• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN AKHLAK ANAK DALAM KELUARGA PERSPEKTIF ZAKIAH DARADJAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENDIDIKAN AKHLAK ANAK DALAM KELUARGA PERSPEKTIF ZAKIAH DARADJAT"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)PENDIDIKAN AKHLAK ANAK DALAM KELUARGA PERSPEKTIF ZAKIAH DARADJAT. Oleh Moh. Muslim NIM. 1812011000008. JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1437 H/2016 M.

(2)

(3)

(4)

(5)

(6) ABSTRAK Moh. Muslim, NIM. 1812011000008; Pendidikan Akhlak Anak Dalam Keluarga Perspektif Zakiah Daradjat. Kata kunci: pendidikan + akhlak + anak + keluarga Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep dan metode serta proses pendidikan dan pembentukan akhlak anak dalam suatu keluarga. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kepustakaan. Metode kepustakaan merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengadakan studi penela’ahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang sedangkan dipecahkan. Sebagai suatu penelitian kepustakaan, maka studi ini difokuskan pada penelusuran dan penela’ahan literatur serta bahan pustaka lainnya yang relevan dengan masalah yang sedang dikaji dalam penelitian. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa konsep pendidikan Islam adalah mencakup semua dimensi manusia sebagaimana yang telah ditentukan Islam, menjangkau kehidupan di dunia dan di akhirat secara seimbang, memperhatikan manusia dalam semua gerak kegiatannya serta mengembangkan padanya daya hubungan dengan orang lain, pendidikan Islam berlanjut sepanjang hayat mulai dari manusia sebagai janin dalam kandungan ibunya sampai kepada berakhirnya hidup di dunia ini. Sedangkan metode pendidikan akhlak terhadap anak dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan cerita-cerita seperti cerita tentang binatang yang ada dalam al-Qur’an dan cerita buku-buku Islam yang bergambar. Adapun proses pembentukan akhlak anak dapat dilakukan dengan beberapa metode seperti metode keteladanan, metode pembiasaan, metode perhatian, metode nasehat dan metode hukuman..

(7) ABSTACT Moh. Muslim, NIM. 1812011000008; Household Children Moral Education Perspective zakiah Daradjat. Keywords: moral education + + kids + family This study aims to determine the concepts and methods and the process of education and moral formation of children in a family. The method used in this research is library method. Library method is a technique of collecting data by conducting studies to books, literature, records and reports that had to do with problems while solved. As a research literature, this study focused on search and study literature and other library materials that are relevant to the issues being examined in the study. From the results of this research is that the concept of Islamic education is to encompass all human dimension as determined by Islam, to reach the life of the world and in the hereafter in balance, pay attention to the human in all movement activities as well as develop her power relationships with others, Islamic education continues throughout life from humans as a fetus in his mother's womb until the expiry of living in this world. While the method of moral education of children can be done by utilizing stories as stories about animals that exist in the Qur'an and Islamic books stories are illustrated. The process of moral formation of children can be done by several methods such as exemplary method, the method of habituation, attention methods, methods of advice and methods of punishment..

(8) KATA PENGANTAR. Puja dan puji serta syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas selesainya penyusunan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Pendidikan Agama Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tema skripsi ini penulis pilih atas pertimbangan pentingnya pendidikan akhlak anak dalam keluarga. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk kemajuan pendidikan terutama pendidikan akhlak dalam keluarga. sehingga. orang. tua. dan. anak. secara. bersama-sama. dapat. mengaplikasikan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Penyusunan skripsi ini dapat penulis selesaikan berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu sangatlah wajar bila penulis menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya, khususnya kepada : 1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan tugas kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. 2. Dr. H. Abdul Majid Khon, M. Ag. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam dan Ibu Marhamah Shaleh, Lc., MA., Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam beserta seluruh staf yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menimba ilmu pada program ini. 3. Dr. H. Achmad Sodiq, MA., sebagai Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktunya demi membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 4. Bapak dan Ibu Dosen di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu kepada penulis selama belajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.. i.

(9) 5. Bapak Pimpinan Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta beserta staf yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk memanfaatkan dan meminjam buku-buku yang berhubungan dengan pembahasan skripsi ini. 6. Ayah dan Ibunda serta adik dan kakak ku yang senantiasa berusaha dan berdo’a serta mendidik penulis dengan penuh tanggung jawab dan selalu memberikan bantuan baik moril maupun materil. Semoga ilmu yang penulis peroleh dapat menjadi bekal untuk membalas budi dan pengorbanan yang telah mereka berikan. 7. Sanak famili dan handai taulan serta rekan-rekan mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan semua pihak yang telah memberikan bantuan dengan sukarela dalam penyelesaian skripsi ini. 8. Isteriku tercinta Siti Ruqayah yang telah memberikan kontribusi baik materil maupun moril sehingga skripsi ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. 9. Teman sejawat dan karib kerabat serta rekan guru-guru SMP Sunan Gunung Jati Kota Tangerang yang telah banyak memberikan bantuan baik moril maupun materil, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan Semoga semua yang telah mereka berikan baik berupa bimbingan dan bantuan maupun pengorbanan dalam rangka penyusunan skripsi ini, mendapat imbalan yang berlipat ganda dari Allah SWT. Amin ya rabbal ‘alamin. Akhirnya penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak luput dari kekurangan dan kelemahan. Oleh karenanya sumbangsih dan pemikiran, kritik dan saran yang konstruktif dari semua pihak sangat penulis harapkan untuk perbaikan pada kajian-kajian dengan tema yang sama pada masa yang akan datang.. 25 Februari. 2016 M. Jakarta, 05 Jumadil Akhir 1437 H Penulis. ii.

(10) DAFTAR ISI Halaman LEMBAR BIMBINGAN SKRIPSI LEMBAR PENGESAHAN UIJIAN SKRIPSI SURAT PERNYATAAN JURUSAN SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI KATA PENGANTAR .................................................................................... i. DAFTAR ISI .................................................................................................. iii. BAB. I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ........................................................ iii Perumusan Masalah ..................................... B. Pembatasan dan. 1 8. C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ............................................. 8. D. Kajian Pustaka ......................................................................... 9. E. Metode Penelitian ................................................................... 10 F. Sistematika Penyusunan ......................................................... 11 BAB II : KAJIAN TEORI A. Pendidikan Dalam Islam ........................................................ 13 1. Pengertian Pendidikan Islam ............................................ 13 2. Pengertian Akhlak ............................................................ 18 3. Tujuan dan Fungsi Pendidikan Akhlak ............................. 20 4. Pentingnya Pendidikan Akhlak Dalam Keluarga ............. 25 5. Ruang Lingkup Pendidikan Akhlak Dalam Keluarga ...... 26 B. Pendidikan Anak Dalam Keluarga ......................................... 29 1. Pengertian Anak dan Keluarga ......................................... 29 2. Hak dan Kewajiban Anak Dalam Keluarga ..................... 34 3. Fungsi Pendidikan Dalam Keluarga ................................. 37 4. Proses Pembentukan Akhlak Dalam Keluarga ................ 40 5. Konsep Pembentukan Akhlak Dalam Keluarga ............... 41 BAB III : BIOGRAFI ZAKIAH DARADJAT A. Perjalanan Intelektual Zakiah Daradjat .................................. 43. iii.

(11) B. Profesi Zakiah Daradjat .......................................................... 48 C. Karya-karya Zakiah Daradjat ................................................. 55 D. Penghargaan Untuk Zakiah Daradjat ..................................... 55 E. Kepribadian Zakiah Daradjat ................................................. 56 BAB IV : KONSEP PENDIDIKAN DAN PEMBENTUKAN AKHLAK ANAK MENURUT ZAKIAH DARADJAT A. Konsep Pendidikan Akhlak Anak .......................................... 58 B. Metode dan Media Pendidikan Akhlak Anak ........................ 62 C. Proses Pembentukan Akhlak Anak ........................................ 64 D. Tugas dan Tanggung Jawab Orang Tua Terhadap Anak ....... 66 E. Faktor-faktor Dalam Pembentukan Akhlak Anak .................. 68 BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ............................................................................. 72 B. Saran ....................................................................................... 72 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 74. iv.

(12) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ide penulisan tema ini dilatarbelakangi oleh adanya keprihatinan terhadap kemerosotan akhlak yang terjadi pada bangsa Indonesia. Hal tersebut salah satu penyebab utamanya adalah karena kurang efektifnya dunia pendidikan dalam mendidik akhlak anak bangsanya. Kekurangefektifan ini disinyalir karena beberapa faktor yang salah satu di antaranya adalah faktor minimnya jam pengajaran dan kurang maksimalnya pendidikan akhlak. Edward Gibbon menceritakan bagaimana kemerosotan moral ini telah menjadi penyebab utama hancurnya bangsa-bangsa terdahulu di dunia,1 dan hal ini sedang terjadi pada bangsa Indonesia. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kemerosotan akhlak di semua lini kehidupan masyarakat telah terjadi pada bangsa ini. Ditandai dengna berderetnya kasus korupsi, mafia hukum, mafia pajak, mafia proyek, mafia perbankan, narkoba, asusila, pencabulan, kasus photo dan video porno yang bahkan ada yang diproduksi oleh dunia pendidikan Indonesia sendiri serta banyak lagi kasus-kasus lainnya. Louis Kraar pada tahun 1988 sudah memprediksi bahwa Indonesia kalau tetap seperti ini keadaannya, maka negara ini akan menjadi negara tertinggal dibanding dengan negara-negara tentangganya yang nantinya akan berhasil menjadi negara-negara maju, bahkan menurut beliau bisa jadi Indonesia hanya kaan menjadi halaman belakang dari bagian Asia Timur.2 Kondisi ini dapat dijadikan sebagai bukti bahwa pelaksanaan pendidikan yang selama ini dilaksanakan ternyata telah gagal, terutama dalam bidang pendidikan akhlak. Secara jujur bisa diakui bahwa bangsa ini telah cukup berhasil dalam mendidik anak bangsanya menjadi orang-orang yang cerdas aau sedikit 1. Edward Gibbon (1737 – 1794) adalah sejarawan Inggris dalam bukunya The History of Decline and Fall of the Romawie Empire, (French: Piladhelphia, 1830), h. 175. Ia adalah menceritakan bahwa moral yang terjadi pada bangsa Romawi sehingga membawa kerajaan Romawi tersebut kepada kehancurannya. 2 Louis Kraar adalah seorang pengamat negara-negara Industri baru di Asia Timur. Lihat Nurcholish Madjid, Indonesia Kita, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004), h. 112. 1.

