• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENELITIAN TINDAKAN KELAS"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PERKALIAN DAN PEMBAGIAN

PECAHAN MELALUI KOMBINASI MODEL PROBLEM BASED

LEARNING DAN PAIR CHECKS SISWA KELAS V MI SAWAHAN II

TAHUN PELAJARAN 2020/2021

SALIM HARYANTO, S.Pd.

MI SAWAHAN II

DUSUN SINGGAHAN RT. 007/RW. 003 DESA SAWAHAN

KECAMATAN WATULIMO KABUPATEN TRENGGALEK

(2)
(3)

iii

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Puji syukur kami panjatakan kehadirat Allah Yang Maha Kuasa, atas segala rahmat dan hidayah-Nya, penulis akhirnya dapat menyelesaikan Laporan Penelitian Tindakan Kelas. Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak baik secara langsung maupun tidak langsung yang turut serta membantu penulis sehingga laporan ini terwujud, terutama kepada:

1. Bapak Tamin, S.Pd.I., selaku Kepala MI Sawahan II.

2. Seluruh dewan guru MI Sawahan II yang telah memberi masukan dalam penulisan laporan penelitian.

3. Seluruh siswa kelas V MI Sawahan II sebagai subjek penelitian dalam penulisan laporan ini.

4. Semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Semoga amal baik, bapak, ibu, serta saudara mendapatkan rahmat dari Allah SWT. Peneliti menyadari bahwa Penelitian Tindakan Kelas yang ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu peneliti berharap adanya saran dan kritik yang bersifat membangun guna kesempurnaan hasil penelitian ini.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Trenggalek, 31 Agustus 2020 Penulis,

(4)

iv

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas siswa, dan meningkatkan hasil belajar siswa materi operasi perkalian dan pembagian pecahan menggunakan model kombinasi Problem Based Learning dan Pair Checks. Penelitian ini dilaksanakan di kelas V MI Sawahan II Kabupaten Trenggalek, tahun pelajaran 2020/2021 dengan jumlah 13 siswa. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Teknik pengambilan data dengan cara observasi dan tes. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas siswa pertemuan terakhir meningkat menjadi “Sangat Baik”, dengan persentase 92,8% siswa berada pada kriteria “Aktif” dan “Sangat Aktif” dan ketuntasan hasil belajar secara klasikal dinyatakan berhasil dengan persentase 92,3% dari jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥68. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa model kombinasi Problem Based Learning dan Pair Checks, dapat meningkatkan aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa.

Kata Kunci : Hasil Belajar, Operasi Perkalian dan Pembagian Pecahan, Pembelajaran Berbasis Masalah, Pasangan Mengecek

(5)

v

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………..……… i

LEMBAR PENGESAHAN ..………..……….. ii

KATA PENGANTAR ..………..………... iii

ABSTRAK ………. iv

DAFTAR ISI ……….. v

BAB I PENDAHULUAN ………... 1

A. Latar Belakang Masalah ………... 1

B. Identifikasi Masalah ………... 4 C. Rumusan Masalah ……….... 4 D. Pemecahan Masalah ………. 4 E. Hipotesis Penelitian ………... 5 F Tujuan Tindakan ……… 5 G. Manfaat Tindakan ……….. 5

BAB II LANDASAN TEORI ……….. 6

A. Pembelajaran Matematika di SD ………. 6

B. Ruang Lingkup Pembelajaran Matematika Kelas V ………. 7

C. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) ………. 7

D. Pengertian Hasil Belajar Matematika ………. 9

E. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning/PBL) … 10 F. Pair Checks ………. 11

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ……….. 12

A. Tempat Penelitian ……….. 12

B. Waktu Penelitian ……… 12

C. Deskripsi Kegiatan ………. 12

D. Teknik Pengumpulan Data ………... 14

E. Instrumen Pengumpulan Data ………. 15

F. Teknik Analisis Data ……….. 17

G. Indikator Kinerja ………. 19

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ……….. 20

A. Hasil Temuan Penelitian ………... 20

B. Pembahasan ……….. 31

BAB V PENUTUP ………... 34

(6)

vi

B. Saran ……… 34

DAFTAR PUSTAKA ……… 35

(7)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kurikulum 2013 merupakan sebuah kurikulum yang mengutamakan pemahaman, skill, kemampuan dan pendidikan berkarakter. Peserta didik dituntut untuk paham atas materi, aktif dalam berdiskusi dan presentasi serta memiliki sopan santun dan disiplin yang tinggi. Parameter keberhasilan belajar peserta didik dalam kurikulum 2013, dilihat dari basis kompetensi, yang menekankan pada keseimbangan soft skill, kecakapan dalam hal nilai-nilai yang melekat pada seseorang, dan hard skill, kemampuan akademik, para siswa yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu. Melalui sistem ini para peserta didik, dididik sampai memenuhi kompetensi kelulusan sehingga dapat memenuhi apa yang di harapkan oleh lapangan pekerjaan.

Pendidikan merupakan modal penting yang sangat diperlukan manusia untuk hidup bermasyarakat. Menurut Hasbullah (2013:1), hal ini disebabkan karena melalui pendidikan, kepribadian manusia diupayakan dibina sesuai dengan dengan nilai-nilai dalam masyarakat dan kebudayaan. Sejalan dengan pendapat tersebut, Hamalik juga berpendapat bahwa pentingnya pendidikan sebagai modal hidup bermasyarakat disebabkan karena melalui pengaruh pendidikan siswa akan mengalami proses perubahan sehingga ia siap menyesuaikan diri dan berguna dalam kehidupan sehari-hari dilingkungan masyarakat. Dengan demikian, penting bagi setiap manusia untuk menempuh pendidikan dan menguasai semua pengetahuan dan keterampilan yang ia peroleh dari proses pendidikan. Agar mampu membekalinya untuk menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku dan memecahkan masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dilingkungan masyarakat dengan baik.

Serangkaian proses pendidikan yang harus ditempuh oleh manusia dimulai dari jenjang pendidikan dasar. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 (2005:3), peletakkan dasar kecerdasan pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut merupakan tujuan pendidikan dasar. Oleh sebab itu, karena jenjang ini meru- pakan awal dari segala bentuk internalisasi bermula dan sebagai ujung tombak keber- hasilan tujuan pendidikan Nasional maka pelaksanaannya harus

(8)

2

dilakukan dengan sungguh-sungguh dan mengacu pada pedoman yang berlaku. Pedoman yang dijadikan acuan dalam pelaksanaan pendidikan khususnya pada tingkat pendidikan dasar saat ini adalah kurikulum 2013. Berbagai cakupan mata pelajaran dan kompetensi yang harus dikuasai siswa dengan optimal dimuat dalam kurikulum ini. Tak terkecuali mata pelajaran matematika.

Pembelajaran matematika merupakan salah satu komponen penting yang harus dikuasai siswa. Menurut Susanto (2014:185), hal ini dikarenakan siswa dilatih untuk terampil dalam berpikir dan berargumentasi, memberikan kontribusi dalam penyelesaian masalah sehari-hari dan dalam dunia kerja, serta memberikan dukungan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan tekonologi dalam pembelajaran matematika. Sehingga penguasaan siswa terhadap pembelajaran matematika dapat membantunya dalam berpikir dan menghadapi berbagai masalah di kehidu- pan sehari-hari yang berkaitan dengan ma- tematika serta melengkapi syarat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang beri- kutnya.

Salah satu kompetensi yang harus dikuasai siswa agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran matematika, yakni menjelaskan dan melakukan perkalian pecahan. Pada kompetensi ini, siswa diharapkan mampu menentukan hasil perkalian pecahan.

Kenyataan yang dihadapi sekarang berbeda dengan tujuan yang diharapkan. Sebagian besar siswa masih memiliki hasil belajar yang rendah. Hal ini dibuktikan dengan data yang diperoleh dari pembelajaran matematika sebelumnya yang menunjukkan bahwa dari 13 orang siswa hanya 40% yang tuntas, dan sisanya berada di bawah nilai KKM yang ditentukan yaitu 68, khususnya pada kompetensi perkalian dan pembagian pecahan.

Permasalahan yang dihadapi disebabkan karena sebagian besar siswa masih belum paham mengenai konsep dasar perkalian dan pembagian pecahan serta pemecahan masalah yang berkaitan dengan kehidupan nyata seperti soal pecahan dalam bentuk cerita, belum mampu berpikir kreatif dalam memecahkan masalah, belum mampu menunjukkan keaktifan saat diskusi kelompok, dan minimnya variasi model yang digunakan.

Masalah ini jika tidak ditangani dan dibiarkan berlarut-larut maka akan berdampak pada siswa, dikhawatirkan dikemudian hari siswa akan mengalami kesulitan dalam mempelajari pokok bahasan matematika selanjutnya,

(9)

3

memperoleh nilai yang tidak optimal di bawah KKM yaitu 68, serta menurunnya motivasi dan minat siswa untuk mengikuti pembelajaran.

Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh peneliti berkaitan dengan permasalahan yang muncul. Salah satunya yaitu dengan cara menggunakan model pembelajaran kooperatif, yang diharapkan dapat membantu memaksimalkan hasil belajar siswa pada kompetensi perkalian dan pembagian pecahan. Model pembelajaran yang tepat menurut peneliti, diantaranya yang menuntut pelibatan siswa serta penekanan terhadap kerjasama dalam kelompok lebih banyak selama proses pembelajaran. Oleh sebab itu, dipilihlah model pembelajaran kombinasi Problem Based Learning dan Pair Checks oleh peneliti karena dianggap tepat dan mampu menjadi sarana pemecahan masalah.

Peneliti memilih model pembelajaran ini karena beberapa pertimbangan. Berbagai peran dimiliki guru dalam dunia pendidikan, selain sebagai pendidik, pengajar, pemimpin, dan adiministrator. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Suhana (2014:99) bahwa guru juga harus memiliki landasan kesadaran, keyakinan, kedisiplinan, serta tanggung jawab dalam menjalankan salah satu perannya yang lain yakni sebagai pemberi pelayanan kepada peserta didik. Oleh sebab itu, berkaitan dengan guru dan perannya sebagai pemberi layanan yang baik, sudah seyogyanya guru tidak hanya memikirkan satu pemecahan masalah terhadap masalah pembelajaran yang dihadapinya beserta siswanya. Sehingga dipilihlah model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pair Checks untuk melengkapi upaya guru sebagai pemberi laya-nan yang bertanggung jawab agar dapat memecahkan masalah pembelajaran yang dihadapi dengan optimal.

Pemilihan model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pair Checks sangatlah tepat. Menurut Shoimin (2016:129), permasalahan nyata yang diangkat sebagai metode pengajaran dan mencirikan model pembelajaran berbasis masalah dapat melatih siswa untuk berpikir kritis dan terampil dalam proses pemecahan masalah dan pemerolehan pengetahuan. Sehingga jika model pembelajaran berbasis masalah ini diterapkan akan membuat pembelajaran matematika mengenai perkalian dan pembagian pecahan semakin mudah untuk dikuasai siswa karena pembelajaran berlandaskan pada permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari yang tidak asing bagi siswa.

Adapun Pair Checks sebagaimana dijelaskan Huda (2015:211) merupakan model yang menuntut kemandirian dan kemampuan siswa lebih banyak, seperti

(10)

4

tanggung jawab, kerjasama, dan kemampuan memberi penilaian terutama dalam hal penyelesaian masalah karena model ini berlandaskan pada prinsip pembelajaran kooperatif. Sehingga jika model ini dikombinasikan bersamaan dengan model pembelajaran berbasis masalah, tentunya akan semakin membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi siswa secara optimal.

Bentuk rancangan pembelajaran menjadi semakin lengkap. Penanaman konsep juga akan lebih mudah karena penggunaan model pembelajaran berbasis masalah yang berdasar pada masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ditambah lagi dengan penggunaan model Pair Checks yang menuntut keaktifan siswa lebih banyak dalam melakukan penilaian terhadap proses pemecahan masalah matematika. Sehingga berbagai pendapat ahli yang melengkapi dan menguatkan pemikiran peneliti dalam uraian latar belakang permasalahan, pada akhirnya mengantarkan peneliti untuk menyelesaikan permasa lahan melalui suatu penelitian tindakan kelas dengan mengangkat judul “MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PERKALIAN DAN PEMBAGIAN PECAHAN MELALUI

KOMBINASI MODEL PROBLEM BASED LEARNING DAN PAIR CHECKS

SISWA KELAS V MI SAWAHAN II TAHUN PELAJARAN 2020/2021”.

B. IDENTIFIKASI MASALAH

1. Siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran

2. Hasil belajar Matematika siswa pada materi Perkalian dan Pembagian Pecahan masih di bawah KKM.

C. RUMUSAN MASALAH

Bagaimana aktivitas siswa dan apakah terdapat peningkatan hasil belajar matematika pada materi operasi perkalian dan pembagian pecahan melalui Kombinasi Model Problem Based Learning dan Pair Checks Siswa Kelas V MI Sawahan II Kabupaten Trenggalek?

D. PEMECAHAN MASALAH

Cara pemecahan masalah yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu kombinasi model Problem Based Learning dan Pair Checks. Dengan metode ini diharapkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi operasi perkalian dan pembagian pecahan akan meningkat.

(11)

5

E. HIPOTESIS PENELITIAN

Hipotesis penelitian ini adalah dengan diterapkan kombinasi model Problem Based Learning dan Pair Checks dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi operasi perkalian dan pembagian pecahan kelas V MI Sawahan II Kabupaten Trenggalek.

F. TUJUAN TINDAKAN

Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak penggunaan kombinasi model Problem Based Learning dan Pair Checks terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi operasi perkalian dan pembagian pecahan di MI Sawahan II Kab. Trenggalek.

G. MANFAAT TINDAKAN

Penelitian ini diharapkan berguna bagi : 1. Bagi Siswa

Meningkatkan kemampuan berpikir kritis sehingga siswa terbiasa dan melatih siswa dalam mampu untuk memecahkan masalah serta berpendapat di dalam penerapan kombinasi model Problem Based Learning dan Pair Cheks, serta mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar untuk menghindari rasa jenuh pada kegiatan belajar mengajar.

2. Bagi Guru

Guru dapat menjadikan penerapan model pembelajaran sebagai alternatif guna meningkatkan hasil belajar, kemampuan berpikir kritis dan dapat meningkatkan inovasi belajar.

3. Bagi lembaga pendidikan

Dapat dijadikan sebagai referensi baru untuk program yang berkenaan dengan kombinasi model Problem Based Learning dan Pair Cheks dalam meningkatkan hasil belajar siswa dan kemampuan berpikir kritis.

(12)

6

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pembelajaran Matematika di SD/MI

Matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di sekolah, yaitu matematika yang diajarkan di pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Matematika sekolah terdiri atas bagian-bagian matematika yang dipilih guna menumbuhkembangkan kemampuan-kemampuan dan membentuk pribadi serta berpandu pada IPTEK (Suherman, 2001). Hal ini menunjukkan bahwa matematika sekolah tetap memiliki ciri-ciri yang dimiliki matematika, yaitu objek kejadian yang abstrak serta berpola pikir deduktif konsisten.

Berdasarkan kurikulum 2013, tujuan pembelajaran berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan SD yang diharapkan dapat tercapai mencangkup hal-hal berikut.

1. Domain Sikap, memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak mulia, percaya diri, dan bertanggungjawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam di sekitar rumah, sekolah, dan tempat bermain.

2. Domain Keterampilan, memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sesuai dengan yang ditugaskan kepadanya.

3. Domain Pengetahuan, memiliki pengetahuan faktual dan konseptual dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, humaniora, dengan wawasan kebangaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian di lingkugan rumah, sekolah, dan tempat bermain.

Menurut Ebbutt dan Straker (Marsigit: 2013) Matematika Sekolah atau School Mathematics didefinisikan sebagai kegiatan atau aktivitas siswa menemukan pola, melakukan investigasi, menyelesaikan masalah dan mengomunikasikan hasil-hasilnya; dengan demikian sifatnya lebih konkret. Senada hal tersebut menurut Hans Freudental dalam Marsigit (2013) matematika merupakan aktivitas insani (human activities) dan harus dikaitkan dengan realitas.

Berdasarkan uraian di atas, matematika sekolah dasar merupakan kegiatan siswa dalam menemukan pola, melakukan investigasi, menyelesaikan

(13)

7

masalah dan mengomunikasikan hasil-hasilnya yang berhubungan dengan materi matematika dasar yang diajarkan di SD.

B. Ruang Lingkup Pembelajaran Matematika Kelas V

Ruang lingkup pembelajaran Matematika SD/MI Kelas V adalah bilangan, geometri dan pengukuran, serta pengolahan data. Bilangan materi yang dibahas adalah berbagai bentuk pecahan yaitu pecahan biasa, pecahan campuran, desimal, dan persen serta melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan dengan penyebut berbeda. Perkalian dan pembagian pecahan dan desimal. Pada geometri dan pengukuran membahas kecepatan dan debit, skala, volume bangun ruang, dan jaring-jaring bangun ruang. Adapun untuk statistik membahas pengumpulan data dan penyajian data.

C. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

Salah satu prinsip penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi adalah menggunakan acuan kriteria, yakni menggunakan kriteria tertentu dalam menentukan kelulusan siswa. Kriteria paling rendah untuk menyatakan peserta didik mencapjai ketuntasan dinamakan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

KKM harus ditetapkan sebelum awal tahun ajaran dimulai. Seberapapun besarnya jumlah peserta didik yang melampaui batas ketuntasan minimal, tidak akan mengubah keputusan pendidik dalam menyatakan lulus dan tidak lulus pembelajaran. Acuan kriteria tidak diubah secara serta merta karena hasil empirik penilaian. Pada acuan norma, kurva normal sering digunakan untuk menentukan ketuntasan belajar peserta didik jika diperoleh hasil ratarata kurang memuaskan. Nilai akhir sering dikonversi dari kurva normal untuk mendapatkan sejumlah peserta didik yang melebihi nilai 6,0 sesuai proporsi kurva. Acuan kriteria mengharuskan pendidik untuk melakukan tindakan yang tepat terhadap hasil penilaian, yaitu memberikan layanan remedial bagi yang belum tuntas dan atau layanan pengayaan bagi yang sudah melampaui kriteria ketuntasan minimal.

KKM ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil musyawarah guru mata pelajaran di satuan pendidikan atau beberapa satuan pendidikan yang memiliki karakteristik yang hampir sama. Pertimbangan pendidik atau forum MGMP secara akademis menjadi pertimbangan utama penetapan KKM.

(14)

8

Kriteria ketuntasan menunjukkan derajad persentase tingkat pencapaian kompetensi sehingga dinyatakan dengan angka maksimal 100 (seratus). Angka maksimal 100 merupakan kriteria ketuntasan ideal. Target ketuntasan secara nasional diharapkan mencapai minimal 75. Satuan pendidikan dapat memulai dari kriteria ketuntasan minimal di bawah target nasional kemudian ditingkatkan secara bertahap.

Kriteria Ketuntasan Minimal menjadi acuan bersama guru, siswa, dan orang tua siswa. Oleh karena itu pihak-pihak yang berkepentingan terhadap penilaian di sekolah berhak untuk mengetahuinya. Satuan pendidikan perlu melakukan sosialisasi agar informasi dapat diakses dengan mudah oleh siswa dan atau orang tuanya. Kriteria ketuntasan minimal harus dicantumkan dalam Laporan Hasil Belajar (LHB) sebagai acuan dalam menyikapi hasil belajar siswa.

Fungsi Kriteria Ketuntasan Minimal:

1. Sebagai acuan bagi guru dalam menilai kompetensi siswa sesuai kompetensi dasar mata pelajaran yang diikuti. Setiap kompetensi dasar dapat diketahui ketercapaiannya berdasarkan KKM yang ditetapkan. Guru harus memberikan respon yang tepat terhadap pencapaian kompetensi dasar dalam bentuk pemberian layanan remedial atau layanan pengayaan. 2. Sebagai acuan bagi siswa dalam menyiapkan diri mengikuti penilaian mata

pelajaran. Setiap kompetensi dasar (KD) dan indikator ditetapkan KKM yang harus dicapai dan dikuasai oleh siswa. Siswa diharapkan dapat mempersiapkan diri dalam mengikuti penilaian agar mencapai nilai melebihi KKM. Apabila hal tersebut tidak dapat dicapai, siswa harus mengetahui KD-KD yang belum tuntas dan perlu perbaikan.

3. Dapat digunakan sebagai bagian dari komponen dalam melakukan evaluasi program pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Evaluasi keterlaksanaan dan hasil program kurikulum dapat dilihat dari keberhasilan pencapaian KKM sebagai tolak ukur. Oleh karena itu hasil pencapaian KD berdasarkan KKM yang ditetapkan perlu dianalisis untuk mendapatkan informasi tentang peta KD-KD tiap mata pelajaran yang mudah atau sulit, dan cara perbaikan dalam proses pembelajaran maupun pemenuhan saranaprasarana belajar di sekolah.

(15)

9

4. Merupakan kontrak pedagogik antara guru dengan siswa dan antara satuan pendidikan dengan masyarakat. Keberhasilan pencapaian KKM merupakan upaya yang harus dilakukan bersama antara guru, siswa, pimpinan satuan pendidikan, dan orang tua. Guru melakukan upaya pencapaian KKM dengan memaksimalkan proses pembelajaran dan penilaian. Siswa melakukan upaya pencapaian KKM dengan proaktif mengikuti kegiatan pembelajaran serta mengerjakan tugas-tugas yang telah didesain guru. Orang tua dapat membantu dengan memberikan motivasi dan dukungan penuh bagi putra-putrinya dalam mengikuti pembelajaran. Pimpinan satuan pendidikan berupaya memaksimalkan pemenuhan kebutuhan untuk mendukung terlaksananya proses pembelajaran dan penilaian di sekolah.

5. Merupakan target satuan pendidikan dalam pencapaian kompetensi tiap mata pelajaran. Satuan pendidikan harus berupaya semaksimal mungkin untuk melampaui KKM yang ditetapkan. Keberhasilan pencapaian KKM merupakan tolok ukur kinerja satuan pendidikan dalam menyelenggarakan program pendidikan.

D. Pengertian Hasil Belajar Matematika

Pengertian hasil belajar matematika menurut Setiawan(2014) adalah pengetahuan yang didapat dari pola rutinitas mempelajari matematika. Sedangkan menurutAhira (2009) hasil belajar matematika merupakan hasil yang dapat diukur dari suatu usaha untuk tahu sejauh apa kesuksesan belajar dalam penguasaan kompetensi di bagian matematika. Pendapat tersebut sejalan dengan pendapatSholihin (2013) bahwa hasil belajar matematika merupakan kemampuan- kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar matematikanya. Berdasarkan pengertian belajar, hasil belajar, dan matematika maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika merupakan tingkat keberhasilan atau penguasaan seorang siswa terhadap bidang studi matematika setelah menerima pengalaman belajar atau setelah menempuh proses belajar mengajar yang terlihat pada nilai yang diperoleh (berupa angka atau huruf) dari tes hasil belajarnya.

(16)

10

E. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning/PBL)

Arends (2008) menyatakan bahwa Problem Based Learning (PBL), berusaha untuk memandirikan siswa. Tuntutannya adalah guru mendorong dan mengarahkan siswa untuk bertanya dan mencari solusi sendiri masalah nyata, dan siswa menyelesaikan tugas-tugas dengan kebebasan berpikir dan dengan dorongan inkuiri terbuka. Problem Based Learning (PBL) juga sering disebut Problem Based Instruction. Menurut Nur (2011) ciri khas sebagai berikut. 1. Mengajukan pertanyaan atau masalah

PBL menekankan pada mengorganisasikan pembelajaran di sekitar pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah yang penting secara sosial dan bermakna secara pribadi bagi siswa. Pelajaran diarahkan pada situasi kehidupan nyata, menghindari jawaban sederhana, dan memperbolehkan adanya keragaman solusi beserta argumentasinya.

2. Berfokus pada interdisiplin

Meskipun PBL dapat berpusat pada mata pelajaran tertentu (sains, matematika, IPS) namun solusinya menghendaki siswa melibatkan banyak mata pelajaran.

3. Penyelidikan otentik

PBL menghendaki siswa menggeluti penyelidikan otentik dan berusaha memperoleh pemecahan nyata terhadap masalah nyata, seperti mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi, mengupulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen (jika diperlukan), dan membuat kesimpulan.

4. Menghasilkan karya nyata dan memamerkan

PBL menghendaki siswa menghasilkan produk dalam bentuk karya nyata dan memamerkannya. Produk ini mewakili solusi-solusi mereka, misalnya skrip sinetron, sebuah laporan, modul fisik, rekaman video, atau program komputer

5. Kolaborasi

Seperti pembelajaran kooperatif, PBL juga ditandai oleh siswa yang bekerja sama dengan siswa lain.

(17)

11

F. Pair Checks

Menurut Herdian (dalam Shoimin, 2009:119) model pair check (pasangan mengecek) merupakan model pembelajaran dimana siswa saling berpasangan dan menyelesaikan persoalan yang diberikan.Dalam model pembelajaran kooperatif tipe pair check, guru bertindak sebagai motivator dan fasilitator aktivitas siswa. Model pembelajaran ini juga untuk melatih rasa sosial siswa, kerja sama, dan kemampuan memberi penilaian.

Model pair check ini merupakan pembelajaran kooperatif yang menuntut kemandirian dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan persoalan (Huda, 2013:211).

Menurut Herdian (dalam Shoimin, 2009:119) model pair check (pasangan mengecek) merupakan model pembelajaran dimana siswa saling berpasangan dan menyelesaikan persoalan yang diberikan. Dalam model pembelajaran kooperatif tipe pair check, guru bertindak sebagai motivator dan fasilitator aktivitas siswa. Model pembelajaran ini juga untuk melatih rasa sosial siswa, kerja sama, dan kemampuan memberi penilaian. Model ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menuangkan ide, pikiran, pengalaman, dan pendapatnya dengan benar. Dengan strategi pair check memungkinkan bagi siswa untuk saling bertukar pendapat dan memberikan tugas.

