IMPLEMENTASI DANA DESA DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI DESA MUNTE KECAMATAN MUNTE KABUPATEN KARO
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana (S1) Administrasi Publik
Oleh :
RICO BASTANTA TARIGAN NIM. 130903126
DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI PUBLIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
ABSTRAK
Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan merupakan salah satu dari Nawa Cita yang dimenjadi agenda prioritas Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai presiden dan wakil presiden, Dengan hal tersebut dana desa sendiri mendapat tambahan anggaran dari pusat dimana dalam prosesnaya desa dapat mengelola anggaran yang disalurkan sesuai kebutuhan desa itu sendiri, tentu dengan tujuan mengembangkan desa. Infrastruktur desa juga mendapat perhatian kusus dimana desa sudah melakukan pembangunan dari segi infrastruktur. Melihat hal tersebut adapun judul penelitian penelitian ini adalah Implementasi Dana Desa Dalam Pembangunan Infrastruktur Desa Munte Kecamantan Munte.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan teknik analisis deskriktif yang menggambarkan fenomena sesungguhnya dari kejadian di lapangan dengan pendekatan teori Merilee S Grindle yang mengemukakan keberhasilan suatu kebijakan dipengaruhi oleh variable isi kebijakan dan lingkungan kebijakan. Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah Wawancara, Observasi dan Dokumentasi yang terkait dengan implementasi dana desa pada infrastruktur desa.
Dana Desa pada Pembangunan Infrastruktur desa Munte berjalan baik karna dapat dijalankan dengan lancar dan efektif karna berpengaruh pada aktivitas pertanian di desa dan meningkatkan aktivitas perekonomian desa secara perlahan
Kata Kunci : Implementasi, Dana Desa, Pembangunan Infrastruktur.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis haturkan kepada Sang Pencipta Tuhan Yang Maha Esa karena kasih dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.skripsi ini merupakan syarat untuk memenuhi persyaratan Kurikulum Sarjana Strata-1 (S1) pada Departemen Ilmu Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Adapun judul skripsi ini adalah Implementasi Dana Desa Dalam Pembangunan Infrastruktur Desa Munte kecamatan Munte.
Pada penyelesaian skripsi ini, penulis sangat banyak mendapatakna bantuan dan Motivasi dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih yang khusus dan tulus kepada orang tua penulis yang tetap mendukung penulis hingga dapat menyelesaikan pendidikan Sarjana, selain itu penulis juga mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yaitu kepada :
1. Dosen Pembimbing yang telah banyak membantu saya dan mengajarkan saya dalam muenyelesaikan skripsi, yaitu Bapak Drs, Robinson Sembiring, M.Si.
2. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, yaitu Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si.
3. Ketua Program Studi Administasi Publik Fakulatas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, yaitu Bapak Dr. Tunggul Sihombing, MA.
4. Sekretaris Program Studi Administasi Publik Fakulatas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, yaitu Ibu Dra, Asima Yanti Siahaan, MA, P.hD.
5. Seluruh dosen atau staff pengajar Program Studi Administasi Publik Fakulatas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
6. Pemerintahan Desa Munte yang telah membantu saya dalam mengumpulkan informasi.
7. Sahabat-Sahabat Rusak diTigabelas (Rs’13) yang telah menyelamatkan diri masing-masing, namun demikian kalian mengajarkan banyak hal pada “kita”
8. Keluarga KMK. St. Yohannes Don Bosco yang luar biasa memberikan kehangatan di tengah-tengah masa perkuliahan dan dukungan kepada penulis.
9. Para Mantan Kekasih Penulis Sarah, Mega dan Agnes yang luar biasa memberikan cerita yang mewarnai masa perkuliahan, kalian terbaik pada masanya.
10. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Akhir kata saya berharap Tuhan berkenan membalas segala kebaikan dari pihak yang membantu, Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna baik namun penulis berharap, skripsi ini dapat memberikan hal yang bermanfaat dan menambah wawasan bagi pembaca, dan keilmuan,
Medan, 28 November 2018 Penulis
Rico Bastanta Tarigan
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... ... i
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... ... 4
1.3 Tujuan Penelitian ... ... 4
1.4 Manfaat Penelitian ... ... 4
1.5 Sistematika Penulisan ... 5
BAB II KERANGKA TEORI ... 7
2.1. Kebijakan Publik ... ... 7
2.1.1 Pengertian Kebijakan Publik ... ... 7
2.1.2 Bentuk dan Proses Kebijakan Publik ... ... 8
2.2 Implementasi Kebijakan ... 11
2.2.1 Pengertian Implementasi kebijakan... ... 11
2.3 Model-Model Implementasi Kebijakan... ... 13
2.4 Pengertian Pembangunan ... ... 22
2.5 Pembangunan Desa ... ... 23
2.6 Infrastruktur Dalam Pembangunan Desa ... ... 26
2.7 Hipotesis Kerja ... ... 28
BAB III METODE PENELITIAN... ... 29
3.1 Bentuk Penelitian ... ... 29
3.2 Fokus Penelitian ... ... 29
3.3 Lokasi Penelitian ... ... 29
3.4 Informasi Penelitian ... ... 30
3.5 Teknik Pengumpulan Data ... ... 30
3.6 Teknik Analisa Data ... ... 32
BAB IV DESKRISPSI LOKASI PENELITIAN... ... 34
4.1 Sejarah Singkat Desa Munte... ... 34
4.2 Sumber Daya Alam... ... 35
4.2.1 Pemanfaatan Lahan ... ... 36
4.2.2 Potensi Desa ... ... 38
4.2.3 Hasil Alam Desa ... ... 39
4.3 Sumber Daya Manusia ... 40
4.3.1 Penduduk dan Penghasilan Penduduk ... 40
4.3.2 Mata Pencaharian ... 41
4.3.3 Tingkat Pendididkan ... 42
4.3.4 Sosial dan Budaya ... 42
4.4 Sumber Daya Pembangunan ... 44
4.5 Struktur Organisasi Pemerintahan Desa Munte ... 46
4.6 Tugas Dan Fungsi Pemerintah Desa ... 47
BAB V PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA ... 52
5.1 Implementasi Dana Desa Dalam Pembangunan Infrastruktur Di Desa Munte... 53
5.1.1 Implementasi Dana Desa terhadap Infrastrutur di Desa Munte Ditinjau Dari Isi Kebijakan ... 55
5.1.2 Implementasi Dana Desa terhadap Infrastrutur di Desa Munte Ditinjau Dari Lingkungan Kebijakan ... 68
5.2 Tantangan Dan Hambatan Implementasi Dana Desa Dalam Pembangunan Infrastruktur di Desa Munte ... 71
5.2.1 Sumber Daya Manusia ... 72
5.2.2 Luas dan Penduduk Desa Terhadap Dana Desa ... 72
5.2.3 Pembebasan Lahan ... 73
BAB VI PENUTUP ... 74
6.1 Kesimpulan ... 74
6.2 Saran ... 75
DAFTAR TABEL
4.1 Batas Wilayah Desa Munte ... 35
4.2.1 Pemanfaatan Lahan Desa Munte ... 36
4.2.1 PotensiPertanian, Perkebunan, Peternakan, dan Perikanan Desa Munte ... 38
4.2.3 Hasil Alam Desa Munte ... 39
4.3.1 Data Penduduk dan Penghasilan Penduduk Desa Munte ... 40
4.3.2 Mata Pencaharian Penduduk Desa Munte... 41
4.3.3 Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Munte ... 42
4.3.4 Sumber Daya Sosia Budaya Desa Munte... 43
4.4 Sumber Daya Pembangunan Desa Munte ... 44
5.1 Pemanfaatan Dana Desa Tahun 2017 ... 54
5.1.1.6 Perangkat Desa Dan BPD ... 65
5.1.1.6 Sumber Dana Dalam Pembangunan Infrastruktur ... 67
DAFTAR GAMBAR
Gambar.1 Model Implementasi Kebijakan Van Meter dan Van Horn ... 15 Gambar.2 Implementasi sebagai proses Politik dan Administratif Menurut marilee
Grindle... 17 Gambar.3 Variabel-Variabel Yang Mempengaruhi Proses Implementasi Menurut
Mazmanian dan Sabatier ... 18 Gambar.4 Faktor Penentu Implementasi Menurut Edward III... 21 Gambar.5 Prosedur Dalam Pelaksanaan Dana Desa ... 64
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
“Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan” adalah salah satu dari sembilan program yang sering kita dengar sebagai Nawa Cita yang dimenjadi agenda prioritas Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai presiden dan wakil presiden, untuk menunjukkan prioritas jalan perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, serta mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam berbudaya, tidak heran pemerintah pusat mengalokasikan anggaran yang cukup besar kepada setiap desa yang ada.
Kemiskinan dan keterbelakangan merupakan sasaran pembangunan yang harus diusahakan penyelesaiannya. Pemerataan pembangunan dan hasilnya menuju terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat, pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.
