• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL ILMIAH MAKSITEK ISSN Vol. 5 No. 4 Desember 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL ILMIAH MAKSITEK ISSN Vol. 5 No. 4 Desember 2020"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

218

TRANSFER PRICING DAN CARA MENCEGAH TRANSFER PRICING AGAR TIDAK MELAKUKAN PENGGELAPAN PAJAK

1EDY FIRMANSYAH, 2METYRIA IMELDA HUTABARAT, 3NIRWANA DEWI HARAHAP

1,2,3STIE ITMI MEDAN

ABSTRACT

This free trade, also cannot benefit both countries in terms of state income for taxation, where transactions carried out, either between governments or through multinational companies, sometimes they do not comply with the provisions of taxation between countries, so the transactions carried out are carried out to avoid paying taxes that are high. by conducting transfer pricing transactions that are not in accordance with the laws and regulations. In 2019 the tax revenue set by the Government of Indonesia was 1,677.11 Trillion, but the realization of tax revenue was 1.312 Trillion, where the realization grew by 84%.

This is influenced by not only obedience to paying taxes, but also efforts made systematically by creating transactions so that the amount of tax collected does not match, where this is done by several automotive companies in Indonesia that determine the price of fixed asset sales transactions (transfer pricing). ) which is not in accordance with the stated fair value. The research method used is descriptive qualitative with those sourced from literature studies. The results of the study state that what companies must do so that transfer pricing transactions do not harm a country's tax revenues is to carry out tax planning so that the transactions carried out are adjusted to the laws and regulations of a country, so as not to harm tax revenues. that country, as well as conducting an advanced pricing agreement to the tax authority holder in a country, where this agreement is carried out so that transfer pricing transactions are carried out in accordance with the provisions stipulated by the taxation law in a country, so that the country is able to increase its tax income. In addition, the tax authorities in a country can prevent transactions that can minimize tax income by preventing transfer pricing that is detrimental to tax revenues, by tightening transactions that are not permitted in transfer pricing for tax avoidance by setting criteria, terms and types or methods. transactions that can be made. In addition, the Director General of Taxes also changed the tax law by implementing a derivative article from the law in the Minister of Finance regulation which was made to adjust the transfer pricing transaction method that can be tolerated in order to increase tax revenue.

Keywords : Transfer Pricing, Advanced Pricing Agreement, Increased Tax Revenue PENDAHULUAN

Dewasa ini, perdagangan yang terjadi kian membuka sekat-sekat antar negara yang selama ini tertutup, dimana perdagangan yang terjadi merupakan rangkaian perjanjian yang telah ditandatangani agar setiap Negara yang melakukan perjanjian tersebut atas dasar adanya keterbukaan Negara yang melakukan perjanjian untuk melakukan kegiatan ekonomi dan perdagangan di masing-masing Negara. Perdagangan bebas ini, juga tidak bisa menguntungkan kedua negara dari sisi pemasukan negara untuk perpajakan, dimana transaksi yang dilakukan, baik antar pemerintah atau melalui perusahaan multinasional kadangkala mereka tidak menaati ketentuan perpajakan antar Negara, sehingga transaksi yang dilakukan ada yang dilakukan untuk menghindari pembayaran pajak yang tinggi dengan melakukan transaksi transfer pricing yang tidak sesuai dnegan peraturan perundang-undangan. Menurut Tampubolon dan Al Farizi (2018) transfer pricing merupakan salah satu transaksi yang dilakukan antar perusahaan multinasional ynag meliputi penjualan barang (aktiva) berwujud berupa bahan baku, barang jadi maupun barang modal, penyerahan atau pemanfaatan barang tidak berwujud, termasuk pembayaran royalti, pinjaman uang atau pembayaran bunga, penyerahan jasa dan penyerahan saham dan obligasi.

Transaksi transfer pricing ini harus diperhatikan baik-baik oleh setiap petugas pajak yang memungut pajak negara, dimana setiap negara memiliki peraturan tentang kewajaran dari transaksi transfer pricing dan metode agar transaksi yang dilakukan tidak disalahgunakan untuk menyelewengkan pembayarna pajak, sehingga merugikan Negara.

