• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN. Tesis ini fokus terhadap fenomena negara bayangan (shadow state) dan pasar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN. Tesis ini fokus terhadap fenomena negara bayangan (shadow state) dan pasar"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

14

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Tesis ini fokus terhadap fenomena negara bayangan (shadow state) dan pasar gelap (black market) pada penyelenggaraan pelayanan pajak parkir di wilayah sub urban. Pengelolaan pajak parkir daerah di Kecamatan Banguntapan Kabupaten Bantul tahun 2008-2011 dipilih sebagai lokus penelitian pada tesis ini. Pemilihan fokus dan lokus penelitian tersebut didasarkan pada kondisi empiris rendahnya kontribusi pajak parkir terhadap pendapatan pajak daerah di Kabupaten Bantul tahun anggaran 2008-2011. Meskipun secara das sein pajak daerah menjadi komponen yang memberikan kontribusi terbesar pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bantul, rendahnya pencapaian pendapatan pajak parkir tersebut mengindikasikan adanya permasalahan kronis di bidang penyelenggaraan pelayanan pajak parkir di wilayah Kabupaten Bantul.

Tabel 1

Komponen Pajak Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2008-2011

Tahun Komponen Pajak Hotel Resto Hibur

an Reklam e Peneran gan Jalan Mineral Bukan Logam&Bat uan Parkir Air Bawah Tanah Sarang Walet BPHTB 2008 37.455. 000 149.261 .025 77.380 .700 415.753. 000 10.834.7 09.060 12.381.000 12.381.000 0 0 0 2009 48.340. 000 188.874 .430 91.851 .050 1.244.91 7.012,99 12.138.8 90.000 378.934.486 16.644.500 0 0 0 2010 91.689. 000 393.816 .400 149.91 4.202 1.928.53 5.601 13.523.9 63.363 428.649.389 24.682.000 0 0 0 2011 131.24 1.900 1.522.4 13.345 222.24 6.988 2.078.74 5.604 14.830.4 20.831 445.485.716 30.675.000 128.34 9.465 15.676.962.9 27,50 15.676.9 62.927,5 0

(2)

15

Problematika rendahnya kontribusi pajak parkir dalam pendapatan pajak daerah Bantul menunjukkan bahwa pajak parkir belum mampu diandalkan sebagai kontributor dominan bagi pendapatan pajak daerah. Konstelasi kekuatan ilegal hasil konspirasi bawah tangan antar aktor dari institusi formal dan informal yang hadir menjelma sebagai negara bayangan dan pasar gelap pengelolaan pajak melahirkan implikasi permasalahan terhadap peluang peningkatan pendapatan pajak parkir di Kabupaten Bantul. Penerapan dikotomi mekanisme penarikan pajak parkir terhadap wajib pajak melalui sistem self assesment dan flat menjadi pintu masuk awal hadirnya konspirasi negatif antar aktor tersebut sebagai negara bayangan dan pasar gelap pajak parkir di Kabupaten Bantul. Disparitas antara target setoran pajak parkir dari obyek pajak yang dikenai mekanisme tarif flat dan pendapatan riil usaha parkir obyek pajak ini menjadi celah masuknya kelompok-kelompok berkepentingan untuk memainkan peran negara bayangan serta kegiatan pasar gelap di dalamnya. Preferensi lebih tertariknya institusi informal untuk menyusup ke dalam obyek pajak parkir bertarif pajak flat dibandingkan pada obyek pajak parkir self assessment ini muncul karena adanya kecenderungan kharakteristik organisasi usaha parkir obyek pajak parkir yang tidak sekompleks kharakteristik organisasi usaha parkir obyek pajak parkir self assessment. Kehadiran negara bayangan dan pasar gelap di bidang pajak parkir ini menjadi suatu fenomena sosial yang menarik. Pasalnya, kehadirannya bahkan lebih tidak kentara bila dibandingkan dengan hadirnya fenomena negara bayangan dan pasar gelap di bidang retribusi parkir.