Sehingga dalam mencapai tujuan tersebut beberapa kebijakan strategis telah ditetapkan dalam garis-garis besar haluan negara di antara yang paling penting adalah:
1. Perlu dilanjutkan dan ditingkatkan pembangunan daerah dan pembangunan pedesaan yang lebih diarahkan kepada perluasan kesempatan kerja, pembinaan dan pengembangan lingkungan pemukiman pedesaan dan perkotaan yang sehat.
2. Peningkatan kemampuan penduduk untuk memamfaatkan sumber-sumber kekayaan alam dan menanggulangi masalah-masalah yang mendesak.
3. Pembangunan prasarana ekonomi dan sosial secara lebih merata ke seluruh wilayah Indonesia.
4. Memberikan perhatian sebesar-besarnya kepada pembangunan pedesaan terutama melalui peningkatan prakarsa dan swadaya masyarakat serta
5. memanfaatkan secara maksimal dana-dana yang langsung maupun tidak langsung diperuntukkan bagi pembangunan pedesaan seperti pembangunan desa, bimas, sekolah dasar, kesehatan dan sebagainya.
Tidak heran dana desa diperuntukkan bagi pelaksanaan pembangunan dan pemberdaayan masyarakat dalam pasal 4 (peraturan mentri Desa, pembangunan daerah tertinggal, dan transmigrasi No 21 Tahun 2015 tentang penetapan prioritas penggunaan dana desa tahun 2016, 2015), ditegaskan dana desa diprioritaskan untuk membiayai pelaksanaan program dan kegiatan berskala lokal desa bidang pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa. Pembangunan desa melputi: a) pembangunan, pengembangan, dan pemeliharaan infrastruktur atau sarana dan prasarana fisik untuk penghidupan, termasuk ketahanan pangan dan pembangunan, b) pengembangan dan pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan, sosial, dan budaya, c) pengembangan usaha ekonomi masyarakat, meliputi pembangunan dan pemeliharaan sarana-prasarana prouksi dan distribusi dan d) pembangunan dan pengembangan sarana- prasarana energi terbarukan serta kegiatan yang bertujuan pelestarian lingkungan hidup. Adapun pemberdayaan masyarakat desa meliputi kegiatan yang bertujuan meningkatkan kapasitas warga atau masyarakat desa dalam pengembangan wirausaha, peningkatan pendapatan serta peluasan skala ekonomi individu warga atau kelompok masyarakat dalam desa.
Dana merupakan hal yang sensitif baik dalam penggunaannya dan transparansinya. Bukan tidak mungkin masalah-masalah baru akan timbul dari besarnya alokasi dana yang diberikan pemerintah dari anggaran pendapatan dan belaja daerah(APBD).
Dalam pelaksanaan infrastruktur desa sendiri membutuhkan sumberdaya manusia yang memadai, bukan jaminan sebuah desa yang memiliki populasi masyarakat yang besar memiliki sumber daya manusia yang bisa diberdayakan sebagai tenaga kerja ahli dalam proses pengembangan infrastruktur. Karna dengan tenaga ahli sebuah proses pembangunan akan berjalan dengan lebih efektif dan efisien.
Desa Munte merupakan desa yang menjunjung tinggi kearifan lokal, adat- istiadat budaya dan norma yang ada. Dan desa munte sendiri merupakan desa terbesar di kecamatan Munte dimana desa ini memiliki 6 dusun dan dilihat dari sumber daya alamnya Masyarakat desa Munte mayoritas menafkahi keluarganya dengan cara bertani, sehingga sebuah pembangunan akan lebih efektif jika memikirkan efektifitas dari infrastruktur yang akan di perbaharui atau di kembangkan, Karena dengan dana desa yang ada perkembangan infrastruktur sangat dibutuhkan masyarakat desa Munte untuk akses dan proses hasil tani mereka namun yang harus kita pertimbangkan jika kita melihat masyarakat desa yang besar apakah kebutuhan masyarakat desa munte dapat terpenuhi dengan pembangunan infrastruktur desa dan jalan akses yang dibuat apakah sudah menjadi sarana yang tepat bagi masyarakat.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ”Implementasi Dana Desa Dalam Pembangunan Infrastruktur di Desa Munte Kecamatan Munte”.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada penelitian ini berdasarkan uraian latar belakang diatas adalah “Bagaimana Implementasi Dana Desa Dalam Pembangunan infrastruktur di Desa Munte Kecamatan Munte”.
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Implementasi Dana Desa Dalam Pembangunan infrastruktur di Desa Munte Kecamatan Munte.
1.4. Manfaat Penelitian
Dengan tercapainya tujuan penelitian maka penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Akademis
Penelitian ini merupakan salah satu syarat penyelesaian program studi sarjana Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Politik dan Ilmu Sosial Universitas Sumatera Utara.
2. Manfaat Teoritis
a. Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan serta kepustakaan untuk melakukan penelitian lanjutan terkait dengan tema dan topik dalam penelitian ini.
b. Sebagai bahan acuan untuk mengkaji dan menganalisis Implementasi dana desa dalam pembangunan infrastruktur di desa munte kecamatan munte.
3. Manfaat Praktis
a. Bagi peneliti, penelitian ini sebagai sarana mengaplikasikan berbagai ilmu pengetahuan yang telah dipelajari sekaligus untuk menambah pengetahuan tentang dana desa dalam pembangunan infrastruktur di desa munte kecamatan munte.
b. Bagi Pemerintahan kabupaten Karo, Sebagai bahan masukan dalam mengkaji dan mengevaluasi Implementasi dana desa dalam pembangunan infrastruktur di desa munte.
1.5. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini terdiri dari latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II KERANGKA TEORI
Bab ini terdiri dari teori apa saja yang menjadi acuan pada penelitian ini dan pada bab ini juga terdapat definisi konsep
BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini terdiri dari bentuk penelitian, lokasi penelitian, informan penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.
BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
Bab ini menyajikan gambaran tentang lokasi penelitian mulai dari gambaran umum, struktur organisasi, hingga tugas pokok dan fungsi.
BAB V PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA
Bab ini memuat penyajian dan analisa data yang diperoleh dari hasil penelitian dan memberikan interpretasi atas permasalahan yang diteliti.
BAB VI PENUTUP
Bab ini berisi kesimpulan dan saran, bagian kesimpulan berisi jawaban atas masalah yang dikemukakan dan pemecahan masalah yang dikemukakan dalam bentuk saran.
BAB II
KERANGKA TEORI 2.1 Kebijakan Publik
2.1.1 Pengertian Kebijakan Publik
Secara etimilogis, istilah kebijakan atau policy berasal dari bahasa Yunani “polis” berarti Negara. Akhirnya masuk ke dalam bahasa Inggris
“policie” yang artinya berkenaan dengan pengendalian masalah-masalah publik
atau administrasi pemerintahan, (William N Dunn, 2000 : 22).
Istilah “kebijakan” atau ”policy” dipergunakan untuk menunjuk perilaku seorang aktor (misalnya seorang pejabat, suatu kelompok maupun suatu badan pemerintah) atau sejumlah aktor dalam suatu bidang kegiatan tertentu, (Budi Winarno 2002 : 14). Pengertian kebijakan seperti ini dapat kita gunakan dan relatif memadai untuk pembicaraan-pembicaraan yang lebih bersifat ilmiah dan sistematis menyangkut analisis kebijakan publik.
Sedangkan kata publik sendiri sebagian orang mengartikan sebagai Negara.
Namun demikian, kebijakan publik merupakan konsep tersendiri yang mempunyai arti dan defenisi khusus akademik. Defenisi kebijakan publik menurut para ahli sangat beragam. Menurut Easton, 1969 (Hesel Nogi Tangkilisan 2003 : 2), kebijakan publik adalah sebagai pengalokasian nilai- nilai kekuasaan untuk seluruh masyarakat yang keberadaannya mengikat.
Sehingga cukup pemerintah yang dapat melakukan suatu tindakan kepada masyarakat dan tindakan tersebut merupakan bentuk dari sesuatu yang dipilih oleh pemerintah yang merupakan bentuk dari pengalokasian nilai-nilai kepada masyarakat. Menurut Carl Friedrich, 1963 (Budi Winarno : 19),
mendefenisikan kebijakan publik sebagai arah tindakan yang diusulkan seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu yang memberikan hambatan-hambatan dan kesempatan- kesempatan terhadap kebijakan yang diusulkan untuk menggunakan dan mengatasi dalam rangka mencapai suatu tujuan atau merealisasikan suatu sasaran dan maksud tertentu.
