SEJARAH IMPLEMENTASI EKONOMI ISLAM Anang Rohwiyono
Fak. Agama Islam Uhamka, [email protected] Abstract:
From the historical record of Muhammad's life is known that he was a merchant, which is all attitude, actions and behavior reflect the economy as a practitioner. In the course of his life Muhammad has set an example for people to be honest and successful trader. Dimensions honesty and tenacity that the totality of the traders have exposed him as he came to the pinnacle of success in managing the economy stems from the household economy to the economic system of the country.
In the reign of Umar ibn al-Khattab, the security situation is very peaceful and safe country, the welfare of the people is getting better than before. In a short time, Caliph Umar was able to deliver an Islamic state as a state that is safe, prosperous and fair. Economic conditions and incomes, including the Arab Medina evenly. Wealth and prosperity come from the spoils of war (ghanimah), land tax (kharaj), trade tax ('ushr), zakat, dependent tax (jizya).
Keywords: history, theory, practice of Islamic economics
Abstrak:
Dari rekaman sejarah kehidupan Muhammad diketahui bahwa beliau adalah seorang pedagang, yang tentunya segala sikap, tindakan dan perilakunya mencerminkan sebagai seorang praktisi ekonomi. Dalam perjalanan hidupnya Muhammad telah memberi teladan kepada umat untuk menjadi pedagang yang jujur dan berhasil. Dimensi kejujuran dan keuletan yang totalitas pada beliau sebagai pedagang telah menghantarkan beliau sampai pada puncak kesuksesan dalam mengelola perekonomian yang bermula dari ekonomi rumah tangga sampai kepada sistem perekonomian negara. Di masa pemerintahan Umar ibn al-Khattab, kondisi keamanan negara sangat damai dan aman, kesejahteraan rakyat semakin membaik dari sebelumnya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, khalifah Umar telah mampu menghantarkan negara Islam sebagai sebuah negara yang aman, makmur dan adil. Kondisi perekonomian dan pendapatan masyarakat Arab Madinah termasuk merata. Kekayaan dan kemakmuran tersebut berasal dari harta rampasan perang (ghanimah), pajak tanah (kharaj), pajak perdagangan (’ushr), zakat, pajak tanggungan (jizyah).
Kata kunci: sejarah, teori, praktik ekonomi Islam
Pendahuluan
Timur Tengah yang menjadi wilayah di mana Nabi Muhammad dilahirkan, tercatat sebagai salah satu pusat perdagangan dunia, yang berlangsung sejak kelahiran Muhammad pada abad ke-6M., bahkan sebelumnya dan terus berlanjut sampai pada masa-masa di mana Islam diperkenalkan sebagai sebuah ajaran agama pada abad ke-7M. Pada masa Rasulullah, Islam memang belum mengajarkan mengenai mu’amalah/ekonomi Islam secara rinci, tetapi dari beberapa ajaran yang dimuat dalam nash (al-Qur’an dan al-Hadis) telah memberikan suatu ajaran etika yang bertujuan menata kehidupan manusia dalam segala bentuk perilaku, termasuk di dalamnya berkenaan mu’amalah (ekonomi Islam). Dari sini terdapat suatu landasan dasar yang dapat dijadikan pijakan dalam menghadapi bentuk perilaku ekonomi dunia.
Di dalam al-Qur’an banyak terdapat berbagai ungkapan yang mengajak manusia untuk lebih berhati-hati dalam segala bentuk kegiatan mu’amalah, baik itu dalam bisnis, transaksi jual- beli, kredit, untung rugi maupun yang lain.
Dari catatan sejarah dapat diketahui bahwa kaum Quraisy di Mekah terkenal sebagai pedagang besar yang menghubungkan perdagangan antar negeri. Rempah-rempah dari Timur diekspor ke Barat, dan hasil kerajinan Barat diekspor ke Timur, semua itu melalui Semenanjung Arabia, di tangan kaum Quraisy Mekah yang menjadi penghubung perdagangan internasional tersebut.
Sementara penduduk di Madinah yang mempunyai daerah yang subur, petani-petaninya mengekspor hasil-hasil korma dan gandumnya melewati Syiria ke daerah-daerah Romawi dan seluruh Eropa. Karena umumnya penduduk Madinah menjadi petani, maka di situlah mereka menjadi pedagang besar yang memegang perekonomian di Madinah.
Selain bisnis perdagangan kaum Quraisy di Mekah dan produsen pertanian di Madinah yang secara besar-besaran, ada juga usaha industri yang menjadi bisnisnya bangsa Arab di masa itu. Menurut Muhammad Shubeih dalam bukunya “Nur Allah”, menerangkan bahwa pernah ada seorang Islam di Tilmisan, Andalusia pada abad ke-8H. bernama Abdul Hasan ibn Mas’ud al- Khuza’i al-Andalusiy yang mengarang sebuah buku berjudul “Bukti-bukti Otentik tentang Usaha Perekonomian di Zaman Nabi”. Buku tersebut terdiri dari 10 jilid dan memuat 178 bab.
Menceritakan bahwa pada zaman Nabi Muhammad tidak kurang dari 156 usaha bisnis
menggerakkan perekonomian Islam. Berkat kegiatan kerja yang diwarisi oleh nenek moyang
sebelum Islam sampai pada masa Nabi, para sahabat tidak pernah kehilangan mata pencaharian mereka. Abdul Hasan menonjolkan 12 macam industri besar dan kecil yang dilakukan para sahabat pada masa itu sebagai berikut:
1. Pembuatan senjata dan segala barang-barang dari besi 2. Perusahaan tenun
3. Perusahaan kayu
4. Industri meriam dari kayu 5. Perhiasan-perhiasan 6. Arsitektur rumah 7. Alat-alat timbangan 8. Alat-alat berburu 9. Perusahaan perkapalan 10. Tabib/kedokteran 11. Penerjemahan
12. Kesenian, musik, menyanyi, menari.
Muhammad Shubeih menambahkan, bahwa untuk melakukan berbagai usaha yang beraneka macam itu bangsa Arab membutuhkan budak-budak untuk mengerjakan semuanya.
Dari sebagian hasil industri besar dan kecil itu dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan selebihnya diekspor ke luar negeri.
Jika dibandingkan tentang kegiatan bisnis bangsa Arab di zaman Rasulullah yang terjadi pada sekitar 14 abad yang lalu, dengan bisnis yang dilakukan oleh bangsa-bangsa maju pada zaman modern ini, perbedaannya adalah terletak pada ketinggian mutu. Perusahaan modern sekarang menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi. Akan tetapi mengenai aktivitas dan jumlahnya, perusahaan pada masa lalu mereka tidak kalah, malah cukup untuk memenuhi kebutuhan luar negeri.
1Pada masa ini hukum Islam (syariah) tetap eksis untuk berevolusi dan berkembang dalam menghadapi problematika dan tuntutan masyarakat. Gambaran lebih jauh dan mendalam dapat dilihat pada rekaman sejarah kehidupan Nabi Muhammad sendiri, beliau adalah seorang
1 KH. Abdullah Zaky al-Kaaf. 2002. Ekonomi dalam Perspektif Islam. Bandung: Penerbit Pustaka Setia.
Hal. 113-114.
pedagang, yang tentunya segala sikap, tindakan dan perilakunya mencerminkan sebagai seorang praktisi ekonomi. Dalam perjalanan hidupnya Muhammad telah memberi teladan kepada umat untuk menjadi pedagang yang jujur dan berhasil. Dimensi kejujuran dan keuletan yang totalitas pada beliau sebagai pedagang telah menghantarkan beliau sampai pada puncak kesuksesan dalam mengelola perekonomian yang bermula dari ekonomi rumah tangga sampai kepada sistem perekonomian negara.
2Pembahasan
A. Periode Rasulullah SAW.
Nabi Muhammad adalah seorang yang mempunyai latar belakang sebagai pedagang yang sukses, dari itu tidaklah berlebihan jika sebuah negara yang dipimpinnya akan lebih banyak mendapat keuntungan pada bidang perdagangan dibandingkan keuntungan dari kekuatan perang.
Tetapi tidak juga bijak jika membicarakan prestasi yang dicapai Nabi sebagai seorang pedagang dengan melihatnya dari hasil perjuangan pribadinya semata tanpa melihat sampai di mana keberhasilannya tersebut. Nabi sendiri adalah seorang manusia yang tentunya tidak terlepas dari dukungan orang-orang di sekitarnya, namun pandangan dogmatis dan agamis telah membawa pada kesimpulan bahwa iman dan wahyulah yang membimbingnya untuk tetap bertindak dalam koridor kebenaran, etis dan manusiawi. Sebab prestasi tersebut sesungguhnya bagian dari serangkaian penegakan sistem keTuhanan di dunia yang dikaitkan dengan nizham al-rububiyat.
Islam dan wahyu telah melahirkan Muhammad di tengah problematika politik dan kesukuan yang bertentangan, mereka masing-masing menganut kepercayaan yang berbeda-beda dan sama sekali tidak memiliki pengetahuan di bidang politik, ekonomi, sosial maupun keagamaan. Belahan Utara dan Selatan tinggal dan hidup secara terpisah, masing-masing kelompok berbeda dengan kelompok yang lain. Sehingga rakyat seringkali menjadi obyek dari berbagai bentuk kekejaman dari kelompoknya. Setiap kelompok berusaha untuk menguasai kelompok yang lain. Di mana pada situasi seperti ini berlaku atau terjadi hukum rimba, sehingga dalam beberapa literatur, pada masa ini dikenal dengan masa jahiliyah.