Secara teoritis mengenai dikotomi institusi formal-informal pengelolaan parkir, kehadiran institusi formal pengelola pajak parkir tidak akan pernah bisa lepas dari hadirnya institusi informal. Hal ini dikarenakan institusi informal yang terdiri

(3)

16

dari kelompok kepentingan, kelompok penekan dan kelompok-kelompok masyarakat di luar struktur pemerintahan yang menjalankan peran sebagai unofficial participant selalu muncul bersamaan dengan dimulainya penyelenggaraan pemerintahan formal yang berperan sebagai official policy maker. Helmke dan Levitsky (2006 : 14) menyebutkan bahwa institusi informal dapat hadir sebagai pesaing (bersifat rivalry) terhadap institusi formal meskipun dalam berbagai kasus dan situasi tertentu, institusi informal tersebut dapat pula berperan sebagai pelengkap (komplementor) bagi penyelenggaraan institusi pemerintahan formal. Dengan demikian, ketika pada tataran praktis institusi informal beroprasi sebagai negara bayangan dan pasar gelap dalam kegiatan usaha parkir yang diselenggarakan oleh para obyek pajak parkir sehingga menimbulkan hambatan peningkatan pendapatan pajak parkir daerah, maka institusi informal tersebut secara das sein telah memainkan peran rivalrynya.

Dalam prespektif efektivitas negara, kemampuan das solen peningkatan pendapatan pajak daerah merupakan suatu pencapaian/ prestasi pengelolaan kekayaan daerah. Pada saat yang sama, kehadiran institusi informal yang menjelma sebagai negara bayangan dan pasar gelap dalam pengelolaan pajak parkir di Kabupaten Bantul pada umumnya dan Kecamatan Banguntapan pada khususnya menggambarkan rumitnya hambatan yang dihadapi pemerintah daerah dalam meningkatkan pendapatan pajak parkir daerahnya. Ketika institusi informal melalui konstelasi kekuatan yang dimilikinya mencoba mendapatkan manfaat ekonomis secara ilegal dari para obyek pajak parkir, maka resistensi obyek pajak parkir terhadap berbagai kebijakan peningkatan tarif pajak parkir secara das solen berpotensi muncul. Pada tataran empiris, konversi mekanisme pengelolaan pajak parkir flat ke self assesment yang memungkinkan pulang peningkatan pendapatan

(4)

17

pajak parkir menjadi sesuatu yang sulit dilakukan oleh pemerintah daerah Bantul ketika negara bayangan dan pasar gelap pengelolaan pajak parkir telah hadir serta menjadi bagian yang sulit dipisahkan dalam penyelenggaraan tata kelola pajak parkir. Hal ini dikarenakan negara bayangan dan pasar gelap senantiasa memiliki kekuatan untuk menekan para pembuat kebijakan formal (Reno, 2000 : 442).

Kajian mengenai konstelasi kehadiran negara bayangan dan pasar gelap dalam ranah negara/ pemerintahan sebenarnya bukan merupakan hal yang baru. Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti.

Pertama, dalam penelitiannya mengenai efisiensi pasar gelap, Davidson, Laurence

dan Martin (2007) mencoba mengidentifikasi kasus kehadiran pasar gelap sebagai media distorsi yang mengakibatkan terdistorsinya pendapatan pajak. Dalam studi literatur yang dilakukannya, Davidson, Laurence dan Martin mendeskripsikan pasar gelap perpajakan sebagai fenomena munculnya transaksi-transaksi ilegal yang tidak memberikan kontribusi pendapatan pajak secara formal bagi pemerintah. Aktivitas pasar gelap ekonomi pada kajian ini digambarkan secara makro serta berimplikasi pada lahirnya kondisi inefisiensi pendapatan pajak. Penggambaran kehadiran pasar gelap secara makro dalam kajian ini secara tersirat ingin mengungkapkan bahwa dimanapun lokusnya, kehadiran institusi informal sebagai pasar gelap ekonomi perpajakan berimplikasi negatif terhadap tax effort pengelolaan pajak. Pada tahapan akhir analisis, Davidson, Laurence dan Martin menyimpulkan bahwa kelanggengan operasional pasar gelap ekonomi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok informal tersebut sangat mengakar, mengingat para pelaku pasar gelap ekonomi ini memiliki kekuatan untuk mempertahankan eksistensinya dengan memanfaatkan perlindungan koruptif serta kolutif dari institusi formal.

