EVALUASI PROGRAM PENDATAAN CARIK JAKARTA DALAM UPAYA KETAHANAN
KELUARGA PADA MASA PANDEMI DI DASAWISMA PETUKANGAN UTARA
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Oleh Ayu Wulandari 11170541000045
PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1443 H/2021
LEMBAR PERSETUJUAN
i ABSTRAK
Ayu Wulandari, 11170541000045 “Evaluasi Program Pendataan Carik Jakarta dalam Upaya Ketahanan Keluarga pada Masa Pandemi di Dasawisma Petukangan Utara”
Mengetahui bahwa pandemi akibat virus Covid -19 menjadi masalah yang cukup serius menjadikan ketahanan keluarga di lingkungan masyarakat menjadi perhatian bagi banyak kalangan.
Kemudian adanya program pendataan Carik Jakarta yang dibentuk sejak tahun 2019 dengan tujuan untuk mendapatkan informasi dan data keluarga demi mewujudkan ketahanan keluarga menjadi satu hal yang perlu diketahui proses pelaksanaannya.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif berupa observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Wawancara dilakukan dengan menghadirkan enam narasumber yaitu Kasi Kesra Kelurahan Petukangan Utara, Sekretaris TP-PKK Kelurahan Petukangan Utara, dua Kader Dasawisma Petukangan Utara, dua masyarakat di lingkungan Petukangan Utara. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori evaluasi program, konsep program pendataan Carik Jakarta dan teori ketahanan keluarga.
Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa pelaksanaan pendataan yang dilakukan oleh Kader Dasawisma sudah sesuai dengan prinsip pendataan yang ditetapakan oleh Peraturan Menteri Sosial Nomor 8 Tahun 2012. Kemudian hal lain seperti sumber daya manusia, waktu, sarana dan prasarana yang ada menjadikan pelaksanaan program berjalan dengan baik dan sistematis. Namun pendataan yang sudah baik akan lebih baik lagi jika ditambahkan dengan pelayanan yang maksimal. Secara garis besar program pendataan Carik Jakarta sudah membantu masyarakat dalam upaya ketahanan keluarga dari segi legalitas, fisik (kesehatan) dan ekonomi. Namun dari segi sosial psikologi dan sosial budaya belum terlihat.
Kata Kunci: Evaluasi Program, Carik Jakarta, Ketahanan Keluarga.
ii KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil 'aalamiin, puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah S.W.T. berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul Evaluasi Program Pendataan Carik Jakarta dalam Upaya Ketahanan Keluarga pada Masa Pandemi di Dasawisma Petukangan Utara. Shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Tentunya penulisan skripsi ini sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Strata Satu Sarjana Sosial (S.Sos).
Penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan yang kurang berkenaan. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Maka dari itu kritik dan saran dibutuhkan demi kesempurnaan skripsi ini. Kemudian penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan ucapan terima kasih kepada:
1. Bapak Suparto, M.Ed., Ph.D sebagai Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ibu Dr. Siti Napsiyah Ariefuzzaman, S.Ag, BSW, MSW sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik sekaligus Dosen Pendamping Akademik, Bapak Dr. Sihabuddin Noor, M.A sebagai Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum, Bapak Cecep Sastrawijaya, M.A sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan.
iii 2. Bapak Ahmad Zaky, M.Si sebagai Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Ibu Hj. Nunung Khoiriyah, M.A selaku Sekretaris Program Studi Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Ibu Nadya Kharima M. Kessos selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk mengarahkan penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini. Terima kasih atas motivasi, nasihat dan banyak hal baik lainnya Bu Nadya.
4. Seluruh Dosen Program Studi Kesejahteraan Sosial yang telah memberikan ilmu, wawasan dan banyak hal baik lainnya selama penulis menjalani masa perkuliahan.
5. Seluruh Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi serta seluruh Civitas Akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
6. Bapak Fahrul Hertanto, S.T, Ibu Karyawati, Ibu Giyamti, Ibu Widyastuti, Ibu Dby Theresiana, Ibu Eva dan Ibu Hesti Sumiati yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya dalam membantu dan memberikan informasi kepada penulis dalam proses penelitian.
7. Kedua orang tua terbaik yang penulis sayangi dan cintai Ibu Jumiati dan Alm. Bapak Sumarno yang selalu memberikan do‟a dan dukungan kepada penulis dalam segala hal sehingga penulis dapat berada di titik seperti saat ini. Kemudian kapada kakak kakak penulis Dwi Widi Riswandani, Tri Setya Ningsih, Rudi Hermanto, Alm. Budi Winarto dan keluarga lainnya yang tak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah
iv menjadi alasan terbesar penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini.
8. Teman teman seperjuangan Kesejahteraan Sosial 2017 terkhusus Yunita Indrasari S.Sos sebagai tutor dalam penulisan skripsi, Farida Nur „Aini S.Sos, Elza Nur Kholifah, Nur Eliza, Nindya Cahya R S.Sos, Yang Yang Erindah Soca, Vicha Dita, Pramusyia Nagara, Aat Muslihat, dan H. Fadhil Sinduwardoyo yang menemani penulis pada masa susah dan senang selama perkuliahan.
9. Pandu Prasetya, Mutia Isnaeni, dan Fitri Rahma Danti yang selalu menemani penulis dalam penulisan skripsi ini.
10. Teman-teman Social Welfare Percussion 2017 yang sudah memberi warna baru kepada penulis dalam mengisi waktu selain mengikuti perkuliahan dan organisasi.
11. Serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Jakarta, 17 September 2021 Penulis,
Ayu Wulandari
v DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR BAGAN ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
BAB I PENDAHULUAN ... A. Latar Belakang ... 1
B. Batasan Masalah ... 6
C. Rumusan Masalah ... 7
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7
E. Tinjauan Kajian Terdahulu ... 8
F. Metode Penelitian ... 13
G. Sistematika Penulisan ... 18
BAB II KAJIAN TEORI A. Evaluasi Program ... 21
B. Konsep Program Pendataan Carik Jakarta ... 34
C. Ketahanan Keluarga ... 37
D. Kerangka Berpikir ... 42
BAB III GAMBARAN UMUM LATAR PENELITIAN A. Latar Belakang Kelurahan Petukangan Utara ... 43
B. Dasar Hukum Kelurahan Petukangan Utara ... 44
C. Letak Geografis Kelurahan Petukangan Utara ... 45
D. Struktur Staff dan TP-PKK Kelurahan Petukangan Utara ... 45
E. Karakteristik Wilayah Kelurahan Petukangan .Utara 47
F. Fasilitas Sarana dan Prasarana di Kelurahan Petukangan Utara ... 50
G. Dasawisma DKI Jakarta ... 56
vi BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
A. Program Pendataan Carik Jakarta di Kelurahan
Petukangan Utara ... 66
B. Evaluasi Program Pendataan Carik Jakarta ... 70
C. Ketahanan Keluarga ... 89
BAB V PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Program Carik Jakarta di Kelurahan Petukangan Utara ... 106
B. Evaluasi Program Carik Jakarta di Kelurahan Petukangan Utara ... 108
C. Ketahanan Keluarga di Kelurahan Petukangan Utara. ... 108
BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan ... 123
B. Saran ... 125
DAFTAR PUSTAKA ... 126
LAMPIRAN ... 133
vii DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Jumlah Rukun Warga dan Tetangga ... 43
Tabel 3.2 Struktur Staff Kelurahan ... 45
Tabel 3.3 Struktur TP-PKK Kelurahan ... 46
Tabel 3.4 Jumlah Penduduk ... 48
Tabel 3.5 Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia ... 49
Tabel 3.6 Data Sarana Peribadatan ... 50
Tabel 3.7 Data Sarana Pendidikan ... 51
Tabel 3.8 Data Sarana Olahraga ... 51
Tabel 3.9 Data Sarana Kesehatan ... 56