Di tengah kondisi seperti inilah Muhammad tampil sebagai seorang Nabi, pemimpin dan negarawan. Sebagai seorang pemimpin, Nabi mendirikan Madinah al-Nabi sebagai ibukotanya.
2 Nazori Madjid. 2003. Pemikiran Ekonomi Islam Abu Yusuf Relevansinya dengan Ekonomi Kekinian.
Yogyakarta: Pusat Studi Ekonomi Islam (PSEI). Hal. 54-55.
Dengan posisi seperti ini beliau mengirimkan beberapa gubernur ke berbagai negeri untuk merealisasikan ajaran-ajaran Islam terutama yang erat kaitannya dengan ekonomi, keuangan dan kenegaraan. Ini terlihat dari ketetapan Nabi yang mewajibkan bagi setiap muslim untuk membayar zakat ke Madinah. Zakat pada masa itu merupakan pajak yang dikumpulkan oleh para petugas yang ditunjuk oleh pemimpin negara. Pajak ini dikirim ke Madinah dan dibagikan oleh Rasulullah kepada para pemimpin untuk dibelanjakan sesuai dengan ketentuan al-Qur’an.
Terdapat berbagai hal tentang ajaran terkait kesuksesan Muhammad dalam memperkenalkan dan menegakkan ekonomi yang berlandaskan syariat Islam, ajaran yang beliau terapkan adalah selalu berlaku jujur dalam setiap transaksi, tidak boleh ada praktik penipuan dan kebohongan dalam setiap transaksi, baik itu pada jual-beli maupun transaksi-transaksi lainnya.
Dalam hal berdagang, terhadap pelanggan yang tidak sanggup untuk membayar kontan, beliau memberi tempo atau jangka waktu tetentu untuk melunasinya. Bahkan dengan sifat kenabiannya beliaupun memberi ampun bagi mereka yang dianggap benar-benar tidak mampu untuk melunasi utangnya. Kemudian dalam setiap transaksi bagi beliau agar diupayakan untuk menghindari sumpah yang berlebihan. Muhammad juga selalu berusaha mencari kesepakatan antara pedagang dan pembeli. Hal lain yang lebih ditegaskan lagi adalah timbangan yang pas, beliau melarang mengurangi timbangan dan juga melarang bentuk-bentuk monopoli apapun dalam perdagangan.
Praktik perekonomian pada masa ini sungguh suatu tatanan nilai yang dapat diteladani bagi seluruh sistem perekonomian yang ada. Meskipun belum memberikan gambaran terhadap perekonomian negara secara keseluruhan. Oleh karena negara selalu dihadapkan dengan peperangan, namun muatan-muatan tentang ekonomi tersebut telah diatur sepenuhnya sesuai ajaran al-Qur’an yang diwasiatkan sebagai kitab suci yang memberi petunjuk dalam setiap aspek kehidupan. Selain itu muatan-muatan dari ajaran politik, sosial, ekonomi tersebut juga telah dimuatkan dalam beberapa dokumen Nabi antara Muhajirin, Anshar dan Yahudi tentang undang- undang dan aturan kenegaraan yang belakangan sering dinamakan Piagam Madinah atau Konstitusi Madinah.
3Dengan hijrah dan tinggalnya Nabi di Madinah, maka terbentuklah suatu negara dan pemerintahan oleh Nabi Muhammad SAW. yang berlangsung selama sepuluh tahun (622-632M).
3 Nazori Madjid. 2003. Pemikiran Ekonomi Islam Abu Yusuf Relevansinya dengan Ekonomi Kekinian.
Yogyakarta: Pusat Studi Ekonomi Islam (PSEI). Hal. 56-58.
Di bawah kepemimpinannya sebagaimana pernah dikatakan oleh Robert N. Bellah, seorang ahli sosiologi agama bahwa Madinah merupakan model bagi hubungan antara agama dan negara dalam Islam.
4Sebagaimana juga telah dikatakan oleh Watt bahwa masyarakat yang dibentuk oleh Nabi Muhammad SAW. di Madinah bukan hanya masyarakat agama, tetapi juga masyarakat politik sebagai pengejawantahan dari persekutuan suku-suku bangsa Arab. Instansi persekutuan itu adalah rakyat Madinah dan Nabi Muhammad SAW. sebagai pemimpinnya.
Sebab beliau selain sebagai seorang Rasul juga sebagai Kepala Negara.
5Seperti yang telah kita ketahui, Islam tidak dapat dipisahkan dari politik karena ajaran Islam mengatur berbagai aspek kehidupan manusia dari yang sekecil-kecilnya, sampai kepada tingkat yang paling besar sekalipun, termasuk kepada persoalan politik dan ketatanegaraan.
Politik mulai tampak sejak Muhammad SAW hijrah ke Madinah tahun 622 M. dalam Islam tidak ada pemisahan antara agama dan dunia (The Relegious and The Seculer), hal ini berbeda dari agama Kristen yang memisahkan antara Gereja dan dunia (The Church and The World).
6Maka, peristiwa hijrah Nabi ke Yatsrib (Madinah) merupakan peristiwa bersejarah permulaan bedirinya pranata sosial dan politik dalam sejarah perkembangan Islam.
Sebagai Kepala Negara, Nabi menata kehidupan social politik masyarakat Madinah yang heterogen melalui suatu perjanjian tertulis yang dikenal dengan Shahifah (Piagam Madinah).
Suatu perjanjian yang menetapkan persamaan hak dan kewajiban semua komunitas, serta menggambarkan hubungan antara Islam dan ketatanegaraan. Inti dari Piagam Madinah yang terdiri dari 47 pasal tersebut menurut Munawir Syadzali adalah sebagai berikut:
1. Semua pemeluk agama Islam meskipun berasal dari banyak suku tetapi merupakan suatu komunitas.
2. Hubungan antara sesama komunitas Islam dan komunitas lain didasarkan atas prinsip;
a. Bertetangga baik
b. Saling membantu dalam menghadapi musuh c. Membela mereka yang teraniaya
4 Nurcholish Madjid. 1994. Agama dan Negara dalam Islam Telaah atas Fikih Siyasi Sunny dalam Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah. Jakarta: Paramadina. Hal. 589.
5 W. Montgomery Watt. 1964. Muhammad Prophet and Statesman. London: Oxford University Press. Hal.
223.
6 Ahmad Sukardja. 1995. Piagam Madinah dan UUD 1945. Jakarta: UI Press. Hal. 121.
d. Saling menasihati
e. Menghormati kebebasan beragama.
7Butir-butir Piagam di atas jelas mengisyaratkan adanya persamaan hak dan kewajiban sesama warga negara tanpa diskriminasi yang didasarkan atas suku dan agama dan pemupukan semangat persahabatan serta saling berkonsultasi dalam penyelesaian masalah bersama serta membantu dalam menghadapi tantangan bersama. Semua warga negara terjamin hak mereka untuk mengamalkan agama masing-masing. Memiliki persamaan hak dan kewajiban kepada Negara tanpa adanya perbedaan yang didasarkan atas agama.
Berbagai pasal di dalam Piagam Madinah yang terkait dengan permasalahan ekonomi Islam adalah sebagai berikut:
Hak Asasi Manusia (Pasal 2)
Kaum Muhajirin dari Quraisy tetap mempunyai hak asli mereka, yaitu saling tanggung- menanggung, membayar dan menerima uang tebusan darah (diyat) di antara mereka (karena suatu pembunuhan), dengan cara yang baik dan adil di antara orang-orang beriman.
(Pasal 3)
1. Banu 'Auf (dari Yatsrib) tetap mempunyai hak asli mereka, tanggung menanggung uang tebusan darah (diyat).
2. Dan setiap keluarga dari mereka membayar bersama akan uang tebusan dengan baik dan adil di antara orang-orang beriman.
(Pasal 4)
1. Banu Sa'idah (dari Yatsrib) tetap atas hak asli mereka, tanggung menanggung uang tebusan mereka.
2. Dan setiap keluarga dari mereka membayar bersama akan uang tebusan dengan baik dan adil di antara orang-orang beriman.
(Pasal 5)
1. Banu Harits (dari suku Yatsrib) tetap berpegang atas hak-hak asli mereka, saling tanggung- menanggung untuk membayar uang tebusan darah (diyat) di antara mereka.
7 Munawir Syadzali. 1990. Islam dan Tata Negara. Jakarta: UI Press. Hal. 15.
2. Setiap keluarga (tha'ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman.
(Pasal 6)
1. Banu Jusyam (dari suku Yatsrib) tetap berpegang atas hak-hak asli mereka, tanggung- menanggung membayar uang tebusan darah (diyat) di antara mereka.
2. Setiap keluarga (tha'ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman.
(Pasal 7)
1. Banu Najjar (dari suku Yatsrib) tetap berpegang atas hak-hak asli mereka, tanggung- menanggung membayar uang tebusan darah (diyat) dengan secara baik dan adil.
2. Setiap keluarga (tha'ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang beriman.
(Pasal 8)
1. Banu 'Amrin (dari suku Yatsrib) tetap berpegang atas hak-hak asli mereka, tanggung- menanggung membayar uang tebusan darah (diyat) di antara mereka.
2. Setiap keluarga (tha'ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman.
(Pasal 9)
1. Banu An-Nabiet (dari suku Yatsrib) tetap berpegang atas hak-hak asli mereka, tanggung- menanggung membayar uang tebusan darah (diyat) di antara mereka.
2. Setiap keluarga (tha'ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman.
(Pasal 10)
1. Banu Aus (dari suku Yatsrib) berpegang atas hak-hak asli mereka, tanggung-menanggung membayar uang tebusan darah (diyat) di antara mereka.