Namun demikian dalam mendefenisikan kebijakan adalah bahwa pendefenisian kebijakan tetap harus mempunyai pengertian mengenai apa yang sebenarnya dilakukan daripada apa yang diusulkan dalam tindakan mengenai suatu persoalan tertentu. Menurut James E Anderson (Ibid 2002 : 16), mendefenisikan kebijakan publik adalah arah tindakan yang mempunyai maksud yang ditetapkan oleh seorang aktor atau sejumlah aktor dalam mengatasi suatu masalah atau suatu persoalan. Konsep kebijakan ini dianggap tepat karena memusatkan perhatian pada apa yang sebenarnya dilakukan atau bukan pada apa yang diusulkan atau dimaksudkan.
Berdasarkan pengertian para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa kebijakan publik merupakan serangkaian tindakan yang menjadi keputusan pemerintah untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang bertujuan untuk memecahkan masalah demi kepentingan masyarakat.
2.1.2 Bentuk dan Proses Kebijakan Publik
Terdapat tiga kelompok rentetan kebijakan publik yang dirangkum secara sederhana yakni sebagai berikut (Nugroho Riant, 2006:3) :
1. Kebijakan Publik Makro
Kebijakan publik yang bersifat makro atau umum atau dapat juga dikatakan sebagai kebijakan yang mendasar. Misalnya (a) Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia 1945 (b) Undang-Undang atau Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (c) Peraturan Pemerintah (d) Peraturan Presiden (e) Peraturan Daerah.
2. Kebijakan Publik Meso
Kebijakan publik yang bersifat meso atau yang bersifat menengah atau yang lebih dikenal dengan penjelas pelaksanaan. Kebijakan ini dapat berupa Peraturan Menteri, Surat Edaran Menteri, Peraturan Gubernur, Peraturan Bupati, Peraturan Walikota, Keputusan Bersama atau SKB antar-menteri, Gubernur dan Bupati atau Walikota.
3. Kebijakan Publik Mikro
Kebijakan publik yang bersifat mikro, mengatur pelaksanaan atau implementasi dari kebijakan publik yang diatasnya. Bentuk kebijakan ini misalnya peraturan yang dikeluarkan oleh aparat-aparat publik tertentu yang berada di bawah menteri, Gubernur,Bupati dan Walikota.
Adapun kebijakan publik memiliki tahap-tahap yang cukup kompleks karena memiliki banyak proses dan variabel yang harus dikaji. Menurut William Dunn 1998 (Budi Winarno : 28), tahap-tahap kebijakan publik adalah sebagai berikut :
a. Penyusunan Agenda (Agenda Setting)
Para pejabat yang dipilih dan diangkat menempatkan msalah pada agenda publik. Sebelumnya masalah-masalah ini berkompetensi terlebih dahulu untuk dapat masuk ke dalam agenda kebijakan. Pada akhirnya, beberapa masalah masuk ke agenda kebijakan pada perumusan kebijakan. Pada tahap
ini suatu masalah mungkin tidak tersentuh sama sekali dan beberapa yang lain pembahasan untuk masalah tersebut ditunda untuk waktu yang lama
b. Formulasi Kebijakan (Policy Formulation)
Masalah yang telah masuk ke dalam agenda kebijakan kemudian dibahas oleh para pembuat kebijakan. Masalah-masalah tadi didefenisikan untuk kemudian dicari pemecahan masalah terbaik. Pemecahan masalah tersebut berasal dari berbagai alternatif yang ada. Sama halnya dengan perjuangan suatu masalah untuk masuk ke dalam agenda kebijakan, dalam tahap perumusan kebijakan masing-masing alternatif bersaing untuk memecahkan masalah.
c. Adopsi Kebijakan (Policy Adoption)
Dari sekian alternatif kebijakan yang ditawarkan oleh para perumus kebijakan, pada akhirnya salah satu alternatif kebijakan tersebut diadopsi dengan dukungan dari mayoritas legislatif, konsensus antara direktur lemabaga atau keputusan peradilan.
d. Implementasi Kebijakan (Policy Implementation)
Suatu program kebijakan hanya akan menjadi catatan-catatan elit, jika program tersebut tidak diimplementasikan. Oleh karena itu, program kebijakan yang telah diambil sebagai alternatif pemecahan masalah harus diimplementasikan, yakni dilaksanakan oleh badan-badan administrasi maupun agen-agen pemerintah di tingkat bawah. Kebijakan yang telah diambil dilaksanakan oleh unit-unit administrasi yang memobilisasikan sumber daya finansial dan manusia. Pada tahap implementasi ini berbagai kepentingan akan saling bersaing. Beberapa implementasi kebijakan mendapat dukungan para
pelaksana, namun beberapa yang lain mungkin akan ditentang oleh para pelaksana.
e. Evaluasi Kebijakan (Policy Evaluation)
Pada tahap ini kebijakan yang telah dijalankan akan dinilai atau dievaluasi untuk melihat sejauh mana kebijakan yang telah mampu memecahkan masalah. Kebijakan publik yang pada dasarnya dibuat untuk meraih dampak yang diinginkan. Dalam hal ini memperbaiki masalah yang dihadapi masyarakat. Oleh karena itu, ditentukanlah kriteria-kriteria yang menjadi dasar untuk menilai apakah kebijakan publik telah meraih dampak yang diinginkan.
2.2 Implementasi Kebijakan
2.2.1 Pengertian Implementasi Kebijakan
Implementasi kebijakan merupakan tahap yang krusial dalam proses kebijakan publik. Suatu program kebijakan hanya akan menjadi catatan- catatan elit, jika program tersebut tidak diimplementasikan. Implementasi kebijakan dipandang dalam pengertian yang luas merupakan tahap dari proses kebijakan segera setelah Undang-Undang . implementasi dipandang secara luas mempunyai makna pelaksanaan Undang-Undang dimana berbagai aktor, organisasi, prosedur, dan teknik bekerja bersama-sama untuk menjalankan kebijakan dalam upaya meraih tujuan-tujuan kebijakan dan program-program. Implementasi pada sisi yang lain merupakan fenomena yang kompleks yang mungkin dapat dipahami sebagai suatu proses, suatu keluaran (output) maupun sebagai suatu dampak (outcome).
Menurut Riant Nugroho (2007), Implementasi dikonseptualisasikan sebagai suatu proses, atau sebagai rangkaian keputusan dan tindakan yang ditujukan agar keputusan yang diterima oleh lembaga legislatif bisa dijalankan. Implementasi diartikan dalam konteks keluaran, atau sejauh mana tujuan-tujuan yang telah direncanakan mendapat dukungan, seperti tingkat pengeluaran belanja bagi suatu program. Akhirnya, pada tingkat abstraksi yang paling tinggi, dampak implementasi mempunyai makna bahwa telah ada perubahan yang bisa diukur ke dalam masalah.
Menurut Jones (1996), tiga kegiatan utama yang paling penting dalam implementasi keputusan adalah :
1. Penafsiran, merupakan kegiatan yang menerjemahkan makna program kedalam pengaturan yang dapat diterima dan dapat dijalankan.
2. Organisasi, merupakan unit atau wadah untuk menempatkan program kedalam tujuan kebijakan.
3. Penerapan, merupakan berhubungan dengan perlengkapan rutin bagi pelayanan, upah dan lainnya.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa implementasi merupakan suatu proses yang dinamis, dimana pelaksana kebijakan melakukan suatu aktivitas atau kegiatan sehingga pada akhirnya akan mendapatkan suatu hasil yang sesuai dengan tujuan atau sasaran kebijakan itu sendiri.
2.3 Model-Model Implementasi Kebijakan A. Model Van Meter dan Van Horn (1975)
Model pendekatan implementasi kebijakan yang dirumuskan Van Meter dan Van Horn, model ini menjelaskan bahwa kebijakan dipengaruhi oleh beberapa variabel yang saling berkaitan (Subarsono, 2005 : 19). Variabel- variabel tersebut yaitu :
1. Standar dan Sasaran Kebijakan
Standar dan sasaran kebijakan harus jelas dan terukur sehingga dapat direalisir. Apabila standart dan sasaran kebijakan kabur, maka akan terjadi multiinterpretasi dan mudah menimbulkan konflik diantara para agen implementasi. Mengukur kerja implementasi kebijakan tentunya menegaskan standar dan sasaran tertentu yang harus dicapai oleh para pelaksana kebijakan, kinerja kebijakan pada dasarnya merupakan penilaian atas tingkat ketercapaian standar dan sasaran tersebut.
2. Sumber Daya
Implementasi kebijakan perlu dukungan sumber daya, baik sumber daya manusia maupun sumber daya non-manusia. Keberhasilan implementasi kebijakan sangat tergantung dari kemampuan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Manusia merupakan sumber daya yang terpenting dalam menentukan keberhasilan suatu implementasi kebijakan. Setiap tahap implementasi menuntut adanya sumber daya manusia yang berkualitas sesuai dengan pekerjaan yang diisyaratkan oleh kebijakan yang telah ditetapkan secara apolitik. Selain sumber daya manusia, sumber daya finansial dan waktu menjadi perhitungan penting dalam keberhasilan implementasi kebijakan.
