• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI. A. Tinjauan Pustaka. 1. Perkebunan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI. A. Tinjauan Pustaka. 1. Perkebunan"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Perkebunan

Sejarah perkebunan tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan kolonialisme dan kapitalisme. Perkebunan pada awal perkembangannya hadir sebagai sistem perekonomian baru yang semula belum dikenal, yaitu sistem perekonomian pertanian komersial yang bercorak kolonial. Sistem perkebunan yang dibawa oleh pemerintah kolonial atau yang didirikan oleh korporasi kapitalis asing pada dasarnya adalah sistem perkebunan Eropa. Perkebunan sebagai sistem perekonomian pertanian baru telah memperkenalkan berbagai pembaharuan dalam sistem perekonomian pertanian yang membawa dampak perubahan penting terhadap kehidupan masyarakat tanah jajahan.

Sistem perkebunan di lndonesia diperkenalkan lewat kolonialisme Barat, dalam hal ini kolonialisme Belanda. Sejarah perkembangan perkebunan sebagai ekonomi yang menonjol sangat ditentukan oleh politik kolonial yang dijalankan pemerintah Belanda selaku negeri induk.

Pembukaan perkebunan menimbulkan lingkungan baru yaitu lingkungan perkebunan. Lingkungan perkebunan biasanya dibentuk oleh kesatuan lahan penanaman tanaman komoditi perdagangan, pusat pengolahan produksi dan komunitas pemukiman penduduk yang terlibat dalam kegiatan perkebunan.

Kehadiran komunitas perkebunan melahirkan lingkungan yang berbeda dengan lingkungan setempat, baik dari segi lokasi, tata ruang, ekologi, maupun organisasi sosial dan ekonomi. Secara topografis, perkebunan sering dibangun di daerah yang subur, baik yang ada di dataran rendah maupun yang ada di dataran tinggi.

Tanaman yang dibudidayakan adalah tanaman komoditi ekspor dan berbeda

(2)

dengan tanaman pertanian subsisten setempat. Bentuk dan orientasi lingkungan perkebunan lebih tertuju ke dunia luar, menjadikan lingkungan perkebunan seolah-olah terpisah dari lingkungan agraris setempat (Sartono Kartodirdjo dan Djoko Suryo, 1991: 7).

Dalam Kamus Besar Bahasa lndonesia (1996: 458), “perkebunan berhubungan dengan hal berkebun, perusahaan yang mengusahakan kebun-kebun, dan tanah-tanah yang dijadikan kebun”.

Pengertian dari perkebunan menurut Sartono Kartodirjo dan Djoko Suryo (1991: 4), adalah:

Perkebunan merupakan bagian dari sistem perekonomian pertanian komersial dan kapitalistik, diwujudkan dalam bentuk usaha pertanian dalam skala besar dan kompleks, bersifat padat modal, penggunaan areal pertanahan luas, organisasi tenaga kerja besar, pembagian kerja secara rinci, penggunaan tenaga kerja upahan, struktur hubungan kerja yang rapi dan penggunaan teknologi modern, spesialisasi, sistem administrasi dan birokrasi, serta penanaman tanaman komersial yang ditujukan untuk komoditi eksport di pasaran dunia.

Pendapat William J. O’ Malley seperti dikutip Anne Booth (1988:

198) mengenai konsep “perkebunan yang meliputi komponen seperti tanah, pekerja, modal, teknologi, skala, organisasi dan tujuan”.

Menurut Boeke dalam Soegijanto Padmo (1991: 4-5) bahwa

“perkebunan lebih menekankan pada aspek teknis dan efisiensi organisasi, dan hampir tanpa memperhitungkan penyediaan tenaga kerja atau masyarakat sekitarnya”.

Peter Salim dan Yenny Salim (1991: 680), mengatakan bahwa

“perkebunan adalah sesuatu yang berhubungan dengan tanah, kebun, dan perusahaan yang mengusahakannya”.

