ii ABSTRAK
IMAM AHMAD MAULANA YUSUP, 2012. Keragaan Agroindustri Tahu Sumedang (Studi Kasus Pada Agroindustri Tahu Bungkeng). Di bawah bimbingan KUSWARINI KUSNO.
Kedelai merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang penting di Indonesia. Kedelai banyak digunakan sebagai bahan baku makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat Indonesia seperti tahu dan tempe. Tahu adalah ekstrak protein kacang kedelai dan merupakan salah satu makanan hasil olahan kedelai yang banyak digemari oleh masyarakat. Tahu sumedang adalah tahu yang dijajakan dalam bentuk sudah digoreng, tidak pong atau tidak kosong, dan masih berisi sari kedelai yang masih putih. Tahu sumedang mempunyai kulit luar yang berintik-bintik atau curintik (bahasa Sunda) yang khas membedakan dari jenis tahu lainnya. (Dadang Supriatna, 2005). Tahu Sumedang perlu diketahui keragaan agroindustri nya yang meliputi input/faktor produksi, pengolahan dan pemasaran serta analisis usaha agroindustrinya,
Penelitian dilakukan di Tahu Bungkeng di Kabupaten Sumedang. Desain Penelitian adalah deksriptif kualitatif dengan teknik penelitian studi kasus. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive karena agroindustri tersebut merupakan perintis pertama tahu sumedang dan termasuk usaha agroindustri skala besar untuk tahu sumedang. Rancangan Analisis data menggunakan analisis deskriptif.
Hasil Penelitian menunjukan Input produksi Tahu Bungkeng yakni bahan baku/kedelai dengan jenis varietas lokal seperti Wilis, yang bersumber dari Bandar di Bandung atau daerah produksi di Sumedang. Jumlah sebanyak 200 kg/perhari dan 10 kg/proses (gilingan) dengan hasil 6 ancak atau 600 tahu. Harga bahan baku Rp 5.500/kg. rendemen kedelainya adalah 0.8% atau 1.6 % kedelai/tahu atau 0.016 kg/tahu. Bahan penunjang diantaranya Air asli dari tanah sumedang dengan 45 liter air/proses. Asam penggumpal yang berasal dari hasil rendaman dengan jumlah 35 liter/proses. Bumbu yang diracik sendiri dan minyak goreng jenis minyak sawit dengan jumlah 40 kg/hari. Peralatan dan teknologi yang sederhana. Tenaga kerja sebanyak 25 orang. Untuk besaran jumlahnya modal tidak diketahui. aspek pengolahan Tahu Bungkeng terdiri dari pembuatan sari kedelai, penggumpalan dan pengendapan, pencetakan dan pengepresan, pemotongan dan penggorengan serta penyimpanan hingga pemasaran. Pemasaran Tahu Bungkeng yang terdiri 4P. Produk (Product) Tahu Bungkeng berkualitas yakni tidak kosong tengahnya dan masih padat berisi sari kedelai yang masih putih. Harga (Price) yang berlaku Rp 500. Tempat (Place) yang tersebar di 5 outlet di wilayah Kabupaten Sumedang Namun tidak ada promosi (promotion) khusus di Tahu Bungkeng. Analisis biaya menunjukan kontribusi ketiga aspek keragaan terhadap harga pokok produksi ( Rp 284/tahu) untuk aspek input produksi memberikan biaya terbesar sebesar Rp 188.9/tahu atau 66.5 % (Kedelai Rp 91.8 atau 32.34 % dan TK Rp 90.2 atau 31.8 %.) , kemudian aspek pengolahan Rp 59.2/tahu atau 20.9 dan pemasaran sebesar Rp 35.8/ tahu atau 12.6 %.
iii ABSTRACT
IMAM AHMAD MAULANA YUSUP, 2012. The Agroindustry Performance of Tahu Sumedang (Case Study of Agroindustry of Tahu Bungkeng). Supervised by KUSWARINI KUSNO.
Soybean is one of the important food crops in Indonesia. Soybean is widely used as a raw material in commonly consumed foods in Indonesia such as tofu/tahu and tempe. Tahu is a soybean protein extract and is one of soybean processed products that much favored by the people. Tahu Sumedang is served already fried, not "pong" or empty, and still contains white soya extract. Tahu Sumedang outer skin has spots or curintik (Sundanese) that distinguish its characteristic other kind of tofu (Dadang Supriatna, 2005). It is essential to identify the Performance of Tahu Sumedang including its agroindustry as well as the inputs/production factors, processing, marketing, and agroindustry business analysis.
The study was conducted in Tahu Bungkeng, Kabupaten Sumedang. The research design is a qualitative descriptive with case study technique. The location of the research was determined in purpose because it is a pioneer in Tahu Sumedang also categorized as a large-scale agro-enterprises. The design of data analysis uses descriptive analysis.
The result of the research shows that the input production of Tahu Bungkeng is local soybean variety like Wilis, which is sourced from collector in Bandung or production areas in Sumedang. The amount of soybeans is 200 kg/day and 10 kg/ milling process with the 6 rack or 600 Tahu. The raw material price is Rp 5.500/kg. Soybean yield is 0.8% or 1.6% soy/tahu or 0016 kg /tahu. The supporting materials include the original water from Sumedang with 45 liters of water/process. The clotting acid is derived from the immersion with a number of 35 liter/process. The seasonings are self-made and the type of oil is palm oil of 40 kg/day. The equipment and technology used is simple. The number of workforce is 25 people. The amount of capital is not known. Tahu Bungkeng processing aspect consists of making soy extract, clotting and precipitation, molding and pressing, slicing and frying, storage, and marketing. The marketing of Tahu Bungkeng consists of 4P. The product of qualified Tahu Bungkeng is not empty and still contain of white soya extract. The price is Rp 500. The place spreads over 5 outlets in Kabupaten Sumedang. However, there is no special promotion in Tahu Bungkeng. The cost analysis shows the contribution of three aspects of performance towards the production cost (Rp 284/tahu), for the aspects of production inputs provide the greatest cost of Rp 188,9/tahu or 66,5% (Soybean of Rp 91,8 or 32,34% and TK of Rp 90,2 or 31,8%), then the processing aspect of Rp 59,2/tahu or 20,9 and marketing of Rp 35,8/tahu or 12,6%.