• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Di era modern sekarang ini semua orang dapat mengakses siaran dengan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Di era modern sekarang ini semua orang dapat mengakses siaran dengan"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Di era modern sekarang ini semua orang dapat mengakses siaran dengan mudah, jika dulu orang menerima siaran dari media koran dan TV sekarang ini semua orang dapat mengakses dengan mudah melalui internet yang tersambung pada handphone atau komputer milik orang tersebut. Kedudukan siaran sangatlah penting karena dapat merubah sudut pandang atau pola pikir masyarakat terhadap hal - hal tertentu, karena kedudukannya sangat penting maka perlu hukum dan kode etik yang mengatur agar menjaga profesionalitas dari penyiar atau broadcaster tersebut. Dapat kita lihat sekarang ini di Indonesia banyak tayangan yang tujuannya bukan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, namun hanya untuk mengejar keuntungan semata hal ini sangat harus kita waspadai karena jika hanya bertujuan untuk mengejar keuntungan maka cara apapun akan dilakukan oleh pihak penyiar tersebut untuk mendapatkan keuntungan termasuk yang paling buruk adalah menyebarkan hoax dan fitnah. Tentu jika penyiar telah melakukan tindakan tersebut maka akan merubah pola pikir masyarakat dan menimbulkan kericuhan diantara masyarakat.

Siaran di Indonesia banyak sekali mengandung konten yang negatif, banyak teguran yang dilayangkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) kepada berbagai program TV di Indonesia karena memuat konten negatif seperti menghina seseorang, bicara kasar, dan adegan berkelahi. Hal tersebut

(2)

2 akan berdampak pada masyarakat khususnya anak kecil karena anak kecil meniru apa yang dilihat dan didengar, dan dapat dibuktikan sekarang ini banyak anak kecil maupun remaja yang berani melawan guru, beradegan pacaran seperti di sinetron – sinetron TV, dan menghina antar teman. Parahnya pergaulan remaja ini sebagai cerminan buruknya konten yang disiarkan oleh media dan ini diperlukan pembenahan agar penerus Bangsa Indonesia tidak mengalami degradasi moral karena nasib bangsa ini akan diemban oleh generasi muda, Peran pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan untuk menjaga mutu dari isi yang disiarkan oleh penyiar tersebut

Disisi lain, kegiatan jurnalistik juga diperlukan guna memberikan informasi kepada masyarakat tentang suatu peristiwa apa yang sebenarnya terjadi secara aktual dan juga faktual. Untuk mendapatkan berita secara aktual dan faktual diperlukan kebebasan pada diri jurnalistik, Indonesia sudah mengatur tentang kebebasan untuk mengemukakan pendapat yang tertuang pada pasal 28 UUD 1945 “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang - undang”, hal tersebut menegaskan bahwa kemerdekaan menyampaikan pendapat adalah salah satu hak asasi (fundamental rights) yang dilindungi oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945). Bahkan lebih diperjelas lagi dalam pasal 28F, yang berbunyi: "Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan

(3)

3 menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia". Kemerdekaan menyatakan pikiran dan pendapat merupakan Hak Asasi Manusia yang tidak dapat dihilangkan dan harus dihormati. Rakyat indonesia telah memilih dan berketetapan hati melindungi kemerdekaan menyatakan pikiran dan pendapat itu dalam Undang - Undang Dasar 1945.

Kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat dan salah satu bagian penting dari kemerdekaan menyatakan pikiran dan pendapat. Undang – undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia atau biasa disingkat dengan HAM juga mengatur tentang kebebasan mengutarakan pendapat, jika sudah berbicara tentang HAM maka kegiatan jurnalistik di era reformasi sekarang ini sangat terlindungi dan tidak boleh adanya kekerasan terhadap wartawan tersebut. Beda halnya pada zaman orde baru, kegiatan jurnalistik sangat dikekang, dibungkam, dan tidak adanya kebebasan dalam penyampaian berita kepada masyarakat semuanya harus mengikuti apa kata pemerintah, padahal yang seharusnya kegiatan jurnalistik tidak boleh bersudut pandang subyektif namun harus obyektif supaya masyarakat tahu kondisi sebenarnya bangsa ini. Bahkan pers mampu menjadi media yang dapat dipercaya sebagai penyalur aspirasi, media informasi dan komunikasi serta menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat, seperti dalam pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, yang menegaskan bahwa, “pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.” Sebagai subsistem komunikasi, Pers mempunyai posisi yang khusus di dalam masyarakat