Tabel 4.1 Data Informan ... 65
viii DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Kantor Kelurahan Petukangan Utara ... 43
Gambar 4.1 Wawancara dengan Sekretaris TP-PKK ... 68
Gambar 4.2 Wawancara dengan Staff Kelurahan... 71
Gambar 4.3 Wawancara dengan Kader Dasawisma ... 77
Gambar 4.4 Wawancara dengan Kader Dasawisma ... 80
Gambar 4.5 Wawancara dengan Masyarakat ... 90
Gambar 4.6 Wawancara dengan Masyarakat ... 92
Gambar 4.7 Grafik Jumlah Kader Dasawisma ... 100
Gambar 4.8 Grafik Jumlah Penduduk Usia 0-5 Tahun ... 101
Gambar 4.9 Grafik Jumlah Penduduk Usia 0-18 Tahun . 101 Gambar 4.10 Grafik Jumlah Penduduk Usia 10-24 Tahun ... 102
Gambar 4.11 Grafik Jumlah Penduduk Lansia ... 102
Gambar 4.12 Grafik Pendidikan Penduduk ... 103
Gambar 4.13 Grafik Pekerjaan Penduduk ... 103
Gambar 4.14 Grafik Kepemilikan Akta Lahir Penduduk ... 104
Gambar 4.15 Grafik Kepemilikan Akta Nikah Penduduk ... 104
ix DAFTAR BAGAN
Bagan 2.1 Kerangka Berpikir ... 42 Bagan 5.1 Mekanisme Pendataan Carik Jakarta ... 106
x DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Transkip Wawancara Staff Kelurahan….…..133 Lampiran 2 Transkip Wawancara Sekretaris TP-PKK….147 Lampiran 3 Transkip Wawancara Kader Dasawisma……158 Lampiran 4 Transkip Wawancara Kader Dasawisma……166 Lampiran 5 Transkip Wawancara Masyarakat……….….173 Lampiran 6 Transkip Wawancara Masyarakat……….….179 Lampiran 7 Observasi………185 Lampiran 8 Dokumentasi………..190 Lampiran 9 Persetujuan Dosen Pembimbing………..192 Lampiran 10 Pengajuan Dosen Pembimbing………….…..193 Lampiran 11 Izin Penelitian Skripsi……….194 Lampiran 12 Pengajuan Wawancara………...195 Lampiran 13 Balasan Izin Penelitian………196
1 BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Kedudukan Jakarta sebagai ibu kota negara Indonesia menimbulkan gengsi tersendiri yang kemudian menjadi sebab banyak orang datang ke Jakarta. Selain itu, Jakarta merupakan pusat kegiatan politik ASEAN dan salah satu sentra politik Asia Pasifik. Sebagai pusat kegiatan ekonomi regional, nasional, dan internasional, 80% kegiatan ekonomi dan 65% uang nasional yang beredar di Indonesia berpusat di Jakarta. Jakarta juga merupakan pusat kegiatan sosial budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Daya tarik ini membuat Jakarta semakin pesat mengalami pertumbuhan dan perkembangan penduduk (Rahmatulloh, 2017). Kondisi ini menyebabkan Jakarta memiliki jumlah penduduk yang banyak, multi suku dan budaya, serta permasalahannya kompleks.
Berdasarkan data rekapitulasi hasil penjangkauan dan penertiban PPKS (Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial) pada bulan Januari 2020 terdapat 445 kasus PPKS. Kasus tersebut diantaranya anak terlantar, anak jalanan, anak disabilitas, gelandangan, pengemis, disabilitas mental, wanita tuna susila, orang terlantar/rujukan RS, lanjut usia terlantar, pengamen remaja/dewasa, pengamen anak, pemulung, pedagang asongan, dan parkir liar (Jakarta Open Data, 2020).
2 Disisi lain, dunia sedang diguncang oleh pandemi hebat bernama Covid-19 (Corona Virus Disease). Berdasarkan data yang telah dilansir oleh Tirto.id tercatat 4.557 kasus positif per-tanggal 13 April 2020 di Indonesia dan telah dikonfirmasi bahwa 380 orang sembuh dan 399 orang dinyatakan meninggal. Berdasarkan data, Case Fatality Rate (CFR) atau angka kematian sebesar 8,75 persen (Wahidah dkk, 2020).
Kemudian World Health Organization (WHO) telah mengumumkan ditanggal 12 Maret 2020 bahwa Covid-19 menjadi sebuah pandemi karena telah mengakibatkan angka kematian diseluruh dunia meningkat. (Febriyanti, 2020).
Kemudian infeksi Covid-19 yang berasal dari virus corona akan mengalami penyebaran yang sangat cepat pada manusia. Tingkatan penyakit tersebut juga bervariasi yaitu dari saluran napas atas hingga ARDS (Handayani dkk, 2020).
Pada masa pandemi Covid-19, masalah kesehatan menjadi prioritas banyak orang untuk saat ini. Ketahanan fisik merupakan hal penting dalam pemenuhan kesehatan.
Kemudian dijelaskan bahwa dalam konsep ketahanan dan kesejahteraan keluarga meliputi; landasan legalitas dan keutuhan keluarga, ketahanan fisik, ketahanan ekonomi, ketahanan sosial psikologi, dan ketahanan sosial budaya (Musfiroh dkk, 2019).
Berdasarkan pengertian dari ketahanan keluarga yang dihadapkan dengan kondisi saat ini maka perlu dilihat sejauh mana kesadaran masyarakat terkait hal tersebut. Jika ditahun-
3 tahun sebelumnya ketidaktepatan dalam pengambilan kebijakan menjadi salah satu sebab awal belum terpenuhinya ketahanan keluarga diseluruh lapisan masyarakat. Maka hal ini terjadi karena proses dalam pengambilan informasi tersebut kurang mendalam dan menyeluruh. Pada dasarnya pendataan keluarga menjadi hal penting bagi pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam rangka penyediaan data keluarga yang valid untuk pembangunan keluarga, kependudukan, keluarga berencana dan program pembangunan lainnya (Nurhanisah, 2021).
Pembangunan keluarga merupakan salah satu isu pembangunan nasional yang menekankan pada penguatan ketahanan keluarga. Pembangunan keluarga merupakan upaya dalam mewujudkan keluarga berkualitas, berketahanan dan sejahtera (Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, 2021). Namun dalam prosesnya, data yang dimiliki pemerintah belum terintegrasi, berbeda-beda, tumpang tindih, dan belum realtime. Maka dari itu proses dalam pengambilan informasi salah satunya pendataan harus dilakukan ulang dan berkala secara mendalam dan menyeluruh (Nafi‟ah, 2020).
Dalam menyikapi kekurangan pada proses pendataan, maka pada tahun 2019 Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan melakukan peluncuran sebuah aplikasi baru yang diberi nama “Carik Jakarta”. Peluncuran aplikasi “Carik Jakarta” dilakukan pada saat acara Temu Kader
4 Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) (Amna, 2019). Kemudian Carik Jakarta akan mengintegrasikan semua program Pemprov DKI yang menjangkau keluarga dan masyarakat melalui jalur ibu-ibu PKK. Dalam hal ini kader Dasawisma memastikan kebutuhan keluarga dan masyarakat terpenuhi dengan baik dari aspek yang paling dasar seperti kesehatan sampai kebutuhan lainnya (Asmalyah, 2019).
Maka dari itu sebagai manusia sudah seharusnya terus melakukan perbaikan dan kebaikan dari masa yang sebelumnya. Sebagaimana firman Allah menyatakan:
اَم َو ِتاَنِّيَبْلاِب ْمُهُلُسُر ْمُهْتَءاَج َو اوُمَلَظ اَّمَل ْمُكِلْبَق ْنِم َنوُرُقْلا اَنْكَلْهَأ ْدَقَل َو يِف َفِئلا َخ ْمُكاَنْلَع َج َّمُث )( َنيِم ِر ْجُمْلا َم ْوَقْلا ي ِز ْجَن َكِلَذَك اوُنِم ْؤُيِل اوُناَك ِض ْرلأا ْنِم َ نوُلَم ْعَت َفْيَك َرُظْنَنِل ْمِهِد ْعَب
“Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat- umat yang sebelum kalian, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan- keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa.
Kemudian Kami jadikan kalian pengganti- pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kalian berbuat.” (Q.S. Yunus Ayat 13-14)
5 Setelah dijelaskan bahwa di antara sifat buruk manusia adalah suka tergesa-gesa dan tidak bersyukur. Lalu disebutkan berbagai azab yang ditimpakan kepada orang- orang yang zalim. Dan sungguh, Kami telah membinasakan secara menyeluruh atau mendatangkan azab berupa kerusakan dan kehancuran kepada beberapa generasi sebelum kamu, yakni kaum kafir Mekkah yang semasa dengan Rasulullah, mereka berbuat zalim, padahal para rasul mereka telah datang membawa keterangan baik berupa mukjizat yang bersifat inderawi maupun yang tertera di dalam kitab suci, tetapi mereka sama sekali tidak mau beriman. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang- orang yang berbuat dosa (Kalam Sindo News, 2021).
