• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab V Perancangan Model Ensiklopedia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Bab V Perancangan Model Ensiklopedia"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

88

Bab perancangan model ensiklopedia berisi pemetaan elemen dalam lingkungan kolaborasi ke dalam ensiklopedia. Pemetaan ini menghasilkan sebuah ensiklopedia lingkungan kolaborasi yang berisi seluruh elemen informasi dan pengetahuan yang dikelola ensiklopedia dalam mendukung pembentukan dan pemeliharaan suatu lingkungan kolaborasi.

Untuk mendukung peran ensiklopedia sebagai perangkat terotomasi yang mampu meningkatkan kecepatan dalam membangun dan memodifikasi sistem, serta mengkoordinasikan sejumlah besar pengetahuan yang harus dikelola dan diperbaharui, maka dirancang otomasi pengembangan ensiklopedia yang berisi transformasi model antar layer dalam ensiklopedia. Bagian ini akan menghasilkan suatu model otomasi yang mencakup proses transformasi, validasi, dan transformasi balik model antar layer.

V.1 Pemetaan Lingkungan Kolaborasi terhadap Ensiklopedia

Dalam perancangan ensiklopedia, dilakukan pemetaan atas layer dalam ensiklopedia dengan level yang ada dalam collaborative framework. Pemetaan ini didasarkan pada aktivitas yang dilakukan di masing-masing layer atau level. Dengan adanya sinkronisasi antara layer pada ensiklopedia dan level pada collaborative framework maka diharapkan sistem collaborative akan terbangun sesuai dengan kebutuhan penggunanya.

Berdasarkan karakteristik layer dalam ensiklopedia, dan level pada collaborative framework, maka secara keseluruhan pemetaan layer pada ensiklopedia terhadap collaborative framework dapat diilustrasikan seperti pada Gambar V.1.

(2)

Gambar V.1 Pemetaan Collaborative Framework Level Layer terhadap Ensiklopedia

Dari Gambar V.1 dapat dilihat bahwa layer information strategy planning mengakomodasi elemen dalam requirement level. Layer business area analysis mengakomodasi elemen dalam capability level. Layer design system mengakomodasi service level dan technology level. Layer construction hanya mewakili ensiklopedia.

Elemen detail lingkungan kolaborasi yang diakomodasi oleh ensiklopedia akan dijelaskan pada bab V.1.1 hingga bab V.1.4.

(3)

V.1.1 Information Strategy Planning

Layer ini berfokus pada tujuan top management dan critical success factors (CSF).

Dalam tahap ini dirumuskan bagaimana teknologi digunakan untuk menciptakan peluang baru atau competitive advantages. Disusun pula high-level overview mengenai enterprise, fungsi-fungsinya, data, dan kebutuhan informasi.

Tujuan top management diturunkan menjadi peluang strategis, hierarki dari goal yang ingin dicapai, dan critical success factors. Dalam collaborative environment, critical success factors yang harus dikelola juga meliputi collaborative critical success factors. High-level overview perusahaan direpresentasikan dengan model enterprise.

Fungsi-fungsi yang dibutuhkan didekomposisi, dan diklasifikasikan dalam work task dan transition task. Social protocols dan error management juga perlu didefinisikan dalam mendukung fungsi-fungsi yang telah ditetapkan. Diperlukan juga identifikasi terhadap kebutuhan informasi beserta rancangan informasi yang akan dikelola dalam collaborative system. Informasi yang dibutuhkan diantaranya group characteristics, dashboard, dan history.

Ilustrasi rancangan layer information strategy planning dapat dilihat pada Gambar V.2. Sisi kiri menunjukkan kontribusi dari konsep collaborative environment, sisi kanan menunjukkan konsep information engineering (IE).

(4)

Peluang Strategis

Critical Success Factors (enterprise)

Model enterprise

Hierarki dari goal yang ingin dicapai Information

Strategy Planning

Business Area Analysis

System Design

Construction

Model Kolaborasi

Collaborative Critical Success Factors (CCSF)

Dekomposisi fungsi (work task dan transition task)

Rancangan info rmasi yang akan dikelo la dalam collaborative system

Social protocols

Group characteristics

Error management

Konsep Dashboard dan History

Konsep Collaborative Environment Ko nsep Information Engineering

Gambar V.2 Information Strategy Planning

Langkah yang dilakukan dalam layer ini adalah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi tujuan, target, dan strategi organisasi.

