I
RENCANA STRATEGIS 2015-2019 BPS KABUPATEN TANA TIDUNG
No. Publikasi : 65030.1501 Katalog BPS : 1201005.6503 Ukuran Buku : 17,6 cm x 25,0 cm Jumlah Halaman : IX + 73 Halaman Naskah/ Penyunting/ Gambar Kulit :
Badan Pusat Statistik Kabupaten Tana Tidung Tim Penyusun :
Ketua : Yuda Agus Irianto,S.Si Anggota :
Karno, SE
Nurin Ainistikmalia, SST Fadlan, SST
Hari Afdani, S.Si Meliya Indri Sari, S.Si
Design Lay Out : Seksi IPDS
Diterbitkan Oleh :
Badan Pusat Statistik Kabupaten Tana Tidung
II
Kata Pengantar
Undang-undang No. 16 tahun 1997 dan Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 1999, menyatakan bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) adalah institusi pemerintah yang memiliki kewenangan melakukan kegiatan statistik berupa sensus dan survei, untuk menghasilkan data dan statistik yang dibutuhkan baik oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat pada umumnya.
Sebagai rujukan dalam perencanaan, pemantauan, dan evaluasi terhadap hasil-hasil pembangunan, penyediaan data statistik yang berkualitas menjadi sangat menentukan karena akan berdampak kepada efektivitas pengambilan keputusan yang dilakukan. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan yang baik untuk menentukan arah kebijakan dan strategi yang tepat dalam mencapai tujuan dan mewujudkan visi BPS sebagai Pelopor Data Statistik Terpercaya Untuk Semua.
Rencana Strategis Badan Pusat Statistik (Renstra BPS) Kabupaten Tana Tidung Tahun 2015–2019 disusun untuk mendukung pemerintah dalam menyiapkan penyusunan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) ketiga dalam periode 2015–2019. Selanjutnya, Renstra BPS Kabupaten Tana Tidung Tahun 2015–2019 ini akan disesuaikan dengan visi dan misi Presiden terpilih periode 2015–2019, untuk menjadi Renstra BPS Kabupaten Tana Tidung Tahun 2015–2019, yang kemudian dijadikan sebagai pedoman dalam pembangunan di bidang statistik selama lima tahun ke depan.
Bagi semua pihak yang telah berpartisipasi mewujudkan Renstra BPS Kabupaten Tana Tidung Tahun 2015–2019 disampaikan penghargaan dan terima kasih atas segala masukan dan sumbangan pemikiran hingga tersusunnya Renstra BPS Kabupaten Tana Tidung Tahun 2015–2019.
Semoga dokumen perencanaan ini bemanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.
Tideng Pale, Juni 2015 Kepala BPS Kabupaten Tana Tidung,
Yuda Agus Irianto, S.Si
III
Ringkasan Eksekutif
Undang-undang No. 16 tahun 1997 dan Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 1999, menyatakan bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) adalah institusi pemerintah yang memiliki kewenangan melakukan kegiatan statistik berupa sensus dan survei, untuk menghasilkan data statistik yang dibutuhkan baik oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat pada umumnya, sebagai rujukan dalam perencanaan, pemantauan, dan evaluasi terhadap hasil-hasil pembangunan. Oleh karena itu, penyediaan data statistik yang berkualitas menjadi sangat menentukan karena akan berdampak kepada efektivitas pengambilan keputusan yang dilakukan.
Untuk membangun perstatistikan di Indonesia maupun secara internasional BPS menetapkan visi “Pelopor Data Statistik Terpercaya untuk Semua”. Upaya untuk mencapai dan merealisasikan visi tersebut maka ditetapkan misi sebagai berikut :
1. Menyediakan data statistik berkualitas melalui kegiatan statistik yang terintegrasi dan berstandar nasional maupun internasional,
2. Memperkuat Sistem Statistik Nasional yang berkesinambungan melalui pembinaan dan koordinasi di bidang statistik,
3. Membangun insan statistik yang profesional, berintegritas, dan amanah untuk kemajuan perstatistikan.
Melalui pernyataan visi dan misi tersebut, BPS memiliki aspirasi untuk mencapai sejumlah tujuan strategis di tahun 2019, yaitu:
1. peningkatan kualitas data statistik melalui kerangka penjaminan kualitas;
2. peningkatan pelayanan prima hasil kegiatan statistik;
IV 3. penguatan Sistem Statistik Nasional melalui koordinasi dan pembinaan
yang efektif di bidang statistik; dan
4. peningkatan birokrasi yang akuntabel. Tujuan strategis ini mencerminkan fokus perubahan yang akan dilakukan oleh BPS dalam periode Renstra 2015–2019, yakni bahwa BPS berupaya terus-menerus untuk meningkatkan: (1) kualitas dari produk yang dihasilkannya (data stastistik); (2) kualitas dari pelayanan untuk mendiseminasi data statistik kepada penggunanya; (3) efektifitas di dalam melakukan pembinaan dan koordinasi kegiatan statistik; dan (4) kualitas dari proses tata kelola (governance) di dalam organisasinya. Keseluruhan tujuan strategis tersebut kemudian dijabarkan lebih lanjut ke dalam 9 sasaran strategis, yang masing-masing memiliki target indikator untuk mengukur keberhasilan dari sasaran strategis yang telah ditetapkan.
Pelaksanaan kegiatan untuk mencapai tujuan dan sasaran strategis diwadahi dalam sejumlah program, yakni:
1. Program Penyediaan dan Pelayanan Informasi Statistik (PPIS);
2. Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya BPS (DMPTTL); dan
3. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur BPS (PSPA).
Pada akhirnya, seluruh penjabaran tujuan serta sasaran strategis dalam Renstra BPS Kabupaten Tana Tidung 2015–2019 tersebut akan menjadi pedoman bagi BPS untuk mewujudkan visinya sebagai pelopor data statistik terpercaya untuk semua.
V
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... II Ringkasan Eksekutif... III DAFTAR ISI ... V DAFTAR TABEL ... VII DAFTAR SINGKATAN ... VIII
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Kondisi Umum ... 1
1.2 Potensi dan Permasalahan ... 4
BAB 2 VISI dan MISI BPS ... 8
2.1 Visi ... 8
2.2 Misi ... 10
2.3 Tujuan ... 15
2.4 Keterkaitan Tujuan dan Misi ... 16
2.5 Sasaran Strategis ... 20
2.6 Nilai-Nilai Inti ... 23
BAB 3 ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI, KERANGKA REGULASI, Dan KELEMBAGAAN ... 26
3.1 Arah Kebijakan dan Strategi ... 26
Pemerintah Daerah Tana Tidung ... 26
3.2 Arah Kebijakan dan Strategi ... 50
BPS Kabupaten Tana Tidung ... 50
3.3 Program dan Kegiatan ... 53
3.4 Kerangka Regulasi dan Kelembagaan ... 58
BAB 4 TARGET KINERJA dan PENDANAAN ... 63
VI
4.1 Target Kinerja ... 63
4.2 Kerangka Pendanaan ... 69
BAB 5 Penutup ... 71
Daftar Pustaka ... 73
VII
DAFTAR TABEL
TabeL 1. Visi dan Misi ... 11
Tabel 2. Tujuan yang akan dicapai ... 16
Tabel 3. Tujuan dan Target ... 19
Tabel 4. Tujuan dan sasaran Strategis Teknis ... 20
Tabel 5. Keterkaitan Tujuan, Sasaran Strategis, Arah Kebijakan, dan Strategi .. 54
Tabel 6. Indikator Kinerja Sasaran Strategis dan Target Kinerja 2015 - 2019 .... 64
Tabel 7. Matriks Kerangka Pendanaan program/kegiatan BPS ... 70
VIII
DAFTAR SINGKATAN
BMN Barang Milik Negara
BPK Badan Pemeriksa Keuangan
BPS Badan Pusat Statistik
BPS-QAF Badan Pusat Statistik-Quality Framework Assurance Cerdas Change and Reform for the Development of
Statistics
DJKN Direktorat Jenderal Kekayaan Negara IKSS Indikator Kinerja Sasaran Strategis
IKP Indikator Kinerja Program IKK Indikator Kinerja Kegiatan
JFU JabatanFungsional Umum
JFT Jabatan Fungsional Tertentu
K/L Kementerian/Lembaga
KemenPAN dan RB Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
LAKIP Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Program DMPTTL Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan
Tugas Teknis Lainnya
Program PPAA Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur
Program PPIS Program Penyediaan dan Pelayanan Informasi Statistik
Program PSPA Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur
RPJMN Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional RPJPN Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional SDG’s Sustainable Development Goals
SDM Sumber Daya Manusia
SE Sensus Ekonomi
SIMPEG Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian
SNA System National Account
IX SSN Sistem Statistik Nasional
Statcap Statistical Capacity Building UNSTAT United Nations Statistics Division
WTP Wajar Tanpa Pengecualian
1
BAB 1
PENDAH ULUANPENDAHULUAN
1.1 Kondisi Umum
Perencanaan merupakan titik awal untuk menentukan arah kebijakan dan strategi melalui penetapan program dan kegiatan yang tepat. Data dan informasi yang andal, dapat dipercaya akan menjadi acuan yang berguna bagi semua kepentingan dalam merumuskan kebijakan, monitoring, dan evaluasi program dalam rangka mencapai rencana yang efektif dan efisien. Dengan, adanya rencana strategis yang jelas, relevan, dan terukur, ukuran kinerja dalam bentuk output dan outcome, hal ini merupakan langkah awal yang menentukan keberhasilan Penganggaran Berbasis Kinerja (performance based budgeting).