3. Komunikasi dan Penguatan Aktivitas
Dalam implementasi program perlu dukungan dan koordinasi dengan instansi lain agar tujuan kebijakan dapat tercapai.
4. Karakteristik Agen Pelaksana
Mencakup struktur birokrasi, norma-norma dan pola-pola yang terjadi dalam birokrasi, yang semuanya akan mempengaruhi implementasi suatu program.
5. Kondisi Sosial, Ekonomi, dan Politik
Variabel ini mencakup sumber daya ekonomi, lingkungan yang dapat mendukung keberhasilan implementasi kebijakan, sejauh mana kelompok- kelompok kepentingan dapat memberikan dukungan bagi implementasi kebijakan, karakteristtik para partisipan yakni menolak atau mendukung, bagaimana sifat opini publik yang ada di lingkungan dan apakah elit politik mendukung implementasi kebijakan.
6. Disposisi Implementor
Disposisi implementor ini mencakup tiga hal yang penting, yaitu: (a) respon implementor terhadap kebijakan, yang akan mempengaruhi kemauannya untuk melaksanakan kebijakan; (b) kognisi, yakni pemahamannya terhadap kebijakan; (c) intensitas disposisi implementor, yakni preferensi nilai yang dimilki oleh implementor.
Model implementasi kebijakan dari Van Meter dan Van Horn dapat dilihat dalam gambar berikut ini :
Gambar .1 : Model Implementasi Kebijakan Van Meter dan Van Horn
Sumber : Subarsono (2005 : 100) B. Model Merilee S Grindle (1980)
Marilee S Grindle, 1980 (Samodra Wibawa : 22), memberi pemahaman bahwa studi implementasi kebijakan ditentukan oleh isi kebijakan dan konteks implementasinya. Grindle juga menyatakan bahwa keberhasilan implementasi kebijakan ditentukan oleh derajat implementability dari kebijakan tersebut. Keunikan model Grindle terletak pada pemahaman yang komprehensif akan konteks kebijakan khususnya yang menyangkut implementor, penerima implementasi, dan arena konflik yang mungkin terjadi serta sumber daya yang akan diperlukan selama proses implementasi. Secara konsep dijelaskan bahwa model implementasi kebijakan publik yang dikemukakan Grindle menentukan bahwa keberhasilan proses implementasi kebijakan sampai kepada tercapainya hasil tergantung kepada kegiatan program yang telah dirancang dan pembiayaan yang cukup, selain dipengaruhi
oleh isi kebijakan dan konteks implementasinya. Isi kebijakan yang dimaksud meliputi :
1. Kepentingan yang dipengaruhi oleh kebijakan 2. Jenis manfaat yang akan dihasilkan
3. Derajat perubahan yang diinginkan 4. Kedudukan pembuat kebijakan 5. Siapa pelaksana program 6. Sumber daya yang dilibatkan
Isi sebuah kebijkan akan menunjukkan posisi pengambilan keputusan oleh sejumlah besar pengambilan keputusan, sebaliknya ada kebijakan tertentu yang lainnya hanya ditentukan sejumlah kecil unit pengambilan kebijakan.
Selanjutnya pengaruh dalam konteks lingkungan yang terdiri dari : 1. Kekuasaan kepentingan dan strategi aktor yang terlibat 2. Karakteristik lembaga dan penguasa
3. Kepatuhan dan daya tanggap pelaksana
Model implementasi kebijakan menurut Merilee S Grindle dapat kita gambarkan seperti pada gambar.2 berikut :
Gambar.2 : Implementasi sebagai proses politik dan administratif menurut Merilee S Grindle
Sumber : Subarsono (2005 : 94)
C. Model Mazmanian dan Sabatier (1983)
Menyatakan bahwa studi implementasi kebijakan publik adalah upaya melaksanakan keputusan kebijakan. Model ini disebut sebagai kerangka analisis implementasi. Mazmanian dan Sabatier mengklasifikasikan proses implementasi kebijakan ke dalam tiga variabel, yaitu:
1. Karakteristik dari masalah, indikatornya adalah :
a. Tingkat kesulitan teknis dari masalah yang bersangkutan b. Tingkat kemajemukan dari kelompok sasaran
c. Proporsi kelompok sasaran terhadap total populasi d. Cakupan perubahan perilaku yang diharapkan 2. Karakteristik kebijakan, indikatornya adalah :
a. Kejelasan isi kebijakan
b. Seberapa jauh kebijakan tersebut memiliki dukungan teoritis c. Besarnya alokasi sumber daya finasial terhadap kebijakan tersebut
d. Seberapa besar adanya keterpautan dan dukungan antar institute pelaksana
e. Kejelasan dan konsistensi aturan yang ada pada badan pelaksana f. Tingkat komitmen aparat terhadap kebijakan
3. Variabel lingkungan, indikatornya adalah :
a. Kondisi sosial ekonomi masyarakat dan tingkat kemajuan teknologi b. Dukungan publik terhadap suatu kebijakan
c. Sikap dari kelompok pemilih
d. Tingkat komitmen dan keterampilan dari aparat dan implementor.
Implementasi model Mazmanian dan Sabatier dapat kita lihat seperti gambar.3 berikut:
Gambar.3 Variabel-Variabel yang Mempengaruhi Proses Implementasi menurut Mazmanian dan Sabatier
Sumber : Subarsono (2005 : 95)
D. Model George Edwards III
Menurut Edwards (Dwiyanto Indiahono, 2009 : 32), studi implementasi kebijakan adalah krusial bagi public administration dan public policy. Implementasi kebijakan adalah pembuatan kebijakan antara pembentukan kebijakan dan konsekuensi-konsekuensi kebijakan bagi masyarakat yang dipengaruhinya. Jika suatu kebijakan tidak tepat atau tidak dapat mempengaruhi masalah yang merupakan sasaran dari kebijakan, maka kebijakan itu mungkin akan mengalami kegagalan sekali pun kebijakan itu di implementasikan dengan sangat baik. Sementara itu, suatu kebijakan yang cemerlang mungkin juga akan mengalami kegagalan jika kebijakan tersebut kurang di implementasikan dengan baik oleh para pelaksana kebijakan.
Menurut Edwards, terdapat empat faktor atau variabel dalam implementasi kebijakan publik, yaitu :
a. Komunikasi
Menurut Edwards, persyaratan utama bagi implementasi kebijakan yang efektif adalah bahwa mereka yang melaksanakan keputusan harus mengetahui apa yang harus mereka lakukan. Keputusan-keputusan kebijakan dan perintah- perintah itu dapat diikuti. Tentu saja komunikasi harus akurat dan harus dimengerti dengan cermat oleh para pelaksana. Akan tetapi, banyak hambatan- hambatan yang menghadang transmisi komunikasi pelaksanaan dan hambatan- hambatan ini mungkin menghalangi pelaksanaan kebijakan.
b. Sumber Daya
Perintah-perintah implementasi mungkin diteruskan secara cermat, jelas, dan konsisten. Tapi, jika para pelaksana kekurangan sumber-sumber yang diperlukan untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan, maka implementasi ini pun cenderung tidak efektif. Dengan demikian, sumber-sumber dapat merupakan faktor yang penting dalam melaksanakan kebijakan publik. Sumber-sumber yang penting yaitu: staf yang memadai serta keahlian-keahlian yang baik untuk melaksanakan tugas-tugas mereka, wewenang dan fasilitas-fasilitas yang diperlukan guna melaksanakan pelayanan publik
c. Disposisi
Disposisi adalah watak dan karakteristik yang dimiliki oleh implementor seperti komitmen, kejujuran, dan sikap demokratis. Apabila implementor memiliki disposisi yang baik terhadap suatu kebijakan tertentu hal ini berarti adanya dukungan, kemungkinan besar mereka akan melaksanakan kebijakan sebagaimana yang diinginkan oleh para pembuat keputusan awal. Demikian pula sebaliknya, bila tingkah laku para implementor berbeda dengan para pembuat keputusan maka proses pelaksanaan suatu kebijakan akan semakin sulit.
d. Struktur Birokrasi
Birokrasi merupakan salah satu yang paling sering bahkan secara keseluruhan menjadi pelaksana kebijakan. Birokrasi baik secara sadar atau tidak sadar memilih bentuk-bentuk organisasi untuk kesepakatan kolektif, dalam rangka pemecahan masalah-masalah sosial dalam kehidupan modern.
Menurut Edwards, ada dua karakteristik utama dari birokrasi, yakni prosedur-prosedur kerja ukuran-ukuran dasar atau sering disebut dengan Standard Operating Procedures (SOP) dan fragmentasi, yaitu :
1. Berkembang sebagai tanggapan internal terhadap waktu yang terbatas dan sumber-sumber dari pada pelaksana serta keinginan untuk keseragaman dalam bekerjanya organisasi yang kompleks dan tersebar.
