1. 1 Latar Belakang
Penggunaan smartphone kini menjadi fenomena dikalangan masyarakat.
Dari anak-anak, remaja, orang dewasa, bahkan orang tua sekalipun tidak sedikit yang memiliki perangkat pintar tersebut. Smartphone atau ponsel pintar merupakan perangkat yang saat ini banyak digunakan untuk proses komunikasi atau memperoleh informasi. Menurut data lembaga riset GFK terbaru membuktikan bahwa penetrasi smartphone dan proses digitalisasi terus terjadi dengan sangat pesat di Indonesia.1
Hadirnya smartphone memudahkan masyarakat dalam melakukan proses komunikasi. Terbatasnya jarak dan ruang kini tidak lagi menjadi masalah dalam berkomunikasi. Karena dengan hanya menggunakan satu genggaman smartphone, masyarakat dapat bertukar informasi, berinteraksi dan bersosialisasi bahkan mencari banyak informasi. Berbagai fasilitas yang dimiliki smartphone ini membuat smartphone banyak diminati masyarakat dari kalangan muda hingga orang tua. Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang.2 Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika.
1 Data Gfk: 9 dari 10 orang Indonesia Internetan Lewat Smartphone. Dikutip pada tanggal 7 Februari 2017 pukul 13.25 dari https://arenalte.com/berita/industri/data-gfk-terbaru-2016- pengguna-smartphone-indonesia/
2 Indonesia Raksasa Teknologi Digital Asia. Dikutip pada tanggal 7 Februari 2017 dari
https://kominfo.go.id/content/detail/6095/indonesia-raksasa-teknologi-digital-asia/0/sorotan_media
Kehadiran internet telah membawa revolusi serta inovasi pada cara manusia berkomunikasi dan memperoleh informasi. Internet berhasil mengatasi masalah klasik manusia, karena keterbatasan jarak, ruang, dan waktu tidak lagi menjadi kendala berarti.3 Perangkat smartphone tentu sangat erat hubungannya dengan internet. Selain dapat di akses pada perangkat komputer, kini internet dapat dengan mudah diakses menggunakan smartphone. Manusia dapat melakukan proses komunikasi dan memperoleh informasi melalui jaringan internet yang ada di smartphone.
Dukungan internet pada smartphone membuat smartphone memiliki fitur- fitur yang sangat beragam. Salah satunya adalah media sosial. Media sosial online merupakan media yang didesain untuk memudahkan interaksi sosial bersifat interaktif dengan berbasis teknologi internet yang mengubah pola penyebaran informasi dari sebelumnya bersifat broadcast media monologue (satu ke banyak audiens) ke social media dialogue (banyak audiens ke banyak audiens).4
Menurut survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, 97,4%
pengguna internet adalah pengakses konten media sosial.5 Dengan banyaknya pengguna ini, media sosial dijadikan media untuk melakukan proses komunikasi secara tidak langsung antara komunikator kepada komunikan untuk menyampaikan pesan, dikarenakan konten komunikasi berbasis jaringan internet ini tanpa perlu melakukan tatap muka secara langsung melainkan dapat secara
3 Morissan, Andy Corry W, Farid Hamid. Teori Komunikasi Massa, Media, Budaya, dan Masyarakat. Bogor: Ghalia Indonesia, 2010.hal 134
4 Farid Hamid & Heri Budianto, Ilmu Komunikasi Sekarang dan Tantangan Masa Depan. Prenada Media, 2011. Hal:34
5 Assosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, Penetrasi & Perilaku Pengguna Internet Indonesia. Dikutip Pada tanggal 2 Februari 2017
virtual. Selain keperluan berkomunikasi dan memperoleh informasi, saat ini media sosial dijadikan media untuk memperlihatkan gaya hidup seseorang.
Media sosial mempermudah seseorang untuk memperluas pertemanan dari daerah yang berbeda. Media sosial memudahkan interaksi sosial yang bisa dilakukan kapanpun dan di manapun. Namun, kecenderungan pada masa ini kegunaan media sosial atau jejaring sosial itu sendiri digunakan oleh penggunanya sebagai alat untuk pengungkapkan diri.6 Pengungkapan diri (self disclosure) merupakan kegiatan membagi perasaan dan informasi yang akrab dengan orang lain.7 Adanya media sosial, membuat penggunanya dapat memproduksi konten apapun yang dikehendaki oleh pengguna tersebut. Dalam hal ini akan terlihat sifat pribadi dari seseorang pengguna media sosial terkait apa yang pengguna media sosial bagikan dalam akun pribadinya. Jika sebelum ada media sosial yang menjadi fenomena seperti sekarang, biasanya orang hanya akan mengungkapkan diri atau memberikan informasi tentang dirinya kepada orang tua, teman dekat, bahkan buku harian pribadi (dengan kata lain curhat). Kini dengan hadirnya media sosial, pengguna tidak ragu membagikan informasi tentang dirinya di media sosial yang kemungkinan dapat dibaca oleh banyak orang dalam media sosial tersebut.
