• Tidak ada hasil yang ditemukan

Clavia : Journal Of Law, Vol 19 No. 1 (Maret 2020)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Clavia : Journal Of Law, Vol 19 No. 1 (Maret 2020)"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Clavia : Journal Of Law, Vol 19 No. 1 (Maret 2020)

PENYELESAIAN PEMBIAYAAN BERMASALAH DENGAN JAMINAN FIDUSIA PADA BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DANA MONETER COMPLETION OF PROBLEM FINANCING WITH FIDUSIAN GUARANTEE IN BPRS

Ainun Putri Isnaad1, Kamsilaniah2, Juliati3 1 Students of the Faculty of Law, University of Bosowa

2 Bosowa University Faculty of Law

Corresponding e-mail to : [email protected]

Received : February 11, 2021 Accepted : March 14, 2021 Published : March 22, 2021

Abstract

The purpose of establishing a Sharia Bank is to mediate between the owner of the fund and the client who needs to obtain funds through agreements and agreed refunds. Through this role,

Islamic Banks are recognized to have made many

contributions.to.the.country's.economic.and.social.development. But in reality, not all customers have succeeded in returning Islamic Bank funds according to the agreement. There may be a number of problems with financing, which can threaten bank liquidity. This article is intended to explain the problem of Islamic banks and financing methods to solve them.

Keywords: problem financing, problem financing solution

A. PENDAHULUAN

Definisi bank..syariah…dapat…dilihat…dalam "Hukum Perbankan…Islam", yang…menjelaskan:…"Bank…syariah..adalah..bank yang melakukan…kegiatan bisnis…sesuai dengan ajaran…Islam. Mereka termasuk bank…umum syariah…dan Bank Keuangan Masyarakat Islam berdasarkan jenis."

Bank berdasarkan hukum Syariah termasuk Bank..Umum..Syariah..(BUS) dan Bank Perkreditan..Rakyat..Syariah..(BPRS), yang keduanya beroperasi sesuai dengan hukum Syariah. Dengan kata lain,.prosedur operasi..bank..mengacu..pada..hukum..Islam..(Quran..dan Hadits). Dalam..prosedur ini, bank menghindari praktik memasukkan riba ke dalam kegiatan investasi berdasarkan pembagian keuntungan dalam pembiayaan perdagangan.

(2)

Menurut..UU..No. 21..tahun..2008..tentang..Bank..Syariah, ia tidak menggunakan istilah kredit, melainkan menggunakan istilah keuangan sebagai ekuivalen dengan kredit…dalam system…lembaga..keuangan…Islam. Namun,…dalam…beberapa…kasus, terkadang istilah kredit masih tidak dapat dihindari.

Pembiayaan adalah kegiatan di mana bank syariah mentransfer dana kepada pelanggan (debitur) yang membutuhkan dana. Pendanaan sangat bermanfaat bagi bank syariah, debitur dan pemerintah. Di antara dana lain yang disediakan oleh bank syariah, dana memberikan penghasilan terbesar.

Di antara produk-produk…pembiayaan…bank…syariah,..jaminan…adalah…salah..satu persyaratan untuk…mengajukan permohonan produk…pembiayaan..di..bank…syariah. Menurut…tujuan, agunan tidak dimiliki…oleh…bank,…tetapi…karena…hutang dan perjanjian…kredit antara…bank dan debitur,…bukan…perjanjian…jual…beli…yang menyebabkan pengalihan kepemilikan agunan.

Jaminan secara luas ditafsirkan sebagai jaminan dan kewajiban termasuk jaminan pribadi dan jaminan perusahaan. Jaminan sempit hanya mengacu pada jaminan termasuk properti bergerak..dan..tidak..bergerak, sedangkan..jaminan utama adalah..komoditas, proyek…atau..hak..klaim yang…dibiayai…oleh instrumen pembiayaan, sedangkan jaminan lainnya adalah proyek lain yang tidak dibiayai oleh instrumen pembiayaan.

Kebijakan tersebut ditentukan oleh bank dengan meninjau kepentingannya untuk alasan tertentu, termasuk namun tidak terbatas pada pembiayaan yang mengikat, kepastian (harga) pembiayaan hipotek, kenyamanan pembayaran hipotek, kemudahan pengawasan dan pemeliharaan, dll.

