• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESPONS DUA VARIETAS KACANG TANAH DAN UKURAN BENIH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RESPONS DUA VARIETAS KACANG TANAH DAN UKURAN BENIH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

RESPONS DUA VARIETAS KACANG TANAH DAN UKURAN

BENIH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL

Sunanjaya* dan Delly Resiani

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali (BPTP) Bali; Jl. By Pass Ngurah Rai Pesanggaran, Denpasar; *⁾email: [email protected]

ABSTRAK

Kacang tanah merupakan salah satu komoditas penting setelah kedelai, namun sampai saat ini produktivitasnya masih rendah. Upaya yang dapat dilakukan adalah mengkombinasikan pengguna-an varietas unggul dengpengguna-an berbagai variasi ukurpengguna-an benih. Penelitipengguna-an dilakukpengguna-an di Desa Kubu, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem Bali, pada bulan Pebruari sampai Mei 2010. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok dengan pola faktorial. Faktor pertama adalah varietas (V) yakni V1 (varietas Kancil) dan V2 (varietas Turangga). Faktor kedua adalah ukuran benih (U) yakni U1(bobot benih <400 mg/biji), U2 (bobot benih 400-450 mg/biji), dan U3 (bobot benih >450 mg/biji). Masing-masing perlakuan kombinasi diulang 4 kali. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman maksimum, jumlah daun maksimum, indeks luas daun, umur panen, jumlah polong berisi per tanaman, jumlah biji per polong, jumlah biji per ubinan, bobot polong kering panen per ubinan, bobot kering oven biji per ubinan, dan bobot kering oven biji per hektar. Hasil analisis menunjukkan kombinasi perlakuan varietas Kancil dengan bobot benih >450 mg/biji (V1U3) menghasilkan bobot biji kering oven tertinggi yaitu 1,18 t/ha.

Kata kunci: varietas, kacang tanah, ukuran benih.

ABSTRACT

Response two peanut variety of sizes and seeds of growth and results. Peanuts are one

of the essential commodities as soybeans , but to date productivity is still low. Attempts to do is to combine the use of high yielding varieties with different seed size variation. The study was conducted in the village of Kubu, Kubu district, Karangasem regency, in February until May 2010. The experimental design used was a randomized block with factorial. The first factor is the variety (V) that V1 (Kancil varieties) and V2 (Turangga varieties). The second factor is the size of the seed (U) ie U1 (seed weight <400 mg/seed), U2 (seed weight of 400-450 mg/seed ) and U3 (weight of seed >450 mg/seed ). Each treatment combination was repeated 4 times. Parameters observed maximum plant height, maximum leaf total, leaf area index, harvest age, weight of pods per plant contains, the weight of seeds per pod, weight of seeds per tile, dry weight of pods harvested per tile, oven dry weight of seeds per tile, and oven dry weight of seed per acre. The analysis showed the combination treatment hare varieties with seed weight >450 mg/seed (V1U3) produces the highest oven dried seed weight is 1.18 t/ha.

Keywords: varieties, peanut, seed size.

PENDAHULUAN

Usaha peningkatan hasil kacang tanah dapat diupayakan melalui penggunaan varietas unggul yang mampu beradaptasi dengan lingkungan tumbuh. Selain itu juga perlu diper-hatikan kualitas benih yang akan ditanam. Benih bermutu tinggi dan bersertifikat akan menghasilkan pertumbuhan yang baik. Ukuran benih juga merupakan faktor penting karena mencerminkan besarnya cadangan makanan dalam benih. Benih yang berat akan menghasilkan tanaman yang kuat karena mempunyai cadangan makanan dan ukuran embrio yang lebih besar. Sebaliknya, benih yang ringan tidak mengandung cadangan makanan yang cukup sehingga pertumbuhan awal tidak kuat, kecambah lemah, dan

(2)

kurang mampu beradaptasi dengan lingkungan (Kamil, 1982). Arifin dkk (1980) menda-patkan benih jagung yang berat meningkatkan hasil 33% dibandingkan dengan benih yang ringan. Dinarto dan Sahrial (1998) juga mendapatkan benih kacang tanah yang berat menghasilkan bobot kering tanaman lebih tinggi 115% dibandingkan dengan benih sedang dan 125% dibanding benih ringan.

