• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Data Impor Amonium Sulfat di Indonesia (

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Data Impor Amonium Sulfat di Indonesia ("

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Pendirian Pabrik

Indonesia merupakan negara agraris sehingga sektor pertanian memegang peranan penting dalam perekonomian negara. Berkembangnya sektor pertanian menyebabkan meningkatnya kebutuhan pupuk. Kebutuhan pupuk dalam negeri sebagian dipenuhi dengan cara impor. Di sisi lain, negara Indonesia mempunyai sumber daya alam yang melimpah berupa bahan – bahan yang dapat diolah menjadi pupuk. Salah satu pupuk impor adalah pupuk amonium sulfat yang biasa disebut pupuk ZA (Zwavelzure Ammoniak).

Pupuk ZA merupakan salah satu jenis pupuk buatan yang mempunyai 2 jenis unsur hara sekaligus yaitu nitrogen dan sulfur. Dua unsur tersebut sangat dibutuhkan dalam perkembangan suatu tanaman, baik tanaman perkebunan ataupun pertanian. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik, kebutuhan impor ZA Indonesia tersaji pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1 Data Impor Amonium Sulfat di Indonesia (www.bps.go.id)

Tahun Impor (ton)

2010 268.451

2011 475.525

2012 820.346

2013 728.487

2014 864.452

Data di atas menunjukkan bahwa impor amonium sulfat dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pendirian pabrik ammonium sulfat sangat diperlukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap negara lain.

(2)

BAB I Pendahuluan

Pendirian pabrik amonium sulfat di Indonesia dipandang strategis dengan alasan sebagai berikut :

a. Pendirian pabrik dapat memenuhi kebutuhan ammonium sulfat dalam negeri. b. Menghemat devisa negara dengan mengurangi impor.

c. Mendukung berkembangnya pabrik lain yang menggunakan ammonium sulfat sebagai bahan baku.

d. Membuka lapangan kerja baru, sehingga mampu menurunkan tingkat pengangguran.

1.2. Kapasitas Rancangan

1.2.1. Perkiraan Kebutuhan Amonium Sulfat di Indonesia

Berdasarkan data BPS (Biro Pusat Statistik) yang ditunjukkan pada Tabel 1.1, perkirakan kebutuhan amonium sulfat pada tahun 2020 dapat dihitung dengan cara melakukan linierisasi data impor. Hasil linierisasi ditunjukkan pada Gambar 1.1.

Gambar 1.1 Data Impor Amonium Sulfat

Berdasarkan Gambar 1.1, persamaan hasil linierisasi adalah y = 144.496 x – 290.095.184, dengan x adalah tahun dan y adalah jumlah kebutuhan impor amonium sulfat. Perkirakan jumlah kebutuhan amonium sulfat pada tahun 2020

y = 144.496.x - 290.095.184 0 100000 200000 300000 400000 500000 600000 700000 800000 900000 1000000 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Im po r (t o n/ta hu n) Tahun

(3)

BAB I Pendahuluan

yang belum mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri sebesar 1.787.423 ton/tahun.

1.2.2. Kapasitas pabrik yang sudah berdiri

Pabrik amonium sulfat yang masih beroperasi di beberapa negara dapat dilihat pada Tabel 1.2.

Tabel 1.2. Pabrik Amonium Sulfat di Dunia (www.alibaba.com)

No Perusahaan Kapasitas

1. BASF ( IG Farben Industrie A/G ) Leuna , Germany

600.000 Ton/Tahun

4. Wengfu Jianfeng Chemical Industry Co., Ltd., China (Merseburg Process)

200.000 Ton/Tahun

5. Laiwu Songfeng Fertilizer Co., Ltd, Shandong, China

15.000 Ton/Bulan

6. Hunan Yueyang Sanxiang Chemical Co., Ltd, Hunan, China

100.000 Ton/Tahun

7. FCI-Sindri and GSFC-Vadodara, India (Merseburg Process)

468.000 Ton/Bulan

8. Anqing Yuancheng Trading Co., Ltd, China

10.000 Ton/Bulan

9. Cameroon Chemical Complex Inc, Malaysia

15.240 Ton/Bulan

11. Shijiazhaung Yingyi Agricultural Material Co., Ltd, China

5000 Ton/Bulan

(4)