Jaminan adalah semacam hal yang diberikan kepada kreditor, yang tujuannya adalah untuk membuat orang yakin bahwa debitur akan melakukan kewajiban untuk menilai uang yang dihasilkan oleh perjanjian. Secara garis besar, ada 2 (dua) jaminan yang dikenal, yaitu jaminan pribadi dan jaminan material. Dalam praktiknya, jaminan yang sering digunakan adalah jaminan material, salah satunya jaminan kepercayaan. Mengenai jaminan kepercayaan yang tercantum dalam UU No. 42 tahun 1999.

Pasal 1 ayat 2 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang trust trust menetapkan objek trust, yaitu:

(3)

"Jaminan kepercayaan adalah hak keamanan untuk properti berwujud, tidak berwujud dan tidak bergerak, terutama bangunan yang tidak dapat digadaikan. Hipotek yang disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang hak hipotek masih dikendalikan oleh wali amanat, sebagai pembayaran kembali atas beberapa Hipotek utang memberi prioritas kepada pengawas kreditor lain. "

Ketentuan tentang jaminan kepercayaan tidak diatur sesuai dengan ajaran Islam, tetapi hanya sesuai dengan hukum positif Indonesia. Oleh karena itu, masalahnya di sini adalah, mengingat bahwa setiap transaksi yang dilakukan oleh lembaga keuangan Islam harus mematuhi ketentuan hukum Syariah, diperbolehkan untuk menggunakan akta perwalian sebagai ikatan yang mengikat dalam perjanjian pembiayaan lembaga keuangan Syariah .

Jika..pembiayaan..yang..diberikan..berjalan..dengan..lancar.. dan debitur dapat melunasi..hutang..sesuai..dengan perjanjian pembiayaan (perjanjian), hubungan bisnis antara debitur dan bank..akan..berakhir..karena..hak..dan..kewajiban semua pihak telah terpenuhi.

Pembiayaan terjamin berarti bahwa pembiayaan menjadi masalah ketika debitur tidak dapat melakukan pembayaran karena gagal bayar atau gagal bayar (selanjutnya disebut gagal bayar) dan menimbulkan hutang. Bank yang tidak ingin dirugikan akan membayar hutang debitur dengan menerapkan jaminan pembiayaan. Ini dilakukan dengan melelang salah satu jaminan.

Menurut ketentuan Menteri..Keuangan…tentang…pelaksanaan…instruksi…lelang, dinyatakan bahwa: "Lelang mengacu pada barang yang dijual secara publik yang harganya disediakan di depan umum dan / atau secara lisan, dan harga tertinggi naik atau turun. Lelang akan diumumkan sebelum ini."

Lelang untuk penyitaan agunan bank syariah adalah lelang untuk menegakkan hak hipotek, yang merupakan jenis lelang lelang. "Lelang eksekutif adalah pelaksanaan putusan atau keputusan pengadilan, dokumen dan / atau lelang setara lainnya yang disyaratkan oleh hukum", termasuk pelaksanaan putusan pengadilan / eksekusi pengadilan dalam pelelangan, pelelangan properti kebangkrutan, pelelangan aset yang dipercayakan, pelelangan aset yang dipercayakan , Pelelangan harta benda yang dicuri, lelang komoditas yang tidak dikendalikan oleh…negara, lelang..eksekusi..PUPN,..lelang..eksekusi..pajak,..dll.

Hal…ini tercantum dalam..Undang-Undang..Penjamin Emisi..(UUHT), yang..membahas…jaminan…kredit bank…(bermasalah),…yaitu, “jika debitur…tidak

(4)

berjanji,…pemegang…hipotek pertama..memiliki..hak..untuk..menjual..dengan kekuatannya sendiri melalui lelang publik Objek hak underwriting dan menagih pembayaran. Jual piutang. " Ketika perubahan besar dilakukan terhadap Peraturan Menteri Keuangan, ditunjukkan bahwa bagi lembaga yang menerapkan prinsip-prinsip hukum Syariah, jika kreditor mengajukan permintaan lelang melalui mekanisme hukum penegakan pengadilan (dilaksanakan dengan putusan pengadilan), otoritas adalah pengadilan agama. Ini dilakukan karena pengadilan agama tahu lebih banyak tentang prinsip-prinsip Syariah (khusus) daripada pengadilan negara dan pengadilan komersial.

Ketika perubahan besar dilakukan terhadap Peraturan Menteri Keuangan, ditunjukkan bahwa bagi lembaga yang menerapkan prinsip-prinsip hukum Syariah, jika kreditor mengajukan permintaan lelang melalui mekanisme hukum penegakan pengadilan (dilaksanakan dengan putusan pengadilan), otoritas adalah pengadilan agama. Ini dilakukan karena pengadilan agama tahu lebih banyak tentang prinsip-prinsip Syariah (khusus) daripada pengadilan negara dan pengadilan komersial.

