• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II SUPERVISI PEMBELAJARAN DALAM KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II SUPERVISI PEMBELAJARAN DALAM KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

8 A. Kajian Teori

1. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan a. Pengertian KTSP

Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP),dalam (SNP Pasal 1, Ayat 15), kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan dan silabus ( BSNP, 2006 : 5).

Menurut Wina sanjaya, tentang pengertian KTSP sama dengan Undang-Undang SNP pasal 1 ayat 5, yaitu kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing unit pendidikan (Sanjaya, 2008 : 127). KTSP dimaknai beberapa hal menurut (Sanjaya, 2008 : 127) yang berhubungan dengan makna kurikulum operasional :

1) Sebagai kurikulum yang berssifat operasional maka pengembangannya tidak akan terlepas dari ketetapan-ketetapan yang telah disusun pemerintah secar nasional.

2) Sebagai kurikulum operasional, para pengembang KTSP dituntut dan harus memperhatikan ciri khas kedaerahan sesuai dengan Undang-undang No. 20 tahun 2003 ayat 2, yakni bahwa kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.

3) Sebagai kurikulum operasional, para pengembang kurikulum di

daerah memiliki keleluasaan dalam mengembangkan kurikulum

menjadi unit-unit pelajaran misalnya dalam mengembangkan

(2)

strategi dan metode pembelajaran, dalam menentukan media pembelajaran, evaluasi, menentukan beberapa kali pertemuan dan kapan suatu topik materi harus dipelajari agar kompetensi dasar yang telah ditentukan dapat tercapai (Sanjaya,2008 : 129)

Menurut Rusman KTSP adalah kurikulum dalam pelaksanaannya mengacu pada Standar Nasional Pendidikan, yakni bentuk operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh unit-unit pendidikan tertentu (Rusman, 2009 : 23).

Mulyasa dalam bukunya “Kurikulum Berbasis Kompetensi”

menerangkan tentang KTSP, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada dasarnya merupakan penyempurnaan dari KBK atau pelaksanaan operasional KBK di masing-masing unit pendidikan tertentu (Mulyasa, 2004 : 40).

Beberapa hal yang perlu dipahami dalam kaitannya dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) sebagai berikut menurut (Mulyasa, 2010 : 21) :

1) KTSP dikembangkan sesuai dengan kondisi satuan pendidikan, potensi dan karakteristik daerah, serta social budaya masyarakat.

2) Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikulu tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, dibawah supervisi dinas pendidikan.

3) KTSP untuk setiap program studi diperguruan tinggi dikembangkan dan ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.

Dalam KTSP, pengembangan kurikulum dilakukan oleh guru,

kepala sekolah, serta komite sekolah dan dewan pendidikan. Badan ini

merupakan lembaga yang ditetapkan berdasarkan musyawarah dari

pejabat daerah setempat, komisi pendidikan pada dewan perwakilan

rakyat daerah (DPRD), pejabat pendidikan daerah, kepala sekolah,

(3)

tenaga kependidikan (guru), perwakilan orang tua peserta didik, dan tokoh masyarakat. Lembaga inilah yang menetapkan segala kebijakan sekolah berdasarkan ketentuan-ketentuan tentang pendidikan yang berlaku (Mulyasa 2010 : 21).

Dari berbagai pendapat itu maka penulis dapat menyimpulkan tentang KTSP, yaitu suatu bentuk kurikulum yang disusun dan dibuat oleh masing-masing unit pendidikan dan disesuaikan dengan kondisi pendidikan di unit tersebut.

b. Tujuan KTSP

Secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum (Mulyasa 2010 : 22).

Secara khusus tujuan diterapkannya KTSP menurut (Mulyasa, 2010 : 22) adalah untuk :

1) Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumberdaya yang tersedia.

2) Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilann keputusan bersama.

3) Meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai.

Dalam Permendiknas tersebut dikemukakan pula bahwa satuan

pendidikan dasar menengah dapat mengembangkan kurikulum dengan

standar yang lebih tinggi dari yang telah ditetapkan, dengan

memperhatikan panduan penyusunan KTSP pada satuan pendidikan

dasar dan menengah yang disusun Badan Standar Nasional Pendidikan.

(4)

c. Fungsi KTSP

Secara umum fungsi kurikulum adalah sebagai alat untuk membantu peserta didik untuk mengembangkan pribadinya ke arah tujuan pendidikan. Kurikulum adalah segala aspek yang mempengaruhi peserta didik di sekolah, termasuk guru dan sarana serta prasarana lainnya. Kurikulum sebagai program belajar bagi siswa, disusun secara sistematis dan logis , diberikan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Menurut Mc. Neil 1990 dalam

(http://willzen.blogspot.com/2011/12/peran-dan-fungsi-kurikulum- kurikulum.html) isi kurikulum memiliki empat fungsi yaitu : 1) Fungsi pendidikan umum (common and general education).

Merupakan fungsi untuk mempersiapkan anak didik agar menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab , menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab. Karena itu kurikulum harus memberikan pengalaman belajar kepada anak didik agar mampu menginternalisaasi nili-nilai dalam masyarakat, memahami hak dan kewajibannya sebagai anggota masyarakat dan makhluk sosial, Fungsi ini harus ada dan diikuti setiap siswa di semua jenis dan jenjang pendidikan.

2) Fungsi Suplementasi (supplementation).

Kurikulum harus dapat memberikan pelayanan kepada setiap

siswa sesuai dengan perbedaan kemampuan, minat, maupun bakat

yang ada pada diri masing-masing siswa. Setiap siswa berhak

menambah wawasan yang lebih baik sesuai dengan minat dan

bakatnya. Siswa yang meiliki kemapuan di atas rata-rata haraus

terlayani sehingga dapat mengembangkan kemampuannya secara

optimal, sebaliknya siswa berkemampuan di bawah rata-rata juga

harus terlayani sesuai dengan kemampuannya.

(5)

3) Fungsi Eksplorasi (exploration).

Kurikulum harus dapat menemukan dan mengembangkan minat dan bakat masing-masing anak didik, sehingga diharapkan anak didik dapat belajar sesuai dengan minat dan bakatnya tanpa ada paksaan. Fungsi ini merupakan pekerjaan yang tidak mudah, karena terkadang berlawanan dengan kenyataan, bahwa sering ada pemaksaan dari pihak-pihak tertentu, seperti orangtua, untuk memilih suatu pilihan yang sebenarnya tidak sesuai dengan minat dan bakat siswa. Para pengembang kurikulum harus dapat menggali bakat dan minat anak didik yang terkadang tersembunyi.

4) Fungsi keahlian (specialization).

Kurikulum berfungsi untuk mengembangkan kemampuan anak didik dengan keahliannya yang didasarkan atas minat dan bakat anak didik. Kurikulum harus dapat memberikan pilihan berbagai bidang keahlian, seperti perdagangan, pertanian, industri atau disiplin akademik. Dengan bidang-bidang pilihan tersebut anak didik diharapkan memiliki keterampilan sesuai dengan bidangnya.