BAB I Pendahuluan

1.2.3. Ketersediaan Bahan Baku

Bahan baku pembuatan amonium sulfat proses Merseburg adalah gipsum, NH3, CO2 dan H2O. Gipsum yang digunakan didapat dari PT. Petrokimia Gresik

yang menghasilkan 500.000 ton/tahun. Amonia yang digunakan berupa amonia cair yang diperoleh dari PT. Pupuk Kujang yang menghasilkan produk sebesar 330.000 ton/tahun. Gas CO2 didapat dari PT. Resources Jaya Teknik Management

Indonesia (RMI) Krakatau Karbonindo dengan kapasitas produk 142.500 ton/tahun.

1.2.4. Rancangan kapasitas

Berdasarkan prediksi kebutuhan amonium sulfat dalam negeri yang belum dapat terpenuhi, kapasitas pabrik yang telah beroperasi, dan ketersediaan bahan baku, maka ditetapkan kapasitas prarancangan pabrik amonium sulfat yang akan didirikan tahun 2020 sebesar 250.000 ton/tahun. Pemilihan kapasitas tersebut dititikberatkan pada :

1. Kebutuhan amonium sulfat nasional pada tahun 2020 sebesar 1.787.423 ton menyebabkan Indonesia harus meningkatkan jumlah impor amonium sulfat. Pabrik dengan kapasitas 250.000 ton/tahun dapat berperan dalam pemenuhan kebutuhan amonium sulfat nasional sebesar 13,98 %.

2. Kapasitas pabrik dengan proses Merseburg yang telah beroperasi sebesar 200.000 ton/tahun (Wengfu Jianfeng Chemical Industry Co., Ltd., China) dan 468.000 to/tahun (FCI-Sindri and GSFC-Vadodara, India).

3. Pertimbangan ketersediaan bahan baku, pabrik dengan kapasitas 250.000 ton/tahun membutuhkan bahan baku NH3 64.878 ton/tahun, CO2 83.540

ton/tahun, dan gypsum 331.875 ton/tahun.

1.3. Lokasi Pabrik

Pemilihan lokasi pabrik merupakan salah satu langkah penting dalam perancangan suatu pabrik. Lokasi suatu pabrik mempengaruhi kedudukan pabrik dalam persaingan maupun penentuan kelangsungan berdirinya. Pemilihan lokasi yang tepat, ekonomis dan menguntungkan dipengaruhi oleh banyak faktor, antara

(5)

BAB I Pendahuluan

lain penyediaan bahan baku, pemasaran produk, fasilitas transportasi, penyediaan bahan bakar dan energi, penyediaan air, dan penyediaan tenaga kerja. Lokasi pendirian pabrik amonium sulfat direncanakan di Gresik, Jawa timur dengan pertimbangan sebagai berikut :

a. Penyediaan bahan baku

Bahan baku merupakan kebutuhan utama bagi kelangsungan suatu pabrik sehingga pengadaan bahan baku sangat diprioritaskan. Lokasi pabrik di Gresik ini sangat tepat mengingat sumber bahan baku gipsum yang digunakan diperoleh dari PT. Petrokimia Gresik. Lokasi pabrik yang dekat bahan baku ini, selain dapat mengurangi biaya transportasi, sekaligus mengurangi investasi yang relatif besar. b. Pemasaran produk

ZA merupakan pupuk anorganik yang banyak digunakan dalam sektor pertanian maupun perkebunan. Kebutuhan pupuk di daerah Jawa Timur pada khususnya dan daerah-daerah di Indonesia lainnya dapat dipenuhi dengan didirikannya pabrik di daerah Gresik.