2. Penentuan critical success factors dari enterprise.

3. Mendefinisikan permasalahan, peluang, dan informasi yang dibutuhkan dengan melakukan interview terhadap key executives.

4. Mengidentifikasi struktur organisasi.

5. Mengidentifikasi model kolaborasi yang sesuai diterapkan untuk menyelesaikan persoalan (dapat berupa gabungan beberapa model kolaborasi).

6. Pendefinisian Collaborative Critical Success Factors (CCSF) (dapat menggunakan CCSF yang telah didefinisikan pada Bab IV.5).

7. Mendekomposisi fungsi-fungsi yang mendukung proses kolaborasi, terdiri atas work tasks dan transition tasks.

8. Menetapkan social protocols yang digunakan.

(5)

9. Mengidentifikasi karakteristik grup, meliputi tipe grup (jumlah, lokasi, homogenitas, kematangan grup, motivasi), group’s time constraint (durasi,sinkronisitas), dan kebutuhan grup (kebutuhan hardware, software, training, kemahiran menggunakan perangkat).

10. Merencanakan konsep error management. Meliputi pendefinisian fault, error, failure, detector, dan exception dari sistem yang akan dibangun (dapat menggunakan konsep error management yang telah didefinisikan pada Bab IV.6)

11. Merancang konsep dashboard dan history yang dapat memudahkan proses kolaborasi antar participant.

Keseluruhan hasil dari pelaksanaan langkah tersebut disimpan dan dikelola dalam ensiklopedia.

V.1.2 Business Area Analysis

Layer ini berfokus pada proses yang dibutuhkan untuk menjalankan suatu business area, keterkaitan antar proses, dan data yang dibutuhkan. Layer business area analysis meliputi deskripsi dari proses model dan data model. Proses dan data model didefinisikan dengan terlebih dahulu mengidentifikasi capability apa saja yang dibutuhkan untuk mendukung work task, transition task dan social protocols yang telah didefinisikan pada layer information strategic planning. Capability tersebut kemudian dipetakan dalam model proses yang akan dibangun. Ilustrasi rancangan layer business area analysis dapat dilihat pada Gambar V.3. Sisi kiri menunjukkan kontribusi dari konsep collaborative environment, sisi kanan menunjukkan konsep information engineering (IE).

(6)

Information Strategy Planning

Business Area Analysis

System Design

Construction

Detailed Process Mo del

Detailed Data Mo del

Dukungan terhadap Work Task

Dukungan terhadap Transition Task

Dukungan terhadap Social Protocols

Konsep Collaborative Environment Ko nsep Information Engineering

Gambar V.3 Business Area Analysis

Langkah yang dilakukan pada layer ini adalah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi kapabilitas yang mendukung work tasks.

2. Mengidentifikasi kapabilitas yang mendukung transition tasks.

3. Mengidentifikasi kapabilitas yang mendukung social protocols.

4. Merancang process model.

5. Merancang data model.

Keseluruhan hasil dari pelaksanaan langkah tersebut disimpan dan dikelola dalam ensiklopedia. Beberapa karakteristik yang harus diperhatikan dalam tahap business area analysis adalah :

1. Target participant dari collaborative system harus dilibatkan secara intensif.

2. Seluruh perancangan tidak bergantung pada teknologi (technology independent).

3. Seluruh perancangan tidak bergantung pada sistem dan prosedur yang telah ada.

(7)

4. Perancangan sistem dan prosedur harus benar-benar dipersiapkan secara matang. Perlu diperkirakan sejumlah skenario yang mungkin terjadi. Konsep error management yang digunakan dalam rangka mengidentifikasi dan mengelola kemungkinan kesalahan juga harus dapat diakomodasi.