Pada bagian lain, dalam rangka menjamin tercapainya tujuan pembangunan nasional, Pemerintah menetapkan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005- 2025. Visi dalam RPJPN 2005-2025 adalah Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur, yang salah satunya ditandai dengan terwujudnya bangsa Indonesia yang memiliki daya saing yang tinggi.
Rencana Strategis Badan Pusat Statistik (Renstra BPS) Kabupaten Tana Tidung Tahun 2015-2019 disusun berlandasarkan Renstra BPS RI Tahun 2015-2019 dan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Tana Tidung Tahun 2011-2016.
2 Renstra BPS Kabupaten Tana Tidung Tahun 2015-2019 menjadi acuan umum bagi seluruh jajaran BPS Kabupaten Tana Tidung dan para pemangku kepentingan, khususnya penyelenggara kegiatan statistik dalam melaksanakan pembangunan daerah/ nasional di bidang statistik selama lima tahun ke depan.
Renstra juga sebagai dasar bagi BPS Kabupaten Tana Tidung dalam melaksanakan kewajiban sebagai penyedia data dan informasi statistik. Untuk mencapai sasaran-sasaran pembangunan yang telah ditetapkan, maka dalam Renstra perlu dijabarkan secara lebih rinci ke dalam dokumen rencana tahunan melalui Rencana Kerja Tahunan.
Pencapaian RPJMN periode kedua merupakan modal berharga bagi upaya perbaikan dan peningkatan daya saing Indonesia pada periode berikutnya.
Pembangunan Indonesia dalam RPJMN periode ketiga 2015-2019 diarahkan untuk lebih memantapkan pembangunan secara menyeluruh dengan menekankan pembangunan keunggulan kompetitif perekonomian yang berbasiskan sumber daya alam, sumber daya manusia yang berkualitas serta kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Dalam rangka mendukung pencapaian prioritas nasional sebagaimana telah ditetapkan dalam visi dan misi Presiden dan Wakil Presiden terpilih yang dijabarkan dalam RPJMN periode ketiga diperlukan perencanaan dan evaluasi yang tepat berdasarkan data dan informasi statistik yang berkualitas.
Pencapaian selama perode di atas merupakan modal berharga bagi upaya perbaikan dan peningkatan daya saing Kabupaten Tana Tidung untuk periode berikutnya. Pembangunan Indonesia dalam RPJMN periode ketiga 2015-2019 diarahkan untuk lebih memantapkan pembangunan secara menyeluruh dengan menekankan pembangunan keunggulan kompetitif perekonomian
3 yang berbasiskan sumber daya alam, sumber daya manusia yang berkualitas serta kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Upaya yang telah dilakukan BPS Kabupaten Tana Tidung dalam kurun waktu 2012-2014 telah menghasilkan data di bidang sosial dan ekonomi, serta desiminasinya, yaitu:
1. Di Bidang Sosial
Data kependudukan hasil Sensus Penduduk (SP) tahun 2010, yang saat itu masih dilakukan oleh BPS Kabupaten Bulungan karena Kabupaten Tana Tidung merupakan pemekeran dari Kabupaten Bulungan data kemiskinan dan Indeks Pembangunan Manusia dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional, data pengangguran hasil Survei Angkatan Kerja Nasional.
2. Di Bidang Ekonomi
Data pertanian hasil Sensus Pertanian (ST) tahun 2013, Data Produksi Padi dan Palawija, Data Perusahaan Perkebunan, Data Perusahaan Peternakan dan Rumah Potong Hewan. Data harga konsumen, harga pedagangan pedesaan, dan harga bahan konstruksi. Selain itu, data produk domestik regional bruto tahunan baik menurut sektoral maupun penggunaan, dan beberapa survei peruntukan wilayah provinsi dan nasional.
3. Diseminasi data, untuk kepentingan pengguna data BPS
Kabupaten Tana Tidung memberikan pelayanan data dan informasi kepada masyarakat, antara lain:
a) Penyempurnaan dan Pengembangan Website,
b) Penyebaran data berupa hardcopy dan softcopy gratis, c) Pelayanan Statistik Terpadu/ Perpustakaan.
4. Dalam mendukung terciptanya pemerintahan yang bersih dan berwibawa dilakukan pengawasan terhadap penggunaan anggaran yang menjadi tanggungjawab BPS secara intensif guna mencegah pemborosan sumber
4 daya. Pengawasan dilakukan dengan meningkatkan pengelolaan administrasi keuangan dan barang dalam rangka menuju tertib administrasi dan tetap memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) terhadap Laporan Keuangan. Opini laporan keuangan oleh BPK dengan predikat WTP selama 3 tahun berturut-turut penilaian Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)Peningkatan penilaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP)oleh KemenPAN dan RB dari 65,20 di tahun 2013 menjadi 70,05 di tahun 2014, dengan Tingkat Akuntabilitas Kinerja B, Penghargaan dalam rangka Pengelolaan Barang Milik Negara (BMN) oleh Kementerian Keuangan, yaitu: Trophy Bandha Tadya Abiwada Utama, Peringkat II Utilisasi BMN, Pelaporan, BPS sebagai bagian dari Kelompok Terbaik dalam rangka Pelayanan Publik
1.2 Potensi dan Permasalahan
BPS Kabupaten Tana Tidung adalah Lembaga Pemerintah Non Kementerian, yang merupakan perwakilan BPS RI di daerah yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada BPS Provinsi Kalimantan Timur. BPS Kabupaten Tana Tidung mempunyai tugas, fungsi dan wewenang yang diatur berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 86 tahun 2007 tentang BPS. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota, menempatkan BPS pada posisi strategis dalam mengembangkan Sistem Statistik Nasional.
BPS menjadi Badan yang bertanggungjawab dalam penyediaan data dan informasi statistik dasar, serta menjalankan fungsi koordinasi dan pembinaan terhadap pelaksanaan statistik sektoral di Pemerintah Kabupaten/Kota. Untuk itu, BPS mengeluarkan Peraturan Kepala BPS Nomor 9 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Statistik Sektoral oleh Pemerintah Daerah. Selain itu, untuk meningkatkan ketersediaan data dan informasi kebutuhan perencanaan pemerintah daerah, BPS telah menerbitkan peraturan kepala BPS Nomor 37 tahun 2012 tentang pedoman pelaksanaan kerja sama dalam rangka kegiatan
5 statistik, teknologi informasi, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan BPS. Selanjutnya, peraturan kepala BPS Nomor 51 tahun 2013 tentang harga satuan pokok kegiatan BPS untuk tahun anggaran 2014.
1.2.1 Potensi
Data dan informasi statistik berkualitas sangat dibutuhkan baik oleh Pemerintah pusat maupun daerah dalam rangka perencanaan dan evaluasi pembangunan. Sektor swasta juga memerlukan data untuk perencanaan makro dalam bisnis. Demikian pula, dengan lembaga internasional menggunakan data untuk memperoleh kondisi ekonomi dan sosial.
Uraian berikut menjabarkan potensi BPS untuk menyediakan data dan informasi statistik berkualitas periode 2015–2019;
Undang-Undang No. 16 tahun 1997 tentang Statistik, merupakan payung hukum bagi BPS untuk menyeleng-garakan kegiatan statistik yang diatur lebih lanjut dalam PP No. 51 tahun 1999 tentang Penyelenggaran Statistik.
Sesuai dengan undang-undang tersebut, BPS menjadi lembaga yang bertanggung jawab dalam penyediaan data dan informasi statistik dasar.
BPS juga menjalankan fungsi koordinasi dan pembinaan terhadap pelaksanaan statistik sektoral di Indonesia.
Sumber daya manusia (SDM) berkualitas, BPS mengelola Perguruan Tinggi yang menghasilkan tenaga statistik profesional, yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS). BPS juga memiliki Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Statistik, yang berfungsi mengembangkan kompetensi SDM aparatur baik di lingkungan internal BPS maupun instansi pemerintah lainnya.
6
Sebagai instansi pembina bagi jabatan fungsional statistisi dan jabatan fungsional pranata komputer.