(13) 2. lebih cerdas.3 Tetapi hal itu ternyata belum cukup, karena pada sisi yang lain bangsa ini telah gagal mendidik anak bangsanya untuk menjadi manusia yang berakhlak. Negara menganggap bahwa kemajuan pendidikan hanya dari segi kecerdasan otak. Sedangkan pendidikan akhlak yang erat kaitannya dengan pendidikan agama sangat kurang dan hamir tidak terpikirkan oleh pemerintah. Hal inilah yang membuat akhlak bangsa hancur. Anton Widyanto dalam penelitiannya di wilayah Bireun dan Banda Aceh, telah membuktikan bahwa salah satu kondisi yang menyebabkan kemerosotan akhlak dewasa ini yang terjadi di sekolah adalah terkait dengan akhlak siswa. Keluhan-keluhan tentang sikap dan perilaku siswa terhadap guru, ketaatan terhadap peraturan sekolah maupun sikap dan perilakku antar sesama siswa sendiri, meskipun hal ini bukanlah hal yang baru. Intinya kebanyakan para siswa dan bahkan mahasiswa di tingkat perguruan tinggi dewasa ini telah mengalami kemerosotan akhlak yang semakin memperihatinkan.4 Dalam penelitian yang lain, Jajat Burhanuddin juga menunjukkan bahwa kemerosotan akhlak yang banyak terjadi di kalangan perempuan-perempuan Indonesia sekarang ini salah satu penyebabnya adalah karena kurangnya pendidikan terhadap mereka.5 Untuk itu Komoruddin Hidayat menghimbau agar pendidikan bangsa ini harus dibangunkan dan kesadarannya pun hraus dihidupkan kembali. Jangan sampai nama Indonesia semakin buruk di mata dunia internasional sebagai bangsa yang korup, moralitasnya lembek dan daya saing sumber dayanya rendah, karena gagalnya pendidikan akhlak. Menurut beliau, masalah-masalah lain seperti 3. Berdasarkan hasil survai tahun 2003 yang dilakukan Programme for International Student Assesment (PISA) pada 41 negara mengenai kualitas hasil belajar IPA, matematika dan kemampuan membaca, ternyata Indonesia masih jauh di bawah kemampuan anak-anak Korea Selatan. Begitu juga tentang tingkat nilai standar kelulusan secara nasional dibandingkan dengan nilai standar kelulusan yang dipatok oleh negara-negara tetangga, maka standar nilai hasil belajar pendidikan kita masih rendah. Lihat Muhammad Ali, Pendidikan Untuk Pembangunan Nasional, (Jakarta: Grassindo, 2009), h. 252 - 253 4 Anton Widyanto adalah dosen IAIN al-Raniri Darussalam Banda Aceh. Lihat dalam “Pendidikan Akhlak Gagal”, Learning Forum, http://learningforum.blogspot.com/2011/05/pendidikan-akhlak-gagal.html, diakses pada tanggal 17 September 2011 5 Jajat Burhanuddin, Ulama Perempuan Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002), h. 127.

(14) 3. kejatuhan politik ataupun kemerosotan ekonomi itu cuma kehilangan sesuatu, tapi kalau masalah kemerosotan akhlak, maka ini akan berakibat suatu bangsa akan kehilangan segalanya.6 Kemerosotan akhlak ini tidak hanya di. Indonesia. yang pernah. mengalaminya, bahkan negara besar dan maju seperti Amerika pun pernah mengalaminya. Untuk keluar dari masalah tersebut, para pendidik di sana akhirnya menganjurkan agar pendidikan nilai dilaksanakan di semua sekolah.7 Dalam konteks Indonesia, Muhammad Ali mengemukakan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan gagalnya pendidikan akhlak di negara ini adalah mengenai masalah pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah, khususnya tentang jam pelajaran agama di sekolah umum seperti SD, SMP dan SMA yang dialokasikan hanya 2 jam per minggu dan jam pelajaan Aqidah Akhlak di madrasah (Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah)yang dialokasikan hanya 1 – 2 jam per minggu.8 Dengan alokasi jam yang terlalu singkat, maka hal ini tidak jarang akan menjadi sebuah persoalan. Persoalan pendidikan muncul karena beberapa sebab yang terjadi di kalangan masyarakat khususnya lingkungan keluarga, terutama akibat kurangnya perhatian orang tua terhadap anak, keterbatasan waktu dalam mendidik anak, kesibukan pekerjaan orang tua di rumah, ketidakcocokan gaya mendidik orang tua sehingga proses pendidikan Islam khususnya pendidikan akhlak bagi anak tidak dapat dilaksanakan dengan baik, sehingga anaklah yang akan menjadi korban dari hal-hal tersebut di atas. Pada dasarnya pendidikan seorang anak harus dimulai dari sejak seseorang itu dilahirkan. Hal ini merupakan kewajiban orang tua dalam hal ini seorang ibu yang sangat berperan dalam pendidikan anak, karena ibunya yang selalu dekat di 6. Komaruddin Hidayat adalah mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Lihat Komaruddin Hidayat, et.al., Reinventing Indonesia; Menyusun Kembali Masa Depan Bangsa, (Jakarta: Mizan, 2008), h. 192 7 Winata Sairin, Identitas dan Ciri Khas Pendidikan Kristen di Indonesia Antara Konseptual dan Operasional, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), h. 127 8 Muhammad Ali adalah direktur jenderal pendidikan Islam Departemen Agama RI dan Pembina ISPI. Lihat Muhammad Ali, “Pengembangan Pendidikan Agama Islam di Sekolah”, Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI), September 2010, http://www.ispi.or.id/tag/pendidikan-agama-islam, diakses pada tanggal 18 September 2011.

(15) 4. samping anak. Salah satu pendidikan yang paling sesuai dengna pelaksanaan pendidikan keluarga yang erat kaitannya dengan pembelajaran pendidikan akhlak adalah nilai-nilai moral yang terdapat dalam keluarga. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak-anak dan remaja, karena pendidikan keluarga lebih menekankan pada aspek moral atau pembentukan kepribadian.9 Oleh sebab itu, yang menjadi dasar dan tujuan dari penyelenggaraan pendidikan keluarga lebih bersifat individual sesuai dengan pandangan hidup keluarga masing-masing. Banyak unsur pendidikan yang terdapat dalam pandangan hidup keluarga seperti pendidikan agama, budi pekerti, tatakrama dan baca tulis hitung yang diberikan secara dini di rumah serta teladan dari kedua orang tuanya tentu akan membentuk kepribadian dasar dan kepercayaan diri anak yang akan mewarnai perjalanan hidup selanjutnya. Dalam hal ini, seorang ibu memegang peranan yang sangat penting dan utama dalam memberikan pembinaan dan bimbingan kepada anak-anaknya dalam rangka menyiapkan generasi penerus yang lebih berkualitas sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab termasuk tanggung jawab sosial. Hal ini sesuai dengan pendapat Schikendaz bahwa segala perilaku orang tua dan pola asuh yang diterapkan dalam keluarga pasti berpengaruh dalam pembentukan kepribadian atau karakter seorang anak.10 Dengan demikian, untuk membentuk akhlak anak perlu adanya sebuah wadah untuk mengembangkannya yaitu nilai-nilai karakter yang ditanamkan dalam diri anak. Hal ini sesuai dengan pendapat Megawangi bahwa yang termasuk ke dalam nilai-nilai universal adalah agama, tradisi dan budaya yang menjunjung nilai-nilai tersebut yang dapat menjadi perekat bagi seluruh anggota masyarakat walaupun berbeda latar belakang, budaya, suku dan agama. 11 Unsur agama inilah yang biasanya memprioritaskan kepada pendidikan akhlak. Untuk mendapatkan pendidikan akhlak anak yang baik, maka peran keluarga sangat penting dalam membentuk karakater anak yang dalam 9. Ali Ghani Hartinah, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Quantum Teaching, 2008), h. 164 Immanuel Kartz Schikendaz, The Metaphysical Element of Ethics, (Maryland: Manor, 2004), h. 64 11 Muchtar Megawangi, Fiqh Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), h. 95 10.

(16) 5. kematangan emosi dan sosial ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dan usia pra sekolah sampai usia remaja. Dengan demikian, pendidikan keluarga berdampak positif dalam kehidupan sehari-hari anak di masyarakat. Menurut Winarno, pendidikan nilai memiliki. esensi dan makna yang sama dengan. pendidikan akhlak yang bertujuan untuk membentuk pribadi anak agar menjadi manusia yang baik, masyarakat dan warga negara yang baik dalam komunitas suatu bangsa yang dari berawal dari sebuah keluarga.12 Dalam keluarga, orang tua kurang memberikan contoh-contoh, pembiasaan, perhatian dan kurang memberikan nasehat-nasehat kepada anak-anaknya yang dibebankan oleh berbagai masalah yang muncul dari orang tua itu sendiri seperti kurangnya pengetahuan agama, kurangnya waktu di rumah karena kesibukan pekerjaan dan terjadinya kesalahpahaman dalam mendidik antara kedua orang tua serta orang tua tidak harmonis dalam rumah tangga sehingga berdampak pada pendidikan dan pembentukan akhlak anak atau nilai moral bagi anak. Seseorang yang memiliki akhlak rapuh atau lemah terbentuk karena ia kurang memperoleh kasih sayang, kurang memperoleh rasa aman dan akibat pemanjaan menurut kehendak anak tanpa memberikan contoh teladan dan mengajarkan rasa tanggung jawab, sering terjadinya percekcokan antara kedua orang tua karena sibuk dengan pekerjaannya masing-masing sehingga waktu bersama keluarga hampir tidak ada.13 Pada hakekatnya semua orang tua tentu menghendaki anak-anaknya menjadi anak yang memiliki sikap dan sopan santun dalam tutur katanya baik budi pekertinya maupun tutur katanya serta menghormati orang tua dan menghargai yang muda. Hal seperti ini merupakan keinginan dari semua orang tua. Untuk itu, orang tua harus bertanggung jawab penuh atas pendidikan anak terutama pendidikan Islam agar masa depan anak kelak akan tergiring ke arah yang Islami dan sesuai dengan ajaran Islam. Dengan pendidikan yang Islami, diharapkan anak akan bersikap dengan akhlak yang mulia, karena akhlak mulia merupakan bagian dari aspek-aspek pendidikan Islam. 12. Winarno, Anak Mulia, (Surabaya: Lembaga Pengembangan Potensi Manusia, 2010), h. 83 Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah, (Jakarta: Ruhama, 1995), h. 41 13.