(5)

18 Kedua, dengan menggunakan pendekatan mimic approach, Dell’anno (2007)

berupaya mendeskripsikan kajian tentang fenomena negara bayangan ekonomi di Portugal. Dalam kajiannya tersebut, Dell’anno memposisikan negara bayangan ekonomi di Portugal sebagai fenomena yang bersifat makro. Sama halnya dengan yang dilakukan oleh Davidson, Laurence dan Martin (2007), kajian negara bayangan ekonomi yang ditulis oleh Dell’anno ini berasumsi bahwa kehadiran negara bayangan ekonomi dapat terjadi di semua lini penyelenggaraan negara secara makro. Negara bayangan ekonomi di Portugal digambarkan oleh Dell’anno sebagai kekuatan beberapa aktor informal untuk menghindari pajak sehingga menimbulkan hambatan bagi peningkatan pendapatan pajak formal bagi negara. Kajian ini menampilkan

analisis kehadiran negara bayangan ekonomi sebagai suatu problema

penyelenggaraan pemerintah yang tidak sekedar mengakibatkan inefisiensi pemerintahan, melainkan sebagai fenomena yang muncul ketika pemerintahan formal telah diselenggarakan secara kurang efektif. Inefektivitas kinerja pemerintahan tersebut diklaim Dell’anno sebagai pintu gerbang lahirnya metamorphosis kekuatan-kekuatan berbagai institusi informal sebagai negara bayangan ekonomi di Portugal. Dell’anno mengungkapkan bahwa inefisiensi penyelenggaraan pemerintahan yang memicu kehadiran negara bayangan ekonomi di Portugal tersebut tercermin dari kompleksitas aturan hukum dan kebijakan khususnya terkait perpajakan. Kajian ini

merekomendasikan disusunnya rancangan penyelesaian masalah dengan

menggunakan pendekatan struktural.

Ketiga, kajian yang dilakukan oleh Sarfraz (2008) tentang tax evasion dalam

konteks pasar gelap masih menempatkan pasar gelap sebagai suatu fenomena makro kompleksitas pengelolaan pajak. Melalui presepektif pasar, Sarfraz mengidentifikasi

(6)

19

kehadiran pasar gelap di sektor perpajakan sebagai masalah ekonomi dan keuangan tehnis. Studi literatur yang dipakai dalam kajian ini mengungkap adanya kegiatan ekonomi bawah tanah yang dilakukan untuk menghindari pajak. Sama halnya dengan kajian yang dilakukan oleh Davidson, Laurence dan Martin (2007), serta Dell’anno (2007), kajian ini juga mendeskripsikan implikasi hambatan peningkatan pendapatan pajak ketika institusi informal mulai hadir sebagai pasar gelap ekonomi di bidang perpajakan. Dengan menampilkan studi kasus perpajakan di Pakistan, Sarfraz berupaya untuk membangun argumentasi mengenai faktor-faktor yang menyebabkan hadirnya institusi informal sebagai pasar gelap perpajakan berupa anomali kebijakan hukum perpajakan. Sarfraz menganalisis bahwa penetapan tarif pajak yang terlalu tinggi dalam skema kebijakan perpajakan di Pakistan telah memunculkan rasa takut dan keinginan untuk menghindari pajak dari para wajib pajak sehingga menciptakan operasional pasar gelap ekonomi bawah tanah. Dalam kajian ini direkomendasikan pula problem solving pengentasan permasalahan pasar gelap perpajakan di Pakistan melalui langkah perbaikan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan khususnya penyelenggaraan kebijakan perpajakan.

Keempat, Novita (2010) dalam penelitiannya mencoba mendeskripsikan

secara lebih mikro kebijakan pengelolaan perparkiran di Kota Yogyakarta dengan mengungkap adanya pengelolaan informal dalam penanganan retribusi parkir yang menyebabkan tidak optimalnya pendapatan daerah di sektor tersebut. Dengan menggunakan prespektif ekonomi politik, penelitian ini berupaya menjelaskan motif di balik perilaku politisi, birokrat, pengusaha dan kelompok kepentingan dalam pembuatan kebijakan terkait retribusi parkir. Hasil identifikasi pengelolaan parkir di Kota Yogyakarta dalam tesis ini meliputi 2 hal. Pertama, penerimaan daerah dari

(7)

20

retribusi parkir sangat rendah karena dalam perencanaannya menggunakan sistem target. Target pendapatan daerah yang dibebankan pada para pengelola parkir lebih rendah dibandingkan potensinya. Hal ini membuat terjadinya penyimpangan dan pelanggaran terhadap ketentuan yang ditetapkan, serta menimbulkan kebocoran pendapatan retribusi parkir daerah pada tataran implementasi. Kedua, perparkiran di Kota Yogyakarta tidak hanya dikelola secara formal, tetapi juga terdapat pengelolaan lain yang bersifat informal. Organisasi pengelola parkir informal ini melibatkan para penyelenggara negara serta aktor-aktor dalam masyarakat yang mempertukarkan sumber daya ekonomi dengan sumber daya kekuasaan dalam informal market. Target setoran retribusi kepada Pemerintah Kota yang rendah memunculkan rente ekonomi yang kemudian hasil keuntungan ini didistribusikan pada aktor-aktor yang tergabung dalam jaringan informal tersebut.