(4)

4 Indonesia. Pers menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat atau antar masyarakat itu sendiri. Jelas kiranya pendapat Ali Moertopo yang menyatakan bahwa kebebasan yang diberikan kepada pers memang sebagai manifestasi dari Hak Asasi Manusia yaitu kebebasan untuk berekspresi secara tertulis.1

Jurnalistik adalah pekerjaan yang sangat berisiko terhadap wartawannya dan kabar yang disampaikan wartawan memiliki dampak yang besar dalam kehidupan masyarakat, sehingga sudah jelas memerlukan payung hukum untuk melindungi pekerjaannya. Seperti dalam Undang - Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers pasal 4 di dalam ayat 1 disebutkan bahwa kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara namun kenyataannya masih banyak wartawan yang mendapat tindakan intimidasi dan kekerasan saat meliput suatu peristiwa yang terjadi, hal tersebut menunjukkan bahwa kurangnya implementasi dari undang – undang Pers. Tidak mengherankan apabila wartawan sering ditemukan disetiap aksi demo, baik itu demonstrasi yang di lakukan oleh Mahasiswa, buruh, petani, karyawan. pegawai honorer, atau maupun Pegawai Negeri Sipil. Memang harus diakui bahwa tugas menjadi seorang wartawan tidaklah mudah. Namun, apapun keadaannya, wartawan tetap harus menyajikan sebanyak mungkin informasi yang dibutuhkan oleh audience-nya, meskipun mungkin sangat sulit, wartawan harus tetap mampu

membawa audience-nya sedekat mungkin dengan kebenaran, hal itulah yang sering mengakibatkan wartawan dalam keadaan yang dirugikan, kerap kali

1 Samsul Wahidin. 2011. Hukum Pers. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hlm.14.

(5)

5 wartawan mendapat tekanan atau ancaman selama melakukan peliputan.

Berdasarkan data Aliansi Jurnalis Independen yang biasa disingkat AJI selama Januari - Desember 2018, kekerasan fisik terhadap jurnalis setidaknya ada 12 kasus. Jenis kekerasan lainnya yang juga banyak adalah pengusiran atau pelarangan liputan dan ancaman teror, yang masing-masing sebanyak 11 kasus. Lainnya adalah perusakan alat dan atau hasil Liputan (10 kasus), pemidanaan (8 kasus), di tahun 2018 mencatat jenis kasus kekerasan baru yang itu sepertinya bisa menjadi trend mengkhawatirkan di masa-masa mendatang, yaitu berupa pelacakan dan pembongkaran identitas jurnalis yang menulis berita atau komentar yang tak sesuai aspirasi politik pelaku, lalu menyebarkannya ke media sosial untuk tujuan negatif. AJI mengkategorikan kasus ini sebagai doxing, atau persekusi secara online.2 Kejadian tersebut tidak boleh dibiarkan karena wartawan harus patuh terhadap kode etik jurnalistik yang salah satunya yaitu bersifat independen sehingga harus menyajikan berita apa adanya dan terbebas dari pengaruh orang lain, jika tidak independen maka berita hoax atau fitnah akan banyak bermunculan di media massa dan dapat berakibat merugikan salah satu pihak. Padahal kemerekaan pers sudah dijamin oleh Undang – undang Pers.

Penulis ingin memfokuskan pada tindak pidana apa saja yang dapat timbul dari kegiatan jurnalistik karena menurut penulis kegiatan jurnalistik rentan terhadap kekerasan yang dilakukan oleh orang yang merasa dirugikan

2 Syailendra Persada, AJI: Kekerasan dan Persekusi Wartawan di 2018 Tinggi, https://nasional.tempo.co/, diakses pada 10 Juni 2019, pukul 19.07 WIB

(6)

6 akibat kegiatannya diliput oleh wartawan, seperti yang banyak ditimpa oleh wartawan – wartawan di Indonesia seperti perampasan media perekaman secara paksa, pemukulan, intimidasi, bahkan hingga pembunuhan hal tersebut tentu dapat ditinjau menurut Kitab Undang – undang Hukum Pidana (KUHP) dan juga Undang-undang Pers.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang tersebut, penulis merumuskan pokok – pokok permasalahannya sebagai berikut:

A. Apa penyebab terjadinya kekerasan terhadap wartawan saat meliput aksi demonstrasi di Kota Semarang?

B. Bagaimana bentuk perlindungan hukum terhadap wartawan dalam meliput aksi demonstrasi di Kota Semarang?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan diatas, tujuan diadakannya penilitian adalah :

a. Untuk mengetahui penyebab terjadinya kekerasan yang dialami oleh wartawan saat meliput aksi demonstrasi di Kota Semarang.

b. Untuk mengetahui bentuk perlindungan hukum terhadap wartawan dalam meliput aksi demonstrasi di Kota Semarang.