Dalam keputusan Mentri Pertanian Nomor 940/Kpts/OT.210/10/97, tentang Pedoman Kemitraan Usaha Pertanian, Usaha Perkebunan diartikan:

Kegiatan untuk melakukan usaha budidaya dan atau usaha industri perkebunan dalam bentuk perkebunan rakyat yang diusahakan oleh

(3)

perorangan di atas tanah hak milik atau hak guna dan perusahaan perkebunan yang dilakukan di atas lahan hak guna mulai dari pembibitan, penanaman, pengelolaan hasil sampai pemasarannya.

Menurut Yayasan Agroekologi (1983: 31), dalam suatu perkebunan, terdapat unsur pemerintah, swasta, rakyat, yang bekerja sama dalam mengolah perkebunan untuk memenuhi kebutuhan bersama.

Sistem perkebunan mempunyai dua sisi, di satu pihak, bagaimana perkebunan itu mengelola manajemen perkebunan agar memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Di sisi lain, dominasi perkebunan itu mendesak perekonomian tradisional yang merupakan soko guru kehidupan petani. Efisiensi manajemen merupakan kunci keberhasilan perkebunan, oleh karena itu sistem perkebunan menyangkut perluasan areal, produksi dan ekspor (Suhartono, 1995: 61).

Berdasarkan tanaman yang diusahakan (ditanam), perkebunan dapat dibedakan menjadi:

1. Perkebunan tebu 2. Perkebunan kopi 3. Perkebunan teh 4. Perkebunan coklat

5. Perkebunan rempah-rempah, seperti: perkebunan pala, perkebunan lada,dan lain-lain

6. Perkebunan karet

7. Perkebunan kelapa sawit 8. Perkebunan kina

9. Perkebunan tembakau, dan

10. Perkebunan kapas (Sartono Kartodirdjo dan Djoko Suryo, 1991:

135).

(4)

2. Kebijakan Pemerintah

a. Definisi Kebijakan Pemerintah

Kebijakan masuk dalam fungsi pengaturan, maka ada kecenderungan kuat untuk mengatur segala sesuatu. Di samping sebagai alat dasar yang mengatur agar ada pedoman dan arah kegiatan bermasyarakat, juga menjadi alat koreksi (Bintoro Tjokroamidjojo dan Mustopadidjaya A. R, 1988 : 77).

Di dalam praktek penyelenggaraan negara sehari-hari, dan dalam kaitannya dengan hubungan antara negara dengan rakyat nampaknya yang luput dari perhatian banyak khalayak umum adalah dimensi kebijakan pemerintah.

Kebijakan pemerintah adalah “bentuk nyata dari ruh negara, dan merupakan bentuk konkret dari proses persentuhan negara dengan rakyat”. (Fadillah Putra, 2001 : 2-3).

Kebijakan Pemerintah (Government Policy) menurut Bintoro Tjokroamidjojo et al (1988 : 111) adalah:

Setiap keputusan yang dilakukan oleh Pejabat Pemerintahan atau Negara atas nama instansi yang dipimpinnya dalam rangka melaksanakan fungsi umum pemerintahan ataupun pembangunan, guna mengatasi permasalahan tertentu atau mencapai tujuan tertentu, ataupun dalam rangka melaksanakan produk-produk keputusan atau peraturan perundangan yang telah ditetapkan, dan lazimnya dituangkan dalam bentuk aturan perundangan tertentu atau bentuk keputusan formal tertentu.

Kebijakan pemerintah itu sendiri sangat luas ruang lingkupnya, baik mengenai substansi (sosial, politik, ekonomi, dan administrasi negara) maupun strata (kebijaksanaan strategi, kebijaksanaan manajerial, dan kebijaksanaan operasional) dan status hukumnya (Undang-undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, lnstruksi Presiden, Keputusan Menteri).

Paradigma kebijakan pemerintah yang kaku dan tidak responsif akan menghasilkan wajah negara yang kaku dan tidak responsif pula. Demikian pula sebaliknya, paradigma kebijakan pemerintah yang luwes dan responsif akan

(5)

menghasilkan wajah negara yang luwes dan responsif pula. Untuk menuju paradigma kebijakan pemerintah yang luwes dan responsif (demokratik) itu maka perlu dikembangkan wacana baru dalam studi kebijakan pemerintah.