Beberapa kajian terdahulu tentang konstelasi kehadiran negara bayangan dan pasar gelap memiliki beberapa kesamaan berupa penempatan kehadiran negara bayangan dan pasar gelap sebagai suatu fenomena yang bersifat makro, memposisikan relasi yang missing link antara negara bayangan dan pasar gelap, serta tidak menjadikan konsep kharakteristik kewilayahan perkotaan sebagai bagaian dari kerangka acuan untuk menganalisis konstelasi kehadiran negara bayangan dan pasar gelap tersebut. Kebaruan ingin ditawarkan dalam tesis ini ialah menghadirkan berbagai hal yang belum mampu dicover oleh kajian-kajian terdahulu meliputi : (1) penempatan fenomena kehadiran negara bayangan dan pasar gelap sebagai fenomena yang lebih mikro dengan mengarahkan lokus pada pengelolaan pajak parkir daerah Bantul tahun 2008-2011, (2) memberikan prespektif relasi yang non missing link antara fenomena negara bayangan dan pasar gelap dalam konteks pajak parkir, (3)

(8)

21

serta menjadikan konsep pemahaman kharakteristik kewilayahan perkotaan Kabupaten Bantul sebagai wilayah sub urban pada proses analisis data penelitian.

Konsekuensi diakomodirnya pemahaman negara bayangan dan pasar gelap sebagai fenomena yang lebih mikro dalam konteks pajak parkir, penempatan prespektif relasi yang non missing link antara fenomena negara bayangan dan pasar gelap dalam konteks pajak parkir, dan dijadikannya konsep pemahaman kharakteristik kewilayahan perkotaan sebagai kebaruan penelitian dalam tesis ini membuat studi kebijakan menjadi pendekatan utama dalam memahami fenomena kehadiran negara bayangan dan pasar gelap dalam pengelolaan pajak parkir di wilayah sub urban. Di sisi lain, studi politik, sosiologi, antriopologi dan geografi menjadi studi yang memperkuat pendekatan kebijakan tersebut. Dengan demikian penelitian ini tidak sekedar menampilkan analisis tehnokratis penyelenggaraan tata kelola pajak parkir, melainkan menyajikan analisis yang lebih integral mengenai konstelasi kehadiran negara bayangan dan pasar gelap pengelolaan pajak parkir wilayah sub urban Banguntapan.

Pada tataran empiris, pengelolaan pajak parkir di wilayah Kabupaten Bantul dilakukan melalui kebijakan Peraturan Daerah No. 6 Tahun 2009. Melalui regulasi tersebut, pajak parkir ditujukan pada setiap penyelenggara tempat parkir di luar badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor sebesar 30% dari tarif yang dikenakan. Berdasarkan laporan realisasi APBD Bantul tahun 2008-2011, dalam kurun waktu tahun anggaran 2008-2011, jumlah realisasi perolehan pajak parkir Kabupaten Bantul selalu melebihi target yang ditetapkan sehingga setiap tahun terjadi penetapan peningkatan target perolehan pendapatan yang bersumber dari

(9)

22

pajak parkir tersebut. Berdasarkan laporan realisasi APBD Bantul tersebut dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan yang sangat signifikan realisasi perolehan pajak parkir pada tahun 2011. Peningkatan secara signifikan realisasi perolehan pajak parkir di wilayah kabupaten bantul ini disinyalir disebabkan karena adanya penambahan jumlah kendaraan bermotor dan perkembangan demografi wilayah

suburban Kabupaten Bantul1.

Tabel 2

Komparasi Target dan Realisasi Pajak Parkir Kabupaten Bantul Tahun 2008-2011

Tahun Target Perolehan Pajak Parkir Realisasi Perolehan Pajak

Parkir

2008 9.507.000.000,00 12.070.898.846,00

2009 14.036.000.000,00 14.108.451.478,99

2010 16.679.578.000,00 16.541.249.955,00

2011 30.802.000.000,00 35.068.591.776,50

Sumber : Laporan Realisasi APBD Bantul tahun 2008-2011

Penetapan besaran persentase pajak parkir senilai 30% dari nominal tarif parkir, menunjukkan bahwa kebijakan tata kelola parkir daerah di Kabupaten Bantul didesain dengan sistem target. Sistem target pendapatan pajak parkir ini berpotensi mengakibatkan hilangnya potensi peningkatan pendapatan daerah yang bersumber dari perolehan pajak parkir. Hal ini mengingat sistem target pendapatan daerah bersifat mengaburkan potensi ekonomis pendapatan daerah secara riil (Elcock, 1994 : 19). Artinya meskipun realisasi pendapatan daerah melebihi target yang ditetapkan, belum secara signifikan menjamin tercovernya seluruh potensi pendapatan yang dimiliki oleh daerah tersebut.