Di Bali, khususnya di Desa Kubu Kabupaten Karangasem, pemanfaatan lahan untuk budidaya kacang tanah baru mencapai 60% dari lahan yang tersedia dengan rata-rata hasil 0,5 t/ha. Hasil tersebut masih tergolong rendah, yang mungkin disebabkan oleh kekeringan pada stadia kritis tanaman akibat rendahnya curah hujan (4,3 bulan basah) dengan iklim tipe D3 (Daryono 2002). Di samping itu petani di Desa Kubu menggunakan varietas lokal yang walaupun sudah beradaptasi baik di daerah tersebut tetapi karena sering terjadi cekaman kekeringan pada stadia kritis tanaman maka hasilnya tetap rendah.

Varietas lokal yang digunakan berasal dari pasar bahkan kebanyakan diproduksi petani secara turun-temurun. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, upaya yang mungkin dapat dilakukan adalah mengkombinasikan penggunaan varietas unggul berpotensi hasil tinggi dan mampu beradaptasi pada kondisi kekeringan juga mampu menghasilkan per-tumbuhan awal yang lebih baik, berumur lebih pendek, dan bobot benih lebih berat. Benih yang lebih berat diharapkan mampu menghasilkan pertumbuhan awal tanaman yang lebih optimal sehingga mampu beradaptasi pada kondisi kekeringan. Varietas yang berumur lebih pendek diharapkan tanaman dapat terhindar dari cekaman kekeringan. Berdasarkan uraian tersebut di atas dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui respon dua varietas kacang tanah dan ukuran benih terhadap pertumbuhan dan hasil.

BAHAN DAN METODE

Penelitian dilakukan di Desa Kubu, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Bali, pada bulan Pebruari sampai Mei 2010, menggunakan rancangan acak kelompok dengan pola faktorial. Faktor pertama adalah varietas (V) yang terdiri dari V1 (varietas Kancil) dan V2 (varietas Turangga). Faktor kedua adalah ukuran benih (U) yakni U1(bobot <400 mg/biji), U2 (bobot 400-450 mg/biji), dan U3 (bobot >450 mg/biji). Kombinasi perlakuan adalah V1U1 (varietas Kancil, bobot benih<400 mg/biji), V1U2 (varietas Kancil, bobot benih 400-450 mg/biji), V1U3 (varietas Kancil, bobot benih >450 mg/biji), V2U1 (varietas Turangga, bobot benih<400 mg/biji), V2U2 (varietas Turangga, bobot benih 400-450 mg/biji), dan V2U3 (varietas Turangga, bobot benih >450 mg/biji). Masing-masing kombi-nasi perlakuan diulang 4 (empat) kali.

Tanah diolah sedalam 20 cm dengan cangkul, kemudian dibuat bedengan dengan ukuran petak 1,6 m x 2,0 m. Pada saat pengolahan tanah dilakukan pemupukan dengan pupuk kandang dosis 5 t/ha dan pupuk anorganik NPK Phonska 75 kg/ha, 1/3 dosis pada saat tanam dan 2/3 dosis pada 14 hst. Penanaman dilakukan dengan cara tugal sedalam 3-5 cm, masing-masing lubang tanam diisi 2 (dua) benih, dengan jarak tanam 40 cm x 10 cm (populasi 250.000 tanaman/ha). Penjarangan tanaman dilakukan 2 minggu setelah tanam agar populasi tanaman tetap (80 tanaman/petak) atau satu tanaman per rumpun. Penyulaman dilakukan bila ada tanaman yang mati dan pengendalian gulma sesuai dengan kondisi di lapangan.

Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun maksimum, indeks luas daun, umur panen, jumlah polong isi per tanaman, jumlah biji per polong, jumlah biji per ubinan, bobot polong kering per ubinan, bobot kering oven biji per ubinan, dan bobot

(3)

kering oven biji per hektar. Data dianalisis sesuai dengan rancangan yang digunakan. Jika perlakuan memberikan pengaruh nyata dilanjutkan dengan uji beda rata-rata mengguna-kan uji Duncan (Gomez dan Gomez 1995).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa interaksi varietas (V) dan ukuran benih (U) berpengaruh nyata (P<0,05) sampai sangat nyata (P<0,01) terhadap sebagian besar variabel yang diamati kecuali jumlah daun maksimum dan umur panen.

Tinggi Tanaman

Varietas Kancil (V1) dengan bobot benih >450 mg/biji (U3) memberikan tanaman tertinggi, kemudian diikuti oleh perlakuan V1U1 yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan ViU2, dan berbeda nyata dengan perlakuan V2U3, V2U2, dan V2U1. Perlakuan ViU1 memiliki tinggi tanaman 59 cm atau lebih tinggi 3,4% dibandingkan dengan perlakuan V2U3 (Tabel 1).

Tabel 1. Pengaruh interaksi antara varietas (V) dan ukuran benih (U) terhadap tinggi tanaman kacang tanah. Tinggi tanaman (cm) Perlakuan U1 (<400 mg) U2 (400-450 mg) U3 (>450 mg) V1 (Kancil) 58,6 a 59,0 a 59,1 a V2 (Turangga) 54,7 d 56,1 c 57,1 b

Angka selajur yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% uji Duncan.

Indeks Luas Daun (ILD)

ILD pada perlakuan varietas Turangga (V2) dengan bobot benih 400-450 mg/biji (U3) memberikan nilai tertinggi tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan V2U2 masing-masing 2,7 dan 2,4 atau 31,7% lebih tinggi dibanding perlakuan V1U1 (Tabel 2). Tabel 2. Pengaruh interaksi antara varietas (V) dan ukuran benih (U) kacang tanah terhadap ILD

pada 62 hst. ILD Perlakuan U1 (<400 mg) U2 (400-450 mg) U3 (>450 mg) V1 (Kancil) 1,9 c 2,0 c 2,8 b V2 (Turangga) 2,5 b 2,7 a 2,4 a

Angka selajur yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% uji Duncan.

Jumlah Polong Isi

Jumlah polong isi tertinggi diperoleh pada perlakuan varietas Kancil (V1) dengan bobot benih 400-450 mg/biji (U2), tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan V1U1 dan V1U3, dan berbeda nyata dengan perlakuan V2U1, V2U2, dan V2U3. Perlakuan V1U2 memberikan jumlah polong isi rata-rata 10,7 polong/tanaman, 21,6% lebih tinggi diban-ding perlakuan V2U3 (Tabel 3).

(4)

Tabel 3. Pengaruh interaksi antara varietas (V) dan ukuran benih (U) terhadap jumlah polong isi per tanaman kacang tanah.

Jumlah polong isi/tan (polong) Perlakuan

U1 (<400 mg) U2 (400-450 mg) U3 (>450 mg)

V1 (Kancil) 9,9 a 10,7 a 10,5 a

V2 (Turangga) 5,8 c 8,5 b 8,4 b

Angka selajur yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% uji Duncan

Jumlah Biji per Polong

Perlakuan varietas Turangga (V3) yang dikombinasikan dengan perlakuan bobot benih >450 mg/biji (U3) memberikan jumlah biji per polong terbesar namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan V2U1, masing-masing 2,5 dan 2,3 dan berbeda nyata dibanding perlakuan lainnya (Tabel 4).

Tabel 4. Pengaruh interaksi antara varietas (V) dan ukuran benih (U) terhadap jumlah biji per polong kacang tanah.

Jumlah biji per polong (polong) Perlakuan

U1 (<400 mg) U2 (400-450 mg) U3 (>450 mg)

V1 (Kancil) 1,2 d 1,6 c 1,5 c

V2 (Turangga) 2,3 a 1,9 b 2,5 a

Angka selajur yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% uji Duncan

Bobot Polong Kering Panen per Ubinan

Bobot polong kering panen per ubinan tertinggi diperoleh pada perlakuan varietas Kancil (V1) dengan bobot benih >450 mg/biji (U3), namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan V1U2 dan V1U3 (Tabel 5).

