• Tidak ada hasil yang ditemukan

Eksplorasi Tanaman Mangrove Sebagai Pewarna Alami Batik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Eksplorasi Tanaman Mangrove Sebagai Pewarna Alami Batik"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

319

Eksplorasi Tanaman Mangrove Sebagai Pewarna Alami Batik

Rizka Harfiani

Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, UMSU [email protected]

Indah Iswari

Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Program Studi Manajemen Bisnis Syariah, Fakultas Agama Islam, UMSU [email protected]

ABSTRACT

Penggunaan tumbuhan bakau sebagai bahan dasar pembuatan pewarna alami untuk batik kini telah menjadi trend di kalangan pengrajin batik Indonesia. Karena selain potensi kekayaan alam Indonesia yang memiliki keanekaragaman tumbuhan mangrove yang sangat beragam sehingga memudahkan dalam memperoleh bahan dasar pewarna batik alam, hasil yang diperoleh juga memiliki kualitas yang baik, seperti pewarnaan yang kuat dan bervariasi, motif dan motif yang awet, dan tidak luntur. Prosesnya juga sangat ramah lingkungan, karena tidak menimbulkan polusi yang akan merusak ekosistem alam. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Penelitian kualitatif ini merupakan hasil penelitian lapangan, yang pengumpulan datanya berasal dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan metode deskriptif kualitatif. Dan teknik pengujian keabsahan data menggunakan triangulasi metode. Hasil penelitian menghasilkan tiga pembahasan yaitu proses pengolahan tanaman mangrove menjadi pewarna alami sebagai bahan dasar pembuatan batik, proses pembuatan motif dan pola batik pada kain menggunakan pewarna alami mangrove, dan proses diversifikasi kain batik. menjadi produk siap pakai, seperti pakaian, tas. kain, dompet dan bros, serta berbagai cinderamata lainnya yang dapat dibuat dari potongan kain batik, sehingga memiliki nilai jual, dan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat desa.

Keyword: batik ; eksplorasi; mangrove: pewarna alami.

PENDAHULUAN

Batik merupakan warisan budaya bangsa Indonesia yang sudah di akui UNESCO paada tanggal 2 Oktober 2009 sebagai salah satu warisan tak benda bangsa Indonesia.

Mengembangkannya, sehingga dari produk seni dapat menjadi produk yang bernilai jual tinggi, dapat diterima masyarakat luas, dan dapat menciptakan lapangan kerja yang menjanjikan. (Rini, 2011). Kain batik adalah kain dengan corak khas motif batik, yang dilakukan dengan cara menitik atau menetes dengan menggunakan lilis batik sebagai bahan perintang dan selanjutnya dilakukan proses pewarnaan sampai tahap penyelesaian yaitu pelepasan bahan perintang tadi dengan air dalam suhu panas. Bahan untuk membatik meliputi mori/kain. Kain yang digunakan pada umumnya yaitu kain sutera alat tenun mesin, alat tenun bukan mesin dan kain katun (primissima), kedua yaitu lilin atau malam yang merupakan campuran dari lilin paraffin, lilin tawin, gondorukem, mata kucing, lemak hewan, dan yang ketiga yaitu zat warna, ada zat warna alam, zat warna kimia/sintesis dan zat pembantu. (Soesanto, 1980).

Berdasarkan sumbernya, zat warna tekstil dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu zat warna

alami dan zat warna sintetis. Zat warna alami dapat diperoleh dari hewan maupun tanaman, yang

berasal dari akar, batang, daun, buah, dan bunga. Sedangkan zat pewarna sintetis adalah zat

pewarna buatan yang dibuat dengan proses reaksi kimia (Paryanto, et al., 2015). Salahsatu tanaman

yang dapat dimanfaatkan sebagai penghasil zat pewarna buatan adalah tanaman mangrove. Jika zat

pewarna buatan dari sintesis dapat menghasilkan limbah pabrik, berbeda dengan zat pewarna alam

yang justru ramah lingkungan, karena memanfaatkan limbah, sehingga mengurangi pencemaran

(2)

320 lingkungan. Untuk itu kini masyarakat mulai memahami potensi alam yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi yang ramah lingkungan, dan tidak merusak ekosistem alam.

Ekosistem mangrove (bakau) adalah ekosistem yang berada di tepi pantai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut sehingga lantainya selalu tergenang air. Ekosistem mangrove berada diantara level pasang naik tertinggi sampai level di sekitar atau di atas permukaan laut rata-rata pada daerah pantai yang terlindungi dan menjadi pendukung berbagai jasa ekosistem disepanjang garis pantai di Kawasan tropis (Danarto et al., 2011).