Sementara di lndonesia, wacana perubahan kebijakan, baik dalam studi maupun praktek kebijakan pemerintah tidak begitu tampak. Tidak mengherankan bila kemudian studi kebijakan pemerintah lebih dicap sebagai ilmu untuk kepentingan penguasa. Pada dasarnya studi kebijakan pemerintah berorientasi pada pemecahan masalah riil yang dihadapi di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, kebijakan pemerintah pada dasarnya merupakan ilmu terapan yang lebih berperan sebagai problem solver.

Berdasarkan pada bentuk kebijakan, maka peranan dari pemerintah dibagi dalam dua kelompok fungsional, yaitu :

1. Dalam rangka penyelenggaraan fungsi umum, seperti pemeliharaan keamanan dan ketertiban, pertahanan dan keamanan, mengadakan hubungan diplomatik, serta memungut pajak.

2. Dalam rangka penyelenggaraan fungsi pembangunan, seperti pembangunan bangsa (cultural and political development) serta pembangunan ekonomi dan sosial (economic and social development) (Bintoro Tjokroamidjojo et al, 1988 : 88-89 ).

b. Kebijakan Pemerintah Orde Baru dalam Sistem Sewa

Negara Republik lndonesia yang susunan kehidupan rakyatnya masih bercorak agraris, maka penting bagi pemerintah untuk membuat satu kebijakan di bidang agraria. Adanya kebijakan pemerintah di bidang agraria diharapkan dapat meningkatkan kemakmuran rakyat, terutama para petani. Hukum agraria yang dulu berlaku tersusun berdasarkan tujuan dan sendi-sendi dari pemerintah jajahan, yang mana sebagai akibat dari politik hukum pemerintahan jajahan yang bersifat dualisme, yaitu berlakunya peraturan-peraturan dari hukum adat dan hukum barat.

Hal tersebut jelas tidak sesuai dengan cita-cita persatuan bangsa lndonesia,

(6)

sehingga diperlukan hukum baru di bidang agraria. Dengan adanya hal tersebut, maka pada tanggal 24 September 1960 dibentuklah Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA).

Dengan mulai diberlakukanya UUPA, terjadi fundamental hukum agraria di lndonesia, terutama hukum di bidang pertanahan. UUPA sendiri berpangkal dari pasal 33 ayat 3 UUD’ 45, yang mana negara lndonesia bukan sebagai pemilik tanah, melainkan sebagai badan penguasa. Kata negara menguasai tanah berarti bahwa dalam hal pendayagunaan tanah, negaralah yang akan mengaturnya agar terjamin ketertiban dan ketenangan hidup bermasyarakat, kelestarian tanah dapat dipertahankan, dan tercegah dari segala bentuk pemerasan tanah (Mubyarto, 1992: 63).

Ada tiga golongan hak-hak agraria menurut Effendi Perangin, S. H (1994: 229-230), yaitu:

1. Hak atas tanah

Hak atas tanah adalah hak yang memberi wewenang kepada yang hak untuk mempergunakan atau mengambil manfaat dari tanah yang dimilikinya.

Pengelompokan hak-hak atas tanah:

a. Hak atas tanah yang bersifat tetap 1) Hak milik

2) Hak guna usaha 3) Hak guna bangunan 4) Hak pakai

5) Hak sewa tanah bangunan 6) Hak pengelolaan

b. Hak atas tanah yang bersifat sementara 1) Hak gadai

2) Hak usaha bagi hasil 3) Hak menumpang

4) Hak sewa tanah pertanian

(7)

2. Hak tanggungan

Hak tanggungan adalah hak hipotek dan hak credietverband.

3. Hak agraria lainnya

Hak agraria lainnya meliputi hak hak bangsa, hak menguasai dari negara, hak ruang angkasa, hak menguasai hutan, hak (kuasa) pertambangan.

