• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESPONS PERKECAMBAHAN BENIH KOPI ROBUSTA (Coffea robusta L.) TERHADAP PEMBERIAN DAN LAMA PERENDAMAN ZAT PENGATUR TUMBUH ALAMI SKRIPSI OLEH :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RESPONS PERKECAMBAHAN BENIH KOPI ROBUSTA (Coffea robusta L.) TERHADAP PEMBERIAN DAN LAMA PERENDAMAN ZAT PENGATUR TUMBUH ALAMI SKRIPSI OLEH :"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

OLEH :

YENI NOVIANA PURBA 150301070

AGRONOMI

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2020

(2)

SKRIPSI

OLEH :

YENI NOVIANA PURBA 150301070

AGRONOMI

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mendapatkan Gelar Sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

k

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2020

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)
(4)

i

response in various plant natural growth regulators with soaking duration supervised by Meiriani and T. Irmansyah.

One of causes coffee germination process takes a long period of time, because of the caffeine contained in coffee beans can inhibit the activity of amylase enzyme plays a role in the coffee germination process. Therefore, a study was conducted on the provision of Natural Growth Regulatory Substances (Natural PGR). This research was conducted at the Green House, Faculty of Agriculture, Univeritas Sumatera Utara, Medan from October 2019 to January 2020 using a Randomized Block Design (RBD) with two treatment factors : Factor 1 Natural PGR: A0 (water), A1 (bamboo shoot extract), A2 (shallot extract), and A3 (bamboo shoot extract + shallot extract). Factor 2 soaking duration : L1 (6 hours), L2 (12 hours), and L3 (18 hours). The results showed that the application of natural growth regulators (bamboo shoot extract or shallot extract) significantly increase the germination rate and seed vigor index. Soaking durationof 18 hours significantly increase presentation of germination but not different significantly from soaking for 12 hours, but there was no interaction between the two treatment factors.

Keywords: Germination, Robusta coffee, natural PGR, soaking duration

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(5)

(Coffea robusta L.) terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami dibimbing oleh Meiriani dan T. Irmansyah .

Salah satu penyebab proses perkecambahan benih kopi Robusta membutuhkan waktu yang lama karena adanya kandungan kafein yang terdapat dalam biji kopi sehingga mampu menghambat aktifitas enzim amilase yang berperan dalam proses perkecambahan kopi. Oleh karena itu, dilakukan penelitian pemberian Zat Pengatur Tumbuh Alami (ZPT Alami). Penelitian ini telah dilaksanakan di Rumah Kasa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dari bulan Oktober 2019 sampai dengan Januari 2020 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor perlakuan yaitu: Faktor 1 zat pengatur tumbuh : A0 (Air), A1 (ekstrak rebung bambu), A2 (ekstrak bawang merah), dan A3 (ekstrak rebung bambu + ekstrak bawang merah). Faktor 2 lama perendaman : L1 (perendaman 6 jam), L2 (perendaman 12 jam), dan L3 (perendaman 18 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian zat pengatur tumbuh alami (ekstrak rebung bambu atau ekstrak bawang merah) mampu meningkatkan laju perkecambahan dan indeks vigor benih kopi Robusta. Lama perendaman selama 18 jam yang berbeda tidak nyata dengan perendaman 12 jam mampu meningkatkan persentase perkecambahan pada benih kopi Robusta, namun tidak ada interaksi antara kedua faktor perlakuan.

Kata Kunci : Perkecambahan, kopi Robusta, ZPT alami, lama perendaman

(6)

iii

pasangan Bapak Suprayitno dan Ibu Oktoriani Bangun, merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.

Lulus dari SD Pembangun Didikan Islam pada tahun 2009, kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 10 Medan dan lulus pada tahun 2012.

Pada tahun 2015 lulus dari MAN 1 Medan dan pada tahun yang sama diterima di Fakultas Pertanian USU jalur SNMPTN pada program studi Agroteknologi dan memilih minat studi Agronomi.

Selama mengikuti perkuliahan, Penulis bergabung dan aktif dalam anggota Himpunan Mahasiswa Agroteknologi (HIMAGROTEK), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) BKM AL – MUKHLISIN, Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) AD-DAKWAH USU, dan aktif Dewan Penasehat Kemuslimahan UKM Al-Mukhlisin.

Penulis mengikuti Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PTPN IV Kebun Bandar Pasir Mandoge, dari tanggal 17 Juli sampai 25 Agustus 2018 dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kelurahan Mandailing Kota Tebing tinggi, dari tanggal 22 Juli sampai 27 Agustus 2019.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(7)

rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat dengan waktunya.

Adapun judul skripsi ini adalah “Respons perkecambahan benih kopi Robusta (Coffea robusta L.) terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami” yang merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada orangtua penulis yang selalu memberikan kasih sayang, do’a serta dorongan dan bantuan baik moril maupun materil selama ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ir. Meiriani MP selaku ketua komisi pembimbing, Ir. T. Irmansyah, MP selaku anggota komisi pembibing yang telah membimbing dan membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Serta kepada teman- teman yang banyak membantu dan memberikan semangat selama penyusunan skripsi ini.

Skripsi ini diharapkan berguna untuk pihak yang berkepentingan didalam pembibitan kopi dan sebagai sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan..

Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.

Demi perbaikan skripsi ini. Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih.

Medan, September 2020 Penulis

(8)

v

ABSTRACT ... i

ABSTRAK ... ii

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Tujuan Penelitian ... 3

Hipotesis Penelitian ... 3

Kegunaan Penelitian ... 4

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman ... 5

Syarat Tumbuh ... 6

Iklim ... 6

Tanah ... 7

Perkecambahan ... 7

Zat Pengatur Tumbuh Alami ... 10

Ekstrak Rebung Bambu ... 11

Ekstrak Bawang Merah ... 13

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ... 15

Bahan dan Alat ... 15

Metode Penelitian ... 15

Pelaksanaan Penelitian ... 17

Persiapan Benih ... 18

Pembuatan ekstrak ZPT Alami... 18

Persiapan Media Perkecambahan ... 18

Pemberian Perlakuan ... 19

Penanaman Benih ... 19

Pemeliharaan Perkecambahan. ... 19

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(9)

Saat Membukanya Kotiledon ... 21

Saat Pecahnya Kotiledon ... 21

Saat Daun Lembaga Terbuka Sempurna ... 22

Persentase Perkecambahan ... 22

Laju perkecambahan ... 22

Indeks Vigor ... 23

Tinggi Bibit ... 23

Bobot segar tajuk bibit ... 24

Bobot segar akar bibit... 24

Bobot kering tajuk bibit ... 24

Bobot kering akar bibit ... 24

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil ... 25

Pembahasan ... 39

KESIMPULAN DAN SARAN ... 43

DAFTAR PUSTAKA ... 44

LAMPIRAN ... 48

iv

(10)

vii

No Judul Halaman

1. Saat keluarnya akar benih kopi Robusta terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

24

2. Saat munculnya kotiledon benih kopi Robusta terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

25

3. Saat membukannya benih kopi Robusta terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

26

4. Saat pecahnya kotiledon benih kopi Robusta terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

27

5. Saat daun lembaga terbuka sempurna benih kopi Robusta terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

28

6. Persentase perkecambahan benih kopi Robusta terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

29

7. Laju perkecambahan benih kopi Robusta terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami 70 HSS

31

8. Indeks vigor benih kopi Robusta terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

32

9. Tinggi bibit kopi Robusta umur 70 HSS terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

33

10. Bobot segar tajuk kopi Robusta umur 70 HSS terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

34

11. Bobot segar akar bibit kopi Robusta umur 70 HSS terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

35

12. Bobot kering tajuk bibit kopi Robusta umur 70 HSS terhadap pemberian dan lama perendaan zat pengatur tumbuh alami

36

13. Bobot kering akar kopi Robusta umur 70 HSS terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

37

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(11)