Teknologi informasi dan komunikasi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas kegiatan statistik, baik dari sisi pengumpulan, pengolahan maupun diseminasi. Penggunaan mobile applications akan menjadikan proses pengumpulan data survei berlangsung dengan lebih cepat dan efisien. Dalam hal diseminasi data, akan memudahkan pengguna data untuk mengakses data BPS dari mana pun.
Sebagai penyedia data untuk Sustainable Development Goals (SDG’s);
seperti pengentasan kemiskinan (poverty eradication); pertanian, ketahanan pangan dan nutrisi yang berkelanjutan (sustainable agriculture, food security and nutrition); kesehatan; pendidikan; air dan sanitasi;
energi; pertumbuhan ekonomi, lowongan kerja dan infrastruktur.
1.2.2 Permasalahan
BPS Kabupaten Tana Tidung telah mengidentifikasi sejumlah permasalahan yang perlu diatasi dalam periode 2015–2019, baik permasalahan internal maupun eksternal;
a) Internal,
Sumber Daya Manusia, belum optimalnya dalam jumlah dan kapabilitas yang kompeten,
Respon Rate yang masih rendah, disebabkan oleh masih rendahnya kesadaran responden dalam memberikan jawaban terutama untuk responden usaha/perusahaan,
Small Area Statistic, belum terpenuhinya data berskala mikro,
Timeliness, belum optimalnya penyajian dan desiminasi data tepat waktu; hal ini terkait dengan masih terjadinya kegiatan yang tumpang tindih,
7
Sistem Aplikasi Pengolahan, masih dijumpai sistem aplikasi yang belum terintegrasi antar kegiatan.
b) Eksternal,
Kebutuhan Data Meningkat, belum optimalnya pemenuhan akan kebutuhan data masyarakat, disebabkan semakin padatnya kegiatan baik rutin maupun ad hoc.
Koordinasi Antar Instansi, belum optimalnya koordinasi antar instansi tentang statistik.
Terfokusnya responden pada asumsi bahwa setiap pendataan mempunyai tujuan untuk mendapatkan bantuan sehingga menyebabkan lambatnya pendataan.
Undang Undang Nomor 16 tahun 1997 tentang statistik, tidak memperkenankan untuk menyajikan data individu.
8
BAB 2
VISI dan MISIBPS VISI dan MISI BPS
2.1 Visi
Visi adalah kondisi masa depan yang ingin dicapai oleh organisasi.
Perumusan visi dimaksudkan untuk;
a) mencerminkan apa yang ingin dicapai organisasi pada suatu periode waktu tertentu di masa datang,
b) memberikan arah dan fokus strategis yang jelas,
c) mampu menjadi perekat dan menyatukan berbagai gagasan strategis yang terdapat dalam sebuah organisasi,
d) memiliki orientasi terhadap masa depan sehingga seluruh elemen organisasi memiliki penyikapan yang sama tentang masa depan organisasi, e) mampu menumbuhkan komitmen seluruh jajaran dalam lingkungan
organisasi; dan
f) mampu menjamin kesinambungan kepemimpinan organisasi.
Visi BPS Kabupaten Tana Tidung periode 2015-2019 dibangun dengan memperhatikan pencapaian BPS Provinsi Kalimantan Timur dan BPS RI pada Pembangunan Jangka Menengah Daerah/Nasional periode kedua 2015–2019 melalui telaah dan analisis yang mendalam dan komprehensif. Pembangunan di bidang statistik diarahkan agar mampu mengakomodasi berbagai tantangan yang berkembang, seperti reformasi yang mendukung keterbukaan informasi, otonomi daerah yang mengandung tantangan keragaman data dan informasi statistik pada tingkatan wilayah kecil, perkembangan teknologi informasi yang mengarah kepada peningkatan kemudahan akses masyarakat terhadap data dan informasi statistik, serta memperhatikan kesiapan Sumber Daya Manusia
9 dalam penyelenggara statistik. Dengan mempertimbangkan berbagai hal tersebut, maka Visi BPS 2015-2019 disepakati tetap sama dengan Visi BPS periode 2010–2014, yaitu sebagai berikut:
“Pelopor Data Statistik Terpercaya untuk Semua”
(“The Agent of Trustworthy Statistical Data for All”)
BPS Kabupaten Tana Tidung mempunyai tugas pokok menyediakan dan melakukan koordinasi ketersediaan data dan informasi statistik pada lingkup daerah maupun nasional bahkan internasional. Kata “pelopor” mempunyai makna sebagai pencetus ide penyedia statistik terpercaya, sekaligus sebagai pelaku dalam penyediaan statistik terpercaya. Kata “data statistik yang terpercaya” yaitu statistik yang mendeskripsikan keadaan yang sebenarnya.
Kata “untuk semua” dimaksudkan bahwa semua pihak mempunyai hak yang sama untuk mengakses data BPS (impartial) baik pengguna data nasional maupun internasional.
Dengan visi tersebut, eksistensi BPS Kabupaten Tana Tidung sebagai penyedia data dan informasi statistik menjadi semakin penting, karena dapat dipercaya oleh semua pihak. BPS bukan hanya bagian dari pemerintah, akan tetapi juga bagian dari keseluruhan masyarakat dan aspek kehidupan. Di samping itu, visi ini memberikan ruang yang cukup bagi peran serta berbagai pihak untuk ikut serta dalam menyediakan, memanfaatkan, dan menggunakan data dan informasi statistik.
Penyebarluasan data dan informasi statistik melalui berbagai saluran agar pemanfaatannya dapat menjangkau secara luas, baik pengguna data di dalam negeri maupun di luar negeri.
10 Visi Badan Pusat Statistik tahun 2015-2019 ini tidak terlepas dari upaya mewujudkan Visi Pembangunan 2005-2025 yaitu; “Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur” dan melaksanakan Misi Pembangunan Nasional 2005- 2025 yaitu; “Mewujudkan bangsa yang berdaya saing” sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025.
2.2 Misi
Misi dimaksudkan adalah sesuatu yang harus diemban atau dilaksanakan oleh instansi pemerintah, sebagai penjabaran visi yang telah ditetapkan. Misi organisasi menjelaskan alasan keberadaan suatu organisasi (the reason of being). Dengan pernyataan misi diharapkan seluruh anggota organisasi dan pihak yang berkepentingan dapat mengetahui dan mengenal keberadaan dan peran instansi pemerintah dalam penyelenggaraan pemerintahan negara.
Misi instansi pemerintah dirumuskan dengan jelas dan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Misi juga terkait dengan kewenangan yang dimiliki instansi pemerintah sebagaimana yang diamanatkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perumusan misi instansi pemerintah dilakukan dengan memperhatikan masukan pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders), dan memberikan peluang untuk disesuaikan dengan tuntutan perkembangan lingkungan strategis.
11 Rumusan misi dimaksudkan untuk mampu:
a) mencakup semua maksud yang terkandung dalam pernyataan visi, b) memberikan petunjuk terhadap tujuan yang akan dicapai,
c) memberikan petunjuk kelompok sasaran mana yang akan dilayani oleh instansi pemerintah, dan
d) memperhitungkan berbagai masukan dan stakeholders.
Pernyataan misi BPS yang dikaitkan dengan Visi BPS djabarkan sebagai berikut.
TabeL 1. Visi dan Misi
Misi Badan Pusat Statistik tahun 2015-2019 mengandung arti:
1. Menyediakan data statistik berkualitas melalui kegiatan statistik yang terintegrasi dan berstandar nasional maupun internasional.
Menyediakan data statistik …
“Badan Pusat Statistik merupakan penyelenggara statistik dasar,
12 yaitu statistik yang pemanfaatannya ditujukan untuk keperluan yang bersifat luas, baik bagi pemerintah maupun masyarakat” (Perpres No.86 tahun 2007)”.
… berkualitas …
“Berkualitas berarti data statistik yang dihasilkan BPS memenuhi dimensi kualitas yakni relevan, akurat, disajikan tepat waktu, koheren, dapat diakses, dan dapat diinterpretasikan”.
… melalui kegiatan statistik yang terintegrasi …
“Kata terintegrasi bermakna bahwa penyelenggarakan kegiatan statistik perlu lebih mengedepankan pendekatan fungsional, serta mengurangi pelaksanaan yang tersekat (silo thinking). Pendekatan fungsional berarti alur proses dari pengumpulan data, pengolahan data hingga diseminasi data dilakukan secara terintegrasi antar subject matter.
Terintegrasi juga berarti penyelenggaraan statistik yang dilakukan bersama-sama oleh pemerintah dan masyarakat harus saling mengisi dan saling memperkuat dalam memenuhi kebutuhan statistik, serta menghindari terjadinya duplikasi kegiatan (UU no. 16 tahun 1997).