Kelebihan model Pair Check Menurut Huda (2013:212) kelebihan pair check antara lain : Meningkatkan kerja sama antar siswa. Peer tutoring. Meningkatkan pemahaman atas konsep atau proses pembelajaran. Melatih siswa berkomunikasi dengan baik dengan teman sebangkunya.

Sedangkan kekurangan model pair check menurut Huda (2013:212) kekurangan pair check antara lain : Waktu yang benar-benar memadai. Dan kesiapan siswa untuk menjadi pelatih dan partner yang jujur dan memahami soal.

(18)

12

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di MI Sawahan II Kabupaten Trenggalek yang beralamatkan di Dusun Singgahan RT. 007/RW. 003 Desa Sawahan Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek dengan mengambil objek pada kelas V yang berjumlah 13 orang siswa terdiri dari 7 siswa laki-laki dan 6 siswa perempuan.

B. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tahun pelajaran 2020/2021 tepatnya tanggal 12 Agustus 2020 (Siklus I) dan 23 Agustus 2020 (Siklus II). Penentuan waktu disesuaikan dengan kalender pendidikan Madrasah.

C. Deskripsi Kegiatan

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian terhadap perilaku, persepsi, motivasi, tindakan maupun hal-hal lain yang berkaitan dengan subjek penelitian dalam rangka memperoleh pemahaman yang holistik tentang fenomena yang dialami subjek dan selanjutnya dituangkan dalam bentuk deskripsi berupa kata-kata. Dalam ruang lingkup pendidikan khususnya proses pembelajaran, fenomena yang dialami oleh pendidik maupun peserta didik dapat diteliti menggunakan pendekatan kualitatif (Tohirin, 2016:3).

Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Menurut Suyitno, penelitian tindakan kelas adalah kegiatan meneliti dengan cara melakukan pemberian tindakan berupa tindakan praktis serta refleksinya oleh para guru terhadap praktik- praktik pembelajaran yang dianggap bermasalah sebagai upaya perbaikan (Hendriana, dkk, 2017:33). Sejalan dengan pendapat tersebut, Kunandar (2013:41) berpendapat bahwa pengimplementasian penelitian tindakan kelas harus dilakukan dengan baik dan benar karena berperan penting bagi peningkatan mutu pembelajaran. Menurut Arikunto terdapat empat tahapan

(19)

13

penelitian tindakan kelas yaitu: (a) perencanaan, (b) pelaksanaan, (c) pengamatan, (d) refleksi.⁶

Model untuk masing-masing tahap adalah sebagai berikut : 1. Perencanaan (Planning)

Dalam tahap penyusunan rancangan ini peneliti menentukan titik fokus peristiwa yang perlu mendapat perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrumen pengamatan untuk membantu peneliti merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung. Perangkat pembelajaran yang harus dipersiapkan oleh peneliti adalah, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD), soal evaluasi dan lembar observasi, juga melakukan sistem kolaboratif dengan berkomunikasi sesama sejawat. Pada penelitian ini direncanakan 2 siklus, 1 Siklus I kali pertemuan. Penelitian dilaksanakan pada pelajaran Matematika materi Operasi Perkalian dan Pembagian Pecahan.

2. Pelaksanaan tindakan (Acting)

Penelitian tindakan adalah pelaksanaan yang merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan yaitu mengenai tindakan kelas. Hal yang perlu diingat dalam tahap ini bahwa dalam tahap ke-2 ini pelaksana guru harus ingat dan berusaha menaati apa yang sudah dirumuskankan dalam rancangan, tetapi harus pula berlaku wajar,tidak dibuat-buat. Pada tahap ini tindakan yang dilakukan adalah 2 kali pertemuan yaitu dengan 2 siklus. Pada pelaksanaan pembelajaran diterapkan kombinasi model pembelajaran Problem Based Learning dan Pair Checks dengan langkah-langkah pembelajarannya mengajukan pertanyaan atau masalah, berfokus pada interdisiplin, penyelidikan otentik, menghasilkan karya nyata dan memamerkan, dan kolaborasi serta siswa saling berpasangan dan menyelesaikan persoalan yang diberikan. Pelaksanaan penelitian dilakukan secara daring, mengingat siswa masih belajar dari rumah karena pandemi COVID 19.

3. Pengamatan (Observasi)

Kegiatan pengamatan dilakukan oleh Guru. Guru pelaksana yang berstatus sebagai pengamat agar melakukan pengamatan balik terhadap apa yang terjadi ketika tindakan berlangsung. Sambil melakukan pengamatan guru mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi agar memperoleh data yang

(20)

14

akurat untuk perbaikan. Pengamatan yang dilakukan pada penellitian ini adalah mengamati pelaksanaan pembelajaran oleh observer dengan menggunakan lembar observasi kegiatan siswa. Yang diamati pada kegiatan siswa ada 7 aspek.

4. Refleksi (Reflecting)

Kegiatan refleksi meliputi kegiatan anallisis, sintesis, penafsiran, menjelaskan dan menyimpulkan. Hasil dari refleksi adalah diadakannya revisi terhadap perencanaan yang telah dilaksanakan, untuk memperbaiki kinerja guru pada pertemuan selanjutnya. Refleksi dilakukan berdasarkan hasil pengamatan observer.

D. Teknik Pengumpulan Data

1. Teknik Non Tes

Teknik non tes yang digunakan adalah observasi, yakni mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran. Observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar misalnya tingkah laku siswa pada waktu belajar, kegiatan diskusi siswa, dan partisipasi siswa dalam simulasi. Melalui pengamatan dapat diketahui bagaimana sikap dan perilaku siswa, kegiatan yang dilakukannya, tingkat partisipasi dalam suatu kegiatan, proses kegiatan yang dilakukannya, kemampuan, bahkan hasil yang diperoleh dari kegiatannya. Observasi harus dilakukan pada saat kegiatan itu berlangsung (Sudjana, 1989: 84-85). Observasi atau pengamatan dilakukan untuk mengamati kegiatan siswa dalam proses pembelajaran matematika materi operasi perkalian dan pembagian pecahan dengan penerapan model pembelajaran kombinasi Problem Based Learning dan Pair Checks.

2. Teknik Tes

Teknik tes yang digunakan adalah alat penilaian atau evaluasi untuk mengukur hasil belajar Matematika, berupa tes hasil belajar. Tes hasil belajar merupakan butir tes yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar. Tes hasil belajar adalah tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa. Tes hasil belajar yang dikembangkan disesuaikan dengan jenjang kemampuan kognitif. Untuk penskoran hasil tes, menggunakan panduan evaluasi yang memuat kunci

(21)

15

dan pedoman penskoran setiap butir soal (Trianto, 2010: 235-236). Pada penelitian ini soal yang diberikan kepada siswa berbentuk objektif.

E. Instrumen Pengumpulan Data

1. Lembar Observasi Siswa

Memuat aktivitas siswa yang diamati dengan menggunakan lembar pengamatan antara lain memperhatikan aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung.

Tabel Observasi Aktivitas Siswa Nama Madrasah : MI Sawahan II

Observer : Tanggal Pelaksanaan : No Langkah-langkah Pembelajaran Skala Penilaian 1 2 3 4

1. Siswa memperhatikan guru melaksanakan pendahuluan 2. Siswa memperhatikan masalah yang diajukan guru

3. Siswa merumuskan hipotesis

4. Siswa melakukan pengumpulan data 5. Siswa menganalisis data dengan diskusi 6. Siswa menarik kesimpulan

7. Siswa melaksankan evaluasi Jumlah

Total Persentase

(22)

16

Rubrik Penilaian Aktivitas Siswa

Data untuk aktivitas guru bersumber dari lembar pengamatan aktivitas siswa. Kategori penilaian menggunakan skala 1, 2, dan 3. Untuk aspek yang diamati belum memiliki skala penilaian, maka skala penilaiannya adalah sebagai berikut:

Rubrik Observasi Aktivitas Siswa

Skala Penilaian Kriteria

1 Tidak satupun deskriptor yang tampak 2 Satu deskriptor yang tampak

3 Dua deskriptor yang tampak 4 Tiga deskriptor yang tampak

Adapun penjelasan lembar observasi aktivitas siswa sebagai berikut: 1. Siswa memperhatikan guru melaksanakan pendahuluan

Deskriptor :

a. Siswa mengikuti arahan guru b. Siswa menjawab pertanyaan guru

c. Siswa mendengarkan tujuan pembelajaran 2. Siswa memperhatikan masalah yang diajukan guru

Deskriptor :

a. Siswa memperhatikan pertanyaan yang diberikan guru b. Siswa mencoba memahami pertanyaan guru

c. Siswa merespon pertanyaan guru 3. Siswa merumuskan hipotesis

Deskriptor :

a. Siswa memberikan komentar terhadap pertanyaan yang diajukan guru

b. Siswa memberikan jawabannya c. Siswa menentukan 1 hipotesisnya 4. Siswa melakukan pengumpulan data

Deskriptor :

a. Siswa mengumpulkan data dari sumber dan media yang ada b. Siswa bekerja sama dalam kelompok dengan panduan LKPD c. Siswa membuat laporan akhir

(23)

17

5. Siswa menanalisis data dengan diskusi Deskriptor :

a. Siswa membacakan hasil diskusinya secara bergantian b. Siswa menanggapi hasil diskusi kelompok lain

c. Siswa mengumpulkan hasil diskusi 6. Siswa menarik kesimpulan

Deskriptor :

a. Siswa diberi kesempatan untuk membuat simpulan sendiri b. Siswa mendengarkan simpulan yang di sempurnakan guru c. Siswa mencatat kesimpulan

7. Siswa melaksanakan evaluasi Deskriptor :

a. Siswa menjawab soal evaluasi

b. Siswa mengumpulkan hasil jawaban evaluasi

c. Siswa mendangarkan jawaban yang benar dari guru

2. Soal Tes Hasil Belajar

Tes sebagai alat penilaian adalah pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada siswa untuk mendapat jawaban dari dalam bentuk tulisan (tes tulisan), atau dalam bentuk perbuatan (tes tindakan). Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran (Sudjana, 1989:35).

