PT. PLN (Persero) merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang kelistrikan Nasional dan melayani konsumen dengan berbagai tarif antara lain : Tarif Rumah tangga, Industri, Bisnis, Pemerintah, Sosial dan Penerangan Jalan Umum selalu berupaya meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat, dimana semua sarana yang digunakan untuk mendistribusikan tenaga listrik ke konsumen diharapkan tetap dalam kondisi terpelihara secara baik sehingga kwalitas pendistribusian tenaga listrik juga akan semakin baik sesuai yang diharapkan oleh semua pihak.
Namun dalam kenyataannya saat ini masih terdapat beberapa kendala terutama sistim Distribusi yang sering terganggu akibat kurangnya pemeliharaan dan analisa kegagalan peralatan atau sarana yang dipakai terutama kondisi Cubicle pada beberapa Gardu Hubung (GH) yang sering mengalami gangguan akibat dari sirkulasi udara yang kurang baik didalam maupun diluar Cubicle atau sirkulasi udara yang kurang baik didalam Gardu Hubung secara keseluruhan, sehingga akan terjadi Kelembaban udara dalam Cubicle itu sendiri yang dapat menimbulkan terjadinya Busur Listrk (Flash Over) dan pada akhirnya sebagian atau seluruh system akan terganggu (Black Out system).
4.1 Pengertian Pemeliharaan
Pemeliharaan merupakan upaya untuk mempertahankan atau mengembalikan pada tingkat prestasi awal dan dapat beroperasi dengan keandalan yang tinggi sehingga kontinuitas pelayanan listrik akan tercapai. Apabila pemeliharaan tidak dilaksanakan kemudian peralatan menjadi rusak atau terjadi gangguan maka dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar.
Pemeliharaan yaitu suatu kegiatan yang meliputi pekerjaan pemeriksaan, pencegahan, perbaikan dan penggantian peralatan pada sistem distribusiyang dilakukan secara terjadwal (schedule) ataupun tanpa jadwal. Pemeliharaan
dilakukan untuk meningkatkan mutu dan keandalam padasistem distribusi dlam rangka mengurangi kerusakan peralatan yang sifatnya mendadak, menurunkan biaya pemeliharaan dan mendapatkan simpati serta kepuasan pelanggan dalam pelayanan tenaga listrik. Untuk melaksanakan pemeliharaan yang baik perlu diperhatikan hal-halsebagai berikut :
Sistem distribusi harus direncanakan dengan baik dan benar,
memakai bahan /
peralatan yang berkualitas baik sesuai dengan standar yang berlaku. Sistem distribusi yang baru dibangun harus diperiksa secara teliti,
apabila terdapat kerusakan kecil segera diperbaiki pada saat itu juga. Staf / petugas dan pemeliharaan harus terlatih baik dengan jumlah
petugas cukup memadai.
Mempunyai peralatan kerja yang baik dengan jumlah cukup memadai untuk pemeliharan dalam keadaan tidak bertegangan maupun pemeliharaan dalam keadaan bertegangan.
Mempunyai buku / brosur peralatan dari pabrik pembuat dan dipelihara untuk bahan pada pekerjaan pemeliharaan berikutnya.
Jadwal yang telah dibuat sebaiknya dibahas ulang untuk melihat kemungkinan penyempurnaan dalam pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan
Harus diamati tindakan pengaman dalam pelaksanaan pemeliharaan, gunakan peralatan keselamatan kerja yang baik dan benar.
4.2 Macam-Macam Pemeliharaan 4.2.1 Pemeliharaan Terjadwal
4.2.1.1.1 Pemeliharaan Rutin
Dalam pelaksanaannya pemeliharaan rutin ini terdiri dari dua katagori pekerjaan yaitu: Pemeliharaan servis, pemeliharaan dengan jangka waktu pendek meliputi pekerjaan ringan kecil.
4.2.1.2 Pemeliharaan Harian ( Inspeksi)
Pemeliharaan inpeksi, pemeliharaan jangka waktu panjang meliputi pekerjaan penyetelan, perbaikan dan penggantian peralatan dab bagian ± bagian dari sistem distribusi.Faktor berikut ini yang akan mempengaruhi keputusan kapan untuk inspeksi:
1. Skedul shutdown (turn around). 2. Emergency Shutdown.
3. Kondisi tidak normal atau tidak biasa. 4. Terjadi gangguan pada penyulang atau bus.
5. Kondisi atmosfir yang ekstrim seperti: panas, dingin, heavy cold, rain, snow high wind, fog, smog, salt spray,
high humidity, perubahan temperatur yang tidak biasa dan lain-lain.
