• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Dukungan Sosial terhadap Pembentukan Self Esteem yang Tinggi pada Remaja Tunanetra di Sekolah Khusus

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Peran Dukungan Sosial terhadap Pembentukan Self Esteem yang Tinggi pada Remaja Tunanetra di Sekolah Khusus"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Atik Khoiroh

Pramesti P. Paramita

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Abstract.

The aim of this study is describe about the role of social support to the costruction of self esteem toward adolescent living with visual impairment in special school. Social support in this study involved emotional support, esteem support, instrumental support, informational support, and social network support. While, self esteem is personal judgment refers to a sense of worth expressed through the attitudes that believed by individual (Coopersmith, 1967).

This study applied a qualitative approach with grounded theory. The subjects of this study are visual impairment adolesencent whose high self esteem. The number of subject in this study is two people by extreme sample in order to gain adequate data. How to obtain the subjects of this study carried out by purposive technique to obtain representative with the topic. Then it is analyzed by coding verbatim derived from interview transcript. The field notes are functioned as a additional information to the data and analysis.

The result of this study show that that the social support accepted by adolescent living with visual impairment come from school environment. All the social support are experienced by both of participants but network support are only acknowledge by one of them. Not all the social support obtained construct positive self esteem toward aloscent living with visual impairment.

Perception affect role of social support toward self esteem costruction. Social support that have been perceived positively will construct positive self esteem to the individuals.

Key words: Social Support; High Self Esteem Construction; Visual Impairment Adolescent;

Special School.

Abstrak.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran dukungan sosial dalam pembentukan self esteem remaja tunanetra di sekolah khusus. Dukungan sosial yang dimaksud adalah dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dukungan informasi, dan dukungan jaringan sosial. Sedangkan self esteem yang dimaksud adalah penilaian pribadi terhadap suatu perasaan berharga yang diekspresikan ke dalam sikap-sikap yang dipegang oleh individu (Coopersmith, 1967).

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan grounded theory.

Penelitian ini dilakukan pada remaja tunanetra yang mempunyai self esteem yang tinggi dengan jumlah subyek 2 orang dengan sampel ekstrim agar data kaya akan informasi. Cara memperoleh subyek dilakukan dengan teknik purposive agar diperoleh data yang representatif sesuai tema penelitian.Penggalian data dilakukan dengan teknik wawancara dan catatan lapangan. Data yang diperoleh dianalisa dengan koding terhadap hasil transkrip wawancara yang telah dibuat verbatim dan catatan lapangan.

Korespondensi:

Atik Khoiroh, email: [email protected]

Pramesti P. Paramita, email: [email protected]

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Jl. Dharmawangsa Dalam Selatan Surabaya 60286,Telp. (031) 5032770, (031)

(2)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk dukungan sosial yang paling banyak diterima oleh remaja tunanetra di sekolah khusus adalah dari lingkungan sekolah. Kedua individu dalam penelitian ini menerima bentuk dukungan sosial yang sama kecuali bentuk dukungan jaringan sosial yang hanya diperoleh salah satu individu. Tidak semua dukungan sosial yang diterima dapat membentuk self esteem yang positif pada remaja tunanetra. Persepsi juga ikut mempengaruhi peran dukungan sosial terhadap pembentukan self esteem. Dukungan sosial yang dipersepsikan secara positif akan membentuk self esteem yang positif pada diri individu.

Kata Kunci: Dukungan Sosial; Pembentukan Self Esteem Yang Tinggi; Remaja Tunanetra;

Sekolah Khusus

PENDAHULUAN

Salah satu permasalahan penting orang tunanetra adalah masalah self esteem. Seorang tunanetra yang memandang diri mereka secara negatif akan mempunyai pengaruh yang tidak baik pada self esteem mereka. Hal ini disebabkan self esteem merupakan suatu penilaian pribadi terhadap suatu perasaan berharga yang diekspresikan ke dalam sikap-sikap yang dipegang oleh individu tersebut (Coopersmith, 1967).