Nilai batas tidak bersifat rahasia. Ini dijelaskan dalam Peraturan Menteri Keuangan, yang juga membahas bahwa untuk melaksanakan pelelangan, batasan harus dimasukkan dalam pengumuman lelang.

Menurut ketentuan Menteri Keuangan mengenai pelaksanaan lelang, pernyataan itu mengatakan: `` Batas tersebut ditentukan oleh penjual secara tertulis, dan tidak akan diajukan kepada tender selambat-lambatnya sebelum pengumuman lelang atau sebelum dimulainya lelang (jika batasan tidak termasuk dalam pengumuman lelang) Pejabat. ''

1. Seiring waktu, tidak banyak pelanggan (peminjam) mengalami masalah dalam mengelola dana mereka sendiri. Masalah-masalah ini dapat disebabkan oleh pertemuan pribadi dan situasi yang tidak terduga. Ketidakmampuan pelanggan (peminjam) untuk mempertahankan kepercayaan yang diberikan oleh pemberi pinjaman atau faktor kesalahan manusia dapat menyebabkan masalah pribadi dan akhirnya mempengaruhi pembiayaan yang bermasalah. Situasi yang tidak terduga dapat dijelaskan dengan terjadinya bencana alam seperti tsunami dan gempa bumi, termasuk inflasi, yang biasanya mengarah pada pertumbuhan ekonomi. Untuk masalah seperti itu, perlu untuk mengambil tindakan atau metode yang efektif untuk mencegah BPRS dari masalah keuangan.

(5)

B. METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian yudisial empiris, atau penelitian lapangan, yang bertujuan untuk mempelajari peraturan hukum yang berlaku dan realitas sosial. Penelitian hukum empiris adalah penelitian hukum yang mengimplementasikan atau menegakkan ketentuan hukum normatif ketika mengambil tindakan pada setiap peristiwa hukum tertentu yang terjadi di masyarakat. Dengan kata lain, ini adalah studi tentang situasi aktual atau situasi aktual di masyarakat, yang bertujuan untuk menemukan dan menemukan fakta dan data yang diperlukan.Setelah mengumpulkan data yang diperlukan, masalah yang pada akhirnya dapat menyelesaikan masalah dapat diidentifikasi.

Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data berikut digunakan untuk mendapatkan data melalui penelitian lapangan:

a. Obsevasi

Dalam penelitian ini, penulis langsung mempelajari bidang atau lokasi penelitian. Fokus utama pada tahap ini adalah untuk melihat sejauh mana hukum perbankan Islam diterapkan di masyarakat. Dalam penelitian ini, pengamatan memiliki karakteristik umum yang harus dipenuhi ketika melakukan penelitian, termasuk kejelasan objek pengamatan, perilaku dalam kategori, unit yang digunakan untuk mengukur perilaku, jenis dan ukuran sampel, serta validitas dan reliabilitas.

b. Wawancara

Data yang tidak lengkap disempurnakan oleh data lapangan yang dikumpulkan untuk yang diwawancarai melalui teknologi wawancara langsung. Wawancara adalah proses mendapatkan informasi untuk tujuan tertentu dengan menggunakan panduan wawancara untuk bertanya langsung kepada orang yang diwawancarai. Proses tanya jawab langsung akan memudahkan penulis untuk menambang informasi yang lebih terperinci terkait dengan pertanyaan penelitian utama.

Data yang diperoleh dari penelitian diproses dengan menggunakan analisis hukum deskriptif, yaitu dengan mengoordinasikan dan menggambarkan situasi aktual mengenai penerapan UU Syariah.

(6)

C. HASIL DAN PEMBAHASAN

Penyediaan dana didasarkan Pasal 1 butir 25 UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah pada bentuk dana berikut atau klaim yang setara: transaksi bagi hasil dalam bentuk mudrabarah dan musyarakah, transaksi sewa dalam bentuk ijarah atau transaksi sewa dalam bentuk Ijarah Muntahiya bit Tamlik, piutang murabahah, salam, dan istishna, dalam bentuk qard Transaksi peminjaman dan peminjaman, serta transaksi penyewaan untuk transaksi multi-layanan dalam bentuk ijarah. Menurut satu atau lebih perjanjian antara Bank Syariah dan / atau UUS dan pihak lain, perjanjian tersebut mensyaratkan para pihak untuk mendapatkan pembiayaan dan / atau memberikan fasilitas pendanaan tertentu untuk mengembalikan dana setelah jangka waktu tertentu Sebagai imbalan untuk ujrah, tanpa kompensasi atau dividen.