c. Fasilitas transportasi

Dekatnya Gresik dengan kota lainnya, diharapkan pemasokan bahan baku dan pemasaran hasil produksi tidak mengalami kesulitan.

d. Penyediaan bahan bakar dan energi

Daerah Gresik merupakan daerah kawasan industri sehingga penyediaan bahan bakar dan energi dapat dipenuhi. Tenaga listrik dapat disediakan PLN dan oleh pabrik sendiri untuk keadaan darurat.

e. Penyediaan air

Air dibutuhkan dalam jumlah besar dalam industri. Air digunakan dalam proses untuk pendingin, pembangkit steam, hidrasi dan sanitasi. Penyediaan air dipenuhi dengan pendirian unit pengolah air dimana airnya mengambil dari Sungai Brantas.

f. Penyediaan Tenaga kerja

Tenaga kerja yang digunakan dalam industri berasal dari daerah sekitar, yang meliputi tenaga kerja tingkat bawah, menengah dan atas. Pendirian pabrik ini

(6)

BAB I Pendahuluan

maka akan mengurangi tingkat pengangguran baik dari penduduk sekitar ataupun penduduk urban.

Rincian peta lokasi pabrik amonium sulfat yang direncanakan ditunjukkan pada Gambar 1.2.

Gambar 1.2. Peta Lokasi Pabrik Amonium Sulfat di Gresik, Jawa Timur lokasi

(7)

BAB I Pendahuluan 1.4. Tinjauan Pustaka

1.4.1. Macam – macam proses a. Proses Netralisasi

H2SO4 (l) + 2NH3(g) (NH4)2SO4(s) (1)

Reaksi tersebut terjadi menurut mekanisme reaksi berikut : H2SO4 ↔ 2H+ + SO42- (2)

2NH3 + 2H+ 2NH4+ (3)

2NH4+ + SO42- (NH4)2SO4 (4)

H2SO4+ 2NH3 (NH4)2SO4 (5)

Reaksi pembentukan amonium sulfat dari asam sulfat dan amonia merupakan reaksi gas – cair yang dioperasikan pada suhu 105-110 oC, tekanan atmosfer,level larutan 3,6 - 4,5 meter, dan perbandingan mol reaktan H2SO4 dan

NH3 sebesar 1 : 2. Kandungan nitrogen dalam amonium sulfat minimal sebesar

20,8 % berat, asam sulfat bebas maksimal 0,1 % berat, dan H2O maksimal 0,1 %

berat.

Pembentukan kristal amonium sulfat di dalam reaktor melalui beberapa tahapan berikut :

1. Pembentukan larutan amonium sulfat jenuh

Mula-mula mother liquor / kondensat yang diinginkan dimasukkan ke dalam reaktor sampai mencapai level yang diinginkan, kemudian asam sulfat dan uap amonia dimasukkan secara kontinyu ke dalam reaktor dalam bentuk gelembung melalui sparger sehingga terjadi reaksi dan membentuk amonium sulfat. Gas amonia dan asam sulfat cair dimasukkan secara terus-menerus sehingga tercapai kondisi larutan jenuhnya.

2. Pembentukan larutan lewat jenuh

Larutan amonium sulfat saat tercapai kondisi jenuh, gas amonia dan asam sulfat terus dimasukkan sehingga akan diperoleh kondisi lewat jenuh (supersaturasi) dari larutan amonium sulfat, dan akhirnya membentuk kristal amonium sulfat. (Sumarni, 2009, Laporan kerja Praktek Pabrik Amonium Sulfat (ZA III), PT Petrokimia Gresik, Jawa Timur)

(8)

BAB I Pendahuluan

b. Proses Karbonasi Batubara

Amonium sulfat dapat diproduksi dari batubara dengan 3 cara yaitu direct,

indirect dan semi direct method.