6. Persyaratan dan jadwal pemeliharaan. Inspeksi sebagian mungkin saja dilakukan jika bagian lain tidak
diperbolehkan untuk tidak beroperasi. Pemeliharaan harian dilakukan dengan cara visual karena kondisi kubikel dalam kondisi beroprasi.
Pemeliharaan tersebut antara lain :
Pemeriksaan kondisi level minyak PMT atau gas SF6. Pemeriksaan lampu-lampu indicator.
Pemeriksaan alat ukur.
Pemeriksaan kelainan suara, bau pada peralatan 4.2.1.3 Pemeliharaan Mingguan
Pemeliharaan berupa monitoring keadaan panel ataupun switch gear yang dilakukan oleh petugas patroli setiap Mingguan serta dilaksanakan dalam keadaan operasi
4.2.1.4 Pemeliharaan Bulanan
Pemeliharaan dilakukan pada saat kondisi operasi. 4.2.1.5 Pemeliharaan Bulanan/ Semesteran
Pemeliharan dilakukan pada saat kondisi padam. Pemeliharaan tersebut antara lain :
a. Pemeriksaan PMS / LBS (20 kV)
Pemeriksaan / pembersihan sambungan – sambungan. Pembersihan isolator.
Pemeriksaan kekencangan baut – baut. Pengukuran nilai tahanan isolasi.
Untuk PMT, pemeliharaan lainya sama dengan PMT penyulang.
b. Pemeriksaan Rel / Busbar 20 kV.
Pemeriksaan suhu operasi dengan Infra Red thermo vision.
Pembersihan fisik rel / busbar.
Pemeriksaan kekencangan baut – baut. Pembersihan isolator tumpu.
Pengukuran nilai tahanan isolasi.
Pengukuran nilai tahanan kontak antar sambungan. Pembersihan lingkungan instalasi.
Pemeriksaan Batere Set
Pemberihan fisik batere berikut terminal – terminal dan lingkunganya.
Pembersihan lingkungan dan system ventilasi.
Pembersihan peralatan pemutus arus : Pelebur, ohm saklar berikut pelapisan zat anti oksida (missal : gemuk, vet ).
Pemeriksaan BD elektrolit.
Pengisian batere dengan metode boost charge. Pemeriksaan kekencangan baut terminal. elapisan terminal batere dengan zan anti oksida
4.2.1.6 Pemeriksaan Tahunan
Pemeliharaan yang berupa Pengukuran dan pengujian untuk Kompnen panel dan switch gear dan dilakukan oleh petugas Pemeliharaan setiap tahun dan dilaksanakan dalam keadaan padam. Pemelihaaran tersebut antara lain : a. Pemeriksaan PMT (kopel, seksi penyulang) 20 kV
Media Vacum.
Pembersihan fisik PMT.
Pembersihan isolator-isolator tumpu. Pemeriksaan terminal out going. Pemeriksaan celah (gap) kontak.
Pemeriksaan mekanik penggerak dan pemberian pelumas.
Pengukuran nilai tahanan isolasi. Pengukuran nilai tahanan kontak. Pemeriksaan kabel-kabel control.
Pengukuran tegangan pick-up/drop-off triping dan closing coil.
Percobaan operasi secara manual. Pengukuran arus bocor.
b. Pemeriksaan Trafo Arus (CT) 20 kV. Pembersihan fisik CT.
Pemeriksaan terhadap kelainan fisik. Pembersihan bidang kontak.
Pemeriksaan kekencangan baut-baut. Pengukuran nilai tahanan isolasi.
Pemeriksaan terminal-terminal sekunder. Pengujian rasio (bila perlu).
Pemeriksaan system pentanahan.
Gambar 4.4 Trafo CT
c. Pemeriksaan Trafo Tegangan (PT) 20 kV. Pembersihan fisik PT.
Pemeriksaan terhadap kelainan fisik.
Pemeriksaan terminal-terminal kabel sekunder. Pengukuran nilai tahanan isolasi.