Kulit kayu rhizopora mucronata yang memiliki pewarna alami bewarna cokelat digunakan sebagai pewarna tekstil karena tannin yang terkandung mencapai 30%. Ekstrak tannin diketahui telah banyak dimanfaatkan sebagai penyamak kulit dan pewarna (Danarto et al., 2011). Limbah batang dan daun R.mucronata sebagai pewarna batik alami untuk batik pada kain katun dan sutra.

Kain katun dan sutra adalah jenis kain yang paling sering digunakan dalam industri batik Indonesia (Pulungan, 2014). Eksistensi batik yang kian tinggi membuat produsen cenderung memilih warna sintesis dalam pewarnaan produknya. Dibandingkan dengan pewarna alami, pewarna sintetis memiliki keunggulan dalam warna yang dihasilkan, variasi warna, harga, ketersediaan, hingga kestabilan (Mualimin, 2013). Namun, pewarna sintetis memiliki sifat mutagenic yang berbahaya bagi manusia dan sulit terurai di alam (Agustina et al., 2011). Proses pembatikan, yaitu pelekatan lilin pada kain untuk membuat motif yang dikehendaki, dengan cara menuliskan canting tulis atau dengan cara dicap menggunakan canting cap. Agar dapat dituliskan atau dicapkan pada kain, maka lilin batik perlu dipanaskan dahulu pada suhu ±60

o

-70

o

C (Soesanto, 1980). Pembatikan dilakukan dengan canting tulis dan canting cap sesuai dengan corak motif yang diinginkan. Proses pembatikan dengan menggunakan lilin panas dengan hasil yang tidak mudah pec ah tetapi mudah dilorod.

Syarat-syarat pokok zat warna dapat dipakai untuk pewarnaan adalah mudah larut dalam zat pelarutnya, mudah masuk kedalam bahan, stabil berada didalam serat. Pekerjaan pencelupan dilakukan berulang-ulang sampai dengan warna yang dikehendaki, semakin berulang hasil warna yang dihasilkan semakin matang. Setelah didapatkan cairan pewarna alami, maka langkah selanjutnya adalah proses fiksasi. Tujuan dilakukan fiksasi yaitu untuk mengunci zat warna alam golongan mordan serta berfungsi memberikan efek warna (arah warna) yang berbeda-beda sesuai dengan zat fiksasi yang digunakan (Sardjono, 2010). Bahan fiksasi perlu dipilih dari bahan yang ramah lingkungan dan bersifat non-toksik supaya tidak menjadi masalah pada lingkungan (Pujilestari, 2016). Bahan pengikat yang sering digunakan antara lain: jeruk sitrun, jeruk nipis, cuka, sendawa, boraks, tawas, gula batu, gula jawa, gula aren, tunjung, prusi, tetes, air kapur, tape, pisang kluthuk, daun jambu kluthuk. Pekerjaan selanjutnya adalah penghilangan lilin. Pekerjaan penghilangan lilin sebagian pada tempat-tempat tertentu dengan cara dikerok (ngerik) atau menghilangkan secara keseluruhan dengan cara “melorod” (disebut juga: nglorod, ngebyok dan mbabar). Bahan pembantu yang digunakan adalah kanji 5gr/l dengan temperatur mendidih (Soesanto, 1980). Pemanfaatan bahan alam sebagai pewarna alami telah banyak dilakukan dan hasilnya sangat berguna dalam industri batik. Desa Tanjung Rejo Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang adalah desa yang memiliki 22 jenis tanaman mangrove. Tanaman mangrove dapat digunakan sebagai bahan baku pewarna alami dalam proses produksi kain batik. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang pemanfaatan tanaman mangrove sebagai salah satu bahan pokok industri kain batik, yaitu sebagai bahan dasar pembuatan zat pewarna alami batik. Penelitian ini memiliki tiga tujuan, yang pertama, yaitu untuk mengetahui proses pengolahan tanaman mangrove, hingga diperoleh warna alam yang beragam dari tanaman mangrove sebagai upaya menghasilkan warna batik alami; yang kedua adalah proses pembuatan kain batik dengan menggunakan alat dan bahan pewarna alami yang bersumber dari tanaman mangrove; sedangkan yang ketiga, adalah proses diversifikasi kain batik menjadi produk siap pakai yang memiliki nilai jual dan meningkatkan kreatifitas ragam produk, sehingga diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat desa.

