• Tidak ada hasil yang ditemukan

MASALAH & KEBIJAKAN KEMITRAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MASALAH & KEBIJAKAN KEMITRAAN"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

MASALAH & KEBIJAKAN

KEMITRAAN

(2)

KENDALA UMUM KEMITRAAN

Kesenjangan yg masih besar antara usaha besar &

usaha kecil

Kualitas produksi belum terjamin

Kerjasama kurang berkembang

Pengawasan (pemerintah) kurang optimal dlm

mengawasi proses kemitraan, seringkali merugikan usaha kecil

Lembaga pengawasan sulit diperoleh, yg berfungsi

dlm pengawasan & sbg perantara proses kemitraan

antara usaha besar & usaha kecil.

(3)

Nilai/semangat/komitmen antar pelaku kemitraan

Pelaku kemitraan pemula akan berhadapan dgn jejaring bisnis yg sudah maju

Minimnya sumber daya untuk membangun jejaring & kemitraan bisnis

Belum ada gambaran yg jelas tentang jejaring

bisnis atau kemitraan yg akan dibentuk.

(4)
(5)

ATITUDE

Pembinaan Pelatihan

Strategy Bisnis Product Value

Improvement

Cust omers Sastifaction

PRODUCT VALUE

SOP KEMITRAAN

PEMBINA

KEMITRAAN UMKM - PASAR

(6)
(7)

PORTER (1998)

Pengelompokan usaha yg scr geografis berada dlm suatu wilayah yg berdekatan yg terdiri dari perusahaan-perusahaan &

institusi-institusi terkait dlm bidang tertentu yg dihubungkan adanya sifat kebersamaan & sifat

saling melengkapi satu sama lain

(8)

 Mengangkat UMKM potensial mjd UMKM unggulan

 Memberdayakan UKM yg potensial agar memiliki daya saing tinggi, shg dpt bersaing di pasaran

Domestik, Nasional & Internasional.

 Mengupayakan kerjasama kemitraan & penguasaan inti bisnis yg berbeda melalui penerapan kebijakan rantai nilai, lintas batas, analisis skala & cakupan ekonomis.

TUJUAN KLASTER BISNIS

(9)

PENILAIAN IMPLEMENTASI

STRATEGI KOLABORATIF MOBILISASI

DIAGNOSA

YANG DILAKSANAKAN SECARA :

NYATA TERINTEGRASI SINERGI BERKELANJUTAN

(10)

DIAGNOSA

Identifikasi & Pendefinisian UKM/Kelompok UKM serta Identifikasi Kekuatan & Kelemahan serta Peluang & Ancaman

MOBILISASI

Membangun Ketertarikan Antar Pelaku & Partisipasi

STRATEGI KOLABORATIF

Identifikasi Tindakan yang Diperlukan dalam Mengembangkan Klaster Dalam Hubungannya dengan Stakeholder dalam Klaster

IMPLEMENTASI

Penerapan Tindakan dan Visi Bersama

PENILAIAN

Memonitor & Mengevaluasi Hasil serta Tinjauan Isi Strategi

(11)

Keterkaitan Horisontal Industri

Inti

Industri Hulu Penunjang

input

Industri Hilir Penunjang

output

Forward vert.

linkage

11

Industri Terkait, Sumber Teknologi, Pemasaran

Industri Terkait, Sumber Teknologi, Pemasaran

(12)

Perkuatan FEDEP Perkuatan Forum

Klaster & BDS

KLASTER UMKM

Bottom Up &

Partisipatif

Pertanian Berbasis Processing : peternakan, Pertanian organik, tahu, jamur

Industri Berbasis Ekspor : Mebel, Rotan,

Batik, Tekstil, Tenun Kawasan Pariwisata

Unggulan Keterlibatan Dinas/

Instansi Kab, Prop, Pusat, Swasta, BUMN, PT

Integrated Program

Iklim Usaha Kondusif

One Stop Service Perbaikan

Regulasi

Keterlibatan Multi Stakeholder

Fokus

penguatan teknologi produksi, penguatan value chain, permodalan,

Marketing.