Untuk itu dalam pengembangan kurikulum perlu melibatkan para ahli atau spesialis untuk menentukan kemampuan yang harus dimiliki anak didik yang sesuai dengan bidang keahliannya.

Sedangkan Menurut Alexander Inglis dalam (http://willzen.blogspot.com/2011/12/peran-dan-fungsi-kurikulum-

kurikulum.html) mengemukakan fungsi kurikulum meliputi : 1) Fungsi Penyesuaian

Lingkungan tempat Individu hidup senantiasa berubah dan

dinamis, karena itu setiap individu harus mampu menyesuaikan diri

secara dinamis. Kurikulum berfungsi sebagai alat pendidikan menuju

individu yang well adjusted, yang membekali anak didik dengan

kemampuan-kemampuan sehingga setelah selesai pendidikan,

diharapkan dapat membawa dirinya untuk berperilaku sesuai dengan

(6)

hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat, maupun dengan lingkungan yang lain.

2) Fungsi Integrasi

Kurikulum berfungsi mendidik pribadi-pribadi yang terintegrasi. Individu merupakan bagian integral dari masyarakat, maka dengan pembentukan pribadi-pribadi yang terintegrasi, akan memberikan sumbangan dalam rangka pembentukan atau pengintegrasian masyarakat.

3) Fungsi Deferensiasi

Kurikulum perlu memberikan pelayanan terhadap perbedaan- perbedaan perorangan dalam masyarakat. Pada dasarnya deferensiasi akan mendorong orang berpikir kritis dan kreatif, dan ini akan mendorong kemajuan sosial dalam masyarakat.

4) Fungsi Persiapan,

Kurikulum berfungsi mempersiapkan siswa agar mampu melanjutkan studi lebih lanjut untuk jangkauan yang lebih jauh atau terjun ke masyarakat. Sekolah tidak mungkin memberikan semua apa yang diperlukan atau semua apa yang menarik minat mereka, tetapi melalui kurikulum harus dapat memberikan kemampuan yang diperlukan anak didik untuk melanjutkan studinya ataupun mencari pekerjaan.

5) Fungsi Pemilihan,

Antara perbedaan dan pemilihan mempunyai hubungan yang

erat. Pengakuan atas perbedaan berarti pula diberikan kesempatan bagi

seseorang untuk memilih apa yang dinginkan atas sesuatu yang

menarik minatnya. Ini merupakan kebutuhan yang sangat ideal bagi

masyarakat yang demokratis, sehingga kurikulum perlu diprogram

secara fleksibel, memberikan kesempatan pada semua anak didik untuk

memperoleh pendidikan sesuai pilihannya berdasarkan minat dan

bakatnya.

(7)

6) Fungsi Diagnostik

Salah satu segi pelayanan pendidikan adalah membantu dan mengarahkan para siswa agar mereka mampu memahami dan menerima dirinya sehingga dapat mengembangkan semua potensi yang dimiliki. Ini dapat dilakukan bila mereka menyadari semua kelemahan dan kekuatan yang dimiliki melalui eksplorasi dan prognosa. Di sini Fungsi kurikulum adalah mendiagnosa dan membimbing anak didik agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal.

d. Karakteristik KTSP

Karakteristik KTSP bisa diketahui dari bagaimana sekolah dan satuan pendidikan dapat mengoptimalkan kinerja, proses pembelajaran, pengelolaan sumber belajar, profesionalisme tenaga kependidikan, serta sistem penilaian. Berdasarkan uraian diatas dapat dikemukakan beberapa karakteristik KTSP sebagai berikut (Mulyasa 2010 : 29) :

1) Pemberian otonomi luas kepada sekolah dan satuan pendidikan.

KTSP merupakan otonomi luas kepada sekolah dan satuan pendidikan, disertai seperangkat tanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kondisi setempat.

2) Partisipasi Masyarakat dan Orang tua yang Tinggi.

Dalam KTSP pelaksanaan kurikulum didukung oleh partisipasi masyarakat, orang tua, peserta didik yang tinggi dan masyarakat tidak hanya mendukung sekolah melalui bantuan keuangan, tetapi melalui komite sekolah dan dewan pendidikan merumuskan serta mengembangkan program-program yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.

3) Kepemimpinan yang Demokratis dan Profesional.

Dalam KTSP pengembangan dan pelaksanaan kurikulum

didukung oleh adanya kepemimpinan sekolah yang demokratis dan

professional. Kepala sekolah dan guru-guru sebagai tenaga

(8)

pelaksanaan kurikulum merupakan orang yang memiliki kemampuan dan integritas professional.

4) Tim Kerja yang Kompak dan Transparan

Dalam KTSP, keberhasilan pengembangan kurikulum dan pembelajaran didukung oleh kinerja tim yang kompak dan transparan dari berbagai pihak yang terlibat dalam pendidikan, dalam dewan pendidikan dan komite sekolah,misalnya pihak-pihak yang terlibat bekerjasama secara harmonis sesuai dengan posisinya masing-masing untuk mewujudkan suatu “sekolah yang dapat dibanggakan” oleh semua pihak.

e. Pengembangan KTSP

Menurut pendapat Oemar Hamalik Pengembangan kurikulum adalah perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa siswa ke arah peubahan-perubahan yang diinginkan dan menilai hingga mana perubahan-perubahan itu telah terjadi pada diri siswa. Sedangkan kesempatan belajar yang dimaksud adalah hubungan yang telah direncanakan dan terkontrol antara para siswa, guru, bahan peralatan, dan lingkungan dimana belajar yang diinginkan diharapkan terjadi. Ini terjadi bahwa semua kesempatan belajar direncanakan oleh guru, bagi para siswa sesungguhnya adalah ”kurikulum itu sendiri”. Oleh karena itu dalam memahami pengembangan kurikulum dengan lebih baik lagi guru dapat terlebih dahulu mempelajari model-model pengembangan kurikulum agar lebih mudah mempelajari bagaimana cara mengembangkan kurikulum tersebut (Oemar Hamalik. 2009 : 14).

Sedangkan menurut Nadler yang di kutip dalam (https://intanrumapea.wordpress.com/2011/10/22/model-model-

pengembangan-kurikulum-dan-fungsinya-bagi-guru/) model yang baik

adalah model yang dapat menolong sipengguna untuk mengerti dan

memahami suatu proses secara mendasar dan menyuluruh. Hal ini berarti

model pengembangan kurikulum yang baik adalah model yang dapat

(9)

membantu para pengembang kurikulum dalam mengembangkan kurikulum dilapangan. Berkenaan dengan model-model pengembangan kurikulum, maka fungsi model pengembangan kurikulum bagi guru adalah:

1) Sebagai pedoman bagi guru untuk memilih model pengembangan yang sesuai dengan pelaksanaan pengembangan kurikulum di lapangan.

2) Sebagai bahan pengetahuan untuk melihat lahirnya bagaimana sebuah kurikulum tercipta dari mulai perencanaan sampai pelaksanaan di lapangan, yang mungkin selama ini guru hanya mengetahui bahwa kurikulum itu sebagai sesuatu yang siap saji., padahal melalui proses yang panjang sesuai dengan model mana yang dipilih oleh pengembang kurikulum atau pengambil kebijaksanaan.

