SKRIPSI
Diajukan unyuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Pendidikan Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh
NUR ADLIA LUKMAN NIM. 10533810415
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
MAKASSAR
2019
Kabupaten Enrekang. Skripsi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing 1 A Rahman Rahim dan pembimbing 2 H Nurdin.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkata keterampilan menulis teks ekposisi melalui model pembelajaran memberi dan menerima pada siswa kelas VII Smp Negeri 4 Alla Kabupaten Enrekang tahun pelajaran 2019/2020. Dengan jumlah siswa 33 terdiri atas 17 laki-laki dan 16 perempuan. Penelitian tindakan kelas, pembelajaran dilaksanakan terdiri atas 2 siklus, dan setiap siklus dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan termasuk tes pada setiap akhir siklus.
Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut. Pertama, pengunaan model pembelajaran memberi dan menerima mampu meningkatkan kualitas pembelajaran melalui eksposisi pada siswa. Kedua, pengunaan model pembelajaran memberi dan menerima dapat meningkatkan hasil keterampilan menulis eksposisi. Terlihat pada peningkatan skor rata-rata sebelum diberikan tindakan yaitu 64,69, setelah diberikan tindakan siklus I skor rata-rata menjadi 75,50 meningkat 10,81, dan pada akhir siklus II skor rata-rata menjadi 84,54.
Peningkatan skor rata-rata siswa mulai pratindakan hingga siklus II adalah 19,85.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan model memberi dan menerima berhasil dan mampu meningkatkan keterampilan menulis eksposisi siswa kelas VII SMP Negeri 4 Alla Kabupaten Enrekang.
Kata kunci: menulis eksposisi, memberi dan menerima, siswa SMP.
vii
Alhamdulillah puji syukur penulis ucapkan kepada Allah Subhanahu wa taala yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayahnya kepada penulis
nikmat yang berupa kesehatan, kesabaran, serta kemampuan dalam melaksanakan kewajiban penulis sebagai mahasiswa dan sebagai umat Islam sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad sallallahualaihiwasallam sebagai suri teladan kita, umat Islam dan menjadi
revolusioner Islam yang telah menggulung tikar-tikar kebatilan dan membentangkan permadani-permadani keislaman yang akan memberikan syafaatnya di yaumil akhir.
Skripsi dengan judul ”Peningkatan Keterampilan Menulis Eksposisi Melalui Model Pembelajaran Memberi dan menerima (take and give) Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Alla Kabupaten Enrekang” diajukan sebagai salah satu persyaratan untuk mengikuti ujian skripsi pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Ucapan terima kasih dan penghargaan istimewa kepada Bapak Lukman dan Ibu Rahmawati, kedua orang tua yang telah membiayai perkuliahan penulis, terima kasih juga penulis sampaikan kepada Drs. A. Rahman Rahim, M.Hum dan Drs. H. Nurdin, M.Pd pembimbing I dan pembimbing II yang telah meluangkan
viii
disampaikan dengan hormat kepada Prof. H. Abd. Rahman Rahim, S.E., M.M, Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Erwin Akib, S.Pd., M.Pd., Ph.D, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Dr. Munirah, M.Pd, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, para dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah mengajar dan mendidik mulai dari semester awal hingga sekarang.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan serta keterbatasan kemampuan, baik dalam melaksanakan maupun dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dan menambah wawasan serta pengalaman penulis untuk ke depannya.
Akhir kata penulis sangat berharap sekiranya skripsi ini akan bermanfaat bagi pembaca dan seluruh pihak yang berkepentingan.
Makassar, Agustus 2019 Penulis
Nur Adlia Lukman
viii
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
KARTU KONTROL PEMBIMBING I ... iv
KARTU KONTROL PEMBIMBING II ... v
HALAMAN MOTTO ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... .... 5
D. Manfaat Penelitian ... .... 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 7
A. Kajian Pustaka ... .... 7
1. Penelitian Relevan ... .... 7
2. Landasan Teori ... 11
a. Keterampilan Menulis ... 11
ix
3. Strukuktur Ekposisi ... 17
4. Penilian Keterampilan Menulis Eksposisi ... 18
B. Kerangka Pikir ... 19
BAB III METODE PENELITIAN ... 24
A. Jenis Penelitian ... 24
B. Subjek Penelitian ... 25
C. Setting Penelitian ... .. 25
D. Prosedur Penelitian ... 25
E. Metode Pengumpulan Data ... 26
F. Instrumen Penelitian ... 32
G. Teknik analisis data ... 37
H. Kriteria Keberhasilan Tindakan ... 38
I. Indikator keberhasila ... 38
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 41
A. Hasil Penelitian Tindakan Kelas... 41
1. Deskripsi Awal Keterampilan Menulis Eksposisi ... ... 41
a. Aspek Isi... 49
b. Aspek Organisasi ... ... 49
c. Aspek Kosakata ... 50
d. Aspek Penggunaan Bahasa ... 50
x
b. Hasil Penelitian Siklus II ... 65
3. Peningkatan Menulis Eksposisi dengan Model Pembelajaran Memberi dan Menerima ... 77
B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 78
1. Informasi Awal Keterampilan Menulis Eksposisi ... 78
2. Pelaksanaan PTK dengan Penggunaan Model Pembelajaran Memberi dan Menerima ... 79
3. Peningkatan Keterampilan Menulis Eksposisi melalui Model Pembelajaran Memberi dan Menerima ... 96
BAB V PENUTUP ... 106
A. Kesimpulan ... 106
B. Saran... ... 107
DAFTAR PUSTAKA... .... 108
LAMPIRAN... 110
xii
Tabel 3: Hasil Perolehan Skor Rata-rata Siklus I Kegiatan Menulis
Eksposisi ... 59 Tabel 4: Peningkatan Skor Rata-rata Pratindakan dan Siklus I pada
Setiap Aspek ... 60 Tabel 5: Peningkatan Skor Rata-rata Pratindakan dan Siklus I pada Setiap Aspek ... 71 Tabel 6: Hasil Perolehan Skor Rata-rata Siklus II Siswa Kelas VII
SMP Negeri 4 Alla dalam Kegiatan Menulis Eksposisi ... 72 Tabel 7: Peningkatan Skor Rata-rata Siklus I dan Siklus II pada
Setiap Aspek ... 76 Tabel 8: Hasil Angket Pascatindakan Keterampilan Menulis
Eksposisi Menggunakan Model Pembelajaran Memberi dan
Mnerima ... 77
xii
Menyuruh Siswa Untuk Membuat Teks Eksposisi Tanpa Media
Pembelajaran... 45 Gambar 3 : Aktivitas Siswa dalam Menyusun Teks EksposisiMenggunakan
Media Kartu Bergambar dengan Tema Kebersihan Lingkungan
pada Siklus I Pertemuan Pertama ... 54 Gambar 4 : Aktivitas Siswa dalam Berdiskusi dan Presentasi Hasil
Pekerjaan Menulis Eksposisi pada Siklus I Pertemuan Kedua ... 56 Gambar 5 : DiagramBatang peningakatan Skor rata-rata pada setiap aspek dari
pratindakan ke siklus I ... 61 Gambar 6 : Diagram Batang Peningkatan Skor Rata-rata Kelas pada
Pratindakan dan SiklusI ... 62 Gambar 7 : Aktivitas Siswa Mengamati Contoh Teks Eksposisi Kemudian
Berdiskusi Untuk Menulis dengan Tema Cara Meraih Kesuksesan
pada Siklus II Pertemuan Pertama ... 66 Gambar 8 : Aktivitas Siswa Menulis Teks Eksposisi Secara Individu dan
Maju Untuk Mempresentasikan Hasil Pekerjaan Siswa pada
Siklus II Pertemuan Kedua ... 68 Gambar 9 : Diagram Batang Peningkatan Skor Keterampilan Menulis
Eksposisi dari Siklus I ke Siklus II pada Setiap Aspek ... 73 Gambar 10 : Diagram Batang Peningkatan Skor Rata-rata Kelas pada
Siklus I dan SiklusII... 75 Gambar 11 : Grafik Perbandingan Hasil Penskoran Aspek-aspek
Menulis Eksposisi pada Pratindakan, Siklus I, dan SiklusII ... 78 Gambar 12 : Suasana Pembelajaran Siklus I, Masih Nampak Siswa
Melihat Pekerja Teman ... 81 Gambar 13 : Diagram Batang Peningkatan Skor Rata-rata Siswa dalam Menulis
Eksposisi... 97 Gambar 14 : Diagram Batang Peningkatan Skor Rata-rata Aspek Isi Setiap
Siklus ... 98 Gambar 15 : Diagram Batang Peningkatan Skor Rata-Rata Aspek Organisasi
setiap Siklus ... 99 Gambar 16 : Diagram Batang Peningkatan Skor Rata-rata Aspek Kosakata setiap
Siklus ... 100 Gambar 17 : Diagram Batang Peningkatan Skor Rata-rata Aspek Penggunaan
Bahasa setiap Siklus ... 101 Gambar 18 : Diagram Batang Peningkatan Skor Rata-rata Aspek Mekanik setiap
Siklus ... 102
xiii Lampiran 1 : Jadwal penelitian
Lampiran 2 : Daftar Siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Alla Lampiran 3 : Kisi-kisi Angket
Lampiran 4 : Angket Pratindakan Lampiran 5 : Hasil Angket Pratindakan Lampiran 6 : Angket Pascatindakan Lampiran 7 : Hasil Angket Pascatindakan
Lampiran 8 : Pedoman Wawancara di SMP Negeri 4 Alla Lampiran 9 : Pedoman Penilaian Menulis Eksposisi Lampiran 10: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Lampiran 11: Hasil Penilaian Tulisan Eksposisi Siswa Lampiran 12: Catatan Lapangan
Lampiran 13: Hasil Wawancara di SMP Negeri 4 Alla Lampiran 14: Dokumentasi Foto
Lampiran 15: Hasil Tulisan Siswa Lampiran 16: Surat Izin Penelitian
1 A. Latar Belakang
Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Bahasa merupakan alat komunikasi manusia untuk berinteraksi dengan lingkungannya.