F. Teknik Analisis Data

Untuk menganalisis data pada penelitian digunakan analisis statistik deskriptif. 1. Analisis aktivitas siswa

Aktivitas siswa dapat diukur dari lembar aktivitas siswa, dan data diolah dengan menggunakan rumus:

P = 100 Keterangan:

P = Angka presentase N = Skor maksimum (28)

(24)

18 F = Frekuensi aktivitas siswa

Interval kategori aktivitas siswa dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Penilaian Kategori Aktivitas Siswa

No Interval Kategori 1 90 s/d 100 Sangat Baik 2 68 s/d 89 Baik 3 67 Cukup 4 40 s/d 66 Kurang 5 ≤ 39 Kurang Sekali

2. Analisis Hasil Belajar a. Hasil Belajar

Untuk menentukan nilai hasil belajar siswa (individual) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:

Hasil Belajar = 100 Sudijono(dalam Rita Melisa)

b. Peningkatan hasil belajar

Peningkatan hasil belajar siswa dianalisis dengan rumus sebagai berikut: P = – 100%

Sumber: Aqip, dkk, 2009 (dalam Darmawanty, 2012: 23) Keterangan:

P = Peningkatan

Posrate = Nilai sesudah diberikan tindakan Baserate = Nilai sebelum tindakan

No Interval Kategori

1 81 s/d 100 Sangat Baik

2 69 s/d 80 Baik

3 68 Cukup

(25)

19

G. INDIKATOR KINERJA

Sedangkan untuk mengetahui tingkat keberhasilan penelitian tindakan ini apabila :

1. Meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran Matematika Materi Perkalian dan Pembagian Pecahan ditandai rata-rata nilai yang dicapai diatas KKM 68 sebanyak 75% dari jumlah siswa.

2. Adanya peningkatan keaktifan belajar siswa pada kategori sangat aktif dan aktif mencapai 67%.

(26)

20

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini membahas tentang deskripsi hasil dan pembahasan tentang penerapan kombinasi model Problem Based Learning dan Pair Check untuk meningkatkan hasil belajar Matematika siswa di kelas V MI Sawahan II Kabupaten Trenggalek. Adapun gambaran hasil dan pembahasan penelitian dipaparkan sebaagai berikut:

A. Hasil Temuan Penelitian

Deskripsi Pelaksanaan Tindakan

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas V MI Sawahan II, tahun pelajaran 2020/2021. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus tepatnya Siklus I pada tanggal 12 Agustus 2020 dan Siklus II tanggal 23 Agustus 2020.

Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan penerapan kombinasi model Problem Based Learning dan Pair Check. Pada setiap akhir pertemuan siswa mengerjakan soal evaluasi yang berguna untuk melihat perkembangan siswa, hasilnya dipakai sebagai landasan untuk melakukan siklus berikutnya. Pelaksanaan observasi aktivitas siswa diamati oleh guru pada tiap pertemuan, selama pelaksanaan berlangsung dengan menggunakan lembar observasi.

1. Siklus I

a. Perencanaan Pelaksanaan Tindakan Siklus I

Sebelum melaksanakan tindakan model pembelajaran, peneliti telah menyiapkan instrumen penelitian yang terdiri dari perangkat pembelajaran dan instrumen pengumpulan data. Perangkat pembelajaran terdiri Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) new model berbasis HOTS dan TPACK dan kelengkapan bahan ajar berupa Link Video Youtube, PPT, LKPD dan soal evaluasi, dan absensi melalui WAG. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah lembar pengamatan siswa, dan soal evaluasi hasil belajar. Guru juga terlebih dahulu mempersiapkan siswa dengan mengundang siswa dengan cara mengirimkan link zoom meet melalui WAG.

(27)

21

Alat evaluasi yang dipersiapkan adalah soal dengan kunci jawaban. Soal yang dipersiapkan sebanyak 5 butir soal pilihan ganda, lembar diskusi, dan 4 butir soal uraian.

b. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan Siklus I berpandu pada RPP yang telah disiapkan yaitu materi Perkalian Pecahan. Kegiatan diawali dengan pendahuluan menyapa siswa di WA Grup /video conference dengan memberikan salam dan mengajak semua peserta didik berdo’a menurut agama dan keyakinan masing-masing, mengecek kesiapan diri dengan mengisi lembar kehadiran, memberikan motivasi kepada siswa agar selalu bersemangat dan tetap mematuhi Protokol Kesehatan COVID 19, apersepsi, dan menjelaskan materi, tujuan pembelajaran, dan menyebutkan kegiatan yang akan dilakukan. Setelah kegiatan pendahuluan, masuk ke kegiatan inti melalui video conference guru membimbing siswa untuk mengamati gambar Siti membantu Ibu membuat kue Kembang Goyang, membagikan link video sebagai media pembelajaran, memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk mengecek pemahaman siswa “Apa yang dilakukan Siti?” “Apa yang kamu lihat dari bilangan-bilangan pada tabel?” “Informasi apakah yang kamu peroleh?”, membahas pertanyaan yang ada pada teks bacaan, membimbing siswa dengan media ppt memberi contoh dan penyelesaian secara runtut tentang perkalian pecahan, meminta siswa membuat soal untuk dibahas bersama-sama, meminta siswa mengerjakan latihan soal dan membahas hasil kegiatan siswa, membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang masing-masing kelompok-kelompok terdiri dari 2 orang (berpasangan), setiap peserta didik menghitung jumlah anggota keluarganya dan memberikan hasil hitungannya kepada pasangannya untuk dihitung besaran zakat fitrah yang harus dikeluarkan, hasil jawaban dibahas dalam diskusi kelompok untuk mengecek kebenaran dan mengambil kesimpilan, siswa mengerjakan latihan soal yang disediakan dengan cara yang runtut sesuai arahan guru dan dibahas bersama-sama, dan membagikan LKPD 1 dan LKPD 2. Setelah kegiatan inti selesai, dilanjutkan pada kegiatan penutup, bersama-sama siswa membuat kesimpulan / rangkuman hasil belajar, bertanya jawab tentang materi yang

(28)

22

telah dipelajari, memberi kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapatnya tentang pembelajaran yang telah diikuti,melakukan penilaian hasil belajardan mengajak semua siswa berdo’a menurut agama dan keyakinan masing-masing (untuk mengakhiri kegiatan pembelajaran).

c. Pengamatan Siklus I

Pengamatan Aktivitas Siswa Siklus I

Pada pertemuan pertama aktivitas kegiatan siswa masih kurang, karena mereka belum memahami benar langkah-langkah pembelajaran kombinasi Problem Based Learning dan Pair Check. Siswa banyak yang kurang mengerti caranya berdiskusi dalam kelompok karena harus melalui Zoom atau WAG. Sebagian siswa ada yang terkendala akses internet.

Hasil observasi aktivitas siswa pada kegiatan pembelajaran pada Siklus I dapat dilihat dalam sajian data berupa tabel sebagai berikut.

Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I

Dilihat dari tabel di atas, aktivitas siswa yang aktif dan sangat aktif mencapai presentase klasikal sebesar 67,8 % dengan kategori cukup baik pada Siklus I.