No Judul Halaman

1 Gambar saat keluarnya akar 20

2 Gambar saat munculnya kotiledon 20

3 Gambar saat membuka kotiledon 21

4 Gambar saat pecahnya kotiledon 21

5 Gambar saat daun terbuka sempurna 22

6 Kurva kuadratik persentase perkecambahan benih kopi Robusta terhadap pemberian dan lama perendaman kopi Robusta

30

(12)

ix

No Judul Halaman

1 Bagan penanaman benih kopi Robusta 48

2 Bagan penelitian 49

3 Jadwal kegiatan penelitian 50

4 Data pengamatan saat munculnya kotiledon benih kopi Robusta terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

51

5 Sidik ragam saat munculnya kotiledon benih kopi Robusta terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

51

6 Data pengamatan saat membuka kotiledon benih kopi Robusta terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

52

7 Sidik ragam saat membukanya kotiledon benih kopi Robusta terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

52

8 Data pengamatan saat pecahnya kotiledon benih kopi Robusta terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

53

9 Sidik ragam saat pecahnya kotiledon benih kopi Robusta terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alam

53

10 Data pengamatan daun lembaga terbuka sempurna benih kopi Robusta terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

54

11 Sidik ragam daun lembaga terbuka sempurna benih kopi Robusta terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

54

12 Data pengamatan persentase perkecambahan benih kopi Robusta terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

55

13 Sidik ragam persentase perkecambahan benih kopi Robusta terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

55

14 Data pengamatan laju perkecambahan benih kopi Robusta terhadap 56

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(13)

pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

16 Data pengamatan indeks vigor benih kopi Robusta terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

57

17 Sidik ragam indeks vigor benih kopi Robusta terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

57

18 Data pengamatan tinggi tanaman bibit kopi Robusta umur 70 HSS terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

58

19 Sidik ragam tinggi tanaman bibit kopi Robusta umur 70 HSS terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

58

20 Data pengamatan bobot segar tajuk bibit kopi Robusta umur 70 HSS terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

59

21 Sidik ragam bobot segar tajuk bibit kopi Robusta umur 70 HSS terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

59

22 Data pengamatan bobot segar akar bibit benih kopi Robusta umur 70 HSS terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

60

23 Sidik ragam bobot segar akar bibit kopi Robusta umur 70 HSS terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

60

24 Data pengamatan bobot kering tajuk bibit kopi Robusta umur 70 HSS terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

61

25 Sidik ragam bobot kering tajuk bibit kopi Robusta umur 70 HSS terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

61

26 Data pengamatan bobot kering akar bibit kopi Robusta umur 70 HSS terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

62

(14)

ix

28 Foto pelaksanaan penelitian 63

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(15)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Masalah yang sering dihadapi dalam perbanyakan kopi Robusta secara generatif adalah lambatnya perkecambahan benih kopi yang disebabkan adanya kulit biji keras (Murniati dan Zuhry, 2002). Juga disebabkan oleh kandungan kafein yang terdapat dalam biji kopi, karena kafein dapat menghambat aktifitas enzim amilase. Kopi Arabika mengandung kafein sebesar 1 – 1,1 % sedangkan kopi robusta mengandung kafein 1,9 – 2,2% (Friedman, 2000 dalam Wahyuni, 1988). Hambatan yang terjadi pada setiap fase perkecambahan akan mempengaruhi pertumbuhan selanjutnya. Semakin banyak peluang hambatan pada perkecambahan maka semakin lama waktu perkecambahan. Untuk menghasilkan bibit dengan pertumbuhan yang lebih cepat dapat dilakukan dengan pemberian zat pengatur tumbuh.

Menurut Istyantini (2000), penggunaan zat pengatur tumbuh alami lebih menguntungkan dibandingkan dengan zat pengatur tumbuh sintetis, karena bahan zat pengatur tumbuh alami harganya lebih murah dibanding zat pengatur tumbuh sintetis, selain itu juga mudah diperoleh, pelaksanaanya lebih sederhana, dan pengaruhnya tidak jauh berbeda dengan zat pengatur tumbuh sintetis. Salah satu sumber zat pengatur tumbuh alami yang dapat digunakan dalam pembibitan dengan menggunakan stek adalah ekstrak bawang merah.

Ada berbagai jenis bahan tanaman yang dapat digunakan sebagai sumber zat pengatur tumbuh yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, seperti bawang merah sebagai sumber auksin, rebung bambu sebagai sumber giberelin, dan bonggol pisang serta air kelapa sebagai sumber sitokinin (Lindung, 2014).

(16)

Penelitian Kurniati et al., (2017) mendapatkan perendaman dengan ekstrak rebung bambu betung memberikan pengaruh baik terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun umur 51 HST pada bibit kemiri sunan pada konsentrasi 40 ml/l, hal ini membuktikan bahwa giberelin mempunyai peran dalam perkecambahan.

Rebung bambu dikaitkan dengan kandungan giberelin yang relatif tinggi.

Sehingga ekstrak rebung bambu dan ekstrak umbi bawang merah mempunyai potensi untuk diaplikasikan pada benih untuk mendapatkan bibit kemiri sunan yang baik.

Perendaman benih dalam ZPT untuk peningkatan perkecambahan dan vigor suatu benih perlu diperhatikan konsentrasi dan lama waktu yang digunakan.

Penggunaan ZPT yang tidak tepat konsentrasi dan waktu aplikasi menyebabkan terhambatnya perkecambahan (Sutopo, 2010).

Penelitian Hakim et al,. (2012) mendapatkan perlakuan lama perendaman 24 jam dengan ekstrak bawang merah berpengaruh baik terhadap viabilitas benih kopi Arabika yang ditunjukkan oleh tingginya nilai presentasi perkecambahan, dan presentase kecambah vigor, serta rendahnya kecambah non vigor.

Kandungan auksin bawang merah diuji melalui penelitian Setyowati (2004) yang menunjukkan bahwa sari umbi bawang merah mampu memacu pertumbuhan panjang akar, panjang tunas, dan jumlah tunas pada stek mawar.

Demikian pula Sekta (2005), dari penelitian pada stek cabe jawa diperoleh bahwa, penggunaan sari larutan bawang merah memberikan pengaruh nyata tehadap panjang tunas, jumlah daun, tingkat kehijauan daun, dan berat kering tunas.

Ekstrak bawang merah digunakan oleh Muswita (2011) untuk meningkatkan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(17)

persentase setek hidup dan jumlah akar gaharu masing-masing dengan konsentrasi 1,0 dan 0,5%.

Perlakuan perendaman dengan waktu tertentu bertujuan untuk memudahkan penyerapan air oleh benih sehingga benih dapat segera berkecambah. Jika benih direndam dengan waktu yang tepat, maka benih dapat berkecambah dengan baik, sebaliknya jika benih direndam terlalu lama maka akan merusak embrio dan benih tidak dapat berkecambah dengan normal bahkan bisa jadi tidak tumbuh sama sekali. (Anggraini dan Mardiana, 2017)

Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan penelitian mengenai perkecambahan kopi Robusta dengan perendaman ekstrak rebung bambu dan ekstrak bawang merah , sehingga diperoleh zat pengatur tumbuh alami yang dapat mempercepat perkecambahan benih kopi Robusta yang sudah dikupas kulit tanduknya.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons perkecambahan benih kopi Robusta terhadap pemberian dan lama perendaman zat pengatur tumbuh alami

Hipotesis Penelitian

Adanya pengaruh pemberian zat pengatur tumbuh alami dan lama perendamannya serta interaksi keduanya terhadap perkecambahan benih kopi Robusta

Kegunaan Penelitian

Penelitian ini berguna sebagai bahan untuk penyusunan skripsi yang merupakan syarat untuk dapat menyelesaikan pendidikan Sarjana (S1) di Program

(18)

Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, juga diharapkan berguna untuk pihak yang berkepentingan didalam pembibitan kopi dan sebagai sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.

.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(19)

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman

Klasifikasi tanaman kopi Robusta adalah sebagai berikut:

kingdom Plantae, divisi Spermatophyta, kelas Dicotyledoneae, ordo Rubiales, famili Rubiaceae, genus Coffea, spesies Coffea robusta L (USDA, 2011).

Sistem perakaran pada kopi Robusta yaitu sistem perakaran tunggang yang tidak mudah rebah. Perakaran tanaman kopi Robusta relatif dangkal, lebih dari 90%

dari berat akar terdapat pada lapisan tanah 0-30 cm (Najiyati dan Danarti, 2004).