(2)

219

Indonesia merupakan slaah satu Negara yang menerpakan peraturan mengenai transfer pricing melalui UU Perpajakan No.

28 Tahun 2007 tentang tata cara perpajakan dan pihak-pihak yang terkena pemotongan pajak baik itu pajak penghasilan, maupun pajak yang berkaitan dengan kegiatan ekspor-import, terutama yang berkaitan dengan kegiatan ekspor-impor bahan baku untuk industri, serta barang jadi, akan tetapi peraturan ini belum begitu ketat dan tidk membuat efek jera kepada korporasi. Selama kurun waktu tahun 2019 penghasilan pajak yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia sebesar 1,677,11 Triliun, tetapi realisasi pendapatan pajak sebesar 1,312 Triliun, dimana realisasinya tumbuh sebesar 84%. Hal ini dipengaruhi oleh tidak saja ketaatan membayar pajak, melainkan juga ada upaya yang dilakukan secara sistematis dengan menciptakan transaksi agar jumlah pajak yang dipungut tidak sesuai, dimana ini yang dilakukan oleh beberapa perusahaan otomotif di Indonesia yang melakukan penentuan harga transaksi penjualan aktiva tetap (transfer pricing) yang tidak sesuai dengan nilai wajar yang telah ditetapkan, serta tidak mengacu kepada Undang-Undang Perpajakan, dimana akibat situasi tersebut, membuat penghasilan negara tidak mencapai target yang telah ditetapkan.

TINJAUAN PUSTAKA Transfer Pricing

Menurut Choi dan Mueller (2001) transfer pricing adalah merupakan suatu kebijakan yang dilakukan oleh bebrapa perusahaan dalam menentukan harga transfer atas beberapa transaksi, dimana transaksi ini berkaitan dengan pemberian royalti, penjualan aktiva tetap, pembayaran bunga hutang dan lain sebagainya. Menurut Tampubolon dan Al Farizi (2018) transfer pricing merupakan salah satu transaksi yang dilakukan antar perusahaan multinasional ynag meliputi penjualan barang (aktiva) berwujud berupa bahan baku, barang jadi maupun barang modal, penyerahan atau pemanfaatan barang tidak berwujud, termasuk pembayaran royalti, pinjaman uang atau pembayaran bunga, penyerahan jasa dan penyerahan saham dan obligasi

Pengaturan Transfer Pricing Yang Dibolehkan UU Perpajakn Di Indoensia

Menurut Hardianto (2019) pengaturan transfer pricing di Indonesia secara umum diatur dalam Pasal 18 ayat (3) UU PPh menyebutkan bahwa Direktorat Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) berwenang untuk menentukan kembali harga wajar transaksi antara pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa (associated enterprises/related parties) sesuai dengan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha yang tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa (arm’s length principle). Selanjutnya, dalam Pasal 18 ayat (3a) UU PPh menyebutkan bahwa Dirjen Pajak berwenang untuk melakukan perjanjian Advance Pricing Agreement (Kesepakatan harga transfer yang wajar) dengan Wajib Pajak yang mempunyai transaksi dengan pihakpihak yang memiliki hubungan istimewa. Dalam Pasal 18 ayat (4) UU PPh mengatur tentang kriteria ada tidaknya hubungan istimewa antara pihak-pihak yang melakukan transaksi.

Metode Transfer Pricing Dalam UU Perpajakan Di Indonesia

Menurut Sarham, dkk (2020) metode transfer pricing yang dibolehkan menurut UU perpajakan dan atas kesepakatan drjen pajak dna perusahaan yang melakukan transaksi adlaah sebagai berikut :

1. Metode Harga Penjualan Kembali

Disebut juga dengan Resale Price Method (RPM). Metode ini dilakukan dimana produk yang telah dibeli dari pihak yang memiliki hubungan istimewa dijual kembali kepada pihak yang tidak memiliki hubungan istimewa. Harga yang terjadi pada resale tersebut dikurangi dengan laba kotor (mark up) wajar sehingga diperoleh harga beli wajar dari pihak yang memiliki afiliasi (hubungan istimewa). Ada syarat yang harus dilakukan sebelum menerapkan metode RPM ini.