Melalui bahasa, seseorang dapat mengungkapkan perasaaan, pikiran, ide, dan gagasan yang dimilikinya. Tanpa bahasa, manusia akan sulit mengungkapkan apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkannya, sehingga mengakibatkan sulitnya interaksi dengan lingkungan sekitaranya. Maka, patutlah jika bahasa digolongkan sebagai salah satu pelopor kemajuan peradaban manusia. Berbicara tentang pentingnya peranan bahasa, tidak dapat terlepas dari pembelajaran bahasa.
Pembelajaran bahasa tidak dapat terlepas dari empat keterampilan, yakni keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Keempat keterampilan tersebut merupakan suatu kesatuan yang utuh. Keterampilan tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan sebab saling berkaitan satu sama lain. Jika seseorang ingin menguasai suatu bahasa, maka sepatutnyalah menguasai keempat aspek keterampilan tersebut, sebab setiap keterampilan sangat berhubungan dengan proses berpikir yang mendasari bahasa.
Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya dalam memahami apa arti dari bahasa yang sebenarnya.
Salah satu permasalahan dalam dunia pendidikan adalah rendahnya prestasi belajar siswa. Penyebabnya adalah masih ada guru pada saat menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa yang masih menggunakan cara pembelajaran yang tradisional, dan siswa sering dianggap sebagai objek yang hanya menerima masukan dari guru saja. Penilaian lain juga masih ada guru kurang maksimal dalam memberikan motivasi belajar kepada siswa. Persoalan di dalam kelas yang dihadapi oleh pendidik tidak sedikit. Namun, yang harus disadari sedini mungkin adalah penggunaan model pembelajaran yang tepat agar siswa memahami pelajaran dan tidak bosan terhadap materi yang diajarkan. Jika hal itu didokumentasikan dengan baik maka memudahkan kegiatan peneliti bagi pengajaran berikutnya.
Keterampilan menulis sebagai salah satu dari empat keterampilan berbahasa mempunyai peranan penting di dalam kehidupan manusia. Dengan menulis, seseorang dapat mengungkapkan pikiran dan gagasan untuk mencapai maksud dan tujuannya. Keterampilan menulis dapat dimiliki oleh siapa saja, akan tetapi harus diketahui bahwa menulis bukanlah suatu keterampilan yang sederhana, melainkan menuntut sejumlah kemampuan. Menulis bukanlah suatu hal yang sulit tetapi tidak juga dikatakan mudah. Menulis dikatakan bukan hal yang sulit bila menulis hanya diartikan sebagai aktivitas mengungkapkan gagasan melalui lambang-lambang grafis tanpa memperhatikan unsur penulisan. Menulis juga bukan hal yang mudah sebab diperlukan banyak bekal bagi seseorang untuk keterampilan menulis. Menulis memerlukan keterampilan karena kemampuan menulis tidak akan terjadi dengan sendirinya, tetapi memerlukan pembinaan dan
latihan terus-menerus, berkesinambungan, dan dilakukan sebagai proses pengembangan dalam menulis. Betapapun sederhananya tulisan yang dibuat, tetap dituntut memenuhi persyaratan seperti yang dituntut bila menulis hal yang rumit.
Keterampilan menulis membutuhkan ketekunan dan kreativitas. Siswa dituntut menemukan ide dan merangkai kata untuk menghasilkan tulisan yang baik. Dilihat dari fungsinya, kegiatan menulis juga memiliki beberapa manfaat seperti yang diungkapkan oleh Akhadiah, Maidar, dan Sakura (1989: 1-3), yaitu dapat menambah wawasan mengenai suatu topik karena penulis mencari sumber informasi tentang topik tersebut, sarana mengembangkan daya pikir atau nalar dengan mengumpulkan fakta, menghubungkannya, kemudian menarik kesimpulan. Hal ini dikarenakan keterampilan menulis bertujuan untuk melatih siswa dalam mengembangkan ide dan menyusunnya menjadi tulisan yang lebih rinci agar mudah dipahami oleh pembaca. Begitu pula dalam menyusun teks eksposisi, pada dasarnya teks eksposisi merupakan teks yang disusun untuk memberikan pengetahuan maupun informasi kepada orang lain agar bertambah pengetahuannya.
Dalam Kurikulum 2013, keterampilan menulis merupakan salah satu pelajaran dalam Bahasa Indonesia yang harus diajarkan. Kompetensi Dasar pembelajaran Bahasa Indonesia yang mengacu pada Kurikulum 2013 kelas VII adalah memahami teks hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksposisi, eksplanasi, dan cerita pendek baik melalui lisan maupun tulisan. Dari beberapa Kompetensi. Dasar tersebut, kesulitan utama yang dihadapi siswa adalah dalam meyusun teks eksposisi.
Menulis teks Eksposisi dalam kemampuan Siswa Kelas VII dalam menuangkan ide ke dalam tulisan yang bertujuan untuk memberikan penjelasan Selengkap- lengkapanya kepada pembaca mengenai suatu hal agar pembaca menjadi bertambah pengetahuannya.
Keterampilan menulis Eksposisi di Kelas VII Untuk mengatasi kesulitan keterampilan menulis esksposisi, salah satu model pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan menulis adalah dengan menggunakan model pembelajaran memberi dan menerima. Model pembelajaran memberi dan menerima dipilih karena model pembelajaran ini sesuai untuk diterapkan dalam pembelajaran menulis eksposisi. Selain itu, model pembelajaran ini menuntut siswa untuk aktif dalam pembelajaran dan mengajak siswa untuk saling berbagi mengenai informasi yang diperoleh. Dengan model pembelajaran ini, diharapkan siswa mampu menyampaikan informasi ataupun pesan dalam tulisan eksposisi yang mereka susun. Menurut Huda (2013: 242), model pembelajaran memberi dan menerima adalah penguasaan materi melalui kartu keterampilan, bekerja berpasangan, dan berbagi informasi, serta evaluasi yang bertujuan untuk mengetahui pemahaman atau penguasaan siswa terhadap materi yang diberikan.