Dalam UUPA, ketentuan mengenai sistem sewa diatur dalam pasal 44 dan pasal 45. Adapun bunyi dari pasal tersebut adalah sebagai berikut:

Pasal 44

1) Seseorang atau suatu badan hukum mempunyai hak sewa atas tanah, apabila ia berhak mempergunakan tanah milik orang lain untuk keperluan bangunan, dengan membayar kepada pemiliknya sejumlah uang sebagai sewa.

2) Pembayaran uang sewa yang dilakukan:

a. Satu kali atau pada tiap-tiap waktu tertentu.

b. Sebelum atau sesudah tanahnya dipergunakan.

3) Perjanjian sewa tanah yang dimaksudkan dalam pasal ini tidak boleh disertai syarat-syarat yang mengandung unsur-unsur pemerasan.

Pasal 45 Yang menjadi pemegang hak sewa adalah:

a. Warganegara lndonesia.

b. Orang asing yang berkedudukan di lndonesia.

c. Badan hukum yang didirikan menurut hukum lndonesia dan berkedudukan di lndonesia.

d. Badan hukum asing yang mempunyai perwakilan di lndonesia.

Menurut Wantjik Saleh yang dikutip oleh Soejono dan H.

Abdurrahman (1998: 52) memberi penjelasan secara singkat beberapa hal berkenaan dengan hak sewa sebagai berikut :

Hak sewa merupakan hak pakai yang mempunyai sifat-sifat khusus, maka disebut tersendiri. Sifat-sifat khusus yang dimaksud adalah adanya kewajiban penyewa membayar uang sewa kepada pemilik tanah, yang dilakukan satu kali atau pada tiap-tiap waktu, baik sebelum maupun sesudah tanah yang disewanya itu dipergunakan.

(8)

Menurut Hasan Wargakusuma yang dikutip oleh Soejono et al (1998:

53), mendefinisikan hak sewa sebagai berikut:

Hak sewa adalah hak mempergunakan tanah milik orang lain untuk suatu keperluan dengan membayar kepada pemiliknya sejumlah uang sebagai sewa hak memberi wewenang untuk memakai atau mempergunakan tanah yang bukan miliknya sendiri dan dapat dikelompokkan sebagai hak pakai.

Apabila pada periode perkebunan besar dan periode Orde Lama, masalah pertanahan masih diwarnai oleh masalah “penyakit lapar tanah” dan konflik yang melibatkan petani tuna kisma melawan memilik tanah luas, maka pada masa Orde Baru masalah pertanahan tidak lagi diwarnai oleh masalah lapar tanah dan konflik antara petani tuna kisma dan petani yang memiliki tanah yang luas. Namun hal itu tidak berarti bahwa masalah pertanahan sudah tidak ada lagi.

Masalah pertanahan justru muncul dalam frekwensi yang lebih banyak, namun dengan alasan yang berbeda. Pada periode Orde Baru, yang terlibat dalam konflik pertanahan adalah pihak pemilik tanah melawan para memilik modal dan pemerintah sebagai penyelenggara pembangunan. Yang menarik dalam masalah pertanahan pada masa Orde Baru adalah kedudukan dan peran yang dipegang oleh pemerintah. Apabila pada periode sebelumnya pemerintah sangat netral dan berfungsi sebagai hakim dalam setiap masalah pertanahan yang muncul, maka pada masa Orde Baru, pemerintah merupakan pihak yang aktif terlibat dalam masalah pertanahan, karena fungsi pemerintah sebagai penyelenggara pembangunan (Mubyarto, 1992: 198-199).

3. Ajon-Ajon

a. Definisi Ajon-Ajon

Dalam Kamus Besar Bahasa lndonesia (1989: 13), “ajon-ajon berasal dari kata maju ataupun dimajukan. Kemungkinan lain adalah maju atau mengajukan, yang berarti membawa kedepan dari waktu yang telah ditentukan”.