2. Berasal terutama dari tekanan diluar unit-unit birokrasi, seperti komite- komite legislatif, kelompok kepentingan, pejabat eksekutif, konstitusi Negara dan sifat kebijakan yang mempengaruhi organisasi birokrasi pemerintah.
Dapat kita lihat model Implementasi menurut George Edward III seperti gambar.4 berikut:
Gambar.4 Faktor Penentu Implementasi menurut Edward III
Sumber : Subarsono (2005 : 91)
2.4 Pengertian Pembangunan
Pembangunan adalah proses mengubah masyarakat di negara-negara berkembang secara terencana, transformative (menjadi lebih baik), sesuai dengan program-program yang sudah ditentukan secara politik oleh para pengambil kebijakan. Proses pembangunan terjadi di semua aspek kehidupan masyarakat, ekonomi, social, budaya, politik, yang berlangsung pada level makro (nasional) dan mikro (community/group). Makna penting dari pembangunan adalah adanya kemajuan/perbaikan (progress), pertumbuhan dan diversifikasi.
Ginanjar Kartasasmita (2005), Pembangunan sebagai proses perubahan kearah yang lebih baik melalui upaya yang dilakukan secara terencana.
Pembangunan bukan hanya diarahkan untuk peningkatkan income tetapi juga pemerataan. Pembangunan memiliki tujuan luas yang menyangkut keseluruhan kebutuhan manusia dalam mewujudkan dan memenuhi kebutuhan masyarakat secara luas baik dalam bentuk materi maupun non-materi.
DiIndonesia dan berbagai Negara berkembang, istilah pembangunan sering kali lebih berkonotasi fisik artinya melakukan kegiatan-kegiatan membangun yang bersifat fisik, bahkan sering kali secara lebih sempit hanya sebagai membangun infrastruktur atau fasilitas fisik. Pengertian dari pemilihan alternatif yang sah dalam defenisi pembangunan diartikan sebagai upaya pencapaian aspirasi yang dilaksanakan sesuai dengan hukum yang berlaku dan dalam tatanan kelembagaan atau budaya yang dapat diterima.
Afifudin (2010) Pembangunan adalah sebuah proses perubahan dalam arti mewujudkan suatu kondisi kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang lebih baik dari kondisi sekarang. Kondisi yang lebih itu harus dilihat dalam cakupan
segi kehidupan dan bukan sekedar meningkatkan taraf hidupnya, akan tetapi juga dalam segi-segi kehidupan lainnya. Karna dapat dipastikan bahwa satu segi kehidupan berkaitan erat dengan segi-segi kehidupan lainnya, misalnya peningkatan dibidang ekonomi, sosial, dan politik, dan sebagainya. Pembangunan adalah suatu rencana yang tersusun secara rapi yang dilakukan secara terencana, baik jangka panjang, menengah dan jangka pendek. Perencanaan mutlak dilakukan oleh dan setiap organisasi, apapun kegiatannya tanpa melihat apakah yang bersangkutan besar atau kecil. Negara merupakan organisasi, sehingga dalam usaha pencapaian tujuan pembangunan para pimpinannya mau tidak mau pasti terlihat dalam kegiatan-kegiatan perencanaan. Merencanakan berarti mengambil keputusan sekarang tentang hal-hal yang akan dilakukan pada jangka waktu tertentu dimasa depan.
Dari pengertian diatas pembangunan berarti proses menuju perubahan- perubahan yang dimaksudkan untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat itu sendiri. Berdasarkan beberapa defenisi tersebut, sasaran utama pembangunan adalah manusia dan esensi dari pembangunan tersebut adalah adanya perubahan dari kondisi yang sebelumnya menjadi lebih baik lagi yaitu adanya peningkatan kualitas hidup.
2.5 Pembangunan Desa
Pembangunan pedesaan suatu proses yang membawa peningkatan kemampuan penduduk pedesaan menguasai lingkungan sosial yang disertai meningkatnya taraf hidup mereka sebagai akibat dari penguasaan tersebut.
Pembangunan pedesaan telah banyak dilakukan sejak dari dahulu hingga sekarang, tetapi hasilnya belum memuaskan terhadap peningkatan kesejahteraan
masyarakat pedesaan. Pembangunan pedesaan seharusnya dilihat bukan hanya sebagai obyek tetapi juga sebagai subyek pembangunan.
Pembangunan atau pengembangan pedesa („rural development‟), menurut Mosher 1969, dalam Johara (2006:1), dapat mempunyai tujuan, dimana tujuan ini pertumbuhan sektor pertanian, integrasi nasional, yaitu membawa seluruh penduduk suatu negeri ke dalam pola utama kehidupan yang sesuai, keadilan ekonomi, yakni bagaimana pendapatan itu dibagi-bagi kepada seluruh penduduk.
Pembangunan desa dilaksanakan dengan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan. Penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan mensyaratkan setiap daerah lebih mengadalkan sumber-sumber alam yang terbaharui sebagai sumber pertumbuhan. Disamping itu setiap desa perlu memanfaatkan SDM secara luas, memanfaatkan modal fisik, prasarana mesin-mesin, dan peralatan seefesien mungkin.
Fellman dan Getis 2003 dalam Johara (2006:1), pembangunan dan pengembangan dapat diartikan, sebagai mengubah sumber daya alam dan manusia suatu wilayah atau negeri sehingga berguna dalam produksi barang, melaksanakan pertumbuhan ekonomi, modernisasi, dan perbaikan, dalam tingkat produksi barang (materi) dan konsumsi.
Maksud pembangunan pedesaan adalah menghilangkan atau mengurangi berbagai hambatan dalam kehidupan sosial-ekonomi, seperti kurang pengetahuan dan keterampilan, kurang kesempatan kerja, dan sebagainya. Akibat berbagai hambatan tersebut, penduduk wilayah pedesaan umumnya miskin.
Sasaran dari program pembangunan pedesaan adalah meningkatkan kehidupan sosial dan kehidupan ekonomi keluarga petani sehingga mereka
mendapat kesejahteraan, yang berarti mereka memperoleh tingkat kepuasan dalam pemenuhan kebutuhan material (pendidikan, agama, ilmu, keamanan, kepercayaan kepada diri, dsb) dengan layak.
Kartasasmita 1996 dalam Johara (2006:3), Pembangunan pedesaan harus melakukan empat upaya besar yang saling berkaitan, diantaranya adalah Memberdayakan ekonomi masyarakat desa yang memerlukan masukan modal, bimbingan teknologi, dan pemasaran untuk memandirikan masyarakat desa.
Meningkatkan kualitas sumber daya penduduk pedesaan dengan peningkatan pendidikan, kesehatan, dan gizi sehingga memperkuat produktivitas dan daya saing. Membangun prasarana pendukung pedesaan yang cukup (karena lokasi perkampungan terpencil), seperti jalan, jaringan telekomunikasi, dan penerangan, yang masih merupakan tanggung jawab pemerintah. Keikutsertaan masyarakat desa setempat dalam gontong royong harus diutamakan. Mengatur kelembagaan pedesaan, yaitu berbagai lembaga pemerintah dan lembaga masyarakat desa harus mampu menampung aspirasi dan menggali potensi masyarakat.
Pembangunan yang berbasis pedesaan diberlakukan untuk memperkuat fondasi perekonimian negara, mempercepat pengentasan kemiskinan dan pengurangan kesenjangan perkembangan antar wilayah, sebagai solusi bagi perubahan sosial, desa sebagai basis perubahan. Dalam realisasinya, pembangunan pedesaan memungkinkan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi digerakkan ke pedesaan sehingga desa menjadi tempat yang menarik sebagai tempat tinggal dan mencari penghidupan infrastruktur desa, seperti irigasi, sarana dan prasarana transportasi, listrik, telepon, sarana pendidikan, kesehatan dan
sarana- sarana lain yang dibutuhkan, harus bisa disediakan sehingga memungkinkan desa maju dan berkembang.
2.6 Infratruktur Dalam Pembangunan Desa
Infrastruktur adalah suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang dilakukan secara terencana untuk membangun prasarana atau segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses pembangunan. Pembangunan infrastruktur desa merupakan infrastruktur yang perlu mendapat perhatian dalam infrastruktur desa adalah sebagai berikut: jalan, drainase, pembuatan penampungan air minum masyarakat desa, pembuatan saluran drainase, pembuatan sumur bor, didesa ini masyarakat sangat diutungkan dengan adanya dana desa, sehingga masyarakat dapat sejahtera, tanpa ada yang membuat masyarakat terbebani.