(17) 6. Pendidikan Islam mencakup beberapa aspek di antaranya adalah aspek pendidikan keagamaan, pendidikan akhlak, budi pekerti, pendidikan jasmani dan kesehatan. Menurut Abuddin Nata, aspek-aspek pendidikan berperan dalam membimbing dan mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki manusia. Aspekaspek tersebut meliputi pengembangan kongnitif yaitu kemampuan intelektual yang terus dikembangkan melalui pendidikan Islam, pengembangan afektif adalah kekhususan mengembangkan akal melalui pemahaman dan pengetahuan terhadap kenyataan dan kebenaran serta pengembangan psikomotorik merupakan ilmu pengetahuan yang termanifestasikan dalam akhlak dan amal shaleh,14 dan akhlak merupakan esensi dari pendidikan Islam. Pendidikan Islam berisi ajaran tentang sikap dan tingkah lakku baik pribadi maupun masyarakat menuju hidup perorangan dan bersama, maka pendidikan Islam adalah pendidikan individu dan pendidikan masyarakat. Kenyataan ini berlaku dalam kehidupan keluarga atau rumah tangga. Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya menjadi anak yang berkembang secara sempurna. Para orang tua menginginkan anak yang dilahirkannya itu kelak menjadi anak yang sehat, kuat, cerdas, pandai dan beriman serta berakhlak mulia. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka orang tua dituntut agar menjadi pendidik pertama dan utama. Kaidah ini ditetapkan secara kodrati. Artinya orang tua tidak dapat berbuat banyak selain mendidik anak-anaknya dalam keluarga. Sehubungan dengan tugas dan tanggung jawab orang tua, maka orang tua harus mengetahui tentang apa dan bagaimana pendidikan akhlak dalam keluarga. Pendidikan keluarga merupakan unit mendasar yang bertanggung jawab dan harus melayani kebutuhkan fisik dan psikis anak selama mereka dalam pertumbuhan menuju kedewasaan. Tanggung jawab tersebut terutama berada di pundak orang tua, sehingga ia dituntut dan benar-benar berfungsi sebagai pendidik, karena ternyata salah satu faktor dominan yang mempengaruhi pola perilaku anak dalam proses pendidikannya adalah lingkungan keluarga. 14. Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Hubungan Guru dan Murid, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), h. 83.

(18) 7. Sejak anak lahir, peran keluarga dan ibu sangat penting dalam kehidupan seorang anak. Keluarga merupakan wadah perama dan utama dalam pendidikan akhlak, karena orang tualah yang selalu mengarahkan, membimbing dan membiasakan pendidikan akhlak bagi anak.15 Dalam rangka membentuk akhlak anak, Zakiah Daradjat berpendapat bahwa pendidikan anak harus dimulai jauh sebelum anak itu diciptakan.16 Oleh sebab itu, Islam memberikan berbagai syarat dan ketentuan dalam pembentukan keluarga sebagai wadah yang akan mendidik anak sampai umur tertentu yang kemudian disebut dengan istilah aqil baligh. Menurut al-Nahlawi, keluarga terutama orang tua bertanggung jawab untuk memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya karena kasih sayang merupakan landasan terpenting dalam pertumbuhan dan perkembangan psikologis seorang anak.17 Jika seorang anak mengalami ketidakseimbangan rasa cinta maka kehidupannya akan dicemari penyimpangan-penyimpangan. Agar anak terhindar dari penyimpangan-penyimpangan ini, maka anak membutuhkan perhatian yang besar dari semua pihak baik pihak sekolah, masyarakat maupun keluarga agar kelak anak dapat menyesuaikan diri dengan ajaran-ajaran Islam sehingga kelak mereka memiliki akhlak yang mulia. Berkaitan dengan pendidikan dan penanaman akhlak, Zakiah Daradjat telah memberikan konsep cukup menarik yang salah satu di antaranya adalah bahwa proses pendidikan dan pembentukan akhlak anak serta metode dalam pembentukan akhlak anak yang salah satu di antaranya adalah membiasakan anak untuk beramal shaleh seperti mengajak anak untuk selalu bersedekah, mengunjungi panti jompo, memberikan sepotong roti kepada fakir miskin dan agar anak senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Berdasarkan pernyataan ini, maka Zakiah Daradjat telah memberikan konsep dalam proses pembentukan akhlak anak yang bertujuan untuk mengembangkan pendidikan keagamaan anak. Untuk itu, tawaran konsep Zakiah Daradjat ini tentu sangat penting dalam mengkaji pemikiran beliau yang erat kaitannya dengan proses 15. Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah, h. 41 Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah, h. 41 17 Abdurrahman al-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah dan Masyarakat, alih bahasa Shihabuddin, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), Cet. ke-1, h. 141 16.

(19) 8. pembentukan akhlak anak dan tanggung jawab pendidikan orang tua terhadap anak-anaknya. Berangkat dari pemikiran di atas, maka penulis tertarik untuk menuangkan sebuah obsesi yang terdapat dalam diri penulis yang kemudian diwujudkan dalam sebuah skripsi yang diberi judul : PENDIDIKAN AKHLAK ANAK DALAM KELUARGA PERSPEKTIF ZAKIAH DARADJAT. Topik ini menarik untuk dikaji, karena implikasinya sangat luas sehingga dapat mengantisipasi penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh anak-anak melalui pendidikan keagamaan yang berorientasi pada pendidikan akhlak.. B. Pembatasan dan Perumusan Masalah Kajian tentang pendidikan akhlak anak dalam keluarga tampaknya cukup luas. Oleh sebab itu, perlu adanya pembatasan yang meliputi kajian ini. Kajian ini dibatasi hanya pada pendidikan akhlak anak dalam keluarga menurut Zakiah Daradjat dengan rumusan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana konsep pendidikan akhlak anak menurut Zakiah Daradjat ? 2. Bagaimana metode pendidikan akhlak anak menurut Zakiah Daradjat ? 3. Bagaimana upaya pembentukan akhlak anak menurut Zakiah Daradjat ?. C. Tujuan dan Manfaat Penelitian Sejalan dengan latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, maka penelitian skripsi ini memiliki beberapa tujuan sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui konsep pendidikan akhlak anak menurut Zakiah Daradjat. 2. Untuk mengetahui metode pendidikan akhlak anak menurut Zakiah Daradjat. 3. Untuk mengetahui proses pembentukan akhlak anak menurut Zakiah Daradjat. Adapun manfaat dari penelitian skripsi ini antara lain adalah sebagai berikut : 1. Manfaat bagi akademisi Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi berupa buku bacaan di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, khususnya di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan pada program studi Pendidikan Agama Islam..

(20) 9. 2. Manfaat bagi praktisi Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi perkembangan khazanah keilmuan Islam, khususnya dalam bidang pendidikan Islam. 3. Manfaat bagi masyarakat Penelitian ini dapat dijadikan sebagai pemikiran untuk memperkaya literatur pemikiran pendidikan Islam, khususnya tentang konsep pendidikan akhlak anak menurut Zakiah Daradjat.. D. Kajian Pustaka Secara umum, penelitian tentang pendidikan akhlak anak dalam keluarga telah dilakukan oleh banyak peneliti sebelumnya. Adapun para peneliti tersebut di antaranya adalah sebagai berikut : 1. Musthafa al-Adawy18 Buku ini membahas tentang pendidikan anak dengan menitikberatkan pada bagaimana mendidik anak dengan baik yang dilandaskan pada al-Qur’an dan sunnah, misalnya tugas orang tua yang diberikan Allah SWT kepada manusia agar menjaga dan memperbaiki keturunan serta berupaya menyelamatkan diri dan keluarga dari siksa api neraka. Buku ini membahas tentang pendidikan anak mulai dari aspek fiqh, akhlak, etika hingga interaksi dengan anak. Secara umum kajiannya merupakan kumpulan materi dan ayatayat al-Qur’an dan hadits yang tentunya akan menambah wawasan bagi para peneliti sebelumnya. Perbedaan pada sisi ini adalah bahwa penelitian penulis menekankan pada pendidikan akhlak anak di samping bersifat normatif seperti pemikiran Zakiah Daradjat ditambah dengan pendapat para tokoh pendidikan Islam dan juga buku umum yang terkait dengan perkembangan anak seperti psikologi anak yang tentunya dapat memberikan masukkan secara fokus pada orang tua untuk mendidik anak-anaknya. 18. Musthafa al-Adawiy, Tarbiyah al-Banin, alih bahasa Haidar Baghir, (Bandung: Warsito, 1996), h. 15.

(21) 10. 2. Abdullah Nashih Ulwan19 Buku ini membahas masalah praktis bagaimana orang tua mendidik anak supaya berakhlak mulia, yaitu agar bersikap dan berperilaku anak sesuai dengan nilai-nilai dan tuntutan al-Qur’an serta hadits. Argumentasi akhlak mulia menjadi sentral pokok analisis dalam buku tersebut. Pada satu sisi, buku ini membantu dalam penelitian penulis karena secara normatif (al-Qur’an dan hadits) sesuai dengan pendapat Zakiah Daradjat yang berkaitan dengan pendidikan akhlak anak seperti bakat akhlak timbul dari kekuatan jiwa dari dalam yang mendorong manusia untuk melakukan perbuatan baik dan mencegah dari perbuatan buruk. Setelah penelitian dilakukan, ternyata ada perbedaan yang mendasar dengan buku tersebut. Secara garis besar penelitian yang penulis lakukan adalah mencari kelebihan dan kekurangan dari isi buku tersebut. Berdasarkan penelitian penulis, secara khusus sampai saat ini belum ada skripsi yang membahas tentang pendidikan akhlak anak dalam keluarga menurut Zakiah Daradjat. Atas dasar itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pendidikan akhlak anak dalam keluarga menurut Zakiah Daradjat.. E. Metode Penelitian Metode merupakan upaya agar kegiatan penelitian dapat dilakukan secara optimal.20 Secara umum, metode penelitian merupakan gambaran bagaimana penelitian dilakukan. Adapun jenis yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif analisis yaitu suatu penelitian yang dilakukan dengan cara menggambarkan permasalahan yang didasarkan pada data-data yang ada kemudian dianalisis lebih lanjut untuk kemudian diambil kesimpulan. Salah satu metode yang digunakan peneliti dalam penyusunan skripsi ini adalah metode kepustakaan. Menurut Nazir, studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengadakan studi penela’ahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, 19. Abdullah Nasih Ulwan, Pendidikan Anak Dalam Keluarga, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), Cet. ke-1, h. 25 20 Winarno Surachmad, Pengantar Metodologi Ilmiah Dasar Metode dan Teknik, (Bandung: Warsito, 1990), h. 30.