(13)
(14)

KEMITRAAN PELAKU BISNIS-PERBANKAN-LEMBAGA LAIN

• Pembiayaan kredit atau CSR

• Match maker antara perusahaan besar &

early entrepreneurs

• Promosi

kewirausahaan melalui media, workshop, forum

• Membawa best practices dari negara lain ke Indonesia

• Menghubungkan early

entrepreneurs dgn partner global

• Metode & kurikulum pengajaran utk

mendorong kewirausahaan

• Mengembangkan lingkungan kondusif bagi mhs & wirausaha untuk berinteraksi

• Infrastructure

• Regulasi yg mendukung

• Perijinan

• Mentor bagi wirausaha

• Guard father bagi early entrepreneurs

Ekosistem yg mendukung

bisnis Pemerintah

Universitas

Usaha Besar, Koperasi,

UMKM

LSMs atau Global Partner

Bank

(15)
(16)

Kemitraan Kelompok Tani, Sub Terminal Agribisnis (STA) Sari Buah, & pelaku agribisnis lain (supplier, supermarket,

hotel/restoran).

Aturan main kemitraan antara STA, kelompok tani & supermarket, sesuai dgn kesepakatan yg dibangun oleh pihak yg bermitra

Aturan main kemitraan STA Sari Buah dgn kelompok tani :

(1) STA membeli seluruh produksi manggis yg dihasilkan petani mitra

(2) Harga pembelian oleh STA dari petani sesuai harga pasar, yaitu harga pasar domestik yg dikoreksi oleh harga ekspor (3) Petani boleh menjual langsung ke STA dan atau melalui

pedagang pengumpul yg menjadi kaki-tangan STA Sari Buah (4) Pembayaran kpd petani scr tunai. Harga manggis masih di

atas harga impas, krn terdapat koreksi harga ekspor shg

harga manggis di tingkat petani mjd lebih tinggi & layak bagi petani.

(17)

Aturan main kemitraan STA Sari Buah dgn supermarket :

(1) STA melakukan kontrak pengadaan manggis & hrs memenuhi persyaratan kuantitas, kontinyuitas & kualitas. STA Sari Buah mendapat kontrak 200 kg per rate dgn frekuensi pengiriman 2 hari sekali. Kualitas yg dipersyaratkan : grade super, warna merah muda, getah kekuningan sedikit, & mudah dibuka (2) Apabila STA tidak mampu mengirim manggis sesuai dgn

kontrak tsb supermarket memiliki kebebasan untuk membeli dari supplier lain

(3) Pembayaran oleh supermarket ke STA dibagi 2 cara : sampai batas transaksi Rp 300.000 dibayar tunai & di atas itu

ditangguhkan sd 14 hari & pembayaran dilakukan dgn menggunakan bilyet giro.

(18)

Kewajiban STA kpd petani mitra :

1) Memberikan pembinaan kpd petani

2) Membantu mencarikan bibit manggis untuk petani

3) Membayar tepat waktu sesuai kesepakatan

4) Melakukan pertemuan 3 bulanan

(19)

Posisi tawar STA terlihat masih lemah :

1) Jumlah permintaan untuk satu supermarket relatif

sedikit (200 kg per dua hari), shg kurang efisien dalam pengangkutan.

2) Sistem pembayaran oleh supermarket dgn cara

ditangguhkan, sementara STA harus membayar kpd petani scr kontan dianggap kurang fair utk jalinan kemitraan.

Aturan main ini rapuh dlm melakukan kemitraan, krn tidak

ada instrumen yg dpt mempererat agar interdependency

mjd lebih kuat.