Oleh sebab itu dilakukan upaya perbaikan dari waktu ke waktu, salah satunya perbaikan dalam pendataan. Sebuah program pendataan yang diberi nama “Carik Jakarta”
merupakan aplikasi pendataan keluarga terpadu yang digunakan oleh kader Dasawisma. Menurut (Nurdewanto, Yunirianti, Sudarwati., 2015) Dasawisma adalah kelompok ibu-ibu yang berasal dari 10-20 rumah bertetangga dalam satu Rukun Tetangga (RT).
Sesuai tujuan awal pembentukan dan penggerakan kelompok Dasawisma serta visi dan misi dari TP PKK yang sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Maka dari itu program pendataan Carik Jakarta oleh
6 Dasawisma serentak dilakukan di DKI Jakarta. Program pendataan Carik Jakarta akan memuat informasi berupa data bangunan, keluarga dan individu. Kemudian data dan informasi yang telah didapat melalui aplikasi Carik Jakarta akan diolah dan dianalisis untuk kepentingan Pemerintah DKI Jakarta dalam merumuskan kebijakan. Sesuai dengan fokusnya maka program Carik Jakarta dari Dasawisma ini akan mengacu pada perbaikan data, tertib administrasi dan partisipasi masyarakat dalam memaksimalkan ketahanan keluarga pada masa pandemi.
Momentum pandemi dirasa dapat menjadi tolak ukur dalam pelaksanaan program pendataan Carik Jakarta dalam upaya ketahanan keluarga. Dibalik program Carik Jakarta yang terus berjalan maka kita seharusnya melihat keberhasilan program sudah sampai sejauh mana. Maka dari itu perlu dilakukan sebuah evaluasi dari program tersebut agar kemudian dapat dijadikan pertimbangan. Sehingga penulis akan melakukan penelitian dengan judul “Evaluasi Program Pendataan Carik Jakarta dalam Upaya Ketahanan Keluarga pada Masa Pandemi di Dasawisma Petukangan Utara”.
B. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah diatas untuk mendapatkan hasil secara maksimal tanpa melampaui batas penafsiran maka peneliti membatasi masalah yang akan
7 dibahas yaitu pada Evaluasi Program Pendataan Carik Jakarta dalam Upaya Ketahanan Keluarga pada Masa Pandemi di Dasawisma Petukangan Utara yang menitikberatkan pada pelaksanaan program apakah sudah sesuai dengan yang direncanakan dan diharapkan.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pelaksanaan program pendataan Carik Jakarta dalam upaya ketahanan keluarga pada masa pandemi?
2. Bagaimana evaluasi program Carik Jakarta dalam upaya ketahanhan keluarga pada masa pandemi?
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan hasil dari pembatasan dan perumusan masalah di atas maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil evaluasi dari program Carik Jakarta oleh Dasawisma dalam upaya ketahanan keluarga pada masa pandemi di Kelurahan Petukangan Utara.
2. Manfaat Penelitian
Berdasarkan hasil dari pembatasan dan perumusan masalah di atas maka manfaat dari penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu manfaat akademik dan manfaat praktisi.
a. Manfaat akademik
8 Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan wawasan baru sebagai bahan rujukan untuk penelitian selanjutnya pada Program Studi Kesejahteraan Sosial terkait evaluasi program pendataan Carik Jakarta oleh Dasawisma dalam upaya ketahanan keluarga pada masa pandemi.
b. Manfaat praktisi
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan bagi instansi atau lembaga terkait tentang evaluasi pada program pendataan Carik Jakarta oleh Dasawisma dalam upaya ketahanan keluarga pada masa pandemi.
E. Tinjauan Kajian Terdahulu
Dalam penulisan skripsi ini, penulis melakukan review terhadap penelitian-penelitian terdahulu yang relevan dengan judul skripsi ini. Hal ini dilakukan tentunya agar terhindar dari adanya plagiarisme. Setelah penulis melakukan review terdahulu, maka penulis menggunakan literatur skripsi yang hampir sama dengan judul yang akan penulis buat. Antara lain adalah sebagai berikut:
1. Skripsi dengan judul “Evaluasi Pelaksanaan Program Ibu Mandiri (PRIMA) dalam Pemberdayaan Perekonomian Kaum Perempuan di Yayasan Sahabat Ibu Yogyakarta Periode 2014”. Penulis Nur Hidayah, NIM 10404241033, Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2016. Penelitian ini
9 menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Penelitian ini membahas evaluasi terkait pelaksanaan Program Ibu Mandiri (PRIMA). Tujuan dari program tersebut untuk mengentaskan kemiskinan dengan memberdayakan kaum perempuan dengan pemberdayaan perekonomian di Yayasan Sahabat Ibu Yogyakarta. Program pemberdayaan ini dilakukan dengan pemberian bantuan modal bergulir dan pendampingan kepada ibu-ibu yang memiliki usaha dan ingin membuka usaha. Pemberian bantuan modal disertai pendampingan dan edukasi dalam pengembangan usaha yang berbasis kelompok komunitas. Sehingga dalam penelitian ini penulis terfokus pada hasil dari evaluasi Program Ibu Mandiri (PRIMA) di Yayasan Sahabat Ibu Yogyakarta. Sedangkan dalam penelitian yang penulis lakukan membahas tentang evaluasi program pendataan Carik Jakarta dalam upaya ketahanan keluarga pada masa pandemi di Dasawisma Petukangan Utara. Tujuan dari program Carik Jakarta berfokus pada kondisi ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, kesehatan dan masih banyak lagi. Kedua penelitian ini memiliki perbedaan pada tempat penelitian, komunitas/kelompok yang diteliti serta program dari komunitas/kelompok yang diteliti tersebut.
Kemudian penelitian ini memiliki persamaan yaitu terkait evaluasi program dan penggunaan metode penelitian yang sama yaitu metode penelitian kualitatif deskriptif.
10 2. Skripsi dengan judul “Evaluasi Proses Program Pembinaan Kemandirian GIATJA Bagi Warga Binaan Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Salemba”. Penulis Azka Nisailkamilah Sofyan, Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2020. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Program pembinaan kemandirian GIATJA dilakukan dibawah naungan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Salemba. Penelitian dalam skripsi ini dilakukan untuk mengetahui sudah sampai sejauh mana program pembinaan kemandirian GIATJA berjalan dan kesesuaian dalam pelaksanaannya.
Sedangkan dalam penelitian yang saya bahas terkait evaluasi program pendataan Carik Jakarta oleh Dasawisma. Dasawisma merupakan bagian dari PKK.
Namun dalam pelaksanaan program, Dasawisma memiliki program tersendiri secara khusus terkait pendataan. Kedua penelitian ini memiliki perbedaan pada tempat penelitian serta cakupan dalam komunitas. Selain itu perbedaan juga nampak pada fokus penelitiannya.
Penelitian satu terfokus pada program pembinaan kemandirian, penelitian dua terfokus pada program pendataan dalam upaya ketahanan keluarga. Kemudian penelitian ini memiliki persamaan yaitu terkait evaluasi
11 program dan menggunakan metode penelitian yang sama yaitu metode penelitian kualitatif deskriptif.
3. Jurnal Penelitian dengan judul “Pemberdayaan Perempuan Melalui Kelompok Dasawisma PKK”
penulis Bambang Nurdewanto, Eny Yuniriyanti, dan Ririn Sudarwati. Fakultas Teknologi Informasi Universitas Merdeka Malang dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Merdeka Malang Tahun 2015.