Batang kopi merupakan tumbuhan berkayu, tumbuh tegak ke atas, dan berwarna putih keabu-abuan. Pada batang terdapat 2 macam tunas yaitu tunas seri (tunas reproduksi) yang selalu tumbuh searah dengan tempat tumbuh asalnya dan tunas legitim yang hanya dapat tumbuh sekali dengan arah tumbuh yang membentuk sudut nyata dengan tempat aslinya. Batang dan cabang-cabang kopi Robusta dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 2 – 5 m dari permukaan tanah atau mungkin juga lebih, tergantung didaerah mana kopi tersebut tumbuh (Arief et al., 2011).

Daunnya berbentuk bulat telur dengan ujung agak meruncing. Daun tumbuh berhadapan dengan batang, cabang, dan ranting-rantingnya. Permukaan atas daun mengkilat, tepi rata, pangkal tumpul, panjang 5-15 cm, lebar 4,0-6,5 cm, pertulangan menyirip, tangkai panjang 0,5-1,0 cm, dan berwarna hijau (Najiyati dan Danarti, 2004)

(20)

Tanaman kopi membutuhkan waktu 3 tahun dari saat perkecambahan sampai menjadi tanaman berbunga dan menghasilkan buah kopi. Semua spesies kopi berbunga berwarna putih yang beraroma wangi. Bunga tersebut muncul pada ketiak daunnya (Rahardjo, 2012).

Buah tanaman kopi terdiri dari daging buah dan biji. Daging buah terdiri atas tiga bagian lapisan luar (eksokarp), lapisan daging (mesokarp), dan lapisan kulit tanduk (endokarp) yang tipis tetapi keras. Buah kopi umumnya mengandung dua butir biji tetapi kadang-kadang hanya mengandung 1 butir atau bahkan tidak berbiji (hampa) sama sekali (Najiyati dan Danarti, 2004). Biji Setiap buah kopi memiliki dua biji kopi (Rahardjo, 2012).

Syarat Tumbuh Iklim

Ketinggian tempat yang optimal untuk perkebunan tanaman kopi Robusta sekitar 100 – 600 mdpl. Tetapi beberapa diantaranya juga masuh tumbuh baik dan ekonomis pada ketinggian ±1000 mdpl, dengan curah hujan yang sesuai untuk kopi adalah 1250 – 2500 mm per tahun (Direktorat Jendral Perkebunan, 2014).

Tanaman kopi umumnya menghendaki sinar matahari dalam jumlah banyak pada awal musim kemarau atau akhir musim hujan. Pada saat itu tanaman sedang bersiap-siap menghasilkan kuncup bunga sehingga perlu di rangsang oleh sinar matahari (Najiyati dan Danarti, 2004).

Menurut (Direktorat Jendral Perkebunan, 2014) dan (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, 2006), Curah hujan yang sesuai untuk tanaman kopi adalah 1250 – 2500

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(21)

mm per tahun, dengan rata-rata bulan kering 1-3 bulan dan suhu rata-rata 15-25 0 C dengan lahan kelas S1 atau S2

Tanah

Secara umum tanaman kopi menghendaki tanah yang gembur, subur, dan kaya bahan organik. Kopi Robusta juga menghendaki tanah dengan pH 5-6,6 Kemiringan tanah kurang dari 30 %, Tekstur tanah berlempung (loamy) dengan struktur tanah lapisan atas remah (Direktorat Jendral Perkebunan, 2014)

Tanaman kopi Robusta dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang, tekstur liat sampai lempung berliat, konsistensi gembur, permeabilitas sedang, drainase baik, subur. Kedalaman tanah efektif lebih dari 100 cm. Potensi produksi kopi Robusta yang diusahakan pada berbagai kondisi lahan dan manajemen untuk skala komersial adalah 1,0-2,0 ton/ha, sedangkan untuk perkebunan rakyat 0,5-1,2 ton/ha (Djaenudin et al., 2003).

Perkecambahan

Menurut Sutopo (2010), proses perkecambahan benih terdiri dari beberapa tahap. Tahap pertama perkecambahan benih dimulai dari proses penyerapan air benih, melunaknya kulit benih dan penambahan air pada protoplasma sehingga menjadi encer. Tahap kedua dimulai dengan kegiatan-kegiatan sel dan enzim serta naiknya tingkat respirasi benih yang mengakibatkan pembelahan sel dan penembusan kulit biji oleh radikel. Tahap ketiga merupakan tahap penguraian bahan-bahan seperti karbohidrat, protein, dan lemak menjadi bentuk yang melarut dan ditranslokasikan ke titik-titik tumbuh. Tahap keempat adalah asimilasi dari bahan-bahan yang telah

(22)

pembentukan komponen dan pertumbuhan sel baru. Tahap kelima adalah pertumbuhan dari kecambah melalui proses pembelahan, pembesaran dan pembelahan sel-sel pada titik tumbuh.

Perkecambahan merupakan batas antara benih yang masih tergantung pada sumber makanan dari induknya dengan tanaman yang mampu mengambil sendiri unsur hara. Oleh karenanya perkecambahan merupakan mata rantai terakhir dalam proses penanganan benih. Perkecambahan ditentukan oleh kualitas benih (vigor dan kemampuan berkecambah), perlakuan awal (pematahan dormansi) dan kondisi perkecambahan seperti air, suhu, media, cahaya dan bebas dari hama dan penyakit (Utomo, 2006).

Imbibisi menyebabkan biji mengembang dan memecahkan kulit pembungkusnya serta memicu perubahan metabolik pada embrio sehingga dapat melanjutkan pertumbuhannya. Enzim-enzim akan menghidrolisis bahan-bahan yang disimpan dalam kotiledon dan nutrient-nutrien di dalamnya. Enzim yang berperan dalam hidrolisis cadangan makanan adalah enzim α-amilase, β-amilase dan protease.

Enzim α-amilase mampu memecah pati menjadi dekstrin dan maltosa yang diperlukan untuk pertumbuhan/perkecambahan biji. Aktivitas enzim α-amilase dapat ditingkatkan dengan proses perendaman selama pengecambahan (Abidin et al., 2000).

Semakin lama waktu perendaman akan menyebabkan penyerapan air yang banyak oleh benih sehingga mengakibatkan perubahan fisiologis pada biji dan mampu merangsang embrio untuk berkecambah dan mengaktifakan enzim yang akan merombak zat cadangan makanan yang akan merangsang aktivitas pembelahan dan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(23)

pembesaran sel yang dapat mempercepat benih untuk berkecambah (Ayuningtyas et al., 2017)

Proses perkecambahan biji dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi dormansi benih, tingkat kemasakan benih, dan ukuran benih. Dormansi benih merupakan suatu keadaan biji yang mengalami masa istirahat dan sulit berkecambah walaupun pada lingkungan yang memungkinkan untuk tumbuh. Pematahan dormansi perlu dilakukan untuk mempercepat perkecambah dapat dilakukan secara fisika dan kimia (Lestari et al,. 2016).

Dormansi pada beberapa jenis benih disebabkan oleh: 1) struktur benih, misalnya pada kulit benih, braktea, gluma, perikap, dan membran, yang mempersulit keluar masuknya air dan udara; 2) kelainan fisiologis pada embrio; 3) penghambat (inhibitor) perkecambahan atau penghalang lainnya; 4) gabungan dari faktor-faktor diatas (Justice dan Bass, 2002).

Menurut Ichsan et al., (2013) benih yang berukuran besar menghasilkan bibit yang pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan dengan yang berukuran kecil. Hal ini dikarenakan benih yang berukuran besar mempunyai cadangan makanan yang lebih banyak sehingga akan menghasilkan bibit yang lebih besar.

Menurut Mayer dan Myber dalam Adnan et al., 2017 mengemukakan bahwa kematangan benih mempengaruhi daya kecambah dan kecepatan tumbuh. Benih yang dipanen saat buah masak fisiologis memiliki kualitas terbaik untuk dijadikan benih.

Menurut Sutopo (2010) Benih yang dipanen sebelum tingkat kemasakan fisiologisnya

(24)

tercapai tidak mempunyai viabilitas tinggi. Bahkan pada beberapa jenis tanaman, benih yang demikian tidak akan dapat berkecambah.