KAJIAN TEORI

(3)

321 Indonesia yang merupakan Negara agraris memiliki cagar budaya yang beragam.

Kekayaan alam Indonesia yang berupa beraneka tanaman yang tumbuh di bumi Nusantara merupakan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Salahsatunya adalah produk kain batik yang merupakan warisan budaya Indonesia. Proses pembuatan kain batik yang merupakan ciri khas kain Indonesia, membutuhkan zat pewarna, salahsatunya yang bersumber dari tanaman mangrove. Telah banyak penelitian diberbagai wilayah Indonesia terkait aktivitas masyarakat yang memproduksi kain batik dengan menggunakan tanaman mangrove sebagai zat pewarna alami, diantaranya adalah penelitian berikut: Pringgenies, dkk. (2013), meneliti aplikasi pewarna bahan alam mangrove pada masyarakat desa Gemawang, kecamatan Jambu di kabupaten Semarang. Masyarakat di desa tersebut telah memulai usaha kecil menengah dalam memproduksi batik dengan pewarna bahan alam indigo.

Namun, permasalahan yang muncul adalah dominasi warna yang ditemukan hanya monoton pada warna hijau dan biru. Untuk itu diupayakanlah peningkatan kreativitas warga untuk menemukan warna baru seb agai zat pewarna kain batik, yaitu dengan cara menggunakan daun dan batang mangrove yang ekstraksi dengan fiksasi tawas, kapur, dan tanjung, agar jika pewarna tersebut dicelupkan pada kain, akan mendapatkan warna yang kuat dan tidak luntur. Warna yang dihasilkan dari batang dan daun mangrove adalah warna coklat, mulai dari coklat muda hingga coklat tua gelap. Warna yang dihasilkan dari daun mangrove jenis agriceros sp dengan fiksasi gabungan kapur dan tunjung, tampak warna lebih kuat, dan tidak gelap serta tidak luntur (Pringgenies et al., 2013). Hasil ekstraksi tanin dari kulit pohon mangrove dengan pelarut etanol 90% diperoleh yield 22,01% (Danarto et al., 2011). Ekstraksi tanin pada buah mangrove jenis Rhizopora mucronata dengan menggunakan berbagai jenis pelarut (air, etanol, metanol, aseton, n-heksana) pada berbagai variasi suhu dan perbandingan massa buah terhadap volume pelarut. Dari hasil penelitian yang dilakukan, buah mangrove jenis Rhizopora mucronate mengandung zat warna alami berupa tanin sebesar 4,326 mg tanin per gram buah mangrove. Jenis pelarut yang memberikan hasil optimal adalah air dengan perbandingan antara bahan baku dengan pelarut yang baik adalah 1 kg : 10 liter air. Proses ekstraksi zat warna dilakukan selama 60 menit pada suhu 100°C. Kandungan zat warna alami pada tanaman mangrove berupa tanin yang termasuk ke dalam flavanoid pigmens (Kwartiningsih, 2013).

Paryanto, dkk. (2015), meneliti tentang pengambilan zat warna alami dari buah mangrove species rhizophora mucronata untuk pewarna batik ramah lingkunga di Bontang. Penelitian ini memberikan informasi tentang cara pengambilan zat pewarna alami dari tanaman mangrove melalui proses ekstraksi, yaitu dengan menggunakan pelarut air pada perbandingan masa bahan terhadap pelarut 1:10, suhu 100 0 C selama 60 menit. Zat pewarna tersebut kemudian dipekatkan dengan proses evaporasi hingga volume tinggal 30%, hingga akhirnya ekstrak tersebut dapat digunakan sebagai pewarna alami kain batik.

Penelitian ini mempelajari pengaruh jumlah celupan terhadap hasil pewarnaan pada kain.

Selain itu juga mengamati pengaruh larutan fixer terhadap hasil pewarnaan kain.

Pencelupan zat warna dengan fixer kapur tohor memberikan warna coklat, sesuai warna asli ekstrak buah mangrove dan fixer dengan tanjung memberikan warna kehitaman (Paryanto, et al., 2015).

Martuti, dkk. (2017), meneliti tentang proses pembuatan batik mangrove pada masyarakat pesisir. Martuti menyatakan bahwa beragam variasi motif dan corak batik yang dapat dihasilkan dengan pewarna alami dari tanaman mangrove belum diekspose secara maksimal, padahal kekayaan alam di Indonesia memiliki potensi yang luar biasa sebagai motif batik. Selain sebagai motif, tanaman mangrove juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan penghasil zat pewarna alami bahan batik yang sedang trend di masyarakat saat ini.

Dengan memanfaatkan limbah tanaman mangrove sebagai bahan pewarna alami dan motif

(4)

322 batik, hal ini juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Untuk meningkatkan nilai jual batik mangrove dapat diversifikasi menjadi beberapa hasil kerajinan tangan, seperti bros, dompet, tas, yang berbahan dasar kain batik mangrove (Martuti et al., 2017).