Model pembelajaran memberi dan menerima dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan keterampilan menulis eksposisi siswa kelas VII SMP Negeri 4 Alla. Hal ini karena model pembelajaran memberi dan menerima mempunyai kelebihan dapat melatih siswa untuk bekerja sama, melatih siswa untuk berinteraksi secara baik dengan teman sekelas, dan memperdalam pengetahuan siswa melalui kartu yang dibagikan. Oleh karena itu, peneliti
menerapkan model pembelajaran memberi dan menerima untuk meningkatkan keterampilan menulis eksposisi. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat diketahui bahwa kesulitan belajar siswa kelas VII SMP Negeri 4 Alla ditandai dengan berbagai permasalahan dalam proses pembelajaran. Untuk dapat memberikan hasil yang diharapkan yaitu meningkatkan keterampilan menulis eksposisi, peneliti VII SMP Negeri 4 Alla menggunakan model pembelajaran memberi dan menerima untuk meningkatkan keterampilan menulis eksposisi siswa.
B. Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang masalah di atas, rumusan masalah pada penelitian ini adalah Upaya meningkatkan keterampilan menulis eksposisi melalui penerapan model pembelajaran memberi dan menerima pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Alla Kabupaten Enrekang?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan menulis eksposisi melalui penerapan model pembelajaran memberi dan menerima pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Alla Kabupaten Enrekang.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara paraktis dan teoretis.
1. Secara Praktis a. Bagi Siswa
Bagi siswa, diharapkan hasil penelitian ini dapat meningkatkan prestasi belajar, khususnya menulis eksposisi. Selain itu, diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis.
b. Bagi Guru
Bagi guru, diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan guru dalam mengajarkan menulis eksposisi di sekolah. Melalui model pembelajaran yang sudah diterapkan ini, guru akan memiliki pengalaman mengajar yang baru.
2. Secara Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan pembelajaran keterampilan berbahasa khususnya pembelajaran keterampilan menulis eksposisi melalui model pembelajaran memberi dan menerima. Model pembelajaran ini dapat digunakan dalam pembelajaran menulis eksposisi.
7 A. Kajian Pustaka
1. Penelitian Relevan
Penelitian ini berjudul peningkatan keterampilan menulis eksposisi melalui model pembelajaran memberi dan menerima pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 ALLa Kabupaten Enrekang. Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian Sri Jantiningsih (2011) dengan judul “Keefektifan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Square dalam Meningkatkan Keterampilan Menulis Eksposisi Siswa Kelas X SMA Negeri Godean”.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Square lebih efektif dibandingkan tanpa menggunakan tipe Think-Pair-Square. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil perhitungan uji-t yang dilakukan peneliti, yaitu skor terhitung 8,063 pada taraf signifikansi 5% dengan db 54 dan p sebesar 0,000. Skor p lebih kecil dari taraf signifikansi 5% atau 0,05 (0,000<0,05). Penelitian ini relevan karena sama-sama membahas tentang keterampilan menulis eksposisi. Perbedaannya terletak pada metode penelitian dan penggunaan variabel bebasnya. Penelitian Sri Jantiningsih menggunakan metode penelitian eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Square untuk menguji keterampilan menulis eksposisi, sedangkan penelitian ini menggunakan metode penelitian
8
tindakan kelas dengan menggunakan metode pembelajaran memberi dan menerima dalam upaya meningkatkan keterampilan menulis eksposisi.
Penelitian ini juga relevan dengan penelitian yang dilakukan Ratna Anugraheni (2012) yang berjudul “Peningkatan Keterampilan Menulis Eksposisi dengan Media Kliping pada Siswa Kelas XD SMA Pangudi Luhur Sedayu, Bantul”. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa dengan adanya media kliping proses pembelajaran keterampilan menulis eksposisi dapat lebih meningkat dibandingkan tanpa menggunakan media kliping.
Penelitian ini relevan karena sama-sama membahas tentang keterampilan menulis eksposisi dengan metode penelitian tindakan kelas. Perbedaannya terletak pada penggunaan variabel bebasnya. Penelitian Ratna Anugraheni menggunakan media kliping dalam meningkatkan keterampilan menulis eksposisi, sedangkan penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas dengan menggunakan metode pembelajaran memberi dan menerima dalam upaya meningkatkan keterampilan menulis eksposisi.
Penelitian ini juga relevan dengan penelitian yang dilakukan Septiaga Maulana Pradomo pada tahun 2016 yang berjudul “Peningkatan Keterampilan Menulis Eksposisi Dengan Strategi Pembelajaran Information Charts Pada Siswa Kelas XI Rekayasa Perangkat Lunak (Rpl) Csmk Negeri Tembarak Kabupaten Temanggung ”. Penelitian tersebut Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan strategi information charts dapat meningkatkan keterampilan menulis
9
eksposisi dari segi proses maupun produk pada siswa Kelas XI RPL C SMK Negeri Tembarak Kabupaten Temanggung.
Hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Alfin Sugiarto yang berjudul “Keefektifan Teknik Think- Pair-Share (Berpikir-Berpasangan-Berbagi) dalam Pembelajaran Menulis Eksposisi Siswa Kelas X SMA N 1 Piyungan Bantul.” Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan Teknik Think-Pair-Share (Berpikir- Berpasangan-Berbagi) efektif digunakan dalam meningkatkan keterampilan menulis eksposisi. Relevan dengan penelitian ini karena sama-sama menggunakan teknik berbagi dan menggunakan pasangan atau kelompok.
Hasil penelitian yang selanjutnya adalah penelitian yang diakukan oleh Fatiha Fajri yang berjudul “Model Pembelajaan Take and Give terhadap Pembelajaran Bahasa Jepang (Penelitian Eksperimental terhadap Siswa Kelas X SMA Negeri 10 Bandung Tahun Ajaran 2012/2013).” Hasil peneilitan ini menunjukkan bahwa model pembelajaran Take and Give terbukti efektif terhadap pembelajaran bahasa Jepang. Relevan dengan penelitian ini karena sama-sama menggunakan model pembelajaran memberi dan menerima
Penelitian ini relevan karena sama-sama membahas tentang keterampilan menulis eksposisi dengan metode penelitian tindakan kelas Dengan menggunkan model. Perbedaannya terletak pada penggunaan variabel bebasnya. Penelitian Ratna Anugraheni menggunakan media kliping dalam meningkatkan keterampilan menulis eksposisi, sedangkan penelitian ini menggunakan metode penelitian
10
tindakan kelas dengan menggunakan metode pembelajaran memberi dan menerima dalam upaya meningkatkan keterampilan menulis eksposisi.
Peningkatan kualitas proses dapat dilihat dari peran serta aktivitas guru maupun siswa yang mengalami peningkatan secara signifikan dalam pelaksanaan pembelajaran. Hal ini ditandai dengan munculnya respons positif melalui sikap kerjasama dan antusias yang ditunjukkan siswa serta kondisi pembelajaran yang berlangsung dengan kondusif. Peningkatan proses tersebut pada akhirnya berdampak positif pada peningkatan produk. Peningkatan secara produk dapat dilihat dari peningkatan nilai akhir tulisan paragraf eksposisi siswa mulai dari tahap pratindakan sampai tahap siklus II. Perolehan rata-rata nilai akhir paragraf eksposisi siswa pada saat tahap pratindakan, yaitu 63,77. Pada siklus I, rata-rata nilai akhir paragraf eksposisi siswa tersebut, mengalami peningkatan menjadi 73,10. Kemudian, pada siklus II rata-rata nilai akhir paragraf eksposisi siswa kembali mengalami peningkatan menjadi 81,99. Jumlah peningkatan ratarata nilai ahkir paragraf eksposisi dari pratindakan sampai siklus II sebesar 18,21..