Zat Pengatur Tumbuh Alami

ZPT merupakan senyawa organik bukan nutrisi tanaman, aktif dalam konsentrasi rendah yang dapat merangsang, menghambat atau merubah pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Secara prinsip zat pengatur tumbuh bertujuan untuk mengendalikan pertumbuhan tanaman. ZPT yang sering digunakan harganya relatif mahal dan sulit diperoleh. Sebagai penganti ZPT sintetis dapat memanfaatkan ZPT dengan bahan alami. Bahan alami yang dapat dimanfaatkan sebagai ZPT antara lain air kelapa, ekstrak kecambah dan ekstrak rebung (Rajiman, 2015)

Air kelapa sebagai salah satu zat pengatur tumbuh alami yang lebih murah dan mudah didapatkan. Menurut Lawalata (2011) bahwa air kelapa mengandung hormon auksin dan sitokinin. Kedua hormon tersebut digunakan untuk mendukung pembelahan sel embrio kelapa. Air kelapa memiliki kandungan kalium cukup tinggi sampai mencapai 17%. Menurut Kristina dan Syahid (2012) bahwa air kelapa mengandung vitamin dan mineral.

Zat pengatur tumbuh alami yang dapat digunakan yaitu ekstrak kecambah sebagai sumber auksin dan ekstrak daun kelor sebagai sumber sitokinin. Ekstrak kecambah mengandung vitamin, asam amino, karbohidrat, protein, dan hormon auksin. Menurut Rismunandar (2002), kecambah mengandung triptofan yang merupakan bahan baku sintesis indole acetic acid (IAA). IAA merupakan salah satu jenis auksin yang berpengaruh terhadap perkembangan sel, meningkatkan sintesis

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(25)

protein, meningkatkan permeabilitas sel, melunakkan dinding sel, dan dapat merangsang pertumbuhan akar.

Ekstrak Rebung Bambu

Rebung bambu adalah tunas muda dari pohon bambu yang tumbuh dari akar pohon bambu. Rebung tumbuh dibagian pangkal rumpun bambu dan biasanya dipenuhi rambut bambu yang gatal. Morfologi rebung bambu berbentuk kerucut dan warnanya coklat. Kandungan utama didalam rebung bambu mentah adalah air, protein, lemak, glukosa, fosfor, kalsium, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin C (Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI, 2004).

Pengaruh pemberian ekstrak rebung bambu betung (Dendocalamus asper) dengan cara disiramkan pada semai sengon (Paraserianthes falcataria) secara umum dapat meningkatkan pertumbuhan semai sengon, kecuali pada jumlah bintil akar.

Dosis 20 ml/bibit berpengaruh nyata terhadap pertambahan diameter sedangkan pada dosis 50 ml/bibit berpengaruh nyata terhadap pertambahan tinggi dan berat basah pucuk. Penggunaan ekstrak rebung bambu betung pada semai sengon akan efektif untuk memacu pertumbuhan bibit sengon pada dosis 20 ml/bibit sampai dengan 50 ml/bibit (Maretza, 2009).

Hasil penelitian Dea (2009) dalam Arif et al., (2016), menunjukkan bahwa pemberian ekstrak rebung bambu betung dengan dosis 50 ml/bibit menunjukkan hasil yang tertinggi untuk pertumbuhan bibit semai sengon dibandingkan dengan kontrol.

Pemberian air kelapa, ekstrak kecambah dan ekstrak rebung dapat meningkatkan kandungan giberelin dalam tanaman sehingga mempercepat pemecahan mata tunas

(26)

Penelitian Kurniati et al., (2017) mendapatkan perendaman dengan rebung bambu betung memberikan pengaruh baik terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun umur 51 HST pada bibit kemiri sunan pada konsentrasi 40 ml/l, hal ini membuktikan bahwa giberelin mempunyai peran dalam perkecambahan. Rebung bambu dikaitkan

dengan kandungan giberelin yang relatif tinggi.

Krisnamoorthy, et al (2001) menyatakan bahwa hormon giberelin dapat berperan sebagai katalisator dalam merubah pati menjadi glukosa dalam benih untuk pertumbuhan dan perkembangan embrio menjadi kecambah.

Giberelin dapat mengembalikan virgor benih yang telah menurun. Giberelin merupakan zat pengatur tumbuh yang mempunyai pengaruh dalam perkecambahan benih yaitu bersifat mendorong perkecambahan dan pembelahan sel. Giberelin mengaktifkan enzim-enzim perkecambahan terutama enzim hidrolisis seperti amilase, protease, fostafase, ribonuklease, dan beberapa enzim lainnya (Suhendra et al., 2016) Kandungan hormon giberelin yang terdapat pada tanaman dan pada kosentrasi tertentu dapat meningkatkan perkecambahan biji manggis. Peran dari hormon giberelin itu sendiri adalah mendorong pembentukan α-amilase dan enzim- enzim hidrolitik lainnya. Adanya enzim-enzim hidrolitik yang masuk ke dalam kotiledon atau endosperm, akan mengakibatkan terjadinya hidrolisis cadangan makanan yang menghasilkan energi untuk aktifitas sel (Anwarudin et al., 2006)

Daya kecambah 68,89% dan bobot kering kecambah 1,85 g. Menurut Retno (2009) MOL rebung (Bamboo sp.) dan MOL bonggol pisang (Musa paradisiaca L.) mampu meningkatkan daya kecambah benih padi. Hasil penelitian Heli et al., (2014)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(27)

menunjukkan terjadinya interaksi yang nyata antara konsentrasi MOL rebung dan lama perendaman dalam mematahkan dormansi benih kemiri dan hasil terbaik diperoleh pada konsentrasi MOL rebung 40 ml/l dan lama perendaman 5 jam, dengan kadar air sebesar 11,54%, daya kecambah 53,33% dan keserempakan tumbuh 48,33%. Hasil penelitian Kurniati et al. (2017) menunjukkan bahwa per 100 ml ekstrak rebung bambu mengandung giberelin 8,116 ppm dan per 100 ml ekstrak bawang merah mengandung auksin sebanyak 10,355 ppm yang berupa IAA.

Ekstrak Bawang Merah

Salah satu tumbuhan yang dianggap dapat digunakan sebagai zat pengatur tumbuh alami adalah bawang merah (Allium cepa L.) karena bawang merah memiliki kandungan hormon pertumbuhan berupa hormon auksin dan giberellin, sehingga dapat memacu pertumbuhan benih (Marfirani, et al 2014).

Ekstrak bawang merah mengandung zat pengatur tumbuh yang mempunyai peranan mirip Asam Indol Asetat (IAA). IAA adalah auksin yang paling aktif untuk berbagai tanaman dan berperan penting dalam pemacuan pertumbuhan yang optimal (Husein dan Saraswati, 2010).

Penelitian Siswanto (2004) menyatakan pemberian ekstrak bawang merah mampu meningkatkan pertumbuhan bibit lada panjang. Proses ini melibatkan proses pemanjangan sel sebagai akibat pengaruh auksin yang terkandung dalam ekstrak bawang merah.

Penggunaan bawang merah sebagai salah satu zat pengatur tumbuh telah dilakukan pada beberapa jenis tanaman. Penelitian Siskawati et al., (2013)

(28)

menghasilkan bobot basah dan kering tajuk tertinggi pada stek batang tanaman jarak pagar apabila dibandingkan dengan perlakuan pemberian ekstrak bawang merah dengan konsentrasi 0%, 40%, 60%, dan 80%.

Ekstrak bawang merah yang digunakan pada penelitian Hasanah et al., (2019) memiliki pengaruh yang berbeda pada klorofil a, klorofil b dan jumlah klorofil tertinggi dari total kandungan yang menunjukkan bahwa GA 3, sitokinin dan IAA yang terkandung dalam bawang merah memainkan peran utama dalam pembentukan klorofil. ZPT alami meningkatkan perubahan fisiologi dan biokimia dan meningkatkan produktivitas tanaman.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(29)

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan di Rumah kasa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan dengan ketinggian ± 32 meter di atas permukaan laut, pada bulan Oktober 2019 sampai Januari 2020.

Bahan dan Alat Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah biji kopi Robusta berasal dari Jember sebagai bahan pengamatan perkecambahan, ekstrak rebung bambu, ekstrak bawang merah, pasir sebagai media kecambah, dan label sebagai penanda perlakuan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah bak kecambah sebagai wadah perkecambahan, beaker glass sebagai wadah perendaman benih, kuali Robustsebagai wadah untuk menggongseng pasir, handsprayer sebagai alat penyiraman, gunting, karung goni, kalkulator sebagai alat bantu perhitungan, kamera sebagai alat dokumentasi, penggaris sebagai alat untuk mengukut tinggi bibit, timbangan analitik untuk menimbang bobot tanaman dan alat.