Menurut Cohen (dalam Coopersmith, 1967) seseorang yang memiliki self esteem yang tinggi pada umumnya menyukai dirinya, menghargai dirinya, dan melihat dirinya mampu menghadapi lingkungannya. Selain itu, mereka mempunyai rasa percaya diri dan merasa puas, lebih mandiri, aktif ekspresif, bisa menerima kritik, tampak lebih bahagia dan lebih efektif dalam menghadapi lingkungan yang penuh tantangan (Mruk, 1999 dalam Humphrey 2004).

Sedangkan seseorang yang mempunyai self esteem yang rendah biasanya tidak menyukai dan menghargai dirinya, dan tidak mampu menghadapi lingkungan secara efektif, merasa malu dan bersalah, merasa tersisih, terlalu lemah untuk menghadapi ketidakmampuannya, takut akan kemarahan orang lain, dan sensitif terhadap kritik. Self esteem yang rendah berkaitan erat dengan depresi (Lin, dkk., 2008 dalam Elfhag, dkk., 2010) dan gangguan mental (American Psychiatric Association, 1994 dalam Kristina, dkk., 2010).

Self Esteem Remaja Tunanetra

Telah dilakukan beberapa penelitian untuk mengetahui self esteem pada remaja tunanetra.

Namun dari penelitian-penelitian tersebut didapatkan hasil yang belum konsisten. Beberapa

penelitian yang menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan self esteem antara remaja tunanetra dengan remaja yang tidak mengalami tunanetra.

Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Bowen (2010) dengan subyek penelitian berjumlah 60 remaja. Dari penelitian tersebut didapatkan hasil bahwa 70 % siswa mempunyai self esteem rata-rata dan di atas rata-rata. Penelitian lain yang mendapatkan kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan self esteem antara remaja tunanetra dengan remaja yang tidak mengalami tunanetra adalah: (1) penelitian yang dilakukan oleh oleh Griffin-Shirley dan Nes (2005) terhadap 159 siswa usia 8-14 tahun; (2) penelitian di Israel oleh Lifshitz, Hen, dan Weisse pada tahun 2007 dengan subyek penelitian berjumlah 40 remaja; dan (3) penelitian yang dilakukan oleh Garaigordobil dan Bernaras (2009) terhadap 90 remaja usia 12 sampai 17 tahun.

Selain itu, ada penelitian lain menemukan bahwa ada perbedaan self concept antara remaja tunanetra dengan remaja yang tidak mengalami tunanetra. Penelitian ini dilakukan oleh Halder dan Datta (2011) terhadap 160 remaja.

Peran Lingkungan Terhadap Self Esteem Remaja Tunanetra

Di Indonesia masih ada banyak kasus kurang baiknya perlakuan terhadap remaja dengan tunanetra. Misalnya adanya kasus remaja dengan tunanetra masih belum diterima dan disembunyikan. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Atung Yunarto, Kepala Lembaga Pemberdayaan Tunanetra (LPT) :

“Kebanyakan kasus, kalau punya anak atau salah satu anggota keluarga yang tunanetra disembunyikan, dianggap tidak bisa melaku- kan apa-apa. Itu tindakan yang salah”.

(3)

Pelayanan publik terhadap tunanetra juga masih diskriminatif. Hal tersebut diungkapkan oleh Boniyem yang menjelaskan kepada wartawan solopos bahwa pelayanan di stasiun tugu bagi penyandang tunanetra masih diskriminatif (www.

solopos.com).

Selain itu, masih banyak anak dan remaja ABK yang belum mendapatkan pendidikan. Hal tersebut diungkapkan oleh Agoes Rudianto di media informasi online www. solopos.com pada tanggal 29 Agustus 2012 sebagai berikut:

“Data yang terhimpun dari Dit.PPK-LK Dikdas sampai tahun 2011, ada sebanyak 356.192 anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan disabilitas. Namun...

sebanyak 249.339 ABK disabilitas (70%) usia 5-18 tahun yang belum sekolah.”

Lingkungan yang kurang memberikan perlakukan yang baik terhadap remaja akan mempengaruhi self esteem pada diri mereka. Self esteem yang rendah pada remaja dengan tunanetra mempunyai hubungan dengan lingkungan sosial remaja. Self sudah ada sejak manusia lahir dan akan semakin berkembang ketika seseorang melakukan sosialisasi dengan orang lain. Hal ini karena sebagian besar pengetahuan manusia berasal dari kehidupan sosial yang merupakan inti dari pengalaman awal. Semakin seringnya pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan hubungan sosial akhirnya dapat terinternalisasi sebagai aspek penting dalam konsep diri seseorang (Shelley; Letitia; David , 1997).