Penelitian ini terfokus pada pemberdayaan perempuan melalui kelompok Dasawisma PKK. Kegiatan pemberdayaan dilakukan dengan cara menawarkan strategi pemberdayaan seperti materi bekal keterampilan tentang konsep dasar kewirausahaan, pelatihan manajemen usaha dan pembukuan sederhana dan materi praktek. Materi praktek ini terdiri dari pelatihan pembuatan pupuk organik, pelatihan penanaman sayuran organik dalam polibag, pelatihan produksi makanan olahan berbasis sayuran organik dan pelatihan pembuatan kue. Sehingga penelitian ini benar-benar terfokus pada kegiatan pemberdayaan. Sedangakan dalam penelitian saya terfokus pada evaluasi program pendataan Carik Jakarta oleh Dasawisma dalam upaya ketahanan keluarga yang sedang berlangsung. Kedua penelitian ini memiliki perbedaan pada tempat penelitian dan kegiatan penelitian. Penelitian satu fokus pada kegiatan pemberdayaan sedangkan penelitian dua fokus pada
12 evaluasi dari kegiatan. Kemudian penelitian ini memiliki persamaan yaitu pada subjek yang diteliti.
4. Jurnal Penelitian dengan Judul “E-Data Dasawisma:
Penguatan Peran Perempuan Sebagai Agen Data Sipil Era Pasca Pandemi Covid-19” penulis Binti Azizatun Nafi‟ah. Program Studi Administrasi Publik UPN Veteran Jawa Timur Tahun 2020. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Selanjutnya penelitian ini membahas terkait e-data Dasawisma. Yang mana e-data Dasawisma merupakan suatu program pendataan yang gencar dilakukan oleh kelompok Dasawisma. Dalam hal ini kelompok Dasawisma dianggap berperan sebagai agen data sipil pemerintah era pasca pandemi Covid-19. Sedangkan dalam penelitian saya membahas tentang evaluasi program pendataan Carik Jakarta oleh Dasawisma. Kedua penelitian ini memilliki perbedaan pada tujuan penelitian. Penelitian satu tujuan penelitiannya adalah melihat sejauh mana peran Dasawisma sebagai agen data sipil pemerintah.
Sedangkan dalam penelitian dua tujuan penelitiannya adalah melihat sejauh mana tingkat keberhasilan program yang sedang berlangsung. Kemudian kedua penelitian ini memiliki persamaan terkait subjek yang diteliti yaitu kelompok Dasawisma. Selain memiliki persamaan pada subjek, kedua penelitian ini juga terfokus pada hal yang sama yaitu terkait pendataan yang dilakukan oleh kelompok Dasawisma pada masa pandemi.
13 5. Jurnal Penelitian dengan Judul “Dinamika Kependudukan di Ibukota Jakarta (Deskripsi Perkembangan Kuantitas, Kualitas dan Kesejahteraan Penduduk di DKI Jakarta)” penulis Rahmatulloh. Universitas Indraprasta PGRI Jakarta Tahun 2017. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif.
Penelitian ini membahas terkait dinamika kependudukan.
Dari dinamika kependudukan ini dapat terlihat perkembangan kuantitas, kualitas dan kesejahteraan penduduk di DKI Jakarta. Penelitian ini memperlihatkan bagaimana tingkat kesejahteraan penduduk yang dilihat dari kualitas dan kuantitas penduduknya. Dari sini dapat terlihat apakah tingkat kesejahteraannya meningkat atau menurun. Sedangkan dalam penelitian saya membahas terkait program pendataan Carik Jakarta yang bertujuan sebagai upaya ketahanan keluarga yang akan dievaluasi.
Dari evaluasi ini akan terlihat apakah program sudah sesuai dengan tujuan awal yaitu sebagai upaya ketahanan keluarga atau belum. Kedua penelitian ini memiliki perbedaan yaitu penelitian satu menjelaskan kondisi penduduk beserta dinamika dan tingkat kesejahteraannya.
Sedangkan penelitian kedua menjelaskan terkait sebuah evaluasi yang mengarah pada upaya peningkatan ketahanan keluarga. Perbedaan lainnya adalah pada penelitian satu terfokus pada lingkup yang lebih luas yaitu kesejahteraan penduduk sedangkan penelitian dua
14 terfokus pada ketahanan keluarga. Kemudian kedua penelitian ini memiliki persamaan yaitu terletak pada metode penelitian yang sama yaitu kualitatif deskriptif.
Persamaan lainnya adalah pada tempat penelitian yang sama yaitu masih dalam lingkup DKI Jakarta.
F. Metode Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Bogdan dan Taylor menjelaskan bahwa metodologi kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Mamik, 2015).
2. Jenis Penelitian
Dalam penulisan skripsi ini, peneliti menggunakan penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang diarahkan untuk memaparkan gejala- gejala, fakta-fakta, atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat, mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Dalam penelitian deskriptif cenderung tidak perlu mencari atau menerangkan hubungan antar variabel atau menguji hipotesis (Wagiran, 2013).
3. Sumber Data
Dalam penelitian ini terdapat dua jenis sumber data yang dijadikan acuan dalam melakukan penelitian:
a. Data primer yaitu data yang dapat diperoleh langsung dari lapangan atau tempat penelitian,
15 b. Data sekunder yaitu berupa catatan atau dokumen yang diperoleh dari berbagai sumber, buku-buku, jurnal, berita, internet juga beragam sumber atau tulisan-tulisan lainya (Nasution, 2006).
4. Tempat dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di wilayah Kelurahan Petukangan Utara, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan dengan jumlah RW sebanyak 11 dan jumlah RT sebanyak 121. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2021.
5. Teknik Pemilihan Informan
Teknik yang digunakan untuk subjek penelitian ini adalah teknik purposive sampling (bertujuan), yaitu pengambilan sampel yang berdasarkan atas suatu pertimbangan tertentu seperti sifat-sifat populasi ataupun ciri-ciri yang sudah diketahui sebelumnya (Irawan, 2004). Peneliti memilih enam informan yang terdiri dari Kasi Kesra Kelurahan Petukangan Utara, Sekretaris TP- PKK Kelurahan Petukangan Utara, dua kader Dasawisma, dan dua masyarakat sekitar.
6. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data diperlukan untuk mendapatkan data dan informasi yang dapat menjelaskan dan menjawab permasalahan penelitian ini. Teknik ini dilakukan dengan cara:
a. Observasi
16 Suharsimi Arikunto mengemukakan bahwa observasi merupakan sebuah pengamatan secara langsung terhadap suatu objek yang ada di lingkungan baik yang sedang berlangsung atau masih dalam tahap yang meliputi berbagai aktivitas terhadap suatu kajian objek yang menggunakan pengindraan (Khasanah, 2020). Untuk melakukan observasi tersebut peneliti melakukan pengamatan langsung di masing-masing RW di Kelurahan Petukangan Utara untuk memperoleh data dan informan secara langsung sesuai hasil pengamatan.
b. Wawancara
Wawancara adalah suatu cara pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya. Wawancara digunakan untuk mengetahui hal-hal dari responden secara lebih mendalam serta jumlah responden sedikit.
Menurut Hadeli beberapa faktor yang memengaruhi dalam wawancara, yaitu: pewawancara, responden, pedoman wawancara, dan situasi wawancara.
Menurut Nasution, wawancara adalah komunikasi verbal (percakapan) yang bertujuan memperoleh informasi (Sudaryono, 2016). Untuk memperoleh data akurat dengan kebutuhan penelitian, maka peneliti menggali informasi dengan melakukan wawancara kepada instansi terkait, kader dan
17 masyarakat yang ada di masing-masing RW di Kelurahan Petukangan Utara maupun kepada pihak yang berkaitan dengan penelitian.
c. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, cerita, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film, dan lain-lain. Dalam bukunya menjelaskan studi dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunakaan metode wawancara dan observasi dalam penelitian kualitatif (Sugiyono, 2017).
7. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian merupakan bagian dalam proses penelitian yang sangat penting, karena dengan analisa maka data yang ada akan nampak manfaatnya terutama dalam memecahkan masalah penelitian dan mencapai tujuan akhir penelitian. Proses analisis dilakukan setelah melalui proses klasifikasi berupa pengelompokan atau pengumpulan dan pengategorian data yang telah ditentukan. Analisis
18 kualitatif dilakukan terhadap data yang berupa informasi, uraian dalam bentuk bahasa prosa kemudian dikaitkan dengan data lainnya untuk mendapatkan kejelasan terhadap suatu kebenaran atau sebaliknya, sehingga peneliti memperoleh gambaran baru ataupun menguatkan suatu gambaran yang sudah ada dan sebaliknya. Jadi bentuk analisis data ini dilakukan merupakan penjelasan-penjelasan, bukan berupa angka- angka statistik atau bentuk angka lainnya (Salam dan Arifin, 2006).