American Public Works Association Stone 1974 dalam Kodoatie (2010:487), Infrastruktur adalah fasilitas-fasilitas fisik yang dikembangkan atau dibutuhkan oleh agen-agen publik untuk fungsi-fungsi pemerintahan dalam penyedian air, tenaga listrik, pembuangan limbah, transportasi dan pelayanan- pelayanan similar untuk memfasilitasi tujuan-tujuan ekonomi dan sosial.
Infrastruktur berperan penting sebagai mediator antara sistem ekonomi dan sosial dalam tatanan kehidupan manusia dan lingkungan. Kondisi itu agar harmonisasi kehidupan tetap terjaga dalam arti infrastruktur tidak kekurangan (berdampak pada manusia), tapi juga tidak berlebihan tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungan alam karena akan merusak alam dan pada akhirnya berdampak juga kepada manusia dan makhluk hidup lainnya.
Grigg 2000 dalam kodoatie (2010:487) Sistem infrastruktur didefinisikan sebagai fasilitas atau struktur dasar, peralatan, instalasi yang dibangun dan yang dibutuhkan untuk berfungsinya sistem sosial dan system ekonomi masyarakat, sistem infrastruktur merupakan pendukung utama sistem sosial dan sistem ekonomi dalam kehidupan masyarakat.
Pembangunan infrastruktur dilaksanakan berdasarkan kebutuhan dan tingkat kepentingan, sehingga diperlukan skala prioritas pembangunannya, ada yang cukup dilaksanakan sekali saja dengan perawatan yang berlanjut, namun juga ada yang sifatnya dinamis dan berpeluang berkembang. Dalam setiap pembangunan jenis infrastruktur tidak dapat terlepas begitu saja terhadap infrastruktur yang sudah ada, maupun kemungkinannya untuk rencana pengembangan kedepan, sehingga perlunya dibuat Rencana Umum Tata Ruang (RUTR), RUTR adalah acuan yang perlu dipahami dan secara konsisten harus dapat dilaksanakan sesuai yang ditetapkan. Pembangunan infrastruktur tentu didasarkan atas gagasan, maksud dan tujuan tidak saja bermanfaat untuk suatu golongan saja namun mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas. Tolok ukur keberhasilan pembangunan infrastruktur adalah sejauh mana pemanfaatan dan dampaknya terhadap dinamika pembangunan ekonomi masyarakat meningkat.
Peran pemerintahan Indonesia terhadap pembangunan infrastruktur sangatlah vital, karena pemerintahan Indonesia sendiri yang membuat perencanaan dan keputusan terhadap pembangunan di Indonesia. Selama ini yang menyebabkan pembangunan infratruktur di Indonesia terhambat adalah adanya
masalah-masalah internal yang terdapat didalam pemerintah Indonesia sendiri, contohnya adalah korupsi.
2.7 Hipotesis Kerja
Hipotesis kerja adalah proposisi yang disusun oleh peneliti untuk mengarahkan dan menganalisis tujuan penelitian. Hipotesis kerja ini merupakan hipoteses penelitian dari peneliti, yang dinyatakan secara operasional. Hipotesis penelitian adalah prediksi yang diturunkan dari teori yang akan diuji (noor, 2011 : 89). Oleh karena itu berdasarkan teori-teori yang telah dikemukakan diatas penulis merumuskan hipotesis kerja yaitu, implementasi dana desa dalam pembangunan infrastruktur desa munte, meliputi : (1) Pembangunan Infrastruktur didesa Munte diharapkan dapat meningkatkan perekonomian desa; (2) Memberikan masyarakat desa munte akses menuju lahan pertanian sehingga mempercepat proses kegiatan panen dan tanam (3) Meningkatkan produktivitas tanaman dan menjamin hasil tanaman masyarakat agar dapat diakses degan mudah dan cepat (4) pembangunan infrastruktur merupakan pembangunan yang tepat bagi maysarakat munte yang mayoritas adalah petani; (5) Implementor tercatat secara jelas dan transparan; (6) Jumlah masyarakat yang banyak dapat mendukung dari program dari segi SDM namun membutuhkan banyak sumber daya finansial untuk mengembangkan desa munte yang besar ; (7) pemerintah desa dapat mengorganisir dan mengontrol masyarakat dalam menjalankan kebijakan ; (8) transparan dan terpimpin; (9) masyarakat mendukung setiap kebijakan pemerintah desa.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Bentuk Penelitian
Bentuk yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif adalah metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran tentang suatu kegiatan secara objektif. Penelitian yang dimaksudkan untuk mengukur suatu fenomena sosial tertentu dengan mengembangkan konsep dan menghimpun data tetapi tidak melakukan pengujian hipotesa (Singarimbun, 1995:17).
Dalam penelitian ini, bentuk penelitian yang digunakan, yaitu pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara secara mendalam. Peneliti memilih penelitian ini karena penelitian kualitatif bersifat menyeluruh (holistic), dinamis dan menggeneralisasi.
3.2 . Fokus Penelitian
Fokus penelitian merupakan pemusatan fokus kepada intisari penelitian yang akan dilakukan, maka yang menjadi fokus penelitian dalam penelitian ini adalah Implementasi dana desa dalam pembangunan infrastruktur desa terutama dalam rangka pembangunan infrastruktur desa.
3.3. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di Desa Munte Kecamatan Munte Kabupaten Karo.
3.4. Informan Penelitian
Penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk membuat generalisasi dari penelitiannya. Oleh karena itu, pada penelitian kualitatif ini tidak dikenal adanya populasi dan sampel. Informan penelitian adalah implementor dari kebijakan yang memahami informasi objek penelitian sebagai pelaku maupun orang lain yang memahami objek penelitian.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan informan yang terdiri dari:
1. Informan Kunci adalah mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian atau informan yang mengetahui secara mendalam permasalahan yang diteliti. Dalam penelitian ini yang menjadi informan kunci adalah Kepala Desa serta Badan Pemerintahan Desa (BPD)
2. Informan Tambahan adalah orang-orang yang tidak terlibat secara langsung dalam persoalan penelitian namun mengetahui tentang masalah yang diteliti. Dalam penelitian ini yang menjadi informan tambahan adalah masyarakat di Desa Munte.
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini diperlukan data atau keterangan dan informasi. Untuk itu, penelitian menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1. Teknik Pengumpulan Data Primer
Teknik pengumpulan data primer, yaitu pengumpulan data yang diperoleh secara langsung pada saat melakukan penelitian di lapangan. Teknik
pengumpulan data primer dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen sebagai berikut:
a. Wawancara
Yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melakukan tanya jawab secara langsung antara peneliti dengan informan yang telah dijadikan sumber data. Sehingga akan diperoleh informasi yang berkaitan dengan penelitian.
b. Observasi
Yaitu teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap objek penelitian, kemudian mencatat gejala-gejala yang terjadi di lapangan untuk melengkapi data-data yang diperlukan sebagai acuan yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.
2. Teknik Pengumpulan Data Sekunder
Teknik pengumpulan data sekunder, yaitu pengumpulan data yang dilakukan melalui studi bahan-bahan kepustakaan yang diperlukan untuk mendukung data primer. Teknik pengumpulan data sekunder dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen sebagai berikut:
a. Studi Kepustakaan
Yaitu teknik pengumpulan data yang diperoleh dari buku-buku, karya ilmiah dan pendapat para ahli yang berkompetensi serta memiliki relevansi dengan masalah yang diteliti.
b. Studi Dokumentasi
Yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan catatan-catatan atau dokumentasi-dokumentasi yang ada di lokasi penelitian atau sumber-sumber lain yang terkait dengan objek penelitian
3.6. Teknik Analisis Data
Analisa data merupakan kegiatan mengelompokkan, membuat suatu urutan, memanipulasi serta menyingkatkan data sehingga mudah untuk membuat suatu deskripsi dari gejala yang diteliti. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisa kualitatif, yaitu dengan menyajikan data yang dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber data yang terkumpul, mempelajari data yang tersedia, menelaah, menyusunnya dalam satu satuan yang kemudian dikategorikan pada tahap berikutnya dan memeriksa keabsahan data serta menafsirkannya dengan analisis sesuai dengan kemampuan daya nalar peneliti untuk membuat kesimpulan penelitian (Moeleong, 2006:247). Terdapat beberapa langkah dalam melakukan analisis data, yaitu:
1. Reduksi Data
Reduksi data dilakukan dengan merangkum dan memfokuskan hal-hal yang penting tentang penelitian dengan mencari tema dengan pola hingga memberikan gambaran yang lebih jelas serta mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.
2. Penyajian Data
Bermakna sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan penarikan tindakan.
Penyajian data ini dilakukan dalam bentuk teks yang bersifat naratif, bagan dan dalam bentuk tabel.
3. Penarikan Kesimpulan
Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat pada tahap pengumpulan data berikutnya. Namun, apabila kesimpulan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.