(22) 11. catatan-catatan dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang sedang dipecahkan.21. Sedangkan menurut Fathoni, studi kepustakaan adalah. suatu penelitian yang dilakukan di ruang perpustakaan untuk menghimpun dan menganalisis data yang bersumber dari perpustakaan baik berupa buku-buku maupun periodikal-periodikal seperti majalah ilmiah yang diterbitkan secara berkala, kisah-kisah sejarah, dokumen-dokumen dan materi perpustakaan lainnya yang dapat dijadikan sumber rujukkan untuk menyusun suatu laporan ilmiah.22 Oleh sebab itu, penelitian kepustakaan tidak perlu terjun langsung ke lapangan melalui survai dan observasi guna memperoleh data yang dicari. Data dapat dikumpulkan dan diperoleh dari hasil pembacaan dan penyimpulan dari beberapa buku, kitab-kitab terjemahan, karya ilmiah, dan lain sebagainya yang erat kaitannya dengan materi dan tema pengkajian. Berdasarkan uraian di atas, maka metode yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah metode kepustakaan. Sebagai suatu penelitian kepustakaan, maka studi ini difokukskan pada penelusuran dan penela’ahan literatur serta bahan pustaka lainnya yang relevan dengan masalah yang dikaji. Dalam penelitian ini, penela’ahan dilakukan terhadap buku-buku pendidikan akhlak karya Zakiah Daradjat. Sedangkan masalah yang hendak dipecahkan adalah tentang pendidikan akhlak anak dalam keluarga menurut Zakiah Daradjat. Adapun pedoman yang digunakan dalam penulisan ini adalah buku “Pedoman Akademik Teknik Penulisan Makalah dan Skripsi” yang disusun oleh Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2011 – 2012.. F. Sistematika Penyusunan Untuk memudahkan pembahasan skripsi ini secara keseluruhan, maka diperlukan sistematika penyusunan. Adapun sistematika penyusunan yang dimaksud adalah seperti yang akan diuraikan di bawah ini.. 21. M. Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003), Cet. ke-5, h. 27 Abdurrahman Fathoni, Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), Cet. ke-1, h. 95 - 96 22.

(23) 12. Bab I menguraikan tentang pokok-pokok pikiran yang tertuang pada pembahasan skripsi ini yang terdiri atas latar belakang masalah yang bertujuan untuk memberikan alasan yang jelas tentang pemilihan judul, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kajian pustaka, metode penelitian yang dipergunakan dalam rangka memudahkan penulisan dan sistematika penyusunan dipergunakan dalam rangka memberikan penjelasan secara garis besar tentang kajian yang akan diuraikan dalam pembahasan skripsi ini. Bab II berisikan tentang konsep pendidikan akhlak dalam keluarga menurut Zakiah Daradjat yang terdiri dari pendidikan dalam Islam dan pendidikan akhlak dalam keluarga. Ruang lingkup pendidikan Islam terdiri atas pengertian pendidikan Islam, pengertian akhlak, tujuan dan fungsi pendidikan Islam, ruang lingkup pendidikan akhlak dalam keluarga serta pentingnya pendidikan akhlak dalam keluarga. Sedangkan ruang lingkup dari pendidikan akhlak dalam keluarga terdiri dari pengertian keluarga, anak dalam keluarga, konsep pembentukan akhlak dalam keluarga dan proses pembentukan akhlak anak dalam keluarga. Bab III biografi Zakiah Daradjat yang pembahasannya meliputi perjalanan intelektual Zakiah Daradjat, profesi Zakiah Daradjat, karya-karya Zakiah Daradjat, penghargaan Untuk Zakiah Daradjat dan kepribadian Zakiah Daradjat. Bab IV membahas inti persoalan yang diperbincangkan dalam skripsi ini yaitu konsep pendidikan dan pembentukan akhlak anak menurut Zakiah Daradjat yang pembahasannya meliputi konsep pendidikan akhlak anak, metode dan media pembentukan akhlak anak, proses pembentukan akhlak anak, tugas dan tanggung jawab orang tua terhadap anak serta faktor-faktor dalam pembentukan akhlak anak. Bab V merupakan penutup dari skripsi ini yang di dalamnya memuat beberapa kesimpulan dan saran-saran yang merupakan kristalisasi dari uraian babbab terdahulu yang kemudian diakhiri dengan daftar pustaka..

(24) BAB II KAJIAN TEORI A. Pendidikan Dalam Islam 1. Pengertian Pendidikan Islam Secara etimologis, kata pendidikan berasal dari bahasa Arab yang diambil dari kata rabba yang berarti sifat-sifat Tuhan yang bermakna mendidik, mengasuh atau memelihara.1 Sedangkan kata ta’lim hanya sekedar mengandung makna memberitahu atau memberi pengetahuan.2 Noeng Muhadjir menyatakan bahwa istilah pendidikan sejatinya berakar dari bahasa Yunani yaitu paedagogy yang berarti seorang anak yang diantar pulang pergi ke sekolah oleh seorang pelayan. Sedangkan pelayan yang mengantar dan menjemput dinamakan paedagogos. Dalam bahasa Romawi,. pendidikan. diistilahkan. sebagai. educate. yang. berarti. mengeluarkan sesuatu yang ada di dalam. Sementara dalam bahasa Inggris, pendidikan diistilahkan to educate yang berarti memperbaiki moral dan melatih intelektual.3 Terlepas dari belum ditemukannya rumusan istilah yang paling pas untuk mewakili makna pendidikan dalam Islam, apakah tarbiyah, ta’lim atau ta’dib, konfrensi internasional tentang pendidikan Islam pertama yang diselenggarakan oleh Universitas King Abdul Azis, Jeddah pada tanggal 31 Maret – 8 April 1977 pada bagian rekomendasi, hanya membuat kesimpulan bahwa. pengertian pendidikan. 1. menurut. Islam. adalah. Ibnu Manzur, Lisan al-Arab, (Mesir: Daar al-Mishriyyah, 1992), Juz XI, h. 98 Ibnu Manzur, Lisan al-Arab, h. 370 3 Noeng Muhadjir, Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial; Teori Pendidikan Pelaku Sosial Kreatif, (Yogyakarta: Reke Sarasin, 2000), h. 20 - 21 2. 13.

(25) 14. keseluruhan pengertian yang terkandung dalam ketiga istilah tersebut di atas.4 Dalam rumusan sederhana, Haidar Baghir mengatakan bahwa pendidikan adalah sesuatu yang secara bertahap ditanamkan ke dalam diri manusia.5 Ki Hajar Dewantara merefleksikan pandangannya tentang pendidikan yang dikatakannya sebagai upaya untuk memajukkan perkembangan budi pekerti (kekuatan batin), pikiran (intelek) dan jasmani anak-anak. Sementara di lain pihak Hs. Rangeveld sebagaimana dikutip oleh Madyo Eko Susilo dan RB. Kasihadi mendefinisikan pendidikan sebagai usaha untuk memberikan pertolongan secara sadar dan sengaja kepada anak didik dalam perkembangannya menuju ke arah kedewasaan dalam arti dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab atas segala tindakannya menurut pilihannya sendiri.6 Secara umum, definisi pendidikan dapat diklasifikasikan ke dalam dua rumusan. Pertama, pendidikan dirumuskan sebagai usaha sadar yang teratur dan sistematis oleh orang-orang yang disertai tanggung jawab untuk mempengaruhi anak agar mempunyai sifat dan tabi‟at sesuai dengan cita-cita pendidikan. Kedua, pendidikan adalah bantuan yang diberikan 4. Perbedaan sengit mengenai ketiga istilah tersebut terjadi antara Sayyed Naquib al-Attas, Abdurrahman al-Nahlawi dan Abd al-Fattah Jalal. Sayyed Naquib al-Attas dengan tegas menyatakan bahwa istilah yang paling tepat untuk memaknai pendidikan adalah kata ta’dib. Lain halnya dengan Abdurrahman al-Nahlawi yang secara konsisten bertahan dengan argumentasi yang dibangunnya untuk tetap mengatakan bahwa istilah yang paling tepat dan sepadan dengan makna pendidikan adalah istilah tarbiyyah. Sementara Abdul Fattah Jalal tetap bersikukuh bahwa istilah ta’lim lah yang paling pantas disepadankan dengan makna pendidikan. Berdasarkan pandangan argumentatif dari ketiga tokoh tersebut, akhirnya konfrensi memandang ketiga istilah yang masing-masing dipertahankan karena ketepatan penggunaannya tersebut sebagai istilah yang mewakili makna pendidikan secara umum. Dengan pandangan agak berbeda, Zakiah Daradjat membagi ketiga istilah yang masing-masing dimaknai pendidikan tersebut ke dalam dua kelompok. Pertama, pendidikan yang dikandung dalam kata ‘allama memberikan penekanan bahwa pendidikan mengandung pengertian memberi tahu atau memberi pengetahuan. Kedua, pendidikan yang dikandung dalam dua istilah yakni rabba dan addaba menekankan pada pengertian pembinaan, pimpinan dan pemeliharaan kepribadian. Lihat Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), h. 26 – 31. Lihat juga Zakiah Daradjat, et.al., Ilmu Pendidikan islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1998), Cet. ke-3, h. 27 5 Definisi apapun akan tetap dan sepertinya selalu mengakar dan tidak dapat dilepaskan dari ketiga unsur tersebut. Lihat Sayyed Naquib al-Attas, Konsep Pendidikan Dalam Islam, terj. Haidar Baghir, (Bandung: Mizan, 1996), Cet. ke-7, h. 36 6 Madyo Eko Susilo, et.al., Dasar-Dasar Pendidikan, (Semarang: Eftar, 1990), Cet. ke-1, h. 14.

