1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan masalah yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena pendidikan mempunyai cakupan yang sangat luas, yaitu selain mengasuh, mendidik, atau memelihara anak, pendidikan juga merupakan pengembangan ketrampilan, pengetahuan, maupun kepandaian melalui pengajaran, latihan-latihan atau pengalaman. Lebih jauh pendidikan juga dapat mengembangkan intelektual serta akhlak anak didik yang dilakukan secara bertahap.
Ki Hajar Dewantoro mengemukakan Tricentral atau tripusat pendidikan yaitu, keluarga, sekolah, dan perkumpulan pemuda.
Dalam sejarah perkembangan lembaga pendidikan, dijelaskan bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan yang paling tua. Dapat dikatakan bahwa lahirnya keluarga sebagai lembaga pendidikan sejak adanya manusia, dimana orang tua yaitu ayah serta ibu sebagai pendidiknya dan anak sebagai terdidiknya, karena pendidikan itu sejak adanya manusia.
1Pendidikan keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama, tempat anak menerima pendidikan dan bimbingan dari orang tuanya ataupun anggota keluarga lainnya
2.
Ketika seorang anak pertama kali lahir ke dunia dan melihat apa yang di dalam rumah dan sekelilingnya, tergambar dalam benaknya sosok awal dari sebuah kehidupan. Bagaimanapun awalnya dia harus bisa melangkah dalam hidupnya di dunia ini. Jiwanya yang masih suci dan bersih akan menerima segala bentuk apa saja yang datang mempengaruhinya. Maka orang tuanyalah tempat
1 Suwarno, Pengantar Umum Pendidikan, (Jakarta: Aksara Baru, 1982), hlm. 65-66.
2 Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm. 177.
pertama anak melakukan interaksi dan komunikasi. Dan di situlah tempat berkembangnya individu dan di situ pula tahap-tahap awal proses pembentukan kepribadian melalui internalisasi nilai-nilai yang terpantul dari emosi, sikap, dan perilaku orang tua dan anggota keluarganya.
3Islam memandang kelurga sebagai lingkungan atau millieu pertama bagi individu dimana ia berinteraksi. Dari interaksi dengan millieu pertama itu individu mendapatkan unsur-unsur dan ciri-ciri dasar daripada kepribadiannya.
Juga dari situ dia mendapatkan akhlak, nilai-nilai, kebiasan-kebiasan dan emosinya. Dan dengan itu ia merubah banyak kemungkinan-kemungkinan, kesanggupan-kesanggupan dan kesediannya menjadi kenyataan yang hidup dan tingkah laku yang tampak.
4Demikian juga pemikiran sosial dalam Islam setuju dengan pemikiran sosial modern yang mengatakan bahwa keluarga itu adalah unit pertama dan institusi pertama dalam masyarakat dimana hubungan-hubungan yang terdapat di dalamnya, sebagian besarnya bersifat hubungan langsung. Disitulah berkembang individu dan disitu terbentuknya tahap-tahap awal proses pemasyarakatan (sosialization), dan melalui interaksi dengannya ia mendapat pengetahuan, ketrampilan, minat, nilai-nilai, emosi, dan sikapnya dalam hidup, dan dengan itu ia mendapatkan ketentraman dan ketenangan.
5Dengan demikian keluarga adalah tempat yang pertama kali dijumpai oleh seorang anak ketika ia lahir di dunia ini. Dan interaksi yang pertama kali dilakukan adalah dengan orang tua dan lingkungan keluarga yang lain. Disini juga awal kepribadian anak terbentuk.
Keluarga adalah unit masyarakat terkecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat, terdiri dari ayah, ibu dan anak. Mereka adalah manusia yang mempunyai kedudukan sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Dalam hubungannya sebagai makhluk sosial, terkandung suatu maksud
3 Achmadi, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Aditya Media, 1992), hlm. 91.
4 Hasan Langgulung,Manusia dan Pendidikan Suiatu Analisis Psikologi dan Pendidikan, (Jakarta: Al-Husna Zikra, 1995), Cet, III, hlm. 348.
5 Ibid., hlm. 346.
bahwa manusia bagaimanapun juga tidak dapat terlepas dari individu yang lain.
Secara kodrati manusia akan selalu hidup bersama. Hidup bersama antar manusia akan berlangsung dalam berbagai bentuk komunikasi dan situasi. Dalam kehidupan semacam inilah terjadi interaksi. Dengan demikian, kegiatan hidup dalam keluarga itu akan selalu di barengi dengan proses interaksi atau komunikasi, baik antara orang tua dengan anak maupun interaksi dengan Tuhan, baik itu disengaja maupun tidak disengaja.