3) Sebagai bahan untuk menyusun kurikulum yang sesuai dengan visi, misi, karakteristik, dan sesuai dengan pengalaman belajar yang diharapkan atau dibutuhkan oleh siswa.

4) Sebagai bahan untuk mengadakan penelitian yang merupakan bagian tugas profesional guru yang memiliki tanggung jawab dalam meningkatkan kinerjanya sebagai guru.

5) Sebagai bahan untuk melihat perbandingan dan keberhasilan tentang model pengembangaan kurikulum yang digunakan suatu sekolah, yang nantinya diharapkan untuk memperbaiki kurikulum yang dilaksanakan.

f. Kelebihan dan Kekurangan KTSP

Setiap kurikulum pasti ada kelebihan maupun kekurangan, berikut

kelebihan dan kekurangan menurut

(http://www.pengertianahli.com/2013/09/kelebihan-kekurangan- kurikulum-html).

1) Kelebihan KTSP

a) Mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam penyelenggaraan

pendidikan.

(10)

b) Mendorong para guru, kepala sekolah, dan pihak manajemen sekolah untuk semakin meningkatkan kreativitasnya dalam penyelenggaraan program-program pendidikan.

c) KTSP memungkinkan bagi setiap sekolah untuk menitikberatkan dan mengembangkan mata pelajaran tertentu yang aspektabel bagi kebutuhan siswa..

d) KTSP akan mengurangi beban belajar siswa yang sangat padat dan memberatkan kurang lebih 20%.

e) KTSP memberikan peluang yang lebih luas kepada sekolah- sekolah plus untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan.

2) Kekurangan KTSP

a) Kurangnya SDM yang diharapkan mampu menjabarkan KTSP pada kebanyakan satuan pendidikan yang ada.

b) Kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendikung sebagai kelengkapan dari pelaksanaan KTSP.

c) Masih banyak guru yang belum memahami KTSP secara Komprehensif baik konsepnya, penyusunanya maupun prakteknya di lapangan.

d) Penerapan KTSP yang merokomendasikan pengurangan jam pelajaran akan berdampak berkurangnya pendapatan guru.

g. Persamaan dan Perbedaan KBK, KTSP dan Kurikulum 2013

Dalam perkembangan kurikulum di Indonesia terjadi banyak perubahan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Antara kurikulum yang satu dengan lainnya terdapat perbedaan, tetapi juga masih ada persamaan di antara kurikulum itu sendiri, yaitu : (Muslich, 2007 : 17).

1. Persamaan dan Perbedaan Kurikulum KBK dengan Kurikulum KTSP a) Persamaan

1) Sama sama menekankan pada aspek kompetensi yang harus

dimiliki oleh siswa.

(11)

2) Sama sama merupakan kurikulum yang bersifat otonomi daerah dimana setiap daerah diberikan kesempatan yng seluas-luasnya untuk mengembangkanya.

3) Adanya persamaan dalam perancangan pembelajaran berupa adanya standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator pencapaian.

4) Sama sama adanya sistem evaluasi dalam penenentuan hasil belajar siswa

.

5) Adanya kebebasan dalam pengembngan yang dilakukan oleh guru waluapun di KTSP itu guru diberikan kebebasan yang lebih.

6) Sama -sama berorientasi pada prinsip pendidikan sepanjang hayat.

7) Sama- sama memerlukan sarana dan prasarana yang memadai.

b) Perbedaan

KBK KTSP

Kurang operasional Lebih operasional Guru cenderung tidak kreatif Guru lebih kreatif Guru menjabarkan kurikulum yang

dibuat Depdiknas

Guru membuat kurikulum sendiri

Sekolah kurang diberi kewenangan untuk mengembangkan kurikulum

Sekolah diberi keleluasaan untuk mengembangkan kurikulum Kurang relevan dengan otonomi

daerah

Lebih relevan

(12)

2. Persamaan dan Perbedaan Kurikulum 2013

Dalam perkembangan kurikulum di Indonesia terjadi banyak perubahan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Antara kurikulum yang satu dengan lainnya terdapat perbedaan, tetapi juga masih ada

persamaan di antara kurikulum itu,

(https://suaidinmath.files.wordpress.com/2014/06/model-ktsp-kur- 2013-gp1.doc.).

a) Persamaan

1) Kurikulum 2006 (KTSP) dan Kurikulum 2013 sama-sama menampilkan teks sebagai butir-butir KD.

2) Untuk struktur kurikulumnya baik pada KTSP atau pada 2013 sama-sama dibuat atau dirancang oleh pemerintah tepatnya oleh Depdiknas.

3) Beberapa mata pelajaran masih ada yang sama seperti KTSP.

4) Terdapat kesamaan esensi kurikulum, misalnya pada pendekatan ilmiah yang pada hakekatnya berpusat pada siswa.

Dimana siswa yang mencari pengetahuan bukan menerima pengetahuan.

b) Perbedaan

No KTSP Kurikulum 2013

1 Mata pelajaran tertentu mendukung kompetensi tertentu

Tiap mata pelajaran mendukung semua kompetensi (Sikap, Keteampilan, Pengetahuan).

2 Mata pelajaran dirancang berdiri sendiri dan memiliki kompetensi dasar sendiri

Mata pelajaran dirancang terkait satu dengan yang lain dan memiliki kompetensi dasar yang diikat oleh kompetensi inti tiap kelas.

3 Bahasa Indonesia sejajar dengan mapel lain

Bahasa Indonesia sebagai penghela mapel

lain (sikap dan keterampilan berbahasa)

(13)

4 Tiap mata pelajaran diajarkan dengan pendekatan berbeda

Semua mata pelajaran diajarkan dengan pendekatan yang sama (saintifik) melalui mengamati, menanya, mencoba, menalar…

5 Tiap jenis konten pembelajaran diajarkan terpisah

Bermacam jenis konten pembelajaran diajarkan terkait dan terpadu satu sama lainKonten ilmu pengetahuan diintegrasikan dan dijadikan penggerak konten pembelajaran lainnya

6 Tematik untuk kelas I-III (belum integratif)

Tematik integratif untuk kelas I-III

7 TIK mata pelajaran sendiri TIK merupakan sarana pembelajaran, dipergunakan sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain

8 Bahasa Indonesia sebagai pengetahuan Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dan carrier of knowledge

9 Untuk SMA ada penjurusan sejak kelas XI

Tidak ada penjurusan SMA. Ada mata pelajaran wajib, peminatan, antar minat, dan pendalaman minat

10 SMA dan SMK tanpa kesamaan kompetensi

SMA dan SMK memiliki mata pelajaran wajib yang sama terkait dasar-dasar pengetahuan, keterampilan dan sikap.

11 Penjurusan di SMK sangat detil Penjurusan di SMK tidak terlalu detil

sampai bidang studi, didalamnya terdapat

pengelompokkan peminatan

(14)

2. Supervisi Pendidikan a. Pengertian Supervisi

Dilihat dari sudut etimologi supervisi berasal dari kata super dan vision yang masing-masing kata itu berarti atas dan penglihatan. Jadi secara etimologis, Supervisi adalah penglihatan dari atas. Pengertian itu merupakan arti kiasan yang menggambarkan suatu posisi yang melihat berkedudukan lebih tinggi dari pada yang dilihat (Subari. 1994 : 1).

