• Tidak ada hasil yang ditemukan

REFORMASI SISTEM AKREDITASI SEKOLAH/MADRASAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "REFORMASI SISTEM AKREDITASI SEKOLAH/MADRASAH"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

REFORMASI SISTEM AKREDITASI SEKOLAH/MADRASAH

Dr. Toni Toharudin, M.Sc.

KETUA BAN S/M

Disampaikan pada Webinar

Peran Dinas Pendidikan dalam Akreditasi Satuan Pendidikan 2021 Zoom Meeting, 25 Maret 2021

(2)

Mengapa Perlu Reformasi?

Muncul pertanyaan terkait validitas instrumen akreditasi

Refleksi 20 tahun akreditasi

Muncul pertanyaan terkait efektivitas proses akreditasi mendukung penjaminan mutu dan peningkatan kualitas

pendidikan nasional

Review kajian- kajian empirik akreditasi dan kinerja sistem pendidikan

Perlu reformasi manajemen agar akreditasi lebih efisien & efektif, tanpa backlog

Diskusi internal, analysis sistem dan Instrumen

Evaluasi diri Korelasi perkembangan status

akreditasi dan kualitas pendi- dikan lemah

Muncul pertanyaan terkait kredibilitas sistem dan manajemen akreditasi S/M

Kajian pustaka, diskusi dengan berbagai nara sumber ahli

Benchmarking

Temuan

Perlu memperkuat rekomendasi agar tindak-lanjut lebih konkrit dan efektif Perlu mengganti Instrumen agar lebih fokus pada pengukuran

kinerja sekolah

(3)

73,9 76,5 72 78 84,2

35,46

52,15 63,01 80,28

0 50 100

2015 2016 2017 2018 2019

% SD Terakreditasi

Akreditasi SD

Target Capaian

68,7 71,8 68 75 81

33,45

48,8 60,35 71,61 0

50 100

2015 2016 2017 2018 2019

% SMP Terakreditasi

Akreditasi SMP

Target Capaian

77,2 79,1 81,83 83,41 84,6

28,23 46,67

60,39 73,51

0 20 40 60 80 100

2015 2016 2017 2018 2019

% SMA Terakreditasi

Akreditasi SMA

Target Capaian

53,8 56,6

58,27 61,63 65 26,2

40,57

60,17 72,68

0 20 40 60 80 100

2015 2016 2017 2018 2019

% SMK Terakreditasi

Akreditasi SMK

Target Capaian

Prosentase sekolah dengan akreditasi A dan B

61,8

65,3

57,8

62,2

58,6 56,9

52,8

58,5

54,3 52,1

49,0

53,7

51,1 51,0

45,6 45,2

52,8 51,6

48,7 46,7

30,0 35,0 40,0 45,0 50,0 55,0 60,0 65,0 70,0

SMP SMA IPA SMA IPS SMK

2015 2016 2017 2018 2019

382

393 402

396 397

360

391

371 375

386

393 383 382

403

300 350 400

2003 2006 2009 2012 2015

Capaian PISA 2003-2015

READING MATHS SCIENCE

Hasil Ujian Nasional dan Capaian PISA

(4)

Permasalahan Lain

 UU Sisdiknas mewajibkan akreditasi  bagian dari sistem penjaminan

mutu (quality assurance), tetapi proses bagaimana akreditasi mendukung penjaminan mutu selama ini belum jelas.

Untuk Sekolah:

• Penguatan supervisi oleh kepala sekolah

• Perbaikan pengelolaan lingkungan fisik

• Memperkuat penegakan disiplin siswa

• Keterlibatan guru mapel dalam MGMP Untuk Pemerintah Daerah:

• Penambahan guru mapel tertentu untuk mengoreksi beban mengajar terlalu berat.

• Perbaikan tembok pagar sekolah untuk menciptakan rasa aman para siswa.

Oleh Sekolah:

• ?

• ?

• ?

• ?

Oleh Pemerintah Daerah

• ?

• ?

• ?

• ?

?

?

Tindak lanjut rekomendasi:

Permasalahan dan rekomendasi asesor:

(5)

Permasalahan Lain

 Problematika manajemen  akreditasi sudah berjalan 20 tahun, tetapi masih banyak tunggakan (backlog) sekolah belum pernah diakreditasi dan/atau sekolah harus reakreditasi karena habis masa berlaku.

 Sementara itu, rata-rata 64,2% sekolah yang menempuh reakreditasi selama 15 tahun terakhir setelah status akreditasinya habis masa berlaku berakhir tidak berubah (status quo) statusnya, hanya 22,3%

yang meningkat dan 13,5% mengalami penurunan.

 Dengan manajemen akreditasi yang lebih baik, potensi penghematan sumberdaya untuk mengakreditasi 64% sasaran tahunan selama ini lebih dari cukup untuk menghilangkan backlog.

Dengan sasaran nasional 55 ribu sekolah per tahun, harusnya dalam 5 tahun beres. Tabel disamping menunjukkan bahwa pada tahun 2020 tersedia 115.379 sekolah perlu akreditasi  tunggakan setiap tahun

(6)

Arah Reformasi dan Pokok Perubahan

Arah Reformasi:

❑Manajemen Akreditasi  perubahan mendasar dalam siklus (business model) akreditasi, perpanjangan akreditasi secara otomatis bagi sekolah status quo.

