MASALAH & KEBIJAKAN
KEMITRAAN
KENDALA UMUM KEMITRAAN
Kesenjangan yg masih besar antara usaha besar &
usaha kecil
Kualitas produksi belum terjamin
Kerjasama kurang berkembang
Pengawasan (pemerintah) kurang optimal dlm
mengawasi proses kemitraan, seringkali merugikan usaha kecil
Lembaga pengawasan sulit diperoleh, yg berfungsi
dlm pengawasan & sbg perantara proses kemitraan
antara usaha besar & usaha kecil.
Nilai/semangat/komitmen antar pelaku kemitraan
Pelaku kemitraan pemula akan berhadapan dgn jejaring bisnis yg sudah maju
Minimnya sumber daya untuk membangun jejaring & kemitraan bisnis
Belum ada gambaran yg jelas tentang jejaring
bisnis atau kemitraan yg akan dibentuk.
ATITUDE
Pembinaan Pelatihan
Strategy Bisnis Product Value
Improvement
Cust omers Sastifaction
PRODUCT VALUE
SOP KEMITRAAN
PEMBINA
KEMITRAAN UMKM - PASAR
PORTER (1998)
Pengelompokan usaha yg scr geografis berada dlm suatu wilayah yg berdekatan yg terdiri dari perusahaan-perusahaan &
institusi-institusi terkait dlm bidang tertentu yg dihubungkan adanya sifat kebersamaan & sifat
saling melengkapi satu sama lain
Mengangkat UMKM potensial mjd UMKM unggulan
Memberdayakan UKM yg potensial agar memiliki daya saing tinggi, shg dpt bersaing di pasaran
Domestik, Nasional & Internasional.
Mengupayakan kerjasama kemitraan & penguasaan inti bisnis yg berbeda melalui penerapan kebijakan rantai nilai, lintas batas, analisis skala & cakupan ekonomis.
TUJUAN KLASTER BISNIS
PENILAIAN IMPLEMENTASI
STRATEGI KOLABORATIF MOBILISASI
DIAGNOSA
YANG DILAKSANAKAN SECARA :
NYATA TERINTEGRASI SINERGI BERKELANJUTAN
DIAGNOSA
Identifikasi & Pendefinisian UKM/Kelompok UKM serta Identifikasi Kekuatan & Kelemahan serta Peluang & Ancaman
MOBILISASI
Membangun Ketertarikan Antar Pelaku & Partisipasi
STRATEGI KOLABORATIF
Identifikasi Tindakan yang Diperlukan dalam Mengembangkan Klaster Dalam Hubungannya dengan Stakeholder dalam Klaster
IMPLEMENTASI
Penerapan Tindakan dan Visi Bersama
PENILAIAN
Memonitor & Mengevaluasi Hasil serta Tinjauan Isi Strategi
Keterkaitan Horisontal Industri
Inti
Industri Hulu Penunjang
input
Industri Hilir Penunjang
output
Forward vert.
linkage
11
Industri Terkait, Sumber Teknologi, Pemasaran
Industri Terkait, Sumber Teknologi, Pemasaran
Perkuatan FEDEP Perkuatan Forum
Klaster & BDS
KLASTER UMKM
Bottom Up &
Partisipatif
Pertanian Berbasis Processing : peternakan, Pertanian organik, tahu, jamur
Industri Berbasis Ekspor : Mebel, Rotan,
Batik, Tekstil, Tenun Kawasan Pariwisata
Unggulan Keterlibatan Dinas/
Instansi Kab, Prop, Pusat, Swasta, BUMN, PT
Integrated Program
Iklim Usaha Kondusif
One Stop Service Perbaikan
Regulasi
Keterlibatan Multi Stakeholder
Fokus
penguatan teknologi produksi, penguatan value chain, permodalan,
Marketing.
KEMITRAAN PELAKU BISNIS-PERBANKAN-LEMBAGA LAIN
• Pembiayaan kredit atau CSR
• Match maker antara perusahaan besar &
early entrepreneurs
• Promosi
kewirausahaan melalui media, workshop, forum
• Membawa best practices dari negara lain ke Indonesia
• Menghubungkan early
entrepreneurs dgn partner global
• Metode & kurikulum pengajaran utk
mendorong kewirausahaan
• Mengembangkan lingkungan kondusif bagi mhs & wirausaha untuk berinteraksi
• Infrastructure
• Regulasi yg mendukung
• Perijinan
• Mentor bagi wirausaha
• Guard father bagi early entrepreneurs
Ekosistem yg mendukung
bisnis Pemerintah
Universitas
Usaha Besar, Koperasi,
UMKM
LSMs atau Global Partner
Bank
Kemitraan Kelompok Tani, Sub Terminal Agribisnis (STA) Sari Buah, & pelaku agribisnis lain (supplier, supermarket,
hotel/restoran).