Penelitian ini relevan karena sama-sama membahas tentang keterampilan menulis eksposisi dengan metode penelitian tindakan kelas. Perbedaannya terletak pada penggunaan variabel bebasnya. Penelitian Septiaga Maulana Pradomo mengunakan Strategi Pembelajaran Information Charts dalam meningkatkan keterampilan menulis eksposisi, sedangkan penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas dengan menggunakan metode pembelajaran memberi dan menerima dalam upaya meningkatkan keterampilan menulis eksposisi. Dari
beberapa penelitian relevan yang telah diungkapkan di atas, dapat ditegaskan
11
bahwa penelitian ini belum pernah dilakukan. Dengan demikian, peneliti berkeinginan untuk melaksanakan penelitian tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan meningkatkan keterampilan menulis paragraf eksposisi pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 ALLa, Kabupaten Enrekang dengan menerapkan metode pembelajaran memberi dan menerima dalam upaya meningkatkan keterampilan menulis eksposisi.
2. Landasan teori
Teori yang akan digunakan sebagai landasan dalam penelitian ini, antara lain teori mengenai keterampilan menulis, paragraf eksposisi, dan strategi pembelajaran information charts. Penjabaran teori yang lebih rinci sebagai berikut.
a. Keterampilan Menulis
Menulis merupakan salah satu dari empat jenis keterampilan yang harus dikuasai ketika seseorang belajar bahasa. Menulis merupakan satu cara mengungkapkan pikiran atau perasaan melalui bahasa tulis. Menurut Tarigan (2008: 3) menulis merupakan keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, dengan kata lain tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menurut Suyanto (2009: 117) menulis merupakan upaya meluangkan segala informasi, baik dalam bentuk pikiran, gagasan, perasaan, atau pun pengalaman ke dalam sebuah tulisan. Menulis adalah sebuah kemampuan, kemahiran, dan kepiawaian seseorang dalam menyampaikan gagasannya ke dalam
12
sebuah wacana agar dapat diterima oleh pembaca yang heterogen baik secara intelektual maupun sosial (Alwasilah, 2005: 43).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan, menulis merupakan suatu upaya untuk berkomunikasi secara tidak langsung (tidak tatap muka) dengan cara menuangkan buah pikiran, gagasan, ide, atau perasaan 10 melalui media tulisan atau sebuah karangan. Melalui sebuah tulisan inilah, seorang penulis menuangkan gagasannya dengan tujuan agar pembaca memahami maksud informasi apa yang ingin disampaikan penulis. Kegiatan menulis memiliki manfaat yang sangat banyak. Tarigan (2008: 22) mengungkapkan bahwa menulis memberikan manfaat sebagai berikut.
1. Menulis dapat menolong kita berpikir secara kritis.
2. Menulis juga memudahkan kita dalam merasakan dan menikmati hubungan serta memperdalam daya tanggap atau persepsi kita dalam menghadapi masalah-masalah yang dihadapi.
3. Tulisan dapat membantu kita untuk mengungkapkan/menjelaskan pikiranpikiran atau gagasan yang ada dalam benak pikiran kita.
Nursisto (1999: 6) mengungkapkan beberapa manfaat dari kegiatan menulis, yaitu:
1. menulis adalah sarana untuk mengungkapkan diri, 2. sarana untuk memahami sesuatu,
3. sarana untuk mengembangkan keputusan pribadi, kebanggaan, dan rasa harga diri,
13
4. sarana untuk meningkatkan kesadaran dan penyerapan terhadap lingkungan sekeliling,
5. sarana untuk melibatkan diri dengan penuh semangat, dan
6. sarana untuk mengembangkan pemahaman dan kemampuan mempergunakanbahasa.
Berdasarkan beberapa penjabaran tersebut, dapat disimpulkan bahwa manfaat menulis adalah sebagai sarana untuk berkomunikasi, mengungkapkan gagasan atau ekspresi diri secara tidak langsung dalam bentuk tulisan, dan memacu kita agar dapat berpikir secara kritis. Menulis berfungsi sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam menggunakan bahasa. Selain itu, menulis juga berfungsi sebagai sarana untuk mengembangkan dan meningkatkan pola pikir agar lebih sistematis.
b. Eksposisi
1) Definisi Eksposisi
Eksposisi adalah salah satu jenis teks atau jenis paragraf yang dipelajari dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Menurut Keraf (1995: 7) eksposisi adalah suatu bentuk wacana atau tulisan yang berusaha menerangkan atau menguraika objek (pokok pikiran) sehingga memperluas pandangan atau pengetahuan pembaca. Eksposisi adalah bentuk wacana yang tujuan utamanya memberitahukan dan memberi informasi mengenai suatu objek tertentu. Wacana jenis ini sama sekali tidak bermaksud mempengaruhi atau mengubah sikap dan pendapat pembacanya.
14
Wacana ini digunakan untuk menjelaskan pengertian kebudayaan, komunikasi, perkembangan teknologi, dan pertumbuhan ekonomi kepada pembaca. Eksposisi juga menjadi alat untuk menjelaskan bagaimana hubungan objek satu dengan objek yang lain, atau dapat digunakan penulis untuk menganalisis struktur suatu barang, menganalisis karakter seorang individu, suatu proses atau situasi. Kuncoro (2009: 72), menyatakan bahwa eksposisi merupakan 12 salah satu bentuk tulisan yang tujuan utamanya mengklarifikasi, menjelaskan, mendidik, atau mengevaluasi sebuah persoalan. Penulis memiliki tujuan untuk memberikan informasi atau memberikan petunjuk kepada pembaca.
Ada beberapa perbedaan yang mendasar antara paragraf eksposisi dengan jenis paragraf yang lain, seperti paragraf narasi. Berikut adalah perbedaan jenis paragraf eksposisi dengan paragraf narasi.
Eksosisi Narasi
Tulisan yang tujuan utamanya mengklarifikasi, menjelaskan, mendidik, atau mengevaluasi sebuah persoalan.
Dikembangkan secara umum atau bebas
Terdiri dari tiga bagian yaitu, tesis (gagasan utama), pengenbangan tesis/ argument, dan kesimpulan atau penutup
Tulisan yang bertujuan untuk menceritakan suatu pokok permasalahan, pokok persoalan, atau rangkaian peristiwa yang berdasarkan urutan waktu. (AbdulMunif. 2007:5)
Dikembangkan secara kronologis atau urutan kejadian
Terdiri dari empat bagian yaitu, orientation (pengenalan peristiwa, tokoh, tempat), complication (terjadi konflik), resolution (penyelesaian konflik), dan coda (pemaparan nilai moral yang dapat diambil atau kesimpulan).
15
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa eksposisi merupakan suatu paragraf yang tujuan utamanya menginformasikan, mengklarifikasi, atau menjelaskan, mendidik, atau mengevaluasi sebuah persoalan agar dapat diketahui orang lain (pembaca) sehingga dapat memperluas pandangan atau pengetahuan pembaca. Paragraf eksposisi berisi buah pikiran, ide, gagasan, perasaan, atau pendapat penulis untuk diketahui orang lain atau pembaca.
2. Jenis Metode yang Digunakan dalam Menulis Eksposisi
Menurut Keraf (1995: 24) ada enam jenis metode yang digunakan dalam karangan eksposisi. Keenam jenis metode tersebut adalah metode 1) identifikasi, 2) analisis, 3) klasifikasi, 4) definisi, 5) perbandingan, dan 6) ilustrasi atau eksemplifikasi. Berikut ini adalah paparan dari metode-metode tersebut.
1. Metode identifikasi merupakan sebuah metode yang berusaha menetapkan atau menyebutkan ciri-ciri atau unsur-unsur pengenal suatu objek, sehingga para pembaca atau pendengar lebih mengenal objek yang dijelaskan (Keraf, 1995: 30). Istilah identifikasi hanya digunakan untuk menyebut metode pendahuluan untuk mencatat ciri-ciri (data-data) sebagai tanda pengenal sebuah objek (Keraf, 1995: 32). Karangan eksposisi dengan metode identifikasi sangat bergantung pada kemampuan penulis mengidentifikasi dan mengemukakan semua aspek atau ciri yang dianggap penting.
