BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Deskripsi Kondisi Awal
Sebelum diadakan penelitian tindakan kelas diketahui nilai ketuntasan yang dicapai siswa pada materi mengubah soal cerita kedalam kalimat matematika yang berhubungan dengan penjumlahan, hasil nilai yang dicapai belum maksimal (masih rendah). Adapun hasilnya sebagai berikut.
Tabel 4.1 Nilai ketuntasan kondisi awal
Rentang nilai Jumlah siswa Keterangan
< 60 25 Tidak tuntas
≥ 60 4 Tuntas
Tabel 4.2 Nilai tes kondisi awal
No Uraian Nilai yang dicapai
1. Nilai terendah 40
2. Nilai tertinggi 80
3. Rata-rata 56,7
4 anak 25 anak
0 5 10 15 20 25 30
< 60 belum tuntas
≥ 60 tuntas
Banyak Siswa
Gambar 4.1
Grafik kondisi awal nilai sebelum PTK
24
Dari grafik I di atas disimpulkan bahwa nilai tes rata-rata siswa materi mengubah soal cerita kedalam kalimat matematika masih rendah, karena dari 29 siswa hanya 4 yang tuntas sedangkan yang 25 belum tuntas.
Peneliti telah melakukan perbaikan pembelajaran sebanyak dua siklus.
Selanjutnya disampaikan hasil perbaikan pada masing-masing siklus.
Penyampaian hasil peneIitian pada masing-masing siklus akan mencakup penilaian, penampilan, perbaikan, pembelajaran dan hasil belajar siswa.
Dikembangkan dari konsep asismen kinerja, sebagaimana dinyatakan Zainul &
Mulyana (dikutip Drs. PVM Sunaryo:2008), penilaian penampilan perbaikan pembelajaran menggunakan alat ukur rating scale dan pengukuran prestasi belajar siswa dengan tes formatif.
4.2. Siklus I
Pada setiap siklus disajikan data hasil observasi aktivitas-aktivitas perbaikan pembelajaran yang dilakukan, hasil belajar siswa sesuai dengan hasil tes formatif, deskripsi pelaksanaan tiap-tiap aktivitas, dan deskripsi meningkatkan hasil belajar siswa dengan metode problem solving.
4.2.1. Perencanaan
Pada Siklus I, dilakukan pembelajaran mengubah soal cerita kedalam kalimat matematika melalui metode prolem solving selama 2 kali pertemuan.
Guru berkolaborasi melakukan pengamatan selama pembelajaran berlangsung.
4.2.2. Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan tindakan dilakukan proses pembelajaran 2 kali pertemuan.
Pertemuan I.
1. Secara klasikal siswa mengamati car guru menyelesaikan mengubah soal cerita kedalam kalimat matematika.
2. Siswa secara individu mencoba menyelesaikan soal cerita kedalam kalimat matematika.
3. Siswa mengerjakan tugas LKS mengubah soal cerita kedalam kalimat matematika.
4. Hasil kerja kelompok ditukarkan dengan kelompok lain untuk dikoreksi.
Dalam pertemuan 1 sebagian siswa sudah dapat menyelesaikan mengubah soal cerita kedalam kalimat matematika. Siswa sudah berani menjawab pertanyaan gusu. Siswa sudah bersungguh-sungguh mengerjakan soal dengan hasil yang benar.
Pertemuan 2 guru mendemonstrasikan cara penyelesaian mengubah soal cerita kedalam kalimat matematika. Siswa mengerjakan soal yang diberikan guru di buku masing-masing siswa.
Pada proses pembelajaran ada guru kolaborasi untuk mengamati perilaku siswa dan mengamati guru dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung.
Pengamatan tersebut menggunakan lembar observasi yang dibuat oleh peneliti.
Hasil penelitian itulah yang nantinya digunakan untuk refleksi.