2. Setiap keluarga (tha'ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman.
Persatuan Agama
(Pasal 11)
Sesungguhnya orang-orang beriman tidak akan melalaikan tanggungjawabnya untuk memberi sumbangan bagi orang-orang yang berhutang, karena membayar uang tebusan darah dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman.
(Pasal 15)
1. Jaminan Allah adalah satu dan merata, melindungi nasib orang-orang yang lemah.
2. Segenap orang-orang yang beriman harus jamin-menjamin dan setiakawan sesama mereka dari (gangguan) manusia lainnya.
Persatuan Segenap Warga Negara (Pasal 16)
Bahwa sesungguhnya kaum-bangsa Yahudi yang setia kepada (negara) kita, berhak mendapatkan bantuan dan perlindungan, tidak boleh dikurangi haknya dan tidak boleh diasingkan dari pergaulan umum.
Golongan Minoritas (Pasal 24)
Warganegara (dari golongan) Yahudi memikul biaya bersama-sama dengan kaum beriman, selama negara dalam peperangan.
(Pasal 37)
1. Kaum Yahudi memikul biaya negara, seperti halnya kaum Muslimin memikul biaya negara 2. Di antara segenap warga negara (Yahudi dan Muslimin) terjalin pembelaan untuk menentang
setiap musuh negara yang memerangi setiap peserta dari piagam ini.
3. Di antara mereka harus terdapat saling nasihat-menasihati dan berbuat kebajikan, dan menjauhi segala dosa
4. Seorang warga negara tidaklah dianggap bersalah, karena kesalahan yang dibuat sahabat/sekutunya.
5. Pertolongan, pembelaan dan bantuan harus diberikan kepada orang/golongan yang teraniaya.
(Pasal 38)
Warga negara kaum Yahudi memikul biaya bersama-sama warganegara yang beriman, selama peperangan masih terjadi.
(Pasal 47)
1. Setiap orang (warganegara) yang berusaha, segala usahanya adalah atas dirinya.
2. Sesungguhnya Allah menyertai semua pendukung atau pengikut dari piagam ini, yang menjalankannya dengan jujur dan sebaik-baiknya.
3. Sesungguhnya tidaklah boleh piagam ini dipergunakan untuk melindungi orang-orang yang dzalim dan bersalah.
Merujuk ke Piagam Madinah, secara eksplisit tertulis nama beberapa golongan dan beberapa suku. Nampaknya, Rasulullah sangat mengetahui tentang keadaan dan politik setiap kelompok tersebut. Nabi Muhammad SAW. dapat menempatkan diri sebagai pemimpin Madinah di tengah-tengah berbagai suku yang mengamininya sebagai pemimpin masyarakat. Islam ditanamkan oleh beliau sebagai satu kesatuan Agama dan Politik, Rasulullah berhasil menciptakan satu bangsa di bawah satu naungan kepemimpinan, suatu perwujudan dari gagasan besar berupa prinsip kehidupan nasional Arabia, dan beliau mampu menjadikan Islam sebagai agama yang menghasilkan rekonsiliasi. Ini berarti Rasulullah adalah menjadi pemimpin keagamaan dan juga pemimpin Pemerintahan (Kepala Negara).
8Menjunjung tinggi HAM, sekaligus pencetus konsep HAM pertama di dunia secara yuridis formal. Walaupun menurut penyelidikan ilmu pengetahuan bahwa sejarah hak-hak asasi manusia barulah tumbuh dan berkembang pada masa John Locke dan Rousseau (tokoh hukum alam). Merekalah yang memberikan inspirasi kepada revolusi negara-negara besar untuk mencantumkan di dalam konstitusinya. Untuk pertama kali dengan resmi dipakai dalam Declaration of Indepedence (Amerika) tahun 1776, atas jasa Thomas Jeferson. Kemudian menjadi Konstitusi Negara Amerika tahun 1897. kemudian diikuti Perancis tahun 1791. Belgia tahun 1881, dan akhirnya diikuti PBB melalui Universal Declaration of Human Rights tanggal 10 Desember 1948.
9Di dalam muatan Piagam Madinah, Nabi Muhammad dengan tegas memberikan corak kepada kehidupan social ekonomi dalam Islam dengan prinsip kekeluargaan dan persaudaraan.
Setiap warga dalam masyarakat Islam harus sanggup melebur dirinya dalam keluarga yang besar, dan sewaktu-waktu melepaskan hak miliknya untuk kepentingan saudaranya dalam keluarga itu dan kepentingan masyarakat seluruhnya.
Ibnu Qayyim dalam kitab Zaad al-Ma’aad juz II menceritakan cara Nabi Muhammad SAW. melakukan persaudaraan Islam, pada waktu pembentukan Negara Islam yang pertama
8 Muhammad Husein Haikal. 1984. Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta: Tinta Mas. Hal. 199.
9 Dalizar. 1987. Konsep Al-Quran Tentang Hak Asasi Manusia. Jakarta: Pustaka al-Husna. Hal. 34.
tersebut. Beliau mengumpulkan 90 orang sahabat yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam jumlah yang sama banyaknya. Dari seorang demi seorang, Nabi membuat perjanjian kesetiaan dan persaudaraan sehidup semati antara kedua kaum yang seagama itu. Tidak kurang dari 45 kali beliau mengambil bai’at persaudaraan di antara tiap-tiap pasangan mereka. Dengan perjanjian kesetiaan tersebut, kaum Anshar rela membagi hak miliknya kepada saudara seagamanya, yaitu kaum Muhajirin yang tidak mempunyai apa-apa.
Dengan sikap yang prinsipil ini Islam menunjukkan dasar ekonomi Islam yaitu kekeluargaan yang bersendikan kesetiaan persaudaraan dan berjiwa keagamaan. Dengan perkataan tegas, dapat kita katakan dengan term atau istilah modern sekarang, yaitu berdasarkan kolektif, kooperatif, ramah dan takaful.
Sejarah menyebutkan lebih jauh bahwa dalam pembentukan masyarakat Islam yang pertama, kaum yang kaya dari kaum Anshar bersedia melepaskan hak kewarisannya yang mesti diturunkan kepada keluarganya, untuk menjadi warisan masyarakat seluruhnya, atau warisan bagi orang yang tidak mampu dari saudara-saudara seagamanya yaitu kaum Muhajirin.
Walaupun pada masa itu Negara Islam yang baru ditegakkan, belum menyanggupi untuk mengatur penyerahan hak-hak tersebut, namun semangat sukarela dan kekeluargaan yang meliputi seluruh warga Negara menjadi jaminan bagi terbentuknya suatu perekonomian baru.
10Rasulullah SAW. mengeluarkan sejumlah kebijakan yang menyangkut berbagai hal yang berkaitan dengan masalah kemasyarakatan, selain masalah hukum (fiqh), politik (siyasah), juga masalah perniagaan atau ekonomi (muamalah). Permasalahan ini menjadi salah satu pusat perhatian utama Rasulullah, karena merupakan pilar penyangga keimanan yang penting.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah SAW. bersabda;
اًﺮْﻔُﻛ َنْﻮُﻜﱠﻳ ْنَأ ُﺮْﻘَﻔْﻟا َدﺎَﻛ Artinya: “Kemiskinan bisa membawa orang kepada kekafiran”. (HR. Muslim)
Sudah pasti, upaya mengentas kemiskinan merupakan bagian dari kebijakan-kebijakan sosial yang dikeluarkan Rasulullah SAW. Lebih aktual lagi, bahwa Muhammad Rasulullah sangat memperhatikan perihal ekonomi umat Islam adalah ketika Islam telah memiliki sebuah wilayah,
10 KH. Abdullah Zaky al-Kaaf. 2002. Ekonomi dalam Perspektif Islam. Bandung: Penerbit Pustaka Setia.
Hal. 122.
yakni Madinah. Masjid sebagai pusat peradaban dan kebudayaan Islam, di masa Rasulullah telah difungsikan selain sebagai pusat ibadah (ritual) juga sebagai pusat komando operasi militer, pemerintahan dan pusat perekonomian. Di masa ini Rasulullah menjadikan Masjid sebagai pusat penerimaan dan pendistribusian zakat serta keuangan lainnya. Periode kerasulan, Nabi Muhammad diberi amanat yang sangat besar tidak hanya mengembangkan dakwah Islam, tetapi juga membina dan membangun budaya dan peradaban umat. Beliau dalam melaksanakan tugasnya tidak mendapatkan upah atau gaji sedikitpun dari negara, kecuali hadiah kecil yang umumnya berupa bahan makanan.