Aturan main kemitraan antara STA, kelompok tani & supermarket, sesuai dgn kesepakatan yg dibangun oleh pihak yg bermitra
Aturan main kemitraan STA Sari Buah dgn kelompok tani :
(1) STA membeli seluruh produksi manggis yg dihasilkan petani mitra
(2) Harga pembelian oleh STA dari petani sesuai harga pasar, yaitu harga pasar domestik yg dikoreksi oleh harga ekspor (3) Petani boleh menjual langsung ke STA dan atau melalui
pedagang pengumpul yg menjadi kaki-tangan STA Sari Buah (4) Pembayaran kpd petani scr tunai. Harga manggis masih di
atas harga impas, krn terdapat koreksi harga ekspor shg
harga manggis di tingkat petani mjd lebih tinggi & layak bagi petani.
Aturan main kemitraan STA Sari Buah dgn supermarket :
(1) STA melakukan kontrak pengadaan manggis & hrs memenuhi persyaratan kuantitas, kontinyuitas & kualitas. STA Sari Buah mendapat kontrak 200 kg per rate dgn frekuensi pengiriman 2 hari sekali. Kualitas yg dipersyaratkan : grade super, warna merah muda, getah kekuningan sedikit, & mudah dibuka (2) Apabila STA tidak mampu mengirim manggis sesuai dgn
kontrak tsb supermarket memiliki kebebasan untuk membeli dari supplier lain
(3) Pembayaran oleh supermarket ke STA dibagi 2 cara : sampai batas transaksi Rp 300.000 dibayar tunai & di atas itu
ditangguhkan sd 14 hari & pembayaran dilakukan dgn menggunakan bilyet giro.
Kewajiban STA kpd petani mitra :
1) Memberikan pembinaan kpd petani
2) Membantu mencarikan bibit manggis untuk petani
3) Membayar tepat waktu sesuai kesepakatan
4) Melakukan pertemuan 3 bulanan
Posisi tawar STA terlihat masih lemah :
1) Jumlah permintaan untuk satu supermarket relatif
sedikit (200 kg per dua hari), shg kurang efisien dalam pengangkutan.
2) Sistem pembayaran oleh supermarket dgn cara
ditangguhkan, sementara STA harus membayar kpd petani scr kontan dianggap kurang fair utk jalinan kemitraan.
Aturan main ini rapuh dlm melakukan kemitraan, krn tidak
ada instrumen yg dpt mempererat agar interdependency
mjd lebih kuat.
Aturan main kemitraan STA Bukit Wahana Mertha dgn petani sayuran :
1) STA berkewajiban membeli brbg jenis sayuran dari petani (petani kelompok & di luar kelompok)
2) Harga ditetapkan berdasar harga di pasar
3) Setiap penjualan, petani dikenakan biaya fee , yg tgt biaya kompensasi transport dari STA ke pasar
4) Besarnya fee tidak melebihi biaya transport jika petani menjual langsung ke pasar
5) Petani yg tinggal jauh dari STA, boleh menjual ke
pedagang, jika harganya lebih menguntungkan.
Aturan main kemitraan STA Bukit Sari Bumi dgn Kelompok Tani Bukit Sari dan Bukit Bumi :
1) Kegiatan meliputi penyediaan saprodi & menampung hasil pertanian dipasarkan dgn memungut fee sebesar
Rp 100/kg utk harga normal. Pada waktu harga tinggi, fee
naik mjd Rp 200/kg & ketika harga jatuh fee turun mjd Rp 50/kg 2) Produk yg ditampung STA dibeli pedagang pengumpul dgn
cara pembayaran tunai yg dipasarkan ke brbg pasar tradisional, supermarket, hotel & kapal pesiar, tp krn
pembayaran dilakukan satu bulan kemudian & volume yg dipasarkan relatif sedikit sekitar 10 kg, maka pemasaran ketiga tempat tsb dihentikan
3) Anggota inti STA : 18 orang (sbg pelopor), tp petani non
anggota kelompok tani jg dapat memasarkan produk ke STA 4) Hasil bersih dari kegiatan STA, 10 % dibagi kpd 18 org
anggota STA, 60 % untuk gaji 4 org karyawan STA & 30 % untuk acara keagamaan.
Pola kemitraan STA Bukit Sari Bumi dgn Kelompok Tani Bukit Sari dan Bukit Bumi tsb masih dirasakan relatif ideal oleh
petani & STA, krn petani merasakan manfaat keberadaan STA.