No Langkah-langkah Pembelajaran

Skala Penilaian 1 2 3 4 1. Siswa memperhatikan guru melaksanakan pendahuluan √ 2. Siswa memperhatikan masalah yang diajukan guru √

3. Siswa merumuskan hipotesis √

4. Siswa melakukan pengumpulan data √ 5. Siswa menganalisis data dengan diskusi √

6. Siswa menarik kesimpulan √

7. Siswa melaksankan evaluasi √

Jumlah - 3 3 1

Total 19

(29)

23 d. Hasil Belajar Siklus I

Hasil yang diperoleh dari serangkaian kegiatan yang telah dilakukan dalam penelitian tindakan kelas pertemuan 1 (Siklus I) menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari pembelajaran sebelumnya. Hasil belajar siswa pada kegiatan pembelajaran dalam pertemuan 1 dapat dilihat dalam sajian data berupa tabel sebagai berikut.

Nilai Hasil Belajar Siswa Siklus I

No. Nama Nilai Ket.

1 ADELIA AFRELINA 69 Tuntas

2 ADINDA NUR FAUZIAH 72 Tuntas

3 CANTIKA FADILA ROSYAD 73 Tuntas

4 KENZIE ALFREDA CELESTA 68 Tuntas

5 MARSYA RIGBIE PUTRILIA 69 Tuntas

6 MUHAMMAD RAVA ALGUSTAF 69 Tuntas

7 MUHAMMAD ZAINUL ABIDIN 68 Tuntas

8 NITA AGUSTINA 66 Belum Tuntas

9 NURIL HUDA 64 Belum Tuntas

10 RAVA ALVARO SETYONO 70 Tuntas

11 YASINTA KAROMATUL AINI 70 Tuntas

12 ZAKKI AHMAD BAIHAQI 69 Tuntas

13 ZIVEN EGA PRANAJA 66 Belum Tuntas

Jumlah 893 Presentase

Ketuntasan 76,9%

Rata-rata 68,7

Dilhat tabel nilai diatas, dari 13 hanya 3 siswa yang mendapat nilai di bawah KKM dan 10 siswa tuntas KKM. Presentase ketuntasan hasil belajar siswa sebesar 76,9%.

e. Refleksi Siklus I

Setelah dilakukan refleksi melalui pengamatan selama dua kali pertemuan masih banyak kekurangan-kekurangan selama proses pembelajaran, diantaranya:

1. Masih banyak siswa yang tidak masuk kedalam pertemuan zoom karena kurang mengerti dan keterbatasan fasilitas

2. Pengawasan dan bimbingan kepada siswa pada saat pengumpulan dan analisis data perlu ditingkatkan.

(30)

24

3. Siswa belum mengerti / paham alur pembelajaran, sehingga pada saat proses pembelajaran, siswa masih kurang aktif dalam pembelajarannya. 4. Pada saat pembagian kelompok beberapa orang siswa tidak bekerja sama dengan teman sekelompoknya karena kesulitan cara berdiskusinya dan sebagian besar siswa menggunakan HP untuk pertemuan zoom.

5. Pada saat proses pembelajaran, siswa masih kurang aktif dalam pembelajarannya.

Dari hasil pembahasan pada Siklus I, maka peneliti melakukan perencanaan perbaikan yang akan dilakukan pada siklus II adalah:

a. Memberi pengetahuan tambahan kepada siswa tentang pembelajaran daring melalui zoom dan memberitahu cara masuk link melalui WAG. b. Merencanakan pembagian waktu secara maksimal dan sebaik mungkin

sesuai alokasi waktunya.

c. Guru lebih fokus untuk mengarahkan siswa dalam pengajuan masalah serta membimbing siswa dalam pemberian hipotesis.

d. Guru lebih meningkatkan pengawasan dan bimbingan terhadap siswa dalam melakukan setiap kegiatan pembelajaran.

e. Memberikan pengertian kepada siswa akan pentingnya peran serta siswa dalam proses pembelajaran, sehingga pembelajaran lebih baik dan bermakna.

2. Siklus II

a. Perencanaan Pelaksanaan Tindakan Siklus II

Sebelum melaksanakan tindakan Siklus II, peneliti telah menyiapkan instrumen penelitian yang terdiri dari perangkat pembelajaran dan instrumen pengumpulan data. Perangkat pembelajaran terdiri Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) new model berbasis HOTS dan TPACK dan kelengkapan nya bahan ajar berupa video youtube, PPT, dan LKPD. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah lembar pengamatan guru dan lembar pengamatan siswa, dan soal evaluasi hasil belajar. Guru juga terlebih dahulu mempersiapkan siswa dengan mengundang siswa dengan cara mengirimkan link zoom meet melalui WAG.

(31)

25

Alat evaluasi untuk dipersiapkan soal dengan kunci jawaban. Soal yang dipersiapkan sebanyak 8 (delapan) butir soal pilihan ganda dan 4 butir soal uraian. Pada perencanaan Siklus II ini peneliti lebih lagi menyiapkan siswa dan mengingatkan prosedur pembelajaran di zoom meet.

b. Pelaksanaan Tindakan Siklus II

Pelaksanaan Siklus II berpandu pada RPP yang telah disiapkan yaitu materi Pembagian Pecahan. Kegiatan diawali dengan pendahuluan menyapa siswa di WA Grup /video conference dengan memberikan salam dan mengajak semua peserta didik berdo’a menurut agama dan keyakinan masing-masing, mengecek kesiapan diri dengan mengisi lembar kehadiran, memberikan motivasi kepada siswa agar selalu bersemangat dan tetap mematuhi Protokol Kesehatan COVID 19, apersepsi, dan menjelaskan materi, tujuan pembelajaran, dan menyebutkan kegiatan yang akan dilakukan. Setelah kegiatan pendahuluan, guru membimbing siswa mengamati gambar, memahami teks bacaan, dan menjelaskan isi teks untuk menggiring konsep pembagian pecahan, guru membagikan link video sebagai media pembelajaran, siswa melakukan aktivitas dengan berkelompok (berpasangan) untuk menentukan cara membagi dua pecahan (LKPD 1), masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya, membimbing siswa dengan media ppt memberi contoh dan penyelesaian secara runtut tentang, meminta siswa mengerjakan LKPD 2 yang telah disediakan, bersama-sama membahas hasil pekerjaan siswa, guru membimbing siswa memahami penyelesaian soal cerita tentang pembagian pecahan dengan media ppt, siswa mengerjakan LKPD 3 yang disediakan dengan cara yang runtut sesuai arahan guru, bersama-sama membahas hasil pekerjaan siswa.. Setelah kegiatan inti selesai, dilanjutkan pada kegiatan penutup bersama-sama siswa membuat kesimpulan / rangkuman hasil belajar, bertanya jawab tentang materi yang telah dipelajari, memberi kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapatnya tentang pembelajaran yang telah diikuti,melakukan penilaian hasil belajardan

(32)

26

mengajak semua siswa berdo’a menurut agama dan keyakinan masing-masing.

c. Pengamatan Aktivitas Siswa Siklus II

Pada pertemuan siklus II rata-rata aktivitas siswa sudah baik, hanya ada beberapa siswa yang masih belum sungguh-sungguh dalam belajar. Tetapi pada umumnya kegiatan sudah berjalan dengan baik dan sesuai dengan perencanaan, pelaksanaan diskusi kelas juga berlangsung dengan aktif didukung dengan sinyal dan jaringan yang stabil.

Hasil observasi aktivitas siswa pada kegiatan pembelajaran dalam Siklus II dapat dilihat dalam sajian data berupa tabel sebagai berikut.

Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus II

Dilihat dari tabel di atas, aktivitas siswa yang aktif dan sangat aktif sebesar 92,8% dengan kategori dengan kategori Sangat Baik.

d. Hasil Belajar Siklus II

Hasil yang diperoleh dari serangkaian kegiatan yang telah dilakukan dalam penelitian tindakan kelas Siklus II menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari pembelajaran sebelumnya pada Siklus I.

No Langkah-langkah Pembelajaran

Skala Penilaian 1 2 3 4

1. Siswa memperhatikan guru melaksanakan pendahuluan √ 2. Siswa memperhatikan masalah yang diajukan guru √

3. Siswa merumuskan hipotesis √

4. Siswa melakukan pengumpulan data √

5. Siswa menganalisis data dengan diskusi √

6. Siswa menarik kesimpulan √

7. Siswa melaksankan evaluasi √

Jumlah - 3 3

Total 26

(33)

27

Hasil belajar siswa pada kegiatan pembelajaran dalam pertemuan 2 dapat dilihat dalam sajian data berupa tabel sebagai berikut.

Nilai Hasil Belajar Siswa Siklus II

No. Nama Nilai Ket.