Salah satu pemimpin kaum (Hazrat Anat) menawarkan miliknya kepada Rasulullah yang kemudian diberikan kepada Ummul Yaman, seorang ibu pengasuh. Rasullah SAW. mendirikan Majelis Syura, majelis ini terdiri dari pemimpin kaum yang sebagian dari mereka bertanggung- jawab mencatat wahyu. Pada tahun ke-6 hijrah, sekretaris dengan bentuk yang sederhana telah dibangun. Utusan negara telah dikirim ke berbagai raja dan pemimpin-pemimpin. Orang-orang ini mengerjakan tugasnya dengan sukarela dan membiayai hidupnya dari sumber independen, sedangkan pekerjaan sangat sederhana tidak memerlukan perhatian penuh. Pada masa Rasulullah tidak ada tentara formal, semua muslim yang mampu boleh menjadi tentara. Mereka tidak mendapat gaji tetap, tetapi mereka diperbolehkan mendapatkan bagian dari harta rampasan perang. Rampasan perang meliputi senjata, kuda, unta dan barang-barang bergerak lain yang didapatkan dalam perang. Situasi berubah setelah turunya surat al-Anfal (8) ayat 41:
ُﺘْﻤِﻨَﻏ ﺎَﱠﳕَأ اْﻮُﻤَﻠْﻋاَو ﱠﺴﻟا ِﻦْﺑاَو ِْﲔِﻛﺎَﺴَﻤْﻟاَو ﻰَﻣﺎَﺘَﻴْﻟاَو َﰉْﺮُﻘْﻟا ْيِﺬِﻟَو ِلْﻮُﺳﱠﺮﻠِﻟَو ُﻪَﺴُُﲬ ِﻪﱠﻠِﻟ ﱠنَﺄَﻓ ٍﺊْﻴَﺷ ْﻦِﻣ ْﻢ
َأ ْﻢُﺘْﻨُﻛ ْنِا ِﻞْﻴِﺒ ِﻪﱠﻠﻟﺎِﺑ ْﻢُﺘْﻨَﻣ
.ٌﺮْـﻳِﺪَﻗ ٍﺊْﻴَﺷ ﱢﻞُﻛ ﻰَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟاَو ,ِنﺎَﻌْﻤَْﳉا ﻰَﻘَـﺘْﻟا َمْﻮَـﻳ ِنﺎَﻗْﺮُﻔْﻟا َمْﻮَـﻳ ﺎَﻧِﺪْﺒَﻋ ﻰَﻠَﻋ ﺎَﻨْﻟَﺰْـﻧَأ ﺎَﻣَو
Artinya: “Ketahuilah sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang (ghanimah), maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan Ibnu Sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. al-Anfal: 41)
Selain pertempuran-pertempuran kecil, perang pertama antara orang-orang Mekah (kafir
Quraisy) dan muslim terjadi di Badar. Di dalam perang ini orang Mekah mengalami kekalahan
dan banyak yang ditawan oleh orang muslim. Rasulullah SAW. menetapkan besar uang
tebusannya rata-rata 4.000 dirham untuk tiap tawanan. Tawanan yang miskin dan tidak dapat memberikan jumlah tersebut diminta untuk mengajar membaca sepuluh orang anak muslim.
Melalui tebusan tersebut kaum muslimin menerima uang. Rasulullah juga mengadopsi praktik yang lebih manusiawi terhadap tanah pertanian yang ditaklukan sebagai fai’ atau tanah dengan pemilik umum. Tanah-tanah ini dibiarkan dimiliki oleh pemilik dan menanam asal, sangat berbeda dari praktik kekaisaran Romawi dan Persia yang memisah-misahkan tanah-tanah ini dari pemiliknya dan membagikannya kepada para elite militernya dan para prajuritnya. Semua tanah yang dihadiahkan kepada Rasulullah SAW. (iqta’) relatif lebih kecil jumlahnya dan terdiri dari tanah-tanah yang tidak bertuan. Kebijakan ini tidak hanya membantu mempertahankan kesinambungan kehidupan administrasi dan ekonomi tanah-tanah yang dikuasai, melainkan juga mendorong keadilan antara generasi dan mewujudkan sikap egaliter dalam Islam.
Dalam bidang ekonomi, bangsa Arab telah mencapai perkembangan yang pesat. Mekah bukan saja merupakan pusat perdagangan lokal melainkan sudah menjadi jalur perdagangan dunia yang sangat penting saat itu, yang menghubungkan antara Utara (Syam), Selatan (Yaman), Timur (Persia) dan Barat (Mesir dan Abbessinia). Keberhasilan Mekah menjadi pusat perdagangan internasional ini karena kejelian Hasyim7, tokoh penting suku Quraisy yang merupakan kakek buyut Muhammad SAW., dalam mengisi kekosongan peranan suku bangsa lain di dalam bidang perdagangan di Mekah sekitar abad keenam Masehi. Peredaran dagang mereka sempat dikisahkan al-Qur’an: “Telah membiasakan kaum Quraisy dalam perjalanan di musim dingin dan musim panas. Karena itu hendaklah mereka menyembah Tuhan Ka’bah ini, yang telah memberikan mereka makan di waktu kelaparan dan mengamankan mereka dari ketakutan.”(Q.S. al-Quraisy: 1-4)
Tepat pada tahun kedua setelah hijrah, shadaqah fitrah diwajibkan, shadaqah yang juga dikenal dengan zakat fitrah ini diwajibkan setiap bulan Ramadhan. Besarnya satu sha kurma, gandum (berley), tepung keju atau kismis, atau setengah sha gandum untuk tiap muslim, budak atau orang bebas, laki-laki atau perempuan, muda atau tua dan dibayar sebelum shalat idul fitri.
Zakat diwajibkan pada tahun ke-9 hijrah, sementara shadaqah fitrah pada tahun ke-2 hijrah.
Akan tetapi ulama ahli hadits ada yang berpendapat bahwa zakat telah diwajibkan sebelum tahun ke-9 hijrah, yaitu lima tahun setelah hijrah.
Sebelum diwajibkan, zakat bersifat sukarela dan belum ada peraturan khsusus atau
ketentuan hukum. Peraturan mengenai pengeluaran zakat di atas muncul pada tahun ke-9 hijrah
ketika dasar Islam telah kokoh, wilayah negara berekspansi dengan cepat dan orang berbondong- bondong masuk Islam. Peraturan yang disusun meliputi sistem pengumpulan zakat, barang- barang yang dikenai zakat, batas-batas zakat dan tingkat persentase zakat untuk barang yang berbeda-beda. Para pengumpul zakat bukanlah pekerjaan yang memerlukan waktu dan para pegawainya tidak diberikan gaji resmi, tetapi mereka mendapatkan bayaran dari zakat.
Sampai tahun ke-4 hijrah, pendapatan dan sumber daya negara masih sangat kecil.
Kekayaan pertama datang dari Banu Nadir, suatu suku yang tinggal di pinggiran Madinah.
Kelompok ini masuk dalam pakta Piagam Madinah tetapi melanggar perjanjian, bahkan berusaha membunuh Rasulullah SAW. Nabi meminta mereka meninggalkan kota, tetapi mereka menolaknya, Nabi pun mengerahkan tentara dan mengepung mereka. Akhirnya, mereka menyerah dan setuju meninggalkan kota dengan membawa barang-barang sebanyak daya angkut dengan unta, kecuali baju baja.
Semua milik Banu Nadir yang ditinggalkan menjadi milik Rasulullah menurut ketentuan
al- Qur’an, karena mereka mendapatklan tanpa berperang. Rasulullah membagikan tanah ini
sebagian besar kepada Muhajirin dan orang Anshar yang miskin. Bagian Rasulullah digunakan
untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Seorang Muhajirin dari Banu Nadir yang telah masuk
Islam memberikan tujuh kebunnya, kemudian oleh Rasulullah dijadikan tanah shadaqah. Tujuh
kebun penduduk Banu Nadir tersebut adalah wakaf Islam yang pertama. Khaibar dikuasai pada
tahun ke-7 hijrah. Penduduknya menetang dan memerangi kaum Muslim. Setelah pertempuran
selama sebulan mereka menyerah dengan syarat dan berjanji meninggalkan tanahnya. Syarat
yang diajukan diterima. Mereka mengatakan kepada Rasulullah, “Kami
memiliki pengalaman khsusus dalam bertani dan berkebun kurma” dan meminta izin untuk tetap
tinggal di sana. Rasulullah mengabulkan permintaan mereka dan memberikan mereka setengah
bagian hasil panen dari tanah mereka. Abdullah ibnu Rawabah biasanya datang tiap tahun untuk
memperkirakan hasil produksi dan membagikannya menjadi dua bagian yang
sama banyak. Hal ini terus berlangsung selama masa kepemimpinan Rasulullah SAW. dan Abu
Bakar. Rasulullah membagi Khaibar menjadi 36 bagian dan tiap bagian dibagi lagi menjadi 100
area. Setengah bagian Rasulullah digunakan untuk keperluan delegasi, tamu dan sebagainya. Dan
setengah bagian lagi diberikan untuk 1.400 tentara dan 400 penunggang kuda (1.400 + 400 =
1.800 bagian). Demikian juga Rasulullah juga menerima satu bagian biasa yang diberikan secara
berkala kepada istri-istrinya sebanyak 80 unta penuh dengan kurma dan 80 unta penuh dengan
gandum. Pada masa Rasulullah besarnya jizyah satu dinar pertahun untuk orang dewasa yang mampu membayarnya. Perempuan, anak-anak, pengemis, pendeta, orang tua, penderita sakit dan semua yang menderita penyakit dibebaskan dari kewajiban ini.
Di antara ahli kitab yang harus memberi pajak, sejauh yang diketahui, adalah orang Najran yang beragama Kristen (tahun keenam setelah Hijrah), Orang-orang Ailah, Adhruh dan Adhriat membayarnya pada perang Tabuk. Pembayaran tidak harus merupakan uang tunai, tetapi dapat juga berupa barang atau jasa, seperti yang disebutkan Balazhuri dalam kitab Futuh al- Buldan ketika menjelaskan pernyataan lengkap perjanjian Rasulullah dengan orang-orang Najran yang jelas dikatakan: “…setelah dinilai, dua ribu pakaian/garmen masingmasing bernilai satu aukiyah, seribu garmen dikirim pada bulan Rajab tiap tahun, seribu lagi pada Safar tiap tahun.
Tiap garmen bernilai satu aukiyah, jadi bila ada yang bernilai lebih atau kurang dari satu aukiyah, kelebihan atau kekuarangannya itu harus diperhitungkan. Nilai dari kurma, dan barang yang digunakan untuk subtitusi garmen harus diperhitungkan”. Pada masa perang di masa Rasulullah bukan merupakan alasan bagi umat Islam untuk meningkatkan pendapatnya.