2. Metode analisis adalah suatu cara membagi-bagi suatu objek ke dalam komponen-komponennya. Analisis merupakan suatu cara yang umum dan efektif untuk mengungkapkan penalaran seseorang. Analisis sebagai suatu
16
metode penyajian dalam tulisan teknis terdiri dari proses memeriksa dan mengamati suatu hal untuk membeda-bedakan bagian-bagian atau unsurunsurnya, baik secara terpisah maupun secara bersama-sama, dengan menunjukkkan relasinya satu sama lain dengan menunjang kesatuannya (Keraf, 1995: 46).
3. Klasifikasi merupakan suatu proses yang bersifat alamiah untuk menampilkan pengelompokan-pengelompokan sesuai dengan pengalaman manusia. Klasifikasi dapat juga dilihat sebagai suatu metode untuk menetapkan barangbarang dalam suatu sistem kelas sehingga dapat dilihat hubungannya ke samping, ke atas, dan ke bawah. Hal yang penting adalah membedakan macam-macam ciri itu, lalu memilih ciri yang sesuai dengan tujuan. Tujuan klasifikasi dalam eksposisi adalah menunjang maksud pengarang, yaitu meningkatkan pengertian pembaca mengenai suatu objek yang digarap dalam sebuah tulisan (Keraf, 1995: 107). Prinsi-prinsip klasifikasi, yaitu 1) harus ditetapkan satu prinsip yang jelas, adanya ciri yang menonjol, 2) klasifikasi harus logis dan konsisten, 3) klasifikasi harus bersifat komplit, dan 4) klasifikasi yang bersifat menyeluruh, dianjurkan untuk mempergunakan bagian-bagian yang selektif.
4. Metode definisi dapat dibagi menjadi definisi nominal, definisi logis (atau definisi formal; definisi riil), dan definisi luas. Definisi adalah suatu proses untuk memberi pengertian pada sebuah kata, dengan menyampaikan seperangkat ciri pada kata tadi, supaya kata itu dapat dibedakan dari kata- kata lainnya, dan dengan demikian dapat ditempatkan dengan tepat dan
17
sesuai diantara kata-kata lainnya dalam sebuah konteks (Keraf, 1995: 116- 117). Definisi nominal dan formal biasanya dipisahkan oleh kata adalah (Keraf, 1995: 120) sedangkan definisi luas biasanya berbentuk alinea atau serangkaian alinea, dapat pula mengambil bentuk sebuah bab, malahan sebuah karangan yang utuh (Keraf, 1995: 149).
5. Metode perbandingan adalah suatu metode atau cara untuk menunjukkan kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan antara dua objek atau lebih dengan mempergunakan dasar-dasar tertentu. Eksposisi menggunakan metode perbandingan berusaha memperkenalkan suatu objek yang digarap melalui perbandingan dengan objek lain yang setelah dikenal.
Perbandingan hanya dapat dilakukan dengan berhasil kalau pengarang tersebut terlebih dahulu mengadakan identifikasi aspek-aspek yang akan dijadikan landasan perbandingan (Keraf, 1995: 166).
6. Metode ilustrasi atau eksemplifikasi adalah suatu metode untuk mengadakan gambaran atau penjelasan yang khusus dan konkrit atas suatu prinsip umum atau suatu gagasan umum. Metode ini tidak menampilkan hal-hal umum secara abstrak atau kabur, tetapi menunjukan contoh-contoh yang nyata dan konkrit. Misalnya untuk menjelaskan pengertian tentang pohon, pengarang mengajukan contoh pohon beringin (Keraf, 1995: 183).
3. Struktur Eksposisi
Keraf (1995: 9-10) menjelaskan bahwa terdapat struktur eksposisi, yaitu 1) pendahuluan, 2) tubuh eksposisi, dan 3) kesimpulan. Menurut Droga (2005: 144) struktur eksposisi terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama adalah background-
18
provides dan statement of position, bagian kedua adalah series of arguments, dan
bagian ketiga adalah reinforcement of position. Selanjutnya, Knapp dan Megan Watkins juga mengungkapkan hal yang hampir sama dengan Droga. Knapp dan Megan Watkins (2005: 192) menyatakan bahwa struktur eksposisi pada dasarnya ada tiga, yaitu thesis, argument, dan conclusion. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat diambil sebuah kesimpulan, bahwa struktur paragraf eksposisi adalah tesis, pengembangan tesis/argumen, dan kesimpulan (reorientation). Bagian tesis berisi ide atau inti informasi yang akan dipaparkan atau dijelaskan. Bagian pengembangan tesis/argumen berisi uraian mengenai ide pokok. Bagian kesimpulan (reorientation) berisi kesimpulan berdasarkan informasi yang diungkapkan pada tesis (dapat berupa penegasan kembali).
4. Penilaian Keterampilan Menulis Eksposisi
Kegiatan belajar di sekolah tidak dapat dipisahkan dari kegiatan evaluasi atau penilaian. Penilaian menurut Nurgiyantoro (2012: 6) diartikan sebagai suatu proses untuk mengukur kadar pencapaian tujuan. Penilaian adalah proses memperoleh dan mempergunakan informasi untuk membuat pertimbangan yang dipergunakan sebagai dasar pengambilan informasi.
Tuchman (via Nurgiyantoro, 2012: 6) juga mengartikan penilaian sebagai suatu proses untuk mengetahui (menguji) apakah suatu kegiatan, proses kegiatan, keluaran suatu program telah sesuai dengan tujuan atau kriteria yang telah ditentukan. Sementara itu, Jihad (2008: 55) menyampaikan bahwa penilaian adalah proses memberikan atau menentukan terhadap hasil belajar tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu. Evaluasi adalah kegiatan untuk
19
mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan (Arikunto, 2010: 2). Dengan demikian, dapat disimpulan bahwa penilaian adalah proses untuk mengetahui keefektifan suatu program atau tindakan yang diberikan kepada siswa.
Luaran dari pembelajaran keterampilan menulis adalah berupa tulisan atau lazim disebut dengan karangan. Keterampilan menulis pada umumnya memiliki lima aspek pokok dalam penilaian. Kelima aspek itu adalah 1) isi karangan, 2) organisasi tulisan, 3) kosakata, 4) penggunaan bahasa, dan 5) aspek mekanik.
Dalam penelitian ini, penilaian keterampilan menulis merujuk pada model penilaian yang digunakan pada program ESL (English as a Second Language) yang sudah dimodifikasi oleh Hartfield (via Nurgiyantoro, 2012: 441). Pedoman penilaian tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.
B. Kerangka Pikir
Mata pelajaran bahasa indonesia adalah mata pelajaran di sekolah yang mempelajari tentang penggunaan Bahasa baik yang sesuai dengan kaidahnya.
Apalagi dalam proses pembelajaran aktivitas peserta didik hanya terbatas pada menyimak, diberi pertanyaan, kemudian menjawab pertanyaan. Hal ini yang menyebabkan pembelajaran terasa monoton dan peserta didik kurang antusias dalam belajar, akibatnya hasil belajar pun menjadi rendah. Dalam proses pembelajaran peserta didik kurang memiliki minat dalam belajar maka mengakibatkan hasil belajar yang diperoleh peserta didik rendah, maka disini peran guru haruslah membangkitkan minat belajar peserta didik tersebut. Salah
20
satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan menggunakan model experiential learning.
Dengan model experiential learning ini diharapkan mampu menciptakan proses belajar yang lebih bermakna, dimana peserta didik mengalami apa yang mereka pelajari. Melalui model ini peserta didik tidak hanya belajar tentang konsep suatu materi saja, dikarenakan peserta didik dilibatkan secara langsung dalam proses pembelajaran untuk dijadikan sebagai pengalaman dalam dirinya.