(9)

Dalam buku Bausastra Jawa (S. Pawiro Atmodjo, 1994: 10) , yang dimaksud dengan ajon-ajon adalah sebagai berikut:

Ajon-ajon mempunyai arti undhakan atau tambahan tumrap totohan, pangganyang, lan sak piturute (kenaikan atau tambahan terhadap taruhan, penguasaan, dsb), sedangkan arti dari diajoni (dengan kata dasar ajon ditambah awalan di- dan akhiran i-) adalah di undhaki tohe (ditambahi taruhannya).

Menurut Karsono H. P selaku sekertaris desa Gayamprit (wawancara pada tanggal 23 Januari 2007), mengatakan bahwa “ajon-ajon itu sama dengan mengajukan, maksudnya belum waktunya diberi uang sewa sudah minta uang dulu”.

Menurut Hari Prasetya selaku kepala PT. Perkebunan Nusantara X Klaten (wawancara pada tanggal 22 Februari 2007), menyatakan bahwa yang dimaksud “ajon-ajon adalah uang muka yang diberikan oleh pihak perkebunan kepada petani sebagai ikatan hubungan antara keduanya (petani dan pihak perkebunan)”.

Pengertian ajon-ajon menurut Sukadiyana (2002: 91) adalah “uang tambahan yang diberikan kepada pemilik tanah yang menyerahkan sawahnya sebelum waktu yang diminta oleh pihak pengelola, dalam hal ini adalah perusahaan perkebunan tembakau.”

b. Munculnya Ajon-Ajon

Pada awal pelaksanaan UUPA, banyak dikeluarkan peraturan- peraturan pelaksanaan yang penting. Diantaranya adalah Undang-Undang Nomor 38 tahun 1960 tentang penggunaan dan penetapan tanah untuk tanaman-tanaman tertentu. Ditetapkannya peraturan itu bermula dari adanya gejala bahwa tanaman- tanaman perkebunan seperti tebu dan tembakau kesulitan memperoleh tanah sewaan. Undang-Undang Nomor 38 tahun 1960 yang kemudian menjadi Undang- Undang Nomor 20 tahun 1964 pada hakikatnya memberi wewenang kepada

(10)

pemerintah untuk menetapkan daerah-daerah bagi tanaman tertentu termasuk dengan memberikan sanksi pidana kepada mereka yang tidak mentaatinya (Mubyarto, 1992: 63).

Adanya hal itu menyebabkan pemilik tanah di daerah-daerah yang telah ditunjuk oleh pemerintah untuk menanam tembakau tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyerahkan tanah miliknya untuk tanaman yang telah ditetapkan tersebut saat mendapat giliran. Dalam pelaksanaan selanjutnya, ternyata keadaan areal tanaman tembakau Klaten dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Keadaan ini disebabkan karena uang sewa tanah yang diberikan oleh pemerintah dirasakan oleh para petani terlalu sedikit bila dibandingkan dengan hasil tanaman padi atau palawija dalam jangka waktu yang sama, sehingga minat petani untuk menyediakan tanahnya bagi tanaman tembakau juga berkurang (Mubyarto, 1992: 64).

Semakin kecil ketergantungan petani terhadap perusahaan tembakau, menyebabkan ketidakseimbangan dalam pengelolaan perusahaan tembakau.

Faktor penentu bagi keberhasilan industri perkebunan adalah tersedianya tanah dan tenaga kerja yang memadai. Pengabaian pada salah satu faktor tersebut bisa menjadi malapetaka yang meruntuhkan kelangsungan industri perkebunan (Edi Cahyono, 1991: 9).

Untuk menanggulangi adanya keterlambatan penyerahan tanah petani kepada pihak perkebunan, maka diberlakukannya ajon-ajon. Gejala munculnya pemberian uang ajon-ajon bersamaan dengan diberlakukannya sistem sewa pada tahun 1970. Ajon-ajon merupakan cara yang ditempuh oleh pihak perkebunan dalam rangka memperlancar proses produksi tembakau. Cara ini digunakan oleh pihak perkebunan guna merangsang petani agar menyerahkan tanahnya lebih awal dari dimulainya proses produksi. Perkebunan tidak ingin mengalami kerugian hanya karena terlambatnya penyerahan tanah oleh petani kepada pihak perkebunan.