Peperangan di masa Rasulullah SAW. tersebut diperkirakan terjadi kurang lebih antara 74 sampai 90 kali dengan harta rampasan perang 6.157.016 dirham.
Nilai harta rampasan pada dekade awal kalender Hijrah (622-632 M) tidak lebih dari 6 juta dirham. Bila diperkirakan dengan biaya hidup di Madinah untuk rata-rata keluarga yang terdiri atas enam orang sebesar 3.000 dirham per-tahun, jumlah harta itu hanya dapat menunjang sejumlah kecil dari populasi muslim dan juga akibat perang tersebut, diperkirakan biaya untuk perang lebih dari 60 juta dirham; sepuluh kali lebih besar dari harta rampasan. Kontribusi harta rampasan perang terhadap pendapatan kaum Muslim selama 10 tahun kepemimpinan Rasulullah tidak lebih dari 2 persen.
Dalam perjalanan roda pemerintahannya, Rasulullah SAW. mendapat 2 sumber pendapatan secara umum, yaitu:
1. Sumber pendapatan primer; dan 2. Sumber pendapatan Sekunder.
Sumber pendapatan primer merupakan pendapatan utama bagi negara di masa Rasulullah SAW.
adalah zakat dan ushr. Keduanya berbeda dengan pajak dan tidak diperlakukan seperti pajak.
Zakat dan ushr merupakan kewajiban agama dan termasuk salah satu pilar Islam. Pengeluaran
untuk keduanya sudah diuraikan secara jelas dan eksplisit di dalam al-Qur’an surat at-Taubah (9) ayat 60. Pengeluaran untuk zakat tidak dapat dibelanjakan untuk pengeluaran umum negara.
Lebih jauh lagi zakat secara fundamental adalah pajak lokal.
Menurut Imam Bukhari, Rasulullah SAW. berkata kepada Muadz, ketika ia mengirimnya ke Yaman sebagai pengumpul dan pemberi zakat: “…Katakalah kepada mereka (penduduk Yaman) bahwa Allah telah mewajibkan mereka untuk membayar zakat yang akan diambil dari orang kaya di antara mereka dan memberikannya kepada orang miskin di antara mereka.”
Demikianlah pemerintah pusat berhak menerima keuntungan hanya bila terjadi surplus yang tidak dapat didistribusikan lagi kepada orang-orang yang berhak, dan ditambah kekayaan yang dikumpulkan di Madinah, ibu kota negara. Pada masa Rasulullah, zakat dikenakan pada hal-hal berikut:
1. Benda logam yang terbuat dari emas seperti koin, perkakas, ornamen atau dalam bentuk lainnya;
2. Benda logam yang terbuat dari perak, seperti koin, perkakas, ornamen atau dalam bentuk lainnya;
3. Binatang ternak unta, sapi, domba, kambing;
4. Berbagai jenis barang dagangan termasuk budak dan hewan;
5. Hasil pertanian termasuk buah-buahan;
6. Luqta, harta benda yang ditingalkan musuh; dan 7. Barang temuan.
Zakat emas dan perak ditentukan berdasarkan beratnya. Binatang ternak yang digem- balakan bebas ditentukan berdasarkan jumlahnya. Barang dagangan bahan tambang dan luqta ditentukan berdasarkan nilai jualnya dan hasil pertanian dan buah-buahan ditentukan berdasarkan kuantitasnya. Zakat atas hasil pertanian dan buah-buahan inilah yang dinamakan ushr. Sumber- sumber pendapatan sekunder yang menjadi sumber pendapatan negara:
1. Uang tebusan untuk para tawanan perang, hanya dalam kasus perang Badar, pada perang lain
tidak disebutkan jumlah uang tebusan tawanan perang;
2. Pinjaman-pinjaman setelah menaklukkan kota Mekah untuk pembayaran uang pembebasan kaum muslim dari Judhayma atau sebelum pertempuran Hawazin 30.000 dirham (20.000 dirham menurut Bukhari) dari Abdullah bin Rabiah dan meminjam beberapa pakaian dan hewan-hewan tunggangan dari Sufyan bin Umaiyah;
3. Khumus atas rikaz harta karun temuan pada periode sebelum Islam;
4. Amwal Fadhla, berasal dari harta benda kaum muslimin yang meninggalkan tanpa ahli waris atau berasal dari barang-barang seorang muslim yang meninggalkan negerinya;
5. Wakaf, harta benda yang diindikasikan kepada umat Islam yang disebabkan Allah dan pendapatannya akan didepositkan di Baitul Maal;
6. Nawaib, pajak yang jumlahnya cukup besar yang dibebankan pada kaum muslimin yang kaya dalam rangka menutupi pengeluaran negara selama masa darurat dan ini pernah terjadi pada masa perang Tabuk;
7. Zakat fitrah, zakat yang ditarik di masa bulan Ramadhan dan dibagi sebelum shalat Idhul Fitri;
8. Shadaqah, seperti kurban dan kaffarat. Kaffarat adalah denda atas kesalahan yang dilakukan seorang muslim pada acara keagamaan, seperti berburu pada musim haji.
11B. Periode Khulafa’ al-Rasyidin
Di masa pemerintahan Umar ibn al-Khattab, kondisi keamanan negara sangat damai dan aman, kesejahteraan rakyat semakin membaik dari sebelumnya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, khalifah Umar telah mampu menghantarkan negara Islam sebagai sebuah negara yang aman, makmur dan adil. Kondisi perekonomian dan pendapatan masyarakat Arab Madinah termasuk merata. Kekayaan dan kemakmuran tersebut berasal dari harta rampasan perang (ghanimah), pajak tanah (kharaj), pajak perdagangan (’ushr), zakat, pajak tanggungan (jizyah).
a. Harta Rampasan Perang (Ghanimah dan Fay’)
Ghanimah merupakan jenis barang bergerak yang bisa dipindahkan, harta ini diperoleh dalam peperangan melawan musuh. Anggota pasukan akan mendapatkan bagian sebesar empat
11 Satriaqu.blogspot.com/2012/03/sejarah-ekonomi-islam-masa-rasulullah.html.
perlima. Di dalam al-Qur’an telah diatur hal ini dengan jelas sebagaimana terdapat di dalam surat al-Anfal ayat 41, yang artinya:
” Ketahuilah sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang (ghanimah), maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan Ibnu Sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Kuasa atas segala sesuatu”.
Ghanimah merupakan sumber yang berarti bagi negara Islam waktu itu, karena waktu sering terjadi perang suci. Perintah pembagian ghanimah tersebut turun setelah perang Badar, yaitu pada tahun kedua setelah hijrah ke Madinah.
12Rasulullah melakukan peperangan dan memerintahkan diutusnya detasemen-detasemen militer, kemudian Allah memberikan kemenangan kepadanya tanpa didahului adanya peperangan, dan kemudian Allah memberikan fay’ kepada umat Islam. Dalam kondisi yang lain Allah memberikan kemenangan kepada umat Islam setelah terjadi pertempuran atau peperangan dengan musuh Islam, kemudian umat Islam mendapatkan ghanimah dari peperangan itu.
Siapapun yang meneliti perjalanan Rasulullah, maka akan mengetahui dengan jelas bahwa konfrontasi dengan kaum musyrik mengambil bentuk peperangan dan detasemen militer.
Yang dimaksud dengan peperangan (ghazwah), adalah Rasulullah ikut serta di dalam peperangan tersebut, sedangkan dalam detasemen militer (sariyah), Rasulullah tidak ikut berperang.
Peperangan Rasul itu sendiri berjumlah 26 kali, namun ada sebagian ulama yang mengatakan 27 kali peperangan. Yang berpendapat 26 kali peperangan, mereka memasukkan peperangan Rasulullah di Khaibar dan peperangan dari Khaibar menuju Wadil Qura menjadi satu peperangan, karena baliau bersama pasukan tidak pulang setelah peperangan Khaibar. Yang berpendapat 27 kali adalah mereka yang memisahkan antara perang Khaibar dari Wadil Qura. Peperangan- peperangan Rasulullah (ghazwah) tersebut adalah:
1. Perang Wadan, yaitu perang Abwa 2. Perang Buwat sampai penjuru Radhwa 3. Perang Asyirah
4. Perang Badar pertama
12 Nazori Madjid. 2003. Pemikiran Ekonomi Islam Abu Yusuf Relevansinya dengan Ekonomi Kekinian.
Yogyakarta: Pusat Studi Ekonomi Islam (PSEI). Hal. 207-208.