Seseorang memperoleh konsep yang lain tentang diri mereka dengan meningkatnya pergaulan di luar rumah (Hurlock, 1990). Proses self esteem didapatkan dari hasil interaksi dengan lingkungannya, serta penghargaan, penerimaan, dan perlakuan orang lain terhadap dirinya (Coopersmith, 1967). Bagaimanapun, individu tertentu yang disebut significant others mempunyai pengaruh yang sangat besar dan dianggap berharga oleh remaja. Emler (2001) menyebutkan bahwa significant others yang paling berpengaruh adalah orang tua. Penulis yang lain (Burnett dan Denmar, 1996; Burns, 1982; &Humphrey, 2003) menyebutkan bahwa guru dan peers juga mempunyai pengaruh yang sangat besar khususnya dalam konteks self esteem akademik (Humphrey, 2004).

Menurut Humphrey (2001 dalam Humphrey,

2004) guru mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan self esteem murid karena guru diterima sebagai orang yang ahli, berwenang, dan sumber pemberi umpan balik selain dari kelompok teman sebaya. Selain itu, guru mempunyai peran yang besar dalam memberikan dukungan sosial kepada murid karena guru merupakan model yang perilakuanya dianut oleh murid-murid. Disamping membantu murid secara langsung untuk memperoleh kemampuan sosial, guru juga meningkatkan hubungan sosial dengan mempermudah interaksi antara murid di dalam kelas (Salisbury, dkk., 1995 dalam Humphrey, 2004). Sedangkan menurut Harter (1999) teman sebaya tidak hanya menyediakan sumber penting dalam mengevaluasi diri seseorang tetapi juga menyampaikan nilai-nilai budaya, standar dan harapan yang memberikan seseorang perasaan seberapa baik mereka dalam pertemanan (Harris, 1998 dalam Humphrey, 2004).

Sarafino (1994) menjelaskan bahwa dukungan sosial terkait dengan kenyamanan, perhatian, penghargaan atau bantuan yang diberikan orang lain atau kelompok kepada individu. Dukungan yang diterima oleh seseorang dari orang lain, dapat berupa dukungan emosional, dukungan penghargaan atau harga diri, dukungan instrumental, dukungan informasi atau dukungan dari kelompok.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Kef dan Dekofic (2004) terhadap 178 remaja dengan tunanetra dan 338 remaja dengan tunanetra didapatkan hasil bahwa significant other yang dalam penelitian ini adalah orang tua dan peers mempunyai peran yang penting terhadap well- being baik remaja dengan tunanetra maupun remaja yang tidak tunanetra (Kef & Dekofic, 2004).

Penelitian ini juga didukung oleh penelitian Ikiz dan Cakar (2010) terhadap 257 remaja Turki.

Dari penelitian tersebut didapatkan hasil bahwa penerimaan dukungan sosial mempunyai korelasi yang positif terhadap self esteem remaja (Ikiz &

cakar, 2010).

Hasil yang sama juga didapatkan dari penelitian yang dilakukan oleh Nurmalasari dan Putri (2007) terhadap 41 remaja yang menderita lupus. Dari penelitian tersebut didapatkan kesimpulan bahwa dukungan sosial mempunyai korelasi yang positif dengan remaja yang menderita lupus (Nurmalasari&Putri, 2007).

Dukungan sosial penting bagi individu

(4)

untuk membentuk nilai, kepercayaan, dan proses berpikir (Pavri&Moda-Amaya, 2001). Selain itu dukungan sosial penting untuk meningkatkan kesejahteraan emosi dan sosial. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang diterima oleh orang dewasa dan teman sebaya akan merasa terdukung, mempunyai konsep diri yang positif, dan merasa terhubung dengan komunitas sosial (Forman, 1988; Kloomok&Cosdon, 1994;

Rothman&Cosden, 1995 dalam Pavri&Monda- Amaya, 2001). Cooley (1902) menyatakan bahwa dukungan sosial merupakan bagian yang yang penting dalam menentukan konsep diri seseorang (Hoffman, dkk., 1988 dalam Ikiza &

Firdevs, 2010) dan kurangnya dukungan sosial dapat menurunkan kompetensi sosial dan menimbulkan perasaan sendiri.