(26) 15. dengan sengaja dalam pertumbuhan jasmani maupun rohaninya untuk mencapai tingkat dewasa.7 Marimba dalam definisi yang dinilai mapan oleh Ahmad Tafsir menyatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.8 Sementara dalam konteks yang humanistis, Noeng Muhadjir mengatakan bahwa pendidikan adalah aktivitas yang berkaitan dengan proses humanizing of being, suatu proses memanusiakan manusia yaitu upaya membantu subyek (baik individual atau satuan sosial) berkembang normatif menjadi lebih baik.9 Pada pihak lain dalam rangka mengikuti ketidakseragaman tentang arti pendidikan, Siti Meichati sebagaimana dikutip Wiji Suwarno menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan adalah hasil peradaban suatu bangsa yang berfungsi sebagai filsafat pendidikan yaitu suatu cita-cita atau tujuan yang menjadi motif – cara suatu bangsa berpikir dan berkelakkuan – yang dilangsungkan secara turun temurun dari generasi ke generasi.10 Jhon Dewey dalam bingkai progresivisme, memandang pendidikan tidak lain sebagai sebuah rekontruksi atau reorganisasi pengalaman agar lebih bermakna sehingga pengalaman tersebut dapat mengarahkan pengalaman yang akan didapat berikutnya.11 7. Dalam kerangka yang sama, Amir Dhien Indrakusuma menyatakan bahwa dalam arti yang luas pendidikan dipahami sebagai tindakan atau pengalaman yang mempengaruhi perkembangan jiwa, watak atau pun kemauan fisik individu. Dalam arti sempit, pendidikan adalah suatu proses mentransformasi pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan dari generasi ke generasi yang dilakukan oleh masyarakat melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah, pendidikan tinggi atau lembaga-lembaga lain. Lihat Amir Dien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1973), Cet. ke-1, h. 27. Lihat juga George F. Kneller, Phillosophy and Education, Colombus” Charles E Meril Book Inc., 1967), h. 63 8 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, h. 24 9 Masih dalam konsep yang humanistis, Driyakarya menyatakan bahwa inti pendidikan adalah pemanusiaan manusia muda. Pada dasarnya pendidikan adalah pengembangan manusia muda ke taraf insani. Lihat Ahmat Tafsir, Epistimologi Untuk Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: FT IAIN, 1995), h. 30. Lihat juga Driyakarya, Driyakarya Tentang Pendidikan, (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1980), h. 145 10 Wiji Suwarno, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: al-Ruz Media, 2008), Cet. ke-2, h. 19 11 “Education is recontruction or reorganization of experience which adds to the course of subsegment experience”. Lihat Jhon Dewey, Democracy and Education; an Introduction to the Phillosohpy of Education, (New York: Daver Publications Inc., 2000), h. 74.

(27) 16. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN), Bab I Pasal 1 : Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar anak didik secara aktif mengembangkan potensi dirnya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.12 Akan halnya kata Islam yang menghimbuhi kata pendidikan di belakangnya, Marimba menambahkan di penghujung definisi yang diungkapkan di atas dengan ungkapan menurut ukuran-ukuran Islam.13 Yusuf al-Qardhawi sebagaimana dikutip Azyumardi Azra, memberikan pengertian bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya yaitu. akal. dan. hatinya,. rohani. dan. jasmaninya,. akhlak. dan. keterampilannya. Untuk itu, pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam keadaan damai maupun perang, dan menyiapkannya untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya.14 HM. Arifin memandang bahwa pendidikan Islam adalah suatu proses sistem pendidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan hamba Allah SWT (anak didik) dengan berpedoman kepada ajaran Islam. Lebih lanjut dikatakan bahwa pendidikan Islam merupakan usaha orang dewasa (muslim) yang bertaqwa yang secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (potensi dasar) anak didik melalui ajaran Islam ke arah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya.15. 12. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Visi Media, 2007), h. 2 13 Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: al-Ma‟arif, 1989), Cet. ke-7, h. 9 14 Azyumardi Azra, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, (Jakarta: Kalimah, 2001), Cet. ke-8, h. 5 15 HM. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam; Suatu Tinjauan Kritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), h. 11 dan 32.

(28) 17. Sedangkan A. Zaki Badawi melihat bahwa pendidikan Islam adalah organisasi masyarakat16 yang memberi pengaruh aktivitasnya bagi keluarga dan lembaga sekolah dalam upaya mengembangkan potensi anak didik yang dapat hidup sesuai dengan perkembangan lingkungan di mana ia berada.17 M. Kamal Hasan sebagaimana dikutip Taufiq Abdullah dan Sharon Shiddique, mendefinisikan pendidikan Islam adalah suatu proses yang komprehensif dari pengembangan kepribadian manusia secara keselurhan yang meliputi intelektual, spiritual, emosi dan fisik, sehingga seorang muslim disiapkan dengan baik untuk melaksanakan tujuan kehadirannya di sisi Tuhan sebagai hamba dan wakil-Nya di muka bumi.18 Berangkat dari beberapa pengertian pendidikan Islam di atas, seiring dengan upaya Rupert C. Lodge memahami pendidikan dengan segala cakupannya. Pendidikan tiada lain merupakan lembaga kehidupan, kehidupan adalah pendidikan dan pendidikan adalah kehidupan (life is education and education is life).19 Sementara dilihat dari luasnya cakupan pendidikan yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia baik jasmani, akal, daya, kreasi dan sosial kemasyarakatan, manusia sebagai aspek yang tidak dapat dipisahkan dalam proses pendidikan Islam, maka istilah tarbiyah kelihatannya paling tepat untuk mewakili makna pendidikan Islam.20 Berdasarkan beberapa uraian di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pendidikan Islam adalah suatu upaya menyeluruh 16. Hasan Langgulung menjelaskan dua pendekatan yang dilakukan masyarakat untuk memahami hakekat pendidikan yaitu pertama, pendidikan dalam konteks masyarakat yang berarti pewarisan atau pemindahan nilai-nilai intelek, seni, politik, ekonomi, agama, dan lain-lain. Kedua, pendidikan dalam konteks individu yaitu pengembangan potensi-potensi manusia. Jadi pendidikan apapun yang dilaksanakan senantiasa melibatkan masyarakat dan seluruh perangkat kebudayaan yang sejalan dengan nilai-nilai dan pandangan falsafah yang dianutnya. Lihat Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam, (Bandung: al-Ma‟arif, 1980), h. 131 - 132 17 A. Zaki Badawi, Mu’jam Musthalah al-Ulum al-Ijtima’iyyat, (Beirut: Maktabah Lubnan, 1982), h. 127 18 Taufiq Abdullah, et.al., Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara, terj. Rachman Achwan, (Jakarta: LP3ES, 1989), h. 409 19 Rupert C. Lodge, Phillosophy of Education, (New York: Harper and Brohters, 1974), h. 23 sebagaimana dijelaskan Ahmad Tafsir dalam Ilmu Pendidikan Perspektif Islam, h. 59 20 Shalih Abd. Azis, et.al., al-Tarbiyah wa al-Thuruq al-Tadris, (Mesir: Daar al-Ma‟arif, 1979), h. 59.

(29) 18. dalam rangka menanamkan nilai-nilai Islam yang bersumber dari ajaran alQur‟an dan al-Sunnah dalam segala aspeknya baik jasmani, intelektual dan rohani anak didik agar tidak hanya siap menghadapi hidup secara individu di tengah-tengah masyarakat dengan segala perkembangannya, tetapi juga berupaya mengamalkan nilai-nilai luhur ajaran Islam untuk kehidupan akhirat. 2. Pengertian Akhlak Akhlak merupakan ungkapan kata yang berasal dari bahasa Arab. Dalam al-Munawwir,21 akhlak adalah kata jamak dari al-khuluq atau khalq yang berarti tabi‟at dan budi pekerti. Sedangkan dalam al-Munjid,22 kata akhlak berarti budi pekerti, perangai dan tingkah laku. Kata akhlak merupaka isim jamid, tidak memiliki akar kata, jamak dari kata khaliqun atau khuluqun, artinya sama dengan arti akhlak. Kedua kata ini terdapat alQur‟an23 dan sunnah.24 Dalam bahasa Indonesia dapat digunakan dengan pendekatan linguistik dan terminologik yang berarti budi pekerti dan sopan santun.25 Ada beberapa definisi akhlak atau khuluq. Menurut Ibn Maskawih (W. 421 H/1030 M). Khuluq adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pemikiran terlebih dahulu.26 Sedangkan menurut al-Ghazali. 21. A.W. Munawwir, Kamus al-Munawwir; Arab- Indonesia Terlengkap, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), h. 364 22 Luis Ma‟luf, al-Munjid, (Beirut: al-Maktabah al-Sharaqiyah, 1986), h. 194 23 Misalnya terdapat dalam surah al-Qalam : 4 yang memiliki arti budi pekerti, juga terdapat dalam surah al-Syu‟ara : 137 yang mengandung arti adat kebiasaan. 24 Dalam sebuah hadits Nabi tentang akhlak ini antara lain disebutkan yang artinya: “Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah orang yang sempurna budi pekertinya” (HR. Turmudzi). 25 Lihat antara lain W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991), Cet. ke-12, h. 19, HAH Harahap, et.al., Ensiklopedi Pendidikan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, Cet. ke-3, h. 12, Ahmad Haris Zubair, Kuliah Etika, (Jakarta: Rajawali Press, 1990), Cet. ke-2, h. 14 dan Hamzah Ya‟qub, Etika Islam; Pembinaan Akhlak al-Karimah Suatu Pengantar, (Bandung: Diponegoro, 1983), h. 11 26 Ibn Maskawih adalah filsuf dari negeri Persia yang terkenal sebagai seorang pakar pertama di bidang akhalk. Lihat Ibn Maskawih, Tahdib al-Akhlak wa Tathir al-Araq, (Kairo: alMathba‟ah al-Mishriyyah, 1934), h. 40.