Gambar 4.5 Trafo PT
d. Pemeriksaan Kabel 20 kV Pemeriksaan terminal kabel. Pembersihan terminal kabel.
Pemeriksaan kekencangan baut – baut sambungan. Pengukuran tahanan isolasi.
Pemeriksaan pentanahan kabel .
e. Pemeriksaan Proteksi 20 kV Relai Proteksi Elektronik.
Pemeriksaan instalasi & Peralatan catu daya berikut system alarm nya.
Pembersihan PCB dari karbon, deposit dan sebagainya (bila perlu).
Pengukuran tegangan output DC converter (bila perlu).
Pembersihan kontak – kontak relai utama dan bantu (bila memungkinkan).
Pemeriksaan kabel pengawatan. Pengujian individu.
Pengujian arus kerja pada tap seting.
Pengujian karakteristik waktu kerja pada tap seting.
Pengujian arus kerja instantaneous.
Pengujian fungsi (mengukur terhadap opening time).
Pengujian fungsi relai rekloser (bila ada). Relai Proteksi Mekanik
Pemeriksaan instalasi & Peralatan catu daya berikut system alarm nya.
Pembersihan mekanik relai dari karbon, deposit dan (bila perlu).
Pembersihan kontak – kontak relai utama dan bantu (bila memungkinkan).
Pemeriksaan kabel pengawatan . Pengujian individu.
Pengujian karakteristik waktu kerja pada tap seting.
Pengujian arus kerja instantaneous.
Pengujian fungsi (mengukur terhadap opening time).
Pengujian fungsi relai rekloser (bila ada). Function test
Injeksi arus sekunder.
Pemeriksaan Peralatan Pengukuran (Ampere,Volt,kWH Meter).
Pembersihan fisik peralatan. Kalibrasi terhadap standard. Pemeriksaan kabel pengawatan 4.2.2 Pemeliharaan Tidak Terjadwal (Mendadak)
Pemeliharaan ini sifatnya mendadak, tidak terencana ini berakibat gangguan atau kerusakan atau hal-hal lain diluar kemampuan kita,sehingga perlu dilakukan pemeriksaan / pengecekan perbaikan ataupun penggantian peralatan, tetapi masih dalam kurun waktu pemeliharaan.
4.3 Tujuan Pemeliharaan
Tujuan pemeliharaannya adalah untuk mempertahankan kondisi atau menjaga agar peralatan menjadi tahan lama dan meyakinkan bahwa peralatan dapat berfungsi sebagaimana mestinya sehingga dapat dicegah terjadinya gangguan yang dapat menyebabkan kerusakan
4.4 Jenis-jenis Pemeliharaan
Jenis-jenis pemeliharaan peralatan adalah sebagai berikut: 4.4.1 Predictive Maintenance (Conditional Maintenance)
adalah pemeliharaan yang dilakukan dengan cara memprediksi kondisi suatu peralatan listrik, apakah dan kapan kemungkinannya peralatan listrik tersebut menuju kegagalan. Dengan memprediksi kondisi tersebut dapat diketahui gejala kerusakan secara dini. Cara yang biasa dipakai adalah memonitor kondisi secara online baik pada saat peralatan beroperasi atau tidak beroperasi. Untuk ini diperlukan peralatan dan personil khusus untuk analisa. Pemeliharaan ini disebut juga pemeliharaan berdasarkan kondisi (Condition Based Maintenance).
4.4.2 Preventive Maintenance
adalah kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan untuk mencegah terjadinya kerusakan peralatan secara tiba-tiba dan untuk mempertahankan unjuk kerja peralatan yang optimum sesuai umur teknisnya. Kegiatan ini dilaksanakan secara berkala dengan berpedoman kepada Instruction Manual dari pabrik, standar-standar yang ada (IEC,CIGRE, dll) dan pengalaman operasi di lapangan. Pemeliharaan ini disebut juga dengan pemeliharaan berdasarkan waktu (Time BasedMaintenance).
4.4.3 Corrective Maintenance
adalah pemeliharaan yang dilakukan dengan berencana pada waktu-waktu tertentu. Ketika peralatan listrik mengalami kelainan pada saat menjalankan fungsinya dengan tujuan untuk mengembalikan pada kondisi semula disertai perbaikan dan penyempurnaan instalasi. Pemeliharaan ini disebut juga Curative Maintenance, yang bisa berupa Trouble Shooting atau penggantian pembagian yang rusak.