Dari berbagai bentuk interaksi, khususnya mengenai interaksi yang disengaja, ada istilah interaksi edukatif. Interaksi edukatif ini adalah interaksi yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran.
6Dan interaksi pendidikan itu dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat serta lingkungan-lingkungan kerja.
7Anak adalah merupakan amanat dari Allah SWT kepada orang tua agar di bimbing, dididik supaya menjadi anak yang berbakti dan menjadi anak yang sholeh, sehingga orang tua dalam memberikan bimbingan atau pendidikan kepada anak-anaknya harus hati-hati, karena mereka cenderung meniru perbuatan orang tuanya. Dengan kata lain, kewajiban bagi keluarga lebih-lebih bapak dan ibu untuk selalu membimbing dan mengarahkan anak agar memiliki wawasan yang luas dan menjadikan anak yang bermoral. Dalam hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah SAW yang berbunyi sebagai berikut :
،ةﺮﻳﺮه ﻲﺑا ﻦﻋ لﻮﻘﻳ نﺎآ ﻪّﻧأ
: ﻢّﻠﺳو ﻪﻴﻠﻋ ﷲا ﻰّﻠﺻ ﷲا لﻮﺳر لﺎﻗ :
ّﻮﻬﻳ ﻩﺎﺑﺎﻓ ةﺮﻄﻔﻟا ﻰﻠﻋ ﺪﻟﻮﻳ ّﻻا دﻮﻟﻮﻣ ﻦﻣ ﺎﻣ ﻪﻧﺎﺴّﺠﻤﻳ و ﻪﻧاﺮّﺼﻨﻳ و ﻪﻧاد
) ﻢﻠﺴﻣ ﻩاور
8
(
“Tidaklah seorang bayi itu dilahirkan melainkan dalam keadaan fitroh,maka orang tualah yang menjadikan mereka Yahudi, Nasrani, dan Majusi”.(H.R.,Muslim )
6 Sardiman,A.M.,Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (jakarta : Raiawali, 1992), Cet.,I, hlm.l.
7 Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2003), Cet, I, hlm. 6.
8 Imam Abi Al-Husaini Muslim bin Al-Hajjaji Al-Qusyairy An-Naisabury, Shahih Muslim, Juz IV,(Beirut Libanon: Dar-Ahya’ Al-Turatsi Al-‘Arabi, t.th.), hlm. 2047.
Sedangkan seorang anak itu pertama kali mengenal agama di lingkungan keluarga. Mereka memperoleh pengetahuan agama dan pembiasaan dalam melakukan perbuatan yang didasari oleh agama dari keluarga. Dalam hal ini orang tua adalah sebagai penanggung jawab pendidikan agama bagi anak.
Sebagaimana firman Allah dalam surat at-Tahrim : 6, yang berbunyi:
ﺎﻬﻳﹶﺍ ﺎﻳ
ﻦْﻳِﺬﱠﻟﺍ ﺍﺭﺎﻧ ﻢﹸﻜْﻴِﻠْﻫﹶﺍ ﻭ ْﻢﹸﻜﺴﹸﻔْﻧﹶﺍ ﺍْﻮﹸﻗ ﺍْﻮﻨﻣﹶﺍ )....
ﱘﺮﺤﺘﻟﺍ :
( ٦
“Hai orang-orang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka……(Q.S. at-tahrim : 6)
9Jadi orang tua, ibu dan ayah memegang peranan penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya.
10Orang tua adalah pembina pribadi yang pertama dalam hidup anak. Kepribadian orang tua, sikap dan cara hidup mereka merupakan unsur- unsur pendidikan yang secara tidak langsung akan masuk dalam ke dalam peribadi anak yang sedang tumbuh itu.
11Suatu pendidikan agama Islam dalam rumah tangga melibatkan peran orang tua serta seluruh anggota keluarga dalam usaha menciptakan suasana keagamaan yang baik dan benar. Peran orang tua tidak perlu berupa peran pengajaran tetapi peran tingkah laku, teladan, dan pola-pola hubungannya dengan anak yang dijiwai dan disemangati oleh nilai-nilai keagamaan secara menyeluruh.
Agama bukan ibadah saja. Agama mengatur seluruh segi kehidupan.
Semua penampilan ibu dan ayah dalam kehidupan sehari-hari yang disaksikan dan dialami oleh anak bernafaskan agama, disamping latihan dan pembiasaan agama, membutuhkan dilaksanakan sejak si anak kecil, sesuai pertumbuhan dan perkembangan jiwanya. Apabila anak tidak mendapatkan pendidikan, latihan, dan pembiasaan keagamaan waktu kecilnya, ia akan besar dengan sikap acuh tak acuh / anti agama.