4.2.3. Hasil Observasi
Pada siklus ini pembelajaran sudah sesuai. Guru sudah melaksanakan tugas dan melakukan bimbingan kepada siswa yang kesulitan mengubah soal cerita kedalam kalimat matematika yang erhubungan dengan penjumlahan.
Guru menerapkan metode problem solving agar dapat memberi pengalaman langsung pada siswa sehingga dapat lebih memahami konsep pembelajaran dan dapat menerapkan penyelesaian soal-soal latihan.
Untuk mengaktifkan siswa, guru memberikan soal dlam bentuk LKS, dikerjakan secara kelompok. Siswa sudah ada respon yang baik terhadap pembelajaran. Siswa sudah berani menjawab pertanyaan guru. Siswa sudah bersungguh-sunggu dalam mengerjakan soal dengan hasil yang benar.
Hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.3 Nilai ketuntasan siklus I
Rentang nilai Jumlah siswa Keterangan
< 60 12 Belum tuntas
≥ 60 17 Tuntas
Tabel 4.4 Nilai tes siklus I
No Uraian Nilai yang dicapai
1. Nilai terendah 40
2. Nilai tertinggi 90
3. Rata-rata 69,3
17 anak
12 anak
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18
< 60 belum tuntas
≥ 60 tuntas
Banyak Siswa
Gambar 4.2
Grafik kondisi awal nilai sebelum PTK
4.2.4. Refleksi
Dari data tersebut menunjukkan bahwa dari 29 siswa yang tuntas 18 siswa dan yang belum tuntas 11 siswa. Bila diandingkan dengan sebelum diadakan penelitian. Berarti ada peningkatan hasil belajar siswa, dari 4 siswa yang tuntas menjadi 18 siswa.
Dari hasil pengamatan pada siklus I ketika proses pembelajaran berlangsung siswa sudah merespon, mengikuti jalannya pembelajaran. Siswa cukup aktif mau menyelesaikan soal.
4.3. Siklus II
Secara umum dapat dikatakan bahwa pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus II berjalan dengan baik, dengan nilai rata-rata 4,6 (skala 1 -5) dan prestasi belajar siswa baik dengan nilai 8,11 (skala 1-10) dengan menggunakan metode problem solving.
4.3.1. Perencanaan
Pada siklus ini pembelajaran mengubah soal cerita kedalam kalimat matematika melalui metode problem solving dilaksanakan 2 kali pertemuan dengan standar ketuntasan tetap 60.
4.3.2. Pelaksanaan
Pada pembelajaran siklus II peneliti berusaha memperbaiki kekurangan pada siklus I dengan memaksimalkan mengubah soal cerita kedalam kalimat matematika dengan metode problem solving. Adapun metode yang digunakan yaitu guru menuliskan soal cerita kemudian diubah kedalam kalimat matematika.
Dalam siklus II ini selalu menentukan mengubah soal cerita kedalam kalimat matematika.
Pertemuan 1
1. Guru mendemonstrasikan cara-cara mengubah soal cerita kedalam kalimat matematika.
2. Secara individu siswa menyelesaikan soal mengubah soal cerita kedalam kalimat matematika, siswa yang lain mengerjakan di buku masing-masing.
3. Secara kelompok siswa mengerjakan tugas LKS mengubah soal cerita kedalam kalimat matematika.
4. Siswa berlatih lagi menyelesaikan soal mengubah soal cerita kedalam kalimat matematika. Siswa mengerjakan di buku masing-masing.
Siswa mengerjakan test yang dipersiapkan guru. Pada proses pembelajaran ini ada guru kolaborasi untuk mengamati perilaku siswa dan juga mengamati guru saat proses pembelajaran berlangsung. Pengamatan terseut menggunakan lembar observasi yang dibuat peneliti. Hasil observasi inilah yang digunakan untuk refleksi. Adapun hasil test pada siklus II dapat dilihat pada tabel 4.4.