Model pembelajaran experiential learning merupakan model pembelajaran yang diharapkan dapat menciptakan proses belajar yang lebih bermakna, dimana peserta didik mengalami apa yang mereka pelajari. Melalui model ini, peserta didik belajar tidak hanya belajar tentang konsep materi belaka, hal ini dikarenakan peserta didik dilibatkan secara langsung dalam proses pembelajaran untuk dijadikan sebagai suatu pengalaman. Hasil dari proses pembelajaran experiential learning tidak hanya menekankan pada aspek kognitif saja, juga tidak seperti teori behavior yang menghilangkan peran pengalaman subjektif dalam proses belajar.
Pengetahuan yang tercipta dari model ini merupakan perpaduan antara memahami dan mentransformasi pengalaman.
Berdasarkan teori yang mendasari pelaksanaan penelitian tentang peningkatan pembelajaran menulis paragraf menggunakan metode problem solving. Pelaksanaannya menggunakan beberapa tahap yaitu:
21 1. Tahap persiapan
Tahap persiapan ini meliputi: a) menentukan subyek penelitian, b) menentukan banyaknya siklus, c) membuat alat pengumpul data
2. Tahap pelaksanaan
a. Melaksanakan siklus I berdasarkan rencana tindakan 1
b. Melakukan analisis terhadap informasi pada instrumen penelitian pada siklus I, serta merefleksikan kekurangan dan kelebihan dalam pembelajaran pada siklus I.
c. Merencanakan tindakan 2 untuk memperbaiki pada kekurangan siklus I.
d. Melaksanakan siklus II berdasarkan berdasarkan rencana tindakan 2 e. Melakukan analisis terhadap informasi pada instrumen penelitian pada
siklus II, serta merefleksi kekurangan dan kelebihan dalam pembelajaran siklus II.
f. Data-data yang diperoleh dalam setiap siklus tindakan diolah untuk mengetahui sejauh mana peningkatan kemampuan peserta didik dalam menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan model pembelajaran Experiental Learning.
3. Tahap evaluasi dan refleksi
Evaluasi:
Menganalisis hasil belajar peserta didik untuk mengetahui keberhasilan penerapan model pembelajaran experiental learning yang telah dilaksanakan pada setiap siklus.
22
Kerangka pikir dalam penelitian ini dapat dilihat dari bagan sebagai berikut.
Gambar. 2 Bagan kerangka pikir
sa Keterampilan
Menulis
Kondisi awal
Hasil pembelajaran Teks Eksposisi meningkat
Tindakan Model memberi dan menerima
1. Guru
a. Cara mengajar guru monoton
b. Kurangnya perhatian guru terhadap siswa yang kurang tanggap
2. Siswa
a. Kurangnya perhatian b. Kurangnya pemahaman
Kondisi akhir
23 C. Hipotesis
Sesuai dengan uraian pada kajian teori diatas , hipotesis tindakan penelitian ini adalah model pembelajaran memberi dan menerima diterapkan pada pembelajaran bahasa Indonesia untuk meningkatkan keterampilan menulis teks eksposisi pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Alla Kabupaten Enrekang.
24 A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan peneliti adalah penelitian tindakan kelas.
Penelitian tindakan kelas atau sering juga disebut classroom action research merupakan penelitian tindakan kelas yang kegiatanya lebih lebih diarakan pada pemecahan masalah pembelajaran melalui penerapan langsung di kelas. Penelitian tindakan kelas ini bersifat partisipatif dan reflektif.
Penelitian tindakan kelas adalah bagaimana seseorang guru dapat mengorganisasikan kondisi praktek pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Mereka dapat mencobakan satu gagasan perbaikan dalam praktek pembelajaran mereka, dan melihat pengaruh nyata dari upaya itu.
Secara garis besar prosedur penelitian tindakan mencakup 4 daur : perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observasing), dan refleksi (reflecting).
Dari penelitian ini diharapkan akan berdampak langsung dalam bentuk perbaikan dan peningkatan profesionalisme guru dalam mengelola kelas. Selain itu guru dapat memperoleh teori yang digunakan sendiri bukan diberikan pihak luar.
B. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri Alla Kabupaten Enrekang yang berjumlah 33 siswa. Terdiri atas 17 laki- laki dan 16perempuan.
C. Setting Penelitian
Tempat penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 4 Alla Kabupaten Enrekang.
Kelas yang dilakukan tempat penelitian adalah salah satu kelas yang memiliki kendala dalam keterampilan menulis eksposisi. Penelitian ini dilaksanakan oleh guru kelas sebagai subjek yang melaksanakan tindakan pembelajaran, sedangkan yang melakukan pengamatan adalah mahasiswa peneliti. Waktu perencanaan penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2019 karena bertepatan dengan semester ganjil, dimana kompetensi inti menulis eksposisi dilaksanakan.
D. Faktor Yang Diteliti
1. Faktor proses yang akan diselidiki adalah keterlaksanaan proses belajar mengajar yang antara lain kehadiran siswa, perubahan sikap siswa dan keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan kemampuan menulis teks eksposisi melalui model Memberi dan Menerima.
2. Faktor output, yang akan diselidiki adalah hasil belajar siswa dalam menulis teks eksposisi yang diperoleh dari tes akhir pada setiap siklus setelah diterapkan model Memberi dan Menerima.
E. Prosedur Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini direncanakan dalam bentuk bersiklus. Siklus I berlangsung dalam dua kali pertemuan dan siklus selanjutnya berlangsung dua kali pertemuan. Siklus I dan siklus ke-n meliputi 4 tahap yakni: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi (pengamatan), serta refleksi.
Siklus dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat digambarkan sebagai berikut:
F.
G.
Gambaran Umum Siklus I
Pelaksanaan tindakan I Perencanaan
tindakan I Siklus I
Refleksi I Pengamatan/
Evaluasi
Siklus II Perencanaan
tindakan II
Pelaksanaan tindakan II
Pengamatan/
Evaluasi Refleksi II
Siklus N ?
SIKLUS 1
Pelaksanaan untuk siklus I berlangsung 2 kali pertemuan, satu kali untuk pelaksanaan tindakan menemukan gagasan utama pada teks bacaan, satu kali pertemuan untuk pelaksanaan pembelajaran menulis teks eksposisi sebagai tes akhir dalam siklus I ini.
1) Perencanaan
Pada tahap ini dilaksanakan tes menulis eksposisi untuk mengetahui kemampuan awal siswa, yang dilanjudkan dengan membagi angket kepada siswa. Hal ini dilakukan untuk mengetahui proses, kendala, dan tanggapan terkait pembelajaran menulis yang biasa dilakukan. Peneliti dan guru kolabolator melakukan diskusi untuk mengidentifikasi permasalahan yang muncul dalam pembelajaran keterampilan menulis eksposisi.
Setelah ditemukan solusi untuk mengatasi kendala tersebut, selanjudnya menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) keterampilan menulis eksposisi. Peneliti dan guru kolabolator juga menyiapkan media pembelajaran dan menyiapkan instrumen berupa tes,angket, lembar pengamatan, pedoman wawancara, alat dokumentasi, dan catatan lapangan untuk mengamati jalannya pembelajaran.