129 Soenardjo, dkk., Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang: Toha Putra , 1989 ), hlm. 951.
10 Zakiah Daradjat, dkk. Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara,1996), hlm. 35.
11 Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama,(Jakarta : Bulan Bintang, 1993), Cet, 14 hlm. 56.
12 Zakiah Daradjat, op. cit.,hlm. 65.
Perlu di ketahui bahwa inti agama ialah iman. Inti keberagamaan ialah keberimanan. Keberimanan itu tidak dapat diajarkan di sekolah, di pesantren, ataupun dengan cara mengundang guru agama ke rumah. Di sekolah dan di pesantren diajarkan pengetahuan tentang iman, keimanan, keberimanan. Adapun keberimanan adalah sesuatu yang berada dalam hati (al-Qalb).
Karena iman itu di dalam hati, bukan di kepala, maka iman itu tidak dapat di ajarkan. Lantas bagaimana menjadikan seseorang beriman?. Nabi mengajarkan bahwa keberimanan itu perlu di tanamkan.
13Dengan demikian, untuk memudahkan penanaman agama dalam jiwa anak, maka dibutuhkan suatu interaksi yang bernilai edukatif, sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa interaksi edukatif adalah interaksi yang sadar dan sengaja dilakukan untuk mengubah tingkah laku anak menuju suatu kedewasaan, dengan meletakkan tujuan pendidikan didalamnya. Dan tujuan pendidikan yang dimaksud adalah tujuan pendidikan Islam dalam keluarga, yaitu membentuk pribadi yang berkepribadian muslim. Sedangkan untuk tujuan pendidikan Islam secara umum adalah untuk mencapai tujuan hidup manusia, yakni menumbuhkan kesadaran manusia sebagai makhluk Allah SWT, agar mereka tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berakhlak mulia dan beribadah kepada- Nya.
14Sehingga untuk mewujudkan tujuan tersebut, penting bagi orang tua untuk melakukan interaksi dan komunikasi yang bernilai edukatif, terutama dalam pendidikan agama. Karena pendidikan agama ini memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan anak-anak dan harus di tanamkan sejak dini oleh orang tua mereka.
Salah satu bentuk dari interaksi edukatif antara orang tua dengan anak adalah melalui keteladanan, contoh, dan kebiasaan-kebiasaan orang tua.
Perlu diketahui juga, bahwa kualitas hubungan anak dengan orang tuanya, akan mempengaruhi keyakinan beragama anak di kemudian hari, apabila ia di
13 Ahmad Tafsir, (ed.), Pendidikan Agama Dalam Keluarga, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), Cet. III, hlm. 4-5.
14 Chabib Toha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm.
100.
sayang dan di perlakukan adil, maka ia akan meniru orang tuanya dan menyerap agama dan nilai-nilai yang di anut orang tuanya. Dan jika yang terjadi sebaliknnya, mungkin ia tidak mau melaksanakan ajaran agama dalam hidupnya, tidak sholat, tidak puasa dan sebagainya.
15Dari deskripsi yang telah penulis paparkan di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian secara langsung dengan judul “ PENGARUH INTENSITAS INTERAKSI EDUKATIF ORANG TUA DENGAN ANAK TERHADAP KEBERAGAMAAN SISWA KELAS VII MTs NU BANAT KUDUS”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang penulis telah paparkan di atas, permasalahan tersebut dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1. Banyak terjadi interaksi dan komunikasi dalam setiap keluarga. Tapi untuk suatu interaksi edukatif, itu harus dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan untuk mengubah tingkah laku dan perbuatan seseorang.
2. Anak mempunyai ketergantungan emosional terhadap orang tua dan selalu terikat.
3. Pendidikan agama itu sangat penting, maka tanggung jawab orang tualah untuk menanamkan agama pada anak sedini mungkin. Karena mereka adalah pendidik yang pertama dan utama dalam pendidikan keluarga.
4. Intensitas interaktsi edukatif orang tua dengan anak yang variatif menyebabkan hasil keberagamaan berbeda-beda. Anak yang melakukan interaksi edukatif dengan orang tuanya secara intensif akan menghasilkan perilaku beragama yang baik. Sebaliknya anak yang melakukan interaksi edukatif dengan orang tuanya kurang intensif akan menghasilkan prerilaku beragama yang kurang baik.
C. Pembatasan Masalah
Berangkat dari permasalahan di atas, serta pertimbangan waktu dan biaya, maka penulis membatasi permasalahan ini sebagai berikut :
15 Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam Dalam Keluarga Dan Sekolah, op. cit., hlm. 66.