4.4.4 Breakdown Maintenance
adalah pemeliharaan yang dilakukan setelah terjadi kerusakan mendadak dan sifatnya darurat. Pelaksanaan pemeliharaan peralatan dapat dibagi 3 macam :
Pemeliharaan yang berupa monitoring dan dilakukan oleh petugas operator atau patroli bagian Gardu Induk yang tidak dijaga (GITO - Gardu Induk Tanpa Operator).
Pemeliharaan transformator yang berupa monitoring dan dilakukan oleh petugas Pemeliharaan setiap bulan untuk Gardu Induk yang dijaga maupun Gardu induk yang tidak dijaga.
Pemeliharaan transformator yang berupa pemeriksaan, pengukuran dan penguji, dilakukan oleh petugah. Pemeliharaan setiap tahun untuk Gardu Induk yang dijaga maupun Gardu Induk yang tidak dijaga.
4.5 Persiapan Pemeliharaan
Persiapan Pemeliharaan kubikel adalah kegiatan menyimpan segala sesuatu yang diperlukan untuk melaksanakan pemeliharaan seperti di maksud di atas antara lain :
Memahami kegiatan operasi jaringan yang akan dilakukan sesuai SOP Mempelajari perubahan konfigurasi jaringan yang akan dilaksanakan Memahami kegiatan pemeliharaan kubikel yang akan dilakukan sesuai
dengan SOP
Mempersiapkan perlengkapan pemeliharaan, antara lain : Peralatan / perkakas kerja
Alat ukur listrik dan mekanik Material / bahan
4.5.1 Prosedur Komunikasi
Berisi tentang urutan berkomunikasi dengan pihak yang terkait dengandari mulai persiapan pemeliharaan, saat pemeliharaan sampai pelaporan pekerjaan.Peralatan yang digunakan untuk berkomunikasi dapat berupa teleponatau handy-talky (HT ) dengan menggunakan bahasa yang sudahdistandarkan. Penyimpangan terhadap ketentuan berkomunikasi dapat menyebabkan terjadinya gangguan operasi bahkan kecelakaan kerja.
4.5.2 Prosedur Langkah – langkah Kerja
Berisi tentang urutan dalam melaksanakan pekerjaan di lokasi pengoperasian kubikel, mulai dari persiapan pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan, pemeriksaan pekerjaan sampai pelaporan pekerjaan. Setiap langkah dilaksanakan secara berurutan sesuai tertulis di SOP. Penyimpangan terhadap langkah-langkah tersebut dapat menyebabkan kegagalan pemeliharaan bahkan dapat terjadi kecelakaan kerja. Hasil Pemeliharaan harus dilaporkan ke Pengatur Distribusi / Piket Pengatur dan melaporkan secara lisan guna memutuskan dioperasikannya kembali dan melaporkan secara tertulis setelah pelaksanaan dilokasi selesai
4.6 Perlengkapan Kerja
Perlengkapan kerja untuk meleksanakan pemeliharaan kubikel dengan baik dan aman harus dipenuhi spesifikasi dan jumlahnya. Memaksakan bekerja dengan peralatan seadanya berarti mengabaikan adanya resiko bahaya kecelakaan dan kerusakan yang bakal terjadi. Pemeriksaan terhadap jumlah dan kondisi perlengkapan kerja harus dilakukan secararutin agar selalu siap kapanpun digunakan. Yang dimaksud dengan perlengkapan kerja adalah sebagai berikut :
Perkakas kerja Alat bantu kerja Alat Ukur
Material / bahan
Alat Pelindung Diri ( APD ) atau Alat K3
Berkas Dokumen Instalasi Kubikel 20 KV yang akan dioperasikan Lembaran Format berupa Check-List Pelaksanaan dan Pelaporan. 4.7 SOP Petunjuk Pemeliharaan Kubikel 20 Kv
4.7.1 Pengertian
Adalah suatu bentuk ketentuan tertulis berisi prosedur / langkah-langkahkerja yang dipergunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan. Dalam bahasa Indonesia SOP disebut dengan Prosedur Tetap dan disingkatProtap. SOP Pemeliharaan kubikel 20 KV berarti ketentuan tentang prosedur / langkah ± langkah kerja untuk memelihara kubikel 20 kv padaGardu Induk, Gardu Hubung dan Gardu Distribusi.