1.4 Manfaat Penelitian

Dalam hal ini penulis mengemukakan beberapa manfaat yaitu secara teoritis dan praktis dengan penjelasan sebagai berikut :

(7)

7 1. Bagi Penulis

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pengetahuan hukum, khususnya penegakan hukum terhadap pelanggaran kode etik jurnalistik dan Hak Asasi Manusia yang dialami oleh wartawan.

2. Aparat Penegak Hukum

Untuk memberikan informasi yang dapat membantu aparat penegak hukum khususnya Polisi dalam menanggulangi penganiayaan terhadap wartawan dan sebagai himbauan serta tambahan semangat yang dapat meningkatkan kualitas para penegak hukum agar dapat melaksanakan tugas sesuai dengan wewenangnya.

3. Masyarakat

Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai tambahan wawasan bagi masyarakat karena keberadaan wartawan adalah sebagai sumber informasi masyarakat Indonesia dan memiliki peran vital dalam penyampaian berita sehingga harus dilindungi.

4. Manfaat Praktis

Sebagai wawasan hukum untuk memenuhi syarat guna mendapatka gelar Sarjana S1 di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang. Selain itu diharapkan dapat memperluas wacana keilmuan mahasiswa sebagai civitas akademika.

(8)

8 1.5 Kegunaan Penelitian

Kegunaan Teoritis dari hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi ilmiah dan memberikan sumbangan pemikiran dalam

perkembangan ilmu hukum pidana atau hukum acara pidana, yaitu memberi pengetahuan kepada mahasiswa dan masyarakat mengenai penegakan hukum dalam perlindungan terhadap wartawan yang menjadi korban tindak

kekerasan.

1.6 Metode Penelitian 1. Metode Pendekatan

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan Yuridis Sosiologis. Yuridis berarti bahwa dalam penelitian dilandaskan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, sedang sosiologis berarti bahwa dalam penelitian dilakukan terhadap gejala atau fenomena yang terjadi di masyarakat.3 Penelitian di fokuskan pada penilitian lapangan untuk mencari jawaban permasalahan.

2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang dan Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Semarang. Adapun pertimbangan memilih lokasi tersebut karena relevan dengan rumusan masalah yang penulis angkat dalam penelitian ini, dan juga dalam kasus yang terjadi pada 21 Juli 2018 dengan tuduhan pelanggaran pasal 27 ayat 3 Undang

3 Muslan Abdurrachman. 2009. Sosiologi dan Metode Penelitian Hukum. Malang: UMM Press, hlm 94

(9)

9 Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Pelaporan tersebut didorong oleh berita investigasi dugaan plagiat Rektor Unnes dalam empat laporan yang terbit pada 30 Juni 2018. Atas laporan ini, Polda Jawa Tengah sudah melakukan pemanggilan untuk kedua kalinya kepada Zakki pada 13 November 2018.4 Menilik UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers seharusnya Rektor Unnes bisa menggunakan Hak Jawab dan jika gagal dapat melakukan mediasi di Dewan Pers. Peneliti masih menemukan adanya kasus lain kekerasan terhadap wartawan di portal berita yang menandakan bahwa belum adanya ketegasan dalam melindungi wartawan padahal kebebasan pers adalah salah satu pilar dalam demokrasi. Hal ini membuat peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana peran dewan pers, masyarakat, juga polisi dalam melindungi wartawan dalam melakukan aksinya meliput suatu berita.