Tabel 5. Pengaruh interaksi antara varietas (V) dan ukuran benih (U) terhadap berat polong kering panen per ubinan kacang tanah.

Bobot polong kering panen per ubinan (g) Perlakuan

U1 (< 400 mg) U2 (400-450mg) U3 (>450 mg)

V1 (Kancil) 320,7 ab 342,0 a 343,4 a

V2 (Turangga) 220,8 c 242,5 c 275,6 b

Angka selajur yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% uji Duncan.

Bobot Kering Oven Biji per Ubinan

Bobot kering oven biji per ubinan tertinggi diperoleh pada perlakuan varietas Kancil (V1) yang dikombinasikan dengan bobot benih >450 mg/biji (U3), kemudian diikuti oleh perlakuan V1U2, V1U1, V2U3, V2U2, dan V2U1. (Tabel 2). Perlakuan V1U3 menghasil-kan bobot kering oven biji sebesar 142 g/ubinan atau meningkat 70,6% dibanding perla-kuan V2U1. Perlaperla-kuan V1U2, V1U1,V2U3,V2U2 memberikan bobot kering berturut-turut 115,9 g, 112,2 g, 57,8 g, dan 49,33 g atau masing-masing meningkat 64%, 62,8%,

(5)

Tabel 6. Pengaruh interaksi antara varietas (V) dan ukuran benih (U) terhadap bobot kering oven biji per ubinan kacang tanah.

Bobot kering oven biji per ubinan (g) Perlakuan

U1 (< 400 mg) U2 (400-450 mg) U3 (>450 mg)

V1 (Kancil) 112,2 b 115,9 b 142,0 a

V2 (Turangga) 41,8 d 49,3 d 57,8 c

Angka selajur yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% uji Duncan.

Bobot Kering Oven Biji per Hektar

Bobot kering oven biji per hektar tertinggi diperoleh pada perlakuan varietas Kancil (V1) yang dikombinasikan dengan bobot benih >450 mg/biji (U3), kemudian diikuti oleh perlakuan V1U2, V1U1, V2U3, V2U2, dan V2U1. Perlakuan V1U3 memberikan bobot kering oven biji 1,18 t/ha atau 66,4% lebih tinggi dibanding perlakuan V2U1 (Tabel 7). Tabel 7. Pengaruh interaksi antara varietas (V) dan ukuran benih (U) terhadap bobot kering oven

biji kacang tanah.

Bobot kering oven biji per hektar Perlakuan

U1 (<400 mg) U2 (400-450 mg) U3 (>450 mg)

V1 (Kancil) 0,93 b 1,00 b 1,18 a

V2 (Turangga) 0,40 d 0,46 d 0,47 c

Angka selajur yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% uji Duncan.

Interaksi antara perlakuan varietas (V) dan bobot benih (U) sangat berpengaruh terhadap bobot kering oven biji per hektar (P<0,01) (Tabel 7). Hasil tertinggi diperoleh pada kombinasi perlakuan V1U3 (varietas Kancil dengan bobot benih >450 mg/biji) yaitu 1,18 t/ha atau 71% lebih tinggi dibanding perlakuan V2U1 (varietas Turangga dengan bobot benih >400 mg/biji). Tingginya bobot kering oven biji per hektar didukung oleh bobot kering oven biji per ubinan, bobot polong kering panen per ubinan, jumlah polong isi per tanaman, dan tinggi tanaman (Tabel 1,3,5, dan Tabel 6), dengan nilai korelasi r masing-masing 0,822**;0,620*; 0,668*; dan 0,556*. Hamnes dalam Arifin dkk. (1980) menyatakan bahwa benih dengan ukuran lebih berat mampu menghasilkan tanaman yang lebih kuat sehingga mampu pula beradaptasi dengan variasi lingkungan. Di samping itu, makin berat benih makin baik pertumbuhan awal tanaman sehingga mampu beradaptasi dengan variasi lingkungan. Varietas Kancil yang ditanam di Desa Kubu memberikan hasil yang masih dalam kisaran deskripsi (1,7 ton per hektar) yakni 1,02 ton per hektar, tetapi hasil varietas Turangga lebih rendah dibandingkan dengan hasil deskripsi (2,0 ton per hektar), hanya 0,44 ton per hektar. Hal ini menunjukkan bahwa varietas Kancil memiliki toleransi yang lebih tinggi terhadap variasi lingkungan dibandingkan dengan varietas Turangga. Menurut Arsa dkk. (1997), varietas yang menunjukkan perubahan yang lebih kecil akibat pengaruh variasi lingkungan diduga memiliki toleransi yang lebih tinggi diban-dingkan dengan varietas yang menunjukkan perubahan yang lebih besar.