… dan berstandar nasional maupun internasional …
“Setiap penyelenggaraan kegiatan statistik, BPS akan selalu berpedoman kepada konsep, standar dan metode yang berlaku secara universal dan berstandar internasional, mengikuti kaidah yang digariskan dalam Fundamental Principle of Official Statistics”.
2. Memperkuat Sistem Statistik Nasional yang berkesinambungan melalui pembinaan dan koordinasI di bidang statistik
13 Memperkuat Sistem Statistik Nasional yang berkesinambungan…
“Sistem Statistik Nasional adalah suatu tatanan yang terdiri atas unsur- unsur yang secara teratur saling berkaitan, sehingga membentuk totalitas dalam penyelenggaraan statistik. Sistem Statistik Nasional perlu diwujudkan secara terus menerus dan berkelanjutan. (UU no. 16 tahun 1997)”.
… melalui pembinaan dan koordinasi …
“Bahwa dalam rangka perencanaan pembangunan nasional pada umumnya, dan pembangunan sistem rujukan informasi statistik nasional pada khususnya, penyelenggaraan kegiatan statistik perlu didukung upaya-upaya koordinasi dan kerjasama serta upaya pembinaan terhadap seluruh komponen masyarakat statistik (PP No. 51 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Statistik)”.
Koordinasi dan kerjasama penyelengaraan statistik meliputi hal-hal yang berkaitan dengan:
Pelaksanaan kegiatan statistik;
Pembakuan konsep, definisi, klasifikasi, dan ukuran-ukuran.
Koordinasi dan atau kerjasama penyelenggaraan statistik antara BPS, instansi pemerintah, dan masyarakat dilaksanakan atas dasar prinsip kemitraan. Koordinasi dan atau kerjasama pelaksanaan kegiatan statistik dilakukan dalam rangka membangun satu pusat rujukan informasi statistik nasional.
Koordinasi dan atau kerjasama pelaksanaan kegiatan statistik mencakup perencanaan, pengumpulan, pengolahan, penyajian, dan atau analisis
14 statistik”. “BPS memiliki mandat untuk melakukan pembinaan terhadap instansi lain terkait dengan pelaksanaan kegiatan statistik sektoral. BPS juga memiliki mandat untuk melakukan koordinasi, integrasi dan sinkronisasi dengan instansi pemerintah untuk membangun pembakuan konsep, definisi, klasifikasi, dan ukuran-ukuran. (UU no. 16 tahun 1997).
Dalam melakukan pembinaan statistik, BPS dapat bekerja sama dengan instansi pemerintah, perguruan tinggi, lembaga swasta, dan atau unsur masyarakat lainnya. Upaya pembinaan statistik yang dilakukan BPS sesuai PP No. 51 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Statistik, meliputi:
a) Peningkatan kemampuan sumber daya manusia dalam penyelenggaraan statistik;
b) Pengembangan statistik sebagai ilmu;
c) Peningkatan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat mendukung penyelenggaraan statistik;
d) Perwujudan kondisi yang mendukung terbentuknya pembakuan dan pengembangan konsep, definisi, klasifikasi, dan ukuran-ukuran dalam kerangka semangat kerjasama dengan para penyelenggara kegiatan statistik lainnya;
e) Pengembangan sistem informasi statistik;
f) Peningkatan penyebarluasan informasi statistik;
g) Peningkatan kemampuan penggunaan dan pemanfaatan hasil statistik untuk mendukung pembangunan nasional;
h) Peningkatan kesadaran masyarakat akan arti dan kegunaan statistik.
3. Membangun insan statistik yang profesional, berintegritas, dan amanah untuk kemajuan perstatistikan
15 Membangun insan statistik …
“Pembangunan insan statistik dilakukan untuk mewujudkan pengejawantahan nilai-nilai organisasi Badan Pusat Statistik, yakni profesional, berintegritas dan amanah”.
… yang profesional…
“Dalam menyelenggarakan kegiatan statistik, insan statistik yang harus memiliki kapasitas dan kapabilitas yang diperlukan untuk menghasilkan data statistik yang berkualitas”.
… berintegritas …
“Insan statistik yang menyelenggarakan kegiatan statistik harus memiliki integritas yaitu memiliki sikap dan perilaku dalam melaksanakan profesi/tugasnya seperti dedikasi (pengabdian yang tinggi terhadap profesi yang diemban), disiplin (melaksanakan pekerjaan sesuai dengan ketentuan), konsisten (satunya kata dengan perbuatan), terbuka (menghargai ide, saran, pendapat, masukan, dan kritik-kritik dari berbagai pihak), dan akuntabel (bertanggung jawab dan setiap langkahnya terukur)”.
…amanah…
“Amanah merujuk kepada sikap yang selalu mengedepankan kejujuran di dalam melaksanakan kegiatan statistik”.
2.3 Tujuan
Tujuan diartikan sebagai kondisi yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu tertentu. Tujuan ditetapkan dengan mengacu kepada pernyataan visi dan misi serta didasarkan pada isu-isu dan analisis strategis. Tujuan tidak harus dinyatakan dalam bentuk kuantitatif, akan tetapi harus dapat
16 menunjukkan suatu kondisi yang ingin dicapai di masa mendatang. Tujuan akan mengarahkan perumusan sasaran, kebijakan, program dan kegiatan dalam rangka merealisasikan misi.
Tabel 2. Tujuan yang akan dicapai
2.4 Keterkaitan Tujuan dan Misi
Keterkaitan tujuan dan misi BPS Kabupaten Tana Tidung, sebagai berikut;
Tujuan 1: Peningkatan kualitas data statistik melalui kerangka penjaminan kualitas terkait dengan :
1.1 Misi ke-1 : Menyediakan data statitik berkualitas melalui kegiatan statistik yang terintegrasi dan berstandar nasional maupun internasional,
1.2 Misi ke-3 : Membangun insan statistik yang professional, berintegrasi dan amanah untuk kemajuan perstatistikan.
17 Tujuan 2: Peningkatan pelayanan prima hasil kegiatan statistik, terkait dengan:
2.1 Misi ke-2 : Memperkuat Sistem Statistik Nasional yang berkesinambungan melalui pembinaan dan koordinasi di bidang
statistik,
2.2 Misi ke-2 : Membangun insan statistik yang profesional, berintegritas dan amanah untuk kemajuan perstatistikan.
Tujuan 3: Penguatan Sistem Statistik Nasional melalui koordinasi dan pembinaan yang efektif di bidang statistik, terkait dengan:
3.1 Misi ke-2 : Memperkuat Sistem Statistik Nasional yang berkesinambungan melalui pembinaan dan koordinasi di bidang
statistik,
3.2 Misi ke-3 : Membangun insan statistik yang profesional, berintegritas dan amanah untuk kemajuan perstatistikan.
Tujuan 4 : Peningkatan Birokrasi yang akuntabel, terkait dengan:
4.1 Misi ke-3 : Membangun insan statistik yang profesional, berintegritas dan amanah untuk kemajuan perstatistikan.
Tujuan pertama pembangunan statistik menuntut BPS untuk meningkatkan kualitas data statistik. Tujuan pertama ini akan didukung dan diupayakan dengan menerapkan program Statcap CERDAS (Statistical Capacity Building – Change and Reform for Development of Statistics in Indonesia), kerangka penjaminan kualitas.
Tujuan kedua berupa peningkatan pelayanan prima hasil kegiatan statistik.
Keberhasilan upaya peningkatan pelayanan prima hasil kegiatan statistik tidak terlepas dari dukungan dan peranan TIK, yang diwujudkan melalui pembangunan arsitektur dan kerangka TIK dan manajemen informasi. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya penggunaan TIK statistik. Tujuan kedua ini
18 akan diperkuat oleh komponen kedua Statcap CERDAS yaitu Penguatan Teknologi Informasi dan Komunikasi serta Sistem Informasi Manajemen Statistik.
Tujuan ketiga Penguatan Sistem Statistik Nasional melalui koordinasi dan pembinaan yang efektif di bidang statistik, di dalam tujuan tersebut memuat misi BPS untuk meningkatkan peran BPS: sebagai Pusat Rujukan Statistik dalam terselenggaranya Sistem Statistik Nasional, sebagai koordinator penyelenggaraan statistik di Indonesia, baik statistik yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah ataupun masyarakat. Dengan demikian, fungsi BPS sebagai Pusat Rujukan Statistik dapat menghasilkan data dan informasi statistk yang diperlukan oleh semua pihak. Tujuan ketiga ini akan diperkuat oleh komponen keempat Statcap CERDAS yaitu penguatan kelembagaan.