Irawati, dkk. (2020), yang memberikan hasil penelitian tentang cara mengolah mangrove menjadi bahan pewarna alam dalam proses pembuatan kain batik di kelurahan Gunung Lingkas, Kota Tarakan. Lokasi Kota Tarakan yang berada di daerah pesisir memiliki potensi hutan mangrove yang tumbuh subur. Mangrove dapat dieksplorasi menjadi bahan zat pewarna alami yang ramah lingkungan dalam pembuatan kain batik.

Bahan pewarna alami tersebut dapat dibuat sendiri dengan memanfaatkan potensi lokal.

Namun warna di kelurahan Gunung Lingkas memiliki keterbatasan pengetahuan terhadap cara mengolah mangrove menjadi bahan pewarna alam, selain itu juga minimnya peralatan yang tersedia untuk memproses bahan dan pembuatan kain batik. Untuk itu dibutuhkan pelatihan bagi warga, sehingga dapat terbentuk sekelompok masyarakat yang memiliki pengetahuan tentang pembuatan kain batik dengan memanfaatkan potensi alam tanaman mangrove yang menghasilkan zat pewarna alam yang ramah lingkungan. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat dengan keterampilannya memproduksi kain batik (Irawati et al., 2020).

METODE

Penelitian ini sebenarnya adalah sebuah hasil dari kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanan di Desa Tanjung Rejo, kecamatan Percut Sei Tuan, kabupaten Deli Serdang, pada tahun 2021. Karena melihat potensi alam desa Tanjung Rejo yang memiliki 22 jenis tanaman mangrove, yang dieksplor oleh warganya menjadi beragam hasil produksi, yang salahsatunya adalah dengan memanfaatkan tanaman mangrove sebagai bahan pembuat zat pewarna alami dalam proses pembuatan batik, maka kami tertarik untuk menjadikannya sebuah artikel penelitian.

Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif, dengan jenis field research, yaitu menceritakan suatu proses aktivitas sekelompok masyarakat, dimana peneliti langsung terjun ke lapangan untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu melakukan penelitian yang berorientasi pada gejala-gejala yang bersifat alamiah. Maka, sifatnya naturalistik dan mendasar atau bersifat kealamiahan serta tidak bisa dilakukan di laboratorium melainkan harus terjun ke lapangan. Proses penelitian kualitatif melibatkan upaya-upaya penting, seperti mengajukan pertanyaan, dan prosedur pengumpulan data dari para partisipan, menganalisis data, dan menafsirkan makna data (Creswell, 2010). Penelitian ini mengamati proses pembuatan kain batik dengan menggunakan zat pewarna alami yang berasal dari tanaman mangrove. Teknik pengumpulan data yaitu bersumber dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi.

a) Observasi. Observasi kualitatif yakni peneliti langsung turun ke lapangan untuk mengamati perilaku dan aktivitas individu-individu di lokasi penelitian (Creswell, 2010).

Observasi pada penelitian ini yaitu peneliti mengamati secara sistematik tentang proses pembuatan kain batik dengan memanfaatkan tanaman mangrove sebagai zat pewarna alami buatan, sehingga menghasil corak atau motif dengan warna coklat yang khas, kemudian dari kain batik tersebut dapat dijadikan beragam produk siap pakai lainnya, seperti baju, tas, dompet, maupun bros dari kain yang bisa dijadikan souvenir.

b) Wawancara. Wawancara kualitatif yakni proses komunikasi antara peneliti dengan informan, baik secara langsung maupun dengan menggunakan telephone (Creswell, 2010).

Wawancara dalam penelitian ini berupa proses tanya jawab pada informan, yang terdiri dari kepala desa, Tanjung Rejo, Percut Sei Tuan, Ketua UKM Batik Mangrove desa Tanjung Rejo, serta para pengrajin batik mangrove di desa Tanjung Rejo. Cara penentuan informan digunakan teknik purposive dan key responden sesuai dengan tujuan penelitian.

Informan utama diharapkan dapat memberikan data primer tentang proses pembuatan zat

pewarna alami dari tanaman mangrove yang merupakan bahan dasar dalam pembuatan

batik.

(5)

323 c) Dokumentasi, yaitu pengumpulan data dengan mengumpulkan foto-foto mulai dari proses pembuatan, alat dan bahan yang digunakan, motif kain batik yang dihasilkan, hingga produksi barang jadi yang terbuat dari kain batik.

Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya adalah melakukan analisis data. Analisis data adalah upaya memilih, memilah, memahami, dan memaparkan serta menyimpulkan dan menetapkan keputusan terhadap data yang ditemukan selama proses pengumpulan data dilakukan (Miles & Huberman, 1994). Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif-deskriptif, yaitu memaparkan hasil penelitian yang dikaitkan dengan teori dan penelitian terdahulu. Langkah selanjutnya adalah melakukan pengujian keabsahan data. Validitas kualitatif merupakan upaya pemeriksaan terhadap akurasi hasil penelitian dengan menerapkan prosedur- prosedur tertentu (Creswell, 2010). Dalam penelitian ini, untuk menguji keabsahan data dilakukan dengan metode triangulasi. Selain itu juga dapat ditempuh dengan cara memperpanjang masa observasi, yang tujuannya dapat secara jelas memotret data yang telah disampaikan subjek dan mencocokkan dengan informasi yang mereka sampaikan sebelumnya (Idrus, 2009).

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di lapangan, terlihat bahwa pengrajin batik mangrove di Desa Tanjung Rejo, khususnya yang tergabung dalam “UKM Batik Mangrove”, menggunakan bahan baku untuk pembuatan zat pewarna alam dengan menggunakan batang dan cabang mangrove. Ada beberapa proses yang dilakukan untuk menghasilkan bahan pewarna alam, yaitu; 1) batang dan cabang mangrove dicincang; 2) setelah dicincang dirend am dengan air selama satu malam; 3) kemudian direbus dengan perbandingan kayu 1 kg dan airnya 10 liter; 4) perebusan dilakukan hingga airnya tersisa 10 liter; dan 5) s etelah direbus dan air sud ah dingin, baru kain dicelupkan. Satu kain rata-rata 5-15 kali pencelupan . Hasil wawancara peneliti dengan informan-1 pengrajin batik di Desa Tanjung Rejo, menjelaskan bahwa untuk mendapatkan warna yang ditimbulkan menggunakan bagian batang mangrove dengan proses fiksator, yaitu mencampurkan dengan bahan tertentu untuk mendapatkan variasi warna. Fiksator tunjung cerderung bewarna abu-abu tua, dengan fiksator kapur cenderung warna coklat susu, sedangkan fiksator tawas cenderung berwarna coklat muda. Dalam satu batang pohon mangrove bisa menghasilkan 3 warna dominan kecoklat seperti warna merah bata, c ream, cappuccino. Membutuhkan waktu 3 hari untuk menghasilkan warna batik yang sempurna.

Wawancara tersebut diperkuat juga dengan hasil wawancara peneliti dengan informan-2, yaitu ketua UKM Batik Mangrove, yang menjelaskan terkait bahan yang digunakan sebagai pewarna, yaitu:

… pewarna yang kami gunakan untuk batik berasal dari tanaman mangrove yang berumur di atas 5 tahun, kami memilih bagian batang pohon ataupun cabang yang tidak terendam air asin …

Berikut foto dokumentasi tanaman mangrove “rhizopora mucronata”:

(6)

324

Gambar 1. Tanaman Mangrove

Bahan utama pembuatan pewarna alami batik dalam penelitian ini adalah pohon mangrove Rhizophora mucronate yang diperoleh dari lahan mangrove di Desa Tanjung Rejo Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang. Batang mangrove dipotong kecil-kecil selanjutnya diekstraksi dalam tangki berpengaduk, menggunakan pelarut air dengan perbandingan massa bahan terhadap pelarut 1:10, suhu 100°C selama 60 menit. Rangkaian alat ekstraksi dan evaporasi

Hasil wawancara dengan pengrajin batik, informan-3, yang menjelaskan bahwa:

… untuk menghasilkan pewarna batang mangrove di cincang kemudian direbus sampai air berubah warna kecoklatan. Kemudian dilakukan pencelupan yang jumlahnya tergantung warna yang diinginkan. Kalau ingin warna lebih pekat, pencelupannya bisa sampai 10 bahkan 15 kali tergantung kepekatan yang diinginkan …

Kemudian informan-3 melanjutkan:

... pewarnaan batik menggunakan bahan alami prosesnya memang cukup lama. Satu warna bisa sampai 5-15 kali pencelupan karena warnanya harus benar-benar masuk ke pori-pori kain. Proses pewarnaan yang panjang inilah yang membuat warna batik alami tidak luntur. Setiap warna dikeringkan 2 hari. Semakin banyak komposisi warna, otomatis prosesnya semakin lama …

Cairan pewarna alami batik biasa disebut dengan malam batik.

Gambar 2. Malam Batik

Malam Batik atau bisa juga disebut lilin khusus membatik adalah salah satu bahan utama untuk membuat batik, khususnya batik tulis dan batik cap. Fungsi malam dalam proses pengerjaan batik adalah untuk menutupi bagian tertentu agar tidak terkena pewarna.

Proses kerja malam dan pewarna dalam membatik pada prinsipnya memanfaatkan dua sifat bahan yang saling bertolak belakang sebagaimana minyak dan air, lilin mengandung minyak sedangkan pewarna mengandung air. Bagian-bagian tertentu yang diberi lilin secara otomatis tidak bisa ditembus oleh pewarna.