(30) 19. (1059 – 1111 M),27 dalam kitabnya Ihya ‘Ulumuddin, khuluq dipahami sebagai suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dapat memunculkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan pemikiran.28 Menurut beliau, khuluq adalah sifat atau watak yang sudah tertanam dalam diri dan telah menjadi adat kebiasaan pada diri seseorang secara otomatis tereskpresi dalam amal perbuatan dan tindakannya. Dengan demikian, akhlak itu bukan perbuatan yang lahir atas pertimbangan karena mengingat sesuatu faktor yang timbul dari luar diri, tetapi sebagai refleksi jiwa. Sejalan dengan pendapat di atas, maka Ibrahim Anis berpendapat bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang melahirkan bermacam-macam perbuatan baik atau buruk tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.29 Yunus mengartikan akhlak secara sederhana dengan sifat-sifat manusia yang terdidik.30 Sedangkan Amin berpendapat bahwa khuluq ialah membiasakan kehendak.31 Adapun Mustofa32 mendefinisikan akhlak sebagai suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, kekuatan dan kehendak yang menimbulkan kecenderungan pada pemilihan sikap atau perbuatan yang benar atau salah. Sementara itu, Murtadha Mutahari33 menyebutkan bahwa akhlak adalah tindakan yang bersumber dari maslahat berdasarkan pertimbangan akal yang bersamaan dengan kehendak dan tergolong dalam kategori ibadah. Dari beberapa uraian di atas dapat dipahami bahwa akhlak merupakan kehendak dan kebiasaan manusia yang merupakan keinginan yang ada pada diri manusia setelah dibimbing. Sedangkan pembiasaan 27. Al-Ghazali adalah seorang tokoh yang dikenal sebagai Hujjatul Islam, karena kepiawaiannya dalam membela Islam dari berbagai paham yang dianggap menyesatkan. Beliau juga seorang ahli tasawuf yang berhasil mempertemukan fiqh dan tasawuf serta filsafat dan kalam. 28 Imam al-Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin, (Beirut: Daar al-Fikr, tth), h. 56 29 Ibrahim Anis, al-Mu’jam al-Wasith, (Kairo: Daar al-Ma‟arif, 1972), h. 202 30 Abdulhamid Yunus, Daurah al-Ma’arif, (Kairo: al-Sya‟b, tth), Jilid II, h. 36 31 Ahmad Amin, Kitab al-Akhlak, (Kairo: Daar al-Kutub al-Mishriyyah, tth), h. 23 32 H.A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), h. 13 - 14 33 Murthada Muthari (1919 – 1979 M) adalah seorang ulama intelek dari Iran. Lihat Murthada Muthahari, Quantum Akhlak, alih bahasa M. Babul Ulum, (Yogyakarta: Arti Bumi Interan, 2008), h. 41 dan 120 - 126.

(31) 20. adalah perbuatan-perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah untuk melakukannya. Perbuatan dilakukan atas kesadaran sendiri, tanpa paksaan dari luar. Dengan demikian, orang yang baik akhlaknya adalah orang yang tetap kecenderungannya kepada yang baik dan orang yang buruk akhlaknya adalah orang tetapi kecenderungannya kepada yang buruk.34 Untuk itu, akhlak yang buruk ini harus dipupuk dengan perbuatanperbuatan baik sehingga suatu saat nanti menjadi akhlak mulia. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa akhlak adalah tabi‟at dan perangai yang melekat pada jiwa manusia yang dari padanya lahir perbuatan-perbuatan yang mengacu kepada hukum syari‟at agama tanpa melalui proses pemikiran, pertimbangan atau penelitian. 3. Tujuan dan Fungsi Pendidikan Akhlak Amar Khalid menyimpulkan bahwa ada empat tujuan dalam mempelajari akhlak yaitu karena akhlak merupakan tujuan diutusnya Nabi Muhammad SAW, untuk melenyapkan kesenjangan antara akhlak dan ibadah, untuk menjadi orang-orang yang mengamalkan dan untuk tidak menjadi sebab yang menyesatkan manusia lainnya.35 Ahmad Amin menyatakan bahwa tujuan pendidikan akhlak adalah untuk dapat menetapkan mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang buruk.36 M. Athiyah al-Abrashi menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan akhlak adalah untuk membentuk moral yang baik, berkemauan keras, sopan dalam berbicara dan berbuat, mulia dalam tingkah laku serta beradab.37 Sedangkan Abudin Nata38 menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan akhlak adalah untuk memberikan pedoman atau penerangan 34. Sayyid Usman Ibn Abd Uqail Ibn Yahya, Adab al-Insan, (Beirut: Manar Quds, tth), h. 2 - 3 Amar Khalid adalah seorang cendekiawan muslim dari Mesir yang diakui sebagai mubaligh ternama dari motivator berpengaruh kaliber dunia. Lihat Amar Khalid, Buku Pintar Akhlak, alih bahasa Fauzi F.B., (Jakarta: Zaman, 2010), h. 3 - 17 36 Ahmad Amin, Kitab al-Akhlak, h. 1 37 M. Athiyah al-Abrashi, Dasar-Dasar Pendidkan Islam, alih bahasa Bustami Abdul Ghani, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), h. 103 38 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Bulan Bintang, 2009), h. 16 35.

(32) 21. bagi manusia dalam mengetahui perbuatan yang baik atau buruk. Terhadap perbuatan yang baik ia berusaha untuk melakukannya dan terhadap perbuatan yang buruk ia berusaha untuk menghindarinya. Menurut Megawangi, ada empat tujuan untuk membentuk anak-anak dengan akhlak yang mulia yaitu (a) membangun dan membentuk akhlak anak yang memiliki intelektualitas dan kematangan emosi yang dibingkai dengan nilai-nilai ruhiyah, (b) membantu anak mengembangkan kecerdasan yang optimal dalam aspek kognitif, emosional dan spiritual, (c) membantu anak mencapai keseimbangan fungsionalisasi otak kiri dan kanan yang dibingkai dengan nilai-nilai ruhiyah dan (d) menguasai kecakapan hidup seperti mampu memecahkan masalah, komunikator yang efektif, mudah beradaptasi, mampu menghadapi tantangan dan berani mengambil resiko.39 Dharma Kusuma, dalam bukunya Pendidikan Karakter, mengatakan bahwa tujuan pelaksanaan pendidikan akhlak dalam seting sekolah memiliki tiga tujuan yaitu :40 Pertama, tujuan pertama pendidikan akhlak adalah memfasilitasi penguatan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud dalam perilaku anak baik ketika proses sekolah maupun setelah proses sekolah. Penguatan dan pengembangan memiliki makna bahwa pendidikan dalam seting sekolah bukanlah sekedar suatu dogmatisasi nilai kepada peserta didik, tetapi sebuah proses yang membawa peserta didik untuk memahami dan merefleksi bagaimana suatu nilai menjadi penting untuk diwujudkan dalam perilaku keseharian seseorang termasuk bagi anak. Penguatan juga mengarahkan proses pendidikan pembiasaan. Penguatan perilaku melalui pembiasaan di sekolah dan pembiasaan di rumah. Asumsi yang terkandung dalam tujuan yang pertama ini adalah bahwa posisi penguasaan akademik diposisikan sebagai media aau sarana untuk mencapai penguatan dan. 39. http://ihf.sbb.org/tk-karakter.htm, diakses pada tanggal 10 Juni 2011 Dharma Kusuma, et.al., Pendidikan Karakter; Kajian Teori dan Praktek di Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), h. 9 40.

(33) 22. pengembangan akhlak. Dengan kata lain, sebagai tujuan perantara untuk terwujudnya sebuah akhlak. Kedua, pendidikan adalah mengoreksi perilaku yang dikembangkan oleh sekolah. Tujuan ini memiliki makna bahwa pendidikan akhlak memiliki sasaran untuk meluruskan berbagai perilaku anak yang negatif menjadi positif. Proses pelurusan yang dimaknai sebagai pengoreksian perilaku dipahami sebagai proses pedagdogis, bukan suatu pemaksaan atau pengkondisian. yang. tidak. mendidik.. Proses. pedagdogis. dalam. pengoreksian pada perilaku negatif yang diarahkan pada pola pikir anak, kemudian dibarengi dengan keteladanan lingkungan sekolah dan lingkungan rumah serta proses pembiasaan berdasarkan tingkah laku dan jenjang sekolahnya. Ketiga,. pendidikan. akhlak. dengan. seting. sekolah. adalah. pembangunan koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat dalam memerankan tanggung jawab pendidikan akhlak secara umum. Tujuan ini memiliki makro bahwa proses pendidikan akhlak di sekolah harus dihubungkan dengan proses pendidikan dalam lingkungan keluarga. Jika saja pendidikan akhlak di sekolah bertumpu pada interaksi antara peserta didik dengan guru di kelas dan sekolah, maka pencapaian berbagai akhlakyang diharapkan akan sulit diwujudkan. Pendidikan akhlak diterapkan dalam lembaga pendidikan dengan alasan kemerosotan moral,41 dekadensi kemanusiaan atau dekadensi moral,42 seharusnya membuat perlu mempertimbangkan perannya bagi perbaikan budaya. Oleh sebab itu, tujuan pendidikan akhlak semestinya diletakkan dalam kerangka gerak dinamis dialektis yang berupa tanggapan 41. Muhammad Hatta, Demokrasi Kita; Idealisme dan Realitas serta Unsur yang Memperkayanya, (Jakarta: Balai Pustaka, 2004), h. xvi 42 Dalam naskha akademis Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi disebutkan bahwa alasan utama dirancangnya peratuan tersebut adalah untuk melindungi generasi muda dari dekadensi moral. Dekadensi moral yang dimaksud adalah berbagai tindakan kejahatan seksual, perzinahan dan timbulnya sikap permisif terhadap tindakan yang menyimpang dari ajaran agama, a moral dan a susila seperti hubungan seksual di luar pernikahan dan praktek prostitusi. Lihat Sulistyowati Irianto, Perempuan dan Hukum, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2006), h. 298.