Dalam bukunya Good Carter, Dictionary of Education, supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas-petugas lainnya, dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulir, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru- guru dan merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan bahan pengajaran dan metode mengajar dan evaluasi pengajaran (Sahertian. 1981 : 18).

Menurut H. Burton dan Leo J. Bruckner, supervisi adalah .suatu teknik yang tujuan utamanya mempelajari dan memperbaiki secara bersama-sama faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak (Rohani. 1981 : 18). Sedangkan menurut Kimball Wiles, mendefinisikan .supervisi yaitu bantuan dalam perkembangan dari belajar mengajar yang baik (Sahertian : 21).

Menurut Ngalim Purwanto, supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif (Purwanto. 2000 : 76).

Supervisi diartikan sebagai pelayanan yang disediakan oleh pemimpin untuk membantu guru-guru, orang yang dipimpin agar menjadi guru (personil) yang cakap sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan pendidikan khususnya agar mampu meningkatkan efektivitas proses belajar mengajar disekolah (Nawawi.

1989 : 109).

Berbeda dengan (Nemey, 1951 : 1) yang melihat supervisi itu

sebagai suatu prosedur memberi arah serta mengadakan penilaian secara

(15)

kritis terhadap proses pengajaran. Pandangan lain yang melihat supervisi dari segi perubahan sosial yang berpengaruh terhadap peserta didik yang dikemukakan (Burton, 1955 : 1). Menurutnya supervisi adalah suatu teknik pelayanan yang tujuan utamanya mempelajari dan memperbaiki secara bersama-sama faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Semua definisi yang ada diatas bersifat umum, perkembangan konsep supervisi pendidikan selanjutnya sudah menuju kepada sasaran yang khusus. Peter F. Olive membedakan supervisi pendidikan dalam pengertian yang luas dan melihat supervisi dalam batasan yang spesifik, yaitu pengajaran. Dalam bukunya Supervision for Today’s Schools, (Olive, 1984 : 9) menitikberatkan pada supervisi mengemukakan beberapa pandangannya, mengemukakan beberapa pandangan berikut ini. Menurut Harris yang mengutip dari buku Olive 1984, supervisi pengajaran ialah segala sesuatu yang dilakukan personalia sekolah untuk memelihara atau mengubah apa yang dilakukan sekolah dengan cara yang langsung mempengaruhi proses belajar mengajar dalam usaha meningkatkan proses belajar siswa. Menurut Alfonso supervisi pengajaran adalah tindak laku pejabat yang dirancangkan oleh lembaga yang langsung berpengaruh terhadap prilaku guru dalam berbagai cara untuk membantu cara belajar siswa dan untuk mencapai tujuan yang dilakukan oleh lembaran itu (Alfonso, 1981 : 9).

Orang yang berfungsi memberi bantuan kepada guru-guru dalam

menstimulir guru-guru kearah usaha mempertahankan suasana belajar

mengajar yang lebih baik. Semua guru tetap pada statusnya sebagai guru,

tetapi bila suatu saat ia berfungsi membantu guru memecahkan persoalan

belajar dan mengajar dalam rangka mencapai tujuan pendidikan, maka

pada saat itu ia berfungsi sebagai Supervisor.

(16)

b. Perlunya Supervisi Pembelajaran Tingkat Satuan Pendidikan

Titik berat pembeangunan pendidikan era sekarang ditekankan pada peningkatan mutu. Konsekuensinya, perlu ditingkatkan keseluruhan komponen sistem pendidikan, baik yang bersifat human resources maupun yang bersifat material resources. Peningkatan keseluruhan komponen sistem pendidikan yang bersifat human resources dan material resources tersebut dapat diartikan sebagai segi kuantitasnya maupun kualitasnya.

Upaya peningkatan kualitas komponen sistem pendidikan secaara keseluruhan mengarah pada pencapaian tujuan pendidikan (Ali Imron, 2011 : 1-2).

Dalam melaksanakan supervisi pembelajaran, perhatian yang dominan haruslah tertuju pada aspek-aspek profesional dengan mereduksikan aspek-aspek yang bersifat administratif (Depdikbud, 1986).

Diantara komponen-komponen sistem pendidikan yang bersifat human resources, yang selama ini mendapat perhatian lebih banyak adalah guru. Dominannya perhatian pemerintah, dalam hal ini Kementrian Pendidikan Nasional, terhadap guru sebenarnya didasarkan atas suatu anggapan, bahwa ditangan gurulah mutu pendidikan itu bergantung. Hal ini dapat dipahami dari kenyataan, tidak berdayanya sekolah-sekolah kita bila tidak adanya guru. Guru dipandang sebagai faktor kunci karena ia yang berinteraksi secara langsung dengan muridnya dalam proses belajar mengajar disekolah (Ali Imron. 2011 : 2).

Kadar kualitas guru ternyata dipandang sebagai penyebab kadar kualitas output sekolah. Rendah dan merosotnya mutu pendidikan sebagaimana yang sering disinyalir oleh banyak media massa, hampir selalu disertai dengan menuding gurunya (Handoko, 1985 : 7).

Strategi peranan guru dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan

dapat dipahami dari hakikat guru yang selama ini dijadikan asumsi

programatik pendidikan guru. Jadi programatik pendidikan guru itu sendiri

adalah asumsi-asumsi yang dijadikan sebagai pedoman dalam

(17)

mengembangkan program pendidikan guru. Asumsi-asumsi tersebut, bahwa guru itu sebagai (Ali Imron : 3):

a) Agen pembaruan

b) Berperan sebagai fasilitator yang memungkinkan dapat terciptanya kondisi yang baik bagi segi subjek didik untuk belajar.

c) Bertanggaung jawab atas terciptanya hasil belajar subjek didik.

d) Dicontoh untuk menjadi subjek didik.

e) Bertanggung jawab secara profesional meningkatkan kemapuannya.

f) Menjunjung tinggi kode etik profesionalnya.

Demikian besarnya guru dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, sehingga para pakar dan pengembang LPTK senantiasa mencari bentuk baru dalam mengembangkan kurikulumnya. Banyak usaha pembaharuan telah dijalankan, seperti dalam bentuk dan isi kurikulum, cara-cara atau metode-metode mengajar yang baik dan efisisen, adanya pembinaan dan penyuluhan, dan sebagainya. Tetapi, semua itu tidak hanya mendatangkan hasil yang sangat sedikit sekali, hal ini disebabkan antara lain oleh adanya konservatisme dan sifat-sifat tradisional dalam praktek kehidupan pendidikan yang sangat kuat (Ngalim Purwanto, 2010 : 145)

Meskipun untuk mempersiapkan guru telah diupayakan sedemikian rupa, kenyataan menunjukkan tidak semua guru disekolah betul-betul profesional dalam melaksanakan tugasnya. Hal demikian dapat dibuktikan dengan kenyataan-kenyataan sebagai berikut (Ali Imron : 5) :

a) Seringnya guru mengeluhkan kurikulum yang sering berubah.

b) Seringnya guru mengeluhkan kurikulum yang sarat dengan beban.

c) Seringnya guru mengeluhkan mengajar guru yang tidak menarik.

d) Masih belum dapat dijaminnya mutu pendidikan sebagaimana yang dikehendaki.