8. Keabsahan Data
Dalam penelitian kualitatif peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber. Dalam Triangulasi penelitian kualitatif digunakan sebagai proses memantapkan derajat kepercayaan (kredibilitas/validitas) dan konsistensi (reliabilitas) data, pengecekan data serta bermanfaat juga sebagai alat bantu analisis data di lapangan (Gunawan, 2013). Dalam hal ini adalah ketua kelompok Dasa Wisma di masing masing RW, perwakilan anggota Dasa Wisma di masing-masing RW, dan perwakilan masyarakat dari masing-masing RW.
9. Pedoman Penulisan Skripsi
Pedoman penulisan penelitian mengacu pada keputusan rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Nomor 507 tahun 2017 tentang pedoman penulisan karya ilmiah (skripsi, tesis, disertasi) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
19 G. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pembahasan skripsi ini, secara sistematis penulisannya dibagi ke dalam enam bab, yang terdiri dari sub-sub bab. Adapun sistematikanya sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini peneliti mengemukakan latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian (yang terdiri dari pendekatan penelitian, jenis penelitian, sumber data, tempat dan waktu penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisa data, teknik keabsahan data, pedoman penulisan skripsi dan teknik pemilihan informasi), dan sistematika penulisan.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
Pada bab ini berisikan teori yang melandasi pemikiran dalam menganalisa data-data yang sudah terkumpul.
Tinjauan Teoritis berisi tentang kajian teori mengenai evaluasi program pendataan Carik Jakarta upaya ketahanan keluarga pada masa pandemi di Dasawisma Kelurahan Petukangan Utara. Selain itu terdapat kajian pustaka dan kerangka berpikir.
BAB III GAMBARAN UMUM LATAR PENELITIAN
20 Pada bab ini peneliti mengemukakan latar belakang dari tempat yang diteliti beserta kelompok Dasawisma yang diteliti. Dalam hal ini juga dijelaskan terkait gambaran mengenai latar belakang, struktur organisasi serta evaluasi program pendataan Carik Jakarta dalam upaya ketahanan keluarga pada masa pandemi di Dasawisma Kelurahan Petukangan Utara.
BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
Pada bab ini akan menjelaskan hasil temuan dalam penelitian yang dilakukan di lapangan terkait dengan judul evaluasi program pendataan Carik Jakarta dalam upaya ketahanan keluarga pada masa pandemi di Dasawisma Kelurahan Petukangan Utara.
BAB V PEMBAHASAN
Pada bab ini akan menjelaskan mengenai uraian pembahasan tentang evaluasi program pendataan Carik Jakarta dalam upaya ketahanan keluarga pada masa pandemi di Dasawisma Kelurahan Petukangan Utara beserta analisa yang sesuai dengan rumusan masalah.
BAB VI PENUTUP
Pada bab terakhir peneliti mengemukakan kesimpulan dan saran berdasarkan hasil analisa penelitian. Selain itu juga berisi saran untuk lembaga-lembaga terkait lainnya.
21 BAB II
KAJIAN TEORI A. Teori Evaluasi Program
1. Pengertian Evaluasi
Evaluasi menurut (Suharto, 2014) adalah proses mengindentifikasi sebuah rencana dalam upaya melihat keberhasilan atau kegagalan suatu kegiatan atau program. Secara umum terdapat dua tipe evaluasi, yaitu on going evaluation atau evaluasi terus menerus dan ex- post evaluation atau evaluasi akhir. Evaluasi terus menerus (on going evaluation) dilaksanakan pada periode waktu tertentu, misalnya per-tiga bulan atau per- enam bulan secara berturut turut selama proses implementasi (biasanya pada akhir atau tahap suatu rencana). Sedangkan evaluasi akhir (ex-post evaluation) dilakukan setelah implementasi suatu program atau rencana. Evaluasi berusaha mengidentifikasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada pelaksanaan atau penerapan program. Evaluasi memiliki tujuan sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi tingkat pencapaian tujuan,
b. Mengukur dampak langsung yang terjadi pada kelompok sasaran,
c. Mengetahui dan menganalisis konsekuensi- konsekuensi lain yang mungkin terjadi di luar rencana (externalities).
22 Evaluasi menurut (Selegi, 2018) adalah proses penerapan yang dilakukan untuk mengumpulkan bukti sebagai kesimpulan tentang kualitas program, produk, orang, kebijakan, proposal, atau perencanaan.
Menurut Arikunto dan Jabar (2008) evaluasi berasal dari kata “evaluation”. Kata tersebut kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia dengan mempertahankan kata aslinya namun pelafalannya sesuai dengan pelafalan dalam Bahasa Indonesia. Kemudian dijelaskan bahwa evaluasi adalah pengumpulan informasi tentang berjalannya sesuatu. Kemudian informasi tersebut digunakan dalam pengambilan keputusan dengan alternatif yang tepat. Sedangkan Suchman dalam Arikunto dan Jabar (2008) menjelaskan bahwa evaluasi adalah proses untuk menentukan hasil dari pencapaian suatu tujuan yang ingin dicapai melalui suatu kegiatan.
2. Pengertian Program
Menurut Halim dan Supomo dalam Hertanti program merupakan kegiatan satu organisasi dalam jangka panjang dan taksiran jumlah sumber yang akan dialokasikan untuk setiap program, yang umumnya disusun sesuai dengan jenis atau kelompok produk yang dihasilkan (Hertanti, dkk, 2019). Sedangkan menurut Arikunto dan Jabar (2008) program merupakan sekumpulan orang yang melakukan implementasi dari
23 sebuah kebijakan yang sedang berjalan dalam suatu organisasi.
Lebih lanjut Arikunto menyatakan bahwa terdapat tiga pengertian penting dalam menentukan program yaitu:
a. Realisasi atau implementasi suatu kebijakan,
b. Terjadi dalam waktu yang relatif lama dan berkesinambungan,
c. Terjadi dalam suatu kelompok organisasi yang melibatkan banyak orang.
Program dapat diartikan sebagai suatu sistem yang memiliki rangkaian kegiatan yang dilakukan secara berkesinambungan bukan hanya satu kali (Munthe, 2015).
3. Konsep Evaluasi Program
Evaluasi program menurut Petrus (2018) adalah metode sistematik untuk mengumpulkan, menganalisis, dan memakai informasi untuk menjawab pertanyaan dasar mengenai program. Evaluasi program dapat dikelompokan menjadi evaluasi proses, evaluasi manfaat dan evaluasi akibat. Definisi yang lebih luas adalah bahwa evaluasi program merupakan proses untuk mengetahui dengan pasti perihal keputusan, pemilihan informasi yang tepat, mengumpulkan dan menganalisis informasi yang akan disajikan dalam bentuk data yang bermanfaat bagi pengambil keputusan (Mahmudi, 2011).
24 4. Tujuan dan Manfaat Evaluasi Program
Dalam buku Ananda dan Rafida (2017), Weiss (1972) mengemukakan bahwa tujuan evaluasi program adalah sebagai berikut:
a. Merujuk pada penggunaan metode penelitian, b. Melihat pada hasil suatu program,
c. Penggunaan kriteria untuk penilaian,
d. Kontribusi terhadap pengambilan keputusan dan perbaikan program dimasa mendatang.
Sedangkan menurut Sukmadinata (2006) tujuan evaluasi program adalah sebagai berikut:
a. Membantu perencanaan dalam pelaksanaan program,
b. Membantu dalam penentuan keputusan penyempurnaan atau perubahan program,
c. Membantu dalam penentuan keputusan keberlanjutan atau pemberhentian program,
d. Menemukan bukti dukungan dan penolakan terhadap program,
e. Memberikan sumbangan dalam pemahaman proses psikologis, sosial dan politik dalam pelaksanaan program serta faktor-faktor yang mempengaruhi program.