(34) 23. individu atas inplus natural atau fisik dan psikis serta sosial kultural yang melingkupinya untuk dapat menempa diri menjadi sempurna sehingga potensi-potensi yang ada dalam diri anak berkembang secara penuh yang membuatnya semakin menjadi manusiawi.43 Semakin menjadi manusiawi berarti ia juga semakin menjadi makhluk yang mampu berelasi secara sehat dengan lingkungan di luar dirinya tanpa kehilangan otonomi dan kebebasannya sehingga ia menjadi manusia yang bertanggung jawab. Selain itu, pendidikan akhlak juga harus memiliki tujuan jangka panjang.44 Tujuan panjang ini tidak sekedar berupa idealisme yang penentuan sarana untuk mencapai tujan itu tidak dapat diverifikasi melainkan sebuah pendekatan dialektis yang semakin mendekatkan antara yang ideal dengan kenyataan melalui proses refleksi dan interaksi terus menerus, antara idealimse, pilihan sarana dan hasil langsung yang dapat dievaluasi secara obyektif. Pendidikan akhlak untuk membangun keberadaan bangsa,45 adalah kearifan dari keanekaragaman nilai dan budaya kehidupan bermasyarakat. Kearifan itu segera muncul, jika seseorang membuka diri untuk menjalani kehidupan bersama dengan melihat realitas plural yang terjadi. Pesan akhir adalah berikan layanan yang terbaik kepada pendidik dan tenaga kependidikan sehingga terwujud masyarakat yang beradab.46 Berdasarakan pendapat-pendapat para ahli di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa tujuan yang terpenting dari pendidikan akhlak pada dasarnya adalah untuk menetapkan perbuatan yang baik dan yang buruk untuk diamalkan, sehingga membentuk moral yang baik dan tingkah laku terpuji dan beradab. Oleh sebab itu, pendidikan akhlak harus segera 43. Nurcholish Madjid, Manusia Modern Mendamba Allah; Renungan Tasawuf Positif, (Jakarta: Hikmah, 2002), h. 154 44 Alfitra Salam, Prospek dan Tantangan Implementasi Rencana Pembangunan Jangka Panjang, (Jakarta: Sekretariat Jenderal DPR RI, 2007), h. 103 45 Faruk Bambang Purwanto, Perlawanan Atas Diskriminasi Rasional – Etnik; Konteks Sosial Ideologis Kritik Sastra Peranakan Tionghoa Tahun 1970-an dan 1980-an, (Magelang: Indonesia Tera, 2000), h. 60 46 Enny Sukaini, et.al., Sekali Merdeka Tetap Merdeka; Biografi Para Pejuang Bangsa Periode Revolusi, (Jakarta: Baru, 1985, h. 231.

(35) 24. ditanamkan pada anak sedini mungkin sehingga tidak ada kesulitan bagi orang tua dalam mendidik anak agar akhlak yang ditanamkan bisa berfungsi dengan baik. Menurut Andayani, fungsi pendidikan akhlak adalah sebagai berikut : a. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Pada dasarnya kewajiban menanamkan keimanan dan ketaqwaan dilakukan oleh setiap orang tua dalam keluarga dan sekolah berfungsi untuk menumbuhkembangkan lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan, pengajaran dan latihan agar keimanan dan ketaqwaan ini dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya. b. Penanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan di dunia dan di akhirat. c. Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran Islam. d. Perbaikan, yaitu memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangankekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman dan pengamalan ajaran Islam. e. Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya. f. Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum, sistem dan fungsinya. g. Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan orang lain.47 Dalam rangka menumbuhkembangkan potensi anak, maka dapat dilakukan melalui bimbingan, pengajaran dan latihan agar keimanan dan ketaqwaan anak dapat berkembang secara optimal sesuai dengan fase perkembangannya. Dengan cara mengembangkan nilai-nilai keimanan, penanaman nilai-nilai hidup, penyesuaian diri dengan lingkungan, memperbaharui kesalahan, kekurangan dan kelemahan, mencegah hal-hal 47. Dian Andayani, et.al., Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi; Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), Cet. ke-3, h. 134 - 135.

(36) 25. yang bersifat negatif dan menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat ke arah yang sesuai dengan ajaran Islam merupakan fungsi dari pendidikan akhlak. 4. Pentingnya Pendidikan Akhlak Dalam Keluarga M. Athiyah al-Abrashi48 menyatakan bahwa esensi sesungguhnya dari pendidikan Islam adalah mengenai pendidikan akhlak. Ia juga menegaskan bahwa keluhuran akhlak inilah yang menjadi tujuan dasar dari pendidikan Islam, bahkan menurutnya kesempurnaan akhlak itu lebih diutamakan dari pada penguasaan ilmu. Hal senada juga diungkapkan oleh Abbas Mahjub49 yang menyatakan bahwa pembentukan dan pembinaan akhlak merupakan tujuan terpenting dari pendidika Islam. Gary J. Quinn50 mengungkapkan bahwa tujuan yang pertama dan yang paling utama dari pendidikan adalah untuk pembinaan moral. Namun realitasnya sekarang ini sekolah-sekolah di Amerika lebih mementingkan untuk mengakuisisi keterampilan-keterampilan dasar dan pengajaran secara umum dari pada pengajaran tentang moral. Banyak orang tua di Amerika yang menganggap bahwa sekolahan adalah sebagai baby-sitter bagi anak-anak mereka, ada juga yang pergi ke sekolah karena ingin belajar olah raga atau belajar keterampila sosial atau belajar kebenaran politik, bahkan di beberapa sekolah telah menjadikan dirinya sebagai tempat untuk belajar demi dirinya sendiri dan menjadi jalur untuk memperoleh pekerjaan. Daniel. K.. Lapsley51. seorang. psikolog. Amerika. dalam. kesimpulannya menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk membentuk moralitas moral diri individu. Hal ini didasarkan pada ambisi 48. M. Athiyah al-Abrashi, al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Falasifatuha, (Mesir: Isa al-Babi alHalabi, 1969), h. 9 - 128 49 Abbas Mahjub, Ushul al-Fikr al-Tarbawi fi al-Islam, (Damaskus: Daar Ibn Kathir, 1987), h. 157 50 Gary J. Quinn, Moral Education in America; It is Future in an Age of Personal Autonomy and Multiculturalism, (Lincoln: Universe, 2004), h. 1 - 2 51 Daniel K. Lapsley, “Moral Self-Identity as the Aim of Education”, dalam Larry P. Nuccy dan Narcia Narvaez (ed), Handbook of Moral and Character Education, (New York: Routledge, 2008), h. 30.

(37) 26. kebanyakan dari para orang tua pada dasarnya adalah meliputi pengembangan disposisi-disposisi moral yang penting terhadap anakanaknya, dan menurutnya yang paling diinginkan oleh para orang tua adalah membesarkan anak-anaknya menjadi seseorang yang baik hati, seseorang yang memiliki sifat-sifat yang diinginkan dan patut dipuji yang kepribadiannya adalah berpedoman pada etika yang kuat, ketika dalam situasi pilihan yang radikal ia dapat melakukan hal yang benar untuk alasan yang benar, bahkan ketika dihadapkan kepada kecenderungan yang kuat untuk melakukan sebaliknya. Dari beberapa pendapat di atas baik dari kalangan pemikir pendidikan Islam maupun para pemikir pendidikan Barat secara garis besar berasumsi bahwa pendidikan akhlak mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan demikian, pendidikan akhlak memiliki kedudukan yang sangat urgen dalam pendidikan Islam. Pada umumnya, pendidikan dalam rumah tangga itu bukan bertitik tolak pada kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan karena secaa kodrati suasana dan strukturnya memberikan keyakinan demi membangun situasi pendidikan. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa pendidikan Islam erat kaitannya dengan pendidikan akhlak. Untuk itu, penerapan pendidikan Islam tanpa dilandasi dengan akhlak, maka tidak akan tercapai kehidupan yang Islami. Seorang anak dapat dikatakan sebagai anak muslim jika ia memiliki akhlak yang mulia, karena akhlak mulia dapat dilihat dari sikap dan tingkah laku serta ucapan-ucapan yang sesuai dengan tuntutan yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dengan demikian, pendidikan akhlak memegang peranan penting dalam kehidupan keluarga. 5. Ruang Lingkup Pendidikan Akhlak Dalam Keluarga Ruang. lingkup. pendidikan. akhlak. dalam. keluarga. adalah. berlangsungnya proses pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi.

(38) 27. mansia beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia dengan bertitik tolak pada ayat-ayat yang terdapat dalam surah Luqman ayat 12 – 19. Luqman alHakim merupakan orang yang diangkat oleh Allah SWT sebagai contoh manusia dalam pendidikan anak yang telah dibekali oleh Allah SWT dengan iman dan sifat-sifat terpuji yang salah satu di antaranya adalah senantiasa bersyukur kepada Allah SWT yang tentu saja sudah pasti beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Dengan demikian, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT merupakan ruang lingkup dari pendidikan akhlak. Ruang lingkup pendidikan akhlak dalam keluarga menurut Zakiah Daradjat terdiri atas :52 a. Pembinaan iman dan tauhid Pembinaan iman dan tauhid kepada anak merupakan suatu kewajiban bagi orang tua muslim agar anak dengan tumbuh dan berkembang jiwa agamanya dari sejak kecil sampai ia dewasa. Penanaman iman dan tauhid merupakan pondasi utama bagi umat manusia khususnya yang beragama Islam. Jika ia kkuat imannya, maka kelak ketika dewasa keimanannya tidka mudah tergoyahkan. Sebaliknya, apabila iman dan tauhidnya rapuh, maka kelak ia dewasa akan mudah mendapatkan pengaruh dari luar baik itu pengaruh baik maupun pengaruh buruk. b. Pembinaan akhlak Akhlak adalah implementasi dari iman dalam segala bentuk dan perilaku. Pendidikan akhlak dalam keluarga dilaksanakan dengan contoh dan teladan dari orang tua. Perilaku dan sopan santun dalam hubungan dan pergaulan antara ibu dan bapak, perlakuan orang tua terhadap anak-anak mereka dan perlakuan orang tua terhadap orang lain dalam lingkungan keluarga dan masyarakat akan menjadi teladan. 52. Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah, (Jakarta: Ruhama, 1995), h. 17.