3. Sumber Data

Dalam penelitian ini terdapat dua jenis data sebagai berikut : a. Data Primer

Data primer adalah data yang di peroleh langsung dari sumber pertama.

data primer ini di peroleh melalui proses observasi dan wawancara.5 Sumber data primer melalui hasil observasi dan wawancara dengan pihak terkait yaitu:

4 Widia Prismatika, Polda Jateng Didesak Bawa Kasus Jurnalis Zakki Amali ke Dewan Pers, https://tirto.id/polda-jateng-didesak-bawa-kasus-jurnalis-zakki-amali-ke-dewan-pers- dadF, diakses pada 12 Juni 2020, pukul 16.09 WIB

5 Roni Hanitijo. 1990. Metode Penelitian Hukum dan Jurmentri, Ghalia Indonesia: Bogor, hlm 24

(10)

10 1. Edi Faishol (Anggota Aliansi Jurnalis Independen Kota Semarang) 2. Harmaji (Anggota Kepolisian Resor Kota Besar Semarang)

3. Achmad Dono (Anggota Kepolisian Resor Kota Besar Semarang) b. Data Sekunder

Data sekunder adalah jenis data yang diperoleh dari dokumen tertulis, file, rekaman, informasi, pendapat dan lain-lain yang diperoleh dari sumber kedua (Sekunder-buku, jurnal, hasil penelitian terdahulu, dan lain-lain). Dalam hal ini data sekunder berupa:

a. Pasal 28 UUD 1945 menyatakan, kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.

b. UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia khususnya pasal 14 ayat (2) yang berbunyi: Setiap orang berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis sarana yang tersedia.

c. UU No. 40 tahun 1999 mengatur semua aspek seputar pers, termasuk sanksi penjara dan denda jika terjadi pelanggaran.

d. Peraturan Kepolisian Republik Indonesia No.7 Tahun 2012 Tentang Tata Cara Penyelenggaraan Pelayanan, Pengamanan, dan Penanganan Perkara Penyempaian Pendapat di Muka Umum.

(11)

11 4. Teknik Pengumpulan Data

a. Teknik Pengumpulan Data Primer

a) Wawancara ialah proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitian.6 Wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang sebuah isu atau tema yang diangkat dalam penelitian. Atau, merupakan proses pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang telah diperoleh lewat teknik yang lain sebelumnya. Wawancara ini akan dilakukan di kantor AJI Semarang sebagai narasumbernya adalah Edi Faishol dan juga Polrestabes Semarang sebagai narasumbernya adalah Harmaji dan Achmad Dono.

b) Observasi adalah teknik pengumpulan data dimana penulis terjun secara langsung ke lapangan dengan melakukan pengamatan dan mendeskripsikan keadaan obyek penelitian. Disini penulis melakukan observasi secara sistematik dimana penulis membuat kerangka faktor-faktor yang akan diobservasi yaitu jenis kekerasan terhadap wartawan dan bentuk perlindungan hukum terhadap wartawan saat meliput kegiatan demonstrasi.

c) Pencarian melalui internet, yaitu dengan mempelajari dan mengutip berbagai informasi dari internet yang berkaitan dengan penelitian.

6Emzir. 2010. metodologi penelitian pendidikan kuantitatif kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers, hlm. 50

(12)

12 b. Teknik Pengumpulan Data Sekunder

1. Studi Kepustakaan

Membaca literatur-literatur maupun karya ilmiah dan sumber tertulis lainnya yang ada hubungannya dengan penelitian. Dalam hal ini peneliti mempersiapkan literatur yang tentunya berkaitan langsung dengan objek penelitian.

2. Studi Dokumen

Dokumentasi adalah salah satu cara pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis melalui data-data lain yang mendukung akan penelitian ini. Termasuk beberapa foto maupun peristiwa suatu kejadian yang pernah terjadi sebelumnya dan tentunya masih dalam lingkup bahan yang dibutuhkan untuk penelitian terkait Kasus Kekerasan Terhadap Wartawan. Disini penulis mengambil dari beberapa portal berita online yang memberitakan tentang tindak kekerasan yang dialami oleh wartawan saat melakukan kegiatan jurnalistiknya dalam meliput aksi demonstrasi dan data yang didapat dari Aliansi Jurnalistik Independen Kota Semarang. Lalu penulis mengumpulkan data melalui peraturan perundang-undangan yang ada hubungannya dengan penelitian karena perundang-undangan adalah dokumen resmi negara, dalam hal ini penulis mempersiapkan peraturan yang berkaitan langsung dengan objek penelitian yaitu Undang-undang Dasar 1945 yang beberapa isinya mengatur tentang kebebasan berpendapat, Undang-undang No. 39 Tahun 1999 Tentang

(13)

13 HAM, Undang-undang No. 40 Tahun 1999 yang mengatur semua aspek tentang Pers dan Peraturan Kepolisian Republik Indonesia No.