Berkaitan dengan inilah, (Jacobson. 1954 : 254) menyatakan tidak semua guru berada dalam keadaan well trained dan well qualified.

Kenyataan menunjukkan bahwa perkembangan sains dan teknologi yang

demikian cepat, menjadikan penyebab senantiasa dimutakhirkannya

(18)

kemampuan guru. Jika guru lengah sedikit saja dalam memutakhirkan kemampuan, maka yang bersangkutan akan ketinggalan dengan perkembangan. Adler (1982) yang dikutip oleh (Ali Imron, 2011 : 5) memberikan rekomendasi agar guru adalah orang yang sedang berada dalam perjalanan menuju terdidik. Sebagai orang yang berada dalam perjalanan menuju terdidik, maka ia harus memanifestasikan kompetensinya sebagai orang yang sedang belajar, dan menunjukkan minat yang besar menjadi guru.

Berdasarkan dengan kenyataan, maka guru-guru perlu disupervisi terus kemampuan profesionalnya. Karena, dengan supervisi yang terus menerus, mereka akan memutakhirkan kemampuan profesionalnya.

Perlunya supervise secara terus menerus, tidak saja secara konseptual dibenarkan, tetapi secara empiric telah banyak dibuktikan. Oleh karena itu, pemerintah melalui kementrian, pernah membuat pedoman supervisi pembelajaran sebagai salah satu perangkat dalam pedoman pelaksanaan kurikulum (Ali Imron : 6).

c. Tujuan Supervisi Pendidikan

Prinsip supervisi pendidikan antara lain adalah ilmiah yang berarti sistematis dilaksankan secara tersusun, kontinu, teratur, objektif, demokratis, kooperatif, dan kreatif. Supervisi dilaksankan secara demokratis yang berarti menghargai harkat dan martabat manusia sebagai individu maupun kelompok.

Supervisi juga dilaksanakan secara konstruktif dan kreatif yaitu mendorong inisiatif untuk ikut aktif menciptakan suasana kondusif yang dapat membangkitkan suasana kreativitas dengan kualitas yang terjamin. Supervisi dilaksanakan secara koperatif dengan menghargai keberagaman dan mengembangkan usaha bersama menciptakan suasana belajar mengajar yang lebih baik berdasarkan sumber kolektif dari kelompok (Sagala, 2010 : 95).

Olive, 1976 yang dikutip oleh Sehertian dalam buku Konsep Dasar

dan Teknik Supervisi Pendidikan. Kata kunci dari supervisi ialah memberikan

layanan dan bantuan kepada guru-guru, maka tujuan supervisi adalah

(19)

memberikan layanan dan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang dilakukan guru dikelas. Dengan demikian jelas bahwa tujuan supervisi ialah memberikan layanan dan bantuan untuk meningkatkan kualitas belajar siswa. Bukan saja memperbaiki kemampuan mengajar tapi juga untuk pengembangan potensi kualitas guru (Sehertian : 2008 : 19). Olive mengemukakan bahwa sasaran supervisi pendidikan ialah :

a) Mengembangkan kurikulum yang sedang dilaksanakan disekolah.

b) Meningkatkan proses belajar mengajar disekolah.

c) Mengembangkan seluruh staf disekolah.

Tujuan supervisi pendidikan bukan menyodorkan suatu teori, tetapi menganjurkan sesuai kebutuhan dan untuk mengungkapkan beberapa karakteristik esensial teori. Supervisi pendidikan sebagai salah satu instrumen yang dapat mengukur dan menjamin terpenuhinya kualitas penyelenggaraan pendidikan maupun penyelenggaraan pembelajaran bertujuan untuk membantu guru untuk lebih memahami peranannya disekolah dan memperbaiki caranya mengajar, kemudian membantu kepala sekolah memperbaiki manajemen sekolah (Sagala. 2010 : 103).

Glickman, 1985, mengatakan tujuan supervisi pengajaran untuk membantu guru-guru belajar bagaimana meningkatkan kemampuan dan kapasitasnya, supaya peserta didiknya dapat meningkatkan kemampuan dan kapasitasnya (Sagala, 2010 : 103). Dalam buku yang ditulis Peter F. Oliva mengatakan bahwa supervisi pendidikan adalah (Sagala : 105):

a) Membantu guru dalam mengembangkan proses kegiatan belajar mengajar.

b) Menerjemahkan dan mengembangkan kurikulum dalam proses belajar mengajar.

c) Membantu guru dalam mengembangkan staf sekolah.

(Nawawi, 1981 : 17) berpandangan bahwa tujuan supervisi adalah

menolong para guru dengan kesadarannya sendiri, sehingga dapat berkembang

dan tumbuh menjadi guru yang lebih cakap dan lebih baik dalam menjalankan

tugas tugasnya. (Hariwung, 1981 : 26) mengemukakan tujuan supervisi

(20)

pengajaran adalah membantu guru untuk bertumbuh dan berkembang dalam ruang lingkup mengajar dan kehidupan kelas, memperbaiki keterampilan mengajar dalam memperluas pengetahuan mereka serta menggunakan persiapan mengajar.

Dari pandangan para ahli pendidikan diatas maka dapat ditegaskan bahwa tujuan supervisi pendidikan ( Sagala : 104) antara lain:

a) Membantu guru-guru.

b) Mengembangkan proses belajar mengajar lebih memahami mutu, pertumbuhan dan peranan sekolah.

c) Menerjemahkan kurikulum kedalam bahasa belajar mengajar.

d) Melihat tujuan pendidikan, membimbing pengalaman belajar mengajar, menggunakan sumber dan metode mengajar, memenuhi kebutuhan belajar dan menilai kemajuan belajar murid, membina moral kerja, menyusuaikan diri dengan masyarakat, dan membina sekolah.

e) Membantu mengembangkan profesional guru dan staf sekolah.

Berkaitan dengan tujuan supervisi pembelajaran ini, tampaklah bahwa ada peran pengawas sekolah secara tegas membantu dan turut serta dalam usaha-usaha perbaikan dan meningkatkan mutu. Agar bantuan yang diberikan memenuhi kualitas yang dipersyaratkan, maka dalam memberikan bantuan supervisor lebih dulu melakukan penilaian (evaluation) dengan jalan penelitian (research) dan merupakan usaha perbaikan (improvment) dalam berbagai aktivitasnya. Dengan demikian secara umum tujuan supervisi pendidikan dapat dirumuskan adalah “Untuk membantu guru meningkatkan kemampuannya agar menjadi guru yang lebih baik dan profesional dalam melaksanakan pengajaran” (Sagala : 105).

Jadi disini penulis menyimpulkan bahwa tujuan supervisi adalah untuk

meningkatkan situasi dan proses belajar mengajar berada dalam rangka

mencapai tujuan sekolah dan juga mencapai tujuan pendidikan nasional.