Metode Penelitian

Rancangan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor perlakuan, yaitu :

Faktor I : Pemberian Zat Pengatur Tumbuh A0 = Kontrol (Air)

A1 = Ekstrak Rebung Bambu

(30)

A2 = Ekstrak Bawang Merah

A3 = Ekstrak Bawang Merah 50% + Ekstrak Rebung Bambu 50%

A4 = Giberelin 20 ppm Faktor II : Lama Perendaman

L1 = 6 jam L2 = 12 jam L3 = 18 jam

Sehingga diperoleh 15 kombinasi perlakuan , yaitu :

A0L1 A0L2 A0L3

A1L1 A1L2 A1L3 A2L1 A2L2 A2L3

A3L1 A3L2 A3L3

A4L1 A4L2 A4L3

Jumlah ulangan : 3 ulangan

Jumlah bak kecambah : 45 bak kecambah

Jumlah sampel : 20 benih

Jumlah benih / bak kecambah : 10 benih

Jumlah bak kecambah/perlakuan : 2 bak kecambah Jumlah sampel pengamatan akar : 75 benih

Jumlah seluruh sampel perkecambahan : 975 benih

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(31)

Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam berdasarkan model linier sebagai berikut:

Yijk= μ + ρi + αj + βk + (αβ)jk+ Ɛijk i = 1,2,3 j = 1,2,3,4.5 k = 1,2,3

𝑌𝑖𝑗𝑘 : Hasil pengamatan pada blok ke-i akibat lama perendaman pada

taraf ke-j dan konsentrasi Ekstrak Rebung Bambu dan Ekstrak Bawang Merah pada taraf ke-k

μ : Nilai tengah umum ρi : Efek dari blok ke-i

αj : Efek konsentrasi Ekstrak Rebung Bambu dan Ekstrak Bawang Merah pada taraf ke-j

βk : Efek lama perendaman taraf ke-k

(αβ)jk : Interaksi perbandingan lama perendaman pada taraf ke-j dan konsentrasi Ekstrak Rebung Bambu dan Ekstrak Bawang Merah taraf ke-k

Ɛijk : Galat dari blok ke-i, yang mendapat perlakuan lama perendaman pada taraf ke- j dan konsentrasi Rebung Bambu dan Ekstrak Bawang Merah taraf ke-k Data dianalisis dengan analisis sidik ragam, sidik ragam yang nyata dilanjutkan dengan menggunakan Uji Jarak Berganda Duncan dengan taraf α = 5 % (Sastrosupadi, 2000).

(32)

PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan Benih

Benih kopi yang digunakan pada penelitian ini adalah benih kopi Robusta varietas propelegitim berasal dari Jember yang buahnya telah masak fisiologis dan berkualitas baik, yaitu kulit biji berwarna merah cerah, dilihat secara visual memiliki ukuran dan warna seragam, bebas dari hama dan penyakit.

Pembuatan Ekstrak ZPT Alami

Pembuatan ekstrak ZPT alami dilakukan secara sederhana. Rebung bambu dipotong-potong hingga ukuran menjadi lebih kecil, lalu diblender. Rebung bambu diblender setiap 200 g dan ditambah dengan 100 ml aquades lalu hasil blender disaring untuk mendapatkan ekstrak rebung bambu.

Umbi bawang merah berasal dari varietas Tuk Tuk yang mempunyai ciri-ciri bentuk umbi bulat, memiliki warna umbi merah muda dan merah kecoklatan. Umbi bawang merah di blender setiap 200 g dan ditambah dengan 100 ml aquades lalu hasil blender disaring untuk mendapatkan ekstrak umbi bawang merah.

Persiapan Media Perkecambahan

Penelitian ini menggunakan media perkecambahan yaitu pasir yang telah diayak dengan ayakan 20 mesh dan disterilkan dengan cara digongseng selama 30 menit dan disemprotkan fungisida Dithane M45 konsentrasi 2% untuk menghilangkan kontaminasi dari cendawan dan bakteri.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(33)

Pemberian Perlakuan

Benih kemudian diberikan perlakuan perendaman ekstrak rebung bambu dan ekstrak bawang merah dengan berbagai lama perendaman sesuai perakuan yang akan dilakukan.

Penanaman Benih

Sebelum benih disemai, terlebih dahulu media disiram dengan air sampai jenuh. Pengecambahan benih dilakukan pada bak kecambah dengan ukuran 30 cm x 22 cm sebanyak 10 biji per bak kecambah dengan kedalaman lubang tanam pada media pasir sedalam 1 cm dengan permukaan benih yang rata menghadap ke bawah.

Pemeliharaan Perkecambahan

Benih kopi yang telah disemai diletakan pada tempat yang ternaungi.

Penyiraman benih kopi dilakukan 2 kali sehari, pagi dan sore hari dengan menggunakan handsprayer hingga media menjadi lembab, pemeliharaan dilakukan setiap hari setelah ditanam pada bak perkecambahan.

(34)

Pengamatan Parameter Saat Keluarnya Akar

Saat keluarnya akar diamati dengan melihat munculnya akar mulai dari benih dikecambahkan. Pengamatan ini dilakukan pada bak kecambah yang terpisah dengan sampel untuk pengamatan parameter lainnya.

Gambar 1. Saat Keluarnya Akar Saat Munculnya Kotiledon

Saat membukanya kotiledon diamati mulai dari awal perkecambahan sampai 75% dari seluruh benih yang telah muncul kotiledon.

Gambar 2. Saat munculnya kotiledon

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(35)

Saat Membukanya Kotiledon

Saat membukanya kotiledon diamati mulai dari awal perkecambahan sampai 75% dari seluruh benih telah membuka kotiledon.

Gambar 3. Saat membukanya kotiledon Pecahnya Kotiledon

Pecahnya kotiledon diamati dengan menghitung jumlah hari mulai dari benih ditanam sampai 50% dan 75% dari seluruh benih telah membuka daun lembaga.

Gambar 4. Saat pecahnya kotiledon

(36)

Saat Daun Lembaga Terbuka Sempurna

Pengamatan daun lembaga yang telah terbuka sempurna diamati mulai pecahnya kotiledon pada benih kopi dari benih ditanam sampai 75% dari seluruh benih membuka sempurna.

Gambar 5. Daun lembaga terbuka sempurna Persentase perkecambahan

Pengamatan persentase perkecambahan benih diamati pada setiap perlakuan pada akhir pengamatan.

Dengan cara menghitung jumlah biji yang berkecambah pada setiap bak kecambah. Persentase Perkecambahan (%) dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Type equation her

Laju Perkecambahan

Laju perkecambahan diukur dengan menghitung jumlah hari yang diperlukan untuk munculnya radikula atau plumula perhitungan. Perhitungan laju perkecambahan menggunakan formulasi Sutopo (2012) sebagai berikut :

X 100 Jumlah Benih Berkecambah

Jumlah Benih yang disemai Persentase Perkecambahan =

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(37)

Rata – rata hari = Keterangan:

N: Jumlah biji yang berkecambah pada satuan waktu tertentu

T: Menunjukkan jumlah waktu antara awal pengujian sampai dengan akhir dan interval tertentu suatu pengamatan.

Indeks vigor

Indeks vigor adalah kemampuan benih untuk tumbuh normal pada keadaan lingkungan yang sub-optimal

Indeks vigor (IV) dihitung berdasarkan rumus L.O.Copeland (1977) dalam Kartasapoetra (2003) :

G1 +G2 + G3 + ....+ Gn

D1 D2 D3 Dn Keterangan :

IV : Indeks vigor

G : Jumlah biji yang berkecambah pada hari tertentu D : Waktu yang bersesuaian dengan G

n : Jumlah hari pada perhitungan terakhir Tinggi Bibit

Tinggi kecambah diukur dari permukaan tanah sampai titik tumbuh.

Pengukuran tinggi kecambah dengan menggunakan mistar. Tinggi kecambah diukur pada saat berumur 70 HST.

IV =

N1T1 + N2T2 + ... .... ... + NxTx Jumlah Total Biji Berkecambah

(38)

Bobot segar tajuk bibit

Penimbangan bobot segar tajuk bibit ditimbang secara terpisah. Sebelum ditimbang tanaman dibersihkan dengan air dan dikering anginkan. Pengamatan ini dilakukan pada 70 HST.