(20)

Aturan main kemitraan STA Bukit Wahana Mertha dgn petani sayuran :

1) STA berkewajiban membeli brbg jenis sayuran dari petani (petani kelompok & di luar kelompok)

2) Harga ditetapkan berdasar harga di pasar

3) Setiap penjualan, petani dikenakan biaya fee , yg tgt biaya kompensasi transport dari STA ke pasar

4) Besarnya fee tidak melebihi biaya transport jika petani menjual langsung ke pasar

5) Petani yg tinggal jauh dari STA, boleh menjual ke

pedagang, jika harganya lebih menguntungkan.

(21)

Aturan main kemitraan STA Bukit Sari Bumi dgn Kelompok Tani Bukit Sari dan Bukit Bumi :

1) Kegiatan meliputi penyediaan saprodi & menampung hasil pertanian dipasarkan dgn memungut fee sebesar

Rp 100/kg utk harga normal. Pada waktu harga tinggi, fee

naik mjd Rp 200/kg & ketika harga jatuh fee turun mjd Rp 50/kg 2) Produk yg ditampung STA dibeli pedagang pengumpul dgn

cara pembayaran tunai yg dipasarkan ke brbg pasar tradisional, supermarket, hotel & kapal pesiar, tp krn

pembayaran dilakukan satu bulan kemudian & volume yg dipasarkan relatif sedikit sekitar 10 kg, maka pemasaran ketiga tempat tsb dihentikan

3) Anggota inti STA : 18 orang (sbg pelopor), tp petani non

anggota kelompok tani jg dapat memasarkan produk ke STA 4) Hasil bersih dari kegiatan STA, 10 % dibagi kpd 18 org

anggota STA, 60 % untuk gaji 4 org karyawan STA & 30 % untuk acara keagamaan.

(22)

Pola kemitraan STA Bukit Sari Bumi dgn Kelompok Tani Bukit Sari dan Bukit Bumi tsb masih dirasakan relatif ideal oleh

petani & STA, krn petani merasakan manfaat keberadaan STA.

Jika jumlah produksi melimpah & terjadi gejolak harga, maka kemitraan ini akan mengalami goncangan, krn :

(1) Tidak ada aturan main yg mengikat antara petani dgn STA, shg petani bebas menjual kpd pedagang lain pd waktu

harga lebih menguntungkan

(2) Tidak ada ikatan STA dgn pasar di kota, STA hanya menjual kpd pasar umum, dgn tingkat persaingan cukup ketat dgn supplier lain

(3) STA tidak memiliki tenaga kerja yg cukup untuk mengambil barang dari petani.

(23)
(24)

Bentuk kerja sama pembangunan & pengembangan perkebunan dgn menggunakan perkebunan besar sbg inti, yg membimbing perkebunan rakyat di

sekitarnya sbg plasma, melalui lembaga koperasi

dlm sistem kerjasama yg saling menguntungkan,

saling mengisi, utuh & berkesinambungan.

(25)

1. POLA HIBAH

2. POLA BAGI HASIL 3. POLA KREDIT

1. SISTEM PIR (Perkebunan Inti Rakyat)

2. SISTEM KKPA (Kredit Koperasi Primer utk Anggota)

3. SISTEM REVITALISASI PERKEBUNAN

4. SISTEM HUBUNGAN ABADI

(26)

BENTUK KEMITRAAN USAHA PERKEBUNAN : 1. Kerjasama penyediaan sarana produksi

2. Produksi

3. Pengolahan hasil 4. Pemasaran

5. Transportasi

(27)

1 . Para pihak yg bermitra menandatangani naskah perjanjian kerja sama kemitraan yg telah disepakati.

2. Para pihak yg bermitra paham & mengerti

ttg isi serta maksud naskah perjanjian yg

ditandatangani.

(28)

1. Pekebun/Petani : penduduk setempat, tergabung dlm koperasi, memiliki lahan sehamparan dgn anggota lain utk dimitrakan

2. Perkebunan Besar Swasta : memiliki ijin usaha perkebunan,

memiliki ijin lokasi, bersedia kerjasama kemitraan dgn pekebun, mematuhi ketentuan pemerintah& peraturan lain yg berlaku

3. Koperasi Primer : koperasi primer & bukan koperasi karyawan.

sudah berbadan hukum lengkap dgn akte pendirian serta perubahannya.

