cross nikol. Hasil dari analisis petrografi berupa lampiran deskripsi dari beberapa sampel sebagai data spasial.

I.3.4 Tahap Penyusunan Laporan dan Penyajian Data

Tahap ini merupakan tahap akhir dari rangkaian pengerjaan Tugas Akhir berupa pengerjaan laporan hasil penelitian dalam bentuk skripsi dan ujian sidang sarjana. Skripsi yang dihasilkan diantaranya akan memuat peta geomorfologi, peta lintasan, peta geologi, penampang geologi, peta struktur geologi, peta profil

(8)

27

stratigrafi, model sejarah geologi, dan tatanan tektonik daerah penelitian, foto sayatan batuan, tabel analisis geokimia sebagai lampiran.

I.4 Lokasi Penelitian

Daerah penelitian secara geografis terletak di 5°32'12.6" s.d. 5°36'00.0" LS dan 105°02'10.0" s.d. 105°05'57.6" BT atau 501991-508997 mT dan 9386987-9380023 mU pada zona 48M menurut proyeksi UTM (Universal Transverse Marcator). Terletak di Daerah Kedondong, Kabupaten Pesawaran, Lampung dengan luas daerah penelitian 49 km2 (7 × 7) km dengan elevasi berkisar antara 87,5-437,5 m terlihat pada Gambar I.2. Berdasarkan peta geologi Lembar Tanjung Karang (Mangga, dkk., 1993) daerah penelitian masuk kedalam satuan Gunung Pesawaran.

Gambar I.2. Peta Lokasi Penelitian di Kedondong, Kabupaten Pesawaran, Lampung (dimodifikasi dari Peta RBI Lampung 2014)

I.5 Batasan Masalah

Batasan-batasan masalah dalam penelitian tugas akhir ini dititikberatkan pada pemetaan geologi di daerah Kedondong, Kabupaten Pesawaran yang telah dibahas subbab sebelumnya dan studi khusus yang terkait dengan lingkungan pengendapan purba emas alluvial pada satuan batuan yang dapat ditemukan di daerah Kedondong, Kabupaten Pesawaran, adapun permasalahan umum yang dapat dibagi pada penelitian ini adalah:

(9)

28

a. Daerah penelitian untuk tugas akhir berada pada Daerah Kedondong, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Batas cakupan daerah penelitian berupa luas 49 km² berada pada kordinat batas utara (105°02'10.0"), batas selatan (105°05'57.6"), batas barat (5°32'12.6"), batas timur (5°36'00.0").

b. Kedudukan batuan dan deskripsi Litologi, meliputi pengambilan sampel, preparasi, pengukuran strike dip dan deskripsi batuan pada singkapan yang dijumpai pada lapangan pemetaan.

c. Profil penampang stratigrafi menjelaskan tentang urutan satuan batuan yang ditemukan di daerah penelitian dari umur paling tua ke muda. Pengambilan data stratigrafi dilakukan dengan metode measuring section (MS).

d. Geomorfologi, yang terdiri dari analisis morfologi, kelurusan, dan pola aliran sungai. Pembagian satuan geomorfologi berdasarkan morfologi, morfometri, morfogenesa, dan tahapan geomorfik. Metode yang digunakan adalah dengan analisis remote sensing menggunakan analisis Digital Elevation Model Nasional (DEMNAS), dan peta topografi. Berdasarkan analisis geomorfologi di lakukan pada klasifikasi oleh van Zuidam (1985).

e. Struktur geologi yang dihasilkan, arah tegasan utama yang bekerja, dan analisis struktur geologi meliputi analisis penentuan umur relatif pembentukan struktur geologi.

f. Analisis petrografi meliputi sayatan tipis batuan yaitu, tekstur batuan, tekstur mineral, komposisi mineral pada batuan.

g. Tabel perhitungan geokimia berdasarkan dengan unsur kelimpahan dari kerak bumi, dengan diagram tri-plot analisis penentuan tingkat pelapukan dan penentuan mafic dan felsic pada batuan sampel.

I.6 Sistematika Pembahasan

Sistematika penulisan laporan tugas akhir ini akan terdiri dari enam bab. BAB I, PENDAHULUAN, yang membahas tentang latar belakang, maksud dan tujuan, lokasi daerah penelitian, pembatasan masalah, metode dan tahapan penelitian, dan sistematika pembahasan. BAB II GEOLOGI REGIONAL Daerah Kedondong, Kabupaten Pesawaran dan sekitarnya yang membahas tentang fisiografi, stratigrafi, dan struktur geologi regional untuk memberikan gambaran

(10)

29

umum daerah penelitian yang bersumber dari studi literatur. BAB III GEOLOGI DAERAH PENELTIAN, yaitu kondisi geologi daerah penelitian berdasarkan hasil pemetaan lapangan, dengan pembahasan geomorfologi, stratigrafi, dan struktur geologi. BAB IV STUDI KHUSUS, pada bagian ini menjelaskan distribusi unsur sampel batuan yang ada pada daerah penelitian dan perhitungan tabel unsur kelimpahan pada kerak bumi dengan batuan sampel yang berada pada lokasi penelitian, berikut dengan hasil diagram tri-plot unsur. BAB V SEJARAH GEOLOGI, merupakan penjelasan tentang sejarah geologi pada daerah penelitian, dengan data yang sudah didapatkan saat pemetaan geologi di daerah penelitian, kemudian data kondisi geologi akan menceritakan tentang urutan batuan dari tua ke muda dengan memperhatikan umur pada batuan dilokasi penelitian. BAB VI KESIMPULAN, merupakan bagian dari bab ini menjadi hasil akhir yang menyimpulkan dari seluruh interpretasi dan analisis dari rangkuman setiap pembahasan pada bab-bab sebelumnya.

Gambar

Gambar I.1. Diagram Alir Penelitian
Gambar I.2. Peta Lokasi Penelitian di Kedondong, Kabupaten Pesawaran, Lampung   (dimodifikasi dari Peta RBI Lampung 2014)

Referensi

Dokumen terkait

[r]

- SAHAM SEBAGAIMANA DIMAKSUD HARUS DIMILIKI OLEH PALING SEDIKIT 300 PIHAK & MASING2 PIHAK HANYA BOLEH MEMILIKI SAHAM KURANG DARI 5% DARI SAHAM DISETOR SERTA HARUS DIPENUHI

Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang pemenuhannya setelah kebutuhan primer terpenuhi, namun tetap harus dipenuhi, agar kehidupan manusia berjalan dengan baik. Contoh: pariwisata

Penulisan karya ilmiah tertulis (skripsi) yang berjudul “Analisis Nilai Tambah Dan Prospek Agroindustri Suwar-Suwir di Kabupaten Jember“ ini diajukan sebagai salah satu

In terms of faculty driven by different motivations be- fore and after receiving tenure, our results indicate that, for pretenured faculty, research productivity is dominated by

Emisi surat utang korporasi di pasar domestik selama Januari 2018 mencapai Rp7,67 triliun atau naik 2,84 kali dibandingkan dengan Januari 2018, berdasarkan data oleh

Tinea pedis adalah infeksi dermatofita pada kaki terutama mengenai sela jari kaki dan telapak kaki, dengan lesi terdiri dari beberapa tipe, bervariasi dari ringan, kronis

algoritma kompresi LZW akan membentuk dictionary selama proses kompresinya belangsung kemudian setelah selesai maka dictionary tersebut tidak ikut disimpan dalam file yang