5. Perang Badar Besar, di dalam peperangan ini banyak pembesar Quraisy yang terbunuh dan ditawan
6. Perang Bani Salim, hingga air menjadi keruh bagi Bani Salim 7. Perang Sawiq
8. Perang Ghatafan hingga Najd, ini merupakan peperangan Dzi Amar 9. Perang Bahran Ma’din di Hijaz
10. Perang Uhud
11. Perang Hamra’ al-Asad 12. Perang Bani Nadhir 13. Perang Dzat al-Riqa 14. Perang Badar akhir 15. Perang Daumat al-Jandal 16. Perang Khandaq
17. Perang Bani Quraidzah
18. Perang Bani Lihyan dari Huzail 19. Perang Dzi Qard
20. Perang Bani Mustaliq dari Khuza’ah 21. Perang Hudaibiyah
22. Perang Khaibar 23. Perang Wadil Qura
24. Perang al-Fath, Fathu Makkah 25. Perang Hunain
26. Perang Thaif 27. Perang Tabuk.
Rasulullah SAW. sendiri berperang (memimpin langsung) sebanyak sembilan kali peperangan, yaitu:
1. Perang Badar 2. Perang Uhud 3. Perang Khandaq
4. Perang Bani Quraidzah
5. Perang Bani Mustaliq
6. Perang Khaibar 7. Perang Fathu Makkah 8. Perang Hunain 9. Perang Thaif
Sedangkan sariyah, pengiriman detasemen-detasemen militer dan delegasi yang lain berjumlah 35 detasemen dan delegasi, yaitu:
1. Detasemen Ubaidah ibn al-Harits ke penjuru kampung dari Tsaniyah al-Murrah yaitu mata air di Hijaz.
2. Perang Hamzah ibn Abdul Muthalib ke pantai dari penjuru al-Aish.
3. Perang Sa’ad ibn Abi Waqash ke Hirar dari negeri Hijaz.
4. Perang Abdullah ibn Jahsy ke perkebunan kurmanya.
5. Perang Zaid ibn Haritsah di Qirdah, yaitu salah satu mata air di Najd.
6. Perang Martsad ibn Abi Martsad al-Gunawi al-Raji’.
7. Perang Munzir ibn Amr di Bi’r Ma’unah.
8. Perang Abu Ubaidah ibn Jarrah ke Dzi al-Qissah melalui Irak.
9. Perang Umar ibn al-Khattab di negeri Bani Amr.
10. Perang Ali ibn Abi Thalib di Yaman.
11. Perang Ghalib ibn Abdillah al-Kalbi.
12. Perang Ali ibn Abi Thalib ke Bani Abdillah ibn Saad dari penduduk Fadak.
13. Perang Ibn Abi al-Awja’ al-Salami di negeri Bani Salim.
14. Perang Ukasyah ibn Mihshan al-Umrah.
15. Perang Abi Salmah ibn Abdul Asad di Quthn, mata air Bani Saad dari sisi Najd, di mana terbunuh dalam peperangan itu Mas’ud ibn Urwah.
16. Perang Muhammad ibn Maslamah, saudara dari Bani al-Harits ke al-Qurtha dari kota Hawazin.
17. Perang Basyir ibn Sa’ad kepada Bani Murrah di Fadak.
18. Perang Basyir ibn Sa’ad ke Yaman dan wilayah selatan Khaibar.
19. Perang Zaid ibn Haritsah al-Jamum di wilayah Bani Salim.
20. Perang Zaid ibn Haritsah di negeri Hasma.
21. Perang Zaid ibn Haritsah di Wadil Qura.
22. Perang Abdullah ibn Rawahah di Khaibar.
23. Perang Abdullah ibn Rawahah di Khaibar kedua.
24. Perang Abdullah ibn Atik ke Khaibar, dan ia membunuh Abu Rafi’.
25. Rasulullah mengutus Muhammad ibn Maslamah dan sahabatnya di antara Badar dan Uhud kepada Ka’ab ibn Asyrah, lalu mereka membunuhnya.
26. Rasulullah mengutus Abdullah ibn Anis ke Khalid ibn Nabih al-Hazali dan membunuhnya.
27. Perang Zaid ibn Haritsah, Ja’far ibn Abi Thalib dan Abdullah ibn Rawahah ke Mu’tah di wilayah Syam.
28. Perang Ka’ab ibn Umair al-Ghifari di Dzat Athlah di negeri Syam.
29. Perang Uyainah ibn Hishan ke Bani Anbar dari Bani Tamim.
30. Perang Ghalib ibn Abdullah al-Kalbi.
31. Perang Amr ibn ’Ash di Dzat al-Salasil.
32. Perang Ibn Abi Hadrad al-Aslami ke Hutan.
33. Perang Ibn Abi Hadrad al-Aslami dan sahabatnya ke Bathn A’dham.
34. Perang Abdurrahman ibn Auf.
35. Perang Khabat, di mana di dalam perang ini Rasulullah mengirim detasemen ke Saif al-Bahr yang dipimpin oleh Abu Ubaidah al-Jarrah.
13Ada beberapa contoh-contoh harta ghanimah pada masa Rasul:
1. Umat Islam mendapatkan ghanimah seumlah 70 ekor unta, dua ekor kuda, satu ekor untuk Miqdad dan satu ekor lagi untuk Martsad ibn Abi Martsad. Dalam peperangan ini Rasulullah mendapatkan pedang yang diberi nama ”dzulfiqar”.
2. Dalam peperangan Bani Qainuqa’, mereka adalah umat Yahudi pertama yang melanggar perjanjian dengan Rasulullah, dan mereka berperang antara Badar dan Uhud. Allah memberikan ghanimah kepada Rasulullah dan kaum muslimin dari harta yang dimiliki musuh. Mereka tidak memiliki tanah, mereka hanyalah pengrajin emas. Karena itu Rasul mengambil dari mereka senjata yang banyak dan alat cetaknya.
3. Dalam perang Qardah, dan ini merupakan salah satu mata air Najd, detasemen militer umat Islam yang dipimpin oleh Yazid ibn Haritsah, berhadapan dengan para pedagang Quraisy di tempat ini. Di kalangan mereka terdapat Abu Sufyan ibn Harb, yang membawa bejana perak yang banyak, yang dipikul oleh untanya. Umat Islam mendapatkan unta dan perak.
13 Qutb Ibrahim Muhammad. 2011. Dakwah Rasulullah SAW. tentang Ekonomi, Keuangan dan Sistem Administrasi. Jakarta: Gaung Persada Press. Hal. 139-142.
4. Dalam perang Qardah, itu terjadi seteah perjanjian Hudaibiyah, Rasul mengirim untanya ke Madinah. Lalu seorang musyrik menyerang dan mengumpulkan semuanya serta membunuh para penggembalanya. Maslamah ibn Akwa’ keluar bersama seekor unta dan ia termasuk seorang muslim. Ia keluar mencari jejak-jejak kaum itu dan memanah mereka, sehingga mereka kabur dalam keadaan takut dan meninggalkan unta dan panah. Rasulullah memberikan kepada Ibnu Akwa’ dua bagian, sebagai pengendara kuda dan pejalan kaki, karena Ibn Akwa’ ketika berangkat menggunakan kuda Thalhah, kemudian mengembalikan kuda itu kepadanya bersama mereka untuk memberikan kabar kepada Rasulullah.
5. Dalam perang Hunain, setelah terjadi penaklukan kota Mekah, Hauzan dan Tsaqif pergi ke Hunain, mereka ingin membunuh Rasul. Kemudian Rasul mendatangi mereka dan tentaranya dengan tiba-tiba di Hunain. Allah mengalahkan mereka dan menjadikan apa yang mereka bawa seperti perempuan, anak-anak, binatang ternak sebagai ghanimah untuk umat Islam.
Rasulullah kemudian membagi-bagikan harta mereka kepada orang-orang Quraisy yang memeluk Islam bersamanya.
14b. Pajak Tanah (Kharaj)
Kharaj adalah hak yang diberikan oleh Allah SWT. kepada kaum muslimin dari orang kafir. Kharaj adalah hak yang dikenakan atas lahan tanah yang telah dirampas dari tangan kaum kafir, baik dengan cara perang maupun damai. Apabila perdamaian tersebut menyepakati, bahwa tanah tersebut adalah milik kita, dan merekapun mengakuinya dengan membayar kharaj, maka mereka harus menunaikannya. Kharaj menurut bahasa bermakna al-kara’ (sewa) dan al-ghullah (hasil). Tiap tanah yang diambil dari kaum kafir secara paksa, setelah perang diumumkan kepada mereka, maka tanah tersebut dianggap sebagai tanah kharajiyah. Apabila mereka memeluk Islam, setelah penaklukan tersebut, maka status tanah mereka tetap kharajiyah.
Abu Ubaid meriwayatkan dalam kitab al-Amwal dari al-Zuhri yang mengatakan: ”Rasulullah SAW. menerima jizyah dari orang Majusi Bahrain”. Al-Zuhri menambahkan: ”Siapa saja di antara mereka yang memeluk Islam, maka keIslamannya diterima, dan keselamatan diri dan hartanya akan dilindungi, selain tanah. Sebab tanah tersebut adalah
14 Qutb Ibrahim Muhammad. 2011. Dakwah Rasulullah SAW. tentang Ekonomi, Keuangan dan Sistem Administrasi. Jakarta: Gaung Persada Press. Hal. 151-152.
harta fay’ (rampasan) bagi kaum muslimin, karena orang tersebut sejak dari awal tidak menyerah, sehingga dia terlindungi”. Maksudnya mereka terlindungi dari kaum muslimin.
Jumlah atau besarnya kharaj yang harus diambil atas tanah tersebut dihitung berdasarkan kandungan tanahnya. Ketika Umar menetapkan kharaj, beliau meneliti kandungan tanahnya, dan tidak bertindak lalim terhadap si pemilik tanah dan penanamnya. Dalam beberapa kondisi, beliau telah mengambil untuk setiap 1 jarib dengan 1 qafiz dan 1 dirham. Dalam kondisi lain serta terhadap tanah yang lain, beliau mengambil dengan jumlah yang lain. Beliau juga memberlakukan untuk daerah Syam berbeda dengan ini. Jadi beliau (Umar) memang diketahui telah meneliti tiap tanah berdasarkan kandungannya.
Apabila beliau telah menetapkan kharaj tersebut berdasarkan kandungan tanahnya, maka beliau akan mengambilnya sesuai dengan apa yang telah beliau tetapkan. Apabila beliau telah menetapkan kharaj atas sebidang tanah pertahun, maka beliau mengambil kharaj tersebut pada akhir tahun qamariyah. Sebab tahun qamariyah tersebut merupakan tahun yang sudah umum menurut syara’. Apabila beliau menetapkan kharaj atas sepetak tanaman, maka beliau akan mengambil kharajnya tiap tahun pada akhir tahun syamsiyah. Sebab tahun syamsiyah tersebut merupakan tahun turunnya hujan dan mulainya bercocok tanam. Apabila beliau menetapkan dengan sistem hasil, maksudnya sesuai dengan kadar tertentu dari panen yang dihasilkan pada umumnya, maka beliau akan mengambil kharaj tersebut pada saat sempurna dan masa panen tanaman tersebut.