Tujuan keempat Peningkatan Birokrasi yang akuntabel, di dalam tujuan tersebut terkait dengan misi membangun insan statistik yang profesional, berintegritas dan amanah untuk kemajuan perstatistikan. Untuk itu, peningkatan kapasitas dan kemampuan tenaga statistik di pusat maupun daerah harus terus dilakukan. Tujuan keempat ini diperkuat dengan komponen ketiga Statcap CERDAS yaitu pengembangan sumber daya manusia.
Keberhasilan BPS dalam hal penerapan pemerintahan yang berorientasi kepada hasil (result oriented government) diukur dengan cara melihat keberhasilan tujuan, sehingga perlu ditetapkan secara spesifik indikator dan target dari setiap tujuan BPS. Indikator dan target dari tujuan tersebut adalah sebagai berikut:
19 Tabel 3. Tujuan dan Target
No TUJUAN TARGET
Uraian INDIKATOR 2015 2016 2017 2018 2019
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Peningkatan kualitas data statistik melalui kerangka penjaminan
Persentase konsumen yang merasa puas dengan kualitas data statistik
90% 90% 90% 90% 90%
2 Peningkatan pelayanan prima hasil kegiatan statistik
Persentase Konsumen yang merasa puas akan layanan data BPS
95% 95% 95% 95% 95%
3 Penggunaan Sistem Statistik Nasional melalui koordinasi dan pembinaan yang efektif di bidang statistik
Jumlah metadata kegiatan statistik sektoral dan khusus yang dihimpun
150 150 150 150 150
4 Peningkatan birokrasi yang akuntabel
Opini terhadad Laporan Keuangan BPS dan BPK
WTP WTP WTP WTP WTP
20 2.5 Sasaran Strategis
Sasaran strategis merupakan kondisi yang akan dicapai secara nyata oleh BPS yang mencerminkan pengaruh yang ditimbulkan oleh adanya hasil (outcome) dari satu atau beberapa program BPS. Program BPS terdiri dari program teknis yang merupakan program-program yang menghasilkan pelayanan kepada masyarakat (pelayanan eksternal) dan program generik merupakan program- program yang bersifat pelayanan internal untuk mendukung dan atau administrasi BPS (pelayanan internal). Adapun tujuan dan sasaran strategis teknis BPS dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4. Tujuan dan sasaran Strategis Teknis
Secara ringkas rumusan indikator pada sasaran strategis pembangunan statistik dalam rangka mencapai Visi BPS dan mewujudkan Misi BPS untuk kurun waktu 2015 – 2019 adalah sebagai berikut.
21 1. Sasaran strategis dari tujuan pertama: ”Peningkatan kualitas data statistik
melalui kerangka penjaminan kualitas”, adalah:
1.1. Meningkatnya kepercayaan pengguna terhadap kualitas data BPS Dengan indikator sasaran:
1.1.1. Persentase konsumen yang merasa puas dengan kualitas data BPS
1.1.2. Persentase konsumen yang selalu menjadikan data dan informasi statistik BPS sebagai rujukan utama
1.1.3. Persentase pemutakhiran data MFD dan MBS
1.1.4. Jumlah aktivitas statistik yang mempublikasikan nilai akurasi 1.1.5. Jumlah publikasi/laporan statistik yang terbit tepat waktu 1.1.6. Jumlah release data statistik yang tepat waktu
1.1.7. Jumlah publikasi/laporan sensus yang terbit tepat waktu
1.2. Meningkatnya kualitas hubungan dengan sumber data (respondent engagement)
Dengan indikator sasaran:
1.2.1. Persentase pemasukan dokumen (response rate) survei dengan pendekatan rumah tangga
1.2.2. Persentase pemasukan dokumen (response rate) survei dengan pendekatan usaha
1.2.3. Persentase pemasukan dokumen (response rate) survei dengan pendekatan non rumah tangga dan non usaha
1.3. Memastikan pengendalian mutu yang ekonomis, efektif, dan efisien Dengan indikator sasaran:
1.3.1. Jumlah self assement aktivitas statistik mandiri yang dihimpun
22 2. Sasaran strategis dari tujuan kedua: ”Peningkatan pelayanan prima hasil
kegiatan statistik”, adalah:
2.1. Meningkatnya kualitas hubungan dengan pengguna data (user engagement)
Dengan indikator sasaran:
2.1.1. Persentase konsumen yang puas akan layanan data BPS
2.1.2. Jumlah pengunjung eksternal yang mengakses data dan informasi statistik melalui website
2.1.3. Persentase konsumen yang puas terhadap akses data BPS 2.1.4. Persentase pengguna layanan yang merasa puas terhadap
pemenuhan sarana dan prasarana BPS
3. Sasaran strategis dari tujuan ketiga: ”Penguatan Sistem Statistik Nasional melalui koordinasi dan pembinaan yang efektif di bidang statistik”, adalah:
3.1. Meningkatnya koordinasi dan kerjasama dalam penyelenggaraan SSN Dengan indikator sasaran:
3.1.1. Jumlah metadata kegiatan statistik sektoral dan khusus yang dihimpun
3.2. Meningkatnya kualitas pembinaan dalam penyelenggaraan SSN
3.2.1. Jumlah fungsional statistisi dan pranata komputer pada kementerian/lembaga
4. Sasaran strategis dari tujuan keempat: ”Peningkatan birokrasi yang akuntabel”, adalah:
4.1. Meningkatnya kualitas manajemen sumber daya manusia BPS Dengan indikator sasaran:
4.1.1. Persentase Pegawai yang menduduki jabatan fungsional tertentu
23 4.1.2. Persentase pegawai yang berpendidikan minimal Diploma IV
atau Strata I
4.2. Meningkatnya pengawasan dan akuntabilitas kinerja aparatur Dengan indikator sasaran:
4.2.1. Hasil Penilaian SAKIP oleh Kementerian PAN & RB
4.2.2. Hasil Penilaian Reformasi Birokrasi oleh Kementerian PAN & RB 4.2.3. Persentase satker yang mendapatkan nilai evaluasi SAKIP
kategori Baik
4.3. Meningkatnya tata kelola penggunaan anggaran dan pelaksanaan kegiatan
Dengan indikator sasaran:
4.3.1. Opini terhadap Laporan Keuangan BPS oleh BPK 2.6 Nilai-Nilai Inti
Nilai inti merupakan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh setiap pegawai dan yang memandu pegawai dalam memilih berbagai alternatif yang diperlukan untuk menuju masa depan. BPS telah menetapkan nilai-nilai inti yang dapat dijadikan sebagai pedoman oleh setiap pegawainya dalam menetapkan keputusan berkaitan dengan upaya pencapaian visi dan misi BPS.
Nilai-nilai Inti (core values) Badan Pusat Statistik adalah:
Profesional (Kompeten, Efektif, Efisien, Inovatif dan Sistemik),
Integritas (Dedikasi, Disiplin, Konsisten, Terbuka dan Akuntabel),
Amanah (Terpercaya, Jujur, Tulus dan Adil).
Nilai-nilai inti BPS ini merupakan pondasi yang kokoh untuk membangun jati diri dan penuntun perilaku setiap insan BPS dalam melaksanakan tugas.
Adapun penjabaran dari nilai-nilai Inti BPS ini adalah sebagai berikut:
24 1. Profesional
Profesional merupakan modal dasar yang harus dimiliki oleh setiap pegawai dalam melaksanakan profesi/tugasnya, dengan unsur unsur sebagai berikut:
Kompeten; mempunyai keahlian dalam bidang tugas yang diemban,
Efektif; memberikan hasil maksimal,
Efisien; mengerjakan setiap tugas secara produktif, dengan sumber daya minimal,
Inovatif; selalu melakukan pembaruan dan atau penyempurnaan
melalui proses pembelajaran diri secara terus-menerus,
Sistemik; meyakini bahwa setiap pekerjaan mempunyai tata urutan proses sehingga pekerjaan yang satu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaan yang lain.
2. Integritas
Integritas merupakan sikap dan perilaku kerja yang harus dimiliki oleh setiap pegawai dalam pengabdiannya kepada organisasi, dengan unsur-unsur sebagai berikut:
Dedikasi; memiliki pengabdian yang tinggi terhadap profesi yang diemban dan institusi,
Disiplin; melaksanakan pekerjaan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan,
Konsisten; selarasnya kata dengan perbuatan,
Terbuka; menghargai ide, saran, pendapat, masukan, dan kritik dari berbagai pihak,
Akuntabel; bertanggung jawab dan setiap langkahnya terukur.
25 3. Amanah
Amanah merupakan sikap kerja yang harus dimiliki oleh setiap pegawai untuk dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan unsur-unsur sebagai berikut:
Terpercaya; melaksanakan pekerjaan sesuai dengan ketentuan, yang tidak hanya didasarkan pada logika tetapi juga sekaligus menyentuh dimensi mental spiritual,
Jujur; melaksanakan semua pekerjaan dengan tidak menyimpang dari prinsip moralitas,
Tulus; melaksanakan tugas tanpa pamrih, menghindari konflik kepentingan (pribadi, kelompok, dan golongan), serta mendedikasikan semua tugas untuk perlindungan kehidupan manusia, sebagai amal ibadah atau perbuatan untuk Tuhan Yang Maha Esa,
Adil; menempatkan sesuatu secara berkeadilan dan memberikan haknya.