Dalam berbagai peraturan perbankan, tidak ada definisi pembiayaan bermasalah, kredit macet (NPF) untuk pembiayaan, dan kredit macet (NPL) untuk fasilitas kredit. Namun, dalam statistik Bank Syariah, NPF didefinisikan sebagai: pembiayaan tidak lancar, mulai dari yang lebih rendah ke yang buruk. Karena itu, pembiayaan yang dimaksud adalah pembiayaan yang kurang lancar, mencurigakan, dan buruk. Dengan kata lain, pembiayaan macet mengacu pada pembiayaan yang pelanggan tidak dapat dengan lancar membayar bank ketika jatuh tempo. Faktor-Faktor Penyebab Pembiayaan Bermasalah

Ada banyak faktor yang menyebabkan masalah pembiayaan, termasuk: faktor internal bank, faktor internal pelanggan, faktor eksternal, faktor kegagalan bisnis dan kemampuan manajemen yang tidak memadai: faktor internal bank: (1) analisis pembiayaan yang tidak mencukupi, a. Analisis keuangan tidak didasarkan pada data yang akurat atau data berkualitas rendah; b. Informasi pembiayaan yang tidak lengkap atau sejumlah kecil data c. Dana terlalu sedikit d. Terlalu banyak pembiayaan, e. Analisisnya salah, f. Masa pembiayaan terlalu lama, g. Periode pembiayaan terlalu singkat, h. Kurangnya tanggung jawab pengambilan keputusan keuangan, (2) Dokumen pembiayaan dan data pembiayaan pelanggan yang tidak memadai tidak dicatat dengan baik; Pengawasan dokumen fisik tidak mengikuti peraturan. (3) Pengawasan keuangan yang tidak memadai: bank tidak memiliki pengawasan dan pemantauan kinerja pelanggan yang berkelanjutan dan teratur; Terbatasnya data dan informasi terkait pelestarian dan penyelesaian pembiayaan; c. d) Tindakan korektif belum diambil sejak dini. Terlalu banyak pelanggan, seperti pelanggan yang tersebar; f. Konsentrasi portofolio pembiayaan yang

(7)

berlebihan, (4) Kecerobohan staf bank: bank terlalu bersemangat untuk mendapat untung b. Bank terlalu dikompromikan, c. Bank tidak memiliki kebijakan pembiayaan yang sehat; d. Pejabat bank atau pejabat terlalu menyederhanakan masalah, e. Bank tidak dapat menyaring risiko bisnis; f. Persaingan antar bank, g. Jika keputusan tidak tepat waktu, yaitu, terus memberikan pembiayaan untuk perusahaan yang siklusnya menurun; j. Penilaian risiko aktif dan tidak aktif, k. Tetapkan standar risiko yang terlalu rendah; l. Tanpa asuransi, m. Ekspansi pembiayaan, (5) Kelemahan departemen hipotek: pastikan tidak dimonitor dan dipantau dengan benar; b. Terlalu banyak jaminan c. Nilai hipotek tidak pantas, d. Jaminan virtual, e. f. Jaminan telah terjual. Jaminan lemah, (6) Kerusakan dalam kebijakan pembiayaan Prosedur pembiayaan terlalu panjang; Kewenangan untuk menentukan dana sangat terbatas. (7) Sumber daya manusia yang tidak memadai: kurangnya insentif yang jelas untuk berhasil menyelesaikan pelatihan atau mengumpulkan dana; Keahlian yang terbatas di bidang penyelamatan dan penyelesaian dana, c. Pejabat keuangan memiliki pendidikan dan pengalaman yang sangat terbatas, d. Kurangnya pakar hukum untuk mendukung implementasi dana penyelesaian dan penyelamatan, e. Jumlah ahli pemulihan dana potensial terbatas, (8) Kelemahan teknis: bank tidak mampu secara teknis; b. Fasilitas dan infrastruktur yang terkait dengan pekerjaan teknis terbatas, (9) Staf bank penipuan: staf bank yang melibatkan kepentingan pribadi; b. Pejabat keuangan memiliki disiplin rendah dalam menerapkan sistem dan prosedur keuangan. Faktor internal pelanggan: (1) Kelemahan karakter pelanggan: pelanggan tidak mau atau tidak tulus; b. Pelanggan gagal dalam perjudian c. Pelanggan menghilang; (2) Pelanggan ceroboh: b. Penyimpangan dalam penggunaan dana; b. Perusahaan ini dikelola oleh keluarga yang tidak profesional, (3) Kurangnya kemampuan pelanggan: b. Pembiayaan tidak dapat dilunasi karena kelancaran pengembangan bisnis; b. Kemampuan manajemen yang buruk, c. Teknologi produksi yang ketinggalan jaman, d. Kemampuan pemasaran yang tidak memadai, e. Pengetahuan yang terbatas atau tidak memadai; f. Pengalaman terbatas atau tidak memadai; g. Informasi terbatas atau tidak mencukupi, (4) Bencana yang dialami pelanggan: bencana penipuan; b. Insiden c. Kecelakaan kriminal; d. Vandalisme tindakan sipil, e. Kecelakaan keluarga f. Penyakit, gram. Bencana kematian, (5) Kelemahan dalam manajemen pelanggan: mogok pekerja, b. Perselisihan antara manajemen; c. Efisiensi rendah d. Daya saing layanan rendah, seperti f. persaingan yang sangat ketat. Efek distribusi buruk, h. Kurangnya promosi produksi, yaitu keberadaan produk tidak tepat waktu. Faktor eksternal: lainnya (1) Kondisi ekonomi yang tidak menguntungkan:

(8)

globalisasi yang berdampak negatif pada perekonomian; b. Perubahan nilai tukar, (2) Situasi politik dalam negeri tidak menguntungkan, a. Ganti beberapa pejabat; b. Hubungan.diplomatik.dengan Negara.lain, c. Adanya.keresahan..sosial, (3) membahayakan..politik..negara..lain, a. Perlindungan asing, b. Pemogokan tenaga kerja asing c. d. Perkembangan politik di negara lain. Kebijakan pembuangan luar negeri (4) Kondisi alam yang tidak menguntungkan: faktor alam dengan efek negatif; b. Sumber daya alam yang tidak terbatas, (5) Peraturan pemerintah yang tidak menguntungkan, faktor kegagalan bisnis: (1) Hubungan: kehilangan hubungan romantis, b. Hubungan dengan pelanggan telah memburuk; c. Hubungan dengan pekerja memburuk, (2) Aspek yudisial: kerusakan lingkungan b. Gunakan tenaga kerja asing (3) Kesulitan dalam sumber daya manusia dalam manajemen, b. Perselisihan antara manajemen; c. d. Belum profesional. Cenderung investasi murah, e. Tidak dapat mengelola bisnis, (4) Pemasaran: kehilangan fasilitas, b. Tidak menuntut, c. Musiman atau pengaruh mode; d. Pembuangan politik, e. Inflasi domestik, f. Hambatan untuk pasar asing g. Perubahan nilai tukar, h. Pasar persaingan asing jenuh, (5) Teknologi produksi: kurangnya teknologi, b. Lokasi salah, c. Proyek ini eksperimental, d. Mesinnya tidak lengkap, seperti bottleneck f. g. Perubahan mode dan selera orang-orang berkualitas rendah, h. Kegagalan produksi, (6) Aspek keuangan: harga bahan baku naik; b. Pembayaran keterlambatan pelanggan, c. Laporkan kesalahan d. Volume bisnis lebih kecil dari beban utang f. Mark, g. Pembukuan tidak terjadwal, (7) Aspek sosial ekonomi: daya beli masyarakat menurun, b. Perubahan rute jalan membuat lokasi menjadi tidak strategis. Faktor-faktor kemampuan manajemen yang tidak memadai: (1) catatan yang tidak mencukupi; (2) informasi akuntansi biaya yang tidak memadai, (3) Modal jangka panjang yang tidak mencukupi; (4) Tidak dapat mengendalikan biaya (kegagalan pengeluaran anggaran); (5) Overhead yang berlebihan; (6) Kurangnya pengawasan (tidak ada kontrol internal)), (7) Kegagalan untuk menjual (pembelian yang salah), ( 8) Investasi berlebihan, (9) Kurangnya kemampuan teknis, (10) Perselisihan antara manajemen. Sebelum bank menentukan langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan pembiayaan bermasalah, perlu terlebih dahulu memeriksa penyebab pembiayaan bermasalah. Jika masalah pembiayaan disebabkan oleh faktor eksternal seperti bencana alam, bank tidak perlu melakukan analisis lebih lanjut. Yang penting adalah bagaimana membantu pelanggan mendapatkan produk alternatif dari perusahaan asuransi dengan segera. Namun, ketika penyebab kemacetan adalah faktor internal, yaitu, kemacetan yang disebabkan oleh manajemen perlu diselidiki. Jika bank

(9)

melakukan pemantauan secara hati-hati selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun, masalah pembiayaan akan muncul, yang kurang lebih terkait dengan kelemahan pengawasan itu sendiri. Kecuali jika pengawasan mendalam dilakukan, manajemen perusahaan dapat melakukan kegiatan yang tidak jujur. Sebagai contoh, manajemen perusahaan dengan sengaja mentransfer penggunaan dana untuk kegiatan bisnis..lain..di.luar..proyek..yang..disepakati.