Analisis regresi terhadap bobot biji kering oven per hektar dan ukuran benih (U) pada varietas Kancil (V1) dan varietas Turangga (V2) menghasilkan hubungan linear dengan persamaan regresi Y=0,4130 + 0,0012 U untuk varietas Kancil dan Y=0,0500 + 0,0010 U untuk varietas Turangga. Hal tersebut berarti semakin berat benih masing-masing varietas, semakin meningkat bobot kering oven biji per hektar. Hasil tersebut

(6)

sesuai dengan penelitian Arifin dkk. (1980) pada tanaman jagung bahwa bobot benih yang berat dapat meningkatkan hasil 33% dibanding benih berukuran ringan. Hasil penelitian Dinarto dan Sahrial (1998) juga menunjukkan bahwa benih kacang tanah dengan bobot 539 mg menghasilkan pertumbuhan dan hasil yang lebih baik dari benih dengan bobot 463 mg dan 336 mg. Penelitian Mohd Al-Rifaee (2004) menunjukkan ukuran benih yang lebih besar 292 mm dibandingkan dengan benih berukuran 248 mm mendukung pertumbuhan tanaman dan berproduksi lebih tinggi. Sementara hasil penelitian Seyyed (2012) mendapatkan benih dengan bobot diatas 1 g menghasilkan benih dengan bobot 5,64 g berbeda nyata dengan benih dengan bobot dibawah 0,8 g (5,45 g bibit). Hal ini disebabkan oleh komposisi cadangan makanan yang lebih banyak didalam benih yang lebih besar. Lebih lanjut dijelaskan bahwa kalsium tersedia dalam biji besar lebih banyak dari biji ukuran sedang atau kecil, yang efektif untuk menghasilkan bibit dengan berat lebih tinggi (Seyyeb 2012). Gardner et al. (2008) menyatakan, pada legum, biji besar mempunyai embrio lebih besar dan menguntungkan karena kotiledon yang lebih besar bermanfaat untuk fotosintesis awal. Kotiledon mempunyai berat khusus (specific leaf weight) yang tinggi dan secara fotosintetik sangat aktif, keuntungan awal ini dengan mudah beradaptasi dengan faktor lain selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

KESIMPULAN

1. Varietas Kancil dengan bobot benih 450 mg mampu beradaptasi lebih baik dengan hasil 153% lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Turangga.

2. Perlakuan varietas Kancil dengan bobot benih >450 mg/biji menunjukkan pengaruh interaksi yang sangat nyata (P<0,01) pada hasil kacang tanah yang ditunjukkan oleh bobot biji kering oven per hektar tertingg, yaitu 1,18 ton per hektar.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, N.D., Soewarno, M. Saubari, Mimbar, dan Soetono. 1980. Pengaruh Bobot Benih dan Populasi Tanaman terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung Kretek. Berita Ilmiah, Fakultas Pertanian Univ. Brawijaya. Vol 33 No.1. hal 14-24

Arsa, A., W. Mangoendidjojo, Soemartono. 1977. Evaluasi Ketahanan terhadap Kekeringan Beberapa Varietas Jagung. BPPS-UGM, 10 (2B) hal. 175-186

Daryono. 2002. Identifikasi Unsur Iklim, Karakteristik Hujan dan Evaluasi Zone Tipe Iklim Berdasarkan Pemutahiran Data Curah Hujan Daerah Bali. Makalah Seminar Hasil Pene-litian. Program Magister Pertanian Lahan Kering. Program Pasca Sarjana Univ. Udayana Denpasar. Tidak dipublikasikan. 28 hlm.