1 ADELIA AFRELINA 71 Tuntas

2 ADINDA NUR FAUZIAH 74 Tuntas

3 CANTIKA FADILA ROSYAD 75 Tuntas

4 KENZIE ALFREDA CELESTA 70 Tuntas

5 MARSYA RIGBIE PUTRILIA 70 Tuntas

6 MUHAMMAD RAVA ALGUSTAF 70 Tuntas

7 MUHAMMAD ZAINUL ABIDIN 69 Tuntas

8 NITA AGUSTINA 69 Tuntas

9 NURIL HUDA 65 Belum Tuntas

10 RAVA ALVARO SETYONO 70 Tuntas

11 YASINTA KAROMATUL AINI 71 Tuntas

12 ZAKKI AHMAD BAIHAQI 69 Tuntas

13 ZIVEN EGA PRANAJA 68 Tuntas

Jumlah 911 Presentase

Ketuntasan 92,3%

Rata-rata 70,1

Dilhat tabel nilai diatas, dari 13 hanya 1 siswa yang mendapat nilai di bawah KKM dan 12 siswa tuntas KKM. Presentase ketuntasan hasil belajar siswa sebesar 92,3%.

e. Refleksi Siklus II

Dari hasil Siklus II yang dilakukan selama 1 kali pertemuan, aktivitas siswa sudah lebih baik dari kegiatan yang dilakukan pada siklus I, begitu juga dengan hasil evaluasi siswa lebih baik dari sebelumnya. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan sudah sesuai dengan kegiatan yang direncanakan peneliti, siswa termotivasi dan mampu menyelesaikan tugas-tugasnya sesuai dengan yang diharapkan pada proses pembelajaran dengan baik. Siswa sudah mengerti dengan langkah pembelajaran hal ini terlihat dari keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, keantusiasan dan kemandirian serta tanggung jawab dalam diskusi.

(34)

28

B. Pembahasan

Aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran Matematika materi Operasi Perkalian dan Pembagian Pecahan menggunakan model kombinasi Problem Based Learning dan Pair Checks di kelas V telah terlaksana dengan kriteria sangat baik. Hal tersebut tidak terlepas dari peran guru sebagai perencana program pembelajaran yang cermat dalam memilih dan menetapkan model pembelajaran yang tepat untuk digunakan dalam pembelajaran matematika khususnya materi operasi perkalian dan pembagian pecahan di kelas V MI Sawahan II. Hal ini senada dengan pendapat yang dikemukakan oleh Suriansyah, dkk (2014:4) bahwa pengimplementasian strategi pembelajaran yang baik sangatlah bergantung pada kemam- puan guru sebagai salah satu komponen penting yang sangat diperlukan sebagai perancang dan pengelola pembelajaran. Lebih lanjut, menurutnya hasil pembelajaran dari seorang guru yang menganggap mengajar hanya sebatas menyampaikan materi pembelajaran tentu akan berbeda dengan hasil pembelajaran dari guru yang menganggap belajar adalah suatu proses pemberian bantuan kepada peserta didik.

Faktor lain yang juga dapat mempengaruhi peningkatan aktivitas guru selain peran guru sebagai perencana program pembelajaran, yakni kesiapan guru dalam mengaplikasikan strategi pembelajaran yang telah ia tetapkan dan kemauan guru untuk selalu melakukan perbaikan terha- dap cara pengaplikasiannya sampai ia memperoleh hasil sebaik mungkin. Hal tersebut sebagaimana yang dikemukakan oleh Wina Sanjaya bahwa strategi pembelajaran berupa pendekatan, model, metode, maupun teknik sebenarnya bergantung pada terampil tidaknya guru mengimplementasikannya (Susanto, 2014:32). Dengan demikian, yang memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan aktivitas guru tidak datang hanya dari satu peran guru sebagai perencana program pembelajaran saja. Melainkan dilengkapi juga dengan peran guru yang lain, yakni sebagai pelaksana pembelajaran yang baik.

Peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran ini disebabkan karena model Demonstrasi kombinasi dengan Problem Based Learning dan Pair Checks dalam pembelajaran matematika materi perkalian dan pembagian pecahan diterapkan dengan sangat tepat. Hal ini tidak terlepas dari kontribusi

(35)

29

maksimal yang diberikan guru dalam membimbing dan mengarahkan siswanya saat proses pembelajaran berlangsung agar tercipta suasana yang menyenangkan dalam pembelajaran tetapi juga bisa membuat kemampuan berpikir, bernalar, dan sosial siswa menjadi berkembang dan berjalan secara efektif.

Penerapan model Demonstrasi kombinasi dengan Problem Based Learning dan Pair Checks membuat kemampuan dan aktivitas siswa meningkat, karena tidak hanya mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh guru saja namun siswa dilatih bekerja sama secara berkelompok untuk mengerjakan soal-soal atau memecahkan setiap permasalahan baik secara berpasangan, secara kelompok, ataupun secara mandiri. Hal ini sejalan dengan pendapat Huda (2015:200) yang menyatakan bahwa pembelajaran berkelompok akan meminimalisisasi pengajaran individu yang terbukti kurang efektif sehingga apabila pembelajaran dilakukan dengan berkelompok akan mempermudah siswa bersosialisasi dengan sesama teman dan saling memotivasi sesama siswa di dalam kelompok tersebut.

Adapun hasil belajar siswa yang meningkat tidak terlepas dari peran guru dan peran siswa itu sendiri. Guru berperan merancang program pembelajaran beserta pelaksanaannya sebaik mungkin, seperti memberikan informasi berupa gambaran topik yang akan dipelajari untuk menggiring pengetahuan awal siswa sehingga ia memiliki gambaran mengenai pencapaian tujuan yang seperti apa yang hendak mereka capai, serta melaksanakan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran terus menerus hingga siswa mampu mencapai tujuan pembelajaran dengan baik. Menurut Suriansyah, dkk (2014:219) peran guru ketika selalu memperbaiki cara mengajarnya agar sesuai dengan tujuan pembelajaran dan membuat siswa mencapai tujuan itu adalah bagian dari proses belajar baik bagi guru maupun bagi siswa sehingga hasil belajar siswa meningkat ka- rena merespon dengan baik setiap proses pembelajaran yang memungkinkan aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik untuk tercapai. Sejalan dengan pendapat di atas, Susanto (2014:5) berpendapat jika tujuan-tujuan pembelajaran dan instruksional berhasil dicapai oleh siswa, maka menandakan bahwa siswa tersebut juga berhasil dalam belajar. Dengan demikian, peran guru untuk menyampaikan tujuan pembelajaran kepada siswa dan menggiring siswanya

(36)

30

hingga mencapai tujuan pembelajaran sangatlah penting bagi hasil belajar siswa. Pelaksanaan peran guru yang semakin baik menandakan aktivitas guru meningkat, dan apabila aktivitas guru meningkat maka berpengaruh positif pada peningkatan hasil belajar siswa. Selain itu, siswa pun juga berperan sebagai penerap model pembelajaran Demonstrasi kombinasi Problem Based Learning dan Pair Checks yang baik. Sehingga peran guru dalam meningkatkan aktivitas guru dan peran siswa untuk meningkatkan aktivitas siswa berdampak positif bagi hasil belajar siswa.

(37)

31

BAB V PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan pada siswa kelas V MI Sawahan II menggunakan Model Kombinasi Problem Based Learning dan Pair Checks dapat disimpulkan bahwa: Aktivitas siswa dalam mempelajari materi perkalian dan pembagiann pecahan menggunakan model Kombinasi dengan Problem Based Learning dan Pair Checks pada materi operasi perkalian dan pembagian pecahan di kelas V MI Sawahan II terjadi peningkatan dengan kriteria baik; Hasil belajar siswa dengan menggunakan model Kombinasi Problem Based Learning dan Pair Checks pada materi operasi perkalian dan pembagian pecahan di kelas V MI Sawahan II terjadi peningkatan dan telah memenuhi indikator keberhasilan yang telah ditentukan.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah disimpulkan dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut: Bagi Guru, hasil penelitian ini dapat disarankan kepada guru kelas V untuk menggunakan model Kombinasi Problem Based Learning dan Pair Checks pada materi perkalian dan pembagian pecahan yang ada di kelas V agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa; Bagi Kepala Sekolah, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukkan dalam membina guru khususnya untuk guru mata pelajaran matematika agar dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar dengan membekali berbagai model pembelajaran salah satunya model Kombinasi Problem Based Learning dan Pair Checks; Bagi Peneliti Lain, dapat menerapkan pengalaman yang telah didapat dari penelitian tindakan kelas menggunakan model Kombinasi Problem Based Learning dan Pair Checks untuk melaksanakan pembelajaran matematika yang menarik dan menyenangkan serta dapat dikembangkan untuk kepentingan pendidikan dalam upaya peningkatan kualitas sekolah dasar di daerah maupun pengabdian peneliti kelak.

(38)

32

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S., Suhardjono & Supardi. (2015). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Hamalik, Oemar. (2015). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara. Hasbullah. (2013). Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: Rajawali Pers.

Hendriana, H. & Afrilianto, M. (2017). Langkah Praktis Penelitian Tindakan Kelas

Bagi Guru. Bandung: PT. Refika Aditama

Huda, Miftahul. (2015). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogjakarta: Pustaka Pelajar

Kurniasih, Imas & Sani, Berlin (2016). Ragam Pengembangan Model

Pembelajaran untuk Peningkatan Profesionalitas Guru. Surabaya: Kata

Pena.