1 Menurut data statistik Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul, dalam kurun waktu tahun 2008-2010

jumlah kendaraan bermotor di wilayah Kabupaten Bantul terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2010 tercatat sejumlah 281.332 kendaraan bermotor dimiliki oleh warga Bantul. Sepeda motor menjadi jenis kendaraan yang jumlahnya paling banyak di Kabupaten Bantul yakni sebesar 253.685 unit.

(10)

23

Tabel 3

Setoran Pajak Parkir Obyek Pajak Flat di Bantul

Kecamatan Jumlah Obyek

Pajak Parkir

Total Pendapatan Pajak Perbulan

Total Pendapatan Pajak

Pertahun Kretek Bambanglipuro Pandak Bantul Jetis Imogiri Banguntapan Pleret Piyungan Sewon Kasihan Sedayu 13 2 5 13 2 4 5 2 10 7 2 4 507.000 31.500 33.900 219.000 225.000 53.000 57.000 39.000 204.000 111.000 201.000 39.000 6.084.000 378.000 406.800 2.628.000 2,700.000 636.000 684.000 468.000 2.448.000 1.332.000 2.412.000 468.000 Total 69 1.720.400 20.644.800

Sumber : DPPKAD Bantul Tahun 2012

Kondisi das sein peningkatan target pendapatan pajak parkir di wilayah Kabupaten Bantul tahun 2008-2011 yang tidak diikuti dengan konversi kebijakan pemungutan tarif flat obyek pajak parkir ke mekanisme self assessment memunculkan peluang hadirnya institusi informal sebagai negara bayangan dan pasar gelap. Ketidakmampuan tercovernya dinamika potensi pajak yang dimiliki oleh obyek pajak parkir bertarif flat oleh pemerintah, menjadi sumber kebocoran peluang peningkatan pendapatan pajak parkir di Kabupaten Bantul. Terlebih kondisi wilayah Kabupaten Bantul yang notabene merupakan wilayah sub urban, menjadi lahan subur lahirnya kelompok-kelompok informal yang memiliki ekspektasi keuntangan ekonomis tinggi secara ilegal terhadap pengelolaan pajak parkir bersamaan dengan dimilikinya konstelasi kekuatan untuk mempengaruhi serta menekan institusi formal pengelola pajak parkir.

Kecamatan Banguntapan dipilih sebagai unit analisis dalam penelitian ini untuk merepresentasikan permasalahan pengelolaan pajak parkir di wilayah sub

(11)

24

urban Kabupaten Bantul. Hal ini dikarenakan kharakteristik kewilayahan Bantul sebagai daerah sub urban dapat dilihat dari kharakteristik peri urban yang ada di Kecamatan Banguntapan. Selain itu, Kecamatan Banguntapan merupakan satu-satunya wilayah di Kabupaten Bantul yang memiliki subyek pajak parkir bertarif self

assessment dan flat sehingga dinamika kehadiran negara bayangan dan pasar gelap

pajak parkir dapat diobservasi dan dianalisis lebih mendalam di Kecamatan Banguntapan ini untuk melihat komparasi 2 sistem pemungutan pajak parkir tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Berangkat dari fakta belum optimalnya kontribusi pajak parkir dalam pendapatan pajak daerah Kabupaten Bantul akibat hadirnya negara bayangan dan pasar gelap pengelolaan parkir yang dilakukan melalui upaya konspiratif berbagai aktor kepentingan di Kecamatan Banguntapan, maka penelitian ini diarahkan untuk menjawab rumusan masalah yang meliputi :

1) Bagaimanakah konstelasi kekuatan institusi formal dan informal pengelola pajak parkir di Kecamatan Banguntapan Bantul?

2) Mengapa muncul fenomena negara bayangan dan pasar gelap dalam pengelolaan pajak parkir di wilayah sub urban Banguntapan Bantul?