Pertemuan 2
1. Guru memberi contoh penyelesaian soal cerita kedalam kalimat matematika siswa mengerjakan evaluasi.
2. Kolaborasi mengamati dalam kegiatan siswa dan guru.
Pada kegiatan siklus II diharapkan prestasi hasil belajar siswa akan lebih baik dan meningkat dari kegiatan siklus pertama. Kolaborasi mencatat hasil kegiatan siswa dan guru pada lembar observasi.
4.3.3. Hasil Observasi
Pada siklus II pembelajaran dapat berlangsung sesuai rencana. Guru melakukan demonstrasi cara mengubah soal cerita kedalam kalimat matematika.
Secara individu siswa menyelesaikan soal cerita diubah kedalam kalimat matematika. Secara kelompok siswa mengerjakan LKS menentukan penyelesaian soal mengubah soal cerita kedalam kalimat matematika. Siswa berlatih erulang- ulang menyelesaikan soal mengubah soal cerita kedalam kalimat matematika.
Siswa sudah cukup berani bertanya apabila ada kesulitan. Namun pada siklus II ini masih ada 2 siswa yang hasil belajarnya belum maksimal. Untuk hal ini kami berikan bimbingan khusus di luar jam pelajaran. Adapun hasil test pada siklus II dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.5 Nilai ketuntasan siklus II
Rentang nilai Jumlah siswa Keterangan
< 60 2 Belum tuntas
≥ 60 27 Tuntas
Tabel 4.6 Nilai tes siklus II
No Uraian Nilai yang dicapai
1. Nilai terendah 59
2. Nilai tertinggi 90
3. Rata-rata 80
27 anak
2 anak 0
5 10 15 20 25 30
< 60 belum tuntas
≥ 60 tuntas
Banyak Siswa
Gambar 4.3 Grafik Siklus II
4.3.4. Refleksi
Dari hasil data tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 29 siswa yang tuntas menjadi 27 siswa dan yang belum tuntas 2 siswa. Bila dibandingkan dengan siklus I berarti ada peningkatan 9 siswa yang tuntas dari 18 siswa pada siklus I menjadi 27 siswa pada siklus II. Berarti dari hasil pengamatan pada siklus II ketika proses pembelajaran berlangsung siswa sudah dapat merespon, dapat mengikuti jalannya pembelajaran, siswa cukup aktif dan mampu menyelesaikan soal-soal yang diberikan guru.
4.4. Pembahasan dari setiap siklus
Dari data kualitas pelaksanaan perbaikan pembelajaran dan hasil tes formatif siswa yang ditemukan dalam penelitian di kelas III SD Negeri Sawangan 01 Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang dapat dikatakan bahwa pelaksanaan perbaikan pembelajaran meningkat dan karena itu prestasi belajar siswa juga meningkat. Pelaksanaan perbaikan berjalan dengan cukup baik, dengan nilai 3,6 (skala 1-5) pada siklus I dan meningkat menjadi baik dengan nilai 4,4 (skala 1-5) pada siklus II. Prestasi belajar siswa meningkat dari kurang (nilai 5,90) sebelum perbaikan pembelajaran, menjadi sedang (nila 6,94) pada perbaikan siklus I dan baik (nilai 8,11) pada siklus II.
Peningkatan prestasi belajar siswa kelas III SD Negeri Sawangan 01 terjadi karena dalam perbaikan pembelajaran secara konsekuen Peneliti melaksanakan aktivitas-aktivitas perbaikan pembelajaran ini mencakup prestasi belajra siswa meningkat melalui aktivitas-aktivitas : (1) Pemberian apersepsi yang menarik; (2) pengaktifan siswa dalam tanya jawab; (3) Pengaktifan siswa dalam latihan; (4) Pemanfaatan alat peraga yang memadai. Ketepatan pemilihan aktivitas-aktivitas perbaikan pembelajaran tampak dalam kesesuaian antara pelaksana masing-masing aktivitas dapat dijelaskan seperti berikut ini:
1) Pemberian apersepsi yang menarik
Dalam menyampaikan materi pelajaran, guru mengadakan sedikit demi sedikit, dari hal-hal yang sulit dimengerti, sampai hal-hal yang mudah.