2) Pelaksanaan
Implementasi tindakan yang akan diterapkan pada penelitian tindakan kelas ini adalah dengan penerapan model pembelajaran memberi dan menerima dalam pembelajaran keterampilan menulis eksposisi. Langkah-
langkah pembelajaran keterampilan menulis eksposisi dengan model memberi dan menerima dapat dideskripsikan sebagai berikut.
a. Siswa melakukan tanya jawab dengan guru terkait menulis teks eksposisi.
b. Siswa mengamati contoh teks eksposisi yang telah diberikan oleh guru.
c. Siswa menerima kartu bergambar mengenai suatu tema yang dibagikan secara acak oleh guru.
d. Siswa membentuk kelompok sesuai dengan pemerolehan kartu yang sama untuk saling memberikan informasi (take).
e. Setiap kelompok mengembangkan kerangka tulisan menjadi teks eksposisi.
f. Salah satu anggota dari masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi dan kelompok lain harus memperhatikan untuk menerima informasi yang disampaikan oleh kelompok yang maju (give).
g. Setelah semua kelompok selesai presentasi, guru menunjukkan seluruh kartu bergambar kepada siswa.
h. Selanjutnya, setiap siswa menulis teks eksposisi berdasarkan kartu bergambar yang ditunjukkan oleh guru dan hasil presentasi dari perwakilan kelompok.
i. Beberapa siswa mempresentasikan hasil tulisan eksposisi mereka ke depan kelas.
j. Guru menutup dan merefleksi kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung.
Refleksi ini bertujuan agar siswa dapat mengevaluasi kegiatan pembelajaran.
3) Pengamatan
Pengamatan dilakuan terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar pengamatan yang telah disiapkan pada tahap pelaksanaan. Mahasiswa peneliti mengamati dengan seksama suasana pembelajaran, reaksi siswa dan peran guru dalam pelaksanaan menulis eksposisi. Aktifitas siswa menjadi fokus utama pengamatan, baik peran serta dalam kelompok maupun setelah terlepas dari kelompoknya. Berikut hal-hal yang dilakukan mahasiswa peneliti saat proses pembelajaran berlangsung.
a. Mengamati segala sesuatu yang dilakukan siswa di dalam kelas yang berkaitan dengan kegiatan menulis eksposisi.
b. Mengamati guru, bgaimana guru memberi pengajaran,bimbingan, dan motivasi kepada siswa dalam melakukan pembelajaran keterampilan menulis eksposisi dengan menggunakan model pembelajaran memberi dan menerima.
4) Refleksi
Pada tahap ini dilakukan refleksi atau menelaah kembali penelitian ini berdasarkan hasil observasi dan evaluasi selama proses pembelajaran berlangsung. Melibatkan siswa dalam penelitian dengan meminta tanggapan mereka mengenai proses pelaksanaan pembelajaran. Mendiskusikan hasil refleksi
yang telah dibuat bersama dengan observer yakni guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Secara terperinci akan dijelaskan berikut ini.
a. Hasil yang didapat dari hasil observasi dan analisis akan direfleksikan dengan melihat data observasi dan tes akhir.
b. Perlakuan refleksi yang dimaksud adalah pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan pencapaian sementara.
c. Mendiskusikan hasil refleksi yang telah dibuat bersama dengan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia.
d. Hasil analisis siklus I dijadikan acuan peneliti untuk menentukan tindakan pada siklus berikutnya sesuai dengan yang diharapkan dan hendaknya lebih baik dari siklus sebelumnya dengan kegiatan perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan dapat teratasi, Hopkins (dalam Arikunto dkk., 2011: 80)
1. Gambaran Umum Siklus II
Langkah-langkah yang dilakukan pada siklus II relatif sama dengan perencanaan dan pelaksanaan dalam siklus I dengan mengadakan beberapa perbaikan atau penambahan sesuai dengan kenyataan yang ditemukan di lapangan. Siklus II merupakan kelanjutan siklus I, apabila siklus I masih belum sesuai dengan harapan yang ingin dicapai.
Gambaran kegiatan pada siklus berikutnya dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Tahap Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan pada siklus n adalah melaksanakan tindak lanjut dari siklus I. Hal-hal yang dilakukan sebagai berikut.
1) Mengidentifikasi masalah-masalah yang timbul pada saat menulis teks eksposisi.
2) Dari hasil identifikasi tersebut, peneliti merancang tindakan untuk mengatasi masalah yang dialami siswa.
b. Tahap Pelaksanaan (Tindakan)
Tindakan yang dilakukan pada tahap ini sesuai dengan pengalaman berdasarkan hasil refleksi pada siklus I. Adapun perbaikan atau penambahan yang dilakukan pada siklus selanjutnya untuk mengatasi masalah yang timbul dalam menulis teks eksposisi berdasarkan hasil identifikasi masalah.
c. Tahap Pengamatan / Evaluasi
Pada siklus selanjutnya, peneliti tetap mengamati kegiatan dan tingkah laku siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Pengamatan dilakukan untuk peningkatan hasil tes dan perilaku siswa. Sasaran yang diamati meliputi keaktifan dalam mengerjakan tugas, kerja sama, keaktifan dan keseriusan siswa dalam mengikuti pembelajaran, dan sikap atau tanggapan siswa terhadap teknik pembelajaran.
d. Tahap Refleksi
Refleksi dilakukan pada akhir setiap siklus. Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi dikumpulkan serta dianalisis. Dari hasil yang didapatkan, peneliti dapat membuat kesimpulan tentang hasil yang dicapai dalam peningkatan keterampilan menulis teks Eksposisi melalui model pembelajaran Memberi dan Menerima. Apabila hasil pada siklus II
masih belum maksimal, maka sebaiknya penelitian di hentikan dan menganti model pembelajaran.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian tindakan kelas ini diambil dengan beberapa teknik diantaranya dengan menggunakan observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi.
1. Observasi
Observasi adalah suatu cara pengumpulan data dengan pengamatan secara langsung. Teknik observasi digunakan untuk mengetahui perilaku siswa pada saat proses pembelajaran. Observasi dilakukan oleh peneliti dan guru kolaborator.
Observasi dilakukan dengan cara pengamatan, dokumentasi foto, dan pencatatan mengenai pelaksanaan pembelajaran di kelas yang dideskripsikan melalui lembar catatan lapangan agar segala sesuatu yang terjadi dapat terangkum.
2. Wawancara
Wawancara dilakukan dengan guru dan siswa di luar jam pelajaran.
Wawancara dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tanggapan guru dan siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran keterampilan menulis eksposisi.
Wawancara dengan guru dan siswa dilakukan untuk mengetahui proses pembelajaran yang telah dilakukan.
3. Tes
Tes dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menulis teks eksposisi, baik sebelum maupun sesudah pelaksanaan tindakan. Tes menulis diberikan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat
kemampuan siswa dalam pembelajaran menulis eksposisi.
4. Dokumentasi
Dokumentasi berupa foto-foto kegiatan pelaksanaan tindakan kelas dari awal sampai akhir pelaksanaan tindakan. Dokumentasi digunakan untuk merekam peristiwa penting dalam aspek kegiatan kelas.
E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian data adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian berupa Angket, Pedoman penilaian dan catatan lapangan. Penelitian menggunakan pedoman penilaian untuk menentukan tingkat keberhasilan Keterampilan menulis Eksposisi.
1. Angket
Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari siswa. Angket meliputi angket pratindakan dan angket pascatindakan. Angket digunakan untuk mengetahui sikap, tanggapan, perhatian, keyakinan siswa, kerjasama, serta partisipasi siswa dalam pembelajaran menulis eksposisi.
2. Pedoman Penilaian Keterampilan Menulis
Instrumen ini berupa lembar penilaian yang digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam pembelajaran keterampilan menulis eksposisi.