3) Bagaimanakah mekanisme beroprasinya aktivitas negara bayangan dan pasar gelap pengelolaan pajak parkir di wilayah sub urban Banguntapan Bantul?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan utama yang ingin dicapai dalam penelitian ini ialah menghasilkan analisis mengenai konstelasi kehadiran negara bayangan dan pasar gelap pengelolaan pajak parkir di wilayah sub urban yang diperinci dalam 3 tujuan spesifik berupa :

(12)

25

1) Menganalisis konstelasi kekuatan institusi formal dan informal pengelola pajak parkir di Kecamatan Banguntapan Bantul

2) Mengidentifikasi latar belakang munculnya negara bayangan dan pasar gelap dalam dalam pengelolaan pajak parkir di wilayah sub urban Banguntapan Bantul 3) Mendeskripsikan mekanisme beroprasinya aktivitas negara bayangan dan pasar

gelap pengelolaan pajak parkir di wilayah sub urban Banguntapan Bantul

1.4 Kontribusi Penelitian

Proses penyusunan tesis ini dilakukan sebagai upaya untuk memberikan kontribusi penelitian berupa manfaat teoritis dan praktis mengenai masalah kehadiran negara bayangan dan pasar gelap pengelolaan pajak parkir di wilayah sub urban Kabupaten Bantul. Setidaknya terdapat 3 manfaat teoritis yang dapat diberikan dalam penelitian ini meliputi : (1) memposisikan nilai penting kharakteristik wilayah perkotaan sebagai salah satu determinan yang berkorelasi dengan kajian mengenai pengelolaan parkir khususnya masalah pendapatan pajak parkir daerah, (2) menekankan pemahaman mengenai fenomena negara bayangan dan pasar gelap pengelolaan pajak parkir yang memiliki potensi bersifat persaingan dengan penyelenggaraan pelayanan pajak parkir yang dilakukan oleh institusi formal, (3) serta memberikan stimulus dan dorongan bagi sivitas akademika bidang manajemen dan kebijakan publik untuk melakukan riset lebih lanjut mengenai masalah konstelasi kehadiran negara bayangan dan pasar gelap dalam pengelolaan pajak parkir di wilaah sub urban ini.

Selanjutnya, manfaat praktis yang termuat dalam penelitian ini mencakup 2 hal yakni :

(13)

26

1) Memberikan deskripsi peta masalah dalam konteks konstelasi kehadiran negara bayangan dan pasar gelap pengelolaan pajak parkir daerah sehingga dari peta masalah tersebut, pemerintah daerah selaku perumus kebijakanmampu mengidentifikasi berbagai alternative rancangan penyelesaian masalah sebagai solusi masalah kebijakan.

2) Menghadirkan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah untuk memperhatikan aspek keunikan kharakteristik kewilayahan perkotaan dalam menghadapi problem hadirnya negara bayangan dan pasar gelap pada tata kelola pajak parkir sehingga kebijakan pengelolaan pajak parkir yang dihasilkan lebih integral, tidak sekedar sebagai hasil dari adopsi kebijakan pengelolaan pajak parkir di wilayah urban yang sarat akan tumpang tindih masalah baru jika diimplementasikan di wilayah sub urban.

Referensi

Dokumen terkait

Daripada mengakses menu Buku telepon dan menggeser melintasi daftar, Anda dapat menautkan kartu nama yang bersangkutan ke tombol cepat, jadi tekanan panjang pada tombol yang

Sarana prasarana atau fasilitas RS terkait K3 yang diberikan belum lengkap, fasilitas yang sudah disediakan oleh rumah sakit berupa Alat Pelindung Diri, pegelolaan limbah

Sehingga dapat dikatakan bahwa alih kode dapat didefinisikan sebagai penggunaan lebih dari satu bahasa, variasi, atau gaya oleh pembicara dalam suatu ucapan atau

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) yang dilakukan oleh dosen yang dilaksanakan di Kelurahan Sindang Barang, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, diharapkan

Pengasutan sistem DOL, arus asut dan arus steady state untuk hubung delta dan hubung bintang, cenderung semakin tinggi dengan bertambahnya beban (R yang berkurang

Syukur Alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Hubungan Antara Kemampuan kerja dan Kualitas Pelayanan pada Karyawan Bagian Tata Usaha

Mengukur

Seperti yang dijelaskan pada pendahuluan bahwa alat uji yang telah dibuat dan akan diuji adalah jenis batang dengan dua material referensi yang telah diketahui