Karena kemampuan berfikir anak dan orang dewasa itu berbeda. Pada hakikatnya guru adalah fasilitator, tetapi suatu saat guru di tun tut untuk
menjadi manusia sumber. Dalam kaitannya sebagai manusia sumber, guru hams mampu menyampaikan informasi dengan tepat sehingga materi pelajaran dapat dipahami oleh siswa.
Penyampaian materi juga berpengaruh terhadap perhatian siswa, sebagaimana diungkapkan Slavin, 1991 ( dikutip Suciati, dkk, 2007 ) bahwa “materi pelajaran hendaknya disajikan dengan cara menarik sehingga rasa ingin tahu siswa terhadap materi pelajaran meningkat”.
2) Pengaktifan siswa dalam tanya jawab
Guru telah memberi kesempatan bertanya pada siswa, waktu yang disediakan lebih banyak. Guru memberikan pancingan-pancingan sehingga siswa mempunyai keberanian untuk menanyakan materi yang kurang dipahami.
Pada umumnya dalam suatu proses belajar mengajar guru lebih aktif bertanya namun jarang mengajak siswa untuk mengajukan pertanyaan. Penerapan metode tanya jawab interaktif menuntut belajar yang berbeda, yaitu dengan memberi pertanyaan-pertanyaan yang lebih terbuka dan menantang siswa untuk berperan aktif memberi ide-ide sebanyak mungkin, bukan sekedar pertanyaan-pertanyaan yang tertutup dimana siswa hanya menjawab ya atau tidak. Metode tanya jawab atau teknik untuk memberi motivasi siswa agar timbul keberaniannya untuk bertanya atau menjawab pertanyaan-pertanyaan guru selama proses pembelajaran berlangsung untuk terlibat aktifdalam setiap pembelajaran.
3) Pengaktifan siswa dalam latihan
Guru memberikan latihan dan tugas kepada siswa dimaksudkan agar terjalin rasa tanggung jawab dan membantu sebagian siswa yang mempunyai daya piker rendah, agar termotivasi untuk belajar lebih rajin. Disamping itu dengan adanya latihan dan tugas yang frekuensinya tinggi dapat meningkatkan pola piker siswa dan tidak mudah melupakan sesuatu, karena siswa mendapatkan pengetahuan dari pengalamannya sendiri. Sebagaimana dikemukakan Kolb (dikutip Suciati, dkk, 2007) bahwa “pengetahuan diperoleh secara terus menerus dan di uji melalui pengetahuan peserta didik”.
4) Pemanfaatan alat peraga
Untuk menghilangkan verbalisme siswa, guru di tun tut menggunakan media atau alat peraga yang sesuai dengan materi pembelajaran. Untuk merangsang
semangat belajar, bahwa “alat peraga adalah salah satu komponen sumber belajar dilingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar”.
Dapat kita katakana bahwa alat peraga adalah alat bantu dalam pembelajaran.
Alat peraga sebagai alat bantu dalam pembelajaran memiliki fiingsi yang jelas, yaitu: memperjelas, memudahkan siswa memahami konsep fungsi yang jelas, yaitu: memperjelas, memudahkan siswa memahami konsep dan membuat pesan kurikulum yang akan disampaikan kepada siswa menarik, sehingga motivasi belajar siswa meningkat dan proses belajar lebih efektif dan efisien.
25 anak
12 anak
2 anak 4 anak
17 anak
27 anak
0 5 10 15 20 25 30
Kondisi Awal Siklus I Siklus II
Banyak Siswa
< 60 belum tuntas
> 60 tuntas
Gambar 4.4
Grafik Keseluruhan Pra Siklus, Siklus I, Siklus II