(39) 28. bagi anak-anak. Perkataan dan cara bicara bahkan gaya menanggapi teman-temannya atau orang lain, akan terpengaruh oleh orang tuanya dan cara mengungkapkan emosi, gembira, marah, sedih, dan lain sebagainya dipelajari pula dari orang tuanya. Adapun akhlak dan sopan santun serta cara menghadapi orang tuanya, banyak bergantung pada sikap orang tua terhadap anak. Jika si anak merasa terpenuhi semua kebutuhan pokoknya, maka ia akan sayang, menghargai dan menghormati orang tuanya. Namun jika si anak merasa terhalang dalam pemenuhan kebutuhannya, maka perilaku anak boleh jadi bertentangan dengan apa yang telah diterapkan oleh orang tuanya. c. Pembinaan keagamaan Salah satu bentuk dari pembinaan keagamaan adalah ketaatan dalam beribadah. Pembinaan ketaatan beribadah kepada anak tentu dimulai dari keluarga. Kegiatan ibadah yang lebih menarik baginya adalah yang banyak mengandung gerak, sedangkan pengertian tentang ajaran agama belum dapat dipahaminya. Untuk itu, ajaran agama yang abstrak tidak menarik perhatiannya. Anak-anak suka melakukan shalat, meniru orang tuanya meskipun ia tidak mengerti apa yang dilakukannya itu. Pengalaman yang menarik bagi anak di antaranya adalah shalat berjama‟ah apalagi bila ia berada di tengah-tengah shaf bersama orang dewasa. Selain itu, anak senang melihat dan berada di tempat ibadah yang rapih dan dihiasi lukisan atau tulisan yang indah, maka pelaksanaan perintah bagi anak tersebut bagi anak-naka untuk melakukan shalat. Jika anak-anak telah terbiasa shalat dalam keluarga, maka kebiasaan tersebut akan terbawa sampai ia dewasa bahkan sampai tua. d. Pembinaan kepribadian Pembentukan kepribadian berkaitan erat dengan pembinaan iman dan akhlak. Kepribadian merupakan suatu mekanisme yang mengendalikan dan mengarahkan sikap dan perilaku seseorang. Jika kepribadian seseorang kuat, maka sikapnya akan kuat tak mudah.

(40) 29. terpengaruh oleh bujukan dan faktor-faktor yang datang dari luar serta ia bertanggung jawab atas ucapan dan perbuatannya. Kemudian ditambah lagi dengan unsur-unsur akhlak yang mengajak orang untuk berbuat baik dan menjauhi yang munkar serta sifat sabar dalam menghadapi berbagai musibah dan keadaan. Oleh sebab itu, kepribadian. ini. hendaknya. dihiasi. dengan. sifat-sifat. yang. menyenangkan seperti ramah, rendah hati dan suara lemah lembut yang menawan. Dari beberapa uraian di atas, dapat dipahami bahwa ruang lingkup pendidikan akhlak dalam keluarga terdiri atas pembinaan iman dan tauhid, pembinaan akhlak, pembinaan keagamaan dan pembinaan kepribadian. Berangkat dari uraian di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa ruang lingkup pendidikan akhlak pada hakekatnya adalah menunjukkan baik buruknya perilaku manusia untuk membentuk kepribadian seseorang agar memiliki akhlak yang hasilnya dapat dilihat dalam tindakan nyata yaitu berupa tingkah laku yang baik seperti jujur, bertanggung jawab, kerja keras, menghormati orang lain, dan lain sebagainya.. B. Pendidikan Anak Dalam Keluarga 1. Pengertian Anak dan Keluarga Anak berarti keturunan yang kedua dan manusia yang masih kecil53 yakni manusia yang lahir (baik laki-laki, perempuan atau khunsa) dari rahim seorang ibu sebagai hasil dari persetubuhan antara dua lawan jenis.54 Oleh sebab itu, secara umum istilah anak ditujukkan kepada manusia yang masih kecil baik secara fisik, mental maupun usia. Kemudian, karena kepentingan ilmu pengetahuan dan keperluan teknis lainnya, maka konsep anak diklasifikasikan berdasarkan kriteria tertentu dan dilabeli dengan istilah-istilah spesifik tertentu pula seperti penyebutan 53. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), Cet. ke-1, h. 30 - 31 54 Azis Dahlan, et.al., Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997), Jilid I, h. 112.

(41) 30. anak kandung, anak tiri, anak angkat, anak yatim piatu dan beberapa istilah lainnya yang masing-masing memiliki kriteria tersendiri. Dalam bahasa Arab, istilah umum yang sering dipakai untuk anak adalah al-walad. Di samping itu, terdapat pula kata-kata yang juga menunjukkan makna anak dalam pengertian dan kriteria yang khusus seperti al-shabiy dan al-thifl (anak bayi laki-laki termasuk kanak-kanak. Ia secara majaz disebut laki-laki sampai masa baligh), al-Shaghir (anak kecil) dan al-ghulam (remaja/anak baru gede/ABG). Istilah ini sendiri muncul karena dalam pandangan Islam dibedakan antara anak yang masih kecil (belum baligh) dengan anak yang sudah baligh. Anak yang masih kecil juga ada yang belum mumayiz (kemampuan untuk dapat membedakan antara yang hak dan yang batil) dan ada pula yang sudah mumayiz.55 Berikut ini dijelaskan beberapa istilah terkait dengan konsep anak. Pertama, al-thifl. Kata al-thifl (jamaknya al-athfal) dimaknai dengan anak kecil sehingga ia baligh terkadang digunakan untuk menyebutkan manusia atau hewan yang masih kecil serta setiap bagian kecil dari suatu benda baik itu jamak atau mufrad.56 Dalam definisi lain, kata al-thifl dimaknai dengan bagian kecil dari segala sesuau atau unsur dari suatu benda baik yang nampak ataupun tidak.57 Secara terminologi, kata al-thifl (dalam bentuk mufrad) berarti anak yang baru saja lahir atau anak yang belum tumbuh sampai usia ketika ia mulai mengerti aurat. Sedangkan dalam bentuk jamaknya yakni al-athfal, biasanya menunjuk kepada anakanak yang telah mengetahui dan mengerti tentang aurat.58 Kedua, al-Shaghir. al-Shaghir menurut bahasa berarti anak kecil, sebagai lawan dari kata al-Kabir (orang dewasa/yang besar). Asal katanya dari fi‟il shaghura, shaqhir (shifah musyabbahah) dan jamaknya adalah. 55. Aziz Dahlan, et.al., Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid I, h. 112 Abdul Salam Harun, al-Mu’jam al-Wasith, (Kairo: Majma‟ al-Lughah al-„Arabiyah, 1960), h. 566 57 Ibnu Manzur, Lisan al-‘Arab, (Kairo: Daar al-Ma‟arif, tth), Jilid IV, h. 2681 58 Raf‟at Farid, al-Islam wa Huquq al-Thifli, (Kairo: Daar al-Malayin, 2002), h. 14 56.

(42) 31. shighar. Sedangkan ashgharahu ghayaruhu, shagharahu – tashghiran dan isthagharahu, artinya menganggap kecil atau hina. Sementara kata alShughra adalah bentuk feminim gender dari ashghar (lebih kecil).59 al-Shighar (kecil) bukanlah sifat yang asli meskipun sifat itu adalah kondisi asli manusia sejak permulaan fitrahnya. Sifat al-Shighar bukanlah sesuatu yang mesti ada pada setiap manusia, sebab hakekat atau identitas manusia tidak memerlukan sifat shighar (kecil). Allah SWT menciptakan manusia untuk mengemban berbagai beban dan tanggung jawab serta mengenal Allah SWT. Untuk itulah manusia diciptakan atas dasar suatu sifat yang menjadi perantara untuk mencapai maksud dan tujuan dari penciptaannya itu. Dalam penciptaannya, manusia diberikan potensi intelektual atau kecerdasan akal serta sempurna kemampuannya dan punya kekuatan yang lengkap sehingga ia merupakan makhluk yang utuh. Sedangkan sifat shaghir adalah sifat yang bertolak belakang dengan kemampuan di atas, karena itulah sifat shighar dipandang sebagai sifat yang datang kemudian.60 Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa yang termasuk sifat shighar di antaranya adalah belum memiliki potensi intelektual atau kecerdasan akal. al-Shighar juga identik dengan tidak sempurnanya kemampuan, belum memiliki kekuatan yang lengkap dan dipandang sebagai makhluk yang belum utuh. Dalam syari‟at Islam, anak juga bisa disebut dengan istilah ghulam (anak kecil, remaja sampai masa baligh). Ibn Nujaim al-Hanafi sebagaimana dikutip Huzaimah Tahido Yanggo, menjelaskan bahwa jika janin terpisah dari ibunya dan menjelma sebagai anak laki-laki, maka ia menjadi shabiy (bayi laki-laki). Secara majaz, ia. 59. Ibnu Manzur, Lisan al-‘Arab, h. 2452 dan 2453. Lihat Muhammad bin Abu Bakar bin Abdul Qadir al-Razi, Mukhtar al-Shihah, (Beirut: Daar al-Ma‟arif, tth), h. 363. Lihat juga Ahmad bin Muhammad bin Ali, al-Mishbah al-Munir fi al-Gharib al-Syarh al-Kabir, (Beirut: Daar alMa‟arif, tth), Juz I, h. 403 60 Huzaimah Tahido Yanggo, Fiqh Anak; Metode Islam Dalam Mengasuh dan Mendidik Anak serta Hukum-hukum yang Berkaitan Dengan Anak, (Jakarta: al-Mawardi, 2004), Cet. ke-1, h. 1-2.

Referensi

Dokumen terkait

Pemikiran Zakiah Daradjat tentang Pendidikan Anak dalam Keluarga.. Ilmu

Zakiyah Daradjat tentang konsep pendidikan akhlak dalam islam yang layak.. diimplementasikan dalam pendidikan akhlak masa sekarang dan juga

Dalam mengumpulkan data mengenai modernisasi pendidikan Islam dalam pandangan Zakiah Daradjat, sumber yang dijadikan bahan penelitian adalah buku- buku karya

Mencermati hasil pembahasan pada bab sebelumnya dapat dikemukakan kesimpulan penelitian ini yaitu: Konsep pendidikan keluarga Zakiah Daradjat yaitu menekanakan pada

Tanggung jawab ini ditinjau dari segi ajaran Islam, secara implisit mengandung pula tanggung jawab pendidikan.(Zakiah Daradjat,2015:45). Dari analisa di atas dapat

Konsep pendidikan Islam dan kesehatan mental serta peran pendidikan Islam dalam kesehatan mental, menurut Zakiah Daradjat, hendaknya dijadikan sebagai salah satu

Konsep pendidikan Islam dan kesehatan mental serta peran pendidikan Islam dalam kesehatan mental, menurut Zakiah Daradjat, hendaknya dijadikan sebagai salah satu

Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental, 42-43.. pembinaan akal, dan d) aspek tujuan sosial yaitu perkembangan sikap sosial pada anak yang di mulai dari