V.1.3 Design of System

Tujuan dari layer system design menurut (Martin, 1989) adalah sebagai berikut : 1. Melibatkan user secara penuh. Metode yang dapat digunakan misalnya

mengajarkan user untuk membuat prosedurnya sendiri, menggunakan metode prototyping, membangun information center, menjalankan sesi joint application design.

2. Mempercepat perancangan sistem dan implementasi.

3. Membuat sistem yang fleksibel dan mudah diubah sesuai kebutuhan.

4. Mengotomasi desain, dokumentasi, dan pemeliharaan.

5. Melakukan perancangan berdasarkan ensiklopedia.

6. Menghubungkan otomasi desain dengan 4GL (fourth-generation language) atau code generator.

7. Menciptakan dan mengembangkan prototipe.

Layer ini berfokus pada implementasi proses pada suatu business area ke dalam suatu prosedur dan cara kerja dari prosedur tersebut. Pada level ini dideskripsikan struktur program, screen design/interface (antarmuka), dan elemen yang dibutuhkan untuk mengintegrasikan teknologi yang digunakan dalam sistem kolaborasi. Dalam layer ini juga direncanakan alternatif service dan teknologi yang dapat digunakan dalam rangka mendukung aktivitas kolaborasi. Ilustrasi rancangan layer design of system dapat dilihat pada Gambar V.4. Sisi kiri menunjukkan kontribusi dari konsep collaborative environment, sisi kanan menunjukkan konsep information engineering (IE).

(8)

Information Strategy Planning

Business Area Analysis

System Design

Construction

 Data flow diagrams

 Program structures

 Screen design (User Interface)

 Dialog design

 Report design

 Database design

Alternatif service yang mendukung aktivitas dalam Capability Level

Alternatif teknologi yang sesuai dengan proses kolaborasi yang dilakukan

Konsep Collaborative Environment Ko nsep Information Engineering

Gambar V.4 Design of System

Langkah yang dilakukan pada layer ini adalah sebagai berikut:

1. Mendefinisikan alternatif service yang mendukung aktivitas dalam capability level

2. Mendefinisikan alternatif teknologi yang sesuai dengan proses kolaborasi yang dilakukan

3. Merancang struktur data 4. Merancang struktur program

5. Merancang antarmuka (user interface) 6. Merancang dialog.

7. Merancang report.

8. Merancang database.

Keseluruhan hasil dari pelaksanaan langkah tersebut disimpan dan dikelola dalam ensiklopedia.

(9)

V.1.4 Construction

Layer construction menerjemahkan keseluruhan komponen yang telah didefinisikan dalam layer design of system ke dalam suatu bahasa yang kemudian akan menjadi komponen utama dari collaborative system yang dibangun. Implementasi prosedur yang digunakan menggunakan code generator, fourth-generation languages, dan end-user tools. Design dihubungkan dengan construction untuk melakukan proses prototyping. Ilustrasi rancangan layer construction dapat dilihat pada Gambar V.5.

Information Strategy Planning

Business Area Analysis

System Design

Construction

Code Generator

Konsep Collaborative Environment Ko nsep Information Engineering

Gambar V.5 Construction

Berdasarkan pendefinisian informasi yang dilakukan pada tahapan information strategy planning, business area analysis, system design, dan construction, maka terbentuklah suatu ensiklopedia lingkungan kolaborasi. Ilustrasi ensiklopedia lingkungan kolaborasi dapat dilihat pada Gambar V.6.

(10)

Information Strategy Planning

Business Area Analysis

System Design

Construction

Peluang Strategis

Critical Success Factors (enterprise)

Model enterprise

Hierarki dari goal yang ingin dicapai

Model Kolaborasi

Collaborative Critical Success Factors (CCSF)

Dekomposisi fungsi (work task dan transition task)

Rancangan informasi yang akan dikelola dalam collaborative system

Social protocols

Group characteristics

Error management

Konsep Dashboard dan History

Detailed Process Model

Detailed Data Model

Dukungan terhadap Work Task

Dukungan terhadap Transition Task

Dukungan terhadap Social Protocols

 Data flow diagrams

 Program structures

 Screen design (User Interface)