Trenholm berpendapat bahwa seseorang memiliki beberapa pertimbangan utama ketika berkomunikasi melalui internet yang sama seperti komunikasi tatap muka (face-to-face), yaitu memiliki kesamaan sikap, saling menyukai satu sama lain, saling melontarkan humor dan permainan kata-kata yang cerdas dan self-
6 Disa Nurdania. Path dan Pengungkapan diri, Universitas Sumatera Utara. Sumatra Utara. hal: 1
7 Dasrun Hidayat. Komunikasi Antarpribadi dan Medianya. Yogyakarta. Graha Ilmu.2012. Hal :106
disclosure.8 Pengungkapan diri atau self-disclosure di media sosial merupakan hal yang biasa dan lumrah pada saat ini, bahkan terkadang media sosial atau jejaring sosial pada saat ini dibuat seperti catatan harian atau lebih seperti buku harian.
Apa yang dilakukan seorang pengguna media sosial dapat dibagikan di media sosial dan diketahui oleh orang lain. Apa yang sedang dirasakan atau curahan hati pengguna, sedang berada dimana, dengan siapa, dan lain sebagainya, semua diungkapkan dan diberitahukan melalui media sosial.
Ketertarikan melakukan pengungkapan diri di dalam media sosial tersebut, karena adanya kecenderungan psikologi komunikator yang ingin mencari perhatian dan komentar dari komunikan. Seperti halnya hasil dari salah satu survey yang telah dilakukan, yakni tujuh dari sepuluh orang menggunakan media sosial sebagai tempat mencurahkan isi hati. Media sosial dinilai sebagai cara terbaik untuk mendapatkan perhatian. Saat seseorang memperbaharui status, sebenarnya mereka ingin mendapat simpati dari orang lain.9 Media sosial banyak digunakan seseorang untuk mengekspresikan emosi tertentu yang dialaminya. Hal ini merupakan salah satu bentuk pengungkapan diri atau self-disclosure.
Pengungkapan diri adalah komunikasi yang disengaja melalui perilaku verbal yang menjelaskan tentang pengalaman atau perasaan seseorang.10
8 Ibid hal:5
9 Nurdania. Disa. Path dan Pengungkapan diri, OpCit hal: 18
10 Bazarova, N. N. & Choi, Y. H. (2014). Self-disclosure in social media: Extending the functional approach to disclosure motivations and characteristics on social network sites. Journal of
Communication.
Penggunaan media sosial untuk pengungkapan diri telah terbukti sangat membantu seseorang yang kurang percaya diri.11 Orang yang kurang percaya diri lebih pemalu dan sulit untuk membentuk hubungan dekat dengan orang lain. Hal ini dapat membahayakan kesehatan fisik dan mental mereka karena merasa terhubung dengan orang lain dianggap sebagai motivasi manusia yang mendasar.
Individu yang kurang percaya diri mengalami kesulitan mengungkapkan diri kepada orang lain karena ada ketakutan akan kritikan dan ketidaksetujuan dari orang lain. Mengingat ketakutan ini, media sosial dapat menyediakan lingkungan yang aman bagi orang-orang yang kurang percaya diri untuk mengungkapkan informasi pribadi karena mereka tidak dapat melihat reaksi pasangan mereka yang dapat membantu mereka untuk lebih bebas mengekspresikan diri.12
Kebutuhan manusia secara biologis utamanya adalah sandang, pangan, dan papan. Namun, ada kebutuhan lain diatas kebutuhan biologis tersebut, di mana manusia juga memiliki kebutuhan untuk aktualisasi diri dan mendapat penghargaan diri dari orang lain. Hal ini didukung oleh teori hierarki kebutuhan manusia yang dicetuskan oleh Abraham Maslow, ia mengemukakan sebuah pandangan dari motivasi manusia yang berbeda antara kebutuhan biologis seperti lapar, haus, tidur, dengan kebutuhan psikologis seperti penghargaan diri, afeksi, dan rasa memiliki.13
11 Forest, Amanda L.; Wood, Joanne V. (2012). "When Social Networking is Not Working:
Individuals with Low Self-Esteem Recognize but do not Reap the Benefits of Self-Disclosure on Facebook". Psychological Science. 23 (3): 298–302.