(21)

d. Prinsip Supervisi Pendidikan

Masalah yang dihadapi dalam melaksanakan supervisi dilingkungan ialah bagaimana cara mengubah pola pikir yang bersifat otokrat dan korektif menjadi sikap dan konstruktur dan kreatif. Suatu sikap yang menciptakan situasi dan relasi dimana guru-guru merasa diterima sebagai subjek yang dapat berkemban g sendiri. Untuk itu supervisi harus dilaksanakan berdasarkan data, fakta yang objektif.(Sahertian. 2008 : 20) Maka supervisi yang dilaksanakan adalah :

a. Prinsip ilmiah

1) Kegiatan supervisi dilaksanakan berdasarkan data objektif yang diperoleh dalam kenyataan pelaksanaan proses belajar mengajar.

2) Untuk memperoleh data perlu diterapkan alat perekam data, seperti angket, observasi, percakapan pribadi.

3) Setiap kegiatan supervisi dilaksanakan secara sistematis, berencana dan kontinu.

b. Prinsip demokrasi

Servis dan bantuan yang diberikan kepada guru berdasarkan hubungan kemanusiaan yang akrab dan kehangatan sehingga guru- guru merasa aman untuk mengembangkan tugasnya.

c. Prinsip kerja sama

Mengembangkan usaha bersama atau menurut istilah supervisi

„sharing of idea, sharing of experience’, member support mendorong, menstimulasi guru, sehingga mereka merasa tumbuh bersama.

d. Prinsip konstruktif dan kreatif

Setiap guru akan merasa termotivasi dalam mengembangkan potensi kreativitas kalau supervisi mampu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan.

Prinsip supervisi pendidikan antara lain yang telah diuraikan diatas

adalah ilmiah yang berarti sistematis dilaksanakan secara tersusun, kontinu

teratur, objektif, demokratis, kooperatif, menggunakan alat, konstruktif,

dan kreatif. Usaha-usaha yang dilakukan supervisor menunjukkan

(22)

profesionalitas bukan atas hubungan pribadi. Supervisi juga harus progresif, berani melangkah maju, dilaksanakan bertahap didasarkan atas keadaan dan kenyataan yang sebenarnya(Sagala, 2010 :95).

Penerapan supervisi modern Sutisna (1983 : 224) merekomendasikan prinsip supervisi yaitu :

a) Supervisi merupakan bagian integral dari program pendidikan.

b) Semua guru memerlukan dan berhak atas bantuan supervisi.

c) Supervisi disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan perseorangan dari personil sekolah.

d) Supervisi membantu menjelaskan tujuan-tujuan dan sarana-sarana pendidikan, dan menerangkan implikasi-implikasi dari tujuan- tujuan dan sasaran-sasaran.

e) Supervisi membantu memperbaiki sikap dan hubungan dari semua anggota staf sekolah dan membantu mengembangkan hubungan sekolah masyarakat yang baik.

f) Tanggung jawab mengembangkan program supervisi oleh kepala sekolah dan penilik atau pengawas bagi sekolah-sekolah yang berada diwilayahnya.

g) Harus ada dana yang memadai bagi program kegiatan supervisi dalam anggaran tahunan.

h) Efektivitas program supervisi dinilai oleh para peserta.

i) Supervisi membantu menjelaskan dan menerapkan dalam praktik penemuan penelitian pendidikan yang mutakhir.

Dilihat dari tujuannya menurut sergiovani dan Starratt (1983 : 9) prinsip-prinsip supervisi adalah :

a) Tujuan akhir supervisi adalah pertumbuhan murid sebagai pembinaan sumberdaya manusia dan pada akhirnya perbaikan masyarakat.

b) Tujuan umum supervisi pendidikan adalah menyuplai

kepemimpinan dalam menjamin kelanjutan dan kekonstanan

(23)

adaptasi ulang dalam program pendidikan melalui suatu tahun periode.

c) Tujuan jangka menengah supervisi adalah kerjasama untuk mengembangkan suasana yang menyenangkan bagi pembelajaran.

Prinsip ini sesuai pandangan John Lovell dan Robert Alfonso (1975) yang dikutip oleh Syaiful Sagala dalam buku Supervisi Pembelajaran, menjelaskan bahwa supervisi itu pada prinsipnya adalah suatu sistem perilaku pengajaran yang berinteraksi dengan konseling sekolah, pengajaran, administrasi, dan sistem prilaku siswa dengan cirri kesederhanaan dan kesehajaan. Jadi disini penulis dapat menambahkan bahwasanya supervisi yang dilaksanakan secara demokratis berarti menghargai harkat dan martabat manusia sebagai individu maupun kelompok dalam aktivitas pembelajaran (Sagala, 2010 :97).

e. Fungsi Supervisi Pendidikan

Fungsi utama supervisi ialah membina program pengajaran yang ada sebaik-baiknya sehingga selalu ada usaha perbaikan. (Chester Harris, 1958 : 1442).

Fungsi utama supervisi modern ialah menilai dan memperbaiki faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran peserta didik (Burton 1955: 3).

Fungsi utama supervisi pendidikan ditujukan pada perbaikan dan peningkatan kualitas pengajaran (Ayer. 1928 : 13). Pendapat lain menjelaskan bahwa fungsi utama supervisi supervisi ialah membina program pengajaran yang ada sebaik-baiknya sehingga selalu ada perbaikan (Harris. 1959 : 1442).

Fungsi utama supervisi modern ialah menilai dan memperbaiki

faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran peserta didik

(Burton. 1955 : 3). Sedangkan pendapat lain mengungkapkan bahwa

fungsi utama supervisi bukan perbaikan pembelajaran saja, tapi untuk

mengkoordinasi, menstimulasi, dan mendorong kearah pertumbuhan

(24)

profesi guru (Briggs. 1938 : 4). Menurutnya situasi belajar-mengajar disekolah dapat diperbaiki bila supervisor atau pemimpin pendidikan memiliki tiga keterampilan dasar, seperti yang telah diuraikan diatas. Ada analisis luas yang dibahas oleh (Swearingen. 1961) dalam bukunya Supervision of Instruction – Foundation and Dimension yang dikutif oleh (Sahertian dan Mataheru, 1981 : 106) mengemukakan 8 fungsi supervisi, yaitu :

1. Mengkoordinasi semua usaha sekolah.

2. Memperlengkapi kepemimpinan sekolah.

3. Memperluas pengalaman guru-guru.

4. Menstimulasi usaha-usaha yang kreatif dalam pengajaran.

5. Memberi fasilitas dan penilaian yang terus menerus.

6. Menganalisis situasi belajar mengajar.

7. Memberi pengetahuan dan keterampilan kepada setiap anggota staf.

8. Memberi wawasan yang lebih luas dan terintegrasi dalam merumuskan tujuan-tujuan pendidikan dan meningkatkan kemampuan mengajar guru.