 Dialog design

 Report design

 Database design

Alternatif service yang mendukung aktivitas dalam Capability Level

Alternatif teknologi yang sesuai dengan proses kolaborasi yang dilakukan

Code Generator

Konsep Collaborative Environment Konsep Information Engineering Gambar V.6 Ensiklopedia Lingkungan Kolaborasi

V.2 Otomasi Pengembangan

Salah satu peran ensiklopedia adalah untuk memastikan adanya kesesuaian antara tahap perencanaan, analisis, desain, dan implementasi, dan juga sebagai perangkat terotomasi untuk menghasilkan sebuah sistem yang dapat dipergunakan dalam suatu lingkungan tertentu. Untuk itu diperlukan suatu aturan yang mendukung transformasi model yang didefinisikan pada setiap layer dalam ensiklopedia. Transformasi model adalah proses untuk mengubah satu model ke model yang lain sesuai kebutuhan dengan menggunakan metode, syarat, dan aturan tertentu.

Transformasi ini terjadi dalam tiga tahapan yaitu :

(1) layer information strategy planning ke layer business area analysis (2) layer business area analysis ke layer system design

(3) layer system design ke layer construction (code generator)

(11)

Ketiga tahapan tersebut diilustrasikan dalam Gambar V.7.

Gambar V.7 Tahapan Transformasi

Proses transformasi dilakukan dengan melakukan pemetaan model asal ke model sasaran. Model akan ditransformasikan sesuai dengan masukan tambahan berupa aturan, model lain, atau deskripsi lain. Proses pemetaan tersebut akan didokumentasikan dalam bentuk rekaman transformasi. Model yang telah dibangkitkan dapat divalidasi melalui proses validasi dan transformasi balik dengan masukan model sasaran dan rekaman transformasi. Dengan demikian keterhubungan antar model dalam satu layer ke model dalam layer sebelumnya dapat tetap terjamin.

Konsep ini terinspirasi dari (Ayubi, 2007) yang membangun sistem pembangkit aplikasi menggunakan konsep MDA (Model Driven Architecture). Pola umum transformasi dapat dilihat pada Gambar V.8.

Gambar V.8 Pola Umum Transformasi

(12)

V.2.1 Transformasi Information Strategy Planning ke Business Area Analysis

Transformasi model pada layer information strategy planning ke model pada layer business area analysis dilakukan dalam dua tahap, yaitu :

(1) Identifikasi objek model yang dapat ditransformasikan ke dalam layer business area analysis. Seluruh model yang telah teridentifikasi akan ditandai melaui proses penandaan model information strategy planning.

(2) Objek model information strategy planning yang sudah ditandai kemudian akan ditransformasikan melalui proses pemetaan model information strategy planning ke model business area analysis.

Aktivitas transformasi akan didokumentasikan dalam rekaman transformasi model information strategy planning-business area analysis. Rekaman ini berisi deskripsi keterhubungan objek yang terdapat dalam model information strategy planning dengan dengan objek yang terdapat dalam model business area analysis.

Setelah proses transformasi, proses validasi dan tranformasi balik dapat dilakukan dengan masukan berupa rekaman transformasi dan model pada layer business area analysis. Ilustrasi proses transformasi model pada layer information strategy planning ke business area analysis dapat dilihat pada Gambar V.9.

Transformasi (a)-(b)Transformasi (b)-(c)

Gambar V.9 Transformasi Model pada Layer Information Strategy Planning ke Business Area Analysis

(13)

V.2.2 Transformasi Business Area Analysis ke System Design

Transformasi model pada layer business area analysis ke model pada layer system design dilakukan dalam dua tahap, yaitu :

(1) Identifikasi objek model yang dapat ditransformasikan ke dalam layer system design. Seluruh model yang telah teridentifikasi akan ditandai melaui proses penandaan model business area analysis.

(2) Objek model business area analysis yang sudah ditandai kemudian akan ditransformasikan melalui proses pemetaan model business area analysis ke model system design.

Aktivitas transformasi akan didokumentasikan dalam rekaman transformasi model business area analysis - system design. Rekaman ini berisi deskripsi keterhubungan objek yang terdapat dalam model business area analysis dengan dengan objek yang terdapat dalam model system design.