12 Ibid
13 Danil Cervone, Lawrence A.Pervin. Teori dan Penelitian Kepribadian. Jakarta: Salemba Humanika. 2008, hal:25
Seiring dengan berkembangnya teknologi dan kehadiran new media khususnya media sosial, kebutuhan psikologis tersebut tidak hanya dibutuhkan di dunia nyata, melainkan di dunia maya yang difasilitasi oleh aplikasi media sosial.
Manusia memiliki kebutuhan untuk aktualisasi diri dan mempunyai naluri untuk mengungkapkan sesuatu dibalik dunia nyata, media sosial dianggap mampu menjadi media yang digunakan untuk hal tersebut.14 Penelitian ini terfokus pada bagaimana peneliti mempersepsi realitas yang tampak melalui pengalaman atau kesadaran para pengguna media sosial, khususnya media sosial Instagram stories.
Instagram adalah sebuah aplikasi media sosial untuk berbagi foto yang memungkinkan pengguna mengambil foto, menerapkan filter digital, dan membagikannya ke berbagai layanan jejaring sosial, termasuk milik Instagram sendiri. Menurut survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, Instagram menjadi peringkat kedua media sosial yang sering dikunjungi setelah facebook. Diluncurkan pada tahun 2010, kini Instagram memiliki 22 juta pengguna aktif di Indonesia. Angka tersebut diyakini akan terus meningkat.15 Jumlah tersebut menunjukkan bahwa Indonesia adalah Negara yang konsumtif akan media sosial. Kemudian muncullah budaya baru, di mana orang yang tidak memiliki media sosial dianggap kuno dan tidak mengikuti perkembangan jaman.
Pihak Instagram menyatakan ada sebanyak 95 juta foto dan video yang dipublikasikan ke beranda Instagram setiap hari, dengan 4,2 miliar likes per
14 Forest, Amanda L; Wood, Joanne V (2012). “When Social Networking is Not Working:
Individuals with Low Self-Esteem Recognize but do not Reap the Benefits of Self-Disclosure on Facebook”. Psychological Science. OpCit. Hal 210
15 Hani Nur Fazrina, Ada 22 Juta Pengguna Aktif Instagram dari Indonesia. Dikutif pada tanggal 17 februari 2017 dari http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20160623112758-185-140353/ada- 22-juta-pengguna-aktif-Instagram-dari-indonesia/
harinya.16 Dengan jumlah sebesar ini, artinya Instagram menjadi media sosial yang banyak sekali diminati oleh masyarakat dunia, tak terkecuali di Indonesia.
Instagram menjadi wadah eksistensi seseorang untuk menunjukkan tentang dirinya kepada masyarakat maya lainnya.
Kehadiran kamera berkualitas tinggi pada smartphone membuat banyak orang mempunyai aktivitas baru yang menyenangkan. Orang akan mudah mengambil gambar di manapun dan kapanpun dengan menggunakan kamera smartphone ini. Dan biasanya setelah mengambil sebuah gambar, orang tersebut tidak sabar lagi untuk membagikan gambar ke akun media sosialnya. Saat ini, Instagram menjadi salah satu pilihan anak-anak muda untuk membagikan foto- foto kegiatan yang sedang mereka lalukan.
Seiring dengan perkembangannya, pihak Instagram terus melakukan inovasi dengan menghadirkan fitur-fitur terbaru. Fitur terbaru yang kini hadir di Instagram adalah Instagram stories. Fitur tersebut hampir sama dengan aplikasi media sosial lain yang viral di kalangan anak muda. CEO Instagram mengaku bahwa Instagram stories terinspirasi dari snapchat stories.17 Seperti halnya snapchat, video dan foto yang dibagikan dalam aplikasi Instagram stories akan hilang setelah 24 jam dan tidak akan muncul pada feed pengguna.
Instagram stories memiliki fitur-fitur yang beragam, di mana di dalamnya para pengguna dapat berkreasi dan mengekspresikan emosi yang dialaminya.