Namun, dukungan sosial yang diberikan kepada remaja tunanetra dapat dipersepsikan secara berbeda oleh masing-masing individu.

Orang sering kali menerima kejadian yang sama dengan cara yang berbeda-beda. Jadi pengalaman individu terhadap dunia bersifat subyektif karena proses persepsi bersifat subyektif (Weiten, 2000).

Pavri dan Monda-Amaya pada tahun 2001 melakukan penelitian mengenai perspektif dukungan sosial dari guru dan murid. Mereka meneliti tentang persepsi guru terhadap dukungan sosial yang mereka berikan kepada murid yang mengalami disability dan persepsi siswa yang menerima dukungan sosial dari guru. Peneliti mendapatkan kesimpulan bahwa terdapat beberapa perbedaan penerimaan antara dukungan sosial yang diberikan guru dengan dukungan sosial yang perlu dan diharapkan oleh murid.

Salah satu alternatif sekolah untuk remaja yang mempunyai cacat mata yaitu Sekolah Khusus atau Sekolah Luar Biasa (SLB). Sekolah Luar Biasa (SLB) adalah sekolah khusus bagi remaja usia memiliki kebutuhan khusus (Supriadi 2003).

Beberapa pihak menyatakan bahwa kebutuhan khusus tertentu yang memerlukan lingkungan sekolah yang kecil dan berstandar akan dapat menyediakan pengetahuan khusus, peralatan, dan dukungan yang kelas dan guru sekolah inklusi tidak dapat menggantikannya secara penuh (Florian, 2007).

SLB-A adalah sekolah khusus bagi tunanetra.

Di sekolah khusus tunanetra, murid tunanetra diberikan layanan individual sesuai dengan

kebutuhan mereka. Seorang guru sekolah khusus harus mempunyai kompetensi tertentu agar bisa melakukan proses belajar dengan efektif. Mereka tidak hanya harus mempunyai kecakapan dalam proses mengajar tetapi juga harus mempunyai kecakapan bergaul dengan anak didiknya (Samuel dalam Pendidikan Anak Tunanetra, 1977 )

Oleh karena itu penelitian ini ingin mengetahui peran dukungan sosial pada pembentukan self esteem remaja tunanetra di sekolah khusus tunanetra. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam penyelenggaraan pendidikan untuk remaja tunanetra. Selain itu, dari penelitian ini diharapkan membuka pandangan masyarakat agar bisa memberikan dukungan dan menerima keberadaan remaja tunanetra.

METODE PENELITIAN

Dalam penelitian ini pengertian self esteem yang digunakan adalah self esteem menurut Coopersmith (1967) self esteem yaitu evaluasi yang dibuat individu dan kebiasaan memandang dirinya, terutama sikap menerima, menolak, dan indikasi besarnya kepercayaan individu terhadap kemampuan, keberartian, kesuksesan, dan keberhargaan diri. Sedangkan pengertian dukungan sosial yang dimaksud adalah dukungan sosial menurut Sarafino (1994) kenyamanan, perhatian, penghargaan atau bantuan yang diberikan orang lain atau kelompok kepada individu. Dukungan sosial ini bisa berasal dari berbagai sumber seperti orang tua, keluarga, guru atau teman sebaya.

Pengambilan subyek dilakukan dengan teknik pengambilan sampel berdasarkan konstruk operasional (theory-based/ operational construct sampling). Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah tiga remaja tunanetra yang bersekolah di sekolah khusus tunanetra dengan usia 12-15 tahun dan mempunyai self esteem yang tinggi. Pengukuran self esteem subyek dilakukan dengan menggunakan Coopersmith Self- Esteem Inventories (CSEI). Dalam penelitian ini penggalian data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam (depth interview) dan catatan lapangan terhadap subyek penelitian yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.