Penyelamatan pembiayaan bermasalah

Pembiayaan tabungan adalah istilah teknis yang umum digunakan di kalangan bank, mengacu pada langkah-langkah dan langkah-langkah yang diambil bank untuk mengatasi masalah pembiayaan yang dihadapi oleh debitur yang masih memiliki prospek bisnis yang baik tetapi tidak mampu membayar pokok dan utang lain, sehingga debitor dapat memenuhi kewajibannya lagi.

Di antara hukum dan peraturan yang berlaku, bagi bank yang melakukan kegiatan sesuai dengan prinsip Syariah, peraturan Bank Indonesia dapat memberi Anda pemahaman tentang restrukturisasi pembiayaan: dalam PBI (Peraturan Banak Indonesia) No. 10/18/PBI/2008 tentang restrukturisasi Pembiayaan bagi bank Syariah dan Unit Usaha Syariah sebagai berikut, restrukturisasi pembiayaan adalah upaya yang dilakukan oleh bank untuk membantu pelanggan memenuhi kewajibannya, termasuk: penjadwalan ulang, yaitu mengubah jadwal pembayaran untuk kewajiban atau periode waktu pelanggan, dan menyesuaikan…kembali,…yaitu mengubah sebagian atau seluruh jadwal pembayaran untuk persyaratan pembiayaan. Perubahan lain dalam pembayaran angsuran, periode waktu atau pengurangan, selama mereka tidak menambah sisa hutang pelanggan yang harus dibayarkan kepada bank Reorganisasi, perubahan dalam persyaratan pembiayaan tidak terbatas pada penjadwalan ulang atau penjadwalan ulang, termasuk tetapi tidak terbatas pada: peningkatan pembiayaan..bank, konversi…Perjanjian pembiayaan, konversi perusahaan menjadi efek sementaraSyariah…dan…konversi...perusahaan…menjadi…ekuitas…sementara…di…perusa haan…klien.

Peraturan..Bank…Indonesia…No…8/12/PBI/2006…tanggal…10…Juli…2006…Tentang…la poran…berkala…bank…umum,…penjelasan…pasal…2…ayat…(4)…huruf…g:…“restruktur isasi…Pembiayaan…adalah…pekerjaan…perbaikan…bank…dalam…pembiayaan,…piutang

(10)

memenuhi…utangnya”…selanjutnya…PBI…No.…8/21/PBI/2006…tanggal…5…Oktober… 2006…tentang…penilaian..kualitas..aktiva..bank..umum..yang…melaksanakan…kegiatan…u saha…berdasarkan…prinsip…syariah,…pasal…1…butir…31:…restrukturisasi…Pembiayaan

...adalah..peningkatan bank dalam memberikan dana kepada pelanggan yang mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban mereka sesuai dengan ketentuan yang berlaku (yaitu, Fatwa Act dari Komite Syariah Nasional dan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku untuk bank syariah).”

Dapat disimpulkan dari peraturan Bank Indonesia di atas bahwa sesuai dengan tujuannya, pembiayaan tabungan adalah upaya bank dan langkah-langkah restrukturisasi dengan mengikuti peraturan yang berlaku, sehingga pembiayaan tidak lancar (tidak memenuhi syarat, mencurigakan dan kehilangan) dapat atau secara bertahap menjadi Semua. Kembali mulus.

Menurut prinsip-prinsip Syariah, bentuk-bentuk restrukturisasi sambil menyimpan pembiayaan bermasalah meliputi: mengurangi kompensasi atau distribusi laba, mengurangi tunggakan untuk distribusi pendapatan atau laba, mengurangi tunggakan pokok pembiayaan, memperpanjang periode pembiayaan, dan meningkatkan fasilitas pembiayaan. Mengumpulkan aset debitur sesuai dengan peraturan yang berlaku dan mengubah pembiayaan menjadi investasi di perusahaan debitur. Langkah-langkah ini dapat diimplementasikan secara bersamaan (digabungkan), misalnya, dengan mengurangi jumlah utang dan pembayaran, mengubah ketentuan perjanjian, dan sebagainya.