Sanjaya, Wina (2013). Strategi Pembelajaran Berotientasi Standar Proses

Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Shoimin, Aris (2016). 68 Model Pembelajaran Inovatif Dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Suhana, Cucu (2014). Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: Refika Aditama

Susanto, Ahmad. (2014). Teori Belajar & Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana.

Suriansyah, dkk. (2014). Strategi Pembelajaran. Jakarta: Rajagrafindo Persada. Thohirin. (2016). Metode Penelitian Kualiatatif dalam Pndidikan dan Konsling.

Jakarta: PT Raja Gra- findo Persada

Trianto. (2013). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana.

(39)

LAMPIRAN – LAMPIRAN

1. RPP Siklus I

2. Bahan Ajar, Lembar Penilaian & LKPD Siklus I

3. RPP Siklus II

4. Bahan Ajar, Lembar Penilaian & LKPD Siklus II

5. Dokumentasi Kegiatan

(40)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

KURIKULUM 2013

Satuan Pendidikan : MI Sawahan II Kelas/Semester : V (lima)/I (Satu) Muatan Pelajaran : Matematika

Pelajaran 1 : Operasi Hitung Pecahan

Subpelajaran 2 : Perkalian dan Pembagian Pecahan dan Desimal Materi : Perkalian Pecahan

Alokasi Waktu : 1 Pertemuan (2 x 35 Menit)

A. KOMPETENSI INTI (KI)

KI 1 Menerima dan menjalankan ajaran Agama yang dianutnya.

KI 2 Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya serta cinta tanah air .

KI 3 Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, sekolah, dan di tempat bermain. KI 4 Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis dan sistematis, dalam

karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.

B. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

KOMPETENSI DASAR INDIKATOR

3.2 Menjelaskan dan melakukan perkalian dan pembagian pecahan dan desimal.

3.2.1 Melakukan perkalian pecahan

4.2 Menjelaskan masalah yang berkaitan dengan perkalian dan pembagian pecahan dan desimal

4.2.1 Memilih penyelesaian masalah yang berkaitan dengan operasi perkalian pecahan

C. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Dengan memperhatikan contoh dan ilustrasi, siswa dapat melakukan perkalian pecahan dengan percaya diri.

3. Dengan memperhatikan contoh dan ilustrasi buku, siswa dapat menyelesaikan permasalahan sehari-hari tentang perkalian pecahan dengan percaya diri.

 Karakter siswa yang diharapkan: Religius, Jujur, Disiplin, Tanggungjawab, Santun, Peduli

D. MATERI

1. Perkalian pecahan

2. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan operasi perkalian pecahan

(Lampiran 1)

E. PENDEKATAN, MODEL DAN METODE  Pendekatan : Saintifik

 Model : Problem Based Learning

 Metode : Simulasi, diskusi, tanya jawab, penugasan, dan ceramah F. KEGIATAN PEMBELAJARAN

Kegiatan Deskripsi Kegiatan Alokasi

Waktu a. Pembukaan  Guru menyapa siswa di WA Grup /video conference dengan

memberikan salam dan mengajak semua peserta didik berdo’a menurut agama dan keyakinan masing-masing.

10 Menit

 Guru mengecek kesiapan diri dengan mengisi lembar kehadiran.  Guru memberikan motivasi kepada siswa agar selalu bersemangat

dan tetap mematuhi Protokol Kesehatan COVID 19.

 Mengaitkan materi sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari (Apersepsi)

 Guru menjelaskan materi, tujuan pembelajaran, dan menyebutkan kegiatan yang akan dilakukan.

(41)

b. Inti  Guru manampilkan PTT melalui video conference dan membimbing siswa untuk mengamati gambar Siti membantu Ibu membuat kue Kembang Goyang (mengamati)

50 menit

 Siswa mencermati teks bacaan (mengamati).

 Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk mengecek pemahaman siswa.

- Apa yang dilakukan Siti?

- Apa yang kamu lihat dari bilangan-bilangan pada tabel? - Informasi apakah yang kamu peroleh?

Membahas pertanyaan yang ada pada teks bacaan.

Pertanyaan-pertanyaan dan pembahasan tersebut mengarahkan pemahaman tentang isi teks.

 Melaui video conference guru membimbing siswa dengan media ppt memberi contoh dan penyelesaian secara runtut tentang:

1. perkalian dua pecahan biasa

2. perkalian pecahan biasa dengan bilangan asli 3. perkalian pecahan campuran dengan bilangan asli 4. perkalian pecahan campuran dengan pecahan biasa 5. perkalian pecahan campuran dengan pecahan campuran  Guru meminta siswa membuat soal untuk dibahas bersama-sama  Guru meminta siswa mengerjakan latihan soal dan membahas hasil

kegiatan siswa.

 Guru berdiskusi dengan siswa melalui video conference apakah siswa mengalami kendala saat mengerjakan soal.

 Melalui video conference guru membimbing siswa memahami penyelesaian soal cerita tentang perkalian pecahan dengan media ppt.  Siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang masing-masing

kelompok terdiri dari 2 orang (berpasangan)

- Setiap peserta didik menghitung jumlah anggota keluarganya dan memberikan hasil hitungannya kepada pasangannya untuk dihitung besaran zakat fitrah yang harus dikeluarkan.

- Hasil jawaban dibahas dalam diskusi kelompok untuk mengecek kebenaran dan mengambil kesimpilan.

 Guru meminta siswa mengerjakan latihan soal yang disediakan dengan cara yang runtut sesuai arahan guru dan dibahas bersama-sama.

 Guru membagikan LKPD 1 dan LKPD 2 untuk dikerjakan dan hasilnya difoto kemudian dikirimkan melalui WA Grup.

 Guru dan siswa bersama-sama membahas hasil pekerjaan siswa.

c. Penutup  Bersama-sama siswa membuat kesimpulan / rangkuman hasil belajar. 10 Menit  Bertanya jawab tentang materi yang telah dipelajari (untuk

mengetahui hasil ketercapaian materi)

 Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapatnya tentang pembelajaran yang telah diikuti.

 Melakukan penilaian hasil belajar

 Mengajak semua siswa berdo’a menurut agama dan keyakinan masing-masing (untuk mengakhiri kegiatan pembelajaran).

G. PENILAIAN

a. Teknik Penilaian

1. Sikap (KI 1 dan KI 2) : Observasi selama pembelajaran berlangsung

2. Pengetahuan (KI 3) : Tes Tertulis dalam bentuk soal (Penilaian dilakukan dengan cara menghitung jumlah jawaban benar dari soal yang tersedia)

3. Keterampilan (KI 4) : Unjuk Kerja b. Instrumen Penilaian

1. Sikap (KI 1 dan KI 2): Rubrik dan Jurnal Penilaian Sikap (Lampiran 2) 2. Pengetahuan (KI 3): Rubrik dan LKPD 1 (Lampiran 3)

3. Keterampilan (KI 4): Rubrik Penilaian Unjuk Kerja dan LKPD 2 (Lampiran 4) H. SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN

Buku Siswa Senang Belajar Matematika Kurikulum2013, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2018), Power Point

(42)

Gambar

Tabel Observasi Aktivitas Siswa  Nama Madrasah    : MI Sawahan II
Tabel hasil diskusi
Tabel hasil diskusi
Foto Dokumentasi

Referensi

Dokumen terkait

Hasil Wawancara dengan Ibu Nur Azizah Selaku pembeli atau pelangan hasil budidaya ikan tambak, wawancara dilakukan tgl.. Indramanyu, Subang, Sumedang, Bandung, Sukabumi, Bogor

Dengan menerapkan metode pembelajaran yang terintegrasi dengan teknologi komputer (seperti SPC) akan memberikan suatu model yang berbasis unjuk kerja, hal ini

Dapat menjadi sumber ilmu tambahan untuk berbagai pihak misalnya Aparatur penegak hukum seperti Polisi, Hakim, dan Jaksa yang mengawal jalannya penyelesaian kasus-kasus

Sedangkan Road Map Reformasi Birokrasi adalah bentuk operasional Grand design reformasi Birokrasi yang disusun 5 (lima) tahun sekali dan merupakan rinci reformasi dari satu tahapan

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menentukan arahan pengembangan komoditas apel melalui konsep agroindustri di Kecamatan Bumiaji Kota Batu agar dapat

Kecenderungan lebih banyaknya frase eksosentris direktif yang berfungsi sebagai penanda nomina lokatif di dalam novel ini berkaitan dengan data struktur dan makna

The Effectiveness of a Group Psycho-educational Program on Family Caregiver Burden of Patients with Mental Disorder.. BMC Research

Dari data dan analisis dan penilaian yang telah dilakukan sebelumnya meliputi analisis trend pengunjung, aksesibilitas, fasilitas dan potensi daya tarik, maka