Kemudian dilakukan pengorganisasian dan analisis terhadap data yang telah diperoleh dengan cara melakukan verbatim terhadap hasil rekaman

(5)

wawancara dan melakukan koding terhadap data dari wawancara dan catatan lapangan. Langkah koding yang dipakai dalam penelitian ini meliputi open coding, axial coding, dan selective coding.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil penelitian ini didapatkan hasil beberapa peran dukungan yang terangkum pada tabel di bawah ini:

Tabel Peran Dukungan Sosial dalam Pembentukan Self Esteem

Dukungan Peran Dampak

Emosional

Penerimaan terhadap kondisi individu Pengertian terhadap kebutuhan Kemudahan belajar dan berkomunikasi

Pemenuh the needs of affection

Pemenuh the needs of affection

Pemenuh the needs of affection

Individu merasa nyaman dengan dirinya

Individu merasa nyaman beraktivitas

Individu merasa nyaman ketika belajar dan berkomunikasi Penghargaan

Pembiasaan kemandirian dan dorongan untuk mandiri

Motivasi agar sukses dan mandiri

Kesempatan yang sama (fairness)

Keterlibatan untuk memberikan ide

Penunjukan sebagai asisten

Apresiasi terhadap keaktifan

Pemberi motivasi

Pemberi inspirasi

Pemberi support

Pemberi support

Lingkungan kooperatif:

Pemberi pengakuan dan penengasan pada kemampuan individu Lingkungan tidak kooperatif:

Penyebab rasa kesal terhadap lingkungan Pemberi support

Individu merasa yakin dengan kemampuannya

Individu mendapatkan inspirasi bahwa dirinya bisa mandiri dan sukses

Individu terdorong untuk membuktikan bahwa dirinya mampu berprestasi

Individu mendapatkan stimulus untuk mengembangkan

kemampuan yang dimiliki Individu bangga dengan pengetahuan yang dimiliki dan bisa membagikannya

Individu merasa kesal dengan lingkungan

Individu mendapatkan dukungan untuk

mempertahankan semangat belajar yang dimiliki

(6)

Dukungan Peran Dampak Instrumental

Bantuan langsung barang, jasa, dan waktu

Pemberian pelajaran untuk

meningkatkan skill dan kemampuan

Media mendapatkan informasi dan kemudahan belajar serta mengandung dukungan informasi Media mendapat informasi

Informasi

Informasi kompetisi

Informasi mengenai berbagai media untuk meningkatkan pengetahuna

Solusi/saran ketika mendapatkan kesulitan atau masalah

Pertukaran informasi mengenai pengalaman

Informasi mengenai pendidikan di luar yang kurang optimal

Informasi mengenai lembaga khusus tunanetra

Pengetahuan, skill, dan informasi

Pemberi motivasi

Penyedia referensi

Penyedia guidence

Penambahan value

Penyedia perbandingan yang positif

Penyedia wacana

Capacity building

Individu mendapat dorongan untuk lebih giat belajar Individu mempunyai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan Individu mengetahui bagaimana cara menyikapi masalah

Individu bisa mendapatkan hikmah atau pelajaran

Individu merasa beruntung dan bangga menjadi bagian sekolah Individu mempunyai informasi mengenai kegiatan yang bermanfaat

Individu bisa lebih ahli, mampu, dan berkompeten

(7)

SIMPULAN DAN SARAN

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial mempunyai peran yang penting dalam pembentukan self esteem.

Dukungan sosial mempunyai beberapa peran dalam pembentukan self esteem yang tinggi yang diantaranya adalah sebagai pemenuh the needs of affection yaitu memberikan pemenuhan terhadap kebutuhan individu akan kasih sayang, perhatian, dan penerimaan. Selain itu, dukungan sosial juga berperan sebagai pemberi motivasi yaitu memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu yang belum dilakukan atau dorongan untuk melakukan sesuatu dengan baik.

Selain berperan sebagai pemberi motivasi, dukungan sosial juga berperan sebagai pemberi inspirasi dan pemberi support. Pemberi inspirasi yaitu memberikan suatu ide atau gagasan yang belum pernah dipikirkan oleh individu sedangkan pemberi pemberi support yaitu memberi dukungan pada hal yang sudah dilakukan. Peran dukungan sosial yang lainnya adalah sebagai penyedia perbandingan yang positif yaitu menyediakan informasi mengenai lingkungan yang kurang daripada individu.