Kemudian Purwanto dan Suparman (1999) memaparkan tujuan evaluasi adalah sebagai berikut:
25 a. Sarana komunikasi program kepada masyarakat, b. Penyedia informasi bagi pembuat keputusan, c. Menyempurnakan program yang ada,
d. Sebagai langkah dalam partisipasi dan pertumbuhan,
5. Kriteria dalam Evaluasi Program
Kriteria menurut Arikunto dan Jabar (2008) adalah sesuatu yang digunakan sebagai tolak ukur dalam mengetahui batasan minimal atau patokan untuk sesuatu yang diukur. Dalam hal ini kriteria menunjukkan tingkatan yang ditunjukkan dalam bentuk keadaan atau predikat.
Urgensi kriteria dalam evaluasi program menurut Arikunto dan Jabar (2008) adalah sebagai berikut:
a. Sebagai upaya agar evaluator lebih yakin dalam melakukan evaluasi terhadap objek yang akan diteliti karena sudah ada tolak ukur yang dapat diikuti,
b. Sebagai upaya yang dapat digunakan untuk menjawab hasil dari penilaian yang sudah dilakukan jika ada pihak yang ingin mengkaji ulang,
c. Sebagai upaya yang dapat digunakan untuk menghindari masuknya unsur subjektif dari evaluator,
d. Sebagai upaya agar hasil dari evaluasi tetap sama meskipun dilakukan dalam waktu dan kondisi yang berbeda,
26 e. Sebagai upaya dalam memberikan arahan kepada evaluator apabila evaluator terdiri lebih dari satu orang.
6. Model Evaluasi Program
Menurut (Arifin, 2019) terdapat beberapa jenis evaluasi program berdasarkan tahapan pengembangannya. Setiap jenis mempunyai tujuan dan sasaran yang berbeda-beda. Jenis evaluasi tersebut diantaranya sebagai berikut:
a. Evaluasi Kebutuhan, b. Evaluasi Kelayakan,
c. Evaluasi Perencanaan dan Pengembangan, d. Evaluasi Monitoring,
e. Evaluasi Dampak,
f. Evaluasi Efisiensi-Ekonomis, g. Evaluasi Program Komprehensif.
Sedangkan menurut fungsinya, evaluasi program dibagi menjadi empat jenis, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Evaluasi Formatif (Formative Assessment), b. Evaluasi Sumatif (Summative Evaluation), c. Evaluasi Diagnostik (Diagnostic Evaluation), d. Evaluasi Penempatan.
Selanjutnya dalam menetukan model evaluasi maka perlu mempertimbangkan hal berikut, yaitu jenis
27 program yang di evaluasi dan tujuan atau kepentingan evaluasi dilakukan.
a. Model Evaluasi Berorientasi Tujuan (Tyler)
Model evaluasi berorientsi tujuan adalah model evaluasi yang dalam pelaksanaannya membutuhkan informasi terkait perubahan tingkah laku sebelum dan setelah adanya program. Dalam menggunakan model evaluasi ini maka perlu menempuh langkah berikut:
1. Penentuan tujuan umum program, 2. Pengklasifikasian tujuan,
3. Perumusan tujuan dalam bentuk tingkah laku, 4. Penentuan situasi agar tujuan tercapai,
5. Pengembangan instrumen evaluasi, 6. Pengumpulan data yang diperlukan,
7. Pembandingan data dengan tujuan operasional (tingkah laku).
b. Model Pengukuran (Measurement Model)
Model evaluasi pengukuran banyak dipengaruhi oleh R. Thorndike dan R.L. Ebel. Model evaluasi pengukuran adalah model evaluasi yang sangat menitikberatkan pada nilai kuantitas suatu sifat yang terdapat pada objek, orang maupun peristiwa dalam suatu kegiatan atau program. Dalam melakukan evaluasi menggunakan model pengukuran maka instrumen yang digunakan berupa tes tertulis (paper and pencil test) berupa tes objektif.
28 c. Model Kesesuaian (Ralph W. Tyler, John B. Carrol,
Lee J. Cronbach)
Model evaluasi kesesuaian adalah model evaluasi yang pada pelaksanaannya melalui dua tahapan yaitu tahapan sebelum dan sesudah kegiatan melalui tes di awal dan akhir.
d. Educational System Evaluation Model (Daniel L.
Stufflebeam, Michael Scriven, Robert E. Stake, Malcolm M. Provus)
Educational system evaluation model adalah model evaluasi yang dilakukan dengan cara membandingkan kinerja berbagai dimensi dengan sejumlah kriteria yang mutlak ataupun relatif.
Educational system evaluation model adalah sistem yang menggunakan penggabungan dari beberapa model evaluasi. Model evaluasi yang digabungkan dalam model ini diantaranya model countenance dari Stake, model CIPP dan CDPP dari Stufflebeam, model scriven, model provus, model EPIC, model CEMREL dan model Atkinson.
e. Model Evaluasi Countenance (Robert Stake)
Model evaluasi countenance adalah model evaluasi yang berupa deskripsi dan judgement.
Model evaluasi ini dilakukan dengam membandingkan antara dua program yang memiliki standar yang sama. Selain itu, dalam model evaluasi ini akan membandingkan data yang ada dengan
29 standar yang absolut guna menilai manfaat program bukan hanya membandingkan data dengan keadaan sebenarnya guna melihat perbedaan tujuan. Dalam pelaksanaannya, digunakan prosedur seperti pengumpulan data, analisis data (logis atau empiris), analisis congruence (kesesuaian) dan pertimbangan hasil untuk melakukan evaluasi dengan model ini.
f. Model Evaluasi CIPP
Model evaluasi CIPP (context, input, process, product) adalah model evaluasi yang pertama dikembangkan oleh Stufflebeam dan Guba pada tahun 1968 untuk menentukan suatu keputusan.
Model evaluasi CIPP terdiri dari empat jenis evaluasi, antara lain:
1. Context evaluation to serve planning decision, 2. Input evaluation, structuring decision,
3. Process evaluation, to serve implementing decision,
4. Product evaluation, to serve recycling decision.
g. Model Alkin (Marvin Alkin)
Model evaluasi alkin adalah evaluasi yang menggunakan pendekatan sistem. Pada model ini mengutamakan sistem yang berjalan seperti salah satu contohnya adalah pendidikan. Kemudian model ini dibagi kembali menjadi tiga komponen yaitu masukan, proses atau perantara dan keluaran.
30 h. Model Brinkerhoff
Model evaluasi yang dikemukakan oleh Brinkerhoff memililik tiga jenis evaluasi yang disusun berdasarkan penggabungan elemen-elemen yang sama. Tiga jenis evaluasi tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Fixed vs Emergent Evaluation Design, 2. Formative vs Summative Design,
3. Desain Eksperimental dan Eksperimental Kuasi vs Natural Inquiri.
i. Illuminative Model (Malcolm Parlett dan Hamilton) Illuminative model merupakan model evaluasi yang lebih menekankan pada evaluasi kualitatif terbuka (open-ended). Later belakang keberadaan suatu program, proses pelaksanaan program, hasil program, kesukaran dari perencanaan hingga pelaksanaan program, termasuk efek dari program itu sendiri.
j. Model Responsif
Model responsif merupakan model evaluasi yang juga menggunakan pendekatan kualitatif- naturalistik. Model evaluasi responsif mentitikberatkan evaluasi untuk merespon stake holder program.
k. Model Evaluasi Wheel (Roda) dari Beebe
Model evaluasi wheel (roda) merupakan evaluasi yang mendeskripsikan usaha evaluasi yang
31 berkaitan dan berkelanjutan dari satu proses ke proses lainnya.
l. Model Evaluasi Provus
Model evaluasi provus merupakan evaluasi yang digunakan untuk untuk melihat tingkat kesesuaian antara standar yang sudah ditentukan dalam program dengan apa yang ditampilkan secara aktual oleh program tersebut. Penggunaan model ini memiliki tujuan untuk menganalisis suatu program sehingga dapat menentukan kelayakan suatu program apakah dapat diteruskan, ditingkatkan atau sebaliknya yang disesuaikan dengan standar.
7. Evaluasi Model CIPP (Context, Input, Process, dan Product)
Model CIPP melihat kepada empat dimensi yaitu dimensi konteks, dimensi input, dimensi proses dan dimensi produk. Keunikan model ini adalah pada setiap tipe evaluasi terkait pada perangkat pengambil keputusan yang menyangkut perencanaan dan operasional sebuah program.