❑Instrumen Akreditasi IASP2020  fokus pada audit kinerja, mengukur kinerja (performance) sekolah yang telah memenuhi persyaratan (compliance);

❑Akreditasi merupakan bagian dari rangkaian utuh sistem penjaminan mutu  tindak-lanjut rekomendasi berdasarkan proses akreditasi menjadi fokus utama.

Perubahan mendasar pada siklus (business model):

Pokok-pokok perubahan:

Memperbaiki manajemen  efisiensi sistem akreditasi: (a) penggunaan sumberdaya pada kegiatan yang memberikan hasil maksimal; (b) menghilangkan backlog

Meningkatkan kredibilitas  perkembangan status kreditasi merefleksikan dinamika kualitas Sistem Pendidikan Nasional

Meningkatkan efektivitas sistem akreditasi mendukung sistem penjaminan mutu 

indikator kinerja yang lebih relevan dan pengukurannya, dan rekomendasi tindak-lanjut.

(7)

Manajemen dan Business Process Akreditasi

(8)

Manajemen dan Business Process Akreditasi

Pokok-pokok perubahan:

Perubahan mendasar pada siklus (business model):

❑Kombinasi proses akreditasi otomatis dan akreditasi manual dengan kunjungan sekolah;

❑Perpanjangan status akreditasi secara otomatis melalui mekanisme Sistem Monitoring Sekolah Terakreditasi (Dashboard);

❑Reakreditasi (manual) hanya dilakukan atas dasar 3 (tiga) sebab atau triggers.

Sistem Monitoring Sekolah Terakreditasi (Dashboard)

❑ Melakukan monitoring perkembangan sekolah setelah terakreditasi secara terus menerus

❑ Menampilkan berbagai indikator kinerja (score cards) setiap tahun

❑ Indikator kinerja yang ditampilkan merupakan indikator komposit dikembangkan atas dasar data-data Dapodik, AKM dan Survai Karakter

(9)

Manajemen dan Business Process Akreditasi

Masa Berlaku Akreditasi:

❑ Permintaan sekolah yang meyakini sekolahnya membaik dan ingin status akreditasi lebih tinggi

❑ Laporan masyarakat yang terverifikasi adanya penurunan kinerja sekolah; dan

❑ Warning dari sistem monitoring (dashboard) telah terjadi penurunan kinerja sekolah

❑ Status Akreditasi berlaku selama lima tahun dan diperpanjang secara otomatis sepanjang sekolah mampu menjaga kinerja sebagaimana ditunjukkan oleh Sistem Monitoring Sekolah Terakreditasi (Dashboard)

Tiga Penyebab Reakreditasi (manual):

(10)

Instrumen Akreditasi

Paradigma Berpikir dan Konsep Dasar IASP2020:

 Akreditasi mendukung proses penjaminan mutu untuk memastikan sekolah

menghasilkan lulusan dengan mutu dan kompetensi yang diharapkan  standar kompetensi lulusan

 Fokus pada assessment/penilaian terhadap kinerja berkenaan faktor-faktor yang

paling berpengaruh pada kualitas pembelajaran dan kompetensi lulusan (output dan outcome)

 Assessment/penilaian dilakukan pada tataran kinerja untuk memastikan korelasi

terkuat dengan potensi sebuah sekolah mampu menghasilkan lulusan dengan mutu dan kompetensi yang diharapkan

 Mutu dan kompetensi lulusan yang baik merupakan hasil dari proses

pembelajaran yang baik, diberikan oleh guru bermutu, yang didukung oleh manajemen sekolah/madrasah yang efektif dan efisien.

 Sebelum sebuah sekolah dinilai kinerjanya  harus memenuhi beberapa prasyarat kondisi minimal untuk menjadikannya layak disebut sekolah.

(11)

KURIKU LUM

PENILAI- AN

SAR- PRAS

BIAYA MANAJEMEN

SEKOLAH

PTK

PROSES PEMBELA-

JARAN

MUTU LULUSAN

COMPLIANCE BASED

Data sekunder:

Dapodik

Emis

PMP

PERFORMANCE BASED Data primer:

Telaah Dokumen

Observasi

Wawancara

FGD MUTU

GURU

Path Diagram Instrumen Akreditasi

(12)

Instrumen Akreditasi

Hasil Proses Akreditasi :

❑ Proses akreditasi menghasilkan: (a) nilai/status akreditasi; dan (b) rekomendasi

❑ Rekomendasi rinci, teknis, tajam dan pada tataran operasional dengan pijakan jelas

❑ Akreditasi sebagai bagian dari mekanisme evaluasi kondisi sekolah untuk dasar perencanaan perbaikan

 Instrumen akreditasi berisi komponen alat ukur untuk: (a) mengukur kepatuhan pada persyaratan kondisi minimal (compliance); dan (b) mengukur kinerja (performance)

 Pemenuhan kondisi minimal (compliance) mutlak, tetapi dalam penilaian memiliki bobot jauh lebih kecil dibanding komponen kinerja (performance)

 Assessment/penilaian kinerja sekolah berfokus pada: (a) mutu lulusan; (b) mutu guru; (c) proses pembelajaran; dan (d) manajemen sekolah

 Dalam assessment/penilaian komponen kinerja (performance), indikator dan bukti-bukti yang menunjukkan kinerja jauh lebih penting ketimbang bukti pemenuhan persyaratan administratif dan indikator yang bersifat input.

Implikasi Paradigma Baru :

(13)

No. KOMPONEN SUB-KOMPONEN

BUTIR INTI (SEMUA JENJANG)

BUTIR KEKHUSUSAN SD/MI SMK/MAK SLB

1 Mutu Lulusan Karakter Siswa 4

Kompetensi Siswa 6 1 1

Kepuasan Pemangku Kepentingan 1 1

2 Proses

Pembelajaran

Kualitas Pembelajaran di Kelas dan di Luar Kelas 3 2 1

Iklim Belajar di Kelas 3

Pemanfaatan Sarana dan Prasarana Penunjang Proses

Pembelajaran 1

3 Mutu Guru Kompetensi Guru 1 1

Pengembangan Profesi Guru 2 1

Inovasi dan Kreativitas Guru 1

4 Manajemen Sekolah/

Madrasah

Pencapaian Visi dan Misi 1

Kompetensi Kepala Sekolah/Madrasah 1

Kepemimpinan Kepala Sekolah/Madrasah 1

Budaya Sekolah/Madrasah 2

Pelibatan Masyarakat 1 1 1

Pengelolaan Kurikulum 1 1

Pengelolaan Sarana dan Prasarana 1 2

Pengelolaan Guru dan Tenaga Kependidikan 1 1 1

Pengelolaan Pembiayaan 1

Pengelolaan Kesiswaan 2

Penjaminan Mutu Internal 1

JUMLAH 35 1 9 5

IASP 2020

(14)

Asesor harus secara profesional dapat menilai capaian kinerja sekolah

dibandingkan dengan level pada kolom 2 Asesor harus memahami makna

setiap butir instrumen dan perannya dalam konteks mutu pendidikan.

Butir IASP 2020

(15)

IASP2020

Petunjuk Teknis:

 Menilai kinerja sekolah  Assessment/audit terhadap indikator dalam setiap butir dalam IASP2020 pada tataran kinerja dan/atau proxy kinerja

 Pemahaman yang baik makna butir, mengapa butir tersebut diukur, apa pengaruhnya terhadap proses pembelajaran di sekolah

 Keterampilan mencari bukti kinerja dan membuat keputusan penilaian yang professional terhadap kinerja yang ditunjukkan oleh berbagai bukti

 Memerlukan kemampuan melihat gambaran besar sekolah, berbagai

komponen, butir, dan memberikan rekomendasi yang rinci dan operasional sehingga siap ditindak-lanjuti

 Assessment/penilaian pemenuhan persyaratan (compliance) menggunakan data-data yang bersumber dari DAPODIK, EMIS, dan PMP

 Penilaian kinerja (mutu lulusan, mutu guru, proses pembelajaran, dan manajemen sekolah) dilakukan dengan menggunakan teknik: (a) telaah dokumen, (b) observasi, (c) wawancara, dan (d) angket.

Menggunakan IASP2020:

(16)

IASP2020

Memfasilitasi asesor untuk melakukan penilaian secara lebih sistematis, tertib, melalui proses yang terstruktur

Mengurangi potensi subjektivitas individu asesor dan meningkatkan akuntabilitas kerja para asesor

Menguji validitas dan reliabilitas proses akreditasi, khususnya visitasi sekolah

Melacak proses penilaian ketika muncul perselisihan pendapat antar asesor maupun antara asesor dengan asesi.

Petunjuk Teknis IASP2020:

(17)

Terima kasih

Referensi

Dokumen terkait

 Akreditasi ialah Suatu kegiatan penilaian kelayakan dan kinerja suatu sekolah berdasarkan kriteria (standar) yang telah ditetapkan dan dilakukan oleh BAS (Badan  Akreditasi

Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah BAN-S/M Provinsi Jawa

Badan Akreditasi Nasional Sekolah Madrasah dalam pelaksanaan akreditasi di tingkat provinsi memberikan wewenang kepada Badan Akreditasi Provinsi Sekolah Madrasah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kinerja BAP S/M Provinsi Sulawesi Tenggara melakukan rencana jumlah dan alokasi akreditasi sekolah/madrasah, pengumuman pendaftaran

BADAN AKREDITASI PROVINSI SEKOLAH/MADRASAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA.. Jalan Jenderal Gatot

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2018 Tentang Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia

Berdasarkan pada latar belakang di atas maka pada penelitian ini dibangun adalah sistem informasi akreditasi sekolah, yang diharapkan dapat membantu sekolah dalam pengisian borang atau

Penilaian akreditasi melalui mekanisme dan instrumen akreditasi akan memberikan sekolah status dan nilai akreditasi yang menunjukkan kinerja dalam tiga komponen yang sudah dijelaskan di