b.1.Direct Method

Semua gas yang terbentuk pertama kali didinginkan untuk menghilangkan sejumlah tar sebelum melewati saturator bubble atau type spray, dimana reaksi dengan asam sulfat terjadi. Kristal amonium sulfat yang terbentuk turun kemudian dipisahkan dan dicuci dalam centrifuge lalu dikeringkan. Kristal kering dikirim lewat conveyor untuk disimpan.

b.2. Indirect Method

Pada proses ini, gas panas didinginkan dengan resirkulasi cairan pencuci dan air scrubbing. Campuran cairan kemudian dipanaskan dengan steam dalam kolom stripper tipe bubble untuk melepaskan amonia bebas dalam senyawa garam seperti amonium karbonat dan amonium sulfit. Sebagian cairan dalam kolom stripper kemudian ditambahkan dengan larutan kapur untuk menguraikan komponen garam seperti amonium klorida. Gas keluar yang masih banyak mengandung amonia dimasukkan ke dalam saturator yang sudah mengandung asam sulfat sehingga terbentuk amonium sulfat.

b.3. Semi – Direct Method

Dalam proses ini gas mula – mula didinginkan dan dicuci untuk menghilangkan sejumlah tar dan untuk memproduksi larutan amonia. Kemudian amonia cair dipanaskan sampai suhu 70 oC dan diabsorbsi dengan asam sulfat encer (5 % – 6 %), menghasilkan larutan amonium sulfat jenuh dengan suhu 60 oC – 70 oC.

Spray absorber atau saturator yang digunakan dalam operasi ini bervariasi

dan modifikasi dari sistem ini telah dirancang oleh para insinyur seperti Koopers, Otto, Wilpitte, Simon Carves Woodal-Duckham dan lainnya. Spray tipe

scrubber-saturator yang dikembangkan oleh perusahaan Otto telah dipakai secara luas

sebagai unit pemisah kristaliser untuk memberikan kontrol yang lebih baik dalam pembentukan kristal.

(9)

BAB I Pendahuluan

c. Reaksi antara Amonium Karbonat dengan Gipsum (Proses Merseburg) Proses ini masih digunakan di berbagai negara dimana asam sulfat sangat mahal dan suplai gipsum tersedia dalam jumlah besar seperti Inggris, Prancis, Jerman dan Indonesia. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

2NH3 + CO2 + H2O (NH4)2CO3 (6)

(NH4)2CO3 + CaSO4.2H2O (NH4)2SO4 + CaCO3 + 2H2O (7)

Larutan amonium karbonat jenuh dibuat dengan cara melarutkan karbon dioksida dalam larutan amonium hidroksida. Karbon dioksida tersedia sebagai hasil samping pembakaran hidrokarbon. Konversi pada akhir reaksi kira-kira 95 % sesudah 2 jam, jika gipsum bereaksi sempurna dan suhu reaksi pada 50 oC - 60 oC. Keluaran reaktor difilter untuk memisahkan kalsium karbonat dan kalsium

sulfat yang tidak bereaksi dari larutan amonium sulfat (Faith & Keyes, 1957).

1.4.2. Kegunaan Produk

Amonium sulfat dapat digunakan dalam bidang sebagai berikut : a. Pertanian

Amonium sulfat merupakan pupuk yang sangat cocok digunakan pada lahan pertanian dimana kandungan sulfur dalam tanah tersebut kurang. Amonium sulfat lebih baik dibandingkan dengan urea karena mengandung 2 jenis unsur yaitu nitrogen dan sulfur.

b. Biokimia

Senyawa amonium sulfat dapat digunakan sebagai nutrisi penambah kadar nitrogen dalam proses fermentasi. Unsur nitrogen sangat diperlukan bagi mikroorganisme disamping unsur – unsur yang lain.

c. Bidang lain

Amonium sulfat dapat juga digunakan sebagai pengolahan air, bahan tahan api dan penyamakan.