B. Kajian Penelitian yang Relevan

Setelah peneliti menelusuri penelitian-penelitian yang dilakukan oleh orang lain atau sebuah lembaga dalam masalah yang sama, atau memiliki kemiripan baik yang berkenaan dengan “pelaksanaan supervise internal dalam pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) di MTs At-Taubat Cidahu Kecamatan Pasawahan Kabupaten Kuningan”

ditemukan beberapa hasil penelitian sebagai berikut:

1. PENERAPAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

(KTSP) DAN HUBUNGANNYA DENGAN MINAT BELAJAR

SISWA DI SMP NEGERI 1 KEDOKANBUNDER. Penelitian ini

dilakukan oleh Novi Ariyanti, Mahasiswa Jurusan Pendidikan IPS

Fakultas Tarbiyah IAIN Syekh Nurjati Cirebon tahun 2012. Hasil

(25)

penelitian yang dilakukan oleh Novi Ariyanti untuk penulisan skripsi menyimpulkan bahwa pembahasan di skripsi ini menjelaskan tentang penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) serta hubungan orang tua dalam kegiatan belajar anak dengan minat belajar siswa.

Misalnya peran guru dalam mengembangkan kurikulum dan menerapkannya kepada siswa, sehingga dengan begitu terjalin hubungan komunikasi antara siswa dan guru serta minat belajar siswa terhadap guru yang sedang melaksanakan kegiatan pembelajarannya.

2. PERANAN SUPERVISOR (KEPALA SEKOLAH) DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU DI SMP NEGERI 2 INDRAMAYU KABUPATEN INDRAMAYU. Penelitian dilakukan oleh Erik Sukriadi, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Tarbiyah tahun 2007. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Erik Sukriadi untuk penulisan skripsi menyimpulkan bahwa Fungsi supervisor pendidikan cukup membantu dan hal ini dapat dilihat dari hasil persentase 58,9%, dan kinerja guru SMP Negeri 2 Indrramayu dikategorikan cukup baik, dengan perolehan rata-rata hasil angket yaitu 64,9%.

3. PERANAN KEPALA SEKOLAH SEBAGAI SUPERVISOR

PENDIDIKAN HUBUNGANNYA DENGAN KUALITAS BELAJAR

MENGAJAR SI SMK SULTAN AGUNG SUMBER KABUPATEN

CIREBON. Penelitian dilakukan oleh Mujaroh, Mahasiswi Jurusan

Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Fakultas Tarbiyah tahun

2012. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mujaroh untuk penulisan

skripsi menyimpulkan bahwa kepala sekolah dituntut mampu membantu

guru yang kesulitan dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengajar,

menciptakan iklim yang baik dalam organisasi sekolah, menjalin

hubungan yang baik dengan masyarakat, menyusun perencanaan,

mengatur jadwal, serta memecahkan konflik yang muncul antar sesama

guru.

(26)

C. Kerangka Berfikir

Menurut UU no. 20 tahun 2003, kurikulum adalah “Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. (Bab I Pasal 1 ayat 19).

J. Galen Saylor dan William M. Alexander, dalam (http://akramnurfajridigitalmodule.blogspot.com/2012/11/pengertian-

kurikulum-menurut-para-ahli.html) menjelaskan The curriculum is the sum total of schools effort to influence learning, whether in the classroom, on the playground, or out of school. Jadi segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak itu belajar, apakah dalam ruangan kelas, dihalaman sekolah atau di luar sekolah

Harold B. Albertsycs dalam

(http://akramnurfajridigitalmodule.blogspot.com/2012/11/pengertian-

kurikulum-menurut-para-ahli.html) menjelaskan Reorganizing the High School Curriculum (1965) mengandung kurikulum sebagai “ all of the activities that are provided for students by the shcool”. Seperti halnya dengan definisi Saylor dan Alexander, kurikulum tidak terbatas pada mata pelajaran, akan tetapi juga meliputi kegiatan-kegiatan lain, didalam dan diluar kelas , yang berada di bawah tanggung jawab sekolah.

Definisi melihat manfaat kegiatan dan pengalaman siswa diluar mata pelajaran tradisional.

Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Tanpa kurikulum, maka proses pendidikan tidak akan berjalan dengan baik. Kurikulum diperlukan sebagai salah satu komponen untuk menentukan tercapainya tujuan pendidikan.

Dalam Proses pengembangan kurikulum KTSP, menghasilkan

Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi. Kedua standar ini telah

dinyatakan berlaku resmi melalui Peraturan Menteri Diknas yaitu Permen

Diknas nomor 22 dan Peraturan Mentri Diknas nomor 23, masing-masing

(27)

pada tahun 2005. Dalam tulisan ini pengembangan kurikulum pada tingkat nasional dianggap sebagai sesuatu yang di luar fokus kajian evaluasi kurikulum yang dikemukakan sekarang. Permasalahan yang terkait dengan ide pengembangan kurikulum yaitu apakah pokok-pokok pikiran yang dimaksudkan dalam SKL, SI, dan beberapa ketentuan pengembangan KTSP dipahami oleh para pengembang KTSP.

Pada jenjang satuan pendidikan proses pengembangan dokumen KTSP dilakukan oleh setiap satuan pendidikan. Pengembangan pada jenjang ini adalah merupakan finalisasi keseluruhan kegiatan konstruksi dokumen kurikulum karena pada jenjang dan unit satuan pendidikan ini para pengembang kurikulum harus menempatkan berbagai komponen yang telah ditetapkan Pemerintah Pusat ditambah dengan unsur yang harus dikembangkan oleh pengembang KTSP. Unsur-unsur tersebut adalah mengembangkan materi mata pelajaran muatan lokal dan kepribadian, ditambah ketetapan mengenai jumlah sks final untuk setiap mata pelajaran.

Artinya, pada jenjang satuan pendidikan inilah suatu dokumen KTSP dinyatakan final. Dalam ketetapan yang dikeluarkan oleh BSNP dikatakan bahwa dokumen KTSP baru dianggap sah apabila ditandatangani oleh Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah.

Dewasa ini, banyak kita lihat bahkan alami sendiri, banyak dari guru-guru dalam sebuah instansi pendidikan yang tidak menjalankan dan memperhatikan apa yang terdapat dalam kurikulun itu sendiri. Intinya, mereka tidak menjadikan kurikulum sebagai alat dan pedoman dalam pelaksanaan proses pendidikan. Dapat anda bayangkan, bagaimana jika hal ini terjadi secara berkesinambungan, maka dipastikan dunia pendidikan tidak menghasilkan peserta didik yang handal di bidangnya masing-masing, hal ini juga akan menimbulkan berbagai permasalahan dalam dunia pendidikan, baik itu dari peserta didik, instansi bahkan dari guru itu sendiri.

Dengan demikian, perlu adanya pengawasan secara khusus terhadap

kinerja tenaga pengajar atau guru dalam upaya meningkatkan kualitas

sumber daya mengajarnya, sehingga dengan begitu guru yang ada didalam

(28)

lembaga maupun instansi pendidikan bisa menjalankan kualitas kinerja sebagai seorang guru yang professional.

Supervisi internal merupakan gabungan dari supervisi pengajaran dan supervisi klinis. Karena pada dasarnya suatu pendidikan tentu ingin mencapai suatu keberhasilan yang sesuai dengan visi dan misi yang telah dirancang oleh lembaga sekolah itu sendiri (Ngalim Purwanto, 2010 : 89).