7 Tahun 2012 Tentang Tata Cara Penyelenggaraan Pelayanan, Pengamanan, dan Penanganan Perkara Penyampaian Pendapat di Muka Umum.

5. Analisa Data

Dalam Penulisan hukum ini penulis menggunakan teknik analisa dengan menggunakan data yang terkumpul dengan baik secara primer maupun sekunder semuanya akan dianalisa dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Seluruh penelitian kualitatif mempunyai kecenderungan untuk mendeskripsikan dan membuat jelas fenomena sosial yang penuh makna oleh cara pandang atau paradigma kemudian diambil kesimpulan yang relevan sehingga mendapatkan data yang akurat dan mampu memberikan gambaran jelas tentang permasalahan yang di angkat penulis dalam penelitian ini.

1.7 Sistematika Penulisan BAB I : PENDAHULUAN

Pada Bab I penulis akan menguraikan akan latar belakang yang menjadi dasar atau alasan pemikiran penulis untuk mengangkat masalah yang berkaitan dengan persoalan yang sedang di bahas di lanjutkan dengan rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan.

(14)

14 BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Pada Bab ini diuraikan tentang teori hukum, pendapat ahli hukum, dan kajian yuridis normatif sesuai dengan hukum yang masih berlaku dan dipakai dalam penelitian ini. Tujuan utama dari objek penelitian ini yaitu Tinjauan Yuridis Sosiologis Terhadap Perlindungan Hukum Bagi Wartawan Dalam Meliput Aksi Demonstrasi. Penulis meninjau dalam BAB II ini yaitu berupa:

1. Tinjauan Tentang Tindak Pidana 2. Tinjauan Tentang Kekerasan

3. Tinjauan Tentang Aksi Demonstrasi 4. Tinjauan Umum Mengenai Wartawan 5. Teori Perlindungan Hukum

6. Tinjauan Tentang Efektivitas Hukum

BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini, penulis akan membahas dan menyajikan hasil penelitian mengenai bagaimana bentuk perlindungan hukum bagi wartawan dalam meliput aksi demonstrasi. Kemudian menyajikan mengenai pembahasan yang berkaitan dengan permasalahan sesuai dengan rumusan masalah dalam penelitian ini. Selanjutnya penulis menyajikan sumber data yang penulis dapatkan mengenai perlindungan hukum bagi wartawan dari AJI Kota Semarang sebagai narasumbernya adalah Edi Faishol dan Polrestabes Kota Semarang sebagai narasumbernya adalah Achmad Dono dan Harmaji.

(15)

15 BAB IV : PENUTUP

Pada Bab terakhir ini berisikan kesimpulan dari penelitian yang dilakukan serta saran-saran yang disampaikan oleh penulis.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan beberapa pendapat sebagaimana diuraikan, keefektifan suatu pembelajaran ditentukan oleh aspek aktivitas, respon dan hasil belajar siswa, serta kemampuan guru dalam

Oleh karena itu, film indikator warna erpa dapat direkomendasikan untuk diaplikasikan sebagai kemasan cerdas pada susu pasteurisasi yang harus disimpan pada suhu

Uji Pengolahan Validitas Item Penguasaan Keterampilan Attending Instrumen yang disusun untuk mengungkap penguasaan mahasiswa terhadap keterampilan attending dibuat tiga

Teman-ternan Jurusan Teknik Induslri yang teJah memberikan dorongan dan bantuan, sena semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan

41 Ahyar Andika SMKN 3 Sumbawa Besar Fakultas Ekonomi Akuntansi 42 Ayu Wahyuni SMAN 4 Sumbawa Besar Fakultas Ekonomi Akuntansi 43 Ervir ravilda SMK Al-Kahfi Sumbawa

Biji alfalfa sebagai bahan eksplan yang sudah disterilisasi diinduksi (ditumbuhkan) ke dalam media tanpa ZPT media dasar MS (hasil induksi pertunasan melaui kultur in

Paham melek politik PKL binaan Trisula dalam mengimplementasikan Perda Kota Surabaya nomor 17 tahun 2003 tentang penataan dan pemberdayaan PKL adalah suatu kebijakan yang

Esensial dan Pembinaan Hutan Lindung Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Perlindungan Hutan 2 Penyidikan dan Pengamanan Hutan Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Perlindungan Hutan