• Tidak ada hasil yang ditemukan

Basa-basi dalam berbahasa antara keluarga bangsawan dan abdi dalem Kasultanan Yogyakarta.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Basa-basi dalam berbahasa antara keluarga bangsawan dan abdi dalem Kasultanan Yogyakarta."

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Surahmatwiyata. 2015. Basa-basi dalam Berbahasa antara Keluarga Bangsawan Kasultanan Yogyakarta dan Abdi dalem. Skripsi. Yogyakarta: PBSI, FKIP, USD.

Penelitian yang berjudul “Basa-Basi Dalam Berbahasa Antara Keluarga Bangsawan Kasultanan Yogyakarta Dan Abdi Dalem” ini membahas tentang wujud basa-basi berbahasa, penanda linguistik dan nonlinguistik serta maksud basa-basi berbahasa di ranah bangsawan. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan wujud basi berbahasa, penanda linguistik dan nonlinguistik, dan maksud basa-basi berbahasa antara Keluarga Bangsawan Kasultanan Yogyakarta dan Abdi Dalem. Subjek dalam penelitian ini adalah Keluarga Bangsawan Kasultanan Yogyakarta dan Abdi Dalem. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak dengan teknik catat dan rekam.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Pertama peneliti menemukan delapan wujud basa-basi berbahasa antara Keluarga Bangsawan Kasultanan Yogyakarta dan Abdi Dalem. Kedelapan wujud basa-basi tersebut ialah basa-basi menerima, basa-basi menolak, basa-basi berterimakasih, basa-basi meminta maaf, basa-basi memberi salam, basa-basi berbelasungkawa, basa-basi mengucapkan selamat, dan basa-basi mengundang. Kedua penanda linguistik yang ada di dalam percakapan diantaranya nada tutur yang rendah, tekanan sedang, intonasi berita, dan diksi bahasa nonstandar. Penanda nonlinguistik dapat dilihat berdasarkan situasi percakapan. Ketiga maksud basa-basi berbahasa antara Keluarga Bangsawan Kasultanan Yogyakarta dan Abdi Dalem adalah untuk memulai, mempertahankan atau mengukuhkan, menjalin relasi antara penutur dan mitra tutur, serta untuk menyampaikan berbagai maksud. Selain itu, basa-basi digunakan untuk mengkpresikan perasaan penutur terhadap suatu tuturan yang disampaikan oleh mitra tutur.

Kata kunci: basa-basi, acknowledgments, wujud basa-basi, penanda linguistik dan nonlinguistik maksud basa-basi

(2)

ABSTRACT

Surahmatwiyata.2015. Courtesy language Used by Noble Family and the Servant in

Yogyakarta Royal Palace. Thesis. Yogyakarta: PBSI, FKIP, USD.

This research entitled “Courtesy language used by Noble Family and the Servant in Yogyakarta Royal Palace”, was discussing about courtesy form in using language, linguistic and

non-linguistic sign, also the purpose of courtesy in using language in noble family environment of

Yogyakarta Royal Family and the servant. This research is descriptive qualitative. The technique

of collecting the data was observing method with taking some notes and recording technique.

The results of this research were First the researcher found 7 forms of courtesy in using

language Noble Family and the Servant in Yogyakarta Royal Palace. The seven form of courtesy

in using language are in receiving, rejecting, saying thank, saying sorry, greeting, saying

congratulation, and inviting. Second the researcher found linguistic signs inside the conversation

are the low intonation, middle pressure, news intonation, and standard diction. The

non-linguistic signs can be seen based on the conversation. Third the researcher conclude the aims of

Courtesy language used by Noble Family and the Servant in Yogyakarta Royal Palace are to start,

defend, or strengthen and to make the relation between both of the speakers, also to convey many

purposes. Beside of that, it is proved that courtesy in using language is used to express speaker’s

feeling about a conversation.

Key words: courtesy, acknowledgments, form of courtesy, linguistic and non-linguistic sign,

courtesy aim

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian yang mengulas mengenai peran abdi dalem keraton Kasunanan Surakarta dalam melakukan sosialisasi nilai-nilai Jawa kepada keluarga ini merupakan penelitian asli dan

[r]

[r]

nama ini diberikan kepada abdi dalem atas nama sultan yang diketahui dan ditandata- ngani oleh kepala bagian kerjanya (kawe- danan atau tepas) dan Parentah Hageng

Maksud basa-basi tuturan (A2) termasuk dalam subkategori mengucapkan salam. Penutur adalah seorang siswa kelas IX, sehingga ia belum mengetahui secara keseluruhan letak

untuk Tuturan yang tercetak tebal merupakan sudah bentuk basa-basi karena penutur mengatakan tuturan tersebut untuk memulai sebuah pembicaraan dengan mitra tutur.. Penutur tidak

nama ini diberikan kepada abdi dalem atas nama sultan yang diketahui dan ditandata- ngani oleh kepala bagian kerjanya (kawe- danan atau tepas) dan Parentah Hageng Kra-

Berdasarkan latar belakang perihal melestarikan tradisi abdi dalem perempuan di Keraton Yogyakarta yang merepresentasikan budaya Jawa, maka rumusan ide dalam