26
BAB 3
ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI, KE RANGKA REGULASI, Dan KE LEMBAGAANARAH KEBIJAKAN, STRATEGI, KERANGKA REGULASI, Dan KELEMBAGAAN
3.1 Arah Kebijakan dan Strategi Pemerintah Daerah Tana Tidung
Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah Kabupaten Tana Tidung, maka strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah tertuang dalam “8 Prioritas Pembangunan Tana Tidung” meliputi:
Perwujudan visi serta pelaksanaan misi dan prioritas pembangunan pada lima tahun ke depan akan ditempuh melalui 8 (delapan) prioritas pembangunan.
Kabupaten Tana Tidung yang diarahkan membangun Kabupaten Tana Tidung di segala bidang. Prioritas tersebut tersebut yakni :
1. Pengembangan Sumberdaya Manusia;
2. Percepatan Pembangunan Sarana dan Prasarana;
3. Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik;
4. Optimalisasi Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Alam;
5. Pengembangan Budaya Lokal dan Kepariwisataan;
6. Pemberian Jaminan Keamanan di Masyarakat dan Penegakan Supremasi Hukum;
7. Pengembangan Kerjasama Antar daerah;
8. Pengembangan Agroindustri.
3.1.1. Pengembangan Sumber Daya Manusia
Kemampuan Kabupaten Tana Tidung untuk berdaya saing tinggi merupakan kunci bagi tercapainya kemajuan dan kemakmuran daerah.
Daya saing daerah yang tinggi akan menjadikan Tana Tidung siap menghadapi tantangan globalisasi dan mampu memanfaatkan peluang yang ada. Untuk memperkuat daya saing daerah, pembangunan daerah diarahkan untuk mengedepankan pengembangan Sumber Daya
27 Manusia (SDM) masyarakat dan aparatur Pemerintah Daerah yang berkualitas.
Sasaran dari pengembangan Sumber Daya Manusia adalah (1) meningkatnya kualitas sumber daya manusia masyarakat dan aparatur yang berkualitas sehingga mempunyai kompetensi dan daya saing tinggi; (2) tersedianya kesempatan kerja produktif, agar penduduk usia kerja yang jumlahnya besar dapat bekerja untuk meningkatkan tabungan rumah tangga; (3) meningkatnya kualitas pelayanan pendidikan; (4) meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan; (5) meningkatnya kualitas kehidupan umat beragama dan harmonisasi kerukunan antarumat beragama.
Target dari pengembangan Sumber Daya Manusia adalah (1) meningkatnya kualitas SDM masyarakat dan aparautur yang unggul, berdaya saing dan produktif; (2) meningkatnya kesempatan bekerja dan berusaha; (3) meningkatnya kualitas SDM yang ditandai dengan peningkatan indikator pendidikan; (4) meningkatnya derajat kesehatan masayarakat yang ditandai dengan peningkatan indikator kesehatan;
(5) meningkatnya kualitas kehidupan umat beragama yang ditandai dengan kehidupan antarumat beragarama yang rukun.
3.1.2. Percepatan Pembangunan Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana memiliki peran penting dalam mendukung daya saing ekonomi suatu daerah terutama dalam penyediaan jaringan distribusi, sumber energi, dan input produksi lainnya. Jaringan transportasi serta jaringan komunikasi dan informatika merupakan fasilitas yang menghubungkan sumber-sumber produksi, pasar dan para konsumen. Fungsi sarana dan prasarana sebagai roda penggerak pertumbuhan ekonomi ditunjukkan pada peran transportasi yang dapat memungkinkan orang, barang, dan jasa diangkut dari satu tempat ke tempat lain, serta peran jaringan komunikasi dan informatika yang memungkinkan pertukaran informasi secara cepat.
Telekomunikasi, listrik, dan airpun merupakan elemen sangat penting dalam proses produksi dari sektor-sektor ekonomi, seperti
28 perdagangan, industri, dan pertanian. Penyediaan sarana dan prasarana publik yang efisien dan efektif agar dapat memberikan manfaat dan pelayanan kepada masyarakat.
Sasaran dari percepatan pembangunan sarana dan prasarana adalah (1) meningkatnya kuantitas dan kualitas berbagai sarana dan prasarana penunjang pembangunan, seperti jalan raya, pelabuhan laut, bandar udara, permukiman, perekonomian, sarana dan prasarana listrik, prasarana energi, air minum dan sanitasi, serta sarana dan prasarana informasi dan komunikasi di wilayah perkotaan dan perdesaan di wilayah terpencil dan pedalaman; (2) meningkatnya pemenuhan hak dasar untuk tempat tinggal dan lingkungan yang layak; (3) meningkatnya pembangunan sarana dan prasarana pemerintahan dalam rangka pelayanan publik.
Target dari percepatan pembangunan sarana dan prasarana adalah (1) tersedianya sarana dan prasarana perhubungan, permukiman, perekonomian, ketenagalistrikan, telekomunikasi dan energi; (2) tersedianya pemenuhan hak dasar untuk tempat tinggal yang layak bagi masyarakat; (3) tersedianya sarana dan prsarana pemerintahan dalam bagi peningkatan pelayanan publik.
3.1.3. Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik
Peningkatan kualitas pelayanan publik ditandai dengan pemantapan tata kelola pemerintahan yang lebih baik melalui terobosan kinerja secara terpadu, penuh integritas, akuntabel, taat kepada hukum yang berwibawa, dan transparan. Peningkatan kualitas pelayanan publik juga ditopang oleh efisiensi struktur pemerintahan dan kapasitas pegawai pemerintah yang memadai.
Sasaran dari peningkatan kualitas pelayanan publik adalah meningkatnya efektivitas dan akuntabilitas sumber-sumber penerimaan daerah sebagai instrumen untuk meningkatkan kapasitas fiskal. Dalam rangka menjamin terselenggaranya pemerintahan dan pembangunan daerah yang efektif serta pelayanan publik yang lebih
29 merata perlu disesuaikan dengan sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM).
Target dari peningkatan kualitas pelayanan publik adalah memperbaiki pelayanan publik karena jajaran birokrasi adalah pelayan dan pelindung kepentingan masyarakat. Langkah yang telah dan terus dilakukan mencakupi perbaikan sistem dan budaya kerja, pengukuran kinerja, penerapan disiplin, penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan, serta perbaikan sistem remunerasi yang memadai.
Termasuk di dalamnya transparansi dan akuntabilitas dalam proses pemerintahan. Semua ini merupakan esensi dari penerapan tata pemerintahan yang baik (good governance).
3.1.4. Optimalisasi Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Alam
Peranan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup (SDA dan LH) sangat penting dalam pembangunan daerah, baik sebagai penyedia bahan baku bagi pembangunan ekonomi maupun sebagai pendukung sistem kehidupan. Sesuai dengan fungsinya tersebut, SDA dan LH perlu dikelola dengan bijaksana agar pembangunan serta keberlangsungan kehidupan manusia dapat terjaga dan lestari saat ini dan di masa yang akan datang. Sementara itu, pengelolaan SDA dan LH terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kelestarian lingkungan hidup. Upaya ini dilakukan melalui peningkatan kualitas sumber daya air, rehabilitasi dan konservasi hutan dan lahan, pengelolaan sumber daya kelautan, serta peningkatan kualitas daya dukung lingkungan hidup. Dengan semakin meningkatnya isu perubahan iklim global, upaya adaptasi dan mitigasi bencana perlu terus ditingkatkan.
Sasaran dari optimalisasi pemanfaatan potensi sumber daya alam adalah : (1) merevitalisasi pertanian dalam arti luas; (2) melakukan pengelolaan SDA guna memberikan hasil terhadap meningkatnya kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB);
Target dari optimalisasi pemanfaatan potensi sumber daya alam adalah (1) terkelolanya potensi sumber daya alam dan lingkungan hidup secara bijaksana dan berkelanjutan; (2) meningkatnya kontribusi
30 PDRB yang berasal dari pengelolaan potensi SDA namun tetap dengan menjaga keberlanjutannya.
3.1.5. Pengembangan Budaya Lokal dan Kepariwisataan
Pengembangan kebudayaan diarahkan untuk memperkuat jati diri dan karakter lokal dengan berlandaskan pada nilai-nilai luhur budaya lokal akan memberikan kemajuan yang cukup berarti dan menjadi landasan pelaksanaan pembangunan daerah. Pengembangan kepariwisataan mempunyai peranan penting dalam mendorong kegiatan ekonomi, meningkatkan citra Tana Tidung, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memberikan perluasan kesempatan kerja dan nilai tambah peningkatan PDRB dari sektor perdagangan, hotel, restauran, jasa dan persewaan..