Selanjutnya proses pembuatan batik pada kain dengan bahan malam yang bersumber dari zat pewarna alami mangrove, menggunakan alat untuk membatik yang disebut dengan canting.

Berikut foto dokumentasi canting sebagai alat untuk membatik.

(7)

325

Gambar 3. Canting

Canting adalah alat yang dipakai untuk memindahkan atau mengambil cairan yang khas digunakan untuk membuat batik tulis, kerajinan khas asli Indonesia.

Pembuatan kain batik untuk batik tulis minimal pembuatan 3 hari dengan ukuran kain 2,5 meter dan untuk batik cap 3 hari bisa menghasilkan 5 kain batik dengan ukuran kain 2,5 meter.

Berikut adalah contoh motif atau corak pada kain batik tulis yang menggunakan bahan pewarna alami mangrove.

Gambar 4. Hasil Corak Kain Batik Tulis

Pengelola UKM Batik Mangrove Desa Tanjung Rejo mengupayakan aktivitas diversifikasi, yaitu memproduksi bahan siap pakai dengan menggunakan bahan kain batik, seperti menjadi baju, tas kain, dan dompet. Potongan-potongan kain batik yang menjadi sisa produksi, bisa digunakan lagi sebagai bahan pernak pernik saouvenir, seperti bros, dan hiasan kain lainnya.

Aktivitas ini dilakukan sebagai upaya peningkatan kreativitas pengrajin, agar menghasilkan produksi yang memiliki nilai jual.

Sebagaimana hasil wawancara dengan ketua UKM Batik Mangrove, yang menjelaskan

bahwa:

(8)

326

… kami mengupayakan beragam produksi yang berbahan baku kain batik. Jadi, selain kain batik ini dapat dijual, juga bisa dijadikan produk lain, seperti baju, tas, dompet, sehingga dapat menjadi pemasukan lain bagi anggota UKM …

Berikut foto dokumentasi dari hasil diversifikasi kain batik menjadi dompet.

Gambar 5. Kerajinan Tangan dari Kain Batik

Analisis deskriptif dari hasil penelitian di atas adalah bahwa pemanfaatan tanaman mangrove sebagai bahan dasar dalam menghasilkan zat pewarna alami batik, kini menjadi tred di kalangan pengrajin batik Indonesia. Karena disamping potensi kekayaan alam Indonesia yang banyak memiliki ragam tanaman mangrove, sehingga mudah dalam memperoleh bahan dasar pewarna alami batik, hasil yang didapatkan juga memiliki kualitas yang baik, seperti pewarnaan yang kuat dan bervariasi, motif dan corak yang tahan lama, serta tidak luntur. Proses pengerjaannyapun sangat ramah lingkungan, karena tidak menimbulkan pencemaran yang akan merusak ekosistem alam.Penelitian di Desa Tanjung Rejo, kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, khususnya pada UKM Batik Mangrove Tanjung Rejo memberikan gambaran tentang proses pengrajin batik mangrove, yang meliputi proses pengolahan tanaman mangrove hingga menjadi zat pewarna alami sebagai bahan dasar pembuatan batik, proses pembuatan motif dan corak batik pada kain dengan menggunakan pewarna alami mangrove, dan proses diversifikasi kain batik menjadi produk siap pakai, seperti baju, tas kain, dompet dan bros, maupun aneka souvenir lain yang dapat dikreasikan dari sisa potongan kain batik, sehingga memiliki nilai jual.

Diskusi

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan maka pembahasan terkait eksplorasi tanaman mangrove sebagai bahan pewarna alami, adalah sebagai berikut: Pertama, proses pembuatan zat pewarna alami dari tanaman mangrove. Pengrajin batik yang termasuk dalam kelompok UKM Batik Mangrove di desa Tanjung Rejo, menggunakan tanaman mangrove yang berumur di atas 5 tahun. Bagian tanaman yang digunakan adalah batang dan cabang yang tidak terendam air asin. Prosesnya adalah terlebih dahulu batang dan cabang mangrove tersebut di cincang. Kemudian direbus dalam air panas, hingga berubah warnanya menjadi kecoklatan. Hasil warna yang ditimbulkan menggunakan bagian batang mangrove dengan fiksator tunjung cerderung bewarna abu-abu tua, dengan fiksator kapur cenderung warna coklat susu, sedangkan fiksator tawas cenderung berwarna coklat muda. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Paryanto, dkk. (2015) yang meneliti tentang pengambilan zat warna alami dari buah mangrove untuk pewarna batik ramah lingkungan dengan proses ekstraksi, masa pencelupan, dan pengaruh larutan fixer yang menggunakan tawas, tunjung, dan kapur tohor, sehingga menghasilkan variasi warna coklat yang beragam. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Pringgenies, dkk.