4. Lahan Plasma : 2 Ha/KK, maks 4 Ha/KK, lahan tidak

bermasalah atau okupasi oleh pihak lain, lahan sdh memiliki perijinan yg sah, lahan berasal dari tanah milik petani atau yg akan mjd milik petani, tanah ulayat/adat, tanah negara termasuk hutan konversi serta tanah lain yg dimungkinkan utk

pengembangan perkebunan sesuai peraturan.

(29)

Kewajiban Mitra Usaha :

1) Memiliki perkebunan dan atau fasilitas pengolahan yg dapat menampung hasil perkebunan

2) Melaksanakan pengembangan perkebunan petani peserta, sesuai dengan petunjuk operasional & standart teknis yg ditetapkan oleh Departemen Pertanian

3) Bertindak sbg avalis utk pembiayaan pengembangan perkebunan 4) Mengikutsertakan pekebun scr aktif dlm proses pengembangan

perkebunan.

5) Membina scr teknis & manajemen para pekebun agar mampu

mengusahakan kebun sd tanaman menghasilkan serta memfasilitasi peremajaan tanaman.

6) Membeli hasil kebun dgn harga sesuai ketentuan yg berlaku dan atau kesepakatan bersama antara mitra usaha & pekebun

7) Menyelenggarakan proses pelaksanaan & pengembalian kredit pekebun.

(30)
(31)

Kemitraan Asian Agri (AA) – Petani, meliputi :

 Mengikuti skema dr pemerintah : - AA mendapat hak guna lahan

- AA berkomitmen thd pembangunan plasmanis

- Plasma menerima kredit pemerintah - AA menyediakan brbg bimbingan :

Pelatihan ttg cara mengoptimalkan produksi &

konsep High Conservation Value Forest (HCVF), serta pencegahan & pengendalian kebakaran hutan serta kabut, Bantuan penyediaan pupuk, pelatihan ketrampilan lain utk membantu petani, ex : peternakan sapi & budidaya ikan, dll)

(32)

Kemitraan Asian Agri – Petani, meliputi :

 Kesepakatan bisnis ttg produk, mutu, harga, penyerahan

 Pengelolaan infrastruktur seperti jalan &

jembatan

 Kepemilikan lahan setelah 48 bulan bantuan

 Adil & transparan dalam penentuan harga Tandan Buah Segar (TBS)

(33)

Dampak sosial ekonomi bagi petani peserta

kemitraan

Referensi

Dokumen terkait

bagi karang taruna di Kecamatan Gondang tentang Desain Grafis Penyampaian materi tentang pendesainan spanduk dengan memanfaatkan software CorelDraw yang dapat diterapkan

Neraca Massa Komponen Tiap

Beberapa pengertian lain dari beberapa ahli, antara lain menyebutkan, bahwa mata air adalah sebuah tempat di permukaan tanah dimana airtanah mengalir keluar dari

Pengelompokan kebutuhan ke dalam bidang eksternal dilakukan berdasarkan kesamaan fungsinya yaitu untuk meningkatkan hubungan kerja sama dengan pihak luar SM-IAGI ITB sehingga

Ketua IDI Cabang Sumba Timur memiliki peran dan tanggung jawab untuk menyampaikan sosialisasi peraturan perundang-undangan dan pengawasan terhadap anggota IDI yang

Pelatih yang menunjukkan penerimaan terhadap program tersebut menyatakan bahawa dengan melakukan pelbagai aktiviti yang terdapat dalam program pemulihan fizikal dan disiplin,

[r]

Hal inilah yang membuat sebuah pengertian tentang perilaku konsumen, yaitu sebuah perilaku yang menunjukkan proses tidak hanya sebagai kata mendapatkan atau menerima