(10)

BAB I Pendahuluan

1.4.3. Sifat Fisik dan Kimia

1.4.3.1.Sifat Fisik dan Kimia Bahan Baku a. Ammonia (NH3) Sifat Fisik: Berat Molekul : 17,03 Titik leleh : - 77,7 oC Titik didih : - 33,35 oC Temperatur kritis : 133 oC

Tekanan kritis : 11,425 kPa

Specific heat

Pada 0 oC : 2097,2 J/(kg.K)

Pada 100 oC : 2226,2 J/(kg.K)

Pada 200 oC : 2105,6 J/(kg.K)

H0 pembentukan (25 oC) : -46,222 Kj/mol Kelarutan dalam air (% berat)

Pada 0 oC : 42,8 Pada 20 oC : 33,1 Pada 40 oC : 23,4 Pada 60 oC : 14,1 Specific grafity Pada -40 oC : 0,690 Pada 0 oC : 0,639 Pada 40 oC : 0,580

Massa jenis (15 oC) : 0,618 gram/liter

(Kirk and Othmer, 1978) Sifat Kimia

 Pada temperatur tinggi terdekomposisi menjadi hidrogen dan nitrogen

 Bereaksi dengan Potassium Permanganat :

2NH3 + 2KMnO4 2KOH +2MnO2 + 2H2O + N2  Bereaksi dengan chlorine

(11)

BAB I Pendahuluan

 Mengalami reaksi oksidasi pada pembuatan asam nitrat dengan sangat cepat pada suhu 650 oC (katalis : platinum-rhodium)

4NH3 + 5O2 4NO + 6H2O

2NO + O2 2NO2

3NO2 + H2O 2HNO3 + NO

 Bereaksi dengan air dan bersifat reversible

NH3 + H2O NH4+ + OH

-(Kirk and Othmer, 1978)

b. Karbon dioksida (CO2)

Sifat fisis :

Berat Molekul : 44,01

Titik leleh : -56,6 oC (5,2 atm)

Titik didih : tersublimasi pada – 78,5 oC

Temperatur kritis : 304,2 K

Tekanan kritis : 7.390 kPa

Volume kritis : 0,095 m3/kmol

H0 pembentukan (25 oC) : -393,51 Kj/mol

G0 pembentukan (25 oC) : -394,37 Kj/mol

Specific grafity

Liquid : 1,101 (-87 oC)

: 1,53 (dengan acuan udara)

Solid : 1,56 (pada –79 oC)

Kelarutan dalam 100 bagian air

Pada 100 bagian air dingin (0 oC) : 179,7 Pada 100 bagian air panas (20 oC) : 90,1

(Perry, 1984) Massa jenis (pada 273 K) : 928 gram/liter

Sifat kimia :

(12)

BAB I Pendahuluan

 Membentuk garam dan ester jika bereaksi dengan asam lemah

 Membentuk CO jika dipanaskan di atas suhu 1700 oC

2CO2 ↔ 2CO + O2

 Mengalami reaksi reduksi jika bereaksi dengan hidrogen CO2 + H2 CO + H2O

 Karbondioksida bereaksi dengan ammonia akan membentuk ammonium karbamat pada tahap pertama pembuatan urea

CO2 + 2NH3 NH2COONH4

(Kirk and Othmer, 1978) c. Air (H2O)

Sifat fisis :

Berat Molekul : 18,01

Titik didih : 100 oC (1 atm)

Titik Leleh : 0 oC (1atm)

Temperatur kritis : 647,1 oK

Tekanan kritis : 217,6 atm

Volume kritis : 56 cc/gmol

H0 pembentukan (25 oC)

liquid : -68,317 kjoule/mol

gas : -57,798 kjoule/mol

pH : 5,4 – 7,5

Specific grafity

Liquid : 1,004 tiap 100 bagian

( ice) : 0,195 tiap 100 bagian

Kelarutan : larut pada etil eter

Larut pada 95 % etanol

Massa jenis : 1 gr/cc

(Perry, 1984) Sifat kimia:

 Air dapat terhidrolisa menghasilkan H2 dan O2 dengan reaksi

(13)

BAB I Pendahuluan

 Dapat bereaksi dengan ammonia membentuk ammonium hidroksida NH3 + H2O NH4OH

d. Gipsum (CaSO4.2H2O)

Sifat Fisis:

Berat Molekul : 172,17

Titik leleh : - 1 H2O, 128 (kehilangan 1 mol air

tiap berat pada 128 oC) tekanan 1 atm

Titik didih : - 2 H2O, 163 ( kehilangan 2 mol air

tiap berat pada 163 oC) tekanan 1 atm

Specific gravity : 2,32

H0 pembentukan (25 oC) : -338,73 kcal/mol

G0 pembentukan (25 oC) : -311,9 kcal/mol Kelarutan

Pada 100 bagian air dingin (0 oC) : 0,223 Pada 100 bagian air panas (50 oC) : 0,257

Larut pada asam, gliserol, gliserin, Na2S2O3 dan garam – garam NH4

(Perry, 1984) Sifat kimia:

 Reaksi hidrasi kalsium aluminate dengan gipsum akan menghasilkan kalsium sulfat aluminate hidrat dengan reaksi :

H2O

3 CaO.Al2O3 + CaSO4 3 CaO. Al2O3. 3 CaSO4 32 H2O  Gipsum apabila dipanaskan akan melepaskan senyawa H2O

CaSO4.2H2O + panas CaSO4.1/2H2O + 11/2 H2O

e. Amonium Karbonat ((NH4)2CO3)

Sifat fisis :

Berat molekul : 96,09 g/mol

Titik leleh : 43 oC

(14)

BAB I Pendahuluan Kelarutan :

Pada 100 bagian air dingin ( 15 oC) : 100 Pada 100 bagian air panas (49 oC) : 50 Tidak larut dalam CS2, etanol 95 %, dan NH3

(Perry, 1984) Sifat kimia :

 Pada suhu tinggi dapat terdekomposisi menjadi amonia, karbon dioksida dan air dengan reaksi :

(NH4)2CO3 ↔ NH3 + CO2 + 2H2O

(Kirk and Orthmer, 1978) 1.4.3.2.Sifat Fisis dan Kimia Produk

a. Amonium Sulfat ((NH4)2SO4)

Sifat fisis :

Berat molekul : 132,14

Massa jenis : 1,769 g/cm3 (20 oC)

Titik leleh : terdekomposisi pada

suhu 235–280 oC Kelarutan dalam air : 163,8 g/mL (100 oC)

Critical relative : 79,2% (30 oC)

(www.wikipedia.org)

Sifat kimia :

 Pada suhu 280 oC dapat terdekomposisi menjadi amonium bisulfat

dengan reaksi :

(NH4)2SO4 NH4HSO4

(NH4)2SO4 + 2NaCl 2NH4Cl + Na2SO4

(Kirk and Othmer, 1978) b. Kalsium Karbonat (CaCO3)

Sifat fisik :

Berat molekul : 100,0869 g/mol

(15)

BAB I Pendahuluan

Massa jenis : 2,83 g/cm3

Titik leleh : 825 oC

Kelarutan dalam air : 0,15 g/100 mL (25 oC)

Flash point : 825 oC

(www.wikipedia.org) Sifat Kimia

 Jika bereaksi dengan asam kuat akan melepaskan CO2

CaCO3 + 2HCl CaCl2(aq) + CO2(g) + H2O(l)  Jika dipanaskan pada suhu di atas 840 oC akan melepaskan CO2 untuk

membentuk CaO, reaksi ini disebut quicklime dengan ΔHr = 178

kJ/mol

CaCO3 CaO + CO2

(www.wikipedia.org)

1.4.4. Tinjauan Proses Secara Umum

Pertimbangan pemilihan proses Merseburg yaitu bahan baku mudah diperoleh dari pasokan dalam negeri dan efisien. Kondisi operasi yang digunakan adalah tekanan atmosferik dan suhu rendah sehingga dapat mengurangi biaya produksi dalam penyediaan energi proses.