Dukungan sosial juga berperan sebagai capacity

building yaitu membangun kapasitas individu dari yang tidak bisa menjadi bisa, menjadi lebih ahli, mampu, dan kompeten.

Dalam penelitian ini didapatkan data yang tidak berkaitan dengan fokus penelitian namun menarik untuk menjadi bahan kajian bagi penelitian selanjutnya. Dari penelitian ini didapatkan data mengenai persepsi dukungan sosial yang diharapakan remaja tunanetra terkadang berbeda dengan yang diberikan oleh lingkungan. Perbedaan persepsi ini menarik untuk dikaji agar terjadi persamaan persepsi antara dukungan sosial yang diharapkan remaja tunanetra dengan dukungan sosial yang diberikan oleh lingkungan sehingga dukungan sosial yang diberikan lingkungan dapat berdampak positif bagi remaja tunanetra. Selain itu, bahan yang menarik dikaji untuk penelitian selanjutnya adalah perbedaan dukungan sosial yang diterima oleh remaja yang mengalami tunanetra sejak lahir dengan remaja yang mengalami tunanetra tidak sejak lahir. Perbedaan dukungan sosial yang diterima misalnya dukungan sosial yang terlalu berlebihan terhadap remaja yang mengalami tunanetra tidak sejak lahir atau bisa sebaliknya remaja yang mengalami tunanetra sejak lahir menerima lebih banyak dukungan sosial.

PUSTAKA ACUAN

Afriani, I. (2009). Metode penelitian kualitatif. Diakses pada tanggal 2 Juli 2011 melalui http://www.

penalaran-unm.org/index.php/artikel-nalar/penelitian/116-metode-penelitian-kualitatif.html A. Singh, A& G.Hays, D. (2012). Qualitative Inquiry in Clinical and Educational Setting. New York : A

Devison of Guliford Publications

Bowen, J. (2010). Visual impairment and self-esteem, What makes a difference?. British Journal of Visual Impairment, 28 (3), 235-243

But, M., Moosa, S., Ajmal, M.,& Rahman, F.(2011). Effects of shyness on the self esteem of 9 th grade female. International Journal of Business and Social Science, 12 (2), 150-155

Chiu, Lian-Hwang. (1988). Testing the test : measures of self-esteem for school-age children. Jurnal of Counseling and Development, 66 (6), 298

Coopersmith, S. (1967). The Antecedent of Self esteem. San Fransisco : W.H. Freeman & Company Daymon, C & Holloway, I. 2008. Metode-metode Riset Kualitatif dalam Public Relation and Marketing

communications. Yogyakarta : Bentang Pustaka

Departemen Pendidikan Nasional.(1977). Pendidikan Anak-Anak Tunanetra untuk SGPLB. Bandung:

Masa Baru

Departemen Pendidikan Nasional. (2007). Pengadaan dan Pembinaan Tenaga Pendidik.

Elfhag, K., Tynelius, P.,& Rasmussen, F.(2010).Self-esteem links in families with 12-year-old children and

(8)

in separated spouses. The Journal of Psychology, 144(4), 341-359

Florian, L.(2007). A Sociology of Special Education. The SAGE Handbook of Special Education. Page 35- Griffin-Shirley, N.,& L.Nes, S. (2005). Self-Esteem and Empathy in Sighted and Visually Impaired 47

Preadolescents. Journal of Visual Impairment & Blindness

Garaigordobil, Maite.,& Bernarás, E. (2009). Self-concept, Self-esteem, Personality Traits and Psychopathological Symptoms in Adolescents with and without Visual Impairment. The Spanish Journal of Psychology .12(1), 149-160

Hardman, M.L., Drew, C.J.,& Egan, M.W.(2002). Human Exceptionality 7th Edition. Boston: A Pearson Education Company

Halder, S.,& Datta, P. An exploration into self concept: A comparative analysis between the adolescents who are sighted and blind in India. The British Journal of Visual Impairment. 30(1), 31–41

Hurlock, E. (1990). Perkembangan Anak Jilid 2. Jakarta : Erlangga

Humphrey, N.(2004). The death of the feel-good factor? self esteem in the educational context. School Psychology International, 25 (3), 347-357