Keunggulan model CIPP memberikan suatu format evaluasi yang komprehensif pada setiap tahapan evaluasi. Model CIPP berpijak pada pandangan bahwa tujuan terpenting dari evaluasi program bukanlah membuktikan melainkan meningkatkan. Karenanya, model ini juga dikategorikan dalam pendekatan evaluasi yang berorientasi pada peningkatan program, atau
32 bentuk evaluasi pengembangan. Artinya, model CIPP diterapkan dalam rangka mendukung pengembangan organisasi dan membantu pemimpin dan staf organisasi tersebut mendapatkan dan menggunakan masukan secara sistematis supaya lebih mampu memenuhi kebutuhan- kebutuhan penting atau, minimal, bekerja sebaik-baiknya dengan sumber daya yang ada (Mahmudi, 2011).
Menurut Stufflebeam dalam (Arikunto dan Jabar, 2008) evaluasi CIPP terdiri dari empat jenis evaluasi, antara lain:
a. Context evaluation to serve planning decision. Hal ini merupakan konteks yang akan digunakan administrator dalam membantu merencanakan keputusan, menentukan kebutuhan suatu program dan merumuskan tujuan program,
b. Input evaluation, structuring decision. Hal ini merupakan kegiatan evaluasi guna membantu mengatur keputusan, menentukan sumber-sumber alternatif yang akan di ambil, rencana dan strategi untuk mencapai kebutuhan serta bagaimana mencapai hal tersebut dengan prosedur kerja,
c. Process evaluation, to serve implementing decision.
Hal ini merupakan kegiatan evaluasi yang akan membantu dalam melaksanakan keputusan.
Penyelenggaraan, implementasi kegiatan, aktivitas peserta, penggunaan sarana, media, sumber dan lingkungan menjadi cakupan dalam proses ini,
33 d. Product evaluation, to serve recycling decision. Hal ini merupakan kegiatan evaluasi yang memiliki tujuan untuk membantu keputusan selanjutnya.
Hasil yang telah dicapai dan apa yang telah dilakukan setelah berlangsungnya sebuah program merupakan sasaran dari evaluasi ini.
Evaluasi proses dalam model CIPP merumuskan pada apa kegiatan yang sedang dilakukan dalam program, siapa yang bertanggung jawab pada program, dan kapan kegiatan akan selesai.
Kemudian lebih lanjut akan ditambahkan sebuah model evaluasi yang ditemukan oleh Pietrzak. Dalam (Azka, Evaluasi Proses Program Pembinaan Kemandirian GIATJA bagi Warga Binaan Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyakaratan Kelas II Salemba 2020, 25) Pietrzak, Ramler, Ranner, Fort dan Gillbert (1990) mengemukakan bahwa terdapat beberapa tipe evaluasi yaitu evaluasi input, evaluasi proses dan evaluasi hasil. Namun pada penelitian ini akan difokuskan pada bagian evaluasi prosesnya saja.
Menurut Pietrzak dan kawan kawan, evaluasi proses merupakan fokus dari suatu kegiatan dimana terdapat interaksi antara staf atau petugas dengan klien atau penerima manfaat dalam mencapai tujuan dari suatu program. Evaluasi proses ini dapat dikatakan sebagai penilaian dengan melakukan analisis pada sistem pemberian layanan pada program yang berlangsung.
34 Kemudian dalam pemberian pelayanan terdapat empat komponen penilaian. Komponen penilaiannya adalah standar praktik terbaik (best standar practice), kebijakan lembaga, tujuan proses dan kepuasan klien.
B. Konsep Program Pendataan Carik Jakarta 1. Program Pendataan Carik Jakarta
Program pendataan melalui aplikasi mobile Carik Jakarta merupakan cakupan pendataan warga DKI Jakarta yang dilakukan oleh kader Dasawisma se-DKI Jakarta. Proses pendataan dilakukan secara door to door selama periode November 2019 sampai Maret 2020.
Pendataan Carik Jakarta mencakup tiga aspek yaitu: 1.
Pendataan Bangunan, 2. Pendataan Individu dan 3.
Pendataan Keluarga. Berdasarkan data terdapat 1.832.134 jumlah bangunan di DKI Jakarta. 2.271.148 jumlah keluarga di DKI Jakarta. Kemudian 7.401.520 jumlah individu di DKI Jakarta.
Kader Dasawisma tersebar di seluruh wilayah di DKI Jakarta dan keikutsertaan kader Dasawisma ini bersifat sukarela. Pada tahun 2021, terdapat 76.114 kader Dasawisma yang ditetapkan oleh SK Lurah. Data dalam aplikasi Carik Jakarta meliputi kependudukan, keluarga berencana, pembangunan keluarga, kesehatan, pendidikan, sosial, perumahan, rawan banjir dan kebakaran.
35 a. Kependudukan
Bagian ini menjelaskan data terkait administrasi dan data kasar kependudukan yang terdata melalui aplikasi Carik Jakarta periode November 2019- Maret 2020. Data terkait kependudukan yang akan ditampilkan akan mencakup jenis kelamin, usia, pendidikan, jumlah balita, jumlah lansia, kepemilikan akta nikah dan kepemilikan akta lahir.
b. Keluarga Berencana
Bagian ini menjelaskan data data terkait program Keluarga Berencana yang terdata melalui aplikasi Carik Jakarta. Data yang ditampilkan di bagian ini mencakup jumlah WUS (Wanita Usia Subur), PUS (Pasangan Usia Subur) dan kepesertaan KB.
c. Pembangunan Keluarga
Bagian ini menjelaskan data data terkait indeks pembangunan keluarga yang terdata melalui aplikasi Carik Jakarta. Data terkait Indeks Pembangunan Keluarga yang ditampilkan pada bagian ini mencakup jumlah ibu hamil, ibu nifas, ibu menyusui dan partisipasi warga dalam berbagai kelompok dengan kegiatan (poktan) BKKBN.
d. Kesehatan
Bagian ini menjelaskan data terkait kesehatan penduduk terutama mengenai riwayat pemeriksaan kesehatan riwayat penyakit serta penyandang disabilitas di DKI Jakarta. Data terkait penyakit
36 yang ditampilkan di bagian ini yaitu pemeriksaan IVA pada penduduk perempuan, anemia, kanker (payudara, rahim, serviks), leukemia, penyakit kronis (darah tinggi, jantung, diabetes mellitus, stroke), HIV, tuberkulosis, DBD dan cacingan pada balita.
e. Pendidikan
Pada bagian ini menjelaskan data terkait aspek pendidikan yang terdata melalui aplikasi Carik Jakarta. Data yang ditampilkan pada bagian ini terutama jumlah anak usia sekolah.
f. Sosial
Bagian ini menjelaskan data yang terkait aspek sosial ekonomi masyarakat. Data yang ditampilkan pada bagian ini yaitu status kemiskinan.
g. Perumahan
Pada bagian ini menjelaskan data terkait rumah sehat dan layak huni yang terdata melalui aplikasi Carik Jakarta. Komponen pertanyaan perumahan mencakup kondisi atap, dinding, lantai, sumber penerangan, sumber air minum, sumber air bersih, bahan bakar memasak, kepemilikan dan jenis jamban, pembuangan akhir tinja, pembuangan limbah, sampah rumah tangga, pencahayaan, ventilasi dan kondisi jalan.
h. Rawan Banjir dan Kebakaran
37 Bagian ini menjelaskan data terkait potensi bangunan/rumah rawan kebakaran dan kebanjiran di perumahan di DKI Jakarta yang terdata melalui aplikasi Carik Jakarta. (Carik Jakarta, 2019)
2. Prinsip Pendataan
Dalam Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia No. 08 Tahun 2012 terdapat prinsip pelaksanaan pendataan PPKS dan PSKS dalam bab IV pendataan pasal 8. Prinsip pelaksanaan pendataan diantaranya spesifik, dapat dipercaya, dapat diukur, relevan dan berkelanjutan.
a. Spesifik, yaitu menggambarkan secara khusus indikator terkait data PPKS dan PSKS,
b. Dapat dipercaya, yaitu bertanggung jawab atas kualitas dari pengumpulan, pengolahan dan penyajian data serta dapat mempertanggung jawabkan metode dan prosedur yang digunakan, c. Dapat diukur (terukur), yaitu melaksanakan
metodologi, konsep, definisi, klasifikasi dan ukuran statistik melalui standar yang ditetapkan,
d. Relevan, yaitu suatu hal yang masih berlaku terkait perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi berdasarkan kebijakan atau program kesejahteraan sosial,
e. Berkelanjutan, yaitu melaksanakan pendataan PPKS dan PSKS secara terus menerus dan berkesinambungan sebagai upaya mendapatkan data
38 yang valid, akurat, relevan, konsisten dan terbaru.