BAB IV
DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
5.1 Sejarah Singkat Desa Munte
Desa Munte merupakan salah satu desa dari 22 desa yang terdapat dalam Kecamantan Munte. Terbentuknya Desa Munte pada tahu 1945 dengan nama peminpin desa ( Kepala Kampung) adalah:
1. Suang Milala ( Berdirinya Desa Munte) 2. T. Tarigan
3. N. Ketaren 4. Nunggal Ginting 5. Ir. Natanael Sembiring 6. Sahdin Milala
Hingga saat ini telah banyak pembangunan yang dilaksanakan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dalam Pelaksanaan Pembangunan.
Permasalahan telah banyak terselesaikan, tetapi karena perkembangan waktu, luas wilayah, jumlah penduduk, dukungan potensi, serta pemenuhan kebutuhan masyarakat, masih banyak program pembangunan yang harus dilaksanakan.
Desa Munte merupakan salah satu desa di Kecamatan Munte yang cukup besar di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatra Utara, dimana desa Munte memiliki luas wilayah ± (kurang lebih) 1.034 Ha. Dimana
jika dlihat secara geografis Desa Munte berbatasan dengan 4 wilayah yang dapat dilihat dari tabel berikut :
Tabel 4.1 Batas Wilayah Desa Munte
No Batas Desa/ Kelurahan Kecamatan
1 Sebelah utara Singgamanik Juhar
2 Sebelah selatan Parimbalang Munte
3 Sebelah timur Tanjung Beringin Munte
4 Sebelah barat Suka Babo Juhar
Sumber: RPJMDesMunte 2016
Dapat dilihat dari table tersebut desa Munte berbatasan dengan 4 desa yakni desa Singgamanik disebelah utara, desa Parimbalang disebelah selatan, desa Tanjung Beringin disebelah timur dan desa Sukababo disebelah barat. sehingga, desa Munte merupakan desa yang strategis letaknya karna berbatasan dengan dua kecamatan yaitu Kecamatan Munte dan Kecamatan Juhar
Secara Administratif, luas wilayah Desa Munte terdiri dari 6 Dusun yang masing-masing dipimpin oleh kepala Dusun. Tentu desa Munte merupakan desa dengan pemukiman warga yang cukup besar, tidak hanya itu desa Munte memiliki banyak sumber daya alam berupa lahan-lahan luas yang tentunya dimanfaatkan oleh masyarakat desa Munte sendiri.
4.2. Sumber Daya Alam
Topografis Desa secara umum termasuk daerah dataran tinggi, berbukit bergelombang, dan berdasarkan ketinggian wilayah Desa diklasifikasikan kepada dataran tinggai (>1000 m dpl). Dengan letak geografis yang baik desa Munte memiliki sumber daya alam yang
melimpah, hal tersebut juga dapat mendukung desa Munte menuju desa yang maju dalam sektor pertanian.
4.2.1 Pemanfaatan Lahan Desa Munte
Dengan luas wilayah yang cukup luas desa Munte memiliki wilayah yang dalam pemanfaatannya digunakan masyarakat Munte sebagai mata pencariannya. Dimana secara umum masyarakat desa Munte mayoritas memanfaatkan lahan sebagai sawah, ladang dan perkebunan dalam mengelolah sumber daya alamnya, dimana Penggunaan lahan Desa dapat dilihat pada table sebagai berikut :
Tabel 4.2.1 Pemanfaatan Lahan Desa Munte No. Penggunaan Lahan
Volume Satuan(Ha)
Lahan Sawah
1. Irigasi Teknis 5 Ha
2. Irigasi Setengah Teknis 6 Ha
3. Irigasi Sederhana Milik PU 512 Ha
4. Irigasi Non PU 11 Ha
Lahan Bukan Sawah
1. Pekarangan/Bangunan 36 ha
2. Tegal/Kebun 76 ha
3. Ladang/Huma 47 ha
4. Pengembalaan/Padang Rumput 5 ha
5. Sementara Tidak Diusahakan 7 ha
6. Ditanami Pohon/Hutan Rakyat 0 ha
7. Hutan Negara 0 Ha
8. Perkebunan 327 ha
9. Rawa-rawa 3 ha
10. Tambak 8 ha
11. Kolam/Empang 0 ha
12. Lahan Lainnya 1 Ha
Sumber: RPJMDesMunte2016
Melihat dari tabel kita bisa menyimpulkan pemanfaatan lahan desa Munte dapat di bagi menjadi 2 yaitu lahan sawah dan bukan sawah, dimana bisa kita lihat irigasi sederhana milik Pekerjaan Umum yang seluas 512Ha, dimana lahan sawah memperoleh saluran irigasi yang sederhana yang dibangun secara tidak permanen dan irigasinya dapat diatur. Dan lahan bukan sawah juga dimanfaatkan sebagai perkebunan, dimana dataran tinggi daerah kabupaten karo dikenal sebagai penghasil buah dan sayur-mayur yang berkualitas, tetapi desa Munte memiliki potensi dalam tanaman pangan, sehingga dari tabel pemanfaatan lahan desa kita bisa melihat sawah dan perkebunan merupakan pemanfaatan lahan utama didesa Munte.
4.2.2 Potensi Desa Munte
Secara umum Tipologi Desa Munte terdiri dari persawahan, perladangan, peternakan, perikanan yang sekaligus merupakan mata pencaharian masyarakat Munte, Topografis Desa secara umum termasuk daerah dataran tinggi, berbukit bergelombang, dan berdasarkan ketinggian wilayah Desa diklasifikasikan kepada dataran tinggai (>1000 m dpl).
Dengan ketinggian daerah tersebut masyarakat juga memanfaatkan lahan tidak hanya dari segi pertanian dan perkebunan, masyarakat Munte juga menghasilkan hasil ternak dan perikanan dalam jumlah yang tidak terbilang kecil, dimana bisa kita lihat potensi pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan yang ada didesa munte dari tabel berikut:
Tabel 4.2.2 Potensi Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Perikanan Desa Munte
No. Komoditas Satuan Volume
1. Tanaman Pangan Ton/Tahun
Padi 1424 534 Ha
Jagung 2616 327 Ha
Ubi kayu 1 1 Ha
Ubi Jalar 0 0
2. Buah-buahan Ton/Tahun
Pisang 65 15 Ha
Jeruk 59 6 Ha
Manggis 0,5 1 Ha
Pepaya 27 5 Ha
Pokat 18 6 Ha
Sirsak 6 4 ha
3. Perkebunan Ton/Tahun
Kelapa 7 3 Ha
Cokelat 28 18 Ha
Kopi 4 5 Ha
Tomat 12 3 Ha
Kacang Panjang 2 1 Ha
Terong 3 2 Ha
Cabe 5 3 Ha
Tembaku 25 20 Ha
Sayur Pait 40 7 Ha
Kembiri 8 3 Ha
4. Peternakan Ekor
Sapi 65 3 Ha
Bebek 400 1 Ha
Kerbau 97 4 Ha
Kambing 85 1 Ha
Ayam 1036 1 Ha
Babi 356 1 Ha
5. Perikanan Ton/Tahun
Empang - -
Keramba - -
Tambak 3 2 Ha
Sumber: RPJMDesMunte2016
Dari tabel tersebut dapat kita lihat desa Munte merupakan penghasil bahan pangan yang besar pertahunnya dimana menghasilkan 1.424Ton padi pertahun dan jagung 2.616Ton pertahun dan buah-buah seperti pisang, jeruk, pokat, sirsak
juga merupakan hasil dari pertanian di desa Munte. Dengan melihat tabel tersebut maka kita langsung dapat menyimpukan bahwah desa munte merupakan desa penghasil bahan pangan berupa Padi dan Jagung yang cukup besar, tidak hanya sektor pertanian masyarakat desa Munte termasuk peternak hewan seperti sapi, bebek, kerbau, kambing, babi, dan ayam dimana hasil peternakan masyarakat desa terbilang baik karna dapat menghasilkan hasil ternak sapi sebanyak 65 ekor, kambing 85ekor, babi 365 ekor, bebek 400 ekor dan ayam 1036 ekor yang di jual kepasar dan juga masyarakat Munte yang membutuhkan hasil peternakan tersebut.
4.2.3 Hasil Alam Desa Munte
Dari kondisi alam Desa Munte dapat diidentifikasi hasil Sumber Daya Alam yang dimiliki Desa dan merupakan salah satu potensi pembangunan di Desa. Hasil Indentifikasi Sumber Daya Alam dapat dilihat pada tabel 4.2.3 sebagai berikut :
Tabel 4.2.3 Hasil Alam Desa Munte
No. Uraian Sumber Daya Alam Satuan Volume
1. Material Batu Kali dan Kerikil M3 -
2. Pasir Urug M3 240
3. Lahan Tegalan Ha -
4. Lahan Hutan Ha -
5. Sungai Ha -
6. Tanaman Perkebunan Ton 134
7. Tanaman Pangan Ton 4041
8. Tanaman Buah-Buahan Ton 174,5 Sumber: RPJMDesMunte2016
Secara garis besar desa Munte memiliki penghasilan dari sumber daya alamnya pertahun seperti pasir urug yang didapat dari sungai yang dapat dijual sebesar 240 M3. Tanaman perkebunan yang menghasilkan 134Ton,
tanaman buah-buahan yang menghasilkan 174,5Ton dan hasil tanaman pangan yang merupakan hasil terbesar dari desa munte, dimana desa Munte dapat menghasilkan 4.041Ton tanaman pangan pertahunnya.