Sasaran dari pengembangan budaya dan kepariwisataan adalah : (1) meningkatnya kesiapan tujuan pariwisata lokal agar mampu bersaing di pasar nasional dan memenuhi kebutuhan wisatawan, dengan tetap memperhatikan prinsip pembangunan pariwisata berkelanjutan; (2) meningkatnya sumberdaya manusia kepariwisataan serta penyerapan tenaga kerja kepariwisataan.
Target dari pengembangan budaya dan kepariwisataan adalah : (1) terbangunnya sarana dan prasarana kebudayaan dan kepariwisataan;
(2) terkelolanya potensi pariwisata lokal guna peningkatan perekonomian dan penyerapan tenaga kerja kepariwisataan lokal;
3.1.6. Pemberian Jaminan Keamanan di Masyarakat dan Penegakan Supremasi Hukum
Pemberian jaminan keamanan di seluruh lapisan masyarakat yang merupakan hak dasar dalam beraktivitas. Rasa aman dan nyaman merupakan modaldasar bagi bergeraknya roda perekonomian daerah dengan masuknya investasi. Penegakkan supremasi hukum secara adil dan merata mutlak diperlukan di sebuah negara hukum, semua warga negara memperoleh perlakuan yang sama di depan hukum.
31 Sasaran dari pemberian jaminan keamanan di masyarakat dan penegakkan supremasi hukum adalah : (1) meningkatnya upaya penanggulangan gangguan keamanan di masyarakat; (2) berkurangnya kejahatan narkoba, perdagangan perempuan dan anak, serta penyelundupan manusia, terorisme, kekerasan dalam rumah tangga dan berbagai bentuk kejahatan lainnya; (3) meningkatnya supremasi hukum bagi setiap kejahatan dan gangguan keamanan; (4) meningkatnya profesionalisme aparat penegak hukum.
Target dari pemberian jaminan keamanan di masyarakat dan penegakkan supremasi hukum adalah : (1) berkurangnya gangguan keamanan di masyarakat; (2) berkurangnya kejahatan narkoba, perdagangan perempuan dan anak, serta penyelundupan manusia, terorisme, kekerasan dalam rumah tangga dan berbagai bentuk kejahatan lainnya; (3) penegakkan hukum bagi setiap kejahatan dan gangguan keamanan; (4) terwujudnya profesionalisme aparat penegak hukum.
3.1.7. Pengembangan Kerjasama Antar daerah
Pengembangan kerjasama Antar daerah mutlak diperlukan, karena setiap daerah tidak dapat hidup sendiri tanpa bergantung dengan daerah lain. Kerjasama Antar daerah yang saling menguntungkan dalam bidang perekonomian, sarana prasarana dan lain-lain akan dapat membantu peningkatan daya saing daerah tersebut. Kerjasama Antar daerah juga sangat diperlukan oleh masyarakat sebagai pelaku dan penikmat hasil pembangunan.
Sasaran pengembangan kerjasama Antar daerah adalah : (1) menjajaki setiap kemungkinan kerjasama Antar daerah di berbagai bidang dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat; (2) melaksanakan secara konsisten setiap bentuk perjanjian kerjasama yang saling menguntungkan seluruh pihak bagi kesejahteraan masyarakat.
Target pengembangan kerjasama Antar daerah adalah : (1) terjalinnya kerjasama Antar daerah di berbagai bidang dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat; (2) pelaksanaan secara konsisten setiap
32 bentuk perjanjian kerjasama yang saling menguntungkan seluruh pihak bagi kesejahteraan masyarakat.
3.1.8. Pengembangan Agroindustri
Dengan potensi pertanian (pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan) yang besar di Kabupaten Tana Tidung, maka pengembangan kegiatan agribisnis/ agroindustri mutlak diperlukan dalam pembangunan perdesaan dimana sebagian besar masyarakatnya bertumpu pada sektor pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, kehutanan. Kelembagaan petani yang efisien hendaknya mampu membangun keterkaitan dan sinergitas seluruh kegiatan pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, dan kehutanan dari hulu sampai dengan hilir.
Sasaran pengembangan agroindustri adalah : (1) meningkatnya nilai tambah petani yang ditopang dengan perbaikan pasca panen dan daya saing bagi pengembangan industri pengolahan yang berbasis produk pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, dan kehutanan dari hulu sampai dengan hilir; (2) meningkatnya akses petani terhadap sumber-sumber ekonomi produktif seperti permodalan, pasar, informasi dan teknologi tepat guna; (3) meningkatnya sarana prasarana pengembangan agroindustri di kawasan sentra industri.
Target pengembangan agroindustri adalah : (1) meningkatnya nilai tambah petani dan daya saing industri pengolahan produk-produk pertanian dari hulu sampai dengan hilir; (2) peningkatan akses petani terhadap sumber-sumber ekonomi produktif seperti permodalan, pasar, informasi dan teknologi tepat guna; (3) pengembangan sarana prasarana pengembangan agroindustri di kawasan sentra industri.
3.2. PROGRAM PRIORITAS BIDANG PEMBANGUNAN
Penentuan prioritas bidang/sektor pembangunan sangat penting untuk kelancaran pelaksanaan dan tercapainya berbagai sasaran dalam RPJMD 2010- 2014. Pada dasarnya pembangunan di setiap bidang/sektor untuk mencapai
33 keberhasilan, tidak dapat berdiri sendiri, tetapi saling terkait dengan pembangunan di bidang/sektor lainnya. Dengan pembiayaan yang terbatas, untuk mencapai efektifitas, efisiensi dan hasil yang maksimal dalam mencapai sasaran pembangunan, harus dilakukan sinkronisasi pembangunan di setiap bidang/sektor sehingga kegiatan di setiap bidang saling terpadu, mendukung dan saling memperkuat. Setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang melaksanakan pembangunan di bidang/sektor-nya masing-masing harus memiliki komitmen yang kuat untuk mencapai sinergi tersebut melalui proses komunikasi, konsultasi, koordinasi serta monitoring, dan evaluasi dengan pemangku kepentingan terkait di pusat dan daerah dan mengedepankan keberhasilan bersama dalam pencapaian sasaran pembangunan.
3.2.1. BIDANG SOSIAL BUDAYA
3.2.1.1. PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Pembangunan bidang sosial budaya mencakup bidang-bidang pendidikan, kebudayaan, pemuda dan olahraga, kesehatan dan gizi, kependudukan dan keluarga berencana, perpustakaan nasional, agama, pelayanan kesejahteraan sosial, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak merupakan rangkaian upaya kunci peningkatan kualitas hidup manusia dan masyarakat.
Adapun program prioritas dalam bidang pendidikan, kebudayaan dan pariwisata serta pemuda dan olahraga adalah sebagai berikut :
1). Program Pendidikan Taman Kanak- kanak dan Pendidikan Dasar;
2). Program Pendidikan Menengah;
3). Program Penyediaan Tenaga Pendidikan dan Kependidikan yang Berkualitas;
4). Program Penyediaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Non Formal;
5). Program Penyediaan Sistem Pembelajaran, Penyempurnaan Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah;
6). Program Penyediaan Sistem Pembelajaran, Penyempurnaan Kurikulum Pendidikan Non Formal;
34 7). Program Penyediaan Layanan Pendidikan Non Formal Masyarakat;
8). Program Penyediaan Sarana dan Prasarana Pendidikan Formal dan Non Formal;
9). Program Penyusunan Dokumen Perencanaan dan Data Base Pendidikan, Kebudayaan dan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga;
10). Program Pengembangan Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan;
11). Program Pengembangan Sumber Daya Pariwisata;
12). Program Penyusunan Dokumen Perencanaan & Data Base Kepariwisataan;
13). Program Pengembangan Sarana dan Prasarana Kepariwisataan 14). Program Pengembangan Sumber Daya Kepemudaan dan Olahraga;
15). Program Penyusunan Dokumen Perencanaan & Data Base Kepemudaan dan Olahraga;
16). Program Pengembangan Sarana dan Prasarana Kepemudaan dan Olahraga.
3.2.1.2. KESEHATAN DAN KELUARGA BERENCANA
Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 H ayat (1) dan Undang- Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM), indikator status kesehatan merupakan salah satu komponen utama selain pendidikan dan pendapatan per kapita. Dengan demikian pembangunan kesehatan merupakan salah satu upaya utama untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang pada gilirannya mendukung percepatan pembangunan di Kabupaten Tana Tidung.