Ikiza, F.E.,&Cakar,F.S.(2010). Perceived social support and self –esteem in adolesence. Procedia Social and Behavioral Sciences. 5, 2338-2342

Kef, S.,& Dekovic, M.(2004). The role of parental and peer support in adolescents well-being: a comparison of adolescents with and without a visual impairment. Journal of Adolescence. 27, 453–466

Lei, P. (2006). Teacher and Inclusion. United Kingdom : World Vision

Lifshitz, H., Hen, I.,& Weisse, I. (2007). Journal of Visual Impairment & Blindness

J. Murk, C.(2006). Self-Esteem Research, Theory, and Practice (3rd ed). New York: Springer Publishing Company

Maleong, L.J. (2001). Metode Penelitian Kualitatif. Remaja Rosdakarya : Bandung Noor, J. 2011. Metodologi Penelitian. Jakarta : Kencana Penanda Media Group

Para, E.A. (2008). The role of social support in identity formation: A Literature Review. Graduate Journal of counseling Psychology 1, 97-105

Pavri, S.,&Monda-Amaya, L.(2001). Social support in inclusive joschool: student and teacher perspectives.

The Council for Exceptional Children, 67 (3), 391-411

Poerwandari, K. (2009). Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia .Jakarta : Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Robins, Richard.W.,&Trzesniewski, Kali.H. Self- esteem development across the life span. American Psychological Society, 14 (3), 158-161

Rudianto, A. (2012). Pelajar Tunanetra berangkat sekolah. Diunduh tanggal 27 November 2012 melalui http://www.solopos.com/2012/08/29/tuna-netra-berangkat-sekolah-322985

Sarafino, E.P. (1994). Health Psychology: Biopsychosocial Interactions (2nd.ed). New York: John Wiley Santrock, J. W. (1996). Adolescence. USA : Mc Graw-Hill Companies, Inc.

Schinazi, V.R. (2007). Psychosocial implications of blindness and low-vision. Centre for Advanced Spatial Analysis University College London, 114

Smet, Bart. (1999). Psikologi Kesehatan. Jakarta : Grasindo

Strauss, A& Corbin,J. (2009). Dasar-dasar Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset Suryanto, D. (2012). Diskriminasi tunanetara di stasiun tugu. Diunduh pada tanggal 28 November 2012

http://www.solopos.com/2012/09/11/diskriminasi-tunanetra-di-stasiun-tugu-327558 Taylor, S.E. Health Psychology (4th. ed). Singapore: McGraw Hill-Book Company

Tri, Agus. (2012, Juni). Minus Informasi Timbulkan Stigmatisasi. Komunika,11,8

Weiten, Wayne.(2000). Psychology Themes and Variations (4th ed). California: Wadsworth Publishing Company

Yin, Robert.K.(1995). Studi Kasus Desain dan Metode. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Gambar

Tabel Peran Dukungan Sosial dalam Pembentukan Self Esteem

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa: (1) Kegiatan subjek dalam pelaksanaan pembelajaran materi peluang adalah: (a) pertemuan pertama(i) menyiapkan diri

Pramuka Siaga Tata : dapat menceritakan pengetahuan dan teknologi serta keterampilan kepramukaan yang dimilikinya dalam barung dan perindukan2. Pramuka Siaga Mula : mengenal

Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan kasih dan karunia yang tak habis-habisnya sehingga kami dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini.Tugas Akhir

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi.. Pendidikan Jasmani Kesehatan

Pembahasan dimulai dengan pengenalan Microsoft Access 2002 secara global, bagaimana memulai Access 2002, mengenal menu, perintah-perintah dan elemen dasarnya serta pengenalan

Perbandingan Algoritma Stemming Porter Dengan Algoritma Nazief & Adriani Untuk Stemming Dokumen Teks Bahasa Indonesia.. Bali: Proceeding Konferensi Nasional

Dengan adanya website Studio Musik 79 ini, banyak para pengguna internet yang sebelumnya belum tahu keberadaan studio ini menjadi tahu, bahkan banyak yang sudah menggunakan jasa

Aplikasi The Witchs merupakan suatu aplikasi multimedia yang membahas tentang pemberian informasi mengenai kelompok Witchs, karya gambar, teknik membuat komik secara umum