Setelah proses transformasi, proses validasi dan tranformasi balik dapat dilakukan dengan masukan berupa rekaman transformasi dan model pada layer system design.

Ilustrasi proses transformasi model pada layer business area analysis ke system design dapat dilihat pada Gambar V.10.

Transformasi (a)-(b)Transformasi (b)-(c)

Gambar V.10 Transformasi Model pada Layer Business Area Analysis ke System Design

(14)

V.2.3 Transformasi System Design ke Construction

Transformasi model pada layer system design ke model pada layer construction dilakukan dalam dua tahap, yaitu :

(1) Identifikasi objek model yang dapat ditransformasikan ke dalam layer construction. Seluruh model yang telah teridentifikasi akan ditandai melaui proses penandaan model system design.

(2) Objek model system design yang sudah ditandai kemudian akan ditransformasikan melalui proses pemetaan model system design ke model construction. Masukan dalam proses transformasi adalah spesifikasi teknologi dan aspek interaksi dengan sistem lain. Objek yang dihasilkan adalah executable collaborative system, yaitu elemen-elemen pembentuk lingkungan kolaborasi yang dapat diaplikasikan dalam aktivitas perusahaan atau organisasi.

Aktivitas transformasi akan didokumentasikan dalam rekaman transformasi model system design - construction. Rekaman ini berisi deskripsi keterhubungan objek yang terdapat dalam model system design dengan objek yang terdapat dalam executable collaborative system.

Setelah proses transformasi, proses validasi dan tranformasi balik dapat dilakukan dengan masukan berupa rekaman transformasi dan executable collaborative system.

Ilustrasi proses transformasi model pada layer construction ke cobstruction dapat dilihat pada Gambar V.11.

(15)

Transformasi (a)-(b)Transformasi (b)-(c)

Gambar V.11 Transformasi Model pada Layer Construction ke Construction

V.2.4 Model Otomasi

Otomasi pengembangan sistem adalah proses untuk melakukan pengembangan sistem secara otomatis, dengan seminimal mungkin mengikutsertakan campur tangan manusia. Otomasi pengembangan dilakukan terutama pada transformasi model yang didefinisikan oleh manusia menjadi model yang bisa dieksekusi.

Model otomasi dideskripsikan berdasarkan transformasi yang dilakukan antar layer dalam ensiklopedia. Deskripsi model otomasi sudah dibahas secara detail pada bab V.5.1 – V.5.3 dengan urutan sebagai berikut :

1. Transformasi information strategy planning ke business area analysis 2. Transformasi business area analysis ke system design

3. Transformasi system design ke construction

Ilustrasi model otomasi dapat dilihat pada Gambar V.12.

(16)

Model pada layer Information Strategy Planning (a)

Model pada layer Business Area Analysis (c)

Pemetaan Model Information Strategy Planning-Business Area

Analysis

Rekaman Transformasi Model Information Strategy

Planning-Business Area Analysis

Validasi dan Transformasi Balik Model Information Strategy Planning-Business Area Analysis Model pada layer Information

Strategy Planning yang sudah ditandai (b)

Penandaan Model Information Strategy

Planning

Model pada layer System Design (e)

Pemetaan Model Business Area Analysis-

System Design

Rekaman Transformasi Model Business Area Analysis-System Design

Validasi dan Transformasi Balik Model Business Area Analysis-

System Design Model pada layer Business Area

Analysis yang sudah ditandai (d)

Penandaan Model Business Area

Analysis

Executable Collaborative System (g)

Pemetaan Model System Design- Construction (Code

Generator)

Rekaman Transformasi Model System Design-

Construction

Validasi dan Transformasi Balik Model System Design-

Construction Model pada layer System

Design yang sudah ditandai (f)

Penandaan Model System Design

Technology &

System Interaction

Gambar V.12 Model Otomasi

(17)