Adapun program prioritas dalam bidang kesehatan dan keluarga berencana adalah sebagai berikut :
1). Program Peningkatan kesehatan ibu, bayi dan balita;
2). Program Pembinaan Keperawatan dan Kebidanan;
3). Program Perbaikan status gizi masyarakat;
35 4). Program Pengendalian penyakit menular serta penyakit tidak menular
diikuti penyehatan lingkungan;
5). Program Penyehatan Lingkungan;
6). Program Pengembangan Kualitas dan Kuantitas Sumberdaya Aparatur Kesehatan;
7). Program Pembangunan Sarana dan Prasarana Kesehatan;
8). Program Peningkatan Pemerataan, Ketersediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan;
9). Program Pengembangan sistem jaminan pembiayaan kesehatan;
10). Program Revitalisasi Program Keluarga Berencana;
11). Program Peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi pengendalian penduduk dan KB;
12). Program Penyusunan Dokumen Perencanaan & Data Base Kesehatan dan Keluarga Berencana;
13). Program Pengembangan Sarana dan Prasarana Dinas Kesehatan.
3.2.1.3. KEPENDUDUKAN
Pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan Kabupaten Tana Tidung terutama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia/SDM.
Berkaitan dengan pembangunan kependudukan, pembangunan administrasi kependudukan sebagai sebuah sistem merupakan bagian yang tak terpisahkan dari administrasi pemerintahan dalam memberikan jaminan kepastian hukum dan perlindungan terhadap hak-hak individu penduduk.
Perlindungan tersebut berupa pelayanan publik melalui penerbitan dokumen kependudukan seperti Nomor Induk Kependudukan (NIK), Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), dan akta-akta catatan sipil, termasuk Akta Kelahiran sangat diperlukan agar administrasi kependudukan dapat lebih tertib dari tahun ke tahun dan terpadu. Meningkatnya ketertiban dan keterpaduan administrasi kependudukan akan sangat berguna bagi perumusan kebijakan, perencanaan dan pelaksanaan berbagai program pembangunan.
36 Adapun program prioritas dalam bidang kependudukan dan catatan sipil adalah sebagai berikut :
1). Program Analisis dan kajian kebijakan pengendalian penduduk;
2). Program Penataan administrasi kependudukan dan catatan sipil;
3). Program Penyusunan Dokumen Kependudukan dan Catatan Sipil;
4). Program Pengembangan Sarana dan Prasarana Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.
3.2.1.4. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN PEREMPUAN
Upaya untuk peningkatan pemberdayaan masyarakat ditempuh melalui kebijakan yang diarahkan untuk penumbuhan kegiatan ekonomi non pertanian antara lain melalui pengembangan kawasan agropolitan dan desa-desa pusat pertumbuhan; peningkatan kapasitas dan keberdayaan masyarakat perdesaan untuk memperkuat posisi tawar dan efisiensi usaha; mendorong pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di perdesaan; serta peningkatan pembangunan prasarana dan sarana perdesaan dengan melibatkan partisipasi dan peran serta masyarakat.
Dalam rangka penghapusan kekerasan dalam rumah tangga, telah disahkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Sebagai tindak lanjut dari undang-undang tersebut telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2006 tentang Penyelenggaraan dan Kerjasama Pemulihan Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga yang telah ditetapkan pada tanggal 13 Februari 2006. Selain itu saat ini tengah dibahas perubahan RUU KUHAP yang mengupayakan untuk mengintegrasikan konsep sistem peradilan pidana terpadu antara aparat penegak hukum khususnya bagi penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan.
Adapun program prioritas dalam bidang pemberdayaan masyarakat desa dan perempuan adalah sebagai berikut :
1). Program Pengembangan Lembaga Ekonomi di Perdesaan;
37 2). Program Peningkatan Peran Serta Masyarakat Desa dan wanita Dalam Proses Perencanaan, Pelaksanaan dan Pengendalian Dalam Berbagai Aspek Pembangunan;
3). Program Peningkatan kesejahteraan dan ketahanan keluarga dan masyarakat;
4). Program Penyusunan Dokumen Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Perempuan;
5). Program Pengembangan Sarana dan Prasarana Kantor Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Perempuan.
3.2.1.5. KESEJAHTERAAN RAKYAT
Perlindungan dan kesejahteraan sosial merupakan upaya dalam mencapai tujuan pembangunan kesejahteraan sosial yang bercita-cita mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, peningkatan perlindungan dan kesejahteraan sosial dapat dilakukan melalui redistribusi hasil-hasil pembangunan yang diwujudkan dalam kegiatan penanganan masalah-masalah sosial terutama kepada mereka yang belum dapat menikmati hasil pembangunan selama ini.
Sebagian masyarakat hidup dalam kondisi yang tidak menguntungkan serta mengalami kesulitan dan keterbatasan dalam mengakses berbagai pelayanan sosial dasar. Hal tersebut umumnya diakibatkan oleh kenaikan harga barang kebutuhan pokok, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak, kejadian bencana alam menyebabkan masih terdapatnya masyarakat dengan kondisi yang memerlukan perlindungan sosial. Dalam kondisi seperti itu, pemerintah juga menghadapi serangkaian tantangan yang akan dihadapi di masa mendatang yakni kecenderungan perubahan struktur demografi, kecenderungan urbanisasi, dan kecenderungan kenaikan jumlah penduduk miskin.
Adapun program prioritas dalam bidang sosial dan kesejahteraan masyarakat adalah sebagai berikut :
1). Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT);
2). Program Rehabilitasi dan Perlindungan Sosial Anak;
38 3). Program Pendidikan, Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan
Kesejahteraan Sosial;
4). Program Pengentasan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) agar dapat hidup secara layak;
5). Program Perencanaan Teknis Pengembangan Masyarakat dan kawasan Transmigrasi;
6). Program Pengembangan Usaha Ekonomi di kawasan transmigrasi;
7). Program Penelitian dan Pengembangan untuk Pengembangan Masyarakat dan Kawasan Transmigrasi;
8). Program Pengelolaan data dan informasi kawasan transmigrasi;
9). Program Peningkatan Kapasitas SDM dan Masyarakat di kawasan transmigrasi;
10). Program Pengembangan sarana dan prasarana kawasan transmigrasi;
11). Program Pengembangan Standardisasi Kompetensi Kerja dan Program Pelatihan;
12). Program Peningkatan Kapasitas Kelembagaan, Sarana dan Pemberdayaan kelembagaan Pelatihan dan Produktivitas;
13). Program Peningkatan Kompetensi Instruktur dan Tenaga Kepelatihan;
14). Program Pelatihan Kewirausahaan;
15). Program Pengembangan SDM Industri;
16). Program Meningkatkan Pelayanan dan Perlindungan terhadap Pekerja;
17). Program Penyempurnaan Peraturan Ketenagakerjaan;
18). Program Peningkatan Penerapan K3;
19). Program Penyusunan Dokumen Perencanaan Bidang Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi;
20). Program Pengembangan Sarana dan Prasarana Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
39 3.2.2. BIDANG SARANA PRASARANA
3.2.2.1. TRANSPORTASI
Peranan sarana dan prasarana perhubungan sebagai roda penggerak pertumbuhan ekonomi ditunjukkan pada peran transportasi yang dapat memungkinkan orang, barang, dan jasa diangkut dari satu tempat ke tempat lain, serta peran jaringan komunikasi dan informatika yang memungkinkan pertukaran informasi secara cepat (real time) menembus batas ruang dan waktu. Peranannya sangat penting, baik dalam proses produksi maupun dalam menunjang distribusi komoditi ekonomi dan ekspor. Telekomunikasi merupakan elemen sangat penting dalam proses produksi dari sektor-sektor ekonomi, seperti perdagangan, industri, dan agroindustri pertanian.
Adapun program prioritas dalam bidang transportasi adalah sebagai berikut :
1. Program Pelaksanaan Perbaikan, Pembangunan dan Peningkatan Kapasitas Jalan dan Jembatan;
2. Program Pelaksanaan Perbaikan, Pembangunan pelabuhan baik untuk transportasi maupun pendaratan ikan
3. Program Pengelolaan Sarana dan Prasarana SAR;
4. Program pendidikan dan pelatihan serta pemasyarakatan SAR;
5. Program Pengelolaan Operasi dan Latihan SAR;
6. Program Pengelolaan Komunikasi SAR;
7. Program Manajemen dan Peningkatan Keselamatan Transportasi Darat;
8. Program Pembangunan & Pengelolaan Prasarana dan Fasilitas Lalu Lintas Angkutan Jalan
9. Program Pengelolaan dan penyelenggaraan kegiatan di Bidang Penjagaan Laut dan Pantai
10. Program Pengelolaan dan Penyelenggaraan kegiatan di bidang Pelabuhan;
11. Program Pelaksanaan Pemberdayaan dan Pemerataan Pembangunan Sarana dan Prasarana Informatika;
12. Program Penyediaan pos jasa;