4.3. Sumber Daya Manusia Desa Munte
Sumber daya manusia suatu daerah tentu memberi pengaruh terhadap perkembangan daerah tersebut, desa Munte merupakan desa yang memiliki sumber daya manusia yang cukup besar terlebih dalam pembangunan infrastruktur desa tentu masyarakat desa Munte diharapkan dapat memberikan pengaruh positif terhadap pembangunan desa.
4.3.1 Penduduk dan Penghasilan Penduduk
Desa Munte merupakan desa yang besar dengan jumlah penduduk sebanyak 3.534 orang yang terdiri dari 1203 keluarga dengan sumber daya manusia yang banyak juga memberi potensi kepada desa munte sendiri berikut Data Sumber Daya Manusia dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 4.3.1 Data Penduduk dan Penghasilan Penduduk Desa Munte
No. Uraian Sumber Daya Manusia Jumlah
Satuan Penduduk dan Keluarga
1 Jumlah penduduk 3.534 Orang
2 Penduduk Laki-laki 1.326 Orang
3 Penduduk Perempuan 2.208 Orang
4 Jumlah Keluarga 1.203 Keluarga
Sumber Penghasilan Utama Penduduk
5 Pertanian, Perikanan, Perkebunan 1.425 Orang
6 Pertambangan dan Penggalian 0 Orang
7 Industri Pengolahan (Pabrik, Kerajinan dll.) 0 Orang 8 Perdagangan Besar/Eceran dan Rumah
Makan
67 Orang
9 Angkutan, Pergudangan, Komunikasi 36 Orang
10 Jasa 26 Orang
Sumber : RPJMDesMunte2016
Dari tabel 4.3.1 tersebut kita dapat melihat sumber daya manusia didesa Munte yang memiliki populasi 3.534 orang yang diantaranya 1326 laki-laki dan 2.208 adalah perempuan, dimana desa Munte terdiri dari 1.203 keluarga. Dimana terlihat jelas masyarakat desa Munte menafkahi keluarga mereka degang bekerja sebagai petani, berkebun, dan berternak dengan jumlah 1.425 orang. Sehingga dapat disimpulkan pendapatan masyarakat desa Munte adalah Bertani, berkebun dan berternak.
4.3.2 Mata Pencaharian
Desa yang besar dan jumlah penduduk yang besar, tentu masyarakat desa memiliki pekerjaannya sendiri untuk menafkahi keluarganya, mata pencaharian penduduk didesa Munte dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3.2 Mata Pencaharian Penduduk di Desa Munte No Mata Pencaharian Jumlah Orang
1 Karyawan 16 Orang
2 TNI/Polri 18 Orang
3 Swasta 24 Orang
4 Wiraswasta/pedagang 58 Orang
5 Petani 1.397 Orang
6 Tukang 88 Orang
7 Buruh Tani 66 Orang
8 Pensiunan 34 Orang
9 Peternak 28 Orang
10 Jasa 56 Orang
11 Pengrajin 14 Orang
12 Pekerja seni 16 Orang
Sumber : RPJMDesMunte2016
Dari tabel diatas dapat kita lihat Mata pencaharian masyarakat desa yang sangat jelas masyarakat desa munte mengandalkan pertanian dimana 1.397 orang bekerja sebagai petani untuk menafkahi keluarganya.
4.3.3 Tingkat Pendidikan
Adapun tingkat pendidikan masyarakat desa Munte dapat kita lihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3.3 Tingkat pendidikan Penduduk Desa Munte
No Pendidikan Jumlah Orang
1 Lulusan pendidikan Umum
2 Taman Kanak-kanak -
3 Sekolah Dasar/sederajat 277 orang
4 SMP/Sederajat 389 orang
5 SMA/Sederajat 1167 orang
6 Akademi/D1-D3 245 orang
7 Sarjana 162 orang
8 Pasca Sarjana 13 orang
Lulusan pendidikan khusus
9 Pondok Pesantren 12 orang
10 Pendidikan Keagamaan 8 orang
11 Sekolah Luar Biasa 2 orang
12 Kursus Keterampilan 15 orang
Tidak lulus dan tidak sekolah
13 Tidak lulus 56 orang
14 Tidak bersekolah 160 orang
Sumber : RPJMDesMunte2016
Dari tabel diatas dapat kita lihat tingkat pendidikan masyarakat desa Munte paling banyak berada di tingkat SMA, dan penduduk yang memiliki jenjang pendidikan Diploma 245orang dan Sarjana 162orang tentu merupakan jumlah yang cukup besar, tetapi desa Munte memiliki 160 orang penduduk yang tidak bersekolah dan 56 orang tidak lulus pendidikannya.
4.3.4 Sosial dan Budaya
Desa Munte prasana kelembagaan masyarakat dalam menunjang kegiatan sosial budaya dan mengontrol kegiatan sosial di desa Munte berikut uraian kelembagaan desa Munte
Tabel 4.3.4 Sumber Daya Sosial Budaya Desa Munte
No. Uraian Sumber Daya Sosial Budaya Satuan Jumlah 1. Kelembagaan
a. LPM
1) Jumlah pengurus Orang 29
2) Jumlah anggota Orang 319
b. Lembaga Adat Lembaga 1
c. TP PKK 1
1) Jumlah pengurus Orang 8
2) Jumlah anggota Orang 56
a. BUMDes
1) Jumlah Bumdes Buah 1
2) Jenis Bumdes Buah 1
b. Karang Taruna
1) Jenis Kegiatan Buah 1
2) Jumlah Pengurus Orang 35
3) Jumlah Anggota Orang 70
c. Dusun
1) Jumlah Dusun Buah 6
d. Lembaga Kemasyarakatan lainnya Buah 1 2. Trantib Dan Bencana
a. Jumlah Anggota Linmas Orang -
b. Jumlah Pos Kamling Buah -
c. Jumlah Operasi Penertiban Kali -
d. Jumlah Kejadian Kriminal -
1. Pencurian Kali 6
2. Perkosaan Kali -
3. Kenakalan Remaja Kali 5
4. Pembunuhan Kali -
5. Perampokan Kali -
6. Penipuan Kali -
e. Jumlah Kejadian Bencana Kali 1
f. Jumlah Pos Bencana Alam Pos -
g. Jumlah Pembalakan Liar Kali -
h. Jumlah Pos Hutan Lindung Pos -
3. Seni Budaya
a. Jumlah Group Kesenian Buah 4
b. Jumlah Gedung Kesenian Buah -
c. Jumlah Gelar Seni Budaya per
Tahun Kali 1
Sumber: RPJMDesMunte2016
Dari tabel tersebut dapat dilihat desa Munte memiliki lembaga pemberdayaan masyarakat yang aktif, juga PKK, BUMDes dan Karang Taruna, yang diharapkan membangun masyarakat desa Munte dari segi sosial dan Budaya.
4.4. Sumber Daya Pembangunan
Sumber Daya Pembangunan yang dimiliki Desa Munte yang merupakan salah satu potensi untuk pembangunan desa dapat kita dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.4 Sumber Daya Pembangunan Desa Munte
No. Uraian Sumber Daya Alam Jumlah Satuan 1. Kantor Desa 1 permanen 2. Prasarana Umum
a. Jalan 26 Km
b. Jembatan 5 Buah
c. Rabat Beton Gang 3 Km
3. Prasarana Pendidikan
a. Perpustakaan Desa - Buah
b. Gedung Sekolah PAUD 1 Buah
c. Gedung Sekolah TK - Buah
d. Taman Pendidikan Al Qur’an - Buah
e. Gedung SD/Sederajat 4 Buah
f. Gedung Sekolah SMP/Sederajat 1 Buah g. Gedung Sekolah SMA/Sederajat - Buah
h. Gedung Perguruan Tinggi - Buah
4. Prasarana Kesehatan
a. Puskesmas 1 Buah
b. Poskesdes 1 Buah
c. Posyandu 1 Buah
d. Polindes 1 Buah
e. MCK (Mandi,Cuci dan Kakus) 2 Buah
f. Sarana Air Bersih 2 Buah
4. Prasarana Ekonomi
a. Pasar Desa 1 Buah
b. Kios desa - Buah
5. Prasarana Ibadah
a. Mesjid 2 Buah
b. Mushola - Buah
c. Gereja 6 Buah
d. Pura - Buah
e. Vihara - Buah