V.3 Maintenance

Hal yang menarik dari suatu sistem yang kompleks adalah beragamnya desain dan implementasi. Sistem tersebut berkembang dalam sejumlah tahapan pada tempat dan waktu yang berbeda. Untuk memperoleh sistem yang dapat bertahan dalam jangka panjang diperlukan model data dan model proses yang terstruktur. Desain yang sangat kompleks harus direpresentasikan sedemikan rupa dalam ensiklopedia sehingga orang-orang yang berada dalam tempat berbeda dapat menambahkan desain ke dalamnya dengan mudah. Desain harus sesuai dengan standard, memiliki reusable component (komponen yang dapat diguna ulang), dan memiliki sebuah arsitektur yang mampu memfasilitasi penambahan fungsi baru. Ketika suatu sistem dirancang sedemikian sehingga dapat berkembang dengan mudah, siklus hidup pengembangan sistem akan menjadi sebuah siklus, seperti yang dapat dilihat pada Gambar V.13.

Gambar V.13 Siklus Hidup Evolutionary

Tahap maintenance atau pemeliharaan merupakan tahapan panjang dari sebuah sistem yang telah dibangun. Dalam tahap ini perlu dilakukan improvement atau perbaikan dan pengembangan agar sistem tetap dapat mendukung aktivitas dalam organisasi yang selalu mengalami perubahan pada rentang waktu tertentu.

(18)

Dengan menggunakan konsep ensiklopedia, sistem dirancang agar dapat mengakomodasi perubahan dengan cepat dan mudah. Proses pemeliharaan tidak dilakukan dengan mengubah kode, melainkan modifikasi desain yang selanjutnya diikuti dengan penciptaan kode kembali (regeneration of code). Dengan demikian perubahan dapat dilakukan dengan sederhana dan cepat. Ketika terjadi perubahan pada desain, maka ensiklopedia akan terbaharui (updated) secara otomatis.

V.4 Kesimpulan Perancangan Model Ensiklopedia

Konsep IE yang diterapkan dalam pembangunan dan pemeliharaan lingkungan (sistem) kolaborasi diharapkan dapat memberikan beberapa keuntungan sebagai berikut :

1. Pembangunan sistem lebih cepat dengan adanya automated tools.

2. User terlibat secara langsung dalam proses perancangan sistem sehingga sistem yang dibangun akan sesuai dengan kebutuhan user.

3. Terbangunnya sistem yang berkualitas sehingga akan lebih sedikit revisi dan pemeliharaan.

4. Modifikasi pada prosedur dapat dilakukan dengan cepat dan mudah.

5. End user dapat membuat sistem mereka sendiri dengan menggunakan end-user language and tools.

Gambar

Gambar V.1 Pemetaan Collaborative Framework Level Layer terhadap Ensiklopedia
Ilustrasi  rancangan  layer  information  strategy  planning  dapat  dilihat  pada  Gambar  V.2
Gambar V.2 Information Strategy Planning
Gambar V.3 Business Area Analysis
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pengukuran alkalinitas, sebanyak 25 ml sampel air limbah detergen di tambahkan dengan 15 tetes indikator pp dengan perubahan warna dari bening menjadi ungu yang

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang akselerasi dengan perkembangan kehidupan manusia, maka penggunaan media untuk berdakwah juga mengalami

Oleh karena itu, pada bagian ini penulis membatasi relevansi pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai kemandirian belajar anak didik (anak didik diajak untuk mencari pengetahuan

Perhubungan di antara pencapaian kemahiran proses sains asas dengan pencapaian kemahirm proses sains bersepadu twut dikaji, Di samping itu, kajian ini juga rnengenat gasti p

Kedua,Pelaksanaan pembelajaran tahfidz Al-Qur’an juz 30 di SMP Islam Al-Azhaar dan Al-Badar adalah kegiatan pembelajaran menghafal Al-Qur’an juz 30 yang di lakukan

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis sumber daya genetik buah-buahan lokal yang ada di Kabupaten Klungkung, menyusun profil sumber daya

(3) Kerja sama kabupaten/kota kembar/bersaudara sebagaimar:a dimaksud pada ayat (1) huruf b, merupakan kerja sama yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah

Sehingga dengan alasan tersebut, lebih menguntungkan untuk head sistem yang tinggi digunakan pompa perpindahan positif apabila kapasitas aliran tidak menjadi tujuan utama dari