Khusus mengenai konversi akad murabahah, fatwa DSN No. 49/DSN-MUI/11/2005 Antara lain, dijelaskan bahwa lembaga keuangan Islam dapat mengalihkan kontrak Murabahah//bagi//pelanggan//yang//tidak//dapat//menyelesaikan/membayar//pembiayaan//Mur abahah//sesuai dengan//jumlah/dan//waktu//yang//disepakati,//tetapi mereka masih//merupakan calon pelanggan dengan/ketentuan/sebagai/berikut: (a) Kontrak Murabahah//diakhiri dengan menjual objek//murabahah ke LKS dengan harga pasar..Pelanggan membayar sisa hutang kepada LKS dari hasil penjualan.Jika pendapatan melebihi hutang yang tersisa, kelebihannya dapat digunakan sebagai pembayaran di muka untuk kontrak ijarah atau mudharabah dan musyarakah. Jika hasil penjualan kurang dari sisa hutang, sisa hutang masih menjadi hutang pelanggan, yang merupakan metode penyelesaian yang disepakati antara LKS dan pelanggan. (b) LKS dan pelanggan model dapat menandatangani kontrak baru dengan menandatangani kontrak ijarah muntahiya bit tamlik (IMBT) untuk barang atau cetakan tangan atau Mubaraka.

(11)

Sebagaimana dinyatakan oleh Fatwa, konversi kontrak Murahaba menjadi kontrak pembiayaan Mutraba atau Musharraka atau Perjanjian Mata Uang dan Perpajakan Internasional adalah bagian dari reorganisasi pembiayaan berdasarkan PBI No. 8/21/PBI/2006.16

Penyelesaian.Pembiayaan.Bermasalah

Penyitaan jaminan Pada jaminan hak tanggungan, Pasal 6 Undang-Undang No.4 Tahun 1996, Tekankan bahwa jika debitur gagal memenuhi janji, metode lain yang dapat diambil bank adalah melelang agunan. Menurut Pasal 40 dari Undang-Undang Perbankan Syariah, bank-bank Islam dan.UUS.dapat.membeli.sebagian.atau..seluruh..agunan..melalui lelang atau di..luar lelang berdasarkan..pengabaian sukarela..dari.pemilik..agunan atau otorisasi penjualan dari pemilik agunan. Kewajiban di atas harus dibayar dalam satu tahun (satu) tahun. Jaminan yang diberikan kepada bank syariah dapat disita atau didenda, meskipun ini sangat tergantung pada kebijakan manajemen. Sebagian besar bank syari'ah membiayai kembali, membarui dan membiayai kembali dalam bentuk alQord al-Hasan, dan harus mempertahankan jaminan sebagai jaminan. Bahkan jika ini tidak menyelesaikan masalah, Bank Syariah dapat menjual atau menyita agunan sesuai dengan kesepakatan yang dicapai.

Namun, metode penyitaan agunan masih konsisten dengan ajaran Islam, seperti: simpati (sopan, hormat dan perhatian terhadap tujuan penyitaan), empati (memotong situasi pelanggan, mengambil minat pelanggan sebagai titik awal, dan membangkitkan antusiasme pelanggan untuk mengembalikan hutang) Dan penindasan (jika pelanggan tidak mempertimbangkan dua tindakan pertama, tindakan ketiga dijalankan). Jika pelanggan masih jelas mengabaikan metode ketiga, metode berikut dapat digunakan: Pertama, jual agunan. Prosedur yang dilakukan dalam kasus ini adalah jika jaminan dijual secara tertulis jika perjanjian telah dicapai sebelumnya. Jika nilai agunan tidak sebanding dengan nilai yang dipinjam, itu harus diamankan oleh salah satu dari dua pihak. Prosedur menjual agunan adalah dengan menjualnya terlebih dahulu, kemudian mengonversinya, dan kemudian menjaminnya. Kedua, menyita barang-barang yang memenuhi nilai pinjaman. Prosedur ini dapat diterapkan jika ada perjanjian tertulis untuk menyita barang dari nilai pinjaman. 18 Menurut ketentuan perjanjian pembiayaan, Lembaga Arbitrase Syariah Nasional, jika.salah..satu..pihak..gagal melakukan kewajibannya.atau.ada..perselisihan antara kedua..pihak, perjanjian tersebut..tidak tercapai..dan melewati.musyawarah, dan itu dapat diselesaikan melalui Komisi Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) (UU No. 30 Tahun