(2013), yang menemukan warna baru yang dihasilkan dari batang dan daun mangrove adalah

(9)

327 warna coklat, mulai dari coklat muda hingga coklat tua gelap. Warna yang dihasilkan dari daun mangrove jenis agriceros sp dengan fiksasi gabungan kapur dan tunjung, tampak warna lebih kuat, dan tidak gelap serta tidak luntur.Lalu Danarto, Y.C, dkk. (2011) menjelaskan tentang hasil ekstraksi tanin dari kulit pohon mangrove dengan pelarut etanol 90% diperoleh yield 22,01%. Kwartiningsih,E.,dkk.,(2013), juga melakukan ekstraksi tanin pada buah mangrove jenis Rhizopora mucronata dengan menggunakan berbagai jenis pelarut (air, etanol, metanol, aseton, n-heksana).

Kedua, proses pembuatan kain batik. Pengrajin batik di UKM Batik Mangrove Desa Tanjung Rejo, memproduksi kain batik dengan menggunakan bahan, berupa malam, yaitu cairan pewarna yang bersumber dari zat pewarna alami mangrove, dan menggunakan alat yang disebut dengan canting, untuk menghasilkan motif dan corak batik sesuai kreativitas pengrajin. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Soesanto (1980), tentang proses pembatikan, dengan menggunakan cantik dan lilin batik pada suhu tertentu (±60

o

-70

o

C), sehingga menghasilakan batik yang tidak mudah pecah tetapi mudah dilorod. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Irawati, dkk. (2020) yang meneliti tentang proses pembuatan kain batik dengan menggunakan bahan pewarna alami mangrove.

Ketiga, proses diversifikasi kain batik. Pengrajin batik UKM Batik Mangrove desa Tanjung Rejo, melakukan diversifikasi kain batik, sebagai upaya meningkatkan nilai jual batik.

Diversifikasi batik dapat dijadikan produk siap pakai, seperti baju, dompet, tas, dan bros yang dibuat dari sisa-sisa potongan kain yang sudah tidak digunakan. Produk diversifikasi tersebut dapat dijadikan souvenir cantik yang mampu meningkatkan nilai jual batik dan meningkatkan kreativitas, serta mendukung peningkatan perekonomian masyarakat desa Tanjung Rejo. Upaya yang dilakukan oleh pengelola UKM Batik Mangrove Tanjung Rejo tersebut, sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Martuti, dkk. (2017) dalam hasil penelitiannya yang memberdayakan masyarakat pesisir melalui penciptaan batik mangrove yang didiversifikasi menjadi produk barang jadi yang memiliki nilai jual.

Dari ketiga poin pembahasan di atas, dapat dianalisis bahwa aktivitas yang dilakukan oleh pengrajin batik UKM Batik Mangrove Desa Tanjung Rejo, kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, adalah upaya untuk menciptakan peluang kerja dengan memanfaatkan potensi kekayaan alam yang ada di dekat dengan lingkungannya, yaitu tanaman mangrove yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan zat pewarna alami untuk memproduksi kain batik.

KESIMPULAN

Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Desa tersebut merupakan penghasil mangrove, disana terdapat 22 jenis pohon mangrove yang dapat dieksplore menjadi beragam produksi guna meningkatkan ekonomi masyarakat, s alahsatunya adalah sebagai pewarna alami batik. Dari pengolahan batang dan cabang mangrove yang melalui proses ekstraksi dan fiksasi, akan diperoleh warna coklat yang bervariasi. Hasil pewarna tersebut digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kain batik yang memiliki corak dan motif batik yang khas, warna yang pekat, tahan lama, dan tidak luntur. Kualitas kain batik yang dihasilkan dengan pewarna alami mangrove memiliki kualitas yang jauh lebih baik, dan dalam prosesnya juga ramah lingkungan. Pengrajin batik yang tergabung dalam UKM Batik Mangrove desa Tanjung Rejo, melakukan diversifikasi kain batik menjadi produk jadi, seperti baju, tas, dompet, dan bros, sehingga memiliki nilai jual, hal ini dilakukan sebagai upaya peningkatan keterampilan, kreatifitas, yang berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat desa.

REFERENSI

Agustina, T. ., Nurisman, E., Prasetyowati, Haryani, N., Cundari, L., Novisa, A., & Khristina, O.

(2011). Pengolahan Air Limbah Pewarna Sintetis dengan Menggunakan Reagen Feton: 260–

266.

Creswell, J. W. (2010). Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed. Pustaka

Pelajar.