(BPHN, 2012)
C. Ketahanan Keluarga 1. Pengertian Keluarga
Menurut Friedman dalam Setiono (2011) mengungkapkan bahwa keluarga adalah dua atau lebih individu yang tergabung karena ikatan tertentu untuk saling membagi pengalaman dan melakukan pendekatan emosional, serta mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari keluarga. Sedangkan menurut BKKBN (1999) definisi keluarga adalah dua orang atau lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materil yang layak, bertakwa kepada Tuhan, memiliki hubungan yang selaras dan seimbang antara anggota keluarga dan masyarakat serta lingkungannya.
Pendapat lain mengemukakan bahwa keluarga adalah sekelompok orang yang memiliki hubungan darah atau perkawinan. Keluarga batih (nuclear family) terdiri dari bapak, ibu dan anak-anaknya. Sedangkan keluarga yang lebih luas (extended family) terdiri dari banyak orang yang berasal dari satu keturunan kakek dan nenek yang sama. Fungsi dari keluarga adalah untuk berkembang biak, mendidik atau mensosialisai kepada anak serta menolong dan melindungi orang yang lemah terkhusus orang tua lanjut usia.
39 Berdasarkan pandangan psikologi, keluarga bukan hanya terkait sejauhmana interaksi antar anggota keluarga dapat berjalan tanpa hambatan. Tetapi juga sejauh mana keluarga dapat menyesuaikan diri dengan perubahan pada struktur keluarga dan lingkungannya yang kemudian akan berpengaruh terhadap keberadaan dan fungsi keluarga.
2. Konsep Ketahanan Keluarga
Menurut (Puspitawati, dkk., 2019) ketahanan keluarga adalah suatu masukan, proses dan hasil yang bahkan memiliki dampak bagi keluarga dan daya juang bagi keluarga dalam menyesuaikan diri. Ketahanan keluarga menurut Sunarti dalam (Mujahidin dan Amini, 2017) menyangkut kemampuan keluarga dalam mengelola masalah yang dihadapi berdasarkan sumberdaya yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Sehingga keluarga mempunyai: a. Ketahanan fisik apabila terpenuhinya kebutuhan pangan, sandang, perumahan, pendidikan dan kesehatan serta terbebas dari masalah ekonomi, b. Ketahanan sosial apabila berorientasi nilai agama, komunikasi berlangsung efektif, komitmen keluarga tinggi, pembagian peran, dukungan untuk maju dan waktu kebersamaan keluarga, membina hubungan sosial dan mekanisme
40 penanggulangan masalah, c. Ketahanan psikologis keluarga apabila keluarga mampu menanggulangi masalah non fisik, pengendalian emosi secara positif, konsep diri positif dan kepedulian suami terhadap istri (Puspitawati, 2015).
Menurut Walsh kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi terhadap berbagai kondisi yang senantiasa berubah secara dinamis serta memiliki sikap positif terhadap berbagai tantangan kehidupan keluarga.
Peraturan Menteri PPPA Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pelaksanaan Pembangunan Keluarga menyebutkan bahwa konsep ketahanan dan kesejahteraan keluarga mencakup: 1. Landasan Legalitas dan Keutuhan Keluarga, 2. Ketahanan Fisik, 3. Ketahanan Ekonomi, 4.
Ketahanan Sosial Psikologi, dan 5. Ketahanan Sosial Budaya (BPS, 2016).
Berdasarkan petunjuk teknis penggunaan aplikasi Carik Jakarta (Carik Jakarta, 2019) terdapat tujuh indikator dalam ketahanan. Indikator tersebut terdiri dari tujuh pertanyaan yaitu:
1. Apakah suami dan istri bersama-sama mengelola secara terbuka keuangan keluarga?
2. Apakah suami dan istri merencanakan bersama jumlah anak yang diinginkan atau alat kontrasepsi yang dipakai?
3. Apakah rumah yang ditempati memiliki ruang tidur terpisah antara orang tua dan anak?
41 4. Apakah pernah terjadi kekerasaan antar suami dan
istri?
5. Apakah anggota keluarga terlibat masalah pelanggaran hukum?
6. Apakah terjadi kekerasaan antar orang tua dan anak?
7. Apakah keluarga pernah menunggak membayar listrik?
Menurut pendapat lain menyebutkan bahwa ketahanan keluarga adalah stabilisasi keluarga yang adaptif dan pengaturan pada sistem keluarga setelah gangguan pada keluarga yang disebabkan oleh kesulitan dan masalah. Ketahanan keluarga adalah proses pengaturan dalam sistem dinamis, pembentukan keseimbangan dalam suatu sistem karena gangguan dan kesulitan yang dimiliki oleh keluarga (Musfiroh, dkk., 2019).
Lebih lanjut menurut (Hadfield dan Ungar, 2018) terdapat keterkaitan antara sistem keluarga dan komunitas terhadap anak anak. Dalam prosesnya, ketahanan keluarga dapat dicapai dengan meningkatkan ketahanan individu secara biologis, psikologis dan sosial. Penilaian ketahanan keluarga terhadap keluarga milenial di globalisasi dikategorikan kedalam tiga bagian tema pertanyaan yaitu 1. ketahanan fisik terkait jenis pekerjaan suami/istri dan total pendapatan keluarga satu bulan, status kepemilikan rumah, jumlah anak, pemenuhan pangan dan sandang, dan pespektif
42 pendidikan dalam keluarga, 2. ketahanan sosial terkait ketersediaan waktu berinteraksi dalam keluarga, penggunaan smartphone, media sosial dan penanaman budaya dalam keluarga, dan 3. ketahanan psikologis tentang pengelolaan emosi dalam keluarga (Amalia, 2018).
D. Kerangka Berpikir
Bagan 2.2
43 Program Pendataan Carik Jakarta
dalam Upaya Ketahanan Keluarga
Program Carik Jakarta berupa pendataan dan sosialisasi terkait pendataan seputar sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan perumahan
Evaluasi Proses Model CIPP
1.Kegiatan program
2. Penanggung jawab program
3.Waktu berjalannya program
Indikator Ketahanan Keluarga berdasarkan Peraturan Menteri PPPA No. 6 Tahun 2013:
•1. Landasan legalitas dan keutuhan keluarga
•2. Ketahanan fisik
•3. Ketahanan ekonomi
•4. Ketahanan sosial psikologi
•5. Ketahanan sosial budaya
43 BAB III
GAMBARAN UMUM LATAR PENELITIAN A. Latar Belakang Kelurahan Petukangan Utara
Wilayah Kelurahan Petukangan Utara adalah salah satu wilayah Kelurahan dalam wilayah Pemerintah Kecamatan Pesanggrahan, Kota Administrasi Jakarta Selatan.
Berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta nomor 1251 Tahun 1986 mempunyai luas 299,24 Ha dan terbagi habis menjadi 11 RW dan 121 RT.
Gambar 3.1 Kantor Lurah Petukangan Utara
(Sumber: Dokumentasi Penulis, 2021) Tabel 3.1
Jumlah Rukun Warga dan Rukun Tetangga Kelurahan Petukangan Utara
No. Rukun Warga (RW)
Rukun Tetangga (RT)
Luas
44
1. 01 13
2. 02 13
3. 03 14
4. 04 10
5 05 9
6. 06 5
7. 07 15
8. 08 8
9. 09 10
10. 010 10
11. 011 14
Jumlah 121
(Sumber: Data Kelurahan, 2020) B. Dasar Hukum Kelurahan Petukangan Utara
1. Peraturan Daerah, Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 10 Tahun 2008 tentang Organisasi Pemerintahan Daerah,
2. Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 2 Tahun 2006 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pelaporan Kotamadya/Kabupaten, Administrasi, Kecamatan dan Kelurahan di Provinsi DKI Jakarta,
3. Peraturan Daerah Nomor 40 Tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Kelurahan di Provinsi DKI Jakarta,
4. Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang