• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosiding Seminar Nasional Kimia 2014 ISBN: HKI-Kaltim

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Prosiding Seminar Nasional Kimia 2014 ISBN: HKI-Kaltim"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS GAYA BELAJAR DAN GAYA BERFIKIR SISWA KELAS XI IPA SMAN 1 ANGGANA PADA PEMBELAJARAN KIMIA POKOK BAHASAN

KELARUTAN DAN HASILKALI KELARUTAN (Ksp)

Abdul Majid

1

, Farah Erika

1

, Sari Ayu Rowaidah

2

,

[email protected]

ABSTRAK

Penelit ian ini dilatarbela kangi oleh inovasi yang dilakukan oleh guru untuk mencapai hasil belajar ma ksimu m hanya dihubungkan dengan materi yang akan d isampaikan, kurang me mperhatikan gaya belajar maupun gaya berfikir siswa padahal dala m setiap mengajar e fekt ifitasnya bergantung pada gaya belajar dan gaya berfikir siswa d isamping sifat pribadi dan kesanggupan intelektualnya. Oleh ka rena itu mengetahui gaya belajar dan gaya berfikir siswa bagi seorang guru khususnya guru kimia, me rupakan suatu usaha yang sangat penting dalam me wujudkan keberhasilan mengajar. Populasi dala m penelit ian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPA yang terdiri dari 3 kelas. Sa mpel yang diamb il dala m penelitian ini adalah kelas XI IPA 2 yang berjumlah 32 siswa. Pengumpulan data pada pen elitian ini me la lui angket gaya belajar dan gaya berfikir serta ulangan harian berupa soal essay sebanyak 6 soal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya belajar do minan siswa adalah gaya belajar auditori dimana persentase gaya belajar auditori sebesar 45%, gaya belajar visual sebesar 24% dan gaya belajar kinestetik sebesar 31%. Gaya berfikir dominan siswa adalah gaya berfikir sekuensial konkrit (SK) dimana persentase gaya berfikir sekuensial konkrit sebesar 52%, gaya berfikir sekuensial abstrak sebesar 3% , gaya berfikir acak abstrak sebesar 35% dan gaya berfikir aca k konkrit sebesar 10%.

Kata kunci: gaya belajar, gaya berfikir, hasil belajar

1) Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Mulawarman

2) SMA Negeri 1 Anggana Kutai Kartanegara

(2)

PENDAHULUAN

Ke ma juan pendidikan berpengaruh terhadap kema juan suatu bangsa, dimana pendidikan me rupakan aspek yang sangat penting dalam menunjang ke majuan masa depan bangsa. Sebagai negara berkembang Indonesia juga terus me mbenahi pendidikan bangsanya. Manusia sebagai subjek pembangunan perlu dididik, dib ina, serta dike mbangkan potensi-potensinya guna terciptanya subjek-subjek pe mbangunan yang berkualitas, sehingga dunia pendidikan dituntut me mpe rsiapkan sumber daya manusia yang ko mpeten agar ma mpu bersaing di tengah ke majuan teknologi dan informasi seperti sekarang in i. untuk me mbangun manusia Indonesia yang berkualitas dilaku kan mela lui pendidikan forma l dan pendidikan informa l. Sa lah satu jenjang pendidikan forma l di Indonesia adalah pendidikan di SMA yang di dala mnya terdapat pendidikan kimia .

Sekolah sebagai institut pendidikan forma l merupakan te mpat berkumpulnya para siswa yang me miliki latar belakang yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya baik dari segi ekonomi, adat istiadat, aga ma, keluarga, kepribadian maupun bakat dan minat bahkan kema mpuan seseorang untuk me mah a mi dan menyerap pelajaran pun sudah pasti berbeda tingkatannya. Mereka sering kali harus menempuh cara berbeda untuk bisa me maha mi sebuah informasi atau pelajaran yang sama. Ha l in i dika renakan setiap siswa me miliki cara belaja r dan cara berfikir yang berbeda-beda dalam mengolah satu informasi yang disampaikan.

Guna mencapai tuntutan di era teknologi dan informasi in i guru me la kukan berbagai inovasi, dengan cara menggunakan pendekatan, model, metode dan media yang bermaca m-maca m, na mun seringkali guru kurang me mpe rhatikan gaya belaja r dan gaya berfikir masing -masing siswa. Mereka hanya menghubungkan inovasi yang digunakan dengan materi yang akan disa mpaikan.

Meskipun gaya belajar dan gaya berfikir yang dimiliki siswa berbeda -beda, namun tujuan yang hendak dicapai tetap sama yaitu guna mencapai tujuan pe mbela jaran dan mencapai hasil belaja r yang diharapkan. Guru da la m mengajar harus me mperhatikan gaya belaja r dan gaya berfikir siswa karena da la m setiap mengaja r efe ktifitasnya bergantung pada gaya belajar dan gaya berfikir siswa disamping sifat pribadi dan kesanggupan intelektualnya. Oleh ka rena itu mengetahui gaya belajar dan gaya berfikir siswa bagi seorang guru khususnya guru kimia , merupakan suatu usaha yang sangat penting dalam upaya me wujudkan keberhasilan mengajar.

Menurut Kartini (1985), cara belaja r yang dilakukan siswa ada yang efisien dan ada pula yang kurang efisien.

Seorang siswa yang memiliki gaya belajar yang efisien me mungkinkan mencapai hasil bela jar yang lebih tinggi dari pada para siswa yang mempunyai gaya belajar yang kurang efisien. Dengan kata lain adanya gaya belajar dan gaya berfikir siswa yang berbeda-beda menyebabkan hasil belajar siswa pun berbeda pula. Apabila gaya belajar dan gaya berfikir siswa efisien ma ka tingkat pencapaian hasil belaja r siswa akan tinggi begitupun sebaliknya apabila gaya belajar dan gaya berfikir siswa kurang efisien ma ka tingkat pencapaian hasil bela jar siswa disekolah pun akan turun.

Hasil penelitian dari Satria (2013) menyatakan bahwa terdapat hubungan antara g aya belajar terhadap hasil belajar siswa kelas X mata pelajaran akutansi di SMK Negeri 1 Kota Ja mbi, hal ini didukung oleh penelitian dari Regalia (2013) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara gaya belajar terhadap hasil belaja r kimia pokok bahasan koloid kelas XI IPA di SMAN 3 samarinda tahun pelajaran 2012/2013. Hasil penelit ian dari Murikhatu (2010), menyatakan bahwa terdapat hubungan antara gaya berfikir sekuensial konkrit, sekuensial abstrak, acak konkrit dan acak abstrak dengan prestasi belajar kimia siswa kelas X semester 1 SMAN 1 Magelang tahun ajaran 2004/2005.

Berdasarkan pe mikiran diatas peneliti melihat bahwa gaya bela jar dan gaya berfikir siswa me rupakan fa ktor yang dapat mempengaruhi peningkatan hasil belaja r siswa. Da la m penelit ian ini peneliti berma ksud mengkaji gaya belajar dan gaya berfikir siswa mela lui hasil be laja r kimia di seko lah.

METODE P ENELITIAN

Penelit ian in i dilaku kan di SMA Negeri 1 Anggana Kelas XI IPA 2, dengan jumlah sampel sebanyak 32 siswa.

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan angket dan tes hasil belajar. Penelitian in i dilaku kan dengan mela kukan pembela jaran ke mudian ulangan harian dan pengisian angket gaya belajar dan gaya berfikir siswa.

Hasil penelitian berdasarkan pero lehan nila i u langan harian yang berupa d ata mentah dianalisis dengan

Nilai is a= or menta

or ma simal x 00 Menentukan ketegori hasil bela jar siswa dengan

enjang = or ma sim m – s or minim m j mla jenjang x 00 Menentukan prosentase jawaban angket siswa dengan

P = x 100%

(3)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Setiap individu me miliki gaya belajarnya masing -masing yang mungkin serupa tapi tidak sama, ada gaya belajar visual, auditori dan kinestetik. Masing-masing gaya belajar tersebut me miliki caranya sendiri untuk mencapai tujuan belajar.

Seorang yang me miliki gaya belajar visual, t idak a kan berhasil apabila dipa ksa menggunakan metode belaja r yang seharusnya digunakan untuk gaya belajar auditori, begitupun dengan gaya belajar lainnya. Gaya be laja r ini t idak hanya diterapkan kepada anak-anak saja, orang dewasapun sering me mpra ktekannya, paling tidak untuk dirinya sendiri dan orang disekitarnya.

a. Gaya Belajar Visual

Hasil dari perhitungan angket gaya belajar siswa diketahui siswa XI IPA 2 di SMAN 1 Anggana yang memiliki kecenderungan dengan gaya belajar visual (me lihat) berju mlah 7 siswa (24% dari 29 siswa). Gaya belaja r visual adalah gaya belajar yang menitik beratkan pada ketaja man indra penglihatan. Gaya belajar seperti ini mengandalkan penglihatan atau melihat terlebih dahulu baru bisa me mpe rcayainya. Siswa yang tergolong gaya belajar visual lebih banya memili peryataan yang berb nyi “saat g r menerang an materi Ksp, saya merasa lebi bisa ber onsentrasi ala menatap aja nya” ses ai dengan ara teristi seseorang yang memili i gaya belajar v is ual adalah siswa tersebut harus melihat mimik wajah, bahasa tubuh dan ekspresi wajah guru secara langsung tanpa penghalang apapun untuk mengerti materi pe laja ran yang disampaikan oleh guru. Mere ka berfikir dengan cara berima jinasi dan belajar leb ih cepat dengan menggunakan tampilan visual seperti diag ra m, bu ku pelaja ran berga mbar dan video.

Siswa dengan gaya belajar v isual akan me rasa nyaman jika berada pada posisi paling depan saat pelajaran dike las atau merasa nyaman jika berada pada posisi yang dapat dengan bebas me lihat narasumber agar apa yang disampa ikan narasumber tersebut mudah diserap dan dipahami siswa. Ciri -ciri seorang yang me miliki gaya belajar visual adalah berbicara dengan cepat dan lebih suka me mbaca materi sendiri dari pada dibacakan oleh o rang la in. Ada beberapa pendekatan yang bisa diterapkan untuk siswa yang memiliki gaya belajar visual, seperti dengan menggunakan perangkat grafis dala m menya mpaikan materi pe laja ran. Perangkat gra fis itu bisa berupa diagram peta konsep, gambar ilustrasi, slide power poin (PPT) dan sebagainya.

Hasil be laja r siswa yang diperoleh dari nilai u langan harian pokok bahasan kelarutan dan hasil kali kela rutan diperoleh hasil bahwa terdapat 4 siswa masuk kategori baik dan 1 siswa kategori cukup dan 2 siswa kategori rendah.

Penulis sudah menggunakan metode pembela jaran yang dirasa tepat pada siswa yang me miliki gaya bela jar visual tapi kenyataannya masih ada siswa yang masuk kategori cukup dan rendah, hal ini dika renakan ada beberapa faktor lain seperti faktor gaya bela jar, minat dan lainnya.

b. Gaya Belajar Audi tori

Hasil dari perhitungan angket gaya belajar siswa diketahui siswa XI IPA 2 di SMAN 1 Anggana yang memiliki kecenderungan dengan gaya belajar auditori (mendengar) berju mlah 13 siswa (45% dari 29 siswa). Gaya be laja r auditori adalah gaya belaja r yang mengandalkan pendengaran untuk bisa me maha mi dan mengingat informasi yang disampai an ole g r . es ai dengan b nyi ang et “saya sangat m da mengingat materi yang di cap an ole g r saat menjelaskan pelaja ran tentang Ksp” sis a yang me mili i gaya belaja r a ditori me mb t an gaya ba asa yang efektif untuk menggambarkan sesuatu, sebab itulah yang memudahkannya untuk mencerna informasi. Fokusnya adalah pada perkataan dan suara, kebanyakan siswa yang bergaya belajar a uditori tidak berminat melihat sipe mbicara atau lawan bicara ka rena yang difokuskannya adalah suara dan perkataan orang tersebut, bahkan informasi tertulis pun tidak akan menarik mere ka sampa i informasi tersebut disuarakan hingga mere ka mendengarnya. Kara kteristik siswa yang me miliki gaya belaja r auditori ada lah mengingat apa yang didengar daripada apa yang dilihat dan me mbaca dengan keras dan lantang.

Metode pembela jaran yang paling tepat untuk siswa gaya belajar auditori ini adalah dengan metode ceramah, guru sebagai pemberi informasi dapat menjelaskan materi ke larutan dan hasil kali kela rutan tanpa menggunakan alat bantu dan siswa yanag me miliki gaya belaja r auditori dapat dengan mudah menyerap materi pela jaran yang disampaikan oleh guru.

Hasil penelitian yang penulis lakukan pada siswa IPA 2 di SMAN 1 Anggana menyatakan sebagian besar siswa me miliki gaya belajar auditori. Walaupun penulis telah menggunakan metode ceramah dalam proses pembela jaran, namun pada kenyataannya tidak semua siswa yang me miliki gaya belajar auditoria l mendapatkan hasil belaja r yang termasuk kategori ba ik, terlihat dari 13 siswa yang tergolong auditorial hanya 5 orang siswa yang termasuk kategori baik dan 7 siswa termasuk kategori cukup serta 1 orang sisanya masuk kategori kurang, hal ini dapat terjadi karena faktor-faktor lain berupa faktor internal dan faktor e ksternal seperti faktor permasalahan keluarga, fa ktor lingkungan dan sebagainya.

c. Gaya Belajar Ki nestetik

Hasil dari perhitungan angket gaya belajar siswa diketahui siswa XI IPA 2 di SMAN 1 Anggana yang memiliki kecenderungan dengan gaya belajar kinestetik (gera kan) berju mlah 9 siswa (31% dari 29 siswa). Gaya be laja r kinestetik adalah gaya belajar yang disertai dengan gerakan atau sentuhan. Karakteristik siswa yang me miliki gaya belajar kinestetik adalah mene mpatkan tangan sebagai alat informasi, tanpa harus me mbaca penjelasan terlebih dahulu. Tidak

(4)

semua orang bisa me laku kan gaya belajar seperti mere ka yang kinestetik. Pernyataan angket yang banyak dipilih oleh sis a inesteti yang berb nyi “ji a a an meng adapi langan, saya m da meng afal dengan berjalan bola -balik sambil meng afal” ses ai dengan ara teristi sis a inesteti yang merasa bisa belajar lebih baik jika disertai dengan kegiatan fisik.

Hasil be laja r yang diperoleh dari n ila i u langan harian materi ke larutan dan hasil kali ke larutan yaitu 3 siswa masuk ka ktegori baik, 1 siswa masuk kategori cukup dan sisanya masuk kategori kurang. Banyak siswa ya ng masuk kedala m kategori kurang, padahal penulis telah menggunakan metode praktiku m. Hal ini d isebabkan karena para siswa tersebut sebelumnya belum pernah menggunakan metode praktiku m sehingga ini pengala man pertama menggunakan metode tersebut dan pada materi ke larutan dan hasilka li ke larutan ini banyak terdapat hitungan, sehingga para siswa tersebut masih kesulitan dala m penerapan soal hitungan kedala m metode prakt iku m. Se la in itu ada fa ktor la in yang me mpengaruhinya seperti fa ktor bakat, mot if dan cara b ela jar yang digunakan siswa tersebut.

Berdasarkan hasil analisis angket diketahui pada siswa kelas XI IPA 2 terdapat 7 siswa me miliki gaya belajar visual yaitu 24% dari ju mlah keseluruhan siswa, 13 siswa me miliki gaya belajar auditori (45%) dan sisanya 9 s iswa me miliki gaya belajar kinestetik (31%). Pada siswa kelas XI IPA 2 itu, gaya belaja r yang dominan adalah gaya belajar

Berikut adalah grafik gaya belajar siswa :

Sa ma halnya dengan gaya belajar, para siswa juga me miliki gaya berfikir yang berbeda -beda satu sama la innya sehingga dalam me mp roses satu informasi yang disampaikan oleh guru mere ka menggunakan dominasi otak yang berbeda-beda. Ada gaya berfikir sekuensial konkrit (SK), sekuensial abstrak (SA), aca k konkrit (AK) dan acak abstrak (AA).

a. Sekuensial Konkrit

Hasil dari perhitungan angket gaya berfikir siswa diketahui siswa XI IPA 2 di SMAN 1 Anggana yang memiliki gaya berfikir Se kuensial konkrit berju mlah 15 siswa (52% dari 29 siswa), sebagian besar siswa ke las XI IPA 2 me miliki gaya berfikir sekuensial konkrit. Siswa yang memiliki gaya berfikir sekuensial konkrit (SK) cenderung memiliki dominasi otak kiri dan dala m me mp roses informasi ca ra-cara yang dita mpilkan secara teratur, linier dan sekuensial.

Mereka selalu mengerja kan tugas tepat waktu, terencana dan tidak suka hal-hal yang mendadak, mere kapun tidak suka men mp t gas. Berdasar an pernyataan ang et yang berb nyi “saya tipe orang yang perfe sionis” ingin segala sesuatunya dikerja kan dengan sempurna dan terencana. Dala m menyerap informasi siswa yang me miliki gaya berfikir SK lebih menonjolkan indra fisik yaitu indra penglihatan, peraba, pendengaran, perasa dan penciuman. Mere ka me mpe rhatikan dan mengingat rea litas dengan mudah serta mengingat fa kta, informasi, ru mus -ru mus dan aturan khusus dengan mudah. Cara be laja r yang paling baik adalah dengan catatan dan maka lah.

Hasil be laja r siswa yang diperoleh dari nilai u langan harian pokok bahasan kelarutan dan hasil kali kela rutan diperoleh hasil bahwa terdapat 6 siswa termasuk katergori baik, 4 sis wa masuk kategori cukup dan 5 siswa masuk kategori kurang, wa laupun siswa SK dapat mengingat fakta informasi, ru mus, dan aturan khusus dengan mudah namun masih ada siswa yang masuk katergori kurang, hal ini d ika renakan pembe laja ran kimia yang me mang cender ung ke arah sesuatu yang abstrak, tidak hanya berpatokan pada rumus -ru mus saja, sehingga sedikit kurang cocok dengan gaya berfikir SK.

Menurut DePorter dan Hernac ki (2002) ada beberapa kiat yang dapat dila kukan oleh pe mikir SK untuk me maksima lkan hasil belaja r diantaranya : leb ih me mbangun lagi kekuatan organisasi, ketahuilah semua detail yang dibutuhkan dalam mengerja kan suatu tugas, ke mudian pecah -pecahlah tugas tersebut dalam beberapa tahapan.

b. Sekuensial Abstrak

Hasil dari perhitungan angket gaya berfikir siswa diketahui siswa XI IPA 2 di SMAN 1 Anggana yang memiliki gaya berfikir Se kuensial Abstrak berju mlah 1 siswa (3% dari 29 siswa). Siswa yang me miliki gaya berfikir sekuensial abstrak (SA) cenderung me miliki do minasi otak kanan tetapi dala m me mproses informasi ca ra-cara yang dita mpilkan secara teratur, linier dan sekuensial. Siswa SA merupakan pe mikir yang cerdas dan punya ide -ide brilian. Mere ka senang mengetahui dan berfikir tentang apa yang tidak difikirkan orang lain, mere ka berfikir dala m konsep dan menganalisis informasi. Proses berfi ir mere a logis, rasional dan intele t al. Berdasar an pernyataan ang et “saya obi membaca” is a A gemar membaca, menga ibat an sis a ini gemar berdis si dan berdebat. Apabila

(5)

mengerjakan sesuatu, mereka mengerjakannya dengan mendala m. Mere ka lebih suka belajar sendiri daripada berkelo mpok dan mere ka lebih suka belajar dengan cara mengamati daripada mela kukan. Tipe ini dikena l paling sukses dala m studi.

Hasil be laja r siswa yang diperoleh dari nilai u langan harian pokok bahasan kelarutan dan hasil kali kela rutan diketahui bahwa siswa SA tersebut masuk kategori baik, hal ini sesuai dengan karakter SA yang gemar me mbaca, me miliki logika a kademis yang baik dan sifat abstraknya mengakibatkan me reka lebih banyak tahu dan lebih mudah me maha mi materi pe laja ran kimia. Berikut beberapa kiat yang dapat di laku kan oleh pe mikir SA untuk me ma ksima lkan hasil belajar diantaranya : melat ih logika , menyuburkan kecerdasan dan menganalisis orang -orang yang berhubungan dengan siswa tersebut (DePorter dan Hernacki, 2002).

c. Acak Abstrak

Hasil dari perhitungan angket gaya berfikir siswa diketahui siswa XI IPA 2 di SMAN 1 Anggana yang memiliki gaya berfikir Acak Abstrak berju mlah 10 siswa (35% dari 29 siswa). Siswa yang me miliki gaya berfikir aca k abstrak (AA) cenderung me miliki do minasi otak kanan dan dengan cara yang tidak terstruktur. Da la m menyerap in formasi mere a memerl an a t yang aga lama dan memp rosesnya secara refle s. es ai b nyi ang et “saya tipe imajinatif” menyata an Siswa AA senang berimajinasi, mereka dapat mengingat informasi lebih baik apabila in formasi tersebut dipersonifikasikan. Pe rasaan dan emosi sangan me mpengaruhi proses belajarnya. Mereka akan sangat tertekan jika berada da la m lingkungan yang sangat teratur.

Hasil be laja r siswa yang diperoleh dari nilai u langan harian pokok bahasan kelarutan dan hasil kali kela rutan diperoleh bahwa terdapat 1 siswa masuk kategori baik, 3 siswa masuk kategori kurang dan sisanya masuk kategori cukup, walaupun siswa AA me mbutuhkan waktu la ma dala m me mproses informasi na mun masih ada 1 siswa yang masuk kategori baik hal ini dikarena kan ada faktor lain yang me mpengaruhi hasil belaja r seperti gaya belajar, minat belajar ataupun siswa tersebut me mang me miliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Berikut beberapa kiat yang dapat dila kukan oleh pemikir AA untuk me ma ksima lkan hasil bela jar, diantaranya : gunakan kema mpuan ala miah untuk bekerjasa ma dengan orang lain, ketahuilah betapa besar emosi me mpengaruhi konsentrasimu, me mbangun kekuatan belajar dengan berasosiasi, waspadalah terhadap waktu karena sering mengabaikannya, dan gunakan isyarat -isyarat visual dala m bela jar (DePorter dan Hernacki, 2002).

d. Acak Konkrit

Hasil dari perhitungan angket gaya berfikir siswa diketahui siswa XI IPA 2 di SMAN 1 Anggana yang memiliki gaya berfikir acak konkrit berju mlah 3 siswa (10% dari 29 siswa), Siswa yang me miliki gaya berfikir acak konkrit (AK) cenderung me miliki do minasi otak kiri tetapi dala m me mproses informasi dengan cara yang kurang terstruktur. Siswa AK ge mar mencoba sesuatu dengan cara me reka sendiri sehingga me reka dikenal dengan siswa kreat if, me reka sanggup mengerja an beberapa pe erjaan se alig s. Berdasar an b nyi ang et “saya tipe pen rasa ingin ta ” sis a AK me miliki sifat ingin tahu yang besar akan tetapi mereka leb ih mengandalkan proses daripada hasil, mengakibatkan hasil pekerjaan mere ka sering kali tida k sesuai dengan yang diharapkan, mere ka tidak suka dengan aturan. Bagi siswa AK belajar bukan hal menarik, mere ka hanya akan belajar apabila mendekati ujian atau pelajaran tersebut me mancing rasa penasaran mere ka.

Hasil be laja r siswa yang diperoleh dari nilai u langan harian pokok bahasan kelarutan dan hasil kali kela rutan diperoleh bahwa 1 siswa masuk kategori baik dan sisanya masuk kategori cukup, tidak ada yang masuk kategori kurang hal in i d ika renakan penulis menge mas le mbar ke rja siswa untuk me mancing rasa ingin tahu siswa, akan tetapi karena me reka leb ih mengandalkan proses dari pada hasil mengakibatkan 2 siswa lainya me miliki hasil belaja r yang biasa saja.

Berikut adalah beberapa kiat yang dapat dilakukan oleh pemikir AK untuk me ma ksima lkan hasil be laja r, diantaranya : gunakan kema mpuan divergen yang sudah dimiliki, siapkan diri untuk me mecah kan masalah dan carilah dukungan dari orang-orang disekitar (DePorter dan Hernacki, 2002).

Berdasarkan hasil analisis angket diketahui pada siswa kelas XI IPA 2 terdapat 15 siswa me miliki gaya berfikir Sekuensial Konkrit (SK) yaitu 52% dari ju mlah keseluruhan siswa, 1 siswa me miliki gaya berfikir Se kuensia abstrak (SA) ya itu 3% dari ju mlah keseluruhan siswa, 10 siswa me miliki gaya berfikir acak abstrak (AA) yaitu 35% dari ju mlah keseluruhan siswa dan 3 siswa me miliki gaya berfikir acak konkrit (AK) yaitu 10% dari ju mlah keseluruhan siswa. gaya berfikir yang dominan adalah gaya berfikir sekuensial konkrit (SK), secara keseluruhan hasil belaja r siswa tergolong rendah, hal ini dika renakan pembela jaran kimia merupakan pe mbelaja ran yang lebih cenderung menggunakan otak kanan sedangkan SK cenderung menggunakan otak kiri. Berikut adalah grafik gaya berfikir siswa pada siswa kelas XI IPA 2

(6)

KESIMPULAN

Berdasarkan analisis data dan hasil penelit ian yang telah dilaku kan diperoleh kesimpulan bahwa gaya belaja r pada pokok bahasan kelarutan dan hasilka li ke larutan pada siswa kelas XI IPA d i SMAN 1 Anggana: (1) gaya belaja r visual: 24 % dengan kategori baik; (2) gaya belajar auditor : 45% dengan kategori cukup; (3) gaya belajar kinesteti : 31% dengan kategori cukup. Gaya berfikir pada pokok bahasan kelaruta n dan hasilkali ke larutan pada siswa kelas XI IPA di SMAN 1 Anggana : (1) gaya berfikir sekuensial konkrit : 54 % dengan kategori cukup; (2) gaya berfikir sekuensial abstrak : 3% dengan kategori baik; (3) gaya berfikir aca k abstra : 35% dengan kategori cukup; (4) gaya berfikir aca k konkrit : 10% dengan kategori cukup.

DAFTAR PUSTAKA

1. DePorter, B dan Hernacki, M., 2002. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan.

Bandung: Kaifa.

2. Guna wan, Adi., 2004. Genius Learning Strategy Petunjuk Proses Mengajar. Jakarta: PT.Gra media Pustaka Uta ma.

3. Hakim, T., 2000. Belajar Secara Efek tif. Jaka rta: Pusat Pembangunan Swadaya Nusantara.

4. Iska, NZ., 2006. Psik ologi Pengantar Pemahaman Diri dan Lingkungan . Jakarta: Kizi Brother.

5. Keenan, CW d kk., 2010. Kimia Untuk Universitas. Jakarta: Erlangga.

6. Murikhatu, T., 2010. Hubungan antara Gaya Berfik ir Sek uensial Konk rit, Sek uensial Abstrak , Acak Konk rit dan Acak Abstrak dengan Prestasi Belajar Kimia Siswa Kelas X Semester 1 SMA Negeri 1 Magelang Tahun Ajaran 2004/2005. Magelang: Faku ltas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