(12)

1999). BASYARNAS Ia memiliki hak untuk menyelesaikan perselisihan Muamara secara adil dan cepat, terutama dalam hukum dan ekonomi Islam, dan untuk memberikan.pendapat.yang.mengikat.atas.permintaan.para.pihak tanpa.perselisihan tentang perjanjian. Kedua pihak mencapai.kesepakatan.untuk.menyerahkan penyelesaian..sengketa..kepada..BASYARNAS:..a) menambahkan klausul arbitrase ke teks perjanjian,..atau..b)..perjanjian..arbitrase terpisah yang..dicapai dan..disepakati oleh..kedua belah pihak..sebelum dan setelah sengketa terjadi. Keputusan arbitrase adalah keputusan akhir yang mengikat (final and biding).

D. KESIMPULAN

Bank syariah adalah lembaga keuangan yang bertindak sebagai perantara antara pihak-pihak yang kelebihan dana dan pihak-pihak-pihak-pihak yang kurang dana dalam praktiknya setiap tahun, dan mereka juga menghadapi pinjaman bermasalah. Masalah pembiayaan dapat terjadi karena berbagai faktor, faktor-faktor ini meliputi: faktor internal bank, faktor internal pelanggan, faktor eksternal, faktor kegagalan bisnis dan kemampuan manajemen yang tidak memadai. Untuk.menyelamatkan.bank.syariah.dari.pembiayaan.bermasalah..dan..membantu pelanggan melunasi hutang, bank syariah dapat mengatur ulang dengan cara berikut: rescheduling (penjadwalan kembali), reconditioning (persyaratan kembali), restructuring (penataan kembali). Namun, jika tiga reorganisasi tidak berhasil, bank syariah dapat menyelesaikan masalah pembiayaan melalui metode berikut: penyitaan agunan, lembaga arbitrase syariah nasional dan penyelesaian melalui litigasi.

DAFTAR PUSTAKA Antonio,..Muhammad.Syafii,.2001,.Bank.Syariah.dari.Teori.ke.Praktik,.Jakarta:.Gema.Insani. Djamil,.Fathurrahman,.2012,.Penyelesaian.Pembiayaan..Bemasalah..di.Bank..Syariah,.Jakarta: ..Sinar..Grafika. Hasibuan,..Malayu,.tt.,..Dasar-dasar..Perbankan,..Jakarta:..Bumi..Aksara. Hermansyah,.2006,.Hukum.Perbankan.Nasional.Indonesia,.Jakarta:.Kencana. Kasmir,.2002,.Dasar-dasar.Perbankan,.Jakarta:.Rajawali.Pers. Muhammad,.2002,.Manajemen.Bank.Syariah,.Yogyakarta:/UPP/AMPYKPN,/2002.

(13)

Widyaningsih/dkk.,/2007,/Bank.dan/Suransi/Islam/di/Indonesia,/Jakarta:/Kencana http://sharianomics.wordpress.com/2010/11/24/faktor-penyebabpembiayaan-bermasalah/ (akses 30 Desember 2014)

(14)

Referensi

Dokumen terkait

Kespontan reaksi substitusi nukleofilik antara tersier butil klorida dengan hidroksida menunjukan reaksi tidak spontan, hal ini terbukti dari nilai energi bebas

Karena, shalat berjamaah itu lebih baik dari pada shalat sendirian.Jauh perbedaan derajatnya antara shalat berjamaah dengan shalat sendirian. Dari shalat berjamaah

Definisi 3.1 Diberikan himpunan tak kosong dan = himpunan semua operasi biner asosiatif pada.

untuk struktur modal berhubungan dengan igyarat yang diberikan kepada investor melalui keputusan suatu perusahaan untuk menggunakan utang atau saham dalam memperoleh modal

However, their frequencies are still higher than those of any outer circle varieties besides Singaporean English, allowing a general proposition that neg-raising – or at the

dihadapi organisasi dalam melakukan bisnis, berkaitan dengan perilaku yang konsisten, dan seharusnya mampu menciptakan keunggulan kompetitif perusahaan.. • Strategi sangat

The present study centres around the negative-existential cycle proposed by Croft (1991) and its application on three Chinese varieties – Mandarin, Hong Kong Cantonese,

SystemT ’s Annotator Library consists of over 300 rules.) The development phase involves writing complex regular expressions to identify syntactic features (e.g., phone num- bers