Pertama, tingkat kesebandingan yang tinggi antara transaksi yang memiliki hubungan istimewa dengan yang tidak memiliki hubungan istimewa. Kedua, pihak penjual kembali, tidak memiliki signifikansi nilai harga atas barang atau jasa yang ditransaksikan.

2. Metode Biaya-Plus

Metode yang biasa disebut dengan cost plus method ini menentukan harga transfer yang menambahkan laba kotor dari transaksi antara perusahaan wajib pajak tidak terafiliasi yang sebanding terhadap biaya yang ditanggung dalam transaksi afiliasi. Adapun metode ini tepat digunakan ketika barang setengah jadi dijual kepada pihak yang terafiliasi (memiliki hubungan spesial) Selain itu pihak yang terafiliasi (memiliki hubungan spesial) memiliki kontrak jangka

(3)

220

panjang atau kontrak perjanjian penggunaan fasilitas bersama. Metode ini sangat efektif apabila digunakan pada usaha dengan transaksi penyedia jasa.

3. Metode Pembagian Laba

Metode transfer pricing yang wajar satu ini mengidentifikasi laba gabungan atas transaksi pihak yang memiliki hubungan spesial yang dibagi oleh pihak yang memiliki hubungan spesial tersebut menggunakan dasar yang wajar secara ekonomi. Dasar perkiraan tersebut harus menggambarkan laba yang wajar dan tercermin berdasarkan kesepakatan antara pihak-pihak yang tidak memiliki hubungan spesial.

4. Metode Laba Bersih Transaksional

Metode transfer pricing yang wajar satu ini dilakukan dengan membandingkan persentase laba bersih operasional terhadap biaya, penjualan, aktiva, atau dasar lainnya atas transaksi pihak afiliasi (memiliki hubungan spesial) dengan persentase laba bersih operasional yang diperoleh atas transaksi sebanding dengan pihak yang tidak memiliki afiliasi (hubungan spesial). Singkatnya analisis ini membandingkan laba transaksi antara pihak yang terafiliasi dengan transaksi terhadap pihak yang tidak terafiliasi. Kondisi yang tepat untuk menggunakan metode ini adalah ketika salah satu pihak yang terafiliasi memiliki kontribusi khusus.

Selain itu, salah satu pihak terafiliasi melakukan transaksi yang rumit dan memiliki transaksi yang berhubungan satu sama lain.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan adalah bersifat deskriptif kuanlitatif yang bersumber dari studi kepustakaan. Menurut Ismail (2009) metode deskriptif kualitatif yang bersumber dari studi kepustakaan adalah metode penelitian yang menjelaskan tentang adanya fakta dari sebuah penelitian, tetapi data tersebut dijelaskan dan dideskripsikan secara kualitatif dnegan menjabarkan makna data yang diperoleh, dimana data yang diperoleh dalam penelitian ini bersumber dari bahan bacaan yang bersumber dair buku dan dari berita online.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Alasan Mengapa Transfer Pricing Selalu Menjadi Pemicu Masalah Yang Berkaitan Dengan Perpajakan

Di dalam melaksanakan kegiatan perdagangan anatar asesama Negara dan anata perusahaan multinasional yang dimiliki oleh Negara yang membuat perjanjian perdagangan bebas, transfer pricing menjadi pemicu maslaah perpajakan, dimana transaksi transfer pricing yang dilakukan kepada aktiva, untuk pelayanan jasa, dan pembayaran bunga ini selalu disalahgunakan oleh oknum baik yang ada di perushaaan luar negeri, maupun yang did alam negeri. Menurut Azizah dan Astariyani (2020) ada beberapa alasan transfer pricing menjadi kendala sebuah Negara dalam meningkatkan pendapatan di bidang perpajakan :

1. Adanya kelakuan perusahaaan multinasional dari luar negeri untuk melakukan pembayaran harga jual aktiva tetap dengan harga tidak sesuai kewajaran dikarenakan tingginya tarif bea masuk dari Negara tersebut

2. Adanya manipulasi data dari transaksi perubahan harga yang dilakukan dengan maksud sengaja menghindari pembayaran pajak dengan menetapkan harga di bawah harga wajar (harga tidak sebenarnya) yang telah disepakati dalam Undang-Undang Perpajakan.