15Dalam pelaksanaannya, kharaj dibedakan menjadi dua hal, yaitu proporsional (muqasimah) dan tetap (wazifah). Secara proporsional artinya dikenakan sebagai bagian total dari hasil produksi pertanian, misalnya seperempat, seperlima dan sebagainya. Secara tetap artinya berupa pajak tetap atas tanah. Dengan kata lain, kharaj proporsional adalah tidak tetap tergantung pada hasil dan harga setiap jenis hasil pertanian. Sedangkan kharaj tetap dikenakan sekali setahun.
Kharaj pada dasarnya diperkenalkan pertama kali setelah perang Khaibar, ketika Rasulullah SAW. membolehkan orang-orang Yahudi Khaibar kembali ke tanah milik mereka
15Taqyuddin Al-Nabhani. 1996. Membangun Sistem Ekonomi Alternatif Perspektif Islam. Surabaya:
Risalah Gusti. Hal. 260-261.
dengan syarat mau membayar separo dari hasil panen mereka kepada pemerintah Islam, yang disebut kharaj.
Di dalam hukum Islam, kharaj dikenakan atas seluruh tanah di daerah yang ditaklukkan dan tidak dibagikan kepada anggota pasukan perang, oleh negara dibiarkan dimiliki oleh pemilik awal atau dialokasikan kepada petani non-muslim dari mana saja. Selama masa pemerintahan Islam, kharaj menjadi sumber penerimaan utama dari negara Islam, dana ini dikuasai oleh komunitas dan bukan kelompok-kelompok tertentu.
16c. Pajak Perdagangan (’Ushr)
’Ushr merupakan salah satu dari sekian banyak sumber pendapatan negara Islam masa lampau, yaitu sumber penerimaan yang diperoleh dari pungutan yang ditarik atas individu atau kelompok yang melakukan perdagangan antar wilayah atau provinsi suatu negara (bea masuk).
Sebelum Islam, setiap kelompok yang tinggal di pedesaan biasa membayar pajak pembelian (’ushr) dan penjualan (maqs). Setelah negara Islam berdiri khususnya pada masa Khalifah Umar, pajak ’ushr dipungut besarnya sepersepuluh dari hasil pertanian kepada pedagang Manbij (Hieropolis). Kebijakan Islam dalam mendorong usaha perdagangan dengan menghapus bea masuk antar provinsi yang berada di wilayah kekuasaan Islam dan masuk dalam perjanjian yang ditanda tangani oleh penguasa Islam dengan kelompok (suku) yang tunduk kepada kekuasaan Islam.
17d. Zakat
Di dalam surat al-Taubah ayat 103 Allah berfirman:
,ْﻢَُﳍ ٌﻦَﻜَﺳ َﻚَﺗَﻼَﺻ ﱠنِإ ,ْﻢِﻬْﻴَﻠَﻋ ﱢﻞَﺻَو ﺎَِ ْﻢِﻬْﻴﱢﻛَﺰُـﺗَو ْﻢُﻫُﺮﱢﻬَﻄُﺗ ًﺔَﻗَﺪَﺻ ْﻢِِﳍاَﻮْﻣَأ ْﻦِﻣ ْﺬُﺧ ﺔﺑﻮﺘﻟا) ٌﻢْﻴِﻠَﻋ ٌﻊْﻴَِﲰ ُﻪﱠﻠﻟاَو
: ١٠٣ ( Artinya:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu
16 Nazori Madjid. 2003. Pemikiran Ekonomi Islam Abu Yusuf Relevansinya dengan Ekonomi Kekinian.
Yogyakarta: Pusat Studi Ekonomi Islam (PSEI). Hal. 209.
17 Nazori Madjid. 2003. Pemikiran Ekonomi Islam Abu Yusuf Relevansinya dengan Ekonomi Kekinian.
Yogyakarta: Pusat Studi Ekonomi Islam (PSEI). Hal. 228-229.
menjadi ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(Al-Taubah: 103).
18Di dalam Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari menyebutkan:
َﺟ ِﻦْﺑِذﺎَﻌُﻤِﻟ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ِﻪﱠﻠﻟا ُلْﻮُﺳَر َلﺎَﻗ :َلﺎَﻗ ﺎَﻤُﻬْـﻨَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا َﻲِﺿَر ٍسﺎﱠﺒَﻋ ِﻦْﺑا ِﻦَﻋ َـﺑ َْﲔِﺣ ٍﻞَﺒ
َﻞْﻫَأ ِﻰﺗْﺄَﺘَﺳ َﻚﱠﻧِإ :ِﻦَﻤَﻴْﻟا َﱃِإ ُﻪَﺜَﻌ
ِﻪﱠﻠﻟا ُلْﻮُﺳَر اًﺪﱠﻤَُﳏَو ُﻪﱠﻠﻟاﱠﻻِإ َﻪَﻟِإ َﻻ ْنَأ اْوُﺪَﻬْﺸَﻳ ْنَأ َﱃِإ ْﻢُﻬُﻋْدﺎَﻓ ْﻢُﻬَـﺘْﺌ ِﺟ اَذِﺈَﻓ , ِبﺎَﺘِﻜْﻟا َضﱠﺮَـﻓ َﻪﱠﻠﻟا ﱠنَأ ْﻢُﻫِْﱪْﺧَﺄَﻓ َﻚِﻟَﺬِﺑ َﻚَﻟ اْﻮُﻋَﺎﻃَأ ْﻢُﻬْـﻧِﺈَﻓ ,
ْﻴَﻠَﻋ َضﱠﺮَـﻓ َﻪﱠﻠﻟا ﱠنَأ ْﻢُﻫِْﱪْﺧَﺄَﻓ َﻚِﻟاَﺬِﺑ َﻚَﻟ اْﻮُﻋﺎَﻃَأ ْﻢُﻬْـﻧِﺈَﻓ ,ٍﺔَﻠْـﻴَﻟَو ٍمْﻮَـﻳ ﱢﻞُﻛ ِْﰱ ٍتاَﻮَﻠَﺻ َﺲَْﲬ ْﻢِﻬ ﻰَﻠَﻋ ﱡدَﺮُـﺘَـﻓ ْﻢِﻬِﺋﺎَﻴِﻨْﻏَأ ْﻦِﻣ ُﺬَﺧْﺆُـﺗ ًﺔَﻗَﺪَﺻ ْﻢِﻬْﻴَﻠَﻋ
َو َكﺎﱠﻳِﺈَﻓ َﻚِﻟاَﺬِﺑ َﻚَﻟ اْﻮُﻋﺎَﻃَأ ْﻢُﻬْـﻧِﺈَﻓ ,ْﻢِﻬِﺋاَﺮَﻘُـﻓ .ٌبﺎَﺠِﺣ ِﻪﱠﻠﻟا َْﲔَـﺑَو ُﻪَﻨْـﻴَـﺑ َﺲْﻴَﻟ ُﻪﱠﻧِﺈَﻓ ِمْﻮُﻠْﻈَﻤْﻟا َةَﻮْﻋَد ِﻖﱠﺗاَو ْﻢِِﳍاَﻮْﻣَأ َﻢِﺋاَﺮَﻛ
Artinya:
“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. dia telah berkata, Rasulullah SAW. bersabda kepada Muadz ibn Jabal ketika beliau mengutusnya ke Yaman,”Engkau akan mendatangi Ahli Kitab, apabila engkau telah sampai kepada mereka, serulah mereka supaya mengucapkan dua kalimat syahadat, jika mereka menerima dua kalimat syahadat tersebut, ajarkanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan mereka untuk mendirikan shalat lima waktu sehari semalam. Apabila mereka mentaati perintah tersebut, ajarkan pula kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan mereka untuk mengeluarkan zakat. Apabila mereka tetap mentaatinya, beritahulah mereka supaya menghindari harta yang dianggap berharga bagi mereka dan takutlah terhadap doa orang yang teraniaya, karena doa mereka adalah mustajab”. (H.R. Bukhari)
19Secara etimologis kata zakat berasal dari kata “zaka” yang berarti suci, baik, berkah, terpuji, bersih, tumbuh, berkembang. Pengertian secara istilah menurut para ulama, zakat adalah sejumlah harta yang diwajibkan oleh Allah SWT. diambil dari orang tertentu, untuk diserahkan kepada orang yang berhak menerimanya, dengan syarat tertentu. Dalam pengertian zakat tersebut mencakup pengertian zakat mal (zakat harta) dan zakat fitrah (zakat jiwa).
Esensi zakat adalah pengelolaan sejumlah harta yang diambil dari orang yang wajib membayar zakat (muzakki) untuk diberikan kepada mereka yang berhak menerimanya (mustahiq). Pengelolaan (manajemen) itu meliputi kegiatan pengumpulan (penghimpunan), penyaluran, pendayagunaan, pengawasan dan pertanggungjawaban harta zakat.
20
18 KH. Abdullah Zaky al-Kaaf. 2002. Ekonomi dalam Perspektif Islam. Bandung: Pustaka Setia. Hal. 121.
19 Taufik Rahman. 2000. Hadis-Hadis Hukum untuk IAIN, STAIN, PTAIS. Bandung: Pustaka Setia. Hal. 46- 47.
20 Suparman Usman. 2001. Hukum Islam Asas-Asas dan Pengantar Studi Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia. Jakarta: Gaya Media Pratama. Hal. 158.