7. Nasution, S., 1995. Didak tis Asas-asas Mengajar. Jakarta : PT. Bu mi Aksara

8. Nasution, S., 2009. Berbagai Pendidik an dalam Proses Belajar Mengajar. Jaka rta: PT. Bu mi Aksara.

9. Pra mudjono, 2010. Statistik Dasar Aplik asi Untuk Penelitian Edisi Kelima. Sa marinda: Purry Kencana Mandiri 10. Regalina, N., 2013. Hubungan Gaya Belajar dengan Hasil Belajar Kimia Pok ok Bahasan Koloid di Kelas XI IPA

di SMAN 3 Samarinda Tahun Pembelajaran 2012/2013 . Sa marinda: Fa kultas KIP Universitas Mulawa rman 11. Sabri, A., 2007. Psik ologi Pendidik an Berdasark an Kurik ulum Nasional . Jakarta : Pedo man Ilmu Jaya.

12. Sadirman A.M , 2010. Interak si dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : Raja Grasindo Persada.

13. Sanjaya, W., 2008. Kurik ulum dan Pembelajaran Edisi Pertama. Jakarta: Prenada Media Grup.

14. Saputra, Rafi., 2009. Psik ologi Islam: Tuntunan Jiwa Manusia Modern Edisi Pertama. Jakarta: PT. Ra ja Grasindo Persada.

15. Satria, E., 2013. Hubungan Motivasi Belajar dan Gaya Belajar dengan Hasil Belajar Ak untans i Siswa Kelas X jurusan Ak untansi SMK Negeri 1 Kota Jambi. Jamb i: Fa kultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Un iversitas Jamb i.

16. Sudjana, N., 2003. Penilaian Hasil Belajar Mengajar. Jaka rta: Re maja Rosdakarya.

17. Suprijono, A., 2009. Cooperative Learning Teori & Aplik asi Paik em. Surabaya: Pustaka Be laja r 18. Surachman, W., 1986. Metodologi Pengajaran Nasional. Bandung: Jemmars

19. Susilo, 2009. Prinsip dan Teori Dasar Penelitian Pendidik an . Jakarta: Poliya ma W idya Pustaka.

20. Svehla, G., 1990. Vogel Bagian I. Jaka rta: PT. Ka lman Media Pusaka

21. Tim Penyusun Kamus Pusat Pemb inaan dan Pengembangan Bahasa. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Jakarta: Bala i Pustaka.

22. Winkel, WS., 2000. Psik ologi Pengajaran. Jakarta: Gresindo.

Referensi

Dokumen terkait

Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui model pembelajaran yang paling efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan sikap siswa

Setelah melalui empat tahapan pengembangan multimedia pembelajaran yang dikembangkan oleh Lee & Owens, dihasilkan produk multimedia interaktif penjumlahan pada bilangan

Bahan alternatif tersebut adalah tanah dari Tulakan-Pacitan dan berperan sebagai pengganti sebagian semen dalam jumlah tertentu pada campuran beton.. Tanah Tulakan adalah sejenis

Dengan koefisien determinasi sebesar 46,24%, ternyata terdapat korelasi yang cukup berarti antara stress kerja terhadap kinerja karyawan di Tata Usaha Fakultas Ekonomi

tentang: “ PERBEDAAN HASIL BELAJAR PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN VERTEBRATA (SHV) ANTARA MENGGUNAKAN MEDIA VIDEO DAN POWER POINT PADA ASISTENSI MAHASISWA PENDIDIKAN

[r]

Biaya Peralatan Usahatani Padi Sawah di Kecamatan Padang Bolak : Pompa Air (Metode Garis Lurus)... Jumlah Biaya Penyusutan Alat Usahatani Padi Sawah di Kecamatan Padang Bolak

Tujuan Tugas Tujuan tugas adalah agar mahasiswa dapat mengidentifikasi dan menilai risiko bawaan sehingga pada akhirnya mahasiswa memahami jenis-jenis risiko yang dapat