Berdasarkan uraian diatas, penulis berpendapat bahwa supervisi internal itu adalah gabungan dari supervisi pengajaran dan klinis. yang dimaksud dengan supervisi pengajaran adalah kegiatan-kegiatan kepengawasan yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi-kondisi baik itu personel sekolah maupun material yang memungkinkan terciptanya situasi belajar mengajar yang lebih baik demi tercapainya tujuan pembelajaran.

sedangkan supervisi klinis sendiri adalah bagian dari supervisi pengajaran yang artinya adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan profesional guru atau calon guru, khususnya dalam penampilan mengajar, berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan objektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku mengajar.

Dalam proses upaya peningkatan mutu pendidikan, guru merupakan komponen sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan terus-menerus. Sehingga dengan begitu potensi sumber daya guru itu akan terus bertumbuh dan berkembang agar dapat melakukan fungsinya sebagai guru yang potensial. Selain itu pengaruh perubahan yang serba cepat mendorong guru-guru untuk terus-menerus belajar menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mobilitas masyarakat.

Dengan demikian perlu adanya supervisi yang merupakan teknik

pelayanan yang tujuannya mempelajari, mengkoordinasi dan membimbing

serta memperbaiki pengajaran secara kontinu pertumbuhan guru disekolah

baik secara individu maupun secara kolektif, dengan begitu bisa lebih

mengerti dan efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran.

(29)

Berikut bagan pengembangan kurikulum KTSP dan bagan hubungan operasiaonal sekolah :

Bagan Pengembangan KTSP, 01 Bagan hubungan operasional sekolah, 02

\

Bagan kerangka berfikir, 03

Dari bagan 01 dapat dijelaskan bahwa dalam pengembangan kurikulum KTSP harus mempunyai Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat untuk mengembangkan ilmu, teknologi, agama, sosial budaya dan ekonomi. Dari tiga komponen tersebut dikonsep secara matang sehingga

Fungsi administrasi umum

SI (standar Isi) SKL

Ide Kurikulum KTSP

masyarakat

Fungsi pelayanan Fungsi manajemen

Silabus Dokumen KTSP

Fungsi pengajaran Fungsi Supervisi

Proses

Hasil Belajar Belajar

Kepala sekolah

Guru mata pelajaran

Kurikulum KTSP Fungsi Supervisi

Hasil Belajar

Proses pembelajaran

(30)

muncul ide kurikulum KTSP guna untuk memenuhi kebutuhan peserta didik sesuai dengan perkembangan jaman. Setelah dikonsep secara matang dalam kurikulum tersebut dibuat dokumen KTSP yang telah dikonsep dan disusun untuk dibuat silabus dan diproses dalam kegiatan belajar mengajar. Jadi, setelah kurikulum itu disusun dari standar isi, standar kompetensi lulusan, masyarakat, kemudian muncul ide-ide kurikulum yang dibutuhkan oleh peserta didik yang sesuai dengan perkembangan jaman dapat terealisasikan dan di buat kurikulum KTSP, kemudian dikembangkan dalam bentuk silabus dan diproses dalam kegiatan belajar mengajar yang pada akhirnya diarahkan untuk mencapai terselenggaraannya proses pengajaran sehingga hasil belajar atau tujuan pendidikan bisa tercapai dengan baik.

Dari bagan 02 dapat dijelaskan bahwa fungsi operasional sekolah sebagai administrator, gambar diatas mempelajari fungsi atau pelayanan manajemen yang menjadi tugas kepala sekolah dalam mengoprasikan dan menjalankan pekerjaan-pekerjaan sekolahnya.

Dapat dijelaskan bahwa administrasi umum merupakan kegiatan administrasi yang melayani atau mencakup keempat fungsi yang lain, yaitu fungsi manajemen, fungsi supervisi, fungsi pengajaran dan fungsi pelayanan khusus. Keempat fungsi tersebut, jika dihubungkan dengan pengajaran dan kebutuhan siswa, secara langsung berhubungan dan tidak berhubungan. Dengan demikian, fungsi manajemen, fungsi administrasi umum, fungsi supervisi, dan fungsi fungsi pelayanan khusus, semuanya merupakan kegiatan yang pada akhirnya diarahkan untuk mencapai terselenggaranya proses pengajaran sehingga tercapainya hasil belajar atau tujuan pendidikan dengan baik.

Bagan tersebut dapat diartikan bahwa kegiatan-kegiatan apapun

yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam rangka pengelolaan sekolah,

baik kegiatan yang menyangkut pengelolaan sekolahnya, pengelolaan

personel atau manajemen termasuk kegiatan supervisi maupun kegiatan

yang menyangkut pengelolaan material seperti gedung dan perlengkapan

(31)

sekolah, alat bantu belajar, laboratorium sekolah, keuangan sekolah dan lainnya, semuanya ditujukan kearah pencapaian tujuan sekolah, yakni hasil belajar siswa seoptimal mungkin sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum sekolah.

Dari bagan 03 dapat dijelaskan bahwa kepala sekolah yang

memiliki wewenang untuk mengembangankan, membimbibing, dan

mengarahkan kinerja guru dalam proses belajar mengajar dalam

meningkatkan kualitas sumber daya dalam mengajar dan hasil belajar

siswa yang sesuai dalam kurikulum. Guru harus mampu meningkatkan

kualitas sumber daya dalam mengajar dan harus mampu menerapkan

fungsi supervisi dan mengembangkan kurikulum sehingga dengan begitu

proses belajar mengajar dapat tercapai sesuai dengan tujuan kurikulum

sekolah dan hasil belajar siswa yang memuaskan.

Referensi

Dokumen terkait

Secara khusus dapat disimpulkan sebagai berikut : Hasil belajar siswa Kelas V SDN Klangonan Kebomas Kabupaten Gresik pada kompetensi dasar tentang Mengartikan

Kondisi tersebut dapat dipahami karena menulis kisah/dari peristiwa sejarah tidak mudah karena tidak ada sumber yang memuat secara runtut tentang suatu peristiwa.Hal

Berdasarkan pengamatan dan analisis data yang telah diperoleh, dapat dinyatakan bahwa secara umum pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model

Setelah dilakukan analisa data, diperoleh kesimpulan bahwa pada saat pelasaksanaan perjanjian kredit, pihak penjamin dalam hal ini pemilik deposito, selain harus menandatangani

Identifikasi hama dan patogen penyakit dilakukan di Laboratorium Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga dengan menggunakan

berupa biaya transportasi dan akomodasi (penginapan dan komsumsi) , dimana dalam pelaksanaannya menggunakan metode penggantian yaitu : Biaya Transportasi dan Akomdasi tersebut

Berdasarkan hasil penelitian di atas yang menjadi faktor utama sehingga tidak ada pembagian harta waris di Desa Paduran Mulya adalah lemahnya Ilmu

Kadar kolesterol total seluruh tikus yang diukur sebelum diberikan PTU memiliki rerata 106,67 mg/dL, kadar kolesterol total seluruh tikus yang diukur pada hari ke 15 setelah