Sejarah mencatat, pada akhir tahun ke-9 H. setelah perang Tabuk, Rasulullah membagi areal Yaman menjadi lima bagian dengan lima orang delegasi sebagai penanggungjawabnya, yaitu Khalid ibn Sa’id sebagai delegasi ke negeri bagian Shana’a, al-Muhajir ibn Umayyah sebagai delegasi ke negeri bagian Kandah, Ziyad ibn Abu Sa’d sebagai delegasi ke negeri bagian Hadhramaut, Abu Musa al-Asy’ari sebagai delegasi ke negeri bagian Zabid, ‘And, al-Sahil dan Muadz ibn Jabal sebagai delegasi ke negeri bagian al-Janad. Kelima delegasi tersebut diperintahkan oleh Rasul untuk memberikan arahan-arahan keagamaan, menyelesaikan persengketaan (hakim) di antara mereka, mengambil sedekah dari orang-orang kaya untuk diberikan kepada orang-orang fakir.
Selain itu Rasul juga mengingatkan kepada para delegasi yang diutus agar tidak mengambil harta yang dianggap berharga bagi mereka, seperti hewan yang sedang mengandung dan induk hewan yang sedang mengurusi/menyusui anaknya. Zakat pada dasarnya merupakan usaha untuk melapangkan dada orang-orang fakir yang diambil dari orang kaya, bukan sebagai pembebanan harta yang dianggap berharga oleh pemiliknya (orang kaya). Oleh karena itu syariat membolehkan harta yang dianggap berharga oleh pemiliknya untuk diambil sebagai zakat.
Namun demikian syariat juga menerapkan aturan lain yang merangsang pemiliknya untuk mengeluarkan harta kesayangannya. Hal ini ditetapkan guna menghindari perasaan merugi bagi si kaya sebagai pemberi dan juga menghindari rasa rendah diri dari si fakir sebagai penerima.
Para delegasi tersebut diharuskan menghindari kezaliman lainnya, yaitu agar orang yang teraniaya tidak mendoakan jelek kepadamu, sebab doa orang yang teraniaya diterima oleh Allah meskipun orang tersebut fajir (suka berbuat dosa), sekalipun ia orang kafir, sebab perbuatan dosanya merupakan tanggungjawab dirinya sendiri. Tentang hal ini Ibnu Hibban meriwayatkan Hadis yang panjang di dalam Shahihnya melalui Abu Dzar di mana terdapat ungkapan sebagai berikut:
(نﺎﺒﺣ ﻦﺑا ﻩاور) ٍﺮِﻓﺎَﻛ ْﻦِﻣ ْﺖَﻧﺎَﻛ ْﻮَﻟَو ﺎَﻫﱡدُرَأ َﻻ ﱢﱏِﺈَﻓ...
Artinya: “….karena sesungguhnya saya (Rasul) tidak akan menolak permohonan orang yang teraniaya, walaupun datang dari orang kafir”. (H.R. Ibnu Hibban)
21
21 Taufik Rahman. 2000. Hadis-Hadis Hukum untuk IAIN, STAIN, PTAIS. Bandung: Pustaka Setia. Hal. 48- 49.
Zakat adalah kewajiban berdasarkan syariat. Islam wewajibkannya atas setiap muslim yang sampai pada nisab (batas minimal dari harta mulai wajib dikeluarkan) zakat. Zakat adalah salah satu rukun Islam dan bahkan merupakan rukun kemasyarakatan yang paling tampak di antara semua rukun-rukun Islam, sebab di dalam zakat terdapat hak orang banyak yang terpikul pada pundak individu. Dinamakan zakat sebab ia menyucikan jiwa dan masyarakat sekaligus.
Zakat dapat menyucikan atau membersihkan jiwa dari sifat kikir dan bakhil. Ketika seseorang mengeluarkan zakat dengan merelakan hartanya, tatkala itulah seseorang memenangkan nafsunya, menang atas sifat kikir dan bakhilnya sehingga menyucikan dan membersihkan jiwanya.
Zakat juga membersihkan dan menyucikan masyarakat dari saling mendendam dan mendengki dari kegoncangan dan fitnah. Pada saat masyarakat saling membantu menutupi mereka yang sangat membutuhkan, ketika itulah mereka mengikis habis merajalelanya huru-hara dan kegoncangan yang terwujud dari rasa dendam kaum melarat terhadap mereka yang hidup berlebihan.
Zakat bukanlah perilaku kebajikan yang diserahkan begitu saja kepada kehendak orang Islam. Sebenarnya zakat itu telah dimulai sejak Rasulullah SAW. masih tinggal di Mekah. Akan tetapi sejak tahun kedua Hijriyah zakat ini dilaksanakan di samping pungutan-pungutan lain.
Imam atau kepala negara memimpin pengumpulan zakat dengan jalan menugaskan kepada seseorang untuk mengambil zakat tersebut. Rasulullah SAW. mengutus wali-wali (gubernur-gubernur) ke daerah-daerah untuk mengumpulkan zakat dari orang-orang kaya, untuk dibagikan kepada mereka yang berhak menerimanya.
Para sahabat Nabi juga telah melaksanakan hal ini menurut petunjuknya, mereka mengumpulkan zakat dengan cara mengangkat wali dan menugaskan mereka untuk mengambil zakat itu dan membagikannya kepada mereka yang berhak menerimanya. Karena imam yang memimpin pengumpulan zakat, maka mematuhi dan menunaikan zakat dianggap sebagai bukti atas loyalitas dan integritas berjamaah. Itulah sebabnya, mengapa khalifah pertama (Abu Bakar al-Shiddiq ra.) memerangi mereka yang enggan menunaikan zakat, yaitu mereka yang menunaikan shalat tetapi enggan berzakat. Abu Bakar berkata:
ْﻋَأ ًﻻﺎَﻘِﻋ ِﱏْﻮُﻌَـﻨَﻣ ْﻮَﻟ ِﻪﱠﻠﻟاَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ْﻢُﻬُـﺘْﻠَـﺗﺎَﻘَﻟ ِﻪﱠﻠﻟا ِلْﻮُﺳَﺮِﻟ ُﻩْﻮَﻄ
Artinya: “Demi Allah, jika mereka mencegah dariku zakat yang pernah mereka berikan kepada
Rasulullah, pasti kuperangi mereka karenanya.”
Tatkala Umar ra. mencoba menyangkal tindakan Abu Bakar dalam soal larangan membedakan antara shalat dan zakat, beliau sangat marah, kemudian beliau (Abu Bakar) memegang janggut Umar seraya berkata:
ِمَﻼْﺳِﻻْا ِﰱ ٌراَﻮَﺧ ِﺔﱠﻴِﻠِﻫﺎَْﳉا ِﰱٌرﺎﱠﺒَﺟَا ِبﺎﱠﻄَْﳋا َﻦْﺑاﺎَﻳ َﻚﱡﻣُا َﻚْﺘَﻠَﻜَﺛ Artinya: “Tampaknya engkau telah kehilangan ibu hai Ibnu al-Khattab, engkau adalah seorang
pemberani di masa jahiliyah, tetapi menjadi penakut di masa Islam”.
Abu Bakar ra. bertekad memerangi orang yang tidak mau mengeluarkan zakat sampai mereka mau menunaikan zakat.
22Mengenai harta yang wajib dizakati terkait banyaknya harta kekayaan manusia di zaman modern ini yang disebabkan kemajuan ekonomi, teknik dan industrialisasi. Yusuf Qardhawi memerinci berbagai macam kekayaan yang harus dikeluarkan zakatnya sebagai berikut:
1. Zakat al-tsarwah al-hayawaniyah, yang dinamakan zakat hewan atau zakat al-an’am.
Sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an surat al-Nahl ayat 5-7, ayat 66 dan ayat 80, surat Yaasin ayat 71-73.
2. Zakat al-dzahab wa al-fiddhah, yangdisebut zakat kekayaan atau zakat al-nuqud.
Sebagaimana terdapat di dalam surat al-Taubah ayat 34-35, dan di beberapa Hadis Nabi.
3. Zakat al-tsarwah al-tijarah, yang disebut sebagai zakat perdagangan atau al-tijarah.
Sebagaimana terdapat di dalam surat al-Baqarah ayat 267, surat al-Dzariyat ayat 81, al- Ma’arij ayat 23-24, al-Taubah ayat 102.
4. Zakat al-tsarwah al-zira’iyah, yang dinamakan zakat pertanian atau al-zira’iyah.
Sebagaimana terdapat di dalam surat al-Baqarah ayat 267, al-An’am ayat 141.
5. Zakat al-‘asali wa al-muntijabi al-hayawaniyati, yaitu zakat madu lebah dan segala produk pembibitan hewan. Yusuf Qardhawi mengatakan, “meskipun tidak ada firman Allah yang menyebutkan secara khusus, ada juga zakat dari kekayaan yang ditimbulkan oleh pemeliharaan lebah dan madunya, serta hewan-hewan lainnya yang tidak dimasukkan dalam zakat hewan seperti di atas seperti dilakukan pada zaman Nabi dan pemerintahan Islam sesudahnya.”
6. Zakat al-tsarwah al-ma’daniyah wa al-bahriyah, yaitu zakat atas penghasilan barang-
22 Ahmad Muhammad al-Assal, Fathi Ahmad Abdul Karim. 1999. Sistem, Prinsip dan Tujuan Ekonomi Islam (terj. Imam Saefuddin). Bandung: CV. Pustaka Setia. Hal. 110-111.