Bobot segar akar bibit

Penimbangan bobot segar akar bibit ditimbang secara terpisah. Sebelum ditimbang tanaman dibersihkan dengan air dan dikering anginkan. Pengamatan ini dilakukan pada 70 HST.

Bobot kering tajuk bibit

Bobot kering tajuk bibit ditimbang secara terpisah. Bahan dimasukkan ke dalam amplop dan diberi label sesuai dengan perlakuan lalu dikering ovenkan pada 70˚

selama 48 jam, setelah itu sampel dikeluarkan dari lemari pengering dan ditimbang.

Bobot kering akar bibit

Bobot kering akar bibit ditimbang secara terpisah. Bahan dimasukkan ke dalam amplop dan diberi label sesuai dengan perlakuan lalu dikering ovenkan pada 70˚

selama 48 jam, setelah itu sampel dikeluarkan dari lemari pengering dan ditimbang.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(39)

KESIMPULAN

1. Pemberian zat pengatur tumbuh alami (ekstrak rebung bambu atau ekstrak bawang merah) mampu meningkatkan laju perkecambahan dan indeks vigor benih kopi Robusta.

2. Lama perendaman selama 18 jam yang berbeda tidak nyata dengan perendaman 12 jam mampu meningkatkan persentase perkecambahan pada benih kopi Robusta.

3. Tidak ada interaksi antara lama perendaman dengan pemberian zat pengatur tumbuh alami terhadap perkecambahan benih kopi Robusta

Saran

Disarankan menggunakan zat pengatur tumbuh alami ekstrak rebung bambu atau ekstrak bawang merah dengan lama perendaman 12 jam untuk mempercepat perkecambahan benih kopi Robusta.

(40)

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z., Nugraheni, F.S., dan Broto, W. 2000. Kinetika Hidrolisa Enzim α- amilase dari Biji Sorgum. Fakultas Teknik Kimia. Universitas Diponegoro.

Semarang.

Adnan, Juanda B., dan Muhammad, Z. 2017. Pengaruh Konsentrasi dan Lama Perendaman dalam ZPT Auksin terhadap Viabilitas Benih Semangka (Citurullus lunatus) Kadaluarsa. Agrosamudra Jurnal Penelitian Vol. 4 No.

1 Jan-Jun 2017.

Arif, M, Murniati, dan Ardian. 2016. Uji Beberapa Zat Pengatur Tumbuh Alami terhadap Pertumbuhan Bibit Karet (Hevea brasiliensis) Stum Mata Tidur.

Jom Faperta 3 (1)

Anggraini, I, N dan Mardiana, Y. 2017. Pengaruh Macam ZPT dan Lama Perendaman terhadap Pertumbuhan Awal Bibit Sengon (Albizia falcataria) Varietas Sengon Laut. Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Islam Kadiri

Anwarudin, M.J.,Indriyani, dan S. Hadiati, dan E. Mansyah. 2006. Pengaruh Konsentrasi Giberelin dan Lama Perendaman terhadap Perkecambahan dan Pertumbuhan Biji Manggis. Jurnal Hortikultura, volume 6 (1): 1-5.

Arief, M.C.W, M. Tarigan I, Saragih R, Lubis, I, dan Rahmadani, F. 2011. Panduan Sekolah Lapang Budidaya Kopi Konservasi, Berbagai Banyak Pengalaman

dari Kabupaten Dairi Provinsi Sumatra Utara. Conservation International.

Jakarta. Hal 2-4

Ayuningtyas, V. K., M. Tahir, dan M, Same, . 2017. Pengaruh Waktu Perendaman dan Konsentrasi Giberelin (GA3) pada Pertumbuhan Benih Cemara Laut (Casuarina equisetifolia L.). Jurnal AIP. 5 (1) : 29 – 38.

Copeland LO. 1976. Principles of Seed Science and Technology. Burgess Publishing Company, Minnesota

Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI. 2004. Daftar Komposisi Zat Pangan Indonesia. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Direktorat Jendral Perkebunan. 2014. Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Kopi 2015 – 2017. Jakarta.

Djaenuddin, Marwan H., Subagyo., Mulyani, Anny., Suharta. 2003. Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Komoditas Pertanian Versi 4. Jakarta: Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jurnal AIP : 5 (3) : 21-20

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(41)

Fatimah dan Junairiah. 2004. Peranan Hormon Giberellin dalam Pemecahan Dormansi Bibit Jati. (Tectona grandis linn. F).

Friedman L, 2000. Caffeine Hazards and Their Prevention In Germinating Seeds of Coffee (Coffea arabica L.). Departement Biochemistry Oklahoma Agricultural Experiment Station Oklahoma State University Stillwater, Oklahoma 74078 : 12

Hakim, E. 2012. Pengaruh Beberapa Zat Pengatur Tumbuh Alami dengan Lama Perendaman terhadap Pertumbuhan Stek Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) . Jurnal Agrium ISSN 0852-1077 : 12-15

Hasanah, Y. L, Mawarni dan H, Rusmarilin. 2019. Karakteristik Fisiologis Binahong (binahong (Ten.) Steenis) pada Penerapan Pertumbuhan Tanaman Alam Regulator. Asian J. Tanaman. Sci, 18: 117-122.

Heli, Y. 2014. Pengaruh Larutan MOL Rebung dan Lama Perendaman terhadap Pematahan Dormansi Benih Kemiri. Artikel Ilmiah Jurusan Budidaya Pertanian Universitas Tanjungpura : Hal 17

Husein, E dan Saraswati, R . 2010. Rhizobakteri Pemacu Tumbuh Tanaman. Pupuk Organik dan Pupuk Hayati, 191-209.

Ichsan N.C., A. Hereri., L. Budiarti 2013. Kajian Warna Buah dan Ukuran Benih terhadap Viabilitas Benih Kopi Arabika (Coffea arabica L.) Varietas Gayo Hal 15

Istyantini, M.T.E. 2000. Pengaruh Konsentrasi dan Macam Zat Pengatur Tumbuh Alami terhadap Stek Pucuk Berbagai Varietas Krisan (Chrysanthenum sp). Skripsi. Jurusan Agronomi. Fakultas Pertanian. Universitas Jember Justice, O. L dan Bass., N. 2002. Prinsip dan Praktek Penyimpanan Benih. Jakarta:

PT. Raga Grafindo Persada

Kurniati, F., T. Sudartini dan Hidayat, D. 2017. Aplikasi Berbagai Bahan ZPT Alami untuk Meningkatkan Pertumbuhan Bibit Kemiri Sunan (Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw). J. Agro 4 (1) : 40-49.

Krishnamoorthy, W., S. Haran dan Tjondnegoro. 2001. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jilid I. Bogor: Depertemen Botani Fakultas Pertanian Bogor IPB. Jurnal IPB : 120

Kristina, N. N dan Syahid, S. 2012. Pengaruh Air Kelapa terhadap Multiplikasi Tunas In Vitro, Produksi Rimpang, dan Kandungan Xanthorrhizol Temulawak di Lapangan. Jurnal Littri 18(3), 125-134

Lawalata, J. 2011. Pemberian Beberapa Kombinasi ZPT terhadap Regerasi Tanaman Gloxinia dari Eksplan Batang dan Daun Secara In Vitro. J Exp.

Life Sci. 1 (2) :83-87.

(42)

Lestari D., R. Linda, R dan Mukarlina. 2016. Pematahan Dormansi dan Perkecambahan Biji Kopi Arabika (Coffea arabika L.) dengan Asam Sulfat (H2SO4) dan Giberelin (GA3). J.Protobiont. 5(1):8-13.

Lindung. 2014. Teknologi Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh. Balai Pelatihan Pertanian . Jambi. Hal 15

Maretza. 2009. Pengaruh (Dendrocalamus asper Backerex Heyne) terhadap Pertumbuhan Semai Sengon (Paraserianthes falcataria L.). Skripsi.