4.7.2 Tujuan SOP
Pemeliharaan Kubikel 20 KV berarti melakukan pemeriksaan atau perbaikan yang menyebabkan perlunya pemadaman listrik atau tidak. Padasaat pelaksanaan pemeliharaan dengan pemadaman berarti memerlukan koordinasi dengan pihak operasi agar tidak sampai terjadi gangguan atau kecelakaan kerja pada saat pembukaan alat hubung kubikel yang akan dipelihara maupun penormalannya kembali.
Hasil dari pemeliharaan adalah berupa kondisi / unjuk kerja peralatan harus memenuhi ketentuannya, yaitu aman dioperasikann kembali, maka untuk itu perlu diatur cara melakukan pemeliharaan, peralatan untuk mengukur kondisi peralatan kubikel, perkakas kerja yang digunakan padawaktu pemeliharaan. Penyimpangan dari ketentuan berarti hasil pemeliharaan tidak sesuai dengan ketentuan dan dampaknya akan menyebabkan permaslahan dalam pengoperasian bahkan dapat terjadi kecelakaan kerja. Contoh :
Ditentukan bahwa tahanan kontak PMT / LBS adalah maksimal 200 microohm, tetapi hasil pemeliharaan menunjukkan lebih dari nilai maksimal tersebut dan dipaksakan operasi, maka akan terjadi ledakan pada kubikel tersebut akibat panas yang ditimbulkan oleh alat kontak. Kejadian ini tentu akan mengganggu sistem operasi dan kerugian material.
Akibat terhadap personil
Pemeliharaan kubikel dengan pemadaman berarti harus dipastikan bahwa aliran listrik dari sisi hulu maupun sisi hilir harus dipastikan padam, tetapi penyimpangan terjadi misalnya tiba-tiba ada aliran.
4.7.3 Komponen dalam SOP
Beberapa komponen penting yang tertulis pada SOP Pemeliharaan Kubikel 20kv antara lain:
Pihak Yang Terkait
Yaitu pihak – pihak yang berkepentingan dan terkena dampak akibat pemeliharaan kubikel 20 KV.
Keterkaitan ini dilakukan dalam bentuk komunikasi yang dilakukan dapat berupa tertulis / surat ataupun komunikasi langsung / lisan bertujuan agar semua pihak berkoordinasi dapat mengantisipasi terjadinya kondisi kurang aman atau mencegah kerusakan material akibat dipeliharanya kubikel. Dalam berkomunikasi baik lisan maupun tertulis dibuat berupa format yang standar untuk mencegah kesalahan presepsi dari pihak-pihak yang terkait . Waktu berkomiunikasi / berkoordinasi yang digunakan selalu pada batas standar agar dalam mengambil keputusan tidak berlarut-larut. Di Operasional Distribusi pengaturan tentang berkomunikasi ini dibuatmenjadi SOP Komunikasi. Pihak yang terkait pada pemeliharaan Kubikel 20 KV antara lain:
o Perlengkapan Kerja Beberapa pihak yang terkait antara lain, Pengatur Distribusi / Piket Pengatur, pihak operasi dan Konsumen.
o Berkoordinasi dengan pihak adalah untuk mengetahui dan memastikan bahwa instalasi kubikel yang akan dipelihara dan dipadamkan sudah diantisipasi akibat pemadamannya.
o Berkoordinasi dengan Pengatur Distribusi / Piket Pengatur adalah agar keadaan jaringan dipastikan siap dipadamkanatau dibebani dan aman dari adanya kecelakaan kerja bagi personil dilokasi pemeliharaan kubikel dimaksud maupun di luar lokasi yang berhubungan dengan jaringan yang akan dipelihara. o Sedangkan berkoordinasi dengan Konsumen bertujuan
agar konsumen tahu akan adanya listrik pemdadaman listrik di tempatnya.
4.7.4 Pembuatan SOP
Untuk membuat SOP perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu :
Keterlibatan pihak-pihak yang terkait dengan pengoperasian kubikel 20KV untuk membuat ketentuan berkoordinasi.
Kondisi jaringan berupa data kemampuan Trafo GI, Kemampuan
Hantar Arus ( KHA ) hantaran penyulang, pemanfaatan energi listrik pada konsumen.