Pada proses pembuatan amonium sulfat dari gipsum dan amonium karbonat terdiri dari beberapa langkah proses. Langkah yang pertama adalah penyiapan bahan baku. Bahan baku ammonium karbonat diperoleh dengan proses absorbsi gas NH3 dan CO2 oleh air, dengan reaksi

2NH3 + CO2 + H2O (NH4)2CO3 (8)

Amonia cair disimpan dalam fase cair pada temperature 40 °C dan tekanan 15,5 atm. Amonia diturunkan tekanannya menjadi 6,5 atm sebelum masuk ke absorber. CO2 disimpan dalam fase cair pada temperature 40 °C dan tekanan 9 atm. CO2

diturunkan tekanannya menjadi 6,5 atm sebelum masuk ke absorber. Kondisi operasi absorber pada suhu 40 °C dengan tekanan 6,5 atm. Reaksi yang terjadi bersifat eksotermis dan irreversible.

(16)

BAB I Pendahuluan

Langkah kedua adalah proses reaksi. Dalam proses ini, terjadi reaksi antara amonium karbonat dengan gipsum. Reaksi bersifat eksotermis dan irreversibel. Reaksi terjadi di dalam 2 reaktor RATB yang disusun seri dengan suhu antara 50 °C - 60 °C dan tekanan 1 atm. Konversi pada akhir reaksi adalah 98 %. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

(NH4)2CO3 + CaSO4.2H2O (NH4)2SO4 + CaCO3 + 2H2O (9)

Langkah ketiga adalah proses pemurnian. Larutan amonium sulfat keluar reaktor difiltrasi untuk memisahkan padatan dari cairan. Cairan dialirkan menuju

evaporator untuk pemekatan larutan ammonium sulfat. Cairan lewat jenuh dari

ammonium sulfat dialirkan menuju crystallizer untuk pembentukan kristal. Hasil kristaliser dialirkan menuju centrifuge untuk pemisahan mother liquor dan kristal ammonium sulfat. Kristal amonium sulfat dari centrifuge dikeringkan di rotary

(17)

Gambar

Gambar 1.2. Peta Lokasi Pabrik Amonium Sulfat di Gresik, Jawa Timur lokasi

Referensi

Dokumen terkait

Bahan baku pembuatan asam fenil asetat adalah benzil.. sianida dan asam

Prarancangan Pabrik Asam Sulfat dari Sulfur dan Udara Kapasitas 325.000

Katalis yang digunakan pada proses hidrolisis ampas tebu adalah

Proses dasar pembuatan isopropyle benzene adalah propylalkylation dari benzena pada fase cair dengan menggunakan katalis asam sulfat.. Karena kompleksnya reaksi

Reaksi esterifikasi merupakan reaksi reversibel, eksotermis, dan berjalan sangat lambat tetapi bila menggunakan katalis asam mineral seperti asam sulfat (H 2 SO 4 )

Dalam penelitian ini bahan pengemulsi lateks pekat yang digunakan adalah amida asam lemak campuran dari minyak kelapa (AAL), amonium lauril sulfat (ALS) dan amonium laurat

Penelitian ini mempelajari kinetika reaksi pembuatan triasetin dari gliserol dan asam asetat dengan katalis asam sulfat dalam reaktor batch yang kemudian digunakan

Proses pembuatan Magnesium Sulfat dengan bahan baku Magnesium Oksida dan Asam Sulfat secara garis besar dapat dibagi menjadi beberapa tahap yaitu:.. Tahap penyiapan bahan baku