Fakultas kehutanan Institut Pertanian Bogor: Bogor. IV : 56

Marfirani, M., Y. S. Rahayu., E. dan Ratnasari. 2014. Pengaruh Pemberian Berbagai Konsentrasi Filtrat Umbi Bawang Merah dan Rootone-F Terhadap Pertumbuhan Stek Melati Rato Ebu. Jurnal LenteraBio 3(1): 73 Muniarti dan E. Zuhri. 2002. Peranan Giberelin terhadap Perkecambahan Benih

Kopi Robusta Tanpa Kulit. Jurnal Sagu, 1(1) : 1-5

Muswita. 2011. Pengaruh Konsentrasi Bawang Merah (Alium cepa L.) terhadap Pertumbuhan Setek Gaharu (Aquilaria malaccencis OKEN) . Skripsi.

Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jambi Kampus Pinang Masak, Mendalo Darat, Jambi.

Najiyati dan Danarti. 2004. Kopi Budidaya dan Penanganan Lepas Panen, edisi revisi. Penebar Swadaya. Jakarta

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. 2006. Pedoman Teknis Tanaman Kopi. Jember.

96 hlm 13

Rahardjo P, 2012. Kopi “Panduan Budi Daya dan Pengolahan Kopi Arabika dan Robusta”. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal 9-84.

Rajiman. 2015. Pengaruh Limbah Air Kelapa Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tiga Varietas Bawang Merah. Jurnal Teknologi. (1) : 15-31.

Retno, S. 2009. Kajian Pemanfaatan Pupuk Organik Cair Mikroblokal (MOL) dalam Priming, Umur Bibit dan Peningkatan Daya Hasil Tanaman Padi (Oryza sativa L.) (Uji Coba Penerapan System of Rice Intensification (SRI)). [Tesis]. Universitas Sebelas Maret, Surakarta. 12 halaman.

Rismunandar. 2002. Hormon Tanaman dan Ternak. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sekta, N. D. 2005. Aplikasi Ekstrak Bawang Merah dan Air Kelapa Muda pada Pertumbuhan Bibit Stek Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl.). http://

www.bdpunib.org. Diakses tanggal 04 Mei 2020.

Setyowati T., 2004. Pengaruh Ekstrak Bawang Merah (Allium cepa l) dan Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum l) terhadap Pertumbuhan Stek Bunga Mawar (Rosa sinensis l). JIPTUMMPP. Kota Batu.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(43)

Siskawati, E., R. Linda., dan Mukarlina. 2013. Pertumbuhan Stek Batang Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) dengan Perendaman Larutan Bawang Merah (Allium cepa L.) dan IBA (Indole Butyric Acid). Jurnal Protobiont 2 (3):

167 – 170.

Siswanto. 2004. Penggunaan Auksin dan Sitokinin Alami pada Pertumbuhan Bibit Lada Panjang (piper retrofractumvah l.). Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia. 3(2) : 128-132.

Suhendra, D., Nisa, T. C., & Hanafiah, D. S. 2016. Efek konsentrasi Hormon Giberelin (GA3) dan Lama Perendaman pada Berbagai Pembelahan terhadap Perkecambahan Benih Manggis (Garcinia mangostana L).

Pertanian Tropik, 3(3), 238-248

Sutopo L, 2010. Teknologi Benih. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Utomo B. 2006. Ekologi Benih. Universitas Sumatera Utara. Medan.

[USDA] United States Department of Agriculture. 2011. Plants profile for Coffea robusta L. http://plants.usda.gov/java/profile?symbol=COAR2.

(44)

LAMPIRAN Lampiran 1. Bagan penanaman.

22 cm

10 cm 4 cm

X X

X X

X X

X X

X X

6 cm

3 cm

30 cm

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(45)

Lampiran 2. Bagan penelitian

U

A

3

L

3

A

2

L

2

U 2 U 3

A

1

L

1

A

0

L

1

U1

A

3

L

2

A

1

L

3

A

1

L

2

A

2

L

1

A

3

L

1

A

0

L

3

A

3

L

2

A

2

L

3

A

0

L

2

A

2

L

2

A

1

L

2

A

3

L

3

A

1

L

2

A

1

L

3

A

2

L

2

A

3

L

2

A

0

L

3

A

0

L

2

A

2

L

1

A

3

L

1

A

0

L

3

A

3

L

3

A

0

L

1

A

1

L

1

A

0

L

1

A

2

L

3

A

1

L

1

A

2

L

1

A

3

L

1

A

1

L

3

A

4

L

2

A

4

L

1

A

4

L

1

A

4

L

2

A

4

L

1

A

4

L

3

A

4

L

3

A

4

L

2

(46)

Lampiran 3. Jadwal kegiatan penelitian

No Kegiatan Penelitian Minggu ke-

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1. Persiapan Benih x

2. Persiapan Media

Perkecambahan x

3. Pemberian Perlakuan x

4. Penanaman x

5. Pemeliharaan x x x x x x x x x x

6. Pengamatan Parameter

Persentase Perkecambahan (%) x x x x x x x x x x Laju Perkecambahan x x x x x x x x x

Indeks Vigor x x x x x x x x x x

Saat Membukanya Kotiledon

(Hari) x x x x x x x x x

Saat Pecahnya Kotiledon (hari) x x x x x x x x x Membuka Sempurnanya Daun

Lembaga (Hari) x x

Tinggi Bibit (cm) x

Keterangan : x = waktu pelaksanaan kegiatan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(47)

Lampiran 4. Data pengamatan saat munculnya kotiledon benih kopi Robusta pada pemberian berbagai sumber zat pengatur tumbuh dan lama perendaman

Perlakuan Ulangan

Total Rataan

I II III

...……….……….……hari……...…….………….…………

A0L1 31,00 42,00 35,00 108,00 36,00

A0L2 42,00 39,00 39,00 120,00 40,00

A0L3 34,00 37,00 37,00 108,00 36,00

A1L1 41,00 37,00 37,00 115,00 38,33

A1L2 37,00 34,00 35,00 106,00 35,33

A1L3 40,00 36,00 31,00 107,00 35,67

A2L1 39,00 38,00 37,00 114,00 38,00

A2L2 34,00 38,00 32,00 104,00 34,67

A2L3 43,00 43,00 36,00 122,00 40,67

A3L1 36,00 37,00 35,00 108,00 36,00

A3L2 37,00 38,00 31,00 106,00 35,33

A3L3 43,00 40,00 34,00 117,00 39,00

A4L1 33,00 33,00 35,00 101,00 33,67

A4L2 33,00 37,00 35,00 105,00 35,00

A4L3 36,00 36,00 35,00 107,00 35,67

Total 559,00 565,00 524,00 1648,00

Rataan 37,27 37,67 34,93 36,62

Lampiran 5. Sidik ragam saat munculnya kotiledon benih kopi Robusta pada pemberian berbagai zat pengatur tumbuh dan lama perendaman

SK db JK KT F Hitung

F tabel 5% Ket

Blok 2 65,38 32,69 4,53 3,34039 *

Perlakuan 14 179,24 12,80 1,78 2,06354 tn

A 4 47,69 11,92 1,65 2,71408 tn

L 2 14,44 7,22 1,00 3,34039 tn

A x L 8 117,11 14,64 2,03 2,29126 tn

Galat 28 201,96 7,21

Total 44 446,58

KK 7%

Keterangan : * = nyata tn = tidak nyata

(48)

Lampiran 6. Data pengamatan saat membuka kotiledon benih kopi Robusta pada pemberian berbagai sumber zat pengatur tumbuh dan lama perendaman

Perlakuan Ulangan

Total Rataan

I II III

...……….……….……hari……...…….………….…………

A0L1 51,20 50,20 50,20 151,60 50,20

A0L2 51,20 55,27 54,50 160,97 53,66

A0L3 49,42 55,72 54.40 159,54 53,18

A1L1 50,40 49,50 57,26 157,16 52,39

A1L2 49,65 50,70 54,89 155,24 51,75

A1L3 53,58 55,47 54,45 163,50 54,50

A2L1 52,65 53,52 51,38 157,55 52,52

A2L2 50,00 52,61 55,78 158,39 52,80

A2L3 50,25 48,50 49,00 147,75 49,25

A3L1 50,50 51,70 53,89 156,09 52,03

A3L2 51,70 52,36 52,30 156,36 52,12

A3L3 52,47 57,50 52,52 162,49 54,16

A4L1 48,00 47,60 50,70 146,30 48,77

A4L2 50,31 55,84 47,26 153,41 51,14

A4L3 47,25 54,20 54,00 155,45 51,82

Total 758,58 790,69 792,53 2341,80

Rataan 50.57 52.71 52.84 52,04

Lampiran 7. Sidik ragam saat membukanya kotiledon benih kopi Robusta pada pemberian berbagai zat pengatur tumbuh dan lama perendaman

SK db JK KT F Hitung

F tabel 5% Ket

Blok 2 48,60 24,30 4,39 3,34039 *

Perlakuan 14 111,36 7,95 1,44 2,06354 tn

A 4 34,47 8,62 1,56 2,71408 tn

L 2 14,79 7,40 1,34 3,34039 tn

AxL 8 62,09 7,76 1,40 2,29126 tn

Galat 28 155,08 5,54

Total 44 315,04

KK 5%

Keterangan : * = nyata tn = tidak nyata

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(49)

Lampiran 8. Data pengamatan saat pecahnya kotiledon benih kopi Robusta pada pemberian berbagai sumber zat pengatur tumbuh dan lama perendaman

Perlakuan Ulangan

Total Rataan

I II III

….…...hari………..