Dinarto, W. dan Sahrial. 1998. Pengaruh Ukuran Benih dan Kedalaman Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kacang Tanah pada Regosol. Makalah Seminar Hasil Penelitian. Program Magister Pertanian Lahan Kering. Program Pasca Sarjana Univ. Udayana Denpasar. Tidak dipublikasikan. 28 hlm.

Gardner Franklin P, R. Brent Pearca, Roger L. Mitchel, 2008. Physiology of Crop Plants. Terjemahan Herawati Susilo. Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).Cetakan 2008 ISBN 979-456-088-x. 428 hlm.

Gomez, K.A., dan A.A. Gomez. 1995. Prosedur Statistik untuk Penelitian Pertanian. UI Press. Jakarta. 698 hlm.

Kamil, J. 1982. Teknologi Benih I. Angkasa Raya, Padang. 227 hlm.

(7)

Population Density on Yield and Yield Components of Local Faba Bean (Vicia faba L. Major). Int. J. Agri. Biol., Vol. 6, No. 2, 2004. National Center for Agricultural Research and Technology Transfer (NCARTT), P.O.Box 639, Baqa’a 19381, Jordan University of Science and Technology, Jordan. http://webcache.googleusercontent.com/search?q= cache:dQJNvN_c-J0J: www.fspublishers. org/ijab/past-issues/IJABVOL_6_NO_2/20.pdf+ effect+of +seed+size+on+growth+and+yield/peanut/journal/pdf&cd=1&hl=en&ct= clnk. Internat. J. of Agric. & Biol.1560–8530/2004/06–2–294–299, 22 April 2013

Seyyed Ali Noorhosseini Niyaki, Mohammad Naghi Safarzadeh Vishekaeiand Seyyed Mustafa Sadeghi, 2012. Effect of Production Region and Seed Size on Enhancement Seedlings Weight of Peanut (Arachis hypogaea L.) after Germination. Depart of Agron, Lahidjan Branch, Islamic Azad Univ. Lahidjan, Iran Depart of Agron, Rasht Branch, Islamic Azad Univ, Rasht, Iran. ISSN 0976-1233 Coden USA. Annals of Biol Res. 2012, 3 (10):4711-4715.

Gambar

Tabel 1.   Pengaruh interaksi antara varietas (V) dan ukuran benih (U) terhadap tinggi tanaman  kacang tanah
Tabel 5.   Pengaruh interaksi antara varietas (V) dan ukuran benih (U) terhadap berat polong  kering panen per ubinan kacang tanah
Tabel 7.   Pengaruh interaksi antara varietas (V) dan ukuran benih (U) terhadap bobot kering oven  biji kacang tanah

Referensi

Dokumen terkait

Jalan Lingkar Leuwiliang menurut peta RTRW Jabodetabekpunjur (Bakosurtanal 2007) dan Peraturan Metri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 111 Tahun 2015

[r]

Hal tersebut dikarenakan ada beberapa hal yang mempengaruhi motivasi siswa dalam memilih kegiatan ekstrakurikuler atletik di MTs Ali Maksum Yogyakarta, misalnya

Dari latar belakang masalah yang telah dipaparkan , tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Persepsi Siswa Pada Mata Pelajaran Dengan Prestasi Belajar

Tes hasil belajar dibuat berdasarkan kisi-kisi THB yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai pada materi kenampakan alam dan buatan Indonesia

Inti dari pengalaman subjektif istri yang menikah dengan proses taaruf pada penelitian ini adalah adanya sikap religiusitas yang dimiliki oleh ketiga

Aset, liabilitas, pendapatan dan beban dari entitas anak, yang diakuisisi atau dijual selama tahun berjalan, termasuk dalam laporan laba rugi dari tanggal Kelompok Usaha

Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keretakan beton terhadap momen inersia efektif yang ada, mengevaluasi kinerja elemen-elemen struktur terhadap beban gempa setelah