3. Adanya perjanjian di luar kontrol Dirjen Pajak untuk menetapkan harga tidak sesuai dengan yang ditetapkan Undang- Undang Perpajakan, sehingga mencegah pembayaran pajak terlalu mahal, sehingga mengurangi pendapatan Negara.

Yang Harus Dilakukan Oleh Perusahaan Yang Melakukan Transaksi Penetapan Harga (Transfer Pricing) Agar Transfer Yang Dilakukan Tidak Merugikan Pendapatan Perpajakan

Menurut Azizah dan Astariyani (2020) salah satu upaya yang dilakukan perushaaan agar mencegah terjadinya kerugian Negara melalui transfer pricing adalah :

1. Melakukan perencanaan pajak terhadap transaksi transfer pricing agar bisa sesuai dengan ketetapan yang sudah dibuat oleh Dirjen Pajak di amsing-masing Negara.

(4)

221

2. Membuat kesepakatan advanced pricing agreement kepada pemegang otoritas pajak di sebuah Negara, dimana perjanjian ini dilakukan agar transaksi transfer pricing dilakukan sesuai dengan ketetntuan yang telah ditetapkan Undang-Undang Perpajakan di suatu Negara, sehingga Negara tersebut mampu meningkatkan penghasilan pajaknya.

Ambil contoh Indonesia, dimana pada tahun 2019 terjadi kasus transfer pricing yang dilakukan oleh perusahaan otomotif, karena regulasi perpajakan ini belum begitu kuat dampaknya terhadap pemasukan perpajakan di Tahun 2019 itu sedikit hanya 80% dari target pajak, sehingga memunculkan adanya perubahan UU Perpajakan agar kejadian serupa tidak terulang, sehingga Indonesia melalui Dirjen Pajak mampu meningaktkan pendapatan perpajakan di tahun yang akan datang.

Yang Harus Dilakukan Dirjen Pajak Dalam Rangka Mencegah Terjadinya Transaksi Yang Menguntungkan Buat Meningkatkan Pendapatan Pajak

Menurut Hardianto (2012) salah satu upaya yang dilakukan Dirjen Pajak untuk meningkatkan pendapatan pajak dan mencegah adanya transfer prcing yang merugikan pendapatan pajak adalah dengan melakukan pengetatan terhadap transaksi yang tidak dibolehkan dalam transfer pricing untuk penghindaran pajak dengan menetapkan kriteria, syarat serta jenis atau metode transaksi yang boleh dilakukan. Selain itu, Dirjen Pajak juga merubah UU perpajakan dengan menerapkan pasal turunan dari UU tersebut dalam peraturan Menteri Keuangan yang dibuat untuk menyesuaikan metode transaksi transfer pricing yang yang dapat ditolerir demi meningkatkan pendapatan pajak, sehingga kejadian tahun 2019 tidak terulang lagi.

KESIMPULAN

Adapun hal yang harus dilakukan noleh perusahaan dalam melakukan transfer pricing untuk menghindari kerugian pendapatan perpajakan adalah dengan melakukan perencanaan pajak trhadap transfer pricing dan Membuat kesepakatan advanced pricing agreement kepada pemegang otoritas pajak di sebuah Negara agar menghindari transaksi transfer pricing yang merygikan pendapatan perpajakan. Sedangkan yang harus dilakukan otoritas pajak dalam mencegah transaksi transfer pricing yang merugikan agar dapat menghindari dari penurunan pajak, yaitu melakukan pengetatan terhadap transaksi yang tidak dibolehkan dalam transfer pricing untuk penghindaran pajak dengan menetapkan kriteria, syarat serta jenis atau metode transaksi yang boleh dilakukan. Selain itu, Dirjen Pajak juga merubah UU perpajakan dengan menerapkan pasal turunan dari UU tersebut dalam peraturan Menteri Keuangan yang dibuat untuk menyesuaikan metode transaksi transfer pricing yang yang dapat ditolerir demi meningkatkan pendapatan pajak.