(11)

4. Perubahan Sosial

Pada setiap masyarakat, dalam hidupnya pasti akan mengalami suatu perubahan. Perubahan itu akan dapat diketahui apabila dilakukan perbandingan, artinya adalah dengan menelaah keadaan suatu masyarakat pada waktu tertentu kemudian membandingkannya dengan keadaan masyarakat itu pada masa yang lalu. Perubahan dalam masyarakat pada prinsipnya merupakan suatu proses yang terus menerus, artinya bahwa setiap masyarakat pada kenyataannya akan mengalami perubahan itu, akan tetapi perubahan antara masyarakat yang satu dengan yang lain tidak selalu sama, ada masyarakat yang mengalaminya lebih cepat bila dibandingkan dengan masyarakat yang lainnya (Soleman b. Taneko, SH, 1984: 133)

Kingsley Davis mengartikan “perubahan sosial sebagai perubahan- perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat”. Mac lver mengatakan bahwa “perubahan-perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan dalam hubungan sosial (social relationships) atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial”. Gillin dan Gillin mengatakan

“perubahan-perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat”. Secara singkat Samuel Koenig mengatakan bahwa “perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia”. Definisi lain adalah dari Selo Soemardjan, yaitu “perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan pola perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat” (Soerjono Soekanto, 1990: 335-337).

Berdasarkan teori Comte yang berasal atau bersumber pada ajaran- ajaran Saint Simon dan Condorcet yang dikutip oleh Soerjono Soekanto (1983:

(12)

18), menjelaskan bahwa “perubahan sosial sebagai hasil perkembangan intelektual manusia yang diformulasikan dalam hukum tiga tahap law of three stages yang merupakan perkembangan dari cara-cara berpikir teologis, melalui

cara berpikir metafisis ke cara berpikir positif yang diwakili oleh ilmu pengetahuan modern”.

Perubahan sosial menyangkut perubahan proses-proses sosial atau mengenai susunan masyarakat (Soekandar Wiriaatmadja, 1973: 126). “Perubahan sosial merupakan perubahan dalam segi struktur sosial, yang meliputi perubahan dalam segi distibusi kelompok usia, tingkat pendidikan rata-rata, tingkat kelahiran penduduk, penurunan kadar rasa kekeluargaan dan informalitas antar tetangga”

(Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, 1989: 208). “Perubahan sosial yaitu setiap perubahan yang terjadi dalam struktur masyarakat atau perubahan dalam organisasi sosial masyarakat” (Bruce J. Cohen, 1983: 453). Perubahan sosial ialah perubahan atau pergeseran dalam struktur sosial masyarakat, yang biasanya terjadi dalam jangka lama (Bruce J. Cohen, 1983: 471).

Dalam suatu perubahan terdapat beberapa faktor yang mendorong ataupun faktor yang menghambat suatu perubahan. Untuk itu akan dibahas mengenai faktor yang mendorong ataupun faktor yang menghambat suatu perubahan menurut Soerjono Soekanto (1990: 361-366) sebagai berikut :

1. Faktor-faktor yang mendorong jalanya proses perubahan.

1) Kontak dengan kebudayaan lain.

Salah satu proses yang menyangkut hal ini adalah diffusion. Difusi adalah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari individu kepada individu lain, dan dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Proses difusi dapat menyebabkan lancarnya proses perubahan, karena difusi memperkaya dan menambah unsur-unsur kebudayaan, yang sering kali memerlukan perubahan-perubahan dalam lembaga-lembaga kemasyarakatan.

2) Sistem pendidikan formal yang maju.

(13)

Pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia, terutama dalam membuka pikirannya serta menerima hal-hal baru dan juga bagaimana cara berpikir secara ilmiah.

3) Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju.

Apabila sikap tersebut melembaga, maka masyarakat akan merupakan pendorong bagi usaha-usaha penemuan baru.

4) Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang (deviation), yang bukan merupakan delik.

5) Sistem terbuka lapisan masyarakat (open stratification).