A0L1 56,40 66,97 59,89 183,26 61,09

A0L2 57,50 57,05 57,58 172,13 57,38

A0L3 56,10 60,55 60,85 177,50 59,17

A1L1 58,85 58,67 62,05 179,57 59,86

A1L2 58,70 61,50 61,10 181,30 60,43

A1L3 54,29 60,23 54,65 169,17 56,39

A2L1 55,60 61,63 60,27 177,50 59,17

A2L2 55,35 59,22 54,89 169,46 56,49

A2L3 58,90 62,64 58,70 180,24 60,08

A3L1 61,20 58,33 54,70 174,23 58,08

A3L2 60,00 58,26 60,95 179,21 59,74

A3L3 58,57 58,22 59,41 176,20 58,73

A4L1 56,30 61,35 57,33 174,98 58,33

A4L2 54,52 58,10 54,35 166,97 55,66

A4L3 58,81 57,84 60,05 176,70 58,90

Total 861,09 900,56 876,77 2638,42

Rataan 57,41 60,04 58,45 58,63

Lampiran 9.Sidik ragam saat pecahnya kotiledon benih kopi Robusta pada pemberian berbagai sumber zat pengatur tumbuh dan lama perendaman

SK db JK KT F Hitung F tabel

5% Ket

Blok 2 52,66 26,33 5,04 3,34 *

Perlakuan 14 105,60 7,54 1,44 2,06 tn

A 4 13,15 3,29 0,63 2,71 tn

L 2 13,98 6,99 1,34 3,34 tn

AxL 8 78,47 9,81 1,88 2,29 tn

Galat 28 146,19 5,22

Total 44 304,45

KK 5%

Keterangan : * = nyata tn = tidak nyata

(50)

Lampiran 10. Data pengamatan daun lembaga terbuka sempurna benih kopi Robusta pada pemberian berbagai sumber zat pengatur tumbuh dan lama perendaman

Perlakuan Ulangan

Total Rataan

I II III

….…...hari………..

A0L1 64,80 65,20 66,75 196,75 65,58

A0L2 70,00 65,00 57,00 192,00 64,00

A0L3 65,00 70,00 70,75 205,75 68,58

A1L1 61,00 70,00 64,50 195,50 65,17

A1L2 64,80 70,00 57,80 192,60 64,20

A1L3 66,75 64,80 70,75 202,30 67,43

A2L1 69,20 63,60 60,80 193,60 64,53

A2L2 68,00 63,70 69,00 200,70 66,90

A2L3 64,80 66,50 70,00 201,30 67,10

A3L1 65,50 68,00 65,00 198,50 66,17

A3L2 69,75 63,50 69,70 202,95 67,65

A3L3 63,60 62,50 64,80 190,90 63,63

A4L1 67,50 68,20 65,50 201,20 67,07

A4L2 67,00 62,60 68,60 198,20 66,07

A4L3 68,80 60,60 66,50 195,90 65,30

Total 996,50 984,20 987,45 2968,15

Rataan 66,43 65,61 65,83 65,96

Lampiran 11. Sidik ragam daun lembaga terbuka sempurna benih kopi Robusta pada pemberian berbagai sumber zat pengatur tumbuh dan lama perendaman

SK db JK KT F Hitung

F tabel 5% Ket

Blok 2 5,42 2,71 0,19 3,34039 tn

Perlakuan 14 92,90 6,64 0,47 2,06354 tn

A 4 2,17 0,54 0,04 2,71408 tn

L 2 4,61 2,30 0,16 3,34039 tn

A x L 8 86,12 10,77 0,76 2,29126 tn

Galat 28 395,94 14,14

Total 44 494.26

KK 6%

Keterangan : * = nyata tn = tidak nyata

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(51)

Lampiran 12. Data pengamatan persentase perkecambahan benih kopi Robusta pada pemberian berbagai sumber zat pengatur tumbuh dan lama perendaman

Perlakuan Ulangan

Total Rataan

I II II

...………%...

A0L1 100,00 95,00 95,00 290,00 96,67

A0L2 95,00 90,00 85,00 270,00 9000

A0L3 95,00 90,00 90,00 275,00 91,67

A1L1 100,00 85,00 95,00 280,00 93,33

A1L2 100,00 90,00 95,00 285,00 95,00

A1L3 85,00 90,00 90,00 265,00 88,33

A2L1 100,00 95,00 100,00 295,00 98,33

A2L2 100,00 95,00 95,00 290,00 96,67

A2L3 85,00 85,00 85,00 255,00 85,00

A3L1 90,00 90,00 95,00 275,00 91,67

A3L2 100,00 85,00 95,00 280,00 93,33

A3L3 85,00 95,00 90,00 270,00 90,00

A4L1 100,00 85,00 95,00 280,00 93,33

A4L2 100,00 90,00 80,00 270,00 90,00

A4L3 85,00 95,00 100,00 280,00 93,33

Total 1420,00 1355,00 1385,00 4160,00

Rataan 94,67 90,33 92,33 92,44

Lampiran 13. Sidik ragam persentase perkecambahan benih kopi Robusta pada pemberian berbagai sumber zat pengatur tumbuh dan lama perendaman

SK db JK KT F Hitung F tabel

5% Ket

Blok 2 141,11 70,56 2,55 3,34039 tn

Perlakuan 14 514,44 36,75 1,33 2,06354 tn

A 4 14,44 3,61 0,13 2,71408 tn

L 2 194,44 97,22 3,51 3,34039 *

A X L 8 305,56 38,19 1,38 2,29126 tn

Galat 28 775,56 27,70

Total 44 1431,11

KK 6%

Keterangan : * = nyata tn = tidak nyata

Gambar

Gambar 3. Saat membukanya kotiledon  Pecahnya Kotiledon

Referensi

Dokumen terkait

Serangkaian percobaan lapang untuk mengetahui penga- ruh pemberian zat pengatur tumbuh Hydrasil dan pemupukan Nitrogen terhadap pertumbuhan kopi Robusta (CQrfea

Konsentrasi terkecil dari ekstrak biji kopi Robusta (Coffea robusta) dalam penelitian ini yang masih mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan S. Perlu adanya penelitian

Pemberian konsentrasi ekstrak bawang merah 25% memberikan pertumbuhan setek kopi robusta yang terbaik yaitu pada waktu tumbuh tunas, panjang akar primer, koefisien partisi

Ekstrak bawang merah mengandung zat pengatur tumbuh yang mempunyai peranan seperti Asam Indol Asetat (IAA), IAA adalah auksin yang paling aktif untuk berbagai tanaman dan

Pengaruh Suhu dan Lama Perendaman Benih Terhadap Perkecambahan dan Pertumbuhan Awal Bibit Kopi Arabika (Coffea arabica (LENN)).. Universitas

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi zat pengatur tumbuh giberelin dan lama perendaman terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah ( Allium ascalonicum

Performa Green Bean Kopi Robusta (Coffea robusta Lindl.Ex De Will) setelah Perendaman Limbah Tahu dengan Jenis dan Konsentrasi yang Berbeda.. The Robusta Green Bean Coffee

Analisa Sidik Ragam Panjang Akar pada Perlakuan Berbagai Konsentrasi KNO3 dan Lama Perendaman Terhadap Viabilitas Benih Kopi Robusta Keterangan : ** : berbeda sangat nyata * : berbeda