Jika jumlah produksi melimpah & terjadi gejolak harga, maka kemitraan ini akan mengalami goncangan, krn :
(1) Tidak ada aturan main yg mengikat antara petani dgn STA, shg petani bebas menjual kpd pedagang lain pd waktu
harga lebih menguntungkan
(2) Tidak ada ikatan STA dgn pasar di kota, STA hanya menjual kpd pasar umum, dgn tingkat persaingan cukup ketat dgn supplier lain
(3) STA tidak memiliki tenaga kerja yg cukup untuk mengambil barang dari petani.
Bentuk kerja sama pembangunan & pengembangan perkebunan dgn menggunakan perkebunan besar sbg inti, yg membimbing perkebunan rakyat di
sekitarnya sbg plasma, melalui lembaga koperasi
dlm sistem kerjasama yg saling menguntungkan,
saling mengisi, utuh & berkesinambungan.
1. POLA HIBAH
2. POLA BAGI HASIL 3. POLA KREDIT
1. SISTEM PIR (Perkebunan Inti Rakyat)
2. SISTEM KKPA (Kredit Koperasi Primer utk Anggota)
3. SISTEM REVITALISASI PERKEBUNAN
4. SISTEM HUBUNGAN ABADI
BENTUK KEMITRAAN USAHA PERKEBUNAN : 1. Kerjasama penyediaan sarana produksi
2. Produksi
3. Pengolahan hasil 4. Pemasaran
5. Transportasi
1 . Para pihak yg bermitra menandatangani naskah perjanjian kerja sama kemitraan yg telah disepakati.
2. Para pihak yg bermitra paham & mengerti
ttg isi serta maksud naskah perjanjian yg
ditandatangani.
1. Pekebun/Petani : penduduk setempat, tergabung dlm koperasi, memiliki lahan sehamparan dgn anggota lain utk dimitrakan
2. Perkebunan Besar Swasta : memiliki ijin usaha perkebunan,
memiliki ijin lokasi, bersedia kerjasama kemitraan dgn pekebun, mematuhi ketentuan pemerintah& peraturan lain yg berlaku
3. Koperasi Primer : koperasi primer & bukan koperasi karyawan.
sudah berbadan hukum lengkap dgn akte pendirian serta perubahannya.
4. Lahan Plasma : 2 Ha/KK, maks 4 Ha/KK, lahan tidak
bermasalah atau okupasi oleh pihak lain, lahan sdh memiliki perijinan yg sah, lahan berasal dari tanah milik petani atau yg akan mjd milik petani, tanah ulayat/adat, tanah negara termasuk hutan konversi serta tanah lain yg dimungkinkan utk
pengembangan perkebunan sesuai peraturan.
Kewajiban Mitra Usaha :
1) Memiliki perkebunan dan atau fasilitas pengolahan yg dapat menampung hasil perkebunan
2) Melaksanakan pengembangan perkebunan petani peserta, sesuai dengan petunjuk operasional & standart teknis yg ditetapkan oleh Departemen Pertanian
3) Bertindak sbg avalis utk pembiayaan pengembangan perkebunan 4) Mengikutsertakan pekebun scr aktif dlm proses pengembangan
perkebunan.
5) Membina scr teknis & manajemen para pekebun agar mampu
mengusahakan kebun sd tanaman menghasilkan serta memfasilitasi peremajaan tanaman.
6) Membeli hasil kebun dgn harga sesuai ketentuan yg berlaku dan atau kesepakatan bersama antara mitra usaha & pekebun
7) Menyelenggarakan proses pelaksanaan & pengembalian kredit pekebun.
Kemitraan Asian Agri (AA) – Petani, meliputi :
Mengikuti skema dr pemerintah : - AA mendapat hak guna lahan
- AA berkomitmen thd pembangunan plasmanis
- Plasma menerima kredit pemerintah - AA menyediakan brbg bimbingan :
Pelatihan ttg cara mengoptimalkan produksi &
konsep High Conservation Value Forest (HCVF), serta pencegahan & pengendalian kebakaran hutan serta kabut, Bantuan penyediaan pupuk, pelatihan ketrampilan lain utk membantu petani, ex : peternakan sapi & budidaya ikan, dll)
Kemitraan Asian Agri – Petani, meliputi :
Kesepakatan bisnis ttg produk, mutu, harga, penyerahan
Pengelolaan infrastruktur seperti jalan &
jembatan
Kepemilikan lahan setelah 48 bulan bantuan
Adil & transparan dalam penentuan harga Tandan Buah Segar (TBS)
Dampak sosial ekonomi bagi petani peserta
kemitraan