Sistem terbuka memungkinkan adanya gerak sosial vertikal yang luas atau berarti memberi kesempatan kepada para individu untuk maju atas dasar kemauannya sendiri.

6) Penduduk yang heterogen.

7) Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu.

Ketidakpuasan yang berlangsung terlalu lama dalam sebuah masyarakat, berkemungkinan besar akan mendatangkan revolusi.

8) Orientasi kemasa depan.

9) Nilai bahwa manusia harus senantiasa berikhtiar untuk memperbaiki hidupnya.

2. Faktor-faktor yang menghambat terjadinya perubahan.

1) Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain.

Kehidupan terasing menyebabkan sebuah masyarakat tidak mengetahui perkembangan-perkembangan apa yang terjadi pada masyarakat lain yang mungkin akan dapat memperkaya kebudayaannya sendiri.

2) Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat.

Hal ini disebabkan hidup masyarakat tersebut terasing dan tertutup.

3) Sikap masyarakat yang sangat tradisional.

(14)

Sikap yang mengagung-agungkan tradisi dan masa lalu, menghambat jalanya proses perubahan.

4) Adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam dengan kuat atau vested interests.

5) Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan.

Unsur-unsur luar dikhawatirkan akan menggoyahkan integrasi dan menyebabkan perubahan-perubahan pada aspek-aspek tertentu.

6) Prasangka terhadap hal-hal baru atau asing atau sikap yang tertutup.

7) Hambatan-hambatan yang bersifat ideologis.

8) Adat atau kebiasaan.

9) Nilai bahwa hidup ini pada hakikatnya buruk dan tidak mungkin diperbaiki.

Sementara itu Moors menyebutkan karakteristik perubahan sosial adalah sebagai berikut:

1. Perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat merupakan gejala yang normal dan relatif spontan.

2. Oleh karena perubahan-perubahan yang terjadi di mana-mana akibat yang ditimbulkan juga terjadi dimana-mana, maka perubahan tersebut mempunyai basis yang berganda.

3. Perubahan yang direncanakan ataupun yang terjadi sebagai akibat dari proses inovasi yang disengaja proporsinya lebih besar.

4. Ruang lingkup dari teknologi dan strategi sosial menjadi sangat luas dan penyebarannya pun berlangsung dengan cepat sehingga mempunyai akibat luas dan bersifat komulatif.

Perubahan sosial juga membutuhkan saluran perubahan yang ada dalam masyarakat dan berfungsi untuk mengatur jalannya kehidupan masyarakat.

Saluran utama dalam perubahan sosial adalah lembaga kemasyarakatan.

Perubahan lembaga kemasyarakatan tertentu akan diikuti oleh perubahan pada lembaga sosial lainnya. Adanya sistem sewa yang diterapkan pada perkebunan

(15)

tembakau di Klaten, menyebabkan terjadinya perubahan sosial maupun ekonomi pada masyarakat Klaten khususnya desa Gayamprit. Perubahan itu dapat bersifat positif maupun bersifat negatif.

B. Kerangka Berpikir

Kebijakan Pemerintah Orde Baru

Pelaksanaan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA)

Perkebunan tembakau

Sistem sewa

Ajon-ajon

Perubahan masyarakat

Dibidang sosial

Dibidang ekonomi

(16)

Keterangan:

Kebutuhan perkebunan dalam mengusahakan tanaman tembakau terletak pada tersedianya tanah. Tersedianya tanah yang luas dan subur serta tidak diselingi oleh tanaman lain semakin memperlancar kinerja perkebunan. Untuk itu, pihak perkebunan dengan bantuan dari pemerintah melakukan beberapa perubahan. Barulah pada masa Pemerintahan Orde Baru kondisi perkebunan mulai menunjukkan lagi perkembangan yang berarti.