(10)

328 Danarto, Y. ., Prihananto, S. ., & Pamungkas, Z. . (2011). Pemanfaatan Tanin dari Kulit Kayu

Bakau sebagai Pengganti Gugus Fenol dari Resin Fenol Formaidehid. 1–5.

Idrus, M. (2009). Metode Penelitian Ilmu Sosial.Erlangga.

Irawati, H., Luthfiyana, N., Imra, Wijayanti, T., Naafilah, A. I., & Wulan, S. (2020). Aplikasi Pewarnaan Bahan Alam Mangrove Pada Kain Batik Sebagai Diversifikasi Usaha Masyarakat.

Dinamisia : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(2), 285–292.

https://doi.org/10.31849/dinamisia.v4i2.3982

Kwartiningsih, E. (2013). Ekstraksi Tanin dari Buah Mangrove (Rhizophora mucronata).

Martuti, N. K. T., Soesilowati, E., & Na’am, M. F. (2017). Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Melalui Penciptaan Batik Mangrove. Jurnal Abdimas, 21(1), 65–74.

Miles, M. ., & Huberman, A. (1994). Qualitative Data Analysis: A Sourcebook of New Method.

CA: Sage.

Mualimin, A. . (2013). Pewarna Alami Batik dari Tanaman Nila (Indigofera) dengan Metode Pengasaman. Universitas Negeri Semarang.

Paryanto, Kwartiningsih, E., W, W. A., Pranolo, S. H., Hidayat, R., & S, I. R. (2015). Spesies Rhizophora Mucronata Untuk Pewarna Batik Ramah Lingkungan. Jurnal Purifikasi, 15(1), 33–40.

Paryanto, P., W, W. A., Kwartiningsih, E., Pranolo, S. H., Haningtyas, V., Hidayat, R., & S, I. R.

(2015). Pengambilan Zat Warna Alami Dari Buah Mangrove Spesies Rhizophora Mucronata Untuk Pewarna Batik Ramah Lingkungan. Jurnal Purifikasi, 15(1), 33–40.

https://doi.org/10.12962/j25983806.v15.i1.23

Pringgenies, D., Supriyantini, E., Azizah, R., Hartati, R., Irwani, & Radjasa, O. . (2013). Aplikasi Pewarnaan Bahan Alam Mangrove Untuk Bahan Batik Sebagai Diversifikasi Usaha Di Desa Binaan Kabupaten Semarang. Info, 15(1), 1–9.

Pujilestari, T. (2016). Review: Sumber dan Pemanfaatan Zat Warna Alam untuk Keperluan Industri. Dinamika Kerajinan Dan Batik: Majalah Ilmiah, 32(2), 93.

https://doi.org/10.22322/dkb.v32i2.1365

Pulungan, A. S. . (2014). Pengaruh Fiksasi Terhadap Ketuaan Warna dengan Menggunakan Pewarna Alami Batik dari Limbah Mangrove. 297–301.

Rini, S. (2011). Pesona Warna Alami Indonesia. Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia.

Sardjono. (2010). Teknologi Pewarnaan Batik Zat Warna Alam. Balai Besar Kerajinan dan Batik.

Soesanto, S. (1980). Seni Kerajinan Batik Indonesia. Balai Penelitian Batik dan Kerajinan,

Lembaga Penelitian dan Pendidikan Industri, Departemen Perindustrian R.I.

Gambar

Gambar  1. Tanaman Mangrove
Gambar  3. Canting
Gambar  5. Kerajinan Tangan dari Kain Batik

Referensi

Dokumen terkait

Pada penelitian ini pengambilan zat warna alami dari buah mangrove spesies Rhizopora mucronata dilakukan dengan proses ekstraksi menggunakan pelarut air pada perbandingan

Wawancara ialah proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitian. Dengan

Melalui observasi, peneliti melihat secara langsung bagaimana proses kegiatan yang dilakukan sesuai dengan kenyataannya tanpa ada rekayasa, selanjutnya melalui

Interaksi secara langsung ini memeberikan peluang untuk melakukan komunikasi baik secara personal maupun kelompok. Karena dari proses komunikasi ini informan dapat

a) Wawancara ialah proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitian. 6

Melalui metode analisis kuantitatif berdasarkan data-data sekunder yang peneliti dapatkan serta analisis kualitatif berupa observasi dan wawancara langsung terhadap

Informan-informan tersebut nantinya akan peneliti lakukan wawancara, agar dapat mengetahui lebih lanjut mengenai proses komunikasi yang terjadi pada pasangan- pasangan tersebut, yang

Memaksimalkan kepuasan wisatawan dengan memberikan pelayanan yang baik Dalam rangka membahas kelima indikator tersebut, peneliti melakukan wawancara langsung kepada beberapa informan