Diluncurkan pada awal agustus 2016, Instagram Stories berkembang cukup pesat dan disukai oleh banyak pengguna Instagram. Fakta ini terlihat dari data statistik
16 Ibid
17 Instagram Snapchat Stories. Dikutip pada tanggal 17 februari 2017 dari http://www.rappler.com/indonesia/141766-Instagram-snapchat-stories
yang dibeberkan oleh Instagram dimana Instagram stories sudah meraih lebih dari 150 juta pengguna.18 Kemunculan Instagram stories mendapat perhatian dari pengguna snapchat. Menurut laporan TechCrunch, pada awal tahun 2017 Instagram Stories telah berhasil "mencuri" pengguna Snapchat. Laporan itu mengklaim bahwa Snapchat Stories mengalami penurunan 15-40 persen setelah Instagram merilis Stories. Angka itu cukup besar, menurut MSPowerUser.19 Berdasarkan data tersebut, artinya Instagram stories dapat mengalihkan perhatian pengguna snapchat dan memiliki peminat lebih banyak dari snapchat.
Penggunaan media sosial pada masa ini dijadikan fenomena dan gaya hidup seseorang secara sadar. Dalam penggunaan media sosial tersebut bukan hanya tentang aplikasi media sosialnya, tetapi juga tentang makna di dalamnya.
Rakyat dunia maya dalam sosialisasinya akan menghadirkan perilaku-perilaku yang nampak dan tentunya perilaku tersebut memiliki makna. Manusia pada prinsipnya adalah makhluk yang berkesadaran, dan berkat aktivitas-aktivitas kesadarannya manusia mampu mengatasi dirinya dan menciptakan dunianya yang khas bagi dirinya.20
Brand Development Lead Instagram APAC Paul Webster mengungkapkan bahwa mayoritas pengguna Instagram adalah anak muda, terdidik, dan mapan.
18 Nariswari. Pengguna Aktif Instagram Stories Capai 150 Juta. Dikutip pada tanggal 17 Februari 2017 dari https://www.tabloidpulsa.co.id/news/28420-pengguna-aktif-Instagram-stories-capai- 150-juta
19 Ellavie Ichlasa Amalia. Instagram Stories Sedot Jumlah View Snapchat Stories. Dikutip pada tanggal 17 Februari 2017 dari
http://teknologi.metrotvnews.com/read/2017/01/31/650688/Instagram-stories-sedot-jumlah-view- snapchat-stories
20 Alex Sobur. Filsafat Komunikasi. Tradisi dan Metode Fenomenologi. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.2013 Hal: 7
Pengguna Instagram 59% didominasi oleh usia 18-24 tahun.21 Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti memilih mahasiswa broadcasting Universitas Mercu Buana sebagai subyek penelitian. Mahasiswa broadcasting dipilih karena penelitian ini berkaitan dengan studi akademik mahasiswa broadcasting yaitu New Media.
Dari hal-hal tersebut maka peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian serta melihat lebih lanjut sejauh mana mahasiswa pengguna Instagram yang menggunakan fitur Instagram stories mengungkap diri melalui postingan dan membagikan cerita yang aktif sebagai pengguna media sosial Instagram stories. Pendekatan yang akan digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dan pada akhirnya peneliti menggunakan judul
“Pengungkapan Diri Melalui Instagram Stories di Kalangan Mahasiswa”.
1.2 Fokus Penelitian
Dari latar belakang fenomena tersebut, maka fokus penelitian ini adalah
“Mengamati aktivitas-aktivitas pengungkapan diri mahasiswa broadcasting Universitas Mercu Buana di dalam Instagram stories ”
1.3 Identifikasi Masalah
“Bagaimana aktivitas pengungkapan diri mahasiswa program studi Broadcasting Universitas Mercu Buana di dalam Instagram stories?”
21 Arsan Mailanto. Pengguna Instagram di Indonesia Terbanyak, Mencapai 89%. Dikutip pada tanggal 20 Februari 2017 dari http://techno.okezone.com/read/2016/01/14/207/1288332/pengguna- Instagram-di-indonesia-terbanyak-mencapai-89
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas pengungkapan diri mahasiswa dalam penggunaan fitur terbaru Instagram yaitu Instagram stories.
1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan kajian lebih lanjut bagi para peneliti lain walaupun masyarakat umum serta diharapkan dapat memberi manfaat guna menambah khasanah penelitian Ilmu Komunikasi yang berkaitan dengan studi Media baru, khususnya media sosial sebagai sarana pengungkapan diri.
1.5.2 Manfaat Praktis
Sebagai informasi bagi praktisi media baru untuk memahami perilaku anak muda dalam menggunakan media sosial sebagai pembelajaran.
1.5.3 Manfaat Sosial
Sebagai informasi bagi pengguna media sosial khususnya kalangan mahasiswa agar semakin bijak dalam bercerita di media sosial.