Pemerintahan Orde Baru pada tahun 1969 dalam rangka menanggulangi memburuknya kondisi perkebunan melakukan perubahan-perubahan, dibidang struktur organisasi, efisiensi, dan produksi. Salah satu kebijakan dari pemerintah dalam menanggulangi memburuknya kondisi perkebunan adalah dengan diberlakukannya sistem sewa, yang merupakan pelaksanaan dari Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA). Sistem sewa disini pengertiannya bahwa salah satu pihak (perkebunan) membutuhkan tanah guna suatu usahanya dan dipihak lain yang mempunyai tanah (petani) yang dibutuhkan tersebut dengan imbalan jasa pada tanah tersebut dengan tidak merugikan salah satu pihak dan saling menguntungkan dalam suatu kerjasama.

Dalam pelaksanaan selanjutnya, ternyata keadaan areal tanaman tembakau Klaten dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Keadaan ini disebabkan karena uang sewa tanah yang diberikan oleh pemerintah dirasakan oleh para petani terlalu sedikit bila dibandingkan dengan hasil tanaman padi atau palawija dalam jangka waktu yang sama, sehingga minat petani untuk menyediakan tanahnya bagi tanaman tembakau juga berkurang. Keadaan itu juga didukung dengan munculnya padi jenis unggul dan semakin majunya teknologi produksi padi pada tahun 1970-an yang secara nyata telah meningkatkan pendapatan petani dan mengakibatkan semakin kecil ketergantungan mereka kepada perusahaan perkebunan.

Semakin kecil tingkat ketergantungan petani terhadap perusahaan tembakau, menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan dalam pengelolaan

(17)

perusahaan tembakau. Untuk memperlancar proses produksi tembakau, maka pihak perkebunan melakukan suatu cara untuk merangsang petani agar bersedia menyewakan tanahnya pada pihak perkebunan. Cara yang ditempuh oleh perkebunan adalah dengan menerapkan ajon-ajon. Ajon-ajon merupakan uang tambahan yang diberikan oleh perkebunan kepada petani apabila menyerahkan tanahnya sebelum waktu yang diminta oleh pihak perkebunan. Sehingga pada saat petani menerima uang sewa, petani juga berhak menerima ajon-ajon apabila sesuai dengan ketentuan.

Ditetapkannya peraturan itu bermula dari adanya gejala bahwa tanaman-tanaman perkebunan seperti tembakau kesulitan memperoleh tanah sewaan. Gejala munculnya pemberian uang ajon-ajon bersamaan dengan diberlakukannya sistem sewa pada tahun 1970. Jika petani telah menerima ajon- ajon, maka pengelolaan tanah berpindah kepada pihak perkebunan, walaupun status kepemilikannya tetap. Dengan adanya ajon-ajon dalam sistem sewa, membawa dampak pada kehidupan petani di Klaten, baik dampak sosial maupun dampak ekonomi.

Referensi

Dokumen terkait

Dari tiga kali hasil running pada kota L dengan 30 generasi didapatkan tiga nilai presentase coverage dengan tiga konfigurasi penempatan pemancar SFN yang berbeda-beda

Sesuai dengan hasil perhitungan prosentase di atas dapat disimpulkan bahwa aktifitas belajar siswa di kelas kontrol pada materi agama Islam di SMA Al-Bakriyah Lomaer Blega

Namun, hal ini tidak mengecualikan kemungkinan bahawa tumpahan yang besar atau kerap boleh membawa kesan memudaratkan atau merosakkan kepada alam sekitar. Keberterusan /

Sementara untuk tujuan makalah ini adalah merancang Sinkronisasi dan CS pada audio watermarking, menganalisis kualitas audio yang sudah disisipkan watermark dibandingkan

7) Kepada Masyarakat Kelurahan Tegal Sari Mandala II Medan yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk mengisi kuesioner sehingga skripsi ini bisa selesai. 8) Kepada

(9) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (4) huruf i yaitu pemanfaatan kawasan peruntukan lain

Menurut Latainer dalam Sutrisno (2011:87) mengartikan disiplin sebagai suatu kekuatan yang berkembang di dalam tubuh karyawan dan menyebabkan karyawan dapat

Hasil Konfigurasi teroptimal yang didapat yaitu tanpa menggunakan wind turbin dikarenakan selain biaya modal untuk membangun wind turbin yang lebih besar, penyebab lainnya