Tabel 6: Rubrik Penilaian Tugas Menulis Teks Eksposisi
No Nama Aspek Penilaian Skor
Isi Struktur Teks
Kosa Kata
Kalimat Mekanik
Tabel: Kriteria Penilaian Siswa dalam Menulis Teks Eksposisi
Skor Kriteria
Isi 27-30 Sangat Baik—Sempurna: menguasai topik tulisan;
substansif; pengembagan teks eksposisi lengkap;
relevan
dengan topik yang dibahas
22-26 Cukup-Baik: cukup menguasai permasalahan;
cukup
memadai; pengembangan terbatas; relevan dengan topik
tetapi kurang terperinci
17-21 Sedang-Cukup: penguasaan permasalahan terbatas;
substansi kurang; pengembangan topik tidak memadai
13-16 Sangat-Kurang: tidak menguasai permasalahan;
tidak ada
substansi; tidak relevan; atau tidak layak dinilai Organisasi 18-20 Sangat Baik-Sempurna: ekspresi lancar; gagasan
diungkapkan dengan jelas; tertata dengan baik;
urutan logis;
kohesif
14-17 Cukup-Baik: kurang lancar; kurang terorganisasi tetapi ide
utama ternyatakan; pendukung terbatas; logis tetapi tidak
lengkap
10-13 Sedang-Cukup: tidak lancar; gagasan kacau atau tidak
terkait; urutan dan pengembangan kurang logis 7-9 Sangat-Kurang: tidak komunikatif; tidak
terorganisasi; atau tidak layak dinilai
Kosa Kata 18-20 Sangat Baik-Sempurna: penguasaan kata canggih;
pilihan
kata dan ungkapan efektif; menguasai pembentukan kata;
penggunaan register tepat
14-17 Cukup-Baik: penguasaan kata memadai; pilihan, bentuk,
dan penggunaan kata/ungkapan kadang-kadang salah, tetapi
tidak mengganggu
10-13 Sedang-Cukup: penguasaan kata terbatas; sering terjadi kesalahan bentuk, pilihan, dan penggunaan kosakata/ungkapan; makna membingungkan atau tidak jelas
7-9 Sangat-Kurang: pengetahuan tentang kosakata, ungkapan,
dan pembentukan kata rendah; tidak layak di nilai Penggunaan
Bahasa
18-20 Sangat Baik-Sempurna: konstruksi kompleks dan efektif;
terdapat hanya sedikit kesalahan penggunaan bahasa (urutan/fungsi kata, artikel, pronomina, preposisi) 14-17 Cukup-Baik: konstruksi sederhana tetapi efektif;
terdapat
kesalahan kecil pada konstruksi kompleks; terjadi sejumlah
kesalahan penggunaan bahasa (fungsi/urutan kata, artikel,
pronomina, preposisi), tetapi makna cukup jelas 10-13 Sedang-Cukup: terjadi bayak kesalahan dalam
konstruksi
kalimat tunggal/kompleks (sering terjadi kesalahan pada
kalimat negasi, urutan/fungsi kata, artikel, pronomina,
kalimat fragmen, pelesapan; makna membingungkan atau
kabur
7-9 Sangat-Kkurang: tidak menguasai tata kalimat;
terdapat
banyak kesalahan; tidak komunikatif; tidak layak dinilai
Mekanik 10 Sangat Baik-Sempurna: menguasai aturan penulisan;
terdapat sedikit kesalahan ejaan, tanda baca, penggunaan
huruf kapital, dan penataan paragraf
6 Cukup-Baik: kadang-kadang terjadi kesalahan ejaan, tanda
baca, penggunaan huruf kapital, dan penataan paragraf, tetapi
tidak mengaburkan makna
4 Sedang-Cukup: sering terjadi kesalahan ejaan, tanda baca,
penggunaan huruf kapital, dan penataan paragraf;
tulisan
tangan tidak jelas; makna membingungkan atau kabur
5 Sangat-Kurang: tidak menguasai aturan penulisan;
terdapat
banyak kesalahan ejaan, tanda baca, penggunaan huruf
kapital, dan penataan paragraf; tulisan tidak terbaca;
tidak layak dinilai
3. Catatan Lapangan
Catatan lapangan adalah riwayat tertulis tentang apa yang dikatakan atau yang dilakukan, baik guru maupun siswa dalam proses pembelajaran. Catatan lapangan digunakan untuk mendeskripsikan kegiatan-kegiatan pembelajaran. Catatan lapangan dibuat agar semua data pada saat pembelajaran dapat terangkum.
F. Teknik AnalisiS Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Analisis data ini dilakukan dengan kolaboratif antara peneliti dan guru Bahasa Indonesia berdasarkan refleksi dari data yang terkumpul. Teknik analisis data kualitatif dalam penelitian ini digunakan untuk menganalisis data-data yang berupa proses kegiatan pembelajaran. Data yang dikumpulkan berupa wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi tugas siswa. Langkah-langkah yang ditempuh dalam deskriptif kualitatif adalah sebagai berikut.
a) Perbandingan antardata, yaitu membandingkan data-data dari setiap informasi yang diperoleh untuk memudahkan dalam mengklasifikasi data yang sama.
b) Kategorisasi, yaitu mengelompokkan data-data ke dalam kategori tertentu.
c) Penyajian data dalam bentuk tabel dan diagram.
d) Menarik kesimpulan secara induktif, yaitu data yang sudah dikelompokkan dibuat penafsiran sehingga dapat diperoleh kesimpulan.
H. Kriteria Keberhasilan Tindakan
Sesuai dengan karakteristik penelitian tindakan, keberhasilan penelitian tindakan ini ditandai adanya perubahan ke arah perbaikan. Indikator keberhasilan dapat ditentukan berdasarkan proses dan produk.
1. Indikator Keberhasilan Proses
a) Proses pembelajaran dilaksanakan secara menarik dan menyenangkan.
b) Siswa aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran menulis eksposisi.
c) Siswa mampu memahami pembelajaran keterampilan menulis eksposisi melalui penerapan model pembelajaran memberi dan menerima.
2. Indikator Keberhasilan Produk
Indikator keberhasilan produk dideskripsikan dari keberhasilan siswa dalam praktik menulis eksposisi dengan model pembelajaran memberi dan menerima.
Keberhasilan produk diperoleh apabila 75% siswa kelas VII SMPN 5 Alla mendapatkan skor lebih dari atau sama dengan 75 dari skor maksimal 100 setelah diberikan tindakan.
E. Indikator Keberhasilan
Penentuan batas minimal kelulusan dan pemberian skor dapat dilakukan dengan perhitungan persentase. Artinya, seorang peserta didik dinyatakan tuntas jika ia mampu mengerjakan dengan betul “sekian” persen butir soal yang disediakan.
Sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) seorang siswa disebut telah tuntas belajar bila telah mencapai persentase skor hasil belajar 70% dari 100% yang mungkin dicapai oleh siswa.
Tabel 3.2 Kriteria Penilaian Keterampilan Menulis Teks Eksposisi No Aspek
Penilaian
Kriteria Skor Bobot
1.
Isi
Sangat baik:
mengusai topik tulisan, substansif, pengembangan teks ekposisi lengkap;
relevan dengan topik yang dibahas.
3
5 Cukup Baik:
cukup mengusai permasalahan, cukup memadai; perkembangan terbatas, relevan dengan topi.k tetapi kurang terperinci
2
Sangat-Kurang:
tidak mengusai permasalahan; tidak ada substansi, tidak relevan, atau tidak layak dinilai
1
2. Struktur Teks
Sangat Baik:
konstruksi kompleks dan efektif; terdapat hanya sedikit kesalahan penggunaan bahasa (urutan/fungsi kata, artikel,pronomina,preposisi)
3
10 Cukup-Baik:
konstruksi sederhana tetapi efektif;
terdapat kesalahan kecil pada konstruksi kompleks; terjadi sejumlah kesalahan kecil pada konttruksi kompleks; terjadi sejumlah kesalahan pengguanaan bahasa (fungsi/urutan kata, artikel, pronomina, preposisi), tetapi makna cukup jelas
2
Sangat-Kurang:
tidak menguasai tata kalimat; terdapat banyak kesalahan, tidak komunikatif;
tidak layak dinilai
1
3. Kalimat
Sangat Baik:
penguasaan kata canggih; pilihan kata dan ungkapan efektif; mengusai kata;
penggunaan register tepat
3
5 Cukup-Baik:
penguasai kata memadai; pilihan, bentuk, dan penggunaan kata/ungkapan kadang- kadang salah, tetapi tidak mengganggu
2 Sangat-Kurang:
pengetahuan tentang kosa kata, ungkapan, dan pembentukan kata rendah; tidak layak dinilai
1
4. Kosa kata Sangat Baik:
ekspresi lancar, gagasan diungkapkan 3 3