DAFTAR PUSTAKA

Arham, Amardianto, dkk, 2020, Penelitian Transfer Pricing di Indonesia : Sebuah Studi Kepustakaan, Jurnal Online Insan Akuntan, Vol. 5, No. 1, E-ISSN : 2528-0163, h. 57-72.

Azizah, Hilyatul, dan Astariyani, Ni Luh Gede, 2020, Implikasi Kecurangan Praktik Trqnsfer Pricing Terhadap Aspek Perpajakan di Indonesia, Jurnal Kertha Negara, Vol.8, No. 9, h. 13-24.

Choi, Frederick D.S. dan Mueller, Gerhard M., 2001, Akuntansi Internasional, Buku Satu, Jakarta : Salemba Empat.

Hardiyanto, Ivan, 2012, Permasalahan Transfer Pricing Dalam Undang-Undang Pajak Indonesia, Jurnal magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Surabaya, h. 1082-1103.

Ismail, Rizabuana, 2009, Metode Penelitian Kualitatif : Dasar-Dasar Pemikiran Melakukan Penelitian Sosial Dengan Pendekatan Grounded Research, Medan : USU Press.

Kementerian Keuangan RI, 2019, APBN Kita : Kinerja dan Fakta, https://www.kemenkeu.go.id/media/13995/apbn-kita- desember-2019.pdf, diakses Tanggal 1 September 2021, Pukul 17.00 WIB.

Raco, Josef, 2018, Metode Penelitian Kualitatif : Jenis, Karakter dan Keunggulannya, Jakarta : OSF Preprint.

(5)

222

Tampubolon, Karianton dan Al Farizi, Zulham, 2018, Transfer Pricing dan Cara Pembuatan TP DOC, Yogyakarta : Deepublish.

Zatnika, Asep Munazat, 2017, Jurus Dirjen Pajak Dalam Menangkal Transfer Pricing, https://nasional.kontan.co.id/news/jurus-ditjen-pajak-menangkal-transfer-pricing, diakses Tanggal 1 September 2021, Pukul 17.00 WIB.

Referensi

Dokumen terkait

Artinya, setelah semua aset perusahaan tersebut dijual, terlebuh dahulu akan dibagikan kepada para kreditor atau pemegang obligasi, dan jika masih terdapat sisa, baru dibagikam

Di samping itu, hal tersebut didukung dengan informasi dari guru yang mengajar Alquran di sekolah tersebut bahwa kebanyakan siswa masih belum dapat dikatakan

Objek penelitiannya adalah uji kelayakan modul pembelajaran pengendali pneumatik berbasis aplikasi Festo Fluidsim v4.2 yang digunakan sebagai bahan ajar pada mata

Jadi kesimpulannya pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan oleh siswa secara berkelompok yang terdiri atas 2 orang atau lebih untuk

Agar kelompok ini diakui sebagai sebuah suku kemudian melalui Lembaga Adat Melayu Jerieng Bangka Barat yang kemudian mengkonstruksi serta memperjuangkan tanah

Kemampuan retensi yang diperoleh peserta didik terhadap materi konfigurasi elektron setelah proses pembelajaran dengan menggunakan permainan Element Go bukan hanya

a) Wilayah A merupakan stakeholders dengan tingkat pengaruh tinggi dalam implementasi program agropolitan mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi tetapi

Reformasi birokrasi diawali dengan reformasi keuangan negara yang ditandai dengan terbitnya paket undang undang keuangan negara yang terdiri dari Undang Undang Nomor 17